Pandaya Sriwijaya Bab 20 : Panglima Samudra Ketiga Belas

Bab 20 : Panglima Samudra Ketiga Belas

Kepulangan Kara Baday membawa kemenangan.

Saat empat sambau-nya merapat di dermaga Muara Ma- nan, dari tepi pantai orang-orang sudah berkumpul menyambutnya dengan gembira.

Kara Baday, Paman Kumbijata, dan semua anak buahnya yang lain hanya menatap kerumunan itu dengan tak percaya.

"Apakah mereka menyambut kita?" gumam Kara Baday masih tampak sangsi.

Paman Kumbijata mengangguk dengan gerakan ragu. "Lalu, dari mana mereka tahu kita sudah berhasil

mengalahkan semuanya?" Kara Baday menoleh dengan heran.

Paman Kumbijata menggeleng lemah, "Entahlah, bukankah kita yang seharusnya menyampaikan berita ini?"

Kara Baday terdiam.

"Mungkin para pedagang yang menggunakan jalur darat yang menceritakan ini," Paman Kumbi Jata menduga-duga. "Atau mungkin merpati-merpati dari Datu Singkep yang mengabarkannya

Kara Baday mengangguk-angguk sambil terus tersenyum. "Ya, itu mungkin saja," ujarnya. "Namun, bisa juga angin, Paman, yang mengabarkannya. Bukankah angin yang selalu mengabarkan berita-berita gembira?"

Paman Kumbi Jata tertawa mendengar perumpamaan itu. Kemudian, mereka tak lagi bicara, selain mengamati kehiruk- pikukan yang begitu terasa.

Diam-diam hati Kara Baday bergetar juga. Ini sama seperti biasanya saat mereka pulang ke Pulau Karang itu. Para perempuan, istri, dan anak-anak, ataupun kerabat anak buahnya, selalu menyambut mereka seperti ini. Bahkan, bocah-bocah kecil yang selalu berlari ke sana kemari akan segera menghampiri dirinya untuk minta diceritakan perjalanan kali ini. Sungguh, suasananya hampir sama seperti itu. Namun kali ini tampaknya lebih melibatkan banyak orang dan membuat perasaannya... terasa lebih gembira dari biasanya!

"Kita gumam Paman Kumbi Jata nyaris tak terdengar, "kita menjadi pahlawan, Kara..”

-ooo0dw0ooo-

Kara Baday menyodorkan sebuah keranjang besar ke arah Panglima Samudra Jara Sinya.

"Ini untuk Panglima," ujarnya tanpa bisa menutupi rasa bangganya. "Ini adalah kepala pemimpin Bajak Laut Pande Wayu. Aku sendiri yang memenggalnya!"

Sambil menyentuh jenggotnya, Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum. "Kau tak perlu seperti itu, Kara," ujarnya.

Kara Baday tersenyum, "Aku harus melakukannya."

Panglima Samudra Jara Sinya kembali tersenyum. Tanpa melihatnya terlebih dahulu, ia sudah menyuruh anak buahnya untuk menyingkirkan keranjang yang mulai berbau busuk itu. Ia kemudian menatap Kara Baday lekat-lekat. "Sekarang ceritakan kepadaku," ujarnya, "bagaimana kau menaklukkan Bajak Laut Pande Wayu!"

Kara Baday menarik napas panjang Ia kemudian mulai menceritakan dari awal perjalanannya. Dimulai saat ia menghancurkan empat kelompok bajak laut kecil, sampai ketika ia menyusun strategi untuk memancing Bajak Laut Pande Wayu muncul. Saat itu ia menyuruh beberapa anak buahnya untuk membawa empat sambau-nya. pergi jauh-jauh dari Pantai Barat. Lalu, dengan bantuan Dapunta Kangga Kiya, ia bisa meminjam perahu Gujarat dan menggantikan seluruh awaknya dengan pasukannya. Agar jumlahnya tak terlihat mencolok, ia kemudian memasukkan pasukannya ke dalam kotak-kotak barang yang akan dibawa pedagang Gujarat tersebut. Tak hanya sampai di situ, ia juga menyebarkan tak kurang dari lima puluh anggota pasukannya ke dalam perahu- perahu kecil nelayan di sekitar perairan itu. Barulah setelah itu semua, hanya dengan bersenjatakan panah, tanpa satu pun korban, ia berhasil menaklukkan gerombolan bajak laut itu. Ia yang saat itu berada di salah satu perahu nelayan, kemudian melompat sendiri ke arah perahu Pandc Wayu untuk berhadapan secara langsung dan mengakhiri penaklukan itu....

Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa memandang kagum kepada Kara Baday. Tak henti-hentinya ia menggelengkan kepalanya tak percaya. "Kau luar biasa," ia memuji. "Walau ini adalah serangan pertamamu, tetapi ini tampak seperti dilakukan oleh pasukan-pasukan Sriwijaya yang telah lama mengabdi. Sungguh, ini luar biasa, Kara

Kara Baday hanya bisa tersenyum senang.

Lalu, tak lama kemudian Panglima Samudra Jara Sinya tiba- tiba bangkit dari duduknya dan menghampiri Kara Baday yang masih bersila di depannya.

"Menunduklah, Kara," ujar Panglima Samudra Jara Sinya "Seperti janjiku kepadamu, kau telah berhasil menghancurkan para bajak laut di Pantai Barat. Maka, hari ini, kutunjuk kau, Kara Baday, putra dari Dapunta Abdibawa-sepa sebagai Panglima Muda Sriwijaya

-ooo0dw0ooo-

Kehidupan memang memiliki jalannya sendiri. Kadang berliku, terjal, tetapi kerap tak pernah terduga.

Siapa yang dapat mengira, Kara Baday dan anak buahnya yang selama ini dikenal dengan nama Bajak Laut Semenanjung Karang, kini menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya yang dulu begitu bernafsu untuk menangkapnya?

Kehadirannya menjadi Panglima Muda Sriwijaya tentunya cukup mengejutkan banyak orang. Terutama dalam jajaran pasukan Sriwijaya sendiri. Beberapa di antaranya bahkan, walau tak secara terang-terangan, menunjukkan ketidaksukaan pada pengangkatan itu. Karena bagaimana mungkin orang yang telah menghancurkan beberapa sambau Sriwijaya sebelumnya, dan membunuh puluhan pasukan Sriwijaya, terutama Panglima Muda Sru Suja yang diramalkan menjadi panglima besar Sriwijaya, kini menjadi bagian dari pasukan Sriwijaya itu sendiri?

Sungguh, ini tampak tak masuk akal. Namun, siapa yang berani menggugat keputusan itu? Bukankah itu sama artinya dengan menentang Panglima Samudra Jara Sinya?

Kara Baday menyadari itu. Ia tahu posisinya tak cukup diterima. Saat melakukan pelatihan bagi anak buahnya di Muara Manan, beberapa panglima muda secara terang- terangan menunjukkan ketidaksukaan kepada dirinya dan anak buahnya.

"Mereka tak menganggap kita," ujarnya kepada Paman Kumbi Jata. Paman Kumbi Jata hanya menepuk punggungnya. "Wajar bila mereka bersikap begitu kepada kita. Bukankah dulu kita sudah melakukan hal yang tak menyenangkan kepada mereka?" ia tersenyum menenteramkan. "Sekarang tugas kita hanyalah melakukan semua perintah dengan baik. Semoga waktu yang nanti akan melunakkan mereka "

Kara Baday tak bereaksi.

"Namun, sekarang ini kita hanya bisa diam menerima perlakuan mereka," ujar Paman Kumbi Jata lagi. "Latihan ini pastinya akan berlangsung lama. Kalau engkau perlu menenangkan pikiranmu, agar nanti kau bisa sepenuhnya mengabdi di sini, kupikir Panglima Samudra Jara Sinya pasti akan memberimu izin untuk pergi beberapa saat. Apalagi kau tentunya sudah merindukan Pulau Karang kita, bukan?"

Kara Baday menoleh. Sedikit senyumnya muncul. Bayangan Aulan Rema secara tiba-tiba muncul di pelupuk matanya.

"Namun, "

"Aku yang akan mengurus pelatihan ini," ujar Paman Kumbi Jata. "Tetapi, syaratnya, kau harus menyampaikan salam kami kepada semua yang ada di sana "

Kara Baday tersenyum. Tentu saja itu syarat yang mudah.

Maka itulah, setelah mendapat izin dari Panglima Samudra Jara Sinya, hanya beberapa hari berselang, dengan menggunakan perahu lamanya, ia bersama dengan empat anak buahnya segera mendatangi kembali Pulau Karang.

