Pandaya Sriwijaya Bab 17 : Penaklukan Para Bajak Laut Pantai Barat

Bab 17 : Penaklukan Para Bajak Laut Pantai Barat 

Jauh dari Telaga Batu, jauh dari kejadian memalukan di Batanghari itu, empat buah sambau tengah melaju kencang membelah lautan di Pantai Barat....

Berbeda dengan Pantai Timur yang tampak landai, tempat kadang keramaian dapat terlihat di tepian pantai, Pantai Barat tampak lebih berbukit. Pantai-pantainya hampir semuanya berlatar bukit. Dari arah utara hingga ke selatan, bukit-bukit memang berjejer memanjang, membuat Pantai Barat ini seakan menjadi tempat yang terpisah dari Sriwijaya.

Beberapa datu kecil tersebar di sepanjang Pantai Barat. Kini semuanya merupakan bagian dari Kerajaan Sriwijaya. Satu datu yang terbesar di antara yang lain adalah Datu Singkep.

Sebelumnya Datu Singkep merupakan kerajaan kecil yang berdiri sendiri. Panglima Samudra Jara Sinya, yang saat itu masih menjadi Panglima Muda, berhasil menaklukkannya dalam sebuah peperangan pendek. Sejak itu Datu Singkep pun takluk.

Kini di generasi kedua Datu Singkep, Dapunta Kangga Kiya, yang menguasai tanah itu, meminta pertolongan Kedatuan Sriwijaya untuk memberantas bajak laut yang semakin berani di perairannya.

Letak Datu Singkep memang cukup strategis, berada di hulu sebuah sungai besar yang disebut Batang Tigo, yang letaknya tak jauh dari Batanghari. Sehingga dapat dikatakan Datu Singkep-lah penguasa Batanghari di bagian Pantai Barat.

Pelayaran empat sambau itu dipimpin oleh Kara Baday.

Setelah bergabung dengan Sriwijaya, Panglima Samudra Jara Sinya menggantikan dua belas perahu kecil miliknya dengan empat buah sambau berukuran sedang, berlayar dua tiang. Empat sambau itu tentu saja terlalu besar bagi sekitar seratus orang bekas bajak laut Pulau Karang yang tersisa. Maka itulah, kemudian Panglima Samudra Jara Sinya pun menyerahkan kepadanya lima puluh anggota pasukan baru untuknya. Kini, dengan tak kurang dari 150 pasukan, Kara Baday memulai perjalanan melalui jalur selatan. Sengaja ia melakukan pelayaran dari jalur selatan yang memutar karena ia ingin sekaligus menyisir bajak laut yang ada di sepanjang Pantai Barat itu.

Sampai hari ini, di hari kedua puluh pelayarannya, Kara Baday dan pasukannya telah menghancurkan empat kelompok bajak laut kecil. Dua di antaranya ditemukan ketika sedang beraksi. Yang lainnya ditemukan ketika sedang mengemasi barang rampokan di markas mereka.

Walau penaklukan ini terdengar mudah, tetapi sebenarnya cukup sulit. Mungkin bisa terlihat mudah karena semuanya dilakukan oleh bekas bajak laut sendiri.

Pada kenyataannya, mengejar bajak laut adalah sesuatu yang sulit. Perlu perasaan dan pengalaman untuk itu.

Terutama saat menebak waktu mereka beraksi, juga saat pengejarannya. Sungguh, tak mudah membuat jalur potong saat pengejaran para bajak laut itu. Perlu perasaan untuk melakukan itu. Dan, Kara Baday menguasai itu dengan baik.

Terlebih untuk menemukan tempat persembunyian bajak laut, ini lebih sulit lagi, atau bisa dikatakan hampir tak mungkin. Biasanya para bajak laut bersembunyi di tempat yang sangat tersembunyi atau ... di tempat yang sama sekali tak terduga. Satu di antara kelompok bajak laut yang dihancurkan itu bahkan ditemukan Kara Baday ada di pantai yang sama di mana pelabuhan datu itu berada.

