Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 17

 
Jilid 17

Dengan berlari-lari kecil Mahesa Jenar melintas pematang untuk segera dapat sampai ke rumahnya.

Demikian ia sampai ke ambang pintu, demikian semua mata memandanginya dengan keheranan, seolah-olah tidak sewajarnyalah kalau ia datang pada malam itu. Baru sesaat kemudian seorang diantara mereka dapat menguasai dirinya.

“Anakmas Mahesa Jenar, marilah..., marilah duduk dahulu”, katanya.

Hati Mahesa Jenar sama sekali tidak enak mendengar kata-kata itu. Kata-kata yang mengandung perasaan yang iba. Apalagi ketika ia memandangi setiap wajah yang berada di dalam rumah itu. Arya Salaka tidak ada.

Sekali lagi ia meneliti setiap orang yang berada di dalam ruangan gubugnya, namun Arya Salaka tetap tidak tampak. Tiba-tiba berdesirlah jantung di dalam dadanya. Dan, dengan suara yang bergetar ia bertanya, “Di manakah anakku, Arya Salaka?”

Serentak semua mata memandang kepadanya dengan pandangan penuh iba. Salah seorang diantaranya, setelah beberapa lama baru dapat menjawab pertanyaan itu dengan kata yang terputus-putus. “Angger, duduklah dahulu, nanti kami kabarkan di mana anakmu berada.”

Mendengar jawaban itu, Mahesa Jenar menjadi semakin gelisah. “Di manakah Arya Salaka?” desaknya.

“Angger..”. jawab yang lain, Maafkanlah kami sebelumnya, bahwa kami tidak dapat memenuhi harapan Angger untuk melindungi anak itu. Baru tadi hal itu terjadi. Ketika beberapa orang bersenjata datang ke rumah ini menjelang senja. Dengan kekerasan mereka membawa Arya. Kami telah berusaha menggagalkan maksud mereka. Tetapi kami adalah petani-petani yang tak berarti seperti kau juga. Karena itu kami sama sekali tidak berdaya untuk menahannya.

Tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak hebat. Jantungnya berdentang menggoncangkan dada. Matanya yang sayu karena kelelahan berubah seperti bara api.

“Duduklah Ngger,” kata yang lain pula. “Biarlah kita bicarakan bagaimana caranya untuk dapat mencari anakmu itu.”

Tetapi Mahesa Jenar sudah tidak dapat mendengar kata-kata itu. Matanya yang membara itu sesaat beredar ke wajah-wajah para petani kecil yang baik hati serta ramah tamah. Hanya sesaat, sebab sekejap kemudian seperti orang kehilangan akal, Mahesa Jenar meloncat berlari ke luar halaman.

Beberapa orang kemudian memburunya sambil berteriak-teriak, “Tunggulah Angger..., tunggulah ”

Mahesa Jenar tertegun sejenak. Ia menjadi agak bingung, ke mana arah yang harus dianut kalau ia mau menyusul Arya. Lalu katanya hampir berteriak,

“Kemanakah anak itu dibawa?”

Beberapa orang jadi ragu-ragu, namun salah seorang menjawab pula, “Mereka pergi ke arah timur melalui jalan di sebelah desa kami itu.”

Mahesa Jenar tidak menunggu kata-kata itu berakhir. Segera ia meloncat dan berlari kencang-kencang ke arah yang ditunjukkan oleh tetangga-tetangganya. Lamat-lamat ia masih mendengar orang-orang itu berteriak, “Angger, kembalilah. Mereka adalah orang- orang perkasa dan bersenjata. Kita cari akal untuk mengambil anak itu, tetapi jangan dengan kekerasan.”

Namun bagi Mahesa Jenar suara-suara itu tidak lebih dari suara berdesirnya daun-daun kering yang rontok oleh angin malam yang kencang. Karena itu justru ia mempercepat larinya seperti orang yang kehilangan akal, semakin lama semakin cepat. Sesaat kemudian Mahesa Jenar sampai ke padang rumput yang luas. Di sana-sini terdapat padas. Di bawah cahaya bulan yang hampir penuh, Mahesa Jenar dapat memandang ke arah yang agak jauh. Tetapi matanya yang tajam tak dapat menangkap apapun kecuali puntuk-puntuk yang seolah-olah gelembung-gelembung yang tumbuh dari dalam tanah yang sedang mendidih. Ia bertambah cemas.

Bagaimanakah keadaan Arya Salaka...? Apakah ia dibawa ke padang rumput itu.., atau ke mana...?

Dalam kebimbangan itu Mahesa Jenar mencoba mengamat-amati tanah-tanah di sekitarnya. Kalau-kalau ia menemukan sesuatu sebagai petunjuk. Tiba-tiba ia melihat rumput-rumput liar di padang rumput itu rebah searah. Tampaknya jelas, bekas sesuatu yang diseret diatas rumput itu. Hati Mahesa Jenar kemudian berdebar-debar. Apalagi ketika kemudian ia melihat warna yang kehitam-hitaman di atas rumput yang mewarnai jari-jarinya pula. Darah. Adakah darah ini darah Arya Salaka?

Hati Mahesa Jenar kini benar-benar mendidih. Mahesa Jenar yakin pasti terjadi sesuatu yang tak menyenangkan atas anak itu. Maka seperti digerakkan oleh tenaga gaib, Mahesa Jenar berlari lebih cepat lagi, sehingga tampaknya seperti bayangan malaikat yang melayang-layang di atas padang rumput yang luas. Ia tidak tahu, sudah berapa lama ia berlari.

Tetapi tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti berlari. Dilihatnya agak jauh di depannya sebuah bayangan yang bergerak perlahan-lahan. Apalagi ketika dilihatnya bayangan itu adalah seorang yang sedang mendukung sesuatu. Cepat Mahesa Jenar menyelinap ke belakang sebuah puntuk, serta dengan hati-hati ia mendekati bayangan yang berjalan semakin lama semakin cepat.

Ketika jarak orang itu sudah dekat serta dapat dicapainya dengan jelas oleh matanya yang tajam, perasaan Mahesa Jenar terlonjak hebat. Yang didukung oleh orang itu tidak lain adalah Arya Salaka. Karena itu segera darahnya bergelora. Ia sama sekali belum pernah mengenal orang itu. Maka segera ia mengambil kesimpulan, bahwa orang itu adalah salah seorang yang melarikan Arya. Perasaan Mahesa Jenar segera menghubungkan kejadian itu dengan Lembu Sora. Tidak mustahil bahwa kejadian- kejadian ini adalah atas perintahnya.

Melihat hal itu, Mahesa Jenar tidak dapat mengendalikan diri lagi. Seperti kilat ia meloncat dari tempat persembunyiannya sambil berteriak,

“Hai orang yang mengandalkan kejantanan diri.... Letakkan anak itu, dan marilah kita membuat perhitungan.”

Orang itu terkejut. Dengan tangkasnya ia memutar tubuhnya. Ketika ia melihat Mahesa Jenar sudah siap untuk menyerang, perlahan-lahan anak yang di dalam dukungannya itu diletakkan. Agaknya ia menjadi curiga pula, karena itu segera orang itu pun mempersiapkan dirinya. Tetapi belum lagi ia bertanya sesuatu, Mahesa Jenar sudah tidak dapat lagi menahan diri. Seperti taufan yang dahsyat, ia segera menyerang lawannya. Namun agaknya lawannya pun bukanlah orang yang dapat direndahkan. Dengan cepat ia berhasil menghindari serangan Mahesa Jenar. Bahkan dalam saat yang tidak lebih dari sekejap mata, ia sudah siap untuk membalas serangan itu.

Segera terjadilah suatu pertempuran yang hebat. Serangan Mahesa Jenar datang seperti mengalirnya ombak yang digerakkan oleh taufan yang dahsyat, sedang lawannya tidaklah kurang dari batu karang yang kokoh kuat. Bahkan tidak jarang pula orang itu berhasil mengadakan serangan-serangan balasan yang sangat berbahaya. Tangannya dapat bergerak-gerak dengan cepat serta tak terduga.

Agaknya mereka berdua memiliki ilmu yang seimbang.

Setelah mereka bertempur beberapa saat, ia menjadi keheran-heranan di dalam hati. Kalau orang ini orang Pamingit sangatlah mustahil. Ia sudah dapat mengukur kekuatan Lembu Sora yang dianggap orang terkuat di daerahnya, sedang orang ini memiliki beberapa kelebihan, daripada kepala daerah perdikan itu.

Tetapi kemungkinan yang lain adalah Lembu Sora minta bantuan kepada orang lain dengan imbalan yang tinggi. Sebab hal yang sedemikian tidaklah mustahil dilakukan oleh orang itu. Mendapat pikiran yang demikian, hati Mahesa Jenar menjadi semakin panas, karena itu serangannya menjadi semakin dahsyat pula. Sehingga dengan demikian lawannya harus berjuang lebih keras lagi untuk dapat menyelamatkan dirinya.

Demikianlah terjadi suatu pertempuran yang dahsyat diantara dua orang perkasa. Tandang Mahesa Jenar semakin lama semakin garang, terdorong oleh suatu perasaan bertanggung jawab terhadap Arya, yang berarti terhadap masa depan Banyubiru. Tetapi lawannya pun menjadi semakin garang pula.

Mereka saling menghantam, saling menyerang dengan hebatnya. Ketika Mahesa Jenar mendapat kesempatan, dengan segenap kekuatannya tangannya menghantam dada lawannya. Demikian kerasnya sehingga lawannya terdorong beberapa langkah dan kemundian jatuh terlentang. Mahesa Jenar tidak mau kehilangan kesempatan. Cepat ia meloncati lawannya yang belum sempat bangun.

Tetapi tiba-tiba terasa perutnya muak sekali, dan dengan kerasnya ia terlempar. Agaknya perutnya telah terkena dengan kerasnya tendangan lawannya. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar kehilangan keseimbangan. Ketika ia telah berhasil berdiri tegak kembali, sebuah pukulan yang tepat mengenai rahang kanannya, kembali ia terdorong ke belakang sampai punggungnya melekat pada sebuah puntuk padas. Lawannya dengan cepat memburunya, dan sebuah pukulan tangan kiri melayang dengan kerasnya.

Mahesa Jenar tidak mau rahang kirinya dikenai pula. Cepat ia memutar tubuhnya sambil merendahkan dirinya. Tangan kiri lawannya itu berdesing dengan kerasnya disertai dengan sambaran angin yang mengejutkan. Pada saat itulah kaki Mahesa Jenar melayang ke lambung orang itu. Terdengarlah sebuah keluhan tertahan, dan orang itu terlempar beberapa langkah. Cepat ia melangkah maju dan beberapa kali tangannya berhasil menghantam lawannya sehingga lawannya itu jatuh berguling.

