Pandaya Sriwijaya Bab 13 : Bocah yang tersisa dari pembantaian

Bab 13 : Bocah yang tersisa dari pembantaian

Kepulangan kali ini adalah kepiluan ....

Awalnya keduanya sama sekali tak melihat asap hitam yang mengepul di atas langit. Pohon-pohon tinggi masih menutupinya seakan tak ingin menyampaikan berita duka itu. Tunggasamudra masih terus berlari-lari kecil di depan Biksu Wang dengan wajah yang tak sabar.

Barulah ketika batas hutan terlewati dan pohon terakhir tersibak, keduanya mendapati bubungan asap hitam itu. Ketertegunan muncul di wajah keduanya. Tampak oleh mereka datu tempat tinggal mereka telah terbakar dengan hebatnya. Api menyala di semua sudut, meluluhlantakkan rumah-rumah yang telah tegak berkat bantuan Biksu Wang itu

....

Sungguh, tak ada lagi tanda-tanda kehidupan di sana....

Semuanya benar-benar telah mati!

-ooo0dw0ooo-

Setelah sehari berselang, api barulah berhenti. Sebenarnya tak sepenuhnya berhenti, masih ada geliatnya terlihat di beberapa tempat. Namun, ini sudah cukup bagi Biksu Wang dan Tunggasamudra untuk mendekatinya. Saat itulah keduanya baru dapat memeriksa keadaan datunya secara jelas.

Semuanya kini tinggal puing-puing hitam yang berasap di mana-mana. Bau asap yang tajam masih menyelimuti, membuat Tunggasamudra sesekali terbatuk. Namun, itu tak mengurungkan niatnya untuk menapaki seluruh tanah di datu itu pelan-pelan, dengan kakinya yang tanpa alas.

Saat itu, ia sempat melihat Biksu VVang di kejauhan, tengah juga memperhatikan puing-puing di sekitar kediamannya. Namun, ia tak lama memperhatikan itu. Pikirannya seakan bergerak sendiri.

Perlahan ia kembali menyusuri setapak itu ....

Ia masih begitu hafal letak rumah-rumah di sini satu demi satu. Ia masih hafal setapak yang selalu dibersihkannya setiap memulai harinya. Ia masih hafal letak beberapa barang milik penduduk. Ia bahkan masih begitu hafal nada-nada suara yang berlainan memanggilnya .... .

Muara... Muara... Muara.... Sungguh, ia masih begitu hafal semuanya. Bukankah baru kemarin saja ia merasakan itu semua?

Tunggasamudra tercekat. Tanpa terasa air matanya jatuh. Muara... Muara... Muara ....

Untuk sesaat Tunggasamudra benar-benar terhanyut dalam keadaan ini. Namun, ia buru-buru menghapus air matanya saat langkah kaki Biksu Wang dirasakannya mendekat ke arahnya.

"Semua yang hidup akan kembali ke tanah," suara Biksu VVang langsung membuatnya berpaling.

Tunggasamudra kembali menghapus air matanya dengan lengannya.

"Aku hanya merasa sendirian," ujarnya.

Biksu mencoba tersenyum, "Kau ini!" ia menepuk-nepuk pundak Tunggasamudra, "Lalu, kau anggap apa lelaki gundul ini, heh?"

Mau tak mau, Tunggasamudra menarik sedikit bibirnya untuk tersenyum.

"Dengar," ujar Biksu Wang lagi, "sekarang tak ada apa-apa lagi di sini. Engkau bisa ikut bersamaku bila mau!" ujarnya

seakan telah melupakan tujuannya berpamitan.

Dan, Tunggasamudra hanya bisa menatap Biksu Wang lekat-lekat. Ucapan yang hanya pelan saja itu, benar-benar menenteramkan hatinya. Seiring dengan itu, tiba-tiba suara derap kuda terdengar dalam keheningan menjelang matahari terbenam. Bunyinya sedikit bergemuruh, tanda ada beberapa orang yang datang sekaligus.

Awalnya Biksu Wang hendak menarik Tunggasamudra untuk segera bersembunyi di balik semak-semak. Namun, begitu tahu pasukan Sriwijaya yang datang, keduanya segera keluar dari tempat persembunyian. Pemimpin pasukan berkuda itu segera mendekati Biksu Wang, "Hanya kalian yang selamat?" tanyanya. Biksu Wang hanya bisa mengangguk. Pemimpin pasukan itu kemudian memberi tanda dengan tangannya kepada pasukannya untuk menyebar dan mengamati sekelilingnya. Tujuh anggota pasukan segera menyebar. Ada yang memeriksa sisa-sisa jejak di tanah, ada yang memeriksa puing-puing rumah, dan ada yang memeriksa barang-barang yang tercecer di sepanjang setapak ....

