Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 32

Jilid 32

MAHESA JENAR, Kanigara dan kedua murid orang tua itu mengangguk-anggukkan kepalanya. Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Ketika aku sudah tidak mendapat kesempatan lagi untuk membersihkan namaku, maka aku menjadi sangat malu. Aku merasa bahwa wajahku tak patut lagi berada ditengah- tengah para satria Demak. Karena itulah maka akhirnya aku memutuskan untuk mengundurkan diri dari padanya. Mengasingkan diri di tempat yang jauh, akhirnya aku menemukan suatu lembah yang pantas bagi tempat pengasinganku. Di lembah itulah akhirnya aku bertapa. Mencoba untuk mendapat imbangan dari segala perasaan yang menekan dadaku. Kalau kadang-kadang aku ingin melihat kesibukan manusia, aku datang ke desa-desa di sekitar lembah itu. Namun rasa-rasanya setiap orang muak memandang wajahku, sehingga akhirnya aku terpaksa mengenakan sebuah kedok. Demikianlah aku dengan prihatin hidup tidak sebagai manusia yang sewajarnya. Aku hidup benar-benar seperti seekor kelelawar. Yang muncul dalam saat-saat menusia tenggelam dalam mimpi. Bahkan akhirnya ada orang yang menyangka aku hantu. Hantu bertopeng dan berjubah abu-abu, namun demikian aku tetap percaya pada keadilan. Keadilan yang maha tinggi, yang terletak di tangan Allah Yang Maha Agung, aku yakin, bahwa meskipun pada saat- saat itu aku seolah-olah hilang dari percaturan manusia, namun aku yakin, bahwa pada suatu saat aku akan kembali. Kembali ditengah-tengah pergaulan hidup. Meskipun bukan Buntara, tetapi setidak-tidaknya cita-citaku, berlanjut dari hidupku akan berada di tengah- tengah manusia dalam keadaan yang baik, akhirnya saat itu tiba. Ketika aku melihat seorang pemuda dalam perjalananku yang memang sering aku lakukan, beserta seorang anak laki-laki yang memiliki wajah yang cerah, tiba-tiba aku merasa bahwa padanya aku dapat menumpangkan harapan. Padanya aku ingin ikut serta dengan menyerahkan tekad untuk kembali berada di tengah manusia. Karena itulah aku selalu membayanginya. Kalau bukan aku sendiri, aku menyuruh Kanigara untuk mengikutinya. Apalagi ketika aku melihat, bahwa orang muda itu memiliki keturunan ilmu yang sama dengan Kanigara, demikianlah akhirnya aku berhasil membawa Mahesa Jenar ke bukit kecil yang aku namakan Karang Tumaritis beserta muridnya Arya Salaka. Aku ingin memberinya bekal-bekal dalam usahanya menjelang hari-harinya yang akan datang. Tidak saja Nagasasra dan Sabuk Inten, tetapi juga berbagai macam ilmu sekadarnya, Tetapi agaknya otaknya terlalu jernih. Sehingga bersama-sama dengan Kanigara ia justru memaksa aku untuk mempercepat membuka diri. Untunglah bahwa segala sesuatunya bagiku sudah terasa matang. Sehingga meskipun aku dipaksa untuk membuka diri, tidak banyaklah pengaruhnya bagi semua rencana-rencana yang sudah aku siapkan.

Yang mendengar ceritera itu seolah-olah terpaksa menahan napasnya. Ternyata bahwa Panembahan Ismaya telah lama membayangi Mahesa Jenar. Teringatlah Mahesa Jenar, pada saat ia hampir kehilangan akal, ia telah dicegat oleh laki-laki berjubah abu-abu itu untuk meluruskan kembali jalannya.

Juga di pantai Tegal Arang, seseorang telah mengingatkan tekadnya untuk menemukan Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Dan orang itu agaknya bukan Panembahan Ismaya, tetapi Kebo Kanigara, dimana ia sempat menuntun Arya Salaka dalam beberapa hari untuk menjadikan anak itu bertambah masak. Tetapi ternyata Kebo Kanigara sendiri tidak mengerti keseluruhan dari tugasnya.

Sementara itu Panembahan Ismaya meneruskan, ”Dalam jarak yang cukup panjang, diantara masa-masa aku melenyapkan diri dari istana, sampai saat terakhir ini, banyaklah pengalaman yang aku jumpai. Bahkan terlalu banyak. Di dalam hidupku muncullah orang-orang seperti Umbaran, yang mula-mula aku sangka orang yang berhati baik, namun akhirnya, ternyata bahwa ia telah menambah hidupku menjadi semakin buruk, Kemudian datanglah Radite dan Anggara. Kepadanya aku mula- mula menaruh harapan. Tetapi kembali Umbaran merusak jalan hidup mereka. Sehingga Radite akhirnya tergelincir dan mengalami masa-masa seperti yang pernah aku alami. Mengasingkan diri di Pudak Pungkuran ini. Untunglah bahwa ia menemukan ruang gerak yang dapat menolong kepahitan masa lampaunya. Juga kemudian aku jumpai Kanigara dengan gadis kecilnya. Aku bawa ia ke Karang Tumaritis. Tetapi agaknya ia lebih cinta pada anak gadisnya daripada masa depannya sendiri. Sehingga seolah-olah, seluruh hidupnya telah diserahkan buat hari kemudian anaknya, dan karena sifat kebapaan yang sedemikian dalamnya itulah, aku tidak sampai hati untuk memisahkannya dari anaknya, meskipun aku dapat menjamin masa depan anak itu. Karena itu, tugas yang aku bebankan padanyapun bukanlah tugas yang panjang-panjang. Sehingga ia akan selalu berada disamping gadis kecil yang sudah tak beribu lagi itu. Sehingga akhirnya aku dijumpai Mahesa Jenar beserta Arya Salaka. Meskipun dalam garis hubungan keluarga, ia tidak dekat Kanigara, namun karena ia berasal dari istana pula, maka aku mengharap agak banyak dari padanya. Mudah-mudahan Mahesa Jenar tidak akan menyia-nyiakan harapanku itu.”

Tiba-tiba Mahesa Jenar merasa, suatu beban yang sangat berat terpikul di atas pundaknya. Beban yang masih samar-samar. Apakah yang harus ia lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan tua itu. Karena itu ia sambil membungkukkan kepalanya, bertanya kepadanya,

”Panembahan, apakah agaknya yang harus aku lakukan untuk memenuhi harapan Panembahan itu?”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, katanya,

”Hampir setiap orang telah melupakan nama Buntara. Mereka yang sekali dua kali teringat nama itu, terutama bagi mereka yang telah lanjut usia, akan mencibirkan bibir mereka. Tetapi itu tidak penting. Sebagaimana tekadku sejak masa mudaku, bagiku yang penting adalah keselamatan negeri diatas segala-galanya. Demikianlah hendaknya kau Mahesa Jenar. Adalah suatu kebetulan bahwa aku dapat menyimpan pusaka-pusaka yang hilang itu, yang justru akan dapat membantu membina kesejahteraan negara, dengan menyerahkannya kepada orang yang tepat. Nah, Mahesa Jenar, pekerjaan yang aku harap dapat kau lakukan, adalah mengadakan penilaian atas kedua keturunan yang sudah aku katakan kepadamu, kelak. Tetapi itu tidak berarti bahwa kau hanya menjadi penonton saja, namun dalam saat-saat yang perlu, kau harus ikut pula.”

Dengan demikian segala sesuatu kini menjadi jelas, kenapa Panembahan Ismaya bernama Pasingsingan dan kenapa ia sangat menaruh perhatian atas tata pemerintahan Demak. SETELAH orang tua itu menarik nafas panjang, ia mulai lagi berkata,

”Mahesa Jenar, ternyata kau telah melakukan pekerjaan itu. Bahkan apabila kelak ada seorang pemimpin yang memiliki sifat-sifat kepemimpinan, disuyudi oleh para kawula serta berjiwa seperti jiwa lautan, karena memiliki Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, yang akibatnya akan membawa kesejahteraan bagi tanah tumpah darah ini, sebagian adalah karena perjuanganmu. Perjuangan yang telah kau lakukan sejak lama. Perjuangan yang tak dikenal oleh siapapun. Sebab perjuangan yang kau lakukan adalah perjuangan yang khusus. Tetapi aku percaya akan kebesaran jiwamu. Meskipun namamu kelak tidak akan dipahatkan di batu-batu ataupun tertulis di lontar-lontar kitab babad, namun kaulah hakekat dari kemenangan itu.”

Mendengar penjelasan itu, tiba-tiba bulu-bulu kuduk Mahesa Jenar meremang. Memang sejak semula ia sama sekali tidak bermimpi untuk mendapat tanda jasa di dadanya. Atau namanya digoreskan di pintu-pintu gerbang kota, serta di jalan-jalan raya. Yang diimpikan adalah kesejahteraan rakyat di bumi tercinta ini. Kesejahteraan lahir dan batin. Jasmaniah dan rohaniah.

Dalam pada itu, terdengar Panembahan Ismaya meneruskan,

”Karena itu Mahesa Jenar, sebagian besar dari pekerjaanmu itu sudah selesai. Kau tidak perlu lagi bersusah payah mencari Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, sebab kedua pusaka itu sudah di tanganku. Sementara itu, kau dapat menyelesaikan pekerjaanmu yang lain. Kau telah berjanji kepada sahabatmu Ki Ageng Gajah Sora untuk menuntun anaknya. Nah, lakukanlah itu baik-baik. Bawalah anak itu pada suatu tugas yang besar. Memperoleh kembali tanah pusaka baginya. Sementara itu biarlah aku berusaha mendapatkan kembali kebebasan Gajah Sora itu.”

Kemudian ruangan itu menjadi hening. Yang terdengar hanyalah tarikan nafas mereka yang duduk di dalamnya sambil mengurai gagasan masing-masing. Sehingga kemudian suasana itu dipecahkan oleh suara Panembahan Ismaya dalam nada yang jauh berbeda dari semula. Katanya,

”Nah, Paniling, Darba dan kedua kemanakannya. Aku sudah selesai berceritera. Sekarang berilah aku kesempatan untuk mengenal desamu yang sepi ini.”

