Pandaya Sriwijaya Bab 08 : Kelompok Wangseya

Bab 08 : Kelompok Wangseya

Kelompok Wangseya, nama ini begitu dikenal di Bhumi Sriwijaya ini. Namun, tak ada yang benar-benar mengetahuinya.

Kelompok Wangseya adalah kelompok rahasia yang langsung berada di bawah perintah Dapunta Hyang pemimpin Kerajaan Sriwijaya. Posisi secara struktural berada di atas Panglima Bhumi dan Panglima Samudra.

Keanggotaan kelompok ini begitu dirahasiakan. Hanya beberapa pu atau petinggi Kedatuan Sriwijaya yang mengetahui. Itu pun hanya untuk anggota-anggota utamanya saja.

Orang-orang hanya tahu sosok Wantra Santra sebagai pemimpin kelompok itu. Sosok berperawakan besar itu, lebih besar dari ukuran normal, dalam setiap kehadirannya akan selalu menaburkan suasana kelam dan mengingatkan pada sajak-sajak kcmatian.

Wantra Santra memang merupakan sosok penuh misteri. Tak ada yang benar-benar mengenalnya. Sepak terjangnya sama sekali tak pernah tercium, bahkan oleh orang-orang kcrajaan sekalipun.

Garis wajahnya pun tak banyak yang mengenalinya. Ia memang jarang muncul bersama pu lainnya. Dengan jubah hitam panjang yang dikenakannya, ia tak menonjol di antara yang lainnya. Apalagi ia bukan orang yang membina hubungan dengan anggota kerajaan lainnya. Entah karena jabatannya yang menuntut kerahasiaannya atau memang dirinyalah yang enggan berteman dengan siapa pun selain kebisuan.

Kemampuan ilmu bela dirinya tak lagi bisa diukur. Beberapa orang tua di Telaga Batu bahkan mengatakan kalau ialah orang paling digdaya saat ini. Walau tampak selalu tak membawa senjata, di balik jubahnya ia menyembunyikan senjatanya yang berupa tiga bola baja. Ketiga bola baja inilah yang selalu diputar-putar tangannya bila ia tengah berpikir dengan sungguh-sungguh. Konon, dengan tenaga dalam yang dimilikinya, ia bisa menggerakkan ketiga bola baja itu melayang di udara dan bergerak sesuai keinginannya.

Akan tetapi, tak banyak yang pernah melihatnya melakukan itu, seperti juga tak banyak yang pernah tahu bagaimana ia dilahirkan....

Wantra Santra lahir di saat tanah mengumbar amarahnya. Saat itu, hampir empat puluh tahun yang lalu, datu tempatnya tinggal yang ada di kaki bukit-bukit, secara mengejutkan bergetar hebat. Tanah itu kemudian retak tak beraturan. Dari beberapa titik retakannya, kemudian tersemburlah api ke atas. Menebarkan panas yang begitu menyengat dan asap yang membubung tinggi, juga bau belerang yang menusuk.

Saat itu, semua orang melarikan diri untuk menyelamatkan nyawa masing-masing. Namun, seorang perempuan yang ketika itu tengah mengandung, tak lagi bisa berlari. Perutnya telah begitu besar dan air ketubannya pun telah pecah. Ia hanya bisa berdiam di antara semburan api yang keluar di antara retakan-retakan itu ....

Dan, di saat seperti itulah bayinya kemudian lahir. Tangiisannya pecah di antara suara gemuruh bumi. Itu bertahan lama sampai amarah bumi mereda dan keadaan kembali tenang. Lalu, orang-orang kembali ke datu itu dengan perasaan yang masih diliputi ketakutan. Seorang perempuan kemudian ditemukan tergeletak tak bernyawa. Di pelukannya, seorang bayi tampak bergerak-gerak mengisap puting susunya.

Seseorang berpengaruh yang kebetulan memeriksa keadaan itu kemudian menyuruh anak buahnya mengangkat bayi itu.

Ia kemudian memelihara bayi itu sebagai anak angkatnya dan menamainya Wantra Santra ....

---ooo0dw0ooo---

Wantra Santra telah menyadari keistimewaannya sejak lama.

Ketika muda ia pernah hampir mati karena petir menyambarnya. Tidak tepat menyambarnya memang. Namun, menyambar pohon tempatnya berteduh. Sejak itulah ia merasakan limpahan energi di seluruh tubuhnya. Ia merasakan getaran di tangannya yang menimbulkan bunyi halus. Bahkan, secara mengejutkan ia dapat menggerakkan barang-barang di dekatnya, tanpa sedikit pun menyentuhnya.

