Pandaya Sriwijaya Bab 07 : Laki-laki Yang Selalu Ketakutan

Bab 07 : Laki-laki Yang Selalu Ketakutan

waktu menapak liris

dalam jejaknya yang samar

dan ke arah mana ia akan menuju?

Tanpa terasa, beberapa purnama telah terlewati oleh Agi- riya di Panggrang Muara Gunung. Setiap purnama, ayahnya, Dapunta Ih Yatra, akan datang bersama ibunya, dan beberapa saudaranya, sekadar menjenguknya.

Kedatangan pertama mereka diikuti oleh iring-iringan kuda yang membawa semua makanan enak kesukaan Agiriya. Namun, Agiriya hanya bisa menolaknya, walau diam-diam menelan ludah.

'Ayah, aku bukan anak kecil lagi," ujarnya berusaha tegar. "Ayah tahu," ayahnya mengangguk. "Tetapi, benarkah kau tak mau memakan daging bakar ini barang sedikit saja? Atau ikan asap ini? Tukang masak kita khusus memasak-kannya untukmu "

Agiriya makin cemberut.

"Sudahlah," ibunya mencoba memeluknya, "Dimakan satu atau dua potong tak mengapa bukan?"

"Atau jangan-jangan adik Agiriya kini tak lagi suka makanan enak?" sela Katra Wiren, saudaranya. "Ia kini lebih luka makan rumput dan Agiriya langsung menendang kaki Katra Wiren sambil melotot, "Memangnya aku embek, makan-makan rumput?"

Katra Wiren hanya bisa tersenyum.

Akan tetapi, Agiriya tetap keras pada pendiriannya.

Sebenarnya memang ada peraturan bagi murid Panggrang Muara Gunung untuk tidak menerima makanan dari pihak di luar Panggrang Muara Gunung. Namun, mungkin karena ayahnya adalah datu, penguasa tanah di sini, pengawasan terhadap keluarganya lebih longgar. Inilah yang membuat Agiriya tak mau menerimanya. Ia pikir bila semua murid menjalankan peraturan ini, ia pun akan menjalankannya dengan baik.

Awalnya Dapunta Ih Yatra tak mengetahui peraturan ini, tetapi akhirnya ia tahu juga. Maka itulah, kini setiap kedatangannya di hari-hari berikutnya, ia akan membawa banyak sekali makanan untuk seluruh murid di Panggrang Muara Gunung, dengan langsung menyerahkannya kepada Guru Kuya Jadran. Tak heran bila Agiriya kemudian semakin terkenal di lingkungan Panggrang Muara Gunung. Padahal sebelumnya saja, para murid Panggrang Muara Gunung sudah selalu memperhatikan kehadiran dirinya. Kejelitaannya tampaknya benar-benar membuat Agiriya tak pernah lepas dari perhatian.

Beberapa murid yang lebih tua sudah secara terang- terangan menunjukkan perasaan kepadanya. Seperti saat latih tanding beberapa hari berselang. Seorang murid dari tingkat yang lebih tinggi, Widran Kutra, berujar pelan saat keduanya harus berlatih tanding bersama.

'Aku tak akan tega melukai kulitmu, Adik Agiriya," ujarnya. Agiriya akan menarik bibirnya sedikit. "Kalau begitu,"

ujarnya dengan suara datar, "Aku yang akan melukai kulitmu,

Kakak Widran!"

Dan, Agiriya memang tak akan segan menyerang dengan segala kemampuannya. Ia memang selalu serius saat berlatih. Bakatnya yang luar biasa membuatnya paling menonjol di antara teman-teman setingkatnya, bahkan di tingkat yang lebih di atasnya sekalipun. Ini membuat dirinya selalu haus mencari lawan yang lebih tangguh.

Akan tetapi, yang selalu dihadapinya adalah laki-laki yang sepertinya selalu meremehkan dirinya. Laki-laki yang selalu tersenyum nakal menatap dirinya. Ia tak akan berucap apa- apa soal itu. Ia pendam semua kemasygulannya dalam hati. Dan, hal itu justru membuatnya semakin bersemangat untuk mengalahkan lawannya!

