-->

Pandaya Sriwijaya Bab 18 : Datu Muara Jambi

Bab 18 : Datu Muara Jambi

5ri Maharaja Balaputradewa memandang gelapnya langit di atas sana. Sedikit hatinya mengeluh. Ah, mengapa kini langit selalu tampak lebih gelap di matanya? Sepertinya dulu, kepekatannya tak pernah seperti ini? Apakah langit di Telaga Batu berbeda dengan langit di Bhumijawa? Ataukah langit

sejak peperangan itu tak lagi berubah?

Sri Maharaja Balaputradewa terdiam. Namun, bayangan masa lalunya tanpa bisa ia halangi mengoyak ketenangan hatinya.

Langit yang gelap .... Langit yang sangat gelap ....

Sri Maharaja Balaputradewa tiba-tiba kembali teringat saat kepergiannya dari istana ketika itu ....

Apa Paman Balaputradewa menginginkah takhta itu? Sebuah suara bergema di kepalanya. Itu suara Jatiningrat, suami Pramodawardhani.

Apa Paman Balaputradewa masih menginginkah takhta itu?

Ya, benarkah ia menginginkan takhta yang seharusnya menjadi hak Pramodawardhani itu? Batinnya seakan ikut bertanya. Dan, Sri Maharaja Balaputradewa hanya bisa menghela napas panjang. Ia sepertinya tak pernah benar- benar bisa menjawab dua pertanyaan yang sama itu.

Lalu, suara Jatiningrat kembali menyeruak di labirin hatinya, Paman, aku sama sekali tak tertarik dengan takhta itu. Dan, aku tak akan mengingkari ucapanku ini. Suatu saat akan kubuktikan kepadamu. Kini, yang ingin kulakukan hanyalah menikahi Pramo-dawardhani....

"Entahlah, sepertinya ada sesuatu yang salah kepadaku Sri Maharaja Balaputradewa terdiam sesaat. "Aku tak lagi

bisa melakukan meditasi dengan baik .„,"

Ia kemudian menatap wajah Dapunta Cahyadawasuna yang bersila di depannya, "Aku ingin kau mengajarkannya kepadaku..”

Dapunta Cahyadawasuna segera mengangkat wajahnya, "Apa yang dapat hamba ajarkan? Hamba pikir itu mungkin hanya karena Sri Maharaja kurang berkonsentrasi

"Tidak, tidak," ujar Sri Maharaja Balaputradewa, "aku ingin kau mengajarkannya dari awal. Mungkin ada sesuatu yang

terlewat olehku

Dapunta Cahyadawasuna terdiam, "Baiklah, kalau itu yang Sri Maharaja inginkan."

Senyum Sri Maharaja Balaputradewa mengembang, "Kita bisa mulai sekarang!"

Dapunta Cahyadawasuna mengangguk. Sesaat diamatinya keadaan sekitar. Tak ada seorang pun di ruangan ini. Tampaknya Sri Maharaja Balaputradewa telah menyuruh semua anak buahnya pergi.

Dapunta Cahyadawasuna menarik napas panjang. "Pikiran yang tak terlatih," ia memulai, "akan mengakibatkan emosi yang tak menentu. Pikiran yang tenang dapat dengan mudah menghadapi tantangan hidup seperti apa pun

Dapunta Cahyadawasuna menaikkan posisi tubuhnya. Meluruskan tangannya dan meletakkannya pada tekukan kakinya yang bersila.

"Mulailah berkonsentrasi pada napas," ujarnya. "Pejamkan mata, duduk tegak agar saluran pernapasan lancar dan terbuka. Biarkan tubuh menjadi santai dan bernapaslah seperti biasa. Hitunglah satu untuk satu siklus napas, lalu lakukan hingga hitungan kesepuluh. Lakukan berulang-ulang

Lalu, Dapunta Cahyadawasuna berucap panjang. Dan, Sri Maharaja Balaputradewa dengan serius mengikuti semua yang diucapkan Dapunta Cahyadawasuna.

Sampai sekian lama keduanya berada dalam keremang-an ruangan itu. Saat itu Dapunta Cahyadawasuna memang tengah mengajarkan dhyana, meditasi mengosongkan pikiran

Setelah beberapa saat mencoba hingga beberapa kali, barulah Dapunta Cahyadawasuna memberi arahan untuk prajna, meditasi untuk mengisi pikiran.

