Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 50

Jilid 50

Kemudian Arya sampai di simpang tiga. Di simpang tiga, ia membelok ke kiri. Beberapa langkah kemudian ditemuinya parit. Dan ia harus memilih, apakah akan berjalan di sepanjang jalan kecil itu, ataukah akan memilih jalan tanggul di sepanjang parit. Arya kemudian berhenti sejenak. Dilihatnya air yang memercik di dalam parit itu. Mengalir dengan tenangnya. Maka timbullah keinginannya untuk berjalan menyusur parit itu sambil memperhatikan airnya.

Dalam pada itu, Sawung Sariti telah sampai di bawah pohon Nyamplung. Dengan hati- hati ia menempatkan dirinya di tepi jalan. Telah diperhitungkannya, bahwa dengan satu loncatan, ia harus sudah dapat mencapai Arya Salaka dengan pedangnya. Demikian juga Galunggung, harus sudah siap.

Meskipun kemampuan bertempur Galunggung jauh berada di bawah kemampuan Arya Salaka, namun dengan menyerangnya secara tiba-tiba bersama-sama dengan Sawung Sariti maka mereka mengharap, bahwa mereka tidak usah mengulangi dengan serangan kedua. Dengan demikian, Sawung Sariti dan Galunggung dengan tenangnya mengendap di tepi jalan, di bawah pohon Nyamplung yang rimbun.

Gemersik angin malam yang mengusik daun-daun di atasnya, terdengar seperti keluh kesah yang sedih. Bahkan kemudian terdengar seperti orang yang berbisik-bisik, menyampaikan kabar yang mengerikan.

Beberapa saat Sawung Sariti dan Galunggung mengendap di sisi jalan itu, terasa betapa waktu berjalan lambat sekali. Menunggu memang merupakan pekerjaan yang menjemukan. Apalagi mereka berdua dicekam oleh ketegangan yang setiap saat menjadi semakin memuncak. Mata mereka seperti tersangkut di tikungan jalan di samping parit yang menyilang jalan kecil. Dari sanalah Arya Salaka akan muncul. Kalau tidak dari jalan kecil itu, pasti akan muncul dari tanggul di tepi parit.

Tetapi Arya Salaka agaknya berjalan terlalu lambat. Seharusnya ia kini telah muncul dan berjalan lurus di hadapan mereka yang menunggunya dengan gelisah. Mereka sama sekali tidak menyangka bahwa tiba-tiba saja Arya ingin mencuci kakinya di dalam parit yang bersih itu dan untuk beberapa saat ia bermain-main dengan percikan airnya.

Tetapi, kemudian dari balik tikungan itupun muncul sebuah bayangan. Seorang yang berjalan melenggang dalam keremangan malam. Bayangan itu berjalan dengan tergesa- gesa, lewat jalan kecil di muka pohon nyamplung itu. Sawung Sariti dan Galunggung menjadi bertambah gelisah. Segera mereka menarik pedang masing-masing, dengan sangat berhati-hati. Sesaat yang akan datang, pedang mereka harus melakukan tugas- tugas mereka yang berat. Tetapi mata Sawung Sariti yang tajam itu menjadi liar. Ia melihat perbedaan yang kecil pada bayangan itu. Ia menjadi ragu-ragu. Apakah orang itu Arya Salaka. Beberapa kali Sawung Sariti mengedipkan matanya, namun ia menjadi bertambah bimbang. Semakin dekat bayangan itu, semakin gelisah hati Sawung Sariti, sebab ia menjadi semakin yakin, bahwa bayangan itu sama sekali bukan Arya Salaka. Meskipun orang yang datang itu juga bertubuh tegap, namun Sawung Sariti dapat membedakan, bahwa Arya Salaka berjalan dengan gaya yang berbeda.

Ketika beberapa langkah orang itu menjadi semakin dekat, makin jelas, bahwa orang itu memakai pakaian yang lain. Galunggung pun akhirnya mengetahui juga, bahwa yang datang itu bukanlah yang mereka tunggu.

Dengan nafas yang memburu ia berbisik perlahan, ”Bukan itu orangnya, Angger.”

”SETAN!” Sawung Sariti mengumpat, ”Ada juga malam-malam orang berkeliaran di daerah yang masih belum tenang sama sekali ini.”

”Agaknya ia akan mengairi sawah,” bisik Galunggung.

”Tidak. Tidak ada orang yang mempertaruhkan nyawanya untuk keperluan yang dapat dilakukan siang hari,” sahut Galunggung.

”Lalu siapakah dia?” tanya Galunggung pula.

”Apa pedulimu terhadap orang itu. Yang penting kita tunggu Arya Salaka,” jawab Sawung Sariti.

Galunggung pun kemudian berdiam diri.

Orang itu sudah semakin dekat. Sawung Sariti menahan nafasnya. Biarlah orang itu berlalu. Kemudian orang yang lewat di belakangnya, pastilah Arya Salaka.

Tetapi Sawung Sariti menjadi marah, ketika tiba-tiba orang itu berhenti. Ia menoleh ke belakang, seakan-akan ada yang ditunggu-tunggunya. Bahkan kemudian dengan enaknya orang itu duduk di bawah pohon nyamplung itu, di sisi jalan yang lain, sambil memeluk lututnya.

Sawung Sariti menggeram perlahan-lahan. ”Gila!” pikirnya, ”Apa kerjaannya orang itu?”

Namun disabarkannya hatinya untuk sesaat. Barangkali orang itu akan segera pergi. Sebab, pada saat orang itu muncul di tikungan, nampaknya ia akan tergesa-gesa. Namun kenapa tiba-tiba orang itu duduk saja dengan enaknya di hadapannya? Sesaat sudah berlalu. Sawung Sariti masih mencoba menunggu. Tetapi akhirnya ia menjadi gelisah dan semakin marah. Arya Salaka pasti hampir tiba. Kalau orang itu masih duduk di situ, maka ia dapat mengganggu pekerjaannya, atau kalau terpaksa orang itu pun harus ditiadakan, untuk menghilangkan jejak. Maka akhirnya Sawung Sariti tidak sabar lagi. Ia takut kalau Arya Salaka segera akan datang. Karena itu, tiba-tiba ia meloncat dengan garangnya, sambil mengacungkan pedangnya kedada orang itu.

”Apa pekerjaanmu di sini?” bentaknya.

Orang itu terkejut bukan main. Tiba-tiba ia menjadi gemetar, jawabnya, ”Aku, aku tidak apa-apa.” ”Kalau begitu. Tinggalkan tempat ini segera,” perintah Sawung Sariti.

”Kenapa?” tanya orang itu.

”Tidak ada-apa,” jawab Sawung Sariti ”Tetapi pergi sekarang.”

Orang itu pun berdiri dan akan melangkah pergi ke arah darimana ia datang.

”Jangan ke sana,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau orang itu akan berpapasan dengan Arya Salaka dan akan memberitahukan apa yang terjadi dengan dirinya.

”Ke mana?” tanya orang itu.

”Ke sana,” kata Sawung Sariti menunjuk ke arah yang berlawanan. ”Aku tidak punya keperluan di sana,” jawab orang itu.

”Aku tidak peduli. Pergi ke sana, cepat,” Sawung Sariti menjadi semakin marah

”Kau datang dari arah sana, kemudian apa perlumu kalau kau tidak mempunyai keperluan ke arah yang lain.”

”Aku hanya akan datang ke bawah pohon nyamplung ini,” jawab orang itu, ”Aku telah bermimpi, bahwa aku pada saat ini harus berada di sini.”

”Jangan banyak cakap. Pergi sekarang,” bentak Sawung Sariti. Orang itu menjadi bingung. Karena itu malahan ia berdiri saja seperti patung. Galunggung akhirnya tidak sabar sama sekali melihat orang itu masih berdiri di sana dengan mulut ternganga.

Ia pun kemudian melangkah maju sambil berkata, ”Binasakan saja orang itu, sebelum anak itu datang.”

”Jangan, jangan!” teriak orang itu.

”Jangan berteriak,” bentak Sawung Sariti. Ia takut kalau Arya mendengarnya. Namun dengan demikian waktu mereka menjadi semakin sempit. Dan sejalan dengan itu, pikiran Sawung Sariti pun menjadi semakin kisruh. Ia tidak mau gagal kali ini. Karena itu, akhirnya ia sependapat dengan Galunggung. Orang itu harus disingkirkan.

Meskipun demikian ia masih mencoba sekali lagi membentaknya, ”Pergi, cepat!”

Tetapi orang itu tidak segera pergi. Ia masih berdiri saja seperti orang yang kehilangan kesadaran.

Karena itu maka Sawung Sariti tidak bisa berbuat lain daripada menyingkirkannya dengan paksa.

Karena itu katanya, ”Singkirkan dia, Galunggung.”

Galunggung yang sejak tadi sudah kehilangan kesabaran segera menggeram sambil meloncat. Pedangnya tepat mengarah ke hulu hati orang yang masih berdiri kebingungan itu. Tetapi terjadilah suatu peristiwa yang tak pernah dibayangkan. Dalam mimpi pun tidak. Orang itu, dengan tangkasnya memiringkan tubuhnya. Dengan demikian, maka pedang Galunggung menyentuhpun tidak. Sehingga Galunggung terseret oleh kekuatan sendiri dan terhuyung-huyung beberapa langkah ke depan.

Pada saat ia berusaha memperbaiki keseimbangannya, tiba-tiba terasa sebuah genggaman mencengkam rambutnya. Dan oleh sebuah tarikan yang kuat, ia terseret kedepan. Ia kemudian tidak mampu menolong dirinya, ketika tiba-tiba terbanting tertelungkup, masuk persawahan yang basah.

SAWUNG SARITI melihat peristiwa itu dengan mata yang terbelalak, yang dilihatnya adalah Galunggung itu terjerembab. Karena itulah, hatinya menjadi menyala-nyala. Pedangnya pun cepat bergerak ke dada orang yang menyakitkan hati itu.

Tetapi sekali lagi Sawung Sariti terkejut, pedangnya pun sama sekali tak menyentuh orang itu. Dengan demikian Sawung Sariti akhirnya mengetahui, bahwa orang itu bukanlah sekadar seorang yang berkeliaran di malam hari dalam keadaan yang belum tenang benar. 

Dengan gerakan-gerakannya dan caranya membebaskan diri, baik dari tikaman pedang Galunggung maupun dari tusukan pedangnya sendiri, tahulah Sawung Sariti, bahwa orang itu sebenarnya orang yang berilmu. Dengan demikian, Sawung Sariti menjadi bertambah gelisah dan marah. Usahanya untuk membinasakan Arya Salaka belum berhasil, dan kini dijumpainya lawan yang tak dapat diperingan.