Melihat lawannya jatuh, Mahesa Jenar segera meloncat maju. Tetapi langkahnya segera terhenti ketika dengan lincahnya pula orang itu telah menyerang kembali ke arah dadanya. Dengan tangkas Mahesa Jenar membalas ke arah pelipisnya. Tetapi orang itu pun tidak mau dikenai pukulan Mahesa Jenar. Cepat ia merendahkan diri, dan sebuah hantaman yang kuat tepat mengenai perut Mahesa Jenar. Sekali lagi perut itu terasa muak dan seolah-olah isinya bergelut di dalamnya.

Untunglah Mahesa Jenar telah mengalami masa penggemblengan baik jasmaniah maupun rohaniah, sehingga dengan memusatkan segala tenaganya tetap tegak. Ketika lawannya sekali lagi akan mengulangi serangannya, Mahesa Jenar berhasil mendahului dengan sebuah tendangan yang dahsyat mengenai wajah orang itu, sehingga orang itu terlempar beberapa langkah. Namun demikian ia terjatuh, demikian ia berusaha untuk tegak kembali.

Dari sudut bibirnya melelehlah cairan berwarna merah. Darah. Ketika tangannya mengusap darah itu, serta dirasanya cairan yang hangat, maka orang itu menjadi marah sekali. Matanya segera menyala seperti api. Bibirnya tampak bergetar-getar namun tak sepatah kata yang terdengar.

Tiba-tiba dari wajahnya yang membara itu memancar perasaan dendam tiada taranya. Cepat orang itu menjulur lurus ke depan. Melihat sikap itu, Mahesa Jenar terkejut. Ia pernah mendengar dari gurunya tentang sikap yang demikian. Suatu sikap pemusatan pikiran dan perasaan untuk memancarkan suatu ilmu yang dahsyat.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tidak sempat untuk mengingat-ingat lebih lama lagi, sebab apabila ia terlambat menjaga diri, maka akibatnya tidak dapat dibayangkan. Karena itu cepat-cepat ia memusatkan segala tenaga lahir dan batin, mengatur peredaran pernafasannya. Satu kakinya diangkat dan ditekuk ke depan, sedang sebelah tangan menyilang dada, dan yang satu lagi diangkatnya tinggi-tinggi.

Peristiwa seterusnya, hanya terjadi dalam sekejap. Lawan Mahesa Jenar itu meloncat maju, dan dengan telapak tangannya ia menghantam dahsyat sekali. Tetapi pada saat itu Mahesa Jenar telah mengayunkan tangannya pula, sehingga berbenturanlah sisi telapak tangannya dengan telapak tangan lawannya.

Terjadilah suatu benturan yang tidak terkira dahsyatnya. Suaranya berdentam seperti sebuah ledakan. Dan akibatnyapun hebat pula. Kedua-duanya terlempar beberapa langkah surut, dan kemudian mereka jatuh terguling untuk kemudian beberapa saat pandangan mereka menjadi gelap, dan hilanglah kesadaran mereka.

Pada saat itu pecahlah fajar di langit. Warna yang kemerah-merahan membayang di ujung timur, diantar oleh kokok ayam hutan saling bersahutan. Angin pagi yang segar berhembus silir menggerakkan batang-batang ilalang yang seolah-olah menari kegirangan menyambut datangnya pagi yang segar.

Dalam kesegaran angin pagi itu, dari arah timur berlarilah seekor kuda tidak terlalu cepat. Penunggangnya yang berwajah tampan, beberapa kali selalu mengamat-amati jalan yang akan dilewati. Agaknya ia sedang menuruti jejak dari seekor kuda. Dalam cahaya fajar, rupa-rupanya penunggang kuda itu harus memperhatikan bekas-bekas itu dengan saksama. Tetapi arahnya adalah tepat kepada dua orang yang masih terbaring tak sadarkan diri.

Ketika penunggang kuda itu telah semakin dekat, dan ketika tiba-tiba matanya yang bercahaya itu melihat kedua orang yang terbaring tak bergerak, maka ia menjadi sangat terkejut. Cepat ia meloncat turun mengamat-amati lawan Mahesa Jenar.

Dengan wajah yang cemas, ia meraba-raba dada orang itu, menggerak-gerakkan tangannya dan mengendorkan ikat pinggang kulit yang melilit di perutnya. Setelah itu perlahan-lahan ia mendekati Mahesa Jenar.

Alangkah terkejutnya ia, pada saat ia melihat siapakah yang terbaring pingsan itu, sehingga terloncatlah suaranya yang lunak halus,

“Kakang Mahesa Jenar ”

Setelah itu ia menjadi kebingungan dan tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apalagi ketika ia sadar bahwa pasti telah terjadi pertempuran diantara mereka berdua.

Dalam kebingungannya, penunggang kuda itu melihat Mahesa Jenar mulai bergerak- gerak. Tanpa disengaja ia meloncat selangkah maju. Tetapi pada saat itu pula ia melihat orang yang lain bergerak-gerak pula. Sehingga tanpa sadar ia mendekatinya pula. Sesaat kemudian tampaklah mereka berdua telah dapat mengangkat kepala masing-masing, meskipun pandangan mereka masih berputar-putar. Tetapi demikian mereka saling memandang, maka dengan sisa kekuatan mereka, segera mereka bangkit dan siap untuk bertempur kembali, meskipun mereka belum dapat berdiri tegak.

Untunglah bahwa orang ketiga itu sempat memisahnya.

Mendengar suara orang ketiga yang halus, Mahesa Jenar terkejut bercampur heran. Pandangannya bergerak-gerak berganti-ganti ke arah kedua orang yang berada di hadapannya.

Dalam cahaya matahari pagi yang sudah semakin jelas, Mahesa Jenar dapat melihat kedua-duanya dengan terang. Yang seorang adalah seorang laki-laki yang perkasa, bertubuh tegap kekar, berwajah cakap, serta berpakaian bagus. Beberapa macam perhiasan melekat pada pakaiannya yang sudah menjadi kotor. Tetapi yang paling menggetarkan adalah orang yang satu lagi. Meskipun orang itu berpakaian sederhana, tetapi dari wajahnya memancar cahaya yang menyilaukan mata Mahesa Jenar.

Ketika orang itu menyapanya, darah Mahesa Jenar serasa berdesir lebih cepat.

“Kakang Mahesa Jenar, apakah yang telah menyebabkan Kakang bertengkar dengan Kakang Sarayuda?”

Mendengar pertanyaan itu, Mahesa Jenar menundukkan kepalanya. Melihat wajah orang yang disebut Sarayuda itu, tiba-tiba Mahesa Jenar meragukan tuduhannya, bahwa orang itu telah menjadi suruhan Lembu Sora untuk membunuh Arya.

Karena Mahesa Jenar beberapa lama tidak menjawab, maka terdengarlah suara Sarayuda, masih dengan nada kemarahan,

“Kau kenal dia, Pudak Wangi...?”

Orang yang dipanggil Pudak Wangi itu menganggukkan kepalanya.

“Ya, aku kenal orang itu Kakang, seperti aku mengenal Kakang Sarayuda,” jawabnya. Mendengar jawaban Pudak Wangi, Sarayuda bertambah tidak senang.

“Di mana dan kapan kau kenal dia?”

Pudak Wangi tidak menjawab pertanyaan itu, tetapi kepada Mahesa Jenar ia berkata, “Kakang, marilah Kakang Mahesa Jenar aku perkenalkan dengan Kakang Sarayuda.”

Mendengar ajakan Pudak Wangi, perasaan Mahesa Jenar menjadi bertanya-tanya. Apakah hubungan antara Pudak Wangi dengan Sarayuda...?

Sebaliknya Sarayuda yang masih dipengaruhi oleh kemarahannya, menjadi agak bingung.

Agaknya Pudak Wangi merasakan kekakuan suasana, maka ia menjelaskan, “Kakang Mahesa Jenar.., Kakang Sarayuda adalah murid Eyang Pandan Alas.”

Mendengar keterangan itu, hati Mahesa Jenar berdebar tak keruan. Kalau demikian ia telah berbuat suatu kesalahan. Mustahillah kalau murid Pandan Alas telah berbuat suatu kejahatan. Perlahan-lahan matanya beredar ke arah Arya terbaring, dan perlahan-lahan didekatinya anak itu. Anak tempat menumpahkan segala harapan masa depannya.

Karena ia sendiri sampai saat itu belum mempunyai gambaran sesuatu tentang kelanjutan dari perguruannya, maka ia telah berbuat suatu kesalahan. Sambil meraba-raba tubuh Arya, Mahesa Jenar mengangguk hormat kepada Sarayuda.

“Barangkali aku telah berbuat kesalahan. Karena itu aku minta maaf sebesar-besarnya. Aku adalah Mahesa Jenar, murid dari Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh,” katanya.

Mendengar pengakuan Mahesa Jenar, Sarayuda menjadi terkejut pula, disamping pertanyaan-pertanyaan yang bergelut di dalam dadanya.

Kalau orang itu murid Almarhum Kyai Ageng Pengging Sepuh seperti yang pernah didengar dari gurunya, lalu apakah sebabnya ia demikian saja menyerangnya tanpa sebab?

Belum lagi Sarayuda bertanya, terdengar Mahesa Jenar melanjutkan,

“Tuan... sebenarnya aku tadi telah meraba-raba. Menilik sikap Tuan, pastilah Tuan ada hubungannya dengan salah seorang sahabat almarhum guruku. Tetapi aku sama sekali tidak mendapat kesempatan untuk mengingat-ingat. Baru kemudian setelah Adi Pudak Wangi mengatakan bahwa Tuan adalah murid Ki Ageng Pandan Alas, aku jadi teringat kepada ceritera guruku, bahwa sikap yang demikian tadi adalah sikap khusus perguruan Ki Ageng Pandan Alas dengan sebutan Aji Cunda Manik.”

Wajah Sarayuda kini telah mengendor, namun matanya masih mengandung bermacam- macam pertanyaan.

“Aku pun kemudian tahu pula, bahwa Tuan telah melawan Aji Cunda Manik dengan aji yang terkenal, Sasra Birawa. Untunglah bahwa aku tidak lumat karenanya.”

“Ah, jangan merendahkan diri Tuan,” sahut Mahesa Jenar. “Cunda Manik adalah suatu kekuatan yang tiada taranya.”

“Tetapi, apakah sebabnya Tuan menyerang aku tanpa sebab, sedang aku lagi berusaha menyelamatkan jiwa anak itu?” tanya Sarayuda kemudian.