Dan kini, memasuki hari kedua puluh pelayaran ini, sambau Kara Baday tengah menuju Datu Singkep. Ini menjadi pelayaran terpanjang bagi dirinya selama ini. Tubuhnya sudah tampak lelah, walau raut wajahnya masih kelihatan bersemangat.

"Aku rindu daratan," ujarnya kepada Paman Kumbi Jata yang selalu ada di sampingnya. Paman Kumbi Jata tertawa, "Kau ini. Kita semua merindukan daratan."

Kara Baday tersenyum. Untuk sejenak ia membiarkan sambau-nya meluncur halus. Matanya melihat sebuah daratan tak jauh dari sana ....

Tiba-tiba Paman Kumbi Jata mendekat kepadanya. "Kara," nada suaranya terdengar ragu. "Sebenarnya ada yang ingin kubicarakan kepadamu

Kara Baday menoleh, "Ada apa, Paman?"

"Entahlah," Paman Kumbi Jata membuang pandangannya jauh ke depan. "Kadang aku merasa bahwa kita hanya ...

dimanfaatkan oleh Panglima Samudra Jara Sinya "

Kara Baday mengerutkan keningnya, "Mengapa kau merasa begitu, Paman? Bukankah kau juga yang "

"Aku tahu, aku tahu," Paman Kumbi Jata memotong cepat. "Ini hanya perasaan yang datang tiba-tiba saja. Seharusnya mungkin tak perlu kuucapkan kepadamu!" Paman Kumbi

Jata mencoba tersenyum, "Maafkan aku "

Kara Baday mencoba tersenyum, "Tak perlu minta maaf, Paman. Aku bisa memahaminya. Karena kadang aku sendiri

berpikir seperti itu. Namun, tentu saja itu keraguan yang tak beralasan. Kita sama sekali tidak dimanfaatkan, Paman. Sama sekali tidak. Kita hanya sedang diberi kesempatan!"

Kara Baday menatap Paman Kumbijata lebih lekat, "Panglima Samudra Jara Sinya adalah lelaki terhormat. Ia tak mungkin menarik ucapan untuk memberikan gelar panglima muda itu kepadaku bila kita berhasil menaklukkan para bajak laut itu, bukan?"

Paman Kumbijata mengangguk-angguk, "Ya, aku paham, aku paham Kara Baday tertawa kecil, "Dan, bisa kaubayangkan setelah itu, Paman?" Ia masih menatap Paman Kumbijata, "Kita semua tak lagi hidup dalam pelarian. Tak perlu lagi kita dikejar-kejar sesuatu yang selalu membuat kita terus berpindah-pindah dan bersembunyi. Kita tak akan lagi seperti itu, Paman. Istri, anak-anak, dan siapa saja yang selama ini mendampingi kita tak perlu lagi... hidup dengan ketakutan!"

Kara Baday menyentuh kedua pundak Paman Kumbi Jata, "Kita akan hidup dengan normal, Paman. Dan kita akan hidup dengan rasa bangga "

Paman Kumbi Jata mengatupkan bibirnya sambil mengangguk-angguk. "Ya, kau benar, Kara. Kau benar," ucapnya mencoba menyembunyikan gejolak hatinya.

'Jadi," ujar Kara lagi, "kita harus berusaha habis-habisan untuk ini, Paman!"

"Tentu saja, Kara, tentu saja," Paman Kumbijata masih terus mengangguk-angguk.

-ooo0dw0ooo-

Hanya sehari berselang, sambau mereka berlabuh di pelabuhan Datu Singkep. Karena sambau terlalu besar, ia tak bisa berhenti tepat di dermaga. Maka, sambau itu berhenti beberapa tombak di depan dermaga, lalu dengan perahu yang lebih kecil, Kara Baday, Paman Kumbijata, dan tiga orang anak buah lainnya, segera menepi ke pantai.

Beberapa orang dari Kedatuan Singkep segera menyambut kedatangan mereka dengan hormat.

