Pandaya Sriwijaya Bab 12 : Pulau Karang di Semenanjung Karang

Bab 12 : Pulau Karang di Semenanjung Karang

Hari-hari terakhir ini adalah hari yang menyebalkan bagi Kara Baday. Mungkin sudah hampir dua purnama ini ayahnya melarang keras dirinya dan seluruh anak buahnya beraksi di laut.

Walau sedikit mendongkol, Kara Baday bisa memahami itu. Akhir-akhir ini, sambau-sambau Sriwijaya memang terlihat di mana-mana. Hampir di setiap titik dalam jarak-jarak tertentu, sambau-sambau itu terus berpatroli. Tampak sekali bahwa mereka memang benar-benar serius menangkap kelompoknya. Tak hanya sambau-sambau bertiang layar dua saja, tetapi sambau-sambau utama yang bertiang layar lima pun sudah dikerahkan seluruhnya. Jelas sekali terlihat bahwa ke-matian Panglima Muda Sru Suja tampaknya benar-benar memukul armada Sriwijaya.

Maka untuk mengisi waktu, sesekali dengan satu perahu layar bertiang satu dan beberapa anak buahnya, Kara Baday mendatangi salah satu datu di Pantai Timur Sriwijaya.

Biasanya dengan berpura-pura sebagai nelayan, mereka keluar perlahan-lahan dari Pulau Karang, lalu berlayar dan merapat ke tepian Pantai Timur ....

Seperti kali ini, setelah perjalanan sehari-scmalam, mereka merapat juga di sebuah datu di utara muara besar. Bersama lima orang anak buahnya, Kara Baday segera menuju keramaian yang ada di tengah datu itu. Turut bersama dirinya adalah Paman Kumbi Jata, salah satu anak buahnya sejak kepemimpinan ayahnya. Ia merupakan sosok yang paling matang dan sangat waspada di antara semua anak buah yang bersamanya.

"Kara," ia memanggil Kara Baday yang langsung berjalan meninggalkan perahu. Sejak dulu Dapunta Abdiba-wasepa memang menyuruh semua anak buahnya untuk memanggil anaknya langsung dengan namanya saja untuk menutupi jati diri mereka. Kara Baday hanya menoleh tanpa menghentikan langkahnya. "Cepatlah, Paman," ujarnya tampak sekali tak sabar.

Paman Kumbi Jata hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil mengikatkan tali perahunya di salah satu patok yang berderet di sekitar dermaga. Ia memang bisa memahami tingkah pemuda itu. Sudah hampir satu purnama Kara Baday tak keluar dari Pulau Karang. Temunya kesempatan seperti ini sudah begitu lama dirindukannya.

Rombongan kecil itu terus berjalan ke dalam, meninggalkan dua orang anak buah lainnya menunggu perahu.

Saat akhirnya mereka memasuki sebuah kerumunan, Kara Baday tak henti-hentinya tersenyum.

"Akhirnya, aku melihat manusia juga," ujarnya berlebihan. "Manusia?" Paman Kumbi Jata melirik. "Memangnya selama

ini kau menganggap apa kami ini?"

Kara Baday hanya tertawa. Segera saja ia melangkahkan kakinya masuk di kerumunan itu.

Keadaan pasar hari ini memang cukup ramai. Beberapa pedagang ikan dan buah-buahan menggelar dagangannya, membuat jalur panjang dari timur ke barat. Di antara para pedagang itu terlihat beberapa orang yang sedang mempertontonkan suatu pertunjukan, dari sekadar tukang cerita sampai pendekar-pendekar yang memperagakan kemampuannya.

Kara Baday hanya memperhatikan itu sebentar saja.

Matanya tampak masih terus mencari-cari sesuatu.

"Kau mencari apa?" Paman Kumbijata merasakan hal itu.

Kara Baday menoleh, "Apa di sini ada penjual makanan seperti yang dijual di Telaga Batu?" tanyanya. Paman Kumbijata hanya mengangkat bahunya. Namun, tak urung, dilemparkannya pandangan ke sekeliling kerumunan.

Beberapa purnama yang lalu mereka memang sempat datang ke Telaga Batu dan menemukan seorang penjual makanan yang belum pernah mereka lihat. Penjual makanan itu memang bukanlah penduduk Sriwijaya dan ia menjual sejenis makanan bundar berwarna putih yang berisi cacahan daging yang kemudian dikukus di atas sebuah tungku. Penjual itu menyebutnya bakpao.

