Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 58

Jilid 58

Mahesa Jenar mengangguk lemah. Tanah ini adalah tanah yang subur, yang telah dipertahankan dengan darah dan air mata. Dirinya sendiri pun telah ikut serta memeras keringat untuk kepentingan tanah ini. Tanah yang subur, yang akan dapat memberikan kemakmuran dan kesejahteraan bagi rakyat dan penduduknya. Bahkan siapa yang bekerja keras, pasti akan dapat segera menikmati hasil dari jerih payahnya itu.

“Tetapi aku tidak dapat ikut serta” desis Mahesa Jenar didalam hati.

Timbullah didalam hatinya sesuatu yang tak pernah dipikirkannya. Kalau ia nanti akan membangun rumah tangga yang kuat, maka ia harus membuat tiang-tiangnya kuat pula. Diantaranya, bagaimana ia harus hidup sekeluarganya. Karena itu, maka sampailah Mahesa Jenar pada suatu kesimpulan. “Bekerja”.

“Ah” kembali ia berdesah di dalam hati, “Akhirnya aku sampai pada persoalan itu. Persoalan yang sangat pribadi. Persoalan yang hampir tak ada sangkut pautnya dengan pengabdian yang selama ini dilakukannya. Tetapi apakah dengan demikian maka segenap pengabdian harus terhenti?”

"Tidak” pertanyaan itu dijawabnya sendiri. “Aku akan dapat dan harus dapat melakukan kedua-duanya sekaligus. Mudah-mudahan Wilis akan dapat mengerti pula.”

Tiba-tiba teringatlah Mahesa Jenar itu kepada masa-masa lampaunya, masa-masa ia tinggal di istana Demak sebagai seorang prajurit. Dikenangnya pula beberapa orang kawan-kawannya yang pada saat itu telah berkeluarga pula. Katanya didalam hati, “Mereka dapat melakukan kedua-duanya. Pengabdian dan keluarga.”

“Tetapi tidak hanya didalam istana, atau didalam bidang-bidang itu kedua-duanya dapat dilakukannya sekaligus”, katanya pula.

“Disini, aku lihat rakyat Banyubiru melakukannya pula. Bekerja untuk keluarganya, namun mereka melakukan pengabdiannya untuk tanahnya. Membangun tanah ini. Tempat-tempat ibadah, banjar-banjar desa dan surau-surau tempat pendidikan lahir dan batin. Bekerja keras untuk kesejahteraan keluarganya dan kesejahteraan bersama.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar itu teringat pada ceritera Wanamerta tentang seorang bahu yang pernah mencoba menyuapnya dengan timang emas bertretes berlian. “Bukan itu”, desah Mahesa Jenar di dalam hatinya, “Bukan seperti bahu itu. Ia bekerja untuk diri sendiri, tetapi bukan untuk sebuah pengabdian . Justru ia menghisap hidup disekitarnya untuk kepentingannya. Dibiarkannya orang-orang disekitarnya kering, namun dirinya sendiri menimbun kekayaan tanpa batas.”

Namun bagaimana pun juga, Mahesa Jenar dihadapkan pada suatu kewajiban yang baru. Kuwajiban atas sebuah keluarga yang bakal disusunnya. Kuwajiban yang tidak kalah sucinya dari kuwajiban yang telah dilakukannya selama ini. Sebab dengan keluarga yang baik Yang Maha Esa telah mempergunakan untuk menangkar-lipatkan jumlah manusia di dunia untuk memelihara dan memanfaatkan ciptaan-Nya dengan baik.

Demikianlah, rombongan Sarayuda itu tinggal di Banyubiru untuk dua hari lamanya. Selama itu mereka telah melihat-lihat Banyubiru dengan baik. Apa yang dapat dilakukan di daerah Demang yang kaya raya itu, telah mereka pelajari, sedang apa yang baik bagi Banyubiru telah disarankannya pula.

Sehingga sampailah pada saatnya mereka meninggalkan Banyubiru. Dua hari kemudian, maka bersiaplah rombongan itu meninggalkan Banyubiru beserta Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Ki Ageng Gajah Sora dengan menyesal tak dapat ikut serta bersama mereka pergi ke Gunungkidul karena keadaan daerahnya yang masih harus mendapat pengawasannya. Kebo Kanigara terikat pada suatu kuwajiban yang tak dapat ditinggalkannya pula. Sedang Endang Widuri dengan penuh penyesalan terpaksa tidak dapat mengikuti Rara Wilis ke Gunungkidul. Pada saat-saat terakhir itu pun kemudian Arya Salaka memutuskan untuk tidak turut bersama gurunya, meskipun ada juga keinginan yang melonjak-lonjak.

Dalam kesempatan itu Ki Ageng Sora Dipayana dan Ki Ageng Lembu Sora pun telah memerlukan datang ke Banyubiru untuk menyampaikan ucapan selamat jalan kepada Mahesa Jenar. Orang yang aneh didalam tanggapannya. Orang yang hampir tak dapat dimengertinya, apakah yang telah menjadikannya seorang yang memiliki jiwa pengabdian yang sedemikian besarnya.

Sebelum matahari sepenggalah, maka rombongan itu telah bersiap untuk berangkat. Ternyata Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak hanya memerlukan dua ekor kuda untuk mereka. Seekor kuda yang lain, tanpa sepengetahuan mereka telah dipisahkan oleh Ki Ageng Gajah Sora. Dipunggung kuda itu terdapat sebuah beban yang tak diketahui isinya. Beban yang telah diatur oleh Nyi Ageng Gajah Sora bersama Nyi Ageng Lembu Sora.

Terharu juga Mahesa Jenar melihat kuda yang seekor itu tentu saja ia tidak dapat menolak untuk tidak menyakiti hati Ki Ageng Gajah Sora kakak beradik. Perpisahan itu merupakan perpisahan yang mengharukan. Meskipun mereka tahu, bahwa suatu ketika Mahesa Jenar akan kembali pula, namun seakan-akan mereka bertemu pada saat itu untuk terakhir kalinya. Apalagi Endang Widuri. Ketika kemudian Sarayuda minta diri dengan serta merta gadis itu berlari menghambur memeluk Rara Wilis.

Sambil menangis Widuri berkata, “Bibi, jangan pergi terlalu lama.”

Rara Wilis pun seorang gadis pula. Karena itu maka ia pun tidak dapat menahan air matanya. Apalagi ketika dilihatnya Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora pun menjadi berlinang-linang. Teringat pula oleh mereka berdua, pada saat-saat mereka berhadapan dengan Galunggung yang sedang dihinggapi oleh kegilaannya tentang pangkat dan kekayaan, sehingga hampir saja mereka berdua dibunuhnya. Untunglah pada saat itu Rara Wilis hadir diantara mereka, sehingga sebenarnyalah gadis itulah yang telah menyambung umurnya.

“Widuri” berkata Rara Wilis itu kemudian. “Perpisahan ini tidak akan terlalu lama. Bukankah kau segera akan menyusul kami ke Gunungkidul?” Endang Widuri mengangguk perlahan. Dipalingkannya wajahnya kepada ayahnya seakan-akan ia minta ketegasan daripadanya.

Sebenarnya Kebo Kanigara merasa kasihan juga kepada putrinya itu. Tetapi terpaksa ia tidak dapat mengijinkannya, karena ia sendiri tidak dapat pergi.

Anak itu adalah anak yang sangat nakal, sehingga betapapun juga, maka Kebo Kanigara itu tidak sampai hati melepaskannya tanpa pengawasannya. Apalagi nanti Mahesa Jenar dan Rara Wilis sedang disibukkan oleh persoalan mereka sendiri, maka Widuri akan sangat mengganggu mereka, dan kadang-kadang pasti akan lepas dari pengawasan. Karena itu, betapa pun juga, maka Kebo Kanigara berusaha untuk tetap melarang anaknya ikut serta.

Ketika anaknya itu berpaling kepadanya, maka katanya, "Ya Widuri. Segera kita akan menyusul ke Gunungkidul. Kemarin aku sudah mendapat ancar-ancar, kemana kita nanti harus pergi. Jalan mana yang harus kita tempuh, dari pamanmu Sarayuda. Kalau kau bersabar sedikit bukankah pamanmu Sarayuda bersedia untuk menjemputmu?"

Akhirnya Rara Wilis itupun dilepaskannya juga, meskipun tangisnya mash saja menyesakkan dadanya, sementara Mahesa Jenar menepuk punggung muridnya. "Kau sudah menjelang dewasa penuh Arya. Sudah seharusnya kau menyadari keadaanmu itu. Bekerja keras membantu ayahmu. Tak ada orang lain yang diharapkannya selain daripadamu."

Arya mengangguk sambil menjawab, "Ya paman".

Maka kemudian sampailah saatnya rombongan itu berangkat. Perpisahan yang mengesankan.

Rara Wilis masih melihat Endang Widuri berlari masuk ke gandok kulon, sedang kemudian Nyai Ageng Gajah Sora dan Nyai Ageng Lembu Sora menyusulnya. Sebuah salam yang erat sebagai tanda terima kasih yang tak ada batasnya, telah diberikan oleh Mahesa Jenar langsung, namun lebih daripada itu, Mahesa Jenar telah membentuk Arya Salaka menjadi harapan bagi masa datang.

Satu demi satu, maka kemudian keluarlah mereka dari halaman di atas punggung kuda masing-masing. Bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis perjalanan yang akan ditempuh itu terasa aneh. Perjalanan yang jauh berbeda dengan semua perjalanan yang pernah mereka lakukan. Kalau pada masa lampau mereka berjalan dengan penuh keprihatinan, maka perjalanan kali ini adalah perjalanan menunju ke hari-hari yang cerah. Namun karena itulah maka dada mereka menjadi berdebar-debar.

Setelah mereka meninggalkan halaman itu maka mulailah kuda mereka berjalan agak cepat. Beberapa orang melihat rombongan itu menganggukkan kepala mereka. Mereka memberikan hormat setulus-tulusnya kepada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Bahkan Ki Wanamerta, Jaladri, Bantaran dan Penjawi telah ikut serta dengan rombongan itu, mengantarkan sampai ke perbatasan kota. Bukan hanya mereka. Beberapa orang lain pun telah ikut pula, sehingga rombongan itu menjadi semakin panjang.

Di perbatasan kota mereka berhenti sesaat. Wanamerta yang tua itu memerlukan mengucapkan selamat jalan, mengucapkan terima kasih atas nama segenap rakyat Banyubiru dan ternyata orang tua yang telah menjadi hampir bulat kembali itu meneteskan air mata.