Seorang guru yang khusus didatangkan ayah angkatnya, kemudian mengajarinya untuk mengolah energi itu. Ditambah dengan beberapa guru yang mengajari ilmu-ilmu bela diri, maka hanya beberapa waktu saja, Wantra Santra pun menjadi pendekar tangguh.

Di usianya yang baru tujuh belas tahun, ia kemudian bergabung menjadi pengawal seorang dapunta di Teluk Pa- yar. Suatu saat datu tempatnya mengabdi diserang oleh puluhan perampok. Perampok-pcrampok ini bukanlah perampok biasa. Mereka terdiri dari pendekar-pendekar berilmu tinggi yangjumlahnya mencapai tiga puluh orang lebih. Pemimpinnya begitu terkenal karena telah menghancurkan datu-datu kecil yang ada di tepian. Akan tetapi, saat menyambangi kediaman Dapunta Teluk Payar itu, dengan ilmu yang dimilikinya, Wantra Santra dapat membunuh semua perampok itu. Ia bahkan dapat memenggal kepala pemimpin perampok itu.

Kehebatannya ini kemudian terdengar hingga ke Telaga Batu. Hingga Dapunta Chra Bukadhasa, ayahanda Pu Chra Dayana yang saat itu memimpin Sriwijaya, kemudian mengundangnya ke Telaga Batu untuk menjadi salah satu pengawalnya.

Sejak itu kariernya begitu menanjak. Hingga beberapa tahun kemudian, saat umurnya belum genap dua puluh lima tahun, Dapunta Chra Bukadhasa menunjuknya menjadi pemimpin pasukan rahasia Wangseya ....

---ooo0dw0ooo---

Malam ini, saat bulan terbelah di balik rerimbunan pohon, secara mengejutkan Wantra Santra muncul di Kedatuan Sriwijaya. Tak ada yang menyangka ia sudah berada di Telaga Batu. Terakhir yang diketahui para pu, ia tengah menyelidiki beberapa datu di utara.

Kini, diiringi tiga orang berpakaian gelap, yang menu-tup wajahnya, Wantra Santra melangkah memasuki pelataran kedatuan. Kedatangannya seketika membuat malam terasa lebih kelam dan orang-orang di luar kedatuan yang kebetulan melihat kelebatannya tiba-tiba bergidik, seakan mengingat lantunan sajak-sajak kematian ....

Angin kemudian seakan menjadi senyap. Beberapa penjaga yang mengenalinya hanya membungkuk dan terus membiarkan dirinya berjalan. Khusus untuk Wantra Santra, Sri Maharaja memang akan menemuinya kapan pun. Peraturan ini sebenarnya berlaku bagi Dapunta sebelumnya. Namun, Sri Maharaja Balaputradewa tampaknya tak menolak keadaan seperti ini. Tak lama kemudian, ia sudah berlutut menunggu Sri Maharaja Balaputradewa muncul. Ia berlutut di undakan nomor dua, sedang ketiga pengawalnya berada di undakan keenam.

Undakan-undakan yang ada tujuh tingkat ini memang diperuntukkan bagi semua orang di Bhumi Sriwijaya yang ingin bertemu dengan pemimpin tertinggi mereka. Ada tujuh undakan yang terlihat. Undakan tertinggi adalah untuk Sri Maharaja, penguasa Kerajaan Sriwijaya. Undakan kedua ditempati oleh pemimpin Kelompok Rahasia Wangseya, Panglima Bhumi, Panglima Samudra, serta pu tertinggi.

Undakan ketiga dan keempat merupakan undakan bagi para pu Sriwijaya lainnya, sesuai jabatannya. Undakan kelima untuk para tamu kerajaan dan para pahlawan. Undakan keenam untuk anggota kerajaan lainnya. Dan, undakan ketujuh diperuntukkan bagi rakyat jelata biasa. Ini merupakan undakan yang terbawah.

Semula hanya Pu Chra Dayana, yang dulu menjadi dapunta di Telaga Batu ini, yang muncul. Baru tak lama kemudian, Sri Maharaja Balaputradewa akhirnya muncul juga.

"Salam sejahtera untuk Sri Maharaja Balaputradewa," Wantra Santra membungkuk, diikuti tiga orang pengawal di belakangnya.