Mendengar kata-kata itu Paniling seperti orang yang terbangun dari mimpi yang mengasyikkan. Dengan tergagap ia menjawab,

”Baik, baiklah Guru.”

”Jangan panggil aku Guru. Di sini aku adalah kakakmu,” potong Panembahan Ismaya. ”Namaku....” ia berhenti mengingat-ingat, lalu lanjutnya, ”Siapakah kau akan menyebut diriku kalau tetangga-tetanggamu bertanya namaku?”

Paniling tidak segera menjawab. Ia tidak tahu, nama apakah yang baik diterapkan pada orang yang menyebut dirinya kakaknya itu. Tiba-tiba Kebo Kanigara menyela, ”Among Raga.”

Panembahan Ismaya tertawa, jawabnya,

”Ah, seolah-olah aku hanya mementingkan masalah-mnasalah jasmaniah belaka. Tetapi nama itu baik. Memang kau pandai mencari nama. Baiklah aku pakai nama itu di sini, meskipun isi kata itu sendiri tidak begitu mapan bagiku.”

Kanigara sadar, bahwa memang nama itu tidak begitu menyenangkan, namun ia masih juga membela diri.

”Tetapi Panembahan, bukankah nama itu akan menjadi aling-aling dari keadaan Paman yang sesungguhnya. Bukankah di sini Panembahan ingin menampakkan diri dalam ujud jasmaniahnya saja, tetapi bukan dalam ujud keseluruhan.”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya, jawabnya, ”Baiklah, aku tidak keberatan.”

Demikianlah, untuk sehari-dua Panembahan Ismaya tinggal di rumah muridnya. Ia mencoba memenuhi harapan tetangga-tetangga Paniling, untuk sekali dua kali berkunjung ke rumah mereka berganti-ganti. Dengan penuh kesederhanaan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara bergaul dengan mereka.

Meskipun demikian, apabila malam datang, serta pondok di ujung padukuhan itu telah menutup pintunya, selalu terjadilah pembicaraan-pembicaraan yang jauh berbeda dengan setiap pembicaraan yang sederhana dengan para tetangga mereka. Tetapi di belakang pintu tertutup itu, Panembahan Ismaya selalu memberi kepada keempat orang yang terdekat dari padanya itu berbagai ilmu dan pengetahuan. Lahir dan batin. Bahkan diceriterakan pula bagaimana ia memiliki segala macam kesaktian. Memang sejak masa mudanya, ia selalu berusaha untuk mendapatkan berbagai macam ilmu.

Sebab dalam kekisruhan yang terjadi, pada akhir kejayaan Majapahit, ia selalu mengira bahwa dengan kekuatan jasmaniah kejayaan itu dapat dibina kembali.

Karena itulah ia mencoba untuk mendapatkan kekuatan-kekuatan itu. Setelah ia terpaksa meninggalkan lingkungan kesatriaan, usaha itu semakin diperdalam. Namun jiwanya telah berbeda. Ia ingin menemukan segala bentuk kekuatan untuk mencapai tujuan. Panembahan tua itu mengakui, bahwa mula-mula memang dikandung maksud untuk menunjukkan kebersihan dirinya dengan kekuatan. Ia ingin membuat hal yang aneh-aneh dengan memaksa orang untuk berlutut di hadapannya. Dan kepada orang-orang itu ia akan memaksakan kehendaknya. Meskipun dasar kehendak itu selalu baik dan bermanfaat bagi beberapa orang, namun cara-cara dan sifat kepahlawanan cengeng itu akhirnya tidak memberinya kepuasan. Dan akhirnya maksud-maksud itu sama sekali diurungkan. Bahkan semakin banyak ilmu yang dihirupnya, semakin jauhlah ia dari sifat-sifat itu.

Dan akhirnya malahan ia membawa dirinya dengan luka-luka di hati untuk mengasingkan diri di lembah yang jauh dari lingkungan manusia. Di situlah ia menerima Umbaran sebagai muridnya, tetapi orang itu kemudian dimintanya meninggalkan tempat itu.

BEBERAPA tahun kemudian datanglah Radite dan Anggara. Sehingga suatu saat, ia merasa bahwa ilmu-ilmu yang pernah dicapainya itu tak akan berarti apa-apa bagi manusia apabila tidak diamalkan. Dengan demikian ia mengharap Radite untuk mewakilinya dengan topeng dan jubah abu-abu. Dengan mempergunakan nama Pasingsingan, mulailah Radite mengamalkan ilmunya. Sedang Anggara untuk sementara dimintainya memelihara pertapaannya selama ia melenyapkan diri dari kedua muridnya untuk menyaksikan hasil pengamalannya dari jarak yang cukup jauh. Tetapi ia menjadi kecewa ketika Radite kemudian tergelincir.

”Bagimu Mahesa Jenar...” akhirnya Panembahan Ismaya minta, ”Jadikanlah semua itu bekal bagimu.”

Demikianlah yang mereka lakukan dari hari ke hari. Bergaul dengan para petani disiang hari, dan menambah bekal hidup mereka di malam hari. Sehingga akhirnya, ketika Panembahan Ismaya memandang segala sesuatunya telah cukup, maka setelah ia bermohon diri kepada para tetangga, pergilah ia meninggalkan padukuhan Pudak Pungkuran mendahului Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara, setelah ia berpesan kepada Radite.

”Radite, seseorang yang membiarkan kejahatan berlangsung tanpa berusaha untuk menghalang-halangi maka orang yang demikian itu dapat dianggap telah ikut membantu berlangsungnya kejahatan.”

Mula-mula Radite tidak mengerti maksud pesan itu. Tetapi beberapa waktu kemudian barulah ia sadar, bahwa ia sama sekali tidak berbuat sesuatu terhadap saudara seperguruannya yang terang-terangan telah melakukan berbagai kejahatan. Yaitu Umbaran. Karena itu, tiba-tiba ia merasa bahwa gurunya telah memaafkan segala kesalahannya, bahkan mempercayakan kepadanya, untuk menghentikan segala kejahatan yang selalu dilakukan oleh Umbaran dengan nama Pasingsingan. Hidup atau mati. Dengan demikian tiba-tiba beban yang selama ini menghimpit hatinya, seolah-olah berguguran, rontok tanpa bekas. Terasalah kemudian betapa ringan perasaannya kini. Dan dengan penuh tekad ia berjanji, bahwa ia akan melakukan pesan itu sebaik-baiknya.

Beberapa hari kemudian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara pun segera mohon diri pula, kembali ke Karang Tumaritis. Kebo Kanigara telah merasa sedemikian rindunya kepada putrinya yang ditinggalkannya beberapa hari, sedang Mahesa Jenar pun ingin segera menemui muridnya untuk mengajaknya memulai dengan suatu tugas yang berat, kembali ke Banyubiru.

Dalam perjalanan pulang, Mahesa Jenar dan kebo Kanigara memerlukan singgah sebentar di kota Banyubiru. Ketika malam turun perlahan-lahan di lereng-lereng bukit Telamaya, mereka berdua menambatkan kuda mereka agak jauh di luar kota. Dengan berjalan kaki mereka menyusuri jalan-jalan kota. Satu-dua masih tampak pintu rumah yang terbuka. Lampu minyak yang suram melemparkan cahanyanya berpencaran menusuk gelap malam. Bahkan di belakang regol halaman yang masih ternganga, masih tampak beberapa orang laki-laki duduk-duduk sambil bercakap-cakap.

Banyubiru dalam penglihatan Mahesa Jenar tidak banyak mengalami perubahan. Jalan- jalan yang itu-itu juga menjalar dari satu ujung ke ujung yang lain. Bangunan-bangunan tidak banyak bertambah, bahkan beberapa banjar tampak tak terpelihara. Tempat-tempat ibadah pun agaknya menjadi bertambah suram. Tetapi ketika Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sampai di ujung jalan kota, mereka terkejut ketika mereka melihat obor terpancang di tengah-tengah lapangan. seperangkat gamelan telah siap pula di tempat itu. Beberapa orang telah mulai ramai mengerumuninya.

Dengan penuh keinginan untuk mengetahui, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara mendekati lapangan itu. Kepada seorang anak yang lewat di sampingnya, Mahesa Jenar bertanya,

”Apakah Banyubiru sedang ada perayaan?”

Anak itu memandang Mahesa Jenar dengan heran. Kemudian anak itu malah ganti bertanya, ”Apakah Bapak bukan penduduk Banyubiru...?”

Mahesa Jenar ragu sebentar. Tetapi ia harus menjawab agar tidak menimbulkan kecurigaan. Karena itu katanya,

“ Bukan, Nak. Aku bukan penduduk Banyubiru. Aku datang dari Pangrantunan.” ”Pangrantunan...?” Anak itu tiba-tiba terkejut.

Kembali Mahesa Jenar ragu. Namun ia mengangguk. ”Ya, kenapa...?”

”Tidak apa-apa,” jawab anak itu. ”Beberapa hari yang lalu beberapa orang Pangrantunan juga datang kemari. Mereka adalah saudara-saudara ibuku. Menurut paman-paman itu, Pangrantunan sekarang kembali kacau. Mereka ketakutan karena Simarodra tua sering mengunjungi pedukuhan itu. Apakah betul demikian...? Dan apakah betul Simarodra tua itu menuntut lebih banyak dari Simarodra dahulu?” ”Betul, Nak...” jawab Mahesa Jenar sekenanya, namun karena itu ia ingin lebih banyak tahu. Karena itu ia bertanya,

”Siapakah pamanmu itu? Dan apakah yang dilakukan di sini...?”

”Pamanku bernama Reksadipa. Ia datang untuk melaporkannya kepada Ki Ageng Lembu Sora,” jawab anak itu.

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Lalu sahutnya,

”Hem... jadi kau kemenakan Kakang Reksadipa.” Kemudian Mahesa Jenar berhenti sebentar.

”Lalu apa katanya ketika ia kembali ke Pangrantunan?”

ANAK itu menjawab, ”Tidak apa-apa. Tetapi Paman mengeluh. Katanya Ki Ageng Lembu Sora sedang akan mempertimbangkan. Tetapi itu tidak bijaksana. Sebab menurut Paman, keadaan sudah sangat gawat. Dan rakyat pangrantunan sendiri tidak mampu untuk melawan mereka, meskipun rakyat Pangrantunan tidak takut.”

