Pandaya Sriwijaya Bab 01 : Bayi yang Lahir dengan Tiga Tangan

Bab 01 : Bayi yang Lahir dengan Tiga Tangan

Aren Suwa mencoba mengangkat kepalanya dari pembaringannya yang hanya terbuat dari anyaman tikar. "Abah," ia menyentuh tangan ayahnya. Tak tahu harus melakukan apa lagi selain itu.

"Ambilkan parang!" tiba-tiba Bayak Kungga, tanpa melepas pandangannya dari tangan ketiga bayi itu, berucap pelan entah kepada siapa.

Aren Suwa memandang ayahnya dengan tatapan penuh duga, "Abah, kau ... kau mau apa?"

Tak ada jawaban. Suami Aren Suwa, Tansa Kaluh, mendekat sambil menyodorkan sebilah parang. Bayak Kungga lalu mengangkat tubuh bayi itu dengan gerakan perlahan. Lalu, ia berjalan menjauh dari pembaringan tempat anaknya berbaring.

Tak ada yang bicara lagi saat itu. Beberapa saudara dekat yang ada di dalam rumah juga tak bereaksi. Semua mata tertuju kepada Bayak Kungga yang diam cukup lama. Namun, akhirnya, lelaki tua itu pun mulai mengangkat tangan ketiga bayi itu, yang tetap terdiam tanpa reaksi. Semua yang ada di situ seketika menahan napas, seakan bisa menduga apa yang akan dilakukan lelaki yang juga menjadi tetua di datu ini.

Lalu, dengan gerakan yakin, Bayak Kungga tiba-tiba sudah menggerakkan parang di tangannya, memotong tangan ketiga bayi itu.

Darah seketika memuncrat seiring pecahnya tangisan bayi itu. Aren Suwa meraung histeris. Ia berusaha menggapai bayinya, tetapi suaminya mencoba menenangkannya.

Sampai beberapa saat, tak ada lagi yang bicara di dalam rumah itu. Semuanya diam, membiarkan tangis bayi itu mengisi ruangan. Juga membiarkan darah yang mengotori lantai bambu itu perlahan mulai menetes jatuh ke bawah, membuat para penduduk yang sedari tadi menunggu di bawah semakin menduga-duga.

"Ia akan matisalah seorang saudara, yang berdiri di tepi pintu rumah, berbisik entah kepada siapa.

"Ya, ia pasti akan mati, bila ia hanya bayi biasa," Bayak Kungga menjawab ucapan itu sambil memandang sosok yang berucap tadi.

"Tetapi," tambahnya, "bayi yang lahir dengan tiga tangan, tentulah bukan bayi biasa”

Dan, tak ada yang membantah ucapan itu.

---ooo0dw0ooo--- Bayi itu memang tak mati. Sejak hari itu ia tumbuh sehat seperti bayi-bayi lainnya. Penduduk datu itu akan selalu melihat perkembangannya dari hari ke hari.

Mulai saat ia berjalan tertatih dengan bimbingan ibunya sampai kemudian ia bisa berlari ke sana kemari bersama teman-temannya, semuanya tampak normal seperti yang lainnya. Sama sekali tak ada yang kemudian mengingat kejadian hari itu, kecuali bila mereka tengah berada di dekat bocah itu dan melihat sebuah gumpalan daging di pundak kanan bocah itu. Pada saat seperti itu barulah orang-orang akan terkejut dan bertanya dengan pertanyaan yang nyaris sama,' Aah, apakah kau bayi yang dulu dilahirkan dengan tiga tangan itu?"

Dan, bocah itu akan mengangguk dengan yakin. Sejak belum mengerti benar akan arti kata-kata, kakeknya, Bayak Kungga, sudah kerap bercerita tentang apa pun kepadanya, terutama tentang kelahirannya yang tak biasa. Kakeknya juga yang telah memberi nama Tunggasamudra kepadanya. Ini merupakan nama yang berbeda dari nama anak-anak yang ada di sekitar datu. Bahkan, semula Aren Suwa menolaknya karena merasa tak pantas menggunakannya. Namun, Bayak Kungga tanpa henti meyakinkannya hingga akhirnya ia pun mengalah.

