Pandaya Sriwijaya Bab 06 : Bocah dengan Dua Nama

Bab 06 : Bocah dengan Dua Nama

Tanah ini tak bernama.

Bangunan paling mencolok di tanah ini adalah sebuah taman pemberian Dapunta Jayanasa hampir seratus lima puluh tahun yang lalu. Walaupun disebut taman, ini bukanlah taman seperti pada umumnya. Taman ini berupa sebuah panggung dengan undak-undakan tempat berdoa bagi pengikut ajaran Buddha Mahayana. Lebar dan panjangnya mencapai dua tombak dan terbuat dari bata merah menyala. Di atas undakan itu terdapat empat buah pilar kayu untuk menopang atap yang terbuat dari daun nipah, sejenis pohon palem.

Walau telah berusia lebih dari seratus lima puluh tahun, undakan itu masih tampak sangat kukuh. Beberapa anak kecil bahkan kerap bermain-main di sana, saling berdorong-an, bahkan memanjat-manjat atapnya.

Di dekat undakan itu, sebuah prasasti persumpahan dari batu besar terpahat dengan jelas. Bunyinya ....

Seorang pembesar yang gagah berani, Kandra Kayet, di medan pertempuran, la bergumul dengan Tandruh Luah dan berhasil membunuh Tandruh Luah. Tandruh Luah mati di medan pertempuran. Namun, bagaimana nasib Kandra Kayet yang berhasil membunuh itu? Kandra Kayet berhasil juga ditumpas. Ingatlah akan kemenangan itu! la enggan tunduk kepadaku. Ingat/ah kemenangan itu!

Kalian sekalian, dewata yang berkuasa sedang berkumpul menjaga Kerajaan Sriwijaya'. Dan, kau Tandruh Luah, dan para dewata yang disebut pada pembukaan seluruh persumpahan ini! Jika pada saat di mana pun di seluruh wilayah kerajaan ada orang yang berkhianat, sepaham dengan pengkhianat, tidak mau tunduk dan tidak mau berbakti, tidak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, orang yang berbuat demikian akan termakan sumpah.

Kepada mereka akan segera dikirim tentara atas perintah Sriwijaya. Mereka sesanak keluarganya akan ditumpas. Dan, semuanya yang berbuat jahat, menipu orang, membuat sakit, membuat gila, melakukan tenung, menggunakan bisa, racun, tuba, serambat, pekasih, pelet, dan yang serupa itu, mudah- mudahan tidak berhasil. Dosa perbuatan yang jahat untuk merusak batu ini hendaklah segera terbunuh oleh sumpah, segera dipukul. Mereka yang membahayakan, yang mendurhakakan, yang tidak setia kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu, mereka yang berbuat demikian itu, mudah-mudahan dibunuh oleh sumpah itu.

Akan tetapi, kebalikannya, mereka yang berbakti kepadaku dan kepada mereka yang kuserahi kekuasaan datu hendaklah diberkati segala perbuatannya dan sanak keluarganya, berbahagia, sehat, sepi bencana, dan berlimpah-limpah rezeki segenap penduduk dusunnya....

Konon selepas kemenangan dari pemberontakan besar di beberapa wilayahnya, Dapunta Hyangjayanasa membuat lebih dari dua ratus prasasti batu untuk seluruh datu yang dikuasainya. Bersamaan dengan prasasti itu, ia memberikan taman untuk beribadah.

Walau keadaannya telah begitu kumuh, tetapi tetaplah bangunan itu yang palingjelas terlihat. Ini karena tak banyak rumah yang ada di sini. Apalagi sepintas rumah-rumah ini akan terlihat seperti rumah-rumah di tanah lainnya. Namun, bila diamati lebih saksama, rumah-rumah yang ada di sini semuanya tampak doyong ke kiri. Embusan angin yang luar biasa kuatlah yang sepertinya menyebabkan rumah-rumah itu menjadi doyong.

Suatu saat, seorang biksu Buddha yang tengah melakukan perjalanan menyebarkan ajaran Buddha, tiba di tanah ini.

Nama Buddha-nya sebenarnya adalah Biksu Buddha-dasa, tetapi orang-orang lebih suka memanggilnya dengan nama aslinya, Biksu Wang Hou atau Biksu Wang saja. Ia memang datang dari Cina, hampir sepuluh tahun yang lalu. Dulu, di tanahnya, ia merupakan seorang pesilat tangguh. Ini bisa terlihat dari bentuk tubuhnya, yang walaupun kecil, tetapi tampak sangat keras dan berotot.

Tak banyak yang mengetahui kalau Biksu Wang adalah pewaris aliran liang Qiang atau aliran Dua Pedang. Di Negeri Cina, aliran Liang Qiang merupakan sebuah aliran bela diri yang cukup ternama. Keahliannya adalah memainkan dua pedang sekaligus. Pada saat itu belum banyak aliran yang terkenal karena permainan pedangnya, hanya aliran Liang Qiang-lah satu-satunya.

