Pandaya Sriwijaya Bab 03 : Bunga bagi Tubuh Yang Telah Ditinggal Jiwa

Bab 03 : Bunga bagi Tubuh Yang Telah Ditinggal Jiwa

Setelah utusan dari Kedatuan Sriwijaya datang, upacara pengangkatan Datu Talang Bantas segera dilakukan.

Cahyadawasuna, lelaki muda yang belum genap berusia sebelas tahun itu, diangkat menjadi dapunta, tanpa didampingi kedua orangtuanya ....

Akan tetapi, bukan itu yang membuatnya sedih ....

---ooo0dw0ooo---

Dulu, hampir 15 tahun yang lalu, sebelum kedatangan Sri Maharaja Balaputradewa, nama Datu Talang Bantas pernah hampir terhapus dari Bhumi Sriwijaya.

Saat itu ratusan gagak hitam berputar-putar di langit seperti tanpa tujuan. Senandung sendu seorang bersuara serak terdengar entah dari mana. Selama ini Datu Talang Bantas adalah tanah yang begitu subur, menghampar di kaki bukit-bukit yang membentenginya di sebelah timur. Di sinilah agama Buddha Mahayana berkembang paling cepat.

Dapunta Sanjarsemita, pemimpin datu ini, adalah penganut Buddha yang taat. Sejak generasi kakek buyutnya memerintah Datu Talang Bantas, agama Buddha memang sudah menjadi bagian dari keluarganya. Ketaatannya kepada Buddha begitu dalam hingga ia pun kadang menjadi penyebar Buddha di tanah-tanah lainnya di sekitar Talang Bantas.

§unga bagi Tubuh yang Telah J)itinggalkan Jiwa

Tak heran di tanah yang dipimpinnya ini, aroma Bud-dha begitu terasa. Di sini bisa dijumpai beberapa wihara yang cukup besar dan megah. Dan, yang lebih istimewa, di empat arah mata anginnya, terdapat empat patung Buddha yang tengah melakukan meditasi. Tingginya mencapai setengah pohon kelapa. Patung-patung itu duduk dengan gagah seakan menjaga Datu Tanah Talang Bantas dengan baik.

Walau merupakan seorang dapunta, tetapi penampilan Dapunta Sanjarsemita jauh dari kesan seorang dapunta. Ia tak memakai jubah dan ikat emas di kepalanya, seperti dapunta- dapunta lainnya. Ia juga tak memakai ikat pinggang berbenang emas. Ia lebih suka memakai jubah abu-abunya yang terlihat lusuh.

Dulu namanya adalah Sanjar Sayu. Namun, kakeknya mengubahnya menjadi Sanjarsemita, sebuah nama yang berbau Buddha. Kala itu memang di kalangan keluarga perdatu-an dan penduduk setempat banyak orang yang mengubah nama mereka atau mulai menamai anak-anak mereka dengan nama-nama berbau Buddha. Seperti yang kemudian dilakukan Dapunta Sanjarsemita kepada putranya, Cahya-dawasuna.

Dapunta Sanjarsemita sendiri memanglah pemimpin yang sangat bijaksana. Walau ketika itu ia masih sangat muda, ia kerap menyelesaikan permasalahan dengan sangat bijak. Menundukkan perampok hanya dengan kata-kata atau menundukkan serangan gajah liar dengan meditasi hanyalah beberapa contoh kebijaksanaan yang ada padanya.

Reputasinya sangat terkenal hingga di kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu; lagi pula harumlah namanya. Namun, sayangnya, tiba-tiba saja Dapunta Sanjarsemita menderita sakit yang tak jelas. Tubuhnya tiba-tiba menjadi lunglai dan ia hanya bisa tergolek di pembaringannya. Ia memang masih mampu bernapas dan matanya juga masih bergerak-gerak, tetapi tubuhnya tak lagi bisa bergerak.