"Selamat tinggal paman" berkata Mahesa Jenar kemudian.

Wanamerta mengangguk. Ingin ia menjawab, namun suaranya tersangkut dikerongkongan.

Yang terdengar kemudian hanyalah sebuah jawaban pendek, "Ya, ya angger."

Mahesa Jenar itu pun kemudian meneruskan perjalanannya. Dimuka sendiri Demang Sarayuda mulai mempercepat jalan kudanya. Perjalanan mereka adalah perjalanan yang panjang. Namun mereka tidak usah takut terhadap siapa pun sehingga mereka tidak perlu memilih jalan-jalan yang tersembunyi. Atau mereka pun sama sekali tidak berkepentingan dengan apapun selama perjalanan mereka. Karena itulah maka perjalanan itu akan tidak terganggu.

Disepanjang jalan itu Rara Wilis telah mulai menganyam angan-angannya menjelang masa-masa yang akan datang. Hal yang lumrah bagi gadis-gadis yang akan menginjak masa-masa yang telah lama mereka tunggu-tunggu. Rara Wilis pun adalah seorang gadis biasa. Meskipun kadang-kadang dilambungnya tersangkut sebilah pedang, dan bahkan pedang yang telah berbekas darah, namun dalam saat-saat yang demikian ia adalah seorang gadis. Tidak lebih daripada itu. Karena itulah maka ia mendambakan masa yang berbahagia, masa yang bagi Rara Wilis sebenarnya telah terlalu lambat.

Sepeninggal Mahesa Jenar dan Rara Wilis terasa rumah Ki Ageng Gajah Sora menjadi sepi. Apalagi ketika Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana telah kembali ke Pamingit.

Namun meskipun demikian, kehadiran Endang Widuri di Banyubiru, masih dapat menyejukkan suasana rumah Ki Ageng Gajah Sora itu. Untuk menghilangkan kejemuannya Endang Widuri bekerja apa saja yang dapat dilakukannya. Menanami halaman, yang seakan-akan halamannya sendiri. Ikut menanam padi disawah. Menyiangi dan pekerjaan-pekerjaan lain. Sebagai seorang gadis Widuri senang juga membantu Nyai Ageng Gajah Sora didapur. Menyiapkan makan dan minuman.

Ki Ageng Gajah Sora pun masih mempunyai kawan bercakap-cakap. Kebo Kanigara, meskipun pada saat-saat terakhir Kebo Kanigara sering meninggalkan rumah, dan tak pernah ia berkata tentang apapun juga kepada putrinya. Widuri pun menyadari keadaanya. Ia merasa masih terlalu kecil untuk berbicara tentang masalah-masalah yang berat dengan ayahnya. Karena itu, maka jarang sekali Widuri bertanya-tanya tentang pekerjaan ayahnya. Gadis itu lebih senang bercakap-cakap dengan Arya Salaka di pendapa atau dengan Nyai Ageng Lembu Sora dibelakang

Meskipun demikian gadis itu tidak melupakan ilmu yang pernah dipelajarinya. Di saat- saat tertentu ia berlatih bersama Arya Salaka.

Mereka berdua memiliki sumber ilmu yang sama. Ilmu yang dipancarkan dari perguruan Pengging.

Namun sekali-kali gadis itu teringat pula kepada Rara Wilis. Karena itu, maka sekali-kali ia bertanya pula kepada ayahnya. “Ayah, apakah pekerjaan ayah masih belum selesai?”

Kebo Kanigara menggeleng, “Belum Widuri.” “Kapan kita menyusul bibi Wilis?”

“Sebentar lagi”, sahut ayahnya. “Sebentar lagi aku akan pergi ke Karang Tumaritis. Pamanmu Mahesa Jenar berpesan kepadaku, untuk atas namanya, mohon diri kepada Panembahan. Bukankah Panembahan telah berjanji untuk pergi ke Gunungkidul? Kau dengar juga bukan? Nah. Kalau demikian, sebaiknya kita pergi bersama dengan Panembahan kelak.”

Dengan kesanggupan itu hati Widuri terhibur pula sedikit. Tetapi dalam pada itu, ia heran juga, apa sajakah yang dilakukan oleh ayahnya di Banyubiru? Namun Kebo Kanigara tak pernah menyebut-nyebutnya. Dan Widuripun tidak bertanya-tanya pula.

WIDURI HILANG

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang menggemparkan Banyubiru yang belum beberapa lama mengalami ketenangan kini telah diguncangkan kembali dengan suatu peristiwa yang tak disangka-sangka sama sekali.

Pada hari itu, segenap kentongan tanda bahaya menggema di lerang bukit Telamaya. Tanda bahaya yang benar-benar mengejutkan setiap orang. Mereka tidak melihat tanda- tanda apapun yang terjadi, namun tiba-tiba mereka mendengar tanda bahaya itu. Sesaat kemudian mereka melihat, beberapa orang penunggang kuda berlari-lari memacu kudanya kesegenap penjuru. Bahkan Arya Salaka sendiri seperti orang yang menjadi gila.

Gajah Sora, Kebo Kani gara, Wanamerta, Bantaran, Penjawi, Jaladri dan semua laskar di Banyubiru memencar di atas kuda masing-masing.

“Apakah yang terjadi?” bertanya seseorang.

Orang yang ditanyanya menggelengkan kepalanya. Meskipun demikian wajahnya menjadi pucat pula. “Entahlah.” Baru sesaat kemudian, ketika mereka melihat seorang berkuda berlari dihadapan mereka, maka berteriaklah mereka itu, “Ada apa?” “Endang Widuri hilang.”

“He”, tetapi orang berkuda itu telah jauh. Dua orang yang lain menyusul pula dibelakang orang berkuda yang pertama. Tetapi kepada orang itu pun mereka tidak sempat bertanya apa-apa.

Nyai Ageng Gajah Sora pada saat itu menangis di dalam biliknya. Gadis itu bukan anaknya, tetapi benar-benar seperti anak gadis yang telah dilahirkannya sendiri. Gadis itu memang nakal, tetapi menyenangkan.

Banyak hal-hal yang menarik dilakukan oleh gadis itu. Apabila tak seorang pun yang ada, pada saat Nyai Ageng membutuhkan beberapa butir kelapa, maka dengan tangkasnya gadis itu memanjatnya. Bahkan sampai batang yang paling tinggi sekalipun.

Namun gadis itu pandai juga memasak dan bercerita. Pandai menjahit dan pandai juga berdendang. Namun tiba-tiba gadis itu hilang.

Di hadapan Nyai Ageng Gajah Sora itu duduk bersimpuh seorang gadis pula. Gadis itu juga menangis seperti Nyai Ageng. Dan dari gadis itulah Banyubiru mendengar berita tentang hilangnya Widuri. Nyai Ageng Gajah Sora, sambil mengusap air matanya berkata, "Apakah tak ada orang lain di belumbang itu?"

Gadis itu menggeleng, "Tidak Nyai Ageng. Waktu aku datang, aku sempat mendengar ceritanya. Ketika aku berlari-lari menengoknya, aku hanya melihat bayangan seorang anak muda memapahnya berlari masuk ke dalam semak-semak."

Nyai Ageng Gajah Sora termenung sejenak. Adalah aneh sekali, bahwa hal itu dapat terjadi. Widuri bukanlah gadis biasa seperti gadis yang bersimpuh di hadapannya itu. Widuri adalah seorang gadis yang memiliki beberapa macam keanehan. Gadis itu mampu berkelahi seperti laki-laki. Bahkan melampaui kemampuan seorang laskar Pamingit yang dapat dianggap kuat, Galunggung. Kenapa ia tidak memukul saja anak muda yang menculiknya itu?

Berbagai persoalan melingkar-lingkar didalam dadanya. Heran, kecewa menyesal dan berpuluh-puluh persoalan yang lain.

"Apakah kau dapat mengira-irakan, kemana Endang Widuri itu dibawa?" bertanya Nyai Ageng itu pula. Gadis itu menggeleng, "Aku tidak tahu Nyai. Namun aku melihat mereka menyusup ke arah Timur. Tetapi untuk seterusnya aku tidak tahu, sebab aku langsung berlari memberitahukannya kemari."

Nyai Ageng Gajah Sora menarik nafasnya. Dalam kegelapan nalar Nyai Ageng hanya dapat menangis.

Ki Ageng Gajah Sora pun menjadi marah bukan buatan. Gadis itu hilang di dalam wilayahnya. Endang Widuri baginya adalah seorang tamu. Karena itu, maka ia merasa bertanggungjawab pula atas kehilangan itu.

Dengan menggeratakkan giginya, Ki Ageng Gajah Sora memacu kudanya pergi ke belumbang yang sebenarnya tidak begitu jauh. Demikian ia sampai di belumbang, demikian ia meloncat turun, di ikuti oleh Arya Salaka dan Kebo Kanigara sendiri, disamping beberapa orang lain. Tanpa mendapat perintah segera mereka memencar diri, mengamat-amati setiap pertanda yang mungkin dapat dijadikan alasan untuk mengetahui, siapakah yang telah melakukan perbuatan itu.

Di belumbang itu masih tinggal beberapa potong pakaian Endang Widuri yang belum sempat dicucinya. Beberapa helai telah dicelupkannya ke dalam air, sedang beberapa helai yang lain masih kering terletak di tepian.

“Anak itu tidak banyak mendapat kesempatan,” desis Gajah Sora. Kebo Kanigara memandangi pakaian anaknya dengan mata yang suram. Namun mulutnya terkatub rapat- rapat. Tak sepatah kata pun yang diucapkannya. Dengan tangan yang gemetar ia berjongkok, meraih pakaian-pakaian anaknya itu, dan kemudian dimasukkannya kedalam bakul. Perlahan-lahan kemudian terdengar ia bergumam, “Biarlah pakaian Widuri ini aku simpan baik-baik. Aku yakin, pada suatu saat ia akan kembali lagi kepadaku.”

Mendengar kata-kata Kebo Kanigara itu Gajah Sora hanya dapat menarik nafas. Namun terucapkan janji didalam hatinya, bahwa kekuatan yang ada di Banyubiru harus mampu menyerahkan anak itu kembali kepada ayahnya.

Arya Salaka kemudian tidak mau merenung-renung lebih lama di tepi belumbang itu. Ia telah mendengar pula, bahwa Widuri di bawa menyusup ke arah timur. Karena itu, maka ia pun mencoba melihat arah yang dikatakan itu. Di amat-amatinya setiap jengkal tanah, mungkin ia akan dapat menemukan jejak. Hati Arya Salaka terlonjak ketika benar-benar ditemukannya jejak itu. Jejak yang benar-benar masuk ke dalam gerumbul ke arah Timur. Karena itu dengan hati-hati ia mengikuti jejak itu.