Tiba-tiba wajah Mahesa Jenar jadi pucat. Maka dengan gugup ia bertanya, “Tuan sedang berusaha menyelamatkan jiwa anak ini?”

“Demikianlah,” jawab Sarayuda. “Ketika aku sedang menikmati kesejukan malam di padang ilalang ini, aku mendengar jerit anak itu. Ketika aku mendekatinya, maka aku melihat seorang anak sedang diseret dan disiksa oleh tiga orang yang tak mengenal perikemanusiaan. Akhirnya aku terpaksa membunuh ketiga orang yang tidak mau mendengarkan peringatanku. Bahkan mereka telah mencoba untuk membunuh anak yang sudah pingsan itu.”

Mendengar ceritera itu, Mahesa Jenar menjadi semakin pucat. “Kalau demikian, Tuanlah yang telah menyelamatkan jiwa anak itu? Kalau demikian maka dengan menyerang Tuan, aku telah berbuat kesalahan yang berlipat-lipat. Sebab aku mengira bahwa Tuan telah mengambil anakku itu dari rumahku.”

Sarayuda mengangguk-anggukkan kepala. Sekarang ia sedikit banyak telah dapat mengetahui duduk perkaranya, kenapa Mahesa Jenar langsung menyerangnya pada saat ia sedang mendukung anak yang pingsan itu.

“Agaknya Tuan telah salah sangka,” katanya. Mahesa Jenar menjawab lirih,

“Benar Tuan, aku terlalu tergesa-gesa, karena kecemasan akan nasib anakku.”

“Siapakah anak itu?” tanya Pudak Wangi, yang memperhatikan percakapan kedua orang itu dengan saksama.

“Arya Salaka,” jawab Mahesa Jenar. “Ia adalah putra Kakang Gajah Sora, kepala perdikan Banyubiru, yang juga cucu Paman Sora Dipayana.”

“Aku pernah mendengar nama itu dari Guru Pandan Alas, sahut Sarayuda, “dan untunglah bahwa aku telah menjumpai orang-orang yang mencoba mengganggunya.”

Kemudian Mahesa Jenar menceriterakan segala sesuatu yang telah terjadi atas Arya, dan suatu kebetulan yang tak disangka-sangka bahwa kemudian ia bertemu dengan murid Ki Ageng Pandan Alas, Sarayuda dan Pudak Wangi mendengarkan kata-kata Mahesa Jenar itu dengan seksama.

Sampai akhirnya Mahesa Jenar berkata,

“Aku minta maaf, Tuan, bahwa aku telah menyerang Tuan. Untunglah bahwa Tuan adalah seorang perkasa. Kalau sampai terjadi sesuatu atas diri Tuan maka aku akan menanggung dosa yang tiada taranya.”

Sarayuda tersenyum hambar. Bagaimanapun juga ia masih agak jengkel kepada Mahesa Jenar. Tetapi mendengar keterangan Mahesa Jenar, ia dapat mengerti sepenuhnya, perasaan apakah yang mendorongnya sehingga ia berbuat demikian.

Kemudian atas persetujuan mereka bersama, Arya segera didukung oleh Pudak Wangi di atas kudanya, dan segera dilarikan ke tempat pemondokannya, untuk segera mendapat perawatan yang lebih baik. Sedang Sarayuda dan Mahesa Jenar segera berjalan menyusulnya, meskipun kemudian mereka terpaksa kembali dengan membawa alat-alat untuk mengubur orang-orang yang terbunuh oleh Sarayuda.

Mereka pergi ke sebuah bukit, dimana Ki Ageng Pandan Alas membangun sebuah gubug sebagai tempat peristirahatan. Di sebelahnya terbentang sebuah tanah pategalan yang luas, milik orang-orang padepokan di bukit itu pula.

Sebagai seorang yang sedang melakukan tugas yang diliputi oleh rahasia, maka Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri pula. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas pun merahasiakan diri. Di padepokan itu Ki Ageng Pandan Alas diterima sebagai seorang penduduk yang baik hati beserta cucunya seorang pemuda pemalu yang tidak pernah keluar dari gubugnya.

Kadang-kadang Ki Ageng Pandan Alas yang menamakan dirinya Ki Punjung, pergi beberapa hari untuk mendapatkan keterangan tentang keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Namun sampai beberapa minggu kedua keris itu masih diliputi oleh takbir kegelapan.

Sedang apabila Ki Ageng Pandan Alas berada di rumah, maka hampir setiap saat, siang dan malam, ia membentuk Pudak Wangi yang sebenarnya adalah Rara Wilis, untuk menjadi seorang yang berilmu. Ia ingin merebut kembali ayah Rara Wilis dari dunia kejahatan dengan mempergunakan keperwiraan Rara Wilis yang diharapkan dapat menandingi ibu tirinya, anak Sima Rodra tua dari Lodaya. Dalam pondok itulah Rara Wilis mengalami penggemblengan.

Beberapa lama kemudian, datanglah seorang pemuda dari Gunung Kidul. Sarayuda, yang pada masa kanak-kanaknya menjadi kawan bermain Rara Wilis. Pemuda itu adalah murid Ki Ageng Pandan Alas. Ketika masa berguru sudah cukup, maka beberapa lama Sarayuda diajaknya merantau untuk mendapat pengalaman. Setelah beberapa lama kemudian, disuruhnya Sarayuda kembali ke Gunung Kidul untuk menerima warisan orang tuanya, yaitu kedudukan sebagai Demang di Gunung Kidul.

Pada saat Rara Wilis menjadi dewasa, Sarayuda merasa bahwa persahabatannya dengan Rara Wilis telah mengalami perubahan. Perasaannya sebagai pemuda kadang-kadang tersentuh-sentuh dengan tajamnya. Tetapi belum lagi Sarayuda mengatakan sesuatu, terjadilah malapetaka yang menimpa Rara Wilis. Ibunya meninggal dunia. Terpaksa ia menyabarkan diri untuk beberapa saat, sehingga masa berkabung itu lampau.

Tetapi tanpa diduganya, pada suatu hari Rara Wilis pergi meninggalkan Gunung Kidul. Tak seorang pun yang mengetahui ke mana arah tujuannya. Meskipun Sarayuda telah memerintahkan beberapa orang untuk mencarinya, namun selalu sia-sia saja.

Karena itu, untuk memenuhi tuntutan perasaannya yang tak dapat dibendung lagi, maka pada suatu hari Sarayuda sendirilah yang pergi untuk menemukan Rara Wilis. Karena Sarayuda memiliki pengalaman yang cukup, maka meskipun dengan susah payah, bertanya kesana-kemari, akhirnya ia mendapatkan beberapa keterangan yang meskipun samar-samar tentang seorang gadis yang berjalan seorang diri. Tetapi untuk beberapa lama ia kehilangan jejak.

Ia telah mencoba mencari Ki Ageng Pandan Alas ke Pliridan, Wanasaba, dan ke tempat- tempat yang pernah dikunjunginya dahulu. Namun Ki Ageng Pandan Alas tidak dapat ditemuinya. Ia yakin bahwa Ki Ageng Pandan Alas tidak akan membiarkan cucunya itu merantau tanpa tujuan. Pada suatu saat pasti Rara Wilis akan berada bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas.

Pada suatu saat di lereng Gunung Sumbing, pada saat ia sedang beristirahat di sebuah goa yang pernah dikunjungi bersama dengan gurunya, datanglah seorang yang juga akan berteduh di tempat itu. Dan ternyata, orang itulah Ki Ageng Pandan Alas.

Betapa girang hati Sarayuda bertemu dengan gurunya tanpa disangka-sangka.

Seterusnya Sarayuda menyertai Ki Ageng Pandan Alas, kembali ke pondoknya, ke tempat ia meninggalkan Rara Wilis yang telah berubah menjadi Pudak Wangi. Namun bagaimanapun bagi Sarayuda, baik Rara Wilis maupun Pudak Wangi sama sekali tidak ada bedanya.

Maka untuk beberapa lama Sarayuda tinggal bersama-sama dengan Ki Ageng Pandan Alas dan Pudak Wangi, untuk mendapat kesempatan pada suatu saat melahirkan perasaannya kepada Rara Wilis.

Pada malam itu, ketika udara malam yang sejuk membelai gubug kecil tempat tinggal Ki Ageng Pandan Alas bersama muridnya, Sarayuda tiba-tiba ingin melihat-lihat keadaan sekeliling bukit kecil itu. Maka segera ia menyiapkan kudanya, dan perlahan-lahan dinaikinya kuda itu tanpa tujuan.

Tiba-tiba ketika kudanya sampai di padang terbuka, Sarayuda mendengar sayup-sayup jerit seseorang. Cepat-cepat ia memacu kudanya ke arah suara itu. Dan yang dilihatnya adalah seorang anak yang diseret oleh tiga orang yang agaknya sama sekali tidak berperikemanusiaan.

Sarayuda mencoba untuk mencegah serta bertanya tentang anak itu, apakah sebab- musababnya. Tetapi sama sekali ia tidak mendapat jawaban. Malahan ketiga orang itu menyerangnya bersama-sama. Maka tidak ada jalan lain, kecuali melawannya. Malahan akhirnya ketiga orang itu binasa.

Ketika kemudian ia mengangkat anak itu, dan akan dibawanya kembali, kudanya telah berlari mendahului. Kemudian tanpa diduga-duganya datanglah Mahesa Jenar menyerangnya, sehingga mereka harus bertempur hampir separoh malam.

Kuda yang telah beberapa hari tinggal di rumah Ki Ageng Pandan Alas itu ternyata dapat menemukan jalan. Agaknya ia ketakutan dan terkejut ketika Sarayuda bertempur melawan tiga orang lawannya.

Pudak Wangi yang mengetahui bahwa kuda itu pulang tanpa penumpang menjadi agak cemas. Karena itu ia berusaha untuk mencarinya dengan menuruti jejak kudanya. Sehingga akhirnya dijumpainya Sarayuda dan Mahesa Jenar bersama-sama pingsan. Untunglah bahwa Pudak Wangi tidak terlambat, sehingga tidak terlanjur terjadi sesuatu. Di rumah Ki Ageng Pandan Alas, Arya mendapat perawatan yang baik, sehingga dalam waktu yang singkat tampaklah bahwa tidak terlanjur terjadi sesuatu, baik Mahesa Jenar maupun Sarayuda. Ternyata bahwa Ki Ageng Pandan Alas mempunyai cukup pengetahuan pula dalam hal obat-obatan.

Meskipun tidak begitu sempurna, namun karena usianya yang telah lanjut serta pengalaman yang luas, maka banyak pula dedaunan dan akar-akar yang membuat kesehatannya telah hampir pulih kembali.