Mahesa Jenar menarik nafas panjang. Memang letak Pangrantunan yang seolah-olah berhadapan dengan Gunung Tidar itu sangat tidak menguntungkan. Tetapi menghadapi hal sedemikian tidakkah Ki Ageng Lembu Sora Dipayana dapat berbuat sesuatu...? Namun kepada anak itu sudah pasti Mahesa Jenar tidak bertanya demikian. Karena itu ia bertanya tentang obor dan gamelan yang sudah siap di lapangan itu. Katanya,

”Nak, ada apakah dengan keramaian itu?”

”Itu bukan keramaian,” jawabnya. ”Dahulu Paman Reksadipa juga bertanya demikian. Gamelan itu memang setiap hari berada di sana. Orang-orang sekarang sedang bersenang senang karena panenan kemarin meskipun tidak memuaskan. Mereka setiap malam mengadakan tayub di lapangan itu.”

”Di lapangan terbuka...? Tiba-tiba Mahesa Jenar menyela.

”Ya,” jawab anak itu. ”Setiap orang boleh ikut. Kalau siang mereka mengadu ayam. Juga di tempat itu.”

”O ” Tiba-tiba Mahesa Jenar mengeluh. Alangkah jauh kemunduran yang dialami oleh

tanah perdikan ini.

Meskipun Kanigara tidak mengerti seluruh persoalan yang berputar di dalam kepala Mahesa Jenar, namun sedikit banyak ia pun mengerti. Tayub setiap malam dan mengadu ayam setiap hari adalah gejala-gejala kehancuran suatu daerah.

Ketika beberapa lama Mahesa Jenar berdiam diri, berkatalah anak itu, ”Sudahlah Paman, aku akan pulang. Hari telah malam.”

Anak itu tidak menunggu jawaban Mahesa Jenar. Demikian ia selesai berbicara segera ia menghambur ke dalam gelap. Di kelokan jalan, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara masih melihat anak itu singgah di sebuah warung untuk membeli sesuatu.

”Itulah Kakang... gambaran Banyubiru saat ini. Suram dan mengerikan. Menyabung ayam di siang hari dan tuak di malam hari,” kata Mahesa Jenar kepada Kebo Kanigara.

”Kesalahan yang tak boleh dibiarkan lebih lama lagi,” jawab Kebo Kanigara.

Kemudian kedua orang itu bersepakat untuk menyaksikan tari tayub yang sebentar lagi akan diselenggarakan di lapangan itu.

Demikianlah, ketika hari menjadi semakin gelap, di tanah lapang itu menjadi semakin banyak orang. Beberapa orang niyaga pun telah bersiap di belakang seperangkat gamelan. Sehingga sesaat kemudian suara gamelan telah mulai mengalun, menggoncang kesepian malam, yang kemudian disusul dengan suara waranggana memanjat tinggi. Namun terasalah bahwa suasananya bukanlah suasana yang sopan.

Sebentar kemudian ternyata bahwa memang demikianlah yang terjadi. Beberapa orang lelaki segera muncul di gelanggang. Menari dan berdendang. Sedang dari mulut mereka menyebar bau tuak. Disusul dengan munculnya beberapa orang ledek di tengah-tengah arena itu.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara duduk tidak seberapa jauh dari tempat itu. Namun mereka mencari tempat yang gelap, dimana cahaya obor tidak menyentuhnya, karena bayang-bayang beberapa orang yang berdiri menonton.

Ketika malam menjadi semakin dalam, suasana di tengah tanah lapang itu pun menjadi semakin riuh. Beberapa orang telah menjadi pening karena mabok. Bahkan beberapa orang telah kehilangan kesadaran dan berbuat hal-hal yang aneh-aneh di arena itu. Beberapa penari wanita yang telah terlatih melayani mereka dengan baiknya, sehingga suasana di arena itu betul-betul menjadi suasana gila-gilaan.

Dalam keadaan yang demikian tidak mustahil kalau sampai terjadi bentrokan-bentrokan dan perkelahian-perkelahian diantara mereka, karena mereka telah kehilangan pengamatan diri.

Di tepi arena, Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara melihat beberapa orang yang sibuk berjualan. Apa saja yang dapat mereka jual. Makanan, minuman dan tembakau. Mereka sama sekali tidak menaruh perhatian pada suasana yang berlangsung di sekitarnya. Yang penting bagi mereka adalah bahwa dagangan mereka laku, dan mereka mendapat uang sebanyak-banyaknya. Para penjual yang terdiri laki-laki dan perempuan, menghanyutkan diri saja dengan keadaan. Bersenda-gurau, berteriak-teriak melayani orang-orang mabok atau kelelahan. Namun orang itu tak sempat menghitung lagi berapa uang yang harus mereka bayarkan. Asal mereka menggenggam uang logam, mereka lemparkan begitu saja kepada penjualnya, perempuan-perempuan muda yang merajuk dengan manjanya.

Tetapi tiba-tiba mata Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara sempat melihat seorang perempuan yang berdiri tegak agak di kejauhan. Nampaknya ia ragu-ragu untuk mendekati tempat itu. Tetapi kemudian perlahan-lahan ia melangkah maju. Ketika ia menjadi semakin dekat, dan seleret sinar lampu para penjual menyambar wajahnya, tampaklah bahwa perempuan itu memiliki ciri-ciri yang lain dari setiap perempuan yang berada di tanah lapang itu. Wajahnya yang sayu pucat dan tubuhnya yang kekurus- kurusan, seolah-olah mencerminkan perasaannya yang sedih.

Ketika beberapa orang melihatnya, segera mereka melemparkan pandangan mata mereka. Tetapi ada juga orang yang dengan nada mengejek berteriak,

”Marilah Nyai. Apakah yang kau cari...?”

Perempuan itu tidak menjawab. Tetapi segera matanya memandang berkeliling, kepada hampir semua orang yang berdiri di sekitar arena itu. Seakan-akan ia sedang mencari seseorang diantara wajah-wajah itu.

”Anakmu tidak berada di sini, Nyai,” teriak salah seorang, yang kemudian disusul dengan gelak tawa.

”Carilah anak itu di tengah rimba,” sambung suara yang lain. ”Mungkin ia berada bersama bapaknya.” Kembali terdengar suara bergelak-gelak.

PEREMPUAN itu masih berdiam diri, berdiri seperti patung. Namun dengan demikian Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara dapat memandangnya lebih jelas. Dari sinar matanya, mereka dapat menduga bahwa karena sesuatu penderitaan, orang itu agaknya menjadi agak terganggu kesadarannya. Meskipun tidak begitu berat.

Ketika kemudian dilihatnya dari mata perempuan itu menitik butiran-butiran air. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menjadi yakin bahwa sesuatu benar-benar telah menghimpit perasaannya. Ternyata mereka tidak perlu terlalu lama berteka-teki ketika terdengar seorang laki-laki berkata dengan kasarnya,

”Suamimu tak berani pulang, Nyai. Demikianlah hukuman bagi pemberontak. Dan bayimu yang mati itu tidak akan bisa hidup lagi. Apalagi ikut bersenang-senang bersama kami sekarang, tak ada tempat bagi laki-laki semacam suamimu itu.”

Air mata di wajah perempuan itu menjadi semakin deras. Agaknya ia dapat mengerti, bahwa suaminya tidak berada di tempat itu.

Kemudian terdengarlah suara lain yang bertanya, ”Siapakah dia?”

”Istri Penjawi,” jawab suara yang lain lagi.

”Oo, karena itulah ia masih muda dan cantik,” sahut suara yang pertama. ”Kalau begitu kenapa tidak saja ia kau ajak menari...?”

”Tidak mau. Ia baru saja kematian bayinya. Mungkin dua tiga hari lagi,” sahut suara lain yang disusul dengan gelak tertawa orang banyak.

Diantara suara yang riuh, di sela-sela suara gamelan yang semakin menggila itu tiba-tiba terdengarlah suara yang berat mengatasi yang lain. Katanya,

”Aku tidak percaya kalau ia tidak mau. Ataupun kalau ia tidak mau, seret saja ia ke arena.”

Oleh suara yang berat itu, tiba-tiba semua terdiam. Dan semua mata memandang ke arah suara itu. Seorang yang tinggi besar dan berwajah kasar berdiri bertolak pinggang di pinggir arena. Sedang bola matanya dengan tajam memandang istri Penjawi itu seperti hendak meloncat dari kepalanya. Sambungnya,

”Ternyata ledek Banyubiru tak ada yang secantik ledek-ledek dari Pamingit. Dan perempuan itu agaknya akan bisa setidak-tidaknya menyamainya.”

Orang yang berwajah kasar itu maju beberapa langkah ke arah perempuan muda yang disebut istri Penjawi, yang kemudian menjadi ketakutan. Apalagi ketika orang itu meneruskan kata-katanya. ”Sayang bahwa wajah yang cantik itu tidak mendapat pemeliharaan.”

Ketika orang yang tinggi besar dan berwajah kasar itu melangkah terus, keadaan segera menjadi tegang. Tetapi beberapa orang yang mabok mulai tertawa-tawa kembali dan menganggp bahwa apa yang akan terjadi merupakan suatu tontonan yang menyenangkan. Namun beberapa orang lain, yang kepalanya juga sudah mulai pening-pening, segera merasa tersinggung. Bahkan seorang yang sudah setengah mabuk berteriak,

”Hei, monyet dari Pamingit. Jangan ganggu orang Banyubiru. Aku sendiri sudah lama jatuh cinta kepadanya. Tetapi aku tidak mendapat kesempatan. Nah, sekarang suaminya mungkin sudah mampus ditelan macan. Karena itu, perempuan itu akan aku ambil sebagai istriku yang muda.”

Orang yang bertubuh tinggi besar itu menoleh. Dilihatnya seseorang yang bertubuh sedang, namun kokoh kuat seperti orang hutan berjalan mendekatinya. Tampak bibir orang Pamingit itu bergerak-gerak mengejek. Kemudian terdengar ia menjawab,

”Jangan terlalu kasar berkelakar sahabat. Orang Banyubiru harus menghormati orang- orang Pamingit. Sebab Banyubiru sekarang berada di bawah pemerintahan Pamingit. Kalau kau tidak mau mati, jangan ganggu aku. Biarkan orang Pamingit berbuat sesuka hatinya. Bahkan istrimu pun kalau aku kehendaki harus kau serahkan.”

