Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 27

Jilid 27

Apalagi Kanigara sebagai orang yang memiliki kesaktian tinggi, tidak mempunyai orang lain yang dapat menerima warisan kesaktiannya, kecuali seorang gadis. Karena itu, meskipun anaknya seorang gadis, namun dilatihnya sejak kecil, agar kemudian mewarisi ilmunya.

Demikianlah pada saat itu. Mahesa Jenar, Rara Wilis dan Arya Salaka untuk pertama kalinya melihat bahwa Endhang kecil itu pun ternyata memiliki ilmu yang sudah dalam tingkatan yang tinggi.

Setelah Widuri mempersiapkan dirinya, maka segeralah latihan itu dimulai. Tentu saja mula-mula Arya Salaka menjadi agak segan. Tetapi ketika latihan itu sudah berjalan beberapa saat, ia benar-benar menjadi heran. Meskipun tidak terlalu kuat namun Endang Widuri memiliki kelincahan yang luar biasa, seperti yang selalu diperlihatkan kalau gadis itu sedang bergurau atau berlari-larian.

Kali ini segala geraknya itu diatur dengan rapi sehingga dengan demikian Widuri telah dapat mengejutkan beberapa orang yang menyaksikan. Maka latihan itu semakin lama menjadi semakin cepat.

Kalau Arya Salaka mula-mula hanya berusaha untuk melayani, akhirnya ia pun harus bekerja keras untuk sekali-sekali melakukan tekanan-tekanan pada kawan berlatihnya itu. Bahkan kemudian latihan itu menjadi semakin sengit, diluar dugaan.

KALAU saja Endang Widuri seorang laki-laki yang memiliki kekuatan secara kodrati lebih besar daripada seorang gadis, maka Widuri pada umurnya yang baru kira-kira 15 tahun itu pasti sudah semakin memiliki keperkasaan yang mengejutkan. Bahkan mungkin dalam saat yang tidak lama akan dapat menyamai Arya Salaka.

Demikianlah pada saat itu telah disaksikan suatu latihan yang mengherankan dari dua macam ilmu yang berasal dari satu keturunan. Meskipun dalam perkembangannya agak berbeda namun jelas bahwa unsur-unsur pokoknya tetap dalam garis yang sama. Gerak- gerak Arya dipengaruhi oleh gerak berbagai jenis binatang, sedangkan gerak Widuri dilandaskan pada kecepatan dan kelenturan seuai sifat-sifat alami seorang gadis.

Akhirnya tampak bahwa Endang Widuri masih belum dapat menyejajari Arya Salaka, namun hal itu dapat diterima sebagai suatu kewajaran. Meskipun andaikata keduanya benar-benar bertempur, Arya Salaka pun akan dapat dengan mudah mengalahkan gadis kecil itu.

Demikianlah Endang Widuri telah menimbulkan keheranan diantara para penontonnya. Bahkan ayahnya pun lega menarik nafas panjang, karena jerih payahnya selama itu ternyata cukup memberinya kepuasan. Yang paling tertarik dari semuanya adalah Rara Wilis, yang merasa bahwa pada umur-umurnya sebesar Widuri itu ia baru dapat dengan manjanya menarik-narik ujung baju ibunya. Merengek dan berbagai polah yang kekanak- kanakan.

Karena itu Wilis menjadi terharu melihat gadis kecil itu, yang sejak bayi ternyata sudah tidak beribu lagi. Kemudian atas asuhan ayahnya telah dapat menunjukkan suatu yang membanggakan, meskipun karena pengaruh keadaan, dimana ia bergaul dengan rapatnya hanya dengan seorang laki-laki maka seolah-olah tingkah Widuri pun dalam beberapa hal terpengaruh oleh kelakukan laki-laki. Tetapi agaknya latihan yang memikat hati itu, tiba- tiba terhenti ketika mereka melihat seorang cantrik yang berlari-lari dengan nafas terengah-engah. Bahkan Kanigara menjadi agak terkejut, ketika cantrik itu dengan terputus-putus berkata diantara peredaran nafasnya yang semakin cepat.

“Tuan... ada seseorang mencari...”

Kanigara mengerutkan keningnya, lalu bertanya, “Siapakah yang dicari...?”

“Tuan Mahesa Jenar,” jawab cantrik itu. “Aku...?” sela Mahesa Jenar.

Ya... sejak tadi aku berkeliling bukit ini mencari Tuan,” sambung cantrik itu. Siapa...?” tanya Mahesa Jenar pula.

Aku tidak tahu. Orang itu tidak menyebut namanya. Tetapi aku kenal dan pernah melihat pengantarnya,” jawab cantrik itu pula.

“Siapakah pengantarnya?” desak Mahesa Jenar tidak sabar. “Mereka telah agak lama menunggu Tuan.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya, kemudian desaknya lagi, “Ya, tetapi siapakah dia...? Katamu kau kenal kepadanya.”

“Ya, aku kenal, Tuan. Yang seorang adalah Ki Wiradapa, Lurah Gedangan, dan seorang pengawalnya.”

“Wiradapa dari Gedangan...?” ulang Mahesa Jenar terkejut. Cantrik itu menganggukkan kepala.

Maka tanpa disadari, Mahesa Jenar memandang Kebo Kanigara yang agaknya tertarik juga dengan pembicaraan itu, untuk mendapat pertimbangan. Namun agaknya Kebo Kanigara tidak dapat menebak sesuatu. Maka katanya,

“Marilah kita temui mereka.”

“Di manakah Panembahan...?” tanya Kanigara kepada cantrik itu. “Tamu itu tak mencari Panembahan, Tuan,” jawabnya.

“Ya, tetapi aku ingin tahu di mana Panembahan sekarang?” ulang Kanigara.

“Beliau ada di Sanggar,” jawab cantrik. Kanigara mengangguk-angguk, lalu katanya kepada cantrik itu,

“Nah, dahululah. Katakan kepada tamu-tamu itu bahwa sebentar lagi kami akan datang.”

Cantrik itu membungkuk hormat, lalu berjalan meninggalkan tempat itu. Kemudian disusul pula oleh Kebo Kanigara, Mahesa Jenar serta yang lain. Di salah satu rumah Padepokan itulah Wiradapa menunggu. Maka ketika dilihatnya kemudian Mahesa Jenar beserta beberapa orang mendatanginya, cepat-cepat ia bangkit dan dengan hormatnya menyambut kedatangan mereka. Sedangkan Mahesa Jenar pun segera membungkuk hormat kepadanya. Tetapi ketika ia melihat seorang lagi, yang mungkin orang itulah yang diantarkan oleh Wiradapa, dada Mahesa Jenar menjadi bergetar.

Orang itu adalah seorang yang telah lanjut usia. Rambutnya telah memutih, namun wajahnya masih memancarkan kebesaran tekad serta keteguhan hati. Ketika orang itu melihat Mahesa Jenar, untuk beberapa lama ia berdiri mengawasinya. Tetapi kemudian ia bertanya,

“Bukankah Anakmas Mahesa Jenar...?”

Mahesa Jenar dengan agak gugup membungkuk sambil menyahut, “Ya, Paman... akulah Mahesa Jenar.”

“Syukurlah... syukur bahwa aku benar-benar dapat bertemu dengan Anakmas setelah aku menempuh perjalanan yang sulit. Di manakah cucu Arya Salaka...?” lanjut orang itu.

MAHESA JENAR segera menjawab sambil menarik Arya Salaka, “Inilah... Paman.” Kemudian kepada Arya Salaka ia bertanya, “Lupakah kau dengan eyangmu...?”

Arya Salaka tidak menjawab. Tetapi matanya memancarkan sinar yang ganjil. Ia merasa seolah-olah berada dalam mimpi yang sama sekali tak diduganya.

“Inikah dia..?.” tanya orang itu tak percaya. “Ya,” jawab Mahesa Jenar. “Inilah anak itu.”

Tiba-tiba orang itu maju selangkah lagi. Diraihnya anak yang sudah hampir melampaui dirinya, dan dipeluknya seperti anak-anak. Dari mata orang tua itu membayanglah suatu perasaan haru yang sangat, yang bahkan kemudian menjadi basah oleh titik-titik air mata.

“Akhirnya doaku serta doa seluruh penduduk Banyubiru dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Adil,” gumam orang itu dengan suara yang sesak parau. “Sehingga aku masih berkesempatan bertemu dengan Cucu Arya Salaka sebelum umurku ini berakhir.”

Arya Salaka menundukkan wajahnya, seolah-olah ia pun sedang berusaha untuk menyembunyikan perasaan haru yang dalam. Bahkan terasalah seakan-akan sesuatu menyumbat tenggorokannya.

Sejenak kemudian orang tua itu menggoyang-goyangkan tubuh Arya Salaka, seolah-olah ingin melihat keperkasaaannya. Katanya kemudian,

“Kau berkembang dengan suburnya. Tubuhmu menjadi demikian gagahnya, melampaui ayahmu.”

Arya Salaka masih belum dapat menjawab. Ia menjadi bingung karena pertemuan yang tiba-tiba itu. Kemudian Mahesa Jenar yang mewakili menjawabnya,

“Karena pangestu Paman, Arya Salaka dapat tumbuh seperti yang aku harapkan. Mudah- mudahan aku tidak mengecewakan ayahnya.”

Setelah itu maka dipersilakanlah tamu-tamu itu untuk duduk kembali. Diperkenalkanlah Kebo Kanigara dengan orang tua itu. Orang pertama di Banyubiru sesudah Ki Ageng Gajah Sora. Dia adalah Wanamerta. Juga diperkenalkan lurah desa Gedangan, Wiradapa.

“Dari siapakah Paman dapat mengetahui bahwa aku berada di bukit ini?” tanya Mahesa Jenar.