Akan tetapi, sejak mendalami Buddha, Biksu Wang menanggalkan seluruh masa lalunya dan menyerahkan penuh- penuh seluruh kehidupannya kepada Sang Buddha. Bersama pedagang-pedagang Cina, ia pergi mengarungi lautan hingga tiba di Bhumi Sriwijaya ini. Saat itu ia melihat sudah banyak penduduk di tepian laut ataupun sungai yang telah menganut ajaran Buddha. Namun, bila masuk lebih ke dalam, tak sedikit juga yang masih menjadi kaum pagan (penyembah berhala). Bahkan, di beberapa tempat, ia menemukan banyak sekali undak-undakan yang biasanya menjadi tempat pemujaan. Dari sinilah ia kemudian memutuskan untuk berkeliling menyebarkan Empat Kebenaran Mulia. Ia memulai semuanya dari Telaga Batu. Ia menetap cukup lama di sana untuk mempelajari bahasa dan budaya orang- orang di bhumi ini. Baru tiga tahun kemudian ia memutuskan untuk pergi ke barat, memulai perjalanannya.

Itulah perjalanan yang mungkin menjadi perjalanan tanpa arah. Ia hanya berpikir apabila menemukan sebuah tempat orang-orang bermukim, ia akan menetap barang beberapa saat di situ, bisa hanya beberapa hari, tetapi bisa juga hingga beberapa purnama.

Hingga akhirnya, tibalah ia di tanah tempat rumah-rumah terlihat doyong. Awalnya, ia hanya terkesan oleh keanehan itu. Namun, begitu menyadari tak ada tanda-tanda ajaran Buddha di sini, ia pun kemudian memutuskan untuk menetap lebih lama di sini.

Penduduk yangjumlahnya tak seberapa itu menerimanya dengan baik. Awalnya mereka memperhatikan Biksu Wang dengan tatapan ingin tahu. Beberapa anak bahkan mencoba menirukan logatnya yang aneh sambil tertawa-tawa. Tampak sekali kalau sebelumnya mereka tidak pernah bertemu dengan orang-orang dari Cina.

Biksu Wang kemudian tinggal di salah satu rumah penduduk yang telah kosong. Setiap pagi, sebelum matahari benar-benar terbit, ia akan berjalan-jalan mengitari tanah ini. Mendatangi satu per satu warga, mengajaknya bercakap- cakap, dan mencoba sebisa mungkin membantu mereka.

Bantuan yang paling mudah ditawarkannya adalah mencoba* menegakkan kembali rumah-rumah yang doyong itu.

Di hari pertama tinggal di tanah itu, tak banyak yang terjadi. Namun, di hari kedua, sebuah pemandangan menggelitik matanya. Sebenarnya ia sudah melihat sejak kemarin, tetapi tak terlalu memperhatikannya. Kini seperti sebuah kejadian yang berulang, dilihatnya seorang bocah, yang umurnya tak lebih dari delapan tahun, tengah membersihkan setapak itu. Ia membersihkannya hanya dengan tangannya, memunguti daun-daun kering, mencabuti rumput-rumput liar, dan membersihkan kotoran-kotoran yang ada pada sepanjang setapak

Biksu Wang segera mendekatinya. "Bocah," ujarnya sambil sedikit menunduk.

Bocah yang tengah berjongkok itu menengadahkan kepalanya. Ia bertanya dengan tatapannya.

"Sedang apa kau?" tanya Biksu Wang lagi. "Aku sedang membersihkan ini," ujarnya sambil kembali mencabuti rumput- rumput liar itu.

Biksu Wang ikut berjongkok. Namun, tampaknya bocah itu tak memperhatikan dirinya. Biksu Wang kembali bangkit.

Diamatinya tempat sekitar. Dari tempatnya berdiri, dilihatnya beberapa batang pohon kelapa yang telah kering.

Ia segera berjalan ke sana. Diambilnya sebuah pelepah daun di pohon itu. Lalu, dengan cekatan segera direnggutnya daun-daunnya yang kecil panjang dan menempel menyirip pada batang pelepah itu satu per satu. Dipisahkannya setiap tulang daun yang kecil memanjang itu dari bagian daunnya hingga akhirnya diperoleh tulang-tulang daun.

Bocah itu diam-diam memperhatikan Biksu Wang dengan saksama. Dengan langkah ragu didekatinya Biksu Wang. Lalu, tanpa berucap, ia kembali bertanya dengan tatapannya. Biksu Wang tersenyum, "Kau lihat saja nanti!" Tak berapa lama, Biksu Wang sudah memperoleh ratusan tulang-tulang daun kelapa yang kecil memanjang itu. Dikumpulkan dan dirapikannya batang-batang itu dalam genggamannya dan diikatnya kuat-kuat dengan semacam akar.

Lalu, segera ia menyerahkan benda tersebut kepada bocah itu.

"Ini bisa membuatmu bekerja lebih cepat," ujar Biksu Wang. Bocah itu tampak senang.

Biksu Wang menepuk kepala bocah itu, "Nah, sekarang aku harus kembali meneruskan perjalananku

Lalu, ia kembali melanjutkan langkahnya ke arah rumah yang berada paling ujung. Kemarin ia belum selesai membuat rumah itu kembali tegak.

