Pandaya Sriwijaya Bab 14 : Sebuah Keputusan di Bawah Petir Yang Menyambar

Bab 14 : Sebuah Keputusan di Bawah Petir Yang Menyambar

"Kakak..”

Kepala Aulan Rema muncul di ambang pintu. Tanpa menunggu jawaban, ia sudah melangkah masuk sambil membawakan beberapa potong ikan bakar di atas selembar daun pisang.

Kara Baday yang duduk dalam posisi meditasi membuka matanya sesaat.

"Kakak sedang bermeditasi?" Aulan Rema mendekat sambil mengibaskan bajunya yang sedikit basah karena gerimis di luar. "Aku membawakanmu ikan bakar "

"Maaf, jadi terus merepotkanmu," ujar Kara Baday.

"Ini tidak merepotkan," ujar Aulan Rema sambil tersenyum. "Ayo, makanlah selagi hangat!" ia mengangsurkan daun itu lebih mendekat kepada Kara Baday. Kara Baday tersenyum samar. Sedikit, ia mencuil daging ikan itu dan memakannya pelan-pelan.

"Tampaknya Kakak sedang banyak berpikir, ya?" tanya Aulan Rema.

Kara Baday terdiam, "Aku hanya tak terbiasa mengambil keputusan sendiri," ujarnya pelan. "Kau tahu sendiri, selama ini Abah Kara yang mengambil semua keputusan. Dan, sekarang Abah...," Kara Baday tercekat. "Tampaknya Abah pergi terlalu cepat..”

Aulan Rema mendekat, "Kakak hanya masih memikirkan Abah Kara," ujarnya. "Kupikir Kakak akan bisa mengambil keputusan sebaik Abah Kara

Kara Baday tersenyum, "Tidak semudah itu, Aulan "

"Kakak bisa bertanya kepada Paman Kumbi Jata, bukan?" tanya Aulan Rema lagi.

Kara Baday menghela napasnya. Tentu saja ia telah bertanya kepada Paman Kumbi Jata. Namun, masalah ini pun membuat Paman Kumbi Jata tak bisa memutuskan dengan tegas.

Percakapan dengan Panglima Samudra Jara Sinya hari itu seolah kembali terngiang di telinga ....

"Apa kalian ingin selamanya menjadi penjahat?"

Ucapan itu benar-benar menyentaknya. Ia sempat terdiam beberapa saat, sebelum akhirnya Paman Kumbi Jata yang menjawab pertanyaan itu.

"Penjahat?" serunya dengan nada keras. "Kami sama sekali lak pernah berpikir balava kami ini penjahat. Keluarga kami masih berpikir kami pahlawan bagi mereka. Juga penduduk sepanjang Pantai Muara Besar. Tidakkah kau tahu, hasilyangkami dapatkan selalu kami bagikan kepada penduduk di sepanjang pantai itu? Sungguh, hanya kalianyang menganggap kami penjahat "

Kara Baday menerawang. Tangannya tak lagi mengambil ikan bakar di depannya. Ia melihat ke arah laut. Dari jendelanya, rintik-rintik gerimis telah menjadi hujan. Suasana sore menjadi muram. Seiring dengan itu, ucapan Panglima Samudra Jara Sinya kembali terngiang di angannya.

'Aku menawanmu sebuah kesempatan membersihkan nama baik keluargamu. Terserah kau mau menerimanya atau tidak. Namun, berpikirlah, berpikirlah sekali lagi. Apa kau tetapyakin bila selamanya kami lak bisa menghancurkan kalian?"

Kara Baday memejamkan matanya kuat-kuat. Mengapa tawaran ini bisa datang di saat ayahnya meminta dirinya dan yang lainnya untuk berhenti menjadi bajak laut? Apakah ini...

memang sudah menjadi garis takdir?

Tiba-tiba mata Kara Baday terbuka. Ia beranjak bangkit berdiri.

"Kakak?" Aulan Rema tampak kaget.

"Kau tunggulah di sini dulu!" lalu tanpa berucap apa-apa lagi, ia beranjak keluar.

Air hujan segera menyerbu tubuhnya, seiring langkahnya menuju rumah Paman Kumbijata. Hanya beberapa langkah saja, tubuhnya telah basah kuyup.

"Kara?" suara Paman Kumbijata tampak tak percaya, "Apa- apaan kau?"

"Aku ingin bicara dengan Paman!" Kara Baday berteriak.

Paman Kumbijata segera keluar. Hujan tanpa ampun juga langsung membasahi dirinya.

"Aku akan menerima tawaran itu, Paman," serunya lebih keras karena suara hujan makin lama terdengar makin gemuruh. "Kau benar-benar sudah memikirkannya?" Paman Kumbijata ikut berteriak.

Kara Baday mengangguk.

"Ya, aku sudah memikirkannya matang-matang," ujarnya lagi. 'Aku tak ingin terus hidup dengan bersembunyi, -Paman. Aku tak ingin hidup dengan selalu diliputi kecemasan. Selama ini setiap ada perahu yang melintas pulau-pulau karang ini, kita selalu bersiaga dengan hati waswas. Akan sampai kapan itu terjadi, Paman?"