Selama ini mereka hanya memakan nasi, ikan, dan buah- buahan. Tentunya melihat makanan baru seperti itu, mereka akan langsung mencobanya. Dan, saat makanan itu dibawa pulang ke Pulau Karang, orang-orang hanya bisa memandang dengan heran makanan itu. Namun, ketika mencoba rasanya, mereka semua menyukainya. Maka itulah, saat Kara Baday berencana lagi datang ke Pantai Timur, beberapa anak buahnya yang tak ikut, memesan makanan itu. Terutama Aulan Rema.

Namun, sayangnya, walau sudah berjalan hingga di ujung kerumunan, Kara Baday dan Paman Kumbijata tak menemui penjual makanan itu.

"Sepertinya tak ada," Paman Kumbijata menyimpulkan. "Tampaknya kita harus pergi ke Telaga Batu bila menginginkan makanan itu

Kara Baday hanya mengangguk kecewa. Namun, ketika ia baru saja akan berlalu, matanya tanpa sengaja tertumbuk pada sesosok tubuh.

Tiba-tiba saja, entah mengapa, hatinya berdesir.

Tak jauh dari tempatnya berdiri, sesosok perempuan tengah melangkah membelakangi dirinya. Bentuk tubuh dan gerakannya, terutama bentuk rambutnya yang diikat tinggi ke samping, dengan sebuah ikat kain berwarna putih, sepertinya begitu dikenalnya. Sungguh, ia benar-benar mengingatkannya pada seseorang ....

Tanpa berpikir panjang, Kara Baday segera berlari ke arah itu. Disentuhnya pundak perempuan itu sambil berucap, "Phrijandi?"

Sosok itu segera berpaling dan memandang Kara Baday dengan tatapan tak mengerti, "Ya?"

Kara Baday tertegun, "Maaf, maaf, kukira engkau temanku ”

-ooo0dw0ooo-

Saat kepulangan rombongan itu, pikiran Kara Baday seperti melayang.

Phri Jandi... Phri Jandi... Phri Jandi. Ia adalah gadis

pertama bagi Kara Baday. Gadis yang dicintainya dan gadis yang mencintainya.

Kenangan akan raut wajahnya masih begitu lekat. Seakan baru kemarin gadis itu menghilang dari dirinya. Ia masih ingat saat pertama kalinya gadis itu mengucapkan namanya. Waktu itu, di sepotong hari yang belum lama merekah, seperti saat ini. Juga di keramaian sebuah pasar yang hiruk-pikuk, juga sama seperti saat ini. Ia pertama kalinya melihat Phrijandi dengan rambut yang diikat tinggi ke samping, dengan sebuah ikat kain berwarna putih. Saat itu tak ada gadis yang memperlakukan rambutnya seperti itu. Maka itulah, Kara Baday muda begitu memperhatikannya. Terutama saat gadis itu berpaling ke arahnya. "Engkaukah salah satu penduduk baru itu?" tanya gadis itu.

Kara Baday hanya tertegun ketika itu. Bukan karena pertanyaan itu, tetapi karena kejelitaan gadis itu. "Bagaimana mungkin kalian pindah secara bersamaan?" tanya gadis itu lagi.

Dan, pertanyaan itu menyadarkannya. Ia, ayahnya, dan sekitar seratus lima puluh orang pengawal ayahnya memang baru saja memutuskan menetap di pinggiran datu ini. Mereka terus mencoba menghindari kejaran pasukan Sriwijaya.

Maka itulah, pertemuan pertamanya itu kadang sangat disayangkannya. Karena pertanyaan itu, mau tak mau, harus dijawab dengan sebuah kebohongan. Selama ini, sudah berkali-kali keberadaan mereka diketahui pasukan Kerajaan Sriwijaya. Maka itulah, mereka harus pandai-pandai menyembunyikan jati diri mereka.

"Datu kami baru diserang oleh gajah-gajah liar," ujarnya. "Maka itulah, kami pindah kemari."

"Akan tetapi, mengapa begitu menepi?" tanya gadis itu lagi. "Bukankah lebih baik membaur bersama kami?"

Dan, kembali kebohongan yang ia ucapkan, "Kami... hanya sementara di situ."

Dan, gadis itu tampaknya puas dengan jawabannya. "Oya, aku Kara," ujar Kara sambil menangkupkan kedua telapaknya di depan dadanya untuk memulai perkenalan.

Gadis itu melakukan gerakan yang sama sambil sedikit menundukkan kepalanya. "Aku Phri Jandi," ujarnya.

