Pandaya Sriwijaya Bab 16 : Tiga Panglima Muda

Bab 16 : Tiga Panglima Muda

Saat Panglima Bhumi Cangga Tayu tak lagi di sisinya, Panglima Samudra Jara Sinya masih terus berpikir. "Apa ada sesuatu yang mengganggu pikiran, Abah?" putra pertamanya, Luwantrasima, tiba-tiba sudah menghampirinya.

Panglima Samudra Jara Sinya menggeleng "Tak ada apa- apa, tak ada apa-apa

"Tetapi, Ayah tampak berpikir keras?"

Panglima Samudra Jara Sinya menghela napasnya, "Ya, aku memang sedang berpikir tentang pembicaraan yang lalu.

Pembicaraan di kedatuan itu dan pembicaraan bersama Cangga Tayu tadi

"Apa Ayah tengah berpikir tentang pengiriman tiga panglima muda ke sana?"

"Tidak hany*itu," ujar Panglima Samudra Jara Sinya. "tetapi juga hal lainnya. Terlalu banyak yang kupikirkan, terlalu banyak”

Lalu, Panglima Samudra Jara Sinya memandang ke hamparan taman yang ada di luar jendela. Luwantrasima segera memahami. Ia pun beranjak mundur secara perlahan dan berlalu dari ruangan ayahnya.

Dalam kesendiriannya, Panglima Samudra Jara Sinya masih bergulat dengan pikirannya. Pembelotan Panglima Tambu Karen di Minanga Tamwa benar-benar membuat banyak masalah muncul begitu saja .... Saat di kedatuan semalam, ia memang langsung diserahi tugas untuk mengirim beberapa sambau-nya guna mengawasi dan menjaga perairan Batanghari. Saat itu semuanya memang mendapat tugas dari Sri Maharaja Balaputradewa. Panglima Bhumi Cangga Tayu diserahi tugas untuk segera membangun pasukan di utara. Sedang Pu Chra Dayana ditugaskan untuk mulai merekrut pasukan-pasukan baru. Bahkan, dapunta yang baru saja ditunjuk menjadi pu itu, Dapunta Cahyadawasuna, juga diserahi tugas untuk memilih seorang pandaya....

Sungguh, Panglima Samudra Jara Sinya merasa semua ini terlalu terburu-buru ....

Akan tetapi, ia tak bisa berbuat apa-apa lagi, selain menentukan tiga panglima mudanya untuk pergi ke perairan Batanghari. Mereka yang kemudian terpilih adalah Panglima Muda Kra Dawang, Panglima Muda Patakanandra, dan Panglima Muda Mandrasiya....

-ooo0dw0ooo-

Hanya beberapa hari berselang, sembilan sambau Sriwijaya telah meluncur di perairan Batanghari. Mereka merayapi Batanghari dari arah muara ke arah barat. Awalnya, memasuki perairan sungai tidaklah mudah. Arus kencang dan angin yang bertiup ke laut kadang membuat posisi sambau oleng. Hanya perahu-perahu besar saja yang bisa melalui perairan ini. Dan, untungnya bila telah berada masuk ke dalam perairan sungai, keadaannya lebih mudah. Pada masa-masa ke-marau, Batanghari yang merupakan batang terbesar (Batanghari sendiri merupakan perairan yang cukup luas. Pada masa sekarang saja lebarnya mencapai enam puluh meter. Pada abad ke-8 dan ke-9, penelitian menunjukkan lebar sungai ini mencapai dua ratus meter lebih. Ini dibuktikan adanya kerak bekas air purba yang ada di daratan. Maka, dengan lebar lebih dari seratus lima puluh tombak, beberapa sambau dapat berjejer sekaligus saat melintasinya) yang ada di Bhumi Sriwijaya, bersama Sungai Musi, hanya berarus lembut.

Sambau Panglima Muda Kra Dawang berada di posisi terdepan. Ini merupakan sambau terbesar di antara sambau lainnya, sambau dengan empat tiang layar dan dilengkapi hampir dua puluh pelontar panah di setiap sisinya.

Pelontar panah adalah sejenis panah berukuran besar untuk menghancurkan kapal ataupun benteng musuh, di mana anak panahnya terbuat dari bambu besar, yang biasanya dilapisi minyak untuk disulut api. Biasanya pelontar panah dibuat di atas roda agar dapat dibawa sesuai keinginan.