“Dari Adi Wiradapa,” jawab Wanamerta. Dan seterusnya berceritalah Wanamerta, bagaimana ia dapat mengikuti jejak Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

“Anakmas, aku berusaha secepatnya pergi ke Gedangan, suatu daerah yang belum pernah aku datangi. Sebab dari seseorang kepercayaanku, aku mendengar bahwa Anakmas beserta Arya Salaka pernah dijumpai oleh Cucunda Sawung Sariti di pedukuhan itu, menurut orang itu, Cucu Arya Salaka bahkan terlibat dalam suatu pertempuran yang katanya dibantu oleh seorang yang tak dikenalnya, dan mengaku ayahnya, aku menjadi pasti bahwa orang yang dimaksud adalah Anakmas Mahesa Jenar. Sebab sejak Cucunda Arya Salaka hilang dari Banyubiru, aku selalu mengharap agar Cucunda Arya Salaka meninggalkan Banyubiru bersama-sama dengan Mahesa Jenar, meskipun ada yang menduga bahwa Anakmas menjumpai kesulitan dengan diketemukannya Kuda Anakmas tanpa penumpang.”

Orang tua itu berhenti sejenak sambil membetulkan letak duduknya. Setelah menelan ludah, kemudian ia meneruskan ceritanya,

“Beberapa saat setelah Sawung Sariti pulang, agaknya Pamingit mengadakan persiapan- persiapan baru dengan tidak mengikutsertakan Laskar Banyubiru, akhirnya yang aku dengar ialah, Sawung Sariti akan mengerahkan pasukan yang lebih kuat lagi untuk mencari Anakmas Mahesa Jenar dan Cucu Arya Salaka ke desa Gedangan. Karena itu aku tidak dapat berbuat lain kecuali berusaha untuk mendahuluinya, memberitahukan hal itu kepada Anakmas, Tetapi sampai di Gedangan, atas ancar-ancar orang tadi, Anakmas sudah meninggalkan desa itu, pergi ke Padepokan Karang Tumaritis. Dan atas kebaikan hati Adi Wiradapa, ia berkenan mengantarkan aku kemari, sebab katanya Adi Wiradapa telah lama tidak bertemu dengan Anakmas Mahesa Jenar, Meskipun mula-mula kami agak cemas, jangan-jangan Anakmas Mahesa Jenar telah meninggalkan padepokan ini.”

Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Apa yang sebenarnya dicemaskan sejak lama, kini ternyata benar-benar akan terjadi. Karena itu ia menjadi berpikir keras, bagaimanakah sebaiknya cara yang akan ditempuh untuk menyelamatkan desa Gedangan yang pasti akan menjadi ajang pertempuran. Dan karena itu pula agaknya Wiradapa sengaja mengantarkan Wanamerta. Dalam pada itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan ceritanya,

“Yang lebih mencemaskan lagi, Anakmas... agaknya Sawung Sariti telah bersepakat dengan Janda Sima Rodra, yang menurut pendengaranku, suaminya terbunuh pula oleh Anakmas.”

Bagaimanapun dada Mahesa Jenar berdesir. Ini berarti akan datang kekuatan besar. Ia yakin bahwa dalam pasukan itu akan ikut serta Sima Rodra tua, bahkan mungkin Bugel Kaliki.

Tetapi agaknya Arya Salaka berpikir lain. Sebab tiba-tiba wajahnya menjadi cerah. Kemudian sahutnya, “Eyang Wanamerta... aku akan sangat bergembira apabila Adi Sawung Sariti sudi sekali lagi menemui aku. Sebab setelah sekian lama aku tidak bertemu, dan sesudah pertemuan kami yang hanya sekejap, aku menjadi rindu kepadanya.”

“Ah, kau...” potong Wanamerta.

“Aku memang mendengar bahwa atas asuhan Anakmas Mahesa Jenar, kau pada waktu itu dapat mengimbangi Sawung Sariti. tetapi karena itulah maka Sawung Sariti telah bekerja mati-matian mesu dhiri. Kakang Sora Dipayana agaknya percaya pada dongengan yang dibuatnya bersama ayahnya, Lembu Sora, sehingga dalam waktu yang pendek itu ia telah menggembleng Sawung Sariti bukan main. Bahkan ayah-beranak itu kini memiliki warisan kesaktian yang menakutkan dari Perguruan Banyubiru, yaitu Lebur Sakethi, meskipun dalam tingkatan yang belum sempurna."

SEKALI lagi dada Mahesa Jenar berdesir. Lebur Sekethi adalah kesaktian yang luar biasa dahsyatnya. Aji itu dapat disejajarkan dengan aji Cundha Manik dari Perguruan Pandan Alas, Sasra Birawa dari Perguruan Pengging. Karena itu Ki Ageng Lembu Sora yang memiliki kekuatan melampaui manusia biasa dengan pedangnya yang tidak berukuran lumrah pasti akan menjadi seorang yang luar biasa pula.

Juga anaknya yang cerdik itu, pasti akan menjadi anak yang sangat berbahaya.

Mahesa Jenar kemudian menjadi menyesal pada keadaan, sehingga Ki Ageng Sora Dipayana dapat terseret dalam keadaan yang pasti tidak dikehendaki sendiri. Tetapi kemudian diingatnya bahwa orang tua itu sendiri berkata kepadanya, bahwa Lembu Sora adalah anak kesayangan istrinya. Tidak mustahil kalau karena keadaan itu Lembu Sora dapat memanfaatkannya dengan baik.

“Agaknya...” lanjut Wanamerta, “Kakang Sora Dipayana lebih percaya kepada cerita Lembu Sora bahwa Anakmas Gajah Sora telah tidak ada lagi. Dengan licinnya ia berpura-pura mengutus seseorang ke Demak untuk mendapat berita kematiannya. Sebab dalam perjalanan ke Demak, pada saat Anakmas Gajah Sora ditangkap, Laskar Banyubiru telah mengadakan suatu serangan secara tiba-tiba.” “Suatu cerita atas kebohongan yang maha besar,” sahut Mahesa Jenar, “Sebab aku menyaksikan semuanya itu. Bahkan aku tahu pasti bahwa yang menyerang pasukan Demak adalah orang-orang Lembu Sora sendiri.”

Mendengar bantahan Mahesa Jenar itu, Wanamerta tersenyum. Lalu katanya,

“Kami, Laskar Banyubiru, mengetahui kebohongan itu. Sebab andaikata apa yang dikatakan itu benar, kamilah orang-orangnya yang disebutnya Laskar Banyubiru, atau setidak-tidaknya aku mengetahui orang-orang itu.”

“Tidakkah Paman Wanamerta mengatakan hal itu kepada Paman Sora Dipayana?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku sudah mencobanya,” jawab Wanamerta. “Tetapi agaknya keteranganku itu diragukan. Bahkan beberapa saat kemudian Ki Ageng Lembu Sora mulai bertindak memperkokoh kedudukannya di Banyubiru. Beberapa orang telah disingkirkan. Sawungrana sebagai kau ketahui telah dibinasakan. Sebelum itu Pandan Kuning telah dilenyapkan pula.”

“Paman Pandan Kuning...?” potong Arya Salaka hampir berteriak.

Wanamerta mengangguk kosong. Wajahnya yang sudah dipenuhi oleh garis-garis umur menjadi semakin berkerut-kerut.

“Ya, Pandan Kuning hilang beberapa saat sebelum Sawungrana. Kemudian datang giliran Bantara dan Panjawi,” tegasnya.

“Juga kedua paman itu...?” kembali Arya berteriak.

“Untunglah bahwa kedua orang itu sempat mempertahankan dirinya, meskipun kemudian harus meninggalkan Banyubiru,” lanjut Wanamerta.

Mendengar kata-kata terakhir itu, tiba-tiba Arya meloncat maju. Sambil berdiri tegak di atas kedua kakinya yang kuat, anak itu menengadahkan wajahnya yang keras penuh gelora yang terlontar dari dadanya. Ia menjadi demikian marahnya sampai tubuhnya seperti orang kedinginan. Kemudian ia berkata dengan suara gemetar,

“Tidakkah seorang pun dapat mencegah perbuatan itu...? Eyang Wanamerta, aku tidak akan menunggu sampai mereka datang mencari aku. Aku yang akan datang ke Banyubiru. Aku yakin bahwa sebagian besar dari penduduk Banyubiru masih setia kepada ayah Gajah Sora. Aku akan datang atas nama pimpinan tanah Perdikan Banyubiru yang sebenarnya.”

Semua yang menyaksikan tingkah laku Arya Salaka itu dadanya menjadi bergetar. Agaknya dalam dada anak itu benar-benar mengalir darah kepemimpinan yang kuat dengan penuh rasa tanggung jawab, meskipun masih dipengaruhi oleh masa remajanya yang melonjak-lonjak. Lebih - lebih Wanamerta. Sekali lagi hatinya dirangsang oleh perasaan haru yang mendalam, sehingga kembali matanya tampak mengaca. Tetapi ia adalah seorang yang telah banyak merasakan pahit manisnya kehidupan. Juga dialah yang paling mengetahui keadaan Banyubiru yang sebenarnya.

Karena itu dengan sabarnya Wanamerta mencoba menenangkan hati Arya Salaka.

“Duduklah cucuku Arya Salaka. Kau benar-benar seperti ayahmu pada saat-saat seumur kau ini. Tetapi dalam segala tindakan haruslah dipikirkan sampai titik-titik yang sekecil- kecilnya, untung dan ruginya.”

Arya kemudian menjadi tersadar dari gelora hatinya, sehingga ditundukannya wajahnya. Ia kemudian menjadi agak malu kepada dirinya sendiri, yang seolah-olah menjadi seorang perkasa yang tak terlawan. Sedang di dekatnya duduk orang-orang seperti gurunya Mahesa Jenar, Kebo Kanigara, dan yang lain.

Kemudian bahkan keadaan menjadi hening. Yang terdengar hanyalah angin pegunungan yang berdesir di dedaunan. Udara malam yang dingin terasa mengusap tubuh. Sesaat kemudian barulah Wanamerta mulai berbicara kembali,

“Anakmas Mahesa Jenar... terserahlah atas segala pertimbangan Anakmas. Apakah yang sebaiknya kita lakukan.”