Ternyatalah kemudian, ketika Sawung Sariti mengulangi serangannya, maka dengan tangkasnya orang itu berkisar dan meloncat, namun terdengar mulutnya berkata, ”Ki Sanak, aku tidak mempunyai persoalan dengan kalian. Kenapa kalian berusaha untuk membunuh aku.”

Sawung Sariti sudah benar-benar dibakar oleh nyala kemarahannya, maka terdengar ia menjawab, ”Kau telah mengganggu pekerjaanku. Karena itu kau harus binasa.”

”Aku tidak mengganggu Ki Sanak. Aku hanya sekadar memenuhi mimpiku sore tadi, bahwa aku harus datang di bawah pohon nyamplung ini,” sahut orang itu.

”Omong kosong!” bentak Sawung Sariti, sementara itu pedangnya berputar semakin cepat dalam ilmu keturunan Pangrantunan. Suatu ilmu yang sukar dicari bandingnya. Apalagi Sawung Sariti memiliki kelincahan yang cukup, sehingga pedangnya seakan- akan berubah seperti asap yang bergulung-gulung melanda lawannya.

Lawannya itu pun berusaha sekuat tenaga untuk menyelamatkan dirinya. Seperti bayangan saja, ia meloncat-loncat dengan cepatnya, seakan-akan tubuhnya sama sekali tak memiliki berat. Ia meloncat dari sana kemari, berputar dan melingkar, kemudian mirip dengan seorang yang sedang bermain-main berputar di udara. Ia selalu menghindari saja setiap serangan yang datang.

Dalam pada itu Galunggung pun telah bangun kembali. Wajahnya dikotori oleh lumpur liat yang basah. Beberapa kali ia mengibas-kibaskan rambutnya. Ikat kepalanya telah hilang terlempar jauh. ”Setan!” geramnya. Tetapi ia pun terbelalak ketika ia melihat orang yang akan dibunuhnya itu bertempur melawan Sawung Sariti.

Ia tidak dapat mengerti, bagaimana mungkin orang itu dapat menyelamatkan diri sampai beberapa lama. Sedangkan agaknya Sawung Sariti telah benar-benar berusaha membunuhnya. Karena itu, timbullah maksud Galunggung untuk membantu momongannya. Dengan hati-hati mendekati pertempuran itu. Ia melihat pedang Sawung Sariti bergulung-gulung seperti asap putih yang melibat lawannya, namun ia melihat lawannya itu seperti anak kijang yang menari-nari keriangan di padang rumput yang hijau. Berloncatan kian-kemari, bahkan sekali-kali orang itu berkata nyaring, ”Katakanlah Ki Sanak. Apa salahku?”

”Persetan!” teriak Sawung Sariti.

Ia sudah lupa bahwa Arya Salaka akan dapat mendengar teriakannya itu. Bahkan pedangnya menjadi semakin cepat berputar. Galunggung kemudian tak mau membiarkan pertempuran itu berlangsung lama lagi. Ia masih ingat bahwa kedatangan mereka di tempat itu adalah menunggu Arya Salaka. Karena itu, sekuat-kuatnya, ia ingin membantu Sawung Sariti. Sebab sebenarnya Galunggung pun memiliki kemampuan yang harus diperhitungkan. Dengan garangnya Galunggung meloncat sambil menggeram. Pedangnya lurus memotong gerakan bayangan yang sedang menghindari serangan Sawung Sariti.

Namun malanglah nasibnya. Tiba-tiba terasa sebuah pukulan yang dahsyat mengenai pelipisnya.

Demikian dahsyatnya, sehingga terasa seakan-akan bintang-bintang yang melekat di langit rontok bersama-sama menimpa dirinya. Sekali lagi Galunggung terlempar ke sawah. Kini ia jatuh terlentang. Namun, tiba-tiba dadanya berdesir ketika terasa bahwa pedangnya sudah tak berada di tangannya lagi.

Dengan susah payah ia mencoba menguasai dirinya. Perlahan-lahan Galunggung mengangkat wajahnya.

Dan sekali lagi jantungnya berdentang keras ketika dilihatnya, pedangnya sudah berada di tangan lawan Sawung Sariti itu. Dengan demikian, kini ia menyaksikan sebuah pertarungan pedang yang nggegirisi.

Masing-masing bergerak dengan tangkas dan tangguhnya. Namun akhirnya terasa bahwa lawan Sarung Sariti itu memiliki kekuatan dan kecepatan melampaui Sawung Sariti sendiri. Dengan demikian, beberapa saat kemudian, Sawung Sariti sudah harus mengumpat-umpat di dalam hatinya. Ternyata ia telah salah langkah. Sebelum melawan Arya Salaka, sudah harus ditemuinya lawan yang tangguh dan bahkan memiliki tata gerak yang melampauinya.

DALAM KESIBUKAN angan-angannya, tiba-tiba bagai seleret pedang Sawung Sariti melihat bayangan yang muncul dari tanggul parit yang menyilang jalan kecil itu. Dalam sekejap, segera Sawung Sariti dapat mengetahuinya, bahwa orang itu adalah Arya Salaka. Karena itu dadanya menjadi berdebar-debar karena kegelisahan dan kecemasan bercampur baur dengan kemarahan yang meluap-luap.

Namun Sawung Sariti adalah anak muda yang licik. Tiba-tiba ia tersenyum di dalam hatinya, ketika terpikir olehnya, ”Baiklah Kakang Arya kujadikan kawan kali ini. Urusan kita dapat kita selesaikan besok atau lusa.”

Sebenarnyalah yang datang itu adalah Arya Salaka. Mula-mula ia berjalan saja seenaknya sambil menikmati sejuknya angin malam. Namun tiba-tiba ia terkejut ketika dilihatnya di bawah pohon nyamplung, dua orang yang sedang bertempur mati-matian.

Apalagi keduanya telah memegang pedang ditangan. Karena itu Arya menjadi tertegun sejenak. Siapakah mereka yang bertempur itu? Dengan hati-hati ia melangkah mendekati. Tanpa disengaja tangannya meraba-raba lambungnya. Dan terasa sebuah benda tersentuh tangannya, Arya menjadi tenang. Sebab ia tidak tahu, siapakah yang bertempur dengan senjata itu. Kalau perlu ia harus melibatkan diri, di lambungnya terselip Kyai Suluh. Pusaka Pasingsingan yang ngedab-edabi.

Dengan demikian Arya melangkah semakin dekat. Dan alangkah terkejutnya ketika ia mengenal kedua orang yang bertempur itu. Karena itu tiba-tiba ia berteriak, ”Adi Sawung Sariti, apakah yang terjadi? Kakang Karang Tunggal, berhentilah.”

Sawung Sariti tidak mendengar teriakan Arya Salaka. Ia bertempur terus, bahkan ia mengharap Arya membantunya. Tetapi ketika sekali lagi ia mendengar Arya memanggil namanya dan nama Karang Tunggal, Sawung Sariti menjadi bimbang. Apakah Arya Salaka telah mengenal lawannya itu.

Karang Tunggal pun segera meloncat mundur beberapa langkah untuk membebaskan dirinya dari libatan serangan Sawung Sariti yang mengalir seperti banjir, sambil berkata nyaring, ”Selamat datang Adi Arya Salaka.”

Akhirnya Sawung Sariti pun terpaksa berhenti bertempur. Dadanya berdegup ketika ternyata Arya benar-benar telah mengenal lawannya itu. Maka ia pun bertanya, ”Apakah Kakang Arya telah mengenal orang ini?”

”Ya,” jawab Arya Salaka, ”Ia adalah Kakang Karang Tunggal.”

”Hem!” geram Sawung Sariti. Pikirannya menjadi berputar-putar dilibat oleh berbagai pertanyaan. Kalau orang ini telah mengenal Arya Salaka, maka adakah hubungannya dengan kehadirannya di bawah pohon nyamplung ini?

”Kakang Karang Tunggal, apakah yang terjadi sehingga Kakang bertempur melawan adi Sawung Sariti?”

”Bertanyalah kepada adikmu,” jawab Karang Tunggal.

Arya mengalihkan pandangannya kepada Sawung Sariti. Matanya menyorotkan pertanyaan yang bergolak di hatinya. Untuk beberapa saat Sawung Sariti berdiam diri. Ia agak bingung, bagaimana ia harus menjawab pertanyaan itu. Sehingga terpaksa terluncurlah pertanyaan dari mulut Arya, ”Kenapa Adi Sawung Sariti bertempur dengan kakang Karang Tunggal?”

”Aku belum mengenalnya,” desis Sawung Sariti. ”Apalagi Adi belum mengenalnya,” desak Arya Salaka.

”Aku tidak tahu apa sebabnya,” jawab Sawung Sariti, ”Tiba-tiba saja aku telah bertempur dengan orang itu.”

Arya mengerutkan keningnya. Sedang Karang Tunggal tertawa perlahan-lahan. ”Aneh,” desisnya. ”Aku juga tidak tahu, kenapa tiba-tiba saja aku sudah bertempur melawan Adi yang kau sebut Sawung Sariti itu.”

Wajah Sawung Sariti menjadi merah mendengar sindiran itu. Tetapi sebelum ia berkata sesuatu, terdengar Karang Tunggal meneruskan, ”Aku merasa bahwa aku telah diserangnya.”

”Kau mengganggu aku,” bantah Sawung Sariti. ”Menyentuhpun aku tidak,” sangkal Karang Tunggal.

Arya menjadi bingung. Tetapi ia merasa, bahwa keduanya belum berkata sebenarnya. ”Suatu kesalahpahaman,” desis Arya.

”Memang hal itu mungkin sekali terjadi. Namun sekarang aku perkenalkan kalian masing-masing.” ”Bukan kesalahpahaman,” jawab Karang Tunggal, ”Tetapi adi Sawung Sariti sengaja menyerang aku tanpa sebab.”

”Bukan tanpa sebab,” sahut Sawung Sariti yang mulai merah kembali, ”Kau mengganggu aku.” ”Apamu yang aku ganggu?” tanya Karang Tunggal.

Sawung Sariti terdiam. Sudah tentu ia tidak dapat mengatakan apa yang sebenarnya sedang dilakukan. Namun keringat dinginnya mengalir semakin deras ketika Karang Tunggal berkata, ”Aku hanya datang kemari dan duduk di bawah pohon nyamplung ini. Apa salahku?”

SAWUNG SARITI masih belum dapat menjawab. Namun terdengar giginya gemeretak. Yang terdengar adalah kata-kata Karang Tunggal, ”Dan kenapa aku kau usir dari sini tanpa sebab? Dan aku harus berjalan ke jurusan yang kau tentukan?”

Sawung Sariti menggeram. Namun ia belum menemukan jawaban yang tepat. Sedang Karang Tunggal berkata terus, ”Apakah dengan demikian aku mengganggumu? Apakah kau sedang menunggu seseorang di sini dengan pedang terhunus?”

