Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 33

Jilid 33

Dalam perjalanan kembali ke Karang Tumaritis, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tak henti-hentinya memperbincangkan kemunduran-kemunduran yang terjadi di Banyubiru. Kemunduran dalam segala bidang. Namun mereka masih menduga-duga apakah sebabnya Ki Ageng Sora Dipayana masih berdiam diri. Demikianlah mereka menempuh perjalanan, melintasi padang-padang rumput, hutan hutan yang tidak begitu lebat, mendaki lambung-lambung bukit, serta menuruni lereng-lerengnya, untuk kemudian sampai ke daerah persawahan yang membentang luas di hadapan mereka, setelah mereka bermalam di bawah bentangan langit biru.

Pedukuhan yang tampak di hadapan mereka, seperti pulau-pulau yang tersembul dari lautan, adalah pedukuhan Gedangan. Oleh hembusan angin yang cepat-cepat lambat, butir-butir padi yang sudah mulai menguning tampak seperti wajah lautan yang berombak-ombak. Jauh di ujung desa tampaklah beberapa puluh orang perempuan seperti semut yang terapung-apung, sudah mulai menuai padi.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat semuanya itu dengan wajah yang cerah. Mereka ikut bersama-sama dengan para petani Gedangan, merasa gembira bahwa hasil jerih payah mereka selama beberapa bulan kini sudah dapat dipetik hasilnya.

Lebih daripada itu, Mahesa Jenar melihat benar-benar kemajuan yang telah dicapai oleh pedukuhan kecil ini dalam bidang pertanian. Setelah puas memandang sawah yang terbentang di hadapan mereka itu, segera mereka menarik kekang kuda masing-masing, dan berjalanlah kuda-kuda mereka seenaknya. Burung-burung liar yang terkejut karena suara telapak kaki kuda itu, beterbangan terpencar-pencar. Sedang butiran-butiran padi yang penuh berisi, seolah-olah merundukkan batang-batang mereka kepada kedua orang yang baru datang itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bagi orang-orang Gedangan adalah orang-orang yang sangat dihormati. Karena mereka berdua telah banyak memberikan jasa mereka kepada pedukuhan kecil itu. Karena itu ketika seseorang melihat kehadiran mereka, ia segera berlari-lari melaporkannya kepada pejabat-pejabat pedukuhan, sehingga sesaat kemudian ributlah pendapa kelurahan Gedangan. Mereka segera bersiap-siap untuk menyambut kedatangan tamu- tamu mereka.

Ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di halaman kelurahan, bahkan mereka menjadi terkejut. Mula-mula mereka heran, apakah yang terjadi di kelurahan itu sehingga banyak orang hilir-mudik kesana kemari. Tetapi ketika akhirnya mereka mengetahui duduk perkaranya, mereka menjadi geli. Hal yang sedemikian itu sebenarnya sama sekali tak mereka kehendaki.

Sebab apa yang mereka lakukan tidak lebih dan tidak kurang daripada melakukan kewajiban mereka, sebagai manusia yang mengabdikan diri pada sumbernya serta hasil pancaran dari sumber itu.

Tetapi rakyat Gedangan itu menjadi kecewa ketika mereka mengetahui bahwa Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tidak dapat terlalu lama tinggal di pedukuhan mereka, sebab suatu kewajiban yang penting telah menanti.

Mereka hanya dapat bermalam satu malam saja, untuk seterusnya mereka minta diri meneruskan perjalanan ke Karang Tumaritis. Sedangkan kuda-kuda yang dipinjamnya, masih belum mereka kembalikan, bahkan Mahesa Jenar telah berpesan apabila diperlukan mereka masih akan meminjamnya lebih banyak lagi nanti.

”Berapa ekor lagi yang akan Tuan perlukan...?” tanya Wiradapa.

”Lima atau enam ekor,” jawab Mahesa Jenar kepada Lurah Gedangan itu.

”Baiklah Tuan, kuda-kuda itu akan kami sediakan sejak hari ini,” sahut Wiradapa, dan seterusnya ia berkata, ”Kecuali itu, perkenankan kami mengundang Tuan berdua beserta sahabat dan putra-putra Tuan untuk mengunjungi pedukuhan kami ini pada akhir bulan.”

”Apakah keperluan kalian...?” tanya Mahesa Jenar.

”Kami akan mengadakan upacara bersih desa. Sebagai pernyataan terimakasih dan kegembiraan kami atas karunia Allah Swt yang telah menjadikan sawah-sawah kami bertambah subur serta tanaman-tanaman kami selamat dari gangguan hama.”

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tersenyum. ”Baiklah,” jawab mereka hampir bersamaan.

MAHESA JENAR dan Kebo Kanigara segera berangkat ke bukit kecil yang dinamai oleh penghuninya Karang Tumaritis. Ketika matahari telah sampai di atas kepala mereka, sampailah mereka di atas bukit kecil itu. Perjalanan mereka di atas punggung kuda seakan-akan merupakan tamasya yang menyenangkan. Kedatangan mereka disambut dengan meriah oleh penghuni bukit kecil itu.

Para cantrik dan endang. Lebih-lebih lagi, betapa gembira hati Endang Widuri yang telah beberapa lama ditinggalkan oleh ayahnya. Untunglah bahwa saat itu ia sudah mempunyai kawan bermain yang dapat melayaninya, yaitu Rara Wilis. Arya Salaka pun menjadi sangat gembira. Sebab hanya dialah yang mengetahui, walaupun hanya sedikit, bahwa apa yang dilakukan oleh gurunya beserta Kebo Kanigara adalah tugas yang berbahaya. Ketika mereka sudah beristirahat beberapa lama, bertanyalah Kebo Kanigara kepada anaknya, "Widuri, apakah Panembahan dalam keadaan sehat...?"

Dengan manjanya Widuri menjawab, "Yang aku ketahui, sepeninggal ayah, Panembahan mengurung dirinya di dalam sanggar sampai berhari-hari. Tak seorang pun yang diperkenankan ikut serta. Bahkan makanan pun telah dibawanya sendiri sejak Panembahan mulai dengan samadinya."

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi tahulah ia, dan juga Mahesa Jenar tahu, bahwa sebenarnya Panembahan Ismaya pada saat itu sedang pergi meninggalkan padepokan untuk menyusulnya ke Pudak Pungkuran, dimana ia bersama- sama dengan Mahesa Jenar sedang menemui Radite dan Anggara.

"Apakah beliau sekarang masih berada di dalam sanggar?" tanya Kanigara kemudian. Widuri menggeleng. Jawabnya,

"Sudah hampir seminggu Panembahan wudhar dari samadinya." Sambil memandang kepada Mahesa Jenar, Kebo Kanigara berkata, "Kalau demikian, baiklah kita menghadap."

Mahesa Jenar menyetujuinya pula. Dan ketika mereka sudah melangkah sampai luar pintu pondok, menyusullah Arya Salaka sambil berbisik,

"Paman, Panembahan agak menyesal ketika aku katakan tentang kepergian Paman berdua."

Kanigara dan Mahesa Jenar terhenti. Tetapi kemudian mereka berdua tersenyum. Jawab Kanigara, "Kami akan mencoba menjelaskan kepada Panembahan." "Mudah-mudahan Panembahan dapat mengerti," sahut Arya Salaka.

"Aku kira demikian," sahut Mahesa Jenar. "Nanti sesudah kami menghadap, aku beritahukan kepadamu."

Arya Salaka mengangguk, tetapi hatinya masih juga gelisah. Jangan-jangan Panembahan masih tetap kecewa terhadap gurunya serta Kebo Kanigara.tetapi ia sudah tidak berani bertanya lagi.

Ketika Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sampai di rumah kediaman Panembahan Ismaya, Panembahan tua itu ternyata sedang duduk dihadap beberapa orang cantrik tertua. Agaknya ada sesuatu yang sedang mereka perbincangkan. Ketika dilihatnya kedatangan Kabo Kanigara dan Mahesa Jenar, maka dengan perasaan gembira mereka berdua disambutnya serta segera dipersilakan masuk.

"Marilah Angger berdua... beberapa hari aku menjadi gelisah atas kepergianmu berdua. Syukurlah kalau kau berdua tidak menemui halangan sesuatu."

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar mengangguk hormat, sebagai pernyataan bakti mereka kepada Panembahan tua itu.

"Agaknya kalian berdua menjadi gembira karena perjalanan itu...? Ternyata wajah kalian bertambah segar," sambung Panembahan Ismaya.

Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar tidak menjawab. Mereka hanya menundukkan muka mereka. Sebab tak ada yang akan mereka katakan, karena Panembahan Ismaya telah mengetahui seluruhnya.

Tetapi tiba-tiba Panembahan Ismaya berkata kepada para cantrik,

"Cantrik-cantrik sekalian... aku perkenankan kalian meninggalkan ruangan ini. Sediakanlah makan siangku. Aku ingin setelah ini makan bersama-sama dengan Kanigara dan Mahesa Jenar."

Maka mundurlah para cantrik dari ruangan itu, untuk mempersiapkan makan siang Panembahan Ismaya.

Sepeninggal para cantrik, barulah Panembahan bertanya segala sesuatu mengenai perjalanan kembali Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara. Dan kepada Panembahan itu diceritakan pula bagaimana keadaan Banyubiru sekarang. Kemunduran dalam segala bidang, terutama kemunduran akhlak.

"Panembahan..." kata Mahesa Jenar kemudian, "Menurut pertimbanganku, segala sesuatu yang terjadi di Banyubiru itu harus segera dihentikan, dengan mengembalikan Arya Salaka ke sana. Atau lebih-lebih kalau mungkin Kakang Gajah Sora."

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Ia merasa ditagih janji, sebab merasa berkesanggupan untuk membebaskan Gajah Sora. Tetapi untuk melaksanakan kesanggupan itu agaknya tidak terlalu mudah.

Karena itu ia menjawab, "Kau benar Mahesa Jenar. Bawalah Arya Salaka lebih dahulu. Aku masih belum dapat membebaskan ayahnya. Aku harap hal itu segera terjadi. Dan bukankah akan sangat menggembirakan kalau Gajah Sora nanti dapat kembali ke Banyubiru setelah Banyubiru dapat dipulihkan...?

Dan apa yang terjadi sebelum itu, seolah-olah hanya suatu peristiwa dalam mimpi, meskipun mimpi yang menyedihkan."

Mahesa Jenar masih merenungkan masalah-masalah yang akan dihadapinya. Kalau saja tidak ada persoalan yang lebih besar, yang akan langsung mempengaruhi pemerintahan Demak, maka cara yang semudah-mudahnya untuk membebaskan Ki Ageng Gajah Sora adalah menyerahkan kembali Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

Tetapi ternyata cara itu tidak dapat ditempuhnya. Sebab Banyubiru bagi Demak hanyalah merupakan sebagian saja dari seluruh persoalan. Namun ia percaya kepada Panembahan Ismaya. Panembahan itu pasti akan menemukan suatu cara untuk membebaskan Gajah Sora. Dengan atau tanpa Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten.