Mahesa Jenar sekali lagi mengerutkan keningnya. Meskipun sebelum ia sampai ke Banyubiru beberapa tahun lalu tidak ada sangkut pautnya dengan tanah perdikan itu, namun sekarang tiba-tiba ia seakan-akan menjadi orang yang ikut bertanggungjawab. Tetapi ia tidak akan menyingkirkan diri dari kepercayaan Wanamerta kepadanya. Juga ia sendiri pernah menyatakan kesanggupannya untuk membantu segala kesulitan yang mungkin timbul atas tanah perdikan itu kepada Gajah Sora. Tentang Ki Ageng Sora Dipayana, Mahesa Jenar menduga pastilah ada sebab-sebab lain kenapa orang tua itu berbuat demikian.

Sementara itu kembali terdengar Wanamerta meneruskan,

“Kelakuan Anakmas Lembu Sora tidak berhenti sampai sekian. Yang terakhir adalah usahanya untuk menyingkirkan aku pula. Tetapi agaknya ia menemui kesulitan sehingga rencana itu tertunda-tunda. Sedang aku sendiri sempat pula berusaha untuk menjaga diriku. Sampai kemudian aku mendengar khabar akan usahanya untuk mencari kembali Anakmas Mahesa Jenar dan cucuku Arya Salaka. Demikianlah, Anakmas, keadaan Banyubiru. Sedemikian rumitnya sehingga aku tidak sabar menunggu sampai besok.”

MAHESA Jenar kemudian mengangguk-anggukkan kepalanya. beberapa saat kemudian ia menjawab seperti orang bergumam kepada diri sendiri, “Tetapi agaknya mereka tidak akan ke Gedangan. Sebab Sima Rodra itu tahu pasti bahwa aku dan Arya Salaka telah meninggalkan pedukuhan itu. Bahkan merekapun telah pernah mengepung bukit kecil ini.”

“Tetapi mereka tidak menemukan Anakmas di sini,” sahut Wanamerta. “Aku telah mendengar hal itu pula. Namun agaknya Anakmas Sawung Sariti masih menduga bahwa Anakmas dan Cucu Arya berada di sekitar Gedangan dan Karang Tumaritis.”

Masalahnya ternyata akan menjadi luas. Menyangkut daerah Gedangan dan sekaligus padepokan yang damai ini. Beberapa saat yang lalu, daerah yang seolah-olah tidak pernah tersentuh tangan - tangan dari luar padepokan ini telah dikacaukan oleh kedatangan gerombolan orang-orang Sima Rodra untuk mencarinya, sekarang agaknya akan mengalami keributan sekali lagi.

Apalagi ketika kemudian terdengar Wiradapa berkata,

“Adimas Mahesa Jenar, agaknya aku tidak dapat berbuat lain daripada menyerahkan hidup mati rakyatku kepada Adimas. Sebab aku tahu apa yang akan terjadi seandainya kami, orang-orang Gedangan sendiri yang harus mempertahankan diri atas dendam Sawung Sariti yang menemui kegagalan di desa kami, dan sekaligus dendam yang tersimpan di dada Janda Sima Rodra atas kematian suaminya.”

Mahesa Jenar dapat mengerti sepenuhnya keadaan itu. Karena itu ia harus menemukan suatu cara untuk mengatasi keadaan.

Tiba-tiba bertanyalah ia kepada Wanamerta,

“Paman..., di manakah Bantaran dan Panjawi sekarang?”

“Aku sudah mencoba untuk menghubungi,” jawabnya. Mahesa Jenar menjadi semakin tertarik pada keterangan itu, katanya,

“Apakah Paman berhasil...?”

Wanamerta menggelengkan kepalanya, jawabnya,

“Sayang..., tidak. Tetapi setidak-tidaknya aku pernah mendengar kabar tentang kedua orang itu. Agaknya mereka telah berhasil menyusun barisan meskipun masih terlalu lemah. Bahkan diantara mereka ada beberapa orang yang belum kami kenal, yang datang dari daerah Candi Jonggrang. Ia menggabungkan dirinya karena ia sudah mengenal beberapa hal mengenai keadaan Banyubiru."

“Siapa orang itu...?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku belum tahu pasti,” jawab Wanamerta. “Menurut pendengaran diantaranya bernama Mantingan dan Wirasaba.”

“Mantingan dan Wirasaba...?” ulang Mahesa Jenar hampir berteriak. Wanamerta mengangguk. Namun ia menjadi keheranan. Agaknya Mahesa Jenar pernah mendengar nama-nama itu. Karena itu ia bertanya,

“Adakah Anakmas pernah mengenal mereka?” Mahesa Jenar mengangguk lemah. Jawabnya,

“Ya, aku pernah mengenal mereka. Mantingan memang pernah datang ke daerah Banyubiru. Ia tahu mengenai persoalan Arya. Aku pernah mengatakan kepadanya.”

“Syukurlah,” gumam Wanamerta, “Ada juga kawan-kawan yang akan membantu kami.”

Kembali suasana dicekam oleh kesepian. Masing-masing dengan angan-angannya sendiri. Kebo Kanigara yang sejak tadi berdiam diri, nampak juga berpikir. Sebab ia pun akhirnya akan langsung berkepentingan seandainya pasukan Sawung Sariti tiba.

Panembahan Ismaya sama sekali tidak menghendaki kekerasan. Namun apakah ia akan tinggal diam seandainya sekali lagi ada orang lain yang ingin merusakkan kedamaian bukit ini.

Sedang Mahesa Jenar ternyata kemudian tidak pula dapat meningggalkan Kebo Kanigara. Sebab dalam anggapannya, sepeninggal gurunya, maka Kebo Kanigara yang dijumpainya kemudian itu, dapat dianggap sebagai gantinya, meskipun umurnya jauh dibawah umur gurunya.

Karena itu maka kemudian terdengar Mahesa Jenar berkata, “Bagaimana sebaiknya Kakang Kanigara...?”

“Kapankah kira-kira Sawung Sariti akan membawa orang-orangnya...?” ia bertanya langsung kepada Wanamerta.

“Segera Anakmas,” jawab Wanamerta, “Pada saat aku berangkat, semua persiapan sudah selesai.”

Kanigara mengerutkan keningnya. Kemudian katanya,

“Mereka datang dengan pasukan, Mahesa Jenar, Kau tidak akan dapat melawannya seorang diri, atau bersama-sama dengan dua tiga orang saja.”

“Ya,” sahut Mahesa Jenar, “Aku juga harus melawannya dengan pasukan.” Tiba-tiba menyelalah Lurah Gedangan,

“Adimas Mahesa Jenar, meskipun sedikit ada juga laskar di Gedangan. Apabila mereka berada dalam pimpinan yang kuat, aku kira mereka tidak akan terlalu mengecewakan. Bagaimanapun juga mereka akan menyerahkan dirinya untuk mempertahankan kampung halamannya.”

Mahesa Jenar dan Kanigara bersama-sama mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya mereka sependapat bahwa kemungkinan untuk mempergunakan laskar Gedangan tidak dapat dihindari lagi.

Tetapi diantara mereka tampaklah Arya Salaka menundukkan kepalanya. Didalam hatinya melilitlah suatu perasaan sesal yang dalam. Ia menyesal pada keadaannya yang kurang baik. Ia menyesal pada keadaan keluarganya. Satu-satunya pamannya yang seharusnya memberi pengayoman kepadanya, justru telah mengkhianatinya.

Dalam pada itu malam menjadi semakin dalam. Bintang-bintang di langit berkedipan dengan lelahnya. Embun malam satu-satu mulai menggantung di dedaunan.

Sesaat kemudian dipersilahkanlah tamu-tamu itu untuk beristirahat. Sedang di ruang itu kemudian tinggallah Mahesa Jenar, Kebo Kanigara dan Rara Wilis. Namun pembicaraan mereka masih belum berkisar sama sekali dari masalah pasukan-pasukan Pamingit yang bakal datang.

“Mahesa Jenar...” kata Kebo Kanigara, “Kau adalah seorang bekas prajurit yang mumpuni. Aku kira dalam hal ini kau lebih berpengalaman daripadaku. Karena itu, aku minta kau mengusahakan agar apa yang akan terjadi nanti tidak mengganggu ketenteraman hidup di atas bukit kecil ini.”

MAHESA JENAR nampak berpikir keras. Akhirnya ia menjawab,

“Kakang..., aku kira pasukan itu akan benar-benar merupakan pasukan yang kuat. Karena itu, menurut perhitunganku, sebaiknya kami tidak menunggu pasukan itu sampai datang di daerah bukit ini atau pedukuhan Gedangan. Tetapi sebaiknya kami harus menyongsong pasukan itu. Kami sergap mereka di perjalanan. Mudah-mudahan mereka tidak akan menduga bahwa hal itu akan terjadi.”

Kebo Kanigara mengangguk-anggukkan kepalanya. Agaknya rencana itu baik. Karena itu jawabnya, “Bagus.... Aku sependapat dengan kau. Daerah yang berbukit-bukit ini akan banyak memberikan keuntungan pada kita.”

Demikianlah akhirnya mereka bersepakat, bahwa mereka tidak akan menanti pasukan Pamingit itu sampai ke daerah ini, tetapi mereka akan mempergunakan laskar dari Gedangan untuk menyongsongnya.

Malam itu hampir tak ada seorang pun yang dapat tidur. Apalagi Arya Salaka. Kepalanya dipenuhi oleh berbagai masalah yang menghentak-hentak. Namun ia bersyukurlah kepada Allah Yang Maha Pemurah, bahwa meskipun pamannya sendiri sampai hati untuk membinasakan, tetapi diletakkan-Nya orang lain, yang sebenarnya tidak ada sangkut paut apapun, untuk melindunginya.

