Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 06

Jilid 06

Sementara itu, matahari telah hampir menyelesaikan perjalanannya yang sunyi mengarungi langit. Cahayanya yang masih ketinggalan, tampak gemerlapan di atas punggung-punggung bukit.

Mahesa Jenar masih saja berjalan mondar-mandir dengan gelisahnya. Dalam hatinya berkecamuk perasaan heran yang tiada habis-habisnya. Bagaimana mungkin seorang ayah dapat melupakan putrinya, hanya karena seorang perempuan yang tak dikenal asal- usulnya, sehingga ia telah melepaskan hari depan gadisnya serta hari depan garis keturunannya?

Beberapa saat kemudian, ketika Rara Wilis telah menjadi agak tenang, Mahesa Jenar pun segera mempersilahkannya untuk berjalan kembali. Sebab bagaimanapun Mahesa Jenar masih mengharapkan untuk dapat menjumpai seseorang di daerah ini.

Perjalanan di daerah ini tidaklah sesulit berjalan di hutan. Mereka hampir tidak pernah menemui rintangan-rintangan yang berarti.

Setelah mereka berjalan beberapa saat, tiba-tiba Mahesa Jenar berhenti. Matanya memandang ke satu arah dengan tajamnya, dan sejenak kemudian ia meloncat beberapa langkah, lalu berjongkok, mengamati sesuatu.

Rara Wilis terkejut bercampur heran melihat tingkah laku Mahesa Jenar. Ia pun segera berlari dan ikut serta mengamati arah yang sama. Tetapi ia tidak melihat sesuatu. Karena itu dengan herannya ia bertanya.

"Tuan, adakah Tuan melihat sesuatu? "

"Rara Wilis    Lihat rumput-rumput ini," jawab Mahesa Jenar.

Rara Wilis memandang rumput yang ditunjuk oleh Mahesa Jenar itu dengan seksama, tetapi ia tetap tidak melihat sesuatu.

"Ada apa dengan rumput-rumput itu?," tanyanya.

"Lihatlah, rumput ini rebah dan patah-patah. Lihatlah di tempat itu, juga terdapat hal yang sama, juga di sebelah sana dan sana. Kau tahu artinya? Apalagi di tempat yang tanahnya agak gembur ini."

Rupanya otak Rara Wilis pun tidak begitu tumpul, sehingga ia berteriak menebak. "Telapak kaki manusia ?"

“Ya..” Sahut Mahesa Jenar.

“Telapak kaki yang masih agak baru. Pasti seseorang baru saja melewati daerah ini. Mungkin ia adalah penduduk daerah Pliridan ini, atau mungkin ”

Mahesa Jenar tidak melanjutkan perkataannya. Tetapi Rara Wilis dapat menangkap kelanjutannya. Mudah-mudahan bukanlah penjahat-penjahat itulah yang sengaja dikirim untuk mematai-matai perjalanan kita, katanya.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri sejenak. Otaknya bekerja keras untuk mencoba menebak, siapakah kira-kira yang meninggalkan bekas tapak kaki yang masih segar itu.

Menurut pendapatnya, ada empat kemungkinan, yaitu penduduk setempat, Jaka Soka, Pasingsingan, atau Ki Ageng Pandan Alas. Diam-diam ia membandingkan telapak kaki itu dengan telapak kakinya sendiri. Ternyata telapak kaki itu agak lebih dalam. Menurut pendapatnya, pastilah orang itu adalah orang yang gemuk sekali, atau orang yang membawa beban agak berat. Tiba-tiba terlintaslah dalam benaknya, bahwa Pasingsingan adalah kemungkinan yang paling dekat, sebab Pasingsingan dalam perjalanannya kembali ke Pasiraman mendukung Lawa Ijo yang terluka. Dan tidaklah mustahil kalau jalan ini dilewati, sebab arah perjalanannya sesuai dengan arah jalan ini.

Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Ia tidak ingin menggelisahkan hati gadis itu. Karena itu ia menjawab.

"Tidaklah begitu penting Rara Wilis, tetapi sebaiknya kita beralih jalan."

Rara Wilis mengerutkan dahinya, otaknya memang cukup cerdas, karena itu ia menjawab.

"Kalau Tuan sampai menganggap perlu untuk menempuh jalan lain, pastilah ada sesuatu yang sangat penting. Katakanlah Tuan, supaya aku tidak usah menebak-nebak."

Mahesa Jenar tidak dapat berbuat lain, kecuali mengatakan segala sesuatu yang berkecamuk di dalam otaknya. Rara Wilis pun sependapat dengan pikiran itu. Maka mereka memutuskan untuk mencari jalan lain.

Demikianlah mereka meninggalkan dan menjauhi jalan setapak yang paling mungkin dilalui orang. Mereka membelok ke arah selatan, menyusup gerumbul-gerumbul kecil menuju ke arah pepohonan yang agak lebat di depan mereka. Mungkin di daerah itu terdapat mata air, atau tempat yang aman untuk bermalam, atau sukurlah kalau didiami orang.

Ketika mereka sampai, ternyata tempat itu tidak juga ditinggali manusia. Memang, di sana terdapat sebuah mata air yang mengalirkan air cukup deras, dan ditampung dalam sebuah telaga yang hijau bening.

Pada saat itu, matahari telah sampai di garis cakrawala. Sinarnya sudah tidak lagi dapat menembus takbir gelapnya malam, yang turun perlahan-lahan, tetapi pasti akan menelan bumi.

Mehesa Jenar segera mengadakan persiapan untuk bermalam. Hanya untuk kali itu, menurut pertimbangan Mahesa Jenar, sebaiknyalah kalau tidak menyalakan api, meskipun Mahesa Jenar sadar bahwa andaikata bekas-bekas kaki tadi benar-benar bekas kaki Pasingsingan, pastilah ia tidak sengaja akan menjebaknya. Sebagai orang seperti Pasingsingan, apabila dikehendaki tentu tidak akan meninggalkan jejak sedemikian jelasnya.

Meskipun demikian Mahesa Jenar harus selalu tetap waspada. Dipersilahkan Rara Wilis untuk beristirahat, berbaring di atas tikar yang masih saja dibawanya ke mana-mana. Sedang Mahesa Jenar sendiri duduk bersandar pohon sambil memperhatikan suasana di sekitarnya.

Alam pun segera menjadi hitam. Untunglah, bahwa bulan yang remaja menghiasi langit diantara taburan bintang-bintang. Sehingga sinarnya yang remang-remang dapat menembus dedaunan yang tidak begitu lebat seperti lebatnya hutan.

