Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 36

Jilid 36

Lawa Ijo pun terkejut melihat serangan itu. Anak ini benar-benar seperti anak setan. Serangannya yang dibarengi dengan ajinya Alas Kobar, masih sempat dihindari oleh Arya Salaka.

Sebenarnyalah bahwa Arya Salaka pun mula-mula terkejut merasakan serangan udara panas itu.

Namun tanpa sesadarnya, udara yang panas itu lambat laun menjadi sejuk dengan sendirinya. Setelah peluhnya mengalir dari segenap lubang kulitnya, maka tubuhnya semakin merasa segar. Ia tidak lagi terpengaruh oleh udara panas yang secara bergelombang melibat dirinya. Ia sendiri tak menyadari bahwa berkat pertolongan orang berjubah abu-abulah, ia dapat membebaskan diri dari serangan aji Alas Kobar yang ganas.

Kekuatan-kekuatan yang ada di dalam tubuh Arya Salaka, yang semula merupakan tenaga cadangan untuk menembus urat-urat darahnya di permukaan kulit untuk melawan rangsang dari luar, kini telah bebas. Kekuatan-kekuatan itu dapat dipergunakan untuk keperluan-keperluan khusus. Adalah suatu kurnia baginya, bahwa ia telah berhasil mengatur jalan pernafasannya serta jalur-jalur urat-urat di tubuhnya dengan baik menurut petunjuk Kebo Kanigara, yang disangkanya untuk mendasari ilmunya Sasra Birawa, disusul dengan usaha orang berjubah abu-abu yang telah membuka segenap simpanan kekuatan di dalam tubuhnya.

Demikianlah, maka Arya Salaka seolah-olah telah dapat membebaskan dirinya dari gangguan simpul-simpul perasa dari seluruh permukaan kulitnya. Meskipun ia tidak menjadi kebal dari serangan senjata, namun dalam saat-saat tertentu dengan sendirinya ia berhasil mengurangi segenap perasaan yang ditimbulkan oleh simpul-simpul perasa itu.

SEBENARNYALAH, bahwa seseorang dengan mengatur pernafasannya dengan baik, pemusatan pikiran dan kehendak, percaya kepada kebenaran atas tindakannya, dan pasrah setulus-tulusnya kepada Allah Yang Maha Kuasa, dapatlah kiranya orang menyingkirkan diri dari kesadaran perasaan yang ditimbulkan oleh wujud jasmaniahnya. Sehingga akhirnya orang dapat menguasai ujud jasmaniahnya sendiri.

Dalam keadaan yang demikianlah Arya Salaka bertempur dengan gigihnya melawan Lawa Ijo. Sebagai seorang pemuda yang sedang berkembang, ia memiliki semangat yang luar biasa. Otot-ototnya yang mulai tampak berjalur-jalur di bawah kulitnya telah membentuk tubuhnya menjadi bertambah serasi dengan wajahnya yang keras penuh daya juang dan penuh harapan bagi masa depan.

Mantingan melihat pertempuran itu seperti terpaku di tempatnya. Mimpi pun tidak, bahwa ia akan berkesempatan menyaksikan Arya Salaka bertempur melawan Lawa Ijo dalam keadaan sedemikian baiknya. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Arya Salaka telah berhasil menempa dirinya menjadi seorang anak muda perkasa. Yang mau tidak mau harus diakuinya bahwa anak itu telah melampauinya, dan menempatkan dirinya sejajar dengan tokoh hitam yang terkenal itu. Bahkan ternyata bahwa Arya Salaka sama sekali tidak mengalami kesulitan dalam pertempuran itu, meskipun ia harus melawan ilmu Lawa Ijo yang memancarkan panas, sepanas api. Mantingan tersadar ketika beberapa kali udara panas melanda dirinya. Karena itu segera ia melangkah surut menjauhi titik pertempuran itu dengan pertanyaan di dalam dirinya. Apakah sebabnya maka Arya Salaka seolah-olah sama sekali tidak merasakan sentuhan- sentuhan udara panas itu.

Meskipun demikian Mantingan belum berani meninggalkan Arya Salaka bertempur di luar pengawasannya. Kalau terjadi sesuatu atas anak itu, maka Mantingan-lah yang bertanggungjawab sepenuhnya. Sedangkan untuk ikut serta di dalam pertempuran itu, Mantingan tidak sampai hati. Ia tidak melihat keharusan untuk bertempur berpasangan melawan Lawa ijo, meskipun ia yakin bahwa seandainya ia ikut serta maka pasti ia berdua dengan Arya Salaka akan segera dapat memenangkan pertempuran itu, meskipun barangkali tubuhnya akan hangus oleh pancaran panas dari tubuh Lawa Ijo.

Karena itu Mantingan hanya dapat melihat saja pertempuran itu dengan penuh minat, meskipun trisulanya tetap tergenggam erat di tangan. Ia kemudian menjadi bangga ketika melihat Arya Salaka bertempur dengan gagahnya, menyambar-nyambar seperti burung rajawali raksasa.

Tetapi Lawa Ijo pun lincah. Ia benar-benar dapat bergerak seperti kelelawar di dalam gelap. Matanya menjadi bercahaya seperti mata serigala. Dengan menggeram dahsyat sekali ia bertempur semakin ganas. Namun demikian di dalam hatinya terseliplah pertanyaan yang membelit-belit dirinya. Seperti juga Mantingan, Lawa Ijo menjadi heran, kenapa anak muda itu dapat membebaskan dirinya dari pengaruh ilmu Alas Kobar.

Ketika Lawa Ijo tidak dapat menemukan jawab atas pertanyaan itu, justru ia menjadi semakin marah. Geraknya menjadi semakin ganas. Mirip seperti serigala kelaparan, ia merangsang lawannya dengan rakusnya. Kedua pisau belatinya berkilat-kilat menyambar-nyambar seperti sepasang halilintar, yang dipakai Dewa Pencabut Nyawa seperti dalam ceritera pewayangan.

Tetapi Arya Salaka pun tangguh bukan kepalang. Tombaknya dapat melindungi tubuhnya rapat sekali. Sedang gumpalan bayangan tombaknya itu bergulung-gulung seperti awan gelap yang siap menelan apa saja yang menghalangi dirinya.

Demikianlah, pertempuran itu berlangsung dengan dahsyatnya. Lawa Ijo, murid terkasih hantu bertopeng, melawan Arya Salaka. Dalam dunia pengembaraannya, Lawa Ijo telah banyak memiliki pengalaman yang dahsyat dan mengerikan. Telah beberapa puluh orang yang cukup terkenal dilawan dan dibunuhnya. Telah beberapa daerah perdikan yang didatanginya dan bertekuk lutut menyerahkan segala harta kekayaannya. Tetal beberapa kali ia berhasil meloloskan diri dari jaring-jaring yang dipasang oleh para pejabat keamanan dari Kerajaan Demak. Namun ia masih tetap pada pekerjaannya. Merampok. Membunuh.

Dan yang terakhir, terbersitlah kemauan Lawa Ijo untuk menundukkan perdikan Banyubiru. Apalagi ketika tersiar berita untuk kedua kalinya, bahwa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten tersimpan di daerah itu. Ketika itu ia bersepakat dengan kawan-kawan segolongannya untuk bersama-sama menghancurkan Banyubiru. Meskipun mereka yakin, bahwa setelah itu akan terjadi saling mendesak dan saling membunuh diantara golongan hitam itu sendiri.

Namun tiba-tiba rintisan usahanya itu terbentur hanya karena Arya Salaka datang kembali ke tanah perdikannya. Apakah sebenarnya arti dari anak ini? Tetapi ia sekarang menghadapi suatu kenyataan bahwa Arya Salaka yang masih muda itu memiliki kekuatan yang harus diperhitungkan. Dengan demikian maka dada Lawa Ijo menjadi semakin bergolak. Dengan darah yang mendidih ia mengerahkan segenap kekuatannya dengan dilambari oleh ilmunya Alas Kobar untuk membinasakan anak itu.

ARYA SALAKA bukanlah seekor cacing yang hanya mampu melingkarkan diri. Lebih dari lima tahun ia telah membajakan dirinya, dipadu dengan tubuhnya yang sedang mekar dalam umurnya yang muda itu. Maka ia adalah seorang anak muda yang luar biasa. Ia memiliki ketangkasan, ketangguhan dan kelincahan yang dapat menyamai Lawa Ijo. Bahkan apapun yang dapat dilakukan oleh Lawa Ijo, dapat disejajari oleh lawannya yang muda itu.

Dengan demikian Lawa Ijo menjadi bertambah marah, bahkan akhirnya ia kehilangan kesabaran dan perhitungan. Apalagi ketika sekali-kali ia sempat melihat lingkaran- lingkaran pertempuran yang lain.

Tak ada tanda-tanda sama sekali bahwa anak buahnya dapat mengatasi keadaan. Wadas Gunung, adik seperguruannya ternyata semakin sulit keadaannya. Ia hanya dapat berkisar mundur dan mundur. Tanpa Tembini, bagi Wilis, Wadas Gunung sama sekali tidak berarti, meskipun untuk membunuhnya tidak pula terlalu mudah.

Sedang Wirasaba masih bertempur pula dengan garangnya. Kapaknya terayun-ayun menakutkan.

Di kejauhan tampak Widuri berdiri tegak dengan rantai berputar di tangan kanannya. Bagolan yang berdiri beberapa langkah di mukanya hanya berkisar-kisar saja. Dengan tertawa-tawa Widuri membiarkan Bagolan menyerangnya. Tetapi untuk beberapa lama Bagolan sama sekali tak berani mendekati gadis kecil dengan rantai berputar itu. Seperti seekor ayam jantan yang takut menghadapi lawannya, ia berkisar berputar-putar. Namun kemana ia pergi, Widuri selalu menghadapinya.

Akhirnya Bagolan menjadi marah juga. Marah, malu dan segala macam perasaan bercampur baur. Kedua bola besi bertangkai ditangannya telah basah karena peluhnya. Dengan gemetar ia menggigit bibirnya. Sekali-sekali ia ingin meloncat dan memukul hancur gadis itu. Tetapi setelah sekian lama ia bertempur, ia mengetahui benar bahwa gadis kecil itu telah memiliki kesempurnaan dalam bermain-main dengan rantainya. Sehingga yang dapat diperbuatnya hanyalah mengumpat-umpat di dalam hati tak habis- habisnya. Kalau saja Widuri menyerangnya, Bagolan akan mendapat kesempatan pada perubahan-perubahan gerak gadis itu. Tetapi ternyata Widuri masih berdiri saja di tempatnya.

Tetapi justru karena itu Bagolan merasa malam itu tegang sekali. Keningnya berkerut- kerut dan nafasnya terdengar berkejaran. Ia ingin berbuat sesuatu, tetapi tidak dapat. Karena itulah maka ia menjadi seperti cacing kepanasan.

Lawa Ijo sendiri akhirnya merasa, bahwa Arya Salaka ternyata jauh meleset dari anggapannya. Anak muda itu bertempur dengan tangkasnya. Apa yang dilakukan oleh anak muda itu benar-benar seperti apa yang dilakukan oleh Mahesa Jenar beberapa tahun yang lalu di hutan Tambak Baya.

Ketangkasan, ketangguhan dan ketrampilan. Bahkan sekarang, ketika ia telah dapat melengkapi ilmunya dengan ilmu pamungkasnya Alas Kobar, anak itu sama sekali tidak menemui kesulitan apa-apa, sehingga menurut penilaian Lawa Ijo, Arya Salaka sekarang telah lebih jauh maju dari Mahesa Jenar lima tahun yang lalu.