Paman Kumbijata tak menyahut.

"Apalagi, kupikir ... ini adalah kesempatanku membersihkan nama baik ayah dan nama baik keluargaku, juga nama baik kita semua ...” ujarnya lagi.

Lalu, ia terdiam. Sesaat dibiarkannya hujan yang menderu di antara mereka. Titik-titiknya terasa semakin deras, menghajar kulit tubuh. Sesekali kilatan petir muncul di langit, sekilas-sekilas menerangi keduanya.

"Akan tetapiapakah keputusan ini sudah benar, Paman?" Kara Baday terdengar memelan. "Apakah keputus-anku ini tidak akan mengkhianati Abah?"

Paman Kumbi Jata tak langsung menjawab. Ia membasuh wajahnya dengan lengannya, mencoba menepiskan air.

Namun, itu terasa percuma karena hujan terus kembali membasahi wajahnya. Ia pun kemudian maju selangkah hingga kedua tangannya dapat menyentuh pundak Kara Baday.

"Tidak, Kara," ia kemudian berucap sambil memandang Kara Baday lekat-lekat. "Kupikir Dapunta Abdibawasepa bisa memahami keputusan ini. Aku yakin Aku yakin

-ooo0dw0ooo- Lalu, hanya beberapa hari berselang, seperti burung- burung camar yang mendarat di pantai, dua belas perahu datang dari arah timur. Mereka segera merapat di salah satu dermaga di muara besar, yang ada di Muara Manan.

Dapunta Mawaseya, penguasa muara besar ini, bersama penasihatnya, Pu Punja Supa, segera menyambutnya. Ia berjalan menuju dermaga diiringi puluhan prajurit dengan senjata lengkap.

Orang-orang yang ada di dermaga itu seketika menghentikan semua kegiatannya. Mereka yang sebagian besar adalah pedagang-pedagang lokal, maupun pedagang- pedagang dari Malaya, Cina, bahkan India, segera memperhatikan kedatangan dan penyambutan ini.

Tak lama kemudian, Kara Baday sudah teriihat melompat turun dari salah satu perahu. Gerakan itu langsung disambut oleh pasukan penjaga dermaga dengan tombak yang terarah kepadanya. Juga pasukan panah yang ada tak jauh di belakangnya. Mereka semua sudah terlihat merentangkan busur panahnya.

Sesaat Kara Baday hanya terdiam memperhatikan ini semua. Paman Kumbijata dan anak buah lainnya diam-diam juga telah bersiap dengan kemungkinan terburuk. Namun, di saat ketegangan itu memuncak, Dapunta Mawaseya muncul dari balik tubuh-tubuh yang mengepungnya.

"Bajak Laut Semenanjung Karang," ucapnya sambil mengangkat tangannya, memberi tanda pasukannya untuk menurunkan senjatanya. "Selamat datang di Muara Manan. Aku sudah sejak lama menanti kedatangan kalian...”

-ooo0dw0ooo-

Kara Baday, Paman Kumbijata, dan semua anak buahnya segera diantar menuju Telaga Batu. Tampak sekali kehadiran mereka telah begitu diperkirakan. Mereka telah menyiapkan puluhan kuda untuk itu.

Sebenarnya jauh di dalam hati Dapunta Mawaseya, ia sempat merasa tak yakin dengan keputusan Panglima Samudra Jara Sinya ini. Sejak kepulangan Panglima Samudra Jara Sinya dari Pulau Karang beberapa hari yang lalu, ia hanya bertanya satu kata: Bagaimana? Dan, Panglima Samudra Jara Sinya hanya tersenyum tipis sambil berkata, "Kau siapkan saja kuda-kuda terbaikmu. Sebentar lagi orang yang sudah lama kaucari akan datang menghampirimu. Kau cukup mengantar mereka kepadaku sesegera mungkin

Maka kini, di ruangan utama di kediaman Panglima Samudra Jara Sinya, duduk menunggu Kara Baday dan Paman Kumbi Jata serta semua anak buahnya. Kara Baday yang duduk paling depan, di samping Paman Kumbijata, tampak sedikit tak tenang. Diam-diam, tanpa diketahui siapa pun, jantungnya berdegup lebih kencang. Namun, senyum Paman Kumbijata sedikit menenangkannya.

Tak lama kemudian Panglima Samudra Jara Sinya akhirnya muncul juga, diikuti oleh kedua putranya, Luwantrasima dan Sanggatrasima. Ia langsung mendekati Kara Baday dengan wajah gembira.

'Aku senang dengan keputusanmu," ujarnya sambil tersenyum. "Maka, kupikir ini perlu dirayakan."

Lalu, segera Panglima Samudra Jara Sinya bertepuk beberapa kali. Tak lama berselang, belasan pelayannya muncul membawa berbagai makanan yang langsung dihidangkan tepat di depan Kara Baday dan Paman Kumbi Jata serta anak buahnya yang duduk lebih di belakang.