Tunggasamudra memang dilahirkan untuk bersama kakeknya. Ia lebih banyak menghabiskan waktunya bersama kakeknya. Tak lama setelah ia bisa berjalan, ia dengan susah payah turun dari tangga rumahnya, untuk merayap kc tangga rumah kakeknya yang ada tepat di sebelah rumahnya.

Bayangkan, waktu itu ia masih berjalan dengan oleng dan tangannya masih begitu kecil untuk memegang sesuatu. Namun, ia bisa juga sampai di rumah talang kakeknya, hanya untuk duduk di pangkuan sang kakek.

Dan, nanti bila ia sudah duduk di pangkuan itu, kakeknya selalu akan mulai bercerita .... "Tahukah engkau, mengapa engkau kunamakan Tunggasamudra?" ia melipat mimik wajahnya hingga Tunggasamudra kecil tertawa kecil melihat itu. "Karena kuingin engkau menjadi orang yang istimewa di hari esok. Karena Tunggasamudra adalah nama-nama yang kerap digunakan oleh pendekar-pendekar pada masa lalu. Bahkan, raja-raja di Telaga Batu pun pernah memakai nama itu

Ya, selalu seperti itu. Bayak Kungga memang begitu membangga-banggakan cucunya, mungkin karena Tungga- samudralah cucu satu-satunya baginya. Maka itulah, ia mengajarkan apa pun kepada cucunya itu. Dari mulai berlari cepat hingga memanjat pohon-pohon tinggi, bahkan berkelahi.

Maka itulah, suatu hari, saat Tunggasamudra kedapatan berkelahi dengan salah seorang temannya yang selalu mengganggunya, Bayak Kungga malah tertawa lebar sambil berucap, "Hahaha... bagus, bagus. Kau benar-benar akan menjadi pendekar yang hebat

Dan, Tunggasamudra kecil akan tersenyum senang mendengar itu.

---ooo0dw0ooo---

Sampai Tunggasamudra memasuki umur enam tahun, semuanya tampak berjalan baik-baik saja.

Akan tetapi, garis hidup seseorang tidaklah selalu seperti garis lurus. Di suatu hari yang tak terduga, tiba-tiba semuanya berubah. Hujan yang awalnya turun bagai tebaran jarum- jarum kecil, tiba-tiba berubah menjadi seperti tebaran kerikil. Angin yang semula menderu sesekali pun, tiba-tiba menjadi berputar tanpa henti bagai gasing Suasana mendadak

mencekam.

Sungai Musi yang ada tak jauh dari datu itu pun meluap. Awalnya semua merasa aman berada di rumah-rumah talang mereka yang tinggi. Namun, luapan itu terasa semakin kuat dan kuat, seiring angin yang menderu tanpa henti. Lama- kelamaan, tanpa bisa mereka tutup-tutupi lagi, ketakutan mulai muncul di benak mereka.

Sampai akhirnya sebuah rumah tak lagi bisa menahan tekanan air. Empat kayu penyangganya roboh, membuat rumah dan orang-orang yang ada di dalamnya terjatuh ke luapan air sungai itu. Namun, teriakan mereka seakan tak terdengar oleh derunya hujan dan angin.

Satu rumah lagi kemudian menyusul roboh, kemudian diikuti rumah-rumah lainnya satu per satu. Hingga tak berapa lama kemudian beberapa rumah di datu roboh tersapu luapan air.

Di rumah Tansa Kalu dan Aren Suwa, Tunggasamudra memeluk ibunya dengan erat. Angin sudah menggerakkan rumah lalang mereka sedemikian rupa hingga bergerak-gerak. Namun, Tansa Kalu masih mencoba bertahan. Hingga ia mendengar teriakan di luar rumahnya.

"Ada yang memanggil” desis Aren Suwa.

Tansa Kalu mengangguk. Ia bergerak ke arah pintu dan segera menyibak kerai bambu yang menutupinya. Tepat di depannya, Bayak Kungga berdiri sejauh lima tombak dari ambang rumahnya.

"Ke ... ge ... ra Bayak Kungga berteriak. Namun, Tansa Kalu hanya mendengar sepotong-sepotong ucapannya.

"APAAA?" Tansa Kalu berteriak.

"Kelu ... sege teriak Bayak Kungga lagi.