"Kalian utusan Dapunta Hyang?" seorang yang tampaknya merupakan pu di kedatuan ini maju mendekat sambil membungkuk. Sebutan Dapunta Hyang di beberapa datu yang jauh dari Telaga Batu memang masih kerap digunakan daripada sebutan Sri Maharaja. "Ya," Kara Baday mengangguk mantap, "kami ditugaskan Panglima Samudra Jara Sinya untuk membantu di sini!"

Sekilas pu itu memperhatikan Kara baday, "Kalau boleh kutahu, siapa nama Panglima?" tanyanya.

Kara Baday tersenyum. Ini pertama kalinya seseorang menyebutnya dengan sebutan panglima. 'Aku Kara Baday," ujarnya kemudian.

Lelaki itu membungkukkan badannya, "Selamat datang di Datu Singkep, Panglima Kara Baday. Hamba Pu Kawelu siap melayani."

Lalu, iring-iringan itu segera berjalan ke utara. Letak Kedatuan Singkep dengan dermaga memanglah tidak terlalu jauh. Maka itulah, mereka menempuhnya dengan berjalan kaki. Hanya beberapa langkah saja, gerbang Datu Singkep sudah terlihat dengan jelas.

"Kami telah menghancurkan empat kelompok bajak laut di sepanjang perjalanan kemari," ujar Kara Baday.

Pu Kawelu tersenyum, "Syukurlah”

"Kami hanya ingin tahu hal ihwal bajak laut lainnya," tambah Kara Baday lagi.

Pertanyaan itu tak terjawab saat itu. Pu Kawelu sudah membawa rombongan kecil itu ke ruang pertemuan utama yang ada di depan Kedatuan Singkep. Di situ ternyata telah menunggu Dapunta Kangga Kiya, penguasa Datu Singkep.

Kara Baday dan Paman Kumbi Jata segera masuk dan memberi hormat kepadanya.

"Hamba Kara Baday dari Telaga Batu," ujar Kara Baday.

Lelaki yang tampak masih sangat muda ini mengamati kedatangan Kara Baday dengan tatapan tak percaya. "Kau masih tampak sangat muda," komentarnya. Kara Baday tersenyum. Bersama Paman Kumbijata, Kara Baday kemudian duduk bersila di depan Dapunta Kangga Kiya.

"Sebenarnya kedatangan kalian cukup terlambat," ujar Dapunta Kangga Kiya tanpa berbasa-basi lagi. "Tetapi, aku bersyukur akhirnya kalian datang juga."

Ia membuang pandangannya ke arah lautan, "Sudah sekian lama Bajak Laut Pande Wayu menguasai perairan kami," ujarnya lagi. "Mereka adalah bajak laut paling kejam yang pernah kutemui. "

Kara Baday melirik sekilas ke arah Paman Kumbijata yang bersila sedikit di belakangnya. Sedikit banyak keduanya memang pernah mendengar nama bajak laut itu.

Suara Dapunta Kangga Kiya kembali terdengar, "Mereka muncul sekitar dua tahun yang lalu. Hingga kini, mereka sudah menjadi kelompok bajak laut yang sangat kuat.

Pengikutnya mencapai ratusan orang. Dan, mereka tak hanya bergerak di perairan besar, tetapi juga bergerak di batang- batang yang tersebar di Pantai Barat ini

Kara Baday mendengarkannya dengan saksama, "Dapunta yakin mereka bajak laut yang sama?"

Dapunta Kangga Kiya mengangguk, "Ya, berdasarkan penyelidikan kami, itu benar mereka. Aksi mereka begitu mudah dikenali

"Mereka sangat brutal dan kejam," Pu Kawelu menambahkan.

Kara Baday terdiam. Sesaat ia kembali melirik kepada Paman Kumbijata.

Sebenarnyalah nama Bajak Laut Pande Wayu memang sudah begitu terkenal hingga di Pantai Timur Bhumi Sriwijaya. Mereka adalah kelompok bajak laut terbesar di Pantai Barat. Pemimpin bajak laut itu bernama Pande Wayu. Anak buahnya mencapai seratus orang lebih. Ia biasanya beraksi dalam tiga perahu besar berlayar tiga tiang, dengan jelajah wilayah yang sama sekali tak bisa ditebak. Dalam setiap aksinya ia tak pernah menyisakan satu orang pun di perahu yang baru dirampoknya.