Kini dengan rasa percaya diri, Panglima Muda Kra Dawang berdiri mengamati sekitarnya. Dua perahu besar dilihatnya tengah berlayar ke arah muara dan beberapa perahu kecil milik nelayan terlihat di beberapa titik. Mereka segera menepi ketika melihat iring-iringan sambau Sriwijaya mulai lewat.

Akan tetapi, semakin sambau-sambau itu masuk ke dalam, keadaan perairan tampak semakin sepi.

Panglima Muda Kra Dawang berpaling. "Ini mengherankan," ujarnya kepada dua panglima muda lainnya. "Mengapa di sini semakin sepi? Bukankah sebentar lagi kita akan memasuki wilayah perairan Datu Muara Jambi?"

Panglima Patakanandra mengangguk setuju, "Benar, harusnya kita melihat sambau Datu Muara Jambi di sini. Tetapi ia membuang pandangannya, "sama sekali tak ada satu pun sambau yang kita lihat

Panglima Muda Kra Dawang berpikir sejenak. Pengamatan ini memang tergolong mendadak. Namun, apakah pihak kedatuan di Telaga Batu sama sekali belum memberi informasi kepada Datu Muara Jambi?

Berpikir demikian, Panglima Muda Kra Dawang segera memberi tanda. "Tampaknya kita harus bersiap!" ujarnya sambil menoleh kepada salah seorang pengawalnya. "Kabarkan pada sambau yang lain untuk bersiap!"

Tanpa banyak bicara, pengawal itu segera berlari ke arah dek kapal yang ada di bagian buritan. Di sana ia segera membuat gerakan-gerakan dengan selembar kain yang diikatkan pada sebatang tongkat untuk memberi tanda pada kapal-kapal yang posisinya ada di bagian belakang.

Akan tetapi, hingga sekian lama bersiap, tak ada apa-apa yang terjadi. Perairan ini semakin tampak sepi saja. Tak ada apa-apa yang terjadi selain kedatangan mereka sendiri.

Panglima Muda Kra Dawang dan anak buahnya diam-diam bernapas lega. Namun, ketika sambau Panglima Muda Kra Dawang melalui sebuah kelokan, matanya tiba-tiba saja terbelalak. Juga berpasang-pasang mata lainnya.

Seharusnya yang mereka jumpai adalah sebuah sungai yang sedikit menyempit, yang biasanya menjadi tanda bahwa pelabuhan Datu Muara Jambi telah terlihat. Namun, yang ada kini adalah sebuah tembok tinggi yang mirip dengan benteng, berderet panjang di dua sisi sungai.

"Apa-apaan ini?" seru Panglima Muda Patakanandra tak percaya.

"Aku belum pernah melihat ini," Panglima Muda Man- drasiya menyambung. "Dan, belum pernah juga mendengar pembangunan ini. "

"Hentikan sambau." teriak Panglima Muda Kra Dawang. "Hentikan juga yang lain!"

Lalu, dua orang pengawal segera berlari. Yang satu menuju ke atas dek untuk memberi tanda berhenti dan yang lainnya berlari ke bawah dek tempat para pendayung berada.

Tak berapa lama, sambau terasa memelan. "Rasanya terlalu berisiko bila kita harus melewati celah itu," ujar Panglima Muda Patakanandra. "Aku tak bisa membayangkan bila di sisi dua benteng itu ada pasukan Minanga Tamwa yang menunggu kita”

Panglima Muda Kra Dawang menggeleng, "Tidak mungkin.

Bukankah Muara Jambi masih menjadi bagian wilayah kita? Mereka akan segera mengenali sambau kita”

Panglima Muda Mandrasiya mengangguk setuju, "Kupikir ini merupakan persiapan Datu Muara Jambi untuk menahan Minanga Tamwa

Panglima Muda Kra Dawang menatap Panglima muda Mandrasiya.

"Ya, kupikir benar apa katamu, Panglima," ujarnya. "Dapunta Ih Yatra penguasa Muara Jambi adalah orang yang bisa dipercaya!"

Maka, Panglima Muda Kra Dawang pun kembali memerintahkan sambau-nya. untuk bergerak. Kali ini gerakannya terasa lebih pelan dan diikuti oleh sambau- sambau lainnya yang ada di belakang.

Perlahan, sambau Panglima Muda Kra Dawang mulai memasuki perairan di antara kedua tembok tinggi yang menyerupai benteng itu. Ia pun mulai memperhatikan tembok itu dengan saksama. Tembok itu terbuat dari bata merah, seperti yang biasa digunakan untuk membuat benteng. Hanya tembok setinggi kira-kira dua tombak, tanpa celah dan lubang sama sekali.