"Maafkan hamba datang malam-malam begini," ujarnya dengan suara pelan, tetapi terasa dalam. "Hasil penyelidikan terhadap beberapa datu di utara sudah diselesaikan. Dan, kesimpulannya tampaknya... akan sangat mengejutkan

Wantra Santra terdiam sesaat. "Tanah Minanga Tam-wa baru-baru ini melakukan perekrutan pasukan secara besar- besaran

Mata mengantuk Sri Maharaja Balaputradewa seketika membelalak. Baru dalam beberapa hari saja setelah ia dinobatkan menjadi Sri Maharaja di Bhumi Sriwijaya ini, berkat bantuan dari Pu Chra Dayana dan pu-pu lainnya, ia sudah mengetahui masalah-masalah besar yang pernah dan tengah menimpa tanah ini. Terutama hubungannya dengan Kerajaan Malaya sejak ratusan tahun yang lalu.

Tanah Minanga Tamwa dulunya merupakan pusat dari Kerajaan Malaya. Semenjak ditaklukkan Dapunta Hyang Jayanasa pada 683, tanah yang ada di tepi Batanghari dan ada di hulu Muara Jambi ini merupakan daerah yang terus bergolak.

Walau sejak itu sudah merupakan bagian dari Bhumi Sriwijaya, tetapi aroma pemberontakan sepertinya tak pernah hilang dari tanah itu. Walau Sriwijaya telah menempatkan orang-orang terbaiknya di sana, bahkan memilih langsung seorang dapunta untuk memimpinnya, tetap saja muncul beberapa kali pemberontakan kecil. Sebagian besar pemberontakan itu dilakukan oleh sisa-sisa pendukung Kerajaan Malaya yang masih ada, entah dengan tenaga sendiri atau memakai tenaga pihak lain.

Kejadian paling membekas adalah kejadian sekitar dua puluh tahun yang lalu, ketika salah satu keturunan penguasa Kerajaan Malaya secara mengejutkan berhasil merebut kembali Minanga Tamwa. Namun, Dapunta Abdibawasepa, penguasa Datu Muara Jambi, kembali berhasil merebutnya dengan mengobarkan peperangan yang maha dahsyat. Hingga Panglima Bhumi Tambu Karen, yang ketika itu memimpin dua laksa pasukan dari Telaga Batu, tak perlu waktu lama untuk menuntaskan peperangan yang sudah dilakukan pasukan Dapunta Abdibawasepa.

Orang-orang kemudian mengenalnya sebagai Perang Merah Karena, saat itu selain darah yang menggenang dari ribuan nyawa, perang memang terjadi di waktu senja saat langit memerah dan seakan merasa sedih.

Tarikan napas Wantra Santra kembali terdengar,”Jumlahnya kali ini sangat luar biasa” Sri Maharaja Balaputradewa membenarkan posisi duduknya. Ucapan Wantra Santra menyiratkan kepadanya bahwa perang mungkin saja akan segera terjadi.

Ini membuat Sri Maharaja Balaputradewa terpekur. Baru sehari lewat ia berbicara panjang lebar dengan Panglima Bhumi Cangga Tayu tentang kemungkinan penyerangan ke Bhumijawa. Waktu itu Panglima Bhumi Cangga Tayu hanya berujar pelan, "Sebaiknya Sri Maharaja memikirkan hal itu lebih dalam”

"Apa kita tak cukup kuat mengalahkan pasukan Rakai Pikatan?" tanyanya mencoba ingin tahu.

"Hamba tak berani menjawabnya," Panglima Bhumi Cangga Tayu menundukkan kepalanya dalam-dalam. "Namun, dengan melakukan serangan ke Bhumijawa, itu akan memperlemah keadaan Telaga Batu," ujarnya lagi. "Hamba takut... bila ada beberapa datu yang kemudian memanfaatkan keadaan ini. "

Waktu itu Sri Maharaja Balaputradewa hanya bisa mengerutkan kening. Saat itu Panglima Bhumi Cangga Tayu sama sekali tak menyebutkan datu yang dimaksud. Dan, kini Wantra Santra yang menyebutkannya!

"Apa mereka akan melakukan serangan kemari?" tanya Sri Maharaja Balaputradewa setelah sejenak berpikir.

Wantra Santra menjawab dengan suara datar, "Itu akan butuh waktu yang lama. Namun, yang pasti. mereka pasti

akan mulai merebut datu-datu wilayah kita yang ada di utara”

---ooo0dw0ooo---

Di kediaman Wantra Santra, ketiga orang berpakaian hitam yang sedari tadi menemaninya membuka tutup wajahnya.