Mata Mahesa Jenar yang tajam itu selalu menembus keremangan malam untuk menangkap tiap-tiap gerakan yang mungkin mencurigakan. Tetapi tiba-tiba saja mata itu terbanting ke tubuh seorang gadis cantik yang berbaring diam di depannya. Dengan demikian jantungnya berdesir cepat tanpa sadar.

Mahesa Jenar pernah bertemu, melihat dan berkenalan dengan puluhan bahkan ratusan gadis cantik. Bahkan ia pernah berkenalan dengan seorang yang menurut pendapatnya memiliki kecantikan yang sempurna, yaitu Nyai Wirasaba.

Tetapi tidaklah pernah ia merasakan suatu getaran yang aneh seperti dirasakannya pada malam itu.

Diam-diam Mahesa Jenar memandangi tubuh yang terbaring seperti sebuah golek kencana itu. Dari ujung kakinya, tangannya, dadanya sampai ke rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin malam yang berhembus lirih.

Mahesa Jenar menarik nafas dalam-dalam. Sebagai manusia biasa, Mahesa Jenar juga kadang-kadang membayangkan suatu rumahtangga yang tenteram dan lumrah. Tetapi segera Mahesa Jenar dapat langsung memandang ke dirinya sendiri. Ia tidak lebih dari seorang perantau yang akan menjelajahi desa demi desa, hutan demi hutan, untuk mengabdikan keyakinannya. Untuk itu, maka masih banyaklah yang harus dikerjakan.

Karenanya, oleh kesadarannya tentang dirinya, maka segala perasaan-perasaan yang berdesir di hatinya terhadap gadis cantik itu segera didesak sekuat-kuatnya.

Maka dengan serta merta direnggutkannya pandangannya dari tubuh Rara Wilis, dan segera dilemparkan kembali ke arah bayang-bayang daun dan ranting-ranting yang selalu bergerak-gerak, seolah-olah sedang mengganggunya. Angin malam yang berdesir di dedaunan masih saja menyapu wajahnya, dan sekali-sekali terdengar di kejauhan ringkik kuda liar yang terkejut mendengar teriakan-teriakan anjing hutan.

Dalam keadaan yang demikian, tiba-tiba saja ia terbanting kembali ke dalam suasana yang kini sedang dihadapi. Suatu daerah asing yang diliputi oleh suasana yang membahayakan. Segera diangkatnya kepalanya, serta diperhatikannya keadaan di sekelilingnya dengan saksama. Sebagai seorang yang mempunyai pengalaman yang luas, Mahesa Jenar mendapatkan suatu firasat, bahwa ada sesuatu yang mencurigakan.

Mendadak telinganya yang tajam itu mendengar suara berdesir lambat sekali. Tetapi Mahesa Jenar sudah cukup mendapat gambaran bahwa seseorang datang mendekatinya. Orang itu pasti bukanlah orang yang mempunyai ilmu yang terlalu tinggi. Sebab gerak serta pernafasannya tidaklah dikuasainya dengan baik.

Karena itu sekaligus Mahesa Jenar dapat mengetahui dari arah mana orang itu datang.

Tetapi ia tidak segera mengadakan tindakan apa-apa. Ia ingin mengetahui lebih dahulu, apakah kira-kira maksud orang itu mengintainya. Karena itu ia tetap duduk di tempatnya, serta bersikap seperti tak mengetahuinya. Meskipun dalam keadaan yang demikian ia sudah bersiaga untuk menghadapi segala kemungkinan.

Suara berdesir itu pun semakin lama semakin jelas, serta suara tarikan nafasnya semakin memburu pula. Tetapi pada jarak tertentu suara itu tidak lagi maju. Rupanya orang itu baru mempersiapkan diri untuk menyerang.

Mendadak Mahesa Jenar terkejut ketika mendengar suara itu mundur dan menjauh. Segera Mahesa Jenar tahu, bahwa orang itu tidak bermaksud menyerang, tetapi hanya mengintai saja. Hal yang demikian itu malahan akan dapat mengandung bahaya yang lebih besar. Karena itu segera Mahesa Jenar bangkit dan dengan beberapa loncatan saja ia sudah berdiri di samping orang yang mengintainya.

Orang itu terkejut. Mahesa Jenar yang dikira tidak mengetahui kehadirannya, kini tiba- tiba sudah ada di sampingnya. Karena itu tidaklah mungkin ia dapat melepaskan diri. Dengan demikian ia menghentikan langkahnya, dan tidak ada jalan lain kecuali mendahului menyerang. Orang itu segera mengangkat goloknya, dan dengan sekuat tenaga dibabatnya pundak Mahesa Jenar.

Mendapat serangan yang tiba-tiba, Mahesa Jenar menjadi terkejut pula. Ternyata meskipun orang itu tidak dapat menguasai pernafasannya dengan baik, tetapi ia mempunyai keistimewaan pula.

Mendengar desing golok yang terayun deras sekali, Mahesa Jenar barulah dapat mengukur kekuatan tenaga orang asing itu. Ketika golok itu sudah hampir menyinggung tubuhnya, segera Mahesa Jenar berkisar sedikit, serta meloncat selangkah ke samping. Dengan demikian golok yang tak mengenai sasarannya itu terayun deras sekali, sehingga oran gyang memegangnya agak kehilangan keseimbangan.

Dalam keadaan yang demikian Mahesa Jenar segera meloncat maju dan menangkap pergelangan tangan orang itu, langsung diputarnya ke belakang. Dengan sekali dorong, orang itu telah jatuh tertelungkup dan tidak dapat bergerak lagi, kecuali berdesis menahan sakit.

"Kau siapa?," tanya Mahesa Jenar geram. Tetapi orang itu tidak menjawab. Demikianlah sampai Mahesa Jenar mengulangi pertanyaan itu dua kali. Akhirnya Mahesa Jenar menjadi jengkel dan menekan punggung orang itu semakin kuat serta memutar tangan yang terpuntir itu semakin keras, sehingga orang itu mengaduh kesakitan. "Kalau kau tak menjawab, tanganmu akan aku patahkan," desak Mahesa Jenar.

Rupanya orang itu pun masih merasa perlu memiliki tangan sehingga dengan terpaksa menjawab.

"Aku adalah Sagotra."