Sejak itu, istrinyalah yang menggantikan dirinya memimpin Datu Talang Bantas ini. Namun, kebijaksanaan bukanlah sesuatu yang bisa diambil alih begitu saja meskipun oleh seorang istri. Di bawah pimpinan istrinya, keadaan Datu Talang Bantas semakin hari semakin merana. Lambat laun perampok-perampok dari arah bukit berani menyambanginya. Hewan-hewan liar pun kerap datang mengacau tanpa memilih waktu. Bahkan kemudian, bencana angin ribut, yang sebelumnya tak pernah ada, datang memorakporandakan tanah itu.

Walau Datu Talang Bantas tetap bisa bertahan, tetapi lama- kelamaan banyak penduduk yang memilih meninggalkan tanah itu, pindah ke tanah lainnya yang lebih menjanjikan.

Keadaan ini semakin parah ketika istri Dapunta San-jarsemita pun akhirnya harus mengembuskan napas terakhirnya.

Saat itu suasana tak menentu begitu meliputi Datu Talang Bantas. Dapunta Sanjarsemita hanya meninggalkan seorang putra yang ketika itu baru berusia lima tahun. Tentu saja, ia dianggap terlalu kecil untuk memegang tampuk kepemimpinan sebuah perdatuan.

Di tengah kebingungan itulah, seorang pengelana tiba-tiba datang, entah dari mana. Wajahnya teduh, dengan jubah menyerupai biksu-biksu Buddha, tetapi berwarna cokelat muda. Ia langsung menghadap Pu Mula Suma, orang yang selama ini secara tidak langsung mengurus Kedatuan Talang Bantas.

'Aku membawa Bunga Sukmajiwa," ujar pengelana itu sambil mengeluarkan sebuah bunga kering berwarna ungu menyala.

Dan, semua orang yang ada dalam kedatuan itu terdiam seketika. Aroma wangi yang asing seketika memenuhi ruangan, merasuki hidung, dan terserap ke dalam jantung mereka.

Semuanya pernah mendengar tentang Bunga Sukmajiwa.

Konon bunga yang hanya tumbuh di puncak tertinggi

Bukit Raja, bukit tertinggi di antara barisan bukit-bukit di sebelah barat itu, dapat menyembuhkan segala macam penyakit. Mitos ini begitu kuatnya hingga konon Dapunta Hyang Jayanasa, pendiri Kerajaan Sriwijaya, dikabarkan telah meminum air bunga ini berkali-kali hingga tubuhnya kebal terhadap apa pun!

"Apakah ini hanya tipuannya?" seorang rekan Pu Mula Suma berbisik.

"Tetapi, ia tak tampak seperti seorang penipu," balas pu yang lain setelah memperhatikan pengelana itu lebih saksama.

Sesaat semuanya tersuntuk dalam pikiran masing-masing Sampai kemudian seorang pu lainnya berujar pelan, "Tetapi, kupikir tak ada salahnya kita mencoba," ujarnya.

Dan, Pu Mula Suma pun mengangguk pelan. Ia segera meminta bunga itu dari sang pengelana dan menggantinya dengan sekotak kepeng perak yang tersisa dari kedatuan itu. Namun, pengelana itu menolaknya dengan halus.

"Kalian tak perlu menggantinya dengan apa pun," ujarnya sambil membungkuk dalam-dalam. "Merasakan aroma kedamaian di datu ini sudah cukup bagiku. Sungguh, sudah lebih dari cukupujarnya sebelum melangkahkan kakinya pergi....

---ooo0dw0ooo---

Setelah pengelana itu pergi, Pu Mula Suma dengan hati- hati, menumbuk sendiri bunga itu. Beberapa pu lainnya hanya memperhatikan dari dekat, tanpa bicara apa pun. Lalu, dengan bergegas-gegas, Pu Mula Suma dengan diikuti oleh pu lainnya berlari menuju ruangan Dapunta Sanjarsemita terbaring.

Akan tetapi, ternyata mereka terlambat. Saat mereka mengangkat tubuh Dapunta Sanjarsemita, tubuh itu ternyata telah kaku tak bernapas lagi.

Semuanya hanya bisa tertegun tak percaya. Tanpa sadar Pu Mula Suma menitikkan air matanya sambil berdesis,

"Kita... terlambat..”