Dan, nada suara itu sepertinya terus bergema lembut di telinganya ... hingga saat ini ....

Phri Jandi... Phri Jandi... Phri Jandi.....

Sungguh, kala itu ia berharap bahwa saat itu adalah kepindahannya yang terakhir. Letak datu ini begitu jauh dari Telaga Batu dan jauh juga dari datu-datu yang menjadi bawahan Sriwijaya. Akan tetapi, ternyata harapannya tinggallah harapan. Belum lama ia mengenal Phri Jandi, merasakan kedekatan hubungan di antara keduanya, keberadaan mereka kembali tercium oleh pasukan Sriwijaya ....

Saat itulah mimpinya seketika buyar!

Melihat Kara Baday yang terccnung-cenung begitu lama di buritan perahu, Paman Kumbi Jata dan lima anak buahnya yang lain pun hanya diam memperhatikan pemuda itu.

"Mengapa Kara?" seseorang mencoba bertanya. Paman Kumbi Jata hanya bisa menggeleng.

'Apa kita perlu menyanyi agar suasana menjadi lebih enak?" seorang anak buah yang lain mengusulkan. Dan, sebelum Kumbi Jata menjawabnya, ia sudah mencoba bernyanyi kecil, "Kucoba-coba melempar monyet Monyet

kulempar, singa kudapat "

Paman Kumbi Jata langsung melotot. "Apa-apaan kalian ini?" ia membentak dengan nada tertahan. "Sudah sana, kalian mendayung saja!"

-ooo0dw0ooo-

Mereka sampai di Pulau Karang keesokan harinya.

Beberapa penduduk segera menyambut kedatangan mereka. Namun, Kara Baday tampaknya tetap tak seperti biasanya.

Senyumnya tidak lebar saat menerima sambutan orang-orang itu. Bahkan, ketika bocah-bocah kecil berlari mengitarinya sambil berteriak-teriak meminta cerita, ia tak lagi menghiraukannya. Ia terus berjalan ke arah rumahnya.

Akan tetapi, di situ, sosok Aulan Rema sudah menghadang di pintu rumahnya.

"Aku menemukan sesuatu," ujarnya dengan senyum lebar. Kara Baday mencoba tersenyum, "Aku lelah, bisakah aku beristirahat dulu?"

Aulan Rema menggeleng, "Aku harus menunjukkannya kepada Kakak sekarang!"

Lalu, segera ia menarik tangan Kara Baday yang tampak tak bersemangat. Dibawanya Kara Baday berlari cepat ke arah tebing.

"Adik Aulan, kau berlari terlalu cepat." Kara Baday hanya bisa mengikuti langkah-langkah kecil itu.

Aulan Rema tertawa kecil, "Kau hanya malas saja, Kakak," ujarnya. "Bukankah biasanya kau bisa berlari lebih cepat dariku?"

"Sudah kukatakan aku lelah "

Aulan Rema tak peduli. Ia terus menarik Kara Baday menaiki bukit yang seakan memagari pulau itu. Kara Baday pun tak lagi memprotes. Ia membiarkan dirinya dibawa Aulan Rema hingga berada di satu puncak bukit karang itu.

Kara Baday memandang sekitarnya, "Nah, sekarang kita telah ada di puncak, apa yang mau kautunjukkan padaku, Aulan?"

Aulan Rema tersenyum, "Masak Kakak tak melihatnya?' ia menggerakkan tangannya ke arah hamparan bunga-bunga beraneka warna yang tumbuh di celah-celah karang.

'Aku ingin menunjukkan ini kepada Kakak," tambahnya dengan senyum lebar.

Kara Baday hanya bisa menggaruk-garuk kepalanya, "Hanya ini?" ujarnya.

Aulan Rema langsung cemberut, "Apa maksud Kakak dengan berkata hanya ini?" "Tidak, tidak, maksudkuKara Baday langsung mengoreksi ucapannya. "Hmmm, bunga-bunga ini belum cukup mekar

Bibir Aulan Rema tampak kembali normal, "Benarkah? Apa ia akan tumbuh lebih besar lagi?"

Kara Baday mengangguk, "Mungkin dalam beberapa hari ini kita bisa ke sini lagi. Sekarang aku harus beristirahat dulu. Aku benar-benar ingin bermimpi indah

Aulan Rema tertawa. "Memangnya Kakak ingin bermimpi apa?" ujarnya sambil mendekati Kara Baday.