"Tampaknya ini perbuatan bandit-bandit dari Kerajaan Malaya," ujar pemimpin itu setelah mendengar laporan dari pasukan yang lain. "Mereka tak banyak mengambil harta penduduk. Tak ada sisa-sisa barang yang tercecer "

Tunggasamudra terdiam sambil terus memandang orang- orang itu. Tanpa ada yang mengetahuinya, otaknya merekam semua ucapan lelaki itu baik-baik ....

Tak lama kemudian pasukan itu pun berlalu bersamaan dengan tenggelamnya matahari di ufuk barat.

Sesaat dalam sisa-sisa cahaya yang ada, Tunggasamudra masih menatap datu itu. Perasaan kehilangannya kembali muncul. Namun, sentuhan tangan Biksu VVang di pundaknya kembali dapat membuatnya tenang.

"Waktunya kita pergi," ujar Biksu Wang.

Tunggasamudra mengangguk dalam diam dan mulai berpaling dan melangkah di belakang Biksu Wang. Ia sama sekali tak tahu akan ke mana Biksu Wang membawanya pergi. Ia hanya membiarkan kakinya terus melangkah mengikutinya

....

Dalam perjalanan itu, Tunggasamudra sama sekali tak memperhatikan sebuah kotak panjang yang kini menggantung di pundak Biksu Wang, menempel di punggungnya ....

-ooo0dw0ooo- Lalu, perjalanan menjadi sahabatnya ....

Hari demi hari dilalui keduanya dengan berjalan melintasi bukit, hutan, dan sungai. Mereka menyinggahi satu tempat dan tempat lainnya untuk terus kembali melanjutkan perjalanannya. Terus seperti itu, seakan perjalanan itu tak pernah berujung.

Pernah satu kali, Tunggasamudra bertanya, "Sebenarnya, kita akan ke mana, Biksu?"

Dan, Biksu Wang hanya akan menggelengkan kepalanya, "Aku sendiri tak tahu pasti, Tungga. Aku hanya mengikuti kakiku "

Dan, Tunggasamudra tak berucap apa-apa lagi.

Mereka terus berjalan seperti semula. Kembali melintasi bukit, hutan, dan sungai. Berhenti di setiap datu yang dilalui. Tinggal untuk beberapa saat untuk menolong para penduduk yang membutuhkan tenaga mereka. Dan kemudian, kembali melanjutkan perjalanan.

"Hidup itu adalah penderitaan," suatu kali Biksu Wang berucap. "Sejak dulu aku tahu kau telah melalui penderitaan yang panjang. Maka itulah, aku tak akan memaksa dirimu untuk mengikuti aku

Tunggasamudra mengangguk sambil tersenyum, "Aku tahu, Biksu," ujarnya. "Hidup memang penderitaan, tetapi aku sama sekali tak merasa sedang menjalani penderitaan itu ....

Biksu Wang tersenyum pahit. Sebenarnya, tadi ia berniat akan mengucapkan sebuah kalimat lagi, tentang niatannya menitipkan Tunggasamudra di sebuah datu yang kini dilewatinya. Namun, melihat wajah yang tampak bersemangat itu, ia mengurungkan niatnya. Maka itulah, Tunggasamudra pun terus bersamanya melalui setapak-setapak waktu yang panjang. Namun, tidak sekadar itu lagi, di setiap kesempatan yang ada, di saat keduanya beristirahat di sela-sela perjalanan mereka, atau di saat tengah menetap di sebuah datu, Biksu Wang akan mengajarkan gerakan-gerakan dari jurus-jurus bela diri yang dikuasainya. Sejak dulu ia memang sudah mengajarkan gerakan-gerakan dasar bela diri kepada Tunggasamudra hingga ketahanan dan otot-otot Tunggasamudra telah terbentuk pada tubuhnya.

Kini ia mulai mengajarkan jurus-jurusnya dengan memotong dua bambu menjadi sama panjangnya. Dan, tanpa Tunggasamudra menyadarinya, ia telah mempelajari jurus Pedang Membelah Gunung, yang merupakan jurus terpendam dari Aliran Liang Giang...

-ooo0dw0ooo-

Suatu ketika mereka tiba di sebuah datu dengan awan hitam yang selalu menggantung di atas kepala.