Dada Sawung Sariti semakin berdebar-debar. Sedang Arya mengangkat alisnya. Apakah benar yang dikatakan oleh Karang Tunggal itu? Sawung Sariti menunggu seseorang dengan pedang terhunus? Kalau demikian siapakah yang ditunggunya? Pertanyaan itu tiba-tiba datang mengganggunya.

Tiba-tiba terdengarlah Sawung Sariti membentak keras-keras, ”Jangan mengigau!”

”Aku berkata sebenarnya,” sahut Karang Tunggal. Tiba-tiba kembali Arya diganggu oleh angan-angan yang tak menyenangkan hatinya. Apakah maksud Sawung Sariti sebenarnya? Dan kenapa tiba-tiba saja anak itu telah mendahuluinya? Karena itu tiba-tiba terloncat dari mulut Arya, ”Apakah yang sebenarnya terjadi?” ”Sudah aku katakan,” sahut Karang Tunggal, ”Anak muda itu menunggu seseorang dengan pedang terhunus.”

”Apa pedulimu?” tukas Sawung Sariti, ”Daerah ini adalah daerah yang belum tenang. Orang-orang dari gerombolan hitam setiap saat berkeliaran di daerah ini. Apa salahnya aku duduk di bawah pohon ini dengan pedang terhunus?”

Tiba-tiba Karang Tunggal tertawa. Tertawa seorang pemuda yang berdarah jantan, namun darah itu masih belum mengendap di dasar jantungnya. Ia sebenarnya telah mengetahui apa yang akan dikerjakan oleh Sawung Sariti. Mula-mula ketika ia melihat Arya Salaka, ia ingin menyusul sahabatnya itu, yang berjalan bersama-sama dengan adik sepupunya, namun maksudnya diurungkan, ketika dilihatnya Arya berpisah dengan Sawung Sariti. Bahkan timbullah kecurigaannya kepada adik sepupu Arya. Dengan demikian ia mengikutinya dan mendengarkan semua percakapannya dengan Galunggung. Karena itulah sengaja ia mendahului Arya dan duduk di bawah pohon nyamplung itu. Ia tahu benar bahwa dengan demikian Sawung Sariti akan marah kepadanya. Tetapi tidak mengapa. Sebab dengan demikian ia sudah berusaha mencegah kemungkinan itu terjadi. Meskipun ia sendiri tidak yakin, apakah dengan serangan diam-diam itu Arya akan dapat dikalahkan, namun hal yang demikian itu benar-benar berbahaya. Terbawa oleh sifat- sifatnya yang aneh, yang dipenuhi oleh api yang menyala-nyala di dalam dadanya, Karang Tunggal yang juga bernama Mas Karebet dan mempunyai sebutan Jaka Tingkir itu memandang kehidupan sebagai suatu kancah perjuangan.

Namun kejantanannya menuntut setiap perjuangan harus dilakukan dengan adil dan jujur. Karena itulah maka ia menjadi muak melihat cara Sawung Sariti untuk mencapai maksudnya. Ia pernah mendengar dari Ki Lemah Telasih, apa yang sebenarnya terjadi di Banyubiru. Pergolakan antarkeluarga. Pergeseran kamukten dan perjuangan untuk mempertahankan pusaka. Tafsirannya yang tepat mengatakan, bahwa apa yang terjadi sekarang ini adalah rentetan dari peristiwa-peristiwa itu.

Dengan demikian, akhirnya ia berkata di antara suara tertawanya yang berderai, ”Hai anak-anak muda. Kenapa kalian menyembunyikan tangan kalian di balik punggung. Kenapa kalian tidak berani mengangkat dada, berkata dengan lantang? Ayo kita pertaruhkan tanah ini. Banyubiru dan Pamingit. Sadumuk bathuk, sanyari bumi. Mukti atau mati.”

Darah Sawung Sariti menjadi mendidih di dalam dadanya. Ia kini hampir tak dapat mengelak lagi. Agaknya Karang Tunggal telah mengetahui seluruhnya. Karena itu ia menggigit bibirnya, sedang tangannya memegang pedangnya semakin erat. Di dalam hati ia berkata, ”Apa boleh buat. Kalau aku harus berhadapan dengan Arya Salaka. Aku laki- laki juga seperti dia.”

Arya Salaka masih berdiri tegak di tempatnya. Ia dapat menangkap apa yang dikatakan oleh Karang Tunggal. Dan kini ia tahu benar apa yang sedang dilakukan oleh Sawung Sariti. Karena itu dadanya pun berdesir cepat. Di tempat itu, di bawah pohon nyamplung yang rimbun, berdirilah tiga orang anak muda yang masih berdarah panas. Anak-anak muda yang mudah terbakar oleh perasaan sendiri.

Mereka masih mengukur harga diri dengan sifat-sifat kepahlawanan yang sempit. Dalam kesempitan perasaan, mereka menilai diri masing-masing dengan keberanian mereka melihat darah. Demikianlah maka terjadilah ketegangan yang memuncak. Masing-masing menyiapkan diri untuk mempertaruhkan diri demi kehormatan nama mereka dengan gegayuhan mereka. Mereka tidak sadar, bahwa di dunia ini ada cara lain yang jauh lebih baik daripada cara yang mereka tempuh.

DALAM KEADAAN yang demikian, mereka melupakan bahwa ayah-ayah mereka akan dapat menyelesaikan persoalan dengan cara yang baik, dengan laki-laki sejati, tanpa setetes darah pun yang tertumpah. Seandainya, pada saat itu hadir seorang dari ayah-ayah mereka, atau Mahesa Jenar, atau Kebo Kanigara, maka keadaannya pasti akan berbeda.

Namun yang terjadi adalah, tak seorang pun dari mereka yang hadir. Tak seorang pun yang dapat memberi peringatan kepada anak-anak itu. Yang tertua diantara mereka adalah Karang Tunggal. Namun Karang Tunggal adalah seorang anak muda yang sifat- sifatnya yang aneh.

Akhirnya Sawung Sariti tidak tahan lagi membiarkan hatinya bergolak tanpa ujung pangkal. Karena itu dengan lantangnya ia berkata kepada Karang Tunggal, ”Hai anak perkasa, apa maksudmu sekarang?”

”Tidak apa-apa,” jawab Karang Tunggal, ”Aku hanya ingin melihat seseorang berlaku jantan. Tidak dengan sembunyi-sembunyi dan curang.”

”Persetan dengan ocehanmu!” bentak Sawung Sariti, ”Kau kira aku tidak berani berhadapan seperti laki-laki?”

”Nah, itulah kata-kata jantan,” sahut Karang Tunggal, ”Apa katamu Adi Arya Salaka?”

Mulut Arya Salaka tiba-tiba seperti terkunci. Ia sama sekali tidak mengharapkan hal yang demikian itu terjadi. Tetapi ia pun tidak mau, apabila kelak ia benar-benar menjadi korban tusukan dari belakang. Dalam saat yang pendek itu pun segera ia dapat menangkap maksud yang tersirat dari perbuatan adik sepupunya itu. Menyingkirkan dirinya, untuk kelak memiliki Pamingit dan Banyubiru sekaligus.

Karena Arya masih berdiam diri, maka berkatalah Sawung Sariti, ”Kakang Arya Salaka, apa boleh buat. Biarlah aku tidak tedheng aling-aling. Aku ingin kemukten atas tanah Banyubiru sekaligus selain tanah Pamingit.”

”Hem!” Hanya itulah yang terdengar dari mulut Arya Salaka. Apabila selama ini, ia sudah berusaha melupakan segenap peristiwa yang terjadi atas dirinya karena pokal adik sepupunya itu, maka kini tiba-tiba terungkit kembali. Peristiwa demi peristiwa. Pada saat dirinya hampir saja dicincang di halaman rumah sendiri, kemudian setelah ia menyingkir, ia pun selalu dikejar-kejar. Apabila seorang yang bernama Sarayuda tidak menolongnya, maka ia pun kini tidak akan dapat melihat bintang-bintang yang bertaburan di langit. Juga dikenangnya apa yang terjadi di Gedangan. Kenangannya itulah yang perlahan-lahan membakar dirinya. Dan kini, adiknya itu berdiri di hadapannya dengan pedang terhunus.

”Jawab permintaanku,” sambung Sawung Sariti, ”Banyubiru, Pamingit dan nyawamu.” ”Adi Sawung Sariti,” jawab Arya dengan gemetar, ”Jangan memaksa aku membela diri.”

”Aku sebagai saksi!” Tiba-tiba Karebet berteriak, ”Siapa pun yang kalah dan menang, harus menghindarkan diri dari dendam yang menimpa dari kalian terbunuh, adalah nasib malang yang menimpa diri. Aku tidak akan membuka mulutku kepada siapa pun. Tetapi kematian adalah bukan tujuan kalian terbunuh. Karena itu hindarkanlah. Namun kalian harus berjanji, bahwa kalian akan menerima keputusan yang kalian buat bersama.”

Suasana di bawah pohon nyamplung itu menjadi bertambah tegang. Dada ketiga anak muda itu bergetar cepat karena darah mereka yang bergolak. Pada saat itu Galunggung masih terkapar di tanah liat yang becek, di antara tanaman-tanaman jagung muda. Kepalanya masih terasa pening. Dengan susah payah ia berusaha untuk dapat duduk dengan tegak. Dalam keadaan itu, hatinyapun bertambah tegang. Tetapi ia tidak dapat berbuat apa-apa.

Dalam pada itu terdengar Karang Tunggal berkata, ”Pertemuan yang demikian adalah jauh lebih baik daripada dendam yang membara di hati kalian. Tetapi sekali lagi aku peringatkan bahwa aku adalah saksi. Dan kalian tidak akan mendendam di hati. Dengan demikian, setelah pertemuan ini selesai, selesailah urusan kalian. Laki-laki sejati tidak akan menelan ludahnya kembali.”

Darah Sawung Sariti kini benar-benar telah mendidih. Sedang Arya Salaka dapat memaklumi maksud Karang Tunggal. Anak muda itu tidak mau melihat pertentangan dan dendam yang berlarut-larut. Namun cara penyelesaian ini pun sangat tidak menyenangkan hatinya.

Yang sudah bulat hatinya adalah Sawung Sariti. Hidup atau matinya telah dipertaruhkan untuk mencapai maksudnya. Demikianlah maka ketika darahnya telah bergelora membakar kepalanya, terdengarlah ia berteriak, ”Kakang Arya Salaka. Melawan atau tidak melawan, aku akan menyerangmu dan berusaha membunuhmu. Itu adalah ketetapan hatiku. Dan aku telah menantimu di sini.”

ARYA tidak sempat menjawab ketika ia melihat Sawung Sariti meloncat maju ke hadapannya. Beberapa langkah saja dimukanya dengan pedang yang terjulur lurus ke depan. Dengan gerak naluriah Arya mundur selangkah. Tangannya sudah siap mencabut pusaka Kyai Suluh.

