Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 53

Jilid 53

Namun sekali lagi ia terpaksa menarik kekang kudanya, sebab dilihatnya dekat dibelakangnya dua orang lain yang sudah memperlambat kuda-kuda mereka. Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Akhirnya orang berkuda itu tidak dapat melepaskan dirinya lagi. Di sekelilingnya duduk tegak di atas punggung kuda, Kebo Kanigara, Endang Widuri, Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Namun meskipun demikian, orang itu masih tersenyum, senyum iblis.

Berdirilah segera bulu kuduk Rara Wilis melihat senyum itu. Ia sebenarnya tidak takut menghadapinya, tetapi perasaan aneh selalu menyentuh-nyentuh hatinya apabila melihat wajah itu. Jangankan melihat dan berhadapan muka, sedang mengenang senyum itu saja pun hatinya berdebar-debar. Sesaat suasana menjadi sepi. Nyala api dikejauhan jatuh di atas tubuh-tubuh mereka mewarnai wajah mereka dengan warna-warna merah yang bergerak-gerak. Dan dalam kesepian itu terdengar Mahesa Jenar menggeram,"Kau agaknya Jaka Soka?"

Orang berkuda itu, yang tidak lain adalah Jaka Soka menarik senyumnya lebih lebar lagi. Jawabnya "Ya,kenapa?"

"Kau tahu akibatnya dari perbuatanmu itu?" tanya Mahesa Jenar. Jaka Soka tertawa, katanya, "Aku tahu pasti. Banybiru akan musnah."

"Orang-orang yang tak tahu apa-apa pun akan menderita karenanya. Perempuan dan anak-anak." Desak Mahesa Jenar.

"Aku tahu pasti," sahut Jaka Soka, "Dan itulah tujuanku".

"Juga perempuan dan  anak-anak?" potong Endang Widuri. "Ya. Semua yang hidup diatasnya," jawab Jaka Soka.

"Setan," desis Widuri. Sekali lagi Jaka Soka tertawa, katanya, "Apa pedulimu terhadap perempuan dan anak-anak Banyubiru? Aku sama sekali tidak berkepentingan dengan mereka. Dan kini aku telah menyaksikan pertunjukan yang mengasikkkan. Perempuan dan anak-anak Banyubiru menangis melolong-lolong ketakutan".

Sekali lagi suara tertawa Ular Laut itu menggetarkan udara lembah yang lembab namun panas itu. Panas karena nyala api di lereng bukit Telamaya, panas karena hati yang terbakar oleh kemarahan.

"Kau salah sangka," terdengar suara Kebo Kanigara datar. "Perempuan dan anak-anak di Banyubiru tidak menangis dan melolong-lolong dan berlari kian kemari. Tetapi mereka sedang bekerja keras menebang batang-batang ilalang untuk menghentikan apimu yang menyala-nyala itu."

Jaka Soka mengerutkan keningnya. Seleret pandang, tampaklah wajahnya menjadi kecewa. Tetapi kemudian sekali lagi tertawa, "Kau bermimpi agaknya, perempuan dan anak-anak sekarang sedang menangis dan putus asa."

"Kau sedang berusaha memuaskan hatimu sendiri dengan angan-anganmu," sahut Kebo Kanigara. Sekali wajah itu menjadi tegang. "Nah, sekarang ikut kami. Mintalah ma’af kepada rakyat Banyubiru," kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata itu tiba-tiba Jaka Soka tertawa nyaring, jawabnya, "Sejak kapan kau menjadi pengecut Mahesa Jenar? Kau tidak berani menangkap sendiri, bahkan berempat. Kau coba membujuk aku nanti beramai-ramai menangkap bersama-sama laskar Banyubiru." 

Mahesa Jenar menarik napas. Kata-kata itu benar-benar menusuk perasaannya. Namun ia sadar, bahwa kata-kata itu terlontar, karena kekerdilan Jaka Soka yang pasti sudah mengakui, ia akan dapat melawan. Jaka Soka sendiri mengetahui bahwa Mahesa Jenar telah berhasil membunuh Sima Rodra.

Belum lagi Mahesa Jenar menjawab, berkatalah Jaka Soka, "Atau kalian ingin menangkap aku hidup-hidup atas permintaan gadis ini?"

Hati Rara Wilis berdesir. Kata-kata itu benar-benar memuakkan. Apalagi ketika Jaka Soka meneruskan sambil tersenyum dengan mata yang redup, "Akhirnya kaulah yang mencari aku, Wilis." "Jangan membual," potong Rara Wilis. Suaranya bergetar karena marah. Namun tiba-tiba terdengar Endang Widuri tertawa pula. Katanya, "Nah, kau benar paman Soka. Hampir tiap hari Bibi Wilis bermimpi tentang kau. Tentang seekor Ular Laut yang berwajah tampan."

Semua orang menoleh ke arahnya. Dam semua mata memandangnya dengan tajam. Namun Widuri masih tertawa-tawa saja sambil berkata terus, "Adakah kau juga bermimpi tentang bibi Wilis, paman yang baik?"

Jaka Soka kini tidak lagi tersenyum. Ia memandang gadis itu dengan tajamnya, seakan- akan biji matanya hendak melontar keluar. Tetapi kata-kata Widuri meluncur terus, "Alangkah indahnya bulan di awan. Alangkah tampannya Ular Laut dari Nusakambangan. He, paman. Tidak saja bibi Wilis tergila-gila padamu. Akupun juga tidak pernah melupakanmu. Sayang, rakyat Banyubiru sedang mencari tumbal untuk memperbaiki tangkis yang pecah, karena airnya dialirkan untuk memadamkan apimu. Dan tumbal itu adalah Ular Laut yang berwajah tampan. Sehingga mimpi kami berdua tentang Paman Soka tak akan pernah kami alami lagi."

"Tutup mulutmu !" bentak Jaka Soka marah.

Namun sekarang Widuri lah yang tersenyum. Jawabnya, "Jangan marah, Paman. Paman lebih tampan kalau Paman sedang tersenyum dan memandang Bibi dengan mata yang redup."

"GILA KAU!" bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan. Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, "Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?"

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, "Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?"

"Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka," jawab Mahesa Jenar. "Ya!" sahut Jaka Soka, "Menangkap aku hidup atau mati."

"Kurang tepat!" potong Mahesa Jenar, "Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas."

"Uh, kalian akan menghukum aku?" kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali. "Bukan kami," sahut Mahesa Jenar, "Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik."

"Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya," kata Jaka Soka.

"Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup."

"Hem!" Mahesa Jenar bergumam, "Jangan keras kepala."

Kembali Ular Laut itu tertawa, "Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?" "Sudah kami jawab," jawab Mahesa Jenar.

"O," desis Jaka Soka, "Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku."

"Jaka Soka," kata Mahesa Jenar, "Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu."

"Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu," potong Jaka Soka, "Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu."

"Ai!" teriak Widuri, "Bagaimana kami hidup tanpa kepala?" "Kau yang pertama-tama!" teriak Jaka Soka marah.

"Jaka Soka," kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. "Adakah itu keputusanmu?"

"Ya," jawab Jaka Soka, "Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?"

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, "Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama."

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. "Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir." Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, "Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami."

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta

”GILA KAU!” bentak Jaka Soka dengan marahnya. Tetapi ia sadar bahwa ia berada di antara empat kekuatan yang tak akan berlawan.

Widuri masih tertawa. Bahkan tertawanya menjadi berkepanjangan. Ternyata Jaka Soka yang mencoba membuat Rara Wilis marah menjadi marah sendiri. Katanya kemudian, ”Nah, seharusnya Paman Jaka Soka yang disebut Ular Laut dari Nusakambangan menjadi bergembira. Bukankah akhirnya Bibi Wilis yang mencari Paman?”

Jaka Soka menjadi benar-benar marah, sehingga tubuhnya bergetar. Ia tidak mau mendengar lagi gadis itu berkicau. Karena itu ia berteriak, ”Mahesa Jenar, apakah maksudmu menyusul aku?”

”Jawabnya sudah kau ketahui, Jaka Soka,” jawab Mahesa Jenar. ”Ya!” sahut Jaka Soka, ”Menangkap aku hidup atau mati.”

”Kurang tepat!” potong Mahesa Jenar, ”Kami ingin membawa kau kepada rakyat Banyubiru. Mintalah maaf kepada mereka. Kau akan tetap hidup. Mungkin kau harus menjalani hukumanmu, tetapi kau tidak akan mati seperti seekor tikus di tangan kucing yang ganas.”

”Uh, kalian akan menghukum aku?” kata Jaka Soka, senyumnya tiba-tiba mulai menghias bibirnya kembali.

”Bukan kami,” sahut Mahesa Jenar, ”Kami tak memiliki tempat-tempat untuk menghukum orang. Kalau perlu kau dapat kami titipkan ke Demak, dan di sana kau akan mendapat perlakuan yang baik.” ”Kau benar-benar seorang prajurit yang bijaksana, Mahesa Jenar. Kau berusaha menegakkan tatanan pemerintahan sebaik-baiknya,” kata Jaka Soka. ”Tetapi kau akan menyesal, apabila tatanan itu kau terapkan pada diriku. Sebab tak ada tempat untuk menyimpan aku hidup-hidup.”

”Hem!” Mahesa Jenar bergumam, ”Jangan keras kepala.”

Kembali Ular Laut itu tertawa, ”Sekarang katakan saja, apakah maksud kalian?” ”Sudah kami jawab,” jawab Mahesa Jenar.

”O,” desis Jaka Soka, ”Sekarang lakukanlah. Tangkaplah aku.”

”Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar, ”Sebenarnya kau tahu apa yang sedang kau lakukan itu. Bunuh diri. Lebih baik kau ubah putusanmu, sebab kau sekarang tinggal berdiri seorang diri. Tak ada lagi orang-orang dari golonganmu yang masih hidup selain kau. Karena itu kami tak membunuhmu.”