Ketika pertama kali melangkahkan kaki ke tanah Padang Roco yang ada di hulu Batanghari ini, Biksu Wang dan Tunggasamudra hanya bisa memandang dengan keheranan.

Suasananya terasa sangat lain dari datu-datu yang pernah mereka datangi sebelumnya.

Di sepanjang setapak, arca Heruka, sebuah dewa dalam panteon Buddha, dengan mudah ditemukan di berbagai sudut. Sebagian besar tampak di depan rumah-rumah penduduk.

Ukurannya pun bermacam-macam. Dari yang sebesar telapak tangan hingga yang sebesar ukuran manusia normal.

"Buddha sepertinya sudah masuk kemari," Biksu Wang memandang sekelilingnya. Saat seorang lelaki tampak melintasi mereka, Biksu Wang mencoba menahannya. "Maaf," ujarnya dengan nada ramah, "kiranya di mana kami berada sekarang ini?"

Dengan wajah tak suka, lelaki itu mengerutkan keningnya, "Ini Datu Dharmasraya," ujarnya ketus sambil berusaha pergi dari hadapan Biksu Wang.

"Terima kasih," Biksu Wang membungkukkan tubuhnya sambil membiarkan tubuh lelaki itu berlalu dari hadapannya.

Dharmasraya,, dalam hati Biksu Wang mengeja nama itu. Sepanjang perjalanan, ia belum pernah mendengar nama itu. Ini agak mencengangkan. Keadaan datu ini tampak jauh lebih maju dari datu-datu lainnya. Bagaimana mungkin teman- temannya sesama biksu Buddha sama sekali tak menyebutkan keberadaan datu ini? Juga penduduk-penduduk di sekitarnya?

Biksu Wang kembali berjalan sambil terus mengamati sekelilingnya. Agak jauh dari tempatnya berdiri, sempat dilihatnya sebuah tempat pemujaan ajaran Hindu.

Tampaknya, kembali pikiran Biksu Wang menebak, ajaran Hindu pun pernah masuk di sini ....

"Biksu," tangan Tunggasamudra menyentuhnya. "Ada apa?" Biksu Wang menoleh.

"Kain baju mereka aneh," bisik Tunggasamudra.

Dengan tak mengerti, Biksu Wang segera saja mengamati kain baju yang dipakai penduduk. Kain itu berwarna cokelat seperti kain-kain kebanyakan yang mereka temui di datu-datu yang mereka lalui sebelumnya, tetapi yang membuat aneh adalah coraknya yang bergambar kepala tengkorak. Biksu Wang menelan ludah.

Saat itu ia begitu ingin bicara dengan seseorang. Namun, penduduk di sini tampaknya tak menyukai kehadiran keduanya. Orang-orang itu hanya memandangi lekat-lekat kepada keduanya, tetapi ketika didekati, mereka akan buru- buru pergi menjauh.

Untunglah ada seorang tua yang tak beranjak sama sekali ketika Biksu Wang mendekatinya.

"Maaf," ujar Biksu Wang berusaha lebih ramah. "Di mana aku bisa bertemu dengan seorang biksu Buddha?"

Sambil memotong kayu bakarnya, lelaki tua itu hanya menoleh sekilas. "Tak ada biksu Buddha di sini," ujarnya dengan nada tak peduli. "Kami penganut Wijrayana."

Biksu Wang terdiam. Sedikit banyak ia sudah mendengar kata itu.

Awalnya aliran Buddha Wijrayana adalah bagian dari aliran Buddha Mahayana yang banyak dianut masyarakat saat ini.

Aliran ini diperkirakan datang bersamaan dengan datangnya Wangsa Syailcndra dari Bhumijawa. Namun, karena adanya kekuasaan raja saat itu, aliran ini mengalami begitu banyak pergeseran.

Seperti yang terjadi di Dharmasraya ini, raja selalu disimbolkan dengan sosok Bhairawa, yaitu sesosok raksasa yang begitu menyeramkan dan tengah menaklukkan lawan- lawannya. Sungguh, Biksu Wang dapat melihat dengan jelas gambaran itu karena di tempat yang tampaknya menjadi lokasi berdiamnya pemimpin datu ini, Biksu Wang dapat melihat dua buah arca Bhairawa yang tengah duduk di atas singgasana!

Ini membuat Biksu Wang hanya bisa menelan ludah.

Kekecewaan sedikit melanda hatinya. Aliran ini tampak sudah begitu melenceng dari ajaran Buddha yang sebenarnya.