Disamping perasaan marah, timbul pula sepercik pertanyaan di dalam dada hantu Mentaok itu. Kalau muridnya telah berhasil menguasai ilmu sedemikian tingginya, lalu bagaimana dengan Mahesa Jenar sendiri.

Sementara itu Arya Salaka bertempur terus dengan cepatnya. Karena ia pernah mendengar, bahwa Lawa Ijo memiliki ilmu yang tinggi, maka ia tidak berani berjuang dengan separoh hati. Dan sekarang ternyata apa yang pernah didengarnya itu adalah benar. Ia pernah bertempur dan bahkan membunuh sepasang Uling dari Rawa Pening.

Namun ternyata Lawa Ijo mempunyai kelebihan dari mereka. Tetapi Arya Salaka tidak tahu bahwa ilmu Alas Kobar-lah yang agak mengganggu dirinya, karena sebagian kekuatan cadangannya tersalur untuk melawan kekuatan pancaran panas sehingga kulitnya tidak hangus karenanya, disamping tata pernafasannya yang sempurna serta kebulatan pikiran dan tekadnya, serta pasrah diri setulus-tulusnya kepada Yang Maha Besar. Maka hal yang demikian itulah yang telah mengurangi gangguan-gangguan perasaan pada bentuk jasmaniahnya.

Lawa Ijo semakin lama menjadi semakin ganas. Ia sama sekali tidak peduli ketika didengarnya sekali lagi sebuah teriakan nyaring dari mulut orang yang bernama Ketapang, karena goresan kapak Wirasaba. Bahkan ia kemudian tidak sadar ketika di sekeliling titik pertempuran itu telah berdiri berjajar-jajar Wirasaba, Rara Wilis dan Endang Widuri disamping Mantingan.

Mereka telah kehilangan lawan-lawan mereka, karena melarikan diri. Tetapi sebenarnya Lawa Ijo sendirilah yang telah mengeluarkan perintah itu. Perintah untuk meninggalkan gelanggang, sebab ia yakin kalau anak buahnya bertempur semakin lama, mereka pasti akan binasa. Dengan sebuah suitan yang tak dimengerti oleh orang lain, Lawa Ijo membenarkan anak buahnya untuk menyingkir.

Tetapi ia sendiri sama sekali belum bermaksud meninggalkan pertempuran itu. Ia benar- benar ingin membunuh Arya Salaka. Ia mengenal sifat-sifat kesatria dari lawan-lawannya itu. Karena sifat-sifat itu maka mereka pasti tidak akan menyerangnya bersama-sama. Perhitungan-perhitungan yang licik ini pun bagi Lawa Ijo tidak ada halangan apapun. Ia dapat berbuat apa saja untuk mencapai maksudnya. Dan ternyata perhitungannya kali ini pun benar.

Rara Wilis, Widuri, Mantingan dan Wirasaba bahkan kemudian juga Jaladri, hanya berdiri dengan tegang mengamati pertempuran itu dengan seksama, meskipun di tangan mereka tetap tergenggam senjata masing-masing. Bahkan ujung pedang Rara Wilis itupun meskipun menunduk ke tanah, namun tetap bergetaran, siap untuk menembus dada hantu dari Mentaok itu.

Namun mereka seakan-akan terpesona melihat pertempuran itu. Meskipun mereka tidak merasa curang, apabila mereka bersama-sama menangkap Lawa Ijo itu, namun tiba-tiba di dalam hati mereka timbullah keinginan mereka untuk membiarkan Arya Salaka bertempur sendiri.

LAWA IJO yang ingin meyakinkan dirinya, bahwa ia mengharap untuk dibiarkan bertempur sendiri, kemudian berkata, ”Hai betina-betina dari Banyubiru... kenapa kalian tidak maju bersama-sama? Jangan berpura-pura bersikap jantan dengan membiarkan anak kecil ini menjadi korban kesombongan kalian.”

Dari jajaran para penonton itu terdengar Mantingan menjawab, ”Lawa Ijo, jangan pergunakan cara yang berpura-pura untuk menyelamatan diri. Jangan pula berbicara tentang kejantanan. Dan apakah salahnya kalau kami bersama-sama dan beramai-ramai menangkapmu? Bukankah kau telah dengan sembunyi-sembunyi memasuki perkemahan kami? Tetapi biarlah untuk sementara kami ingin melihat kau bertempur.”

Hati Lawa Ijo menjadi bertambah panas. Tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Meskipun orang-orang lain tidak ikut membantu Arya bertempur, namun senjata-senjata mereka yang telah siap itu pun sangat mempengaruhinya. Apalagi memang sebenarnyalah bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan anak muda ini, meskipun anak muda ini pun mempunyai harapan yang kecil saja untuk mengalahkannya.

Namun sebagai seorang tokoh yang namanya telah bersemayam di dalam hati rakyat di sekitar hutan Mentaok, maka ia pun menjadi malu atas dirinya sendiri.

Mula-mula Mantingan dan kawan-kawannya menjadi heran, apakah maksud Lawa Ijo dengan memperpanjang pertempuran itu. Sebab mereka sudah pasti dan Lawa Ijo sendiri juga sudah pasti bahwa ia tidak akan dapat mengalahkan Arya Salaka. Tetapi kenapa ia tidak saja melarikan diri seperti kawan-kawannya?

Pertanyaan itu akhirnya memenuhi rongga dada Mantingan. Karena itu ia pun menjadi bertambah waspada. Apakah kawan-kawan Lawa Ijo pergi untuk memanggil kawan- kawannya. Kemudian dengan berbisik-bisik disampaikanlah kecurigaannya itu kepada Wirasaba, yang ternyata sependapat pula. Apalagi kemudian di kejauhan terdengarlah suatu suitan nyaring. Nyaring sekali seperti suara hantu kehilangan anaknya. Suara suitan itu kemudian disahut pula dengan suara lain yang lebih jauh tetapi dengan nada yang lebih tinggi.

Mantingan melihat sesuatu tidak pada tempatnya. Karena itu, ia tidak dapat membiarkan pertempuran itu lebih lama lagi. Dengan lantang terdengarlah ia memerintah, ”Tangkap iblis dari Mentaok ini.”

Rara Wilis, Widuri, Jaladri dan Wirasaba segera berloncatan mengepung Lawa Ijo yang tinggal bertempur seorang diri. Untuk beberapa saat Lawa Ijo meloncat surut dan berhenti bertempur. Dengan mata yang liar ia memandang berkeliling, seolah-olah ia sedang mencari kelemahan dari kepungan itu. Ketika matanya menyambar wajah Jaladri, ia berharap untuk dapat menembus di sisi itu.

Tetapi tiba-tiba Lawa Ijo melihat Wirasaba merapatkan dirinya. Kemudian matanya berkisar pada Widuri. Ah, anak ini bukan main. Wajahnya yang mungil itu tampak cerah, secerah bintang. Diam-diam Lawa Ijo mengaguminya. Tetapi ia tidak mempunyai kesempatan untuk mengagumi kecantikan gadis kecil itu.

Dalam kegelisahan, tiba-tiba wajah Lawa Ijo menjadi terang kembali. Tampaklah kemudian sebuah senyuman menghias bibirnya.

Sebaliknya, orang-orang yang mengepungnya menjadi terkejut karenanya. Mereka sadar bahwa suara itu mempunyai arti yang penting sekali bagi Lawa Ijo dan bahkan bagi perkemahan anak-anak Banyubiru itu. Karena itu, tanpa bersepakat, mereka bersama- sama menyiagakan diri untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang lebih berbahaya.

Dan apa yang mereka cemaskan itu terjadi. Dalam keremangan cahaya bintang yang lemah, tampaklah sebuah bayangan seperti bayangan hantu yang melayang-layang memasuki gelanggang dan kemudian berdiri tegak disamping Lawa Ijo. Bayangan dari seorang yang berjubah abu-abu serta menyembunyikan wajahnya dibalik sebuah topeng yang kasar dan jelek.

”Pasingsingan...!” Hampir setiap mulut berdesis mengucapkan nama yang mengerikan itu.

Terdengar Pasingsingan tertawa pendek. Kemudian seperti bergulung-gulung di dalam perutnya ia berkata, ”Apakah yang telah kalian lakukan terhadap Lawa Ijo?”

Pertanyaan itu sederhana sekali, namun di dalamnya terkandung suatu tuntutan yang dalam. Dalam kalimat yang sederhana itu Pasingsingan telah menyatakan maksud kedatangannya. Menuntut bela terhadap murid serta anak buahnya. Apalagi kemudian terdengar ia bergumam, ”Kalian telah melakukan beberapa kesalahan.”

Setiap dada menjadi terguncang karenanya. Mereka semua telah mengenal, setidak- tidaknya mendengar nama Pasingsingan. Karena itu, mau tidak mau meremanglah tengkuk mereka melihat orang yang bernama Pasingsingan itu berdiri di hadapan mereka dengan sebuah tuntutan yang mengerikan.

Tetapi mereka tidak akan dapat berbuat lain daripada mengangkat dada mereka sebagai jantan sejati. Sebab mereka yakin bahwa mereka berbuat diatas kebenaran, diatas suatu pengabdian yang tulus.

Karena itu kemudian terdengar Mantingan menjawab, ”Tidak ada sesuatu yang kami lakukan terhadap murid Tuan, selain mengucapkan selamat datang di perkemahan kami, dengan cara yang disenangi oleh murid Tuan sendiri.”

”Hem...” terdengar Pasingsingan mendengus. ”Kau tahu dengan siapakah kau sekarang berhadapan...?”

”Bukankah Tuan yang bergelar Pasingsingan?” jawab Mantingan.

”Bagus!” sahut Pasingsingan dengan suara yang dalam. "Kalau demikian kalian harus bersikap baik. Jawab semua pertanyaanku dengan baik pula.”

Mantingan mengangguk.

”Nah,” dengus Pasingsingan dari belakang topengnya. ”Kenapa kalian melakukan pembunuhan terhadap anak buah Lawa Ijo?”

MANTINGAN menarik nafas panjang. Ia tahu bahwa Pasingsingan sedang mencari sebab untuk melakukan pembalasan. Namun demikian ia menjawab. "Kami sama sekali tidak melakukan pembunuhan tuan. Yang kami lakukan adalah suatu cara untuk menyelamatkan diri kami." 

"Omong kosong" bentak Pasingsingan. "Apapun alasanmu tetapi beberapa orang anak buah Lawa Ijo itu terbunuh."

"Lalu apakah yang sebaiknya tuan lakukan seandainya seseorang ingin membunuh tuan?" sahut Mantingan.

Untuk beberapa lama Pasingsingan tidak berkata sesuatu. Namun nampaklah dadanya bergelombang oleh nafasnya yang memburu.

Kemudian dengan lantang ia berkata. "Kaukah yang bernama Mantingan, dalang Mantingan."

"Ya" jawab Mantingan pendek.

"Mulutmu terlalu tajam. Karena itu mulutmu itulah yang pertama-tama akan aku hancurkan" berkata Pasingsingan perlahan-lahan tetapi mengandung suatu tekanan yang dahsyat.

Mantingan menarik nafas sekali lagi. "Apaboleh buat" pikirnya. Tetapi dalam pada itu, yang lainpun tidak tinggal diam.