"Huh," Kara Baday berlagak berpaling, "tentu saja rahasia." Aulan Rema segera melendot pada tangan Kara Baday.

"Pasti bermimpi tentang ... aku?" ia langsung memainkan

bibirnya.

Kara Baday langsung tertawa. Dicubitnya hidung gadis kecil di depannya, "Kau ini, terlalu yakin "

"Habis siapa lagi?" Aulan Rema masih memainkan bibirnya. "Di sini tak banyak gadis^muda, selain aku? Kalaupun ada itu juga pasti istri dari anak-anak buah Kakak? Dan, itu tak banyak

Kara Baday kembali menggelengkan kepalanya. "Kau ini tampaknya lupa," ujarnya. "Kau ini belum termasuk gadis muda, tetapi anak kecil!" sehabis berkata demikian, Kara

Baday langsung tertawa lebar. Aulan Rema langsung saja mencoba untuk mencubitnya.

Akan tetapi, Kara Baday berlari menghindar. Ia segera saja melompati beberapa terjalan bukit untuk menghindari cubitan itu.

Sampai di bawah Aulan Rema terus memasang muka cemberut. "Kakak yang menyebalkan," desisnya.

Kara Baday hanya tersenyum sambil berjalan turun dengan sedikit menjauh. "Hmmm, iya hampir lupa aku bercerita," Kara Baday menghentikan langkahnya. "Tadi aku seperti bertemu dengan ayuk1-mu ..."

Aulan Rema menoleh tak percaya, "Ayuk (Sebutan kepada perempuan yang lebih tua. seperti halnya sebutan 'mbak' di Jawa) Phrijandi?"

Kara Baday mengangguk. "Ya, semula aku pikir ia. Cara mengikat rambut dan kain pengikatnya benar-benar sama. Namun, begitu kudekati... ternyata bukan," Kara mencoba tertawa, tetapi nada suaranya terasa tak lepas. Aulan Rema mendadak menjadi terdiam. "Mengapa kau?" Kara Baday tampak heran. Segera ia mendekat.

Aulan Rema menggeleng, "Tidak, tidak apa-apa." Ia kemudian meneruskan langkahnya, agak menjauh dari Kara Baday.

"Sepertinya," suaranya kemudian terdengar, "kakak masih belum bisa melupakan Ayuk Phri Jandi, ya?" Ia menoleh sekilas, dengan tatapan yang langsung membuat Kara Baday terdiam.

Lalu, sebelum sempat Kara Baday menjawab pertanyaan itu, Aulan Rema kembali menarik napas panjang. "Sepertinya juga," ujarnya lagi, "selama ini Kakak belum bisa percaya, atau tak mau percaya, bahwa Ayuk Phri Jandi memang sudah meninggal saat itu."

Kara Baday tertegun. Kini tatapan Aulan Rema yang sedikit berkaca seakan menusuk hatinya.

"Bukan begitu maksudku," Kara Baday mencoba mencari kata-kata. "Tetapi. "

Belum sempat kata-katanya keluar, sebuah suara tiba-tiba memecah percakapan di antara mereka "KARAAAAA!" Keduanya segera menoleh. Paman Kumbijata terlihat tengah berlari dengan gerakan terburu-buru ke arah keduanya.

"Abah Kara jatuh!" teriak Paman Kumbijata sebelum benar- benar dekat. "Abah Kara jatuuuh!" ulangnya

Kara Baday seketika tersadar. Lalu, dengan secepat kilat, ia melompat ke depan dan berlari menuju rumahnya.

-ooo0dw0ooo-

Kara Baday menerobos kerumunan itu. Paman Kumbijata dan Aulan Rema mengikutinya dari belakang.

Rumah itu telah penuh sesak. Bahkan di luar, orang-orang sudah berdiri berderet-deret. Sepertinya semua orang di Pulau Karang ini telah hadir di sini. Mereka segera saja memberi jalan kepada Kara Baday.

Di dalam, di ruangan yang tampak terawat rapi, Abah Kara, atau Dapunta Abdibawasepa, terbaring di tikarnya dengan wajah sangat pucat.

"Abah," Kara Baday langsung menjatuhkan dirinya, memegang tangan ayahnya.

"Abah tak apa-apa?" suaranya terdengar khawatir. Abah Kara terbatuk. 'Aku tak apa-apa, Kara," ujarnya dengan suara nyaris tak terdengar. "Ini mungkin ... memang sudah waktuku

...."