Suasana menjadi muram. Sesaat tak ada yang tahu harus melakukan apa. Tangan Pu Mula Suma masih saja bergetar memegang cawan berisi air Bunga Sukmajiwa.

Saat itulah tiba-tiba putra Dapunta Sanjarsemita, Cahyadawasuna, yang baru berusia lima tahun memasuki ruangan itu dengan mainan kayu di tangannya.

"Mengapa dengan Ayahanda, Paman?" tanyanya sambil mencoba melihat tubuh ayahnya yang tersangga tangan

Pu Mula Suma.

Pu Mula Suma sama sekali tak menjawab pertanyaan itu. Matanya hanya bisa memandangi tubuh bocah lelaki itu lekat- lekat....

---ooo0dw0ooo--- Sejak itu, Cahyadawasuna tumbuh dalam keheningan. Tanah Talang Bantas, sejak kematian kedua orangtua-nya,

seakan semakin layu. Semakin banyak orang meninggalkan

tanah itu, pergi menjauh. Sementara orang-orang yang baru datang, selalu ingin sesegera mungkin pergi.

Hanya beberapa pu di kedatuan ini, beserta keluarganya, yang masih mencoba bertahan. Jumlahnya tak lebih dari dua puluh orang.

Memang sejak kematian Dapunta Sanjarsemita dan istrinya, keadaan kedatuan seakan tanpa pemimpin. Tak ada dapunta di tanah itu. Walau pada kenyataannya, Pu Mula Suma-lah yang mengurus semua hal yang berhubungan dengan kedatuan.

Ia yang menghadap secara langsung kepada Dapunta Hyang untuk menceritakan semua yang terjadi pada Datu Talang Bantas. Ia juga meminta keringanan untuk tidak mengirimkan upeti selama beberapa waktu pada Kedatuan

Sriwijaya. Saat itu, setiap datu di bawah kekuasaan Sriwijaya memang diwajibkan untuk mengirimkan upeti secara teratur pada kedatuan di Telaga Batu.

Pu Mula Suma juga yang kemudian meminta penundaan pengangkatan dapunta bagi Cahyadawasuna agar nantinya ia bisa langsung menjadi seorang dapunta yang matang Atas permintaannya ini, Kedatuan Sriwijaya kemudian memberi waktu hingga tujuh tahun untuk mempersiapkannya.

Maka, sejak hari itulah, pada setiap hari yang terlahir, Pu Mula Suma akan menemani Cahyadawasuna dalam semua pembicaraan. Ia tak pernah berhenti mengajari Cahyadawasuna tentang segala hal yang ingin diketahuinya. Setiap pagi, dengan tubuhnya yang semakin rapuh, ditemaninya Cahyadawasuna berjalan-jalan mengitari tanah Talang Bantas yang nyaris kosong. "Tanyakan apa saja yang ingin Dapunta ketahui," ujar Pu Mula Suma ketika itu. Ia memang telah memanggil Cahyadawasuna dengan gelar dapunta, sebelum ia benar- benar dinobatkan secara resmi. "Dan, aku akan mencoba menjawabnya," tambahnya.

Maka, saat-saat fajar sebelum matahari terbit dan saat-saat senja sebelum matahari terbenam adalah saat yang ditunggu- tunggu Cahyadawasuna. Sejak dulu ia memang seorang bocah yang selalu ingin tahu.

Maka, ia akan bertanya banyak sekali hal. Seperti saat ia melalui keempat patung Buddha besar itu, ia pun segera bertanya, "Mengapa patung Buddha yang ada di sebelah barat terlihat lebih kotor dari yang ada di timur, utara, dan selatan?"

Di lain waktu, saat ia melewati bukit-bukit barisan sebelah barat itu, ia akan bertanya, "Mengapa bukit-bukit itu selalu tampak tak beraturan?" Juga saat ia melewati tepi sungai, ia akan bertanya, "Mengapa air bisa melegakan tenggorokanku?"