Sejak memasuki celah Pulau Karang itu, Aulan Rema sudah melihatnya. Ia langsung berlari menyambut kedatangannya sambil tak henti-hentinya tersenyum. Perempuan-perempuan yang lain beserta anak-anak juga melakukan hal yang sama. Mereka segera mengerubungi Kara Baday ketika pemuda itu turun dari perahunya. "Kakak, Kakak ceritakan kepada kamianak-anak kecil itu menarik-narik tangan Kara Baday. Namun, kali ini, sebelum Kara Baday menjawab permintaan itu, para wanita yang ada di situ segera menyuruh bocah-bocah itu pergi. Tampaknya mereka sendiri ingin menanyakan kabar para suami mereka....

"Apa semua baik-baik saja, Kara?" istri Paman Kumbi Jata menyeruak di antara kerumunan itu.

"Tentu saja mereka semua baik-baik saja," ujar Kara Baday dengan nada riang. "Bahkan, tak ada yang terluka sedikit pun."

Suara Kara Baday yang terdengar ringan, benar-benar membawa kelegaan.

"Tetapi," tambahnya, "mereka memang tak bisa pulang kemari karena harus melakukan banyak latihan

"Tetapi, mengapa Kakak bisa pulang?" Aulan Rema yang ada di antara kerumunan itu bertanya dengan heran.

Kara Baday tertawa, "Bukankah harus ada seseorang yang mengabarkan berita ini?"

Akan tetapi, istri Paman Kumbi Jata segera saja menyentuh hidung Aulan Rema dengan telunjuknya, "Kau ini, mengapa harus bertanya lagi?" ujarnya. "Ia tentu saja ingin bertemu denganmu, Aulan

Aulan Rema langsung tersenyum senang. Pipinya mendadak merona merah. Namun, Kara Baday yang hanya bisa tertawa, buru-buru menambahkan, "Haha, Bibi ini ada- ada saja. Aku memang harus mengabarkan berita ini, Bi.

Karena mungkin, akan lama bagi kami semua untuk bisa pulang kemari lagi "

Aulan Rema cemberut. "Huh, mengapa tak mengatakan iya saja?" ia mencibir. 'Apa salahnya Kakak sedikit menyenangkan aku?" Kara Baday tersenyum dan mengacak rambut Aulan Rema.

Semuanya awalnya bersama-sama melangkah ke arah rumah Kara Baday. Namun, seakan ada yang memerintah, satu per satu orang-orang dalam kerumunan itu menepi, meninggalkan Kara Baday dan Aulan Rema. Hingga akhirnya, hanya tinggal mereka berdua saja yang berdiri di ambang rumah itu.

Kara Baday menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Ke mana semua orang?" tanyanya heran.

Dan, Aulan Rema hanya mengangkat bahunya.

Keduanya lalu memasuki rumah itu. Tak langsung melangkah ke dalam, hanya berdiri di ambang pintu. Di situ, Kara Baday menyapukan pandangannya.

Keadaannya masih seperti saat ditinggalkan. Namun, tampak lebih rapi dan tertata ....

"Engkau yang membersihkannya?" Kara Baday berpaling

kepada Aulan Rema.

"Ya, kalau bukan aku, siapa lagi?" Aulan Rema mencibir. Kara Baday tersenyum. Kembali diacaknya rambut Aulan

Rema.

"Tetapi, tak ada makanan," ujar Aulan Rema lagi. "Kakak harus menunggu aku memasaknya

"Tidak usah," ujar Kara Baday cepat. 'Aku belum lapar. Apalagi aku hanya ingin bicara saja denganmu " Aulan

Rema tersenyum, "Bicara apa?" Kara Baday menarik napas panjang. Entah mengapa, sejak ada di Bhumi Sriwijaya, ia kerap berpikir tentang percakapannya yang terputus dengan Aulan Rema ketika itu. Ia masih ingat ekspresi wajah Aulan Rema yang tampak begitu sedih sebelum Paman Kumbi Jata berteriak memanggilnya. "Tentang pembicaraan kita yang terputus tempo hari," ujarnya kemudian.