SYUKURLAH kalau kalau nanti Gajah Sora dapat menjumpai tanah perdikan sudah pulih kembali, meskipun belum seluruhnya. Tetapi setidak-tidaknya Gajah Sora merasa bahwa ia kembali ke tanahnya sendiri, seperti pada saat ditinggalkan.

Kemudian diceritakan pula oleh Mahesa Jenar pertemuannya dengan Bantaran, salah seorang pemimpin laskar Banyubiru, serta pasukannya di sekitar Candi Gedong Sanga.

Akhirnya Panembahan Ismaya menyetujui permintaan Mahesa Jenar untuk mengajak Kanigara serta dalam usahanya mengembalikan Banyubiru ke dalam tangan Arya Salaka. Sebab tanpa orang-orang yang lebih tua itu, Arya Salaka tidak akan mampu melakukan pekerjaan berat itu.

"Tetapi kau jangan terlalu tergesa-gesa, Mahesa Jenar..." Panembahan Ismaya menasihati, "Sebab apa yang akan dilakukan oleh Arya Salaka adalah pekerjaan yang sulit. Mula-mula kau harus berusaha untuk menjelaskan masalahnya tanpa pertumpahan darah. Kau dapat membawa laskar yang dipimpin Bantaran hanya untuk membuat keadaan seimbang, supaya keseimbangan itu diperhitungkan pula oleh Lembu Sora. Sebab apabila ia hanya berhadapan dengan kalian berdua beserta Arya Salaka, maka mereka pasti akan berkeras kepala.

Selain daripada itu, kau harus mempersiapkan Arya Salaka untuk menghadapi setiap kemungkinan yang akan terjadi. Lahir dan batin. Supaya dalam setiap keadaan hatinya tidak terguncang dan kehilangan keseimbangan."

Demikianlah Mahesa Jenar mendapat banyak sekali bekal yang perlu baginya untuk memenuhi kesanggupannya kepada Ki Ageng Gajah Sora, pada saat orang itu pergi meninggalkan Banyubiru, dan menitipkan anaknya kepadanya.

Setelah makan siang bersama-sama dengan Panembahan Ismaya dan Kebo Kanigara, maka segera Mahesa Jenar minta diri untuk beristirahat. Namun demikian ia tidak dapat melepaskan diri dari persoalan-persoalan yang selalu membelit hatinya, persoalan Banyubiru.

Agaknya Arya Salaka pun hampir tidak sabar menanti Mahesa Jenar. Ketika ia melihat gurunya itu datang, segera ia bertanya, apakah Panembahan Ismaya marah kepadanya.

Dengan tersenyum Mahesa Jenar menjawab, "Panembahan bukanlah orang yang dapat marah. Apakah kau pernah melihat Panembahan marah?"

Arya menggeleng, tetapi ia menjawab, "Aku selalu cemas bahwa Panembahan akan marah untuk pertama kalinya kepada Paman dan Paman Kanigara."

Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian sahutnya, "Tidak. Panembahan tidak marah. Ia hanya memberi aku dan Kakang Kanigara nasihat. Dan nasihat-nasihat itu akan sangat berguna bagiku dan Kakang Kanigara."

Sejak saat itu Mahesa Jenar mencoba untuk memberi penjelasan kepada Arya Salaka untuk melengkapi pengetahuannya tentang keadaan sebenarnya yang terjadi di Banyubiru. Karena Arya Salaka sekarang menurut anggapan Mahesa Jenar telah cukup siap untuk mengetahui segala-galanya, maka Mahesa Jenar kini tidak lagi menyembunyikan sesuatu.

Juga dijelaskan apa yang sekarang terjadi kalau keadaan yang demikian dibiarkan berlarut-larut.

Arya Salaka mendengarkan semua penjelasan itu dengan menekan dada. Ia telah dapat merasakan betapa jeleknya keadaan Banyubiru sepeninggal ayahnya.

Hampir setiap malam ia duduk bercakap-cakap dengan Mahesa Jenar, yang kadang- kadang ditemani Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Endang Widuri. Apa yang mereka percakapkan selalu berkisar pada masalah Banyubiru. Apalagi kalau Wanamerta berkesempatan untuk ikut serta berbicara. Banyak sekali cerita yang dapat membakar dada Arya Salaka.

Sebagai orang tertua, yang pada saat Gajah Sora meninggalkan Banyubiru menerima tanda pemerintahan Pusaka Kyai Bancak, dan yang selajutnya kehadirannya di Banyubiru oleh Ki Ageng Lembu Sora sama sekali tidak diperhitungkan, bahkan disingkirkan dengan satu cara yang keji, ia benar-benar sakit hati.

Disamping semua penjelasan, untuk mempersiapkan Arya Salaka menghadapi keadaan- keadaan di Tanah Perdikan yang sudah kira-kira lima tahun ditinggalkan, ia selalu menerima pula tuntunan-tuntunan lahiriah. Setiap hari ia masih harus berlatih sekeras- kerasnya. Menambah pengetahuan tata pertempuran dan olah senjata.

Dalam keadaan yang demikian, terasalah betapa perkembangan jasmaniah Arya Salaka menjadi bertambah cepat setelah orang aneh yang mengenakan jubah memijiti hampir seluruh tubuhnya pada suatu malam, setelah ia bertempur melawan Sawung Sariti. Untunglah bahwa di bukit kecil itu ia mempunyai banyak kawan berlatih.

Endang Widuri yang memiliki cabang keturunan ilmu yang sama dengan ilmunya. Rara Wilis dari Perguruan Pandan Alas. Serta Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara.

Meskipun sebenarnya Arya Salaka kadang-kadang bertanya di dalam hati tentang persamaan yang sedemikian dekatnya antara Kebo Kanigara dengan gurunya, Mahesa Jenar, namun pertanyaan itu tetap disimpannya. Sejalan dengan itu, kadang-kadang ia menjadi heran pula, bahwa ilmu gurunya sendiri agaknya menjadi jauh berkembang, seolah-olah berkembang dengan sendirinya. tetapi juga keheranan ini disimpannya di dalam hati.

Sudah tentu bahwa dalam keadaan demikian tidak saja Arya Salaka sendiri yang berhasil memperkuat dirinya lahir-batin, tetapi juga kawan-kawannya berlatih. Mereka ternyata saling menerima dan memberi. Ilmu pedang yang luar biasa lincahnya, dari perguruan Pandan Alas, dalam keserasiannya dengan ilmunya. Sebaliknya, keteguhan serta gerak- geraknya yang kuat dapat mempengaruhi keterampilan Rara Wilis. Sedangkan kenakalan Endang Widuri pun kadang-kadang dapat memberi banyak ilham kepada Arya, sehingga dalam ilmunya kadang-kadang sifat itu terungkap dalam gerak-gerak yang tampaknya tidak masuk akal dan kurang berhati-hati, namun sebenarnya mempunyai segi-segi yang mengelabuhi lawan.

KETIKA segala sesuatunya telah dirasa cukup, sampailah Mahesa Jenar pada taraf terakhir dari pekerjaannya menjelang keberangkatan mereka ke Banyubiru, yaitu mematangkan jiwa Arya Salaka menghadapi segala macam kemungkinan. Kemungkinan yang paling menyenangkan sampai kemungkinan terakhir yang dapat saja terjadi. Yaitu gugur dalam menunaikan kewajiban sucinya.

Tetapi jiwa Arya memang sudah mendapat tempaan yang luar biasa sejak bertahun-tahun terakhir. Kesulitan hidup yang hampir setiap hari dijalani, sulit lahir-batin, adalah bekal yang baik dalam pekerjaannya itu. Disamping itu, Mahesa Jenar tidak pula lupa menunjukkan, bahwa apa yang akan dilakukan itu adalah suatu usaha. Usaha yang wajib diperjuangkan oleh manusia untuk mencapai cita-citanya, namun segala keputusan terakhir dari semua masalah, terletak ditangan Allah Yang Maha Kuasa.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar menyampaikan segala macam persiapan dan anggapannya, bahwa segala sesuatunya sudah cukup, kepada Panembahan Ismaya. Bersamaan dengan itu, ia mohon diri bersama muridnya untuk menunaikan kewajibannya, serta sekali lagi ia mohon kepada Panembahan untuk mengizinkan Kebo Kanigara pergi bersamanya.

Panembahan Ismaya memandang Mahesa Jenar dengan hampir tak berkedip. Ini adalah suatu masalah yang paling rumit, yang selalu tumbuh hampir setiap saat. Alangkah menyedihkan, bahwa seseorang melakukan persiapan sampai seteliti-telitinya untuk melakukan tindakan kekerasan.

Padahal, seharusnya setiap bentuk kekerasan pasti harus ditentang. Tetapi ia tidak dapat menyembunyikan kenyataan, bahwa diantara anak manusia di dunia ini masih saja ada yang sama sekali tidak menghiraukan kemanusiaannya, yang dengan segala macam cara, menindas manusia-manusia yang lain.

Dan terhadap manusia-manusia yang demikian itu, wajarlah bahwa ada usaha-usaha untuk mencegahnya. Usaha terakhir pencegahan itu adalah dengan cara yang sama sekali menyimpang dari tuntutan cinta kasih manusia. Sebab kadang-kadang yang harus dilakukan adalah nampaknya berlawanan dengan ungkapan cinta kasih itu sendiri. Yaitu kekerasan, perkelahian dan bahkan kadang-kadang persoalan hidup dan mati.

Karena persoalan-persoalan yang sedemikian itulah, maka selalu timbul pertentangan di dalam diri. Pertentangan antara hakekat dari pengabdian diri terhadap manusia sebagai tempat untuk meletakkan pengabdian yang tertinggi dengan penuh cinta kasih sebagaimana Allah Swt melimpahkan rahmat dan karunia kepada makhluk-Nya, serta kenyataan bahwa manusia itu sendiri telah menodainya.

Di sinilah kadang-kadang dijumpainya persimpangan jalan antara tujuan dengan cara pengabdian. Namun demikian bukanlah segala cara dapat dibenarkan untuk mencapai tujuan. Sebab dalam hal yang demikian kaburlah batas antara tujuan yang hendak dicapai dengan mengorbankan tujuan itu sendiri, sebagai puncak pengabdian. Dalam hal yang demikian itu, apabila segala macam cara dapat dibenarkan, maka akan timbullah fitnah, kebiadaban, kekejaman dan kesewenang-wenangan, yang justru menghilangkan nilai tertinggi dan tujuannya, yaitu manusia.

Terhadap Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, Panembahan Ismaya tidak tedheng aling- aling. Dan karena itulah maka Panembahan Ismaya sendiri masih mempergunakan dua bentuk selama ini. Orang berjubah abu-abu yang sakti dan seorang Panembahan yang menjauhkan diri dari daerah keduniawian.