"Apa maksudmu mengintai kami? “

Desak Mahesa Jenar lebih lanjut. Kembali orang itu diam saja. Mahesa Jenar menjadi semakin jengkel, dan ia menekan orang itu lebih keras lagi, sehingga orang itu mengaduh lebih keras pula.

"Jawablah! Atau tanganmu betul-betul patah." Mahesa Jenar makin geram.

"Tak ada gunanya kau memaksa aku berkata lebih banyak lagi, jawabnya. Rupa-rupanya ia harus merahasiakan tugasnya betul-betul, sehingga sampai ke ajalnya kalau perlu.

"Keadaanku sudah pasti, berkata atau tidak berkata, aku akan menemui kematian. Karena itu biarlah aku mati dengan menggenggam rahasia," sambung orang itu.

Mahesa Jenar kagum juga melihat kejantanan orang itu, sampai berani menantang maut.

Tetapi ia ingin untuk mendapat keterangan tentang maksud orang itu, yang pasti tidak baik.

Maka setelah mendapat suatu cara ia berkata.

"Baiklah, kalau kau tidak mau berkata. Aku hormati kejantananmu. Tetapi janganlah tanggung-tanggung. Aku ingin melihat pameran kesetiaan. Kau pernah mendengar cerita, bahwa di daerah ini banyak terdapat Ngangrang Salaka...? "

Mendengar Mahesa Jenar menyebut Ngangrang Salaka, tengkuk orang itu serentak meremang. Jantungnya berdegup hebat, sampai tubuhnya terasa gemetar. Ngangrang Salaka adalah sejenis semut ngangrang yang luar biasa buas serta rakusnya. Binatang apapun yang sampai terperosok ke sarangnya pasti hancur dimakannya. Keluarga semut itu membuat sarang di bawah pohon-pohon yang sudah membusuk, dengan memerlukan tanah 10 atau 15 langkah persegi. Tubuh semut itu besarnya tidak terpaut banyak dengan semut ngangrang biasa, hanya warnanya yang merah mempunyai beberapa baris-baris putih perak.

Mahesa Jenar merasakan, bahwa kata-katanya mempunyai akibat pada orang itu. Dengan demikian ia melanjutkan.

"Kalau kau belum pernah mendengar, baiklah kau akan aku perkenalkan dengan semut itu. Tetapi sebelumnya lebih baik kalau kakimu aku patahkan dulu supaya kau tidak dapat lari darinya."

Selesai mengucapkan kata-kata itu, segera Mahesa Jenar melepaskan tangan orang itu. Tetapi segera pula menangkap lipatan lutut kaki kanan, sedangkan tangan Mahesa Jenar siap mematahkan pergelangan kaki kirinya, dijepitkan pada lipatan lutut kaki kanan.

"Jangan..., jangan...!" teriak orang itu tiba-tiba.

"Bunuhlah aku dengan cara lain. Tetapi aku jangan kau siksa di sarang semut Salaka"

"Itu adalah urusanku. Sekehendakkulah untuk memilih cara bagaimana sebaiknya membunuh kau," jawab Mahesa Jenar.

Tampaknya Mahesa Jenar betul-betul akan melaksanakan ucapannya itu, karenanya maka kembali orang itu berteriak.

"Jangan, jangan, bunuhlah aku dengan cara lain." Kembali Mahesa Jenar tertawa dingin.

"Seorang yang telah berani menyatakan dirinya sebagai pengemban tugas, seharusnya tidak takut menghadapi segala macam bahaya."

"Aku sama sekali tidak takut mati. Tetapi cara kematian yang demikian adalah mengerikan sekali. Lepaskan aku dan biarlah aku bunuh diri," teriak orang itu.

Kembali Mahesa Jenar mengagumi orang itu, tetapi keterangan yang diperlukan harus didapatnya. Maka katanya.

“Kalau kau mau berkata, aku beri kau kebebasan untuk memilih jalan kematian”

Lagi orang itu diam menimbang-nimbang. Rupanya terjadi pergolakan hebat di dalam dirinya. Baru ketika Mahesa Jenar menekan pergelangan kakinya ia berteriak,

“Baiklah aku berkata asal aku dibebaskan dari siksaan ngangrang Salaka” “Baiklah...,” berkatalah, jawab Mahesa Jenar.

Lalu dilepaskannya pergelangan kaki orang itu, dan ia melangkah satu langkah surut.

Mengalami perlakuan yang demikian, orang itu ternyata sangat terkejut. Ia tidak tahu maksud lawannya yang dengan begitu saja telah melepaskan tangkapannya. Sehingga untuk beberapa saat ia tetap tertelungkup tanpa bergerak, sampai Mahesa Jenar menegurnya. “Duduklah dan berkatalah”

Kembali ia tersentak mendengar tegur Mahesa Jenar. Perlahan-lahan ia bangkit dan duduk di hadapan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar telah pula duduk menghadapi orang yang menamakan dirinya Sagotra.

Sagotra memandang Mahesa Jenar dengan mata yang hampir tak berkedip. Rupanya ia sedang mencoba memahami sikapnya. Mula-mula Sagotra menganggap bahwa Mahesa Jenar adalah seorang yang bengis dan kejam, seperti yang tiap-tiap hari dilihat di dalam tata pergaulannya. Tetapi kemudian seperti orang yang sama sekali tidak menaruh prasangka apa-apa, ia dilepaskan.

Kalau hal itu disebabkan karena keyakinan akan kemenangannya, pastilah ia tidak bersikap sedemikian lunak. Mungkin ia sudah diangkatnya tinggi-tinggi, diputar di udara, lalu dibantingnya ke tanah. Barulah setelah setengah mati, disuruhnya ia berkata. Atau mungkinkah segala-galanya akan dilakukan nanti setelah ia selesai berkata? Sebab menurut pertimbangannya, tidaklah mungkin orang yang melakukan pengintaian seperti apa yang dilakukannya itu akan dilepaskan, karena akibatnya akan membahayakan. Mengingat hal itu, Sagotra menjadi ngeri.

Mahesa Jenar menangkap kebimbangan hati Sagotra.

"Sagotra," berkatalah. "Aku hanya ingin keteranganmu, lebih daripada itu tidak."

Sagotra sama sekali tidak mengerti maksud Mahesa Jenar. Tetapi meskipun demikian ketakutannya menjadi jauh berkurang. Menilik sikap, kata-kata serta maksudnya, pastilah Mahesa Jenar bukan orang yang bengis dan kejam. Karena itu Sagotra menjadi malu kepada diri sendiri. Bahwa orang yang dipercaya untuk melakukan tugas ini dapat luluh hatinya hanya oleh gertakan saja.