Sekian lama Panglima Muda Kra Dawang memperhatikan itu semua. Dan, sejauh ini, sama sekali tak ada tanda-tanda yang terlihat di sekitar tembok tinggi itu.

"Untuk apa tembok ini dibuat?" gumamnya seakan kepada dirinya sendiri. Akan tetapi, sebelum panglima muda lainnya menjawab, tiba-tiba secara mengejutkan Panglima Muda Kra Dawang melihat sebuah asap di balik tembok tinggi itu.

Ia terkesiap. Namun, belum sempat ia bertindak, secara mengejutkan muncul orang-orang di atas tembok itu. Ternyata di balik tembok itu, telah dibuat sebuah pijakan, bagai sebuah benteng pertahanan. Lalu, puluhan, bahkan ratusan orang, kini telah terlihat berderet di balik tembok itu, dengan busur panah terarah pada sambau.

Panglima Muda Kra Dawang segera saja berteriak, "HENTIKAAAN! PUTAR HALUAN! PUTAR HALU-AAAN!"

Akan tetapi, seiring teriakan itu, ratusan panah sudah meluncur ke arah sambau. Wuush .... Wuuush Wuuuuush

....

Suasana pun seketika kacau. Para anak buah sambau yang tak siap, mencoba mengambil perisai mereka. Beberapa yang lain mencoba berlari berlindung. Namun, panah-panah telah begitu menghujan. Beberapa di antara mereka tak lagi bisa menghindar. Bahkan, satu-dua orang yang terkena panah, langsung jatuh terjerembap ke dalam sungai.

Tiga panglima muda yang ada di dalam sambau segera menyebar sambil memerintahkan perlindungan bagi anak buahnya. Berbeda dengan sebagian anak buahnya yang hanya bertelanjang dada, para panglima muda dan beberapa anak buah dengan pangkat cukup tinggi memang menggunakan jubah dengan lapisan tameng dari rotan di dada dan punggung mereka. Ini tentu saja membuat mereka lebih aman dari serangan panah-panah itu.

Di tengah kepanikan itu, tiba-tiba secara mengejutkan hujan panah itu mendadak terhenti. Namun, hanya beberapa saat saja. Hujan panah itu kemudian digantikan dengan lemparan sesuatu yang berasap ke arah sambau. Panglima Muda Kra Dawang tertegun. Hanya dengan sekilas mencium bau asap itu saja, ia langsung tahu apa yang dilempar ke arah sambau-nyz.. Itu adalah daun pohon upas (pohon racun) yang beracun. Pohon upas dikenal oleh masyarakat sebagai daun yang memabukkan. Dan, dalam jumlah yang banyak bisa sampai menimbulkan kematian. Hanya dengan asapnya saja, orang bisa dibuat pusing dan tak sadarkan diri. Cara ini sebenarnya telah lama dipakai dalam perang, terutama untuk menaklukkan benteng lawan karena untuk menggunakannya cukup mudah. Hanya diperlukan beberapa lembar daun upas, kemudian diikat hingga beratnya dapat untuk dilemparkan.

Kini ikatan daun-daun yang terbakar itu mulai berjatuhan di atas sambau bagai hujan. Asapnya segera saja menyelimuti sambau.

Panglima Muda Kra Dawang hanya bisa berteriak keras, "TAHAN NAPAS! PUTAR HALUAAAN!"

Suasana benar-benar tak terkendali lagi. Beberapa anak buahnya tampak jatuh ke air, entah terbunuh atau menyelamatkan diri. Yang lain segera membuangi ikatan daun-daun upas yang berserakan ke dalam sungai. Namun, usaha ini tak berhasil banyak karena asap daun itu telah tersebar terlebih dahulu. Sedang pasukan yang lain lagi mencoba membalas dengan mengambil panah. Namun, ternyata jangkauan panah mereka sama sekali tak dapat melewati benteng itu. Sungguh, semuanya tampak percuma

.... Di dalam kondisi seperti inilah, tiba-tiba lemparan daun upas itu terhenti dan kembali digantikan dengan hujan ratusan anak panah. Kali ini, serangan panah-panah itu terasa lebih gencar dari yang pertama.

Teriakan-teriakan kematian segera terdengar bersahutan.

Panglima Kra Dawang mencoba bertahan dengan menepis dengan pedangnya. Ekor matanya sempat melihat putaran sambau-nya yang mencoba berbalik arah, tetapi tampaknya ... tak berhasil .... Ia tercekat. Sungguh, keadaan ini tampaknya tak lagi terkendali. Ia pun segera berteriak lantang, "TERJUN KE SUNGAI! TERJUUUN!"