Mendengar uraian itu Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar hanya dapat menundukkan wajah mereka dengan takzimnya. Namun didalam dada mereka bergolaklah pertanyaan- pertanyaan yang tak terucapkan. Pertanyaan tentang diri mereka, tentang Arya Salaka yang terusir dari Banyubiru, dan tentang hak yang sudah terampas dari tangannya.

Namun meskipun pertanyaan itu tidak terucapkan, agaknya Panembahan Ismaya dapat mengertinya. Karena itu katanya, "Karena itu Mahesa Jenar, kau harus dapat mencari keserasian dari cara dan tujuan pengabdian. Dan dari sinilah nanti akan tampak, bahwa seseorang memiliki ketinggian budi yang tidak sama. Ada orang yang berbudi luhur dan berjiwa besar dan ada orang yang berbudi rendah dan berjiwa kecil.

Ada orang yang mengumandangkan nilai-nilai kemanusiaan, namun akan seribu satu macam semboyan, tetapi nilai-nilai kemanusiaan itu tercermin dalam tindak tanduknya sehari-hari. Seorang yang menganggap dirinya pendukung nilai-nilai kemanusiaan, tetapi ia mengorbankan manusia untuk mempertahankan kepentingan diri sendiri yang dipancangkannya di atas tumpukan bangkai-bangkai.

Namun sebaliknya ada orang yang dengan berdiam diri membangun nilai-nilai itu dalam lingkungan yang jauh dari pamrih untuk mencemerlangkan diri.

SETELAH berhenti sejenak, Panembahan Ismaya meneruskan, "Karena itulah Mahesa Jenar, aku tidak dapat mencegah Arya Salaka untuk mengambil haknya kembali. Untuk mengambil kekuasaan yang ada di Banyubiru dari tangan adik atau pamannya. Sedang kekuasaan itu sendiri bukanlah hal yang selalu baik atau tidak baik. Hampir semua orang di dunia ini menginginkan kekuasaan. Dalam bentuk yang besar atau dalam ujud yang lebih kecil serta dalam lingkungan yang kecil pula.

Namun yang harus dinilai kemudian adalah bagaimana kekuasaan itu dipergunakan."

Kemudian Panembahan Ismaya meneruskan lagi, "Akhirnya, bahwa manusia yang mempunyai kekuasaan itulah, yang menentukan bentuk dari kekuasaan yang berada di dalam tangannya. Apakah ia mengabdikan kekuasaan itu untuk nilai-nilai kemanusiaan ataukah dengan kekuasaannya ia justru menghancurkan nilai-nilai kemanusiaan itu."

Setelah berhenti sejenak, Panembahan kembali berkata, "Mahesa Jenar, aku harap kau dapat memahaminya. Selanjutnya aku mengharap, bahwa Arya Salaka akan dapat mendengarnya pula darimu. Karena kau adalah gurunya, maka aku kira kaulah orang paling dekat di hatinya. Kaulah yang akan dapat memberitahukan kepadanya, bahwa kekuasaan yang berada kembali ditangannya nanti harus menemukan titik sasaran yang benar. Seperti tombak lambang kebesaran Banyubiru yang dibawanya itu.

Tombak itu dapat dipergunakannya untuk melindungi diri serta orang lain. Namun tombak itu di tangan orang yang tidak bertanggungjawab dapat dipergunakan untuk membunuh kawan seiring. Nah Mahesa Jenar, pergilah. Ingat, pengabdianmu harus kau tujukan kepada manusia. Tidak kepada kedudukan, harta benda dan nafsu. Semata-mata karena Allah Swt."

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menundukkan wajahnya semakin dalam. Tak ada satu patah kata pun yang sisip dari hatinya, dari pendiriannya. Memang demikianlah tujuan pengabdian yang selama ditempuhnya. Karena itu, setiap kata yang diucapkan oleh Panembahan Ismaya itu telah mempertebal keyakinannya. Di dalam hati ia berjanji untuk menuangkan pengertiannya itu sejauh-jauhnya kepada Arya Salaka. Sebab di tangan Arya Salakalah letak kekuasaan Banyubiru di masa datang.

Rombongan itu mula-mula singgah di Gedangan untuk mendapat pinjaman kuda, disamping mereka memenuhi undangan Wiradapa untuk mengunjungi upacara bersih desa. Upacara yang diselenggarakan setiap para penduduk Gedangan selesai dengan musim menuai padi. Demikian pula kali ini. Mereka bersuka ria karena panenan mereka berhasil. Pada malam itu, ketika rombongan Mahesa Jenar bermalam di Gedangan, suasana desa itu benar-benar meriah. Mereka menyelenggarakan peralatan bersama di sebuah tanah lapang kecil di tengah-tengah desa mereka. Setiap keluarga datang dengan membawa ancak berisi berbagai macam makanan. Nasi beserta lauk-pauknya dan bermacam-macam jenis masakan yang lain. Bahkan ada yang membawa jodhang penuh dengan masakan yang enak.

Makanan juadah, jenang alot, tasikan, sagon, lapis dan sebagainya.

Maka apabila upacara-upacara adat telah selesai, maka segera makanan mereka itu dibagi bersama-sama dan dimakan bersama-sama pula. Demikianlah, peralatan itu benar- benar merupakan peralatan yang meriah. Sedangkan hampir seluruh desa mereka dihiasi dengan janur-janur kuning yang mereka sangkutkan di setiap regol halaman. Dan di hadapan regol desa mereka letakkan hiasan yang termeriah, dengan janur-janur kuning, daun topengan dan daun-daun yang berwarna-warni. Merah, kuning, hijau dan berbelang- belang. Demikian pula dinding yang melingkari desa mereka serta sepanjang dinding halaman rumah-rumah, terpancang berpuluh-puluh bahkan beratus-ratus oncor yang menjadikan desa mereka terang-benderang seolah-olah siang.

Anak-anak Gedangan pun mendapat bagian pula. Semalam suntuk mereka tidak tidur. Setelah mereka lelah berlari-larian kesana kemari, mereka dapat menikmati pertunjukan wayang beber. Pertunjukan yang mengisahkan kepahlawanan, yang dipetik dari ceritera Mahabarata.

Demikianlah rombongan kecil Mahesa Jenar dapat ikut pula menikmati kemeriahan malam bersih desa di Gedangan itu. Mereka ikut serta bergembira bersama-sama penduduk Gedangan dan kemudian ikut serta dengan mereka mengunjungi pertemuan di pendapa Kelurahan serta menikmati upacara tari-tarian sebagai pernyataan terima kasih pula atas panenan mereka yang berhasil.

Tetapi dalam pada itu, Arya Salaka menjadi semakin trenyuh di dalam hati. Teringatlah segala kemeriahan upacara di Tanah Perdikan Banyubiru pada masa kecilnya. Pada masa ayahnya masih memimpin tanah itu. Dan karena itulah tekadnya menjadi semakin bulat. Ia harus mendapatkan kembali tanah itu. Ia berjanji di dalam hatinya, apabila ia harus mewakili ayahnya dalam pemerintahan tanah perdikan itu, yang dilakukannya harus menguntungkan rakyatnya. Membina kembali Banyubiru dalam segala seginya. Dan ia harus dapat menjadikan Banyubiru sebagai idaman ayahnya. Menjadikan Banyubiru gemah ripah lohjinawi kertaraharja. Dimana setiap orang dapat menikmati kesuburan tanah kampung halamannya, dimana setiap orang dapat menikmati cerahnya matahari dan bulatnya bulan di malam hari. Menikmati ketenteraman hidup dan tanpa kegelisahan menjelang hari tuanya. Cukup sandang, cukup pangan. Sejahtera lahir dan batin.

Setelah mereka bermalam dua malam di Gedangan, rombongan kecil itu melanjutkan perjalanan. Mereka diantar oleh hampir segenap penduduk Gedangan sampai ke regol desa mereka. Dengan penuh kebanggaan mereka memandang debu yang mengepul dilemparkan oleh derap kaki-kaki kuda yang berlari seenaknya. Seolah-olah mereka melihat rombongan pasukan berkuda yang tak terkalahkan menuju ke medan pertempuran.

SETELAH Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan rombongannya bermalam satu malam, maka pada hari berikutnya ketika matahari telah condong ke barat, sampailah mereka di daerah pegunungan Sumawana. Suatu daerah pegunungan yang menurut dongeng rakyat, adalah pegunungan dimana Prabu Dasamuka ditimbun dengan tanah oleh Pahlawan Kera yang berbulu putih, Hanoman. Karena kepercayaan itulah maka di daerah pegunungan itu, tidak diperkenankan membawa tuak atau semacam minuman keras yang lain. Sebab apabila ada orang yang melanggar pantangan itu, Prabu Dasamuka, yang tidak dapat mati, akan menggeram dan mengguncang-guncang gunung yang menimbuninya, sebab tuak adalah jenis minuman yang sangat digemarinya.

Rakyat yang hidup di daerah itu, meskipun sangat jarang, tidak pernah takut seandainya Prabu Dasamuka itu dapat menjebol tanah yang menimbuninya. Sebab di dekatnya adalah bukit yang terkenal bernama Kendalisada. Di bukit itulah Hanoman bertapa dan sekaligus menunggui gunung yang dipakainya untuk menimbun tubuh Prabu Dasamuka.

Ketika rombongan kecil itu sampai di sekitar bukit Sumawana, mereka menghentikan perjalanan mereka. Daerah ini sudah dekat benar dengan daerah Candi Gedong Sanga. Karena itu mereka harus berhati-hati. Sebab apabila ada salah paham, mungkin akan menimbulkan hal-hal yang tidak mereka kehendaki. Karena itu mereka tidak maju lagi, tetapi mereka bermaksud bermalam di daerah itu.

Pada malam itulah Mahesa Jenar berhasrat memancing orang-orang Banyubiru yang bersembunyi di sekitar daerah itu dibawah pimpinan Bantaran dan Penjawi. Karena itu, maka ketika malam telah turun dengan kelamnya, segera Mahesa Jenar menyalakan api sebesar-besarnya. Ia yakin bahwa laskar Pamingit tidak akan sampai berkeliaran sedemikian jauhnya, apalagi mereka mengerti bahwa sebagian laskar Bantaran dan Penjawi ada di sekitar daerah Banyubiru.

Dan apa yang diharapkan terjadilah. Ketika mereka sedang menikmati jadah sisa bekal mereka dari Gedangan yang mereka panggang di atas api, tiba-tiba terdengarlah gemersik daun-daun di sekitarnya. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan hampir semua orang dalam rombongan itu mengetahuinya, namun mereka masih berpura-pura tidak mendengarnya.

Sebentar kemudian terdengarlah beberapa orang berloncatan dengan senjata di tangan.

Dengan lantangnya seorang yang memimpin laskar itu berkata, "Ki Sanak, aku harap Ki Sanak tidak melawan. Kami tidak ingin berbuat jahat, tetapi kami ingin mengetahui siapakah kalian."