Tetapi disamping itu ia menjadi kagum pada Mahesa Jenar yang mempunyai sifat-sifat yang tak pernah dijumpainya dalam tata pergaulan di sarangnya. Tiba-tiba saja ia merasa kengerian dan kejemuan untuk dapat bertemu dengan gerombolannya kembali, yang tidak pernah merasakan betapa indahnya hidup manusia yang dapat menikmati terbitnya fajar, serta bulatnya bulan. Serta betapa tenteramnya hidup ini apabila ia berkesempatan mengagungkan alam. Lebih-lebih penciptanya, ALLAH Yang Maha Agung. Hal yang demikian tidaklah pernah dialami selama Sagotra hidup di dalam sarang gerombolannya, dimana setiap saat hanyalah berlaku hukum kekerasan dan pembunuhan bagi mereka yang tidak mentaati peraturan.

"Tuan," katanya kemudian, "Benarkah Tuan yang bernama Rangga Tohjaya?" Mahesa Jenar mengangguk mengiakan.

"Aku telah mendapat tugas untuk mencari Tuan," lanjutnya. Kembali Mahesa Jenar mengangguk perlahan.

"Sekarang aku sudah kau ketemukan," kata Mahesa Jenar.

"Ya, aku sudah menemukan Tuan. Tetapi keperkasaan Tuan jauh diatas dugaanku. Sehingga Tuan tanpa menoleh dapat melihat kedatanganku."

"Tetapi kenapa kau tidak berbuat sesuatu pada saat kau temukan aku? Bahkan kau hanya mengintip lalu pergi?"

Sagotra membetulkan duduknya, lalu jawabnya.

"Memang, aku hanya mendapat perintah untuk menemukan tempat Tuan. Sesudah itu aku harus melaporkan. Sebab kami yakin, bahwa untuk menangkap Tuan diperlukan 10 sampai 20 orang yang tergolong tingkat atasan dalam gerombolan kami."

"Kau ini sebenarnya termasuk gerombolan apa?" tanya Mahesa Jenar kemudian.

Kembali orang itu ragu-ragu. Dengan menyebutkan nama gerombolannya, mungkin sangat tidak menguntungkan baginya. Tetapi ketika ia melihat wajah Mahesa Jenar yang sama sekali tidak memancarkan rasa permusuhan, hatinya agak tenang sedikit.

Meski dengan jantung berdegup, berkatalah Sagotra,

"Tuan, sebenarnya aku sama sekali tidak berani menyebut nama gerombolanku, sebab aku tahu bahwa Tuan mempunyai persoalan yang mendalam dengan pemimpinku. Meskipun demikian, karena sikap Tuan yang tak pernah aku temui dalam gerombolan kami, menimbulkan kepercayaan pada diriku, bahwa Tuan mempunyai kepribadian lain daripada orang-orang kami."

Orang itu berhenti sejenak untuk meyakinkan kata-katanya sendiri. Lalu sambungnya, "Tuan... kami adalah gerombolan Lawa Ijo."

Pengakuan itu sama sekali tidak mengejutkan hati Mahesa Jenar. Memang ia sudah mempunyai dugaan bahwa kemungkinan terbesar orang itu datang dari gerombolan Lawa Ijo atas perintah Pasingsingan. Hanya kecepatan mereka bertindak itulah yang mengagumkan.

"Sagotra, kata Mahesa Jenar kemudian, Aku dengar gerombolan kini sedang dibekukan. Benarkah itu?"

"Benar, Tuan. Tetapi meskipun demikian, kami, beberapa orang tetap dalam tugas kami. Sedang orang lain yang tidak diperlukan diperkenankan untuk sementara meninggalkan sarang kami. Tetapi kami 25 orang yang merupakan anggota inti di bawah pimpinan Wadas Gunung, saudara muda seperguruan Lawa Ijo, harus selalu bersiap untuk setiap saat bertindak," kata Sagotra.

Mendengar nama Wadas Gunung, Mahesa Jenar jadi teringat kepada Watu Gunung, yang menurut Samparan juga merupakan saudara muda seperguruan dengan Lawa Ijo. Karena itu ia bertanya,

" Sagotra, kenalkah kau dengan Watu Gunung?"

"Ya, pastilah aku kenal. Ia adalah saudara kembar Wadas Gunung. Dan kedua-duanya saudara seperguruan Lawa Ijo. Aku juga sudah mendengar kabar yang dibawa oleh Ki Pasingsingan, bahwa Watu Gunung telah Tuan binasakan ketika ia sedang mengunjungi kampung kelahirannya. Serta karena itu pulalah sekarang kami 20 orang di bawah pimpinan Wadas Gunung sendiri sedang mencari Tuan," jawab Sagotra.

Mendengar keterangan terakhir dari Sagotra ini hati Mahesa Jenar tergoncang pula, 20 orang sedang mencarinya. Sementara itu Sagotra melanjutkan,

"Tetapi anehlah Tuan, bahwa kali ini Ki Pasingsingan salah hitung. Hal seperti ini belum pernah terjadi. Kami telah mendapat petunjuk untuk mencegat Tuan di suatu tempat. Menurut perhitungan Ki Pasingsingan, pada hari ini menjelang malam Tuan pasti sampai ke tempat itu. Tetapi ternyata perhitungan itu meleset. Dan tuan telah mengambil jalan lain menghindari tempat yang telah kami persiapkan untuk menjebak Tuan. Karena itu, kami lima orang telah disebarkan untuk mencari Tuan."

Mahesa Jenar mendengarkan keterangan Sagotra dengan penuh perhatian. Akhirnya ia bertanya,

"Kapan kah Pasingsingan sampai ke sarang gerombolanmu? " "Kemarin lusa, " jawab Sagotra.

"Kemarin lusa? " ulang Mahesa Jenar dengan herannya. Sulit baginya untuk membayangkan kecepatan berjalan Pasingsingan. Ditambah lagi ketika ia teringat telapak kaki yang masih tampak baru, yang ditemuinya sore tadi. Mahesa Jenar menjadi bertambah heran lagi.

Kemudian Mahesa Jenar bertanya, "Adakah orang lain yang kau temui lewat jalan yang seharusnya aku lalui?"