Aulan Rema menoleh, "Pembicaraan yang mana?" "Tentang ayuk-mu" ujar Kara Baday. "Saat itu, aku bercerita bertemu dengan orang yang mirip dengan PhriJan-di di Pantai Timur

Aulan Rema berujar, "Oooh, itu " Kara Baday

melanjutkan, "Sebenarnya, saat itu aku hanya bercerita saja. Tak ada maksud lainnya "

'Aku tahu," Aulan Rema mengangguk. "Lalu, mengapa harus dibicarakan lagi sekarang? Sungguh, aku tak memikirkannya lagi. "

Kara Baday terdiam sesaat.

"Sudahlah, Kakak Kara," ujar Aulan Rema lagi. "Kau tak harus menceritakan itu kepadaku. Sebenarnya, Kakak berhak untuk terus mengingat Ayuk Phrijandi. Sungguh " Aulan

Rema berusaha tersenyum. Kara Baday hanya bisa menatap Aulan Rema dengan tak percaya. Ucapan gadis ini sedikit membuatnya bingung. Sebenarnya, ia masih ingin mengatakan bahwa saat itu ia memang mengingat Phrijandi, tetapi hanya saat itu saja, waktu itu saja, dan hari itu saja. Di waktu lainnya, ia hampir tak pernah lagi mengingat sosok itu lagi. Hanya wajah gadis di depannya inilah yang, entah mengapa, kini begitu kerap diingatnya ....

Akan tetapi, Kara Baday hanya bisa terdiam. "Sudahlah, Kakak, tak usah dipikirkan lagi!" Aulan Rema menarik tangan Kara Baday. "Kalau Kakak tidak lelah, kita ke tebing itu, yuk!"

Kara Baday hanya mengangguk. Lalu, segera Aulan Rema menarik tangannya untuk berlari kecil menuju bukit di belakang Pulau Karang ini.

Sambil terus berlari kecil, Aulan Rema menoleh, "Terakhir yang kuingat, Kakak malas-malasan kemari!" "Benarkah?" Kara Baday berlagak mengingat. Aulan Rema hanya mencibir. Tak lama kemudian keduanya tiba juga di tebing itu. Sesaat dibiarkan tubuh keduanya di sapu angin, mengibarkan rambut mereka. Seiring itu, aroma harum menyusup rongga hidung keduanya.

"Saat itu mungkin belum begitu terasa, tetapi sekarang Kakak bisa merasakan aromanya, bukan?" Aulan Rema menoleh.

"Aroma bunga-bunga itu?" tanya Kara Baday. Aulan Rema mengangguk.

"Ya, kali ini sangat terasa," jawab Kara Baday.

Aulan Rema menarik napas dalam-dalam. 'Ah, aku begitu suka di sini," ujarnya. "Apalagi... bila bersama Kakak "

Kara Baday tersenyum, mencoba ikut menarik napasnya dalam-dalam.

"Dulu, apa Kakak ingat," tanya Aulan Rema lagi. "Pertama kalinya kita ke sini, Kakak yang menuntunku dari bawah sana?"

"Ya, aku ingat," ujar Kara Baday. "Ketika itu kau masih

begitu kecil

Aulan Rema cemberut. "Tidak begitu kecil," protesnya. Kara Baday tertawa, "Hahaha, ya, ya, tidak begitu kecil."

Aulan Rema tersenyum lagi, "Lalu, suatu kali, waktu kakiku terkena karang, Kakak Kara juga yang membopongku ke sini

Kara Baday mengangguk.

"Ya, aku ingat, aku ingat," ujar Kara Baday. "Saat itu, ternyata kau ehem berat juga

Aulan Rema mencibir, "Itu karena Kakak belum sekuat sekarang!"

Keduanya tertawa. Lalu, Aulan Rema duduk di salah satu batu. "Ternyata baru kusadari, kalau semua hal yang terjadi kepadaku untuk pertama kali, selalu kulalui bersama Kakak...," Aulan Rema menoleh, menatap kepada Kara Baday yang masih berdiri di sebelahnya.

