Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 22

Jilid 22

Setelah itu, nafasnya menjadi semakin sesak. Beberapa kali Ki Panutan itu menggeliat menahan sakit.

“Ayah... ayah ” Rara Wilis hampir memekik. Ki Panutan yang telah memejamkan matanya itu perlahan-lahan membukanya kembali. Sekali lagi ia tersenyum penuh keikhlasan.

“Ayah, jangan pergi....” jerit Rara Wilis yang sudah kehilangan keperkasaannya menyaksikan keadaan ayahnya, tetapi ia telah berubah menjadi seorang gadis kembali yang menyaksikan saat-saat terakhir dari ayahnya yang selama ini dicarinya.

Tetapi tak seorang pun yang kuasa menahan renggutan maut. Demikianlah perlahan- lahan Ki Panutan itu menutup matanya. Ia masih sempat menyilangkan tangannya di dadanya sebagai suatu pernyataan keikhlasan hatinya. Diantara rambut yang tumbuh hampir memenuhi wajahnya itu, terseliplah bibirnya membayangkan senyum. Dan sesaat kemudian Ki Panutan yang telah menggemparkan dengan kebiasaannya menculik gadis- gadis untuk upacara-upacara kepercayaannya yang aneh-aneh, serta perampokan dan kejahatan-kejahatan yang pernah dilakukan di bawah nama Sima Rodra serta panji-panji bergambar harimau hitam, kini meninggal dunia di tangan musuh utamanya dengan penuh keikhlasan.

Bersamaan dengan itu terdengarlah Rara Wilis memekik tinggi. Dengan tangis yang memancarkan kekecewaan hatinya, ia menelungkup di atas tubuh ayahnya yang sudah membeku.

Melihat semuanya itu, serta setelah mendengar pembicaraan mereka, orang-orang Gedangan menjadi sedikit banyak dapat menangkap persoalan di antara mereka. Meskipun demikian mereka masih berdiri tegak seperti patung.

Handaka juga tidak beranjak dari tempatnya. Ia kini sudah teringat siapakah orang itu. Namun ia mengenalnya sebagai Pudak Wangi.

Maka terharulah sekalian yang menyaksikan peristiwa itu. Pertemuan pada saat-saat terakhir yang memilukan. Tidak ketinggalan pula hati Mahesa Jenar. Disamping itu ia tidak mengerti apa yang harus dilakukan.

Tiba-tiba kembali hatinya digetarkan oleh gadis anak Ki Panutan itu. Dengan tangkasnya gadis itu berdiri tegak. Tangan kirinya menggenggam Kyai Sigar Penjalin, sedangkan tangan kanannya menuding ke arah Mahesa Jenar dengan pandangan yang menyala- nyala.

Rara Wilis hampir saja tidak dapat mengendalikan dirinya lagi. Setelah bertahun-tahun ia bekerja keras untuk dapat merebut ayahnya dan kemudian berangan-angan untuk dapat hidup damai kembali di tempat asalnya, ternyata kini pada saat yang diimpi-impikan itu datang, ayahnya terbunuh oleh Mahesa Jenar.

Maka dengan gemetar penuh luapan perasaan ia berkata,

“Kakang Mahesa Jenar. Kau telah merampas seluruh masa depan yang kuangan- angankan selama ini. Karena itu Kakang, aku akan membuat suatu perhitungan hutang- piutang. Kau telah membebaskan diriku dari tangan Jaka Soka di hutan Tambak Baya. Tetapi kemudian kau binasakan ayahku pada saat aku menemukannya. Dengan demikian maka aku anggap bahwa hutang-piutang kita telah lunas. Sejak ini aku anggap bahwa aku adalah orang yang sama sekali tak ada sangkut-pautnya dengan Mahesa Jenar. Semua persoalan berikutnya adalah persoalan yang harus diperhitungkan tersendiri.”

“Wilis...” jawab Mahesa Jenar. Tetapi ia tidak sempat berkata lebih banyak lagi, sebab sekejap kemudian Rara Wilis telah meloncat dengan kecepatan yang mengagumkan, menerobos ke dalam gelap malam, dan hilang di dalamnya.

Mahesa Jenar kemudian diam tertegun. Banyak hal yang sebenarnya akan diutarakan. Tetapi apa boleh buat. Sebenarnya ia sangat kecewa mendengar kata-kata Rara Wilis. Kalau ia membunuh Sima Rodra, adalah karena Sima Rodra telah melakukan perbuatan yang bertentangan dengan sendi-sendi kehidupan masyarakat. Bertentangan dengan perikemanusiaan, apalagi dipandang dari segi Ketuhanan.

Namun demikian ia percaya, bahwa pada suatu saat Rara Wilis pasti akan dapat menginsyafi hal ini.

Melihat kekisruhan yang sedang membelit hati Mahesa Jenar, yang dikenal oleh penduduk Gedangan bernama Manahan, tak seorang pun berani mendekatinya, apalagi bertanya sesuatu kepadanya, termasuk Handaka. Baru kemudian ketika Manahan itu telah melangkah pergi dan mengajak muridnya, Wiradapa segera menjejerinya, meskipun ia masih berdiam diri.

Pada pagi hari berikutnya, atas permintaan Mahesa Jenar, diselenggarakanlah pemakaman Sima Rodra muda yang sebenarnya bernama Ki Panutan, dengan baik. Bagaimanapun jahatnya orang itu, namun pada saat terakhirnya, ia sudah menemukan dirinya kembali. Karena itu wajarlah bahwa terhadap jenazah itu tidak perlu dilakukan pembalasan dendam.

Namun bagaimanapun, pada hari itu perasaan Manahan seolah-olah sedang diselimuti oleh kabut tebal. Ia merasa bahwa dirinya telah dihanyutkan oleh keadaan yang sama sekali tak menguntungkan. Adalah suatu kebetulan yang sangat menyulitkan bahwa orang yang pertama-tama dibinasakan adalah Sima Rodra, ayah Rara Wilis.

Meskipun demikian, dengan penuh kesadaran Mahesa Jenar yang juga bernama Manahan itu, tetap pada pendiriannya. Bahwa mereka yang termasuk dalam golongan hitam harus dibinasakan, terutama pemimpinnya, yang mempunyai nama menggetarkan seperti Lawa Ijo, sepasang Uling dari Rawa Pening, Jaka Soka dari Nusakambangan, dan tidak ketinggalan Istri Sima Rodra yang masih tidak kalah berbahayanya.

Maka karena semuanya itu pula Mahesa Jenar teringat pada kesanggupannya untuk mencari Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten. Diketemukannya kedua keris itu, akan dapat membuktikan pula bahwa Gajah Sora tidak bersalah. Karena itu maka ia bermaksud untuk secepatnya meninggalkan Gedangan meneruskan perjalanan. Tetapi kemana...?

Dari Wiradapa ia pernah mendengar seorang yang menamakan diri Panembahan Ismaya. Menurut Wiradapa, berdasarkan kabar yang baru-baru saja didengarnya, orang itu adalah seorang yang sangat luas pengetahuannya.

Meskipun Panembahan Ismaya itu hampir tidak meninggalkan pertapaannya, namun ia adalah seorang yang sakti, yang mungkin dapat menunjukkan di manakah keris-keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten, atau setidak-tidaknya petunjuk ke mana ia harus mencari, atau bagaimanakah caranya untuk menemukannya.

Dengan demikian maka timbullah keinginan Manahan untuk bertemu dengan orang yang disebut Panembahan Ismaya itu. Seandainya orang itu tidak dapat menunjukkan pusaka- pusaka yang hilang itu, namun setidak-tidaknya pertemuan dengan seorang Panembahan akan banyak memberinya manfaat.

Maka segera Manahan mengemukakan hasratnya itu kepada Wiradapa, untuk mendapat petunjuk-petunjuk ke mana ia harus pergi serta syarat-syarat yang diperlukan untuk menemui Panembahan Ismaya.

Setelah ia mendapat beberapa petunjuk maka segera ia minta diri untuk menghadap Panembahan itu, serta seterusnya melanjutkan perjalanannya. Tentu saja Wiradapa merasa keberatan, tetapi bagaimanapun juga Manahan terpaksa meninggalkan padukuhan kecil itu.

Setelah Manahan memberikan beberapa petunjuk untuk mengatasi kesulitan-kesulitan yang mungkin datang, baik dari pihak Sawung Sariti maupun dari pihak istri Sima Rodra, dengan memberikan latihan-latihan singkat kepada beberapa orang, barulah Manahan tega meninggalkan pedukuhan Gedangan. Sebab kemungkinan yang paling baik adalah mempergunakan senjata-senjata jarak jauh dengan mengandalkan jumlah yang banyak. Sebab tidak mungkin mereka melakukan perlawanan perseorangan terhadap orang-orang seperti Sawung Sariti ataupun Istri Sima Rodra.

Di suatu pagi yang cerah, berangkatlah Manahan dan Handaka meninggalkan Gedangan untuk menghadap seorang yang menamakan dirinya Panembahan Ismaya, dengan diantar oleh berduyun-duyun penduduk yang ditinggalkan sampai ke ujung desa. Mereka melepas Manahan bersama muridnya dengan hati yang berat. Sedang sebenarnya Manahan pun merasa khawatir pula. Tetapi ia mengharap bahwa apabila masih ada orang-orang yang mendendam, dendam mereka tidak ditujukan kepada rakyat Gedangan, tetapi kepada dirinya yang telah bertekad menghadapi segala akibat dari perbuatannya.

Sebaliknya, dengan perjalanan itu, Handaka menemukan kegembiraannya kembali. Berjalan di alam luas, di bawah langit yang terentang tanpa batas. Batu -batu yang menjorok di lereng-lereng bukit, serta semak-semak yang terserak-serak diantara padang- padang ilalang, tampaknya sangat mengagumkan di bawah cahaya pagi. Gemersik daun- daun yang bergerak ditiup angin, terdengar seperti suara orang yang berbisik-bisik, terpesona oleh kebesaran alam serta Maha Penciptanya.