Lalu, di antara hujan panah-panah itu, anak buahnya yang tersisa segera berlompatan ke dalam sungai. Para pendayung pun segera keluar dan menyusul yang lainnya. Mereka mencoba menyelamatkan diri dengan berenang ke sambau yang ada di belakangnya, yang sejak tadi telah berhenti sesaat setelah serangan pertama!

Panglima Muda Kra Dawang menatap nanar. Hanya beberapa saat saja sambau-nya menjadi kosong. Gerakannya berbelok benar-benar tak lagi terkendali. Ia pun kemudian segera ikut melompat keluar dari sambau-nya

Seiring tubuhnya yang jatuh ke air, sambau itu menabrak sisi benteng itu dan hancur seketika!

-ooo0dw0ooo-

Panglima Kra Dawang masih bisa berenang menuju sambau di belakangnya. Namun, dari tiga ratus pasukan di sambau- nya, hanya tersisa tak lebih dari seratus orang. Panglima Muda Patakanandra dan Panglima Muda Mandrasiya adalah yang termasuk bisa selamat.

Mereka semua segera diselamatkan oleh sambau yang ada di belakang mereka.

Ketika Panglima Muda Kra Dawang berhasil diangkat, ia segera berujar penuh kemarahan, "Kirimkan segera berita ini ke Telaga Batu! Katakan: Muara Jambi telah memberontak!"

Dan, berita yang dibawa oleh seekor merpati itu sampai ke tangan Panglima Samudra Jara Sinya hanya berselang sehari kemudian. Tentu saja ini merupakan pukulan berat bagi Panglima Samudra Jara Sinya. Bagaimana mungkin Datu Muara Jambi ternyata juga memberontak? Bukankah Dapunta Ih Yatra cukup loyal terhadap Sriwijaya? Apalagi bukankah selama ini Datu Muara Jambi selalu menjadi pendukung Sriwijaya untuk mengalahkan pemberontakan di Minanga Tamwa?

-ooo0dw0ooo-

Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa menarik napas panjang.

Sepanjang ingatannya, baru sekali saja Datu Muara Jambi bermasalah. Itu ketika Dapunta Abdibawasepa diduga akan melakukan pembelotan. Namun, kabar itu pun belumlah sepenuhnya benar.

Sungguh, lepas dari kekalahan itu, kembali kecurigaannya menggelitik dirinya. Ya, bagaimana mungkin informasi seperti ini kembali bisa dilewatkan oleh Sriwijaya begitu saja? Benteng panjang di dua sisi sungai? Bagaimana bisa pembangunan itu terlewat dari pantauan?

Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa menggeleng- gelengkan kepalanya. Sekilas bayangan sosok misterius yang selalu tampil dengan jubah hitam berkelebat di benaknya.

Wantra Santra....

Aaah, informasi sepenting ini bukankah seharusnya merupakan tanggung jawab kelompok rahasia Wangseya?

Panglima Samudra Jara Sinya hanya bisa merenungi pikiran itu. Terutama saat memikirkan pembelotan yang ada di Datu Muara Jambi.

Sungguh, tak banyak yang mengetahui bahwa Datu Muara Jambi adalah tanah yang memiliki kenangan sendiri bagi Panglima Samudra Jara Sinya. Hampir tiga tahun yang lalu ia datang di sana, sebagai salah satu panglima muda yang akan membantu mengawasi perairan di sana. Saat itu Dapunta Chra Bukadhasa yang mengutusnya sendiri untuk menjalin hubungan yang lebih dekat dengan Datu Muara Jambi.

Ia mengagumi Muara Jambi lebih dari Telaga Batu.

Suasananya tampak asri dan udaranya terasa sangat sejuk. Lebih dari itu, ia sangat mengagumi penguasa datu ketika itu, Dapunta Abdibawasepa.

Nama Dapunta Abdibawasepa cukup terkenal di Telaga Batu. Ia dikenal sangat bijaksana dan begitu dicintai rakyatnya. Selain itu, ia juga memiliki ribuan pasukan. Dan, pasukannya yang paling terkenal adalah pasukan gajah. Lebih dari lima ratus gajah liar telah dijinakkan untuk menjadi bagian dari pasukannya. Dua puluh lima tahun yang lalu saat Minanga Tamwa memberontak, pasukan gajah itulah yang membantu Sriwijaya dalam PerangMerah untuk menaklukkan benteng Minanga Tamwa. Karena itulah, kemudian Keda-tuan Telaga Batu sampai mendatangkan orang-orang khusus untuk mendalami bagaimana cara menjinakkan gajah. Dan kemudian, segera membentuk pasukan gajahnya sendiri.