"Kakak yang pertama kali menggandeng tanganku Kakak yang pertama kali menghentikan tangisankuKakak yang pertama kali membopong aku Kakak juga yang pertama kali memeluk aku ...," Aulan Rema terus menatap Kara Baday dengan tersenyum. "Semuanya... selalu bersama Kakak

Sesaat Kara Baday terdiam, tetapi ia kemudian mencoba untuk tersenyum, "Itu karena tak ada laki-laki lain yang semuda aku

Aulan Rema mengangguk, "Ya, mungkin saja," ujarnya pelan. "Tetapi aku ... senang bisa terus seperti itu

Kara Baday tertegun. Kali ini ia tak berucap apa-apa lagi. Ia hanya bisa menatap mata bening di depannya itu lekat-lekat.- Tak bisa lagi dimungkirinya kalau gadis di depannya ini bukan lagi gadis kecil yang selalu diperlakukan seperti adiknya. Dulu secarajujur, ia kerap melihat kesamaan wajah gadis kecil ini dengan Phrijandi. Awalnya semakin lekat ia memandangnya, ia akan semakin teringat Phrijandi. Namun, seiring berjalannya waktu, ia mulai merasakan perbedaan itu sedikit demi sedikit. Hingga akhirnya menatap gadis ini tak lagi membuatnya mengingat kekasihnya yang terdahulu.

Sungguh, kini Kara Baday dapat melihat kejelitaan yang berbeda pada diri Aulan Rema +

Sampai ketika ia harus kembali ke pusat Kedatuan Sriwijaya, Aulan Rema terus menemaninya hingga ke dermaga. Beberapa perempuan yang awalnya berjalan mengiringi satu per satu mulai menepi seperti kejadian saat kedatangan Kara Baday. Mereka seakan memang memberi waktu kepada keduanya untuk berdua. Sejenak keduanya kembali bertatapan.

"Kakak lebih pendiam dari biasanya," ujar Aulan Rema sambil tersenyum.

"Begitukah?" Kara menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Semoga bukan karena aku yang terlalu cerewet," ujar

Aulan Rema lagi.

Kara Baday tersenyum. Sebenarnya, ia ingin membalas dengan celetukan seperti biasanya. Namun, entah mengapa ia urung melakukannya. Tiba-tiba rasanya ada sesuatu yang lebih penting untuk diucapkannya. Sebuah kalimat yang sejak tadi begitu dipikirkannya. Namun, entah mengapa bibirnya terlalu kelu untuk berucap.

"Segera kembali pulang, ya," ujar Aulan Rema lagi. Lalu, tiba-tiba sudah diserahkan sesuatu ke tangan Kara Baday. "Ini kalung yang Kakak berikan waktu itu," ujarnya. "Hari ini aku menganggap Kakak belum memberikannya kepadaku sehingga nanti di kepulangan Kakak selanjutnya, bawakan lagi kalung ini kepadaku”

Kara Baday terdiam sambil memandangi bergantian kalung kerang di tangannya dan wajah Aulan Rema.

"Tentu esok akan kubawa lagi kalung ini, Aulan, tentu," ujarnya kemudian. Namun, karena suaranya yang tak terlalu keras tertelan oleh deburan ombak, Aulan Rema seakan tak mendengarnya.

Akan tetapi, belum sempat Aulan Rema kembali bertanya, Kara Baday sudah membalikkan tubuhnya dan melompat ke dalam perahunya.

Dan, Aulan Rema hanya bisa melambaikan tangannya perlahan ....

Ini seperti selembar bulu Angin akan memainkannya

sepanjang waktu. Meliuk-liukkan dalam gemulainya. Terus dan terus seperti itu. Dan, selembar bulu itu akan membiarkannya, tanpa menolak, sepanjang waktunya hingga tangan seorang anak kecil akan menggapainya dari angkasa. Saat itulah ia baru akan merasakan kelelahannya dan menyadari bila waktu telah begitu lama berputar ....

Di sudut sebuah rumah yang ada di tepi danau yang terus berkilau Tunggasamudra tengah berdiri diam dengan kuda- kudanya yang kukuh. Matanya tertutup memusatkan konsentrasinya dengan desiran angin yang kencang. Tak ada yang membantah, angin yang kencang akan menuntut seseorang lebih berkonsentrasi. Angin yang kencang juga sedikit banyak akan mengaburkan energi-energi yang coba dialirkan ke tubuh sehingga untuk itu akan dibutuhkan usaha yang lebih keras lagi.

Di sisi yang lain, setelah mengganti tuilian atau sajak berpasangan dalam bahasa Tionghoa, yang telah tampak rusak, Biksu Wang menusukkan dupa doanya pada hiolou1 atau tempat menancapkan dupa yang biasanya terbuat dari timah. Setelah itu, ia pun mulai terpekur dengan doanya ....

-ooo0dw0ooo-