Seperti sekarang, hanya dengan satu jurus ia membuat Widran Kutra langsung terpojok. Dengan tubuhnya yang ringan, Agiriya melenting membuat gerakan menutup gerakan lawan.

Widran Kutra terkejut. Tak menyangka dirinya langsung diserang dengan serangan yang berbahaya. Ia mencoba menahan dan melakukan serangan balasan. Namun, Agiriya (engah menukik ke arahnya dengan segenap energinya. Maka (ak ada pilihan lain, ia pun mencoba menahan serangan itu.

Dan hasilnya, dirinya pun terpental keluar dari arena. Agiriya tersenyum, "Maafkan aku, Kakak Widran, sudah membuat kulitmu terluka

Widran Kutra hanya berlalu dengan perasaan malu.

Kejadian seperti ini sudah kerap terjadi. Murid-murid di dua alau tiga tingkat yang lebih tinggi di atas Agiriya tampaknya lak cukup kuat mengalahkannya.

Dan, Agiriya memanfaatkan posisinya. Ia tak peduli, apakah kakak seperguruannya mengalah kepadanya atau tidak. Yang lebih penting dari itu semua adalah ia bisa mengalahkan lawan tandingnya!

Tanpa ia tahu, Guru Kuya Jadran selalu memperhatikan dirinya. Hingga suatu saat, ketika keduanya tengah bersama tanpa murid lainnya, Guru Kuya Jadran berucap dengan suara yang dalam.

"Muridku, Agiriya," ujarnya. "Aku terus memperhatikan dirimu."

Agiriya hanya menundukkan kepalanya. "Bakatmu memang benar-benar tak perlu kuragukan lagi," ujar Guru Kuyajadran. "Sungguh, kau... adalah salah satu muridku yang paling berbakat

Guru Kuyajadran menyentuh jenggotnya dengan gerakan perlahan, "Tetapi," sambungnya, "kau harus tetap bisa mengatur kemarahanmu. Karena kadang, kcmarahanlah yang bisa mencelakakan kita

---ooo0dw0ooo---

Di dalam biliknya, Agiriya terus memikirkan ucapan Guru Kuyajadran tadi. Karena kadang kemarahanlah yang bisa mencelakakan kita....

Apa ia selalu terlihat marah saat bertarung? Agiriya berpikir sendiri. Selama ini dalam latih tanding ia memang tampak selalu bernafsu mengalahkan lawan-lawannya dengan cepat. Apa itu yang membuat Guru Kuyajadran melihatnya sebagai luapan kemarahan?

Tak ia sangsikan bahwa ia cukup terlecut oleh ucapan ataupun tingkah laku lawannya yang kadang terasa begitu meremehkannya. Namun, apakah ia tampak jadi begitu marah? Bukankah selama ini ia membalas semua ucapan itu dengan datar, bahkan kadang dengan senyum?

Agiriya masih terus berpikir.

Ia menyadari, sangat menyadari, bahwa selama ini memang semua murid lelaki di Panggrang Muara Gunung ini memperhatikannya. Mereka akan selalu tersenyum kepadanya bila berpapasan dengannya. Mereka akan menanyakan kabar dirinya hari ini. Mereka juga akan berebutan menolong dirinya....

Senyum di bibir Agiriya muncul. Namun, tiba-tiba saja benaknya seperti terusik oleh sesuatu yang membuat senyumnya hilang!

Ah, tidak, tidak, tanpa sadar Agiriya menggeleng pelan. Sepertinya tidak semuanya seperti itu. Ada seorang murid lelaki yang sama sekali tak memperhatikan dirinya, bahkan menatapnya pun tidak. Pemuda itu seakan sama sekali tak pernah menggubrisnya.

Sungguh, Agiriya dapat mengingat itu. Walau ia tak terlalu bisa mengingat wajah murid itu seutuhnya. Namun, yang pasti, ia mengingat namanya. Dia adalah Magra Sekta.