Di lereng-lereng bukit, di kehijauan rumput yang basah oleh embun, tampak berloncat- loncatan, dan kemudian menghilang di dalam semak anak-anak kijang yang keriangan. Tetapi perjalanan mereka kali ini bukanlah perjalanan yang terlalu jauh. Setelah mereka bermalam satu malam di perjalanan, maka pada keesokan harinya, tanda-tanda yang pertama dari padepokan yang dicarinya telah tampak. Di sebuah puncak bukit kecil, tampaklah dari kejauhan sebatang pohon beringin tua yang menghijau diantara batu-batu padas yang berwarna sawo. Itulah padepokan yang dinamai oleh penghuninya Karang Tumaritis. Di situlah Panembahan Ismaya mengolah diri, bertapa mesuraga.

Belum lagi matahari mencapai titik tertinggi di langit, mereka telah menyusur jalan setapak yang melingkar-lingkar menaiki lereng bukit kecil itu.

Sampai di lambung bukit, Manahan dan Handaka telah dipesonakan oleh tanam-tanaman berbunga yang asri. Di sana sini tampaklah taman-taman yang teratur rapi, diwarnai oleh dedaunan yang berseling-seling. Tanam-tanaman yang berdaun lebar, berdaun sedang dan tanam-tanaman yan berdaun sempit. Dari yang berwarna hijau muda, hijau tua dan berwarna kemerah-merahan.

Demikianlah Manahan dan Handaka berjalan di antara keindahan taman bunga yang digarap oleh tangan yang pasti sangat mencintai alam. Beberapa lama kemudian tampaklah dua orang cantrik menuruni lereng itu. Wajahnya jernih cerah dan masih sangat muda, sebaya dengan Handaka. Meskipun pakaian mereka sangat sederhana, namun tampaknya bersih dan serasi.

Tetapi mereka menjadi terkejut sekali ketika mereka melihat Manahan dan Handaka menaiki bukit itu. Bahkan mereka kemudian terpaku seperti patung dengan pandangan yang bertanya-tanya. Melihat sikap mereka, segera Manahan mengetahuinya, bahwa pasti bukit kecil yang terpencil ini sangat jarang dikunjungi orang.

Untuk segera menghilangkan kesan yang kurang baik, segera Manahan dan Handaka mengangguk hormat.

Melihat tamunya mengangguk, kedua cantrik itupun segera menanggapinya, dan dengan ramahnya berkata,

“Tuan... apakah keperluan Tuan berdua mengunjungi tempat kami yang tak berarti ini?” Dengan ramah pula Manahan menjawab,

“Ki Sanak, kedatangan kami kemari adalah terdorong dari keinginan kami untuk menghadap yang terhormat Panembahan Ismaya yang bertapa di bukit Karang Tumaritis. Bukankah bukit ini yang bernama Karang ...?” Kedua cantrik itu tersenyum. Salah seorang diantaranya menjawab,

“Benar Tuan, bukit kecil ini memang bernama Karang Tumaritis. Dan di bukit ini pula tinggal Panembahan Ismaya. Kami adalah cantrik-cantrik yang mengabdikan diri pada Panembahan. Kalau Tuan-tuan ingin menghadap, baiklah kami sampaikan nama Tuan- tuan berdua kepada Panembahan Ismaya. Sedang Tuan-tuan kami persilahkan untuk menanti di bawah beringin itu.”

“Baiklah Ki Sanak,” sahut Manahan. “Nama kami adalah Manahan dan Handaka.”

Setelah mengangguk sekali lagi, segera kedua cantrik itu berlalu untuk menyampaikan permintaan kedua orang tamu yang akan menghadap Panembahan.

Di bawah beringin tua, Manahan dan Handaka menanti, sambil menikmati keindahan lembah dan ngarai yang terbentang di bawah bukit kecil itu. Pandangan mata mereka beredar dari relung-relung lembah, padang-padang rumput di dataran yang berseling dengan semak-semak, kemudian merayapi lereng-lereng bukit kecil itu sendiri dan akhirnya taman bunga di sekitar mereka.

Tiba-tiba mereka terkejut ketika mereka melihat beberapa bagian dari taman itu tersulam beberapa jenis tanaman baru. Bukan karena jenis tanaman baru itu akan menambah keasriannya, tetapi jelas bahwa sulaman itu disebabkan karena kerusakan. Dugaan mereka bertambah kuat pula ketika mereka melihat pagar-pagar hidup yang membatasi jalan-jalan sempit di pekarangan itu terdapat beberapa sulaman pula. Siapakah kira-kira yang merusakkan tanaman-tanaman yang begitu rapi itu...?

Belum lagi Manahan dan Handaka selesai menikmati seluruh isi halaman itu, tampaklah kedua cantrik yang menemuinya tadi berjalan mendekatinya.

Dua cantrik itu baru saja muncul dari sebuah rumah kecil yang berdinding kayu, dan beratap ijuk. Meskipun rumah itu sederhana saja, tetapi tampak betapa cermat pemeliharaannya.

Beberapa langkah di depannya, kedua cantrik itu berhenti. Dan setelah membungkuk hormat, berkatalah salah seorang, Tuan, marilah Tuan berdua kami persilahkan menungu di gubug kami dahulu. Panembahan tengah merendam diri di telaga Pangawikan di bagian selatan bukit ini. Nanti apabila matahari telah surut beliau baru kembali.

“Ki Sanak...” jawab Manahan, “Biarlah kami menunggu di sini saja. Alangkah sejuknya udara, dan alangkah indahnya pemandangan.”

Kedua cantrik itu tersenyum, maka berkata yang lain,

“Tuan terlalu memuji. Tetapi Panembahan selalu tidak puas dengan hasil kerja kami. Pastilah Panembahan Ismaya seorang yang cinta pada alam,” sahut Manahan. “Tuan benar,” jawab salah seorang cantrik itu. Sesaat kemudian ia melanjutkan, “Namun begitu marilah kami persilahkan beristirahat di gubug kecil itu sambil menunggu kedatangan Panembahan.”

Tidak sepantasnyalah kalau Manahan menolak ajakan itu. Maka bersama-sama dengan Handaka segera mereka diantar memasuki rumah kayu yang beratap ijuk itu. Meskipun rumah itu pendek dan beratap ijuk, namun kesejukan udara terasa meresap ke dalamnya. Mereka berdua dipersilahkan duduk diatas bale-bale bambu yang besar di sisi pintu.

“Tuan...” kata salah seorang, “Kami persilahkan Tuan menunggu sebentar, kami akan minta diri untuk menyelesaikan pekerjaan kami.”

“Silahkan,” kata Manahan sambil mengangguk.

Kedua orang itu segera meninggalkan Manahan dan Handaka, tetapi sementara itu, muncullah seorang cantrik yang lain, yang agak lebih tua dari kedua cantrik tadi. Dengan senyum ramah pula ia menyapa,

“Tuankah yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka?”

Mendengar pertanyaan itu Manahan dan Handaka serentak terbelalak karena terkejut. Mereka memperkenalkan diri sebagai Manahan dan Handaka, tetapi cantrik itu menyebut nama-nama mereka yang sebenarnya. Karena itu dada mereka jadi tergetar.

Sebaliknya, cantrik itupun menjadi terkejut pula. Ia tertegun berdiri di pintu seperti kebingungan. Tiba-tiba berkatalah ia,

“Tuan... kalau demikian agaknya aku salah duga. Mungkin ada tamu yang lain yang bernama seperti yang aku sebutkan tadi. Sebab Panembahan telah memerintahkan kepadaku untuk datang mendahului kemari menemui kedua orang tamu yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka, putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru. Maka maafkanlah kesalahan ini. Selanjutnya siapakah Tuan berdua yang barangkali akan menemui Panembahan?”

Manahan dan Handaka menjadi semakin kisruh. Agaknya Panembahan Ismaya telah mengetahuinya, bahkan sampai pada orang tua Arya Salaka. Karena itu maka Manahan menjadi berterus terang,

“Ki Sanak, benarlah kami berdua yang bernama Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Putra Kepala Daerah Perdikan Banyubiru.”

Cantrik itulah kemudian yang tampak bingung. Lalu katanya dengan tarikan nafas dalam-dalam,

“Syukurlah, tetapi agaknya Tuan terkejut ketika aku menyebut nama Tuan.” Mendapat pertanyaan itu, Manahan bertambah sibuk. Namun akhirnya ia berkata dengan jujur,

“Ki Sanak, pada saat aku datang, aku memperkenalkan diriku dengan nama yang akhir- akhir ini kami pakai dalam pengembaraan kami, yaitu Manahan dan Handaka. Karena itulah kami terkejut ketika Ki Sanak menyebut nama-nama kami yang sebenarnya.”

“Oo ” desis cantrik itu. “Aku juga tidak mengerti, dari mana Panembahan tahu nama-

nama Tuan yang sebenarnya.”

Mendengar keterangan itu, Manahan dan Handaka menjadi terpesona. Mereka merasa bahwa mereka benar-benar akan bertemu dengan Panembahan Ismaya yang waskita.

“Kalau demikian ” cantrik itu melanjutkan,

“Biarlah aku menemani Tuan-tuan di sini seperti perintah Panembahan, sebelum beliau datang.”

Kemudian duduklah cantrik itu bersama-sama dengan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Dari cantrik itu pula, Mahesa Jenar tahu bahwa seorang cantrik telah memberitahukan kehadirannya kepada Panembahan yang sedang merendam diri di telaga Pangawikan, yang kemudian memerintahkan cantrik itu untuk menemuinya.

Maka kemudian mereka bercakap-cakap tentang berbagai-bagai masalah, bergeser dari yang satu kepada yang lain. Dari jenis tanam-tanaman sampai berbagai jenis tumbuh- tumbuhan yang mengandung manfaat untuk obat-obatan.

Akhirnya sampailah pembicaraan mereka kepada tanam-tanaman yang tumbuh di halaman serta sulaman-sulaman barunya.

Maka berkatalah cantrik yang bernama Jatirono,

“Tuan, beberapa waktu berselang, taman kami itu telah dirusakkan oleh beberapa orang berkuda yang tidak kenal keindahan. Mereka datang dengan kuda-kuda mereka menerjang tanaman kami setelah mereka marah-marah dan memaki-maki. Aku tidak tahu apakah sebabnya. Tetapi setelah mereka menghadap Panembahan, agaknya mereka merasa kecewa karena beberapa sebab. Lalu seorang diantaranya yang sebaya dengan Tuan Muda putra Banyubiru itu, marah-marah. Mereka tidak saja merusak taman kami, tetapi mereka juga merusak beberapa perabot rumah kami.”