Meskipun Rara Wilis adalah seorang gadis, namun darah Pandan Alas yang mengalir ditubuhnya telah menjadikannya seorang gadis yang tabah dan berani. Meskipun ia menyadari, betapa tinggi ilmu Pasingsingan itu, namun tidaklah sepantasnya bahwa tetesan darah Gunung Kidul itu akan bertekuk lutut untuk dipenggal lehernya. Karena itu ujung pedangnya nampak semakin bergetar sejalan dengan debar jantungnya yang bertambah cepat.

Bahkan kemudian terdengar suaranya gemetar. "Tuan, adakah tuan ingin ikut dalam permainan anak-anak ini?.

Juga pertanyaan Rara Wilis itu sederhana, sama sederhananya dengan pertanyaan Pasingsingan yang pertama. Tetapi juga didalam kata-kata itu terkandung suatu tantangan yang dalam. Tantangan bagi kejantanan Lawa Ijo dan Pasingsingan sendiri. Tetapi ternyata Lawa Ijo bukan seorang jantan. Ia adalah seorang yang licik, yang dapat menganggap suatu cara apapun dapat dibenarkan untuk mencapai maksudnya.

Karena itu ialah yang menjawab pertanyaan Rara Wilis. "Adakah pertanyaan itu sebagai suatu permintaan ampun dari guru, Rara Wilis?" Dada Rara Wilis tergoncang. Ia merasa tersinggung oleh jawaban itu. Namun Wirasaba yang tinggi hati telah mendahuluinya menjawab.

"Dibelakang sayap indukmu kau masih mampu tertawa Lawa Ijo. Tetapi kami sama sekali tidak seperti orang yang terkenal dengan sebutan iblis alas Mentaok, yang ternyata tidak lebih dari seekor anak ayam yang ketakutan melihat bilalang terbang."

"Diam" bentak Lawa Ijo marah. Tetapi suaranya tiba-tiba tenggelam dalam derai tawa Endang Widuri. Semua yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Bahkan Pasingsingan tertarik sekali pada suara itu. Baginya adalah aneh sekali, kalau dalam keadaan yang demikian, masih ada orang yang berani memperdengarkan tertawanya.

"Aneh" kata Widuri dalam nada kekanak-kanakan. "Seorang yang bertubuh gagah kekar, berkumis sebesar lenganku ini, tiba-tiba tanpa malu-malu bersembunyi dibelakang punggung gurunya. Bukankah itu suatu tontonan yang lucu."

Dada Lawa Ijo yang sudah mendidih sejak semula itu terasa seperti diaduk. Tetapi ketika dipandangnya wajah gadis kecil yang cerah itu, terasa sesuatu yang aneh meraba-raba dadanya. Tiba-tiba saja seperti bintang yang jatuh dari langit, terbesitlah jauh disudut relung hatinya, yang selama ini seolah-olah tak pernah tampak olehnya, suatu perasaan yang menyenangkan, apabila iamempunyai anak seperti Widuri itu. Seorang anak yang manis, berani dan tangkas. Tetapi berbedalah tanggapan Pasingsingan. Ia merasa seolah- olah gadis kecil yang menghinanya pula. Dengan menggeram ia berkata. "Siapakah kau?"

"Seorang yang bergelar Pasingsingan pasti sudah tahu, siapakah yang sedang berdiri dihadapannya" jawab Widuri tanpa takut-takut.

Sekali lagi Pasingsingan menggeram karena kemarahan yang sudah hampir memuncak.

Mendengar Pasingsingan menggeram sedemikian dahsyatnya, tegaklah bulu roma mereka yang mendengarnya kecuali Widuri. Ia masih saja tersenyum seperti tidak terjadi sesuatu. Meskipun sebenarnya didalam hatinya memercik juga kecemasannya atas sikap Pasingsingan itu, namun sebenarnyalah ia memiliki sikap tenang seperti ayahnya. Karena sikap Widuri itulah maka Pasingsingan menjadi bertambah marah lagi. Ia merasa terhina oleh seorang anak kecil yang sengaja merendahkannya. Karena itu ia tidak bersabar lagi.

Sebagai seorang penjahat yang telah berpuluh bahkan ratusan kali membunuh, maka ia sama sekali tidak lagi punya hati terhadap calon korbannya. Demikian juga terhadap Widuri. Meskipun ia melihat betapa gadis itu masih sedang tumbuh, namun ia telah dibakar oleh kemarahannya.

Maka dengan suara yang bergetar ia berkata. "Gadis kecil yang tak tahu diri. Apakah kau telah mempunyai nyawa yang rangkap, sehingga berani menghina Pasingsingan? Karena itu kaulah yang pertama-tama akan menerima hukuman".

Sehabis kalimat itu, mulailah Pasingsingan bergerak kearah Endang Widuri. Kembali semua orang yang menyaksikan, hatinya berdesir. Tetapi mereka tidak mau membiarkan peristiwa yang mengerikan itu terjadi.

Serentak tanpa berjanji lebih dahulu, berloncatanlah semua orang menghadang dihadapan Endang Widuri. Mantingan dengan trisulanya yang sudah mengarah kedada Pasingsingan, Rara Wilis dengan pedang tipisnya yang dipegangnya lurus-lurus kedepan.

Disampingnya berdiri Arya Salaka dengan wajah yang tegang dan dengan tangan yang gemetar menggenggam Kiai Bancak. Disebelahnya Wirasaba dengan kapak raksasanya yang sudah tersandang dipundaknya siap untuk diayunkan sedang diujung berdiri Jaladri erat-erat memegang canggah andalannya.

MELIHAT sikap orang-orang itu, Pasingsingan berhenti. Tetapi sebagai seorang yang berilmu tinggi, ia sama sekali tidak takut menghadapi barisan kelinci-kelinci itu. Bahkan terdengarlah suara tertawanya bergumam di belakang topengnya.

Kemudian terdengar Pasingsingan berkata, "Bagus.... Aku puji kesetiakawanan kalian. Tetapi kalian tidak akan dapat menghalangi aku untuk membunuh gadis gila itu."

Ternyata Pasingsingan siap untuk melakukan kata-katanya. Tetapi terjadilah sesuatu diluar dugaan. Dalam ketegangan itu terdengar Lawa Ijo berkata, "Guru... ampunilah gadis kecil itu."

Pasingsingan terkejut mendengar kata-kata muridnya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Lawa Ijo rapat berdiri di belakangnya. Bahkan tidak saja Pasingsingan, tetapi semua orang terkejut dan heran mendengar kata-kata itu.

Sehingga terdengarlah Pasingsingan bertanya, "Apa yang kau katakan itu Lawa Ijo?" "Ampunilah gadis kecil itu," ulang Lawa Ijo.

"Apa kepentinganmu?" tanya Pasingsingan pula.

Lawa Ijo diam. Tetapi ia menundukkan wajahnya. Wajahnya yang buas dan liar itu. Namun anehlah bahwa matanya yang menyala-nyala seperti mata serigala itu tiba-tiba menjadi suram. Beberapa kali ia memandang wajah Widuri, hanya untuk seleret pandang. Tetapi ia tidak berani memandang wajah gurunya.

Pasingsingan menjadi semakin heran. Selama hidupnya, sejak istri dan anaknya meninggal, Lawa Ijo tidak pernah menaruh perhatian kepada perempuan. Tiba-tiba sekarang ia merasa sayang kepada gadis kecil itu. Suasana kemudian dicekam oleh keheningan. Namun setiap dada dipenuhi oleh ketegangan yang memuncak. Di kejauhan terdengar gonggongan anjing-anjing liar, berebut makan, disusul oleh teriakan serigala lapar.

Beberapa kali terdengar pula gema raung harimau memecah malam. Angin pegunungan mengusap tubuh mereka, meresapkan udara dingin.

Kata-kata Lawa Ijo itu ternyata menyebabkan Pasingsingan ragu-ragu untuk bertindak. Ia masih berdiri saja seperti patung. Patung iblis yang menakutkan.

Dalam keheningan itu terdengarlah suara Lawa Ijo memecah sepi. "Tetapi kalau guru akan bertindak terhadap yang lain, aku tidak berkeberatan."

Terdengar nafas berat berdesis lewat hidung Pasingsingan. Sekali lagi ia menoleh kepada muridnya.

Dan sekali lagi ia bertanya, "Apa kepentinganmu atas gadis itu?" Lawa Ijo menggeleng. "Tak ada," jawabnya.

Sekali lagi jawaban Lawa Ijo itu mengherankan mereka yang mendengarnya.

Bahkan Widuri sendiri menjadi heran. Sementara itu, keragu-raguan Pasingsingan itu telah mengubah segala keadaan. Kalau semula semua penghuni perkemahan itu sudah tidak mempunyai harapan untuk membebaskan diri dari tangan hantu itu, tiba-tiba terperciklah setitik cahaya terang di dalam dada mereka.

Lamat-lamat di kejauhan, dibawa desir angin malam, terdengarlah derap beberapa ekor kuda. Mereka berharap, mudah-mudahan mereka itulah Mahesa Jenar bersama Kebo Kanigara dan kawan-kawannya. Dengan orang-orang itu, mereka tidak lagi merupakan umpan-umpan yang sama sekali tak berarti bagi Pasingsingan. Ditambah dengan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan beberapa orang lagi, mereka mengharap untuk setidak- tidaknya dapat mengimbangi hantu bertopeng itu.

Pasingsingan pun mendengar derap kuda itu. Namun ia tahu pula, bahwa suara itu masih jauh sekali. Dalam malam yang sepi, suara yang lambat dan jauh pun akan dapat dikumandangkan oleh tebing-tebing jurang dan kemudian dapat mencapai daerah-daerah ketinggian seperti daerah di sekitar candi Gedong Sanga ini.

Dengan telinganya yang tajam, Pasingsingan memperhatikan suara itu dengan seksama. Wajahnya yang terangkat, seolah-olah dapat membuat perhitungan yang tepat, kira-kira sejauh berapa tonggak sumber suara telapak kuda itu.

Ketika ia kemudian yakin akan pendengarannya, berkatalah ia, "Masih jauh. Waktu masih cukup banyak untuk memusnahkan kalian. Nah, bersiaplah untuk menghadapi saat terakhir. Melawan atau tidak melawan, akan sama saja akibatnya bagi kalian."

Kemudian kepada Lawa Ijo ia berkata, "Usahakan supaya orang-orang berkuda itu agak lambat datang. Pergilah dengan orang-orangmu yang masih ada."

"Baik guru," jawab Lawa Ijo. Tetapi sekali lagi matanya menatap wajah Endang Widuri. "Aku sisakan gadis kecil itu. Atau akan kau bawa dia?" Tanya Pasingsingan.

Lawa Ijo menggeleng. "Aku tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Aku hanya ingin Guru mengampuninya."

"Pergilah," dengus Pasingsingan.

Dalam sekejap meloncatlah Lawa Ijo hilang ditelan tabir hitamnya malam.

Yang tinggal kemudian hanyalah orang berjubah abu-abu dan bertopeng seperti iblis itu.

Harapan yang semula timbul di dalam dada mereka untuk dapat bertempur bersama- sama dengan Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan yang lain-lain, kini telah pudar kembali.

Meskipun mereka masih belum dapat menjajagi, sampai di mana tingkat ilmu Mahesa Jenar kini, namun semakin banyak jumlah mereka, semakin kuat pula perlawanan yang dapat mereka berikan.