Namun sebelum itu dilakukan terdengarlah Karang Tunggal berkata, ”Biarlah perkelahian ini menjadi adil. Kalian berdua tidak bersenjata, atau kalian berdua memegang pedang.”

Sawung Sariti dan Arya Salaka tidak segera menjawab. Mereka masih berdiri di atas kaki masing-masing yang renggang. Namun sepintas lalu, berkisarlah di otak Karang Tunggal. Ia telah mendengar ilmu Sasra Birawa yang dimiliki oleh Arya Salaka dan ilmu Lebur Saketi di dalam diri Sawung Sariti. Agaknya kedua ilmu itu lebih berbahaya daripada pedang. Dengan demikian mereka tidak akan mempergunakan ilmu-ilmu yang dahsyat itu. Apabila mereka akan mempergunakan, mereka harus melepaskan senjatanya, sehingga dengan demikian ada kesempatan padanya untuk mencegah terbenturnya kedua ilmu itu.

Sedang pertempuran dengan pedang antara dua orang yang selincah Sawung Sariti dan Arya Salaka, biasanya tidak akan sampai pada bahaya yang sebenarnya terhadap jiwa mereka. Ia akan dapat mencegahnya apabila perlu, juga apabila salah seorang darinya telah terluka dan meneteskan darah.

Karena itu, segera ia berkata, ”Adi Arya, pakailah pedang ini.”

Karang Tunggal tidak menunggu jawaban. Segera ia meloncat dan menyerahkan pedang Galunggung kepada Arya Salaka. Seperti orang yang terbius oleh keadaan yang dihadapinya, Arya menerima pedang itu dengan hati yang kosong.

”Nah, di tangan kalian telah tergenggam pedang,” kata Karang Tunggal, ”Terserah kapan kalian akan mulai. Tetapi setetes darah yang mengalir dari tubuh kalian, akan merupakan keputusan jantan. Dan kalian harus menerima keputusan itu tanpa syarat.”

Arya Salaka dapat mengerti arti kata-kata Karang Tunggal. Namun Sawung Sariti sudah tidak mau mendengarnya. Ketika ditangan Arya telah tergenggam pedang, maka ia tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan kecepatan kilat ia meloncat dan menusuk dada kakak sepupunya.

Namun Arya Salaka telah membayangkan bahwa hal yang demikian itu akan terjadi. Karena itu segera ia menghindar. Pedang Galunggung di tangannya itupun segara bergerak menyambar seperti elang di udara. Sawung Sariti segara meloncat ke samping. Matanya telah menjadi merah oleh api kemarahan dan nafsu. Karena itu kemudian kembali ia melontarkan dirinya menyerang Arya Salaka seperti datangnya angin ribut.

Demikianlah maka keduanya tenggelam dalam perkelahian yang dahsyat. Arya Salaka dan Sawung Sariti adalah anak-anak muda yang sedang tumbuh. Tenaga jasmaniah mereka sedang berkembang dengan suburnya. Perkembangan tubuh yang selalu dipupuk dan dipelihara dalam cara masing-masing.

Arya Salaka telah berkembang dalam lingkaran ilmu keturunan Pengging, sedang Sawung Sariti menjadi perkasa karena ilmu keturunan Pangrantunan. Dua ilmu yang dahsyat, yang pada masa-masa lampau menjadi pasangan yang mengerikan untuk menghadapi kekuatan golongan hitam. Karang Tunggal menyaksikan pertempuran itu dengan seksama. Ia melihat betapa keduanya sambar-menyambar dengan tangkasnya seperti sepasang burung rajawali yang bertempur di udara. Namun sesaat kemudian keduanya telah berubah menjadi seekor harimau yang garang dengan kuku-kukunya yang tajam melawan seekor banteng yang kokoh kuat dengan tanduk-tanduknya yang runcing mengerikan.

Tetapi Karang Tunggal sama sekali tidak mencemaskan mereka. Ia melihat kekuatan dan ketangkasan pada kedua belah pihak. Karena itu ia bersyukur bahwa keduanya telah bertempur dengan senjata. Kalau saja mereka bertempur dengan tangan mereka, maka ia pasti akan melihat bahwa tiba-tiba saja akan berbenturanlah ilmu Sasra Birawa dan Lebur Saketi. Kalau ilmu itu tidak seimbang maka salah seorang di antaranya pasti akan hancur lumat bagian dalam tubuhnya.

PEDANG di tangan Sawung Sariti berputar dengan cepatnya. Semakin lama menjadi semakin cepat dan membingungkan. Bahkan kemudian seakan-akan berubah menjadi ribuan mata pedang yang menusuk dari ribuan arah.

Namun Arya Salaka adalah murid dari perguruan Pengging lewat seorang yang bernama Mahesa Jenar. Karena itu pedangnya pun mampu membentengi dirinya seperti sebuah bola baja yang melingkari tubuhnya. Tak seujung jarum pun dapat ditembus oleh tajam pedang lawannya. Bahkan Arya Salaka tidak saja mampu mengurung dirinya dengan bola baja yang kokoh dan kuat, namun sekali-kali serangannya pun menyambar dengan dahsyatnya. Tidak terlalu sering, namun setiap sambaran pedangnya cukup mendebarkan hati lawannya. Demikianlah mereka tenggelam semakin dalam, dalam pertempuran yang menyeramkan itu. Masing-masing telah mengerahkan segala tenaga dan kemampuannya. Mereka melingkar-lingkar dan berputar-putar dalam satu daerah yang dilindungi oleh rimbunnya pohon nyamplung. Sekali-kali mereka berloncatan sambar-menyambar, mengelilingi pokok pohon nyamplung yang besar itu.

Pedang mereka berkilat-kilat seperti tatit yang beterbangan di langit. Benturan-benturan kedua senjata itu sedemikian dahsyatnya sehingga bunga api memercik di udara.

Karang Tunggal akhirnya mengagumi juga ketangkasan mereka. Kelincahan dan keprigelan Sawung Sariti dan ketangguhan serta ketangkasan Arya Salaka merupakan tanding yang dapat menghentikan denyut jatung. Namun kekuatan jasmaniah Arya Salaka ternyata melampaui kemampuan Sawung Sariti. Tempaan yang bertahun-tahun disepanjang perantauan, menuruni lembah dan tebing-tebing, perburuan di hutan-hutan dan pergulatan melawan ombak lautan, telah menjadikan tubuh Arya Salaka sekokoh belit karang. Otot-ototnya seakan-akan telah mengeras, sekeras besi. Kulitnya yang merah kehitam-hitaman terbakar matahari setiap hari itu seolah-olah menjadi lapisan tembaga yang melindungi tubuhnya dari setiap bahaya yang menyentuhnya. Karena itulah maka akhirnya kesegaran tubuh Arya Salaka telah ikut serta menentukan pertempuran itu. Benturan-benturan yang terjadi di antara kedua pedang itu tampak, bahwa keadaan Arya Salaka masih lebih baik daripada Sawung Sariti. Demikianlah pada suatu ketika, Sawung Sariti kehilangan keseimbangan sesaat setelah pedangnya beradu dengan pedang Arya Salaka. Karena dorongan yang keras, Sawung Sariti terdesak selangkah surut, serta tubuhnya terputar setengah lingkaran. Pada saat yang demikian, dengan kecepatan yang luar biasa pedang Arya Salaka terjulur ke dadanya. Sawung Sariti cepat berusaha menghindarkan diri. Ia memutar tubuhnya setengah lingkaran pula dalam arah yang sama, sedang ia mengangkat pedangnya, berusaha untuk menangkis serangan lawannya. Sebagian Sawung Sariti berhasil.

Pedangnya memukul pedang Arya Salaka ke samping.

Namun kekuatan Sawung Sariti pada saat ia melingkar tidaklah sepenuh kekuatan Arya Salaka. Sehingga dengan demikian, pedang Arya masih menyentuh pundak kanannya. Sebuah goresan telah menyobek kulit Sawung Sariti. Dan dari luka itu melelehlah cairan yang berwarna merah segar. Darah. Sawung Sariti terkejut, ketika terasa sebuah goresan menyengat pundaknya. Ia segera meloncat mundur. Tanpa disengaja tangan kirinya meraba pundaknya. Dan cairan yang hangat terasa di telapak tangannya. Terdengarlah ia menggeram dan giginya gemeretak.

Pada saat itu Karang Tunggal meloncat ke depan dan berdiri di antara mereka. Dengan lantang ia berkata, ”Keputusan telah jatuh. Darah telah menetes dari luka.”

Sawung Sariti memandang Karang Tunggal dengan mata yang berapi-api. Darahnya serasa mendidih di dalam dadanya. Katanya tidak kalah lantangnya, ”Apa maksudmu?”

”Perjanjian kita mengatakan, keputusan diambil secara jantan. Kalau darah telah menetes, pertempuran berakhir, dan selesailah persoalan kalian,” sahut Karang Tunggal.

”Apa keputusan itu?” tanya Sawung Sariti.

”Seperti yang kita janjikan. Bukankah kalian sedang bertaruh di atas tanah Pamingit dan Banyubiru?” jawab Karang Tunggal.

Mata Sawung Sariti menjadi semakin menyala. Kemarahannya kini telah benar-benar memuncak. ”Tidak ada pertaruhan apa-apa!”

Tiba-tiba terdengar suara Arya Salaka yang sudah berhasil menenangkan diri. ”Marilah kita lupakan persoalan kita.”

Karang Tunggal mengerutkan keningnya. Namun kemudian ia tersenyum. Betapa besar jiwa sahabatnya itu.

”Bagus,” katanya, ”Kalian tetap pada kedudukan kalian masing-masing sebagai putra kepala daerah perdikan yang terpisah.”

Bagi Sawung Sariti semuanya itu seakan-akan merupakan ejekan atas kekalahannya. Didorong oleh harga diri dan dilambari oleh nafsu yang melonjak lonjak, maka Sawung Sariti telah lupa pada segalanya. Lupa pada keadaannya, lupa pada darahnya yang bersumber dari saluran yang sama dengan Arya Salaka. Lupa akan sifat kepribadian yang sejak lama mencekam tata kehidupan daerah ini. Ia sudah tidak memperdulikan lagi segala galanya.

Dengan suara nyaring ia berkata "Laki laki tidak mengenal darah yang menetes dari luka. Ayo kakang Arya Salaka, bersiaplah. Kita bertempur antara hidup dan mati."

Dada Arya bergetar mendengar tantangan ini, ia tidak menghendaki hal demikian terjadi. Namun terasa pula bahwa dendam yang membara didada adiknya itu tak akan padam. Karena itu ia menjadi bingung. Apa yang harus dilakukan? Ia menyesal mengapa tidak mengajak gurunya atau ayahnya menjemput ibunya. Kalau demikian keadaannya mungkin berbeda. Tetapi didalam hatinya melontarlah kata-kata "kalau Sawung Sariti tidak melakukannya sekarang, maka akan akan datanglah saatnya pertentangan yang memuncak. bara api yang tersimpan didalam dada anak itu bagai bara api yang tersembunyi didalam sekam. Setiap saat akan berkobar membakar dirinya."