Tak hanya sampai di sini, konon menurut kabar, kesukaan Pande Wayu adalah memakan daging manusia. Maka itulah, di setiap aksinya, ia akan memilih korban paling muda untuk disantapnya. Dan, itu biasanya adalah bocah-bocah kecil.

"Aku ingin kalian menghancurkan bajak laut itu," Dapunta Kangga Kiya berucap tegas. Kara Baday tak menyahut.

Kali ini, ia tak lagi bisa terlalu sesumbar. Bagaimanapun lawan yang dihadapinya adalah lawan yang berat, tidak seperti empat kelompok bajak laut yang dihancurkan sebelumnya.

"Apa yang paling sering dirampok oleh mereka?" tanya Kara Baday sejurus kemudian.

"Tentunya perahu para saudagar," jawab Dapunta Kangga Kiya. "Ia tak pernah mencari masalah dengan mengusik perahu-perahu milik datu-datu

"Ya, karena itulah belakangan ini mereka tak lagi beraksi," tambah Pu Kawelu. "Mungkin karena mereka sudah tahu tentang kehadiran sambau Sriwijaya

Kara Baday berpikir sejenak, ia menyuruh Paman Kumbi Jata mendekat kepadanya. Keduanya lalu berbisik-bisik sesaat.

Tak lama kemudian Kara Baday kembali berpaling kepada Dapunta Kangga Kiya, "Saat ini ada berapa perahu saudagar yang tengah merapat di pelabuhan ini?"

Dapunta Kangga Kiya tak bisa menjawab, ia segera menoleh kepada Pu Kawelu. "Tampaknya sedang ada satu perahu milik saudagar Gujarat," jawab Pu Kawelu.

Kara Baday mengangguk-angguk, "Baguslah kalau begitu," ujarnya. "Aku ingin meminjam perahu itu."

-ooo0dw0ooo-

Di tempat yang tak terduga. Beberapa pasang mata selalu mengawasi keadaan pelabuhan Datu Singkep. Seorang pemuda bertubuh kecil baru saja turun dari sebuah pohon kelapa yang menjulang tinggi, lalu berlari menuju sebuah rumah. "Sambau itu telah pergi," ujarnya memecah keheningan. Lelaki yang tengah duduk di potongan batang pohon itu berdiri. Tubuhnya yang besar dan bertelanjang dada, sesaat berkilauan tertimpa sinar matahari. Ratusan luka akibat sabetan pedang terlihat hampir di seluruh tubuhnya.

Ialah yang dikenal dengan nama Pande Wayu, sang pemimpin kelompok bajak laut Pande Wayu.

Ia segera mendekat kepada lelaki bertubuh kecil itu. "Kau yakin?" suaranya terdengar serak.

"Ya, hamba mengamatinya sejak kemarin. Hampir semua orang di kapal itu turun untuk beristirahat di daratan. Dan, esok paginya, semua orang sudah kembali ke sambau, dan kembali melanjutkan perjalanan

Seorang lelaki tua berwajah lonjong mendekat pada keduanya. Ia adalah Kakek Cangko, kakek dari Pande Wayu.

'Aneh," gumamnya seakan kepada dirinya sendiri. "Mengapa mereka tak berusaha menangkap kita terlebih dahulu?"

Pande Wayu tertawa mendengar itu, "Tentu saja karena mereka takut kepada kita!" Kakek Cangko menggeleng, "Tidak, tidak, kupikir ini merupakan strategi mereka. Sungguh, tak mungkin mereka pergi begitu saja. Mereka baru saja tiba di sini kemarin "

Pande Wayu tampak tak senang dengan jawaban kakeknya itu. Namun, ia hanya bisa mendengus kesal.

"Kita amati saja terus sambau itu!" ujar Kakek Cangko lagi.

Pande Wayu mengangguk berat, "Tentunya esok hari, kita bisa kembali menyerang.''