“Tidakkah seorangpun dapat mencegahnya?” tanya Arya Salaka, meskipun ia agak canggung atas sebutan yang diucapkan oleh cantrik itu.

Cantrik itu menggelengkan kepalanya. “Siapakah diantara kami yang mampu mencegah seorang yang perkasa itu? Kami adalah orang-orang lemah yang bertekun diri di padepokan ini untuk suatu pengabdian rohaniah. Karena itu kami hanya dapat menyaksikan apa yang dilakukan oleh anak muda itu dengan hati yang berdebar-debar.”

Mahesa Jenar Jenar dan Arya Salaka yang sebenarnya lebih senang disebut Handaka, menarik nafas untuk mengendorkan perasaan mereka. Sebab mereka sudah pasti bahwa anak muda yang merusak-rusak itu adalah Sawung Sariti. Demikian sombongnya anak itu, sehingga mereka berani melakukan hal-hal yang sama sekali tak berkesopanan, di hadapan seorang Panembahan. Tetapi semuanya itu telah lampau, sehingga keduanya hanya dapat menahan perasaan mereka yang melonjak-lonjak.

Ketika mereka sedang bercakap-cakap dengan asyiknya, masuklah seorang gadis kecil menjinjing sebuah nampan berisi minuman dan makanan. Dengan cermatnya gadis itu menyuguhkan mangkok tanah yang berisi air jeruk serta makanan dan buah-buahan kepada tamunya. Dan kemudian membungkuk hormat, berjalan meninggalkan mereka.

Mahesa Jenar tersenyum melihat keprigelan gadis yang baru berumur belasan tahun itu, sehingga meloncatlah pertanyaannya, Alangkah tangkasnya gadis kecil itu. “Apakah ia salah seorang endhang di padepokan ini? “

Jatirono tertawa kecil. “Gadis kecil itu adalah satu-satunya putri cucu Panembahan Ismaya. Saudaranya laki-laki adalah tetua kami para cantrik. Namanya Putut Karang Tunggal, yang sekarang sedang menemani Panembahan berendam di telaga Pangawikan.”

“Oo...” sahut Mahesa Jenar. Karena itulah maka wajahnya bercahaya. “Siapakah nama gadis kecil cucu Panembahan itu?”

“Endang Widuri,” jawab Jatirono. “Endang Widuri?” ulang Mahesa Jenar.

“Suatu nama yang bagus. Tetapi lebih dari pada itu, Endang Widuri adalah seorang gadis yang lincah dan cakap, di bawah tuntunan yang sempurna pula.”

“Mudah-mudahan demikianlah,” jawah Jatirono, “Meskipun sebagai anak-anak, nakalnya bukan alang kepalang.”

Demikianlah setelah Mahesa Jenar dan Arya Salaka menikmati hidangan yang disuguhkan oleh Endang Widuri, maka berkatalah Jatirono,

“Tuan berdua, kami persilahkan tuan beristirahat di sini. Sebentar lagi Panembahan Ismaya akan sudah dapat menerima Tuan-tuan. Karena itu biarlah aku menengoknya sebentar.”

Maka pergilah Jatirono meninggalkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka untuk menengok apakah Panembahan Ismaya telah siap menerima tamunya. Hanya sebentar kemudian masuklah ke dalam rumah kecil itu seorang pemuda tampan, bertubuh gagah serta berdada bidang.

Namun geraknya halus dan sopan. Ia tidak berpakaian seperti para cantrik yang lain, tetapi ia mengenakan sebuah jubah putih. Dengan penuh hormat ia berkata,

“Tuan, Eyang Panembahan Ismaya sudah selesai merendam diri. Sekarang beliau sedang bersiap untuk menerima Tuan-tuan. Karena itu kami persilahkan tuan bersama aku menghadap.“

Bagaimanapun juga hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar. Ia adalah seorang ksatria yang biasa bergaul dengan para kesatria pula, sewaktu ia masih berada di lingkungan istana. Sehingga dengan demikian jaranglah baginya bergaul dengan seorang Panembahan seperti Panembahan Ismaya.

Sedang Arya Salaka, justru karena selama ini ia hidup diantara para petani dan nelayan, ia sama sekali tidak merasakan suatu kejanggalan apapun.

Meskipun dari gurunya ia selalu menerima petunjuk-petunjuk yang berharga tentang sopan santun dan tata pergaulan.

Dari pondok kecil itu mereka menyusur jalan sempit diantara tanam-tanaman hijau dihiasi oleh bunga-bunga dari berbagai warna, menuju ke sebuah pondok lain yang agak lebih besar. Namun pondok ini pun dibuatnya dari kayu dan beratap ijuk pula.

“Di rumah itulah Eyang Panembahan akan menerima Tuan-tuan,” kata pemuda yang bertubuh tegap itu.

Menilik sebutan yang diucapkan, maka Mahesa Jenar dapat mengetahui bahwa pemuda yang sedikit lebih tua dari Arya Salaka itulah yang bernama Putut Karang Tunggal, saudara laki-laki dari Endang Widuri.

Ketika mereka memasuki rumah itu segera mereka melihat seorang yang telah lanjut usia duduk di atas sebuah batu hitam yang dialasi oleh kulit kayu.

Meskipun kesan wajahnya yang telah tua, serta rambutnya telah memutih kapas, namun tubuhnya masih nampak segar. Agaknya orang itu tampak jauh lebih muda dari umur yang sesungguhnya.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka segera mengerti, bahwa orang itulah yang disebut Panembahan Ismaya. Karena itu mereka berlaku sangat sopan dan hati-hati. Tetapi Mahesa Jenar dan Arya Salaka terkejut ketika tiba-tiba, setelah Panembahan Ismaya itu melihat mereka, segera ia berdiri sambil tergesa-gesa menyongsongnya. Dengan sangat hormat ia menyambut tangan Mahesa Jenar untuk bersalaman. Mahesa Jenar menjadi agak kaku dan heran, kenapa seorang Panembahan sampai sedemikian menghormati tamunya. Apalagi dirinya yang tidak menunjukkan tanda-tanda kebesaran apapun, malahan agaknya tidak cukup pantas untuk mendapat kehormatan bertemu dengan seorang Panembahan.

“Silahkan Anakmas, silahkan....” Panembahan Ismaya menyilahkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka yang menjadi semakin keheran-heranan. Apalagi ketika Panembahan itu meneruskan, “Alangkah bersyukurnya hari ini ketika aku mendapat kabar bahwa Anakmas akan mengunjungi tempat kami yang tak berarti ini.”

Untuk menghilangkan kekakuan, Mahesa Jenar pun mengangguk dengan takzimnya sambil menjawab,

“Berbahagialah aku mendapat kesempatan untuk menghadap Panembahan.”

Tetapi apa yang dikatakan oleh Panembahan Ismaya itu semakin mengejutkan Mahesa Jenar,

“Bagiku kedatangan Anakmas adalah suatu kurnia. Sebab aku sama sekali tidak bermimpi bahwa tempat ini akan mendapat kunjungan dari seorang perwira istana seperti Anakmas Rangga Tohjaya.”

Mahesa Jenar menjadi semakin sibuk menduga-duga, alangkah jauh dari dugaannya tentang Panembahan itu. Namun demikian Mahesa Jenar menjadi bertambah tidak mengerti, darimanakah orang tua itu dapat mengenalnya sebagai seorang prajurit dan bernama Rangga Tohjaya?

Dalam kebingungan itu terdengar Panembahan Ismaya berkata kembali, “Marilah Anakmas  ”

Seperti orang yang kehilangan kesadaran Mahesa Jenar melangkah masuk diikuti oleh Arya Salaka. Mereka berdua kemudian duduk pula di atas batu hitam yang juga beralaskan kulit kayu. Sedang pemuda tampan yang mengantar mereka tadi dengan takzimnya duduk bersila di lantai di belakang Panembahan Ismaya.

Setelah Panembahan Ismaya menanyakan keselamatan Mahesa Jenar, serta beberapa hal tentang dirinya serta perjalanannya mendaki bukit kecil itu, akhirnya Panembahan Ismaya sampai pada sebuah pertanyaan tentang keperluan Mahesa Jenar.

Untuk beberapa lama Mahesa Jenar diam. Ia masih ragu. Apakah perlu ia mengutarakan keperluannya. Bukankah Panembahan Ismaya yang bijaksana itu telah dapat membaca perasaan yang tersimpan di dalam dadanya.

Melihat Mahesa Jenar termangu berkatalah Panembahan itu,

Anakmas, kedatangan Anakmas ke bukit kecil ini pastilah mempunyai suatu maksud. Meskipun tidak sewajarnya kalau aku yang tak berarti ini memberanikan diri untuk menerima pertanyaan Anakmas. Sebab apakah yang dapat aku kerjakan? Aku adalah seorang tua yang tak pernah meninggalkan bukit ini, sehingga pasti yang aku ketahui tidaklah lebih dari katak di bawah tempurung.”

Namun bagaimanapun juga Mahesa Jenar menganggap bahwa Panembahan Ismaya itu seolah-olah memiliki indera keenam, yang dapat melihat barang yang tak kasatmata. Karena itu dengan takzimnya ia menjawab,

“Panembahan telah mengetahui apa yang tidak pernah aku katakan kepada Panembahan, yaitu tentang nama kami berdua. Tetapi karena ketajaman indera Panembahan, Panembahan telah dapat mengetahuinya. Adalah sama sekali tidak pantas kalau aku harus mengatakan keperluanku menghadap Panembahan, seolah-olah aku tidak percaya akan ketajaman pandangan Panembahan.”

Mendengar kata Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya itu tertawa lirih.