Namun alangkah kecewanya anak muda putera Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru itu. Jejak itu hanya dapat di ikuti beberapa langkah. Kemudian hilang di atas rerumputan yang liar. Betapa pun Arya Salaka mencoba mencarinya, namun sia-sia saja.

Arya Salaka itu pun kemudian menyusup lebih dalam lagi. Ia kini mencari jejak pada ranting-ranting di sekitarnya. Sekali ia melihat sebuah ranting yang patah. Namun kembali ia kehilangan kesempatan untuk mengikutinya. “Setan”, desis Arya Salaka yang benar-benar menjadi gemetar karena marah.

Namun ia tidak tahu, bagaimana ia akan menumpahkan kemarahannya. Karena itu, direnggutnya setiap dahan, ranting dan apa saja yang teraba oleh tangannya. Ketika Arya Salaka itu sudah yakin, bahwa tidak akan diketemukan tanda-tanda yang dapat menunjukkan jalan kemana mereka harus mencari, maka segera Arya meninggalkan belumbang itu langsung meloncat di atas kudanya. Dengan kecepatan penuh, Arya berpacu ke arah timur. Tetapi ia tidak tahu pasti, kemana ia harus pergi. Ia pergi demikian saja karena gelora di dalam dadanya, tanpa diketahuinya arah yang pasti. Demikian juga para pemimpin dan laskar Banyubiru yang lain. Mereka berpacu ke segenap arah. Namun mereka pun hanya sekadar mencoba mencari kemungkinan untuk melihat atau menemukan gadis yang hilang tanpa pegangan yang pasti. Mereka itu sedang berusaha mencari yang hilang tanpa petunjuk-petunjuk sama sekali. Karena itu alangkah sulitnya.

Sehari itu, seluruh daerah Banyubiru telah di aduk oleh laskar Banyubiru. Hampir setiap orang turut serta dalam pencaharian itu. Namun Endang Widuri tidak dapat diketemukan. Gadis itu seakan-akan hilang di telan oleh retak tanah perdikan Banyubiru. Bahkan tidak saja kota Banyubiru, namun para penunggang kuda telah jauh menjorok ke segenap arah. Namun usaha mereka sia-sia belaka. Arya Salaka sendiri bersama beberapa orang telah sampai ke daerah Rawa Pening. Di obrak-abriknya daerah bekas sarang Uling Putih dan Uling Kuning, seandainya ada sisa-sisa gerombolan itu yang sengaja membuat Banyubiru kacau. Namun Endang Widuri tidak ada di sana, dan tak diketemukannya pertanda, bahwa tempat itu masih didiami orang.

Malam itu, para pemimpin Banyubiru berkumpul di pendapa rumah Ki Ageng Gajah Sora. Peristiwa hilangnya Widuri bagi Banyubiru tidak dapat di anggap sebagai suatu persoalan yang kecil. Pesoalan itu sama besarnya dengan hadirnya golongan hitam di tanah mereka. Karena itu maka setiap kekuatan yang ada harus dikerahkan untuk memecahkan peristiwa itu. Namun tak seorang pun yang dapat mengemukakan pendapat mereka tentang hilangnya Endang Widuri. Mereka diliputi oleh suasana yang gelap pekat. Tak ada setitik api pun yang dapat memberi petunjuk kepada mereka, tentang persoalan yang menggemparkan itu.

Dalam ketegangan itu terdengar Arya Salaka berdesis, “Peristiwa ini benar-benar memalukan tanah perdikan ini ayah. Karena itu, maka Endang Widuri harus diketemukan segera.”

Ayahnya mengangguk-anggukkan kepalanya. Gajah Sora dan bahkan beberapa orang lain mengetahui bahwa Arya Salaka tidak saja tersinggung kehormatan atas hilangnya tamunya itu, namun jauh lebih daripada itu. Hampir setiap orang di pendapa itu mengetahuinya, bahwa Arrya Salaka dan Endang Widuri agaknya telah masuk ke dalam suatu ikatan dan tidak dapat dirumuskan oleh mereka yang mengalaminya. Karena itu, maka adalah wajar sekali kalau Arya Salaka benar-benar menjadi sangat marah dan bingung.

“Aku sependapat dengan kau Arya”, jawab ayahnya. “Kini kita sedang mencari setiap kemungkinan untuk itu.”

“Apa pun yang akan terjadi, kita harus menemukannya kembali.” sahut Arya pula.

“Ya. Tentu,” berkata ayahnya pula. Namun terbayang di wajahnya Ki Ageng Gajah Sora keragu-raguan yang menggelisahkan. Kemana harus dicari anak itu? Sejak pagi, Ki Ageng Gajah Sora telah memerintahkan beberapa orang yang pergi ke Pamingit. Memberitahukan kehilangan itu kepada Ki Ageng Lembu Sora dan Ki Ageng Sora Dipayana. Dan ternyata, Pamingit pun telah menjadi gelisah pula. Senja itu telah datang utusan Ki Ageng Lembu Sora untuk menanyakan apakah Endang Widuri sudah diketemukan.

Dan utusan itu pun kembali dengan membawa berita, bahwa persoalan Widuri masih gelap.

Dalam kegelapan pikiran, tiba-tiba Arya Salaka teringat kepada gurunya, Mahesa Jenar. Meskipun ia kini telah berhadapan dengan berpuluh-puluh orang, dan bahkan ada di antara mereka, ayahnya dan Kebo Kanigara, ayah gadis itu, namun ada sesuatu yang menyentuh perasaannya, bahwa gurunya akan dapat membantunya. Mahesa Jenar bagi Arya Salaka merupakan tempat untuk berlindung hampir enam tahun lamanya. Tempat Arya Salaka menggantungkan hidup matinya dalam masa-masa yang berbahaya. Karena itu, hampir dalam semua kesulitan, Arya selalu teringat kepada gurunya itu.

“Ayah, aku akan berusaha memberitahukan kehilangan ini kepada paman Mahesa Jenar.”

Ki Ageng Gajah Sora mengangkat wajahnya. Dilihatnya Kebo Kanigara pun terkejut mendengar kata-kata Arya itu, sehingga kemudian katanya,

“Jangan Arya. Jangan mengganggu pamanmu itu.”

Ki Ageng Gajah Sora ternyata sependapat pula dengan Kebo Kanigara. Karena itu maka ia berkata pula, “Ya, Arya. Biarlah pamanmu Mahesa Jenar beristirahat. Selama ini hampir-hampir seluruh hidupnya telah dicurahkan untuk kepentingan orang lain. Kepentingan kita. Karena itu, maka biarlah kali ini pamanmu Mahesa Jenar tidak terganggu. Biarlah kita yang berada di Banyubiru ini berusaha sekuat-kuat tenaga kita. Tetapi kita sudah berjanji kepada diri sendiri bahwa Endang Widuri harus diketemukan.”

Arya Salaka menundukkan wajahnya. Tetapi ia tidak puas dengan jawaban-jawaban itu. Betapa pun juga, maka dalam kesulitan ini, ia akan merasa lebih tenang apabila gurunya ada disampingnya.

Kebo Kanigara melihat perasaan yang tergores di hati Arya Salaka. Maka katanya, “Arya. Marilah kita mencoba menyelesaikan masalah ini. Sebenarnya aku sendiri sangat gelisah atas hilangnya Endang Widuri. Tetapi kita bukanlah orang-orang yang hanya dapat meratap. Aku sendiri sudah tentu akan berusaha untuk menemukan anak itu. Dan aku akan berterima kasih seandainya Ki Ageng Gajah Sora, beserta kekuatan-kekuatan yang ada di Banyubiru untuk membantunya. Namun dengan sepenuh hati aku tidak pernah meletakkan kesalahan ini kepada orang lain. Apalagi kepada Banyubiru sebab hal yang demikian itu akan dapat terjadi, kapan saja dan dimana saja. Karena itu, jangan terlalu menyalahkan diri sendiri dan Banyubiru." Arya Salaka masih belum menjawab. Dicobanya untuk mencari alasan yang sebaik- baiknya, agar orang-orang lain tidak mau mengerti, kenapa ia berkepentingan akan hadirnya Mahesa Jenar.

Sebenarnya Arya Salaka pun menyadari, apa yang dapat dilakukan oleh gurunya itu. Gurunya tidak melihat pada saat Endang Widuri itu hilang. Kalau Kebo Kanigara, ayah gadis itu sendiri yang sedang berada di Banyubiru, tidak segera dapat menemukannya, apalagi Mahesa Jenar. Arya Salaka itu tahu pasti, bahwa tingkat kesaktian gurunya tidak akan dapat melampaui Kebo Kanigara itu. Meskipun demikian, perasaannya selalu mendesaknya supaya memberitahukan peristiwa itu kepada gurunya.

Pendapa Banyubiru itu sesaat menjadi hening sepi. Angin malam yang lembut menggerakkan daun-daun sawo di halaman. Dikejauhan terdengar lamat-lamat suara anjing liar di lereng-lereng bukit sedang berjuang berebut makanan.

Melihat daun-daun sawo itu yang bergerak-gerak itu, tiba-tiba bulu kuduk Wanamerta berdiri. Meskipun ia tidak takut, namun apabila teringat bahwa ia pernah melihat daun- daun itu bergetar, dan kemudian terjunlah seseorang yang menamakan dirinya Wadas Gunung, hatinya masih saja berdesir.

Untunglah bahwa kekuasaan Yang Maha Kuasa ternyata telah menyelamatkan Banyubiru.

Dalam keheningan itulah kemudian terdengar Arya Salaka berkata perlahan-lahan, namun jelas terdengar kata demi kata. “Ayah. Aku tidak ingin mengganggu paman Mahesa Jenar. Aku sudah cukup menerima perlindungan dan bahkan apa saja yang ada pada paman Mahesa Jenar itu. Ilmunya dan ajaran-ajaran yang sangat berguna. Tetapi karena itulah barangkali yang telah mengikat aku dalam satu sikap, seakan-akan semuanya tergantung kepada paman Mahesa Jenar. Kalau kali ini aku masih akan memberitahukan hilangnya Endang Widuri kepada paman Mahesa Jenar, maka hal itu pasti juga karena terpengaruh oleh perasaanku itu. Tetapi seandainya demikian, seandainya aku masih harus mengganggu guru, mudah-mudahan kali ini untuk yang terakhir kalinya. Dan biarlah aku hanya sekadar memberitahukan akan kehilangan itu. Kalau paman Mahesa Jenar masih belum sempat berbuat sesuatu, biarlah guru tidak usah datang ke Banyubiru.”