Kara Baday tertegun. Dipandanginya dalam-dalam wajah yang ada di dekatnya itu. Keriput di wajah dan tubuh ayahnya seakan terlihat untuk pertama kali olehnya ini. Baru kini ia menyadari ketuaan ayahnya. Dan, hal itu serta-merta membuat matanya berkaca-kaca.

"Sudahlah," ujar Abah Kara lagi. "Aku sudah cukup puas hidup selama ini. " "Abah..”Kara Baday menunduk. "Hanya saja aku ingin berpesan kepadamu, juga kepada kalian semua," ujarnya melirik kepada Paman Kumbi Jata yang berdiri satu langkah di belakang Kara Baday.

Ia terbatuk beberapa kali. "Aku ingin," suaranya terdengar lebih keras, tetapi tetap terasa tercekat di tenggorokan, "kalian berhentilah menjadi... bajak laut”

Ucapan ini cukup mengagetkan semua yang ada dalam ruangan ini. Dulu, dalam keadaan yang terus diburu, Abah Kara terus menyaksikan satu demi satu pengawalnya gugur membela dirinya. Namun, ia terus bertahan tanpa melawan. Puluhan kali Paman Kumbi Jata dan beberapa pengawalnya mengusulkan untuk membalas, tetapi ia selalu menolak.

Akan tetapi, adakah seseorang yang mampu menyimpan luka yang terus menoreh hatinya? Adakah seseorang yang akan tetap diam melihat orang-orang yang mengorbankan nyawa untuknya mulai gugur satu demi satu? Dan, Abah Kara pun tak mampu. Kesabarannya pun akhirnya musnah.

Diputuskannya tak lagi hanya berlari. Ia memilih untuk membalas semua sakit hati ini.

Maka itu, setelah menemukan tempat yang begitu tersembunyi di gugusan Pulau Karang ini, ia pun mulai membentuk pengawal yang tersisa menjadi pasukan bajak laut!

Paman Kumbijata masih begitu hafal semua kejadian itu. Ia masih begitu ingat penyerangan pertamanya. Saat itu Kara Baday masih menjadi bocah ingusan yang menangis saat perahu-perahu itu meninggalkan dirinya bersama beberapa perempuan di Pulau Karang itu.

Paman Kumbijata masih bisa melihat tuannya berdiri di atas salah satu perahu, membiarkan rambut panjangnya terurai sehingga mengaburkan usianya. Oleh karena itu, Paman Kumbijata dan yang lainnya sama sekali tak menyangka ucapan itu akan keluar dari bibir tuannya. Namun, dalam kondisi seperti ini, tak ada yang benar-benar berpikir tentang kalimat itu. Keadaan Abah Kara lebih penting dari sekadar itu.

Abah Kara kembali terbatuk. Sekilas Kara Baday melihat darah memercik karena batuk itu. Namun, Abah Kara tak memedulikannya. Ia kembali melanjutkan ucapannya, "Lalu, jalankan ... kehidupan kalian ... dengan baik”

Kembali Abah Kara terbatuk. Kali ini batuk yang berkepanjangan.

"Dapunta, sudahlah," Paman Kumbijata mendekat. "Jangan bicara lagi! Beristirahatlah saja dulu!"

Akan tetapi, Abah Kara menggeleng. Dipandanginya Paman Kumbijata dengan sinar mata yang semakin sayu.

"Dan, kau Kumbi," ia berucap pelan, membuat Paman Kumbijata menggeser dirinya lebih mendekat. "Sampaikan ... kepada yang lainnya... permohonan maafku... yang sudah ... menjerumuskan kalian semua

Paman Kumbijata menggelengkan kepalanya, "Tidak, Dapunta, tidak..”

"Tolong dengarkan aku, Kumbi," ujarnya lagi. "Seharusnya aku ... tak membawa kalian semua... dalam dendam yang berkepanjangan ini

Paman Kumbi Jata tetap menggeleng kuat-kuat.

"Maafkan ... aku ...," air mata Abah Kara perlahan bergulir dari matanya.

Melihat itu, Paman Kumbi Jata memejamkan matanya kuat- kuat. Namun, tak urung air matanya tetap tak terhalangi untuk jatuh ke pipinya .... Abah Kara terbatuk. Namun, kali ini napasnya seakan tercekat.

"Abah ...”suara Kara Baday terdengar panik. "Dapunta "

"Kumbisuara Abah Kara masih terdengar di sela-sela napasnya, "jaga ...jaga ... ia baik-baik

Dan, sebelum Paman Kumbi Jata mengangguk, kepala Abah Kara telah terkulai terlebih dahulu ....

