Pandaya Sriwijaya Bab 19 : Jelita dengan Ribuan Kupu-Kupu

Bab 19 : Jelita dengan Ribuan Kupu-Kupu

"Alirkan energi kalian dalam tiga tahap. Pertama penarikan napas panjang, disusul penyimpanan napas di dalam perut.

Tahan napas ini dan rasakan kehangatan yang mengalir di dadamu. Baru setelah itu, lepaskan secara perlahan

Jauh dari tempat pembantaian itu, di Panggrang Muara Gunung, Guru Kuyajadran tengah mengajari murid-muridnya bermeditasi. Suasana hening, tanpa kata. Semuanya larut dalam tarikan, tahanan, dan lepasan napas masing-masing.

Agiriya tampak bersila di antara yang lain. Ini adalah tahun ketiganya di sini. Kini ia tak lagi menjadi murid baru di sini.

Telah ada beberapa tingkat murid-murid baru di bawahnya. Agiriya memang telah menjadi murid di tingkat menengah yang paling populer di Panggrang Muara Gunung. Tak ada lagi orang-orang yang berani kepadanya.

Latihan pengaliran energi melalui napas memang berlangsung sangat lama. Itu pun selalu diulang kembali beberapa hari sekali. Di tingkat inilah biasanya tak banyak murid-murid yang bisa bertahan dan kemudian memutuskan keluar karena bosan. Seperti kali ini, sejak matahari belum tampak hingga tepat berada di atas kepala mereka, latihan itu barulah selesai.

Magra Sekta, yang saat ini bertugas menyediakan air bagi murid lainnya, segera membawakan minuman dari kendi-kendi yang terbuat dari tanah liat. Kini ia telah mengikat rambutnya.

Sejak hari itu, saat Agiriya membela dirinya, tak ada lagi murid-murid lain yang berani mengganggunya. Namun, ini tetap tak membuatnya banyak bicara dan bergaul dengan bebas. Ia masih kerap menyendiri dan berjalan dengan menunduk.

Kini ia menyodorkan gelas bambu kepada Agiriya. "Kau seharusnya menyerahkan tugas ini kepada murid

baru," ujar Agiriya.

"Tak apa," balas Magra Sekta. "Mereka pasti sedang berlatih juga."

Agiriya hanya menarik bibirnya, "Dulu kakak seperguruan kita pasti memerintah kita untuk melayani ini kapan pun itu!" Magra Sekta mencoba tersenyum. Sekilas ditatapnya wajah Agiriya. Lalu, tanpa bicara apa-apa, ia bergeser ke temannya yang lain.

Sejak kejadian hari itu, ia tetap tak banyak bicara dengan Agiriya. Hanya ada pembicaraan-pembicaraan pendek seperti tadi atau sekadar basa-basi lainnya.

Akan tetapi, selepas latihan meditasi ini, secara mengejutkan Magra Sekta menghadang Agiriya yang hendak ke biliknya.

"Ikutlah denganku!" ia tiba-tiba menarik tangan Agiriya. "Mau apa kau?" Agiriya tampak terkejut. 'Aku ... aku ingin

menunjukkan sesuatu kepadamu!" seru Magra Sekta tetap

mencoba menarik Agiriya. "Apa?" "Nanti kau akan melihat sendiri!"

"Tetapi, kita harus beristirahat siang ini, Magra, untuk persiapan latihan nanti malam," Agiriya menyentak tarikan tangan Magra Sekta hingga lepas. "Kalau guru tahu kita pergi, kita pasti akan dihukum "

"Tidak akan ketahuan, Agiriya," ujarnya. "Percayalah kepadaku!"

Agiriya terdiam sesaat. Sejenak ia tampak ragu. Namun, akhirnya dibiarkannya juga Magra Sekta kembali menarik tangannya untuk menyelinap keluar dari Panggrang Muara Gunung. Ia tak bicara apa-apa lagi saat Magra Sekta menarik dirinya memasuki hutan lebat.