Ki Ageng Gajah Sora menarik nafas dalam-dalam. Ia dapat merasakan apa yang sedang bergolak didalam dada anak itu. Anak itu pasti akan merasa bersalah kelak, apabila gurunya bertanya kepadanya, kenapa hal itu tidak diberitahukannya. Karena itu, maka akhirnya Ki Ageng Gajah Sora itu berkata.

“Arya. Kalau kau akan memberitahukan kepada pamanmu, baiklah. Tetapi ingat, hanya sekadar memberitahukan. Jangan sekali-kali kau mengharap pamanmu itu datang kemari apabila tidak atas kehendaknya sendiri.” Arya kemudian mengangkat wajahnya. Ia menjadi bergembira mendengar jawaban ayahnya. Dengan gurunya setidak-tidaknya nasehatnya, Arya merasa, bahwa kekuatannya akan bertambah. Namun di samping itu timbul pula perasaan malunya, bagaimana nanti kalau gurunya itu menganggap bahwa ia masih saja tidak mampu berbuat sendiri. Tetapi kali ini ia memandang kejadian itu sangat pentingnya. Endang Widuri telah melakukan banyak hal dalam lingkungan bersama dengan gurunya dan Rara Wilis. Maka mau tidak mau, pasti ada sesuatu ikatan yang menghubungkan mereka. Sehingga tidaklah akan berlebihan apabila hal itu diberitahukannya kepada gurunya.

Namun Kebo Kanigara agaknya menjadi kecewa atas keputusan Ki Ageng Sora Dipayana. Dengan nada yang rendah ia berkata, "Ki Ageng, aku akan sangat berterima kasih atas segala susah payah yang telah Ki Ageng lakukan. Tidak saja pada saat-saat anakku satu-satunya itu hilang. Tetapi selama ini, aku telah mendapat tempat yang sangat baik di Banyubiru. Karena itu tidak sewajarnya kalau aku akan selalu terus menerus membebani Ki Ageng dengan persoalan-persoalanku. Kini persoalan hilangnya Widuri. Juga terhadap Mahesa Jenar yang selama ini hampir tidak pernah dapat menikmati hari- hari yang tenang. Karena itu, biarlah aku mencoba untuk mencarinya. Tanpa mengurangi penghargaan atas segala bantuan Ki Ageng, namun adalah menjadi bubuhanku bahwa Endang Widuri harus diketemukan."

"Tidak paman," tiba-tiba Arya menyahut. "Tidak saja paman, tetapi kami, kita semua kebubuhan mencarinya. Juga paman Mahesa Jenar, wajib diberitahu atas peristiwa ini."

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan terdengarlah Ki Ageng Gajah Sora menyambung, "Arya benar, kakang Kebo Kanigara. Apa yang kami lakukan adalah kewajiban, disamping sebagai pernyataan terima kasih atas apa saja yang pernah kakang lakukan di Banyubiru dan Pamingit. Dan apa yang pernah dilakukan oleh Endang Widuri sendiri."

Kebo Kanigara sudah barang tentu tidak dapat menolak uluran tangan itu. Maka jawabnya, "Terima kasih Ki Ageng."

Sekali lagi pendapa itu diterkam oleh kesepian. Sekali-kali Wanamerta melihat daun- daun sawo bergoyang-goyang. Dan sekali lagi dadanya berdesir karenanya. Tetapi ketika ia melihat daun-daun yang lain pun bergoyang pula, maka katanya di dalam hati, "Hem. Angin yang nakal telah menggodaku."

Dalam keheningan itu tiba-tiba mereka mendengar derap kuda di antara desir angin malam. Beberapa orang yang mendengar suara itu segera mengangkat wajah mereka. Dan mereka sependapat bahwa suara itu adalah suara serombongan orang-orang berkuda yang telah memasuki alun-alun.

Namun karena mereka tidak mendengar suara kentongan dan tanda-tanda yang lain, maka suasana di pendapa itu masih tetap dalam ketenangan.

Beberapa saat kemudian, para penjaga regol telah menghentikan beberapa ekor kuda yang akan memasuki halaman. Namun ketika mereka melihat para penumpangnya, maka mereka segera menganggukkan kepalanya sambil mempersilakan para penunggang kuda itu untuk masuk.

"Siapa?" terdengar Ki Ageng Gajah Sora bertanya.

"Ki Ageng Lembu Sora beserta beberapa orang pengiringnya," sahut orang yang berdiri di dalam gardu.

"Oh", desis Ki Ageng. Dan orang-orang yang berada di pendapa itu pun segera berdiri menyambut kedatangan tamu-tamu mereka.

Sebelum duduk, Ki Ageng Lembu Sora sudah bertanya, "Bagaimana dengan Endang Widuri?"

Ki Ageng Gajah Sora menggeleng, "Belum kami ketemukan."

"Hem" terdengar seseorang menggeram. Ketika Ki Ageng Gajah Sora berpaling kepada orang itu, maka dilihatnya Wulungan menggigit bibirnya. Bahkan kemudian ia berguman, "Angger Widuri telah menyelamatkan aku . Ketika Adi Galunggung menjadi gila dan menaburkan pasir kemataku pada saat kami berkelahi, maka nyawaku telah berada di ujung pedangnya. Namun untunglah, angger Widuri berhasil mencegahnya, sehingga akhirnya aku pun selamat."

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Dan dipersilakan tamunya duduk di pendapa itu pula.

Pembicaraan tentang Widuri menjadi semakin riuh. Semua orang di pendapa bertekad untuk menemukannya. Bahkan Ki Ageng Lembu Sora berkata, "Aku dapat mengerahkan setiap orang di Pamingit untuk ikut serta mencarinya, kakang."

"Terima kasih" jawab Ki Ageng Gajah Sora.

Tetapi Kebo Kanigara masih saja menundukkan kepalanya. Pembicaraan yang didengarnya tentang anaknya benar-benar telah mengharukannya, sehingga malahan ia tidak dapat berkata apa-apa tentang itu.

Beberapa orang yang sempat menatap wajahnya menjadi terharu pula. Widuri adalah satu-satunya kawan hidupnya. Bahkan hidupnya sendiri agaknya tidak sedemikian menarik dibanding dengan hidup anaknya itu. Anak satu-satunya yang akan dapat menjadi penyambung masa depannya. Namun tiba-tiba anak itu hilang. Hilang seperti tenggelam dalam kekelaman malam.

Malam itu orang-orang yang berkumpul di pendapa Banyubiru, sama sekali tidak dapat menarik kesimpulan apa pun tentang hilangnya Endang Widuri. Namun mereka tidak dapat menolak, bahwa besok Arya Salaka akan mengirim utusan ke Gunungkidul untuk memberitahukan hilangnya Endang Widuri dari Banyubiru.

Malam itu pun berjalan menurut ketentuannya sendiri, sama sekali tidak menghiraukan kerisauan hati Arya Salaka yang berputar-putar di dalam biliknya. Betapa hatinya menjadi gelisah, marah dan bermacam perasaan lagi bercampur baur di dalam dadanya. Karena itu, maka ia sama sekali tidak dapat memejamkan matanya. Angan-angannya hilir mudik tidak tentu arah. Siapakah yang akan dipersalahkan atas hilangnya Widuri.

"Seandainya aku tahu siapa yang mengambilnya, maka baginya tak ada ampun lagi. Aku bunuh dengan tanganku." Anak muda itu menjerit di dalam hatinya. Tapi tak seorang pun yang dapat memberitahukan kepadanya, siapakah yang telah mengambil Endang Widuri.

Akhirnya Arya Salaka itu tidak betah lagi tersekap di dalam biliknya. Perlahan-lahan ia berjalan keluar. Lewat longkangan gandok kulon Arya muncul di pintu butulan.

Tiba-tiba Arya Salaka itu berdesir. Dilihatnya sesosok bayangan bergerak di halaman belakang rumahnya. Cepat seperti kilat anak muda itu meloncat memburu ke arah bayangan itu. Namun sesaat ia kehilangan jejaknya.

Tetapi Arya Salaka adalah seorang anak muda yang terlatih dalam menghadapi segala macam persoalan. Cepat ia berjongkok dan memasang telinganya baik-baik. Namun ia masih belum mendengar sesuatu.

Alangkah terkejutnya hati anak muda itu, ketika tiba-tiba ia melihat bayangan yang dikejarnya, telah meloncat pagar halamannya yang cukup tinggi itu.

"Gila" desisnya. Terdengarlah giginya gemeretak karena marah. Tetapi ia tidak mau kehilangan bayangan itu, meskipun disadarinya, bahwa tidak semua orang dapat berbuat serupa itu. Meloncat pagar yang sedemikian tingginya hampir tanpa bersuara adalah suatu pekerjaan yang sulit. Karena itu, maka segera ia pun berlari ke arah bayangan itu dan meloncat pula ke atas dinding. Ia masih melihat bayangan itu berlari sepanjang dinding halaman dan kemudian masuk menyuruk ke dalam rimbunnya semak-semak.

Meskipun demikian Arya pun berlari menyusulnya. Sesaat ia masih dapat mengikutinya dituntun oleh suara desah langkah bayangan itu serta batang-batang yang terdengar. Bahkan akhirnya Arya sempat melihat orang itu meloncati parit dan berlari ke tengah- tengah rumpun bambu.

Dengan segenap kemampuan yang ada padanya, maka Arya mempercepat larinya. Diterobosnya rimbunnya rumpun-rumpun bambu itu tanpa menghiraukan apa saja yang dapat terjadi atasnya. Tetapi kali ini ia gagal. Bayangan itu seakan-akan lenyap begitu saja di tengah-tengah rumpun bambu itu.

Dengan penuh kemarahan Arya mencarinya, menghentak-hentakkan setiap batangnya, bahkan beberapa batang telah dipatahkannya dengan suara yang berderak-derak. Namun bayangan itu benar-benar telah hilang. Suara berderak bambu-bambu patah itu, telah mengejutkan beberapa orang disekitarnya. Bahkan ada pula di antara mereka yang keluar rumah dengan obor-obor di tangan.

Ketika Arya Salaka melihat obor-obor itu, maka terdengarlah ia berteriak. "Bawa obor itu kemari."

"Siapa kau?" orang yang membawa obor itu bertanya. "Arya Salaka" sahut Arya.