“Anakmas telah salah duga. Sebenarnya tidak ada seorang pun yang dapat mengetahui perasaan orang lain dengan tepat, selain Yang Maha Tahu. Tentang nama Anakmas dan cucu Arya Salaka, bukanlah karena aku dapat melihat apa yang belum terjadi, tetapi karena semata-mata nama Anakmas berdua telah demikian tenarnya di sekitar bukit ini. Seorang cantrik yang turun untuk mendapatkan perbekalan kami telah mendengar nama Anakmas berdua sebagai penyelamat di padukuhan Gedangan. Dan hampir setiap mulut dari penduduk pedukuhan itu selalu menyebut nama Tuan yang rangkap, bahkan nama Anakmas sebagai bekas prajurit Demak. Bukankah nama itu disebut-sebut pula oleh anak Sima Rodra yang Anakmas bunuh?”

Mahesa Jenar mengangguk-anggukkan kepalanya. Hal itu memang mungkin sekali. Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar tidak dapat melarikan diri dari sinar mata tajam yang seolah-olah menusuk sampai ke segala relung jantungnya. Meskipun demikian, maka tak ada cara lain yang baik baginya daripada memenuhi permintaan Panembahan Ismaya, mengutarakan maksud kedatangannya.

Maka dengan agak berat Mahesa Jenar berkata,

“Panembahan, aku mendengar tentang kewaskitaan Panembahan dari seorang yang bernama Wiradapa, penduduk dan sekarang menjadi lurah di padukuhan Gedangan. Karena itu aku memberanikan diri menghadap Panembahan untuk memohon petunjuk, barangkali Panembahan berkenan memberitahukan kepada kami berdua, di manakah atau cara bagaimanakah kami berdua dapat menemukan Keris Kyai Nagasasra dan Kyai Sabuk Inten yang lenyap dari perbendaharaan istana dan pernah menjadi rebutan dari mereka yang menggolongkan diri dalam suatu gerombolan yang ingin merebut pemerintahan dengan segala cara, termasuk Sima Rodra yang beberapa waktu lalu terbunuh di Gedangan.”

Mendengar pertanyaan Mahesa Jenar itu Panembahan Ismaya mengernyitkan alisnya.

Perlahan-lahan ia mengangguk-anggukkan kepalanya, dan kemudian dengan tersenyum berkata,

“Anakmas, dalam waktu yang singkat ada dua orang yang mempunyai pertanyaan yang sama. Beberapa waktu yang lalu, datang padaku seorang yang menyatakan dirinya putra Kepala Daerah Perdikan Pamingit dan Banyubiru. Dan ternyata anak muda itu terlibat dalam suatu bentrokan dengan Anakmas berdua di Gedangan, menurut berita yang sampai di bukit ini. Anak muda yang bernama Sawung Sariti itu, ternyata menanyakan juga kedua keris yang bernama Nagasasra dan Sabuk Inten. Tetapi sayang bahwa aku tak dapat menunjukkannya, sehingga marahlah anak muda itu. Sekarang Anakmas datang pula dengan pertanyaan yang sama. Tentu saja pertanyaan itu amat mencemaskan hatiku. Sebab jangan-jangan Anakmas akan marah pula kepadaku.”

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil menyahut,

“Panembahan, apakah hakku marah kepada Panembahan. Bahwa aku telah mendapat kesempatan untuk menghadap Panembahan, bagiku telah merupakan suatu kesempatan yang tak dapat aku lupakan.”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya itu kembali mengangguk- anggukkan kepalanya, katanya pula,

“Aku sudah mengira, bahwa Anakmas tidak akan marah kepadaku seperti anak muda itu. Namun begitu aku sangat menyesal bahwa tak ada pengetahuanku tentang kedua keris itu, yang Anakmas kehendaki itu.”

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar mencoba menyembunyikan perasaannya namun di wajahnya membayang pula kekecewaan hatinya, apalagi Arya Salaka. Meskipun demikian, Mahesa Jenar sama sekali tak ada perasaan menyalahkan kepada Panembahan Ismaya. Sebab bagaimanapun juga waskitanya seseorang, namun pasti bahwa tidak semua sudut dunia ini dapat diketahuinya.

Agaknya perasaan Mahesa Jenar itu dapat diketahui oleh Panembahan Ismaya, yang kemudian berkata meneruskan,

“Anakmas, aku tahu bahwa Anakmas menjadi kecewa. Hal itu disebabkan karena berita yang berlebih-lebihan tentang diriku. Orang menganggap bahwa aku dapat melihat segala isi dunia ini, dari yang paling kasar sampai yang paling halus. Meskipun demikian, aku mempunyai satu permintaan pada Anakmas berdua yang tidak aku sampaikan kepada anak muda yang bernama Sawung Sariti, untuk sementara tinggal bersama-sama aku di Bukit Karang Tumaritis ini. Aku tidak tahu apakah dengan demikian akan ada tanda- tanda yang dapat menunjukkan jalan atas maksud-maksud Anakmas itu. Tetapi pada saat aku melihat Anakmas berdua, aku merasa bahwa aku mempunyai kewajiban untuk membantu.”

Mendengar keterangan Panembahan Ismaya yang terakhir itu, mata Mahesa Jenar menjadi bercahaya. Kata-kata itu diucapkan oleh seorang Panembahan. Karena itu ia yakin bahwa artinya pun tidak sesederhana kata-kata itu sendiri.

Maka karena itu segera ia menundukkan kepalanya dalam-dalam sambil menjawab, “Panembahan adalah bijaksana. Apa yang Panembahan anggap baik, pastilah amat baik bagi kami. Apalagi kemurahan hati Panembahan untuk memberikan tempat berteduh bagi kami berdua, pasti akan kami junjung tinggi.”

Panembahan itu tersenyum, lalu katanya meneruskan,

“Anakmas berdua terlalu rendah hati. Namun janganlah Anakmas menjadi kecewa kalau akhirnya aku tak dapat berbuat apa-apa atas keinginanku membantu, yang hanya dibekali oleh kemauan melulu.”

Sekali lagi Mahesa Jenar mengangguk sambil berkata,

“Kemauan Panembahan bagi kami adalah jauh lebih berharga dari apapun juga.” Akhirnya Mahesa Jenar dan Arya Salaka diperkenankan untuk beristirahat.

Selanjutnya memenuhi permintaan Panembahan Ismaya, mereka berdua untuk beberapa lama tinggal bersama-sama di Karang Tumaritis. Mereka berdua hidup dan bergaul dengan beberapa orang cantrik yang melayani Panembahan Ismaya dengan rajinnya di bawah pimpinan Putut Karang Tunggal.

Namun setelah tujuh hari mereka tinggal di situ, Panembahan Ismaya sama sekali belum pernah menyinggung- nyinggung tentang kedua pusaka itu. Kalau mereka bertemu, maka apa yang dibicarakan oleh Panembahan Ismaya adalah hal-hal yang sama sekali tak berarti. Bahkan kesempatan untuk bertemu pun sangat terbatas.

Panembahan Ismaya selalu menyepi di ruang samadinya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar percaya, bahwa Panembahan Ismaya pada suatu hari akan dapat memberinya bantuan untuk menemukan kedua keris itu.

Selama mereka berada di Karang Tumaritis, mereka mendapat kesempatan untuk mengunjungi setiap lekuk liku pegunungan itu. Sebagai tuan rumah, para cantrik amatlah ramahnya, sehingga Mahesa Jenar dan Arya Salaka merasa seperti di rumah sendiri. Bahkan di bukit itu pun Arya Salaka masih sempat untuk menerima pelajaran-pelajaran dari gurunya, meskipun mereka terpaksa mencari tempat yang agak tersembunyi. Sebab ternyata penghuni bukit itu agaknya tidak pernah membayangkan adanya gerak-gerak kekerasan yang dapat bermanfaat bagi kehidupan mereka, kecuali menelaah masalah- masalah kerohanian di bawah tuntunan Panembahan Ismaya.

Tetapi pada beberapa hari kemudian, terjadilah suatu peristiwa yang sama sekali di luar dugaan Mahesa Jenar dan Arya Salaka. Ketika mereka sedang berjalan-jalan menyusur tebing bukit itu, dilihatnya agak jauh di lembah di belakang bukit itu, beberapa perkemahan yang sedang dipersiapkan.

Mula-mula mereka sama sekali tidak menaruh perhatian sama sekali, sebab mereka menyangka bahwa kemah dari batang-batang ilalang itu telah dibuat oleh para pemburu. Tetapi ketika ternyata di bagian-bagian yang lain di sekitar bukit itu dibuat pula kemah- kemah yang serupa, maka Mahesa Jemar mulai curiga. Apalagi ketika akhirnya ia mempunyai kesimpulan bahwa bukit Karang Tumaritis itu telah dikepung rapat, sehingga setiap jengkal tanah mendapat pengawasan dengan saksama.

Mau tidak mau Mahesa Jenar terpaksa menebak-nebak. Siapakah yang telah membuat perkemahan itu, dan apakah maksudnya.

Pada malam itu, hati Mahesa Jenar menjadi berdebar-debar ketika ia mendapat undangan dari Panembahan Ismaya untuk menghadap. Maka bersama dengan Jatirono dan Arya Salaka Mahesa Jenar pergi memenuhi undangan itu.

Sebagai biasa Panembahan Ismaya menyambut kedatangannya dengan penuh hormat, serta mempersilahkan Mahesa Jenar dan Arya Salaka duduk di atas batu hitam yang beralaskan kulit kayu. Setelah itu dimintanya Jatirono meninggalkan mereka.

Anakmas... kata Panembahan Ismaya kemudian setelah menanyakan keadaan Mahesa Jenar selama tidak bertemu.

“Perkenankanlah aku menyampaikan suatu berita yang barangkali agak tidak kita harap- harapkan ”

Panembahan Ismaya berhenti sejenak, sedang Mahesa Jenar dengan penuh perhatian mendengarkan setiap patah kata yang meluncur dari mulut orang tua itu. Tetapi meskipun Panembahan Ismaya belum menyampaikan berita apakah yang tidak menyenangkan itu, namun Mahesa Jenar sudah dapat meraba bahwa yang dimaksudkan pasti adanya beberapa perkemahan yang mengelilingi bukit itu. Dan ternyata apa yang dirabanya itu benar.

“Di sekeliling bukit ini...” Panembahan itu meneruskan, “Ada beberapa orang yang membangun perkemahan. Barangkali hal itu telah dapat Anakmas lihat pula.”