”Persetan dengan sesorah yang tak berarti itu,” potong Jaka Soka, ”Ayo mulailah bersama-sama. Kalian akan aku penggal kepala kalian satu demi satu.”

”Ai!” teriak Widuri, ”Bagaimana kami hidup tanpa kepala?” ”Kau yang pertama-tama!” teriak Jaka Soka marah.

”Jaka Soka,” kata Mahesa Jenar dengan suara yang datar dan berat. ”Adakah itu keputusanmu?”

”Ya,” jawab Jaka Soka, ”Aku tantang kalian berempat. Atau adakah di antara kalian yang berhati jantan? Bertempur seorang diri melawan aku untuk mewakili kalian?”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Ia tahu benar maksud Jaka Soka yang sedang berusaha mencari lubang-lubang untuk melepaskan diri. Bahkan kemudian Jaka Soka itu berkata, ”Kalau kalian benar-benar jantan dan merasa diri kalian masing-masing berhati kesatria, kalian masing-masing pasti akan menolak untuk bertempur seorang lawan seorang, tidak seperti anak-anak cengeng yang hanya berani bertempur bersama-sama.”

Arah kata-kata Jaka Soka menjadi semakin jelas. Namun Mahesa Jenar membiarkannya berbicara terus. ”Kalau demikian, akulah yang akan memilih lawan satu di antara kalian. Kesudahannya akan menjadi keputusan terakhir.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Matanya kemudian hinggap ke wajah kedua gadis di antara mereka itu berganti-ganti. Jaka Soka ternyata benar-benar licik. Namun usulnya belum merupakan keputusan. Kebo Kanigara pun memaklumi maksudnya. Maksud yang keji. Ia akan menunjuk korbannya. Yang paling lemah di antara mereka berempat. Tetapi selagi mereka menimbang-nimbang, tiba-tiba terdengar Widuri menjawab dengan suaranya yang nyaring, ”Adil. Itu sangat adil. Nah, pilihlah satu di antara kami.”

Semua terkejut mendengar jawaban itu. Widuri benar-benar gadis yang nakal. Usianya yang masih sangat muda masih mempengaruhi segala keputusan yang diambilnya. Hati Kebo Kanigara menjadi berdebar-debar. Ia tahu pikiran anak itu. Ia mengharap Jaka Soka akan memilihnya sebagai lawan. Apakah Widuri kini akan mampu melawan Ular Laut dengan tongkat hitamnya?.

Tiba-tiba Kebo Kanigara menarik nafas. Ia melihat Widuri sedang mengaitkan pada kalung rantai Cakra di satu ujung dan sebuah cincin bermata merah menyala-nyala di ujung yang lain, Kelabang Sayuta.

TIBA-TIBA wajah gadis itu menjadi terkejut ketika Jaka Soka menyahut dengan gembira, "Keputusan telah jatuh. Baiklah aku memilih lawanku."

Dengan lincahnya ia meloncat dari punggung kudanya. Kemudian berdiri tegak menghadap Rara Wilis sambil mengangguk dalam-dalam, "Kau akan mendapat kehormatan."

"Gila!" teriak Widuri lantang.

"Aku telah memilih," potong Jaka Soka. "Tetapi kau berkata bahwa akulah yang pertama-tama akan kau penggal lehernya," bantah Widuri.

"Aku ubah keputusanku," jawab Jaka Soka.

"Kami ubah keputusan kami," sahut Widuri sambil meloncat turun dari kudanya pula, "Akulah lawanmu." "Widuri!" Terdengar kemudian suara Rara Wilis perlahan-lahan, "Biarlah aku menerima pilihannya." Widuri terhenti. Dipandangnya Rara Wilis dengan tajam. Sekali-kali matanya berkisar kepada Kebo Kanigara, ayahnya, dan kepada Mahesa Jenar. Terasalah betapa ia telah berbuat sesuatu kesalahan. Kalau terjadi sesuatu dengan Rara Wilis, maka dirinyalah sumber dari malapetaka itu. Apalagi ketika dilihatnya wajah- wajah Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar yang menjadi tegang.

"Ayah!" Tiba-tiba ia berteriak dan berlari memeluk kaki ayahnya.

"Bukankah Ayah dapat mencegahnya? Bunuh sajalah Ular Laut yang gila itu."

Wajah Kebo Kanigara menjadi semakin tegang. Timbul juga di dalam benaknya maksud untuk mengakhiri ketegangan itu dengan membunuh saja Jaka Soka. Namun bagaimanakah tanggapan Rara Wilis? Adakah gadis itu tidak merasa direndahkan? Dalam pada itu terdengar Jaka Soka berkata, "Bagaimana? Apakah kalian akan bertempur bersama?"

"Tidak!" potong Rara Wilis tegas. "Aku akan mewakili." "Wilis," terdengar suara Mahesa Jenar bergetar. Namun ia melihat gadis itu perlahan- lahan turun dari kudanya. Sekali-kali hatinya berdesir melihat senyum iblis di bibir Jaka Soka, namun kemudian bergolaklah darah Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya. Darah laki-laki jantan dari Gunung Kidul yang telah menyerahkan hidup matinya bagi ketentraman hidup sesama.

"Ha?" kata Jaka Soka, "Agaknya kau benar-benar gadis berhati jantan. Tetapi benarkah kau mau melawan aku?"

"Jangan banyak bicara," sahut Rara Wilis, "Aku sudah siap."

"Ha?" Jaka Soka berkata lagi, "Bagaimana dengan yang lain? Apakah kalian telah ikhlas melepaskan gadis yang cantik ini?" Mahesa Jenar menggeram. Tetapi ia masih duduk di atas punggung kudanya. Kemudian kepada Rara Wilis, Jaka Soka berkata, "Wilis, aku akan menurut perintahmu meskipun aku akan dihukum seumur hidupku atau dibunuh sekali pun asal kau bersedia menjadi istriku."

"Gila!" teriak Widuri marah, "Kalau kau dihukum mati, apakah Bibi Wilis harus menjadi istri mayatmu?" "Tentu saja aku minta waktu," sahut Jaka Soka, "Sebulan atau dua bulan sebelum aku naik ke tiang gantungan."

"Aku sudah bersedia," potong Wilis, "Jangan mengigau."

"Sayang," jawab Jaka Soka, "Setangkai bunga yang betapapun indahnya, apabila aku mendapat kesempatan untuk memiliki, lebih baik aku runtuhkan daun mahkotanya."

"Mulailah," potong Rara Wilis tidak sabar. Ia menjadi semakin muak melihat wajah itu. Widuri menjadi semakin berdebar-debar. Digoncang-goncangnya kaki ayahnya yang masih duduk di atas punggung kuda. "Ayah, bunuh sajalah iblis itu."

Kebo Kanigara tidak bergerak. Ia tidak dapat berbuat sesuatu sedang Mahesa Jenar senditi tak berbuat sesuatu pula. Hanya hatinya sajalah yang seakan-akan meloncat mencekik Ular Laut yang licik itu.

TIBA-TIBA terdengar suara Mahesa Jenar berdesir, "Wilis. Kau dapat menolak pilihan itu."

"Tidak Kakang," jawab Rara Wilis, "Aku harus menjunjung tinggi nama perguruan Pandan Alas."

"Itu semata-mata karena harga diri," sahut Mahesa Jenar, "Tetapi persoalan Jaka Soka yang telah membakar lereng bukit Telamaya adalah jauh lebih luas dari harga diri seseorang."

"Terserahlah, kalau ternyata kemudian aku telah dibinasakan olehnya," jawab Wilis. Sekali lagi Mahesa Jenar menggeram. Hatinya mengumpat-umpat atas kelicikan Jaka Soka. Yang dapat dilakukan hanyalah berdoa semoga Allah melindungi gadis yang telah menjadikan dirinya wakil untuk melawan Jaka Soka itu. Kini Jaka Soka telah berdiri berhadapan dengan Rara Wilis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun tidak dapat tetap duduk di atas punggung kuda, karena itu segera mereka berloncatan turun. Sesaat kemudian, Jaka Soka dan Rara Wilis telah mencabut senjata masing-masing.

Pedang Jaka Soka yang lentur di tangan kanan, sedang wrangkanya, tongkat hitam di tangan kiri. Adapun di tangan Rara Wilis telah tergenggam sebilah pedang yang tipis.

"Nah, marilah," desis Jaka Soka sambil tersenyum, "Selamanya aku menghormati perempuan."

Rara Wilis tidak menjawab. Namun segera ia mulai menggerakkan pedangnya dengan ilmu pedang ajaran Ki Ageng Pandan Alas. Pedang itu seakan-akan selalu bergerak dan bergetar, sehingga untuk sesaat Jaka Soka menjadi bingung. Ia tidak dapat memperhitungkan kemana kira-kira ujung pedang itu akan mengarah.

Namun kemudian Ular Laut yang telah kenyang pahit getir pertempuran dan perkelahian di darat maupun di lautan itu menjadi gembira. Dengan lincahnya ia bergerak menyerang dengan sengitnya. Dan perkelahian itupun berkobar dengan dahsyatnya.

Pedang Jaka Soka bergerak dengan cepatnya, mematuk-matuk seperti beribu-ribu mulut ular yang menyerang dari segala arah, namun Wilis benar-benar seperti bunga Pudak. Bunga pandan yang dikelilingi oleh duri-duri yang tajam, sehingga beribu-ribu ular itu tak dapat mendekatinya. Jaka Soka murid Nagapasa itu kemudian menjadi heran akan keterampilan Rara Wilis. Seperti di Banyubiru beberapa waktu lampau, meksipun ia telah mengerahkan segenap kemampuannya namun murid Ki Ageng Pandan Alas itu dapat mengimbanginya. Sekali-kali bahkan serangan-serangan yang berbahaya hampir saja menyentuh tubuhnya. Tetapi Jaka Soka benar-benar licik. Ia dapat berbuat seperti iblis yang selicik-liciknya. Ketika usahanya tidak juga segera berhasil mendesak lawannya, maka dengan liciknya ia mempengaruhi perasaan lawannya. Ketika mereka terlibat dalam satu pergulatan yang sengit tiba-tiba berbisiklah Jaka Soka dengan tersenyum, "Wilis kau benar-benar gadis yang cantik."