Sementara itu suara kuda di kejauhan masih saja melingkar-lingkar di dalam lembah, seolah-olah tidak menjadi bertambah dekat. Kemudian mereka pun sadar bahwa jalan yang harus ditempuh oleh orang-orang berkuda itu pun melingkar-lingkar seperti ular. Karena itu akhirnya mereka kembali kepada kepercayaan diri. Kepada senjata-senjata mereka yang tergenggam di tangan mereka. Lebih daripada itu, mereka percaya kepada kekuasaan Yang Maha Tinggi.

Demikianlah mereka dengan dada yang berdebar-debar melihat Pasingsingan itu bergerak perlahan-lahan.

TANGAN Pasingsingan mulai dikembangkan seperti hendak menerkam. Kemudian dengan cepat sekali ia meloncat ke samping, untuk kemudian menyerang dengan cepatnya ke arah Dalang Mantingan. Tetapi orang-orang itupun bukanlah orang-orang yang tak berdaya sama sekali. Segera mereka berloncatan untuk memencar diri dan menyerang bersama-sama dari segenap penjuru. Terhadap mereka itupun ternyata Pasingsingan tidak dapat menganggap remeh. Ia menggeram sekali lagi dengan kerasnya.

Seperti kilat ia dengan sangat lincah menghindari setiap senjata yang tertuju kepadanya. Untuk kemudian menggeliat dengan cepatnya dan melenting seperti terlempar dari tempatnya berdiri untuk mencapai daerah diluar lingkaran kepungan lawan-lawannya.

Mantingan dan kawan-kawan berdesir melihat cara Pasingsingan bergerak.

Benar-benar seperti singgat, namun kadang-kadang seperti ular, dan sekali-sekali seperti asap yang dapat melayang-layang di udara. Mereka diam-diam mengeluh di dalam hati. Dan terasalah di dalam hati kecil mereka bahwa mereka tak akan mampu untuk memberi perlawanan yang cukup lama sampai Mahesa Jenar tiba. Apalagi mereka tahu bahwa Lawa Ijo dan kawan-kawannya telah ditugaskan oleh gurunya untuk menghadang dan memperlambat perjalanan rombongan berkuda itu.

Tetapi bagaimanapun juga, mereka akan memberikan perlawanan sekuat tenaga mereka sampai orang yang terakhir. Sebab lebih baik mati dengan tangan terentang, daripada mati dengan tangan bersilang di dada. Karena itu seperti angin pusaran mereka menyerang Pasingsingan berputar. Meskipun mereka tidak pernah mengadakan persiapan untuk melakukan pertempuran bersama, namun karena pengalaman mereka masing- masing, segera mereka dapat menyesuaikan diri. Ternyata gerak mereka dapat sedikit menolong memperpanjang waktu.

Mula-mula Pasingsingan pun agak sulit untuk dapat mengadakan serangan terhadap rombongan yang berputar sambil menyerang berganti-ganti dari segenap arah itu. Namun akhirnya Pasingsingan dapat pula menyesuaikan diri. Ia pun kemudian ikut berputar pula mengikuti putaran lawan-lawannya dan menyerang pada tempat yang tepat. Dalang Mantingan.

Untunglah bahwa Rara Wilis yang berdiri di belakang Dalang Mantingan itu, sehingga pedangnya dapat membantu melawan iblis yang mengerikan itu, disamping serangan- serangan yang lincah dilancarkan Arya Salaka dari arah yang lain. Dalam pada itu sekali lagi Pasingsingan melenting sambil menyerang Jaladri. Dengan cepat Jaladri menjatuhkan dirinya untuk menghindari sambaran tangan Pasingsingan sambil mengacungkan senjatanya.

Tetapi dengan demikian pertahanannya terbuka, sehingga sekali lagi Pasingsingan berhasil meloloskan diri dari kepungan, meskipun Wirasaba telah mencoba menyerangnya ketika Pasingsingan sedang terapung di udara. Tetapi kapak raksasanya itu terayun menebas angin. Dengan menggeliat Pasingsingan berhasil menghindari sambaran kapak itu.

Namun sayang bahwa demikian kakinya menjejak tanah, terasalah angin menyentuh kulitnya. Belum lagi ia berhasil menghindar, terasalah sebuah benda menyambarnya. Cepat ia berusaha memutar tubuhnya di atas satu kakinya. Sehingga sambaran senjata itu hanya menyentuh jubahnya. Ketika ia sudah siap untuk menyerang kembali, dilihatnya rantai perak berputar seperti baling-baling. Rantai itu pulalah yang telah menyentuh jubahnya. Sekali lagi Pasingsingan berdesis marah.

Tetapi demikian ia siap untuk menyerang dari bawah ke arah tubuh Endang Widuri, teringatlah ia akan pesan muridnya, sehingga maksudnya terpaksa diurungkan. Namun ia menjadi semakin marah. Terasa sesuatu menyumbat dadanya, sehingga terdengarlah giginya gemeretak. Dengan demikian ia mencari saluran untuk memuntahkan kemarahannya itu. Ia merasa tersinggung sekali, bahwa rombongan kelinci itu berhasil mengenainya, meskipun hanya jubahnya.

Dalam kemarahan yang memuncak itu, tiba-tiba dengan cepatnya tangan Pasingsingan bergerak seperti orang menabur benih. Dan bersamaan dengan itu memancarlah cahaya kekuning-kuningan ke segenap penjuru. Ternyata di tangan iblis itu tergenggam sebuah pisau belati panjang yang berwarna kuning keemasan. Itulah pusaka Pasingsingan yang bernama Kyai Suluh.

Dengan senjata itu di tangan, terdengarlah Pasingsingan bergumam, "Aku masih berbaik hati kepada kalian. Kalau aku ingin membunuh kalian, dengan senjata ini. Aku dapat membakar tubuh kalian seperti membakar jangkrik dengan ilmu Alas Kobar."

Mau tidak mau hati mereka tergetar melihat cahaya gemerlapan yang memancar dari senjata Pasingsingan itu. Meskipun di malam yang gelap, namun pantulan cahaya bintang-bintang di langit telah mampu untuk menyilaukan mata. Tetapi meskipun demikian, sekali lagi, mereka bertekad untuk bertempur sampai tenaga terakhir, sampai tetes darah terakhir pula. Pasingsingan kini tidak mau memperpanjang waktu lagi. Ia sudah tidak mendengar derap kuda yang melingkar-lingkar di lembah. Pasti orang-orang berkuda itu telah terlibat dalam pertempuran melawan Lawa Ijo.

PASINGSINGAN mengharap Lawa Ijo dan kawan-kawannya dapat memberinya waktu. Karena itu, waktu yang sempit ini harus dipergunakan sebaik-baiknya. Demikianlah akhirnya terdengar dari mulut Pasingsingan itu suitan nyaring, dan bersamaan dengan itu melontarlah tubuhnya seperti bayangan hantu di malam yang kelam menyerang dengan dahsyatnya.

Tak seorang pun yang mengharap dapat keluar dari pertempuran itu. Karena itu, malahan mereka menjadi tenang dan bertempur mati-matian. Kalau mungkin mereka akan membawa iblis itu hancur bersama dengan mereka. Tetapi ketika senjata-senjata mereka sekali saja bersentuhan dengan pusaka Pasingsingan, terasa tangan mereka bergetaran keras, dan perasaan sakit menjalar kesegenap tubuh mereka.

Tetapi ketika saat yang memuncak itu hampir sampai pada titik tertinggi, mereka mendengar derap orang berlari. Disusul dengan sebuah sapa yang tergesa-gesa, ”Selamat malam Pasingsingan muda, yang pernah bergelar Umbaran.”

Pasingsingan terkejut mendengar sapa itu. Apalagi ketika ia mendengar orang itu menyebut nama Umbaran. Karena itu, sedemikian terkejutnya hantu berjubah abu-abu itu terloncat mundur beberapa langkah dan dengan sikap yang menakutkan ia memutar tubuhnya ke arah suara sapa yang telah mengganggunya itu.

Kemudian tampaklah dalam kegelapan malam, seseorang tersembul dengan cepat dari balik pepohonan. Dengan langkah yang tergesa-gesa pula ia berjalan mendekat lingkaran pertempuran itu. Bersamaan dengan itu hampir setiap mulut menyebut nama orang itu dengan penuh harapan dan kegembiraan yang membersit di dalam dada mereka. Bahkan terdengar Pasingsingan bergumam di belakang topeng jeleknya, ”Mahesa Jenar.”

”Ya,” jawab orang itu. ”Hampir aku terlambat datang.”

Pasingsingan memandang Mahesa Jenar dengan seksama. Ia heran bahwa Mahesa Jenar berhasil muncul dalam waktu jauh lebih cepat dari perhitungannya. Ia mengharap Lawa Ijo setidak-tidaknya dapat menahannya, untuk waktu yang cukup baginya membunuh orang-orang yang telah menyakitkan hatinya itu. Namun agaknya Pasingsingan salah hitung.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bukanlah anak-anak yang dapat diberinya sekadar permainan untuk melupakan ibunya yang sedang pergi. Demikianlah, dalam perjalanan pulang, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan kawannya seolah-olah telah mendapat suatu firasat yang kurang baik. Dengan kencangnya mereka memacu kuda mereka seperti anak panah. Mereka menjadi tidak tenang, serasa meninggalkan anak-anak bermain di tepi sungai. Karena itu maka yang tergores di dalam angan-angan mereka, adalah secepatnya sampai ke Candi Gedong Sanga.

Apalagi ketika mereka sampai ke lembah di hadapan daerah perkemahan mereka. Kebo Kanigara ternyata mempunyai perasaan yang tajam sekali. Ketika angin yang aneh menyentuh kulitnya, berkatalah ia bergumam seperti kepada diri sendiri, ”Alangkah sejuknya malam.”

Mahesa Jenar masih belum merasakan sesuatu yang tidak pada tempatnya, karena itu ia menjawab, ”Sejuk, bahkan terlalu sejuk. Aku kira malam musim kemarau ini dinginnya benar-benar sampai menggigit tulang.”

Kebo Kanigara menoleh kepada Mahesa Jenar. Dari wajah kawan seperjalanannya itu Kebo Kanigara dapat mengetahuinya bahwa Mahesa Jenar belum merasakan sesuatu. Namun waktu itu tidak terlalu lama. Sebab kemudian tampaklah alis Mahesa Jenar berkerut. Dan tiba-tiba dengan nanar ia memandang ke arah perkemahan anak-anak Banyubiru, meskipun yang tampak hanyalah kehitaman melulu. Namun seolah-olah ia ingin menembus hitamnya malam, dan langsung ingin mengetahui apa yang telah terjadi dibalik tabir malam yang kelam itu.

Tiba-tiba terdengar Mahesa Jenar berkata, ”Ya, alangkah sejuknya malam.”

Kebo Kanigara tersenyum. Tetapi kendali kudanya dipegangnya semakin erat. Tumitnya beberapa kali menyentuh perut kudanya, untuk mempercepat perjalanan. Mahesa Jenar pun berbuat serupa, diikuti oleh Wanamerta, Bantaran dan Penjawi yang telah menggigil kedinginan.

Bahkan terdengar Wanamerta yang tua berdesis, ”Alangkah anehnya alam. Kalau siang panasnya seperti memecahkan kepala. Kalau malam dinginnya sampai membekukan darah. Tetapi agaknya Anakmas berdua di muka itu tidak merasakan betapa tubuhku hampir membeku. Bahkan mereka mempercepat lari kuda mereka.”

”Bukankah lebih cepat lebih baik Paman?” jawab Bantaran. ”Dengan demikian kita lebih cepat sampai untuk kemudian menyalakan api sebesar-besarnya. Membakar jagung dan ketela. Alangkah nikmatnya. Meskipun aku tadi sudah mendapat suguhan makan, namun laparnya bukan main.”