Kara Baday seketika menubruk tubuh itu dan memeluknya erat-erat. Tangisannya pecah mengisi celah-celah waktu di antara desiran angin yang ada di Pulau Karang ini. Lalu, menyebarkannya pada telinga-telinga orang-orang yang ada di seluruh Pulau Karang ini. Semua mata kemudian menitikkan air matanya, terutama Paman Kumbi Jata. Lepas dari ucapan terakhir Abah Kara, ia benar-benar tak perlu mengucapkan kata-kata lagi untuk mengiyakannya. Sejak dulu, ia telah mematri hatinya untuk tetap setia kepada tuannya itu hingga sepanjang hidupnya. Maka kini, ia tak perlu lagi kembali mengucapkan janji itu di dalam hatinya. Karena, tanpa diminta pun ia akan tetap menjaga keturunan Dapunta Abdibawasepa hingga ajal menjemputnya ....

-ooo0dw0ooo-

Lalu, hari-hari berikutnya berlalu dengan lebih hening ....

Beberapa hari setelah pembakaran jenazah ayahnya, Kara Baday menyebarkan abu jenazah itu di seluruh pulau. Ini merupakan keputusannya sendiri. Di tahun-tahun terakhir di sini, ayahnya tak bisa lagi mengingkari dirinya yang begitu mencintai pulau kecil ini. Bahkan, beberapa kali ia mendengar, ayahnya bergumam ingin terus berada di sini. Maka itulah, ia menaburkan abu jenazah ayahnya di sini. Ia ingin menyatukan seluruh pulau ini dengan ayahnya! Sepanjang hari ia melakukannya sendiri tanpa ingin ditemani. Ia mau menikmati saat-saat terakhir itu berdua saja dengan ayahnya. Dari jauh, Aulan Rema dan Paman Kumbi Jata serta beberapa orang lainnya hanya bisa memperhatikannya tanpa bisa berbuat apa-apa.

Beberapa hari berselang, setelah keadaan mulai sedikit membaik, Paman Kumbi Jata mendatangi Kara Baday di rumahnya.

"Kau baik-baik saja, Kara?" tanyanya sambil masuk ke dalam rumah.

Kara Baday hanya mengangguk. Penampilannya sekarang tampak begitu tak teratur. Rambutnya tampak begitu kusut. Kumis dan jambangnya juga tumbuh tak teratur. Beberapa hari ini, ia memang mengurung diri di dalam rumahnya, tanpa mau diganggu oleh siapa pun.

"Sebaiknya kau membersihkan diri!" ujar Paman Kumbi Jata lagi. "Dengari penampilan seperti itu, tak akan ada gadis yang mau melirikmu "

Kara Baday tersenyum juga, "Kupikir tidak seburuk itu   "

Paman Kumbi Jata mendekat, "Sekarang ini sudah selesai waktumu untuk bersedih, Kara! Kini waktunya kau melanjutkan hidup!"

Kara Baday terdiam. Dipandanginya wajah Paman Kumbi Jata seiring terngiangnya pesan terakhir ayahnya saat itu....

”Aku ingin, kalian berhenti menjadi bajak laut ”

"Aku tahu, Paman," ujarnya. "Akan tetapi, aku tak tahu

harus melakukan apa. Bukankah pesan Abah saat itu, kita tak lagi menjadi bajak laut?"

Paman Kumbijata tertawa, "Kau ini memang masih terlalu muda, Kara. Tentu saja kita akan menuruti amanat ayahmu. Itu merupakan amanat terakhir. Jadi, kita harus mengikutinya. Maka itulah, kami di sini menunggumu untuk menanti perintah darimu

"Aku ...," Kara Baday menelan ludah. "Kara, sebenarnya kau cukup menyebutkan sesuatu," ujar Paman Kumbijata lagi, "dan kami akan mengikutimu. Kau ingin kami menjadi nelayan? Atau menjadi pengumpul kayu bakar? Atau mencari tanah baru? Sungguh, kami akan tetap mengikutimu

Kara Baday terdiam. Sungguh, selama ini ia tak pernah berpikir hingga sejauh itu. Sekian lama ia bersama dengan pengawal-pengawal ayahnya ini, ia sama sekali tak tahu sampai sedalam apa kesetiaan pengikut ayahnya ini.