---ooo0dw0ooo--- Dan, melukiskan Magra Sekta adalah melukiskan kebisuan.

Ia seakan diciptakan untuk tidak diperhatikan. Tak ada yang benar-benar dapat mengingat wajahnya. Ia akan berjalan di iring-iringan yang seakan tak terjangkau mata. Rambutnya yang panjang dan selalu tak diikat sepertinya sengaja dibiarkan terurai untuk menutupi wajahnya. Apalagi saat ia I larus bercakap-cakap dengan seseorang, ia akan berkali-kali menundukkan kepalanya.

Satu yang diingat oleh murid-murid lainnya adalah, di saat- saat tertentu, seperti saat-saat latih tanding, atau saat beberapa murid bengal mengganggunya, Magra Sekta tiba- tiba tampak sangat ketakutan. Ia akan menggeretakkan giginya hingga suaranya terdengar orang-orang di sekitarnya.

Sebenarnya secara fisik ia tak berbeda dengan murid lainnya. Tubuhnya setinggi murid lainnya. Ototnya pun tampak kekar, walau sebenarnya tenaganya sangat lemah. Maka itulah, ia kerap dianggap murid terbodoh di perguruan ini.

Ia selalu menjadi bahan olok-olok murid-murid yang lain.

Saat ia berjalan murid-murid lainnya akan melemparinya dengan daun kering atau ranting-ranting kecil. Bahkan, beberapa murid yang lebih nakal akan dengan sengaja menendang pantatnya atau bahkan menyenggol dirinya hingga membuatnya jatuh.

Akan tetapi, di sisi lain, tak ada yang bisa mengingkari kecerdasan otaknya. Guru Kuyajadran, berkali-kali memuji daya ingatnya yang luar biasa. Ialah satu-satunya murid yang bisa menghafalkan semua yang telah diucapkannya. Ia juga satu-satunya murid yang bisa menghafal semua teori jurus- jurus sebelum dipraktikkan, hanya dengan sekali saja mendengar uraiannya.

Kecerdasannya dapat dipahami karena Magra Sekta merupakan keturunan seorang cendekiawan dari salah satu datu di tepian timur Telaga Batu. Tak heran bila Guru Kuya Jadran kemudian berkali-kali menyarankan kepadanya untuk tak melanjutkan usahanya menjadi seorang pendekar. Ia jelas lebih cocok menjadi kaum terpelajar.

---ooo0dw0ooo---

Suatu saat, Agiriya mendapat tugas mencari buah-buahan di hutan bersama Magra Sekta. Di Panggrang Muara Gunung, memang ada pembagian tugas untuk seluruh muridnya setiap beberapa hari sekali. Tugas-tugas itu seperti mengisi bak mandi, mencari buah-buahan di hutan, menyiapkan makanan, membersihkan seluruh Panggrang Muara Gunung, dan lain- lainnya.

Maka itulah, sejak matahari belum tampak pun, Agiriya dan Magra Sekta sudah keluar dari Panggrang Muara Gunung sambil membawa keranjang besar di punggung mereka.

Beberapa murid yang kebetulan bertugas menyapu halaman Panggrang Muara Gunung langsung mengejek saat melihat Agiriya dan Magra Sekta lewat di dekat mereka.

"Kau harus baik-baik menjaganya, Adik Agiriya," ujar salah satu di antaranya.

"Bila tidak, tubuhnya akan lecet," tambah yang lainnya.

Semuanya tertawa. Agiriya tak terlalu menanggapi ejekan ini. Diliriknya sekilas Magra Sekta yang berjalan beberapa langkah di belakangnya. Ia tak bereaksi selain menunduk dan meneruskan langkahnya.

Mereka pun terus berjalan dalam kebisuan. Hingga ketika memasuki hutan pun, tak ada yang mencoba memulai bicara. Keheningan ini, tentu saja membuat suasana hutan menjadi lebih menakutkan ....