"Oh, kaukah itu ngger"

Orang yang membawa obor itu kemudian berlari-lari ke arah suara Arya Salaka. Orang itu terkejut melihat Arya berada di tengah-tengah rumpun bambu-bambu di malam yang gelap. Karena itu maka dengan serta merta orang itu bertanya. "Hem ngger. Kenapa angger berada di dalam rumpun bambu di malam buta? Apakah angger tadi di gondol wewe?"

Arya menggeram, "Omong kosong. Aku tidak dicuri oleh kunthilanak itu. Aku sedang mencari seseorang. Berikan obormu itu."

Orang itu ragu-ragu sejenak. Apakah betul Arya Salaka yang berdiri di tengah-tengah rumpun bambu itu.?

Karena orang itu tidak mau mendekat, maka dengan jengkelnya Arya Salaka meloncat dari rumpun itu dan merampas obor yang masih menyala-nyala sambil berkata, "Aku bukan anak gendruwo. Aku Arya Salaka."

Kemudian tidak hanya orang itu saja yang keluar dari rumahnya. Suara Arya Salaka mengumandang dari rumah yang satu menyusup ke dinding rumah yang lain. Karena itulah maka di bawah rumpun bambu itu kemudian menjadi ribut. Beberapa orang bertanya-tanya, apakah yang sedang dicarinya.

"Orang" jawab Arya. "Aku mengejar seseorang yang memasuki halaman rumahku. Ia bersembunyi di dalam rumpun bambu ini. Tetapi tiba-tiba orang itu hilang."

Beberapa orang kemudian mengucapkan kata-kata yang tidak jelas di dalam mulutnya sambil gemetar. Bahkan salah seorang berbisik, “Itu adalah Kiai Jenggot ngger. Jangan dicari lagi.”

“Bohong. Aku melihatnya di halaman rumahku. Bukan Kiai Jenggot. Tetapi seseorang.”

Berita itu pun kemudian menjalar sampai ke gardu penjagaan regol rumah Arya Salaka, dan penjaga gardu itu melaporkannya ke Ki Ageng Gajah Sora. Tetapi yang terbangun kemudian tidak saja Ki Ageng Gajah Sora , namun juga Ki Ageng Lembu Sora, beberapa orang pengiringnya dan Kebo Kanigara. Mereka bersama-sama pergi, ke rumpun bambu di mana orang yang dikejar oleh Arya Salaka itu melenyapkan dirinya.

Sesaat kemudian di bawah rumpun bambu itu telah menyala lebih dari sepuluh buah obor. Semua orang berusaha untuk ikut mencari orang yang telah bersembunyi di bawah rumpun bambu itu. Tetapi orang itu tidak dapat diketemukan.

“Aneh” desis Arya Salaka. “Aku telah mengejarnya, sedang jarak kita menjadi semakin dekat. Aku pasti, bahwa orang itu menyusup ke dalam rumpun ini, namun tiba-tiba ia telah hilang.”

Semua orang menjadi tegang. Apakah perisitwa ini ada hubungannya dengan hilangnya Widuri? Tetapi kalau demikian, maka apalagi yang akan dicarinya di rumah Ki Ageng Gajah Sora?

Tanpa mereka sengaja maka sebagian dari mereka segera menghubungkan peristiwa itu dengan hal-hal yang gaib, yang tidak dapat dikupas dengan nalar. Tetapi Ki Ageng Gajah Sora, Lembu Sora, Wanamerta segera menghubungkannya dengan keris-keris Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten.

“Apakah masih ada yang menyangka bahwa keris-keris itu berada di Banyubiru?” berkata mereka di dalam hati mereka. “Seandainya demikian, siapakah yang masih akan mencoba mencurinya?”

Yang paling mungkin adalah mereka, sisa-sisa dari gerombolan hitam yang masih belum punah benar. Tetapi di antara mereka, sudah tidak ada seorang pun yang akan mampu mengganti kedudukan pemimpin-pemimpin mereka. Kecuali apabila ada pendatang- pendatang baru yang akan merebut kedudukan golongan itu.

Setelah puas mereka mencari, dan ternyata mereka tidak menemukan apa-apa, maka segera mereka kembali ke rumah Ki Ageng Gajah Sora. Sedang beberapa orang di sekitarnya kembali pula ke rumah-rumah masing-masing sambil bergumam. “Hem, Kiai Jenggot itu kini mengganggu lagi.”

Kembali di pendapa Banyubiru, beberapa orang berkumpul membicarakan keanehan yang baru saja di lihat oleh Arya Salaka. Dalam kesibukan pembicaraan itu, maka berkatalah Ki Ageng Gajah Sora. “Arya, apakah kau benar-benar melihat seseorang, atau hanya karena hatimu yang sedang gelap itu saja, maka kau seolah-olah melihat seseorang di halaman ini?”

“Aku melihat sebenarnya ayah”, jawab Arya. Namun tiba-tiba ia menjadi ragu-ragu. Tetapi ia merasa bahwa ia melihat seseorang.

Melihat keragu-raguan itu, maka berkatalah Ki Ageng Gajah Sora, “Atau sebuah mimpi yang buruk?” Arya menggigit bibirnya. Namun kemudian ia berkata. “Marilah kita lihat.”

Arya tidak menunggu jawaban dari siapa pun. Segera ia turun ke halaman dan menyuruh beberapa orang penjaga menyalakan obornya.

Ayahnya, pamannya, Kebo Kanigara dan orang-orang lain segera mengikutinya. Mereka pergi ke halaman belakang dengan obor ditangan. Beberapa saat kemudian terdengar Arya itu berteriak. “Inilah ayah. Lihatlah bekas-bekasnya. Apakah hanya bekas kakiku sendiri?”

Semua orang kemudian mendekatinya. Di bawah dinding mereka melihat beberapa berkas bekas kaki. Seberkas adalah kaki Arya Salaka, sedang beberapa langkah di sampingnya diketemukan pula seberkas telapak kaki. Salah satu dari berkas-berkas itu adalah kaki orang yang dikejarnya.

Semuanya mengangguk-anggukkan kepalanya. Mereka kini percaya bahwa seseorang telah memasuki halaman ini tanpa diketahui, meskipun Gajah Sora untuk sementara masih perlu menempatkan beberapa orang penjaga di sekitar rumahnya.

“Aneh” gumam mereka. Dan sebenarnyalah bahwa hal itu sangat mengherankan beberapa orang penjaga di sekitar rumahnya.

Malam itu, kemudian hampir tak seorang pun dari mereka yang berada di pendapa, sempat untuk pergi tidur. Mereka mondar-mandir saja kesana kemari. Meskipun kemudian Lembu Sora masuk juga ke gandok wetan, namu orang itu tidak juga dapat tidur. Sedang Kebo Kanigara masih belum beranjak dari tempatnya di pendapa Banyubiru. Hanya kini ia duduk bersandar tiang. Pandangan matanya jauh menyusup ke dalam gelapnya malam, menyentuh ujung pepohonan di kejauhan. Gelap. Malam itu semakin gelapnya. Ketika ia melihat Arya Salaka naik ke pendapa dan duduk di sampingnya, maka terdengar Kebo Kanigara itu bertanya lirih. “Kenapa kau tidak membangunkan seorang pun Arya.”

Arya duduk dengan gelisahnya. Kemudian jawabnya, “Aku tergesa-gesa paman. Aku lupa segala-galanya. Aku hanya mengharap untuk dapat menangkapnya.”

“Orang itu bukan orang kebanyakan. Sangat berbahaya bagimu Arya. Siapa tahu ia memiliki sesuatu yang lebih berbahaya dari Sasra Birawa.”

Arya menundukkan kepalanya. Kata-kata Kebo Kanigara ittu dapat dimengertinya. Namun ia benar-benar tidak mendapat kesempatan untuk berbuat banyak.

Demikianlah malam itu Banyubiru diliputi oleh suasana yang aneh. Mirip dengan suasana yang pernah mereka alami sebelum Arya Salaka hilang dari lingkungan rakyat Banyubiru. Demikian pula suasana di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Dahulu mereka juga berjaga di pendapa itu. Dahulu mereka duduk dengan kesiagaan penuh di pendapa, di luar pendapa bahkan beberapa orang berjaga-jaga di halaman belakang. Namun keris-keris yang mereka simpan ternyata lenyap pula.

Gajah Sora menarik nafas. “Hem”, desahnya “Waktu itu ternyata Panembahan Ismaya berusaha menyelamatkan pusaka-pusaka itu. Tetapi sekarang siapa? Apakah Panembahan itu pula?”

Gajah Sora itu menggeleng dengan sendirinya Panembahan Ismaya tidak akan membuat mereka menjadi bingung lagi tanpa maksud-maksud tertentu yang tidak mereka mengerti sebelumnya. “Apakah kali ini juga terkandung maksud seperti itu?”

Namun tak seorang pun yang dapat duduk dengan tenang. Wanamerta pun menjadi gelisah. Bantaran, Penjawi, Jaladri berjalan hilir mudik di halaman dengan pedang di pinggang masing-masing. Bahkan Jaladri tidak lupa pula membawa senjatanya yang aneh, canggah, tombakbermata dua. Halaman rumah Ki Ageng Gajah Sora benar-benar di kuasai oleh ketegangan. Suasananya mirip benar dengan suasana peperangan. Tetapi mereka tidak tahu pasti siapakah musuh yang harus mereka hadapi.

Malam itu pun semakin lama menjadi semakin tipis. Ketika di timur telah membayang warna merah, maka terdengarlah ayam jantan berkokok bersahut-sahutan untuk yang terakhir kalinya. Kabut yang tebal turun membawakan udara yang sangat dingin. Sehingga kepekatan malam itu pun kemudian disusul dengan kabut yang keputih-putihan memagari pandangan. Meskipun malam telah hampir lenyap, namun lereng Telamaya itu kini seakan-akan berselimut dengan kabut yang tebal, seperti seorang raksasa yang berbaring kedinginan.

Tetapi malam itu telah dilampauinya tanpa terjadi sesuatu yang menggoncangkan suasana. Mereka memasuki hari mendatang dengan nafas lega. Meskipun demikian, apa yang terjadi pada malam itu sangat mempengaruhi ketentraman hati para pemimpin Banyubiru.

Pagi itu Arya Salaka telah mengutus tiga orang untuk menyampaikan kabar tentang hilangnya Endang Widuri ke Gunungkidul. Arya telah berpesan dengan sungguh- sungguh, bahwa mereka hanya menyampaikan pemberitahuan saja. Segala sesuatunya kemudian terserah kepada Mahesa Jenar sendiri, meskipun di dalam hati Arya mengharap agar gurunya itu mengambil keputusan untuk datang ke Banyubiru. Arya yang masih muda itu sama sekali tidak dapat mempertimbangkan persoalan-persoalan lain yang menyangkut kehidupan gurunya.