Mahesa Jenar mengangkat mukanya. Ia sama sekali tidak berkata apa-apa.

Sambil tersenyum ia mengangkat tangannya menunjuk Wanamerta yang duduk di sudut perapian sambil membenamkan dirinya di dalam kainnya. Ketika orang itu melihat Wanamerta, tiba-tiba wajahnya jadi tegang.

Untuk beberapa saat ia bahkan berdiam diri seperti patung, tetapi tiba-tiba ia meloncat dan berjongkok di hadapannya sambil berteriak, "Kiai, adakah benar ini Kiai Wanamerta."

Orang tua itu tersenyum. Tersenyum lucu sekali. Tetapi semua orang yang menyaksikannya menjadi ikut terharu ketika di sela-sela senyumnya tampak diantara pelupuk mata orang tua itu membayang butiran-butiran air mata.

Serta dengan suara parau ia menjawab, "Ya, inilah Wanamerta yang tua. Bukankah kau Jaladri?"

"Ya," sahut pemimpin laskar itu. "Bagaimanakah Kiai dapat sampai di tempat ini?"

"Hemm...." desis Wanamerta, lalu katanya, "Kenalkah kau dengan Anakmas Mahesa Jenar?"

"Mahesa Jenar...?" ulang Jaladri, "Ya tentu aku mengenalnya. Lima tahun yang lalu, ia pernah tinggal di Banyubiru untuk beberapa lama."

"Itulah dia," potong Wanamerta sambil menunjuk Mahesa Jenar.

Jaladri menoleh kepada Mahesa Jenar. Memang ia pernah mengenalnya. Lima tahun yang lalu. Karena itu ia agak pangling. Baru ketika ia telah memperhatikan beberapa lama, ia menjadi jelas, bahwa memang orang itulah yang pernah dikenalnya bernama Mahesa Jenar. Karena itu segera ia menggeser diri duduk sambil membungkuk hormat kepada Mahesa Jenar, sambil berkata, "Maafkan kami, Tuan. Kami hampir tidak dapat mengenal Tuan setelah sekian lama berpisah. Apalagi sebelumnyapun aku tidak begitu dekat dengan Tuan."

Mahesa Jenar menjawab dengan hormatnya pula. "Adalah hal yang wajar kalau kau tidak mengenal aku lagi. Waktu itu aku tidak mempunyai waktu banyak untuk tinggal lebih lama lagi di Banyubiru. Apalagi kita sudah terlalu lama tidak bertemu. Tetapi untunglah bahwa kau mengenal Paman Wanamerta."

"Kepada Kiai Wanamerta, berapa puluh tahun aku terpisah, namun aku masih akan dapat mengenalnya. Dan bahkan semua orang Banyubirupun akan tetap mengenalnya," jawab Jaladri.

"Bagus," sahut Mahesa Jenar. "Sebab ia adalah tetua Banyubiru. Kalau kau lupa kepadanya, berarti kau telah lupa kepada kampung halaman itu".

"Benar Tuan," jawab Jaladri, kemudian dengan agak ragu-ragu ia bertanya, "Tetapi, menurut Kakang Bantaran, bukankah Tuan berjanji untuk membawa Arya Salaka kepada kami?"

Mahesa Jenar tersenyum. Agaknya Bantaran telah mengumumkan kesanggupannya itu kepada anak buahnya. Kemudian dengan tertawa lirih ia berkata. "Cobalah Jaladri, carilah diantara kami, adakah Arya Salaka serta?"

Jaladri menjadi ragu. Ia memandang satu persatu kawan-kawan seperjalanan Mahesa jenar. Mahesa Jenar sendiri, lalu seorang yang berumur agak lebih tua sedikit dari Mahesa Jenar, disampingnya duduk bersimpuh seorang gadis kecil. Di dekatnya duduk bersila seorang gadis yang berpakaian laki-laki, dan di ujung duduk bersilah pula seorang pemuda yang gagah, kuat sentosa. Di pinggangnya terselip sehelai tombak yang bertangkai pendek.

JALADRI masih tetap ragu-ragu. Ia tidak berani menebak satu diantaranya. Meskipun apabila Arya Salaka ada diantaranya, yang paling mungkin adalah pemuda yang gagah itu. setelah beberapa lama ia menimbang-nimbang, akhirnya ia menjawab, "Aku tidak tahu Tuan Arya Salaka. Pada saat meninggalkan Banyubiru masih terlalu kecil bagi yang ada sekarang."

Meskipun demikian mata Jaladri tidak lepas dari pemuda tegap yang duduk bersila sambil menundukkan mukanya.

Mahesa Jenar tertawa pendek, demikian pula Kebo Kanigara. Tetapi dengan demikian, Rara Wilis, Widuri, Wanamerta, dan bahkan Arya Salaka sendiri. Jaladri mempunyai dugaan yang benar. Meskipun demikian Mahesa Jenar tidak segera membenarkan dugaan itu.

Dengan tegak berdiri ia berkata, "Jaladri... antarkanlah kami sekarang kepada Bantaran." "Baik Tuan," jawab Jaladri cepat, seperti demikian saja meloncat dari mulutnya.

Kemudian Mahesa Jenar berkata kepada Wanamerta, Kebo Kanigara dan kawan-kawan seperjalanannya. "Marilah, kita selesaikan perjalanan kita yang tinggal beberapa langkah saja."

Semuanya segera mempersiapkan diri mereka pula. Dan sesaat kemudian mereka meneruskan perjalanan yang sudah tidak jauh lagi.

Jaladri lebih dahulu telah mengirimkan dua orangnya untuk mendahului dan memberitahukan kedatangan Mahesa Jenar, agar Bantaran dapat mempersiapkan sambutan sekadarnya.

Demikianlah, tidak terlalu lama, mereka telah sampai ke daerah Candi Gedong Sanga, di lereng Gunung Ungaran. Oleh Jaladri, mereka dibawa menyusup ke sebuah hutan yang tidak terlalu lebat. Di dalam hutan yang tipis itu terdapatlah sebuah barak besar dikelilingi beberapa barak kecil. Itulah perkemahan laskar Banyubiru yang dipimpin oleh Bantaran dan Penjawi.

Ketika Mahesa Jenar sampai ke tempat itu, sibuklah mereka mengadakan penyambutan. Berdesak-desakan mereka berebut muka, sehingga Mahesa Jenar dan kawan-kawan tidak dapat bergerak maju lagi.

Sampai Bantaran berdiri dan berteriak, "Berilah jalan supaya mereka dapat masuk ke dalam pondok ini."

Demikianlah akhirnya Mahesa Jenar dan kawan-kawannya dipersilakan masuk ke dalam pondok yang terbesar itu. Di dalamnya terdapat sebuah ruangan yang cukup luas. Dan di sanalah pemimpin-pemimpin laskar itu telah siap menanti.

Mahesa jenar dan kawan-kawannya dipersilakan duduk di ujung pertemuan itu. Tetapi demikian ia mulai memperhatikan satu demi satu dari setiap wajah di dalam ruangan itu, tiba-tiba ia terkejut ketika melihat yang duduk berjajar di samping Penjawi.

Karena itu segera Bantaran memperkenalkan kedua orang itu kepada Mahesa Jenar. "Tuan, barangkali Tuan belum mengenalnya. Mereka adalah orang baru di sini. Tetapi mereka melihat kebenaran perjuangan kami. Karena itu mereka di pihak kami."

Tiba-tiba meloncatlah dari mulut Mahesa Jenar sapaan yang akrab, "Kakang Mantingan dan Wirasaba, adakah kalian telah lama berada di tempat ini?"

Dalang Mantingan dan Wirasaba menganggukkan kepalanya. Terdengarlah Mantingan menjawab, "Sudah... Adi. Aku sudah beberapa bulan bergaul dengan anak-anak Banyubiru, meskipun kadang-kadang aku juga memerlukan kembali ke Wanakerta atau Prambanan bersama-sama dengan Adi Wirasaba."

Teringatlah Mahesa Jenar pada saat mereka baru saja menyaksikan bahkan terlibat dalam suatu bentrokan melawan golongan hitam yang sedang mempersiapkan sebuah pertemuan di daerah Rawa Pening. Pada saat itu Mahesa Jenar dengan empat orang teman, yaitu Mantingan, Wirasaba, Gajah Alit dan Paningron, harus bertempur melawan seluruh kalangan hitam dari angkatan sebayanya, yang kemudian mendapat bantuan dari Sima Rodra tua dan Pasingsingan.

Untunglah pada saat itu muncul Radite dan Anggara yang menyelamatkan mereka berlima. Pada saat itu ia memang berpesan kepada Mantingan untuk berusaha melihat- lihat keadaan Banyubiru. Agaknya Mantingan benar-benar melaksanakan pesan Radite dan Anggara, bahkan akhirnya mengambil keputusan untuk tinggal bersama-sama dengan mereka.

Kemudian sibuklah pertemuan itu dengan pernyataan keselamatan masing-masing. Wanamerta yang menjadi semakin terharu melihat anak-anak Banyubiru yang masih setia kepada pimpinannya itu, malahan menjadi seperti patung. Ia hanya dapat mendengarkan percakapan-percakapan yang semakin ramai dan gembira, dan sesekali menoleh kesana kemari, tanpa tujuan.

Tiba-tiba dari sela-sela keriuhan percakapan itu terdengarlah Bantaran bertanya, "Tuan. bukankah Tuan telah menyanggupkan kepada kami untuk membawa Arya Salaka...?"

Mahesa Jenar tertawa. Memang, ia menanti pertanyaan itu, sehingga dengan sengaja tidak memperkenalkan kawan-kawan seperjalanannya. Karena itu baru kemudian ia menjawab untuk memperkenalkan mereka.

"Saudara-saudaraku dari Banyubiru.... Baiklah aku memperkenalkan kawan seperjalananku satu persatu."

Kemudian sambil menunjuk, Mahesa Jenar meneruskan, "Ini, yang duduk di sebelahku adalah Rara Wilis, seorang gadis yang lebih senang menamakan dirinya Pudak Wangi, cucu seorang sakti bernama Pandan Alas. Di sampingnya adalah Endang Widuri, putri Kakang Kebo Kanigara yang duduk di sebelahnya. Dan yang seorang lagi adalah Bagus Handaka."

Semua mata mengikuti jari Mahesa Jenar. Namun ketika sampai orang yang terakhir, ia tidak menyebut nama Arya Salaka, anak-anak Banyubiru menjadi bertanya-tanya dalam hati.

Bahkan kemudian terdengar suara Penjawi, "Lalu bagaimanakah dengan Arya Salaka...?"

Tetapi seperti juga Jaladri, Penjawi memandang Arya Salaka yang disebut bernama Bagus Handaka itu tanpa berkedip. Sebab pada masa kanak-kanaknya, dengan Penjawi- lah Arya Salaka paling banyak bergaul.