Agiriya akhirnya mencoba membuka percakapan dengan berpura-pura batuk terlebih dahulu. "Seharusnya kau jangan selalu diam," ujarnya tanpa menoleh. "Dengan selalu diam, orang akan semakin menghinamu!"

Magra Sekta menoleh sekilas. Ia mungkin tak percaya Agiriya mengajaknya bicara. Namun, buru-buru ia kembali menundukkan kepalanya, menekuri setapak.

"Hey!" Agiriya mengingatkannya dengan nada tak sabar. "Aku mencoba membuat percakapan denganmu!"

Magra Sekta kembali mengangkat kepalanya, "Apa aku harus melawan mereka?" suaranya terdengar bergetar. "Bukankah ... yang mereka ucapkan ... benar?"

Agiriya terdiam. Sama sekali tak disangkanya ia akan menerima jawaban seperti itu.

"Tetapi, tak ada seorang pun yang boleh menghina kita seperti itu!" ujarnya lagi.

Magra Sekta kembali terdiam. Sebenarnya, ia akan Kembali menjawab, tetapi matanya tiba-tiba melihat sesuatu. "Awas!" Magra Sekta berteriak.

Agiriya segera saja menghentikan langkahnya. Di depan mereka, hanya dua langkah lagi, terlihat ranting-ranting de- iif,.ui daun-daun layu berjejer di sepetak tanah. Di dahan yang menjulur di atas petak tanah itu terikat sebuah ayam hutan yang masih hidup. Ini adalah sebuah perangkap harimau.

Pada masa itu, penduduk dari balik celah tebing itu memang kerap membuat perangkap harimau di sini, biasanya dengan membuat lubang besar yang berisi- bambu runcing di dalamnya. Kemudian, lubang itu ditutupi oleh ranting-ranting pohon.

Agiriya menghela napas lega. "Hah, nyaris saja," ujarnya. "Untung kau melihatnya."

"Aku tak sengaja melihatnya," Magra Sekta mengamati sekelilingnya. "Tetapi, kalau ada perangkap harimau di sini, berarti di sekitar sini... ada harimau juga," tambahnya pelan seakan kepada diri sendiri.

Agiriya terdiam. Tanpa sadar ia menyentuh pedangnya. Murid-murid Panggrang Muara Gunung memang diharuskan membawa pedang saat mendapat tugas pergi ke hutan.

"Sebaiknya," Magra Sekta menunjuk ke arah barat, "Kita melalui jalan itu."

Agiriya tak menolak. Keduanya segera berputar ke arah barat. Walau jalanan tampak lebih berbatu, jalur ini terasa lebih aman. Tak banyak pohon sehingga pandangan dapat menjangkau lebih jauh. Namun, saat bebatuan semakin mendominasi jalanan, Agiriya menghentikan langkahnya. "Apa kita ada di arah yang tepat?" tanyanya. Magra Sekta hanya mengangkat bahu, "Aku hanya menghindari setapak tadi.

Sungguh, tak menyangka jalanan menjadi seperti ini. "

Agiriya membuang pandangan ke sekelilingnya. "Tetapi, tak mungkin kita kembali ke setapak itu bukan?" ujar Magra Sekta mengingatkan.

Agiriya hanya bisa bersungut. Keduanya pun kembali melanjutkan perjalanan. Untungnya tak lama kemudian, beberapa pohon buah-buahan mereka temui.

Agiriya tersenyum lebar. Ia segera berlari kecil ke arah itu. "Lihat," ujarnya sambil berdiri berputar, "Seperti taman

buah

Agiriya langsung memetik sebuah mangga yang tampak telah matang. Dengan sizoar-nya dipotongnya mangga itu. Siwar adalah senjata kecil sejenis belati.

"Manis," Agiriya tersenyum. Dipotongnya lagi sepotong untuk Magra Sekta. "Makanlah dulu, dari tadi perut kita belum terisi, bukan?" Magra Sekta menerima potongan itu dengan wajah gembira.