Hati Rara Wilis berdesir. Cepat ia meloncat surut. Nafasnya mengalir semakin cepat. Pengaruh kata-kata itu lebih dahsyat daripada tusukan pedang lawannya. Karena itu tubuhnya menjadi gemetar.

Meskipun kemarahannya menjadi semakin memuncak, namun ia tidak dapat melenyapkan jiwa kegadisannya. Ia menjadi ngeri mendengar kata-kata itu. Pada saat- saat yang demikian itulah Jaka Soka mengambil kesempatan. Dengan lincahnya ia meloncat menyerang. Untunglah Rara Wilis masih dapat menguasai dirinya sehingga ia masih sempat melihat serangan Ular Laut yang ganas itu. Maka sekali lagi pertempuran berkobar dengan sengitnya. Tetapi kini Jaka Soka telah memiliki kunci kelemahan perasaan hati seorang gadis. Karena itu Ular Laut yang ganas itu menjadi semakin gembira. Ia ingin melihat betapa hancur hati Mahesa Jenar melihat gadis cantik yang telah merebut hatinya itu menjadi permainannya. Kelicikan hatinya, meyakinkan, bahwa Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis segera berpegang teguh pada sifat-sifat kejantanan mereka. Justru karena itulah, maka sifat-sifat itu merupakan sifat-sifat yang dapat dimanfaatkan oleh iblis yang licin itu.

Tetapi bagaimanakah dengan gadis kecil yang nakal itu? Kalau tiba-tiba ia menyerbunya, maka entahlah apakah ia masih dapat bertahan melawan keduanya. Namun ia mengharap bahwa Rara Wilis lah yang akan mencegahnya. Jaka Soka bertempur terus sambil tersenyum. Kadang-kadang meluncurlah dari bibirnya yang tipis itu, kata-kata lembut untuk meruntuhkan hati lawannya.

Kadang-kadang ia merayu dengan manisnya kadang-kadang memuji dengan mesranya.

Mahesa Jenar akhirnya melihat kelicikan itu. Dengan marahnya ia menggeram, " Soka, kau telah berbuat curang."

Jaka Soka masih tersenyum sambil menggerakkan pedangnya. Jawabnya "Aku berkata sebenarnya Mahesa Jenar, alangkah indahnya wajah yang bulat ini. Apalagi kau Wilis sedang bersungut-sungut. Benar-benar gila aku dibuatnya."

Kata-kata itu benar-benar mempengaruhi perasaan Rara Wilis. Kemarahan, kebencian dan muak menjalari otaknya. Namun karena itu ia menjadi bingung. Bingung karena campur baur perasaan yang tak dapat dikendalikan.

"Kalau kau berbuat curang, aku pun tidak akan memperdulikan perjanjian kita lagi - sahut Mahesa Jenar - aku akan terjun dalam pertempuran."

"Bagus", jawab Jaka Soka "sejak semula aku telah mempersilahkan. Ternyata dugaanku benar, bahwa ajaran Pandan Alas tidak lebih dari pelajaran tari menari yang hanya dapat menumbuhkan perasaan kagum pada penarinya. Apalagi penari secantik Rara Wilis."

"Gila", geram Mahesa Jenar. Dadanya bergelora karena marah. Tetapi ia tidak berani berbuat dengan tergesa-gesa. Rara Wilis ternyata adalah seorang gadis yang mempunyai harga diri. Tetapi Rara Wilis kini benar-benar dipengaruhi oleh sifat-sifat kegadisannya. Karena itu beberapa kali ia terpaksa meloncat surut, menghindar dan menjauhi lawannya. Ia merasa betapa tangannya menjadi gemetar dan tubuhnya menjadi lemah. Berkali-kali berusaha untuk menegakkan kembali tekadnya bertempur mati-matian, namun perasaannya yang aneh selalu kembali membelit hati.

Jaka Soka melihat lawannya menjadi gelisah. Karena itu ia mempergunakan kesempatan sebaik-baiknya. Ia mencoba untuk mempermainkan gadis itu, menghinanya dengan senAllah-senAllah pada tubuhnya dan kemudian melumpuhkannya. Mahesa Jenar adalah orang yang terkenal dengan sifat-sifat keperwiraan serta kejantanannya. Ia selalu berusaha untuk menepati perjanjian-perjanjian yang telah dibuatnya langsung atau tidak langsung.

Namun kali ini perasaannya benar-benar diuji. Ia tidak dapat melihat peristiwa yang terjadi di muka hidungnya. Ia tidak dapat menyaksikan Rara Wilis, gadis yang telah mengikat hatinya itu mengalami perlakuan yang tidak adil. Karena itu hampir saja ia lupa diri.

Tetapi tiba-tiba terjadilah suatu peristiwa yang dapat merubah keadaan itu. Lamat-lamat dibawah angin pegunungan terdengar suara tembang. Mengalun seirama dengan desir angin lembut membelai hati mereka yang sedang dicekam oleh ketegangan.

Tembang Dandang Gula, yang semakin lama menjadi semakin jelas. Segera Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Mula-mula ia tidak tahu apakah maksud suara tembang itu. Suara tembang yang tiba-tiba saja ada diantara keributan api yang membakar lereng pegunungan Telamaya, dan diantara perkelahian antara hidup dan mati.

Tetapi kemudian ia tersenyum dalam hati. Ia kenal suara itu baik-baik. Suara yang telah banyak menolongnya dalam berbagai keadaan. Pada saat-saat ia hampir dibinasakan oleh Pasingsingan di alas Tambak Baja maupun di Banyubiru.

Tiba-tiba terdengarlah Mahesa Jenar berkata lantang, "Kakang Kebo Kanigara, siapakah yang berlagu tembang Dandang Gula itu?"

Terdengar Kebo Kanigara menjawab lantang pula, "Paman Pandan Alas. Ternyata ia hadir disini."

"Bagus", sahut Mahesa Jenar, "Orang tua itu tidak terikat pada perjanjian antara kita dengan Ular Laut yang gila itu. Bukankah perguruan Pandan Alas hanya merupakan perguruan yang tak berharga. Tidak lebih dari perguruan tari dari tari-tarian yang menggairahkan. Alangkah lebih menggairahkan kalau gurunya itu yang menari disini."

"Gila. Setan. Iblis", tiba-tiba Jaka Soka mengumpat habis-habisan. "Apa kerja kambing tua itu disini?"

"Melihat muridnya menari", tiba-tiba terdengar suara kecil.

Suara Endang Widuri. Selama ini urat syarafnya menjadi tegang setegang tali busur. Namun tiba-tiba kini telah mengendor dan gadis nakal itu telah dapat tersenyum pula. Karena suara tembang itu pula, maka keseimbangan perkelahian itu terpengaruh.

Tiba-tiba Rara Wilis menjadi seperti seorang yang menerima kekuatan baru. Kehadiran guru serta sekaligus kakeknya itu telah membangkitkan kebulatan tekadnya kembali. Suara tembang itu telah membantunya, menyingkirkan perasaan kegadisannya yang selama ini mengganggunya. Sebaliknya Jaka Sokalah yang kini menjadi gelisah. Ia sadar, bukan tidak sengaja Mahesa Jenar berteriak-teriak, bahwa orang orang tua itu tidak terikat dengan suatu perjanjian apapun. Karena itu, Jaka Soka menjadi cemas. Cemas akan kehadiran Pandan Alas.

PERTEMPURAN pun menjadi berubah.

Rara Wilis telah berhasil menguasai pedangnya dengan baik. Sekali-kali pedang itu menyambar dengan dahsyatnya kearah-arah yang berbahaya. Sedang Jaka Soka yang gelisah itu semakin kehilangan pengamatan atas pedang serta tongkat hitamnya. Demikianlah pertempuran itu berlangsung terus. Setapak demi setapak Rara Wilis mulai mendesak lawannya. Jaka Soka sekali-kali masih mencoba mempengaruhi perasaan lawannya, namun karena hatinya sendiri menjadi gelisah, maka usahanya tidak berhasil.

Kata-katanya menjadi janggal dan justru menjadikan Rara Wilis semakin teguh pada pendiriannya. Bahwa Ular Laut itu harus dibinasakan. Akhirnya terdengar Jaka Soka berteriak, "He, kalau kalian orang-orang jantan, suruh kambing jenggotan itu berhenti mengembik."

Yang menjawab adalah Mahesa Jenar, "Tak ada sangkut paut antara kita dengan orang tua itu. Kita telah berjanji menyelesaikan persoalan kita sendiri. Sedang Ki Ageng Pandan Alas berdendang untuk melepaskan kegemarannya sendiri. Di tempat lain dan dalam persoalan lain."

"Bohong," sahut Jaka Soka yang menjadi semakin gelisah, "Pandan Alas telah mencoba mempengaruhi perasaanku. Menakut-nakuti dan mencoba melemahkan perlawananku."

"Kenapa kau tiba-tiba menjadi takut?" sela Endang Widuri, "Bukankah kau sedang menonton tari-tarian yang menggairahkan.?"

Jaka Soka menggeretakkan giginya. Dipusatkannya panca inderanya untuk melawan Rara Wilis. Namun suara tembang yang dilontarkan dengan getaran indera yang kuat itu masih saja mengetuk-ngetuk hatinya. Karena itulah akhirnya dengan kemarahan yang meluap-luap Jaka Soka mengamuk sejadi-jadinya. Namun dengan demikian ia telah kehilangan sebagian dari pengamatan diri. Sedang lawannya perlahan-lahan telah berhasil menguasai keseimbangan perasaan sepenuhnya.