Diam-diam ini membuat hatinya terasa sejuk. Namun, sebuah pikiran lain seketika terlintas di kepalanya, apa yang bisa dijanjikannya kepada mereka semua? Bukankah ia lak memiliki apa-apa lagi?

Tengah Kara Baday berpikir demikian, tiba-tiba sebuah suara terdengar mengagetkan.

'Ada yang dataaang!" suara itu terdengar bergema. Awalnya hanya teriakan dari seorang anak yang tengah bermain di atas bukit. Namun, akibatnya begitu mengejutkan. Semua orang yang ada di situ tiba-tiba menghentikan geraknya.

Awalnya mereka berpikir telah salah mendengar. Ya, bagaimana mungkin ada yang datang kemari? Bukankah pulau ini pulau yang tak pernah diketahui keberadaannya?

Akan tetapi, teriakan itu tak berhenti. Beberapa orang dewasa segera saja memanjat tebing.

Dan, benar, sebuah perahu kecil ternyata terlihat tengah menuju ke Pulau Karang ....

Saat itulah, orang-orang itu segera berlari memberi tahu Kara Baday di rumahnya. "Hanya sebuah perahu kecil," ujar orang itu. Di dalamnya hanya terlihat tiga orang penumpang dan beberapa pendayung.

"Mereka bukan nelayan?" Paman Kumbi Jata masih menyangsikan.

Orang itu menggeleng, "Tidak mungkin mereka nelayan.

Sejak tadi mereka memutari pulau ini, jelas sekali kalau mereka memang mencari kita."

Kara Baday terdiam. Ia berpikir keras. Dengan mengitari gugusan pulau ini secara saksama, tentu mereka akan segera menemukan celah ini!

Menyadari hal itu, hati Kara Baday tiba-tiba bergelora, "Bersiaplah! Siapkan semuanya!"

Lalu, dengan gerak cepat, semua orang yang ada di situ segera berlari bersiap. Sebagian lelaki mengambil senjata- senjata mereka dan sebagian yang lain mulai mendorong perahu-perahu mereka ke arah pantai. Beberapa wanita juga menyiapkan busur panah beserta anak panahnya sambil mengambil posisi di tempat-tempat tersembunyi. Sedang anak-anak segera berlari semakin ke dalam, menuju ke rumah Abah Kara yang berada di paling ujung untuk bersembunyi.

Semuanya tampak begitu terorganisasi. Jelas sekali bila Abah Kara telah melatih semuanya dengan matang.

Kara Baday mengambil pedangnya.

"Kakak," Aulan Rema muncul di dekatnya. Tangannya mengangsurkan sebuah ikat kepala yang biasa digunakan Kara Baday.

Kara Baday menerimanya dengan gerakan perlahan. "Kau bersiaplah," ujarnya sambil mengikatkan ikat kepala

itu. "Ini mungkin saja bisa menjadi peperangan pertamamu Aulan Rema mengangguk. Ia segera bergabung dengan beberapa wanita lainnya, mengambil busur panah beserta anak panahnya.

Kara Baday terus melangkah ke depan, menyaksikan semuanya bersiap. Seorang anak buahnya yang bersembunyi di balik bukit, memberi tanda dengan kain putih.

"Mereka telah menemukan kita," desis Paman Kumbi Jata yang ada di sebelah Kara Baday.

"Baguslah bila begitu, Paman," ujar Kara Baday dengan mata berkilat. "Hanya sebuah kapal, kita akan dengan mudah mengalahkannya

Paman Kumbijata hanya terdiam. Ia merasa Kara Baday terlalu percaya diri, tetapi ia tak mencoba berucap apa-apa. Ia menenangkan hatinya dengan terus berpikir bahwa apa yang diucapkan Kara Baday memang benar adanya.

Hanya sebuah kapal... kita akan dengan mudah mengalahkannya ....

Lalu, seiring degup jantung yang semakin keras, sebuah perahu bertiang layar satu muncul dari celah karang itu.

Bergerak pelan, membelah ketenangan air di situ. Seorang lelaki berjenggot putih dengan pakaian biasa tampak berdiri di depan perahu.

"Ambilkan panah!" Kara Baday meminta.

Paman Kumbijata segera mengangsurkan busur panah berikut anak panahnya. Lalu, dengan gerakan terlatih, Kara Baday mengangkat busur panahnya dan mulai membidik ke arah perahu.

Wuuush....

Sesaat anak panah itu meluncur ke angkasa. Semua mata memandangnya membelah langit. Lalu jatuh tepat di depan

kaki lelaki yang berdiri di depan perahu itu .... Kara Baday tersenyum.