Kakek Cangko mendekat kepada Pande Wayu. "Sabarlah," ujarnya, "menunggu beberapa hari lagi tak membuat kita mati!"

"Tetapi, aku ," Pande Wayu menelan ludah.

"Aku "

"Mengapa?" Kakek Cangko semakin mendekat. "Kau sudah ingin kembali memakan bocah, heh?" Pande Wayu tak menjawab.

"Sudah kukatakan kepadamu, kebiasaanmu itu akan menghancurkan dirimu sendiri!" Kakek Cangko meludah, "Kenikmatan tak akan benar-benar membawa kenikmatan!"

Pande Wayu mendengus kesal. Segera saja ia beranjak pergi. Masih sempat didengarnya kakeknya berujar kepada anak buahnya, "Kau kembali lagi ke pohon itu dan perintahkan kepada beberapa orang untuk berpura-pura menjadi nelayan dan mengamati pelabuhan lebih dekat

Dan, pemuda berbadan kecil itu kembali naik ke atas pohon. Diperhatikannya perairan di kejauhan sana. Namun, sampai lama, tak ada kejadian apa pun. Keempat sambau Sriwijaya itu benar-benar menghilang di cakrawala di sebelah selatan sana. Dan, keadaan normal seperti biasa begitu nyata terlihat di sekitar pelabuhan Datu Singkep.

Menjelang sore hari, lelaki kurus itu kembali menghadap. "Sambau itu benar-benar telah pergi," ujarnya. "Aku sudah tak melihatnya lagi. "

Pande Wayu tersenyum senang, menampakkan gigi-giginya yang hitam. Dan, sebelum senyum itu benar-benar terhenti, tiga orang berpakaian nelayan sudah menghadapnya.

"Kapal saudagar Gujarat itu akan segera berlayar," ujarnya. Pande Wayu tertawa, "Hahaha, ini sudah waktunya!"

teriaknya.

Akan tetapi, Kakek Cangko muncul dari belakangnya, berjalan ke depan, melewati Pande Wayu dengan lirikan sinisnya. 'Apa tidak ada yang mencurigakan?" tanyanya kepada tiga orang berpakaian nelayan itu.

Ketiganya saling memandang. Salah satu mengangkat kepalanya, "Sepertinya tak ada yang mencurigakan," ujarnya "Mereka tak tampak membawa orang lebih banyak?" Lelaki itu berpikir sejenak. Namun, saat itu semuanya memang terasa sangat normal. Orang-orang Gujarat itu berlayar dari perahu kecil menuju ke perahu mereka yang besar. Lelaki itu memperhatikan semuanya dengan baik. Tak ada penambahan penumpang yang mencolok. Mereka hanya membawa beberapa kotak besar, yang berisi barang-barang dagangan yang mereka beli di Datu Singkep.

Benar-benar normal. Bahkan, saat akan mulai melaut pun, mereka tak melihat perahu-perahu lain di sekitar mereka.

Hanya nelayan-nelayan biasa yang mulai berangkat melaut. Sungguh, tak ada yang berlebihan.

"Sepertinya semua tampak normal," ujarnya lagi. Pande Wayu kembali tertawa, "Sudahlah, Kakek," ujarnya. "Kau tak.perlu khawatir. Kurasa ketakutanmu sangat berlebihan!"

Kakek Cangko tak berucap apa-apa. Pande Wayu kemudian segera berdiri, "Sekarang, siapkan semuanya!" ia berteriak. "Malam ini kita menyerang perahu Gujarat itu!" Dan, Kakek Cangko tak lagi berucap apa-apa lagi. Perahu Gujarat itu memang mulai berlayar malam ini. Karena banyaknya bajak laut, beberapa perahu memang lebih memilih memulai pelayarannya pada malam hari. Walau tampak lebih menakutkan, tetapi taktik ini kerap lebih berhasil digunakan saat melarikan diri dari kejaran para perampok.

Apalagi sesuai pengamatan, para bajak laut ternyata lebih banyak beraksi di siang hari daripada di malam hari!