Atas permintaan Pandan Alas pula, maka Mahesa Jenar untuk beberapa lama tinggal di rumah itu sambil menunggu Arya Salaka sampai benar-benar sembuh.

Dalam waktu yang singkat itu, timbullah rasa persahabatan yang erat antara Mahesa Jenar dengan Sarayuda yang usianya hampir sebaya. Sarayuda mengagumi Mahesa Jenar sebagai seorang yang cerdas, bersikap dewasa serta banyak mempunyai ceritera-ceritera tentang kepahlawanan yang menarik. Sedang terhadap Sarayuda, Mahesa Jenar merasa berhutang budi yang tiada taranya. Juga karena sikap Sarayuda yang berterus terang, yang memancar dari lubuk hati tanpa pamrih.

Tetapi disamping itu, disamping perasaan yang bahagia, karena Arya telah terselamatkan, dan karena ia berkesempatan bertemu dengan Ki Ageng Pandan Alas dan bersahabat dengan muridnya, namun ada pula perasaan lain yang menusuk-nusuk dada Mahesa Jenar. Pertemuannya dengan Pudak Wangi pada kesempatan yang sama sekali tak diduganya itu, telah menimbulkan kenangan pada segenap peristiwa-peristiwa yang lalu, pada saat pertemuannya yang mula-mula sekali di hutan Tambak Baya. Suatu perasaan yang berbahagia pada saat ia dapat menyelamatkan gadis itu dari tangan Jaka Soka. Tetapi juga suatu kenangan yang seram, pada saat gadis itu hilang. Hampir saja ia membunuh orang yang sama sekali tak bersalah.

Mengingat hal-hal itu Mahesa Jenar tersenyum sendiri.

Beberapa saat kemudian, Ki Ageng Pandan Alas sengaja mempertemukannya dengan seorang pemuda baru yang bernama Pudak Wangi di Banyubiru.

Semuanya itu telah membuat Mahesa Jenar selalu diganggu oleh kenangan yang susul- menyusul, yang setiap kali terasa menggores jantungnya, serta meninggalkan bekas luka yang pedih.

Apalagi sekarang, pemuda yang bernama Pudak Wangi itu selalu berada di sekitarnya. Karena itu maka hatinya tidak pernah merasa tenteram. Bagaimanapun ia mencoba melupakan bayangan-bayangan yang selalu mengejarnya, serta bagaimanapun juga ia mencoba menasehati dirinya, bahwa yang berada di rumah itu adalah seorang pemuda, namun ia tidak dapat membohongi diri, tidak dapat mencabut kembali pengertiannya, bahwa Pudak Wangi itu adalah Rara Wilis.

Kadang-kadang Mahesa Jenar menjadi jengkel kepada dirinya sendiri. Kalau demikian maka untuk mengisi waktunya, supaya tidak selalu diganggu oleh perasaan-perasaan itu, Mahesa Jenar sering pergi berburu seorang diri, sebab Arya masih belum kuat benar untuk melakukan pekerjaan-pekerjaan yang agak berat.

Dengan busur yang dapat dipinjamnya dari Pudak Wangi, Mahesa Jenar sering berburu.

Demikianlah pada suatu malam yang gelap, Mahesa Jenar telah mempersiapkan busur serta anak-panahnya. Kali ini ia ingin mendapatkan harimau. Sengaja ia tidak mengajak Sarayuda, supaya ia dapat berbuat sesuka hati tanpa ada yang mengganggunya.

Setelah ia minta diri kepada Arya, serta menyanggupinya untuk membawakan kulit harimau yang besar, maka berangkatlah Mahesa Jenar ke padang ilalang yang diseling- seling dengan semak-semak. Di tempat-tempat itulah biasanya berkeliaran harimau- harimau yang sedang mencari mangsa.

Angin malam yang bertiup lewat perbukitan, mengantarkan hawa yang segar. Di langit yang biru gelap, bintang-bintang bergantungan dengan riangnya. Beberapa kali lembaran- lembaran mega yang putih terapung-apung lewat, seperti rakit-rakit berkeliaran di danau yang luas.

Sekali dua kali Mahesa Jenar memandang ke arah langit yang terbentang di atas kepalanya. Alangkah luasnya. Dengan memandang ke arah langit serta benda-benda angkasa yang tiada taranya itu, terasa betapa kecilnya manusia ini. Tidak lebih dari satu titik pada sebuah bidang seluas kerajaan Demak. Apalagi kalau kita hadapkan hati kita kepada Sang Pencipta. Maka manusia itu benar-benar sama sekali tak berarti.

Ketika Mahesa Jenar sedang mengagumi keperkasaan alam, tiba-tiba terdengarlah oleh telinganya yang sangat tajam itu, langkah orang mengikutinya. Dengan hati-hati sekali Mahesa Jenar memperhatikan langkah itu dengan saksama. Sampai akhirnya dengan gerakan yang cepat sekali Mahesa Jenar menghentikan langkahnya serta membalikkan diri. Tetapi demikian ia menghadap orang yang mengikutinya itu, debar dadanya berubah menjadi suatu perasaan heran. Sebab yang berdiri di hadapannya adalah Pudak Wangi.

Untuk sesaat mereka saling berdiam diri. Pudak Wangi menundukkan wajahnya, sedang jari-jarinya bermain-main pada ujung bajunya. Baru beberapa lama kemudian Mahesa Jenar dengan agak tergagap bertanya,

“Akan ke manakah Adi Pudak Wangi malam-malam begini?” Pudak Wangi tidak segera menyahut.

Kemudian ia bertanya, “Bukankah Kakang Mahesa Jenar hendak berburu?” Mahesa Jenar mengangguk mengiyakan.

“Kalau demikian aku akan pergi berburu pula,” lanjut Pudak Wangi. Maka terloncatlah jawaban Mahesa Jenar tanpa sadar,

“Adi... aku kira tidaklah pantas kalau kau berjalan-jalan di malam hari, serta berburu pula bersama aku.”

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, kembali Pudak Wangi menundukkan wajahnya malu. Tetapi sesaat kemudian ia menjawab,

“Kakang Mahesa Jenar..., kalau Kakang boleh berburu pada malam hari, apa sebabnya aku tidak...? Adakah bedanya...?”

Mahesa Jenar terdiam. Barulah ia sadar bahwa ia berhadapan dengan seorang pemuda yang bernama Pudak Wangi, bukan dengan seorang gadis yang bernama Rara Wilis. Karena itu, segera ia menjawab,

“Tidak ... Adi, sama sekali tak ada bedanya.

Kalau demikian berarti aku diperkenankan untuk pergi berburu pula,” Desak Pudak Wangi.

Karena jawaban itu Mahesa Jenar semakin terdesak. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk mencegah Pudak Wangi ikut serta.

“Tetapi banyak halangannya berjalan di malam hari, meskipun Adi pada dasarnya diperkenankan berburu pula.”

Dengan tersenyum Pudak Wangi menjawab,

“Kenapa Kakang Mahesa Jenar cemas akan bahaya. Aku sudah lebih lama tinggal di tempat ini, sehingga aku lebih banyak mengenalnya. Kecuali itu, andaikata bahaya datang, biarlah aku coba untuk mengatasinya. Bukankah aku murid Ki Ageng Pandan Alas?”

Sekali lagi Mahesa Jenar terdesak, sehingga ia tidak dapat berkata-kata lagi. Pudak Wangi memandang Mahesa Jenar dengan tersenyum kecil. Melihat senyum Pudak Wangi, bagaimanapun Mahesa Jenar tergetar hatinya. Kemudian terdengar kembali Pudak Wangi berkata,

“Jadi, masih tetapkah Kakang Mahesa Jenar menolak aku ikut serta?”

Dengan tergagap Mahesa Jenar cepat-cepat menjawab, “Silahkan Adi... silahkan.”

Kembali Pudak Wangi tersenyum. Tetapi ia tidak berkata-kata lagi. Maka kemudian berjalanlah mereka berdua dengan busur di tangan masing-masing. Tetapi di sepanjang jalan hampir tak terdengar kata-kata. Suasana kekakuan masih tetap ada, membatasi pergaulan mereka.

Bintang-bintang yang gemerlapan masih bergayutan di langit. Di selatan, bintang Gubug Penceng tepat berdiri di atas kutub. Dan angin malam dengan segarnya membelai hati mereka yang sedang berjalan di kegelapan malam.

Tetapi tiba-tiba langkah mereka terhenti. Di kejauhan terdengar bunyi telapak kuda semakin lama semakin mendekat, dan tidak lama kemudian mereka melihat bayangan dua orang berkuda melintas di padang ilalang itu.

Ketika orang-orang itu melintas dekat Mahesa Jenar dan Pudak Wangi berdiri, mendadak salah seorang membelokkan kudanya mengarah kepadanya. Untuk tidak menimbulkan kesan-kesan yang kurang baik, segera Mahesa Jenar dan Pudak Wangi meletakkan busur-busur mereka.

Beberapa langkah di hadapan Mahesa Jenar, kuda itu berhenti, disusul dengan orang yang satu lagi, yang agaknya mengikutinya pula.

Dengan kasar dan masih tetap di punggung kudanya, orang itu bertanya, “He, siapakah kalian yang pada malam-malam begini berkeliaran di sini?” “Kami adalah petani-petani di bukit ini,” jawab Mahesa Jenar.

“Hem... desis yang lain. Lalu apa kerja kalian di sini?”

“Kami sedang berburu ayam hutan,” jawab Mahesa Jenar pula.

Mendengar jawaban itu agaknya mereka percaya. Maka bertanyalah salah seorang diantaranya lebih lanjut,

“Adakah kau lihat di sekitar bukit ini kemarin atau lusa atau beberapa hari yang lalu tiga orang asing lewat?”

“Tiga orang?” ulang Mahesa Jenar sambil meng- ingat-ingat. Tiba-tiba ia teringat kepada keterangan Sarayuda, bahwa Arya telah diseret oleh tiga orang yang tak dikenalnya. Sedang menilik pakaian mereka, maka mereka tak ubahnya dengan orang yang telah menyerang Banyubiru untuk membunuh Arya. Karena itu segera Mahesa Jenar menghubungkan kedua orang itu dengan ketiga orang yang telah mencoba membunuh anak itu. Maka timbullah keinginannya untuk meyakinkan pendapatnya itu.

Maka katanya, “Aku memang telah melihat tiga orang lewat di sini, Tuan. Tetapi tidak hanya tiga orang saja, mereka telah membawa serta seorang anak laki-laki bersama dengan mereka.”