Sosok pertama adalah Mu Sangka, lelaki berperawakan jangkung dengan mata kiri yang terlihat sedikit miring. Ia merupakan seorang ahli ilmu meringankan tubuh. Biasanya semua tugas Kelompok Wangseya yang berhubungan dengan pengintaian, ialah yang selalu melakukannya.

Sosok kedua adalah Basa Kante*, lelaki dengan perawakan sedikit gemuk. Ia mahir memainkan berbagai senjata dan merupakan orang kepercayaan Wantra Santra yang diserahi tugas untuk terus berhubungan dengan kedatuan di Telaga Batu.

Dan, sosok yang terakhir adalah Kung Muda, lelaki berkepala gundul yang selalu tampak tenang. Walau bukan seorang ahli bela diri, tetapi ialah orang yang ditugasi Wantra Santra untuk melakukan perekrutan pasukan di tanah-tanah yangjauh dari Telaga Batu.

Ketiganya, bersama Wantra Santra, kini tengah duduk di dalam sebuah ruangan di dalam kediaman Wantra Santra. Ruangan itu, entah mengapa, sengaja tidak menyalakan obornya hingga menjadi tampak temaram saja.

"Tampaknya suasananya semakin panas," Wantra Santra berujar. "Aku yakin, bila Minanga Tamwa membelot, beberapa datu akan memberontak di waktu-waktu dekat ini

"Akan tetapi, apakah mungkin Panglima Tambu Karen membelot?" tanya Kung Muda. "Rasanya ... ini tak mungkin. Ia merupakan sosok paling setia bagi Kerajaan Sriwijaya."

Wantra Santra tak langsung menjawab. Ia hanya menarik napas panjangnya, "Waktu memang kadang mengubah pendirian seseorang...," ujarnya pelan.

"Lalu, kira-kira datu mana yang akan ikut membelot?" kali ini Mu Sangka yang bertanya.

Wantra Santra menggeleng, "Aku belum bisa menebaknya. Itu terlalu dini. Apalagi kepastian Minanga Tamwa membelot pun belum terbukti secara pasti. Namun, yang pasti datu itu ada di sebelah utara. Pergantian dari Dapunta Chra Dayana kepada Sri Maharaja Balaputradewa, tentunya dinilai merupakan kesempatan yang baik untuk melepaskan diri

Ketiga anak buahnya tak membantah.

"Akan tetapi, kudengar," Kung Muda sedikit berbisik, "Keinginan Sri Maharaja Balaputradewa untuk menyerang bhumijawa juga masih sangat kuat."

Wantra Santra terdiam, "Keinginan itu pastilah ada," ujarnya. "Sebuah kekalahan pastilah sangat menyakitkan.

Tak salah bila Sri Maharaja ingin membalasnya. Namun, kurasa Sri Maharaja tetap akan bisa memilih permasalahan yang lebih penting

Bersamaan dengan selesainya kalimat itu, empat orang pengawal Wantra Santra tiba-tiba muncul dari balik ruangan. Di tangan mereka masing-masing terlihat sebuah kurungan burung besar, setinggi separuh tubuh mereka, yang berisi seekor burung elang besar.

Elang-elang ini adalah binatang-binatang peliharaan Wantra Santra yang digunakannya untuk mengirim informasi kepada seluruh anak buahnya yang ada di sudut-sudut Bhumi Sriwijaya. Wantra Santra memang tak menggunakan burung- burung merpati. Ia menggunakan elang-elang ini karena kemampuan terbangnya yang jauh lebih cepat. Tak ada yang tahu bagaimana caranya ia bisa melatih para elang ini hingga dapat membawa pesan.

"Kalian sudah menulis pesannya?" tanyanya kepada keempat anak buahnya.

Seorang prajurit yang berdiri di depan mengangguk sambil menyodorkan beberapa lembar daun lontar.

Wantra Santra membacanya sekilas. Lalu, segera dikeluarkannya satu elang dari kurungan. Sesaat dibiarkannya elang itu mencengkeram tangannya dengan kuat.

Diikatkannya pesan itu pada kaki elang. Setelah selesai, diangkatnya tangannya ke atas, lalu dengan satu sentakan, elang itu pun segera terbang menembus kepekatan malam.

Sejenak Wantra Santra mengamati gerakan elang itu.

Untuk pekerjaan sesederhana ini saja, ia memang melakukannya sendiri. Karena walau sederhana, ini merupakan pekerjaan yang cukup penting.

Lalu, sambil mengeluarkan elang kedua, ia menoleh kepada ketiga pengawalnya, "Sekarang, malam ini juga," ujarnya, "Aku ingin kalian pergi ke utara...”

---ooo0dw0ooo---