Bersamaan dengan itu sepuluh gadis jelita muncul di tengah mereka. Lalu, dengan diiringi suara serdam (bambu) dan tingkah (sejenis gendang), mereka pun menari dengan gerakan yang halus mengikuti irama. 'Ayo, kita makan!" ujar Panglima Samudra Jara Sinya. "Kalian pastilah lelah setelah perjalanan ini. Aku sudah menyiapkan banyak makanan bagi_ kalian. Ayo, makan!"

Lalu, tanpa menunggu lagi, Panglima Samudra Jara Sinya langsung mengambil beberapa makanan ke dalam piring peraknya dan langsung menyantapnya.

Kara Baday hendak mengambil makanan di depannya, tetapi Paman Kumbi Jata tiba-tiba meliriknya dan memainkan alis matanya membuat percakapan batin. Dan, Kara Baday segera menahan gerakannya. Ia bisa menangkap maksud Paman Kumbi Jata yang memintanya untuk berhati-hati terhadap makanan di depannya!

Lalu, seakan menggantikan gerakan Kara Baday, Paman Kumbi Jata segera mengambil makanan di depannya. Dengan gerakan sedikit terburu-buru, dimakannya makanan itu dengan lahap.

Kara Baday menunggu beberapa saat. Sebenarnya sangat mengherankan, bila seorang tamu menunggu terlalu lama untuk makan. Namun, tampaknya Panglima Samudra Jara Sinya tak menghiraukan soal ini dan hanya memandangnya sesaat, tanpa berucap apa pun.

Beberapa saat kemudian barulah Paman Kumbijata kembali memberi tanda dengan memainkan alis matanya. Kara Baday pun segera mengambil makanannya dan memakannya.

"Kau harus mencoba yang ini," ujar Panglima Samudra Jara Sinya. "Namanya mi, ini makanan dari Cina "

Kara Baday lalu mulai mengambil makanan berbentuk tali- tali panjang itu dan segera mencobanya. Pada tahun 500 mi telah ditemukan di Cina pada saat pemerintahan Dinasti Han. Namun, sebenarnya adonannya telah ditemukan ratusan tahun sebelumnya. Karena banyak disukai, mi cepat menyebar di negara-negara lainnya, terutama Jepang dan Korea. Di Bhumi Sriwijaya, para pedagang dari Cinalah yang menyebarkannya.

Beberapa saat kemudian, selesailah penyambutan itu.

Bersamaan dengan para pelayannya yang bergegas mengemasi makanan, Panglima Samudra Jara Sinya menyuruh para penari di depannya segera mengakhiri tariannya.

Ia kemudian tersenyum menebarkan keramahan kepada semua yang hadir.

"Kupikir sebelum memulai pembicaraan yang lebih jauh, akan lebih baik kalau kita semua di sini sepakat melupakan permasalahan yang pernah terjadi sebelumnya di antara kita," Panglima Samudra memulai ucapannya. "Kita mulai hubungan ini bagai lembaran baru, tanpa dendam, dan tanpa prasangka

...."

Ia menatap Kara Baday yang segera mengangguk. "Ya, kupikir memang itu yang harus kita lakukan pertama kali," ujarnya sambil melirik Paman Kumbijata yang mengangguk pelan.

Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum. "Aku senang kau hadir di sini bersama seluruh anak buahmu," ujarnya. "Demikian juga Sri Maharaja Balaputradewa. Aku yakin kehadiranmu akan banyak membantu kami

Panglima Samudra Jara Sinya kembali tersenyum, "Namun begitu, aku harus melihat terlebih dahulu kesetiaanmu pada Bhumi Sriwijaya. Kupikir ini adalahuesuatu yang wajar, bukan?"

Sekilas Kara Baday kembali melirik Paman Kumbi Jata sebelum menjawab pertanyaan itu. "Ya, kupikir itu sesuatu yang wajar," ujarnya.

Panglima Samudra Jara Sinya tertawa. "Bagus, kalau kau pun berpikir demikian," serunya. "Sehingga aku tak akan sungkan mengirimmu bersama seluruh anak buahmu ke Pantai Barat sana "

Kara Baday terdiam, mencoba menebak ke arah mana pembicaraan ini.

Panglima Jara Sinya melanjutkan, "Aku ingin kalian menghancurkan semua bajak laut yang ada di sepanjang pantai itu "

Kara Baday seketika tertegun. Secara bersamaan, ia dan Paman Kumbi Jata saling berpandangan.

"Aku tahu ini tugas yang berat," ujar Panglima Samudra Jara Sinya lagi. "Namun, bila kau berhasil melakukannya, Sri Maharaja Balaputradewa pastilah akan sangat berterima kasih kepadamu. Dalam kondisi seperti itu, tentu saja aku tak akan segan-segan meminta Sri Maharaja Balaputradewa untuk menganugerahi gelar Panglima Muda kepadamu ”

-ooo0dw0ooo-