”Seorang anak laki-laki?” potong salah seorang diantaranya. “Ya, aku tidak tahu apakah anak itu anak salah seorang dari ketiga orang itu,” lanjut Mahesa Jenar. “Bukan, sama sekali bukan”, jawab yang lain.

“Pasti demikian, sela Mahesa Jenar, Sebab anak itu didukungnya dengan penuh kasih, sebagai seorang bapak terhadap anaknya.”

Maka terdengarlah kedua orang itu tertawa riuh, dan terdengarlah salah seorang berkata, “Umur anak itu tidak akan lebih dari panjangnya malam pada saat kau lihat. Kapan kau lihat mereka lewat di sini?”

Mendengar kata-kata itu, Mahesa Jenar menjadi yakin bahwa dua orang itu adalah kawan-kawan yang sedang mencari ketiga orang yang ternyata telah dibunuh oleh Sarayuda. Karena itu, segera terungkaplah kemarahan Mahesa Jenar. Karena orang-orang ini adalah pasti orang-orang Lembu Sora. Maka, karena gelora kemarahannya, timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk menghajar kedua orang itu. Segera Mahesa Jenar memancing mereka ke dalam suatu perselisihan.

“Tuan salah terka. Anak itu sampai sekarang masih segar bugar. Oleh ketiga orang itu, ia mereka titipkan kepada kami, sementara mereka pulang untuk mengambil jemputan dan kendaraan”, kata Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, wajah kedua orang itu segera berubah hebat. Dengan gugup salah seorang bertanya, “Ketiga orang itu berasal dari mana?”

“Dari Banyubiru”, jawab Mahesa Jenar cepat-cepat. “Mereka adalah utusan Nyi Ageng Gajah Sora.”

Wajah kedua orang itu menjadi bertambah tegang, apalagi ketika Mahesa Jenar melanjutkan,

“Nama anak itu adalah Arya Salaka.”

“Berikan anak itu kepadaku!” Tiba-tiba yang seorang berteriak.

Dengan tenang Mahesa Jenar memandang wajah orang itu. Hidungnya yang besar hampir melengkung, terletak diantara kedua matanya yang mirip dengan mata burung hantu. Sedang yang lain adalah gambaran dari wajah seorang yang tidak mempunyai pikiran. Sudut-sudut bibirnya tertarik agak ke bawah, dan matanya tidaklah bedanya dengan mata sebuah patung. Mati dan tak bersinar sama sekali.

“Siapakah sebenarnya kalian?” tanya Mahesa Jenar.

“Aku juga suruhan Nyi Ageng Gajah Sora dari Banyubiru”, jawab mereka.

“Sayang, bahwa aku tidak berani menyerahkan  anak itu  kecuali kepada yang telah menitipkan,” sahut Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata Mahesa Jenar, agaknya kedua orang itu menjadi marah sekali. “Kau berikan anak itu, atau kau aku seret di belakang kudaku?” teriak orang itu.

Melihat muka-muka yang kasar dari kedua orang itu Mahesa Jenar menjadi muak. Tetapi masih juga ia menjawab dengan tenang,

“Aku tidak akan memberikan anak itu. Ketahuilah bahwa ketiga orang Banyubiru yang akan menyelamatkan Arya Salaka itu sudah aku bunuh, dan sekarang anak itu pun akan aku bunuh pula. Aku adalah orang Ki Ageng Lembu Sora dari Pamingit.”

Mendengar jawaban Mahesa Jenar, kedua orang berkuda itu tubuhnya menjadi bergetar karena marah. Mereka sadar bahwa mereka telah dipermainkan serta telah dikenal pula sebagai orang-orang Lembu Sora yang diperintahkan membunuh Arya.

Karena itu tidak ada jalan lain kecuali membinasakan kedua orang yang tidak dikenalnya itu. Dengan gigi yang gemeretak mereka mencabut pedang-pedang mereka.

Bersamaan dengan itu, Mahesa Jenar pun menjadi semakin muak pula melihat mata yang mirip dengan mata burung hantu, serta mata yang sama sekali padam di atas bibir yang melengkung ke bawah. Karena itu segera ia akan bertindak melenyapkan pemandangan yang sama sekali tidak menarik hati itu.

Tetapi baru saja Mahesa Jenar akan melangkah, terasalah Pudak Wangi menggamit pundaknya sambil berbisik,

“Kakang Mahesa Jenar, berilah aku kesempatan untuk berlatih. Tetapi jangan lepaskan aku dari pengawasan.”

Mahesa Jenar agak terkejut mendengar bisik Pudak Wangi, tetapi kemudian ia tersenyum. Dengan berbisik pula ia menjawab,

“Silahkan murid Ki Ageng Pandan Alas.”

Oleh jawaban itu, Pudak Wangi menjadi agak malu. Namun sesaat kemudian Mahesa Jenar telah meloncat ke samping pada saat serangan kedua orang berkuda itu datang.

Pudak Wangi pun lincah pula. Sambil memungut busurnya ia meloncat ke samping, serta dengan tangkasnya ia berjongkok, untuk sesaat yang sangat pendek siap melontarkan anak panahnya.

Sengaja Pudak Wangi tidak segera mengarahkan anak panahnya kepada orang-orang yang mengendarai kuda-kuda itu, karena ia ingin mengetahui sampai di mana tingkat ilmu yang pernah diterima dari kakeknya, Ki Ageng Pandan Alas. Mengalami kejadian itu, kedua orang penunggang kuda itu menjadi semakin marah. Meskipun demikian mereka tidak berani tergesa-gesa menyerang, sebab mereka sadar bahwa busur di tangan Pudak Wangi itu tak dapat diperingan akibatnya.

Karena itu mereka segera meloncat turun dan lari-lari berputaran sambil mendekati bersama-sama dari arah yang berlawanan.

Pudak Wangi, yang memang sama sekali tak ingin membunuh mereka dengan panahnya, segera meletakkan busurnya serta kemudian mencabut pedangnya pula.

Kedua orang lawannya menjadi keheranan kenapa orang itu tidak mempergunakan panahnya.

Tetapi mereka sama sekali tidak mau membuang-buang waktu lagi. Segera mereka bersama-sama mendesak maju. Karena Mahesa Jenar kemudian menyingkir saja, maka perhatian mereka tercurah kepada Pudak Wangi.

Ternyata Pudak Wangi yang meskipun baru menerima pelajaran beberapa bulan saja, namun ia telah dapat menunjukkan kelincahan serta ketangkasan bergerak. Dengan melingkar dan kemudian meloncat mundur, ia berhasil menghindari kedua serangan yang datang dari arah yang berbeda itu sekaligus. Bahkan demikian kakinya menyentuh tanah, ia segera meloncat maju menyerang dengan pedangnya yang tipis namun tajamnya tiada terkira.

Pedang itu dibuat oleh Ki Ageng Pandan Alas, khusus untuk Pudak Wangi. Meskipun bentuknya tidak ubahnya pedang biasa, namun pedang itu agak lebih ringan.

Kedua orang lawan Pudak Wangi itu terkejut melihat lawannya dapat menghindarkan diri, bahkan kemudian dengan cepatnya telah menyerang kembali. Segera mereka berloncatan mundur. Meskipun kedua orang itu adalah dua orang yang telah berpuluh tahun menjadi laskar Pamingit, namun mereka belum pernah menerima latihan yang teratur dan bersungguh-sungguh, sehingga apa yang mereka lakukan adalah cara-cara yang kasar namun sederhana.

Mereka lebih senang mempergunakan tenaga dari pada otak mereka. Karena itu, meskipun melawan dua orang sekaligus, Pudak Wangi dapat melayani mereka dengan baiknya. Meskipun setelah beberapa lama, ternyata bahwa kedua orang Pamingit itu, bagaimanapun juga telah memiliki pengalaman yang jauh lebih banyak daripada Pudak Wangi, sehingga akhirnya Pudak Wangi perlahan-lahan menjadi agak terdesak.

Tetapi bagaimanapun juga Mahesa Jenar menjadi keheranan. Agaknya darah Ki Ageng Pandan Alas yang mengalir di dalam tubuhnya telah memberinya bekal yang cukup untuk menjadikannya seorang yang perkasa. Baru beberapa bulan yang lalu di hutan Tambak Baya, seorang gadis hampir membunuh dirinya karena ia dikejar-kejar oleh Jaka Soka, dan kemudian setelah gadis itu ditolongnya, telah menjadikan Mahesa Jenar hampir gila karena gadis yang ditolongnya itu lenyap. Semuanya itu baru terjadi beberapa bulan, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah baru kemarin sore.

Sekarang, Mahesa Jenar menyaksikan gadis yang mengubah dirinya menjadi seorang pemuda bernama Pudak Wangi, telah dapat melawan dua orang laki-laki yang tubuhnya kuat seperti orang hutan, dengan otot-otot menjorok di permukaan kulit. Bagaimanapun tekunnya Pudak Wangi belajar, serta bagaimanapun sakti guru yang memberinya pelajaran, kalau di dalam tubuh Pudak Wangi tidak tersimpan bakat yang kuat, pasti dalam waktu yang pendek itu pelajaran yang diterimanya belumlah berarti.

Tidak demikianlah dengan Pudak Wangi. Tangannya yang memegang pedang itu bergerak dengan cepatnya. Agaknya menjadi ciri dari ilmu pedang Ki Ageng Pandan Alas, bahwa daun pedang itu tampaknya selalu bergetar, sehingga mengaburkan arah geraknya. Untuk melawan ilmu pedang dari Gunung Kidul itu, kedua orang Lembu Sora harus bekerja mati-matian. Mereka mengandalkan kekuatan tenaga mereka, ditambah dengan pengalaman-pengalaman yang mereka dapat puluhan tahun. Meskipun demikian kadang-kadang nyawa mereka hampir saja disambar oleh pedang Pudak Wangi.

Untunglah bahwa Pudak Wangi sangat kurang pengalaman. Ia belum pernah mengalami perkelahian benar-benar yang dapat mengancam jiwanya maupun jiwa orang lain. Sampai sedemikian jauh Pudak Wangi baru mengalami latihan-latihan dengan gurunya serta kakak seperguruannya, Sarayuda. Karena itu, maka dalam saat-saat yang menentukan ia menjadi agak ragu-ragu. Beberapa kali tampak Pudak Wangi menarik kembali serangannya yang sangat membahayakan jiwa lawan-lawannya.

Dengan demikian maka akhirnya Pudak Wangi berada di dalam kekuasaan lawan- lawannya yang sama sekali tidak tahu diri. Mereka sama sekali tidak peduli bahwa lawannya kadang-kadang tidak sampai hati melukai kulitnya. Bahkan mereka telah mempergunakan kesempatan itu sebaik-baiknya. Meskipun kemudian Pudak Wangi sadar bahwa seharusnya ia tidak beragu-ragu lagi, namun waktunya telah agak terlambat. Lawan-lawan Pudak Wangi telah berhasil menempatkan diri mereka pada kedudukan yang menentukan.