Karena itu sedikit banyak ia masih dapat mengenal wajah itu, meskipun sudah jauh berbeda.

MAHESA JENAR tidak menjawab, ia hanya tertawa kecil. Dan karena itulah maka Penjawi tidak menunggu lebih lama lagi. Dengan cepatnya ia berjalan jongkok ke arah Arya Salaka dan dengan suara parau ia berkata hampir berteriak sambil memukul-mukul lengan Arya yang sudah menjadi sekeras baja itu. "Arya, alangkah mengagumkan kau. Benar-benar kau telah menjadi seekor banteng muda yang luar biasa kuatnya. Ah, alangkah malunya aku, yang semakin lama menjadi semakin kering."

Bersamaan dengan itu tiba-tiba, hampir meledaklah suara membahana, "Arya Salaka telah datang, Arya Salaka telah datang."

Kemudian tampaklah laskar Banyubiru itu berdesak-desakan di pintu pondok sehingga pintu itu seolah-olah akan mereka tumbangkan karena menghalang-halangi mereka yang ingin melihat kehadiran Arya Salaka diantara mereka. Semua yang menyaksikan peristiwa itu menjadi sangat terharu. Bahkan Rara Wilis sampai menekan dadanya karena tiba-tiba terasa sesuatu menyumbat kerongkongannya. Sedang Endang Widuri tiba-tiba menjadi sangat bangga. Ia tidak tahu kenapa perasaan itu begitu saja tumbuh di dalam dadanya, seolah-olah dirinyalah yang mendapat sambutan sedemikian hangatnya.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, meskipun tidak kalah terharu, namun mereka berdua telah dapat mengendalikan perasaan mereka, sehingga mereka tetap duduk dengan tenang.

Yang paling tidak dapat mengendalikan perasaannya adalah Wanamerta.

Dalam kesempatan itu, ia merasa bahwa seolah-olah ia telah sampai pada puncak kebahagiaan. Bahkan dengan serta merta terlontar kata-kata dari mulutnya, "Aku tidak keberatan seandainya sekarang juga aku mati, sebab aku telah menyaksikan angger Arya Salaka kembali kepada anak-anak Banyubiru yang setia kepada kebenaran atas hak pada tanah mereka."

Sedang Arya Salaka sendiri malah menjadi bingung. Ia biasa hidup seperti seekor burung yang bebas lepas di udara, yang seolah-olah tidak mempunyai suatu ikatan apapun. Ia tidak biasa menerima pujian dan sanjungan. Apalagi sikap memanjakan diri. Dan sekarang tiba-tiba terdengarlah teriakan-teriakan nyaring di dalam maupun di luar ruangan itu menyebut namanya. Memuji-mujinya dan bahkan ada diantaranya yang mengaguminya, seolah-olah dirinya menjadi seorang pahlawan yang baru memenangkan perang.

Karena itulah maka tubuhnya menjadi gemetar. Wajahnya bertambah lama bertambah pucat, dan keringat dingin telah memenuhi seluruh tubuhnya. Mahesa Jenar yang bijaksana dapat merasakan keadaan itu. Karena itu segera ia berkata keras-keras, untuk mengatasi segenap keriuhan itu.

"Saudara-saudara rakyat Banyubiru yang setia.... Atas nama Arya Salaka, aku ucapkan terima kasih atas sambutan kalian. Tetapi aku minta janganlah kalian menyambut kedatangannya dengan berlebih-lebihan. Sebab sikap yang demikian akan besar pengaruhnya, meskipun aku yakin akan keteguhan hati Arya Salaka, namun bersikaplah sewajarnya. Dengan demikian, segala sesuatu akan berlangsung dengan wajar pula. Tanpa berlebih-lebihan, tanpa pengaburan atas nilai yang sebenarnya. Dengan demikian saudara-saudara tidak akan mudah menjadi kecewa apabila ada hal-hal yang tidak seperti saudara harapkan."

Suara Mahesa Jenar itu ternyata dapat menenangkan suasana di dalam ruangan itu, namun di luar ruangan masih saja terjadi keributan dan teriakan-teriakan. Mereka agaknya tidak puas sebelum dapat memandang wajah anak kepala daerah mereka yang telah mereka anggap hilang itu. Karena itu mereka masih saja berusaha untuk dapat berdiri di pintu. Dengan demikian akhirnya Mahesa Jenar merasa perlu untuk menenangkan mereka dengan membawa Arya Salaka keluar.

Maka berkatalah ia kepada Bantaran dan Penjawi, "Biarlah Arya Salaka berdiri di depan pintu sebentar, agar mereka menjadi puas."

Bantaran dan Penjawi menyetujui, serta mempersilakan Arya Salaka untuk berdiri sebentar, menerima sambutan dari rakyat.

Maka berkatalah Mahesa Jenar kepada Arya Salaka, "Marilah kita berdiri di muka pintu itu sebentar Arya Salaka, dan berkatalah sepatah dua patah kata kepada rakyatmu."

Arya Salaka menjadi semakin gelisah. Ia lebih tenang pada saat ia berhadapan dengan Uling Kuning dan Uling Putih daripada waktu itu. Dengan tergagap ia menjawab, "Paman sajalah yang berbicara kepada mereka, atau Kakang Penjawi."

Mahesa Jenar tersenyum, katanya, "Mereka tidak akan mau mendengarkan siapa saja yang akan berbicara selain kau."

Keringat Arya Salaka semakin banyak mengalir. Tetapi ia tidak dapat membantah lagi ketika Mahesa Jenar kemudian berdiri dan menarik tangannya. Dengan jantung yang berdegupan Arya Salaka digandeng oleh Mahesa Jenar berjalan ke arah pintu diikuti oleh Penjawi, Bantaran, Kebo Kanigara, Rara Wilis dan Widuri.

Ketika Arya muncul di muka pintu, meledaklah tepuk tangan riuh, dibarengi dengan teriakan-teriakan yang menyebut-nyebut nama anak kepala daerah perdikan Banyubiru itu. Sedang Arya Salaka sendiri berdiri terpaku tanpa bergerak.

Terdengarlah kemudian Mahesa Jenar berbisik di telinganya, "Berbicaralah, Arya "

Arya menjadi semakin bingung. Maka bisiknya pula, "Apakah yang harus aku bicarakan?"

"Ucapkanlah pernyataan terima kasih kepada mereka dan katakan bahwa kau masih lelah sehingga kau perlu segera beristirahat. Karenanya pembicaraan yang agak panjang kau tunda sampai besok," jawab Mahesa Jenar berbisik-bisik.

Mula-mula Arya Salaka masih tetap gelisah menghadapi keadaan yang tidak disangka- sangkanya itu. Tetapi tiba-tiba dari jantungnya meledaklah perasaan tanggungjawabnya, didorong pula oleh darah kepemimpinan yang mengalir dalam tubuhnya.

ARYA SALAKA kemudian berhasil menguasai dirinya dan memperoleh keseimbangan. Sehingga dengan demikian ia menjadi agak tenang. Maka dicobanya untuk menyampaikan pernyataan terima kasih kepada rakyat yang menyambutnya itu. Namun bagaimanapun juga, suaranya masih terdengar gemetar.

"Saudara-saudaraku dari Banyubiru. Yang pertama-tama akan aku sampaikan kepada kalian, adalah pernyataan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutan kalian yang sama sekali tidak aku duga. Seterusnya, karena aku masih sangat lelah perkenankanlah aku beristirahat dahulu. Besok pembicaraanku akan aku perpanjang lagi."

Mahesa jenar tersenyum mendengar uraian Arya Salaka yang masih terasa bongkah- bongkah itu. Meskipun demikian kata-kata itu cukup untuk dapat menenangkan rakyatnya. Namun masih juga terdengar teriakan-teriakan yang meminta Arya untuk berbicara lebih banyak lagi.

Kemudian tampillah Bantaran, yang meminta kepada rakyat Banyubiru yang tetap teguh pada pendiriannya itu, untuk memberi kesempatan kepada Arya Salaka beristirahat.

"Nah saudara-saudaraku..." katanya, "Sekarang berilah kesempatan tamu-tamu kita beristirahat. Juga kalian dapat beristirahat sekarang, kecuali mereka yang bertugas. Sebab di hadapan kalian terbentanglah lautan yang penuh dengan badai dan taufan yang harus kalian renangi.

Siapa tahu, besok atau bahkan nanti, kalian harus sudah menerjuninya."

Dengan demikian maka anak-anak Banyubiru itu kemudian perlahan-lahan meninggalkan pintu barak dimana Arya Salaka masih berdiri bersama dengan kawan- kawan seperjalanannya. Namun kemudian Bantaran tidak mempersilakannya masuk kembali, tetapi mereka dipersilakan untuk pergi ke pondok yang lebih kecil, yang telah dipersiapkan untuk mereka.

Meskipun demikian, karena mereka sama sekali tidak menduga bahwa di dalam rombongan itu akan terdapat dua orang gadis, maka dengan tergesa-gesa mereka terpaksa menyiapkan tempat lain untuk keperluan itu. Demikianlah mereka kemudian dipersilakan beristirahat di tempat masing-masing.

Mantingan dan Wirasaba memerlukan mengunjungi Mahesa Jenar, meskipun hanya sebentar, untuk berkenalan lebih dekat lagi dengan Arya Salaka dan Kebo Kanigara. Setelah itu maka ditinggalkannya mereka bertiga, setelah dipersilakan mereka makan sekadarnya.

Sedang Wanamerta segera terjun ke dalam lingkungan anak-anak Banyubiru yang sudah lama terpisah dengannya, dan kemudian tidur bersama mereka. Malam itu rasanya berjalan demikian cepat. Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka segera tenggelam ke dalam mimpi. Demikian juga di dalam pondok yang lain. Rara Wilis dan Endang Widuri yang dikawani oleh Nyi Penjawi, segera tertidur pula.

Di luar pondok itu, tampaklah beberapa orang berjaga-jaga dengan cermatnya. Sebab dalam tanggapan mereka, keselamatan gadis-gadis itu sangat tergantung kepada penjagaan yang mereka lakukan. Ketika mereka terbangun pada pagi harinya, dan kemudian keluar dari pondok masing-masing, tampaklah betapa cerahnya matahari pagi.

Sinar-sinarnya yang menembus daun-daun pepohonan terpercik di atas tanah lembab, membuat gambaran-gambaran yang menyenangkan. Seolah-olah gambaran anak-anak yang dengan lincahnya berloncat-loncatan dengan penuh kegembiraan menyambut hari yang bakal datang. Sedang angin pagi mengalir lambat membawa udara sejuk segar.

