Pandaya Sriwijaya Bab 15 : Bhumi Baru Minanga Tamwa

Bab 15 : Bhumi Baru Minanga Tamwa

Sampaikan'.

Sampaikan kepada semua rakyat di bhumi ini tentang hadirnya bhumi baru yang berdiri di atas kaki sendiri: Minanga Tamwa, tanah bagi perwujudan siddhayatra (Ziarah untuk mencari kekuatan gaib. menuju kesempurnaan, biasanya dilakukan oleh Dapunta Hyang (bahasa Sanskerta)).

Sampaikan kepada semuanya!

-ooo0dw0ooo- Tanyakan! Tanyakan tentang Minanga Tamwa! Apa yang terlihat pada bhumi ini? Dan, apa juga yang akan tercium di udara yang ada di atas bhumi itu? Rasanya sungguh berbeda dengan bhumi lainnya. Sangat berbeda. Bhumi yang ada di dekat Muara Tebo ini, yang berada di tepian Batanghari, sama sekali tidak beraroma sungai, juga tidak beraroma tanah basah. Namun, berbau rumput segar. Entah mengapa bisa demikian. Akan tetapi, setiap orang yang baru pertama kali berada di sini akan merasakan aroma itu begitu dominan. Ini menjadi sebuah sensasi yang tak pernah dirasakan sebelumnya ....

Hamparan tanahnya yang begitu luas pun terlihat sangat berbeda. Di waktu-waktu tertentu sinar matahari akan memantulkan kilauan yang tak berkesudahan, di antara rumah-rumah yang berderet padat.

Saat itu bhumi itu memang terlihat begitu ramai dan sangat maju. Tak berbeda jauh dari perdatuan yang ada di Telaga Batu.

Di dermaganya yang ada di Muara Tcbo mudah ditemukan pedagang asing yang sedang berdagang dengan penduduk lokal. Yang terbanyak adalah pedagang-pedagang dari Malaya dan Cina. Sejak lebih dua ratus tahun yang lalu, bhumi ini memang sudah begitu dikenal. Orang-orang Cina menyebutnya chin chou (bahasa cina untuk pulau emas) atau pulau emas karena Minanga Tamwa memanglah sejak dahulu menjadi penghasil emas. Sebuah bukit besar di sana konon terbuat dari gundukan emas sepenuhnya. Itulah yang kemudian membuat pedagang-pedagang asing sejak lama berdatangan ke bhumi itu.

Dulu, di sinilah pusat Kerajaan Malaya berada. Hingga tahun 683, Dapunta Hyangjasanasa bersama dua laksa atau dua puluh ribu pasukannya menundukkan bhumi ini.

Kemudian, Kerajaan Malaya menjadi bagian dari Sriwijaya. Pelabuhannya tetap diaktifkan seperti sedia kala. Ini yang kemudian membuat Sriwijaya menguasai jalur perairan di Malaya.

Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu selalu menempatkan dapunta terbaik mereka untuk memimpin bhumi itu. Namun, sepanjang waktu, keadaan bhumi itu tak pernah benar-benar aman. Sisa-sisa orang-orang dari Kerajaan Malaya yang lari ke utara kerap melakukan pemberontakan.

Sampai saat sekarang, beberapa kali terjadi pemberontakan dari Kerajaan Malaya. Walau selalu dapat digagalkan, tetapi sedikit banyak membuat Kerajaan Sriwijaya menjadi tidak stabil. Pemberontakan terbesar yang tercatat dalam sejarah adalah pemberontakan tahun 686 saat Kundra Kayet merebut beberapa datu di bawah Kerajaan Sriwijaya, terutama Minanga Tamwa. Waktu itu terjadi peperangan besar yang mengorbankan ribuan manusia. Walau pada akhirnya Kerajaan Sriwijaya dapat mengalahkan pemberontakan itu dan membunuh Kundra Kayet, tetapi mereka harus kehilangan panglima terbaiknya, Tandruh Luah.