Pagi itu, ketika di timur fajar merekah, Kanigara telah menghadap Panembahan Ismaya. Diuraikan semuanya yang didengar dari Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa Jenar tentang kemungkinan kemungkinan yang bakal terjadi. Tampaklah betapa pedih hati orang tua itu. Sebenarnya ia sama sekali tidak mau melihat atau mendengar tentang pertempuran- pertempuran dan perkelahian-perkelahian.

“Panembahan...” Kanigara mencoba menjelaskan, “Apa yang akan kami lakukan adalah suatu usaha untuk menghindarkan pertumpahan darah yang dapat mengganggu ketenteraman bukit kecil ini. Karena itu dengan terpaksa kami harus menyambut kedatangan mereka sejauh mungkin dari tempat ini. Sebab kalau tidak, akibatnya akan tidak menyenangkan sekali. Jauh lebih tidak menyenangkan dari kedatangan rombongan yang kemarin mengepung bukit ini.”

Panembahan Ismaya tidak dapat mengatasi keterangan Kanigara lagi. Karena itu katanya,

“Terserahlah kepadamu Kanigara. Tetapi janganlah menjadi kebiasaan, bahwa sesuatu masalah, harus diselesaikan dengan pertumpahan darah.”

Kanigara menundukkan kepala. Perkataan Panembahan Ismaya itu merupakan suatu peringatan langsung kepadanya, bahwa bagaimanapun juga, Panembahan itu lebih senang apabila setiap persoalan dapat diselesaikan dengan musyawarah.

Tetapi keadaan kali ini adalah sedemikian sukarnya untuk diatasi dengan jalan itu. Masalahnya adalah pertentangan kepentingan yang sama sekali berlawanan. Satu pihak ingin menelan suatu daerah yang sama sekali bukan haknya, sedang satu pihak yang lain ingin mempertahankan haknya atas daerah itu.

Apapun alasannya kemudian, tetapi hakekatnya adalah perkembangan dari masalah itu juga.

Demikianlah, maka mereka yang merasa berkepentingan segera mempersiapkan dirinya. Baik jasmaniah maupun rohaniah. Mereka masing-masing telah membulatkan tekad, untuk melawan kekuatan yang merupakan pengejawantahan dari keserakahan itu dengan mati-matian.

Pagi hari itu juga, Wanamerta, Wiradapa dan Mahesa Jenar, dibawa menghadap Panembahan Ismaya. Kecuali untuk memperkenalkan diri, sekaligus mereka mohon pangestu untuk menjalani kewajiban luhurnya. Setelah mendapat beberapa petunjuk dan nasehat, segera mereka meninggalkan bukit kecil itu, menuju ke Gedangan. Kanigara, Rara Wilis, Arya Salaka tidak ketinggalan. Bahkan Widuri pun tidak mau berpisah dengan ayahnya. Karena itu, iapun ikut serta dalam rombongan kecil itu.

Ketika mereka sampai di padukuhan Gedangan, segera terjadilah kesibukan. Mahesa Jenar mulai mengatur segala persiapan yang diperlukan. Laskar Gedangan dibaginya dalam beberapa kelompok. Dalam waktu yang singkat ia harus sudah dapat membentuk laskar itu menjadi laskar yang siap untuk bertempur melawan laskar yang mempunyai pengalaman luas dalam peperangan.

Yang dapat membantunya dalam pembentukan dan persiapan itu hanyalah Kanigara dan Wanamerta. Sebab meskipun Wilis dan Arya mempunyai ilmu yang cukup, namun mereka belum berpengalaman dalam gelar perang. Mereka hanya memiliki kemampuan dalam hal berkelahi seorang lawan seorang.

Meskipun demikian, Mahesa Jenar dapat memanfaatkan pula Arya Salaka. Dilatihnya anak itu untuk menjadi salah seorang pimpinan kelompok. Sedang kelompok-kelompok yang lain diserahkannya kepada Wanamerta, Kanigara dan dirinya sendiri.

Pada hari kelima, sejak mereka mulai mengadakan persiapan-persiapan, datanglah seseorang berkuda ke pedukuhan itu. Ternyata orang itu adalah salah seorang yang ditugaskan oleh Wanamerta untuk mengamati gerak-gerik pasukan Pamingit. Menurut laporannya, pasukan Pamingit telah mulai bergerak.

Mereka mengambil jalan selatan, lewat Gunung Tidar dan kemudian menyusur hutan- hutan yang tak begitu lebat diantara gunung Sumbing dan Sindara, untuk kemudian sampai ke Wanasaba. Dari sana mereka menyusun panjatan langsung dan menyebarkan orang-orangnya mencari Mahesa Jenar dan Arya Salaka.

Mendengar laporan itu Mahesa Jenar berpikir keras. Mereka harus mengusahakan agar pasukan dari Pamingit yang bergabung dengan gerombolan Gunung Tidar itu datang bersama-sama, supaya rencana penyergapan dapat berlangsung.

Demikianlah sambil mencari jalan sebaik-baiknya untuk menjebak pasukan dari Pamingit itu, mereka dengan semangat yang menyala-nyala melatih diri. Siang dan malam tak henti-hentinya.

Disamping itu, setiap orang berusaha untuk meningkatkan kemampuan perseorangan pula. Tidak saja laskar Gedangan, tetapi juga Arya Salaka, Rara Wilis, bahkan Mahesa Jenar sendiri. Mereka dalam waktu-waktu yang luang, betapapun sempitnya, selalu dipergunakan sebaik-baiknya.

PADA hari yang keduabelas, sekali lagi datang seorang berkuda. Orang itu juga salah seorang petugas Wanamerta. Ia datang dengan membawa laporan bahwa orang-orang Pamingit bersama-sama rombongan dari Gunung Tidar telah berada di sekitar Wanasaba. Bahkan mereka sudah bergeser lagi sedikit ke utara. Dari sana mereka berusaha untuk menyebar orang-orangnya di seluruh daerah pegunungan ini sampai ke daerah-daerah di sekitarnya. Sebab menurut mereka, usaha ini harus merupakan usaha yang terakhir. Arya Salaka haus dapat ditangkap hidup atau mati.

“Siapa yang ikut dalam rombongan itu?” tanya Mahesa Jenar. “Sawung Sariti, Janda Sima Rodra, Jaka Soka...” jelas orang itu. “Juga Jaka Soka?” tanya Mahesa Jenar kembali.

“Ya, agaknya iapun merasa mempunyai kepentingan,” jawab orang itu.

Mendengar keterangan itu, meremanglah bulu-bulu kuduk Rara Wilis. Sekarang sebenarnya ia sudah tidak perlu takut lagi apabila ia harus berhadapan dengan orang itu sebagai lawan, meskipun ia masih kalah pengalaman. Namun setidak-tidaknya ia akan dapat menjaga dirinya. Meskipun demikian, apabila ia mendengar nama itu, tubuhnya terasa juga meremang. Sebab ia sudah terlanjur ngeri mendengar nama itu.

“Orang lain lagi...?” desak Mahesa Jenar.

“Yang mengerikan diantaranya mereka terdapat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki,” jawabnya.

“Sudah kami duga sebelumnya,” sahut Mahesa Jenar.

Oleh keterangan-keterangan itu, maka Mahesa Jenar harus menyesuaikan rencanya. Tetapi belum lagi ia dapat menemukan pemecahan yang baik, tiba-tiba pada hari kelimabelas datanglah seroang dengan keterangan yang mengejutkan. Katanya,

“Sebuah rombongan kecil telah menyusur lambung Gunung Perahu, menuju ke daerah ini juga. Mereka dipimpin langsung oleh Sepasang Uling dari Rawa Pening.

Wanamerta mengerutkan keningnya. Dari wajahnya yang tua itu, memancarlah api kemarahan tiada terhingga.

“Sungguh merupakan usaha gila-gilaan. Uling itu akan bersyukur juga kalau Banyubiru jatuh ke tangan Lembu Sora. Sebab dengan demikian ia akan semakin leluasa bergerak di daerah Rawa Pening,” katanya geram.

Bukan itu saja Paman...” potong Mahesa Jenar, “Tetapi sebentar lagi daerah-daerah itu akan

ditelannya. Pamingit oleh Sima Rodra, dan Banyubiru oleh sepasang Uling itu.”

Kembali terdengar gigi orang tua itu menggeretak. Lembu Sora baginya tidak kurang dan tidak lebih dari seorang yang sama sekali mengabdi kepada kepentingan sendiri, yang bahkan tega mengorbankan saudara tuanya.

Tetapi mereka tidak cukup dengan mengumpat-umpat saja. Untuk mengatasi bahaya yang akan datang, Mahesa Jenar dan kawan-kawannya harus bersiaga. Mereka menempatkan beberapa orang untuk dapat mengawasi setiap gerakan yang mencurigakan.

Ketika Mahesa Jenar telah merasa bersiap, maka ia tidak perlu lagi menunggu lebih lama. Bahkan kalau mungkin ia melawan rombongan itu satu demi satu. Sebab apabila kekuatan kedua rombongan itu bergabung, akan merupakan kekuatan yang mungkin sulit untuk diimbangi. Namun meskipun demikian, pantang ia menyingkirkan diri. Sebab dengan demikian ia akan membebankan segala dendam kepada penduduk Gedangan.

Maka yang mula-mula dilakukan adalah memancing pertempuran dengan rombongan Sawung Sariti secepatnya. Tetapi cara yang mula-mula dipikirkan, untuk mencegat rombongan itu, terpaksa dipertimbangkan kembali. Sebab setiap saat rombongan Uling dapat datang dari jurusan lain.

Demikianlah ketika pada suatu hari beberapa orang pengawas dapat menangkap seorang yang dicurigai, Mahesa Jenar berhasrat untuk melakukan maksudnya.

Setelah Mahesa Jenar mempersiapkan pasukannya dalam kesiagaan penuh, dipanggilnya orang tangkapan itu menghadap. Maka bertanyalah ia kepadanya,

“Siapakah kau?”