Maka akhirnya berlakulah segala kehendak Allah. Setiap kejahatan dan pengingkaran kepada firman-Nya pasti akan menerima hukumannya. Kali ini Rara Wilislah yang menjadi lantaran. Betapa dahsyat dan licinnya Ular Laut yang ganas itu, namun karena kegelisahan yang mengoncang-goncang dadanya maka ia telah kehilangan sebagian kegarangannya.

Demikianlah tiba-tiba saja ketika serangannya tak mengenai sasarannya, Rara Wilis meloncat maju. Dengan lincahnya pedang tipisnya terjulur lurus kearah lambung lawannya. Terasa ujung pedangnya menyentuh tubuh lawannya dan kemudian disusul dengan sebuah keluhan tertahan. Dan ketika pedang itu digerakkan mendatar, maka memancarlah darah dari perut Jaka Soka. Sebuah luka telah menganga.

Sesaat Jaka Soka tegak dengan wajah menyeringai menahan sakit. Tangannya menjadi gemetar dan kemudian kedua buah senjata dikedua tangannya itu terjatuh. Namun ia masih berdiri tegak dengan gagahnya. Bahkan akhirnya bibirnya yang tipis itu melukiskan sebuah senyum.

Senyum yang aneh, sedang dari matanya yang redup itu pun memancar sinar yang aneh. Dalam keadaan yang demikian itu ia masih mencoba melangkah maju mendekati Rara Wwilis. Bahkan terdengar dari sela-sela bibirnya yang gemetar kata-kata, "Wilis. Kau memang cantik."

Rara Wilis menjadi ngeri melihat peristiwa itu, seakan-akan sesosok hantu berdiri di hadapannya, siap untuk menerkamnya. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, "Pergi, pergi!"

Tetapi hantu itu tidak pergi. Dengan darah yang memancar dari lukanya, Jaka Soka masih berusaha melangkah maju. Senyumnya masih membayang di bibirnya yang tipis, sedang matanya yang redup masih juga memancarkan sinar yang menggelisahkan hati setiap gadis yang melihatnya. Bahkan ketika kengerian Jaka Soka maju setapak lagi, Rara Wilis tak dapat menahan kengerian hatinya.

Kembali terdengar ia berteriak, "Pergi, pergi. Jangan dekati aku." Namun hantu itu masih tegak. Dan masih terdengar ia berkata diantara senyumnya, "Marilah Wilis. Jangan takut. Kau sangat cantik."

Dan ketika setapak lagi Jaka Soka melangkah maju, tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya, dan dengan tak diduga oleh siapapun ia meloncat berlari sekencang- kencangnya menjahui hantu yang mengerikan itu. Ia sudah tidak sempat melihat Jaka Soka itu terhuyung-huyung dan kemudian jatuh tertelungkup.

"Wilis, Wilis," Mahesa Jenar terkejut bukan kepalang. Dengan suara yang lantang ia berteriak memanggil. Namun Rara Wilis berlari terus dan terus. Karena itu segera Mahesa Jenar berlari mengejarnya, "Wilis!" terdengarlah suara Mahesa Jenar memanggil, namun suara itu seakan-akan hilang ditelan lembah-lembah pegunungan. Sedang Rara Wilis seakan-akan tak mendengarnya. Tetapi langkah Mahesa Jenar lebih panjang daripadanya, sehingga kemudian Rara Wilis itu pun dapat disusulnya. Dengan tangannya yang kokoh kuat, Mahesa Jenar memegang pundaknya. Namun tiba-tiba Rara Wilis itu meronta-ronta sambil berteriak, "Lepaskan, lepaskan aku. Pergi, pergi ke asalmu."

"Wilis," bisik Mahesa Jenar.

"Aku tidak mau. Aku tidak mau!" teriak Rara Wilis semakin keras.

MAHESA JENAR sadar, bahwa segala ketakutan, kengerian yang disimpan di dalam dada gadis itu terhadap Jaka Soka kini meledak dengan dahsatnya. Karena itu sekali lagi ia mencoba menenangkannya. "Wilis. Tenanglah. Aku Mahesa Jenar".

Nama itu benar-benar berpengaruh dihati Rara Wilis. Kini ia tidak meronta-ronta lagi. Dan ketika ia menoleh, dilihatnya laki-laki itu. Mahesa Jenar. Tiba-tiba Rara Wilis memutar tubuhnya dan dijatuhkannya kepalanya didada laki-laki itu. Tangisnya pecah seperti bendungan dihantam banjir. Dari sela-sela isak tangisnya terdengar suaranya gemetar. "Kakang aku takut".

"Jangan takut."

Kata-kata Itu bagi Rara Wilis seperti air sejuk yang menyiram tenggorokannya pada saat ia kehausan. Karena itulah maka tangisnya menjadi semakin keras. Dan kembali kata- katanya yang gemetar terdengar.

"Kakang, aku hampir gila dibuatnya".

"Kini ia tidak akan menakut-nakuti lagi Wilis", jawab Mahesa Jenar. "Ia tidak mengejar aku ?" bertanya Rara Wilis.

"Ular Laut itu telah mati". Jawab Mahesa Jenar.

"Mati ?" ulang Rara Wilis."Siapakah yang membunuhnya ?" "Kau. Pedangmu", jawab Mahesa Jenar.

"Oh.." dan Rara Wilis menekankan kepalanya lebih rapat. Sesat mereka tenggelam ke dalam perasaan yang tidak menentu.

Tiba-tiba dada Rara Wilis menjadi lapang, selapang Rawa Pening yang terbentang jauh di bawah kaki mereka. Kini ia tidak akan dibayangi oleh senyum mengerikan dibibir Jaka Soka. Matanya yang redup tidak akan lagi menghentak-hentak dadanya. Memang sejak pertemuan yang pertama dengan Ular Laut itu dihutan Tambak Baya, ia tidak pernah dapat tenang apabila wajah yang selalu membayangkan senyum dibibir tipisnya serta sinar yang memancar dari matanya yang redup namun penuh nafsu itu membayang didalam angan-angannya. Dan kini orang yang mengerikan itu telah binasa.

Meskipun Lawa Ijo, sepasang Uling Rawa Pening dan segerombolannya nampaknya lebih garang dari Jaka Soka, namun bagi Rara Wilis, lebih baik ia harus berhadapan dengan wajah-wajah yang buas bengis itu, daripada wajah tampan yang memancarkan nafsu yang mengerikan. Lebih baik dadanya terbelah hancur dan mati daripada ia harus jatuh ke tangan Ular Laut dari Nusakambangan itu. Tetapi masa-masa yang mengerikan itu telah lampau. Kini ia berada ditangan laki-laki tempat ia menyangkutkan harapannya dimasa datang. Karena itu alangkah sejuk perasaannya. Tanpa ketakutan, tanpa kengerian dan tanpa dendam. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar mengangkat wajahnya. Ketika matanya terdampar ke arah api yang masih menyala-nyala itu, terdengar ia bergumam."Wilis, meskipun Jaka Soka telah binasa, namun bekas tangannya itu masih membahayakan Banyubiru".

Rara Wilis kemudian terdampar dibumi kenyataan setelah angan-angannya melambung tinggi setinggi bintang-bintang dilangit. Seperti Mahesa Jenar, iapun dengan tajamnya memandang api yang menyala-nyala itu, "Bagaimana dengan api itu kakang ?"

"Marilah kita kembali", ajak Mahesa Jenar. Rara Wilis mengangguk. Dan melangkahlah ia mendahului Mahesa Jenar kembali ketempat kuda-kuda. Dari kejauhan dilihatnya Kebo Kanigara dan Endang Widuri berdiri dengan tegang kaku. Disamping mereka, telah berdiri pula seorang lagi, Ki Ageng Pandan Alas. Ketika mereka melihat Rara Wilis berjalan kembali diiringkan oleh Mahesa Jenar, mereka menarik nafas dalam-dalam.

"Tidakkah kau mengalami sesuatu", terdengar Ki Ageng Pandan Alas bertanya kepada cucunya. Rara Wilis menggelengkan kepalanya. Tetapi ketika terpandang olehnya mayat Jaka Soka yang menelungkup di muka kaki kakeknya. Ia memalingkan wajahnya. "Aku melihat semua yang terjadi disini", berkata Ki Ageng Pandan Alas.

"Ketika aku datang bersama-sama Nyai Ageng Gajah Sora aku melihat kalian berkuda. Aku sudah mengira apa yang akan kalian lakukan, namun aku tidak segera dapat menyusul. Aku terpaksa menyerahkan Nyai Ageng dahulu kepada suaminya, baru aku menyusul kalian". 

Tetapi ketika aku melihat dikejauhan lima orang berkuda, aku menjadi curiga. Karena itu aku mendekatinya dengan diam-diam. Agaknya persoalan kalian demikian tegangnya, sehingga kalian tidak mendengar kehadiranku. Aku melihat kelicikan Jaka Soka yang mempengaruhi perasaan lawannya.Karena itu aku terpaksa berdendang lagu Dandang Gula.

"Suara eyang merdu sekali", tiba-tiba Widuri menyela. Ki Ageng Pandan Alas tersenyum. Kemudian katanya", lalu bagaimana dengan api itu ?

SERENTAK mereka menoleh kearah api dilereng bukit. Api itu masih menyala. Namun agaknya api itu tidak jauh maju. Bahkan dibeberapa bagian tampak, bahwa lidahnya tidak lagi menjilat langit.

"Api itu susut", gumam Mahesa Jenar. "Mudah-mudahan usaha paman Wanamerta dan rakyat Banyubiru berhasil", sahut Kebo Kanigara.

"Api itu tidak akan dapat menjalar terus", sambung Widuri. "Tetapi api itu belum sampai didaerah yang dipisahkan oleh Rakyat Banyubiru itu", sahut Mahesa Jenar.

"Marilah kita lihat", berkata Ki Ageng Pandan Alas.