Saat Panglima Samudra Jara Sinya datang ke tanah itu, ia memang belumlah menduduki posisi strategis di Kerajaan Sriwijaya. Namun, tak bisa dimungkiri bahwa ia datang dalam kondisi matang. Saat pertama kali bertemu dan bercakap- cakap dengan Dapunta Abdibawasepa, ia bisa melihat keistimewaan pada dapunta itu. Saat itu ia menyambutnya seperti seorang sahabat lama. Ia mendekat dan memegang bahunya.

"Akan kutunjukkan Muara Jambi kepadamu," ujarnya. Lalu, mereka berkuda berdua ke seluruh pelosok Datu

Muara Jambi, tanpa seorang prajurit pun yang mengawal. Ini tak pernah dilakukan dapunta lainnya. Apalagi di sepanjang jalan, semua penduduk yang mereka temui menunduk hormat dengan senyum mengembang. Bahkan, beberapa di antaranya tak sungkan mendekati mereka dan menawarkan makan siang bersama. Sungguh, sebelumnya Jara Sinya muda tidak pernah melihat keadaan seperti ini.

Hingga kemudian perjalanan mereka sampai juga di sebuah bukit tempat seluruh Datu Muara Jambi dapat terlihat

"Kau lihatlah Batanghari di sana," Dapunta Abdibawasepa menunjuk ke arah utara di kejauhan. 'Aku yakin suatu hari batangilu akan menjadi jalur penting bagi tanah kita

Lalu, Dapunta Abdibawasepa kembali menyuruhnya melanjutkan perjalanan. Jara Sinya muda hanya mengangguk. Mereka terus berjalan ke atas bukit. Karena belum terlalu terjal, kuda mereka masih mampu berjalan setapak demi setapak.

Sampai di puncak bukit,Jara Sinya memandang takjub. Kini seluruh Datu Muara Jambi terlihat begitu jelasnya. Batanghari yang berkelok-kelok dan cabang-cabangnya pun terlihat begitu nyata. Seluruh aktivitasnya terekam dengan baik.

Saat itu Batanghari memang telah difungsikan sebagai sarana umum bagi masyarakat Muara Jambi. Di setiap cabang anak sungai akan berkumpul perahu-perahu kecil yang membawa penumpang. Dan, di cabang yang lebih kecil lagi, perahu yang lebih kecil lagi akan terlihat juga menunggu para penumpang.

"Ini... luar biasa," gumam Jara Sinya muda.

Dapunta Abdibawasepa tersenyum. "Sayangnya, ini adalah akhir perjalanan kita karena kita tak lagi bisa ke atas," ujarnya. "Di sana penuh dengan Bunga Kusang "

"Bunga Kusang?" Jara Sinya muda bertanya tak mengerti.

Dapunta Abdibawasepa tertawa, "Kau belum mendengarnya? Itu bunga racun. Serbuk bunganya dapat memabukkan seseorang dan bila dihirup terus-terusan akan membuat orang tak sadarkan diri, bahkan ... dapat menyebabkan kematian!"

Jara Sinya muda menatap tak percaya.

"Maka itulah, tak ada orang yang tinggal di sekitar bukit ini," ujar Dapunta Abdibawasepa lagi. "Terutama di bagian selatan sana karena angin terus bertiup ke sana "

Maka, akhirnya keduanya pun segera berbalik.

Ya, itulah pengalaman pertama Panglima Samudra Jara Sinya di Datu Muara Jambi. Sampai beberapa tahun kemudian ia tinggal di sana dan semuanya berlangsung dengan baik.

Hingga akhirnya ia harus kembali lagi ke Telaga Batu untuk menerima pengangkatannya sebagai Panglima Samudra.

Hanya setahun berselang dari itu, terdengar berita pembelotan Datu Muara Jambi dari Kerajaan Sriwijaya. Sungguh, sampai sekarang, kejadian itu tak pernah benar- benar dipercayainya!

Panglima Samudra Jara Sinya menggelengkan kepalanya dengan perasaan sangsi. Rasanya ia masih tak bisa percaya bahwa kini. ia harus kembali dihadapkan dengan pembelotan

di tanah itu!

-ooo0dw0ooo-