Pandaya Sriwijaya Bab 11 : Mimpi-Mimpi Yang Tak Pernah Hilang

Bab 11 : Mimpi-Mimpi Yang Tak Pernah Hilang

Aku mencintainya, Paman .... Siapa pun dirinya, aku tetap mencintainya ....

Suara itu seakan terdengar berkali-kali. Mengetuk labirin telinganya, membuat gema yang semakin lama bukannya semakin memelan, tetapi semakin mengeras!

Lalu, seiring dengan itu, bayangan wajah seorang gadis jelita dengan tubuh semampai muncul, menari-nari memenuhi ruang ingatannya.

Tak bisa dihindarinya lagi itu adalah sosok Pramoda- wardhani, anak dari kakaknya, Samaratungga. Kini senyumnya tak lagi menggemaskan seperti saat ia berlari-lari mengelilingi dirinya sambil berteriak-teriak memanggil namanya, tetapi ...

begitu menawan.

Para lelaki akan dengan mudah jatuh cinta kepadanya.

Namun, hanya Jatiningrat yang kemudian berhasil menambat hatinya ....

Aku mencintanya, Paman ....

Siapa pun dirinya, aku tetap mencintainya ....

Dan, saat itulah Sri Maharaja Balaputradewa terbangun dari tidurnya.

-ooo0dw0ooo-

Dan, pernahkah kau berpikir tentang kehadiran sebutir embun di ujung sehelai daun yang hijau?

Dan, pernahkah juga kau berpikir tentang kepergian sebutir embun di ujung sehelai daun yang hijau?

Mungkin serangga-serangga yang melakukannya untuk tanah yang menaungi mereka. Setetes demi setetes mereka mengumpulkannya dalam sebuah bejana berbentuk membran yang teramat kecil dan sangat halus. Terus tanpa henti mereka bekerja. Hingga setiap bejana yang telah penuh akan berkilau menggelitik mata kita.

Saat itulah kita akan tergugah, mendapati sebutir embun ada di ujung-ujung daun itu. Selalu seperti itu. Hingga sampai kini, kita tak pernah benar-benar menikmati embun-embun itu karena baru beberapa saat tersadar saja, embun itu akan menggelinding jatuh ke tanah, masuk ke dalam pori-porinya....

Sri Maharaja Balaputradewa diam-diam mengangguk, menyetujui tulisan yang baru dibacanya itu. Namun, langkah- langkah halus di belakangnya membuatnya berpaling.

Pu Chra Dayana mendekatinya.

"Mereka akhirnya dapat menemukan Dapunta Cahya- dawasuna, penguasa Datu Talang Bantas," ujarnya dengan kepala menunduk.

Sri Maharaja Balaputradewa berpaling. Ia ingat tentang itu.

Beberapa hari yang lalu Pu Chra Dayana telah melaporkan tentang bencana yang terjadi di salah satu datunya yang ada di barat sana.

Pu Chra Dayana meneruskan, "Walau debu telah menutupi seluruhnya, bahkan empat patung Buddha yang cukup besar di empat penjurunya, tetapi tiga belas hari setelah ledakan gunung yang menaburkan hujan debu itu, Dapunta Cahyadawasuna bisa ditemukan dengan selamat di salah satu gua di pinggir datunya

Sri Maharaja Balaputradewa menatap tak percaya, "Tiga belas hari?" tanyanya seakan bergumam.

Pu Chra Dayana mengangguk.

Pandangan Sri Maharaja Balaputradewa menerawang. "Bila ia bisa selamat dari kejadian seperti itu," ujarnya, "ia

pastilah sangat istimewa

"Tentu saja, Sri Maharaja, tentu saja” Sri Maharaja kembali berpaling, "Dan kini, ia menjadi dapunta tanpa datu?" tanya Sri Maharaja Balaputradewa sesaat kemudian.

Pu Chra Dayana mengangguk.

"Kalau begitu, panggillah ia kemari," ujar Sri Maharaja Balaputradewa lagi. "Aku ingin menjadikannya salah satu penasihatku

-ooo0dw0ooo-

Tak butuh waktu lama bagi Pu Chra Dayana untuk mengutus orang memanggil Dapunta Cahyadawasuna ke Telaga Batu. Hanya beberapa hari berselang, Dapunta Cahyadawasuna sudah bisa menghadap Sri Maharaja Balaputradewa di Ke-datuan Telaga Batu.

Dalam pertemuan itu keduanya diliputi dengan kebisuan.

Sri Maharaja Balaputradewa mengamati Dapunta Cahyadawasuna begitu lekat, mencoba menilai kepribadiannya dari melihat penampilan luarnya. Sedangkan Dapunta Cahyadawasuna yang hanya sesekali melirik ke arah Sri Maharaja Balaputradewa, diam-diam sibuk dengan pikirannya sendiri. Ini pertama kalinya ia melihat seorang penguasa Bhumi Sriwijaya, baik penguasa saat ini, yakni Sri Maharaja Balaputradewa, maupun sebelumnya, Pu Chra Dayana.

"Aku sudah mendengar tentang kisahmu," ujar Sri Maharaja Balaputradewa memecah kebisuan. "Kalau boleh kutahu, apa yang bisa membuatmu bertahan seperti itu?"

Dapunta Cahyadawasuna terdiam, mencoba berpikir sesaat.

Namun, sungguh, ia tak bisa menemukan jawaban yang meyakinkan. Sejak hari itu, ia sendiri sebenarnya terus berpikir bagaimana ia dapat hidup tanpa makanan sedikit pun kala itu, hanya dengan meminum seteguk dua teguk air yang ada di situ? Maka, ia pun menjawab dengan ragu pertanyaan itu, "Hamba sendiri tak tahu secara pasti jawabannya. Namun, mungkin karena ... hamba terus melakukan meditasi."

"Meditasi?" kening Sri Maharaja Balaputradewa berkerut, "Aku pun memahami meditasi. Meditasi prajna untuk mengosongkan pikiran ataupun meditasi dhyana untuk mengisi pikiran. Namun, kurasa tak akan bisa menjadi sedemikian hebat hasilnya?"

Dapunta Cahyadawasuna menundukkan kepalanya, "Maafkan hamba, Sri Maharaja. Sebenarnya, hamba sendiri tak pernah begitu tahu bagaimana hasil meditasi bagi hamba. Namun yang pasti, setiap melakukan meditasi sunyata, hamba bisa merasa lebih tenang, bahkan ... sangat tenang

"Meditasi sunyata?" Sri Maharaja Balaputradewa tak bisa menyembunyikan ketertarikannya.

"Ya, meditasi sunyata. Itu merupakan meditasi yang menggabungkan antara meditasi prajna dan dhyana ..."

Raut wajah Sri Maharaja Balaputradewa semakin tampak tertarik.

"Ini sangat menarik," ujarnya kemudian. "Bagaimana kalau kau mengajari aku mendalami meditasi itu?"

-ooo0dw0ooo-