“Aku seorang perantau, Tuan..., yang berjalan dari satu tempat ke tempat lain untuk menyambung hidup,” jawabnya.

Mahesa Jenar tersenyum, lalu katanya,

“Dari manakah asalmu?” Orang itu ragu sebentar, kemudian jawabnya, “Banyubiru, Tuan.”

“Bagus...” desis Mahesa Jenar. “Katakan kepadaku siapakah kepala daerah perdikanmu?” Kembali orang itu ragu. Namun akhirnya ia menjawab pula,

“Ki Ageng Lembu Sora.”

“Bagus, kau berkata sebenarnya,” sahut Mahesa Jenar. “Di mana sekarang Lembu Sora itu?”

“Di Banyubiru, Tuan” jawabnya.

Di mana anaknya?” desak Mahesa Jenar.

Orang itu diam merenung. Tampaklah wajahnya mulai gelisah. “Di mana?” bentak Mahesa Jenar. “Di Pamingit, Tuan” jawabnya.

“Kau mulai tidak berkata sebenarya,” sahut Mahesa Jenar. “Aku akan mencoba memaksamu supaya kau tidak berkata demikian.”

ORANG itu menjadi semakin gelisah. Apalagi ketika tiba-tiba Mahesa Jenar minta seseorang memanggil Wanamerta. Demikian Wanamerta muncul, mengalirlah keringat dingin di punggung orang itu. Sebagai seorang laskar Pamingit, ia pernah mengenal Wanamerta sebagai orang kedua di Banyubiru, yang harus selalu berhubungan dengan Ki Ageng Lembu Sora dalam hal pemerintahan, meskipun ada usaha-usaha untuk menyingkirkannya.

Melihat orang itu, Wanamerta tersenyum. Ia pun sekali dua kali pernah melihat orang itu. Karena itu bertanyalah Wanamerta,

“Aku mengucapkan selamat atas kedatanganmu Ki Sanak.”

Keringat dingin di punggungnya menjadi semakin banyak mengalir. Ia sama sekali tidak menduga bahwa Wanamerta berada di tempat itu. Karena itu ia sama sekali tidak dapat menjawab sapanya. Sehingga kembali terdengar Wanamerta meneruskan,

“Aku sudah lama menunggu salah seorang sanak keluarga dari Pamingit yang sudah menengokku di sini. Sekarang agaknya ada juga yang datang, malahan agaknya dalam jumlah yang cukup banyak.”

Orang itu masih berdiam diri. Ia tidak tahu apa yang akan dikatakan. Sebab agaknya Wanamerta telah mengetahui gerakan yang dilakukannya.

“Ki Sanak...” kata Mahesa Jenar kemudian, “Kau tidak usah takut. Bukankah kau mendapat perintah untuk mencari Arya Salaka...?”

“Tidak Tuan,” jawab orang itu bergetar mencoba menutupi kesalahannya.

“Jangan bohong. Aku tidak apa-apa. Bahkan aku akan membantumu. Katakan kepada pimpinanmu, bahwa apa yang dicarinya masih ada di Gedangan. Tidak usah ia mencari kemana-mana. Juga tidak usah ke Karang Tumaritis.”

Orang itu menjadi semakin bingung. Apalagi dalam pada itu tiba-tiba dilihatnya Wanamerta menarik belati dari pinggangnya.

“Ampun..., ampun tuan ” teriak orang itu.

Wanamerta tersenyum, katanya, “Ki Sanak. Telah sekian lama aku menahan diri. Sekarang aku ingin menumpahkan kemarahanku kepadamu. Bukankah kau salah seorang dari mereka yang telah mengeruhkan suasana Banyubiru ?” “Tidak Tuan, aku hanya sekedar mendapat perintah,” jawab orang itu ketakutan.

Dalam pada itu Mahesa Jenar pun kemudian menjadi cemas. Ia tidak berhasrat untuk menciderai orang yang hanya merupakan seorang pesuruh saja. Apalagi dengan demikian, maksudnya untuk memancing pertempuran akan tertunda.

Agaknya Wanamerta mengetahui perasahaan Mahesa Jenar itu. Maka katanya,

“Jangan takut Ki Sanak. Aku tidak akan membunuhmu. Tetapi aku ingin membuat suatu kenang-kenangan padamu, bahkan suatu bukti bahwa kau telah melakukan kewajibanmu dengan baik.”

Sehabis berkata demikian, Wanamerta yang sudah tua itu meloncat dengan garangnya, dan hampir tak dapat diikuti gerakannya, tiba-tiba di dahi orang itu telah terdapat dua goresan bersilang. Baru kemudian disusul oleh sebuah jeritan kesakitan. Dari luka itu mengalirlah darah yang merah segar.

Mahesa Jenar sendiri terkejut melihat hal itu. Namun ia tidak dapat mencegahnya. Ia menyadari betapa geram orang tua itu terhadap Lembu Sora dan orang-orangnya.

“Nah...” kata Wanamerta kemudian, “Pergilah. Katakan kepada Sawung Sariti, bahwa Arya Salaka dan Mahesa jenar masih berada di Gedangan. Bahkan Wanamerta yang tua pun berada di sana. Dengan demikian kau akan mendapat tanda jasa atas hasil pekerjaan yang kau lakukan.”

Bagaimanapun juga orang itu adalah seorang laki-laki. Karena itu ia menjadi tersinggung sekali atas perlakuan itu. Dihina terasa pedih sekali, sedang darah yang mengucur dari luka itu telah membasahi baju serta kainnya, membuat gambaran-gambaran merah yang mengerikan.

Tetapi dalam pada itu ia merasa bahwa ia tidak akan dapat melawan Wanamerta dan Mahesa Jenar. Maka yang dapat dilakukan kemudian hanyalah mengumpat habis- habisan,

“Tuan-tuan telah menghina aku. Ini berarti bahwa Tuan-tuan telah menghina pimpinanku. Jangan Tuan mengira bahwa Tuan akan luput dari hukumannya. Tunggulah Tuan Aku akan kembali sekali lagi dan menggoreskan silang ke dahi Tuan.”

Sekali lagi Wanamerta tersenyum aneh, jawabnya,

“Pergilah sebelum aku menambah kenang-kenangan pada tubuhmu. Katakan kepada pemimpinmu, bahwa seandainya mereka yang datang, pada dahi merekalah aku akan membuat tanda silang itu.”

Penghinaan itu sudah melampaui batas. karena itu, orang itu sudah tidak mau menunggu lagi. Cepat ia meloncat lari secepat-cepatnya kembali menghadap Sawung Sariti. Sepeninggal orang itu, segera Mahesa Jenar mengatur pasukannya. Sebab orang yang dilukai oleh Wanamerta itu pasti akan menambah-nambah cerita. Dan kalau demikian maka keadaan akan menguntungkan sekali. Sehingga Mahesa Jenar tidak harus melawan dua rombongan dari jurusan yang berbeda sekaligus, dibawah pimpinan masing-masing, orang-orang buas yang sakti.

Demikianlah apa yang diharapkan itu datanglah.

ada pagi berikutnya, seorang pengawas melaporkan bahwa dari arah selatan tampaklah barisan berobor, mendekati Gedangan. Itulah barisan Sawung Sariti.

Mahesa Jenar cepat menyiapkan orang-orangnya. Ia sendiri beserta Kanigara memimpin laskar yang langsung akan melawan pasukan yang datang, sedang Arya dan Wanamerta dibantu oleh Wiradapa diperintahkannya untuk kemudian menyerang dari sayap kiri dan kanan. Dengan demikian Mahesa Jenar dan Kanigara akan dapat lebih dahulu memilih lawan-lawannya. Apabila Bugel Kaliki dan Sima Rodra berada dalam pasukan itu juga, seharusnya kedua orang itu menjadi kewajiban Mahesa Jenar dan Kanigara.

Untunglah bahwa di Karang Tumaritis, Mahesa Jenar atas tuntunan tidak langsung dari Kebo Kanigara, telah menemukan inti dari ilmunya, setelah ia berhasil ngraga sukma. Dengan demikian ia tidak perlu lagi gentar menghadapi Si Bongkok dari Gunung Cerme atau Harimau Liar dari Lodaya itu.

KEMAMPUAN Kebo Kanigara sendiri tak perlu diragukan lagi. Ia adalah saudara seperguruan ayahnya, Ki Ageng Pengging Sepuh, bahkan ia memiliki kesegaran yang lebih muda dalam olah kanuragan. Sehingga beberapa orang mengatakan bahwa Kebo Kanigara mempunyai beberapa kelebihan dibanding ayahnya.

Pasukan berobor itu kemudian berhenti tidak seberapa jauh dari Gedangan. Agaknya mereka menunggu sampai fajar menyingsing.

Demikianlah ketika matahari telah menjenguk dari balik cakrawala. Bersiaplah kedua pasukan yang sudah saling berhadapan itu. Meskipun demikian, agaknya Sawung Sariti ingin menunjukkan kebaikan hatinya. Dengan panji-panji putih yang tersangkut pada tunggul yang masih tersawung, ia dengan beberapa orang datang mendekati laskar Gedangan. Wajahnya yang cerah membayangkan suatu keyakinan atas kekuatan diri.

Melihat wajah itu Mahesa Jenar menjadi bersedih hati. Matanya membayangkan kecerdasan otaknya, sedang langkahnya tetap menunjukkan bahwa Sawung Sariti adalah seorang anak yang berani. Apalagi dibawah asuhan seorang sakti yang bernama Ki Ageng Sora Dipayana. Sayang bahwa di dalam dadanya tersembunyi beberapa titik-titik hitam yang mengotori kebesaran pribadinya. Di belakangnya berjalan dua orang pengawalnya. Seorang yang bertubuh tinggi agak kurus. Mukanya runcing bermata sipit. Dengan alis yang tebal hampir bertemu pangkalnya. Sedang yang seorang lagi bertubuh besar kekar.