Tak hanya sekadar pemberontakan dari luar yang kerap terjadi. Dapunta Minanga Tamwa yang dipilih langsung oleh Dapunta Hyangpun beberapa kali berganti haluan memihak Kerajaan Malaya. Kejadian paling diingat adalah saat Datu Minanga Tamwa di bawah pimpinan Dapunta Mahak Ilir yang membelot dua puluh lima tahun yang lalu. Dapunta Mahak Ilir sebenarnya memanglah seorang dapunta keturunan Kerajaan Malaya. Ia dipilih oleh Kerajaan Sriwijaya karena diharapkan bisa mencairkan hubungan Kerajaan Sriwijaya dan Kerajaan Malaya yang selalu dalam ketegangan. Namun, usaha itu ternyata tak berhasil. Tak lebih dari setahun memerintah, Dapunta Mahak Ilir sudah memutuskan untuk membelot!

Dapunta Abdibawasepa yang saat itu menjadi penguasa Datu Muara Jambi, salah satu datu paling kuat yang mendukung Kerajaan Sriwijaya, mengobarkan perang besar untuk merebutnya. Perang itu kemudian dikenal dengan nama Perang Merah dan sampai sekarang merupakan perang terbesar yang pernah terjadi di bhumi ini. Kemenangan memang ada di pihak Dapunta Abdibawasepa, tetapi ribuan pasukannya gugur kala itu. Ia seakan-akan memberi jalan bagi Panglima Bhumi Tambu Karen yang baru datang dari Telaga Batu untuk mengamankan Minanga Tamwa. Maka itulah, Dapunta Chra Bukadhasa kemudian menunjuknya menjadi dapunta di situ.

Dan kini, kejadian pembelotan seperti itu kembali terjadi hari ini. Panglima Tambu Karen, yang kala itu ditunjuk sebagai penguasa bhumi itu, tiba-tiba mengumumkan lepasnya Bhumi Minanga Tamwa dari Kerajaan Sriwijaya.

Tentu ini sesuatu yang sangat mengejutkan. Sejak Perang Merah, Minanga Tamwa adalah bhumi yang selalu diawasi lebih ketat oleh Kedatuan Sriwijaya. Bagaimana mungkin tiba- tiba bisa memisahkan diri?

Yang lebih mengejutkan, mengapa kelompok rahasia Wangseya seperti tidak mencium keadaan ini? Mengapa juga mereka bisa begitu terlambat mendengar kabar ini? Hingga seakan-akan benteng Minanga Tamwa kini tiba-tiba berdiri dengan kukuh, tanpa adanya proses panjang. Dan, banyak sekali perahu yang tiba-tiba datang memenuhi perairannya begitu saja!

Apakah mungkin karena Kedatuan Sriwijaya sama sekali tak pernah mengira keadaan seperti ini? Apakah mereka memang begitu percaya kepada Panglima Tambu Ka-ren? Memang, selama ini Panglima Tambu Karen merupakan tokoh penting di Kerajaan Sriwijaya. Dulu, nama besarnya begitu harum, jauh di atas nama besar Panglima Samudra Jara Sinya. Ia telah menaklukkan tak kurang seratus datu untuk kejayaan Sriwijaya.

Alasan inilah yang kemudian membuat dirinya ditempatkan di bhumi yang selalu bergejolak itu. Karena hanya ialah yang dianggap paling mampu meredam semua aksi dari sisa-sisa kekuatan Kerajaan Malaya.

Maka itulah, tak pernah ada yang menyangka pembeelotan ini !

-ooo0dw0ooo-

"Bagaimana mungkin ini terjadi?"

Suara Sri Maharaja Balaputradewa terdengar tak percaya. Ia sudah mendengar hampir semua sepak terjang Panglima Tambu Karen. Ia bahkan beberapa kali bertemu saal panglima bhumi itu datang di Bhumijawa. Sungguh, kesan setialah yang langsung ditangkapnya ketika ia berkcnal.m dengan sosok itu. Walau tak banyak bicara, ia bisa merasakin kesetiaannya pada Sriwijaya.

Selain itu, kesaktian Panglima Tambu Karen juga tak pernah diragukan lagi. Berita tentang kisah-kisah pertarungannya telah menyebar Seantero negeri. Para tukang dongeng akan terus mengulang dan mengulang kisah- kisahnya menaklukkan seratus datu dan anak-anak kecil yang tengah bermain pedang-pedangan akan selalu berebutan meniru sosoknya.