"Aku akan mengambil kudaku." Sesaat kemudian mereka telah mengambil kuda masing- masing. Ki Ageng Pandan Alas pun kemudian meloncati padas-padas dilereng bukit itu, menyusup beberapa gerumbul untuk mengambil kudanya. Dan sesaat kemudian mereka berlima telah berpencar ke Banyubiru. Tetapi Mahesa Jenar yang berkuda dipaling depan, tiba-tiba berhenti. Katanya, "Paman Pandan Alas, api itu berhenti disini."

Ki Ageng Pandan Alas dan Kebo Kanigara mengerutkan keningnya, "Ya, api itu berhenti disini."

"Aneh," desis mereka hampir bersamaan. Untuk sesaat mereka berhenti termangu- mangu. Api itu tidak menjalar terus keatas. Dikejauhan masih terdengar campur baur dari suara ranting-ranting yang terbakar dengan suara teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih berusaha menarik garis batas antara daerah ilalang dan perdu yang dimakan api dengan pedukuhan mereka, dengan hutan-hutan getah dan hutan-hutan buah- buahan. Sekali-kali mereka masih melihat beberapa ekor kijang, babi hutan dan binatang- binatang lain berlari-lari meninggalkan daerah yang panas itu.

Tiba-tiba dada Mahesa Jenar terguncang dahsyat. Dalam bayangan cahaya api yang kemerah-merahan, ia melihat sesosok tubuh yang berdiri tegak diantara batang-batang ilalang. Demikian terkejutnya sehingga dengan serta merta ia berkata, "Kakang, kau lihat orang itu?"

Kebo Kanigara mengerutkan keningnya. Ia pun melihat bayangan itu. Ki Ageng Pandan Alas dan yang lain-lain pun akhirnya melihat pula.

"Siapakah dia?" Wilis bergumam. Tiba-tiba ia menjadi ngeri. "Pasti bukan Jaka Soka", sahut kakeknya. Untuk sesaat mereka terdiam. Aneh. Seseorang berdiri diantara batang- batang ilalang yang sedang dimakan api. Kalau api itu menjalar terus, maka orang itu pun pasti akan menjadi abu pula. Namun agaknya api itu berhenti.

"Angin tidak bertiup lagi", desis Mahesa Jenar. "Batang-batang ilalang itu belum kering benar", sahut Kebo Kanigara. Tetapi Mahesa Jenar tidak puas dengan sangkaan- sangkaannya saja. Segera ia meloncat turun dari kudanya sambil berkata, "Akan aku dekati orang itu."

"Tetapi kalau api itu menjalar", Wilis mencoba untuk mencegahnya. "Tidak. Api itu benar-benar berhenti disini. Kalau tiba-tiba api itu bergerak, aku dapat berlari menjauhinya", jawab Mahesa Jenar.

"Aku pergi bersamamu", sahut Kebo Kanigara. "Kita pergi bersama-sama", sambung Endang Widuri. Mahesa Jenar tidak dapat mencegah mereka. Segera yang lain pun berloncatan pula dari atas kuda mereka. Tetapi demikian mereka menginjakkan kaki mereka, terasa air memercik membasahi pakaian mereka.

"Air", teriak Widuri. Baru Mahesa Jenar merasa, bahwa kakinya pun terendam air. Maka katanya, "Air dari blumbang yang dijebol." MEREKA diam. Perlahan-lahan mereka berjalan mendekati bayangan yang dilindungi oleh batang-batang ilalang. Cahaya yang kemerah-merahan bergerak-gerak dengan garangnya dan pancaran panasnya terasa meraba-raba tubuh mereka. Baru beberapa langkah mereka berjalan, peluh telah mengalir dari lubang-lubang di kulit mereka. Selain panas yang membelai wajah mereka, merekapun harus berhati-hati. Apakah orang itu salah seorang dari kawan Jaka Soka, atau orang lain yang belum mereka kenal. Mereka tidak tahu apakah maksud orang itu, berdiri menghadap api yang sedang marah. Semakin dekat, hati mereka semakin berdebar-debar. Ketika mereka kemudian dapat melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Orang itu adalah seorang tua yang berwajah tenang dan dalam dan mengenakan jubah putih.

“Panembahan Ismaya.” Hampir bersamaan kelima orang itu bergumam. “Ya, Panembahan Ismaya,” Kebo Kanigara menegaskan. Mereka menjadi yakin ketika orang tua itu menoleh ke arah mereka. Dan kemudian wajahnya yang dibayangi oleh cahaya api itu memancarkan sebuah senyum.

“Marilah, marilah mendekat,” katanya perlahan-lahan. Perlahan-lahan mereka berlima berjalan mendekati Panembahan Ismaya. Sambil membungkuk hormat Kebo Kanigara menyapanya,”Selamat malam, Panembahan.”

Panembahan tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Katanya, “Marilah Datanglah kemari.” Mereka berlima melangkah lebih dekat lagi.

Dan sekali lagi mereka menekan gelora di dalam dada mereka, ketika mereka melihat bahwa Panembahan Ismaya memegang di kedua tangannya sepasang keris yang bercahaya. Bahkan demikian terguncang hati Mahesa Jenar, sehingga tanpa sengaja ia berdesis,

“Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten.”

Rara Wilis dan Endang Widuri terkejut. Agaknya itulah keris-keris pusaka Kraton Demak yang menggemparkan itu. Sehingga tiba-tiba terdengarlah Widuri berkata, “Pantas, api itu berhenti disini.”

Panembahan Ismaya tertawa perlahan-lahan. Perlahan-lahan terdengar Panembahan itu berkata, “Aku sedang berusaha membantu rakyat Banyubiru.”

“Panembahan.” Terdengar Kebo Kanigara bertanya, “Apakah karena kedua keris itu maka api berhenti disini ?”

“Aku tidak tahu,” jawab Panembahan Ismaya, “Aku tidak tahu kenapa api itu berhenti. Apakah karena angin tidak bertiup lagi, apakah karena batang-batang ilalang disini masih jauh lebih basah daripada lereng-lereng di bagian bawah, ataukah karena air yang mengalir di bawah kaki kita ini. Atau karena kesaktian keris-keris ini. Atau karena semuanya. Tetapi yang jelas adalah Allah telah berkenan memenuhi permintaan rakyat Banyubiru. Api itu tidak membinasakan mereka, pedukuhan mereka dan sumber hidup mereka.”

Yang mendengar kata-kata itu menundukkan wajah mereka. Terasa betapa Maha Kuasanya Yang Maha Agung. Air, keris-keris itu dan segala usaha yang lain adalah pernyataan permohonan kepada Yang Maha Kuasa untuk menyelamatkan mereka. Dan Yang Maha Kuasa telah memenuhinya. “Api itu telah surut.”

Kembali terdengar Panembahan Ismaya berkata, “Mudah-mudahan sebentar lagi api akan dapat dikuasai dan menjadi padam.”

“Mudah-mudahan.” Sahut Kebo Kanigara. Kata-kata itu seperti demikian saja meloncat dari bibirnya.

KEMUDIAN kepada Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya berkata, ”Sesudah ini Mahesa Jenar, pekerjaanmu akan segera selesai.”

Dada Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Dipandangnya api yang semakin lama semakin susut. Bahkan diujung lereng, api telah hampir padam sama sekali. Hanya merah-merah baranya yang masih tampak memecah kepekatan malam. Air di bawah kaki mereka masih mengalir terus, meskipun tidak sederas semula. Sejalan dengan itu api menjadi semakin suram. Sekali-kali terdengar suara rakyat Banyubiru berteriak-teriak, ”Api telah susut, api telah susut!” Dan sahut yang lain meninggi, ”Alirkan air dari segenap parit ke mari. Terus, jangan berhenti sebelum padam sama sekali.”

Panembahan Ismaya kemudian mengangkat kedua keris di tangannya, melampaui ubun- ubunnya dan kemudian menyarungkannya di warangkanya masing-masing. Wajahnya yang tenang, dalam, dan penuh ungkapan kedamaian itu masih memandangi sisa api yang memercik ke udara. Sekali masih tampak lidahnya menjilat tinggi, namun kemudian kembali surut. Kemudian Panembahan Ismaya memutar tubuhnya menghadap kepada kelima orang yang berdiri di sampingnya. Ketika ia melihat kehadiran Pandan Alas, Panembahan itu menyapanya, ”Ah, agaknya Ki Ageng Pandan Alas juga melihat api itu.”

Ki Ageng Pandan Alas mengangguk-anggukkan kepalanya sambil menjawab, ”Api itu benar-benar mengejutkan, Panembahan.”

”Tetapi sebentar lagi api itu akan padam,” jawab Panembahan Ismaya.

”Dan dengan demikian akan selesai pula kisah perantauan Rangga Tohjaya.”

”Apakah pekerjaanku sudah selesai Panembahan?” tanya Mahesa Jenar. ”Sudah, meskipun belum bulat,” jawab Panembahan Ismaya, ”Tetapi sisanya tak dapat kau lakukan sekarang, nanti atau seminggu dua minggu, atau sebulan atau dua bulan lagi.”

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Apakah ia masih harus menunggu sampai waktu yang tak tertentu. Namun agaknya Panembahan tua itu mengerti gelora perasaannya, sehingga dengan senyum ia berkata, ”Meskipun demikian Mahesa Jenar, pekerjaan yang tersisa itu adalah pekerjaan yang semudah-mudahnya, sehingga kau tak usaha prihatin karenanya. Selama ini kau dapat melaksanakan segala rencana pribadimu.”

Mahesa Jenar menundukkan wajahnya, dan tiba-tiba wajah Rara Wilis pun menjadi kemerah-merahan. ”Apakah sisa pekerjaan itu, Panembahan?” tanya Mahesa Jenar untuk mengalihkan perhatian mereka. ”Menyerahkan keris-keris ini ke Demak,” jawab Panembahan Ismaya. ”Kenapa tidak besok, lusa bahkan seminggu dua minggu?” tanya Mahesa Jenar pula.