“Benar Panembahan,” jawab Mahesa Jenar. “Aku telah melihat perkemahan itu, yang seolah-olah berusaha mengepung bukit kecil ini.” Panembahan Ismaya menarik nafas. Kemudian katanya pula,

“Tak ada diantara kita yang mengetahui apakah maksud orang-orang yang telah melakukan itu. Dan karena itulah maka aku ingin minta tolong kepada Anakmas.”

Sampai sekian Panembahan tua itu berhenti pula.

Mendengar permintaan itu, tentu saja Mahesa Jenar tidak akan menolaknya. Maka jawabnya,

“Panembahan, aku akan selalu bersedia untuk melakukan apapun yang mungkin. Apalagi apabila ada hubungannya dengan kemah-kemah yang memang sangat menarik hati itu.”

“Benar Anakmas,” sambung Panembahan, “Memang aku bermaksud untuk mengetahui siapakah yang telah membangun perkemahan itu. Aku kira mereka mempunyai maksud- maksud yang tidak dapat mereka katakan secara berterus terang. Sebab apabila demikian, maka mereka pasti tidak akan melakukannya. Kalau persoalan mereka dapat dilakukan dengan baik pastilah mereka akan langsung menaiki bukit ini.”

“Lalu apakah yang harus aku lakukan...? tanya Mahesa Jenar.

“Anakmas...” jawab Panembahan itu, “Nanti apabila hari telah larut, aku ingin melihat perkemahan itu. Sudikah Anakmas mengantarkan aku?”

Mendengar permintaan itu Mahesa Jenar terkejut. Panembahan Ismaya sendiri akan pergi melihat perkemahan dari orang-orang yang sama sekali belum dikenalnya. Karena itu segera ia menjawab,

“Panembahan. Sebenarnya tidaklah perlu Panembahan sendiri pergi untuk menyaksikan kemah-kemah itu. Biarlah aku dan Arya saja yang melakukan. Sedang hasilnya akan aku laporkan kepada Panembahan. “

Panembahan Ismaya tersenyum mendengar jawaban Mahesa Jenar. Maka katanya, “Hal itu tak dapat aku benarkan Anakmas. Anakmas adalah tamu di bukit ini. Bukankah tidak semestinya kalau aku sebagai tuan rumah membebankan suatu pekerjaan kepada tamunya melulu, sedang tuan rumah sendiri akan berpangku tangan.”

“Panembahan...” sela Mahesa Jenar, “Kalau demikian, bukankah Panembahan dapat menunjuk salah seorang cantrik pergi bersama kami?”

Panembahan Ismaya menggelengkan kepala. Katanya,

“Itupun tidak mungkin. Para cantrik adalah anak-anak yang keselamatannya ada di dalam tanggungjawabku. Aku masih belum tahu, apakah pekerjaan yang akan kita lakukan itu berbahaya atau tidak. Karena itu aku tidak dapat menugaskan orang lain dalam hal ini. Kalau aku berani minta kepada Anakmas, adalah karena aku yakin bahwa Anakmas memiliki kemampuan melampaui manusia biasa. Terus terang saja, bahwa Anakmas mungkin akan dapat melindungi diriku apabila ada hal-hal yang sangat tidak menyenangkan, meskipun seharusnya aku percaya bahwa keselamatan seseorang sangat tergantung kepada garis yang telah digoreskan oleh Yang Maha Kuasa. Dan bukan pula seharusnya aku menaruh curiga kepada hal-hal yang belum pasti.”

Hati Mahesa Jenar tergerak mendengar kata-kata itu. Meskipun Panembahan Ismaya itu telah sedemikian lanjut, namun sebagai seorang yang memegang pimpinan dalam bidangnya, ia sangat melindungi orang-orangnya. Karena itu, Mahesa Jenar merasa bahwa apabila ia terpaksa menolak, pasti akan menyinggung perasaan orang tua itu.

Maka yang dapat dikatakan hanyalah,

“Panembahan, kalau demikian maka aku tidak dapat berbuat lain dari pada memenuhi permintaan Bapak.”

“Nah, kalau demikian akan senanglah hatiku. Meskipun aku merasa bahwa di dalam hati Anakmas pasti mentertawakan aku, seorang yang menamakan dirinya Panembahan, namun masih mencemaskan keselamatannya.”

Mahesa Jenar tidak menjawab, kecuali menunddukkan kepalanya. Sebenarnya ia agak tidak sependapat dengan pernyataan Panembahan Ismaya itu.

Sebagai seorang prajurit, ia membenarkan pada setiap usaha untuk keselamatan diri maupun pasukannya. Hal itu sama sekali bukanlah sesuatu yang perlu disesalkan. Tetapi disamping itu ia mencoba untuk memahami pula alam pikiran Panembahan Ismayaa yang tidak mementingkan persoalan lahiriah.

Maka ketika malam telah larut, Panembahan tua itu kemudian berkemas-kemas untuk turun dari bukit Karang Tumaritis. Orang tua itu sengaja melepaskan jubah putihnya, dan menggantinya dengan kain hitam supaya tidak jelas terlihat di dalam gelapnya malam.

Ketika itu di langit bertaburan jutaan bintang yang berkedip-kedip dengan cemerlangnya. Angin pegunungan yang silir, perlahan-lahan mengusap tubuh mereka yang dengan sangat hati-hati menuruni tebing-tebing bukit Karang Tumaritis.

Mereka, Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar dan Arya Salaka, tidak melewati jalan-jalan yang biasa, tetapi mereka menempuh arah yang lain. Sebenarnya Mahesa Jenar sama sekali tak sampai hati melihat Panembahan Ismaya, pada malam yang gelap itu, tertatih- tatih dengan tongkatnya menuruni lambung bukit yang agak sulit itu. Namun kemauan orang itu sama sekali sudah tak dapat diubahnya. Bagi Mahesa Jenar, tebing itu sama sekali tak berarti apa-apa. Juga bagi Arya Salaka. Tetapi lainlah Panembahan Ismaya yang telah lanjut usia.

Karena itulah maka perjalanan mereka sangat perlahan-lahan. Seolah-olah mereka sama sekali tidak maju-maju dari satu titik. Kadang-kadang apabila tebing itu agak terlalu terjal, Mahesa Jenar dan Arya Salaka bersama-sama menolong Panembahan Ismaya, supaya tidak jatuh terperosok. Meskipun demikian, ketika bintang Gubug Penceng telah melampaui garis tegaknya, mereka bertiga telah sampai dikaki bukit kecil itu. Nafas Panembahan tua itu terdengar agak terlalu cepat karena kelelahan. Namun demikian sambil tersenyum ia berkata,

“Anakmas, bukankah aku mempunyai bakat untuk menjadi prajurit?” Mahesa Jenar tertawa lirih, lalu sahutnya,

“Kalau Panembahan masih semuda aku ini, barangkali Panembahan jauh lebih kuat daripadaku.”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, Panembahan Ismaya tertawa terkekeh-kekeh, sehingga tubuhnya terguncang-guncang. Karena itulah Mahesa Jenar kemudian menjadi cemas, jangan-jangan suara itu didengar oleh orang-orang yang berada di dalam perkemahan yang sudah tidak begitu jauh lagi, sedangkan untuk menegurnya Mahesa Jenar agak segan.

Panembahan Ismaya kemudian sadar dengan sendirinya. Katanya berbisik-bisik, “Celaka.... Apakah mereka mendengar suaraku...?”

Setelah mereka berdiam diri beberapa saat, ternyata mereka tak mendengar suara apapun. Maka legalah hati mereka, karena ternyata suara Panembahan Ismaya itu tak terdengar oleh orang-orang di dalam kemah-kemah di seberang padang ilalang.

“Panembahan...” kata Mahesa Jenar kemudian, “Aku persilahkan Panembahan menunggu di sini. Biarlah aku mendekati salah satu dari perkemahan mereka yang terdekat itu.”

“Uh..!” keluh Panembahan Ismaya, “Aku sudah sampai di sini. Apakah salahnya kalau aku ikut serta.”

Sebenarnya Mahesa Jenar agak cemas membiarkan Panembahan Ismaya mendekati perkemahan itu. Mereka masih belum tahu siapakah yang berada di dalamnya. Kalau mereka terdiri dari orang-orang yang cukup berilmu maka kedatangan mereka pasti akan ketahuan, sebab Panembahan Ismaya agaknya kurang dapat mengendalikan geraknya sebagai dirinya atau Arya Salaka, yang sudah biasa berlatih diri. Tetapi ia tidak dapat mengutarakan pikirannya itu berterus terang. Sehingga akhirnya ia terpaksa berkesimpulan, bahwa ia harus benar-benar melindungi Panembahan itu atas segala sesuatu yang mungkin terjadi.

Karena itu, maka kemudian mereka bersama-sama dengan hati-hati sekali mendekati kemah yang terdekat di depan mereka. Adalah suatu kebetulan bahwa kemah yang mereka pilih adalah kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain. Dengan sangat perlahan-lahan Mahesa Jenar merangkak paling depan menguakkan batang-batang ilalang dan kadang-kadang gerumbul-gerumbul kecil di garis perjalanannya. Di belakangnya merangkak pula Panembahan Ismaya, dan di belakang sekali Arya Salaka, yang kadang-kadang terpaksa tersenyum geli melihat orang tua di depannya.

Ketika jarak kemah itu sudah tidak begitu jauh, Mahesa Jenar sudah mulai mencium bau asap. Agaknya orang-orang itu sedang menghangatkan dirinya di tepi perapian. Karenanya Mahesa Jenar harus bertambah hati-hati. Ia berusaha bahwa setiap geraknya tidak menimbulkan suara. Baginya hal yang demikian itu tidak begitu sulit, namun tidaklah demikian bagi Panembahan Ismaya.

Untunglah bahwa sampai sedemikian jauh, kedatangan mereka masih belum diketahui.

Ketika sekali lagi Mahesa Jenar menguak batang-batang ilalang, maka tiba-tiba ia surut selangkah. Di depannya tampak dua tiga orang sedang duduk mengelilingi api yang sudah hampir padam. Meskipun perlahan-lahan namun percakapan mereka dapat didengar oleh Mahesa Jenar dengan jelas.

