Pandaya Sriwijaya Bab 00 : Prolog

Bab 00 : Prolog

Kembalinya Balaputradewa

Empat puluh tahun silam dari hari ini, bumi pernah terasa murka. Bergemuruh penuh amarah, meretakkan setiap jengkal tanah tempat biasa dipijak. Ketakutan seakan melingkupi seiring bau belerang yang menusuk. Burung-burung beterbangan menjauh, hewan-hewan berlarian, juga manusia

....

Empat puluh tahun silam dari hari ini, salah satu gunung terbesar di gugusan bukit-bukit itu meletus dengan dahsyat, seakan mencoba memecahkan langit. Debunya yang panas kemudian memenuhi udara. Disusul munculnya lahar yang menyembur dari ratusan titik di retakan-retakan tanah itu ....

Empat puluh tahun silam dari hari ini, teriakan-teriakan memekik terdengar di sepanjang sudut. Ketakutan memenuhi setiap benak. Hingga suara tangis bayi, yang sebenarnya masih terdengar sayup-sayup pun sama sekali tak tergubris oleh siapa pun yang tengah berlari menyelamatkan diri. Ya, bayi yang baru saja selesai menetek puting ibunya, yang kini telah tergeletak tak bernyawa memeluknya, seakan terlupa. Ia hanya bisa terus menangis di antara semburan lahar itu ....

Itu adalah kisah empat puluh tahun silam, saat hari terlahir murka. Kisah yang mungkin telah hilang dari ingatan siapa pun, termasuk orang-orang yang memekik ketakutan kala itu. Dan kini, di tahun 843 Saka, hari terlahir tak lagi murka.

Sepertinya sudah begitu lama hari selalu lahir dengan bersahabat. Langit cerah, sinar matahari hangat, dan awan terus-terusan membuat tebak-tebakan di tubuhnya untuk anak-anak yang melihatnya .... Di atas sambau, perahu khusus milik Kerajaan Sriwijaya bertiang layar empat, Balaputradewa memejamkan matanya kuat-kuat. Dihirupnya udara dalam-dalam hingga merasuki rongga dadanya. Seharusnya, aroma tajam laut yang akan diciumnya, tetapi tidak kali ini. Sudah sekian lama, sejak keberangkatannya dari Bhumijawa(sebutan Pulau Jawa Ketika itu) sepuluh hari yang lalu, aroma laut sepertinya telah hilang dari penciumannya. Yang ada hanyalah ... aroma darah saat itu! Ya, aroma anyir darah. Aroma yang sepertinya tak pernah benar-benar hilang dari udara yang mengitarinya, seakan memerangkap dirinya. Dan, bila sudah seperti itu, tanpa bisa dihindari lagi, benaknya akan segera dipenuhi oleh bunyi benturan pedang, juga jeritan-jeritan kematian ....

Semuanya akan menggantung, tak mau pergi. Terus mengikuti dirinya, walau sudah begitu jauh sambau-nya membawa dirinya pergi dari tanah itu.

Balaputradewa hanya bisa mengeluh diam-diam.

Kini setiap hari, ia hanya bisa mencoba menghitung untuk keberapa kali matahari telah menyapanya. Ia juga mencoba menikmati setiap lekuk awan yang bertebaran di langit. Dan, bila malam tiba, ia akan memperhatikan pergeseran bulan di setiap malam atau bahkan mencoba mengamati bintang- bintang. Semua ini dilakukan hanya untuk mengalihkan pikirannya agar lepas dari bayangan peperangan itu.

Akan tetapi, Balaputradewa selalu merasa gagal.

Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya? Itu adalah peperangan pertamanya, juga kekalahan pertamanya. Bagaimana mungkin ia bisa melupakannya begitu saja? Terlebih pada Dusun Iwung. Dusun yang mengiringinya tumbuh itu kini porak-poranda dan tergenang oleh lautan darah karena telah menjadi ajang pertempuran tersebut.

"Sri Maharaja," suara seorang pengawalnya tiba-tiba mengagetkannya. Balaputradcwa menoleh. Dilihatnya seorang pengawalnya tengah berlutut di dekatnya dengan kepala tertunduk dalam. Walau ia belum benar-benar menjadi raja, semua pengawal sudah memanggilnya dengan gelar itu, gelar yang hanya digunakan bagi raja-raja keturunan Sailendra.

"Ada apa?" tanyanya.

Lelaki setengah baya dengan kumis melintang itu mengangkat kepalanya, "Kami sudah melihat daratan."

Mata Balaputradcwa membulat. Tak bisa dimungkiri, ia begitu merindukan daratan. Selama ini, ia belum pernah sekali pun melakukan perjalanan laut sejauh ini.

'Apakah itu ... Bhumi Sriwijaya?" tanyanya.

"Tampaknya benar, Sri Maharaja," jawab pengawalnya lagi.

Balaputradcwa segera beranjak kc arah anjungan dengan gerakan terburu. Dari sana dibuangnya pandangan ke depan. Ia dapat melihat daratan hijau di kejauhan sana.