"Tidak Tuan, tidak ada. Kalau ada, pastilah orang itu kami tangkap. Sebab pasti orang itu kami sangka Tuan, karena diantara kami tidak ada yang pernah mengenal wajah Tuan, kecuali hanya ciri-ciri Tuan yang digambarkan oleh Ki Pasingsingan."

Mahesa Jenar menjadi bertambah heran.

"Adakah pihak ketiga yang sengaja memberi tanda kepadanya supaya mengambil jalan lain? Ia jadi bingung menimbang-nimbang. Tetapi sampai sekian lama tak dapat ia memecahkan teka-teki itu. Satu-satunya kemungkinan yang membayang di kepala Mahesa Jenar hanyalah Ki Ageng Pandan Alas. "

Belum lagi masalah telapak kaki bisa dipecahkan, mereka melihat di arah sebelah selatan warna merah membayang di udara. Pasti di sana ada orang yang menyalakan api. Segera Mahesa Jenar ingat, bahwa Wadas Gunung beserta 20 orangnya sedang bersiap menghadangnya. Tetapi menilik arahnya, pasti bukan mereka.

"Sagotra...," kata Mahesa Jenar kemudian. "Kawan-kawanmukah yang menyalakan api itu? "

Sagotra memandang pula ke arah warna merah yang mewarnai keremangan malam. Ia menggeleng perlahan. Lalu jawabnya.

"Bukan, Itu pasti bukan kawan-kawan. Mereka menghadang Tuan tidak di arah itu." "Lalu siapakah menurut pendapatmu yang menyalakan api itu?"

Sagotra tampak berpikir sejenak dan akhirnya ia menjawab.

"Tuan, mungkin itu adalah orang tua yang agak kurang waras, yang merupakan satu- satunya penghuni daerah ini."

"Satu-satunya?"

Sahut Mahesa Jenar agak terkejut.

"Jadi didaerah ini tidak lagi ditinggali manusia kecuali orang tua itu?" Sagotra menggelengkan kepalanya.

"Tidak Tuan, Memang daerah ini sekarang sama sekali kosong, kecuali seorang itu, " Jawab Sagotra kemudian.

"Kenapa orang itu tidak pergi?" tanya Mahesa Jenar. "Tidakkah dia takut menghadapi keganasan gerombolan-gerombolan itu? Ataukah dia sedemikian hebatnya sehingga tak seorang pun berani mengganggunya...?"

" Tidak, Tuan    Ia sama sekali tidak memiliki kepandaian apa-apa. Aku sendiri pernah

datang mengunjunginya. Tetapi seperti yang sudah aku katakan, orang itu agak kurang waras. Ia merasa bahwa ia sama sekali tidak mempunyai milik, sehingga menurut perhitungannya tidak akan ada orang yang datang mengganggunya, " sahut Sagotra. Mahesa Jenar mendengar keterangan Sagotra dengan saksama. Ia mulai menghubung hubungkan keterangan itu dengan kakek Rara Wilis. Mungkinkah orang tua itu adalah Ki Santanu...?

"Siapakah nama orang tua itu?" tanya Mahesa Jenar tiba-tiba. Sagotra menggelengkan kepalanya.

“Tak ada orang yang mengetahui nama sebenarnya. Aku juga pernah menanyakan kepadanya, tetapi ia hanya menyebutkan panggilan yang biasa diperuntukkannya saja”

"Ya, siapa panggilan itu?" desak Mahesa Jenar "Orang memanggilnya dengan sebutan Ki Ardi." "Ardi? "ulang Mahesa Jenar. Sagotra mengangguk.

Tiba-tiba terlintaslah dalam benak Mahesa Jenar, bahwa Ardi dapat berarti Gunung. Sedang kakek Rara Wilis pun berasal dari daerah pegunungan. Ah, apakah salahnya kalau ia berkenalan dengan orang tua itu?

"Sagotra...," katanya kemudian

"Dapatkah kau menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi itu?"

Sagotra diam-diam menimbang-nimbang. Ia menjadi agak kebingungan. Tentang dirinya sendiri, ia belum mendapat penyelesaian. Sekarang ia mendapat pekerjaan baru, mengantarkan Mahesa Jenar ke rumah orang tua itu. Tetapi sesudah itu lalu bagaimana? Mestikah ia harus bunuh diri, atau Mahesa Jenar akan membunuhnya...? Serta bagaimanakah kalau ia bertemu dengan kawan-kawannya yang juga sedang mencari Mahesa Jenar?

Mahesa Jenar melihat kebingungan hati Sagotra serta sedikit banyak menangkap perasaannya. tetapi disamping itu mendadak timbul pula kebimbangan di hatinya sendiri. Lalu bagaimana dengan Sagotra itu kemudian? Kalau orang itu dilepaskan, maka soalnya akan berkepanjangan. Pastilah ia akan melaporkan semuanya kepada Wadas Gunung dengan keduapuluh kawannya. Dan ini berarti suatu pekerjaan yang sangat berat. Sedangkan untuk membunuhnya, tidaklah terlintas dalam angan-anannya. Sebab orang seperti Sagotra bukanlah seorang yang pantas untuk menerima hukuman yang demikian berat. Sebab ia tidaklah lebih dari seorang pesuruh.

Karena itu kemungkinan satu-satunya adalah membawa Sagotra itu seterusnya, sampai keadaan terasa aman. Mendapat pikiran yang demikian itu, maka Mahesa Jenar segera mengambil keputusan.

"Sagotra, barangkali kau segan untuk melakukan permintaanku, menunjukkan jalan ke rumah Ki Ardi, sebab kau merasa bahwa tak ada gunanya kau berbaik hati kepadaku. Tetapi ketahuilah Sagotra, aku terpaksa memutuskan untuk membawamu kemana aku pergi, demi keamananku. Kalau aku seorang diri, barangkali aku segera melepaskanmu. Lalu sesudah itu aku dapat menyelamatkan diriku secepat-cepatnya. Tetapi sekarang aku sedang melindungi seorang gadis. Karena itu, janganlah membantah perintahku. Janganlah kau takut, bahwa sesudah semuanya selesai aku akan membunuhmu. Sebab bagiku kau tidak lebih dari sebuah alat yang tak perlu dirusak. "

Kalau yang berkata demikian itu Wadas Gunung, atau salah seorang dari rombongannya, hati Sagotra pasti tidak akan banyak terpengaruh. Sebab ia tahu pasti, bahwa kata-kata yang demikian itu sama sekali tak berarti. Bagi Wadas Gunung serta kawan-kawan segerombolannya, tidak ada batas antara sahabat yang setia pada hari ini, serta lawan yang harus dibinasakan hari esok.