Dengan gerakan tangan Mahesa Jenar memberi tanda kepada Panembahan tua itu agar berhenti dan berhati-hati. Panembahan Ismaya agaknya mengetahui pula. Karena itu segera ia berhenti dan duduk bersila. Ia tampaknya sudah demikian lelah.

Mahesa Jenar pun segera duduk di sampingnya, dan agak ke dalam tampak Arya Salaka duduk sambil memeluk lututnya. Di situ mereka merasa aman terlindung oleh batang- batang ilalang yang cukup tinggi dan padat. Sedangkan dari tempat itu pula mereka dapat mendengar setiap pembicaraan dari ketiga orang yang sedang menghangatkan tubuhnya itu.

Untuk beberapa lama pembicaraan orang-orang itu sama sekali tidak menyangkut kepentingan mereka berkemah di situ. Mereka hanya membicarakan diri mereka masing- masing. Mereka saling menyombongkan diri tentang kecakapan mereka berburu, berolah senjata dan jumlah orang yang telah pernah mereka bunuh.

Meskipun demikian dari percakapan itu Mahesa Jenar dapat menerka bahwa rombongan itu bukanlah rombongan orang baik-baik. Rombongan itu pasti termasuk dalam golongan para penjahat, bahkan bukan penjahat-penjahat kecil, tetapi mereka termasuk dalam gerombolan yang cukup besar.

Mula-mula Mahesa Jenar hampir menganggap bahwa para penjahat itu hanya melulu menginginkan kekayaan yang mereka sangka banyak terdapat di puncak bukit kecil itu. Kalau demikian halnya maka soalnya akan menjadi sederhana dan mudah.

Arya Salaka sendiri mungkin akan sudah cukup untuk dapat menakut-nakuti mereka. Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar terperanjat oleh percakapan berikutnya. Ketika salah seorang dari mereka menguap dan berdiri akan meninggalkan perapian itu, berkatalah ia, “Hati-hatilah kawan. Jangan sampai orang itu lolos. Aku akan tidur sebentar. Kalau lurah kita nanti kehilangan orang itu, mungkin kepala kalian yang akan menjadi gantinya. Ingat, jangan coba menyelesaikan sendiri. Pukul kentongan kalau kau lihat dia. Sebab baginya kau tidak lebih dari seekor tikus tak berarti.”

Orang yang masih duduk di tepi perapian yang sudah hampir padam itu tertawa tinggi. Lalu jawabnya, Macam apakah orang itu, yang menganggap kita seekor tikus? Justru karena itu aku ingin melihat orangnya. Kalau ia kuat mengayunkan penggadaku ini dengan sebelah tangan seperti yang aku lakukan, aku akan menyembahnya tujuh kali.

Orang yang berdiri itulah kemudian yang tertawa nyaring. Katanya, Aku akan berdoa mudah-mudahan permintaanmu itu dapat terkabul. Setelah itu ia melangkah pergi memasuki kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain.

Dua orang yang masih duduk itu menggerutu tak habis-habisnya. Salah seorang darinya berkata,

“Aku kagumi ketangkasan Kakang Sakayon. Sayang hatinya terlalu kecil.”

Mendengar kata-kata itu hati Mahesa Jenar berdesir hebat. Ia ingat dengan jelas bahwa orang yang bernama Sakayon adalah salah seorang dari kepercayaan Sima Rodra di Gunung Tidar. Kalau demikian maka orang-orang yang mengepung bukit itu pasti gerombolan Sima Rodra. Mendapat pikiran itu ia menjadi berdebar-debar.

Cepat ia menghubungkannya dengan peristiwa yang baru saja lampau, dimana Sima Rodra telah terbunuh olehnya di padukuhan Gedangan. Maka pikirannya bekerja dengan cepatnya. Yang dihadapi itu hanyalah anak buah gerombolan yang telah diketahui kekuatannya. Karena itu, apakah tidak lebih baik kalau gerombolan itu segera dihancurkannya sama sekali?

Panembahan Ismaya yang melihat kegelisahan Mahesa Jenar berbisik perlahan-lahan, “Apakah yang telah Anakmas ketahui tentang percakapan mereka?”

“Panembahan...” jawab Mahesa Jenar berbisik pula, “Mereka adalah gerombolan Sima Rodra dari Gunung Tidar. Aku telah mengenal salah seorang diantara mereka. Dan aku mendapat pikiran untuk menghancurkan mereka sekaligus sekarang juga, kemah demi kemah tanpa mereka ketahui. Sebab benar-benar mereka tidak lebih daripada tikus-tikus yang sangat rakus.”

Tiba-tiba Panembahan itu menggeleng-gelengkan kepalanya. Wajahnya menjadi cemas. Katanya tergagap perlahan-lahan,

“Jangan anakmas, jangan dipakai kekerasan. “

Mendengar kata-kata Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi bingung. Bagaimana mungkin menghadapi gerombolan Sima Rodra itu tanpa kekerasan. Karena itu untuk beberapa saat ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang akan dikatakan. Dan karena Mahesa Jenar berdiam diri, Panembahan Ismaya meneruskan, “Anakmas, bukankah dengan demikian akan terjadi pertempuran? “

Hampir tidak sadar Mahesa Jenar berkata,

“Ya Panembahan, pertempuran dan pertumpahan darah. “

“Oo.. ngger..., aku akan mati ketakutan melihat pertempuran. Maksudku semata-mata hanyalah untuk mengetahui apakah maksud mereka mengepung bukit ini. Setelah itu biarlah aku selesaikan kemudian. Dengan mengetahui maksud itu, bukankah aku telah mempunyai ancang-ancang untuk berbicara dengan mereka?”

Mahesa Jenar menjadi bertambah bingung. Meskipun ia dapat mengerti jalan pikiran Panembahan itu, namun sebenarnya ia sangat keberatan untuk melepaskan kesempatan ini.

Orang-orang dari gerombolan hitam yang dalam keadaan terpisah-pisah seperti itu, akan dengan mudahnya untuk digilas, seperti membunuh cacing. Ia dapat memasuki kemah demi kemah dan membinasakan isinya sebelum mereka sempat membunyikan tanda apapun. Kemudian ia akan menghadapi pimpinan mereka, istri Sima Rodra yang pasti akan dapat dibinasakannya pula.

Tetapi Panembahan Ismaya itu melarangnya untuk berbuat demikian. Dalam kebingungan itu terdengar kembali Panembahan Ismaya berbisik,

“Anakmas, kita telah berhasil mengetahui maksud kedatangan mereka. Marilah kita kembali dan mempertimbangkan apa yang baik aku lakukan untuk menyelesaikan masalah ini.”

Hati Mahesa Jenar bergolak hebat. Karena itu ia masih duduk diam tak bergerak.

Kalau Mahesa Jenar tidak dapat mengerti apa yang akan dilakukan, apalagi Arya Salaka. Meskipun ia berdiam diri, namun tubuhnya telah basah oleh keringat dingin. Bahkan terdengar giginya gemeretak menahan hati.

Melihat gelagat itu, maka Panembahan Ismaya menjadi bertambah cemas. Apalagi ketika ia mendengar Arya Salaka berdesis dengan suara yang gemetar.

“Arya Salaka...” bisik Panembahan Ismaya, “Apakah rencanaku itu tidak dapat kau mengerti? “

“Eyang Panembahan...” jawab Arya Salaka memaksa diri untuk berkata, “Apakah salahnya kalau sekarang juga aku bertindak. Menurut Paman Mahesa Jenar, dharma seorang lelaki adalah termasuk menumpas kejahatan. Bukankah saat ini kesempatan itu ada...?” “Kau betul cucu, kau betul. Dan pamanmu Mahesa Jenar pun betul pula. Tetapi adakah untuk menumpas kejahatan harus dilakukan dengan membinasakan mereka?

Panembahan...” Mahesa Jenar menyahut, “Setiap sisa dari kejahatan akan dapat menjadi benih pada masa yang akan datang.”

“Kau juga benar Anakmas, kau juga benar,” jawab Panembahan Ismaya, nafasnya menjadi semakin memburu. “Tetapi membunuh sebatang pohon tidak harus memotong dahan-dahan serta cabang-cabang saja. Yang penting akarnyalah yang harus dibinasakan.”

“Akan sampai juga saatnya kelak,” potong Arya Salaka.

“Arya...” sahut Panembahan Ismaya semakin bingung. Tetapi dari mulutnya meluncur kata-kata yang menunjukkan kedalaman tanggapannya atas keadaan yang dihadapinya.

“Kalau kau mulai dengan orang-orang yang menurut pamanmu tidak lebih daripada tikus-tikus yang rakus itu, cucu, maka kau tidak akan menemukan rajanya.Atau kau akan diterkamnya tanpa sepengetahuanmu.”

Mendengar kata-kata Panembahan tua itu, Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia menjadi seperti orang yang tersadar dari sebuah angan-angan yang dahsyat. Gamblanglah baginya apa yang dikatakan oleh Panembahan Ismaya itu. Ternyata meskipun orang tua itu tidak cukup pengalaman dalam dunia keprajuritan, namun pandangannya yang jauh ternyata sangat bermanfaat.

Tetapi agaknya Arya Salaka sama sekali tidak dapat mengerti pikiran Panembahan Ismaya. Karena itu ia menjawab,

“Sekarang atau nanti, soalnya sudah jelas. Baik setiap anggota gerombolan itu atau setiap orang yang memegang pimpinan, harus kita binasakan. Apakah bedanya?”

“Arya...” potong Mahesa Jenar dengan tenang, “Biarlah kita urungkan niat kita. Biarlah kita dapat menangkap orang yang kita kehendaki tanpa korban yang terlalu banyak. “

Mendengar pendapat Mahesa Jenar, Arya Salaka terkejut bukan buatan. Ia sama sekali tidak mengira bahwa gurunya akan menjadi sedemikian lunak menghadapi gerombolan hitam yang memuakkan itu. Karena itu wajahnya jadi merah. Jawabnya, “Paman... ijinkanlah aku bertindak atas namaku sendiri. Bukankah mereka telah bekerja sama dengan Paman Lembu Sora untuk mencelakakan ayahku...?”