Hutan yang ada di belakang Panggrang Muara Gunung memang biasa dijadikan tempat untuk mencari buah dan ikan bagi murid-murid Panggrang Muara Gunung. Maka itulah, sampai memasuki ratusan tombak pun, Agiriya masih tetap menuruti ke mana Magra Sekta membawanya. Akan tetapi, ketika mereka tampak semakin jauh dan suasana terasa semakin gelap karena cahaya matahari semakin lama semakin tak bisa menembusnya, Agiriya segera menghentikan langkahnya dan menarik tangannya dari pegangan Magra Sekta.

"Mau kau bawa ke mana aku?" ia tiba-tiba berkacak pinggang.

"Ikuti aku saja, Agiriya!"

"Tidak," suara Agiriya keras. "Ini sudah terlalu jauh." "Kumohon," Magra Sekta menelan ludah. 'Ada sesuatu

yang indah, sangat indah, yang harus kaulihat "

Agiriya menatap wajah Magra Sekta sesaat. Hatinya tampak menimbang-nimbang.

"Kau pasti akan menyukainya ," tambah Magra Sekta lagi.

Agiriya menatap wajah Magra Sekta dengan penuh selidik.

Namun, akhirnya ia berujar juga dengan ancaman, "Awas, kalau ternyata ini tidak menarik!"

Lalu, sambil cemberut, ia kembali mengikuti langkah Magra Sekta yang berjalan di depannya. Pandangannya yang menjadi tak begitu jelas karena gelapnya hutan membuatnya beberapa kali tersandung. Magra Sekta segera mengulurkan tangannya, "Pegang tanganku!" ujarnya. "Aku akan membimbingmu”

Tanpa berucap apa-apa, Agiriya menerima uluran tangan itu. Entah mengapa, tidak seperu pegangan tangan yang pertama tadi,'kali ini ia dapat merasakan tangan Magra Sekta yang sedikit basah. Namun, ia tak berkomentar apa-apa, selain diam. Namun, ketika disadarinya keduanya terdiam terlalu lama, ia segera saja berdeham, "Kau akan terus hanya memegangku seperti ini atau kita akan berjalan lagi?" Ia langsung memasang muka cemberut. "Maaf, maaf," Magra Sekta tersadar. Digaruk kepalanya dengan tangannya yang lain, lalu segera ia menarik tangan Agiriya melanjutkan perjalanan. Sebenarnya, pandangan Magra Sekta sendiri tak lebih jelas dari pandangan Agiriya. Beberapa kali ia tersandung. Namun, setiap kali tersandung, ia akan memberi tanda kepada Agiriya hingga Agiriya tak pernah tersandung sekali pun.

Ternyata yang dilakukan Magra Sekta adalah membawa Agiriya menyeberangi bukit kecil yang ada di selatan Panggrang Muara Gunung. Tentu saja, menyadari itu, Agiriya kembali memprotesnya. Namun, Magra Sekta segera berujar, "Sebentar lagi, Agiriya, sebentar lagi. Kita hanya perlu melewati bukit itu saja

Agiriya mendengus. Walau akhirnya ia tetap mengikuti Magra Sekta, tetapi sepanjang perjalanan ia terus cemberut.

Barulah setelah melewati bukit itu, sinar matahari semakin lama terasa semakin terang. Dari balik bukit itulah, kemudian terlihat oleh keduanya sebuah tanah lapang dengan bunga beraneka warna dan ....

"Kupu-kupu," desis Agiriya tak percaya. Magra Sekta mengangguk di sela napasnya, "Ya, kupu-kupu. Jumlahnya banyak sekali. Mungkin ratusan atau bahkan ribuan

Agiriya melangkah perlahan menuju hamparan tanah itu.

Matanya terus memandang dengan takjub.