Maka, ketika malam menjelang dan angin laut berembus, di tengah keheningan, tiga perahu besar tiba-tiba meluncur mendekati perahu Gujarat itu.

Perahu Gujarat yang melaju sangat pelan sama sekali tak merasakan apa-apa ketika perahu-perahu kecil mulai mendekati mereka dan tali-tali berbandul besi berpengait mulai melayang ke tepi perahu mereka. Disusul dengan menggelantungnya beberapa tubuh di situ.

Akan tetapi, untunglah salah seorang anak buah perahu segera menyadari itu.

"BAJAK LAUUU.T!" ia segera saja berteriak. Suaranya seketika mengoyak keheningan malam. Saat itulah, tiba-tiba saja tanpa diduga, dari kotak-kotak yang dibawa ke perahu sebelumnya, keluar sosok-sosok manusia yang sedari tadi meringkuk di dalamnya.

Mereka adalah anak buah pasukan Kara Baday! Hanya beberapa saat saja, Paman Kumbi Jata dan yang lainnya secara tiba-tiba sudah melompat ke atas dek dan mengambil alih pimpinan di perahu.

Sampai di sini, keadaan di dalam perahu Gujarat belum juga disadari oleh perahu-perahu Pande Wayu. Bahkan, ketika Paman Kumbi Jata berteriak untuk menyerang pun, Pande Wayu belum menyadarinya.

"SIAPKAN PANAAAH!" seiring teriakan Paman Kumbi Jata, pasukan panah tiba-tiba berjejer di sepanjang tepi perahu. Dan, tak perlu waktu lama, anak-anak panahnya segera menghujan ke bawah.

Pande Wayu yang masih berada dalam perahu besarnya sedikit merasa heran. Biasanya dalam keadaan panik karena serangannya, tak pernah anak buah kapal bersiap secepat ini.

Akan tetapi, keheranan ini tak berlangsung lama. Serangan hujan panah itu menyita pikirannya. Ia benar-benar belum menyadari kehadiran pasukan Sriwijaya di atas perahu Gujarat itu. Maka itu, ia terus berteriak menyuruh anak buahnya untuk terus naik ke atas perahu. Dan, ini tentu saja membuat anak buahnya menjadi sasaran empuk anak-anak panah dari atas perahu.

Di saat-saat seperti itu, tiba-tiba ekor matanya melihat perahu-perahu nelayan yang sejak tadi menyebar di sepanjang lautan tiba-tiba menuju ke arah mereka. Jumlahnya mencapai tiga puluh perahu!

Seketika Pande Wayu tertegun. Namun, belum habis rasa ketertegunannya, orang-orang dari perahu-perahu nelayan itu tiba-tiba menutup gerakan kapal-kapalnya dalam sebuah lingkaran dan didapatinya mereka sudah berdiri siap dengan anak panah terarah pada kapal para bajak laut ....

Pande Wayu bergetar. Saat itulah ia baru menyadari bahwa semua ini adalah perangkap! Dan lebih dari itu, ia tahu bahwa posisinya telah terkepung dari dua sisi!

Pande Wayu berteriak marah. Ia merasa telah dijebak.

Namun, hujan anak panah segera membungkam kemarahannya. Anak buahnya pun terkulai satu demi satu. Dan di saat ia merasa tak lagi bisa berbuat apa-apa, seorang pemuda berikat kepala putih, tiba-tiba sudah melompat ke arah perahunya ....

Sementara itu, jauh, jauh dari pertempuran itu, Kakek Cangko masih memandang ke arah lautan. Walau matanya hanya bisa menemukan kegelapan di sana, perasaannya seperti melukiskan sesuatu.

Teriakan-teriakan itu seakan sengaja dikirim angin hingga telinganya seperti bisa mendengarnya dengan samar-samar. Sungguh, ini membuat jantungnya berdegup kencang. Sampai beberapa saat terus seperti itu.

Akan tetapi, ketika akhirnya tak ada lagi suara yang dapat didengarnya dan keheningan menguasai suasana, ia pun berbalik dengan langkah goyah.

Saat itu air matanya jatuh ....

-ooo0dw0ooo-