"Amithabha (Budha memberkati), Buddha memberkati,” ia menyapa seorang kakek yang tinggal seorang diri di situ.

Namanya Kakek Dwangga Ara.

”Bagaimana istirahat Kakek semalam?” tanyanya berbasa- basi.

Kakek Dwangga Ara tertawa, ”Seharusnya aku yang bertanya begitu. Bukankah biksu orang baru di sini?” ia balik bertanya.

Biksu Wang tertawa, ”Kalau bagiku, malam ini sedikit lebih sulit.” Ia menggaruk kepalanya yang tanpa rambut, ”Sepertinya ... terlalu banyak nyamuk

Kakek Dwangga Ara tertawa, ”Kau seharusnya mengolesi badan dengan bunga melati

”Ya, besok tentu akan kuolesi,” Biksu Wang tersenyum.

Tiba-tiba ia seperti teringat sesuatu.

”Oya,” tanyanya sambil membuang pandangan ke belakang ”Bocah yang membersihkan setapak itu, anak siapa dia?”

”Oh, Muara?” Kakek Dwangga Ara berujar, ”la anak kami semua ”

”Anak kami semua?” kening Biksu Wang berlipat. ”Apa maksudnya?”

Kakek Dwangga Ara tertawa, ”Kami menemukannya di muara itu.” Ia menunjuk sebuah muara yang ada di balik hutan, ”Tempat asalnya dulu, tampaknya baru saja terkena luapan banjir. Dan, ia terbawa arus hingga ke sini. Untunglali kami kemudian menyelamatkannya .„.”

---ooo0dw0ooo----

Hidup adalah penderitaan....

Entah mengapa, sepertinya Biksu Wang begitu mudah melukiskan kalimat itu kepada sosok bocah kecil itu. Cerita singkat Kakek Dwangga Ara sepertinya begitu menyentuh hatinya, terutama saat dibayangkannya datu terdekat sepanjang sungai ini berada lebih dari ribuan tombak jauhnya. Bisa dibayangkannya seberapa lama perjalanan bocah ini terhanyut hingga kemari? Seperti apa penderitaannya selama itu? Sungguh, Biksu Wang tak bisa melukiskannya. Akan tetapi, sejak itu ia lebih kerap memperhatikan sang bocah.

Penduduk memanggilnya Muara dan ia merupakan anak bagi semua penduduk di sini. Walau tinggal di salah satu rumah penduduk, secara bergiliran penduduk lainnya akan memberinya makan. Nanti bila penduduk membutuhkan bantuan-bantuan ringan, ia adalah orang yang akan dihubungi pertama kali.

Sejak hari itu, setiap pagi Biksu Wang selalu membawakan makanan bagi Muara. Buah-buahan, singkong bakar, nasi, dan sayur-sayuran ataupun makanan lainnya. Biasanya sambil menunggu matahari benar-benar muncul, dan orang-orang mulai keluar rumah, keduanya akan duduk di bawah pohon tua itu, tepat di sebuah batang pohon besar yang tergeletak.

Nanti bila matahari semakin meninggi, barulah Biksu Wang melanjutkan perjalanannya ke rumah-rumah penduduk lainnya. Namun, sesekali pandangannya akan tetap terarah pada setapak tempat Muara berada.

"Ia begitu rajin," gumamnya suatu saat. "Tentu saja," balas lelaki separuh baya yang tengah diajaknya bicara. "Ia yang terajin dari semua bocah di sini

Biksu Wang tersenyum sambil mengangguk-angguk, "Mungkin, lain kali aku akan meminta bantuan darinya."

"Ya," ujar lelaki itu, "panggil saja ia, bila butuh sesuatu. Aku sendiri tak bisa banyak membantumu. Kau tahu, tubuh tuaku ini ... hahaha ”Ia tertawa lagi sambil menepuk-nepuk

pinggangnya.

---ooo0dw0ooo---

Akan tetapi, suatu hari, belum sampai Biksu Wang memanggilnya, Muara sudah muncul di depan rumahnya. Ia datang lewat tengah hari, saat tugasnya membersihkan setapak desa telah usai. Bila tidak sedang membantu penduduk lainnya, Muara memang banyak memiliki waktu luang.

Dengan gerakan takut-takut ia memperhatikan barang- barang yang ada di rumah Biksu Wang.

"Mengapa kau tidak bermain dengan teman-temanmu?" tanya Biksu Wang seakan sambil lalu.

Muara menggeleng.

"Apa... mereka suka mengejekmu?" Biksu Wang bertanya dengan hati-hati. Sekali ia pernah mendengar beberapa anak- anak dusun ini mengejek Muara yang tengah membersihkan setapak.

Akan tetapi, Muara kembali menggeleng.

"Lalu, mengapa?" Biksu Wang semakin ingin tahu. Muara terdiam sesaat.

"Bukankah, aku memang tak seharusnya bermain-main?" akhirnya suaranya yang pelan terdengar. "Semuanya sudah begitu baik kepadaku. Sudah menyelamatkan aku, sudah memberiku tumpangan, dan sudah memberiku makan setiap hari. Bukankah sekarang giliranku untuk membalas kebaikan mereka?"