Magra Sekta yang mengikutinya dari belakang hanya berucap pelan, "Semoga ini tak mengecewakanmu, sudah berjalan sejauh ini

Agiriya menoleh ke belakang. Sebentar ia menimbang- nimbang ucapan Magra Sekta. Secara jujur sebenarnya ia sedikit merasa kecewa. Perjalanan tadi cukup jauh dan ia sempat tersandung beberapa kali. Ini tentu saja membuat kakinya sedikit sakit atau bahkan lecet. Belum lagi, ia yakin, Guru Kuya Jadran, akan mengetahui kepergian ini. Rasanya ini semua tetap tak sebanding bila hanya sekadar untuk melihat kupu-kupu, walau jumlahnya begini banyak sekalipun ....

Akan tetapi, sebelum Agiriya berucap, Magra Sekta melangkah mendekat. "Aku aku pernah melihatmu berjalan

dikelilingi kupu-kupu di taman di belakang Panggrang Muara Gunung," ujarnya. "Saat itu, kau kau tampak begitu senang

Agiriya terdiam memandang Magra Sekta. Rasanya ia masih saja tak percaya mendengar alasan dari mulut Magra Sekta. Namun, entah mengapa, mendengar ucapan itu saja, sudah membuat hatinya merasa begitu nyaman.

Agiriya pun akhirnya tersenyum. "Ya, ini indah, Magra, ini indah sekaliujarnya sambil kembali menatap taman bunga itu.

Seiring dengan itu, ia segera melangkahkan kakinya lebar- lebar ke tengah-tengah hamparan bunga itu. Aroma wangi yang tercium olehnya serta ratusan atau bahkan ribuan kupu- kupu yang terus beterbangan seakan menyambut dirinya ....

-ooo0dw0ooo-

"Sungguh, aku tak pernah melihat yang sebanyak ini!" teriaknya lepas kepada Magra Sekta. "Sungguh "

Entah berapa lama keduanya berada di situ. Agiriya sendiri baru menyadarinya ketika semburat warna Jingga mulai tampak samar di atas langit.

"Tampaknya kita harus kembali, Magra," ujarnya. "Kita terlalu lama pergi. "

Magra Sekta hanya melihat ke atas langit, sebelum akhirnya mengangguk pelan.

'Ah, pastilah, guru akan sangat marah bila tahu kita pergi terlalu lama," ujar Agiriya tanpa bermaksud mengeluh. Lalu, keduanya segera kembali memasuki hutan tadi.

Berjalan tanpa bicara menekuri setapak yang sama seperti saat berangkat tadi. Mereka tak tahu berapa lama berjalan. Hanya saja, tidak seperti saat berangkat tadi yang penuh keheningan, dalam perjalanan pulang ini suara-suara serangga menemani keduanya. Ini membuat suasana terasa lebih mencekam.

Tanpa sadar Agiriya menyentuh tangan Magra Sekta dan tanpa menoleh Magra Sekta menggenggam tangan itu dengan erat. Sekian lama keduanya berpegangan tangan, tanpa bicara apa-apa dan terus melangkah.

Sampai akhirnya keduanya tiba juga di ujung hutan.

Namun, saat baru saja akan melangkahkan kaki keluar dari hutan itu, pandangan mata keduanya langsung tertumbuk pada asap hitam yang membumbung tinggi ke angkasa.

"Apa itu?" mata Agiriya terbelalak. Ia tahu sekali posisi asap hitam itu, tepat di mana Panggrang Muara Gunung berada.

"Sepertinya...," Agiriya tak melanjutkan kata-katanya. Tiba- tiba saja, tanpa menunggu Magra Sekta lagi, ia sudah melompat ke depan.

"Agiriya, tunggu!" Magra Sekta segera mengikuti lompatan itu.

Keduanya kemudian berlari cepat menuju ke arah itu.

Hanya dengan lompatan-lompatan ringan beberapa kali saja, keduanya dapat berada jauh ke depan. Di situlah, keduanya kemudian melihat Panggrang Muara Gunung telah terbakar hebat.