Mengalami hal yang demikian itu, Pudak Wangi menjadi agak bingung. Ia masih belum tahu beberapa kesempatan yang dapat dipergunakan untuk mengatasi keadaan, karena kurangnya pengalaman.

Maka segera teringatlah Pudak Wangi kepada Mahesa Jenar. Dengan sudut matanya, ia melihat dalam sepintas Mahesa Jenar dengan enaknya duduk di atas rumput sambil melihat perkelahian itu seperti sedang menikmati pertunjukan. Sama sekali tidak ada kesan bahwa Mahesa Jenar melihat kesulitan yang sedang dialami Pudak Wangi.

Karena itu dengan agak terpaksa Pudak Wangi menjerit, “Kakang Mahesa Jenar, sudah puaskah Kakang melihat permainanku?”

Mendengar suara Pudak Wangi yang halus nyaring itu Mahesa Jenar tersenyum. Ia sebenarnya melihat kesulitan Pudak Wangi. Tetapi karena keadaannya belum terlalu membahayakan, timbullah keinginannya untuk menggoda gadis itu. Ia juga mengerti maksud Pudak Wangi dengan kata-katanya, yang sebenarnya memintanya untuk membantu. Namun ia menjawab dengan tertawa pendek,

“Belum Adi, permainan Adi bagus sekali. Aku masih ingin menyaksikan beberapa lama lagi.”

Pudak Wangi mendengar jawaban Mahesa Jenar menjadi jengkel sekali, tetapi untuk berterus terang ia pun agak malu-malu, karena itu sekali lagi ia menjerit,

“Aku sudah cukup lama berlatih, Kakang.”

Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum. Tinggi hati juga gadis ini, katanya dalam hati.

Tiba-tiba Mahesa Jenar ingin memaksa gadis itu supaya menyatakan permintaan untuk menolongnya. Karena itu ia menjawab,

“Latihanmu baru mulai, Adi... gerak-gerakmu baru sampai pada taraf memanaskan badan. Aku ingin melihat kalau kau benar-benar sudah menunjukkan kepandaianmu.”

Mendengar jawaban itu hati Pudak Wangi menjadi semakin jengkel. Akhirnya ia menjadi sadar bahwa Mahesa Jenar sedang mengganggunya. Apalagi ketika itu, kedua orang lawan Pudak Wangi, yang merasa dirinya direndahkan menjadi bertambah marah. Mereka menyerang semakin garang dan ngetok kekuatan.

Sehingga akhirnya timbullah jiwa kemanjaan seorang gadis di dalam dada Pudak Wangi. Sekali lagi ia menjerit hampir menangis,

“Kakang, baiklah kalau Kakang ingin melihat dadaku terbelah. Dan berbareng dengan itu Pudak Wangi melemparkan pedangnya ke arah salah seorang dari lawannya.”

Melihat pedang itu melontar ke arahnya, orang itu menjadi terkejut sekali, sehingga ia meloncat mundur menghindar. Demikian pula yang seorang lagi, menjadi tertegun beberapa saat.

Tetapi tidak pula kalah terkejutnya adalah Mahesa Jenar. Dengan melemparkan pedangnya, Pudak Wangi sama sekali tidak bersenjata lagi. Sedangkan sesaat kemudian kedua lawannya telah berhasil menguasai diri mereka masing-masing, sehingga segera melakukan serangan-serangan mereka kembali.

Meskipun demikian agaknya Pudak Wangi sama sekali sudah tidak menghiraukan lagi. Ia berdiri saja tegak dengan tenangnya menanti ujung-ujung pedang yang mengarah ke dadanya.

Melihat peristiwa itu, Mahesa Jenar menjadi cemas. Ia dapat mengerti bahwa Pudak Wangi marah kepadanya. Kemarahan seorang gadis yang manja. Mahesa Jenar mendadak teringat pada saat Rara Wilis akan bunuh diri di hutan Tambak Baya. Karena itu secepat kilat tangannya kiri dan kanan, kedua-duanya meraih dua buah batu sebesar telur ayam. Dengan sekuat tenaganya kedua batu itu dilemparkan ke arah dua lawan Pudak Wangi berturut-turut.

Hasilnya adalah mengerikan sekali. Batu-batu itu tepat mengenai pelipis orang yang berwajah padam seperti mayat. Suaranya gemeretak memecahkan tulang pelipisnya.

Tanpa dapat berbuat sesuatu, orang jatuh terjerembab untuk tidak bangun lagi. Sedang yang sebuah lagi mengenai dada orang yang bermata seperti mata burung hantu. Terdengar ia berteriak keras-keras dan kemudian jatuh berguling-guling kesakitan. Dari mulutnya memancar darah segar. Tetapi beberapa saat kemudian orang itu terdiam untuk selama-lamanya.

Melihat kedua peristiwa yang tak disangka-sangka itu, Pudak Wangi terperanjat bukan kepalang. Apalagi ketika dilihatnya darah yang mengalir dari luka-luka kedua lawannya. Peristiwa itu adalah suatu peristiwa yang belum pernah disaksikan. Karena itu hatinya ngeri dan ketakutan. Di luar sadarnya maka ia kemudian berlari dan seperti seorang anak kecil ia menyembunyikan wajahnya ke dada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar adalah seorang yang sudah berpuluh kali melihat darah mengalir. Tetapi ketika tiba-tiba Pudak Wangi berlari ke arahnya dan kemudian menangis terisak-isak, Mahesa Jenar kemudian seperti terpaku di atas tanah. Jantungnya berdebaran dan darahnya seolah-olah membeku. Untuk beberapa saat mulutnya terkunci rapat-rapat dan seolah-olah seluruh persenjataannya mati terkunci.

Baru beberapa saat kemudian Pudak Wangi sadar akan dirinya. Karena itu dengan penuh kemalu-maluan sebagai lazimnya seorang gadis, ia perlahan-lahan menarik dirinya dan selangkah demi selangkah ia menjauhi Mahesa Jenar. Tetapi untuk beberapa lama Mahesa Jenar masih diam mematung. Ditatapnya wajah Pudak Wangi yang tunduk itu dengan jantung yang bergelora. Baru kemudian ketika Pudak Wangi menjatuhkan dirinya di atas rumput-rumput kering, Mahesa Jenar merasa seolah-olah terbangun dari sebuah mimpi yang indah.

Tetapi bagaimanapun, Mahesa Jenar hampir tidak pernah bergaul dengan gadis-gadis. Meskipun yang duduk di hadapannya itu menurut wujudnya adalah seorang pemuda namun hatinya melihat, bahwa ia adalah seorang gadis. Karena itu untuk beberapa lama kemudian Mahesa Jenar masih diam termangu-mangu. Tetapi kemudian perlahan-lahan Mahesa Jenar maju juga mendekati Pudak Wangi yang masih terisak-isak menahan tangis.

Melihat Pudak Wangi menangis, Mahesa Jenar merasa bahwa ia bersalah. Tetapi sebenarnya maksudnya adalah bergurau saja. Maka ingin rasanya ia minta maaf kepada gadis itu.

Setelah ia dekat berdiri di belakang Pudak Wangi, berkatalah Mahesa Jenar, “Wilis, aku minta maaf.”

Mendengar namanya disebut, dada Pudak Wangi tiba-tiba terasa sesak. Telah beberapa lama ia tidak pernah mendengar seseorang memanggilnya dengan namanya yang sebenarnya. Sekarang tiba-tiba ia mendengar lagi nama itu, namanya sebagai seorang gadis disebut oleh seorang yang dikaguminya. Karena itu timbullah rasa haru yang menggelegak, sehingga kemudian Rara Wilis tak dapat menahan dirinya lagi, dan menangislah ia sejadi-jadinya.

Melihat hal itu Mahesa Jenar menjadi semakin bingung. Ia tidak tahu kenapa Pudak Wangi menangis semakin keras. Untuk beberapa saat Mahesa Jenar sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Dengan gemetar ia melangkah kian kemari. Sebentar ia duduk dibelakang Pudak Wangi, tetapi sebentar kemudian kembali ia berdiri dan melangkah pula kian-kemari.

Sesaat kemudian terasalah malam menjadi semakin sepi. Angin malam yang gemerisik di sela-sela tangis Pudak Wangi, mengantarkan udara yang dingin. Kelelawar yang merajai langit di malam hari, masih tampak berkeliaran di muka tebaran bintang-bintang yang menaburkan cahayanya yang gelisah, segelisah hati Mahesa Jenar.

Maka akhirnya Mahesa Jenar menjatuhkan dirinya di samping Pudak Wangi, dan untuk beberapa lama mereka saling berdiam diri.

Ketika di kejauhan terdengar ayam hutan berkokok bersahutan, Mahesa Jenar menjadi seperti tersadar, bahwa ia harus berbuat sesuatu. Mereka tidak dapat terus-menerus berdiam diri di tengah-tengah padang terbuka sampai esok pagi. Kerana itu Mahesa Jenar ingin menghibur hati Pudak Wangi, tetapi karena banyaknya kata-kata yang tersimpan di dalam dadanya, yang keluar hanyalah,

“Adi Pudak Wangi, marilah kita teruskan perburuan kita.”

Pudak Wangi memandang wajah Mahesa Jenar dengan sinar mata yang kecewa. Tetapi ia sendiri tidak tahu kenapa hatinya kecewa. Mungkin hatinya mengharapkan Mahesa Jenar berkata lebih banyak lagi, meskipun ia sendiri takut menduga-duga kata-kata apa yang dinantinya itu.

Namun semuanya itu hanya terjadi dalam sesaat, sebab sesaat kemudian Pudak Wangi segera kembali ke dalam keadaannya kini. Ia adalah seorang pemuda, murid Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu segera ia mencoba menguasai perasaannya. Dan dengan gagahnya ia menjawab ajakan Mahesa Jenar, “Marilah kita berlomba, siapakah yang lebih dahulu berhasil mendapatkan binatang buruan.”

Mendengar jawaban Pudak Wangi itu, Mahesa Jenar tersenyum kecil. Segera ia memungut busurnya dan kemudian mereka bersama-sama meneruskan perburuan mereka diantara gerumbul-gerumbul yang semakin lama semakin hebat.

Tetapi meskipun mereka telah berjalan di daerah perburuan, hati mereka sama sekali tidak tertarik kepada binatang-binatang hutan. Itulah sebabnya maka beberapa ekor menjangan yang seharusnya telah mati, mendapat kesempatan untuk masih menikmati segarnya rumput dan akar-akaran.