Dalam pada itu Karang Tunggalpun menjadi kecewa. Sawung Sariti ternyata tidak berjiwa besar. Karena itu akhirnya ia berkata "kenapa kau mengingkari janji ?".

"Aku tidak pernah berjanji. Dan aku sudah berkata, melawan atau tidak, aku akan bunuh kakang Arya Salaka," jawab anak muda yang mata gelap itu.

Suasana dibawah pohon nyamplung kini benar benar dicekam oleh ketegangan yang memuncak. Gemersik daun daunnya yang rimbun terdengar seperti lagu maut yang membelai hati ketiga anak-anak muda yang sedang berdiri mematung dibawahnya. Arya Salaka masih berdiri dalam kebimbangan hati. Apa yang harus dilakukan?

Tiba-tiba terdengar Sawung Sariti berkata seperti guruh dimulai hujan." Jangan tegak seperti patung. Aku ulangi, melawan atau tidak, aku akan membunuhmu. Bersiaplah. Aku akan mulai."

"Tunggu dulu," sahut Arya Salaka.

Tetapi Sawung Sariti sudah tidak mau mendengarkan lagi. Ia telah meloncat seperti seekor serigala lapar menerkam mangsanya. Demikian cepat dan tiba-tiba sehingga Arya dan Karang Tunggal menjadi terkejut karenanya. Arya sama sekali tidak menduga Sawung benar-benar akan mengancam jiwanya pada saat ia sedang mencoba mencegah perkelahian. Karena itu ia agak gugup. Ia melihat pedang adik sepupunya yang besar dan panjang tiba-tiba saja terjulur kedadanya.

Dengan segala kemampuan yang ada padanya ia mencoba memukul pedang tersebut. Namun terlambat. pedang Sawung berhasil mematuk dadanya. Kemudian sebuah goresan yang panjang membekas menyilang. Perasaan pedih menjalar menyusur segenap sarafnya. Arya berdesis perlahan. Untunglah ia tangkas, sehingga goresannya tidak dalam. Namun demikian darah yang mengalir dari luka itu, seakan akan minyak yang akan menyiram api kemarahan anak muda dari Banyubiru.

Arya Salaka bukan anak dewa ataupun malaikat dari langit. Demikian akhirnya Arya telah kehilangan semua kesabaran serta kelunakan hati. Yang didalam dadanya kini adalah kemarahan yang menyala nyala seperti api membakar hutan kering di lereng bukit dalam arus angin yang kencang.

Karena itulah maka sambil menggeram keras Arya meloncat dengan tangkasnya, kemudian seperti badai ia menyerang Sawung Sariti.

Namun Sawung telah bertekad bulat untuk bertempur mati-matian. Kakak sepupunya atau ia yang harus mati. Maka terulang kembali pertempuran sengit dibawah pohon nyamplung. Pertempuran antara dua anak muda yang darahnya sedang mendidih sampai kekepala.

Karang Tunggal kini berdiri seperti tonggak. Ia benar-benar menjadi kecewa. Ia kini tidak bisa berharap bahwa dendam diantara keduanya akan terhapus karena ucapan jantan. Karena itulah ia melangkah perlahan-lahan menepi dan duduk ditepi jalan bersandar pokok pohon nyamplung.

UNTUK menghilangkan kejengkelan hatinya, tiba-tiba Karang Tunggal berteriak keras- keras, ”Aku tidak peduli lagi dengan kalian. Apa yang terjadi kemudian, aku tidak turut campur. Juga seandainya kalian mati bersama-sama, aku akan berdendang lagu Kinanti, sama sekali bukan Megatruh!”

Meskipun kata-kata Karang Tunggal itu bergetar memenuhi udara, namun Sawung Sariti dan Arya Salaka tak mendengarnya. Perhatian mereka sepenuhnya telah tertumpah pada perjuangan mereka untuk mempertahankan hidup masing-masing.

Pertempuran kali inipun semakin lama menjadi semakin memuncak. Masing-masing telah melepaskan segenap ilmu pedang mereka. Ilmu pedang dari perguruan Pengging melawan ilmu pedang dari perguruan Pangrantunan. Dua ilmu yang seimbang dan dimiliki oleh dua orang anak muda dalam tataran yang seimbang pula. Sekali lagi nampak, betapa kekuatan jasmaniah Arya Salaka berada selapis lebih dari Sawung Sariti. Itulah sebabnya maka Sawung Sariti berusaha mempergunakan kelincahannya untuk memukul lawannya. Namun agaknya Sawung Sariti tidak akan berhasil. Sebab Arya Salaka pun mampu bertempur dalam kelincahan yang mengagumkan. Bahkan kemudian keduanya seakan-akan berubah menjadi bayangan yang melayang-layang secepat sikatan menyambar belalang.

Pedang Sawung Sariti bergerak dalam bidang-bidang yang mendatar, mematuk dan kemudian berputar seperti baling-baling. Sedangkan pedang Arya Salaka mengambil garis-garis silang untuk mematahkan serangan Sawung Sariti dan kemudian bergerak melingkari dirinya, untuk kemudian dengan dahsyatnya, sedahsyat angin pusaran, pedang itu melibat lawannya. Dalam benturan-benturan yang terjadi, semakin jelas, betapa kekuatan tubuh Arya Salaka melampaui kekuatan lawannya. Maka ketika Arya Salaka tidak lagi dapat mengendalikan diri, pedangnya menyambar dengan cepat dan kerasnya ke arah lehar lawannya. Namun kelincahan Sawung Sariti pun tidak kalah daripada lawannya. Cepat ia merendahkan diri dan pedangnya menyilang, melindungi tubuhnya. Terjadilah suatu benturan yang dahsyat. Seperti bunga api menghambur di udara. Dalam benturan itu, Arya telah mengerahkan segenap kekuatannya, bahkan ia telah mempergunakan ayunan pedangnya serta berat badannya untuk memperkuat serangannya. Dengan demikian, kekuatan yang menghantam pedang Sawung Sariti jauh melampaui kekuatan Sawung Sariti. Dengan demikian, ia terlontar mundur, sedang pedangnya bergetar cepat.

Terasa jari-jarinya menjadi panas dan nyeri. Cepat ia berusaha untuk memperbaiki keadaannya, namun secepat itu pula sekali lagi pedang Arya Salaka memukul pedang Sawung Sariti. Kali ini Sawung Sariti tak dapat lagi menyelamatkan pedangnya. Dengan kerasnya pedangnya terpukul jatuh ditanah. Sawung Sariti menggeram keras karena terkejut dan nyeri-nyeri ditangannya. Dengan cepatnya ia melontar mundur sejauh- jauhnya. Namun Arya pun mampu bergerak secepat itu, sehingga ketika Sawung Sariti berjejak di atas tanah, ujung pedang Arya seakan-akan telah melekat di dadanya. Sekali lagi ia mencoba menjauhkan diri dari ujung pedang itu, namun Arya Salaka pun melontar maju dengan kecepatan yang sama.

Akhirnya Sawung Sariti berhenti. Tangannya bergetar, namun tak sesuatu dapat dilakukan. Sedang ujung pedang Arya masih saja menekan dadanya. Melihat keadaan kedua anak muda yang bertempur itu, Karang Tunggal menjadi tegang. Tanpa sesadarnya, ia meloncat berdiri dengan wajah tegang menanti apa yang akan terjadi. Pada saat itu, Arya benar-benar telah menguasai lawannya. Dengan satu gerakan yang sederhana, ujung pedangnya akan menembus dada adik sepupunya itu.

Namun tiba-tiba tatit dari ujung langit memancar di udara. Seleret sinar jatuh di wajah adiknya yang tegang kaku. Bergetarlah dada anak muda dari Banyubiru itu. Ia pernah melihat wajah yang sedemikian itu di Gedangan, beberapa tahun lampau. Kalau ia mau, pada saat itu Sawung Sariti telah terbunuh dengan ujung tombak pusakanya. Tetapi pada saat itu ia tidak dapat membunuhnya. Perasaannya dirisaukan oleh kenangan masa-masa silam. Masa kanak-kanak dan masa-masa mereka bergaul sebagai saudara. Seperti juga pada saat yang serupa, kini tangan Arya Salaka yang memegang pedang itu bergetar, bergetar karena getaran di dalam jiwanya. Getaran perasaan seorang kakak. Betapa pun kemarahan telah membakar dadanya, namun Arya masih sadar, bahwa Sawung Sariti adalah adik sepupunya.

Dalam kerisauan itu tiba-tiba terdengar suara Sawung Sariti lantang, seperti apa yang dikatakan beberapa tahun yang lampau, ”Kakang Arya Salaka. Bunuhlah aku.”

Arya Salaka memandang wajah adiknya. Tangannya masih bergetar. Namun mulutnya tiba-tiba seperti terkunci. Bahkan kemudian kembali terdengar Sawung Sariti berkata, ”Kali ini bunuhlah aku, supaya aku tidak membunuhmu kelak.”

NAFAS Arya Salaka berjalan semakin cepat. Bukan karena kelelahan, tetapi karena perasaannya yang bergolak demikian dahsyatnya. Bergolakan perasaan yang telah menggoncangkan nalarnya. Dengan mata yang suram ia mengamat-amati wajah adiknya dengan seksama. Wajah yang masih memancarkan perasaan dendam dan benci.

Namun karena itulah maka Arya Salaka menjadi kasihan melihatnya. Ia menangkap getaran perasaan adiknya. Betapa ia tidak rela menerima keadaan itu.

Karena itu tiba-tiba terdengarlah suaranya gemetar, ”Adi Sawung Sariti. Berjanjilah demi Tuhan Yang Maha Tahu, bahwa kau akan melupakan gegayuhan yang sesat itu. Kemudian biarlah kita menikmati hidup tenang. Lepas dari rasa dendam dan prasangka.”

”Kakang,” jawab Sawung Sariti, ”Aku sudah berkata, kau atau aku yang harus lenyap. Kita tak akan dapat hidup bersama di bawah cahaya matahari yang sama.”

Arya Salaka mengangkat alisnya. Dadanya berdentang keras mendengar jawaban Sawung Sariti.

Karebet pun menjadi heran melihat peristiwa itu. Alangkah bersih jiwa Arya Salaka. Sebaliknya, betapa keras kepala adik sepupunya itu. Dengan demikian, Karang Tunggal pun terpaksa menahan nafasnya, menanti apa yang kira-kira akan terjadi. Di dalam lumpur yang becek, Galunggung masih duduk dengan mulut ternganga. Pertempuran yang terjadi benar-benar telah merampas segenap kesadarannya. Dan kini ia melihat Sawung Sariti dalam bahaya.