Meskipun ia tidak setinggi orang yang pertama, namun ia termasuk seorang yang tinggi pula. Matanya tajam memandang ke depan, seperti mata burung hantu. Di pinggang kedua orang itu tergantung masing-masing sebuah pedang panjang, sedang di lambung yang sebelah terselip pisau-pisau belati pendek.

Mahesa Jenar-lah yang kemudian melangkah ke depan, menerima kedatangan Sawung Sariti, yang ketika itu telah berdiri berhadapan, dengan hormatnya anak muda itu membungkukkan badannya. Mahesa Jenarpun kemudian membalas membungkukkan badan pula.

“Paman Mahesa Jenar...” Sawung Sariti memulai, “Maafkanlah kalau beberapa bulan yang lewat aku tidak mengenal Paman.”

“Ah, tak apalah,” jawab Mahesa Jenar. Kemudian Sawung Sariti meneruskan,

“Kedatanganku sebenarnya tidaklah bermaksud jahat. Meskipun Paman beserta Eyang Wanamerta telah melukai salah seorang pesuruhku, namun aku dapat memaafkan kesalahan kalian berdua.” Mendengar perkataan itu Mahesa Jenar mengerutkan keningnya. Sejak pertemuannya yang pertama, ia telah menyesali kesombongan anak itu.

“Maksud kedatangan kami...” Sawung Sariti meneruskan, “Sekadar untuk memenuhi permintaan Eyang Sora Dipayana. Demikian rindunya Eyang Sora Dipayana kepada Kakang Arya Salaka, sehingga aku terpaksa mencarinya untuk membawanya menghadap.”

Mahesa Jenar tersenyum pahit, sepahit hatinya melihat kenyataan yang tidak menyenangkan itu. Kemudian jawabnya dengan tenang,

“Baiklah Sawung Sariti, biarlah besok atau lusa Arya Salaka segera menghadap. Ia pun telah merasa sangat rindu kepada pepundennya.”

Sawung Sariti mengangguk-angguk kecil. Agaknya Mahesa Jenar bukan orang yang dapat diperolok-olok. Meskipun demikian ia berkata meneruskan,

“Kenapa besok? Bukankah sekarang ini Kakang Arya Salaka tidak sedang berhalangan, Paman...? Mumpung hari masih pagi, biarlah Kakang Arya kita bawa menghadap. Syukurlah kalau Paman sudi ikut serta dengan kami.”

“Sayang...” jawab Mahesa Jenar, “Barangkali Arya keberatan. Ia lebih senang melihat barisan segelar sepapan yang sedang mengadakan latihan pendakian dan penyusupan di daerah bukit-bukit sekitar Gedangan ini, daripada tergesa-gesa membuat perjalanan ke Banyubiru.”

Dada Sawung Sariti berdebar karenannya. Ternyata bahwa Mahesa Jenar bukan sejenis orang-orang bodoh yang menjadi kebingungan berhadapan dengan putra Kepala Daerah Perdikan Pamingit itu.

Karena itu Sawung Sariti kemudian berkata, namun sudah tidak setenang semula, “Sayang Tetapi Eyang berkehendak demikian.”

Kembali Mahesa Jenar tersenyum pahit. Sebenarnya ia merasa tersinggung atas sikap Sawung Sariti yang menganggapnya sebagai seorang yang sedemikian bodohnya. Sebaliknya, Sawung Sariti pun menjadi kisruh.

Semula ia ingin memutarbalikkan perkataan-perkataannya untuk mempermainkan Mahesa Jenar. Namun akhirnya ternyata ia sendiri yang menjadi gelisah oleh jawaban- jawaban Mahesa Jenar yang sama sekali tak diduga-duga itu.

Sesaat kemudian terdengarlah Mahesa Jenar menjawab,

“Anakmas Sawung Sariti tidak perlu tergesa-gesa. Aku ingin mempersilakan Anakmas untuk beristirahat barang sehari dua hari di pedukuhan ini untuk menikmati cerahnya matahari di lembah terpencil ini.”

Ternyata kemudian Sawung Sariti sudah tidak dapat lagi mengendalikan perkataannya. “Aku tidak punya waktu. Aku ingin membawa Kakang Arya Salaka sekarang juga.”

Mahesa Jenar tertawa pendek. Ia menjadi agak geli melihat anak yang sombong itu nampak jengkel.

Maka jawabnya,

“Tidak baik kau memaksanya, Sawung Sariti.”

“Baik atau tidak baik aku tidak peduli,” bentak Sawung Sariti. “Demikiankah yang diperintahkan eyangmu ?” tanya Mahesa Jenar.

Sawung Sariti yang tidak menduga mendapat pertanyaan yang demikian, menjadi kebingungan. Beberapa saat kemudian barulah ia menjawab sekenanya,

“Aku tidak peduli apakah Eyang setuju dengan caraku ini atau tidak. Hal itu terserah kepadaku.” “Karena itu kau bawa pasukanmu bersama-sama dengan laskar dari Gunung Tidar...?” sahut Mahesa Jenar.

SEKALI lagi Sawung Sariti kebingungan. Karena itu maka terasalah keringat dingin mengalir di punggungnya. Dengan tak disengajanya dilayangkanlah pandangan matanya kepada pasukannya yang berhenti tidak jauh dari tempatnya berdiri. Melihat pasukannya, ia jadi berbesar hati. Diantaranya terdapat orang-orang pilihan seperti Galunggung, orang yang dipercaya penuh oleh ayahnya untuk memimpin pasukan Pamingit yang berjumlah besar itu. Janda Sima Rodra, dan Jaka Soka.

Dan yang lebih hebat lagi, di dalam pasukannya itu pula terdapat dua orang tokoh sakti yang jarang ada bandingnya, yang dendamnya setinggi gunung tersimpan di dalam dadanya, Sima Rodra dari Lodaya yang baru saja kehilangan menantunya dan Bugel Kaliki, Si Bongkok dari Lembah Gunung Cerme. Oleh kebanggaannya itu timbul pulalah kesombongan Sawung Sariti. Katanya,

“Paman, ketahuilah bahwa orang-orang semacam Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki itu tunduk pada perintahku. Apakah kira-kira Paman Mahesa Jenar akan bersikap lain.”

“Ah...” desah Mahesa Jenar, “Cerdik juga kau menggertak aku.”

Mendengar perkataan itu wajah Sawung Sariti menjadi merah. Orang-orang kebanggaannya itu agaknya dipandang rendah oleh Mahesa Jenar. Maka sambungnya ingin memberi penjelasan lebih banyak,

“Paman... belumkah Paman mendengar nama-nama Sima Rodra dari Lodaya dan Bugel Kaliki dari Gunung Cerme?”

Mahesa Jenar kemudian tertawa. Sengaja ia tertawa panjang. Katanya,

“Sawung Sariti, sudah siapkah pasukanmu...? Jangan berbicara seperti berbicara dengan orang-orang Pamingit yang bodoh. Aku bukan anak-anak lagi. Kau sekarang berbicara dengan seorang tua, setua ayahmu Lembu Sora.”

Sekali lagi warna merah menyirat di wajah Sawung Sariti. Kalau saja ia belum pernah mendengar tentang Mahesa Jenar, yang pernah mendapat gelar Rangga Tohjaya itu, ingin ia menghancurkan kepalanya saat itu juga.

Tetapi terhadap Mahesa Jenar ia tidak berani berbuat demikian. Namun di dalam hatinya ia berjanji bahwa ia ingin membunuh orang ini dengan tangannya. Ia telah minta Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki untuk menangkapnya hidup-hidup disamping saudara sepupunya Arya Salaka.

Namun demikian, otaknya ternyata masih dapat bekerja baik. Ketika sekali lagi ia memandang ke arah pasukannya, maka mulailah ia membanding-bandingkan dengan pasukan Gedangan. Menurut perhitungannya, Laskar Gedangan mempunyai jumlah orang lebih banyak. Tetapi ia tidak melihat diantaranya ada orang-orang yang mempunyai nama. Ia tidak melihat orang tua yang disebut Ki Ageng Pandan Alas menurut ciri-ciri yang pernah didengarnya.

Meskipun demikian maka berkatalah putra Ki Ageng Lembu Sora itu,

“Paman Mahesa Jenar... karena aku bukan termasuk orang-orang yang tidak dapat berpikir longgar, maka aku bermaksud memberi waktu kepada Paman dan Kakang Arya Salaka untuk sekali lagi berpikir. Biarlah orang-orang tetap di tempatnya sampai esok atau lusa.” 

Mahesa Jenar yang menyimpan pengalaman yang luas di dalam perbendaharaan hidupnya, dengan cepat dapat menangkap maksud itu. Maka jawabnya,

“Sawung Sariti. Jangan kau menganggap bahwa hanya pasukan dari Pamingit yang wenang mengambil prakarsa dalam arena yang sudah membayang di hadapan kita. Pasukan yang sudah berhadapan akan kehilangan kesabaran untuk menunggu sampai besok atau lusa. Bersiaplah, aku akan mulai.”

Dada Sawung Sariti tergoncang mendengar kata-kata Mahesa Jenar. Meskipun demikian ia tidak menjadi takut. Sebab ia yakin kepada orang-orang yang dibawanya. Karena itu segera ia mundur beberapa langkah dengan wajah merah oleh api kemarahan yang menyala-nyala di dalam dadanya. Tetapi saat itu ia pun sadar bahwa Mahesa Jenar adalah bekas seorang prajurit pengawal raja. Karena itu apa yang dikatakan pasti benar-benar akan dilakukan. Maka segera Sawung Sariti mengangkat tangannya memberi aba-aba untuk segera bersiap.

Tetapi dalam pada itu terjadilah hal-hal diluar perhitungan. Baik Sawung Sariti maupun Mahesa Jenar. Ketika segenap orang dalam barisan Pamingit itu mulai bergerak untuk menyusun diri, tampaklah seorang dengan enaknya berjalan keluar dari rombongan itu, menuju langsung ke arah Mahesa Jenar. Bahkan kemudian disusul oleh seorang lagi.