”Sudah aku katakan sebabnya,” sahut Panembahan tua itu. ”Dan sekarang aku menjadi semakin jelas menghadapi persoalan keris-keris ini. Aku telah bertemu dengan seorang Wali yang waskita, yang meramalkan bahwa seorang anak gembala akan merayap naik ke atas tahta. Kepada Wali yang bijaksana itu pun aku telah mengaku bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten ada padaku. Tetapi Wali itu berkata, ”Simpanlah dan serahkanlah ke Demak bersama-sama anak gembala itu.”

"Dan beruntunglah kau Kebo Kanigara bahwa anak gembala itu adalah kemenakanmu yang nakal itu.”

”Karebet?” sahut Kebo Kanigara.

”Ya,” jawab Panembahan Ismaya. ”Ia berada di sini sekarang, Penembahan,” kata Kebo Kanigara, ”Justru sedang dalam pembuangan karena ia melakukan kesalahan di istana.”

”Anak itu sekarang berada di rumah Ki Buyut,” jawab Panembahan Ismaya, ”Ia sedang membuat suatu rencana permainan yang mengasyikkan.”

”Apakah rencana itu?” desak Kebo Kanigara. Panembahan Ismaya menggeleng lemah, ”Aku tak tahu,” jawabnya. Namun tampak di wajah orang tua itu ia sedang merahasiakan sesuatu. Sesaat kemudian suasana menjadi hening. Yang terdengar adalah sisa-sisa api dan teriakan-teriakan orang-orang Banyubiru yang masih memenuhi lereng. Mereka agaknya belum puas sebelum mereka melihat api itu padam sama sekali.

Kemudian terdengar Panembahan Ismaya berkata, ”Kembalilah kepada mereka. Kalian akan dapat tidur nyenyak untuk seterusnya. Banyubiru akan pulih kembali. Gajah Sora telah berada di tempatnya, dan Lembu Sora telah meyakini kesalahannya. Bahkan anaknya satu-satunya telah menjadi korban.

Sedangkan kau Mahesa Jenar, keris yang kau cari telah kau ketemukan. Bahkan kau telah menemukan pula sebuah hati, hati yang setia dan teguh pada janji.” Sekali lagi wajah Mahesa Jenar terbanting ke tanah. Ketika ia mencuri pandang ke arah Rara Wilis, hatinya menjadi berdebar-debar. Dilihatnya setitik air mata menggantung di pelupuk gadis itu, berkilat-kilat karena cahaya api yang kemerah-merahan.

”KI AGENG,” tiba-tiba terdengar suara Panembahan Ismaya bersungguh- sungguh, ”Sungguh aku tak mengenal kesopanan, namun kesopanan-kesopanan itu akan dipenuhi kelak. Ki, aku tak sabar lagi menunggu saat yang telah sekian lama terendam di dada Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Baiklah aku mendahului segalanya, bahwa pada saatnya aku dan Kanigara akan bersedia mewakili keluarga Mahesa Jenar datang kepada Ki Ageng untuk melamar cucu Ki Ageng.”

”Oh!” Orangtua dari Gunungkidul itu mengangguk-angguk, ”Telah lama aku menyediakan diri untuk menerima lamaran itu.”

Kembali suasana menjadi sepi hening. Sekali lagi wajah Panembahan Ismaya menyapu api yang sudah hampir padam. Kemudian setelah menarik nafas panjang, Panembahan itu berkata, ”Marilah kita sowang-sowangan untuk sementara. Aku akan kembali ke Karang Tumirits. Kalian agaknya sudah ditunggu-tunggu oleh rakyat Banyubiru.”

Kemudian kepada Mahesa Jenar Penambahan berkata, ”Setiap saat kau dapat datang kepadaku bersama-sama dengan Kebo Kanigara. Dan setiap saat kau dapat mengajak aku ke Gunungkidul. Jangan terlalu lama menunggu. Sesudah itu, baru kau pikirkan bagaimana kau akan menyerahkan Karebet bersama Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang untuk sementara biarlah aku simpan dahulu.”

Mahesa Jenar mengangguk hormat. Jawabnya dengan penuh perasaan, ”Terimakasih Panembahan.” Kepada Ki Ageng Pandan Alas, Panembahan Ismaya berkata, ”Ki Ageng dapat menyediakan lembu, kambing dan ayam sejak sekarang. Kami akan segera datang.”

”Terimakasih. Terimakasih,” jawab Ki Ageng Pandan Alas sambil tertawa.

Panembahan tua itu akhirnya berjalan perlahan-lahan meninggalkan mereka. Sama sekali tidak menunjukkan kesaktiannya sebagaimana apabila ia sedang mengenakan jubah abu- abu dan rana di wajahnya. Ia tidak lebih dari seorang Panembahan tua yang berjalan tertatih-tatih di antara batang-batang ilalang dan batu-batu yang terendam air. Namun beberapa langkah kemudian Panembahan itu berhenti dan berkata kepada Mahesa Jenar, ”Tak perlu orang-orang lain mengetahui bahwa masalah Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten telah hampir mendapat pemecahan. Tak perlu kau berceritera tentang anak nakal itu kepada siapapun. Keris-keris itu kini tak usah kalian persoalkan lagi. Pada saatnya ia akan muncul kembali bersama-sama dengan Kyai Sangkelat yang kini telah berada di tangan Karebet. Dan kaulah salah seorang yang paling berjasa dalam usaha penemuan keris-keris itu. Satu- satunya orang selain kalian yang berada di sini, hanyalah Ki Ageng Gajah Sora yang boleh mendengarnya.”

Mahesa Jenar mengangguk dalam-dalam sambil menjawab, ”Baik Panembahan.” ”Seluruh isi istana akan berterimakasih kepadamu.”

Panembahan itu bergumam perlahan-lahan, kemudian ia meneruskan perjalanannya kembali. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan orang-orang lain masih saja berdiri mematung, mengawasi punggung Panembahan Ismaya. Ketika mereka melihat orang tua itu menyusup alang-alang yang lebat, maka hati mereka terguncang. Apalagi mereka yang belum mengenal siapakah sebenarnya Panembahan tua itu. Bahkan terdengarlah Widuri berbisik, ”Ayah, kasihan Panembahan. Tidakkah ayah mengantarkannya sampai ke Karang Tumaritis?”

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tersenyum di dalam hati. Gadis itu tidak akan berkata demikian seandainya ia tahu bahwa Panembahan Ismaya adalah Pasingsingan sepuh yang dahulu pernah bergelar Pangeran Buntara. Sebenarnya Ki Ageng Pandan Alas pun menjadi heran, bahwa Kebo Kanigara yang menjadi salah seorang putut-nya dan bernama Putut Karang Jati itu membiarkan orang setua Panembahan Ismaya menempuh perjalanan sendiri ke Karang Tumaritis. Jarak yang tidak terlalu dekat dari Banyubiru. Tetapi orang tua itu berpikir jauh. Kalau tak ada sesuatu sebab, pastilah Kebo Kanigara tak berbuat demikian. Dan bahkan Panembahan itu pasti akan minta kepada putut-nya untuk mengantarkannya.

”Ayah,” terdengar Endang Widuri mengulangi kata-katanya, ”Apakah Ayah tidak mengantarkannya?” ”Kasihan Panembahan,” desis Kebo Kanigara.

Kemudian kepada Widuri ia berkata, ”Antarkanlah, Widuri. Aku masih mempunyai kepentingan di Banyubiru. Aku akan tinggal di sini.”

Widuri mengerutkan keningnya.

”Kenapa aku?” ”Selain aku, kaulah orang yang terdekat,” jawab Kanigara. ”Emoh,” sahut Widuri sambil menggeleng.

”Kalau begitu, marilah kita pergi bersama mengantarkan Panembahan,” sambung ayahnya.

Widuri kemudian bersungut-sungut sambil menjawab, "Aku belum melihat Banyu Biru dalam suasana yang berbeda seperti kemarin."

"Apa kepentinganmu disini?," bertanya ayahnya.

Tiba-tiba Widuri terdiam. Apakah kepentingannya di Banyu Biru?. Terasa betapa beratnya meninggalkan tanah perdikan ini. Apakah karena bukit-bukitnya yang berjajar- jajar seperti benteng raksasa, apakah karena Rawa Pening yang berkilat memantulkan cahaya matahari disiang hari dan memantulkan cahaya bulan dan bintang-bintang dimalam hari?.

Tiba-tiba ia mendengar ayahnya tertawa. Widuri terkejut. Dan tahulah ia bahwa ayahnya tidak bersungguh sungguh menyuruhnya mengantarkan Panembahan Ismaya. Dan tahulah ia bahwa ayahnya sedang menggodanya.

Tiba-tiba wajahnya menjadi merah. Serta merta dicubitnya lengan ayahnya keras-keras "Jangan Widuri," ayahnya berdesis. Cubitan Widuri memang sakit. Tetapi justru karena itu, orang-orang lainpun mengetahuinya.

Bahkan kemudian Wilis menggodanya pula, "apakah di BanyuBiru ada yang mengikatmu Widuri?".

"Ada," sahut Widuri sambil memiringkan bibirnya. "Siapa?," desak Wilis.

"Jaka Soka," jawabnya. Dan yang lainpun tertawa.

Sesaat kemudian Kebo Kanigara berkata, "Biarkanlah Panembahan Ismaya pulang sendiri. Tak akan ada bahaya yang mengancamnya. Dan kita, marilah kita temui Ki Ageng Gajah Sora."

Seperti orang tersadar dari mimpi, mereka sekali-kali memandang kearah api yang hampir padam. Sesaat kemudian merekapun segera mendapatkan kuda-kuda mereka lalu meloncat ke punggungnya. Mereka kini tidak perlu berpacu lagi. Meskipun demikian kuda-kuda itupun berlari cukup cepat.