Biksu Wang terdiam. Sungguh, ucapan itu benar-benar tak disangkanya akan keluar dari mulut bocah yang usianya belum lebih dari delapan tahun.

"Hao hai z (Anak yang baik (bahasa Cina) hao hai zi " ia

hanya bisa bergumam pelan. "Kau memang anak yang baik

...."

Maka dibiarkannya Muara memperhatikan seluruh isi rumahnya. Ia begitu tertarik dengan barang-barang untuk prosesi doanya, terutama dupa yang tengah menyala.

"Baunya aneh," ujarnya.

Biksu Wang tertawa, "Itu yang dinamakan dupa," ujarnya. "Bila kau kerap kemari, kau akan terbiasa "

Dan benar, sejak hari itu, Muara memang kerap mendatangi rumah Biksu Wang. Biksu Wang akan membiarkan Muara berada di tempatnya kapan pun dan sampai kapan pun.

Dan, selama di rumah itu, Muara tak akan henti-hentinya memperhatikan apa pun yang tengah dikerjakan Biksu Wang, dari hal yang kecil hingga hal yang besar, dari hal yang jelas hingga hal yang tidak jelas maksudnya.

Muara paling senang saat Biksu Wang tengah membuat masakan dari rebung. Cara Biksu Wang mencacah anakan bambu muda yang begitu cepat membuat matanya terbelalak tak percaya. Belum lagi ketika Biksu Wang membuat makanan yang disebut mi. Dengan gerakan luwes, Biksu Wang akan memutar-mutar adonan seperti tengah melakukan sebuah permainan. Hingga tak lama kemudian, adonan yang semula hanya segumpal itu kemudian menjadi adonan ber-bentuk tali- tali kecil yang panjang. Sungguh, ini membuat Muara begitu terpana.

Akan tetapi, dari semua hal baru ini bagi Muara, yang paling membuatnya terpana adalah saat melihat Biksu Wang tengah menulis. Pada saat itu, budaya tulis memang belum menyebar hingga ke rakyat jelata. Kalaupun ada biasanya hanya dilakukan di atas daun lontar atau dipahatkan pada sebuah batu.

Sekali waktu Muara akan mencoba mencelupkan ujung bulu angsa itu ke dalam tinta bak, lalu mencoba mencoret-coret tulisan di atas daun lontar. Saat itu, walau kertas telah ditemukan, tetapi karena keterbatasannya, beberapa orang Cina tetap menggunakan daun lontar sebagai media tulisnya.

"Dengan menulis kau bisa mengungkapkan apa saja," ujar Biksu Wang membiarkan Muara mencorat-coret.

"Aku bisa menggambar dan aku juga bisa ... menulis namamu," Biksu Wang kemudian mengambil bulu angsa dari tangan Muara dan mulai menulis di daun lontar itu.

"Mu-a-ra...," ia mengejanya.

"Sebenarnya... namaku bukan itu," tiba-tiba suara Muara terdengar.

Biksu Wang menghentikan gerakan tangannya dan menoleh.

"Namaku ... Tunggasamudra," ujar Muara lagi. "Dulu Kakek yang memberi nama itu kepadaku."

Biksu Wang mengangguk-angguk, "Lalu, mengapa kau tak mengatakan sejak awal kepada penduduk di sini?"

Muara menggeleng dengan gerakan pelan, "Mereka tak menanyakannya," ujarnya dengan suara lemah. "Mereka... langsung memanggilku dengan nama itu." Biksu Wang mengangguk-angguk, "Lalu sekarang, nama mana yang kau suka?"

Si bocah tersenyum. "Aku menyukai nama Tunggasamudra," ujarnya cepat. "Kata Kakek, itu nama seorang pendekar "

---ooo0dw0ooo---

Sejak itu Biksu Wang memanggil Muara dengan sebutan Tungga.

Hubungan keduanya menjadi semakin dekat. Sekarang ke mana pun Biksu Wang pergi, Tunggasamudra akan mengikutinya. Ia akan memperhatikan setiap ucapan Biksu Wang. Namun, kadang ucapan Biksu Wang terasa begitu berat bagi Tunggasamudra hingga ia terpaksa mengulanginya sekadar untuk bisa mengingatnya. Ini tentu saja membuat Biksu Wang tertawa, "Kau ini, tak perlu kau sampai

menghafal-kannya. Aku tahu, kau belum cukup dewasa untuk memahami beberapa perkataanku. Apalagi," Biksu Wang mendekat, "jangan percaya begitu saja kepadaku. Seperti juga jangan percaya begitu saja pada wahyu ataupun tradisi.