Pu Chra Dayana menyembah untuk bicara. "Hamba pikir," ujarnya, "mungkin ia mendapat dukungan dari Malaya "

Sri Maharaja Balaputradewa menyapukan pandangannya kepada semua yang hadir. Di undakan yang kedua itu, selain Pu Chra Dayana, terlihat juga Panglima Bhumi Cangga Tayu dan Panglima Samudra Jara Sinya, serta pemimpin kelompok rahasia Wangseya, Wantra Santra. Satu sosok yang biasanya tak terlihat, tetapi kini selalu hadir di antara mereka adalah Dapunta Cahyadawasuna. Ia kini memang telah diangkat sebagai salah satu penasihat Sri Ma-liaraja Balaputradewa.

Kedudukannya sama seperti yang lainnya. Namun, karena proses pengangkatannya baru saja terjadi, Dapunta Cahyadawasuna lebih banyak diam dalam silanya.

Sri Maharaja Balaputradewa kemudian teringat dengan kedatangan Wantra Santra beberapa malam lalu. Wantra Santra ketika itu melaporkan tentang Minanga Tamwa yang mulai mengadakan perekrutan pasukan besar-besaran. Waktu itu ia masih menduga-duga saja, tak menyangka bahwa Minanga Tamwa bertindak lebih cepat dengan mengumumkan pelepasan dirinya dari Sriwijaya.

Di sisi yang lain, Panglima Samudra Jara Sinya juga tampak tengah berpikir dalam. Ia merasakan beberapa keganjilan dalam masalah ini. Ia mengenal Panglima Bhumi Tambu Karen dengan baik. Ia telah berperang bersamanya hingga puluhan kali. Ia selalu bahu-membahu dengan panglima bhumi itu untuk menaklukkan lawan. Tak dimungkirinya, sosok Panglima Bhumi Tambu Karen adalah sosok dengan kesaktian luar biasa. Hingga, tak ada seorang pun di Sriwijaya ini yang dapat menandingi kesaktiannya.

Akan tetapi, bukan kenangan itu yang mengganggu pikirannya, tetapi ucapannya saat Panglima itu akan meninggalkan Telaga Batu.

Ia masih ingat kalau hari itu mendung menggantung di atas kepalanya.

"Jagalah dirimu baik-baik, Panglima,"ujarnya ketika itu.

Dan, Panglima Bhumi Tambu Karen hanya tertawa kecil dan menepuk punggungnya, "Kau yang harus menjaga dirimu, Jara," ujarnya. "Semoga kau ... tak bernasib seperti aku, hahaha "

Saat itu ia hanya mengerutkan keningnya mencoba mencerna kalimat itu. Namun, ucapan lanjutan dari Panglima Bhumi Tambu Karen kembali terdengar, "Satu pesanku kepadamu, Jara," suaranya memelan. "Perhatikan baik-baik...

Wantra Santra..” "Perhatikan ia baik-baik ...'tambahnya.

Sungguh, ucapan itu membuat Panglima Samudra Jara Sinya terdiam cukup lama. Sebelumnya ia tak pernah menemukan adanya persaingan antara dua tokoh itu. Namun, kepindahan Panglima Tambu Karen dari Telaga Batu memang sedikit banyak lebih menguntungkan Wantra Santra.

Tanpa sadar Panglima Samudra Jara Sinya melirik sosok Wantra Santra yang bersila tak jauh darinya.

Ya, keganjilan itu memang jelas ada pada kelompok rahasia Wangseya! Bukankah merekalah yang mengamati secara langsung keadaan di seluruh Bhumi Sriwijaya? Bagaimana mungkin informasi sedemikian penting bisa begitu saja terlewatkan? Apalagi perahu-perahu perang yang sekarang memenuhi perairan Minanga Tamwa yang sebesar sambau- sambau Sriwijaya. Itu pastilah dibeli di sebuah tempat.