Demikianlah maka ketiga orang itu, yang dipimpin oleh Bantaran berpacu menunju ke Gunungkidul. Suara kaki-kaki kuda berderak-derak memecah kesunyian pagi. Beberapa orang melihat Bantaran memacu kudanya secepat angin. Maka timbullah beberapa pertanyaan di hati mereka. Ke manakah Bantaran sepagi ini?

Sepeninggalan Bantaran orang-orang di Banyubiru masih meneruskan usaha mereka mencari Endang Widuri. Arya Salaka sendiri menjelajahi segenap sudut Banyubiru. Namun Endang Widuri benar-benar lenyap. Karena itu, maka Arya Salaka menjadi gelisah, cemas dan marah yang meluap-luap. Ia tidak akan menjadi sedemikian gelisah, seandainya ia harus mencari apa-apa yang hilang, bahkan pusaka Banyubiru sekalipun. Sebab ia akan dapat mempergunakan waktu yang panjang. Seminggu, sebulan bahkan setahun dua tahun sebelum benda itu diketemukan. Namun tidak akan dapat terjadi demikian dengan Endang Widuri. Ia tidak dapat menunggu sebulan, dua bulan atau lebih. Sebab dengan demikian banyak hal yang akan dapat terjadi dengan gadis itu. Hal-hal yang tidak akan dapat terjadi dengan pusaka-pusaka atau benda-benda lain. Sebenarnyalah bahwa Endang Widuri bukanlah benda-benda itu.

Dalam keadaan yang demikian itulah, maka terasa sekali pada Arya Salaka, bahwa ia tidak sekadar kehilangan tamu atau kawan bermain baginya. Tetapi, bahwa dengan hilangnya Endang Widuri, terasa ada sesuatu yang hilang pula dari hatinya.

Sesuatu yang tidak jelas dapat dikatakannya. Namun dapat dirasakannya.

Ibunya, Nyai Ageng Gajah Sora menjadi sangat bersedih pula. Bukan saja karena Widuri sudah menjadi sangat cumbu padanya. Namun sebagai seorang ibu, segera ia dapat melihat, luka yang tergores di hati anaknya.

Nyai Ageng sangat iba melihat Arya Salaka kadang-kadang merenungi titik-titik di kejauhan, namun kadang-kadang ia menjadi sangat gelisah. Bahkan anak muda itu sering sekali dengan serta merta meloncat di atas punggung kudanya dan berlari menghambur ke tempat yang tak diketahuinya, apabila perasaannya mendesaknya untuk segera menemukan Endang Widuri. Namun kemudian Arya Salaka kembali pulang dengan wajah yang pedih.

Widuri belum diketemukan.

Tidak saja Arya Salaka yang mencarinya hampir sepanjang hari di setiap hari. Namun Kebo Kanigara pun kemudian jarang-jarang tampak di rumah Ki Ageng Gajah Sora. Hampir setiap hari apabila matahari telah terbit ke Timur, Kebo Kanigara segera minta diri untuk mencari anaknya.

Dengan seekor kuda yang dipinjamnya dari Banyubiru, Kebo Kanigara berputar ke segenap penjuru. Tetapi seperti Arya Salaka, maka Kebo Kanigara itu pun kemudian pulang seorang diri.

Sehingga akhirnya, Kebo Kanigara itu berkata kepada Ki Ageng Gajah Sora, "Ki Ageng. Apabila Endang Widuri tidak segera dapat aku ketemukan, maka aku akan mohon diri untuk mencarinya. Aku tidak akan dapat mengatakan, berapa lama waktu yang akan aku pergunakan untuk itu."

Ki Ageng Gajah Sora menjadi gelisah pula. Namun jawabnya, "Jangan tergesa-gesa meninggalkan Banyubiru kakang. Kita disini masih berharap untuk menemukannya."

"Tetapi bagaimanakah kalau Widuri telah di bawa orang meninggalkan Banyubiru." Ki Ageng Gajah Sora tidak dapat menjawab pertanyaan itu. Sebenarnya akan sangat menggelisahkan apabila diketahui bahwa Endang Widuri sudah tidak berada di Banyubiru lagi. Tetapi bagaimana?

Bahkan kemudian Ki Ageng Gajah Sora itu telah sampai pada suatu keputusan, untuk menyebar orang-orangnya jauh ke luar Banyubiru, di samping para pengawas yang telah di tempatkan di setiap pintu kota, dan di garis batas. Mungkin Endang Widuri berada di Demak, di Pajang, Jipang atau Bergota. Namun ia masih menunggu, apakah yang akan dikatakan oleh Bantaran setelah ia kembali dari Gunungkidul.

"Biarlah aku menunggu Bantaran itu pulang Ki Ageng" berkata Kebo Kanigara. "Mudah-mudahan tidak terlalu lama, sehingga aku tidak akan terlambat."

Ki Ageng Gajah Sora mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mencoba ikut merasakan apa yang menyebabkan Kebo Kanigara menjadi sangat murung dan pendiam. Apalagi kalau Ki Ageng itu melihat Arya Salaka menjadi seperti anak yang kehilangan sikap. Sekali-kali ia berbaring dibiliknya, namun tiba-tiba ia berlari keluar untuk hanya sekedar duduk di bawah pohon sawo sambil bertopang dagu.

Bantaran yang mendapat tugas untuk pergi ke Gunungkidul, berusaha melakukan pekerjaannya sebaik-baiknya. Dengan kecepatan yang sebesar-besarnya ia memacu kudanya di atas jalan berbatu-batu. Di turuninya lereng bukit Telamaya, dan kemudian di atas jalan-jalan ngarai ia menerobos hutan-hutan rindang menempuh jalan yang telah di ancar-ancarkan.

Namun Bantaran itu menyadari, bahwa perjalanannya bukan perjalanan yang ringan. Sekali-kali ia harus menempuh belukar yang pepat dan jarang-jarang dilewati orang. Karena itulah maka di sisi kudanya tersangkut pula sebuah busur dan endong yang penuh dengan anak panah. Apabila keadaan memaksa, maka dengan senjata itu ia dapat mempertahankan dirinya dalam jarak yang jauh sambil berkuda.

Namun yang penting baginya apabila mereka harus bermalam di perjalanan senjata itu akan dapat dipakainya untuk berburu binatang. Selain panah-panah itu, dilambungnya tersangkut pula sebilah pedang panjang. Senjatanya itu hampir tak pernah berpisah dari tubuhnya sejak ia menyingkir ke Gedong Sanga.

Sementara itu, Mahesa Jenar dan Rara Wilis telah sampai ke Gunungkidul. Perjalanan yang mereka tempuh adalah benar-benar perjalanan yang mengasyikkan. Apabila sebelumnya mereka selalu berada dalam perjalanan yang diliputi oleh ketegangan- ketegangan yang mendebarkan, maka perjalanan kali ini selalu diliputi oleh sendau gurau yang riang. Meskipun dapat di tempuh jalan lain yang lebih baik, seperti yang telah diberitahukan oleh Sarayuda kepada Kebo Kanigara apabila ia akan menyusul kelak, namun kali ini Sarayuda sengaja menempuh jalan yang lain. Jalan yang sangat sulit. Tetapi kesulitan itu benar-benar tidak terasa oleh Rara Wilis. Karena itu, maka perjalanan mereka kali ini melewati daerah-daerah yang sukar. Mereka ternyata memasuki hutan- hutan yang pepat. Bahkan kemudian mereka melewati daerah Gelangan dan menjelujur di kaki bukit Tidar.

Mahesa Jenar yang pernah bertempur di atas bukit itu melawan Ki Ageng Gajah Sora memandangi bukit kecil itu dengan kesan yang aneh. Sebuah kenangan telah menggores di dadanya. Seandainya pada saat itu, Aji Sasra Birawa yang ada padanya tidak seimbang dengan Aji Lebur Saketi yang dimiliki oleh Ki Ageng Gajah Sora, maka entahlah apa yang terjadi. Namun agaknya Ki Ageng Sora Dipayana benar-benar telah mengukur kekuatan yang tersimpan di dalam dirinya waktu itu, dan kekuatan-kekuatan yang tersimpan di dalam diri anaknya.

TETAPI saat ini Sarayuda tidak mengambil jalan ke arah Pangrantunan, namun perjalanan itu mengarah terus ke selatan.

Setelah bermalam diperjalanan, sampailah mereka ke hutan yang cukup lebat. Mentaok. “Apakah kita akan ke hutan ini Sarayuda?” bertanya Mahesa Jenar.

“Ya” sahut Sarayuda “Jalan yang paling dekat”.

Mahesa Jenar meragukan jawaban itu. Tetapi ia tidak menjawab. Diikutinya saja Sarayuda yang berkuda lewat jalur jalan yang dahulu pernah dilalui. Mereka akhirnya sampai juga di Pliridan dan tanpa setahu Mahesa Jenar, tiba-tiba mereka sudah berada di depan sebuah goa. Mahesa Jenar terkejut melihat goa itu. Goa yang pernah ditinggal oleh Ki Ageng Pandan Alas.

“Apakah kau pernah melihat goa itu Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar tersenyum. Kemudian katanya, “Entahlah, bertanyalah kepada Wilis. Rara Wilis hanya dapat menundukkan wajahnya. Kenangan itu tiba-tiba telah menerkam hatinya. Tetapi ia adalah seorang gadis. Tanggapannya atas kenangan itu tidak seperti Mahesa Jenar. Karenanya tiba-tiba matanya terasa sangat panas. Dan setetes air mata jatuh dipangkuannya.

Sarayuda dan Mahesa Jenar kemudian berdiam diri. Tetapi mereka tidak menjadi cemas, meskipun mereka melihat Rara Wilis itu menangis. Sebab mereka tahu, bahwa gadis itu sedang di ganggu oleh sebuah kenangan. Kenangan yang menakutkan seperti terjadi saja di dalam mimpi.

Sebenarnya memang Rara Wilis sedang mengenangkan masa-masa lampaunya. Di hutan inilah ia dahulu hampir saja membunuh dirinya, seandainya tidak ada seorang yang bernama Mahesa Jenar itu, yang sekarang ini berada di dekatnya sebagai seorang yang telah merampas segenap hatinya. Di hutan ini pula ia bertemu dengan kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas. Dan di hutan ini pula ia hampir di terkam Ular Laut yang mengerikan. Tetapi semuanya itu sudah lampau. Semua pahit getir penghidupan telah dialami. Bahaya yang dilampauinya tidak saja di hutan Mentaok ini, namun kemudian nyawanya pun telah diserahkannya untuk merebut kembali ayahnya dari tangan Harimau betina di Gunung Tidar. Namun ayahnya itu telah mati pula. Kini ia tinggallah seorang gadis yatim piatu.