Terdengar Penjawi tertawa saja. Kemudian terdengar di sela-sela suara tertawanya. ”Kakang Bantaran. Untunglah bahwa tempat nasimu tadi tidak dilubangi oleh orang- orang Pamingit, sehingga kau masih akan dapat menikmati perasaan kenyang.”

Terdengar mereka bertiga tertawa. Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar menoleh sambil tersenyum pula. Tetapi mereka sudah tidak mampunyai minat untuk turut serta berkelakar. Sebab sudah terasa oleh mereka itu, bahwa di Gedong Sanga telah terjadi sesuatu. Bahkan kemudian terdengar Mahesa Jenar berbisik, untuk tidak menggelisahkan pengikutnya. ”Apakah yang telah mempengaruhi udara malam ini Kakang?”

”Aku takut bahwa Bantaran dan Penjawi akan tertidur di atas kudanya,” jawab Kebo Kanigara.

”Sirep,” desis Mahesa Jenar. ”Ya,” jawab Kanigara singkat.

Kemudian untuk sesaat mereka terdiam. Tetapi kuda mereka berpacu lebih cepat lagi. Semakin dekat, semakin terasa pengaruh yang aneh mengalir menurut angin lembah menyentuh-nyentuh tubuh mereka. Kemudian terdengarlah sekali lagi Penjawi menguap sambil menggerutu, ”Ah, ada-ada saja. Dalam berpacu begini dapat juga aku menjadi ngantuk.”

”Kami terlalu letih,” jawab Bantaran yang mulai ngantuk pula.

MENDENGAR pembicaraan mereka, Kebo Kanigara menjadi cemas. Maka katanya kepada Mahesa Jenar, ”Kita beritahu mereka, supaya mereka berjuang mempertahankan kesadaran mereka. Sedang Paman Wanamerta, aku kira mempunyai kemampuan yang cukup dalam tubuhnya yang telah tua dan penuh pengalaman itu.”

”Baiklah Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

Kemudian Kebo Kanigara melambaikan tangannya dan sedikit memperlambat jalan kudanya, sehingga dalam waktu yang hanya sekejap, Bantaran, Penjawi dan Wanamerta telah menyusulnya. ”Apakah kalian ngantuk...?” tanya Kebo Kanigara.

”Ya,” jawab mereka hampir bersamaan.

”Bagus,” sahut Kebo Kanigara, ”Itu pertanda bahwa perasaan kalian cukup tajam. Sayang bahwa kalian kurang memperhatikan perasaan kalian. Apakah perasaan yang demikian itu wajar atau tidak.”

Mereka menggeleng bersama-sama. ”Nah, kalau demikian kalian berada dalam keadaan yang khusus. Kantuk sambil berkuda. Hal yang tidak pernah kalian alami selama kalian menjadi anggota laskar Banyubiru. Karena itu ketahuilah, bahwa kalian telah terkena pengaruh ilmu yang tajam.”

”Sirep,” potong mereka hampir bersamaan.

Kebo Kanigara mengangguk, katanya meneruskan, ”Ya, kalian merasakan betapa nyamannya udara malam ini. Karena itu kalian harus berusaha untuk tetap pada kesadaran kalian, bahwa kalian sedang mendapat serangan. Pertahankanlah diri kalian. Pusatkan segenap kekuatan kalian untuk melawan serangan ini. Karena itu kalian harus tetap menjaga dan meyakini keadaan ini.”

”Baiklah Tuan,” jawab Bantaran dan Penjawi bersamaan. Dengan demikian mereka mulai dengan perjuangan mereka untuk menguasai kesadaran mereka. Namun pengetahuan mereka tentang keadaan mereka pada saat itu, yaitu adanya libatan pengaruh sirep pada diri mereka, ternyata merupakan bekal yang baik di dalam usaha mereka mempertahankan diri mereka masing-masing. Wanamerta yang tua itupun tampak merenung. Agaknya iapun sedang merasakan dengan seksama keadaan dirinya.

Kemudian terdengarlah ia bergumam, ”Hem   Untunglah Angger Kebo Kanigara cukup

waskita. Memang kantukku kali ini agaknya bukan sembarang kantuk.” Kemudian terdengar Kebo Kanigara berkata pula, ”Nah, kalau demikian akan selamatlah kalian. Sebab kalau kalian tidur sambil berkuda di jalan-jalan yang terjal dan berkelok- kelok ini, sangatlah berbahaya. Lebih berbahaya lagi kalau tiba-tiba muncul beberapa orang menghadang perjalanan ini dan melubangi tempat nasi kalian yang nyaris dilubangi oleh orang-orang Pamingit.”

Bantaran, Penjawi dan Wanamerta tertawa perlahan. Namun mereka tidak lagi mempunyai kesempatan untuk berkelakar. Mereka segera memusatkan kesadaran mereka dalam perlawanan mereka terhadap pengaruh sirep yang terasa semakin tajam. Kembali mereka berdiam diri. Udara malam terasa menjadi semakin dingin. Dari dinding bukit- bukit kecil di sekitar lembah itu terdengar gema pantulan derap kaki kuda mereka seperti ratusan kuda yang berlari-lari mengitari lembah itu. Semakin dekat mereka dengan daerah perkemahan anak-anak Banyubiru, perasaan mereka menjadi semakin tidak tenteram.

Ketika mereka sampai pada tanjakan terakhir, tiba-tiba di dalam kegelapan malam, mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang tajam itu melihat beberapa orang berdiri bertolak pinggang di tengah jalan.

Dengan demikian hati mereka berdesir. Mereka pasti bukan pasukan anak-anak Banyubiru. Karena itu segera mereka memperlambat jalan kuda mereka. Kemudian terdengarlah Kebo Kanigara berbisik, ”Mereka benar-benar menghadang perjalanan kita.”

”Aku menjadi semakin gelisah atas keselamatan anak-anak kita, Kakang,” jawab Mahesa Jenar.

”Lalu apakah yang akan kita lakukan?” tanya Kebo Kanigara. ”Aku harus secepatnya sampai di perkemahan,” sahut Mahesa Jenar. Kebo Kanigara merasakan, apa yang tersirat di dalam dada Mahesa Jenar. Ia meninggalkan dua orang yang sangat penting di dalam perbendaharaan hatinya. Yang pertama adalah Arya Salaka, sebagai beban pertanggungjawaban yang sepenuhnya berada di tangannya. Kedua adalah orang yang telah merampas hatinya. Yang bagaimanapun juga dikesampingkan, namun dalam saat- saat yang berbahaya, perasaan itu akan menjadi bertambah nyata.

Karena itu tidak ada alasan baginya untuk menahan maksud Mahesa Jenar, meskipun ia sendiri digelisahkan pula oleh satu-satunya putri yang ditinggalkan di perkemahan itu pula. Namun apabila salah seorang dari mereka berdua dapat mencapai tempat itu secepatnya, maka keadaan pasti akan dapat dikuasai, siapapun yang sedang berada di sana.

”Kalau begitu...” akhirnya Kebo Kanigara mengambil keputusan, ”Biarkan aku berjalan terus menghadapi orang-orang itu. Kau cari jalan lain untuk segera sampai ke perkemahan itu. Kita masih belum tahu siapakah yang menghadang perjalanan kita. Apakah kita memerlukan waktu sedikit atau banyak.” ”Baik Kakang,” jawab Mahesa Jenar. Kemudian dengan tidak menunggu kata-kata Kebo Kanigara lagi, Mahesa Jenar meloncat dari kudanya. Kemudian menyelinap hilang dibalik gerumbul-gerumbul di tepi jalan lembah itu, untuk kemudian dengan tergesa-gesa lewat jalan memintas langsung menuju ke perkemahan di Gedong Sanga yang sudah tidak seberapa jauh lagi. Apalagi Mahesa Jenar mengambil jalan lurus, meskipun sekali- kali harus mendaki tebing dan meloncati lubang-lubang yang banyak berserakan di sana- sini. Ia tidak mempunyai angan-angan lain pada saat itu daripada secepatnya sampai di daerah perkemahan. Meskipun demikian, ia sempat mendengarkan saat derap kuda-kuda rombongannya itu berhenti. Namun ia sama sekali tidak mempedulikan. Ia percaya bahwa Kebo Kanigara pasti akan dapat mengatasi keadaan.

WANAMERTA, Bantaran dan Penjawi pun terkejut melihat Mahesa Jenar meloncat turun dari kudanya dan kemudian menghilang. Tetapi mereka tidak sempat bertanya ketika kemudian terdengar Kebo Kanigara berkata, ”Bawalah kudanya. Ia perlu secepatnya sampai di perkemahan kita. Bersiaplah menghadapi kemungkinan di depan kita.”

Sebelum mereka menjawab, jarak mereka dengan orang-orang yang berdiri di tengah jalan itu sudah demikian dekatnya sehingga mereka terpaksa menghentikan kuda-kuda mereka. Namun mereka masih tetap berada di atasnya. Sesaat kemudian salah seorang yang berdiri di tengah, bertubuh kekar dan berkumis tebal melangkah maju sambil berkata dengan suara yang menakutkan, ”Siapa kalian?”

”Aku Karangdjati,” jawab Kanigara perlahan-lahan.

”Hem...” dengus orang yang bertanya, yang tidak lain adalah Lawa Ijo. ”Kalian mau ke mana?”

”Kami ingin kembali ke perkemahan kami,” jawab Kanigara. ”Hem ” Sekali lagi Lawa Ijo mendengus.

”Dari manakah kalian?” Sampai pertanyaan itu, Kebo Kanigara merasa bahwa orang yang berdiri menghadangnya itu ingin memperpanjang waktu dengan mengajukan berbagai pertanyaan. Karena itu ia segera mencoba mempersingkat pembicaraan. ”Aku datang dari Banyubiru. Kau tidak usah menanyakan keperluanku. Dan kau tidak usah mengurus hal-hal di luar kepentinganmu. Nah sekarang katakan kepadaku siapa kau ini?”

Lawa Ijo tertawa, jawabnya, ”Jarang-jarang aku menemui pertanyaan serupa itu, sebab hampir setiap orang mengenal aku. Akulah yang dinamai Lawa Ijo dari Alas Mentaok.”

”Ooo ” sahut Kanigara. Sekarang ia dapat mengukur kekuatan lawannya, sebab ia telah

mendengar kekuatan hantu Alas Mentaok ini. Tetapi agaknya Lawa Ijo masih saja ingin bertanya-tanya. Apalagi ketika ia tidak melihat Mahesa Jenar diantara orang-orang rombongan berkuda itu. ”Berapa orang kalian semuanya?”

”Empat,” jawab Kanigara mulai jengkel.

”Tetapi jumlah kuda kalian adalah lima. Di mana yang seorang?” tanya Lawa Ijo pula.

Kanigara sudah tidak mau melayani pertanyaan-pertanyaan yang menjemukan itu lagi. Ia ingin cepat-cepat lewat dan menemui putrinya. Kalau-kalau ia mengalami sesuatu. Karena itu Kanigara berkata lantang, ”Minggirlah Lawa Ijo, supaya aku bisa lewat, atau supaya kamu tidak terinjak oleh kaki kuda-kuda kami.”