Bukankah di Bhumi Sriwijaya sendiri belum ada perakitan pcrahu-perahu berukuran besar? Sehingga sangat mungkin perahu-perahu besar tersebut dibeli di Bhumijawa ataupun di Pugu, daerah yang kini disebut Myanmar. Hanya di situlah terdapat perakitan perahu besar dengan dua tiang layar, bahkan lima tiang layar.

Ya, ini memang terasa sangat ganjil. Mungkin untuk membeli perahu dari Bhumijawa tentulah tak mungkin karena perlintasannya dari arah selatan akan melewati banyak patroli sambau Sriwijaya. Satu-satunya kemungkinan adalah membelinya dari Pugu dan melintasinya melalui sebelah barat Batanghari. Bukankah itu jelas wilayah yang diawasi oleh kelompok rahasia Wangseya?

Semua pikiran itu berkecamuk di kepala Panglima Samudra Jara Sinya. Namun, ia tak mencoba berkata apa-apa. Hanya saja sejak hari itu, ia memutuskan akan lebih mengawasi sosok penuh misterius di sebelahnya ini. Bertepatan dengan itu suara Sri Maharaja Balaputradewa kembali membuatnya memalingkan kepalanya.

"Kupikir untuk menghadapi semua ini, sudah waktunya kita kembali melakukan perekrutan pasukan besar-besaran," ujarnya. "Dan, juga ... memilih seorang pandaya!"

-ooo0dw0ooo-

Ke mana kancil berlari Di ujung sana awan menyendiri Di sini sahabat lama kemari Menyambangi kawan sejati

Dan, kedua lelaki itu saling pandang dengan tatapan tajam.

Lalu, seakan ada yang memberi aba-aba, keduanya tiba-tiba mengentakkan kaki, melompat bersamaan ke udara, membuat debu ikut beterbangan.

HIAAAT....

HIAAAAAAAT....

Kedua tangan lelaki itu berbenturan beberapa kali. Buk, buk, buk! Yang satu melentingkan tubuhnya ke atas disusul oleh tubuh yang lainnya. Sesaat pertarungan beberapa jurus terjadi tanpa menjejak tanah.

Lalu, seorang memutar tubuhnya bagai gasing, memberi serangan beruntun. Namun, yang lainnya menahan dengan mengikuti arah gerak putaran tubuh lawannya.

Tak bisa dihindari lagi, pertarungan jurus-jurus tingkat tinggi terjadi. Namun, beberapa saat kemudian, setelah beberapa kali melakukan benturan kuat, keduanya pun mundur beberapa langkah.

Pelan-pelan debu yang semula beterbangan mulai mengendap kembali seiring tawa panjang keduanya.

Kini baru terlihat dengan jelas bahwa kedua sosok itu adalah Panglima Samudra jara Sinya dan Panglima Bhumi Cangga Tayu.

"Dasar lelaki tua!" ujar Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Kau semakin lemah!"

Panglima Samudra Jara Sinya balas tertawa, "Bukan aku yang semakin lemah, tetapi kau yang semakin cepat, Cangga!"

Keduanya kembali tertawa panjang. Lalu, mereka duduk di taman yang bersebelahan dengan sebuah kolam ikan besar yang ada di belakang kediaman Panglima Samudra Jara Sinya.

Beberapa pelayan segera menyeduhkan air madu, juga inang.

"Aku beberapa tahun lebih tua darimu, Cangga," ujar Panglima Samudra Jara Sinya lagi. "Walau kau jelas lebih kuat, tetapi aku masih sanggup menahan seluruh seranganmu. Kau sepertinya tak ada kemajuan!"

Panglima Bhumi Cangga Tayu tertawa, "Hahaha, kau ini.

Benar-benar lelaki tua yang congkak!"

Panglima Samudra Jara Sinya kembali tertawa. "Sudahlah, sudahlah! Mari kita minum saja," ujarnya mencoba menghentikan tawanya sendiri dengan mempersilakan Panglima Bhumi Cangga Tayu. "Aku baru mendapat kiriman inang yang begitu nikmat dari Gujarat. Sebaiknya, kita nikmati bersama."

Sejak muda keduanya memang telah saling mengenal.

Puluhan tahun lalu, keduanya mulai tampil di Sriwijaya. Saat itu keduanya masih sangat muda. Panglima Samudra Jara Sinya memang sepuluh tahun lebih tua. Kariernya sebagai panglima pun dimulai lebih awal.