"Ia meminta kita keluar!" Aren Suwa yang berada di belakang Tansa Kalu ikut berteriak. Tansa Kalu berpaling dengan tatapan tak percaya, "Keluar?" tanyanya. "Air sudah begitu tinggi, kita bisa mati terbawa air!"

"Tetapi, kita akan lebih cepat mati bila rumah ini terbawa air!" teriak Aren Suwa lagi.

Tansa Kalu berpikir lagi. Namun, saat itulah sebuah tekanan membuat rumah mereka semakin oleng. Segera saja ia mengambil keputusan. Diraihnya tubuh Tunggasamudra, lalu memeluk pinggang Aren Suwa, ketiganya melompat keluar.

BYUURH ... BYUUURH ... BYUUURH Ketiganya segera

tertelan luapan air yang semakin mengganas. Tanpa bisa menolak, mereka hanya bisa mengikuti derasnya arus air. Sempat ketiganya melihat rumah mereka mulai roboh perlahan, hampir menimpa tubuh mereka sendiri, membuat pegangan tangan mereka mulai terlepas. Namun, Aren Suwa segera bergerak cepat menyelamatkan Tunggasamudra yang hampir menjauh darinya. Saat dalam kondisi itulah ekor matanya melihat rumah ayahnya juga mulai roboh dengan cepat, sebelum ayahnya sempat melompat keluar!

Aren Suwa berteriak keras. Namun, teriakannya hanya bisa tertelan oleh deru di sekitarnya.

Ia tak lagi bisa berpikir jauh. Tangisannya yang harusnya pecah, seakan tertelan oleh luapan air yang terus membawa tubuhnya entah ke mana.

Aren Suwa terus mencoba bertahan. Ia tak lagi melihat suaminya, juga tak lagi melihat siapa pun. Yang dilakukannya hanyalah terus bertahan mengikuti arus sambil terus memegang tubuh Tunggasamudra erat-erat. Hanya itu yang ia ingat.

Namun, luapan air semakin deras dan tanpa henti.

Kelelahan melanda tubuh Aren Suwa. Pegangan tangannya pada tubuh Tunggasamudra, tanpa bisa dihindari lagi, mulai mengendur dan mengendur.

Di saat itulah tiba-tiba Aren Suwa melihat segelondong kayu di dekatnya. Ia pun segera meraih kayu itu dan menyuruh Tunggasamudra memeluknya erat-erat.

"Peluk ini!" ujarnya di tengah hempasan air. "Dan, jangan pernah kaulepaskan!"

Lalu, keduanya kembali hanya bisa mengikuti luapan itu.

Beberapa saat keduanya masih tampak bersama, tetapi tak lama kemudian, entah bagaimana kejadiannya Tunggasamudra mendapati bahwa ibunya tak lagi ada di sebelahnya. Hanya ia sendiri yang terbawa arus.

Tunggasamudra mencoba melihat ke belakang, tetapi tak ada apa-apa lagi. Hanya air dan air yang terlihat di seluruh tatapannya. Tunggasamudra benar-benar ingin menangis saat itu. Rasa kehilangan dan ketakutan menyergap dan mencekamnya begitu rupa. Namun, ucapan ibunya seakan terngiang kembali dalam telinganya: Peluk ini!Dan, jangan pernah kaulepaskan!

Maka, ia pun hanya bisa mempererat pelukannya pada gelondong kayu pemberian ibunya. Entah sampai berapa lama ia memeluk kayu itu. Ia sama sekali tak bisa mengingatnya.

Yang ia tahu tubuhnya semakin lemah. Matanya juga telah separuh menutup. Dan, didengarnya desah napasnya sendiri yang telah lak teratur.

Saat itulah bayang-bayang wajah kakeknya muncul dalam ingatannya, juga bayangan wajah ayah dan ibunya ....

Tunggasamudra kecil seakan terbawa oleh bayangan itu. Tanpa sadar pegangannya pada gelondong kayu itu semakin mengendur dan mengendur....

Lalu, dirasakannya ketiga bayangan itu semakin jauh meninggalkan dirinya, membuat dirinya menjadi sendirian. Tunggasamudra kecil pun segera mencoba untuk menggapai bayang-bayang itu ....

Saat itulah pegangannya pada bongkahan kayu itu terlepas!

Namun, saat pegangan itu benar-benar lepas, beberapa tangan menyelamatkan dirinya ....

---000odw0ooo---