Di hutan itu, di daerah Pliridan yang sepi itulah mereka bermalam kembali. Daerah yang pernah memberi mereka suatu kenangan yang pahit.

Tetapi pada malam itu, mereka dikejutkan oleh kehadiran beberapa orang yang bertubuh besar dan begis. Mereka dengan serta merta mengancungkan senjata- senjata mereka kepada rombongan itu.

“Apakah kehendakmu?” bertanya Sarayuda kepada pemimpin mereka. “Harta atau nyawa?” gertak mereka.

Sarayuda tertawa. Jawabnya, “Kenallah kalian kepada kami?”

Orang itu menarik alisnya. Kemudian geramnya, “Persetan dengan kalian. Aku tidak pernah bertanya, siapakah korbanku kali ini. Semua pedagang yang lewat di daerah ini adalah hidangan buat kami.”

“Kami telah membawa beberapa orang pengantar yang akan dapat melawan kalian.”

“Hem, aku sudah tahu. Kalian pasti membawa beberapa orang pengantar. Nah sekarang biarlah kami bertempur. Pekerjaan ini sudah kami lakukan bertahun- tahun.”

Sekali lagi Sarayuda tertawa. Karena itulah maka pemimpin mereka membentak. “Jangan tertawa. Ayo, apakah kau pemimpin dari para pengawal.”

Sarayuda maju selangkah. Kemudian katanya, “Berapa orangkah jumlah kalian?”

“Lima belas orang” sahut orang itu. “Kalau kami memberi tanda, maka akan datang lagi lima belas orang pula.”

Tiba-tiba sebelum Sarayuda menjawab, maka Mahesa Jenar telah melangkah maju pula. Dengan tenangnya ia berkata. “Jangan membual. Apakah kau sekarang bergabung dengan sisa anak buah Lawa Ijo?”

Pemimpin rombongan itu terkejut. Diamat-amatinya Mahesa Jenar dengan seksama. Kemudian katanya, “Siapakah kau?”

“Sakayon” jawab Mahesa Jenar.

“He?” mata orang itu terbelalak. “Darimana kau tahu namaku?”

“Aku Sakayon dari Gunung Tidar. Dahulu aku adalah anak buah Sima Rodra.” Orang itu menjadi semakin heran. Namun ketika terpandang olehnya wajah Mahesa Jenar yang semakin lama menjadi semakin jelas, maka terdengar suaranya parau, “Apakah kau Mahesa Jenar?”

Mahesa Jenar tersenyum. Jawabnya “Kau masih mengenal aku? Kapankah kau melihat wajahku?”

Sakayon pernah melihat Mahesa Jenar beberapa kali. Ia ikut dengan Sima Rodra ke Gedangan, ia turut pula mencegat laskar Demak di Gunung Telamaya, dan ia melihat Mahesa Jenar bertempur melawan beberapa orang tokoh hitam. Karena itu, setelah Sakayon itu yakin, bahawa yang berdiri dihadapannya itu Mahesa Jenar, maka katanya terbata-bata. “Mahesa Jenar, kami tidak tahu, bahwa rombongan ini adalah rombonganmu. Karena itu, maka aku mencegatnya. Aku sangka bahwa rombongan ini adalah rombongan para pedagang yang akan menyeberangi hutan ini.”

“Hem. Jadi perbuatan-perbuatan yang demikian itu masih saja kalian lakukan setelah lurahmu mati?”

Sakayon tidak menjawab, tetapi kepalanya ditundukkannya.

“Sakayon, apakah kau percaya, bahwa rombonganku akan dapat menumpas rombonganmu sekarang ini?”

Wajah Sakayon menjadi pucat. Sekali ia berpaling. Dilihatnya beberapa anak buahnya menjadi heran. Tetapi ada di antaranya yang pernah melihat Mahesa Jenar. Bekas anak buah Sima Rodra dan bekas anak buah Lawa Ijo yang bergabung itu, kini diliputi oleh ketegangan. Namun mereka yang baru dalam pekerjaannya, mencoba untuk masih menunjukkan kegarangannya. “Siapakah orang itu kakang Sakayon?”

"Mahesa Jenar" jawab Sakayon gemetar.

"Apakah orang itu anak gendruwo, sehingga kita takut kepadanya."

"Bukan saja anak gendruwo" jawab salah seorang di antara mereka bekas anak buah Lawa Ijo. "Tetapi anak malaekat."

Orang baru itu menjadi heran. Apalagi ketika ia mendengar Sakayon menjawab. "Aku percaya Mahesa Jenar. Aku minta maaf."

"Lihatlah, di antara orang-orang ini adalah prajurit-prajurit pilihan." berkata Mahesa Jenar menakut-nakuti. "Kami mendapat tugas untuk memusnahkan gerombolan- gerombolan yang masih saja mengacau di hutan Mentaok ini. Kami harus membersihkan hutan Mentaok, Tambak Baya dan daerah-daerah Beringan dan Pacetokan, seluruhnya."

"Ampun. Kami minta ampun," tiba-tiba suara Sakayon menjadi semakin gemetar dan cemas.

"Kami akan mengampuni kalian, tetapi ada syarat-syaratnya!"

Sakayon terdiam. Ia tidak tahu, syarat apakah yang akan dituntut oleh Mahesa Jenar itu. Karena itu, maka ia menunggu Mahesa Jenar berkata, "Sakayon. Kami mendapat tugas untuk memberantas kejahatan di hutan ini. Kalau kalian berjanji untuk menghentikan kejahatan ini, maka kalian akan aku ampuni. Namun kalau tidak, maka jangan mengharap kalian hidup lebih lama lagi. Kemana saja kalian bersembunyi, maka kami pasti akan dapat menemukan. Kami bawa kalian ke Demak dan kalian akan kami adu melawan harimau di alun-alun sebagai tontonan."

Sakayon dan beberapa orang di dalam gerombolan itu tahu benar siapa Mahesa Jenar itu. Karena itu maka katanya, "Baiklah Mahesa Jenar. Aku terima syarat itu."

Mahesa Jenar tertawa. Katanya, "Aku sudah mengenal watak kalian. Kalian berjanji hanya apabila kalian menghadapi bahaya. Meskipun demikian aku percaya padamu kali ini. Kembalilah kerumahmu masing-masing, dan cobalah hidup seperti orang-orang lain. Mereka tidak perlu mengalami kegelisahan seperti yang selalu kau alami. Dengan demikian maka kau akan dapat hidup tentram."

Sakayon menggeleng. Jawabnya, "Aku sudah tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal. Aku adalah seorang layang kabur kanginan."

Mahesa Jenar menarik nafas. Namun kemudian ia berkata, "Sakayon. Daerah ini adalah daerah yang subur. Dahulu Pliridan adalah daerah yang ditinggali oleh beberapa orang petani. Kau dapat mengusahakan tanah ini. Dengan tekad yang baik, kau akan dapat berhubungan dengan orang-orang lain untuk mengadakan tukar menukar hasil tanah ini dan mungkin hasil hutan yang dapat kau usahakan."

Sakayon mengangguk-anggukkan kepalanya. Terjadilah suatu pergolakan di dalam hatinya. Kata-kata Mahesa Jenar itu tanpa sesadarnya telah direnungkannya, dan dicernakannya di dalam hatinya, sehingga akhirnya terdengar kata-kata di dalam hatinya, "Mahesa Jenar berkata sebenarnya." Ditambah lagi dengan rasa takutnya atas ancaman Mahesa Jenar untuk membawanya ke Demak dan mengadunya dengan harimau di alun- alun. Sedang ia percaya sepenuhnya, bahwa Mahesa Jenar itu pasti akan dapat berbuat demikian. Menangkapnya kemana saja ia bersembunyi. Karena itu maka katanya.

"Mahesa Jenar. Aku berterima kasih atas segala nasehatmu. Akan aku coba untuk mengusahakan tanah ini. Dan aku coba untuk menghubungi keluarga kami dengan tekad yang baik. Mudah-mudahan aku berhasil."

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya sambil tersenyum. Kemudian ia maju selangkah menepuk bahu Sakayon sambil berkata.

"Sarungkan senjatamu." Sakayon tidak dapat berbuat lain daripada menyarungkan goloknya sambil menundukkan kepalanya. Tetapi tiba-tiba ia terkejut ketika di dengarnya seorang daripada anak buahnya, seorang anak muda yang bertubuh tinggi tegap, setegap raksasa kerdil, berkata dengan lantang. "He, kakang Sakayon. Sejak kapan kau menjadi seorang perempuan cengeng."

Sakayon mengangkat wajahnya. Jawabnya. "Jangan melawan Gendon. Tak ada gunanya. Lebih baik kau dengarkan nasihatnya."

Anak muda yang bernama Gendon itu sama sekali tidak puas. Di samping Sakayon ia merasa orang yang paling penting di dalam gerombolan itu. Karena itu, maka ia melangkah maju sambil menunjuk wajah Mahesa Jenar. "He apakah kau memiliki guna- guna dan menenung kakang Sakayon sehingga ia menjadi tunduk kepada kemauanmu?"

Mahesa Jenar menggeleng. "Tidak. Aku tidak dapat merenungnya. Tetapi ia dalah sahabat lamaku." Gendon menjadi heran. Sekali ia memandang wajah Sakayon, namun betapa pun juga ia tidak yakin akan kata Mahesa Jenar. Maka dengan lantangnya ia berkata, "Kalau kau tidak ikut kakang Sakayon. Maka biarlah aku selesaikan pekerjaan ini sendiri. Ayo, siapa ikut aku?"

Beberapa orang di antara mereka melangkah maju. Namun mereka menjadi heran, justru orang-orang lama, anak buah Sakayon sendiri dan bekas anak buah Lawa Ijo yang mereka bangga-banggakan sama sekali tidak bergerak. Bahkan diantaranya berkata. "Jangan".

Tetapi Gendon yang merasa usahanya selama ini selalu berhasil tidak memperdulikannya. Dengan goloknya ia menunjuk wajah Mahesa Jenar. "Ayo, berikan semua harta bendamu."

Mahesa Jenar memandang anak muda itu dengan sedih. Anak itu memiliki tubuh yang kokoh kuat dan memiliki sikap yang meyakinkan. Namun sayang. Ia terperosok dalam lingkungan yang kelam. Mahesa Jenar tidak segera menjawab, maka terdengar anak itu membentak kembali. "Ayo. Cepat". Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Sambil menunjuk Sarayuda ia berkata. "Lihatlah. Kawanku itu berpedang pula di lambungnya. Kau tahu gunanya pedang?"