Mata orang Banyubiru yang kokoh kuat itu segera menyala marah. Dengan membentak- bentak ia menjawab,

”Jangan banyak mulut. Pergi atau kau akan segera jadi bangkai.”

Pertunjukan itu segera terhenti karena ribut-ribut yang terjadi. Beberapa ledek yang sedang menari-nari dengan tenangnya berjalan ke tengah-tengah jajaran gamelan dan duduk diantara para niyaga. Mereka sama sekali tidak menunjukkan perasaan cemas atau takut.

Hal yang demikian sudah sering terjadi. Tetapi ketika mereka mendengar bahwa pertengkaran itu terjadi antara orang Pamingit dan Banyubiru, perhatian mereka agaknya tertarik juga.

Salah seorang ledek dengan memanjangkan lehernya, berusaha melihat mereka yang bertengkar, lalu bertanya,

”Siapakah yang bertengkar?” Terdengarlah seorang niyaga menjawab, ”Jiwala dengan orang Pamingit.”

Ketika ledek itu berhasil melihat orang Pamingit yang tinggi besar berwajah kasar itu, ia tertawa sambil menyubit kawannya.

”Hei, agaknya Si Saraban yang bertengkar dengan Jiwala. Apakah kau tidak membantunya...?”

”Peduli apa?” jawab kawannya, seorang ledek yang berhidung pesek.

”Kemarin ia sanggup memberi aku uang, tetapi sampai sekarang ia tidak menepati janjinya.”

Sekali lagi mereka menjengukkan kepalanya. Lalu dengan mengerutkan keningnya, ledek yang berhidung pesek itu berkata,

”Gila. Bukankah mereka mempertengkarkan istri Penjawi itu?” Sekali lagi kawannya mencubitnya sambil tertawa.

”He, kau agaknya mendapat saingan. Kalau Saraban menang, kaulah yang harus berkelahi melawan istri Penjawi itu.” Kawannya tidak menjawab, tetapi ia semakin merengut.

Mendengar percakapan itu Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara terpaksa menahan nafas. Tetapi hatinya mengeluh. Sampai sedemkian jauh orang-orang Banyubiru terperosok ke dalam jurang yang mengerikan.

Dalam pada itu, orang Banyubiru yang bernama Jiwala itupun sudah berdiri di hadapan Saraban. Dengan bertolak pinggang ia memandang orang Pamingit itu dari ujung rambut sampai ke ujung kakinya. Sedang orang Pamingit itu mengawasinya dengan marah. Tetapi sebentar-sebentar mereka berdua terpaksa menengok ke arah perempuan yang kekurus-kurusan dan berdiri dengan gemetar di pinggir tanah lapang itu. Ternyata sedemikian ketakutan, sampai istri Penjawi itu tidak tahu apa yang harus dilakukan.

Dalam pada itu sekali lagi Saraban membentak, ”Pergi. Jangan halang-halangi aku.”

JIWALA tidak menjawab, tetapi dengan tangkasnya ia menyerang perut Saraban. Namun agaknya Sarabanpun bukan orang yang dapat diremehkan. Demikian tangan Jiwala terulur ke arah perutnya, dengan cepatnya ia memiringkan tubuhnya dan sekaligus kakinya menyambar dada lawannya. Jiwala yang sedang mabuk itu tidak sempat menghindarkan dirinya, sehingga terasa kaki orang yang bertubuh tinggi besar itu mendorong tubuhnya kuat-kuat.

Demikianlah ia terlempar beberapa langkah dan jatuh berguling. Agaknya tendangan orang Pamingit itu cukup keras, karena ternyata setelah bersusah payah berusaha barulah Jiwala dapat bangun.

Namun ia sudah tidak berani lagi mendekati orang Pamingit yang bernama Saraban itu.

Melihat geraknya, segera Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara tahu, bahwa orang Pamingit itu bukan lawan Jiwala. Menurut dugaan mereka, Saraban pasti termasuk orang yang cukup baik kedudukannya, bahkan mungkin ia adalah salah seorang pimpinan laskar Pamingit.

Perkelahian itu hanya berlangsung beberapa saat saja. Sebab ketika Jiwala tidak berani lagi mendekati lawannya, tak seorangpun lagi yang mengganggu Saraban. Bahkan tiba- tiba terdengar seseorang berbisik.

”Salah Jiwala sendiri, kenapa ia melawan orang itu. Bukankah ia pengawal Ki Ageng Lembu Sora?”

Mendengar bisikan itu, dada Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara berdesir. Tentulah orang Banyubiru itu tidak akan dapat mengalahkannya. Kemudian terdengarlah orang lain berbisik pula, ”Kalau Jiwala tidak sedang mabok, tentu ia tidak berani berbuat demikian.”

Demikianlah ternyata Saraban kemudian akan dapat berbuat sekehendak hatinya. Kembali dengan wajah yang menakutkan, ia memandang istri Penjawi yang berdiri gemetar. Ternyata ia benar-benar menjadi ketakutan dan kehilangan akal, sehingga ia sama sekali tidak berpikir untuk melarikan diri. Mula-mula ia mengharap bahwa ada orang yang menolongnya, tetapi dengan jatuhnya Jiwala, harapannya menjadi lenyap.

Mula-mula Saraban itu masih memandang berkeliling. Agaknya ia masih mencari lawan untuk menunjukkan kekuatannya. Ketika tak seorangpun yang berani mengganggu lagi, barulah setapak demi setapak ia mendekat.

Nyi Penjawi menjadi semakin ketakutan. Setapak ia mundur, tetapi dua tapak Saraban melangkah maju, sehingga jarak mereka menjadi semakin dekat.

Dalam pada itu, beberapa orang yang semula tertawa-tawa kini menjadi terdiam. Bagaimanapun juga, di dalam sudut hati mereka yang paling dalam, tersirat juga rasa kasihan. Kasihan kepada istri Penjawi yang sedang ditinggal suaminya menyingkir, karena Lembu Sora akan membinasakannya. Ditambah lagi, baru beberapa minggu ia kehilangan bayinya.

Sekarang tiba-tiba seorang laki-laki berwajah kasar, dengan rakusnya ingin merampas kecantikannya. Apalagi orang itu adalah orang Pamingit.

Tetapi tak seorangpun yang berani berbuat sesuatu. Sebab tak seorangpun yang merasa mampu mengalahkan Saraban. Sedang untuk maju bersama-sama pun mereka tidak berani. Sebab dengan demikian, orang-orang Pamingit pasti akan beramai-ramai menyerang mereka. Meskipun sebenarnya mereka tidak bersalah, karena melindungi seseorang yang diperlakukan tidak adil, namun orang Pamingit dapat saja membuat alasan-alasan.

Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara menyaksikan semua peristiwa itu dengan wajah yang tegang. Ketika Saraban tinggal beberapa langkah saja jaraknya dari Nyi Penjawi, Mahesa Jenar tidak dapat membiarkan hal yang kotor itu berlangsung.

Tetapi ketika ia sudah bergerak, terasa Kebo Kanigara menggamitnya sambil berbisik,

”Duduklah Mahesa Jenar. Biarlah aku selesaikan masalah ini. Sebab belum ada di antara mereka yang mengenal aku. Sedang kau agaknya telah dikenal oleh beberapa orang di sini.”

Mendengar bisikan Kebo Kanigara, Mahesa Jenar mengurungkan niatnya. Ia membiarkan Kebo Kanigara perlahan-lahan berdiri. Tetapi ketika selangkah ia maju, mereka bersama dikejutkan oleh sebuah suara yang berat parau dari kegelapan di belakang perempuan yang kekurus-kurusan itu. Katanya, ”Saraban, jangan berlagak jantan sendiri. Orang Banyubiru tidak semuanya berjiwa betina. Cobalah kau maju selangkah lagi, namamu akan terhapus dari deretan nama-nama pengawal Lembu Sora. Dan bangkaimu akan dikubur dengan segala macam kutuk dan caci.”

Saraban ternyata terkejut juga mendengar suara itu. Dengan tidak disadarinya sendiri, ia menghentikan langkahnya. Matanya yang liar dibukanya lebar-lebar untuk mengetahui, siapakah yang dengan sombong mencoba menghalang-halangi niatnya. Dalam pada itu, dari dalam gelap, muncullah sebuah bayang-bayang, yang dengan tetap melangkah maju. Sesaat kemudian tampaklah di bawah cahaya lampu yang samar, seorang laki-laki dengan mata yang menyala-nyala karena marah, berdiri diantara laki-laki yang bernama Saraban dengan perempuan yang kekurus-kurusan, yang sedang meneteskan air mata putus asa. Orang itu tidak setinggi dan sebesar Saraban. Namun tubuhnya tampak kuat seperti baja.

Ketika Saraban mengenal wajah orang itu, ia menggeram. Dan bersamaan dengan itu terdengar Mahesa Jenar berdesis sambil berdiri karena terkejut,

”Bantaran ”

”Bantaran ” ulang Kebo Kanigara yang terpaksa menghentikan langkahnya.

”Siapakah dia?”

”Salah seorang kepercayaan Ki Ageng Gajah Sora yang bersama-sama dengan Penjawi terpaksa menyingkir dari Banyibiru.”

”Kalau begitu ” sahut Kanigara, ”Aku tak perlu mengganggunya.”

”Aku kira demikian,” jawab Mahesa Jenar.

Dengan demikian Kanigara mengurungkan langkahnya, tetapi mereka mencari tempat untuk menyaksikan peristiwa yang mendebarkan hati itu.

SEKALI lagi tangan Bantaran terayun deras sekali. Namun agaknya Saraban melihat arah sambaran tangan lawannya. Dengan sisa tenaganya ia menghindar ke samping. Dengan demikian serangan Bantaran tidak mengenai sasarannya. Bahkan tubuhnya terbawa beberapa langkah maju, terseret oleh ayunan tangannya. Saraban melihat kesempatan itu. Dengan sekuat tenaga yang masih ada ia memukul tengkuk Bantaran.