Pada hari itu Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Arya Salaka diantar oleh Bantaran, Penjawi, Mantingan, Wirasaba dan Wanamerta melihat-lihat keadaan di sekitar barak- barak itu. Melihat persiapan-persiapan yang mereka lakukan. Dari mereka itulah Mahesa Jenar mengetahui bahwa sebagian besar rakyat Banyubiru tetap menanti kedatangan kepala daerah perdikan mereka. ternyata dengan bantuan yang mengalir tak henti- hentinya. Meskipun dengan bersembunyi-sembunyi mereka dapat mengirimkan makanan, pakaian dan senjata. Bahkan anak-anak Banyubiru telah mendapat perkakas yang cukup untuk membuka hutan.

Karena itulah rombongan itu bukan saja rombongan orang-orang yang menyingkirkan diri, namun mereka termasuk perintis-perintis pula dalam perluasan daerah pertanian Banyubiru. Sebab disamping mempersiapkan diri mereka untuk datang kembali ke Banyubiru, mereka ternyata telah membuka hutan dan membuat tanah pertanian.

Pada hari-hari berikutnya, Mahesa Jenar, Arya Salaka dan kawan-kawannya sempat melihat kesiapsiagaan anak-anak Banyubiru itu. Mereka mendapat kesempatan untuk melihat anak-anak Banyubiru itu berlatih.

Mula-mula Mahesa Jenar menjadi heran melihat kemajuan yang pesat dibandingkan masa-masa Banyubiru beberapa tahun yang lalu. Justru setelah mereka didorong ke tengah-tengah hutan. Tetapi keheranan itu kemudian lenyap ketika ia melihat Mantingan dan Wirasaba berada diantara mereka. Agaknya kedua orang itu, disamping Penjawi dan Bantaran, yang telah bekerja mati-matian untuk melatih anak-anak Banyubiru itu.

Melihat tingkat pengetahuan laskar Banyubiru itu, Arya Salaka pun berbangga pula. Ternyata bahwa mereka lebih maju daripada laskar Gedangan. Sebaliknya, apa yang diduga Bantaran sebelumnya ternyata benar-benar terjadi. Dengan kehadiran Arya Salaka, laskar Banyubiru merasa mendapat suatu karunia yang tiada taranya. Mereka menjadi semakin teguh pada tekadnya. Kembali ke Banyubiru.

Tetapi meskipun demikian Bantaran, Penjawi dan beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru itu masih tetap bimbang. Bukan karena meragukan kesetiaan laskarnya, yang menurut penilaiannya telah menyerahkan diri mereka bulat-bulat sampai tetes darah terakhir. Tetapi sebagai seorang pemimpin, mereka berkewajiban menilai kekuatan mereka sendiri untuk diperbandingkan dengan kekuatan lawan mereka.

MEREKA harus tidak menutup mata terhadap kenyataan yang ada. Mereka harus memperhitungkan bahwa laskar Pamingit yang bergabung dengan sebagian orang-orang Banyubiru yang tidak setia terdapatlah nama-nama besar seperti Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti. Disamping itu Bantaran dan kawan-kawannya selalu meragukan apakah kira-kira yang akan dilakukan Ki Ageng Sora Dipayana apabila benar-benar terjadi bentrokan antara dua kekuatan itu. Di pihaknya, ia yakin bahwa Kebo Kanigara dapat diketengahkan. Bantaran pernah melihat sendiri, paman guru Mahesa Jenar itu berhasil menyelamatkan diri setelah bertempur melawan sepuluh orang pengawal Lembu Sora. Tetapi bila Ki Ageng Sora Dipayana melibatkan diri dalam perselisihan itu, apakah Kebo Kanigara dapat mengimbanginya?

Kemudian Bantaran harus menilai Mahesa Jenar pula. Dahulu, sepengetahuannya, Mahesa Jenar memiliki ilmu setingkat dengan Gajah Sora. Ki Ageng Gajah Sora sendiri pernah mengatakan. Tetapi sekarang Ki Ageng lembu Sora pesat sekali maju. Ia mendapat tuntunan yang tiada henti-hentinya dari Ki Ageng Sora Dipayana, sehingga Lembu Sora sekarang telah melampaui kakaknya, Gajah Sora. Sedang Mahesa Jenar, apakah yang diperolehnya selama ini, meskipun berada di lingkungan paman gurunya?

Apalagi kemudian pimpinan laskar Banyubiru harus memperhitungkan pula Arya Salaka, yang mau tidak mau akan berhadapan kepentingan dengan Sawung Sariti. Apa yang mereka lihat sekarang, Sawung Sariti benar-benar telah menjadi seorang pemuda yang luar biasa. 

Ia dengan beraninya menghadapi lawan-lawannya sebagai seekor ayam jantan di arena pertarungan. Selain itu ia dapat bergerak dengan sangat lincahnya seperti seekor burung sariti di udara. Apalagi ia pun telah mendapat tempaan dari kakeknya. sehingga anak muda itu benar-benar memiliki ilmu yang menakutkan.

Meskipun dari Wanamerta, Bantaran telah mendengar apa yang pernah terjadi antara Arya Salaka dan Sawung Sariti, namun ia menganggap bahwa Sawung Sariti kemudian telah lebih maju lagi dengan pesatnya, disamping dugaan-dugaan bahwa Wanamerta agak terlalu bangga terhadap Arya Salaka. Dalam pada itu pimpinan laskar Banyubiru itu tidak mengada-ada. Namun sebagai pemimpin ia harus bertindak hati-hati. Meskipun demikian ia tidak sampai hati untuk mengatakannya kepada Mahesa Jenar yang kemudian diharap akan dapat memimpin laskar Banyubiru.

Yang dapat mereka lakukan kemudian hanyalah sebuah pernyataan untuk meminta Mahesa Jenar memimpin laskar Banyubiru. Sebab mau tidak mau mereka harus mengakui bahwa Mahesa Jenar kecuali memiliki ilmu yang lebih tinggi daripada setiap orang yang ada, mereka juga mengetahui bahwa Mahesa Jenar adalah bekas seorang perwira prajurit Demak. Tentu saja Mahesa Jenar tidak menolak. Bahkan ia merasa mendapat jalan untuk menentukan cara laskar Banyubiru berbuat. Ia ingin membuat laskar Banyubiru laskar yang kecuali baik dalam tata cara bertempur, juga harus merupakan laskar yang baik dalam bertindak. Di dalam atau di luar lingkaran pertempuran.

Maka sejak saat itulah Mahesa Jenar mengambil pimpinan dari tangan Bantaran dan Penjawi. Dan sejak itu pula Mahesa Jenar menyelenggarakan latihan yang lebih teratur untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang terjadi.

Demikianlah, akhirnya Mahesa Jenar sampai pada suatu saat dimana ia menganggap bahwa waktunya telah tiba untuk berbuat sesuatu ke arah penyelesaian masalah Banyubiru. Karena itulah maka segera mengadakan persiapan-persiapan terakhir.

Dalam pada itu adalah diluar dugaan sama sekali, ketika tiba-tiba datanglah seorang yang ditugaskan untuk tinggal di Banyubiru, yang mengabarkan bahwa Banyubiru, sebuah desas-desus yang tersebar luas mengatakan bahwa keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten kini berada di Banyubiru.

Mahesa Jenar terkejut mendengar khabar itu. Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten jelas berada di tangan Panembahan Ismaya. Tetapi kenapa tiba-tiba orang mendesas-desuskan bahwa keris itu berada di Banyubiru...?

Mula-mula kepada orang yang membawa khabar itu Mahesa Jenar menanyakan, kira- kira dari manakah sumber berita itu. Tetapi orang itu pun sama sekali tidak mengetahui. Namun ia dapat mengatakan bahwa karena itulah maka di Banyubiru timbul kegelisahan. Sebab adanya desas-desus itu akan banyak akibat yang dapat terjadi. Karena itulah Mahesa Jenar merasa bahwa ia telah didesak oleh keadaan untuk bertindak lebih cepat. Ia masih teringat jelas bahwa golongan hitam pun sangat memerlukan keris-keris itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak percaya, bahwa kedua keris itu dengan tiba-tiba saja berada di Banyubiru, sebab ia yakin bahwa tak seorang pun yang dikenalnya, dapat melampaui segala macam ilmu yang dimiliki

Panembahan Ismaya. Seandainya dua-tiga orang sakti sekalipun yang datang ke Bukit Karang Tumaritis, pasti orang-orang itu tidak akan berhasil mendapatkan Kyai Nagasasra dan Kyai sabuk Inten, apalagi orang-orang Banyubiru. Biarpun mereka datang bersama- sama. Ki Ageng Sora Dipayana, Ki Ageng lembu Sora dan Sawung Sariti beserta seluruh laskarnya. Karena itu ia akhirnya sampai suatu kesimpulan bahwa di belakang desas- desus itu pasti tersembunyi suatu maksud.

SETELAH Mahesa Jenar berunding dengan Kebo Kanigara, ia memutuskan untuk segera membawa Arya Salaka ke Banyubiru. Sudah barang tentu Mahesa Jenar bertindak menurut caranya, yang merupakan pancaran dari wataknya. Ia tidak segera membawa pasukannya ke Banyubiru sekaligus dalam persiapan tempur dengan mempergunakan gelar perang, tetapi ia mengharap bahwa segala sesuatu dapat diselesaikan menurut cara yang baik.

Mula-mula Bantaran, Penjawi, bahkan Wanamerta heran melihat kelunakan sikap Mahesa Jenar itu. Bahkan mereka menduga bahwa di dalam hati Mahesa Jenar meragukan kekuatan laskarnya. Karena itulah maka mereka mengajukan pertimbangan lain. Mereka mendesak agar Mahesa Jenar memaksa dengan kekuatan untuk mengusir Lembu Sora dari Banyubiru. Sebab mereka tidak melihat cara lain yang dapat dipergunakan selain cara itu. Mahesa Jenar memahami sepenuhnya perasaan yang bergolak di dalam dada Bantaran, Penjawi dan anak-anak Banyubiru, yang terpaksa menyingkir dari kampung halaman mereka sendiri. Mereka telah mengalami tekanan lahir batin. Kepahitan yang selama ini harus mereka telan, telah menyebabkan mereka menjadi dendam. Apalagi mereka merasa bahwa mereka telah melakukan tindakan kebenaran. Mempertahankan hak atas tanah mereka.

Mereka dikejar-kejar, dimusuhi, ditangkap dan segala macam usaha yang lain untuk menakut-nakuti agar mereka melepaskan kesetiaan mereka kepada tanah mereka. Tetapi ternyata lebih baik bagi mereka menyingkirkan diri, meninggalkan kampung halaman, untuk tetap mempertahankan pendirian mereka.

Mempertahankan kesetiaan mereka terhadap tanah pusaka mereka, terhadap tanah tercinta.

Karena itu Mahesa Jenar harus bersikap hati-hati terhadap mereka. Ia tidak dapat demikian saja memaksa mereka untuk melepaskan dendam mereka. Tetapi ia harus berusaha menumbuhkan dari dalam diri mereka masing-masing, pengertian tentang apa yang akan mereka lakukan.