Jangan percaya begitu saja pada desas-desus atau naskah- naskah suci. Jangan percaya begitu saja pada kabar angin atau logika belaka. Jangan percaya begitu saja pada prasangka atau kemampuan seseorang dan jangan menerima begitu saja karena 'Ia guru kami'ujar Biksu Wang panjang

Lalu lanjutnya, "Tetapi, bila kau sendiri mengetahui bahwa suatu hal adalah baik, tidak tercela, dipuji oleh orang-orang bijak, apabila dipraktikkan dan dijalani membawa kebahagiaan, maka ikutilah hal itu

Biksu Wang tersenyum, menyentuh kepala Tunggasa- mudra, "Buddha bahkan menyarankan, Jangan percaya apa yang Kukatakan kepadamu sampai kamu mengkaji dengan kebijaksanaanmu sendiri secara cermat dan teliti apa yang Kukatakan

Tunggasamudra memandang dengan tatapan tak mengerti. Otaknya mungkin masih terlalu kecil untuk memahami kalimat itu. Biksu Wang hanya bisa tersenyum sendiri, "Sudahlah, sekarang kau makan saja dulu. Aku menyisakan sayur rebung untukmu."

Tunggasamudra tersenyum senang. Ia menyukai sayur rebung. Rasanya walau aneh di lidahnya, tetapi makanan itu belum pernah dirasakan sebelumnya.

Ketika Tunggasamudra makan, Biksu Wang kembali melanjutkan kegiatannya. Ia harus memindahkan beberapa kendi sebesar tubuhnya yang penuh air. Dengan baju biksunya, ia sedikit tampak kerepotan melakukan itu.

Tunggasamudra segera saja menghentikan makannya dan bergerak membantunya.

"Jangan!" Biksu Wang menahan, "Ini terlalu berat bagimu." Akan tetapi, Tunggasamudra tak menggubris seruan itu.

Dengan tangan kecilnya ia mengangkat kendi yang jauh lebih besar dari tubuhnya itu.

Biksu Wang terpana. Tangan kecil itu, walau dengan susah payah, akhirnya berhasil juga menggeser kendi itu. "Ternyata tenagamu cukup kuat juga," ia menepuk pundak Tunggasamudra.

Saat itulah Biksu Wang baru mengamati lebih teliti tubuh Tunggasamudra, mulai dari pergelangan tangannya, otot- ototnya hingga lekukan sendi-sendi di seluruh tubuhnya. Dan, ini langsung saja membuat dirinya terdiam. Ia hafal dengan bentuk tubuh seperti ini. Ia tidak menyadari bentuk tubuh seperti ini sebelumnya pada diri Tunggasamudra. Sungguh, anak ini... mempunyai bentuk tubuh seorang pendekar!

"Biksu melihat apa?" tanya Tunggasamudra heran. Biksu Wang menggeleng-geleng, "Ah, tidak, tidak..” "Apa Biksu melihat ini?" Tunggasamudra tiba-tiba

membalikkan tubuhnya dan menunjukkan pundaknya, tempat

sebuah bekas luka berbentuk melingkar sebesar pergelangan tangan berada.

"Kata Kakek," ujar Tunggasamudra lagi, "di sinilah dulu tanganku yang ketiga berada. Bekasnya masih begitu terlihat, bukan?"

Biksu Wang memperhatikan lebih saksama. Kulit Tunggasamudra yang berwarna sawo matang telah menyamarkan bekas luka itu dengan baik hingga ia tak melihatnya selama ini.

Perlahan Biksu Wang mulai menyentuh bekas tangan itu. "Dulu," ia berucap nyaris tak terdengar, "pastilah sangat menyakitkan

Tunggasamudra tersenyum lebar, memperlihatkan sebuah gigi atasnya yang ompong, "Rasanya tidak," ujarnya. "Saat itu aku sama sekali tak merasakan apa-apa

---ooo0dw0ooo---

"Kebenaran pertama adalah hidup itu penderitaan.

Kehidupan penuh dengan penderitaan Kebenaran kedua

adalah penyebab penderitaan

.... Kebenaran ketiga adalah siapa pun dapat menghentikan penderitaan Dan, kebenaran keempat adalah jalan beruas

delapan

Mendekati kaum pagan atau kaum penyembah berhala adalah tugas berat bagi para biksu Buddha. Walau para da- punta di Telaga Batu serta dapunta-dapunta di datu-datu lainnya sudah memeluk Buddha dan juga melakukan penyebaran ajaran itu, tetapi kadang ada saja orang-orang yang merasa terganggu dengan kehadiran ajaran itu. Terutama bila penyebaran itu dilakukan oleh orang asing!

Maka itulah, suatu saat, ketika tengah memetik manggis- manggis liar di tepi hutan, Biksu Wang mendapat serangan dari beberapa orang. Jumlahnya ada empat orang dan semuanya menutupi wajahnya dengan kain hitam. Di tangan mereka terlihat parang tajam, sebagai tanda keseriusan mereka.

Bila Biksu Wang hanyalah biksu biasa, tentu ia akan roboh dan tewas dalam serangan pertama. Namun, untunglah Biksu Wang merupakan pewaris aliran Liang Qiang. Walau sudah beberapa tahun tak lagi menggunakan ilmunya untuk bertarung, tetapi tetap saja ia merupakan pendekar yang tangguh.

"Siapa kalian?" sambil menghindari serangan pertama, Biksu Wang sempat berteriak.