Sambil menghabiskan mangga itu, keduanya segera memetik buah-buahan yang ada di tanah ini. Mangga, manggis, jambu air, pisang, dan lainnya. Hingga tak berapa lama, keranjang keduanya telah terisi berbagai macam buah.

"Aku tak menyangka akan semudah ini mendapatkan semua buah-buahan ini," ujar Agiriya seakan kepada diri sendiri. "Guru pasti akan suka melihatnya."

"Kupikir, mungkin tanaman-tanaman ini gurulah yang menanamnya," ujar Magra Sekta dengan suara tak yakin. "Rasanya aneh menemukan pohon-pohon buah berbagai jenis hanya di sebuah tanah lapang

Agiriya mengangguk setuju, "Ya, mungkin saja guru yang menanamnya," tambahnya.

Tak lama kemudian, keranjang keduanya pun penuh. Keduanya pun memutuskan untuk beristirahat di bawah sebuah pohon besar.

"Rasanya akan sangat berat," ujar Agiriya sambil mengamati keranjang keduanya. "Kupikir kita tak perlu menambahnya lagi."

Magra Sekta mengangguk tanda setuju. Perjalanan pulang cukup jauh. Akan sangat berat membawa keranjang berisi penuh buah. Saat tengah berpikir seperti itulah, keduanya tiba-tiba mendengar kecipak air tak jauh dari tempat keduanya duduk. Tanpa tahu siapa yang memulai, keduanya berjalan mendekati asal suara.

Tak lama kemudian mereka berhenti. Dari tempat keduanya berdiri, kini terlihat sebuah sungai kecil yang berkelok-kelok di depan mereka. Di situlah ikan-ikan tampak melompat-lompat dengan riuh. Mata Agiriya berbinar, "Wah, tampaknya banyak sekali ikan di sana?"

Magra Sekta tak kalah berbinar. Ia sudah melangkah maju mendekat.

"Apa ... kau memakan ikan?" tanya Magra Sekta sejurus kemudian.

"Tentu saja," Agiriya mengerutkan keningnya. "Mengapa kau bertanya seperti itu?"

Magra Sekta mengangkat bahunya, "Beberapa penganut Buddha yang taat tak memakan daging," ujarnya. Agiriya tertawa, "Itu hanya untuk biksu-biksu saja!" Ia lalu segera mendekati sungai itu, "Rasanya, aku ingin menangkap beberapa ekor ikan."

Sambil berkata begitu, dimasukkannya kakinya ke dalam sungai. Di bagian tepinya, sungai itu tak terlalu dalam, hanya selutut Agiriya saja.

"Ah, ini benar-benar banyak sekali!" Agiriya berteriak dengan gembira. "Mereka menubruk-nubruk kakiku."

Magra Sekta ikut menceburkan kakinya ke dalam sungai.

Segera saja keduanya mencoba menangkap ikan dengan tangannya. Namun, sampai beberapa kali mencoba, sama sekali tak membuahkan hasil.

"Ikan-ikan ini terlalu besar," keluh Magra Sekta. "Sulit untuk menangkapnya!"

Agiriya mengangguk. Di sungai yang ada di dekat Panggrang Muara Gunung ia bisa menangkap ikan hanya dengan tangan kosong. Cukup dengan menyentak sungai dengan tenaga dalamnya, ikan akan melompat keluar. Saat itulah ia akan menangkapnya dengan gesit. Namun, tampaknya di sini usaha seperti itu sepertinya tak berhasil. Tanpa banyak bicara, Magra Sekta keluar dari sungai.

Didekatinya keranjang buah mereka. Diambilnya satu keranjang setelah ia keluarkan buah-buahnya.

"Mau apa kau?" tanya Agiriya dari arah sungai. Magra Sekta tak menjawab. Beberapa saat kemudian, dengan keranjang yang sudah kosong, Magra Sekta kembali masuk ke sungai.

Ternyata, keranjang itu dijadikannya alat untuk menangkap ikan.

Agiriya hanya bisa menggelengkan kepalanya. "Ada nelayan aneh dengan jaring yang aneh pula," ujarnya.