Dengan penuh kebijaksanaan berkatalah Mahesa Jenar kepada Bantaran, Penjawi beserta para pemimpin laskar Banyubiru, "Saudara-saudaraku... kalau kalian gagal untuk menginjakkan kaki kalian beserta Arya Salaka kembali ke Banyubiru, akulah orang yang pertama-tama akan menyatakan penyesalan yang sedalam-dalamnya. Dan akulah orangnya yang akan menerjunkan diri, mengorbankan segala yang ada padaku untuk kepentingan kalian. Sebab aku telah menerima penyerahan dari kakang Gajah Sora atas putranya, Arya Salaka, beserta segala kelengkapan atas dirinya. Diantaranya kedudukan kepala daerah perdikan Banyubiru. Karena itu percayalah bahwa aku akan bekerja keras untuk melaksanakan pekerjaan itu."

Setelah menarik nafas sejenak, Mahesa Jenar meneruskan, "Tetapi berilah aku kesempatan menyelesaikan menurut cara yang akan aku tempuh. Pertama-tama aku akan berusaha untuk menempuh jalan yang sebaik-baiknya. Lembu Sora adalah adik Gajah Sora. Aku masih ingin melihat bahwa masih ada hubungan dari mereka berdua. Hubungan yang sangat dekat. Mereka dialiri darah dari sumber yang sama. Apabila cara ini tidak berhasil, barulah aku akan mempergunakan cara lain. Membawa kalian serta. Tetapi ingat, bahwa apa yang kalian lakukan bukanlah pembalasan dendam. Yang akan kalian lakukan adalah mengambil hak kalian kembali. Hak atas tanah kalian dan hak atas pimpinan daerah kalian. Karena itu maka yang harus kalian lakukan adalah sesuai dengan tujuan itu. Jangan ada diantara kalian yang mempergunakan kesempatan ini untuk kepentingan diri sendiri. Melepaskan dendam pribadi kepada orang-orang yang sama sekali tidak ada sangkut-pautnya dengan perjuangan kalian mengambil kembali kampung halaman kalian. Kesetiaan kalian."

Selanjutnya Mahesa Jenar mengatakan, "Aku percaya bahwa kalian akan dapat menunjukkan kebesaran jiwa kalian, yang dengan demikian akan menunjukkan pula perbedaan antara kalian dengan orang-orang yang berjiwa kerdil, yang hanya mengenal kepentingan diri daripada kepentingan bersama. Dengan demikian pekerjaan kalian hanya terbatas sampai hak atas tanah perdikan itu kembali. Seterusnya kalian tidak perlu berbuat apa-apa lagi, yang barangkali malah akan menyuramkan nama kalian. Yang harus kalian ingat pula, bahwa kecuali kalian dan orang-orang Pamingit itu masih ada orang-orang yang termasuk di dalam barisan golongan hitam.

Tidak mustahil kalau mereka akan mengambil setiap kesempatan, mengail di air keruh. Kalau kalian kemudian terlibat dalam permusuhan yang berlarut-larut, maka dengan senangnya mereka akan datang dan membangun istana kemenangan dia atas bangkai- bangkai kalian tanpa bersusah-payah lagi."

Bantaran, Penjawi, Wanamerta beserta para pemimpin laskar Banyubiru menundukkan kepala mereka. Mereka mengerti sepenuhnya apa yang baru saja didengarnya. Di dalam hati mereka terbersitlah pengakuan atas kebenaran kata-kata itu.

Tiba-tiba mereka menjadi sadar bahwa orang-orang Pamingit, lebih-lebih orang Banyubiru itu sendiri, adalah saudara-saudara mereka. Ada diantara mereka yang berkakak, beradik, berkemenakan dan bersepupu dengan orang-orang Pamingit.

Kemudian terdengarlah Mahesa Jenar meneruskan, "Saudara-saudaraku... kalian harus dapat menempatkan diri kalian dalam tindakan kalian kali ini. Sekali lagi aku ingatkan, marilah kita ambil hak kita, milik kita sendiri. Selebihnya tidak. Apalagi apa yang dinamakan pembalasan dendam."

Pemimpin-pemimpin Banyubiru itu masih tetap berdiam diri, namun tanpa mereka sadari, mereka telah mengangguk-anggukkan kepala mereka sebagai suatu pernyataan setuju atas segala uraian Mahesa Jenar. Sehingga kemudian Mahesa Jenar megakhiri pertemuan itu. Dengan minta doa restu kepada segenap laskar Banyubiru, ia minta diri untuk pergi ke Banyubiru. Beberapa orang dimintanya ikut serta untuk menyaksikan apa yang akan mereka bicarakan. Diantaranya adalah Wanamerta, Bantaran, Penjawi, dan Kebo Kanigara.

Kali ini Mahesa Jenar menganggap belum waktunya membawa serta Arya Salaka. Rombongan ini tidak lebih daripada sebuah rombongan utusan dari Arya Salaka selaku orang yang berhak atas daerah perdikan Banyubiru, mengadakan pembicaraan pendahuluan mengenai hari kemudian Banyubiru.

MAHESA JENAR masih menyangsikan apakah keselamatan Arya Salaka tidak terancam bila ia dibawanya serta bersama-sama dengan rombongan itu. Sebab ia masih belum dapat menggambarkan bagaimanakah tanggapan Lembu Sora, terutama Ki Ageng Sora Dipayana atas kehadiran Arya Salaka.

Demikianlah rombongan utusan itu dilepas dengan debaran hati segenap laskar Banyubiru yang terpaksa menyingkir ke daerah Candi Gedong Sanga. Meskipun ada diantara mereka yang meragukan keberhasilan pembicaraan mereka, namun cara itu merupakan cara yang terhormat sebelum cara-cara yang lain harus ditempuh.

Arya Salaka sendiri sangat kecewa ketika Mahesa Jenar memintanya untuk tinggal di Candi Gedong Sanga. Sebenarnya ia ingin sekali untuk segera dapat melihat Banyubiru. Tanah tempat ia dilahirkan, tempat ia menerima kasih sayang ayah bunda.

Ketika rombongan Mahesa Jenar lenyap di balik batang-batang liar di daerah hutan itu, tiba-tiba terasalah hatinya seperti tergores oleh sembilu. Tiba-tiba ia teringat kepada ayah dan bundanya. Kepada ayahnya yang terpaksa terpisah darinya karena pokal pamannya. Demikian juga ibunya. Terbayanglah di dalam otaknya, apakah yang kira-kira terjadi atas ibunya selama ini.

Selama ia tidak pernah mencium pipinya seperti pada masa kanak-kanaknya.

Karena itulah tiba-tiba hatinya meronta. Kenapa ia tidak berlari menyusul rombongan itu.

Tetapi dalam pada itu terasalah tangan halus menyentuh pundaknya. Ketika ia menoleh, dilihatnya Rara Wilis berdiri di belakangnya. Arya Salaka mengetahui hubungan apakah yang terjalin antara gadis itu dengan gurunya. Karena itu ia menghormati Rara Wilis seperti ia menghormati gurunya. Dengan demikian ia tidak membantah ketika Rara Wilis mengajaknya dengan penuh pengertian untuk kembali ke dalam pondoknya.

Sebagai seorang gadis, hati Rara Wilis mulai tersentuh. Demikian juga ketika ia melihat betapa kecewa hati Arya Salaka, karena ia tidak diperkenankan ikut serta bersama gurunya. Hatinya menjadi iba.

"Jangan berduka, Arya..." nasihat Rara Wilis, "Besok atau lusa kau akan pergi juga ke sana. Kalau saat ini pamanmu tidak membawamu adalah semata-mata karena pertimbangan keselamatanmu."

Arya menundukkan mukanya. Ia tahu benar alasan itu, tetapi perasaannya amatlah susah dikendalikan. Karena Rara Wilis bagi Arya tidak ubahnya dengan gurunya, dan orang tuanya sendiri.

Maka kepadanya Arya Salaka pun berkata terus terang, "Bibi, aku dapat mengerti sepenuhnya kenapa Paman tidak membawa aku serta. Tetapi tiba-tiba saja perasaan rinduku kepada tanah kelahiran itu tak dapat aku kendalikan lagi. Lebih dari itu, betapa rinduku kepada Bunda, yang sejak lima tahun lalu tak pernah aku dengar khabar beritanya."

Dalam pada itu, betapa Arya Salaka berusaha sekeras-kerasnya, namun di kedua belah matanya mengembanglah air matanya yang bening, sebening hatinya.

Mendengar pernyataan Arya Salaka, Rara Wilis terdiam. Bahkan tiba-tiba iapun teringat kepada ibunya. Ibunya yang sudah tidak akan dapat dijumpainya lagi. Maka iapun menjadi berduka pula. Namun demikian ia masih mencoba untuk menghibur hati Arya.

"Arya... meskipun tertunda beberapa waktu namun kau akhirnya akan dapat bertemu dengan bunda tersayang. Tetapi tidaklah demikian dengan aku, Arya. Kau masih harus mengucapkan terimakasih, bahwa kau masih menyimpan harapan di dalam dadamu. Sedang aku, sama sekali harapan itu telah padam sejak lama. Aku tidak akan bertemu lagi, sekarang, besok, lusa atau kapanpun dengan ayah bundaku."

Kemudian keduanya terdiam. Masing-masing hanyut ke dalam dunia angan-angan. Kepada kerinduan yang menyentuh-nyentuh perasaan masing-masing. Sehingga ruangan itu kemudian menjadi hening sepi.

Tetapi keheningan itu tiba-tiba dikejutkan oleh suara Endang Widuri yang berlari-lari masuk.

Katanya berderai dengan penuh kegembiraan. "Bibi... alangkah banyaknya bunga anggrek di hutan ini."

Wilis tersadar dari angan-angannya. Dengan tersenyum kecil yang dipaksakan ia menjawab, "Adakah kau mendapatkannya, Widuri...?"

"Inilah, Bibi..." sahut Widuri sambil menyerahkan setangkai bunga anggrek yang berbentuk seekor kala.

"Dari manakah kau dapatkan bunga ini?" tanya Wilis. "Di lembah sebelah itu, Bibi..." jawab Widuri.

Rara Wilis menarik nafas. Lembah di sebelah adalah lembah yang terjal dan berbahaya. Agaknya Widuri memang anak yang benar-benar nakal.

Katanya kemudian, "Jangan bermain-main di tempat yang berbahaya, Widuri. Di sana banyak ular-ular berbisa. Mungkin juga ada harimau yang buas."

"Tidak Bibi," sahut Widuri dengan nakalnya. "Tidak ada ular dan tidak ada harimau yang mengganggu. Tetapi tadi memang ada orang yang mencoba menangkap aku."

Rara Wilis dan Arya Salaka terkejut seperti disengat kala.

Dengan penuh perhatian Rara Wilis bertanya, "Ada orang yang akan menangkap kau...?"