Lawa Ijo adalah seorang kepala gerombolan yang ditakuti oleh penduduk di sekitar Alas Mentaok. Bahkan namanya tersiar sampai ke daerah-daerah yang jauh. Karena itu ketika ia mendengar seorang yang takut terinjak seakan-akan menganggapnya tidak lebih dari seorang yang takut oleh kaki-kaki kuda, ia menjadi marah. Apalagi orang yang duduk di atas punggung kuda dan memandangnya dengan berani itu bukanlah orang yang pernah menggemparkan karena kesaktiannya. Kalau semula ia agak cemas terhadap Mahesa Jenar setelah mengetahui tingkat ilmu Arya Salaka, muridnya, maka kemudian ia menjadi berlega hati ketika Mahesa Jenar tidak ada di dalam rombongan itu. Meskipun ia mulai bertanya, ketika diketahuinya bahwa seekor kuda dari rombongan itu ternyata tidak berpenumpang.

Maka dengan marah ia menjawab dengan kasarnya, ”Karangjati, kau harus belajar menilai seseorang. Aku minta kau turun dari kudamu untuk menghormati kehadiranku di sini. Kemudian kau harus berkata sejujur-jujurnya, di mana Mahesa Jenar sekarang berada. Sesudah itu baru aku dapat memberi keputusan apakah kau akan diijinkan meneruskan perjalanan ke perkemahan orang-orang Banyubiru, atau kau terpaksa kembali ke Banyubiru.”

Kanigara semakin tidak senang melihat sikap itu. Sebenarnya ia tidak perlu marah kepada Lawa Ijo, sebab ia tahu benar bahwa demikianlah sifat-sifat yang pada umumnya dimiliki oleh orang-orang dari kalangan hitam.

Tetapi kali ini Kanigara tergesa-gesa benar. Karena itu ia merasa terganggu. Sehingga dengan tajamnya ia menjawab, ”Lawa Ijo, aku sedang tergesa-gesa. Kau pasti tahu apa sebabnya. Dan kau tidak usah menyembunyikan diri, bahwa kau sengaja menghalangi perjalananku dan menurut dugaanmu Mahesa Jenar akan lambat datang ke perkemahan. Tetapi dengan demikian aku menjadi semakin yakin, bahwa kau pasti telah berbuat kejahatan terhadap anak-anak Banyubiru. Udara yang mengandung pengaruh sirep ini telah mengabarkan kepadaku sejak tadi bahwa ada sesuatu yang kurang pada tempatnya.”

Dada Lawa Ijo berdesir mendengar kata Kebo Kanigara yang menebak dengan tepat apa yang sedang terjadi. Karena itu ia merasa tidak perlu untuk memutar-mutar pembicaraan lagi, bahkan ia mengharap agar orang yang menamakan diri Karangjati itu menjadi gelisah dan kecemasan. Katanya, ”Kau benar. Ternyata otakmu terang seperti bintang- bintang di langit itu. Karena itu seharusnya kau juga mengerti bahwa orang-orang Banyubiru dan orang-orang yang datang bersama Mahesa Jenar telah habis terbunuh. Karena itu maka sekarang datang giliran padamu dan orang-orang yang datang bersertamu itu.”

Kanigara mengerutkan keningnya. Tetapi ia tidak yakin bahwa kata-kata Lawa Ijo itu benar-benar telah terjadi. Sebab dengan demikian tidak perlu agaknya bagi Lawa Ijo untuk mencegatnya di perjalanan, meskipun tinggal beberapa langkah dari perkemahan. Kalau apa yang dikatakan Lawa Ijo itu benar-benar telah terjadi, maka pasti Lawa Ijo akan membiarkan mereka itu sampai di perkemahan dan membunuhnya di sana pula, atau sama sekali membiarkan hidup apabila mereka merasa tidak mampu untuk melawan.

KANIGARA menjawab, ”Jangan membual Lawa Ijo. Apa gunanya kau mempersulit dirimu menghadang kami di tengah jalan...? Kenapa tidak kau tunggu saja kami di perkemahan? Tetapi dengan kehadiranmu di sini, aku menduga bahwa ada orang lain yang sedang melakukan tugasnya di perkemahan. Katakan siapakah dia. Gurumu yang bergelar Pasingsingan barangkali...?”

Sekali lagi dada Lawa Ijo berdesir cepat. Orang itu benar-benar berotak cerah seperti apa yang dikatakan. Namun demikian ia merasa bahwa dirinya adalah orang yang sukar dicari bandingannya.

Dengan demikian sambil membusungkan dada ia berkata, ”Sekali lagi aku membenarkan kata-katamu. Guruku berada di sana dan saat ini sedang membinasakan semua orang yang ditemuinya.”

Kanigara tidak membuang waktu lagi. Tanpa diduga oleh Lawa Ijo, Kanigara menarik kekang kudanya dan memukul perut kuda itu dengan tumitnya. Dengan terkejut kudanya meloncat maju. Melihat kuda itu seperti akan menerkamnya, Lawa Ijo pun terkejut. Namun ia benar-benar tidak mau terinjak oleh kaki kuda itu. Dengan cepatnya ia memutar tubuhnya sambil meloncat ke samping. Dengan mengumpat sejadi-jadinya ia menerjang Kebo Kanigara.

Ternyata Kebo Kanigara memiliki kelincahan jauh di luar dugaan Lawa Ijo. Ketika ia menerjang dengan garangnya, tiba-tiba terasa pergelangan tangannya tertangkap dengan kuatnya. Bahkan beberapa saat ia tergantung-gantung dibawa oleh derap kuda Kebo Kanigara untuk kemudian terbanting dengan kerasnya di padas tepi jalan itu. Untunglah bahwa tubuh Lawa Ijo benar-benar keras seperti batu.

Meskipun sakitnya bukan main, namun ia masih dapat meloncat untuk kemudian berdiri. Ketika ia sudah tegak berdiri, ia melihat anak buahnya mencoba untuk menyerang Kebo Kanigara dan kawan-kawannya. Tetapi apakah yang dapat mereka lakukan, hanyalah seperti sebuah permainan anak-anak yang sama sekali tidak menarik. Lawa Ijo melihat, kuda Kebo Kanigara membalik sekali, dan menyambar beberapa orang sekaligus. Sedang Bantaran, Penjawi dan Wanamertapun telah melawan penyerang-penyerangnya dari atas kuda mereka. Tetapi yang paling mengerikan adalah gerak kuda Kebo Kanigara. Seperti seekor elang yang gagah melayang-layang dengan derasnya menyambar mangsanya.

Lawa Ijo benar-benar ngeri melihatnya. ”Gila,” gumamnya, ”Siapakah orang ini?”

Tetapi ia tidak mau berdiam diri. Dengan sebuah teriakan nyaring melontarlah dari kedua belah tangannya, dua benda yang berkilat-kilat seperti tatit melayang ke arah Kebo Kanigara. Demikian cepatnya kedua pisau belati panjang itu, sehingga kecepatan mata hampir tak mampu mengikutinya.

Demikianlah Lawa Ijo memang memiliki keahlian untuk menyerang dengan pisau dari jarak jauh. Tetapi sasaran Lawa Ijo kali ini adalah Kebo Kanigara. Karena itu meskipun pisau Lawa Ijo itu dengan cepatnya menyambar satu kearah kepalanya, sedang yang lain ke arah perutnya, namun Kanigara masih juga mampu menghindari. Mula-mula ia membungkuk lekat dengan punggung kudanya, kemudian untuk menghindari sambaran pisau yang mengarah keperutnya, ia memutar tubuhnya melekat ke bagian sisi punggung kuda itu, sehingga dengan demikian pisau Lawa Ijo berlari tidak lebih dari secengkang di atasnya.

Kali ini dada Lawa Ijo benar-benar seperti diguncang-guncang melihat keterampilan Kebo Kanigara.

Tidak saja kekuatannya yang maha besar, yang telah dirasakannya pada saat pergelangannya ditangkap. Namun ternyata orang itu ahli pula mengendarakan kuda. Karena itu, ia merasa bahwa usahanya menghalang-halangi orang itu pasti akan sia-sia. Tetapi dengan demikian setidak-tidaknya ia sudah berhasil memperpanjang waktu, meskipun hanya sebentar. Karena itu ketika ia melihat kuda Kebo Kanigara itu sekali lagi berputar ke arahnya, cepat-cepat ia meloncat ke dalam gerumbul di tepi jalan dengan suatu suitan nyaring. Bersamaan dengan itu anak buahnya pun segera berloncatan meninggalkan gelanggang seperti anak ayam yang bersembunyi melihat di udara ada seekor elang.

Kebo Kanigara tidak mau membuang waktu lagi. Cepat-cepat ia memutar kudanya, dan dengan cepat pula ia mengajak kawan-kawannya menuju ke perkemahan. ”Ayolah kita tinggalkan tempat celaka ini. Tidak ada waktu untuk mengurusi Lawa Ijo. Mudah- mudahan Mahesa Jenar tidak terlambat sampai.”

Setelah itu, maka kembali mereka berpacu. Meskipun jarak lurus ke perkemahan itu tidak jauh lagi, namun mereka terpaksa melingkar-lingkar menuruti jalan yang dapat mereka tempuh dengan kuda-kuda mereka. Kembali terdengar deru kaki kuda memenuhi lembah, memukul-mukul lambung bukit untuk kemudian dilontarkan kembali seakan- akan beratus-ratus ekor kuda berderap bersama di sekitar lembah itu.

Sementara itu, di perkemahan, Mahesa Jenar telah berdiri diantara mereka yang sedang berjuang melawan Pasingsingan. Pada saat itu, meskipun mata Pasingsingan tidak jelas tampak karena terbalut oleh topeng kasarnya, namun terasa betapa tajamnya ia memandang Mahesa Jenar dari ujung kakinya sampai ke ujung ikat kepalanya. Sebenarnya bagi Pasingsingan, yang menilai Mahesa Jenar seperti beberapa tahun yang lalu, tidak demikian terpengaruh atas kehadirannya. Pasingsingan merasa bahwa sekalipun dengan Mahesa Jenar, pekerjaannya tidak akan bertambah berat, meskipun ia mempertimbangkan juga kemungkinan lain, karena anak muda, murid Mahesa Jenar itu.

Tetapi bagaimanapun juga, Pasingsingan masih menganggap orang itu termasuk dalam gerombolan kelinci-kelinci yang tak tahu diri. Tetapi yang mengejutkan Pasingsingan, adalah sapa yang telah diucapkan oleh Mahesa Jenar itu. Dari mana dia mendengar bahwa yang ada sekarang adalah Pasingsingan muda, yang pernah bernama Umbaran. Karena itu dengan kemarahan yang masih menyala-nyala di dalam dadanya terdengar suaranya yang berat, ”Mahesa Jenar, kalau aku tidak salah dengar, adakah kau tadi menyebut Pasingsingan muda yang pernah bernama Umbaran?”

”Ya,” jawab Mahesa Jenar singkat. ”Hem...” geram Pasingsingan, kemudian ia bertanya, ”Siapakah yang kau maksud dengan nama itu?”

MENDENGAR pertanyaan itu Mahesa Jenar tertawa. Sekarang ia sudah tidak lagi gelisah, justru setelah ia berdiri berhadapan dengan Pasingsingan, diantara orang-orang yang namanya tergores hatinya. Ia tidak tergesa-gesa menjawab pertanyaan Pasingsingan itu, tetapi sekali lagi ia meyakinkan, apakah orang orang di perkemahan itu masih lengkap. Ketika sekali lagi matanya menyambar Arja Salaka, Wilis, kemudian Endang Widuri dan seterusnya Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, hatinya menjadi semakin tenang. Ia merasa bahwa kehadirannya tidak terlambat. Kalau orang-orang itu masih lengkap, maka pasti Pasingsingan belum berhasil berbuat sesuatu atas orang-orang Banyubiru.