"Duduklah dengan tenang!" ujarnya kembali. "Pejamkan mata untuk mengurangi gangguan. Alihkan perhatian pada napas, tetapi kali ini dengan memeditasikan secara berbeda. Pusatkan perhatian pada proses bernapas. Pada saat menarik napas, perhatikan bagaimana udara memenuhi paru-paru dan menyebabkan rongga dada membesar. Ikuti aliran udara selagi mengembuskan udara keluar melalui hidung

Kemudian, waktu seakan terlupa oleh keduanya. Hanya desahan napas yang terdengar di ruangan itu. Namun, di tengah konsentrasi itu, tiba-tiba Pu Chra Dayana memasuki ruangan dengan langkah ragu.

"Maafkan hamba telah mengganggu," ia membungkuk dalam-dalam. "Panglima Samudra Jara Sinya, Panglima Bhumi Cangga Tayu, dan Wantra Santra sudah menunggu sejak tadi."

Sri Maharaja Balaputradewa menoleh. "Ah, aku ternyata terlalu sibuk dengan latihan ini hingga melupakan urusan lainnya," ia segera bangkit.

"Katakan aku akan segera ke sana, Pu Chra Dayana!"

Pu Chra Dayana mundur. Sri Maharaja segera mempersiapkan dirinya dengan terburu.

"Tampaknya kita harus menunda dulu latihan ini!" ujarnya sambil beranjak dari ruangan itu.

"Maafkan hamba, Sri Maharaja," Dapunta Cahyadawasuna menahan langkahnya. "Hamba yakin, meditasi yang telah dipelajari oleh Sri Maharaja sebelumnya, sama dengan yang hamba ajarkan saat ini. Mungkin, bila itu tidak berjalan dengan baik, itu karena permasalahan yang tengah dihadapi oleh Sri Maharaja memanglah begitu beratnya hingga dapat menyita pikiran Sri Maharaja "

Sri Maharaja Balaputradewa menganggukkan kepalanya. "Ya, mungkin saja, mungkin saja ujarnya sambil berusaha tersenyum.

-ooo0dw0ooo-

Pertemuan itu diadakan saat kelelawar mulai beterbangan di langit-langit malam. Di ruangan paling dalam di Kcdatuan Sriwijaya, di Telaga Batu, lima sosok tubuh tengah bersila di depan Sri Maharaja Balaputradewa. Mereka adalah Panglima Samudra Jara Sinya, Panglima Bhumi Cangga Tayu, Pu Chra Dayana, Dapunta Cahyadawasuna dan pemimpin kelompok rahasia Wangseya, Wantra Santra.

"Datu Muara Jambi berkhianat?" suara Sri Maharaja Balaputradewa terdengar tak percaya. "Bagaimana mungkin ini bisa lepas dari perhatianmu, Wantra Santra?"

Wantra Santra membungkuk dalam, "Maafkan kelalaian hamba, Sri Maharaja. Namun, sungguh, semua ini tak hamba duga "

Pu Chra Dayana meminta waktu bicara. "Mungkin ...

Kerajaan Malaya ada di belakang ini semua hingga kita tak bisa mengetahuinya lebih awal...," ujarnya.

Sri Maharaja Balaputradewa menggeleng lemah, "Rasanya tak mungkin bila ini dilakukan oleh Kerajaan Malaya. Bukankah tak ada lagi yang tersisa dari mereka?"

Pu Chra Dayana membungkuk, "Tentu saja kemungkinannya itu tetap ada. Saat perebutan Minanga Tamwa dari tangan Dapunta Mahak Ilir, banyak dari mereka yang melarikan diri ke utara."

Sri Maharaja Balaputradewa kembali bertanya, "Tetapi, siapa dari mereka yang cukup kuat dapat memengaruhi Panglima Tambu Karen, penguasa Minanga Tamwa sekarang? Dan juga Dapunta Ih Yatra penguasa Muara Jambi? Tentunya orang itu haruslah menawarkan keadaan yang lebih baik dari yang kita tawarkan, bukan?"

Sri Maharaja Balaputradewa menyapukan pandang-annya. "Hamba setuju dengan Sri Maharaja," Panglima Samudra

Jara Sinya yang sejak tadi diam akhirnya terdengar suaranya.

"Ini mungkin tak ada hubungannya dengan Kerajaan Malaya. Panglima Tambu Karen dan Dapunta Ih Yatra bisa saja bergerak sendiri. Hamba pikir tak ada lagi orang-orang dari Kerajaan Malaya yang cukup mampu memengaruhi keduanya " Semua terdiam, tak ada yang menyahut ucapan Panglima Samudra Jara Sinya.

Lalu, Panglima Bhumi Cangga Tayu membungkuk, "Hamba pikir, sebaiknya akan lebih baik kalau kita langsung bertindak sekarang, tanpa membuang waktu lagi."