Widuri mengangguk seenaknya, seolah-olah peristiwa itu sama sekali tidak penting baginya.

"Tahukah kau sebabnya...?" tanya Rara Wilis. "Entah," jawab Widuri. "Mungkin orang itulah yang menanam anggrek ini."

"Mustahil," sahut Arya Salaka. "Anggrek yang tumbuh di lembah itu tak seorangpun yang menanamnya."

Widuri kemudian menjadi heran. Katanya, "Lalu kenapa ia akan menangkap aku?"

"Itulah yang ingin kami ketahui," sela Rara Wilis. "Apakah katanya padamu mula- mula...?"

Widuri mengingat-ingat sebentar, lalu jawabnya, "Ia bertanya, kenapa aku berada di lembah itu."

"Bagaimana kau menjawab?" selidik Arya.

ENDANG WIDURI menjadi jengkel pada pertanyaan-pertanyaan itu. Tetapi ia menjawab pula, ”Aku katakan kepadanya, bahwa aku ingin bunga anggrek ini.”

”Tidakkah ia bertanya tentang kau...?” tanya Wilis pula. Karena pertanyaan-pertanyaan itu agaknya masih panjang, Widuri kemudian menjatuhkan dirinya di samping Rara Wilis. Dan dengan malasnya ia menjawab panjang, sebab ia tahu bahwa kemudian pertanyaan-pertanyaan masih akan mengalir seperti banjir. Katanya, ”Ya, ia bertanya tentang aku. Ia bertanya siapakah namaku dan dari manakah aku datang. Aku datang bersama siapa dan untuk apa.”

Ketika Arya akan mengajukan pertanyaan lagi, Widuri sudah mendahului, ”Aku jawab semuanya. Aku bernama Endang Widuri. Aku datang dari Karang Tumaritis. Aku datang bersama sahabatku yang bernama Arya Salaka putra kepala daerah perdikan Banyubiru, yang datang untuk mengambil haknya kembali dari tangan pamannya yang jahat.” ”Kau katakan itu semua?” sela Wilis dengan cemas.

”Ya, aku katakan semua itu. Aku katakan bahwa bersama-sama dengan kami datang pula ayah, Kebo Kanigara, Mahesa Jenar yang perkasa bersama Bibi Rara Wilis yang cantik.”

”Ssst...” potong Rara Wilis. ”Jangan nakal,” bisiknya.

Mau tidak mau ia harus tersenyum. Namun berita itu bagi Arya Salaka dan Rara Wilis merupakan berita yang cukup penting. Karena itu ia ingin kelanjutan cerita Widuri, meskipun ia tidak sabar mendengar cara Widuri berkisah.

”Lalu, apakah yang dilakukannya?” tanya Arya Salaka.

”Orang itu tiba-tiba menjadi sangat menakutkan. Matanya terbelalak dan dengan marah ia memaksa aku untuk ikut serta bersamanya,” jawab Widuri. Wilis menarik nafas sekali lagi. Pasti ada hal-hal yang sama sekali tidak pada tempatnya. ”Apakah orang itu bukan orang diantara kita di sini?” tanya Wilis.

Mendengar pertanyaan Rara Wilis, Endang Widuri tertawa, lalu jawabnya, ”Pasti bukan, Bibi. Kalau orang itu salah seorang diantara kita pasti ia tidak akan bertanya tentang aku.”

Sekali lagi Rara Wilis terpaksa tersenyum. Katanya, ”Maksudku adalah untuk menguatkan dugaanku bahwa orang itu pasti mempunyai kepentingan yang rahasia terhadap kita di sini. Terhadap seluruh kekuatan anak-anak Banyubiru.”

Endang Widuri mengerutkan keningnya. Agaknya baru sekarang ia sadar bahwa apa yang dilakukan oleh orang itu adalah jauh lebih berbahaya daripada seorang pemilik anggrek yang kehilangan bunganya. Karena itu tiba-tiba ia bercerita dengan penuh minat.

”Bibi, memang agaknya orang itu sangat aneh. Ketika ia marah kepadaku, aku minta maaf bahwa aku memetik bunganya sebelum aku minta izin kepadanya. tetapi agaknya ia sama sekali tidak memperhatikan.”

Endang Widuri berhenti sejenak untuk mengingat apa yang baru saja terjadi. Kemudian ia meneruskan, ”Bahkan kemudian ia berusaha untuk menangkap aku. Tentu saja aku tidak mau. Maka ketika ia memaksa, aku terpaksa melawannya.”

Kemudian tiba-tiba Endang Widuri tegak berdiri. Sambil menirukan beberapa gerak yang lincah, ia bercerita tentang perkelahiannya. Widuri sebenarnya seorang gadis yang memiliki ilmu tata beladiri jauh lebih dewasa dari sifat-sifatnya yang kekanak-kanakan. Dalam persoalan tata beladiri, Widuri telah dapat disejajarkan dengan tokoh-tokoh yang cukup mempunyai nama cemerlang. Tetapi karena ia tidak pernah meninggalkan padepokan, maka hampir tak seorang pun yang mengenalnya. Ditambah lagi dengan sifatnya sebagai gadis tanggung yang selalu dimanja oleh ayahnya. Dengan demikian perkelahian yang baru saja terjadi itu pun baginya seolah-olah hanya permainan yang tidak menyenangkan.

”Tetapi ternyata orang itu hanya besar kepala saja. Tenaganya tidak lebih dari seekor kelinci. Meskipun demikian, karena aku tidak bersedia untuk berkelahi, maka aku mengenakan kain panjang ini. Dan ketika aku lupa, dan menyerangnya dengan kaki, kainku jadi sobek karenanya,” kata Endang Widuri mengakhiri ceritanya. Lalu dengan bersungut-sungut ia menunjukkan kain panjangnya yang sobek lebih dari dua cengkang di bagian belakang.

Endang Widuri kemudian duduk kembali di samping Rara Wilis. sedang Arya Salaka dan Rara Wilis terpaksa menggelengkan kepala. Kemudian bertanyalah Arya Salaka, ”Kau apakan kemudian orang itu...?”

”Ia kemudian melarikan diri, dan lenyap di dalam gerumbul-gerumbul liar di lembah itu,” jawab Endang Widuri.

Berita itu bagi Rara Wilis dan Arya Salaka sangat penting artinya. Karena itu kemudian Arya minta diri untuk menemui Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang selama Mahesa Jenar bersama-sama beberapa orang pergi ke Banyubiru, merekalah yang diserahi pimpinan atas anak-anak Banyubiru.

”Berita itu sangat penting, Angger,” kata Mantingan setelah dengan seksama mendengarkan cerita Arya Salaka tentang Endang Widuri.

”Bagaimana mungkin penjagaan kita yang kuat dapat diterobos, kalau bukan oleh orang yang cukup tangguh. Meskipun demikian aku heran juga, bahwa Endang Widuri dapat mengalahkannya,” lanjut Mantingan.

Tiba-tiba Arya Salaka menjadi bangga atas pujian itu. Pujian untuk Endang Widuri. Karena itu tanpa dikehendakinya sendiri ia telah ikut serta memuji gadis tanggung itu.

Mantingan mengangguk-anggukkan kepalanya. ”Pantaslah kalau ia putri Kakang Kebo Kanigara. Apalagi selama ini Endang Widuri berada dalam lingkungan yang menguntungkan. Bersama-sama dengan Angger, gadis itu merupakan pasangan berlatih yang mengagumkan,” gumamnya kepada Arya Salaka.

Terasa wajah Arya Salaka menjadi panas. Maka berusahalah ia menjawab, ”Apakah Paman pernah melihat aku atau Widuri berlatih?”

MANTINGAN tertawa lirih. Umurnya yang telah menjangkau lebih dari setengah abad itu telah menjadikannya orang yang cukup mengenal perasaan seseorang. Apalagi berhubungan dengan pekerjaannya sebagai seorang dalang. Karena itu ia tidak melanjutkan gurauannya. Apalagi persoalan yang dihadapinya cukup penting. Sehingga segera ia kembali pada persoalan berita yang dibawa oleh Endang Widuri.

”Apakah yang sebaiknya kami lakukan?” Mantingan mencoba untuk mendapat pertimbangan dari Wirasaba, Arya Salaka dan Jaladri. Sesudah berpikir sejenak, berkatalah Wirasaba, ”Satu hal yang patut menjadi pertimbangan adalah, orang itu telah mengetahui bahwa di sini ada Adi Mahesa Jenar, Kakang Kebo Kanigara, Angger Arya Salaka, dan yang dikenalnya langsung adalah Angger Widuri sendiri. Orang itu pasti akan mengatakan bahwa di sini ada seorang gadis kecil yang sangat berbahaya. Kalau gadis itu telah dapat mengalahkannya, apalagi orang-orang yang bernama Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan Arya Salaka.”

Mantingan mengangguk membenarkan. Padahal Kebo Kanigara, Mahesa Jenar dan beberapa orang lain sedang berada di perjalanan ke Banyubiru.

”Kalau demikian...” sambung Jaladri, ”Tempat kita ini berada dalam bahaya. Kalau mereka mengetahui bahwa orang-orang yang bernama Kebo Kanigara dan Mahesa Jenar sedang berada di perjalanan, mungkin sekali mereka akan mempergunakan kesempatan itu. Mencegat mereka atau menyerang tempat ini.”

”Baiklah adi Jaladri,” sahut Mantingan. ”Apakah jeleknya kalau kita berhati-hati. Siapkan orang-orangmu dan perkuatlah penjagaan di sekitar tempat ini. Mungkin ada sesuatu yang tidak kita harapkan bisa terjadi.”

Jaladri segera melaksanakan tugas itu. Dipanggilnya beberapa orang pemimpin laskar Banyubiru dan diberinya mereka petunjuk-petunjuk. Mereka sejak saat itu harus sudah siaga tempur. Setiap saat bahaya dapat datang.

Maka sibuklah daerah perkemahan itu dengan berbagai persiapan. Beberapa orang menyiapkan perlengkapan-perlengkapan, beberapa orang lagi mengasah senjata-senjata mereka. Dengan demikian maka perkemahan itu diliputi oleh suasana yang tegang.

Ketika kemudian malam turun perlahan-lahan, seolah-olah tersembul dari hutan di sekitar perkemahan itu, anak-anak Banyubiru menjadi semakin siaga. Penjagaan mereka menjadi semakin rapat. Apalagi penjagaan atas pondok Rara Wilis dan Widuri. Sebab mereka mengira bahwa kedua gadis itu sangat memerlukan penjagaan. Kecuali Mantingan, Wirasaba dan Jaladri, yang kecuali sudah mendengar berita perkelahian antara Widuri dan orang yang mengandung rahasia itu, sebenarnya dari gerak-gerik kedua gadis itu mereka sudah menduga bahwa mereka bukanlah gadis seperti kebanyakan gadis-gadis yang lain.