Namun Bantaran yang masih segar ternyata sudah dapat memperbaiki kedudukannya menghadapi serangan itu. Demikian tangan Saraban terjulur, dengan kecepatan kilat tangan itu ditangkapnya sambil memutar tubuhnya dan merendahkan diri. Bantaran menjangkau kepala Saraban dari atas pundaknya. Dengan menghentakkan kekuatan. Bantaran menarik orang Pamingit yang bertubuh besar itu, sehingga melontar dengan kerasnya, dengan kaki terputar ke atas. Kemudian dengan gemuruhnya tubuh Saraban terbanting di tanah.

Semua orang yang menyaksikan kesudahan dari perkelahian itu menahan nafasnya. Meskipun orang-orang Banyubiru menjadi cemas atas peristiwa itu, namun mereka di dalam hatinya bangga juga atas keunggulan orang Banyubiru atas orang Pamingit.

Bantaran yang telah berhasil menjatuhkan lawannya, berdiri dengan tegap di depan tubuh Saraban yang sudah tak berdaya lagi untuk bangkit. Sekali lagi ia memandang berkeliling, ke arah wajah-wajah orang Banyubiru yang berdiri di sekitar tempat perkelahian itu. Dan sekali lagi wajah-wajah orang Banyubiru itu terbanting di tanah yang ditumbuhi rumput dengan suburnya.

Dalam pada itu terdengarlah suara Bantaran parau,

”Saudara-saudaraku, rakyat Banyubiru. Aku menyesal atas semua yang telah terjadi di tanah perdikan ini. Kalian ternyata telah terbius oleh pemanjaan nafsu yang tak terkendali. Tetapi dengan peristiwa ini, kalian tidak akan dapat untuk seterusnya berpangku tangan. Sebab kawan-kawan orang Pamingit itu tidak akan tinggal diam. Dan akibatnya akan dapat kalian rasakan. Untuk seterusnya kalian hanya dapat memilih, menangkap aku, lalu menyerahkan kepada Lembu Sora, yang dengan demikian kalian akan bebas dari pembalasan dendam, atau bangkit melawan kekuasaan Pamingit atas tanah kita sambil menunggu kehadiran pemimpin kita Ki Ageng Gajah Sora atau putranya Arya Salaka.”

Tak seorangpun yang menyatakan pendapatnya. Dan memang demikianlah perasaan mereka yang mendengar kata-kata Bantaran. Sebagian diantara mereka menjadi malu atas kelakuan mereka, tetapi memang ada juga diantaranya yang di dalam hatinya mengumpati Bantaran. Sebab dengan perbuatannya itu, pastilah akan terjadi hal-hal yang sama sekali tak dikehendaki. Orang-orang Pamingit pasti akan datang ke tempat itu dan mengaduknya. Menangkapi orang-orang yang dicurigainya, memukuli mereka tanpa alasan untuk melampiaskan dendam mereka.

Belum lagi gema suara Bantaran itu lenyap, tiba-tiba terdengarlah derap beberapa ekor kuda dengan kencangnya menuju ke tanah lapang itu. Mendengar derap yang berdatangan Bantaran tampak terkejut. Segera ia tahu apakah yang sebentar lagi akan terjadi. Meskipun demikian ia tetap tenang. Dan dengan tenang pula ia berkata lantang,

”Rupa-rupanya ada juga pengkhianat-pengkhianat di Banyubiru ini. Dan agaknya mereka telah melaporkan kehadiranku.”

Orang-orang yang berdiri di tanah lapang itu segera menjadi gelisah. Beberapa orang telah bersiap untuk melarikan diri. Tetapi mereka sama sekali tidak mendapat kesempatan. Sebab dalam waktu yang sangat singkat, beberapa orang berkuda telah datang dan langsung mengepung tanah lapang itu di empat penjuru.

Bantaran masih dalam sikapnya yang tenang, memandang berkeliling. Kepada kira-kira sepuluh-duabelas orang yang masih berada di atas punggung kuda mereka. Wajah para penunggang kuda itu tampak garang-garang, sedang di tangan mereka masing-masing tergenggam senjata. Ada yang berupa tombak, pedang atau macam-macam senjata yang lain.

Dua orang diantara mereka, mendorong kuda mereka agak ke depan. Rupa-rupanya dua orang itu adalah pemimpin rombongan. Salah seorang daripadanya terdengar berteriak dengan suara yang nyaring,

”Hai orang-orang Banyubiru yang tak tahu diri. Katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran.”

Bantaran masih tegak di tempatnya. Tetapi karena kekacauan yang timbul, karena beberapa orang yang ingin melarikan diri, maka di sekitarnyapun telah berdiri beberapa orang dengan tubuh gemetar sehingga orang-orang berkuda itu tidak segera dapat melihat tubuh Saraban yang terkapar di tanah.

Suara pemimpin rombongan berkuda yang bergeletar memenuhi tanah lapang itu untuk beberapa lama tidak mendapat jawaban. Karena itu ia mengulangi,

”Ayo... katakanlah kepada kami, siapakah diantara kalian yang bernama Bantaran. Kalau tidak ada diantara kalian yang mau menunjuk batang hidungnya, maka semuanya yang berada di tanah lapang ini akan kami bawa. Sesudah itu janganlah kalian mengharap untuk bertemu kembali dengan anak istri kalian.” Bantaran menarik nafas dalam-dalam sambil menekan dadanya. Sudah tentu ia tidak menghendaki sekian banyak orang menjadi korban untuk dirinya. Meskipun demikian sekali dua kali tampaklah ia menoleh ke arah Nyi Penjawi yang berdiri tidak jauh di belakangnya.

AGAKNYA, Nyi Penjawi itulah yang memberati hati Bantaran. Sebagai seorang sahabat Penjawi, ia tidak akan tega melihat nama perempuan itu dinodai.

Sebelum Bantaran mengambil suatu sikap, tiba-tiba seorang diantara dua orang berkuda itu meloncat turun dan menyambar baju orang yang bertubuh sedang tetapi tampak otot- ototnya menonjol seperti orang hutan. Sambil membentak-bentak orang itu bertanya,

”Siapa namamu...?”

Dengan tergagap orang yang masih agak mabok itu menjawab, ”Gonjang, Tuan.”

”Kenalkah kau dengan orang yang bernama Bantaran?” tanya orang Pamingit seterusnya.

Untuk beberapa saat Gonjang berdiam diri. Namun tiba-tiba terdengarlah jawabannya di luar dugaan. Orang yang suka mabok dan berbuat tidak sepantasnya itu ternyata memiliki kesetiakawanan yang tinggi. Sebagai orang Banyubiru ia merasa berkewajiban melindungi Bantaran. Karena itu jawabnya,

”Kenal Tuan. Aku kenal betul dengan orang itu.”

”Nah kalau begitu tunjukkanlah orangnya kepada kami,” desak orang Pamingit itu.

Kemudian terdengarlah jawabnya yang mengejutkan hati orang-orang di tanah lapang itu.

”Sudah sejak berbulan-bulan ia tidak pernah menampakkan dirinya, Tuan. Karena itu aku tidak dapat menunjukkannya kepada Tuan.”

Tiba-tiba mata orang Pamingit itu seolah-olah akan meloncat dari batok kepalanya. Ternyata jawaban itu sama sekali tidak diduganya. Karena itu ia menjadi marah sekali. Ketika tangannya yang memegang baju Gonjang diguncang-guncangkan, Gonjang pun ikut terguncang seperti sebatang pohon yang diputar-putar badai. Sambil membentak- bentak lebih kasar orang Pamingit itu sekali lagi bertanya, ”Ayo katakanlah kepada kami, yang mana diantara kalian yang bernama Bantaran.”

”Betul Tuan... ia tidak berada di sini sekarang,” jawab Gonjang tergagap.

”Bohong!” bentak orang Pamingit itu. ”Aku mendapat laporan bahwa ia berada di tanah lapang ini sekarang.”

”Nah, kenapa Tuan tidak bertanya kepada orang yang melaporkan itu saja...?” sahut Gonjang.

Orang Pamingit itu tidak menjawab lagi. Tetapi sebuah pukulan yang keras melayang ke wajah Gonjang. Dengan kerasnya orang itu terdorong ke belakang, dan kemudian terjatuh dengan kerasnya. Terdengarlah ia mengerang kesakitan. Namun meskipun demikian ia tidak juga menunjukkan siapakah diantara mereka yang bernama Bantaran.

Tetapi dalam pada itu, ternyata Gonjang adalah orang yang cerdik. Ia telah mencoba memancing orang Pamingit itu untuk menunjukkan kepada orang-orang Banyubiru, siapakah yang sebenarnya tidak berkhianat. Namun agaknya orang Pamingit itu pun telah berjanji untuk melindungi pengkhianat itu, sehingga orang itu tidak dibawanya serta.

Bantaran yang menyaksikan peristiwa itu, hatinya menjadi berdebar-debar. Ia menjadi bimbang, justru karena ia sedang berusaha untuk melindungi istri Penjawi. Kalau saat itu ia dapat ditangkap, maka bila Saraban nanti sadar kembali, nasib istri Penjawi itupun sudah dapat dibayangkan. Sebab untuk melawan sepuluh orang berkuda itu agaknya di luar kemampuannya.

Bantaran hampir mengenal satu demi satu orang-orang Pamingit yang akan menangkapnya. Temu Ireng, Talang Semut, Dadahan, dan orang-orang setingkatnya. Seandainya tak seorang diantara orang Banyubiru yang mau menunjukkannya, namun kalau orang-orang Pamingit itu meneliti satu demi satu orang yang berada di tanah lapang itu, meskipun makan waktu lama, akhirnya dirinya akan diketemukan juga. Sebab orang- orang Pamingit itu pun telah mengenalnya seperti ia mengenal mereka.

Belum lagi Bantaran mendapat suatu cara yang sebaik-baiknya, orang Pamingit itu telah menangkap seorang lagi. Seorang muda yang berwajah tampan, berkumis sebesar lidi. Pakaiannya terbuat dari kain lurik yang mahal. Tetapi demikian ia diseret ke depan, tubuhnya tiba-tiba serasa lumpuh. Dan ketika orang Pamingit itu membentaknya, ia menjadi pingsan.