Melihat sikap Mahesa Jenar itu Pasingsingan menjadi semakin marah. Dengan membentak ia mengulangi pertanyaan sekali lagi, ”Mahesa Jenar, siapakah yang kau maksud dengan nama-nama itu?”

Sekali lagi Mahesa Jenar tertawa, jawabnya, ”Tuan, aku pernah berdiri di hadapan Tuan beberapa tahun yang lalu di alun-alun Banyubiru bersama-sama dengan Kakang Gajah Sora dan bersama-sama dengan seorang sebaya dengan Tuan, yaitu Ki Ageng Pandan Alas. Pada saat itu aku mendengar betapa orang tua itu meragukan sahabat lamanya yang bernama Pasingsingan. Pernahkah Tuan mendengar ceritanya itu?”

”Hem...” Sekali lagi Pasingsingan menggeram. Tetapi ia masih mencoba menahan diri. Ia ingin mendengar dari mana Mahesa Jenar mengetahui dan kemudian membuat sebutan Pasingsingan muda. Karena keinginannya untuk mengetahui itulah kemudian ia bertanya lebih lanjut, ”Adakah ceritanya itu menarik?”

”Entahlah,” jawab Mahesa Jenar. ”Tetapi ceritanya itu ada sangkut pautnya dengan nama yang Tuan tanyakan itu.”

”Ceritanya harus dimulai dari ujungnya,” jawab Mahesa Jenar. ”Pasingsingan sehabat Pandan Alas itu ternyata pelupa. ia tidak ingat lagi, kapan dan bagaimana ia mula-mula bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas.”

”Aku peringatkan sekali lagi Mahesa Jenar. Jangan mengigau. Dan ingatlah dengan siapa kau berhadapan,” potong Pasingsingan semakin marah.

”Jangan marah Tuan,” sahut Mahesa Jenar, ”Bukankah Tuan ingin mengetahui siapakah yang aku maksud dengan Pasingsingan muda yang bernama Umbaran itu? Nah, dengarkan kelanjutan cerita itu. Setelah aku bertemu dengan Tuan beberapa tahun lalu di alun-alun Banyubiru itu, aku bertemu pula, yang aku sangka adalah Tuan. Tetapi aku keliru. Orang yang aku sangka Tuan itu, belum pernah bertemu dengan aku sebelumnya. Bahkan ia sama sekali tidak bersikap memusuhi aku seperti Tuan. Dan orang itu juga bernama Pasingsingan.”

”Bohong!” teriak Pasingsingan tiba-tiba.

”Dengar dahulu Tuan...” Mahesa Jenar melanjutkan tanpa memperdulikan teriakan Pasingsingan.

”Aku benar bertemu dengan Pasingsingan satu lagi.” Pasingsingan masih berusaha menahan dirinya. Ia ingin mendengar di manakah Mahesa Jenar bertemu dengan Pasingsingan yang satu itu.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, ”Apakah Tuan tidak percaya?- ”

"Hem....” Pasingsingan tidak menjawab, tetapi yang mendengar hanyalah dengusnya yang bernada rendah.

”Pasingsingan itu aku temui di Pudak Pungkuran,” sambung Mahesa Jenar. Pasingsingan masih berdiam diri.

”Bahkan di sana ada tidak hanya satu Pasingsingan. Tetapi tiga,” Mahesa Jenar meneruskan.

”Tiga...?” ulang Pasingsingan hampir berteriak. Tetapi kemarahannya sudah menggelegak sampai di kepalanya. Ia merasa seolah-olah Mahesa Jenar hanya mau mempermainkan dirinya, atau memperpanjang waktu untuk menanti kawan-kawannya yang masih berada di perjalanan. Sebab Pasingsingan yang cerdik itupun segera mengetahui, bahwa Mahesa Jenar pasti pergi mendahului rombongan yang dicegat Lawa Ijo di perjalanan.

Karena itu dengan marahnya ia menggeram, ”Nah, sekarang aku tidak mau mendengar lagi. Bersiaplah dan bertempurlah bersama-sama. Umur kalian tidak akan lebih daripada saat bintang waluku mencapai ujung cemara itu.” Tetapi Mahesa Jenar seperti tidak mendengar kata-kata Pasingsingan itu dan berkata terus, ”Dua orang Pasingsingan sebaya dengan Tuan, sedang yang seorang lagi agaknya telah lebih tua, meskipun masih tampak segar. Dari mereka aku mendengar bahwa selain dari tiga Pasingsingan itu masih ada satu lagi yang memisahkan diri dari pergaulan antar Pasingsingan itu. Orang yang memisahkan diri itulah Pasingsingan yang paling muda dan bernama Umbaran.”

Pasingsingan yang sudah siap untuk meloncat menyerang mereka dengan pisau belatinya yang bernama Kyai Suluh itu menjadi urung. Dadanya yang terbakar oleh kemarahannya itu menjadi berdebar-debar. Dengan penuh kecurigaan ia bertanya menyelidiki, ”Siapa itu...?” Suara itu cukup garang, namun terasa betapa ia menjadi cemas oleh kata-kata itu. ”Adakah mereka hanya mengaku diri?” sahut Mahesa Jenar pura-pura.

”Tentu,” Pasingsingan menegaskan, ”Tak ada duanya di dunia ini. Pasingsingan hanyalah seorang. Dan akulah satu-satunya Pasingsingan itu.”

MAHESA JENAR tertawa pendek. Katanya, ”Ternyata Tuan yang menamakan diri Pasingsingan itu, tidak mempunyai banyak pengertian tentang nama Tuan. Agaknya pengertianku tentang Pasingsingan justru lebih banyak dari Tuan. Aku pernah mendengar seorang jujur setia, yang mengantar perjalanan Prabu Brawijaya Pamungkas, ya Pasingsingan. Aku kenal seorang sakti yang bertapa mengasingkan diri, yang juga bernama Pasingsingan. Aku kenal ketiga-tiga muridnya, yang kemudian berebut gelar itu. Namanya Radite, Anggara dan yang satu Umbaran.”

Terdengar Pasingsingan menggeretakkan giginya. Namun Mahesa Jenar berkata terus, ”Sayang bahwa Pasingsingan yang sekarang memiliki tanda-tanda kekhususannya adalah Pasingsingan yang sebenarnya tidak berhak atasnya.”

Pasingsingan sudah tidak dapat menguasai dirinya lagi. Dengan penuh kemarahan sekali lagi ia berteriak, ”Tutup mulutmu, dan matilah bersama-sama dengan orang-orangmu yang tak tahu diri.”

Ketika Pasingsingan sudah melangkah setapak maju, Mahesa Jenar pun melangkah maju. Mantingan, Wirasaba, Wilis, Arya Salaka, Endang Widuri dan Jaladri ternyata telah bergerak pula. Tetapi dengan isyarat Mahesa Jenar mencegah mereka. Kemudian terdengar ia berkata, ”Apakah untung kami untuk bertempur bersama-sama, Pasingsingan...? Aku kira lebih baik apabila kita menunjukkan kejantanan diri. Biarlah siapa diantara kita yang sudah puas mengenyam pahit asin penghidupan ini mencoba mempertaruhkan diri. Kalau kau menang atasku, biarlah kau dapat menikmati kemenanganmu, dan kalau sebaliknya, biarlah aku dapat menikmati kemenanganku sebagai hasil dari sikap jantan.”

Mantingan menjadi cemas mendengar kata Mahesa Jenar itu, sehingga tanpa sesadarnya terloncatlah dari mulutnya, ”Adi Mahesa Jenar, bukankah yang berdiri di hadapan kita ini Pasingsingan, guru Lawa Ijo?” Mahesa Jenar tahu sepenuhnya, apa yang bergolak di dalam dada Mantingan. Mantingan masih menilai dirinya seperti masa terakhir mereka bertemu, pada saat mereka berlima bertempur melawan tokoh tokoh gerombolan hitam di Rawa Pening. Tetapi ia tidak sempat memberinya penjelasan, karena kemudian Pasingsingan juga menganggap kesombongan Mahesa Jenar. ”Mula-mula aku ingin membunuh kalian dengan senjataku ini, supaya kalian tidak tersiksa pada saat terakhir, tetapi karena kesombonganmu, aku ingin melihat kau menderita pada saat terakhir itu. Aku akan membunuhmu dengan tanganku. Akan aku patahkan anggota badanmu satu demi satu. Aku ingin melihat kau kesakitan dan berteriak-tariak minta ampun.”

Semua yang mendengar ancaman itu, tegaklah bulu roma mereka. Cara paling keji telah dirancangnya oleh Pasingsingan. Tetapi mereka tidak berani melanggar larangan Mahesa Jenar, sebab dengan demikian, mereka akan dapat menyinggung perasaannya. Tetapi bagaimanapun juga, mereka tetap siap dengan senjata mereka, sebab kalau benar-benar Pasingsingan akan melakukan ancamannya itu, tidak mungkin bagi mereka, untuk membiarkan hal itu terjadi.

Sesaat kemudian Pasingsingan, yang ingin membunuh Mahesa Jenar dengan tangannya itu menyarungkan pisau belatinya. Dan kemudian dengan sikap yang mengerikan ia perlahan-lahan mendekati Mahesa Jenar yang berdiri tegak seperti sebuah batu karang yang kokoh kuat, tak tergoyahkan oleh badai dan arus oleh deru gelombang. Pasingsingan heran juga melihat sikap dan ketenangan Mahesa Jenar. Tetapi di matanya, Mahesa Jenar tidak lebih dari seorang anak-anak yang besar kepala. Karena itu, ketika ia sudah berdiri selangkah di hadapan Mahesa Jenar yang belum beranjak dari tempatnya, menyerangnya dengan acuh tak acuh saja. Sebuah pukulan diarahkan ke wajah Mehasa Jenar.

Tetapi meskipun dalam sikap acuh tak acuh, namun gerakan Pasingsingan itu cukup menggoncangkan dada mereka yang melihatnya. Mahesa Jenar pun mengetahui, bahwa Pasingsingan memukulnya dengan acuh tak acuh. Tetapi ia tahu pula bahwa tangan Pasingsingan itu seolah-olah mengandung bisa yang sangat berbahaya. Karena itu, ia tidak mau dikenai oleh pukulan itu. Bahkan kemudian ia mengharap agar Pasingsingan menjadi marah, dan bertempur sepenuh tenaganya. Ia mengharap, bahwa dengan ilmu yang telah didalami sampai ke intinya itu, ia akan dapat setidak-tidaknya mengimbangi kekuatan Pasingsingan.

Karena itu, ketika Pasingsingan memukulnya dengan sikap acuh tak acuh, maka dengan sikap acuh tak acuh pula Mahesa Jenar menghindari pukulan itu. Bahkan seperti orang yang menggeliat sehabis bangun tidur, tanpa mengubah letak kakinya. Namun karena demikian, sambaran tangan Pasingsingan itu hampir hampir saja menyentuh kulitnya, bahkan sambaran anginnya serasa betapa kerasnya pukulan yang demikian saja dilontarkan.

Semua yang menyaksikan peristiwa itu, hatinya berdesir copot. Mula-mula dada mereka menjadi tegang, seolah-olah tak sempat untuk menarik nafas. Tetapi kemudian mereka heran melihat sikap Mahesa Jenar. Kenapa ia sedemikian beraninya bersikap acuh tak acuh saja. Namun yang mereka saksikan, adalah pukulan Pasingsingan itu benar-benar tidak mengenainya.