Gendon ragu-ragu sejenak. Kemudian teriaknya. "Tidak peduli. Serahkan harta benda yang kau bawa."

Mahesa Jenar menggigit bibirnya. Ketika ia berpaling, masih dilihatnya beberapa orang kawan-kawan Sarayuda duduk dengan tenangnya. Mereka sama sekali hampir tidak tertarik pada gerombolan itu. Sebab mereka yakin benar, apa yang akan dapat dilakukan oleh Sarayuda dan Mahesa Jenar, meskipun ia tidak kehilangan kewaspadaan. Bahkan beberapa di antara mereka telah meraba hulu pedang mereka. Hanya Rara Wilislah yang kemudian bangkit berdiri sambil berkata. "Sakayon. Apakah kau tidak mau membawa orang-orangmu pergi."

"Oh" Sakayon tergagap.

Namun Gendon itu berteriak. "Ha. Ternyata ada seorang gadis pula di antara mereka. Agaknya gadis itu tak kurang cantiknya. Ayo, menyerahlah. Dan serahkan gadis itu kepadaku."

Tiba-tiba Mahesa Jenar membungkukkan badannya. Katanya, "Baiklah ambillah gadis itu kalau mau. Tetapi jangan ganggu rombongan ini."

"Ah" desah Rara Wilis. Ia tahu Mahesa Jenar akan menunjukkan kepada anak muda itu, bahwa ia sedang berhadapan dengan orang-orang yang tak akan mungkin dikalahkannya. Gendon ragu-ragu sesaat. Namun kemudian ia berkata. "Baiklah, ayo ikut aku. Aku tidak akan mengganggu kalian, asalkan, kecuali gadis ini, semua harta bendamu aku bawa pula."

Rara Wilis maju beberapa langkah. Tiba-tiba ditariknya pedang dari lambung Sarayuda. Dengan lantang gadis itu berkata. "Pergilah anak muda. Pergilah."

Gendon terkejut. Tiba-tiba ia meloncat mundur. Dilihatnya Rara Wilis itu maju lagi sambil mengacungkan pedangnya. "Pergilah."

Gendon diam sesaat. Namun yang terdengar suara Mahesa Jenar. "Anak itu bukan Jaka Soka Wilis." "Ah" kembali Rara Wilis mendesah.

Tetapi Gendon belum mengenal Rara Wilis. Ia menjadi rikuh kepada kawan-kawannya. Ternyata gadis ini akan melawannya. Sarayuda yang membiarkan pedangnya ditarik oleh Rara Wilis tertawa saja sambil bertolak pinggang. Agaknya Rara Wilis yang paling tidak senang melihat gerombolan itu, sebab ingatannya tentang gerombolan semacam itu, benar-benar mendirikan bulu romanya. Karena itu maka segera ia berusaha untuk mengusirnya.

Tetapi ketika Gendon menyadari keadaannya, ia menjadi sangat marah. Karena itu dengan serta merta ia menyerang Rara Wilis dengan garangnya, meskipun ia hanya bermaksud untuk menakut-nakuti. Tetapi terjadilah hal yang tak di sangka-sangka. Tiba- tiba Rara Wilis menggerakkan pedangnya dalam putaran untuk melibat golok lawannya. Alangkah terkejutnya Gendon itu. Pedang Rara Wilis itu seakan-akan melilit goloknya dan sebuah tekanan yang kuat telah melemparkan goloknya beberapa langkah.

Sebelum ia mampu berbuat sesuatu terasa ujung pedang Rara Wilis melekat di dadanya. Tubuh Gendon itu pun kemudian menjadi gemetar. Terasa bahwa nyawanya tiba-tiba saja telah bergerak keubun-ubunnya.

Sebelum Rara   Wilis berkata   sepatah   kata   pun,   maka   terdengar   Mahesa   Jenar mendahului, "Bagaimana? Apakah kau benar-benar ingin membawa gadis itu?"

"Tidak-tidak" suara Gendon menjadi gemetar seperti tubuhnya. Sakayon hampir tak dapat menahan tawanya. Namun kemudian ia berkata, "Aku minta ampun untuknya, Mahesa Jenar."

"Pergi, pergi" berkata Rara Wilis lantang. Ia menjadi muak melihat orang-orang yang kasar dan bengis itu berdiri saja dimukanya.

"Baiklah" sahut Sakayon, "Kami akan pergi. Dan kami akan mencoba melakukan nasihat-nasihatmu, Mahesa Jenar."

"Cobalah" sahut Mahesa Jenar. "Hari depanmu masih cukup panjang untuk menghapus noda-noda yang melekat pada tubuh dan jiwamu."

Sakayon itu pun kemudian mengajak kawan-kawannya pergi. Gendon berjalan paling belakang sambil menundukkan wajahnya. Ia tidak dapat mengerti, kenapa ia berjumpa dengan seorang gadis garang itu. Namun akhirnya ia mendengar seluruhnya dari Sakayon. Siapa-siapa saja yang berada di dalam rombongan itu. Terutama Mahesa Jenar dan Rara Wilis.

Ketika kemudian malam itu telah lampau, dan matahari pergi dengan cerahnya menjengukkan dirinya dari balik kaki langit, maka rombongan itu berangkat pula meneruskan perjalanan mereka. Namun kini mereka tidak melintas hutan Tambak Baya, tetapi mereka menempuh jalan lain, agak ke selatan terus ke Gunungkidul.

Di iringi oleh angin pagi, dan kicau burung-burung liar, mereka berjalan dengan hati yang terang seperti terangnya matahari. Langit yang biru bersih sekali membayang di sela-sela dedaunan di hutan yang semakin lama menjadi semakin tipis. Sehingga akhirnya, mereka menempuh jalan di antara padang-padang rumput dan gerumbul- gerumbul rindang. Setelah mereka berjalan sehari penuh, maka mulailah mereka sampai pada lembah-lembah yang subur di daerah Gunungkidul.

"Kami tidak akan bermalam lagi" berkata Sarayuda. "Meskipun malam, kami harus memasuki induk Kademangan malam ini juga."

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Di pandanginya lembah-lembah yang hijau di penuhi oleh tanaman-tanaman padi yang subur. Di sana-sini, dalam jarak yang cukup jauh, dilihatnya beberapa buah pedesaan seperti pulau yang terapung di tengah- tengah lautan yang hijau.

"Daerah yang luas dan terpencar-pencar." berkata Sarayuda ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang bersungguh-sungguh.

"Ya" sahut Mahesa Jenar. "Dimanakah induk Kademanganmu." Sarayuda tertawa. "Masih jauh," jawabnya. "Kami harus mendaki bukit di hadapan kita itu. Nah, disanalah aku tinggal."

"Kenapa tidak di lembah yang subur ini?"

"Dari bukit ini aku dapat melihat, hampir seluruh tanah-tanah ngarang yang terbentang di bawah kaki bukit. Bukankah Ki Ageng Gajah Sora membuat rumahnya di lereng Telamaya pula? Tidak di ngarai?"

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya kembali. Dari segi-segi yang lain, agaknya rumah di atas bukit benar-benar menguntungkan. Seandainya rumah di atas bukit benar-benar menguntungkan. Seandainya harus dilakukan perlawanan atas penyerangan-penyerangan yang kuat, maka kedudukan mereka yang berada di lereng menjadi lebih baik.

Sebenarnyalah malam itu mereka memasuki induk desa Kademangan Gunungkidul. Demikian mereka mendekati pedesaan itu, maka seorang dari para pengikut Sarayuda harus berpacu lebih dahulu menyampaikan kabar kedatangan mereka kepada Ki Ageng Pandan Alas.

Sungguh di luar dugaan. Tiba-tiba mereka mendengar kentongan berbunyi bertalu-talu. Kentongan yang agaknya memberi tanda kehadiran Mahesa Jenar dan Rara Wilis di Kademangan Gunungkidul.

"Orang-orang di Gunungkidul telah berpesan kepadaku, apabila kelak aku datang bersama Mahesa Jenar dan Rara Wilis, maka mereka minta supaya mereka diberitahukan. Kentongan itu adalah tanda untuk itu."

"Hem. Terlalu berlebih-lebihan," gumam Mahesa Jenar.

"Bukan maksudku. Mereka menganggap bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang aneh. Lebih-lebih lagi adalah Rara Wilis. Setiap orang di Gunungkidul telah mendengar, bahwa Rara Wilis telah berhasil membinasakan Harimau Betina yang pernah merobek-robek hati ibunya."

Mahesa Jenar tidak menjawab. Namun ia menjadi terharu ketika tiba-tiba di dengarnya Rara Wilis mengeluh. Betapa pun gadis itu berusaha menahan hatinya, namun sambutan yang berlebih-lebihan itu benar-benar telah meneteskan air matanya. Suara kentongan dan kata-kata Sarayuda telah membangkitkan perasaan yang melonjak-lonjak di dalam hatinya. Tanah yang terbentang di hadapannya benar telah menumbuhkan berbagai kenangan. Kenangan tentang dirinya di masa-masa kanak-kanak, tentang ibunya dan tentang ayahnya. Di kenangnya betapa perempuan yang cantik namun berhati ganas telah merampas ayahnya. Di kenangnya ketika ia mencoba memanggil ayahnya di rumah perempuan itu pada saat ibunya sakit. Namun bukan main marah ayahnya kepadanya.

Dan di usirnya seperti anjing di iringi oleh derai tertawa perempuan iblis itu. Tetapi perempuan itu telah mati. Mati karena ujung pedang yang diterimanya dari kakeknya, Ki Pandan Alas, yang oleh penduduk sedesanya dikenal dengan nama Ki Santanu.

Dan kini, setelah bertahun-tahun ia meninggalkan kampung halaman yang penuh dengan kenangan pahit itu, ia akan kembali pulang. Dikenangnya, bahwa pada saat ia meninggalkan tanah itu, tak seorang pun yang dipamitinya. Tak seorang pun yang melambaikan tangannya sebagai ucapan selamat jalan. Ia pergi saja seperti ia memang harus pergi.

Tetapi ketika kini ia kembali, maka hampir seluruh penduduk induk Kademangan itu mengelu-elukannya. Menyambutnya sebagai seorang yang sedemikian penting di Kademangan itu. “Alangkah bahagianya seandainya ibuku menyaksikan sambutan untukku ini,” desah di dalam hatinya. “Tetapi ibu itu telah meninggal dalam keadaan yang pedih.”