Tetapi yang berkata demikian adalah orang lain. Orang yang baru saja dikenalnya, bahkan yang telah diserangnya dengan sekuat tenaga untuk dibunuh. Namun demikian orang itu masih berkata kepadanya, bahwa ia masih boleh mengharap untuk dapat menyaksikan matahari terbit esok pagi. Dan kata-kata ini mempunyai kesan yang jauh berlainan dengan segala pujian, janji dan segala macam yang pernah keluar dari pemimpin-pemimpin rombongannya. Karena itu hati Sagotra bergoncang hebat. Tanpa sadar, Sagotra meloncat, lalu bersujud di muka Mahesa Jenar sampai mencium tanah. Dan anehnya, sejak ia meninggalkan masa kanak-kanaknya, serta kemudian terperosok dalam dunia yang hitam kelam, baru sekaranglah orang yang bernama Sagotra itu sampai meneteskan air mata. Bukan saja karena ia terlepas dari terkaman maut. Sebab hal yang demikian itu telah seringkali dialami.

Dalam segala kegiatannya sebagai anggota gerombolan penjahat, banyak tangkapan- tangkapan maut yang dapat dihindari Sagotra. Tetapi ia tidak pernah merasa terharu sama sekali mengalami peristiwa-peristiwa itu, bahkan yang ada di dalam benaknya adalah dendam yang membara, serta kebanggaan dan kesombongan.

Mahesa Jenar menyaksikan sikap Sagotra itu dengan penuh keheranan. Ia tidak dapat menangkap seluruh perasaan yang bergelut dalam dada orang itu, sehingga tampak sangat menggelikan. Bahwa orang itu tinggi tegap, berkumis tebal serta berkulit hitam mengkilap, tetapi menangis tersedu-sedu.

"Sagotra, agak aneh kelakuanmu itu bagiku. Seorang laki-laki macam kau yang dengan sikap jantan berani menentang maut, kini tiba-tiba menangis macam anak-anak, " kata Mahesa Jenar.

"Tuan...," jawab Sagotra sambil mengangkat kepalanya, "Tak pernah selama hidupku merasakan sesuatu yang demikian mengharukan seperti kali ini."

Sagotra merasakan bahwa ternyata bukanlah kekerasan melulu yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi dalam kehidupan ini. "Meskipun Tuan bermodalkan kekuatan yang tiada taranya, tetapi sikap Tuan adalah suatu penguasaan mutlak atas diriku. Seandainya Tuan tidak berbuat demikian, mungkin dalam kesempatan-kesempatan yang ada aku pasti akan menyerang Tuan, atau setidak- tidaknya aku ingin mati sebagai seorang laki-laki sejati. Tetapi sekarang, hidup matiku bulat-bulat di tangan Tuan. Juga seandainya Tuan ingin menyaksikan aku mati di sarang semut Salaka, tidaklah menjadi masalah lagi bagiku," kata Sagotra.

Mahesa Jenar terharu juga mendengar kata-kata Sagotra. Tetapi meskipun demikian, ia tetap berhati-hati. Sebab kata-kata itu keluar dari mulut seorang penjahat yang cukup mempunyai ikatan yang sempurna.

Tidak mustahil bahwa cara-cara yang demikian sering dilakukan untuk mengurangi kewaspadaan lawan. Hanya karena kejadian itu tampaknya meyakinkan, maka Mahesa Jenar pun tidak perlu lagi terlalu mencurigainya. Sejenak kemudian mereka saling berdiam diri, hanyut oleh arus perasaan masing-masing.

Sementara itu nyala api di sebelah selatan itu pun tampak semakin terang. Angin malam pun terasa demikian dingin menggigit tulang.

"Sagotra, marilah kita pergi,"

Kata Mahesa Jenar kemudian, memecahkan kediaman mereka. "Mari Tuan," jawab Sagotra.

Perlahan-lahan Mahesa Jenar berdiri tegak serta memandang ke arah Rara Wilis berbaring.

"Tetapi mestikah gadis itu aku bangunkan? " desis Mahesa Jenar. "Atau kita menunggu sampai besok, " sahut Sagotra.

"Tidakkah ada bahayanya? Apakah tidak mungkin salah seorang kawanmu datang pula ke tempat ini? Dengan demikian kaupun pasti akan mendapat kesulitan, " jawab Mahesa Jenar.

Sagotra diam menimbang-nimbang. Memang mungkin sekali salah seorang dari kawannya datang pula ke tempat ini meskipun mula-mula mereka berpencaran.

"Jadi bagaimana pendapat Tuan?" tanya Sagotra lagi.

Mahesa Jenar tidak segera menjawab. Ia pun sedang berpikir, bagaimana sebaiknya. Kalau pada saat itu ia langsung bersama-sama Rara Wilis, pergi ke arah api itu, tidakkah ada kemungkinan orang-orang yang sedang mencarinya pergi ke arah api itu juga?

"Sagotra, tidakkah kawan-kawanmu juga akan pergi ke arah api itu?" "Aku kira tidak, Tuan. Pasti mereka tahu bahwa arah itu adalah arah rumah Ki Ardi," jawabnya.

Tetapi mungkin pula mereka berpikir bahwa di sana akan dapat mereka temukan kami, yang dapat diperhitungkan, bahwa kami akan pergi ke arah api itu.

Sagotra mengangguk kecil. Memang masuk akal pula bahwa kawan-kawannya mempunyai perhitungan yang demikian.

“Jadi bagaimanakah sebaiknya...?”

Kembali mereka diam menimbang-nimbang. Memang tidaklah mudah menghindari gerombolan Lawa Ijo yang berjumlah 20 orang, justru di wilayah mereka sendiri. Sagotra yang merupakan salah seorang dari gerombolan itu pun masih belum dapat menemukan, bagaimanakah jalan yang sebaik-baiknya untuk menghindari kawan-kawannya.

"Tuan..." akhirnya Sagotra bertanya.

"Adakah sesuatu kepentingan Tuan dengan orang itu?"

Mendapat pertanyaan yang demikian, Mahesa Jenar agak menjadi repot untuk menjawabnya. Pastilah ia tidak akan dapat mengatakan bahwa ia sedang mencari seseorang ada hubungannya dengan keris Sigar Penjalin. Sebab pastilah ia mendapat jawaban bahwa orang itu bernama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak, Wanasaba.