Agiriya hanya bisa terpana. Matanya sempat melihat tubuh- tubuh tergeletak tak bergerak berserakan di mana-mana. Ia tahu betul, mereka itu adalah murid-murid Panggrang Muara Gunung. Agiriya dan Magra Sekta sama sekali tak tahu bahwa beberapa saat yang lalu, sosok-sosok berpakaian hitam telah melayang masuk dari celah bukit, dan segera mengepung Panggrang Muara Gunung. Saat itu, Guru Kuyajadran sendiri yang langsung menyambut kedatangan itu.

"Di mana putri Datu Muara Jambi?" seru seseorang di antaranya.

Guru Kuyajadran melirik sekelilingnya, 'Aku tak tahu."

Dan, jawaban itu langsung disambut dengan sebuah serangan mematikan.

"Aku akan membuatmu bicara!" seru sosok itu.

Dan, pertarungan itu kemudian disusul oleh serangan sosok-sosok berpakaian hitam itu kepada murid-murid Panggrang Muara Gunung. Pertarungan besar sungguh tak bisa dihindari lagi. Namun, di tengah pertarungan itu, tiba-tiba sesosok tubuh tanpa penutup wajah dan dengan jubah hitam panjang melayang dengan gerakan ringan dan langsung berhadapan dengan Guru Kuyajadran.

Ialah Wantra Santra!

"Sebenarnya, kau cukup mengatakan ia ada di mana!" ujarnya dengan suara sedingin es.

Guru Kuyajadran seketika merasakan kengerian saat melihat sosok di depannya ini. Namun, bersamaan dengan itu, ekor matanya melihat sekelilingnya. Saat itulah ia melihat beberapa muridnya telah terbunuh begitu saja.

"Hanya karena mencari seseorang kau membunuhi muridku?" bentaknya marah. "Kau sungguh ... berlebihan!"

Dan, bersamaan dengan selesai ucapannya, sebuah serangan langsung mengarah kepada Wantra Santra. Namun, dengan mudah Wantra Santra berkelit menghindarinya. Ia segera mengibas jubahnya dan mengeluarkan tiga bola baja dari balik jubahnya.

Guru Kujajadran tak memberinya waktu. Ia turut melompat tinggi, kembali memberi serangan kepada Wantra Santra.

Namun, tiga bola baja milik Wantra Santra telah berputar mengelilingi tubuhnya. Hingga mau tak mau, Guru Kuyajadra menghentikan serangannya, dan berbalik menghindar.

Akan tetapi, tiga bola baja itu seakan memburunya. Dan, hanya dengan beberapa jurus kemudian, tiga bola baja itu akhirnya dapat menghantam tubuh tua Guru Kuyajad-ran hingga terpelanting....

Agiriya menelan ludah. Ia seakan bisa membayangkan keadaan gurunya ketika itu. Tangan Agiriya tiba-tiba mengencang. Namun, baru saja ia akan melayang maju, tangan Magra Sekta menahannya.

"Jangan, Agiriya!" ia menarik Agiriya untuk mundur. "Aku melihat ada beberapa orang berbaju hitam di sana "

Agiriya segera membuang pandangannya ke depan, "Baguslah kalau begitu," matanya berkilat. "Kita bisa menghabisi mereka "

"Sadarlah engkau!" Magra Sekta, dengan gigi yang kini bergemeretak, menarik Agiriya ke belakang dengan kasar. "Ka kalau Panggrang Muara Gunung bisa dibakar seperti itu,

tentunya mereka telah mengalahkan Guru Kuyajadran. Me ...

mereka pastilah bukan lawan kita "

"Aku tak peduli!" Agiriya berusaha melepaskan pegangan Magra Sekta.

"Agiriya!" Magra Sekta membentaknya. "Ki kita akan mati

sia-sia!"