Akhirnya Bantaran mengambil suatu ketetapan untuk menyatakan dirinya di hadapan orang-orang Pamingit itu sebelum jatuh korban lebih banyak lagi. Ia akan mencoba melawan dan menimbulkan kekacauan, sementara itu ia berharap Nyi Penjawi sempat melarikan diri.

Tetapi ketika Bantaran bermaksud membisiki Nyi Penjawi tentang maksudnya itu, tiba- tiba diantara sekian banyak orang yang berdiri di tanah lapang itu muncullah seseorang yang bertubuh sedang, tegap dan berdada bidang. dengan suara yang berat namun penuh wibawa ia berkata nyaring, ”Hai, orang-orang Pamingit Inilah Bantaran.”

Semua yang berada di tanah lapang terkejut mendengar pengakuan itu. Untuk sesaat kembali tanah lapang itu menjadi hening sunyi. Sesunyi tanah pekuburan.

Tetapi dalam pada itu semua mata bergerak ke arah seorang yang berjalan perlahan- lahan namun pasti, menyibak orang-orang yang berada di depannya, menuju ke arah dua orang yang agaknya memimpin rombongan orang-orang Pamingit itu.

Ketika mereka melihat orang itu, sekali lagi mereka terkejut. Dan yang lebih terkejut adalah Bantaran sendiri. Orang-orang Banyubiru menjadi bertanya-tanya di dalam hati, siapakah orang yang telah dengan beraninya menamakan dirinya Bantaran di hadapan sepuluh orang Pamingit yang garang-garang itu  ?

Sesaat kemudian Bantaran menjadi sadar, bahwa seseorang telah mencoba melindunginya. Namun orang itu belum pernah dilihatnya.

”Nyai...” bisik Bantaran kepada Nyi Penjawi, ”Adakah ia orang baru ?”

Nyai Penjawi menggelengkan kepalanya. ”Aku belum pernah melihatnya, Kakang.”

BANTARAN menarik nafas dalam-dalam. Ia mencoba menebak, siapakah orang yang telah mencoba menyelamatkan dirinya itu. Tetapi tiba-tiba ia menjadi cemas atas keselamatan orang itu. Dua orang pemimpin rombongan orang-orang Pamingit itu bukanlah orang yang dapat diajak berbicara. Mereka adalah Temu Ireng dan Talang Semut. Dua orang yang lebih suka mempergunakan tangannya daripada mulutnya. Apalagi pengakuan orang itu hanya akan mendatangkan bencana saja baginya. Sebab orang yang bernamaTemu Ireng dan Talang Semut itu telah mengenal siapakah orang yang bernama Bantaran, sehingga pengorbanannya akan menjadi sia-sia. Sebab akhirnya mereka masih akan mencari orang yang dikehendakinya. Karena itu Bantaran ingin meloncat maju untuk mencegah pengorbanan yang dianggapnya akan sia-sia saja.

Tetapi ketika ia sudah bersiap untuk meloncat dan berteriak, tiba-tiba seseorang menggamitnya. Ketika ia menoleh, ia terperanjat bukan kepalang, sampai ia tergeser dari tempatnya. Demikian terperanjatnya Bantaran, sampai beberapa saat ia tak dapat berkata- kata.

Baru setelah debar jantungnya berkurang, terdengarlah ia berdesis, ”Tuan... Bukankah Tuan ”

”Ssst... jangan kau sebut nama itu,” potong orang yang menggamitnya. Bantaran mengangguk angguk cepat. Namun ia masih agak bingung menanggapi kehadiran orang yang sama sekali tak disangka-sangka itu.

”Tuan...” sambungnya sambil tergagap, ”Kenapa Tuan tiba-tiba saja berada di tempat ini ?”

Orang itu, yang tak lain adalah Mahesa Jenar, tersenyum lebar. ”Bantaran   ketika

sepuluh orang berkuda itu datang, kau agaknya tetap tenang. Tetapi ketika kau lihat aku, kau menjadi kebingungan.”

Bantaran mencoba memperbaiki jalan nafasnya sambil menjawab, ”Sebab bagiku kehadiran Tuan lebih berkesan di hati, daripada monyet-monyet dari Pamingit itu.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tertawa kecil. Kemudian katanya memperingatkan Bantaran pada keadaannya kini, ”Apalagi orang-orang Pamingit itu akan menangkap kau.”

Bantaran tersadar akan bahaya yang mengancam. Tetapi bersamaan dengan itu kembali ia teringat kepada orang aneh yang mengaku dirinya Bantaran itu.

Karena di sampingnya sekarang ada Mahesa Jenar maka disampaikannya keheranannya itu kepadanya. ”Tuan, aku menjadi heran, ketika seseorang mengaku bernama Bantaran, dan dengan beraninya menghadapi Temu Ireng.”

Mahesa Jenar dan Bantaran bersama-sama mengangkat wajah, memandang ke arah orang yang menamakan dirinya Bantaran, yang sekarang telah dekat benar dengan Temu Ireng dan Talang Semut.

Dalam pada itu terdengar Bantaran meneruskan, ”Agaknya orang itu belum mengenal siapakah mereka berdua, ditambah dengan delapan orang lainnya.” ”Jangan risaukan orang itu,” sahut Mahesa Jenar.

Bantara menoleh sambil mengerutkan keningnya. ”Kenalkah Tuan dengan orang itu?”

Mahesa Jenar mengangguk, tetapi ia masih tetap memandang kepada orang yang menamakan diri Bantaran, yang sekarang sudah berdiri tepat di hadapan Temu Ireng.

”Siapakah dia...?” desak Bantaran.

”Paman guruku,” jawab Mahesa Jenar singkat.

”O....” Suara Bantaran seolah-olah terpotong di kerongkongan. Baru kemudian ia meneruskan, ”Alangkah bodohnya aku. Kalau demikian sepuluh orang itu sama sekali tidak akan berarti.”

Mahesa Jenar tidak sempat memperhatikan kata-kata Bantaran, sebab pada saat itu ia melihat Temu Ireng melangkah maju. Kemudian terdengarlah suaranya mengguntur, ”Kaukah yang bernama

Bantaran...?”

Orang yang bediri di hadapannya, yang sebenarnya adalah Kebo Kanigara, menjawab dengan tenangnya, ”Ya, akulah Bantaran.”

Sekali lagi temu Ireng memandang orang yang berdiri di hadapannya itu tanpa berkedip. Kemudian terdengarlah ia tertawa terbahak-bahak, tertawa untuk menegaskan kemarahannya yang hampir memecahkan dadanya. Dan ketika suara tertawa itu tiba-tiba terhenti, terdengarlah ia berkata dengan kerasnya kepada kawannya yang masih berada di atas kudanya. ”Hai... Adi Talang Semut, agaknya mataku telah rusak. Coba katakan kepadaku, adakah orang ini Bantaran...?”

Orang-orang yang berada di tanah lapang itu hatinya menjadi tegang.

Mereka sama sekali belum pernah mengenal orang aneh yang mengumpankan dirinya itu. Tetapi disamping itu, orang-orang yang mula-mula mengumpati Bantaran di dalam hati, menjadi malu. Kalau orang yang belum mereka kenal saja bersedia melindungi pemimpin Banyubiru itu, bukankah kewajiban orang Banyubiru sendiri untuk berbuat lebih banyak lagi?

Dalam pada itu Talang Semut tidak kalah marahnya. Ia mendorong kudanya maju mendekati Kebo Kanigara. Semakin dekat ia dengan Kanigara, semakin teganglah setiap wajah yang menyaksikan peristiwa itu. Tidak pula kalah tegangnya wajah Bantaran.

Bahkan sampai ia menggigit bibirnya sendiri. Talang Semut ternyata tidak menjawab pertanyaan Temu Ireng dengan kata-kata. Sedemikian marahnya ia, karena ia merasa dipermainkan oleh orang yang belum dikenalnya, yang disangkannya juga orang Banyubiru yang ingin melindungi pemimpinnya, sehingga Talang Semut merasa tidak perlu bertanya-tanya lagi. Maka ketika kudanya telah dekat benar dengan tubuh Kebo Kanigara, diangkatnya cambuknya tinggi-tinggi sambil menggeram keras.

Cambuk itu sekali menggeletar di udara, dan seterusnya dengan derasnya menyambar tengkuk Kebo Kanigara. Hampir semua orang yang menyaksikan peristiwa itu seakan- akan berhenti bernafas.

TALANG SEMUT bagi orang Banyubiru tak ubahnya seperti hantu peminum darah. Sekali ia turun tangan, maka hampir dapat dipastikan bahwa korbannya tak akan dapat lagi melihat matahari terbit. Demikianlah mereka menyangka bahwa orang yang mengaku bernama Bantaran itu akan menjadi korban kemarahan Talang Semut.

Tetapi sekejap kemudian, dada mereka terguncang menyaksikan akibat perbuatan Talang Semut. Bahkan beberapa orang menjadi tak begitu percaya kepada mata mereka. Sebab apa yang mereka saksikan sama sekali diluar dugaan mereka.

Ketika cambuk itu melayang ke arah tubuhnya, Kebo Kanigara meloncat dengan tangkasnya, menangkap tangkai cambuk itu. Dengan keras sekali ia menariknya. Tetapi agaknya Talang Semut memegang cambuk itu sedemikian eratnya, sehingga cambuk itu tak terlepas dari tangannya. Tetapi ternyata kekuatan Talang Semut bukanlah tandingan Kebo Kanigara, sehingga ketika Kanigara menariknya lebih keras lagi, tubuh Talang Semut-lah yang ikut terseret dari kudanya.

Karena Talang Semut tidak menduga, maka untuk sesaat ia kehilangan akal.

Ketika ia sadar, tangan Kebo Kanigara telah memegang bagian depan bajunya sedemikian erat, dan sebuah pukulan melayang tepat ke arah pelipisnya. Semuanya itu berlangsung sedemikian cepatnya sehingga Talang Semut tidak mempunyai kesempatan sama sekali untuk membela diri. Yang terjadi kemudian adalah pelipisnya seolah-olah membentur dinding baja. Begitu kerasnya sehingga tiba-tiba saja matanya menjadi berkunang-kunang. Sesaat kemudian ia sama sekali tidak sadarkan diri, dan tubuhnya yang sudah tak berdaya itu jatuh terkulai di tanah.