Yang paling heran dari semuanya adalah Pasingsingan sendiri. Seolah-olah ia tidak percaya pada penglihatan matanya, bahwa Mahesa Jenar dapat menghindari pukulannya hanya dengan menggeliat saja. Namun ternyata hal itu benar-benar telah terjadi. Karena itu marahnya sampai ke ujung ubun-ubunnya. Sekali lagi, ia merasa direndahkan oleh orang yang baginya sama sekali tak berarti.

Namun, Pasingsingan tidak segera mengulangi serangannya. Bahkan kemudian ia berdiri saja tertolak pinggang. Untuk kemudian memperdengarkan suara tertawanya. Suara tertawa yang mengerikan, dilontarkan dengan lembaran ilmu Gelap Ngampar. Suaranya menggetarkan seolah-olah menggoncangkan dunia, menggetarkan setiap dada orang yang mendengarkannya. Suara itu terdengar nyaring bahkan merontokkan daun-daun yang tidak sanggup lagi berpegangan lebih erat lagi pada dahannya.

SEMUA orang yang mendengar suara tertawa itu terkejut. Segera mereka berloncatan mundur, untuk mengurangi tekanan udara yang seperti akan membelah dada mereka. Dengan penuh tenaga dan pemusatan kekuatan batin segera mereka berjuang melawan ilmu Gelap Ngampar itu.

Demikian dahsyatnya ilmu itu, sehingga mereka yang mendengarnya menjadi mengigil seluruh tubuhnya.

Perlahan-lahan terasa darahnya seolah-olah membeku, dan segenap tulang-tulangnya terlepas dari sendi-sendinya. Yang mula-mula sekali tidak kuat melawan pengaruh tertawa itu adalah Jaladri. Seperti orang kehilangan segenap tenaganya ia jatuh tertunduk. Canggahnya terlepas dari tangannya, yang kemudian dengan sekuat-kuat sisa tenaganya ditekankannya tangan itu ke dadanya, seolah-olah untuk menjaga agar isi dadanya itu tidak rontok.

Wirasaba pun telah menggigil dengan kerasnya. Ia masih mencoba bertahan pada tangkai kapaknya.

Demikian pula yang lain, semakin lama menjadi semakin kehilangan tenaga.

Mahesa Jenar pun merasakan akibat dari Gelap Ngampar itu. Ia pernah mengalami serangan serupa, beberapa tahun lalu di alun-alun Banyubiru. Untunglah bahwa pada saat itu hadir Ki Ageng Pandan Alas yang dapat melawan Gelap Ngampar itu dengan suara tembangnya, yang sebenarnya berlandaskan pada ilmu yang dinamai Sapu Angin.

Tetapi bagi Mahesa Jenar, akibat dari serangan Gelap Ngampar itu kini terasa berbeda sekali dengan serangan yang dialaminya lima tahun yang lampau. Suara tertawa itu kini tidak demikian berpengaruh pada dirinya, seolah-olah dadanya sudah berlapis baja, akibat dari perjuangannya, menguasai diri, bahkan ia telah berhasil meragakan sukma di dalam gua di Karang Tumaritis.

Akibat daripadanya ternyata dahsyat sekali. Kecuali ia telah berhasil menemukan inti dari ilmu perguruan Pengging, lahir-batinnya juga sudah tertempa kuat sekali. Bahkan Mahesa Jenar telah menemukan kekuatan-kekuatan yang tak pernah dikenalnya di dalam tubuhnya. Kekuatan yang melampaui kekuatan manusia biasa. Yang tak dapat diketemukan dalam pengamatan wajar dari seorang ahli sekalipun, karena kekuatan kekuatan itu langsung diterima dari sumbernya.

Inilah ciri adanya kekuasaan yang tak kasatmata. Kekuasaan dari Yang Mahasa Kuasa. Sehingga karena itu pulalah maka peristiwa-peristiwa di dunia ini betapapun dirancang oleh manusia dengan cermatnya, sebagaimana kewajiban manusia adalah berusaha, namun akhirnya penentuannya adalah di tangan Yang Maha Kuasa. Dengan demikian, maka Mahesa Jenar sama sekali tidak dapat melepaskan diri dari pengaruh ilmu Gelap Ngampar itu.

Tetapi ketika ia menoleh kepada kawan-kawannya ia menjadi terkejut sekail. Dadanya berguncang cepat. Sebab ia melihat hampir tak seorangpun dapat bertahan. Mereka telah hampir kehilangan kekuatan masing-masing sebagai akibat dari tekanan ilmu Gelap Ngampar yang langsung mempengaruhi urat syaraf mereka.

Karena itu Mahesa Jenar menjadi bingung. Ia tidak memiliki ilmu seperti yang dimiliki oleh Pandan Alas.

Meskipun daya tahannya sendiri barangkali tidak kalah dengan daya tahan Pandan Alas, namun untuk membantu orang lain, melenyapkan pengaruh Gelap Ngampar itu adalah sulit baginya. Dalam pada itu teringat pula olehnya, pengasuh yang serupa di Pulau Hantu di Laut Kuning. Menurut pendengaran Mahesa Jenar, di Pulau Hantu itu sering juga terdengar suara yang tertawa demikian mengerikan sehingga kadang-kadang para pelaut yang membawa kapalnya lewat di dekat pulau itu dapat menjadi gila. Kehilangan tenaga dan akal. Ada yang bahkan menjadi lemas dan mati.

Yang lebih mengerikan lagi ada diantara mereka menjadi saling berkelahi dan saling membunuh. Untuk sementara Mahesa Jenar tidak tahu bagaimana dapat menolong kawan-kawannya dari serangan yang aneh itu. Tetapi kemudian ia menemukan suatu cara yang mungkin dapat dilakukan. Kalau sumber suara tertawa itu dapat dihentikan, ia mengharap pengaruhnya pun akan lenyap sebelum sampai ke puncaknya.

Dengan demikian maka segera ia berdiri, dan dengan sigapnya ia melontarkan dirinya langsung menerjang dada Pasingsingan yang terbuka. Pasingsingan terkejut melihat serangan itu. Sejak semula ia sudah heran melihat Mahesa Jenar dapat mempertahankan dirinya dari serangan Gelap Ngampar, meskipun ia telah memperketat serangan itu. Bahkan kemudian Mahesa Jenar dengan derasnya menyerang dadanya. Meskipun demikian, serangan Mahesa Jenar itu bagi Pasingsingan hanya dapat menambah kemerahannya saja. Ia menganggap bahwa perbuatan itu adalah perbuatan bunuh diri. Karena itu dengan tetap melancarkan serangan Gelap Ngampar, Pasingsingan menyilangkan tangannya di muka dadanya untuk menangkis serangan Mehasa Jenar. Tetapi ketika kemudian terjadi benturan antara serangan Mahesa Jenar dengan pertahanan Pasingsingan, terbukalah mata hantu berjubah abu-abu itu, bahwa lawannya bukanlah termasuk dalam gerombolan kelinci yang tidak tahu diri. Kerena Pasingsingan tidak mempergunakan segenap kekuatannya, maka dalam benturan itu ia telah terdorong surut beberapa langkah. Sedang Mahesa Jenar sendiri, terpental selangkah mundur.

Peristiwa yang tak terduga-duga itu telah menggoncangkan dada Pasingsingan. Heran, marah, dendam, bercampur baur melingkar-lingkar di dalam dadanya. Dalam pada itu, karena benturan yang tak terduga-duga itu, terputuslah suara tertawanya. Ia terpaksa mengerahkan segenap tenaganya untuk menjaga keseimbangan tubuhnya yang hampir- hampir saja terdorong jatuh. Tetapi kemudian dengan sigapnya Pasingsingan pun telah berhasil menguasai keseimbangannya kembali. Seperti sebatang pohon raksasa ia kemudian berdiri tegak. Giginya gemeretak, dadanya mengombak seperti akan meledak.

Sekali lagi matanya yang tersembunyi di belakang lubang topengnya itu memandang Mahesa Jenar dengan tajamnya. Kekuatan apakah yang telah membantunya, sehingga ia mampu melawan aji Gelap Ngampar dan sekaligus memberinya tenaga yang luar biasa besarnya..?

HANYA dalam waktu kira-kira lima tahun saja, sejak pertemuan mereka di Rawa Pening, kemampuan Mahesa Jenar telah sedemikian jauh menanjak. Pada saat itu, Mahesa Jenar berlima, melawan Pasingsingan dan Sima Rodra tua berdua, seolah-olah merupakan lima ekor tikus sakit-sakitan melawan dua ekor kuncing yang garang. Sekarang tiba-tiba salah seekor tikus itu telah berubah menjadi serigala, yang sedang menerkam salah seekor kucing yang garang itu.

Tetapi Pasingsingan adalah seorang yang telah kenyang makan garam sehingga segera dapat mengendalikan dirinya. Kini ia benar-benar menghadapi keadaan yang cukup berbahaya. Dengan benturan yang terjadi, Pasingsingan segera dapat mengetahui, bahwa Mahesa Jenar benar-benar memiliki bekal yang cukup untuk merasa dapat melawannya. Tetapi yang masih perlu diuji, apakah Mahesa Jenar dapat mempergunakan kekuatannya itu untuk melawan ketangkasan, ketangguhan dan kelincahan hantu bertopeng itu.

Karena itu, setelah beberapa lama Pasingsingan berdiri tegak mengawasi Mahesa Jenar, terdengarlah suaranya menggeram,

"Mahesa Jenar, agaknya kau telah mendapat tenaga dari hantu penjaga Rawa Pening itu. Dan karena itulah kau merasa mampu untuk bertempur seorang lawan seorang dengan Pasingsingan. Setelah kau membual dengan ceritera tentang Pasingsingan yang berbelit- belit itu, sekarang kau benar-benar ingin mengadu tenaga. Mengadu liatnya kulit, kerasnya tulang. Tetapi kau jangan merasa gembira, karena kau berhasil mendorong aku mundur beberapa langkah. Tetapi kini aku akan maju lagi, dan tak seorangpun dapat mencegahnya.” Mahesa Jenar kini melihat, bahwa Pasingsingan telah memutuskan untuk bertempur dengan sepenuh tenaganya. Karena itu iapun segera bersiap. Dengan penuh kewaspadaan Mahesa Jenar mengikuti setiap gerakan Pasingsingan, meskipun sepintas lalu ia masih sempat untuk mengerling kepada kawan-kawannya. Ternyata, ketika serangan Gelap Ngampar itu terputus sebelum sampai ke puncaknya, pengaruhnyapun terputus pula. Dengan demikian, meskipun perlahan-lahan, namun mereka yang dikenai oleh aji itupun terbebas pula. Mantingan, Wilis, Arya, Widuri, Wirasaba dan bahkan Jaladri, perlahan- lahan dapat menemukan kesadaran serta kekuatan mereka kembali. Mereka kini sudah tidak menggigil lagi, meskipun terasa dada mereka masih bergetar dan jantung mereka masih berdegupan.

Mantingan, Wilis Arya, Widuri dan Wirasaba telah mulai dapat melihat apa yang telah terjadi di hadapan mereka. Mereka mulai bertanya-tanya, apakah yang akan terjadi seterusnya. Yang paling cemas diantara mereka adalah Mantingan. Meskipun tangannya masih gemetar, namun ia telah mencoba menggenggam trisulanya erat-erat.