"Segera kabarkan," ujarnya tanpa menoleh kepada pengawalnya, "kabarkan pada sambau yang lain, kita akan segera merapat

Lalu, pengawal itu segera berlari menuju dek sambau di bagian buritan, yang merupakan tempat tertinggi di seluruh bagian sambau. Segera saja, dengan bendera kecil di tangannya, ia memberi tanda pada sepuluh sambau yang terus berlayar mengiringi sambau utama ini di belakangnya.

Balaputradewa menarik napas panjang. Matanya tak lagi lepas memandang daratan di kejauhan. Entah mengapa, dadanya tiba-tiba terasa bergemuruh, seiring ombak yang berkali-kali menghempas sambau-nya dengan kuat seperti ... kerinduan akan kampung halaman. Sungguh, ia benar-benar tak tahu mengapa sensasi ini bisa begitu dirasakannya. Sriwijaya, Sriwijaya, Sriwijaya, sekian lama ia sudah mendengar bumi moyangnya itu, tetapi baru sekali ini ia akan menginjakkan kaki di situ.

Menginjakkan kaki untuk ... menjadi seorang raja.

-ooo0dw0ooo--

Hanya beberapa hari berselang, pengangkatan Balaputradewa dilakukan di Kedatuan (Pusat kerajaan/pusat datu seperti halnya keraton) Sriwijaya yang ada di Telaga Batu.

Chra Dayana, orang yang selama ini memegang tampuk kekuasaan di Bhumi Sriwijaya, memimpin sendiri pengangkatan itu. Selama ini Chra Dayana-lah yang menjadi dapunta (Sebutan bagi peminpin tinggi) atau penguasa di Bhumi Sriwijaya ini. Ia memang memiliki hubungan keluarga dari keturunan penguasa Sriwijaya di Bhumijawa.

Bersama dengan beberapa pendeta Buddha Mahayana, ia mengambil sumpah Balaputradewa, diiringi dengan pandangan para pu (gelar abdi di kedatuan pada masa Kerajaan Sriwijaya), juga para dapunta yang ada di bawah kekuasaan Sriwijaya. Pu merupakan sebuah gelar yang digunakan untuk petinggi-petinggi yang ada di kedatuan di seluruh wilayah Sriwijaya, sedangkan gelar dapunta biasanya digunakan untuk orang yang menjadi penguasa sebuah datu (desa).

Maka mulai saat itulah, Balaputradewa bergelar Sri Maharaja. Ia sengaja tak lagi memakai gelar Dapunta Hyang (Sebutan bagi raja tertinggi Sriwijaya) yang selama ini dipakai oleh Raja-raja Sriwijaya di Telaga Batu. Beberapa generasi sebelumnya, kekuasaan Sriwijaya memang sempat terpecah ke Bhumijawa. Saat itulah gelar Sri Maharaja kemudian dipakai oleh Raja-raja Sriwijaya, terutama bagi raja-raja keturunan Wangsa Sailendra. Maka itulah, sebagai penerus Wangsa Sailendra, Balaputradewa kemudian memakai gelar itu.

Hanya sehari berselang, Sri Maharaja Balaputradewa langsung memanggil semua pu di kedatuan kerajaan ini. Terlalu banyak hal yang harus dibicarakan dan dipelajarinya. Ia bagai seorang bayi yang baru terlahir di tanah ini.

Sambil menunggu dimulainya pertemuan itu, ia memandang sekitarnya dengan saksama. Dari arah kedatuan- nya yang berada di dataran yang lebih tinggi, ia bisa melihat sekelilingnya dengan jelas.

Perdatuan (pedesaan) ini dikelilingi oleh tembok bata berwarna merah yang membentuk seperti sebuah kotak besar. Tebalnya lebih dari dua tombak. Tingginya hampir menyamai setengah pohon kelapa, bahkan di beberapa sudut, menara- menara terlihat mencolok, melebihi ketinggian pohon-pohon kelapa. Kekukuhan benteng ini begitu terlihat jelas. Apalagi di setiap sudut, prajurit-prajurit tampak berjaga.

Dari kedatuan ini pula, terlihat Pelabuhan Telaga Batu jauh di timur laut sana dengan Sungai Musi yang selalu tampak berkilau. Beberapa sambau dan perahu-perahu asing tampak di sekitar pelabuhan. Sungai Musi memang bermuara di Telaga Batu. Bagian muara yang lebih besar lagi berada jauh ke arah timur. Namun, kehirukpikukan masih dapat dirasakan dari kedatuan itu.

Sebagai pusat kekuasaan Sriwijaya, Telaga Batu me- mangjauh lebih ramai bila dibandingkan dengan datu-datu lainnya. Beberapa permukiman, tempat rumah-rumah sederhana dibangun, mengelompok di beberapa titik.