Tiba-tiba Mahesa Jenar teringat bahwa kakek Rara Wilis itu menyebut dirinya Ki Santanu, karena itu segera ia menjawab.

"Sagotra, sebenarnya kedatanganku ke daerah Pliridan ini adalah untuk mencari seseorang yang bernama Ki Santanu. Kalau aku dapat bertemu dengan Ki Ardi, mungkin aku akan dapat menanyakan kepadanya tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Mungkin ia mengenal orang yang bernama Ki Santanu itu."

Sagotra tampak mengerutkan keningnya. Ia mencoba mengingat-ingat orang-orang yang pernah tinggal di daerah ini. Sebab ia dalam melakukan tugasnya banyak berhubungan pula dengan penduduk, sehingga hampir semua dikenalnya. Tetapi nama Santanu belum pernah dikenalnya.

"Tuan, barangkali aku dapat mengenal semua orang di sini sedemikian baiknya, seperti juga Ki Ardi. Tetapi nama itu belum aku dengar. Mungkin disamping namanya ia mempunyai sebutan lain, atau barangkali Tuan dapat mengatakan kepadaku bagaimanakah ciri-ciri orang itu? " jawab Sagotra.

Mahesa Jenar menggeleng perlahan-lahan. Katanya. "Aku sendiri belum pernah mengenal wajahnya. Ia adalah kakek gadis itu. Nah, mungkin kau dapat bertanya kepadanya. Marilah kita tengok ia, barangkali sudah bangun."

Sagotra tidak menjawab. Segera ia berdiri dan berjalan di belakang Mahesa Jenar. Tetapi mendadak terjadilah sesuatu yang mengejutkan. Cepat seperti kilat, Mahesa Jenar meloncat ke arah tikar yang masih terbentang. Tetapi Rara Wilis sudah tidak ada lagi terbaring diatasnya. Jantung Mahesa Jenar bergelora hebat sekali.

Sadarlah ia bahwa ia telah berbuat suatu kelengahan. Di daerah yang berbahaya serta mengandung banyak rahasia ini, ia telah terlalu lama meninggalkan Rara Wilis seorang diri. Segera ia berdiri tegak serta mengangkat kepalanya. Memusatkan pikiran serta segenap pancainderanya untuk menangkap tiap-tiap gerakan maupun suara di sekitarnya. Tetapi tidak ada yang tampak selain daun dan ranting yang digoyangkan angin, serta tak ada yang didengar selain gemersik dedaunan itu, serta tarikan nafas Sagotra.

Mahesa Jenar adalah seorang yang cukup matang. Ia memiliki ketenangan pikiran serta kecepatan bertindak. Tetapi meskipun demikian, kali ini hampir kehilangan semua sifat- sifatnya itu. Pada saat ia menghadapi Pasingsingan, ia masih tetap sadar dan dapat menguasai pikiran sepenuhnya. Tetapi sekarang ia menghadapi suatu peristiwa yang belum pernah dirasakan.

Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai suatu peristiwa yang langsung menusuk perasaannya yang paling dalam. Dalam ketidaksadarannya tiba-tiba Mahesa Jenar berlari kesana kemari sambil memanggil-manggil nama Rara Wilis.

Melihat sikap Mahesa Jenar yang demikian itu, Sagotra menjadi heran bercampur cemas, sehingga terpaksa ia pun turut berlari-lari kian kemari. Tetapi sebagai orang yang lebih tua, tahulah Sagotra bahwa Mahesa Jenar tidak hanya merasa bertanggung jawab atas hilangnya Rara Wilis, tetapi pastilah ada suatu perasaan yang jauh lebih dalam daripada itu. Dan memang demikianlah kiranya.

Mahesa Jenar mencoba mendesak perasaan-perasaan yang menyentuh-nyentuh hatinya terhadap Rara Wilis, tetapi ternyata perasaan itu telah menyangkut di hatinya sedemikian eratnya.

Hilangnya Rara Wilis dirasakannya sebagai hilangnya sebagian dari jiwanya sendiri.

Sampai beberapa saat masih saja Mahesa Jenar memanggil-manggil Rara Wilis. Tetapi tidak ada suara yang menyambutnya. Sehingga ketika Mahesa Jenar sudah pasti, bahwa Rara Wilis telah lenyap, menggelegaklah darahnya. Tubuhnya bergetar, serta giginya gemeretak. Tiba-tiba saja ia ingin menghancurkan apa saja yang ada di sekitarnya untuk menyalurkan amarahnya.

Dalam keadaan yang demikian, dengan penuh kemarahan Mahesa Jenar menyalurkan segala kekuatannya ke sisi telapak tangannya, disilangkannya tangan kirinya di muka dada, serta diangkatnya tangan kanannya tinggi-tinggi. Dengan sekali loncat ia telah berdiri disamping sebuah batu seperut kerbau. Maka dengan menggeram hebat sekali, dihantamnya batu itu sampai pecah berserakan.

Sagotra adalah seorang penjahat yang telah banyak makan garam. Telah banyak sekali ia menyaksikan betapa hebatnya Lawa Ijo. Tetapi ketika ia menyaksikan apa yang telah dilakukan oleh Mahesa Jenar, tubuhnya menjadi gemetar. Pada saat ia menyaksikan Lawa Ijo terluka parah, sama sekali ia tidak percaya, bahwa luka itu disebabkan oleh karena pukulan tangan saja. Ia menyangka, bahwa orang yang telah melukainya pasti mempergunakan senjata rahasia atau sebangsanya.

Tetapi sekarang, ketika ia berkesempatan untuk menyaksikan sendiri, akibat dari pukulan orang yang telah melukai Lawa Ijo itu, bulu tengkuknya serentak berdiri. Kalau misalnya saja, pukulan itu dikenakan kepalanya, pastilah akan hancur berserakan pula lebih dari batu itu.

Diam-diam Sagotra mengucap syukur dalam hatinya, bahwa Mahesa Jenar tidak masuk dalam jebakan mereka. Sebab kalau sampai hal itu terjadi, maka akibatnya pasti hebat sekali.

Meskipun gerombolannya berjumlah 20 orang, serta diantaranya ada orang-orang seperti Wadas Gunung, Carang Lampit yang mempunyai kepandaian hampir setingkat Wadas Gunung, Bagolan yang terkenal mempunyai aji welut putih, serta beberapa orang lagi, tetapi sulitlah kiranya untuk dapat menangkap Mahesa Jenar. Andaikata itu bisa terjadi, pastilah lebih dari separo diantaranya sudah tak lagi sempat menyaksikan datangnya fajar.