Pingsan.

Temu Ireng melihat peristiwa itu terjadi di depan hidungnya. tetapi ia seolah-olah terpukau oleh suatu kekuatan gaib. Bermimpi pun ia tidak. Bahwa ada orang yang dapat sedemikian mudahnya mengalahkan Talang Semut. Yang pernah didengar Temu Ireng adalah, orang yang paling sakti di Banyubiru adalah Ki Ageng Sora Dipayana. Dan orang yang telah melakukan suatu keajaiban itu adalah seorang yang masih terhitung muda.

Tiba-tiba Temu Ireng sampai pada suatu kesimpulan bahwa hal itu terjadi atas kesalahan Talang Semut sendiri. Sebab agaknya ia kurang berhati-hati. Dengan demikian ia kehilangan kesiagaan diri. Karena itulah kemudian dengan menggeram Temu Ireng mencabut goloknya, dan dengan berteriak keras ia langsung menyerang Kebo Kanigara. Dalam pada itu Dadahan beserta kawan-kawannya telah menyaksikan bagaimana Talang Semut dijatuhkan oleh orang yang mengaku bernama Bantaran. Karena itu mereka tidak mau membiarkan Temu Ireng bertempur seorang diri. Dengan demikian mereka beramai- ramai menyerang Kebo Kanigara.

Namun Kebo Kanigara adalah seorang yang hampir sempurna dalam ilmunya. Ilmu tata berkelahi dari keturunan ilmu perguruan Pengging. Karena itu, meskipun kemudian empat orang menyerangnya bersama-sama dari atas punggung kuda, namun ia sama sekali tidak gugup. Bahkan kemudian dengan lincahnya ia menyambut setiap serangan yang datang.

Dengan demikian, terjadilah suatu pertempuran yang ribut. Empat orang berkuda bertempur melawan seorang yang meloncat-loncat dengan lincahnya diantara derap kaki kuda. Bahkan kemudian keempat penunggang kuda itu kadang-kadang menjadi bingung, karena kuda-kuda mereka saling melanggar.

Sesekali kalau Kebo Kanigara sempat, ditusukkanlah jari-jarinya yang kuat itu ke perut salah satu kuda yang bersimpang-siur di sekitarnya, sehingga dengan terkejut kuda itu meringkik dan melonjak-lonjak.

Beberapa penunggang kuda yang lain masih berusaha untuk dapat mengawasi seluruh tanah lapang, supaya orang yang sesungguhnya dicari tidak melepaskan diri. Namun dalam pertempuran itu, orang-orang yang berada di tanah lapang menjadi kacau balau. Mereka berlarian kesana kemari tak tentu tujuan, menghindarkan diri dari kemungkinan terinjak oleh kaki-kaki kuda yang seolah-olah menjadi liar.

Dalam keadaan yang demikian itulah Mahesa Jenar berbisik kepada Bantaran, ”Bantaran... masih adakah keluarga Penjawi yang lain yang perlu diselamatkan dari kemarahan orang Pamingit kelak, atau barangkali keluargamu sendiri...?”

”Keluargaku... tidak Tuan. Mereka semua telah mengungsikan diri. Sedang keluarga Penjawi pun sudah tidak ada, kecuali seorang kakek, ayah Nyi Penjawi itu,” sahut Bantaran.

”Nah, kalau demikian, pergilah kepada kakek itu,” sambung Mahesa Jenar, ”Supaya ia tidak memikul tanggungjawab atas peristiwa ini. Sebab mungkin besok atau lusa, Saraban benar-benar menjadi gila. Juga orang-orang yang menjadi malu atas kekalahannya dari Paman Guru itu.”

Bantaran mengangguk-angguk. Tetapi ia masih bertanya, ”Lalu bagaimanakah dengan Tuan dan Nyi Penjawi...?”

”Tinggalkan Nyi Penjawi ini padaku,” jawab Mahesa Jenar. ”Nanti kita dapat bertemu di tepi Sendang Putih. Kuda kami, kami tinggalkan di sana.” Sekali lagi Bantaran mengangguk.

Disamping itu...” lanjut Mahesa Jenar, ”Aku ingin mendapat keterangan darimu tentang pasukan-pasukan yang telah kau persiapkan bersama-sama dengan Penjawi. Mungkin sebentar lagi kita memerlukannya.”

”Baiklah Tuan,” sahut Bantaran.

”Hati-hatilah,” bisik Mahesa Jenar kemudian. ”Aku harap kita dapat bertemu sebelum fajar.”

Setelah berpesan kepada Nyi Penjawi, untuk mengikuti segala petunjuk Mahesa Jenar, Bantaran kemudian ikut serta menghanyutkan diri dalam kekacauan yang terjadi. Demikian pula Mahesa Jenar, dengan menggandeng Nyi Penjawi, berusaha mencari kesempatan untuk melepaskan diri dari daerah tanah lapang yang terkutuk itu.

USAHA Mahesa Jenar itu tidaklah terlalu sukar. Dalam puncak kekacauan, kelima orang berkuda yang berusaha mengawasi orang-orang di tanah lapang itu ternyata tidak dapat menguasai keadaan. Ditambah dengan usaha Kebo Kanigara menyeret titik pertempuran itu semakin ke tengah, sehingga keadaan menjadi semakin kacau. Akhirnya beberapa orang berbondong-bondong berlarian meninggalkan lapangan itu tanpa menghiraukan apapun juga.

Meskipun kelima orang Pamingit itu berusaha untuk tetap menahan orang-orang itu di lapangan, namun usaha mereka tidak berhasil. Bahkan akhirnya mereka terpaksa melepaskan orang-orang berlarian kesana kemari, karena kuda-kuda mereka seolah-olah menjadi gila di kejutkan oleh teriakan-teriakan orang-orang yang ketakutan.

Sesaat kemudian, lapangan itu telah menjadi kosong, kecuali Kebo Kanigara yang masih harus bertempur melawan orang-orang berkuda dari Pamingit itu. Apalagi kini kelima orang yang lain, yang tidak berhasil menahan orang-orang Banyubiru di lapangan, ingin menumpahkan kemarahan mereka kepada orang yang menamakan dirinya Bantaran. Sebab orang itulah sumber dari kekacauan dan kegagalan mereka menangkap Bantaran.

Dalam pada itu, Kebo Kanigara merasa bahwa tugasnya telah selesai. Ia yakin bahwa Bantaran dan Mahesa Jenar telah berhasil menyelamatkan Nyi Penjawi. Karena itu ia harus segera mengakhiri pertempuran. Demikianlah Kebo Kanigara mulai bertempur dengan sepenuh tenaga. Ia tidak saja menghindari serangan-serangan orang Pamingit itu, tetapi iapun telah mulai menyerang mereka. Ketika seekor kuda dengan penunggangnya yang garang bersenjata sebilah pedang yang gemerlapan menyerangnya, Kebo Kanigara tidak saja menghindari serangannya, tetapi tiba-tiba iapun meloncat keatas punggung kuda itu. Lawan-lawannya yang menyaksikan perbuatannya menjadi heran, bahkan menjadi kebingungan untuk beberapa saat, lebih-lebih penunggang itu sendiri. Ketika ia masih belum sadar, terasalah sebuah pukulan yang dahsat mengenai tengkuknya. Sesudah itu, tubuhnya dengan kerasnya terlempar dari punggung kudanya dan seterusnya tak sadarkan diri. Sedang pedangnya yang gemerlapan kini telah berada di tangan Kebo Kanigara.

Maka mulailah Kebo Kanigara bertempur melawan delapan orang, tetapi kini dengan pedang ditangan. Sebagai seorang yang memiliki ilmu yang tinggi, maka Kebo Kanigara selalu dapat menempatkan dirinya pada keadaan yang menguntungkan. Dengan tangan kiri memegang kendali kuda, sedang dengan tangan kanan ia mengayun-ayunkan pedangnya berputar-putar dahsyat. Ia dapat mempergunakan hampir seluruh tanah lapang itu sebaik-baiknya. Sekali-sekali ia melarikan kudanya menjauhi lawan-lawannya. Kemudian dengan tangkasnya ia memutar kudanya cepat-cepat untuk menghadapi lawannya yang paling depan.

Dengan demikian ia dapat memancing pertempuran melawan orang-orang Pamingit itu hampir satu persatu. Dan satu persatu pula mereka dapat dirobohkan. Pedang ditangannya itu seolah-olah merupakan patuk seekor burung garuda yang bertempur melawan delapan ekor serigala.

Sekali-sekali garuda itu terbang tinggi, kemudian menukik cepat, dan dengan paruhnya yang runcing tajam, dibinasakannya serigala itu satu persatu. Demikianlah akhirnya pedang Kanigara itu telah berhasil melukai orang kelima dipundak kanannya. Demikian hebat luka itu, sehingga akhirnya seperti keempat orang yang lain, orang itu jatuh tersungkur ditanah, dengan tubuh lemas tak berdaya.

Kini tinggallah tiga orang lagi. Tentu saja ketiga orang itu mengerti bahwa lawannya bukanlah manusia setingkat mereka. Kalau semula mereka, delapan orang, tidak mampu mengalahkannya, apalagi kini tinggal 3 orang lagi. Bagaimanapun juga beraninya orang- orang Pamingit itu, namun mereka harus melihat suatu kenyataan, bahwa mereka bertiga tidak akan mungkin memenangkan pertempuran itu.

Karena itu selagi nyawa mereka masih tinggal didalam tubuh, serta selagi darah mereka masih belum tertumpah, maka tidak ada cara lain yang lebih baik daripada menghindarkan diri dari tanah lapang itu secepat-cepatnya.

Untunglah kalau mereka sempat datang kembali dengan membawa bantuan. Syukurlah kalau Sawung Sariti atau lebih-lebih Ki Ageng Lembu Sora sendiri, yang kebetulan sedang berada di Banyubiru dapat menyaksikan ketangkasan orang itu.