Banyak persoalan yang berputar-putar dikepala Rara Wilis dan bahkan didalam hati Ki Ageng Pandan Alas. Bagaimana kedua keris itu tiba-tiba saja ada di tangan Panembahan Ismaya. Mereka telah pernah mendengar cerita Mahesa Jenar, apalagi Ki Ageng Pandan Alas, sesaat setelah keris itu hilang, Mahesa Jenar dan Gajah Sora segera mendapatkannya di alun-alun Banyu Biru, dan mengatakan bahwa sepasang keris itu diambil oleh seseorang yang mengenakan jubah abu-abu, bahkan pada saat itu, Mahesa Jenar dan GajahSora menyangka bahwa orang itu adalah Pasingsingan.

Meskipun demikian, dengan bijaksana mereka akan menyimpan pertanyaan itu, sampai nanti pada saatnya, Mahesa Jenar pasti akan mengatakannya.

Beberapa saat kemudian, ketika Mahesa Jenar menoleh ke lereng bukit Telamaya, dilihatnya api sudah tidak berdaya lagi untuk merambat ke barat. Asap putih kemerahan masih tampak mengepul tinggi, kemudian pecah berserakan ditiup angin malam yang lemah. Sehelai helai asap itu masih nampak mengalir ke selatan menghantam bukit.

"Api telah padam," desisnya.

Yang lainpun memandang sesaat ke lereng. Sebuah lapangan hitam merah menganga di kaki bukit Telamaya. Bekas-bekas api itu tampak seperti sebuah luka parah, yang menempel di tebing bukit.

Ketika mereka sudah mendaki lebih tinggi lagi, sampailah mereka ke tempat orang- orang Banyu Biru berkumpul setelah berjuang menebas perdu dan alang-alang serta membuat parit kelereng bukit. Ketika Mahesa Jenar melihat Wanamerta tua berdiri bersandar tangkai pacul maka segera disapanya, "pekerjaan paman ternyata berhasil."

Wanamerta menoleh. Sambil mengatur nafasnya ia menjawab, "Ah, bukan pekerjaanku. Pekerjaan kita semua."

"Ya," sahut Mahesa Jenar, "pekerjaan kita semua." "Dari manakah anakmas tadi?," Wanamerta bertanya. "Mengejar kelinci."

"He," Wanamerta heran.

"Aku telah menemukan sebab dari kebakaran ini"

"He" "Nanti aku ceritakan, dimana kakang Gajah Sora dan Arya Salaka?" "Disana, disebelah timur," jawab Wanamerta.

"Aku ingin menemuinya," kata Mahesa Jenar sambil melangkah. "Nanti dulu," tiba-tiba Wanamerta berteriak, "Siapa?" ”KAKANG Gajah Sora,” jawab Mahesa Jenar.

”Gajah Sora. Gajah Sora?” orangtua yang gemuk itu bergumam, ”O...” tiba-tiba Wanamerta seperti disengat kelabang. ”Ya, tadi aku melihatnya. Tadi aku sudah bercakap-cakap dengan Ki Ageng.” Wanamerta mengingat-ingat, ”Tetapi, bukankah Ki Ageng berada di Demak?”

”Sudah pulang,” jawab Mahesa Jenar pendek. ”Ya, sudah pulang. Aku sudah melihatnya,” ulang Wanamerta. Dan tiba-tiba saja orang tua itu melemparkan paculnya. Dengan meloncat-loncat ia berlari kencang-kencang ke arah timur. Terdengarlah ia berteriak-teriak, ”He, Ki Ageng Gajah Sora telah kembali.”

Laskar Banyubiru yang baru saja datang dari Pamingit tidak terkejut. Mereka telah menemui kepala daerah yang mereka suyudi. Namun bagi mereka yang tinggal di Banyubiru, teriakan itu seakan-akan mengetuk-ngetuk hati mereka keras sekali. Mahesa Jenar dan kawan-kawannya pun segera mengikuti arah Ki Wanamerta. Menyusup di antara orang-orang Banyubiru yang masih berdiri di sana-sini dengan alat-alat di tangan mereka. Ketika Wanamerta melihat Ki Ageng Gajah Sora berdiri di samping Arya Salaka dan Nyai Ageng Gajah Sora, terdengarlah Wanamerta itu berteriak keras-keras, ”Angger, kau telah datang di antara kami.” Dan sebelum Gajah Sora menjawab, orang tua itu telah menubruknya. Dirangkulnya Gajah Sora seperti memeluk anaknya yang telah hilang, dan kini ditemuinya kembali.

Gajah Sora terkejut, bahkan ia menjadi heran. Wanamerta telah melihatnya tadi. Tetapi ia berdiam diri dan membiarkan orang tua itu menangis terisah-isak. Ya, orang tua yang setia itu menangis. Di sela-sela tangisnya terdengar Wanamerta berkata, ”Aku telah melihat Angger tadi. Tetapi karena ketegangan urat syarafku, maka aku menyangka bahwa Angger sudah lama tidak berada di Banyubiru. Dan kini Angger telah kembali. Kembali seperti apa yang kami harapkan. Bahkan kami yakini, bahwa pada saatnya Angger akan kembali.”

”Terimakasih Paman,” jawab Gajah Sora. Perlahan-lahan Wanamerta melepaskan tangannya. Kemudian Gajah Sora itu pun diperkenalkan dengan Mantingan dan Wirasaba yang selama ini ikut serta membantu mereka, merasakan pahit getir bersama rakyat Banyubiru yang setia. Setia kepada cita-cita mereka, setia pada tanah mereka. Kini semua sudah lalu. Tak ada persoalan lagi antara Pamingit dan Banyubiru.

Tak ada persoalan lagi antara Banyubiru dan gerombolan-gerombolan liar yang dikemudikan oleh orang-orang sakti yang berilmu nasar. Sebab mereka telah dibinasakan oleh kekuatan-kekuatan yang dibenarkan oleh Allah Yang Maha Esa.

Malam bertambah dalam juga. Api di lereng telah padam. Kini mereka sudah dapat beristirahat. Laskar yang datang dari Pamingit pun segera pulang ke rumah masing- masing. Menemui keluarga mereka untuk menyatakan keselamatan diri. Beberapa orang terpaksa berkabung karena kehilangan sanak kadang mereka. Namun mereka yakin bahwa arwah-arwah mereka itu akan diterima oleh Allah Yang Maha Pengasih. Sebab mereka gugur dalam perjuangan untuk menegakkan rasa cinta kasih sesama, rasa cinta kasih kepada Allahnya. Yang akan datang adalah hari esok yang penuh dengan kerja. Memperbaiki tanggul yang jebol, menanami kembali lereng-lereng bukit yang gundul untuk menahan arus air hujan. Namun kerja itu akan dilakukan dengan hati yang cerah di hari-hari yang cerah pula. Ketika matahari pada keesokan harinya memancarkan cahayanya yang lembut menyentuh permukaan Rawa Pening, sibuklah orang-orang Banyubiru dengan kerja masing-masing. Wajah-wajah mereka yang riang menggambarkan isi hati mereka yang terang. Mereka telah merencanakan untuk menyelenggarakan suatu wiwahan sebagai pernyataan syukur kehadapan Allah Yang Maha Pengasih, yang telah melimpahkan cinta kasih-Nya kepada rakyat Banyubiru.

Di pendapa rumah Kepala Daerah Tanah Perdikan Banyubiru, berdirilah seorang anak muda yang gagah, berdada bidang, berwajah jernih. Ia kini tidak lagi mengenakan pakaian yang lungset kumal. Namun kini ia telah pantas disebut sebagai putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Dengan wajah yang cerah ia melihat betapa rakyatnya sibuk mempersiapkan hari yang akan mereka rayakan bersama. Beberapa orang memasang janur-janur kuning dan yang lain membuat obor-obor yang besar. Tiba-tiba hatinya bergetar ketika ia melihat seorang gadis duduk di tangga gandhok kulon. Gadis itu pun berwajah cerah secerah matahari. Tanpa disadarinya, selangkah demi selangkah ia pergi menemui gadis itu. ”Bukankah kau ingin melihat Rawa Pening?” ajak Arya Salaka.

GADIS itu tersenyum. Segera ia berdiri. Namun kemudian wajahnya menjadi kemerah- merahan. Sambil duduk kembali ia menggeleng, "Nanti Kakang, Ayah sedang mandi."

"Kita pergi berdua," ajak Arya Salaka. Widuri menggeleng. Tiba-tiba, ya tiba-tiba saja timbullah perasaan malu di dalam dadanya. Perasaan yang selama ini tak pernah mengganggu dirinya. Karena itu ia menjawab, "Aku menunggu Ayah."

Arya Salaka menjadi heran. Gadis itu telah mengalami suatu perubahan di dalam dirinya. Tetapi Arya Salaka tidak mengetahuinya. Ia menyangka bahwa ayah gadis itu pun telah mengajaknya pula. Maka katanya, "Baiklah Widuri. Nanti aku datang kembali."

Arya Salaka pun perlahan-lahan melangkah pergi. Kembali ia menemani kerja rakyatnya. Tak mengenal lelah. Perlambang dari kemauan mereka di hari-hari yang akan datang. Kerja keras untuk menyongsong hari-hari yang bahagia bagi anak cucu mereka. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem kerta raharja.

Sementara itu di gandhok wetan duduklah dalam satu lingkaran, Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar dalam kesempatan itu telah menceriterakan beberapa persoalan mengenai Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Sehingga akhirnya Ki Ageng Pandan Alas berkata sambil mengangguk- anggukkan kepalanya, "Baru sekarang aku menjadi jelas. Karena itulah Panembahan Ismaya berkata, bahwa pekerjaanmu sudah hampir selesai."

"Ya, Paman," jawab Mahesa Jenar.