Sejenak saat itu ia merasa bimbang.

"Apa kita akan menginap di sini, Biksu?" suara Tunggasamudra sedikit mengagetkannya. Biksu Wang terdiam. Ia tampak berpikir sebentar sambil menatap sekelilingnya. Tak dapat dielakkan perasaan tak enak yang begitu besar dalam hatinya. Apalagi rasa tanggung jawabnya telah membawa bocah ini sedemikian jauh.

Dengan gerakan perlahan, akhirnya Biksu Wang menggelengkan kepalanya, "Kupikir, sebaiknya kita melanjutkan perjalanan "

Entah keputusan ini tepat atau tidak bagi Biksu Wang.

Karena bila ia memutuskan menetap di datu ini, ia mungkin akan melihat para penganut aliran Wijrayana ini saat mereka melakukan ritual menari di atas tumpukan tulang belulang manusia sambil meminum darah binatang dan bermabuk- mabukan ....

Bila ia melihat itu, mungkin ia tak lagi bisa mengontrol dirinya untuk berbuat sesuatu di datu yang beberapa abad kemudian akan menjadi kerajaan sendiri!

-ooo0dw0ooo-

Lalu, seakan bunga yang tumbuh, menguncup, bermekaran, layu, dan kemudian mati, lalu kembali tumbuh, menguncup lagi, bermekaran lagi, layu lagi, dan kemudian kembali mati, terus seperti itu, tahun demi tahun pun berjalan tanpa bisa berhenti....

Bersamaan dengan iring-iringan burung-burung bangau yang membelah angkasa secara teratur dan kecipak ikan yang memainkan nada-nada gembira di sepanjang sungai, bocah Tunggasamudra itu kini telah tumbuh menjadi pemuda dengan tubuh tegap.

Wajahnya tampak keras dengan rahang-rahang yang kuat.

Matanya tajam dan tampak selalu menyelidik. Rambutnya yang sebahu dibiarkan terurai tanpa ikatan. Tubuhnya yang selalu terbuka tampak padat berotot. Dan, luka bekas tangan ketiganya dulu masih terlihat dengan samar di balik pundaknya.

Kini bersama dengan Biksu Wang, ia menetap di pinggiran sebuah datu kecil bernama Kayet, yang ada di tepian Danau Toba.

Keduanya membuat sebuah rumah kecil yang sederhana dari bambu. Letaknya memang sedikit terpisah dari rumah- rumah penduduk lainnya yang ada di sebelah utara. Angin danau memang membuat para penduduk itu tak terlalu tertarik membangun rumah di pinggir danau. Namun, tidak bagi Biksu Wang. Ia merasa ini adalah tempat paling sempurna untuk mengajari Tunggasamudra ilmu-ilmunya.

Dan, ini mungkin sudah tahun ketujuh sejak mereka pergi dari tanah yang binasa itu. Entahlah, keduanya tak pernah benar-benar menghitungnya. Namun, yang pasti mereka sudah begitu lama tinggal di sini. Datu Kayet adalah datu terindah yang pernah dilihat Biksu Wang. Udara yang begitu segar dan pemandangan yang begitu alami sangat menenteramkan dirinya yang mulai merasakan ketuaannya. Terlebih pemandangan yang ada di danau. Setiap fajar menyingsing dan senja yang tertinggal, danau itu seakan berselimut jubah emas. Kemilaunya yang indah begitu membuai mata siapa pun yang menatapnya.

Ia teringat saat Asoka, seorang pengikut Buddha yang berasal dari seorang raja yang telah membunuh ratusan manusia, menyesal dan merendamkan diri di sebuah danau untuk memohon pengampunan. Danau itu pun dilukiskan dengan jubah keemasannya ....

Maka itulah, ia kemudian memutuskan untuk tinggal di sini.

Apalagi saat itu Tunggasamudra hampir mencapai puncak pelajarannya. Ia benar-benar merasa membutuhkan waktu yang lebih banyak dan lebih tenang untuk mengajarkan ilmu pamungkasnya. Tunggasamudra sendiri menyukai datu ini sejak pertama kali kakinya menginjakkan tanah di sini. Waktu itu ia melihat seorang perempuan tua tengah bercerita dengan dikelilingi puluhan anak-anak kecil yang duduk di depannya. Ia segera saja bergabung dengan anak-anak itu dan mulai mendengarkan dengan saksama suara parau perempuan tua itu ....