Maka setelah mereka masing-masing berpikir dan mengambil suatu keputusan, yang seolah-olah diatur bersama, maka ketika salah seorang daripadanya memutar kudanya dari tanah lapang itu sambil memperingatkan kawan-kawannya, bahwa lebih baik menyelamatkan diri serta membawa bantuan lebih banyak lagi, segera menghamburlah ketiga ekor kuda itu dengan penunggangnya meninggalkan Kebo Kanigara secepat mungkin.

Kebo Kanigara memandang ketiga orang yang meninggalkan gelanggang itu sambil mengusap peluhnya. Kemudian matanya berkisar dari satu tubuh ketubuh yang lain, yang masih terkapar ditanah lapang itu. Ia mengharap agar kemudian kawan-kawan mereka segera datang dan merawat luka-luka mereka. Sebab Kebo Kanigara sama sekali tidak bermaksud membunuh mereka semua. Kalau diantara terpaksa ada yang menghembuskan napas penghabisan, itu adalah diluar kemauannya. Sebab dalam bermain dengan air, pastilah ada diantaranya yang terpercik dan menjadi basah karenanya.

Setelah itu, segera Kebo Kanigara teringat kepada Mahesa Jenar dan Bantaran. Dengan Mahesa Jenar ia berjanji untuk segera kembali ketempat kuda-kuda mereka tertambat. Karena itu sebelum keadaan menjadi lebih buruk, segera Kebo Kanigara meloncat dari kudanya, dan berlari lewat jalan semula, pergi ke Sendang Putih. Ia terpaksa menyusur jalan-jalan sempit dan halaman-halaman kosong seperti yang dilaluinya semula, karena ia tidak mengenal daerah dan jalan-jalan lain di Banyubiru.

Tetapi dengan demikian, beruntunglah ia, karena sesaat kemudian lamat-lamat ia mendengar derap kuda, jauh lebih banyak dari semula, menuju ketanah lapang dimana ia baru saja bertempur. Karena itulah ia segera mempercepat larinya supaya tidak terkejar oleh orang-orang yang pasti akan mencarinya.

KANIGARA menyusup ke semak-semak, mengambil jalan yang memotong. Ia menjadi agak lega dan memperlambat larinya. Apalagi ia terpaksa berusaha mengenal kembali jalan setapak yang dilaluinya itu, supaya ia tidak tersesat. Beberapa lama kemudian sampailah ia di tempat mereka berjanji untuk bertemu.

Di situ telah menanti Mahesa Jenar, Bantaran, Nyi Penjawi dan seorang kakek tua ayah Nyi Penjawi.

Dengan tersenyum Mahesa Jenar menyambut kedatangan Kebo Kanigara, katanya, ”Sudah puaskah Kakang bermain-main dengan orang Pamingit?”

Sambil duduk di samping Mahesa Jenar, Kanigara menjawab sambil tersenyum pula, ”Mereka adalah kawan bermain yang baik. Orang-orang Pamingit itu ternyata ahli menunggang kuda.”

Dengan tersenyum pula Mahesa Jenar menjawab, ”Sayang mereka tidak dapat bermain- main dengan senjata sebaik mereka naik kuda.”

Kemudian dengan lesu Kanigara berkata seperti kepada diri sendiri, ”Aku terpaksa melukai beberapa orang diantaranya. Sebab aku tidak dapat bermain-main dengan senjata sebaik diantara mereka yang terbunuh.”

Mahesa Jenar sama sekali tidak menyahut. Ia tahu betul perasaan Kebo Kanigara, bahwa bukanlah pada tempatnya, dalam keadaan yang demikian, dimana ia tidak mempunyai persoalan langsung dengan orang-orang Pamingit itu, tangannya terpaksa menumpahkan darah. Tetapi dalam keadaan yang demikian, tak seorangpun yang akan dapat menyalahkannya. Apalagi Bantaran.

Sebagai seorang pemimpin laskar Banyubiru, ia menjadi keheran-heranan, bahwa dalam pertempuran yang berlangsung itu, dimana seorang harus melawan 10 orang bersama- sama, masih juga menyesal kalau ia terpaksa membunuh lawannya.

Sesaat kemudian keadaan menjadi sunyi. Masing-masing membiarkan angan-angannya mengembara ke daerah yang berbeda-beda.

Kemudian terdengarlah kembali Mahesa Jenar berkata kepada Bantaran, ”Bantaran... aku masih ingin mendapat beberapa keterangan tentang laskarmu dan laskar Penjawi. Sebab mau tidak mau, apabila Ki Ageng Lembu Sora dan Sawung Sariti tetap pada pendiriannya, kita akan

memerlukannya.”

Bantaran menggeser duduknya, kemudian menjawabnya, ”Laskar kami sebenarnya tidaklah begitu banyak, Tuan. Apalagi sampai saat ini kami sama sekali tidak mendapat bimbingan yang baik. Apakah artinya kami berdua. Aku dan Penjawi. Sedang yang kami hadapi adalah Ki Ageng Lembu Sora dan putranya, Sawung Sariti. Sedangkan tingkat keterampilan kami tidaklah lebih daripada pengawal-pengawal Lembu Sora itu.”

”Tetapi bagaimanakah dengan tekad mereka...?” sela Mahesa Jenar.

”Itulah yang mendorong kami untuk tetap berjuang. Mereka ternyata bersedia menunggu pemimpin mereka. Ki Ageng Gajah Sora atau putranya, Arya Salaka yang hilang itu.”

”Bagaimanakah dengan Wanamerta?” Mahesa Jenar mencoba bertanya.

”Orang tua itupun telah meninggalkan Banyubiru.” jawab Bantaran. ”Tetapi kami belum mengetahuinya, di mana ia berada.”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Kemudian ia berkata, ”Bantaran, agaknya Wanamerta benar-benar belum berhasil mencari hubungan dengan kalian. Ketahuilah bahwa Wanamerta telah berhasil menyusul putra Ki Ageng Gajah Sora.”

”Arya Salaka...?” potong Bantaran terkejut.

”Ya,” jawab Mahesa Jenar, ”Dan selama ini Arya salaka dalam keadaan selamat.”

”Syukurlah,” sahut Bantaran. ”Memang demikianlah berita yang pernah aku dengar, meskipun aku belum meyakini sebelumnya. Sekarang karena Tuan yang mengatakannya, maka aku dapat mempercayainya.”

”Dari mana kau dengar berita itu?” tanya Mahesa Jenar.

”Aku tidak jelas sumbernya,” jawab Bantaran. ”Tetapi aku kira dari orang-orang Pamingit. Sebab aku dengar mereka sedang mencari untuk membunuhnya. Bahkan yang kami dengar Arya Salaka selalu bersama-sama dengan Tuan.” ”Berita itu benar. Hampir seluruhnya. Bahkan Sawung Sariti sendiri sudah untuk kedua kalinya berusaha membunuh Arya Salaka dengan tangannya.”

Mendengar keterangan itu, Bantaran mengangkat kepalanya. Bagaimanapun ia merasa tersinggung atas kelakuan Sawung Sariti.

Maka katanya, ”Untunglah bahwa Arya Salaka dapat Tuan selamatkan.” ”Ia telah dapat menyelamatkan dirinya sendiri,” jawab Mahesa Jenar.

Bantaran menjadi heran mendengar jawaban itu. Sawung Sariti pada saat-saat terakhir telah menjadi seorang pemuda yang tangguh, berkat tuntunan kakeknya, Ki Ageng Sora Dipayana. Meskipun seandainya Arya Salaka mendapat tuntunan dari Mahesa Jenar, apakah anak itu akan dapat

menyamai ketangguhan Sawung Sariti. Sebab Ki Ageng Sora Dipayana adalah seorang yang sukar dicari tandingnya. Tetapi Bantaran tidak mau menanyakannya. Ia takut kalau- kalau dengan demikian akan dapat menyinggung perasaan Mahesa Jenar.

Dalam pada itu Mahesa Jenar meneruskan, ”Yang penting bagimu Bantaran, peliharalah tekad dan kesetiaan laskarmu terhadap perjuangan yang telah dirintisnya. Dalam waktu yang singkat aku akan membawa Arya Salaka ke tengah-tengah mereka.”

TIBA-TIBA dada Bantaran terasa seolah-olah mengembang karena kegembiraan. Kalau Arya Salaka berada di tengah-tengah mereka maka laskarnya akan menjadi laskar yang bertekad baja, yang tidak lagi memperhitungkan hidup dan mati yang memang diluar kekuasaan manusia.

”Karena itu...” Mahesa Jenar meneruskan, ”Bersiaplah menghadapi masa yang menentukan.”

”Baiklah Tuan,” jawab Bantaran mantap. ”Akan kami khabarkan hal ini kepada mereka supaya mereka merasa bahwa apa yang mereka lakukan itumempunyai arti bagi tanah perdikan mereka.”

”Kalau demikian, ke manakah aku harus membawa Arya Salaka...?” sahut Mahesa Jenar.

”Ke Gedong Sanga, Tuan,” jawab Bantaran cepat. ”Di sekitar candi itu kami menempatkan laskar kami.”

”Baiklah. Dan beruntunglah aku dapat bertemu dengan kau di sini, sehingga aku mendapat banyak bahan untuk saat-saat terakhir.”

Demikianlah, mereka mengakhiri pembicaraan. Setelah sekali lagi Mahesa Jenar berjanji akan membawa Arya ke Candi Gedong Sanga, maka bersama dengan Kebo Kanigara ia minta diri untuk segera kembali ke Karang Tumaritis, dimana Arya Salaka pasti telah menunggunya.

Bersamaan dengan itu, berangkat jugalah Bantaran lewat jalan-jalan hutan membawa istri Penjawi beserta ayahnya untuk berkumpul kembali dengan laskarnya, setelah beberapa hari ia berkeliaran di daerah sekitar Banyubiru untuk melihat perkembangan daerah itu.

Namun kali ini dengan bangga ia akan dapat berkata kepada laskarnya tentang apa yang disaksikannya di Banyubiru, pertemuannya dengan Mahesa Jenar yang tanpa diduga- duganya. Serta yang terakhir bahwa mereka boleh mengharap, dalam waktu singkat Mahesa Jenar akan membawa Arya Salaka ke tengah-tengah mereka.