Akan tetapi, jawabannya hanyalah serangan yang makin beruntun.

Biksu Wang menyadari keseriusan ini. Dengan gerakan kilat, ia sudah berkelit dari serangan-serangan itu. Dengan I

«crtumpu pada sebuah pohon, dilentingkan tubuhnya, sedikit ke atas, untuk meraih sebatang bambu. Lalu, seakan menjadi sebilah pedang, ia dengan berani menghalau parang-parang dari para penyerangnya.

TRAAAK... TRAAAK....

Benturan itu sama sekali tak membuat tongkat bambu patah. Di setiap benturannya, Biksu Wang dengan keluwesan gerakannya selalu mengikuti arah serangan parang lawan. Ini yang membuat bambu itu tak patah. Keadaan ini tentu saja membuat penyerang-penyerang itu semakin penasaran.

Dengan kekuatan penuh mereka pun semakin ganas. Biksu Wang hanya melayani dengan sesekali mundur beberapa langkah. Bukan karena terdesak, tetapi mencoba mencari celah untuk melumpuhkan penyerangnya. Maka ketika dirasakan ia menemukannya, dengan satu gerakan memutar, Biksu Wang sudah mengayunkan tongkat bambunya ke arah parang salah satu lawannya. Dengan satu gerakan mengejutkan, disentaknya parang itu hingga terlepas dari tangan pemiliknya.

Memanfaatkan keterkejutan lawannya, Biksu Wang segera melanjutkan gerakannya, melakukan serangan dengan tangannya, memukul dada lelaki itu.

BUUUK!

Bunyi itu diikuti dengan terpelantingnya lelaki itu hingga beberapa tombak. Dari mulutnya yang ditutupi kain hitam, jelas terlihat darah muncrat mengotorinya.

Biksu Wang langsung membungkuk, "Maafkan aku ....

Maafkan aku”

Melihat ini, ketiga penyerang yang lain seketika tersadar. Tanpa komando lagi, segera mereka membopong temannya dan buru-buru melarikan diri.

Biksu Wang sama sekali tak berusaha mengejarnya.

Tunggasamudra yang sejak tadi bersembunyi di semak-semak segera saja keluar. Tak bisa ditutupinya lagi wajahnya yang tampak tak percaya.

"Biksu, ternyata kau bisa berkelahi," ujarnya.

Biksu Wang hanya tersenyum, "Hush, kau ini," ujarnya. "Itu tadi bukan berkelahi. Aku hanya membela diri "

---ooo0dw0ooo---

Sepulang dari tepi hutan itu, Kakek Dwangga Ara langsung menghampiri Biksu Wang. "Biksu, tampaknya Sauwa Laja terluka," ujarnya, "Ia sepertinya habis berkelahi

Biksu Wang terdiam. Saat itu dirinya dan Tunggasamudra baru saja memindahi manggis-manggis yang mereka peroleh dari keranjang besar ke keranjang-keranjang yang lebih kecil.

Ia pun segera beranjak menghampiri rumah Sauwa La-ja, yang ada di tengah-tengah rumah-rumah lainnya. Namun, di depan pintu rumah itu, tiga orang laki-laki berbadan besar sudah menghadangnya.

"Mau apa kau, Biksu?" tanya seseorang yang berbadan paling besar. Entah mengapa ekspresinya terasa tidak wajar. Dua orang yang lain bahkan mencoba berkali-kali untuk berpaling dari tatapan Biksu Wang.

"Aku dengar Sauwa Laja tengah sakit," ujar Biksu Wang, "Aku, hanya ingin memeriksanya. Mungkin ... aku bisa sedikit membantu

"Tidak perlu," ujar lelaki berbadan besar itu lagi, "Ia hanya jatuh."

Akan tetapi, seusai ucapan itu suara batuk terdengar dari dalam ruangan. Suara batuk yang amat panjang.

"Bila tak segera diobati," Biksu Wang berucap tegas. "Ia bisa saja terluka dalam "

Dan, ucapan itu langsung membuat ketiga orang di depannya terdiam. Mereka pun tak lagi mencoba menghalangi langkah Biksu Wang.

Biksu Wang segera saja masuk. "Tungga, bawakan kemari tas obat itu," ujarnya menyuruh Tunggasamudra yang sedari tadi berdiri agak jauh untuk segera berlari ke dalam rumah.

Awalnya, dari atas dipan kayu itu, lelaki itu tampak ketakutan melihat kedatangan Biksu Wang. Namun, belum sempat ia bicara apa-apa, Biksu Wang langsung menarik tangannya dan memeriksa nadinya. Lalu, dengan gerakan yang pasti, Biksu Wang segera membuka baju lelaki itu.

Di situ samar-samar dilihatnya bekas sebuah telapak tangan. Namun, Biksu Wang tak bertanya apa-apa. Ia sudah membalikkan tubuh lelaki itu dan bersila di belakangnya. Lalu, dengan cepat dialirkan energinya melalui telapak tangannya ke punggung lelaki itu.