Mereka berjalan seperti orang yang sudah kehilangan kesabaran. Dengan langkah- langkah panjang dan cepat mereka tergesa-gesa mendekati Mahesa Jenar. Yang kemudian dengan suara panjang melengking terdengarlah tertawa seorang wanita, sambil berkata,

“Apakah yang sedang kalian bicarakan?”

Sawung Sariti memandangnya dengan wajah penuh pertanyaan. Pada saat ia akan memulai dengan suatu tata gelar, tiba-tiba dua orang dari dalam pasukannya menyusulnya.

“Kenapa kau keluar dari barisan...?” tanya Sawung Sariti. Orang itu, yang tidak lain adalah janda Sima Rodra, tertawa semakin nyaring. Jawabnya, “Aku tidak sabar dengan segala macam aturan. Aku biasa bertempur kapan saja aku kehendaki, dan dalam tata gelar apapun yang aku senangi.”

Telinga Sawung Sariti menjadi merah. Memang ia sadar sejak semula akan sulitlah mengatur orang-orang dari gerombolan liar itu dalam tata pertempuran yang teratur. Sebab menurut kebiasaan mereka, mereka bertempur dengan mengandalkan kekuatan pribadi, sehingga hampir tidak pernah mereka memikirkan tentang tata gelar yang dianggap dapat menguntungkan pasukannya.

Tetapi Sawung Sariti tidak berani menyendunya. Sebab orang-orang itu sangat diperlukan untuk melawan Mahesa Jenar. Karena itu bagaimanapun kecewanya terhadap orang-orang itu, namun perasaan itu disimpannya saja di dalam dadanya.

Sawung Sariti menjadi semakin berdebar-debar ketika Janda dari Gunung Tidar itu langsung datang kepada Mahesa Jenar dan berkata,

“Mahesa Jenar, aku datang untuk memenuhi kata-kataku pada saat kau membunuh suamiku di pedukuhan ini. Aku tidak peduli apakah urusanmu dengan Sawung Sariti. Tetapi aku merasa bahwa akulah yang paling berhak untuk membalas dendam.”

MAHESA JENAR yang sangat muak melihat perempuan itu menjawab dengan keras, "Sekehendakmulah. Kalau kau merasa perlu membalas dendam, cobalah untuk memenuhi tuntutan dendam itu. Aku tidak akan menyingkir."

Mendengar jawaban Mahesa Jenar itu, Janda Sima Rodra sama sekali tidak menjadi marah. Malah dengan tertawa pendek ia menjawab,

"Bagus. Aku akan segera melakukannya. Tetapi aku kira bahwa aku dapat berbuat sebaliknya. Memaafkan kesalahanmu itu."

Mahesa Jenar ketika mendengar kata-kata Sawung Sariti, dengan nada yang demikian pula, ia menjadi tidak senang. Apalagi ketika perkataan-perkataan itu keluar dari mulut Janda Sima Rodra. Terasa seolah-olah darahnya menjadi mendidih. Katanya semakin keras, 

"Kalau hidupku kemudian hanya karena kebaikan hatimu, Sima Rodra betina, aku lebih baik membunuh diriku."

Suara tertawa Harimau Betina itu malah menjadi semakin berkepanjangan. Katanya,

"Dengan terbunuhnya suamiku, aku merasa kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku. Karena itu akupun harus mendapatkan ganti sesuatu dengan yang hilang itu. Kalau kau mampu menggantinya, aku akan melupakan peristiwa yang paling menyedihkan dalam hidupku itu."

Sekarang Mahesa Jenar   benar-benar   tidak   dapat   mendengar   kata-kata   itu   lagi. Telinganya menjadi seolah-olah terbakar. Karena itu tidak ada alasan untuk mendengarkannya lebih lama ocehan Janda Sima Rodra itu.

Dengan tenangnya Mahesa Jenar melangkah ke samping. Kedua tangannya diangkatnya tinggi.

Kemudian dengan gerakan lurus tangan itu direntangkannya kesamping, seterusnya kembali ke atas. Ternyata ia sudah mulai menyiapkan pasukannya dalam gelar yang diperlukan, Sapit Urang.

Melihat aba-aba itu, Sawung Sariti segera merasa perlu untuk menyiapkan pasukannya pula. Sesuai dengan sifatnya yang sombong, ia sama sekali tidak berusaha untuk menyesuaikan diri dengan gelar Supit Urang yang sudah dipersiapkan oleh Mahesa Jenar, tetapi karena kepercayaan pada kekuatan yang dibawanya, serta kepercayaan pada diri sendiri, segera Sawung Sariti menyobek panji-panji putihnya, dan mengangkatnya tinggi- tinggi tunggul yang kemudian sudah dilepas sarungnya.

Tunggul itu digerakkan beberapa kali melingkar dan kemudian untuk beberapa lama ditegakkan di udara. Ia telah memerintahkan kepada pasukannya untuk bersiap dalam gelar Dirada Meta.

Tetapi agaknya Janda Sima Rodra tidak peduli pada persiapan-persiapan itu. Sekali lagi ia berkata, "Mahesa Jenar, aku dapat mencegah pertempuran ini. Bahkan kalau perlu aku dapat menghancurkan pasukan Pamingit itu apabila kau dapat mencarikan ganti suamiku yang telah hilang."

Akhirnya Mahesa Jenar menjadi benar-benar muak. Ia ingin segera menyelesaikan pekerjaannya sebelum rombongan Uling datang. Karena itu dijawabnya,

"Baiklah Sima Rodra, aku akan berusaha mencari ganti buatmu. Apabila pekerjaanku ini sudah selesai, aku ingin menangkap seekor beruk yang buas untuk mengganti Harimau Liar yang telah mati."

Bagaimanapun juga Janda Sima Rodra adalah seorang manusia. Karena ia menjadi tersinggung sekali atas jawaban itu. Apalagi ketika orang yang berdiri di belakangnya, yang tidak lain adalah Jaka Soka menyambung sambil tersenyum, senyuman seekor ular yang berbisa tajam.

"Bagus Mahesa Jenar. Usulmu tepat sekali."

Kebo Kanigara, yang berdiri tidak jauh dari Mahesa Jenar, dan yang selama itu acuh tak acuh saja, terpaksa tertawa pula. Bahkan kemudian ia menyahut,

"Aku kira seekor beruk masih terlalu besar buat perempuan yang mengerikan itu. Bukankah lebih baik seekor lutung saja untuk menggantikan suaminya yang terbunuh itu...?" Hati Janda Gunung Tidar itu ternyata terbakar oleh api yang dinyalakannya sendiri. Terbawa oleh sifat-sifatnya yang liar itu, maka ia sama sekali tidak pedulikan, apakah ia termasuk dalam pasukan Sawung Sariti atau tidak. Langsung ia meloncat maju dan dengan garangnya menyerang Mahesa Jenar dengan kuku-kukunya yang tajam beracun. Untunglah bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang selalu waspada, sehingga dengan mudahnya ia meloncat ke samping menghindari serangan itu.

Tetapi Janda Sima Rodra itupun bukan seorang yang dapat diremehkan. Bertahun-tahun ia hidup dalam dunia kejahatan dan perkelahian. Karena itu ia tidak bermaksud memberi ruang untuk bergerak bagi lawannya.

Dalam pada itu salah seorang yang berdiri di belakang Mahesa Jenar, di dalam barisan orang-orang Gedangan, terdapatlah seorang yang memiliki dendam sedalam lautan kepada perempuan liar itu.

Ketika ia melihat perempuan liar dari Gunung Tidar itu bercakap-cakap dengan Mahesa jenar, darahnya sudah menggelegak. Namun demikian ia selalu berusaha untuk menahan diri, supaya tidak merusakkan rencana Mahesa Jenar serta barisannya.

Tetapi kemudian ketika ia melihat, Harimau Betina itu menyerang Mahesa Jenar, agaknya darahnya benar-benar menjadi mendidih. Sehingga seolah-olah diluar kemauannya, tiba-tiba ia pun meloncat berdiri disamping Mahesa Jenar sambil berkata nyaring,

"Janda Sima Rodra yang cantik, Sudah lama aku berusaha untuk memperkenalkan diriku. Tetapi sayang bahwa pertemuan kita di pedukuhan ini beberapa waktu yang lalu ternyata terlalu singkat."

Janda Sima Rodra itu terhenti. Dengan pandangan penuh kemarahan, ia mengamati orang yang menyapanya itu. Seorang gadis dengan pakaian laki-laki. Kemudian teringatlah ia, ketika ia bersama almarhum suaminya bertempur melawan Mahesa Jenar dan muridnya, tiba-tiba ia telah diserang oleh seorang yang tak dikenalnya.

Agaknya orang inilah yang telah menyerangnya itu, bahkan yang kemudian oleh ayahnya, gadis itu berhasil ditangkapnya. Dan orang itu sekarang muncul lagi di hadapannya.

KEMARAHAN Janda Sima Rodra semakin menyala. Dengan suara yang tajam melengking ia berteriak, "Hai, gadis manis... siapakah sebenarnya kau? Sebenarnya lebih baik bagimu untuk tinggal di rumah menghias diri, daripada mengganggu aku di arena ini. Meskipun menilik pakaianmu agaknya kau lebih senang disebut sebagai seorang laki- laki daripada seorang perempuan."

Orang itu, yang tak lain adalah anak tiri Janda Sima Rodra sendiri, menjawab, "Tak apalah kalau kau tak mengenal aku. Namaku adalah Rara Wilis dari Gunung Kidul. Anak perempuan dari Ki Panutan, yang kemudian pergi meninggalkan kampung halamannya karena perempuan cantik yang perkasa."

"Wilis...!" teriak Janda Sima Rodra. Ia memang pernah mendengar nama Rara wilis. Bahkan gadis itu pernah ditangkap oleh ayahnya. Namun baru sekarang ia teringat bahwa orang yang bernama Rara Wilis itu pernah dikenalnya pada masa kanak-kanaknya. Pada saat ia sedang memikat almarhum suaminya, ia memang sering melihat seorang gadis kecil yang bernama Rara Wilis.