Arya Salaka masih tegak di tempatnya. Pedangnya masih melekat di dada adiknya dengan gemetar. Secepat getaran di dadanya sendiri. Bahkan tiba-tiba tangannya menjadi lemas, dan karena itu pedangnyapun semakin tunduk ke tanah.

Sawung Sariti melihat keadaan kakaknya. Ia melihat pedang itu semakin renggang dan tunduk. Mula-mula ia merasa aneh, kenapa kakaknya itu tidak membunuhnya, seperti beberapa tahun yang lalu, meskipun ia telah mengancamnya. Kemudian ia merasakan sesuatu yang tak dapat dimengerti sendiri menjalar di hatinya. Perasaan segan dan lebih dari itu.

Meskipun demikian Sawung Sariti tidak mau dipengaruhi oleh perasaannya. Ia tidak mau disebut sebagai seorang pengecut, yang takut menentang maut. Karena itu ia masih mencoba berkata, ”Jangan menjadi laki-laki cengeng. Aku telah mengangkat dadaku. Bunuhlah aku.”

Namun suara Sawung Sariti sudah tidak selantang tadi. Bahkan suara itu terasa bergetar dan ragu. ”Hem!” Arya Salaka menggeram. Kini pedangnya sudah benar-benar terkulai. Dengan mata yang sayu ia berkata, ”Adi Sawung Sariti, masihkah hatimu segelap itu?”

Kembali terasa sesuatu berdesir di dada Sawung Sariti. Kakaknya itu benar-benar tak mau membunuhnya. Tetapi ia berkata tidak seperti getaran-getaran di hatinya, ”Apa pedulimu tentang hatiku? Kalau kau sobek dadaku, akan kau lihat warna hati itu.”

Arya menjadi kecewa. Seperti Karang Tunggal juga menjadi sangat kecewa. Karena itu Arya berkata putus asa, ”Baiklah Adi. Ambillah pedangmu. Kita tentukan sekali lagi. Siapakah yang akan mati di antara kita.”

Sekali lagi dada Sawung Sariti bergoncang. Kesempatan itu masih didapatnya. Aneh. Apakah Arya Salaka tidak melihat kemungkinan dadanya sendiri, akan tembus oleh pedangnya, atau barangkali kakaknya itu yakin bahwa ia tak akan dapat mengalahkannya? Namun bagaimanapun juga, kesempatan itu benar-benar mengacaukan perasaannya. Dan karena itulah ia tidak segera bergerak memungut pedangnya. Malahan matanya dengan penuh pertanyaan memandang Arya dan Karebet berganti-ganti.

Getaran di dalam dadanya semakin lama menjadi semakin keras. Akhirnya terdengarlah suara lamat-lamat jauh dari dalam relung hatinya berbisik, ”Sawung Sariti, alangkah luasnya hati Arya Salaka, seluas lautan yang sanggup menampung air dari mana pun datangnya.”

Dan karena itulah maka ia masih berdiri mematung.

Dalam kesepian yang mencekam itu, tiba-tiba terdengarlah dari balik gerumbul- gerumbul di tepi parit, seseorang berkata, ”Persetan kalian, perempuan-perempuan cengeng.”

Semua yang mendengar suara itu terkejut. Serentak mereka menoleh ke arahnya. Dan tampaklah sebuah bayangan yang bergerak-gerak di balik gerumbul-gerumbul di tepi parit. Dan suara itu berkata lagi, ”Aku telah mencoba menyabarkan diri, menunggu kalian saling membunuh. Tetapi aku tidak telaten. Kalian berperasaan seperti perempuan cengeng. Kenapa kalian tidak bertempur dan membunuh secara jantan?”

Dada ketiga anak muda yang berdiri di bawah pohon nyamplung itu menjadi semakin berdebar-debar, dan bayangan itu masih saja berada di sana sambil meneruskan kata- katanya, ”Aku telah menunggu untuk mengurangi darah yang melumuri tanganku. Setidak-tidaknya aku hanya tinggal membunuh dua di antara kalian bertiga atau satu, apabila kalian laki-laki dan bertempur seperti laki-laki. Tetapi tidaklah demikian. Karena itu maka kalian telah memberatkan pekerjaanku. Membunuh kalian bertiga dengan tanganku.”

TIDAK seorang pun dari ketiga orang dibawah pohon nyamplung itu yang bergerak. Semua berdiri mematung dengan hati yang tegang. Mereka menunggu untuk mengetahui siapakah yang berbicara itu. Berdesirlah dada mereka, dan darah mereka seakan-akan membeku ketika mereka melihat bayangan di belakang gerumbul itu meloncat dengan tangkasnya, melangkahi pohon-pohon perdu seperti seekor burung gagak yang berwarna kelam di malam yang gelap. Mereka menjadi semakin terkejut lagi ketika bayangan itu telah berdiri di antara mereka, di bawah pohon nyamplung itu.

Ternyata bayangan itu adalah seorang yang bertubuh bongkok dan berwajah mengerikan, seperti wajah hantu.

”Bugel Kaliki,” desis Sawung Sariti.

Orang bongkok dari lembah Gunung Cerme itu tertawa berderai. Katanya, ”Kau pasti mengenal aku dengan baik.”

Dada Arya Salaka berdesir mendengar kata-kata itu. Kemudian hantu bongkok itu berkata pula, ”Nah, aku juga ingin melihat bahwa kau dan anak murid Mahesa Jenar ini laki-laki. Tetapi aku kecewa. Karena itu biarlah aku yang membunuhmu. Dan yang seorang ini aku tidak tahu, apakah hubunganmu dengan kedua anak ini. Namun karena kau hadir juga di sini, maka kau pun akan aku binasakan.”

Karang Tunggal pun pernah mendengar tentang Bugel Kaliki. Ia tahu benar bahwa Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari golongan hitam seperti Pasingsingan, Sima Rodra tua, Sura Sarunggi dan sebagainya. Namun terdorong oleh jiwa kejantanannya yang meluap-luap dalam dadanya, seperti sifat-sifatnya yang melonjak-lonjak dipenuhi oleh daya hidupnya, maka ia pun marah bukan buatan. Dengan berdiri tegak dan bertolak pinggang, ia berkata lantang, ”Hai Bugel Kaliki, kalau kau belum mengenal aku, akulah yang bernama Karang Tunggal, yang disebut juga Mas Karebet dalam panggilan Jaka Tingkir.”

Bugel Kaliki mengerutkan keningnya. Ia menjadi heran melihat sikap anak muda yang seakan-akan tak mengenal takut kepadanya itu. Maka katanya, ”Sudahkah kau kenal nama Bugel Kaliki dengan baik?”

”Aku sudah cukup mengenal,” jawab Karebet, ”Bugel Kaliki adalah tokoh sakti dari lembah Gunung Cerme.”

Bugel Kaliki tertawa. Katanya di antara derai tertawanya, ”Bagus, kau telah mengenal namaku. Tetapi kenapa kau berani bertolak pinggang di hadapanku?”

Kemarahan Karebet menjadi semakin memuncak. Jawabnya, ”Aku tidak mau kau hinakan dengan kata-katamu. Apakah kau kira membunuh kami bertiga ini semudah membunuh cacing?”

Sekali lagi Bugel Kaliki tertawa, lebih keras dari semula, sehingga tubuhnya berguncang-guncang. ”Diam!” bentak Karebet, ”Aku muak melihat tampangmu. Apalagi kalau kau sedang tertawa.”

Bugel Kaliki terkejut, sehingga tertawanya berhenti. Bukan main. Anak itu berani membentak-bentaknya. Karena itu matanya mejadi buram dan redup. Dipandangnya Karang Tunggal dengan seksama. Perlahan-lahan ia berjalan ke arah anak muda itu.

Arya Salaka dan Sawung Sariti tiba-tiba menjadi tegang. Apakah ia harus berdiri membiarkan Karang Tunggal mengalami bencana. Tiba-tiba terasa pula perasaan dendam di antara mereka. Mereka merasa bahwa kini nasib mereka serupa. Mereka bersama-sama akan mengalami bencana, apabila Bugel Kaliki benar-benar bertindak atas mereka. Apalagi di dalam relung hati Sawung Sariti telah memancar sepercik api yang menerangi kegelapan hatinya itu.

Maka ketika mereka melihat Bugel Kaliki melangkah perlahan-lahan mendekati Karang Tunggal, tanpa mereka sengaja, Arya dan Sawung Sariti pun melangkah maju.

MELIHAT kedua anak muda yang lain bergerak, Bugel Kaliki berhenti.

Pandangan matanya yang buas berganti-ganti hinggap diwajah Arya dan Sawung Sariti. Kedua anak muda inipun ternyata tidak gentar menghadapinya. Sehingga dengan demikian Bugel Kaliki menjadi semakin marah.

Dan terdengarlah ia berteriak, ”Apakah kalian bertiga tidak takut menghadapi aku, Bugel Kaliki dari Gunung Cerme?”

”Selama kami berpijak pada kebenaran, tak ada yang kami takuti,” jawab Arya Salaka.

”Gila!” geram Bugel Kaliki, ”Kau berdua telah terluka. Membunuh kalian akan sama mudahnya dengan membunuh semut.”

”Aku sudah siap untuk mati sejak tadi,” sahut Sawung Sariti, ”Namun jangan mimpi, kami akan menyerahkan leher kami tanpa perlawanan. Dan kalau aku mati karena tanganmu, maka aku akan mendapat penghormatan sebagai seorang laki-laki dari Pamingit. Bukan karena pertentangan antara keluarga sendiri. Aku sekarang menyesal bahwa aku telah melawan kakang Arya Salaka.”

Arya Salaka dan Karang Tunggal bergetar hatinya mendengar pengakuan yang tiba-tiba itu. Ketika mereka memandangi wajah Sawung Sariti, tampaklah betapa ia berkata dari dasar hatinya. Karena itu didalam dada Arya Salaka terdengar suara berbisik, ”Terimakasih adikku. Mudah-mudahan kau mendapat sinar terang dari Tuhan Yang Maha Pengasih.”

Dalam pada itu Bugel Kaliki menjadi bertambah-tambah marah juga. Ia mengharap bahwa seharusnya ketiga anak muda itu menjadi ketakutan, menggigil dan berjongkok minta ampun. Tetapi ternyata mereka telah menengadahkan dada mereka. Bahkan anak yang bernama Karang Tunggal itu masih saja berdiri bertolak pinggang.

Karena kemarahannya itu tiba-tiba Bugel Kaliki berkata nyaring - Hai tikus-tikus yang tak tahu diri. Kalian telah berbuat kesalahan pada akhir hayat kalian.Hem. Alangkah menyenangkan apabila aku melihat kalian meronta-ronta dan menderita sakit pada saat ajal tiba.