Tunggasamudra menatapnya tak mengerti. Ini baru pertama kali bagi dirinya melihat sebuah proses pengaliran energi. Matanya tak pernah lepas menatap Biksu Wang.

Bahkan, sebuah buliran keringat yangjatuh di kening Biksu Wang pun dapat dilihatnya dengan jelas.

Cukup lama semuanya terdiam dalam ruangan ini. Hingga akhirnya Biksu Wang menarik juga tangannya, seiring tarikan napas panjangnya. Kemudian, segera diambilnya kotak obat dari tangan Tunggasamudra. Dari situ, dikeluarkannya beberapa helai daun.

"Tumbuklah daun ini beberapa helai setiap harinya," ia mengangsurkan kepada Sauwa Laja yang menatapnya dengan ekspresi yang sulit dilukiskan.

"Lalu, minumlah dengan air setiap pagi," tambahnya.

Kemudian, tanpa berucap kata-kata lagi, Biksu Wang segera memberesi kotak obatnya. Tunggasamudra membantunya tanpa banyak bicara.

Lalu, keduanya mulai beranjak pergi. Namun, baru sampai di ambang pintu, suara Sauwa Laja terdengar, "Biksu," ia tiba- tiba sudah menjatuhkan dirinya, berlutut. Entah mengapa, tiba-tiba matanya berkaca-kaca. "Tc ... terima kasih...," ucapnya tercekat.

Biksu Wang hanya bisa mengangguk pelan. Ia sebenarnya merasa Sauwa Laja akan kembali mengucapkan sesuatu, tetapi buru-buru ia membungkukkan tubuhnya, "Sudahlah, jangan berkata-kata lagi." Ia mencoba tersenyum, "Bukankah kau harus banyak beristirahat?"

---ooo0dw0ooo---

Di luar, saat keduanya melangkah menjauh dari kediaman Sauwa Laja, Tunggasamudra yang sejak tadi terdiam, sibuk dengan pikirannya, akhirnya bertanya juga, "Apakah ia

orang yang menyerang Biksu tadi?"

Biksu Wang hanya tertawa, "Kau tak boleh menuduhnya begitu, Tungga!"

"Akan tetapi ," Tunggasamudra tampak berpikir.

"Mengapa ia begitu ketakutan melihat Biksu?"

Biksu Wang menggeleng-geleng, "Ketakutan?" Biksu Wang balik bertanya.

"Ya, jelas sekali ia ketakutan! Juga tiga orang temannya yang lain!" ujar Tunggasamudra lagi. "Huh, kalau aku, aku tak

.ikan mau menolongnya," ujarnya lagi dengan wajah bersungut. Biksu Wang seketika menghentikan langkahnya. "Dengar," ujarnya, "siapa pun ia, kita harus tetap menolong orang yang membutuhkan pertolongan. Bukankah pernah kuceritakan kepadamu kisah tentang seorang budak yang mencapai nirwana? Ia selalu berbuat baik, bahkan berpikir baik kepada majikannya yang selalu menindasnya?"

Tunggasamudra tetap terdiam. Ia ingat Biksu Wang pernah menceritakan kisah itu di awal-awal kedatangannya.

"Apalagi menurutku," tambah Biksu Wang, "berbuat I )aik itu merupakan sebuah tindakan beruntun yang memang harus dilakukan setiap orang ....

'Jadi, bisa kaubayangkan apa yang terjadi bila semua orang berbuat baik?" Biksu Wang membuang pandangannya ke depan, ke arah hamparan tanah yang begitu luas, "Bisa kaubayangkan, bukan?" ia menoleh kepada Tunggasamudra. "Semuanya tentu akan menjadi lebih baik ... dan lebih baik ... dan lebih baik

Tunggasamudra tak berucap apa-apa. Namun, otak kecilnya saat itu mencoba menghafalkan kata-kata Biksu Wang dalam hatinya ....

---ooo0dw0ooo---

Sampai beberapa tahun kemudian segala sesuatunya berjalan seperti apa adanya. Biksu Wang pun terus menjalankan aksinya. Kini hampir semua rumah yang doyong itu telah tegak kembali. Pekerjaan ini jadi lebih cepat karena Tunggasamudra dan beberapa penduduk lainnya turut membantu bersama. Hingga akhirnya tinggal sebuah rumah lagi yang belum diselesaikan.

Di suatu hari, Biksu Wang mengajak Tunggasamudra mencari daun-daunan untuk obat di dalam hutan. Sebenarnya di balik ajakan itu, Biksu Wang juga berencana untuk pamit meneruskan perjalanannya.

Ia sudah merasa cukup lama tinggal di sini, hampir dua puluh purnama. Dan, selama ini Tunggasamudra seakan tak terpisahkan dari dirinya. Ke mana pun ia pergi, bocah ini selalu bersamanya. Bahkan, di sedap waktu senggang, ia akan selalu mengajari Tunggasamudra beberapa gerakan dasar bela diri. Dan, Tunggasamudra mendalami itu dengan sungguh- sungguh. Melakukannya berulang-ulang hingga ia hafal semua gerakan itu dengan cepat.