Karena itu kemudian janda Sima Rodra berkata sambil tertawa,

"Wilis, ya Wilis. Alangkah pelupanya aku ini. Ketika aku mendengar namamu beberapa saat yang lalu, aku sama sekali lupa bahwa kau adalah anakku sendiri. Nah, sekarang aku telah tahu benar bahwa kau adalah anakku. Apakah maksudmu sekarang...?"

Dengan nada yang tak kalah lantangnya Wilis menjawab,

"Ah... agaknya kau ingat juga apa yang pernah kau lakukan atas ayah beberapa tahun yang lewat. Ketahuilah bahwa karena itu, keluarga menjadi terpecah-pecah."

"Hem..." geram perempuan itu. "Itu bukan hanya salahku. Kau kira kalau ayahmu bukan seorang laki-laki rakus, aku dapat memaksanya pergi?"

Wilis mengerutkan keningnya. Kemudian jawabnya,

"Kau benar. Namun kejadian itu bukanlah suatu kebetulan. Kaulah sebabnya, dan keluargakulah yang harus menanggung akibatnya."

"Tiba-tiba perempuan itu tertawa lebih keras. Katanya, Sebenarnya kalau kau menuntut ayahmu itu, tuntutlah kepada laki-laki di sampingmu itu. Dialah yang telah membunuhnya."

Mendengar seruan itu, dada Mahesa jenar berdesir. Memang, pada saat Sima Rodra terbunuh, Rara Wilis menjadi sangat marah kepadanya. Bahkan masih terasa betapa ujung pedang gadis itu melukai dadanya. Sekarang, peristiwa itu diingatkan lagi.

Tetapi ternyata jawaban Rara Wilis melegakan Mahesa Jenar.

"Aku sudah tahu, Janda Sima Rodra, bahwa laki-laki di sampingku inilah yang telah membunuh ayahku. Tetapi hal itu bagiku adalah jalan yang sebaik-baiknya, daripada setiap hari ayahku selalu menimbun dosa."

Terdengar Harimau Betina itu menggeram marah. Usahanya untuk mengadu kedua orang itu tak berhasil. Karena itu ia berteriak, "Baik... lalu apa maumu?"

"Menurut pikiranku..." jawab Rara Wilis, "Aku pun akan membuat jasa kepadamu, seperti apa yang telah terjadi pada ayahku. Kau... ibuku, harus juga aku cegah untuk tidak membuat dosa setiap hari. Agar kau tidak usah berhenti terlalu lama di dalam api pencucian kelak."

Perempuan liar itu sudah menjadi pening mendengar kata-kata Rara Wilis. Karena itu ia tidak menjawab lagi. Dengan garangnya ia berteriak sambil meloncat menyerbu. Untunglah bahwa Rara Wilis pun telah bersiaga. Dengan lincahnya ia meloncat menghindar. Bahkan dengan kakinya ia menyerang lambung Harimau Betina itu. Namun Janda Sima Rodra pun memiliki pengalaman yang luas, sehingga dengan siku tangannya ia menutup lambungnya. Melihat lawannya melindungi diri, Rara Wilis menarik kakinya, namun kemudian tangannya yang dengan cepat menyambar tengkuk. Sekali lagi Harimau Betina itu meloncat mundur. Namun kemudian ia tidak mau diserang lagi.

Dengan garangnya kemudian mengembanglah jari-jari janda Sima Rodra yang berkuku panjang, dengan logam beracun di ujung-ujungnya. Sesaat kemudian terjadilah pertempuran sengit. Pertempuran yang dilambari oleh tuntutan dendam yang telah lama tersimpan di dalam dada dan sekaligus merupakan suatu usaha untuk melenyapkan benih- benih kejahatan yang dapat tumbuh di kemudian hari.

Rara Wilis maupun Janda Sima Rodra memiliki kelincahan yang mengagumkan. Janda Sima Rodra bertempur dengan ilmu yang diwarisi dari ayahnya, yang memiliki unsur- unsur kegarangan yang mengerikan, dengan gerak-gerak harimau lapar. Sedangkan Rara Wilis adalah cucu sekaligus murid Ki Ageng Pandan Alas. Seorang sakti yang bertahun- tahun menekuni ilmunya sehingga sukar untuk mendapat bandingan. Karena itu pertempuran yang terjadi adalah merupakan pertempuran antara ilmu jahat melawan ilmu yang dengan gigih berusaha menumpasnya.

Dalam keadaan yang demikian, untuk beberapa saat semua mata terpaku pada pertempuran itu. Mahesa Jenar dan Kebo Kanigara yang mempunyai wawasan yang dalam, segera melihat keadaan Rara Wilis sama sekali tidak mengkhawatirkan.

Karena itu mereka tidak perlu tergesa-gesa mengambil tindakan terhadap perempuan liar itu. Apalagi di hadapan mereka, masih terdapat orang-orang yang cukup berbahaya.

Jaka Soka yang berdiri dekat titik perkelahian, agaknya sangat tertarik melihatnya. Dengan tersenyum aneh, ia bahkan dengan enaknya duduk menonton.

Jaka Soka menjadi keheran-heranan juga melihat gadis cantik yang pernah ditemuinya di hutan Tambakbaya itu mampu bertempur dengan gigihnya melawan Janda Sima Rodra.

Sedangkan Sawung Sariti menjadi berdebar-debar melihat seseorang muncul dari dalam barisan. Seorang gadis lagi. Dan orang itu dapat mengimbangi Janda Sima Rodra dari Gunung Tidar. Namun meskipun demikian ia tidak bercemas hati. Sebab masih ada orang yang jauh lebih sakti dari janda itu dalam barisannya.

Yang kemudian dilakukan Sawung Sariti adalah memberi tanda kepada pasukannya untuk mengadakan persiapan terakhir. Ia sudah tidak melihat kemungkinan lain kecuali bertempur saat itu juga, sekaligus untuk mencurahkan dendam kepada orang-orang Gedangan, karena kegagalannya menjadikan Gedangan sebagai kuburan untuk orang- orang yang telah dan akan disingkirkannya.

Demikian ketika Sawung Sariti sekali lagi melambaikan tangannya, bergeraklah seluruh pasukan Pamingit dalam gelarnya yang dahsyat, Dirada Meta. Pasukan itu seolah-olah merupakan suatu bentuk seekor gajah yang maha besar, yang sedang berjalan dengan tangguhnya menyerang lawan.

Di ujung gading pasukan Pamingit berdirilah dua orang yang sangat ditakuti. Yaitu Sima Rodra tua dari Lodaya yang merasa perlu membalas dendam atas kematian menantunya, sekaligus untuk melenyapkan salah seorang saingan utama dalam perebutan keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten.

Sedang di ujung yang lain, sahabat Harimau Lodaya, yaitu Bugel Kaliki. Ia ikut serta dalam pertempuran itu atas permintaan sahabatnya. Namun sebenarnya ia pun sedang mengadakan penyelidikan kemana keris-keris sakti dari Istana Demak itu berada.

Bugel Kaliki sadar bahwa pertempuran-pertempuran yang berjalan ini hanyalah merupakan permulaan dari pertempuran-pertempuran dan perkelahian-perkelahian yang akan terjadi kelak apabila sudah ada gambaran di mana kedua keris itu tersimpan. Bahkan ia pun sadar seperti Sima Rodra juga, bahwa mereka masing-masing harus berusaha melenyapkan saingannya satu demi satu. Kalau sekarang mereka sedang berusaha untuk menyingkirkan Mahesa Jenar dan kawan-kawannya, yang mungkin terdapat pula Pandan Alas, maka esok mereka harus menyingkirkan kawan-kawan mereka yang sekarang sedang bertempur bersama-sama dan saling membantu.

Ketika Mahesa Jenar melihat pasukan gabungan dari Pamingit dan Gunung Tidar mulai bergerak, segera ia mengangkat tangannya pula. Dan, segera bergerak pula seluruh laskar Gedangan dalam gelarnya Supit Urang.

Untuk menghadapi gelar gajah yang datang menyerangnya, barisan dalam bentuk udang raksasa dengan sapit-sapitnya yang garang itupun telah bergerak maju.

Dalam pada itu sekali lagi Sawung Sariti melihat keliling untuk mengetahui keadaan medan keseluruhan. Dari lambung sebelah kiri dilihatnya pasukan itu dipimpin oleh Wanamerta, sedang dari lambung kanan dilihatnya bahwa pasukan itu dipimpin oleh seorang anak muda sebaya dengan dirinya.

Melihat anak muda itu, hati Sawung Sariti berdesir. Itulah Arya Salaka. Karena itu cepat Sawung Sariti meloncat mundur, dan berbisik kepada Galunggung,

"Galunggung...peganglah pimpinan. Berikan aba-aba atas namaku. Bawalah tunggul ini. Aku akan menyelesaikan urusanku dengan Kakang Arya Salaka."

Galunggung segera tahu maksud Sawung Sariti. Segera ia menerima tunggul itu. Meskipun demikian ia berpesan kepada Sawung Sariti,

"Anakmas, hati-hatilah. Anak itu bukan anak yang dapat diabaikan." Sawung Sariti tersenyum, lalu jawabnya,

"Jangan takut. Beberapa bulan yang lalu aku memang belum dapat mengalahkannya. Tetapi sekarang keadaan telah jauh berubah. Percayalah bahwa aku akan dapat membawa kepalanya pulang sebagai oleh-oleh buat ayah Lembu Sora."

Galunggung pun tersenyum. Ia percaya kepada anak muda itu. Sesaat kemudian kedua pasukan itu menjadi semakin dekat. Mahesa Jenar yang masih berada disamping Kebo Kanigara segera menyiapkan diri masing-masing. Mereka telah melihat Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki. Karena

itu mereka menempatkan diri untuk melawan mereka.