Selalu serupa itu. Setiap hari muncullah sebuah pertanyaan baru tentang patung-patung Buddha itu, tentang bukit-bukit itu, dan tentang tepian sungai itu. Dan, Cahyadawasuna akan terpekur mendengarkan seluruh jawaban itu sampai Pu Mula Suma berhenti bicara. Saat itulah ia akan kembali mengajukan sebuah pertanyaan baru.

Cahyadawasuna memang tak pernah mengulang pertanyaan yang sama. Semuanya hanya sekali. Dan, semuanya juga akan dijawab oleh Pu Mula Suma dengan sangat hati-hati, juga satu kali saja.

Ya, semua pertanyaan hanya satu kali diajukan, kecuali pertanyaan yang satu ini, yang tak pernah berubah pula. Ini adalah saat dirinya melewati setapak-setapak hening di sekitar kedatuannya. Rumput liar tumbuh di mana-mana dan angin yang berdebu berkali-kali bertiup menyakitkan mata.

Pertanyaan itu akan muncul di sini dalam nada suara yang lebih rendah, "Apakah dulu Datu Talang Bantas juga sesepi ini?"

Dan dulu, ketika pertanyaan ini diajukan untuk kali pertamanya, Pu Mula Suma menggeleng pelan, "Tidak, Dapunta, tidak. Dulu tanah di sini begitu ramai. Dapunta tak akan pernah berjalan dalam kesepian seperti ini. Orang-orang berlalu-lalang, tersenyum kepada kita, bahkan menyapa kita." Lalu, Pu Mula Suma menunjuk sebuah titik di kejauhan, "Dan di sana, ada sebuah pasar yang begitu ramai. Puluhan penjual berderet menggelar dagangannya. Dapunta bisa membeli apa pun yang Dapunta inginkan, bahkan ... ikan laut. Dapunta tahu, begitu jauh tanah ini dari laut, bukan? Tetapi, itulah yang terjadi dulu. Tanah ini tak hanya dikunjungi orang-orang di sekitar sini, tetapi juga orang-orang seberang

Cahyadawasuna memandang Pu Mula Suma dengan tak percaya, "Lalu, mengapa sekarang begitu sepi?"

Pu Mula Suma hanya bisa menarik napasnya, "Sejak meninggalnya Dapunta Sanjarsemita, ayahanda Dapunta, keadaannya berubah "

Cahyadawasuna terdiam. Ia berjalan beberapa langkah ke depan. "Lalu, apa aku bisa mengembalikan tanah ini seperti semula, Paman?" tanyanya tanpa menoleh.

"Tentu saja, tentu saja," Pu Mula Suma tersenyum membesarkan hati. "Nanti bila Dapunta sudah semakin besar, Dapunta pasti akan mengubah tanah ini, menjadi tanah yang tak lagi mengenal keheningan "

Ucapan Pu Mula Suma tidaklah berlebihan. Entah mengapa, ia seakan bisa merasakan keistimewaan pada sosok di depannya ini. Dalam usianya yang belum genap enam tahun saja, ia sudah bisa memacu otaknya untuk bertanya dengan tajam. Sejak itu, setiap melewati setapak hening ini, Cahyadawasuna akan selalu kembali bertanya, "Apakah dulu Datu Talang Bantas ini juga sesepi ini?"

Akan tetapi, ia tak lagi membutuhkan jawaban atas pertanyaan itu. Karena di dalam hatinya, ia akan mengulang jawaban panjang Pu Mula Suma saat itu ....

Ya, selalu seperti itu ....

---ooo0dw0ooo---

Satu lagi yang diajarkan Pu Mula Suma, yakni keahlian bela diri. Sebenarnya, Cahyadawasuna bukanlah orang yang tertarik pada bela diri. Namun, karena tuntutan sebagai Dapunta di Datu Talang Bantas inilah, ia harus mempelajarinya.

Di usianya yang ketujuh tahun, Pu Mula Suma mendatangkan beberapa pendekar untuk melatihnya. Satu yang cukup lama bertahan tinggal di Datu Talang Bantas adalah Ki Selo Angin Wesi. Ia merupakan seorang pendekar dari Bhumijawa. Konon lelaki beraut murung ini sangat dikenal di Bhumijawa sebagai pendekar besar. Keahliannya tak sekadar memainkan keris, tetapi juga segala macam senjata, seperti tombak, golok, bahkan panah.