Magra Sekta hanya tersenyum. Segera difungsikan keranjang itu seperti halnya jaring kecil. Namun, ternyata itu pun masih membuat keduanya tak segera mendapat ikan. "Arusnya terlalu kuat," keluh Magra Sekta dengan keranjang hampir terlepas.

Agiriya segera mendekati Magra Sekta sambil menyin-cing kain yang menutupi pahanya.

"Mau apa kau?" Magra Sekta bertanya tak mengerti. 'Aku akan membantumu," ujar Agiriya. Kini Magra Sekta memandang Agiriya dengan tak percaya. Gadis itu sudah mendekat kepadanya sambil memegang sisi keranjang satunya. 'Ayo!" serunya.

Magra Sekta segera paham. Keduanya lalu segera memegang keranjang itu bersamaan. Mereka arahkan keranjang itu ke tempat ikan-ikan terlihat. Dan, hanya beberapa saat kemudian, beberapa ekor ikan gabus sudah terperangkap di dalamnya.

Agiriya tertawa senang. Namun, belum selesai tawanya, tiba-tiba Magra Sekta dengan gerakan yang begitu cepat menarik tangan Agiriya ke arahnya. "Eh," Agiriya tersentak, mau tak mau tubuhnya langsung menempel pada tubuh Magra Sekta. "Mau... apa kau?" teriaknya kaget.

Akan tetapi, Magra Sekta tak menjawab. Dengan satu gerakan lanjutan, dilemparkannya tubuh Agiriya ke samping, bertepatan dengan seekor ular besar yang menyerang ke arah keduanya.

Agiriya terpekik. Matanya melihat ular itu menyerang Magra Sekta. Entah ia sempat menggigit Magra Sekta atau tidak, yang pasti kini keduanya tengah bergulingan di dalam sungai.

Agiriya segera berlari ke tepi sungai. Diambilnya pedangnya yang tergeletak di sana. Lalu, dengan tumpuan sebuah batu, ia segera melayang ringan ke arah sungai itu lagi sambil menghunjamkan pedangnya ke arah ular itu.

CREEEPS!

Pedang itu menghunjam tepat menembus kepala ular itu. Sesaat tubuhnya menggelinjang, mengibas tubuh Agiriya dan Magra Sekta, lalu terhempas menjauh. Tak berapa lama kemudian, tubuh ular itu pun melemah dan diam tak bergerak.

"Kau tak apa-apa?" tanya Agiriya mendekat.

Magra Sekta mengangguk. "Aku tak apa-apa," ujarnya di sela-sela napasnya yang terengah-engah. "Tadi itu adalah ular raja

Agiriya membantu Magra Sekta bangkit. "Terima kasih, Agiriya," ujarnya.

Agiriya tersenyum, "Kau ini! Bukankah aku yang seharusnya berterima kasih kepadamu?"

Keduanya segera beranjak dari tepian sungai itu. Tanpa sengaja mata keduanya bertemu. Namun, Agiriya buru-buru berpaling. Baru disadarinya bila bajunya dan baju Magra Sekta basah kuyup. "Ah, tampaknya kita harus membuat api unggun untuk mengeringkan tubuh kita," ujar Agiriya sambil beranjak mendekati keranjang mereka. "Dan, untungnya," ia menoleh lagi kepada Magra Sekta, "ikan yang kita dapat tadi, ternyata tidak ikut lepas. Jadi, kita bisa sekalian membakarnya..”

---ooo0dw0ooo---

Magra Sekta menusukkan sebatang ranting pohon pada mulut ikan itu hingga tembus ke bagian ekor. Panjang ikan itu sepergelangan tangan. Cukup untuk makan berdua.

"Tampaknya enak sekali," Magra Sekta tersenyum sendiri sambil membalik-balik ikan itu.

Agiriya terdiam mengamati. Baru disadarinya bahwa inilah pertama kalinya ia melihat Magra Sekta tersenyum lebar. Baru kali ini juga ia melihat rambut Magra Sekta tak terurai menutupi wajahnya hingga sekarang ia bisa melihat garis wajah Magra Sekta yang sebenarnya dengan begitu jelas.