Sri Maharaja Balaputradewa menoleh, "Bertindak?" . "Posisi Muara Jambi sangatlah penting," ujar Panglima

Bhumi Cangga Tayu lagi. "Namun, Dapunta Ih Yatra belumlah memiliki pasukan yang besar. Kita memiliki pasukan yang ada di beberapa utik di sekitar tempat itu. Hamba pikir ditambah dengan pasukan rahasia milik Wangseya yang dapat bergerak cepat, kita bisa merebut kembali datu itu

-ooo0dw0ooo-

Kelalaian haruslah ditebus.'

Maka, hanya beberapa malam berselang, masih dalam pekatnya malam, rencana perebutan Datu Muara Jambi berlangsung. Tak perlu waktu lama semuanya dipersiapkan. Wantra Santra yang seakan ingin membayar semua kelalaiannya, langsung memanggil seluruh pasukan rahasianya yang tersebar di pelosok negeri. Hanya beberapa hari saja, ratusan sosok berpakaian serbahitam telah melayang mengitari Datu Muara Jambi!

Panglima Bhumi Cangga Tayu yang menyaksikan pemandangan itu hanya bisa memandang takjub. Ia sendiri masih menunggu kedatangan pasukannya dari datu-datu di sekitar Muara Jambi. Namun, kelompok rahasia Wangseya tampaknya telah siap untuk menyerang.

Sungguh ini membuat Panglima Bhumi Cangga Tayu semakin kagum. Sejak dulu ia sudah mengira bahwa Wantra Santra memiliki banyak pasukan. Namun, ia sama sekali tak menyangka bila pasukan itu ternyata bisa sebanyak ini dan dapat dikumpulkan dalam waktu begitu singkat.

Maka, ia pun kemudian membiarkan saja ketika Wantra Santra memintanya untuk mendahului penyerangan ke dalam Kedatuan Muara Jambi. Ia menganggap ini adalah waktu yang tepat. Kedatuan Muara Jambi tak akan mengira bila pihak Kerajaan Sriwijaya akan menyerangnya secepat ini. Apalagi saat itu posisi Kedatuan Muara Jambi memang cukup jauh dari pelabuhan mereka. Ia yakin sebagian besar pasukan Muara Jambi pastilah menjaga pelabuhan itu, terutama di dua benteng di tepi sungai itu!

Panglima Bhumi Cangga Tayu diam-diam tersenyum sendiri. Tampaknya ini tak akan membutuhkan waktu lama. Bukankah dengan menghancurkan pusatnya terlebih dahulu akan lebih mudah menghancurkan pasukan yang tersisa di tempat lainnya?

Maka, tak lama berselang, sosok-sosok serbahitam itu berkelebat memenuhi seluruh celah malam menuju Kedatuan Muara Jambi. Dan, sosok Wantra Santra melayang di posisi paling depan di antara semuanya. Ia memimpin langsung penyerangan ini.

Dengan kehadiran dirinya, tentu saja tak butuh waktu lama untuk menghancurkan Kedatuan Muara Jambi. Kesaktian Wantra Santra yang telah mencapai kesempurnaan, serta serangan ratusan orang yang begitu mendadak dengan mudah melumpuhkan semua pasukan yang berjaga.

Maka, di akhir penyerangan itu, Wantra Santra pun berhasil membunuh Dapunta Ih Yatra dan delapan belas anak lelakinya!

Sungguh, kejadiannya begitu cepat. Matahari bahkan belum menunjukkan tanda-tanda untuk terbit. Dan, penduduk di sekitar kedatuan belum sepenuhnya menyadari penyerangan ini. Akan tetapi, saat pembantaian itu terasa akan usai, Wantra Santra seakan tersadar akan sesuatu. "Anak perempuannya tak adadesisnya. Ia ingat sekali bila anak bungsu Dapunta Ih Yatra adalah seorang perempuan. Dan, itu tak ditemuinya sekarang!

Beberapa orang pengawalnya segera berlari mencari. Namun, mereka tak menemui seorang perempuan pun di seluruh kediaman ini, bahkan di antara mayat-mayat yang bergeletakan. Hanya seorang pelayan yang masih hidup yang kemudian mereka temukan tengah bersembunyi di dapur.

Segera saja mereka menariknya ke hadapan Wantra Santra.

"Katakan di mana anak perempuan Ih Yatra?" perintah anak buah itu sambil menempelkan pedangnya pada leher pelayan itu.

Dengan wajah ketakutan, lelaki tua itu membungkuk sambil menangis tergugu, "Putri Agiriya ... ia ... ia pergi ... ke Panggrang Muara Gunung "

-ooo0dw0ooo-