Beberapa wihara juga terlihat di sana. Ribuan biksu Buddha Mahayana kerap melintas berbaur di antara penduduk. Pada masa itu perkembangan agama Buddha memang telah mencapai puncaknya di Sriwijaya. Bahkan, di sini pulalah pusat pengajaran Buddha Mahayana sehingga tanah ini begitu menarik bagi peziarah dan kaum-kaum terpelajar dari tanah- tanah yang jauh, terutama dari Cina dan India.

Sri Maharaja Balaputradewa terus mengamati sekitarnya.

Ia masih teringat cerita turun-temurun tentang sejarah berdirinya kerajaan ini yang sering dikisahkan oleh ayahandanya, Sri Maharaja Samaragrawira. Dulu moyangnya, Dapunta Hyang Sri Jayanasa, memimpin dua laksa8 pasukan, atau dua puluh ribu pasukan, yang berupa pasukan darat dan juga beberapa ratus sambau, datang dari arah Minanga Tamwa9 menuju ke selatan. Dari situlah kemudian Kerajaan Sriwijaya berkembang.

Sriwijaya sendiri merupakan sebuah nama dari bahasa Sanskerta. Sri berarti 'bercahaya' dan wijaya berarti 'kemenangan'. Sejak tahun 500-an, orang-orang Cina, India, dan Khmer sudah datang untuk berdagang. Orang Cina menyebut bhumi ini San Fot Tsi, sedang orang Arab menyebutnya Zabag, dan orang Khmer menyebutnya Malaya. Dalam bahasa Sanskerta sendiri, Sriwijaya sering disebut Yavadesh dan Javadeh.

"Hormat hamba kepada Sri Maharaja," sebuah suara sedikit mengagetkannya. Pu Chra Dayana tiba-tiba saja sudah membungkuk di belakangnya. Setelah kekuasaan diserahkan kepada Balaputradewa, kini Chra Dayana memang diangkat menjadi pu tertinggi di kerajaan ini. "Semua tamu sudah berkumpul," sambungnya.

Sri Maharaja Balaputradewa mengangguk perlahan. Sedikit hatinya merasa ragu. Pertanyaan-pertanyaan dari benaknya, sepertinya terngiang di telinganya. Apakah kehadiranku diinginkan okh orang-orang di Telaga Batu ini? Apakah mereka tetap mempunyai kesetiaan kepadaku?

Perlahan, Sri Maharaja Balaputradewa melangkah ke dalam ruangan itu. Dalam suasana seperti ini, entah mengapa, secara tiba-tiba, bayangan kekalahannya di Dusun Iwung kembali menyeruak. Namun, tak lagi hanya sekadar bayangan peperangan itu, tetapi diiringi dengan bayangan sosok Pramodawardhani yang berkelebat begitu saja, juga bayangan Jatiningrat ....

Lalu, ketika akhirnya dirinya duduk di singgasana itu, suara penghormatan terdengar serentak di telinganya. Namun, entah mengapa, sambil memandang puluhan orang yang bersimpuh di depannya, Sri Maharaja Balaputradewa merasakan kalau gema suara itu terasa begitu datar di telinganya ,

Sri Maharaja Balaputradewa menarik napas panjang- panjang. "Kini keinginan terdalamku adalah," ia memotong kalimatnya sambil menyapukan pandangannya pada semua yang hadir, "mengembalikan lagi kejayaan Wangsa Sailendra

Namun, ucapannya itu pun terasa begitu datar. Sungguh, hari ini, walau seharusnya menjadi hari terpenting baginya, benar-benar terasa begitu biasa. Seakan-akan hari ini akan terlalu begitu saja, tanpa tanda akan sesuatu yang besar....

Jauh sebelum hari itu, lebih dari dua puluh tahun yang lalu, sungguh, ada satu hari yangjuga terlahir tanpa tanda.

Semuanya seakan sangat biasa. Angin tak berembus, daun tak bergoyang, dan awan tak bergerak. Sungguh, sebuah hari yang begitu biasa, hari yang tak mungkin diingat. Namun, jauh dari tanah Telaga Batu, di Desa Tebu Nangga, kejadian tak biasa baru saja terjadi.

Desa yang hanya berisi tak lebih dari dua puluh keluarga itu, seakan sontak menghentikan seluruh kegiatannya. Mereka berduyun-duyun merubung sebuah rumah talang, atau rumah yang dibangun di atas tanah dengan bertumpu pada empat batang kayu kepala, yang terletak di ujung desa.

Di situlah, Bayak Kungga baru saja melahirkan seorang cucu. "Aren sudah beranak," seorang berujar dengan berbisik kepada seorang yang baru datang.

'Akan tetapi, anaknya tak biasa," tambah yang lain. Ya, bayi yang dilahirkan Aren Suwa, anak dari Bayak

Kungga, memang lahir tak biasa. Bayi itu bertangan tiga. Di pangkal tangan kanannya, tepat di bagian pundak, ada sebuah tangan kecil lainnya yang tampak tak bertulang.

Bayak Kungga hanya bisa memandang tak mengerti.

Berkali-kali disentuhnya tangan itu dengan tangannya yang kasar.

---ooo0dw0ooo---