Sungguh, sangat berbeda dari apa yang dikesankan selama ini.

Garis wajahnya tegas dengan rahang terlihat kukuh.

Kulitnya walau berwarna gelap, tetapi terlihat sangat bersih. Dan, yang paling mencolok adalah ... kedua matanya.

Sungguh, begitu bening dan tajam  

"Agiriyasuara Magra Sekta memecah lamunannya, "kau tak ingin mencobanya?" Disodorkannya ikan bakar itu kepada Agiriya.

Agiriya cepat menguasai dirinya, "Ini masih sangat panas, tunggulah sesaat!"

Magra Sekta mengangguk. Dibiarkannya ikan itu diam ili atas ranting yang tak terkena api. "Oya, soal tadi," Agiriya mencoba membuka percakapan, "mengapa kau bisa tahu ular itu akan menyerang kita?"

Magra Sekta menoleh, "Aku kebetulan melihat kepalanya ada di permukaan air

Agiriya mengangguk-angguk.

Magra Sekta bangkit dari duduknya, 'Aku akan membenahi buah-buahan kita dulu," ujarnya sambil meraih keranjangnya.

"Magra," suara Agiriya menahan langkahnya. "Hmmm, kupikir ada baiknya kau mengikat rambutmu ujarnya sambil tak lepas menatap Magra Sekta.

Dan, ucapan ini menimbulkan kerut di kening Magra Sekta, "Buat apa?" ia balik bertanya.

"Mungkin saja itu... bisa sedikit banyak membuat anak- anak lain urung mengganggumu "

Kening Magra Sekta semakin berkerut, "Mengapa bisa

begitu?"

Agiriya mendengus kesal. Ia tadi hanya bermaksud memberi masukan, tetapi entah mengapa kini ia tiba-tiba merasa dipojokkan. "Mengapa jadi kau yang banyak tanya?!" serunya dengan nada galak. "Sudah sana, kau benahi saja buah-buahan kita. Aku akan makan lebih dulu!"

---ooo0dw0ooo---

Akan tetapi, ternyata dugaan Agiriya salah.

Esok paginya di Panggrang Muara Gunung, ia sempat melihat Magra Sekta telah mengikat rambutnya dengan rapi. Namun, ini sama sekali tak membuat ia lepas dari gangguan murid lainnya. Saat tengah istirahat untuk makan siang, Agiriya mendengar sorak-sorai di belakang ruangan utama. Segera saja ia menuju ke ruangan itu.

Di situlah dilihatnya Payan Walu dan beberapa kakak seperguruan lainnya tengah mengelilingi Magra Sekta. Mereka tertawa-tawa sambil menarik rambut Magra Sekta yang telah kembali terlihat acak-acakan.

Agiriya seketika maju ke depan, "Berhenti!" teriaknya, membuat semua mata berpaling ke arahnya.

Akan tetapi, Payan Walu yang tengah menarik rambut Magra Sekta tetap tak mau melepaskannya.

"Kukatakan sekali lagi, berhenti, Payan!" ia berteriak tanpa memanggil Kakak kepada Payan Walu.

Payan Walu tersenyum kecut. Didorongnya tubuh Magra Sekta hingga terjatuh.

Payan Walu sendiri merupakan murid tingkat atas di Panggrang Muara Gunung ini. Semua orang memanggilnya "Kakak" dan tak pernah ada yang berani membentaknya seperti tadi. Mungkin bila bukan Agiriya yang melakukannya, sudah ia serang orang itu sejak tadi. Namun, melihat Agiriya yang melakukannya, ia malah mencoba tersenyum, "Memangnya kau akan melakukan apa hingga menyuruhku berhenti, Adik Agiriya?" ia berjalan mendekati Agiriya hingga tinggal selangkah lagi.

"Kau ingin mengajakku jalan-jalan?" ujarnya lagi. Agiriya mundur selangkah, "Dengar!" Agiriya mengangkat tangannya, "Sekali lagi kau mengganggunya, kau .ikan berhadapan denganku!"