Kata-kata itu diucapkan oleh seorang iblis yang mengerikan. Karena itu, maka dada ketiga anak muda itu pun berdesir pula. Namun mereka bukanlah tikus-tikus seperti yang dikatakan oleh orang bongkok dari Gunung Cerme itu. Karena itu, meskipun desiran didada mereka terasa seperti menggores jantung, namun mereka tidak menjadi gentar.

Terdengarlah Karang Tunggal menjawab, ”Omong kosong. Kau ingin menakut-nakuti kami, supaya kami menjadi menggigil dan kehilangan nafsu perlawanan kami.”

Jawaban itu benar-benar membakar hati Bugel Kaliki. Seperti tatit ia meloncat dan menampar mulut Karang Tunggal.

Gerakan Bugel Kaliki benar-benar demikian cepatnya dan tidak terduga-duga sehingga tak seorang pun mampu mencegahnya, bahkan Karang Tunggal pun tak mampu mengelakkan. Namun gerakan Bugel Kaliki bukanlah serangan yang sebenarnya. Ia menampar saja karena marah, meskipun demikian tangan Bugel Kaliki adalah tangan hantu yang seakan-akan gumpalan timah yang keras. Karena itulah maka tamparan itu pun seolah-olah seperti ayunan bandul timah yang berat, menghantam pipi Karang Tunggal.

Meskipun Karang Tunggal mencoba mengelak, namun kecepatannya bergerak tidak dapat memadai kecepatan Bugel Kaliki, sehingga karena itu maka tangan Bugel Kaliki itu pun tak dapat dihindari.

Namun demikian, Jaka Tingkir itu tak terpelanting dan terbanting jatuh. Kepalanya hanya tergeser sedikit dan ia terdorong mundur beberapa langkah. Bugel Kaliki melihat kenyataan itu. Ia sudah mengatur kekuatan geraknya. Menurut dugaannya anak yang sombong itu akan terpelanting dan jatuh berguling ditanah. Tetapi Karebet ternyata tidak demikian. Bahkan terasa seolah-olah ada lambaran yang membatasi tangannya dan tubuh anak itu. Karena itu, maka Bugel Kaliki menjadi berdebar-debar.

Dengan pandangan mata yang buas ia memandang Karebet seperti hendak ditelannya hidup-hidup. Dari mulutnya tiba-tiba terlontar kata-katanya, ”Setan, dari mana kau miliki aji Lembu Sekilan itu?”

Karebet kini telah tegak kembali. Ia telah mengetrapkan ilmunya sejak ia melihat kedatangan hantu yang dapat bergerak secepat tatit itu. Memang ia sudah menyangka, bahwa Bugel Kaliki pada suatu saat akan bergerak secepat itu. Karena itu, ia pun selalu bersiaga. Namun ia tidak menjawab pertanyaan hantu bongkok itu.

Arya Salaka pun tergetar melihat peristiwa itu. Sejak pertemuannya yang pertama dengan Karang Tunggal, ia telah mengagumi ketangguhan dan ketangkasannya. Kini ia menyaksikan betapa Karebet berhasil mempertahankan keseimbangannya dari dorongan tangan Bugel Kaliki.

Apalagi Sawung Sariti. Dadanya bergoncang ketika ia mendengar Bugel Kaliki berkata, bahwa anak muda yang bernama Karang Tunggal itu memiliki aji Lembu Sekilan.

”Kalau demikian ia tidak bersungguh-sungguh ketika melawan aku. Alangkah bodohnya aku ini. Kalau ia terapkan Lembu Sekilan, maka aku pasti sudah binasa karena pedangnya. Sebab aku tak dapat mengenalinya, dan ia dapat sekehendak hatinya menusuk dadaku dari arah yang disukainya,” pikirnya.

DALAM pada itu terdengar Bugel Kaliki berkata, ”Kalau demikian, kaulah yang harus dibinasakan lebih dahulu. Sebab ajimu itu, apabila kelak benar-benar dapat kau matangkan, maka kau akan menggulung jagad. Tetapi sekarang, belum. Ternyata kau masih bergetar karena dorongan tanganku. Kalau aku hantam sekuat tenagaku, meskipun kau melambari dirimu dengan Lembu Sekilan, namun iga-igamu rontok seluruhnya.”

Karang Tunggal masih tetap berdiam diri, namun ia benar-benar telah bersiaga. Kalau datang serangan yang tiba-tiba dan dengan sepenuh tenaga, ia pun telah bersiap mengelak. ”Nah, bersiaplah untuk mati. Kalian bertiga akan aku binasakan secepat- cepatnya sebagai pembalasan dendam atas kematian sahabat-sahabatku,” kata Bugel Kaliki seterusnya.

Karang Tunggal, Arya Salaka dan Sawung Sariti sadar bahwa Bugel Kaliki pasti berusaha untuk melaksanakan kata-katanya. Karena itu segera mereka pun bersiap. Tanpa berjanji Arya Salaka dan Sawung Sariti bergerak mengambil tempat masing-masing. Mereka berdiri sebelah menyebelah dari hantu Bongkok itu, sehingga mereka dapat mengambil garis perkelahian yang berbeda-beda.

Sekali lagi terdengar Bugel Kaliki mendengus dan kemudian tertawa pendek. Setelah itu, ia pun mulai bergerak menyerang Karang Tunggal. Namun Karang Tunggal telah benar- benar siap. Ia kali ini berusaha membebaskan dirinya dari tangan Bugel Kaliki. Dan ketika Bugel Kaliki mencoba mengulangi serangannya, datanglah serangan Arya Salaka dan Sawung Sariti bersama-sama. Bugel Kaliki menggeram marah. Terpaksa ia menghindari kedua ujung pedang itu. Namun gerakannya sedemikian tangkasnya, sehingga sesaat kemudian ia pun telah berhasil meloncat menyerang Arya Salaka. Ia menyilangkan pedangnya di muka dadanya.

Tetapi Bugel Kaliki menggeliat di udara, dan serangannya telah berubah mengarah lambung. Arya terkejut melihat perubahan itu. Untunglah Sawung Sariti dengan pedangnya yang panjang menyerang langsung dengan garis mendatar, memotong gerakan Bugel Kaliki. Sekali lagi Bugel Kaliki menggeram. Ternyata anak-anak itu benar-benar bukan anak-anak kecil. Ketika ia melihat perkelahian antara Arya Salaka dan Sawung Sariti, memang ia telah mendapat gambaran tentang ilmu kesaktian anak itu, namun kini ia telah membuktikannya. Namun Bugel Kaliki adalah seorang iblis yang mengerti. Ketika pedang Sawung Sariti itu terjulur, Bugel Kaliki melantingkan kesamping. Dengan demikian Sawung Sariti terseret kekuatannya yang dikerahkan seluruhnya.

Bugel Kaliki terkejut. Ia melihat Sawung Sariti sedang mencoba mempertahankan keseimbangan. Dalam keadaan yang demikian ia menyerang , melihat serangan itu, tetapi ia terhalang oleh adiknya.

Yang kemudian dilakukan adalah menjulurkan pedangnya, diatas punggung Sawung Sariti menanti kedatangan Bugel Kaliki. Tetapi perlawanan itu tak banyak berarti bagi Bugel Kaliki. Dengan cepatnya ia melontar diri ke arah anak muda dari Pamingit itu. Tetapi sekali lagi Bugel Kaliki menggeram, bahkan mengumpat-umpat tak habis- habisnya ketika tiba-tiba tubuhnya tertumbuk dengan Karang Tunggal yang sengaja menghalang-halangi geraknya. Dengan demikian Bugel Kaliki terhenti ditempatnya, namun Karang Tunggal terpelanting beberapa langkah dan jatuh berguling-guling.

Untunglah bahwa ia berhasil menempatkan dirinya sehingga tidak menimpa Sawung Sariti dan Arya Salaka.

”Gila!” teriak Bugel Kaliki, ”Kau tidak mati karena benturan ini?” ”Sebagaimana kau lihat,” sahut Karang Tunggal yang sudah berhasil berdiri.

Ternyata aji Lembu Sekilan telah menyelamatkannya, meskipun ia terpaksa terpelanting jatuh. Namun ia tidak mengalami luka pada tubuhnya. Kesempatan itu dapat dipergunakan sebaik-baiknya oleh Sawung Sariti dan Arya Salaka. Secepat-cepatnya mereka mempersiapkan diri mereka untuk menanti serangan-serangan yang baru.

Tetapi pertempuran yang baru sebentar itu telah memberi mereka gambaran bahwa umur mereka tidak akan terlalu panjang lagi. Bugel Kaliki segera bersiap maju. Matanya menjadi bertambah merah karena kemarahan yang menyala di dadanya semakin menjadi- jadi pula. Ketika anak muda itu ternyata mampu bertahan beberapa saat menghadapinya. Karena itu ia menggeram tak henti-hantinya dan mengumpat tak habis-habisnya.

Ketika Bugel Kaliki telah siap dengan serangannya, tiba-tiba ia terkejut sehingga ia tegak mematung. Ia melihat anak yang bernama Karang Tunggal itu meraih sesuatu dari dalam bajunya dan ketika tangannya itu ditariknya, ia telah menggengam sebilah keris yang memancarkan cahaya yang buram, seperti bara.

Dan tiba-tiba pula dari mulutnya terdengarlah ia berdesis, ”Sangkelat.” ”Ya,” sahut Karang Tunggal, ”Inilah Kyai Sangkelat.” "SETAN!" Hantu itu bergumam.

Namun hatinya berdebar-debar cepat sekali. Apalagi ketika ia melihat keris itu tidak bercahaya berkilat-kilat seperti pernah didengarnya. Dan pernah juga ia mendengar ceritera, bahwa Sangkelat yang demikian itu menyatakan bahwa jiwa keris itu telah luluh dalam jiwa pemegangnya. Apalagi ketika ia mendengar bahwa Karang Tunggal membenarkan dugaannya bahwa yang dipegang itu adalah Kyai Sangkelat.

Arya dan Sawung Sariti pun berdebar-debar pula melihat keris itu. Meskipun mereka belum pernah mengenalnya, namun terasa bahwa wesi aji yang bercahaya buram itu mempunyai pembawaan yang luar biasa.

Apalagi ketika mereka mendengar Bugel Kaliki menyebut nama keris itu, "Sangkelat."

Dan nama keris itu pernah didengarnya. Bagi Arya Salaka, keris yang bernama Kyai Sangkelat itu telah memperingatkan kepadanya bahwa ia pun membawa pusaka yang dapat diandalkan pula, meskipun belum setingkat Kyai Sangkelat. Karena itu, dengan gerak diluar sadarnya, pedang di tangannya berpindah ke tangan kirinya, dan tiba-tiba tangan kanannya telah memegang sebuah pisau belati panjang yang bercahaya kekuning- kuningan.