Semula keduanya hanya sebagai rekan dalam armada perang Sriwijaya. Namun, ketika keduanya menjadi panglima, keduanya mulai lebih kerap berhubungan. Bila ada waktu senggang atau dalam keadaan genting, keduanya akan saling mengunjungi. Dan, di saat saling mengunjungi itulah, biasanya keduanya pasti tak akan melewatkan diri untuk saling menguji jurus-jurus mereka.

"Tentang pemilihan pandaya itu," ujar Panglima Bhumi Cangga Tayu, "Aku merasa perlu bertanya, walaupun aku sendiri bekas seorang pandaya. Apa perlu kita mengadakannya lagi? Sudah sekian tahun kita tak mengadakannya. Rasanya aneh bila pemilihan itu kembali diadakan. Apalagi kini kita memiliki panglima-panglima muda yang berbakat besar "

Panglima Samudra Jara Sinya menggelengkan kepalanya, "Entahlah, Cangga, sepertinya kita memang akan merekrut banyak pasukan. Padahal kupikir untuk menghadapi Minanga Tamwa, kita tak perlu menyiapkan pasukan sampai sebanyak itu."

"Apa” Panglima Bhumi Cangga Tayu menoleh, "apa mungkin ini ada hubungannya dengan kekalahan Sri Maharaja di Bhumijawa?"

"Mungkin saja," Panglima Samudra Jara Sinya mengembuskan napasnya. "Menurut Pu Chra Dayana, sudah beberapa kali Sri Maharaja menanyakan peta kekuatan pasukan kita. Bahkan, ia juga telah membanding-bandingkan dengan pasukan Jatiningrat di Bhumijawa "

"Itu memang benar," ujar Panglima Bhumi Cangga Tayu sambil mengangguk-angguk. "Sri Maharaja sendiri pernah menanyakan soal itu langsung kepadaku."

Panglima Samudra Jara Sinya menoleh, "Berarti memang ada kemungkinan kita menyerang Bhumijawa," desisnya.

Panglima Bhumi Cangga Tayu mengangguk, "Akan tetapi, dalam kondisi seperti ini, rasanya akan sangat berat

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk setuju. Sesaat ia ingin membicarakan apa yang dipikirkannya pada pertemuan beberapa hari yang lalu, tentang kecurigaannya pada kelompok rahasia Wangseya. Namun, entah mengapa ia urung melakukan itu. Tampaknya masih terlalu pagi baginya untuk menyimpulkan keadaan.

Maka, Panglima Samudra Jara Sinya pun tetap diam dan meneguk minumannya.

Panglima Bhumi Cangga Tayu sendiri segera ikut menenggak cawan minumannya. "Namun, kedatanganku kemari sebenarnya adalah ingin membahas perihal pengiriman pasukan kita ke Minanga Tamwa," ujarnya. "Kupikir di pertemuan kita saat itu, rencana ini hanya disinggung sekilas saja oleh Sri Maharaja Balaputradewa."

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk, "Ya, benar," jawabnya. "Tetapi, kupikir ini memang belumlah menjadi saat genting. Kita baru akan mengawasinya saja, bukan?"

Panglima Bhumi Cangga Tayu mengangguk-angguk, "Apa kau yakin kita hanya perlu mengirimkan beberapa sam-bau- mu saja ke sana?"

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk, "Untuk mengawasi tanah itu dari perairan sungai, kupikir itu sudah cukup."

Panglima Bhumi Cangga Tayu berpikir sejenak. "Ya, kupikir itu memang cukup," ujarnya sepakat. "Apalagi akan sangat lama bila kita harus mengirim pasukan bhumi kita ke sana "

"Betul, itu akan memakan waktu."

Panglima Bhumi Cangga Tayu menghela napas panjang. "Ya, semoga semuanya lancar," ucapannya terdengar seakan bergumam. "Namun, rasanya sangat berat mendapat lawan yang dulu merupakan kawan kita. Bukan begitu, Jara?"

Panglima Samudra Jara Sinya hanya mengangguk.

-ooo0dw0ooo-