Lelaki berjenggot putih itu mengangkat tangannya. Seorang pemuda yang sedari tadi berdiri di belakangnya, segera maju dan langsung berteriak, "Kami datang untuk bicara!"

Kara Baday menoleh ke arah Paman Kumbijata. "Mereka ingin bicara," desisnya, "Bagaimana menurut, Paman?"

Paman Kumbijata berpikir sebentar, "Kupikir tak ada salahnya kita bicara dulu," ujarnya. "Bukankah bila mereka bermacam-macam, kita bisa langsung membunuh mereka?"

Kara Baday tersenyum. "Kau majulah!" serunya kepada salah seorang anak buahnya yang lain, "Beri jalan buat perahu itu!"

Lalu, anak buah itu segera berlari ke arah dermaga.

Tangannya terus bergerak-gerak, memberi tanda kepada yang lainnya.

Semua kemudian menunggu. Perahu itu bergerak pelan hingga sampai di dermaga. Ketiga orang yang ada di dalam perahu itu segera naik ke dermaga ....

"Panglima SamudraJara SinyaPaman Kumbijata langsung bergumam dengan tak percaya. Selama ini, ia telah beberapa kali bertemu dengan Panglima Samudra Kerajaan Sriwijaya itu....

Kara Baday tertegun mendengar gumaman itu, "Panglima Samudra Jara Sinya? Mau apa ia kemari, Paman?"

Paman Kumbijata menggeleng pelan. "Kita akan tahu setelah bicara nanti," ujarnya. "Namun hati-hatilah dengannya! Sejak dulu, Dapunta Abdibawasepa sering mengatakan bahwa ia merupakan panglima yang cerdik”

Kara Baday mengangguk.

Ketiga orang yang berdiri di atas dermaga itu memang-lah Panglima Samudra Jara Sinya dan putra keduanya Sang- gatrasima serta Panglima Muda Patakanandra. Mereka tak langsung dikenali karena sekarang ketiganya hanya berpakaian biasa, tanpa terlihat membawa senjata sama sekali.

"Kami hanya ingin bertemu dengan tuanmu!" ujar Panglima Muda Patakanandra dengan nada hati-hati. Sepanjang perjalanan dari celah itu, ia sudah bisa melihat orang-orang yang bersiap di sekitar pulau ini.

Beberapa anak buah Kara Baday menyuruh ketiganya berjalan mendekat.

"Kuakui keberanian kalian," ujar Kara Baday ketika mereka sudah begitu dekat. "Panglima SamudraJara Sinya "

Panglima Samudra Jara Sinya tersenyum, ia maju ke depan sambil mendekapkan kedua telapak tangannya di dadanya, "Keberanian ini, tentu bukanlah apa-apa "

Kara Baday tersenyum sinis, "Aku tak memiliki waktu banyak. Segera saja sebutkan, apa tujuanmu kemari?"

Panglima Samudra Jara Sinya mencoba kembali tersenyum. "Aku hanya ingin bertemu dengan Dapunta Abdibawasepa," ujarnya. "Aku datang sebagai kawan lama

Kara Baday terdiam. Ia tak langsung menjawab pertanyaan itu. Walau selama ini ia tahu antara ayahnya dan Panglima Samudra Jara Sinya memang saling mengenal, tetapi ia sama sekali tak tahu sedekat apa perkenalan keduanya.

Paman Kumbi Jata yang melihat jeda kediaman itu segera maju selangkah. "Semua urusan di sini sekarang diurus oleh putra Dapunta, Kara Baday!" ujarnya.

Kening Panglima Samudra Jara Sinya seketika berkerut. "Apakah Dapunta Abdibawasepa tak lagi bersama kalian?"

tanyanya dengan nada tak yakin. "Atau   aku yang datang

terlambat?" sambungnya ragu. Kara Baday mengangkat tangan. "Sudahlah, tak periu berbasa-basi!" ujarnya dengan nada tegas. "Katakan saja mau apa kau kemari, Panglima?"

Panglima Samudra Jara Sinya mengangguk-angguk, "Tentu, aku akan mengatakannya. Aku tak akan menyita waktumu lebih lama," ujarnya. "Kedatanganku kemari hanya ingin menawarkan sesuatu kepadamu

Panglima Samudrajara Sinya maju selangkah lagi mendekati Kara Baday, "Aku ingin kalian semua bergabung ber-samaku

-ooo0dw0ooo-