Payan Walu tersenyum sinis meskipun ia tahu kemampuan Agiriya tak bisa dianggap enteng Pada latih tanding heberapa hari yang lalu, masih jelas dalam ingatannya, Agi-liya mengalahkan Widran Kutra hanya dengan beberapa ju-i iis. Namun, di tengah semua pandangan murid-murid lain ke arahnya, tentu saja Payan Walu tak mau mundur begitu saja.

"Memangnya kau berani apa denganku, Adik Agiriya?" ia mencoba menggertak.

Agiriya membalas senyum sinis itu. "Berani seperti... mi!" tanpa selang waktu lagi, begitu selesai dengan ucapannya, Agiriya melancarkan sebuah pukulan.

Gerakannya begitu cepat dan tanpa basa-basi lagi. Ini tentu saja membuat Payan Walu begitu terkejut. Ia mencoba menahan pukulan itu. Namun, Agiriya rupanya tak menghentikan gerakannya sampai di situ. Disusulkannya satu pukulan lagi yang tampak lebih bertenaga. Kali ini Payan Walu tak lagi bisa mengelak. Pukulan Agiriya sudah mendarat tepat di dadanya!

Payan Walu seketika terjengkang.

"Berhenti!" Guru Kuyajadran tiba-tiba melayang ke arah keduanya. "Apa-apaan kalian ini?" bentaknya hingga gemanya memenuhi semua sudut Panggrang Muara Gunung.

Payan Walu dan Agiriya hanya bisa tercekat. Mata Guru Kuyajadran telah menatap tajam pada keduanya.

"Kalian benar-benar memalukan!" suaranya terdengar dalam.

Lalu, segera dibawanya kedua muridnya itu ke dalam ruangannya.

'Aku sudah mengamatimu dari tadi, Payan Walu!" suara Guru Kuyajadran terdengar menusuk. "Sebagai murid dengan tingkat tertinggi di sini, kau benar-benar tak pantas mengganggu murid yang lebih lemah!"

Payan Walu menunduk dalam, "Aku ... aku hanya bercanda, Guru " "Kau tak seharusnya mengganggu seperti itu!" bentak Guru Kuyajadran lagi. "Ingat, ini terakhir kalinya aku mem- peringatimu. Sekali lagi kau mengganggu murid-murid yang lebih lemah, aku tak segan-segan memulangkanmu!"

Lalu, Guru Kuya Jadran menoleh kepada Agiriya. "Dan, kau Agiriya," suaranya tetap terdengar dingin, "Apa kau sudah melupakan kata-kataku beberapa hari yang lalu?"

Agiriya terdiam. Ia tak menyangka Guru Kuyajadran malah menanyakan hal itu. Semula ia mengira akan dibentak seperti Payan Walu tadi. Karenanya, ia jadi tak tahu harus menjawab apa.

"Bila kau terus bersikap seperti ini," suara Guru Kuya Jadran menusuknya, "berarti kau menghancurkan dirimu sendiri. "

---ooo0dw0ooo---

Saat Agiriya akhirnya keluar dari ruangan Guru Kuyajadran, Magra Sekta segera berlari mendekatinya.

"Agiriya," ia berucap dengan nada takut-takut, "emm terima kasih sudah membelaku," ia tiba-tiba membungkukkan tubuhnya.

Agiriya menoleh. "Tidak, Magra, aku sama sekali tidak membelamu!" ujarnya dengan nada datar. "Aku hanya membalas budi karena kau menyelamatkanku di hutan saat itu, juga di sungai itu

Magra Sekta terdiam. Sebenarnya ia ingin membantah ucapan Agiriya, mengatakan kalau ia sama sekali tak menganggap itu sebagai utang. Namun, tatapan dingin Agiriya seakan membuat bibirnya kelu.

"Sekarang kita tak lagi saling berutang budi," ujar Agiriya lagi sambil berlalu dari hadapannya. ---ooo0dw0ooo---