Akhirnya Pudak Wangi menjadi lelah. Maka katanya,

“Kakang, baiklah perlombaan kita tunda sebentar. Aku ingin beristirahat dahulu.” Sekali lagi Mahesa Jenar tersenyum.

“Baiklah, Adi... aku pun lelah”

katanya. Setelah itu, maka segera mereka mencari tempat peristirahatan, di atas batu- batu yang berserakan.

Segera terdengarlah mereka dan Pudak Wangi bercakap-cakap tentang hal-hal yang sama sekali tidak penting. Pembicaran itu beredar dari satu ke lain hal sehingga akhirnya sampai pada diri Mahesa Jenar. Terdengarlah dengan penuh keinginan tahu Pudak Wangi bertanya, “

Kakang Mahesa Jenar, tidakkah Kakang Mahesa Jenar bermaksud untuk kembali ke Demak dan memangku jabatan Kakang kembali?”

MENDENGAR pertanyaan itu, Mahesa Jenar tertegun sebentar. Apakah perlunya maka Pudak Wangi menanyakan hal-hal yang menyangkut dengan kedudukannya?

“Adi...” jawab Mahesa Jenar, “Jabatan itu memang menyenangkan. Sebagai seorang perwira pasukan pengawal raja aku banyak mempunyai kesempatan untuk berbangga. Baik terhadap orang lain maupun terhadap diri sendiri. Tetapi sayang bahwa aku tidak dapat kembali pada saat-saat yang dekat ini. Apalagi ketika aku merasa bahwa aku wajib untuk ikut menemukan kembali keris-keris Nagasasra dan Sabuk Inten. Maka keinginanku untuk kembali ke Demak menjadi semakin tipis.”

“Sebagai seorang prajurit,” sela Pudak Wangi, “Bukankah Kakang akan lebih banyak kesempatan untuk menemukan keris-keris itu?”

“Mungkin demikian,” jawab Mahesa Jenar. “Tetapi mungkin juga sebaliknya. Sebab tugas seorang prajurit adalah beraneka ragam. Kecuali itu Adi, pengabdian seseorang bertebaran pada banyak bidang. Aku sekarang sedang mengabdikan diriku dengan cara ini.”

Pembicaraan mereka jadi terputus ketika mereka mendengar gemersik halus di belakang mereka. Mahesa Janar cepat meloncat berdiri dengan busur di tangan, serta anak panah yang siap meluncur. Sebab yang terdengar itu sama sekali bukan harimau atau babi hutan, tetapi suara langkah manusia.

Tetapi meskipun pandangan Mahesa Jenar sangat tajam, namun Mahesa Jenar tidak dapat melihat seseorang di belakangnya. Karena itu ia menjadi curiga. Cepat ia melangkah maju, meskipun dengan penuh kehati-hatian. Sedang Pudak Wangi pun segera mempersiapkan anak panahnya. Namun setelah beberapa lama mereka mencari-cari, tak seorangpun yang mereka jumpai. Maka hati mereka menjadi gelisah. Kalau benar dugaan mereka, bahwa yang didengarnya itu langkah seseorang, pastilah orang itu orang yang sakti.

Baru beberapa lama kemudian, ketika mereka sudah menjadi bertambah gelisah, terdengarlah suara tertawa halus di kejauhan. Mendengar suara itu, tiba-tiba Pudak Wangi menundukkan kepalanya. Wajahnya menjadi merah, semerah jambu dersana. Suara itu sangat dikenalnya, sebagai suara seseorang yang mengasuhnya, Ki Ageng Pandan Alas. Mahesa Jenar yang mengenal suara itu, juga menjadi malu. Namun segera ia berkata lantang,

“Adi, lihatlah babi hutan hampir sebesar kerbau.”

Setelah berkata demikian, segera Mahesa Jenar meloncat berlari menyusup ke dalam semak-semak. Pudak Wangi segera tersentak pula. Ia mengira bahwa Mahesa Jenar benar-benar telah melihat seekor binatang buruan. Karena itu, segera ia pun meloncat menyusulnya.

Tetapi meskipun mereka telah berlari-lari beberapa lama, namun sama sekali Pudak Wangi tak melihat seekor binatang pun, sampai akhirnya ia melihat Mahesa Jenar berdiri tegak menantinya.

“Manakah binatang itu Kakang?” tanya Pudak Wangi. Dengan menarik nafas Mahesa Jenar menjawab,

“Sama sekali aku tak melihat seekor binatang pun Adi. Tetapi aku mendengar suara tertawa Ki Ageng Pandan Alas.”

Pudak Wangi menjadi tersenyum jengkel. Namun ia membenarkan pula sikap Mahesa Jenar yang agak rikuh terhadap kakeknya.

Tetapi mereka menjadi terkejut pula ketika tiba-tiba terdengar kembali suara tertawa itu. Suara Ki Ageng Pandan Alas yang justru berada di tempat yang bertentangan dengan arah semula.

Mendengar suara itu, Mahesa Jenar sadar, bahwa ia tidak dapat menjauhkan dirinya dari orang tua yang sakti itu, selama orang tua itu menghendakinya. Teringatlah Mahesa Jenar akan sikap jenaka dari Ki Ageng Pandan Alas. Karena itu akhirnya ia tidak akan menghindar lagi, bahkan segera ia menjatuhkan diri dan duduk di atas rumput-rumput kering. Agaknya Pudak Wangi memaklumi hal itu, dan segera ia pun duduk di samping Mahesa Jenar. Namun untuk beberapa lama mereka sama sekali tidak berkata sepatah pun.

Tiba-tiba Mahesa Jenar mendengar kemersik yang disusul oleh dengus seekor binatang. Dengan mata yang tajam, dibalik semak-semak di hadapan mereka tampaklah sesuatu yang bergerak-gerak, dan sesaat kemudian muncullah seekor rusa yang agaknya terbangun dari tidurnya. Dengan isyarat tangan, Mahesa Jenar menunjuk ke arah binatang itu.

Pudak Wangi yang kemudian melihat pula, dengan cepat sekali telah memasang anak panahnya dan sesaat kemudian rusa itu terlonjak dan memekik tinggi. Anak panah tepat mengenai lambungnya. Tetapi sekejap kemudian menancaplah anak panah kedua, yang dilepaskan oleh Mahesa Jenar pada leher binatang itu. Tanpa diulang lagi, rusa itu jatuh dan mati seketika.

“Nah, bukankah aku yang menang?” kata Pudak Wangi diiringi oleh suara-suara tertawanya yang segar. “Akulah yang pertama-tama mengenainya.”

“Akulah yang menang,” bantah Mahesa Jenar, “Karena panahkulah binatang itu mati.” “Tetapi akulah yang lebih dahulu, bantah Pudak Wangi kembali.”

Mahesa Jenar tidak menjawab lagi. Dengan tersenyum, didekatinya rusa yang telah mati itu, kemudian setelah ia membuka baju, dipanggulnya binatang itu.

“Marilah kita pulang, Adi. Rusa ini cukup besar untuk pesta besok. Pesta kemenangan Adi Pudak Wangi atas dua orang yang akan membunuh anakku Arya Salaka,” kata Mahesa Jenar.

“Ah...” potong Pudak Wangi. Tetapi ia tidak melanjutkan kata-katanya.

Mahesa Jenar pun tidak berkata-kata lagi. Segera mereka dengan seekor rusa di pundak Mahesa Jenar, berjalan kembali pulang.

Di sepanjang jalan pulang, Mahesa Jenar sempat mengamat-amati dengan saksama Pudak Wangi yang berjalan di depannya. Melihat tingkah lakunya, maka Mahesa Jenar semakin yakin bahwa tidak lama lagi Pudak Wangi pasti akan menjadi seorang yang perkasa seperti kakak seperguruannya, Sarayuda. Setidaknya, ia akan dapat memenuhi keinginan kakeknya, gurunya pula, bahwa akhirnya ia pasti akan dapat menandingi ibu tirinya, istri Sima Rodra muda dari Gunung Tidar, anak Sima Rodra dari Lodaya.

Mahesa Jenar membayangkan bahwa persoalannya kemudian akan menjadi bertambah melilit lagi. Persoalan antara mereka yang sedang memperebutkan Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, ditambah dengan persoalan Rara Wilis dengan ibu tirinya, yang pasti akan sangkut-menyangkut pula dengan usaha Arya untuk menemukan kembali kedudukan ayahnya yang telah dirampas oleh pamannya, Lembu Sora.

Sampai di rumah, mereka temui Arya masih tidur nyenyak. Maka tanpa dibangunkannya, rusa hasil buruan itu langsung dibaringkan di samping Arya, untuk mengejutkan anak itu besok pagi.

Kemudian Pudak Wangi segera pergi ke pembaringannya untuk beristirahat, sedang Mahesa Jenar seperti biasanya tidur dengan alas anyaman daun kelapa yang direntangkan di atas tumpukan jerami disamping gubug Ki Ageng Pandan Alas. Karena kelelahan serta kantuknya yang sangat maka segera Mahesa Jenar jatuh tertidur.

Mahesa Jenar terbangun ketika didengarnya suara orang bercakap-cakap di halaman belakang rumah itu. Tanpa disengaja ia mendengar bahwa mereka yang bercakap-cakap itu adalah Pudak Wangi dengan Sarayuda, sebagai seorang gadis dengan seorang pemuda.

Tiba-tiba saja dengan tidak diketahuinya sendiri, darah Mahesa Jenar bergetar membentur dinding-dinding jantung. Maka timbullah keinginannya untuk mendengarkan percakapan mereka lebih lanjut. Dengan masih berpura-pura tidur, ia memasang telinganya untuk mencoba menangkap setiap kata-kata mereka. Dan apa yang didengarnya telah menambah cepat gelora hatinya.

“Wilis...” terdengar suara Sarayuda jauh di dalam dadanya, “Sejak kecil aku telah mengenalmu. Mengenal sebagai cucu guruku. Sejak itu aku telah merasakan suatu perbedaan antara pergaulanku denganmu dibanding dengan pergaulanku dengan kawan- kawan lain. Perasaan itulah yang agaknya kemudian berkembang menjadi perasaan seperti yang aku alami kini, dan yang pasti sudah aku ketahui pula. Karena itu Wilis, aku telah berusaha untuk menemukan kau kembali setelah kau melenyapkan diri beberapa saat yang lalu dari Gunung Kidul setelah ibumu meninggal dunia. Dengan menyimpan harapan di dalam hati, bahwa kau akan memiliki perasaan yang demikian pula.”

Kemudian untuk beberapa lama, sama sekali tak terdengar suara. Namun bagi Mahesa Jenar, suara detak jantungnya seolah-olah sedemikian kerasnya sehingga jauh melampaui bunyi bedug.