"Pada suatu saat, Anakmas..." kata Ki Ageng pula, "Aku ingin juga pergi ke balik Gunung Gajah Mungkur itu. Tunjukkan kepadaku rumah orang yang bernama Paniling dan Darba, seperti yang Anakmas ceriterakan. Alangkah lucunya kalau aku melihat wajahnya. Persahabatan kami yang bertahun-tahun di masa lampau seperti persahabatan di dalam mimpi saja. Dan baru sekarang aku tahu bahwa Pasingsingan telah melampaui tiga masa."

"Baiklah Ki Ageng," jawab Mahesa Jenar, "Besok aku antarkan Ki Ageng ke Pudak Pungkuran." Pembicaraan itu akhirnya terputus ketika mereka mendengar hiruk-pikuk di halaman.

"Mereka ingin merayakan hari yang cerah ini," desis Rara Wilis.

"Aku akan melihat mereka," kata Ki Ageng Pandan Alas sambil melangkah keluar. Tinggallah di dalam gandok itu Rara Wilis dan Mahesa Jenar. Untuk beberapa saat mereka terbungkam. Tak sepatah kata pun terlontar dari sela-sela bibir masing-masing. Bahkan kemudian terdengar nafas Rara Wilis semakin cepat mengalir. Akhirnya, setelah suasana gandok wetan itu hening sejenak, terdengarlah Mahesa Jenar berkata, "Adakah kau ingin kembali ke Gunung Kidul?"

Rara Wilis mengangguk lemah. Katanya, "Aku mempunyai beberapa keinginan, tetapi bukan akulah yang akan menentukan."

"Kita tentukan bersama-sama," jawab Mahesa Jenar. Rara Wilis tersenyum, katanya, "Terserahlah kepada Kakang."

"Wilis," tiba-tiba Mahesa Jenar berkata bersungguh-sungguh. "Aku akan selalu mendekati keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Bagaimanakah kalau kami kemudian untuk sementara tinggal bersama-sama Panembahan Ismaya di Karang Tumaritis sebelum aku menyerahkannya kembali ke Demak bersama-sama Jaka Tingkir?"

"Terserahlah kepada Kakang. Tempat itu menyenangkan juga. Tenang dan tentram."

Kembali mereka terdiam. Namun di angan-angan mereka terancamlah harapan bagi masa depan mereka. Bukan karena mereka akan mendapat hadiah dan kedudukan, namun karena hati mereka yang telah bertemu dan berpadu, setelah sekian lama berjuang untuk mengabdikan diri mereka kepada tugas-tugas mereka.

MAHESA JENAR sama sekali tak mengharapkan bahwa kelak namanya akan dicantumkan di dalam rontal-rontal atau dipahatkan di dinding-dinding istana dan gapura- gapura.

Ia hanya mengharap, agar Demak kembali menemukan kekuatannya. Menemukan sipat kandel-nya. Sedang apa yang dilakukan adalah kewajiban yang seharusnya dilakukan. Sekali lagi menggemalah tekad di dalam dadanya, bahwa pengabdian tidaklah harus dilakukan di dekat dan sekitar istana. Di antara rakyat pun ia akan dapat melakukan pengabdian. Pengabdian bagi sesama dan pengabadian bagi Allah Yang Maha Esa, Allah Yang Mahasa Besar yang telah menciptakan bumi, alam dan segenap isinya.

Tetapi Mahesa Jenar tidak dapat segera meninggalkan Banyubiru. Masih ada beberapa persoalan yang harus ditungguinya. Endang Widuri masih ingin tinggal lama lagi, dan

Kebo Kanigara masih harus menemui Mas Karebet. Namun hari-hari yang akan datang adalah hari-hari yang cerah. Hari yang cerah bagi Mahesa Jenar dan Rara Wilis. Hari yang cerah bagi Banyubiru dan Pamingit. Hari-hari yang cerah pula bagi Arya Salaka dan Endang Widuri. Mahesa Jenar dan Rara Wilis tidak akan menunggu waktu terlalu lama. Sebab umur-umur mereka selalu merayap-rayap meninggalkan usia mereka. Tetapi di Banyubiru terasa menjadi semakin sepi. Mantingan dan Wirasaba harus kembali ke tempat masing-masing. Wirasaba harus kembali ke istrinya yang setia, sedang Mantingan harus kembali ke gurunya dan kepada pekerjaannya, Dalang.

”Kakang Mahesa Jenar,” kata Mantingan pada saat ia minta diri dari Banyubiru, ”Aku akan datang kembali menemui Kakang nanti apabila datang saatnya Kakang memerlukan aku. Mantingan sebagai seorang dalang. Bukankah akan nikmat sekali, apabila aku mendapat kehormatan untuk meramaikan perhelatan perkawinan Kakang? Aku akan membawakan ceritera yang paling menarik, Parta Krama”

Mahesa Jenar hanya dapat tersenyum menanggapi kata-kata Mantingan itu, sedang Rara Wilis menundukkan wajahnya yang kemerah-merahan. Namun Mahesa Jenar berjanji di dalam hatinya, bahwa ia akan menerima sumbangan itu kelak pada saatnya.

Dan Mantingan beserta Wirasaba itu pun kemudian meninggalkan Banyubiru, menuju ke timur, Prambanan. Banyubiru pun kemudian menjadi semakin sepi. Namun kesepian itu kemudian dipecahkan oleh hiruk-pikuk rakyatnya yang rajin. Kerja. Masih banyak yang harus mereka kerjakan untuk tanah perdikan mereka. Hanya dengan kerja, maka tanah mereka akan mencapai nilai-nilai yang mereka cita-citakan. Nilai kehidupan orang- perorang. Nilai kehidupan tanah perdikan keseluruhan. Sehingga karenanya tak ada tempat lagi bagi mereka untuk berselisih, bersitegang dengan kebenaran menurut tafsiran masing-masing, bersikeras hati mempertahankan pendapat-pendapat yang saling bertentangan. Yang ada kemudian adalah kerja, membanting tulang.

Kini mereka bermandi keringat bersama-sama, namun kelak mereka akan menuai bersama-sama. Sementara Mahesa Jenar menunggu di Banyubiru, maka Kebo Kanigara telah mulai dengan persoalannya sendiri.

Persoalan kemenakannya sangat menarik perhatiannya. Ceritera yang didengarnya dari Paningron dan Gajah Alit. Kemudian menurut Panembahan Ismaya, bahwa seorang Wali telah meramalkan hari depan yang gemilang buat anak nakal itu.

Namun kini, anak itu ternyata sedang disingkirkan oleh Sultan, karena pelanggaran- pelanggaran yang telah dibuatnya. Demikianlah maka kemudian Kebo Kanigara itu memerlukan menemui Karebet. Tidak di rumah Ki Buyut, tetapi mereka bersepakat untuk bertemu di ujung hutan perdu di lereng Bukit Telamaya, supaya setiap pembicaraan dapat mereka lakukan dengan tidak bersegan hati terhadap orang-orang lain yang mendengarnya.

Malam itu langit yang cerah ditandai oleh sepotong bulan muda. Kebo Kanigara duduk di atas sebuah batu padas, sedang Karebet dengan wajah yang tunduk duduk di hadapannya, seakan-akan seorang tertuduh yang sedang menunggu keputusan tentang dirinya.

”Karebet,” kata Kebo Kanigara perlahan. Karebet mengangat wajahnya sesaat, namun kemudian ditundukannya lagi.

Yang terdengar adalah suaranya parau, ”Ya, Paman.”

”AKU telah mendengar beberapa ceritera tentang dirimu diistana. Sehingga akhirnya kau terpaksa disingkirkan karenanya. Menurut para perwira yang datang ke Pamingit, kau telah membunuh seorang yang bernama Dadung Ngawuk hanya dengan sadak kinang. Namun, dari pancaran senyumnya aku dapat membaca bahwa bukan itulah yang telah kau lakukan. Nah, sekarang aku ingin tahu, apakah sebabnya kau diusir dari istana?”

Wajah Mas Karebet menjadi semakin dalam. Dadanya berdebar-debar semakin lama semakin cepat, sehingga kemudian mulutnya malahan menjadi serasa terbungkam.

”Katakanlah, Karebet,” desak Kebo Kanigara. Kembali Karebet terdiam. Dan kembali Kebo Kanigara mendesaknya, ”Apa yang terjadi?”

”Sikap putri Sultan terlalu baik kepadaku,” jawab Karebet terbata-bata. ”Lalu?”

”Aku pun bersikap baik kepadanya,” jawab Karebet ”Hanya itu?”

Karebet mengangguk, ”Ya.”

Karebet terkejut ketika pamannya membentaknya, ”Hanya itu?” ”Oh. Tidak Paman,” sahut Karebet cepat-cepat.

”Lalu?”

”Pergaulan kami menjadi semakin baik,” jawab Karebet, ”Mula-mula aku mengharapkan lebih dari itu. Tetapi ternyata perasaan kami masing-masing berkehendak lain. Tetapi ternyata Sultan tidak senang melihat pergaulan itu. Agaknya karena aku tidak lebih dari seorang lurah Tamtama pada waktu itu.”

”Kau tahu bahwa Sultan tidak berkenan di hatinya?”

Karebet mengangguk. ”Tetapi kesalahan itu masih kau lakukan?”

Karebet menjadi bingung. Tetapi ketika Kebo Kanigara mengulangi pertanyaannya, maka jawabnya, ”Ya. Tetapi bukan maksudku. Aku mencoba untuk menjauhinya. Tetapi setiap kali kami selalu bertemu. Aku dalam tugasku sebagai seorang tamtama, sedang putri Sultan itu, entahlah apa saja yang dilakukan di luar keputren.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia mempercayai sebagai ceritera kemenakannya. Namun ia tahu pula sifat-sifat anak itu. Kemudian terdengar kemenakannya itu berkata pula, ”Kemudian akulah yang menerima akibat dari pergaulan kami itu. Sultan marah kepadaku. Sehingga akhirnya aku dipindahkannya.”