Selain itu, Pu Mula Suma juga mendatangkan beberapa tabib dari Negeri Cina untuk mengajari obat-obatan serta ilmu totok jarum dan totok nadi. Ini merupakan inisiatifnya sendiri. Karena ia menyadari sekali bahwa Cahyadawasuna bukanlah sosok yang berbakat dalam bela diri, maka itulah ia harus mencoba menutupinya dengan keahlian lain.

Akan tetapi, yang kemudian sangat didalaminya adalah ajaran Buddha, terutama meditasi untuk penyerahan diri kepada Maha Pencipta. Ini semua berlangsung hingga lama. Tak terasa telah enam puluh purnama terlewati dalam keheningan yang seperti tak berkesudahan. Ribuan pertanyaan lelah meluncur dari mulut Cahyadawasuna dan ribuan jawaban telah terucap dari mulut Pu Mula Suma.

Dan, kini seiring bertambahnya usia Cahyadawasuna, Pu Mula Suma tampak semakin rapuh. Maka, ketika usia Cahyadawasuna menginjak sepuluh tahun, Pu Mula Suma pun memutuskan untuk mengangkat Cahyadawasuna sebagai dapunta di Datu Talang Bantas. Beberapa pu lainnya yang masih bertahan, mencoba mengingatkannya bahwa itu terlalu cepat. Mereka masih punya waktu dua tahun lagi untuk mematangkan Cahyadawasuna.

Akan tetapi, Pu Mula Suma merasa Cahyadawasuna sudah mempelajari semua yang diketahuinya. Ia tak bisa mengajarkan apa-apa lagi.

Maka, ia pun kemudian segera mengirimkan utusan ke Telaga Batu.

---ooo0dw0ooo---

Di rumahnya, tepat pada hari penobatan itu, Pu Mula Suma merasa tubuhnya sangat lelah. Ia sudah dua kali meminta istrinya membuatkan air rendaman akar-akaran. Namun, tampaknya kelelahan tak mau pergi juga dari dirinya.

"Bukankah kau seharusnya menghadiri upacara penobatan Dapunta Cahyadawasuna?" istrinya mencoba mengingatkan.

Pu Mula Suma hanya tersenyum, "Tentu saja. Sebentar lagi aku akan berangkat. Aku hanya ingin beristirahat barang sesaat

Lalu, istrinya pun berlalu. Pu Mula Suma menghela napas panjang sambil mengambil posisi meditasi. Wajahnya tampak begitu gembira.

Akhirnya tugasku selesai sudah, pikirnya sembari tersenyum lebar dan menyentuh jenggot putihnya. Sungguh, dalam hati, ia benar-benar merasa puas telah mengajari Cahyadawasuna selama ini.

Sementara itu, tak jauh dari kediaman Pu Mula Suma, di Kedatuan Talang Bantas, Cahyadawasuna duduk dengan tak tenang. Seorang pendeta Buddha tengah membacakan doa- doa baginya. Biasanya dalam kondisi seperti ini, ia akan dengan khusyuk mendengarkan doa-doa itu dan ikut merapalnya. Namun, tidak kali ini. Entah mengapa, pikirannya terus saja tertuju kepada Pu Mula Suma.

Ketika ia memiliki kesempatan, ia berbisik kepada salah seorang pengawalnya yang terdekat, "Ke mana Paman Mula Suma?"

Pengawal itu segera mengamati sekitarnya.

"Biarkan hamba mencarinya dulu, Dapunta," bisiknya, sebelum kemudian berlalu di antara kerumunan itu.

Tak lama berselang, tepat saat wakil dari Kedatuan Sriwijaya di Telaga Batu membacakan gelar bagi Cahyadawasuna, dalam posisi meditasi Pu Mula Suma mengembuskan napas terakhirnya.

Ia meninggal dengan bibir menyunggingkan senyum ...

---ooo0dw0ooo---