Melihat pisau itu, Bugel Kaliki terkejut untuk kedua kalinya. Sekali lagi mulutnya berdesis, "Kyai Suluh."

"Ya," sahut Arya pendek.

"Hem!" geram Bugel Kaliki, "Dari mana kalian mendapat benda-benda aneh itu? Sangkelat dan Suluh. Bukankah Kyai Suluh itu pusaka Pasingsingan?"

"Ya," sahut Arya.

"Persetan dengan pusaka-pusaka itu!"

Tiba-tiba ia berteriak. Suara menggema berulang-ulang. Namun terasa dalam nada suaranya bahwa kedua pusaka itu benar-benar mempengaruhi perasaannya. Melihat kedua kawan senasibnya memegang pusaka-pusaka yang dapat mempengaruhi lawannya, Sawung Sariti berbesar hati pula. Dengan demikian perlawanan mereka pasti akan bertambah panjang. Mudah-mudahan ada sesuatu yang dapat merubah keseimbangan pertempuran itu.

Maka karena itulah ia berkata dengan suara nyaring, "Kakang, berikan pedang itu kepadaku apabila tak kau pergunakan lagi."

Arya memandangi adiknya. Ia telah memegang pusaka yang cukup menggetarkan. Karena itu, dengan tidak berkeberatan diserahkannya pedang di tangan kirinya kepada adiknya. Sambil menerima pedang itu Sawung Sariti bergumam, "Akan aku coba ilmu pedang rangkap yang pernah diturunkan Eyang Sora Dipayana kepadaku."

"Pusaka-pusaka itu tak ada artinya bagi kalian. Bahkan aku akan berterima kasih kepada kalian, karena setelah kalian mati, maka pusaka-pusaka itu akan menjadi milikku," kata Bugel Kaliki pula.

Karang Tunggal yang mempunyai sifat-sifat aneh itu tertawa. Jawabnya,"Jangan berpura-pura. Suaramu gemetar."

Bukan main marahnya hantu dari Gunung Cerme itu mendengar hinaan yang keluar dari mulut anak-anak. Karena itu ia pun segera meloncat, membuka serangan yang dahsyat. Namun anak-anak muda pun telah bersiaga. Segera anak-anak itu bergerak pula memberikan perlawanan yang gigih. Kyai Sangkelat, Kyai Suluh, dan permainan pedang rangkap Sawung Sariti, yang mengagumkan. Kedua pedang itu tampaknya seperti saling membelit dan mematuk-matuk berganti-ganti.

Tetapi di antara mereka bertiga Bugel Kaliki seakan-akan dapat bergerak-gerak seperti asap yang tak dapat mereka sentuh dengan senjata-senjata mereka. Namun meskipun demikian, Bugel Kaliki pun tak dapat berbuat sekehendak hatinya atas ketiga lawan- lawannya yang masih sangat muda itu. Meskipun ketiga-tiganya bukan berasal dari satu perguruan, namun mereka dapat bekerja bersama dalam susunan yang rapi. Mereka mencoba sekuat-kuat mungkin saling mengisi dan saling memperkuat serangan diantara mereka. Apalagi dengan kedua pusaka yang menggetarkan hati di tangan Karebet dan Arya Salaka, maka Bugel Kaliki benar-benar harus berhati-hati.

Meskipun demikian ia adalah tokoh tua yang sudah kenyang makan pahit getir perkelahian, pertempuran dan segala macam kekerasan. Bugel Kaliki dapat membunuh lawannya dan kemudian duduk di atas bangkai itu sambil makan seenaknya.

Demikianlah pertempuran itu menjadi semakin sengit. Dalam keadaan demikian, seakan- akan kedua belah pihak berada dalam keseimbangan. Karang Tunggal ternyata berada dua tiga lapis diatas kemampuan Arya Salaka. Aji Lembu Sekilannya, meskipun tidak dapat melawan kekuatan tenaga Bugel Kaliki sepenuhnya, namun ia dapat menghindarkan dirinya dari sentuhan-sentuhan kecil hantu dari Gunung Cerme itu. Dengan demikian, maka seakan-akan Karebetlah yang memimpin kedua kawannya yang lain. Ialah yang mengambil sikap dan menentukan permainan yang mengagumkan, namun telah membuat Bugel Kaliki bertambah marah.

SETELAH mereka bertempur beberapa saat, tampaklah tenaga Sawung Sariti mulai susut. Selain kelelahan yang telah menjalari seluruh tubuhnya, darah juga mengalir dari lukanya. Meskipun tidak terlalu deras, namun apabila ia menggerakkan tangannya sepenuh tenaga, darah itu meleleh semakin banyak.

Demikian juga darah dari dada Arya yang telah tergores oleh pedang Sawung Sariti. Namun ketahanan jasmaniahnya ternyata lebih besar daripada adik sepupunya itu. Melihat keadaan itu, Karebet menjadi berdebar-debar. Dengan demikian ia harus bekerja sekuat tenaganya. Tenaga yang seakan-akan mempunyai persediaan yang tak kering- keringnya didalam tubuhnya. Memang selain sifat-sifatnya yang aneh, tubuh Karebet pun aneh pula. Meskipun ia memeras segenap kekuatan dan tenaganya sejak pertempuran itu dimulai, namun semakin lama, seakan-akan ia menjadi semakin segar dan kuat.

Bugel Kaliki yang bermata tajam, setajam burung hantu, melihat kelemahan itu.

Karebet adalah anak yang sangat berbahaya dengan Kiai Sangkelat di tangannya. Karena itu maka yang pertama-tama harus disingkirkan supaya tidak mengganggu adalah Arya Salaka atau Sawung Sariti. Dalam pada itu, terasalah tekanan-tekanan yang erat pada Arya Salaka dan Sawung Sariti.

Bugel Kaliki telah mangerahkan serangan-serangannya kepada kedua anak itu berganti- ganti sambil menghindarkan diri dari serangan-serangan Kiai Sangkelat yang menyambar-nyambarnya dengan dahsyatnya. Ketika mereka sedang sibuk dengan pertempuran itu, dimana perhatian mereka seluruhnya terampas oleh usaha mereka mempertahankan diri, terjadilah suatu peristiwa yang tak mereka duga-duga.

Galunggung, yang duduk lemas ditanah yang becek, ketika melihat kehadiran hantu dari Gunung Cerme itu, menjadi seakan-akan membeku.

Ia tahu benar siapakah Bugel Kaliki. Dengan demikian ia menjadi putus asa. Semua impiannya kini telah benar-benar menjadi lenyap seperti awan disapu angin. Impiannya tentang tanah yang berpuluh-puluh bahu. Kekuasaan atas Pamingit dan Banyubiru. Kekayaan dan kemewahan. Sebab dengan kehadiran hantu bongkok itu harapan untuk hidup bagi Sawung Sariti menjadi semakin tipis.

Tetapi ketika ia melihat pertempuran di antara mereka, di antara Bugel Kaliki melawan ketiga anak-anak muda itu hatinya menjadi hidup kembali. Darahnya serasa mulai mengalir. Ia melihat bagaimana ketiga anak muda itu dengan gigih mempertahankan diri mereka. Bahkan anak muda yang bernama Karebet itu dapat bergerak menyambar- nyambar seperti burung alap-alap di langit. Dengan demikian pikirannya perlahan-lahan dapat berjalan kembali. Mula-mula ia ingin mencoba membantu melawan Bugel Kaliki namun hal itu tidak akan berarti. Apalagi senjatanya kini tidak ada di tangannya lagi.

Tiba-tiba timbullah pikirannya yang bersih. Dengan sagat hati-hati ia merangkak masuk ke dalam tanaman jagung muda itu semakin dalam. Kemudian tiba-tiba kekuatannya seperti kembali menjalari tubuh. Dengan serta merta, ketika ia sudah cukup dalam di balik pohon-pohon jatung itu Galunggung meloncat dan berlari sekencang-kencangnya seperti dikejar hantu, kembali ke Pamingit. Siapa pun yang akan dijumpainya pertama- tama, akan diberitahukan kepadanya bahwa Arya Salaka dan Sawung Sariti sedang bertempur melawan Bugel Kaliki.

Pada saat itu keadaan Sawung Sariti telah bertambah payah. Perlawanannya telah menjadi semakin kendor. Kedua pedangnya yang semula bergerak seperti gumpalan asap yang bergulung-gulung melindungi dirinya, kian lama menjadi kian kendor. Sedangkan serangan Bugel Kaliki menjadi semakin garang. Demikianlah, pada suatu saat Bugel Kaliki berhasil menerobos lawan-lawannya langsung menyerang Sawung Sariti. Dengan kecepatan yang masih dapat dilakukan, Sawung Sariti menyilangkan kedua pedangnya dengan kekuatan raksasanya, sehingga tiba-tiba kedua pedangnya itu pun bergetar dan jatuh di tanah.

Sawung Sariti menjadi gugup. Pada saat itu Bugel Kaliki mengulangi serangannya langsung ke dada Sawung Sariti. Serangan itu datang sedemikian cepatnya, sehingga Sawung Sariti telah benar-benar kehilangan kesempatan untuk menghindar.

Karang Tunggal dan Arya menjadi terkejut pula melihat Bugel Kaliki dapat bergerak secepat itu, menerobos serangan-serangan mereka. Dengan secepat yang dapat dilakukan, Karang Tunggal meloncat menyerang sejadi-jadinya. Kyai Sangkelat langsung terjulur lurus ke lambung Bugel Kaliki. Sedang Arya, yang berada dalam jarak yang lebih jauh, tak mampu meloncat mencapai lawannya. Maka ia hanya berusaha untuk menyelamatkan Sawung Sariti yang sedang kehilangan keseimbangannya. Dengan cepat ia mendorong adiknya ke samping.

Kedua gerakan Karebet dan Arya ada juga pengaruhnya, Bugel Kaliki terpaksa menggeliat menghindari Kyai Sangkelat. Namun sentuhan itu mengenai dada kiri Sawung Sariti. Tetapi sentuhan itu adalah sentuhan tangan iblis ganas dari Gunung Cerme. Karena itu akibatnya pun mengerikan.

Dada Sawung Sariti sebelah kiri yang tersentuh tangan Bugel Kaliki itu serasa seperti terhantam reruntuhan bukit Merbabu. Karena itu Sawung Sariti terlempar dan terbanting di tanah. Sebuah keluhan yang pendek terdengar. Sekali ia menggeliat kemudian terdengar ia mengerang kesakitan.

Bugel Kaliki yang telah berhasil menjatuhkan satu lawannya tertawa berderai, membelah sepi malam.

Ia yakin, bahwa anak kepala daerah perdikan Pamingit itu tak akan mampu bertahan diri meskipun hanya ujung jarinya saja yang menyentuhnya.