Sekali lagi Mahesa Jenar menekan dadanya. Ia dapat merasakan perasaan anak itu. Tetapi ia dapat pula merasakan betapa bijaksananya Panembahan Ismaya dengan pendapatnya. Maka dengan penuh kesabaran seorang guru terhadap murid yang dikasihinya, Mahesa Jenar berkata, “Arya Salaka, kalau ada orang yang benci kepada golongan hitam, akulah orangnya yang akan berdiri di baris terdepan. Namun demikian, ada beberapa pertimbangan yang harus kita perhatikan.”

“Paman...haruskah kita menunggu agar mereka menjadi bertambah kuat dan bersiaga dahulu...? Ataukah kita menunggu sampai mereka menggantung aku tinggi-tinggi di pohon beringin tua itu...?”

“Oo..cucuku, jangan sebut-sebut peristiwa-peristiwa yang mengerikan itu,” sahut Panembahan Ismaya.

“Tetapi hal itu bisa terjadi, Eyang, Mula-mula ayahkulah yang menjadi korban, kemudian apa yang terjadi atas Paman Sawungrana menambah penjelasan. Dan apakah yang sudah mereka lakukan terhadap orang-orang Banyubiru dan Pamingit?

“Arya...” potong Mahesa Jenar, “Biarlah aku selesaikan penjelasanku dahulu. Kita harus mempunyai beberapa pertimbangan. Pertama kita harus menghormati Eyang Panembahan sebagai tuan rumah. Kedua, kita tidak mau kehilangan pemimpin mereka. Kalau orang-orang itu telah kita binasakan, maka pimpinan mereka tidak akan menginjakkan kakinya di daerah ini. Dengan demikian pekerjaan kita akan bertambah sulit.”

“Kalau demikian biarlah kita tinggalkan padepokan ini, supaya kita tidak terikat lagi pada sopan santun. Setelah itu kita bebas untuk bertindak atas orang-orang dari gerombolan hitam itu,” jawab Arya.

Sehabis ucapannya itu, tiba-tiba Arya sudah mulai bergerak untuk meninggalkan tempat itu.Melihat hal itu Mahesa Jenar terkejut sekali. Karena itu segera ia mencegahnya.

“Arya, apa yang akan kau lakukan? Ingat aku adalah gurumu. Dan aku telah mengasuhmu sampai ketingkatan ini.”

Mendengar suara gurunya yang sudah mulai keras itu Arya menjadi tergetar hatinya. Rupa-rupanya gurunya benar-benar mempunyai pendapat yang lain dari pendapatnya terhadap orang-orang dari gerombolan hitam yang tinggal memijat hancur itu.

Dalam pada itu, tiba-tiba lembah di kaki bukit Karang Tumaritis itu tergetar oleh suara tertawa yang tinggi nyaring. Suara itu jelas suara perempuan. Hati mereka yang sedang bersembunyi di dalam semak-semak itu tiba-tiba menjadi bergetaran dan berdebar-debar.

Mahesa Jenar dan Arya Salaka sama sekali tidak melupakan bahwa suara itu adalah suara Istri Sima Rodra dari Gunung Tidar. Suara itu kemudian disahut oleh suatu suara yang tenang berat, meskipun terdengar kurang menyenangkan. Sambil tertawa pendek terdengar laki-laki itu berkata, “Seharusnya kau sedikit memelihara kecantikanmu daripada terus-menerus merendam kuku-kukumu itu di dalam racun. Dengan begitu aku tidak akan terlalu ngeri memandangmu.”

Sekali lagi terdengar tertawa iblis betina itu, bahkan semakin dekat. Dan ketika sekali lagi terdengar suara laki-laki yang bersamanya, dada Mahesa Jenar bergoncang keras. Suara itu adalah suara berdesis dari Ular Laut Nusakambangan.

“Jangan coba merayu aku” katanya, “Kecuali kalau kau benar-benar dapat menangkap gadis yang kau sebut-sebut anak bekas suamimu yang terbunuh itu. Dengan demikian kau berdua akan aku ambil sekaligus sebagai isteri-isteriku.”

“Kau benar-benar serigala,” jawab istri Sima Rodra, “Tetapi apakah kau tidak takut kepada Pandan Alas?”

“Itu urusanmu. Kau boleh minta pertolongan ayahmu, Sima Rodra tua dari Lodaya, dan barangkali juga Paman Bugel Kaliki akan bersedia pula membantu.”

“Kenapa urusanku?” tanya Istri Sima Rodra.

“Banyak sebabnya,” jawab Jaka Soka yang berwajah tampan itu. “Pertama, Sima Rodra adalah ayahmu. Karena itu permintaanmu akan mendapat perhatiannya. Kedua, Bugel Kaliki adalah sahabat ayahmu itu. Dan ketiga, kau yang minta aku mengawinimu.”

“He...” potong Istri Sima Rodra terkejut. “Siapa bilang aku minta kau mengawini aku?”

“Lalu apa maksudmu menyeret aku kemari serta segala macam tingkah lakumu yang aneh-aneh itu?” tanya Jaka Soka keheran-heranan.

Sekali lagi tertawa nyaring yang mengerikan itu meluncur dari mulut harimau betina liar Gunung Tidar itu. Jawabnya,

“Soka... kau benar-benar telah berubah menjadi seorang yang alim. Coba katakan kepadaku, pernahkah kau mengawini segenap perempuan yang kau kumpulkan di Nusakambangan? Sekarang kau tak usah berpura-pura. Aku juga tidak. Kita tidak usah mengikat diri dengan cara apapun. Sebab itu hanya akan menertawakan orang dan mengurangi kemerdekaan kita masing-masing.”

“Gila!” gerutu Jaka Soka. “Ternyata kau jauh lebih liar dari dugaanku. Tetapi bagaimanapun juga bentuk hubungan kita, namun syaratku tetap. Kau harus membawa gadis itu kepadaku. Terserah cara yang akan kau tempuh.”

“Kau terlalu menyakitkan hatiku, tetapi aku tidak akan marah kepadamu. Jangan takut, gadis itu akan kutangkap dan akan kujadikan umpan untuk memancingmu.”

Lalu suara itu disusul oleh suara tawa dengan nada tinggi yang sangat menyakitkan telinga, yang semakin lama semakin menjauh dan ternyata kemudian memasuki kemah yang agak lebih besar dari kemah-kemah yang lain.

Mendengar percakapan itu hati Mahesa Jenar seperti tertusuk sembilu. etika ia menoleh kearah Panembahan Ismaya, orang tua itu menggigil seperti orang kedinginan. Terdengarlah suaranya yang lemah gemetar,

“Ya ampun, ada juga manusia-manusia semacam itu di dunia ini.”

“Itulah pimpinan mereka”, sahut Mahesa Jenar. “Adakah Panembahan merasa bahwa orang-orang semacam itu dapat diajak berbicara?”

Panembahan Ismaya mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi ia tidak menjawab pertanyaan itu. Malahan ia bertanya tentang hal yang lain.

Katanya, “Anakmas, pernahkah kau mendengar nama-nama yang disebut-sebut tadi? Pandan Alas, Sima Rodra tua dan Bugel Kaliki?”

Sekali lagi Mahesa Jenar terasa seperti terbangunkan dari sebuah angan-angan yang hebat. Kalau orang-orang itu, Sima Rodra dan Bugel Kaliki, berada di tempat ini pula, maka akibatnya akan hebat sekali. Apakah yang dapat dilakukan terhadap kedua tokoh itu? 

Bagaimanapun juga Mahesa Jenar bukan orang yang dengan mudahnya dapat ditelan oleh perasaan saja tanpa pertimbangan-pertimbangan dan perhitungan, sebagaimana harus dilakukan oleh seorang prajurit.

“Panembahan...” jawabnya, “Orang-orang itu adalah orang-orang yang dahsyat, yang memiliki kesaktian luar biasa. Mereka seolah-olah mampu berbuat sesuatu diluar kemampuan manusia biasa.”

Orang tua itu menjadi semakin cemas mendengar keterangan Mahesa Jenar. “Adakah orang-orang itu di tempat ini pula?” sambungnya.

Mahesa Jenar menggelengkan kepala. “Entahlah,” jawabnya.

Tetapi sesaat kemudian percakapan mereka terhenti oleh suatu suara, “He, kau lihat tadi lurah kita?”

Kemudian terdengar jawaban, yang ternyata adalah laki-laki yang sedang menghangatkan tubuh perapian yang hampir padam. “Ya, aku lihat Nyi Lurah bersama-sama dengan Ular Laut yang sombong itu masuk ke dalam kemah. Apakah ada suatu keperluan?”

“Ya!” jawab orang yang pertama. “Sima Rodra tua ingin menemuinya.”

Kata-kata yang diucapkan itu, telah cukup menggetarkan dada Mahesa Jenar. Sadarlah ia sekarang bahwa ia berhadapan dengan satu gerombolan lengkap dari Gunung Tidar yang di belakangnya berdiri orang-orang semacam Sima Rodra tua yang dahsyat itu.

Apalagi ketika laki-laki itu meneruskan, Katakan kepadanya bahwa ayahnya dan tamunya, si bongkok dari Lembah Gunung Cerme sudah menunggu.

Kemudian sepi kembali. Yang terdengar hanyalah langkah-langkah mereka yang sesaat kemudian telah lenyap ditelan sepi malam.

Di langit, bintang-bintang masih bermain dengan riangnya. Sekali-sekali selembar awan putih lewat di depan wajah langit yang biru tua, dihanyutkan oleh angin yang berhembus perlahan-lahan. Dingin malam yang dibasahi oleh tetesan embun terasa menyusup sampai ke tulang.

Sesaat Mahesa Jenar terkenang pada pertemuan golongan hitam beberapa tahun yang lampau, ketika ia berlima, dengan Gajah Alit, Paningron, Mantingan dan Wiraraga, terlibat dalam suatu pertempuran melawan Sima Rodra tua itu bersama Pasingsingan. Pada saat itu Sima Rodra dan Pasingsingan bertempur berdua hanya karena mereka bersama-sama ingin membunuh, bukan karena mereka terpaksa menggabungkan kekuatan mereka.