Tunggasamudra juga telah mengambil alih hampir semua kegiatan yang biasanya secara rutin dilakukan Biksu Wang, terutama saat membuat rebung ataupun mi. Walau usianya belum lebih dari sepuluh tahun, ia sudah bisa dengan baik mencacah rebung dengan cepat dan memutar-mutar adonan menjadi mi. Sungguh melihat semua kedekatan ini, Biksu Wang merasa harus bicara di waktu yang khusus kepada Tunggasamudra.

Maka inilah saatnya, keduanya berjalan masuk ke hutan yang ada di seberang sungai. Ini sudah kesekian kalinya keduanya masuk begitu dalam. Beberapa daun obat yang dicari terkadang memang hanya ditemukan jauh di dalam hutan, di tempat yang tak dikenai matahari secara langsung.

Hutan ini mcmanglah hutan yang lebat. Konon di sinilah kerap terlihat harimau muncul, juga gajah dan binatang buas lainnya. Tak heran banyak penduduk yang memiliki pantangan untuk memasuki hutan ini. Pantangan yang bermula dari ketakutan. Namun, tentu saja itu tidak berlaku bagi Biksu Wang.

Dulu saat pertama kali ia mengajak Tunggasamudra ke sana, beberapa orang penduduk menentangnya, tetapi yang lain langsung mengiyakannya dengan semangat.

'Ajak saja ia!" seru Kakek Dwangga Ara kala itu. "Biar ia menjadi lebih berani dibanding anak-anak lainnya. Kalau perlu, suruh ia melawan harimau-harimau pengacau itu! Hahaha...," ia tergelak.

Maka sejak itulah, Biksu Wang selalu membawa Tunggasamudra menemaninya. Keduanya akan berjalan pelan sambil memakai caping dan menenteng kotak obat di punggung mereka, seperti yang selama ini dilakukan. Biasanya Tunggasamudra akan berjalan beberapa langkah di depan, dengan mata yang penuh awas bersiaga. Nanti ketika ada sebuah tanaman yang menarik hatinya, ia yang akan berteriak pertama kali, "Ada jamuuur!" dengan nada begitu gembira.

Biksu Wang akan segera menelitinya. Kadang ia mengangguk setuju atau menggeleng. Seperti hari ini, belum terlalu jauh memasuki hutan saja, Tunggasamudra sudah berteriak kencang kegirangan. Ia ternyata menemukan kumpulan jamur besar berwarna kuning cerah. Akan tetapi, Biksu Wang menggeleng dengan keras. "Kau tahu," ujarnya, "kalau kau tak teliti, jamur ini bisa membunuhmu "

Mata Tunggasamudra terbelalak, "Lalu, mengapa Biksu memakannya?"

Biksu Wang tertawa, "Kau ini, tentu saja aku memilih mana yang bisa dimakan, mana yang tidak. Seperti jamur yang kautunjuk ini Ini jamur beracun. Kau akan sakit perut bila

memakannya!"

Tunggasamudra hanya bisa mengangguk-angguk. Mereka kemudian melanjutkan perjalanan, terus masuk ke dalam hutan. Makin ke dalam, langkah keduanya makin pelan.

Setapak terasa lebih basah di kaki Tunggasamudra yang tak memakai apa-apa. Juga di kaki Biksu Wang, walau ia memakai alas kaki dari jerami.

Sesekali sebuah pekikan binatang, entah binatang apa, terdengar mengejutkan.

"Apakah Biksu tak takut harimau?" tanya

Tunggasamudra pelan, di antara langkah-langkahnya.

Biksu Wang tersenyum, "Siang-siang seperti ini, harimau tentu saja tengah tidur. Namun, kalaupun ada, aku tentu saja tidak takut!"

Tunggasamudra memandang kagum Biksu Wang, "Apa Biksu akan melawannya seperti saat mengalahkan orang- orang bertopeng itu?"

"Tentu saja tidak," jawab Biksu Wang cepat. "Tetapi, aku akan langsung mengambil... langkah seribu "

Biksu Wang langsung terkekeh. "Dan, nanti," tambahnya, "kau juga harus mengambil langkah seribu di belakangku!"

Tunggasamudra hanya bisa tersenyum. Selama bersama Biksu Wang, jarang Biksu Wang bisa bercanda seperti ini. Biasanya waktunya selalu dipakai untuk berdoa kepada Buddha atau untuk bermeditasi.

Keduanya tampak sangat menikmati perjalanan ini. Apalagi daun-daunan yang dicari ternyata bisa ditemukan dengan mudah, juga jamur-jamur besar yang tampak begitu lezat.

Sampai lama keduanya mengumpulkan itu semua, tanpa menyadari bila matahari telah berada di ufuk barat.

Saat itu, jauh dari tempat keduanya berada, di tanah tempat mereka tinggal, hanya scpcrgcscran matahari saja setelah itu, puluhan orang bertampang kasar dengan pedang terhunus tiba-tiba menyerbu tanah mereka.

Orang-orang itu membunuh semua penduduk yang ada dan mengambil semua harta mereka tanpa tersisa!

---ooo0dw0ooo---