Tetapi sesaat kemudian terdengar Sarayuda melanjutkan, “Wilis, kalau beberapa waktu yang lalu aku pulang dari perantauanku, dan untuk beberapa lama aku tak pernah mengatakan perasaan itu kepadamu dan kepada siapapun, itu karena aku merasa bahwa aku masih belum mempunyai syarat-syarat yang cukup. Sekarang aku telah memiliki pekerjaan yang pantas. Yang dilintirkan dari ayahku kepadaku, yaitu jabatan Demang, yang aku kira akan dapat mencukupi bagi jaminan masa depan.”

Kembali Sarayuda diam. Tetapi kali ini juga Rara Wilis sama sekali tidak menjawab. Bahkan akhirnya terdengar isak tangisnya diantara desah angin menjelang fajar, yang bagi Mahesa Jenar seolah-olah merupakan desir suara meluncurnya anak-anak panah yang langsung menembus jantungnya, serta menimbulkan luka yang pedih.

“Wilis...” Sarayuda melanjutkan, “Aku tidak tahu kenapa kau menangis. Apakah kau terharu, marah, gembira atau kata-kataku telah menyinggung perasaanmu? Tetapi apa yang aku lakukan adalah benar-benar terdorong oleh perasaanku yang bersih.”

Masih belum terdengar Rara Wilis menjawab.

“Bukan maksudku untuk memancingmu dengan janji Wilis,” desak Sarayuda kemudian, “Tetapi meskipun hanya setapak aku telah memliki tanah, dan walaupun hanya seekor kerbau kurus, aku telah berternak pula.”

Meskipun kata-kata itu terluncur dari mulut Sarayuda tanpa maksud apapun terhadap orang lain, namun bagi Mahesa Jenar, kata-kata itu merupakan sebuah cermin suryakantha yang dapat menimbulkan bayangan seratus kali lipat.

Tiba-tiba Mahesa Jenar melihat dirinya dalam kaca itu sebagai seorang pengembara tak berarti. Seorang yang tidak mempunyai rumah dan tempat tinggal, tidak mempunyai tanah yang subur untuk jaminan hidupnya, tanpa ternak dan tanpa kedudukan. Serta dilihatnya pula bayangan Sarayuda sebagai seorang yang memiliki syarat-syarat yang penuh. Tanah hampir seluas tanah yang terbentang di daerah Gunung Kidul yang ditaburi oleh 1000 puncak-puncak pegunungan yang asri. Ternak yang setiap hari memenuhi padang-padang rumput di tebing-tebing pegunungan dan di dataran-dataran, sawah yang subur di lembah-lembah yang luas dipagari oleh lereng-lereng hijau.

“Mahesa Jenar...” tiba-tiba terdengar hatinya berkata, “Apakah kau akan berusaha untuk menyaingi Demang Sarayuda yang kaya raya serta gagah perkasa itu...? Mungkin kau akan dapat berhasil merebut hati Rara Wilis, tetapi dengan demikian kau akan menyiksanya sepanjang umurnya. Wilis akan mengalami hidup yang sulit, penuh dengan kekurangan dan penderitaan. Kalau kau melanjutkan usahamu untuk menemukan keris- keris Kyai Nagasasra dan Sabuk Inten, lalu apakah yang dapat kau lakukan terhadap Rara Wilis? Kau bawa serta untuk kau binasakan di bawah kekejaman-kekejaman lawan- lawanmu, atau kau umpankan kepada orang-orang golongan hitam sebagai barang permainan? Atau barangkali kau bermaksud meninggalkannya di suatu tempat? Dengan demikian Rara Wilis akan kesepian. Tiap malam ia akan menghitung setiap desir angin yang menyentuh wajahnya dengan mata yang mengaca, dengan penuh harapan pada setiap tarikan nafasnya, menantimu pulang. Tetapi adakah kau akan pulang kembali kepadanya?”

Kata-kata hatinya itu mendengung sedemikian kerasnya di dalam kepala Mahesa Jenar. Ditambah dengan berbagai kenangan yang susul-menyusul. Apalagi kalau diingatnya bahwa Sarayuda adalah seorang yang telah menyelamatkan Arya, yang telah melepaskannya dari kemarahan Gajah Sora. Dan tiba-tiba karena semuanya itu, terasa bahwa kepalanya seolah-olah berputar, semakin lama semakin cepat semakin cepat.

Mahesa Jenar memejamkan matanya rapat-rapat. Dengan sekuat tenaga ia berusaha menguasai perasaannya. Namun betapa sulitnya. Malahan kenangan-kenangan masa lalu, yang seolah susul-menyusul, nampak semakin jelas. Bagaimana ia telah berusaha menyelamatkan Rara Wilis dari tangan Jaka Soka, sehingga akibatnya, hampir saja ia dibinasakan oleh Pasingsingan.

Tetapi karena tiba-tiba sekarang dirinya merasa tidak berhak lagi untuk mencoba mengambil hatinya, kenapa sekarang tiba-tiba ada orang lain yang menarik garis pemisah? Mengingat hal itu semua, darah Mahesa Jenar bergelora. Bukankah ia seorang laki-laki? Kalau demikian maka untuk mencapai idaman hati, taruhannya adalah nyawa. Ia tahu bahwa Sarayuda termasuk orang yang sakti, yang memiliki ilmu keturunan dari Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Cunda Manik. Namun ia yakin bahwa Sasra Birawa tidak pula kalah dahsyatnya. Penyelesaian dari pertempuran itu tidaklah penting. Kalau ia menang, maka ia pasti dapat memiliki Rara Wilis, tetapi kalau ia kalah, adalah kebinasaan. Ini akan lebih baik daripada hidup dengan hati yang kosong.

Karena pikiran itu, tiba-tiba darah Mahesa Jenar menggelegak. Apalagi ketika timbul dugaannya, bahwa Sarayuda sengaja menyatakan perasaannya terhadap Rara Wilis untuk dapat didengarnya. Kalau demikian, maka berarti bahwa Sarayuda dengan terang- terangan menantangnya. Maka hampir saja Mahesa Jenar meloncat berdiri, kalau tidak tiba-tiba saja timbul pula pikirannya yang lain. Sehingga terjadilah desak-mendesak antara perasaan yang satu dengan yang lain, pikiran yang satu dengan yang lain.

Rara Wilis bukanlah semacam barang yang dapat diperebutkan. Ia adalah seorang manusia yang berhak menjatuhkan pilihan. Meskipun seandainya ia menang dalam perang tanding dengan Sarayuda, tetapi ternyata Rara Wilis sebenarnya tidak memilihnya. Maka yang akan dimilikinya hanya Rara Wilis dalam bentuk wadagnya, bukan keseluruhannya. Apakah artinya bagi Mahesa Jenar, memiliki Rara Wilis tanpa hatinya. Karena itu maka kemauan Mahesa Jenar jadi mengendor lagi.

Malahan kembali timbul di dalam dadanya, suatu perasaan yang pedih, ketika ia tiba-tiba teringat kata-kata Rara Wilis di padang ilalang pada saat mereka berburu tadi.

Bukankah pertanyaan itu jelas. Rara Wilis akan berkata kepadanya, bahwa kenapa ia adalah seorang perantau, seorang yang tidak mempunyai tempat tinggal? Kenapa ia hidup sebagai seorang yang selalu berkeliaran di hutan-hutan, bukit-bukit dan lembah- lembah...?

Kalau demikian maka Rara Wilis pasti sedang memperbandingkan dirinya yang tidak hidup seperti lazimnya orang yang berkeluarga. Kenapa ia tidak menjadi Demang seperti Sarayuda yang menguasai tanah dengan seribu bukit, ternak di padang dan sawah yang subur di lembah-lembah...? Kenapa ia tidak berkata kepada Rara Wilis tentang rumah yang besar serta halaman yang ditumbuhi pohon buah-buahan serta dipagari oleh tanam-tanaman berbunga...?

Oo..., semuanya itu pasti akan selalu menggugahnya kelak, apabila Rara Wilis kelak benar-benar menjadi istri Mahesa Jenar. Ataupun kalau tak terucapkan, perlahan-lahan pasti akan membakar hati gadis itu. Karena itu sebelum semuanya itu terjadi maka lebih baik Mahesa Jenar menarik diri. Kalau ia ingin melihat Rara Wilis berbahagia, maka ia harus melepaskan kepentingannya sendiri yang dikendalikan oleh nafsu. Tidak! Ia tidak akan membiarkan Wilis menderita dan terlalu banyak berkorban untuknya.

“Aku tidak akan mengganggunya,” desis Mahesa Jenar.

Kemudian dengan diam-diam dan hati-hati sekali Mahesa Jenar bangkit dari pembaringannya, anyaman daun kelapa di atas jerami. Perlahan-lahan ia memasuki gubug Pandan Alas dari pintu depan, dan tanpa bersuara didukungnya Arya Salaka dari pembaringannya. Kemudian dengan hati-hati ia meninggalkan gubug yang telah menimbulkan peristiwa pahit itu.

Arya yang kemudian terbangun, sama sekali tak mengetahui duduk perkaranya. Ia merasa bahwa pamannya berlari kencang sekali, karena itu ia bertanya,

“Paman..., ke mana Paman akan pergi?”

Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu, malahan ia berlari semakin kencang dan kencang, menuju ke gubug yang telah dibangunnya bersama Arya Salaka.

Perjalanan mereka menyusup melewati hutan-hutan kecil yang tidak begitu lebat.

Ketika fajar menyingsing, Mahesa Jenar mencoba untuk menguasai dirinya. Ia berusaha untuk tidak menimbulkan kesan yang asing bagi orang-orang yang dijumpainya di jalanan. Karena itu Arya segera diturunkannya dari dukungan.

Orang-orang yang sedang ke sawah serta orang-orang yang pergi mencari kayu di hutan, hanya memandang Mahesa Jenar sepintas saja, meskipun kadang-kadang ada yang heran pula, Dari manakah sepagi itu, ayah-beranak sudah berada di perjalanan?

Tetapi Mahesa Jenar sudah sama sekali tidak memperhatikannya lagi. Ia berjalan terus dengan kecepatan yang penuh, tanpa beristirahat.

Akhirnya Arya menjadi kelelahan.

“Maka bertanyalah ia, Paman..., kemanakah kita pergi?”

Mahesa Jenar tidak menjawab pertanyaan itu. Ia masih saja berjalan cepat-cepat. Karena itu Arya kadang-kadang terpaksa berlari-lari untuk mengikuti langkah Mahesa Jenar. “Paman..., tunggulah!” teriak Arya.