Sekarang, bukit kecil ini telah dikepung rapat oleh sejumlah laskar gerombolan hitam yang terkenal, ditambah lagi dengan kehadiran Sima Rodra dan Bugel Kaliki, disamping istri Sima Rodra muda dan Jaka Soka. Gabungan kekuatan mereka akan merupakan suatu tenaga dahsyat yang tak terbayangkan.

Disamping itu, ia merasa berterima kasih pula kepada Panembahan Ismaya, yang telah melarangnya bertindak, meskipun itu disebabkan oleh ketakutannya melihat kekerasan. Namun dengan demikian tanpa disengaja Panembahan tua itu telah menyelamatkannya beserta muridnya.

Sebentar kemudian kembali terdengar suara Istri Sima Rodra muda yang agaknya telah keluar dari kemahnya. “Sakayon...” katanya, “Kau harus menjaga supaya orang itu tidak dapat lolos.”

“Baik Nyi Lurah,” jawab Sakayon.

“Aku akan tinggal di sini,” sela suara yang lain, yang ternyata suara Jaka Soka. “Kalau ia akan mencoba menerobos, akulah yang akan membinasakan. “ “Kau benar,” jawab Jaka Soka. “Tetapi aku akan membunuhnya beramai-ramai. Bukankah di sini ada Sakayon dan kawan-kawannya...? Setidak-tidaknya aku akan dapat mencegahnya sampai ayahmu datang untuk membinasakannya. “

Sekali lagi Harimau betina itu tertawa, sahutnya, “Ternyata kau jujur menghadapi lawanmu. Tetapi jangan mimpi ayahku akan membinasakannya. “

“Kenapa?” potong Jaka Soka.

Istri Sima Rodra muda itu tertawa lebih mengerikan lagi. Jawabnya sangat mengejutkan, “Aku minta ayah menangkapnya hidup-hidup. Sayang, ia terlalu tampan untuk dibunuh”.

“Gila kau!” bentak Jaka Soka. Dan bersamaan dengan itu dada Mahesa Jenar serasa akan pecah. Tubuhnya menggigil menahan kemuakan hatinya.

Hampir ia kehilangan pengamatan diri, kalau ia tidak mendengar Panembahan tua itu berdesis, “Adakah Sima Rodra ayah perempuan itu?”

Mahesa Jenar mengangguk, tetapi giginya gemeretak. Sementara itu terdengar suara perempuan itu semakin memuakkan,

“Jangan cemburu Soka. Aku juga tidak cemburu ketika kau ajukan syarat untuk menangkap gadis anak tiriku itu. Dan jangan kira aku tidak tahu, bahwa aku akan kau jadikan alat saja, dan sesudah itu akan kaulempar jauh-jauh. Tetapi kau tidak dapat melakukan itu. Ayahku akan mencekikmu bersama-sama dengan Pandan Alas. Kecuali kalau itu atas kehendakku.”

“Gila kau. Pergilah, pergilah ke ayahmu. Aku tidak mempedulikan apa yang akan kau lakukan. Tetapi ingat, sementara kau perlukan aku, syarat itu harus kau penuhi,” jawab Jaka Soka.

Terdengar kembali suara tertawa iblis betina itu, semakin lama semakin jauh dan kemudian hilang di kejauhan.

Pertunjukan yang dahsyat dan memuakkan itu telah berakhir.

Namun Panembahan tua itu masih menggigil, sedang dada Mahesa Jenar dan Arya Salaka serasa sesak oleh kemarahan dan kemuakan yang meluap-luap.

“Anakmas...” bisik Panembahan Ismaya, “Sungguh mengerikan. “

“Panembahan...” jawab Mahesa Jenar, “Aku kira lebih baik Panembahan kembali ke padepokan. Agaknya disini terlalu berbahaya bagi Panembahan.“ “Oo.., ngger”, sahut Panembahan itu, “Aku tidak dapat berjalan sendiri. Tubuhku tiba- tiba jadi lemas seperti segenap otot bayuku dilolosi. Karena itu sudilah angger berdua menuntunku mendaki bukit kecil ini.”

Mahesa Jenar tak dapat menolak permintaan itu. Meskipun ia sebenarnya masih ingin mengetahui lebih banyak lagi tentang kekuatan laskar Gunung Tidar itu. Karena itu, maka perlahan-lahan mereka menggeser semakin dalam menyusup semak-semak dan batang ilalang, untuk kemudian membantu Panembahan tua itu kembali ke Padepokan diatas bukit.

Tak ada yang mereka percakapkan sepanjang jalan. Angan-angan mereka masing- masing dicengkam oleh kengerian dengan alasan yang berbeda-beda.

Dan karena itu pulalah maka Mahesa Jenar dan Arya Salaka seterusnya sama sekali tak dapat memejamkan mata sekejappun, meskipun mereka menghendaki. Pikiran mereka menjadi kalut tak karuan. Disamping itu, Mahesa Jenar pun harus berpikir pula, bagaimanakah sebaiknya ia menghadapi iblis-iblis yang berkumpul di sekitar bukit kecil itu.

Menilik persiapan mereka, maka sudah dapat dipastikan bahwa mereka akan melakukan pengepungan itu untuk waktu yang lama. Bagaimanapun juga orang-orang dari Gunung Tidar tidak mau menganggap Mahesa Jenar sebagai seorang yang tak berdaya menghadapi mereka. Lebih-lebih lagi setelah Mahesa Jenar mendengar percakapan Jaka Soka dengan Janda Sima Rodra.

Tanpa diketahuinya, bulu kuduknya meremang. Ia sama sekali tidak takut menghadapi kemungkinan yang paling berbahaya sekalipun.

Namun terhadap iblis betina itu ia merasa ngeri. Karena itulah dihabiskannya sisa malam itu dengan hati yang berdebar. Pada pagi harinya, sesaat setelah matahari terbit, datanglah Jatirono ke pondok Mahesa Jenar, untuk menyampaikan undangan Panembahan Ismaya. Mahesa Jenar merasa bahwa ada hal yang penting yang akan dibicarakan. Karena itu setelah membersihkan diri, bersama-sama dengan Arya Salaka ia pergi menghadap.

“Anakmas...” kata Panembahan itu kemudian, “Agaknya keadaan sangat gawat bagi Anakmas. Tetapi untung lah bahwa mereka sama sekali tidak mengetahui dengan pasti bahwa Anakmas masih berada di atas bukit ini.“

“Aku kira tidak demikian Panembahan,” jawab Mahesa Jenar. “Persiapan mereka menunjukkan bahwa mereka yakin aku masih berada di sini. Hanya barangkali mereka menganggap bahwa untuk menangkap aku, mereka memerlukan waktu yang panjang. Sebab bukit ini banyak sekali relung likunya yang baik sekali untuk bersembunyi. Tetapi Bapa Panembahan, aku sama sekali tidak akan bersembunyi. Kalau mereka naik ke bukit itu, akau akan menemuinya dan apa yang terjadi terserahlah kepada kekuasaan Allah Yang Maha Adil.” Panembahan Ismaya mengangguk-angguk.

Katanya, “Angger memang seorang jantan tiada taranya. Yang tidak sisip dengan gelar yang Anakmas miliki, Rangga Tohjaya. Namun demikian anakmas, setiap usaha dibenarkan oleh Allah Tuhan Yang Maha Pengasih. Juga usaha untuk menyelamatkan diri. Sebab tak ada yang dapat dicapai tanpa suatu usaha apapun.”

Ucapan Panembahan tua itu mengena benar di hati Mahesa Jenar. Sebenarnya ia pun sependapat dengan pikiran itu. Bahkan menurut perhitungan, ia pun seharusnya berbuat demikian pula. Tetapi dengan demikian, Panembahan Ismaya akan mengalami akibatnya. Setidak-tidaknya bukit kecil yang telah dipeliharanya dengan baik itu, akan dibongkar oleh rombongan Gunung Tidar yang akan mencarinya.

“Panembahan...” jawab Mahesa Jenar, “Pendapat Panembahan adalah benar sama sekali. Tetapi aku tidak mau menyulitkan Panembahan karena kehadiranku di sini. Sebelum aku diketemukan, mereka pasti akan mengaduk Padepokan ini. Bahkan tidak mustahil kalau Panembahan akan mengalami hal-hal yang tidak diharapkan. Karena itu biarlah mereka menemukan diriku tanpa banyak kesulitan. Karena persoalannya adalah persoalanku, dan sama sekali tidak bersangkut paut dengan Panembahan. Karena aku menghadap kemari itulah sebabnya maka bukit kecil yang tenang dan damai itu mengalami kegoncangan. Karena itu, bahkan aku tidak akan menunggu mereka naik. Akulah yang akan berusaha, kalau mungkin menerobos kepungan mereka.”

Sekali lagi Panembahan tua itu memancarkan pandangan kekaguman. Maka katanya, “Sekali lagi aku menghormati kejantanan Anakmas. Namun meskipun demikian, berilah aku kesempatan berlaku sebagai tuan rumah yang baik. Aku harap Anakmas tidak menolak permintaanku, supaya aku tidak merasa bersedih. Bukankah aku yang menahan Anakmas supaya tinggal di bukit ini untuk beberapa lama? Nah, kalau demikian aku akan menunjukkan sebuah jalan, sebab menurut pendapatku, setelah aku mendengar keterangan dari Anakmas malam tadi, sulitlah untuk menerobos kepungan mereka. Meskipun aku tahu benar maksud Anakmas, bahwa dengan demikian orang-orang itu tidak lagi akan mendaki bukit ini. Dan Anakmas telah mengatakan pula, bahwa mereka tidak akan tergesa-gesa bertindak.”

“Anakmas...,” lanjut Panembahan Ismaya, “Di lereng sebelah selatan bukit ini ada sebuah goa, Aku tidak tahu, siapakah yang telah membuatnya, atau barangkali hasil perbuatan alam. Goa itu ditakbiri sebuah gerumbul yang cukup besar. Di situ Anakmas dapat menyembunyikan diri dengan aman. Aku yakin bahwa tak seorangpun dapat menemukan mulut goa itu.”

Mendengar keterangan Panembahan Ismaya, Mahesa Jenar menjadi terharu. Rupa- rupanya ia akan mempertanggungjawabkan segala sesuatu mengenai dirinya, hanya karena Panembahan tua itu telah menahannya untuk tetap tinggal dibukit kecil itu.