"Kalau kau takut, kau di sini saja!" Agiriya menyentak tangan Magra Sekta hingga lepas. "Dasar pengecut!" sempat ia berteriak. Akan tetapi, belum sempat Magra Sekta kembali berucap, tiba-tiba keduanya mendengar deru angin mendekati mereka. Agiriya dan Magra Sekta segera menyadari kehadiran beberapa orang ke arah mereka.

Magra Sekta segera saja menarik tangan Agiriya. Dengan tumpuan batu, ia melompat ke belakang. Agiriya kali ini tak berusaha memberontak. Ekor matanya telah melihat puluhan sosok berbaju serba hitam melayang ke arah mereka. Terlihat jelas, bila ilmu meringankan tubuh orang-orang itu sangatlah baik.

"Dengar!" sambil berlari, Magra Sekta berteriak di antara gemeretakan giginya. "Kalau kau ingin benar-benar membalaskan ini, kau harus tetap hidup!"

Kali ini Agiriya tak membantah. Ia bisa memahami ucapan Magra Sekta. Tampaknya yang dihadapinya kini bukanlah lawan yang sebanding dengan dirinya. Ia bisa mati dengan mudah bila tetap nekat melakukan penyerangan. Dan, bila itu terjadi, tak akan ada lagi yang akan membalaskan kehancuran Panggrang Muara Gunung!

Maka, bersama Magra Sekta, ia pun segera berlari kembali ke dalam hutan.

Kali ini hutan telah tampak gelap. Ini sedikit banyak membantu pelarian mereka. Orang-orang berpakaian hitam itu, tak lagi bisa melayang di tempat seperti ini.

Keduanya tetap berlari semakin memasuki hutan. Namun, bukan melalui bukit yang sebelumnya mereka datangi, tetapi terus ke utara. Di sini, keadaan hutan tampak lebih lebat.

Pohon-pohon tumbuh tak beraturan. Beberapa kali Magra Sekta terjatuh tersandung akar. Namun, keduanya dapat terus kembali berlari.

Hingga tibalah mereka di sebuah sungai kecil, yang melintang menghalangi langkah mereka. Keduanya terdiam sesaat, membiarkan bunyi gemericik air masuk di telinga. Sebenarnya sungai itu tak terlalu lebar.

Hanya perlu dua lompatan besar untuk bisa melewatinya. Namun, bukan itu yang membuat keduanya terdiam.

"Ini sungai yang ... dilarang oleh guru ... untuk kita le ... lewatisuara Magra Sekta di antara desahan napasnya, memecah kediaman.

Agiriya mengangguk sambil menoleh ke arah Magra Sekta, "Kita tak punya pilihan lain, Magra!" suaranya masih tampak terkontrol di sela napasnya. "Kita harus tetap menyeberanginya!"

Lalu, tanpa berucap apa-apa lagi, Agiriya melayangkan tubuhnya ke arah batu besar yang ada di tengah sungai. Lalu, dijadikannya batu itu sebagai tumpuan untuk melayang kembali hingga ke seberang.

Hanya sekedipan mata, Magra Sekta sudah melihat Agiriya telah berada di seberang. Ia pun segera menarik napas panjang dan mulai melompat mengikuti gerakan Agiriya tadi. Bersamaan dengan itu, keduanya melihat puluhan sosok berpakaian hitam itu muncul dari balik pohon-pohon besar itu. Tanpa banyak bicara, semuanya segera melompati sungai itu.

Agiriya dan Magra Sekta kembali berlari. Namun, hanya beberapa saat berselang, keduanya tiba-tiba harus menghentikan langkah mereka. Di depan mereka, secara tak terduga dan sangat mengejutkan, sebuah jurang telah menganga lebar!

Seiring itu, sosok-sosok berpakaian hitam itu sudah melayang di dekat mereka. Tangan mereka yang membawa sebilah pedang, sudah terangkat....