"Cerita tentang Danau Toba dimulai dari kisah cinta seorang pemuda yatim piatu yang tinggal di bagian utara pulau. Pemuda itu hidup dari hasil bertani dan menangkap ikan. Suatu hari ia begitu sial hingga tak mendapatkan seekor ikan pun. Namun, saat akan pulang, ia menangkap seekor ikan besar dan indah dengan warna kuning keemasan. Sampai di rumah, rasa lapar menyulut niatnya untuk memasak ikan itu. Namun, keindahan ikan itu membuatnya membatalkan niat. Maka, ikan itu pun dipeliharanya.

"Esok harinya, pemuda itu seperti biasanya berangkat ke ladang. Selepas tengah hari, ia kembali menuju rumah untuk makan. Alangkah terkejutnya ia ketika didapati di dalam rumahnya telah tersedia masakan yang tertata rapi dan siap disantap. Rasa lapar mendorong sang pemuda untuk sejenak mengesampingkan keheranannya itu. Ia pun segera menyantap hidangan itu.

"Anehnya, kejadian itu selalu terulang. Tiap kali si pemuda kembali dari ladang untuk santap siang, ia selalu menemukan makanan siap dimakan di dalam rumahnya. Kecurigaan pun memuncak. Sang pemuda lalu mencoba mengintainya. Ia bersembunyi di antara pepohonan tak jauh dari rumahnya.

Selama beberapa waktu, tak ada apa pun yang terjadi. Namun, tiba-tiba muncul asap yang mengepul di dapur rumah. Maka dengan langkah perlahan, ia pun mendekati rumahnya untuk melihat siapa orang di balik asap yang terkepul itu.

"Sampai di dapurnya, ia terkejut melihat seorang wanita cantik berambut panjang. Dengan tangkas ditangkapnya sang wanita. Singkat cerita, sang pemuda kemudian tahu bahwa wanita yang ada di dapurnya itu merupakan jelmaan ikan yang ditangkapnya. Setelah kejadian itu, keduanya menikah dengan satu syarat: si pemuda tak akan membocorkan identitas asli perempuan itu kepada anak mereka kelak.

"Sang pemuda setuju. Pernikahan dilangsungkan dan kehidupan mereka berjalan dengan baik. Sampai suatu ketika, mereka akhirnya mempunyai anak. Namun, anak itu tumbuh menjadi anak yang nakal dan sulit untuk dinasihati. Suatu saat, ketika usia anak mereka enam tahun, sang perempuan penjelmaan ikan itu menyuruh anaknya mengantar nasi ke ladang tempat ayahnya bekerja. Sang anak menurut. Namun, di tengah perjalanan, rasa lapar menyergap perut si anak.

Lalu, ia pun nekat memakan isi bungkusan itu dan hanya menyisakan tulang-tulangnya saja.

"Tulang sisa ikan yang telah ia makan kemudian ia bungkus kembali. Bungkusan itulah yang kemudian diserahkan kepada bapaknya. Melihat bungkusan itu, yang berisi tulang belaka, sang ayah pun marah sambil menampar pipi anaknya dan berkata, 'Dasar anak ikan!' Mendapat tamparan dan makian itu, sang anak kemudian pulang dan mengadu kepada ibunya. Mendengar kisah itu, sang ibu menangis sambil berkata dalam hati, 'Suamiku telah melanggar sumpahnya. Sekarang, aku harus kembali ke alamku.'

"Lalu, langit pun gelap. Petir menyambar dan hujan badai datang dengan deras. Kemudian, sang anak dan ibu raib. Dari bekas tempat berpijak keduanya, muncullah mata air yang memancar sederas-derasnya hingga akhirnya membentuk sebuah danau. Danau itu kemudian dikenal sebagai Danau Tuba atau 'danau tak tahu belas kasih'.

"Lama-kelamaan danau itu berganti sebutan menjadi Danau Toba. Konon, sang ibu berubah wujud kembali menjadi ikan yang sangat besar dan berperan sebagai penunggu danau dan akan meminta tumbal tiap tahunnya. Karena mitos ini pula, konon, Danau Toba dianggap angker dan sampai sekarang belum bisa dipastikan berapa kedalamannya karena mereka yang mencoba menyelam ke dasarnya konon tak pernah kembali "

Selesai perempuan tua itu bercerita, Tunggasamudra yang masih setengah terpana segera berlari ke tepi danau.

Di situ, dipandanginya danau itu tak habis-habisnya ....

-ooo0dw0ooo-