Agiriya dan Magra Sekta terjebak. Puluhan sosok berpakaian hitam itu satu per satu mulai berderet menutupi ruang gerak keduanya. Seseorang yang tampaknya pemimpin pengejaran itu segera maju ke depan. "Kalian tak bisa ke mana-mana lagi," suaranya terdengar berat dari balik penutup wajahnya.

Agiriya tersenyum sinis. Tanpa basa-basi, dengan hanya sekali sentak, ia sudah menyerang lelaki itu. Dalam kondisi seperti ini ia seharusnya menyerang dengan pedangnya.

Namun, kali ini pedang yang biasanya selalu tergantung di pinggangnya, memang tengah tak terbawa.

Maka itulah, serangannya terasa mentah. Dengan gerakan ringan saja, sosok berpakaian hitam itu dengan mudah menghindarinya. Tubuhnya kemudian berputar dan membuat gerakan tak terduga bagi Agiriya.

BUUUK!

Tangan keduanya berbenturan dengan hebat. Magra Sekta dengan gerakan ragu akhirnya melompat di antara keduanya. Namun, hanya dengan sekali sentakan, sosok itu mengibasnya hingga tubuhnya terjengkang ke belakang.

Magra Sekta jatuh terjajar. Segera ia bangun, tetapi kali ini dua sosok berpakaian hitam lainnya segera menyerangnya, menutup gerakannya ke arah Agiriya.

Terjadilah kemudian dua perkelahian di tepi jurang itu. Akan tetapi, hanya beberapa saat saja Agiriya dan Magra

Sekta sudah terdesak. Agiriya masih mampu mengeluarkan serangannya. Namun, sosok yang dihadapinya selalu dengan mudah menghindarinya.

WUUUSH... WUUUSH....

Beberapa serangannya hanya membentur angin. Namun, itu tak membuat Agiriya mengendurkan serangannya. Di lain pihak, Magra Sekta telah berkali-kali jatuh terkena pukulan. Dua lawan yang dihadapinya jelas bukanlah lawan sebanding dengannya. Sementara itu, sosok yang kini berhadapan dengan Agiriya kembali mencoba membuka serangannya. Namun,

Agiriya pun tampaknya dapat selalu menghindar dengan mudah. Bahkan, ia kembali dapat melakukan serangan balasan.

"Ternyata kemampuanmu cukup istimewa," sosok itu berucap. Namun, hanya sekedipan mata kemudian, sebuah serangan kembali terarah kepadanya.

Sosok itu terpaksa menahannya dengan tangannya. BHUUUKH!

Sebuah benturan keras terjadi. Posisi Agiriya yang tengah melakukan serangan sambil membawa tubuhnya, membuat tubuhnya ikut terpelanting ke belakang.

"Aaaah "

Agiriya dapat mendarat tepat di pinggir jurang. Namun, tanah yang terinjak kakinya tiba-tiba ambrol dan membuat kakinya tergelincir dan tubuhnya limbung ....

Kejadiannya begitu cepat. Agiriya benar-benar tak bisa lagi menahan tubuhnya. Ia pun terjatuh ke dalam jurang itu ....

Magra Sekta yang melihat itu, segera saja memaksakan dirinya untuk melompat ke arah itu sambil berusaha menggapai tubuh Agiriya.

"AGIRIYAAA!" ia berteriak panjang. Namun, gerakannya sudah sangat terlambat. Walau separuh tubuhnya telah ada di bibir jurang sekalipun, tubuh Agiriya tak lagi bisa terjangkau.

"AGIRIYAAA!" Magra Sekta tergugu. Ia hanya bisa ?melihat wajah Agiriya sesaat, seiring tubuhnya yang terus meluncur ke bawah.

Lalu, belum sempat Magra Sekta melakukan apa-apa lagi, sebuah tendangan tiba-tiba sudah membuatnya terhempas. Disusul seseorang yang melayangkan pedangnya dan membabat perutnya!

-ooo0dw0ooo-