Tetapi belum lagi Sagotra habis berangan-angan, tiba-tiba matanya terbelalak lebar, tubuhnya semakin gemetar lagi, serta peluh dingin mengalir membasahi seluruh badannya. Pada saat itu, Mahesa Jenar yang tidak puas dengan pelepasan amarahnya, mendadak meloncati Sagotra dan langsung memegang leher orang itu, sambil menggeram.

"Setan, rupanya kau telah memancing aku untuk menjauhi Wilis."

Belum lagi Mahesa Jenar berbuat sesuatu, nafas Sagotra telah terasa sesak. Ingin ia menjawab, tetapi tak sepatah katapun keluar dari mulutnya, karena ketakutannya yang amat sangat. Ia tahu betul, bahwa dalam keadaan yang demikian dapat saja Mahesa Jenar bertindak diluar kesadarannya.

Wajah Mahesa Jenar yang lunak, kini telah berubah menjadi merah membara dibakar oleh kemarahannya. Kedua tangannya yang memegang leher Sagotra semakin lama semakin menekan.

Kini nafas Sagotra benar-benar menjadi sesak. Tangan Mahesa Jenar itu terasa demikian erat mencekik lehernya, sampai akhirnya ia merasa, bahwa akhir hidupnya telah tiba, justru karena hal yang sama sekali tak diketahuinya. Tetapi ketika telah terasa, bahwa harapan untuk hidup sudah tidak ada lagi, hatinya malahan menjadi tenang.

"Tuan, aku tidak akan menghindarkan diri dari hukuman yang akan Tuan jatuhkan atas diriku. Sebab hal yang demikian adalah wajar sekali. Tetapi yang aku sangat sedih adalah justru kematianku disebabkan oleh suatu hal yang sama sekali tak kumengerti. Sebab aku sama sekali tak sengaja menjauhkan Tuan dari gadis itu. Maka, kalau Tuan benar-benar akan membunuhku, bunuhlah aku sebagai salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo yang ingin mencelakakan Tuan, " kata Sagotra suara susah payah.

Ternyata kata-kata yang diucapkan dalam keadaan yang putus asa itu, dapat menyentuh kesadaran Mahesa Jenar. Apalagi ketika Mahesa Jenar sejenak memandang wajah Sagotra yang kasar, jelek dan kotor, tetapi yang dari matanya memancar keputus-asaan dan kekosongan. Bahkan lama-kelamaan berubah menjadi seperti mata kanak-kanak yang belum pernah dijamah dosa.

Demikianlah, maka sedikit demi sedikit Mahesa Jenar dijalari kembali oleh sifat- sifatnya, serta sedikit demi sedikit pikirannya dapat bekerja kembali. Sejalan dengan itu pegangan tangannya pun menjadi semakin kendor dan kendor, sehingga akhirnya dilepaskanlah leher Sagotra itu sama sekali.

"Maafkanlah aku," Sagotra, bisik Mahesa Jenar.

Mendengar kata-kata itu kembali hati Sagotra melonjak hebat sekali. Hampir saja air matanya tidak lagi dapat ditahannya.

"Sagotra...," kata Mahesa Jenar selanjutnya, yang bagaimanapun masih ingin mendapat lebih banyak penjelasan.

"Benarkah kau tidak berbuat itu?"

"Tuan, memang aku dapat memahami tuduhan itu. Tetapi sebenarnyalah, bahwa kedatanganku sama sekali tak ada hubungannya dengan hilangnya gadis itu. Kecuali kalau hal ini dilakukan oleh orang-orang segerombolanku di luar rencana semula,"

jawab Sagotra.

Mahesa Jenar menundukkan kepala. Tetapi ia dapat mempercayai kata-kata Sagotra. Sebab andaikata hal itu dilakukan oleh kawan-kawan Sagotra, bahkan Jaka Soka sekalipun, ia pasti akan dapat menangkap suara ataupun gerak dari orang itu, sebab untuk mengalahkan Sagotra ia sama sekali tidak perlu memusatkan segala perhatiannya.

Apalagi jarak mereka dengan Rara Wilis berbaring tidaklah demikian jauhnya. Karena itu ia menduga, bahwa hal ini dilakukan oleh seseorang yang memiliki kehebatan luar biasa pula. Tiba-tiba bulu tengkuknya meremang, ketika ia mengingat betapa cepatnya Pasingsingan bertindak. Perlahan-lahan ia berjalan menuju ke tikar yang masih terbentang itu. Tiba- tiba Mahesa Jenar melihat bungkusan Rara Wilis masih juga ada di situ. Ia jadi teringat, bahwa dalam bungkusan itu terdapat sebilah keris pusaka Ki Ageng Pandan Alas, yaitu Kiai Sigar Penjalin.

Tetapi alangkah terkejut serta kecewanya ketika ternyata keris itu telah lenyap pula. Akhirnya seperti orang yang dicopoti segala tulangnya. Ia duduk lemas diatas tikar Rara Wilis.

Sagotra yang masih saja mengikutinya kemana ia pergi, duduk pula di atas tikar di belakang Mahesa Jenar. Tetapi sama sekali ia tidak berani menegurnya.

Angin malam masih saja berhembus silir, yang bagi Mahesa Jenar terdengar sebagai sebuah lagu sedih yang mengiringi ratapan hatinya. Tiba-tiba saja ia merasa, bahwa tanpa disengaja ia telah menguntai butiran-butiran mutiara harapan yang kini telah terenggut dan berderai berserakan.

Alangkah dalam luka yang dideritanya. Dua masalah yang sekaligus menghancurkan perasaannya. Sebagai seorang laki-laki langsung ia telah dihinakan. Sebuah pertanggungjawaban yang digenggamnya telah dirampas oleh orang tanpa dapat berbuat apa-apa, dan sekaligus yang hilang itu adalah sebagian dari jiwanya pula.

Dalam keadaan yang demikian tiba-tiba seperti orang bermimpi Mahesa Jenar mendengar alunan lagu Dandanggula sayup-sayup sampai. Mendengar lagu itu, geragapan Mahesa Jenar berdiri. Meskipun lagu itu tidak begitu jelas, tetapi segera Mahesa Jenar mengenal, bahwa Dandanggula itu telah dibawakan oleh seorang yang oleh Pasingsingan beberapa hari yang lalu disebut Pandan Alas.

Seperti juga beberapa hari yang lalu, suara itupun bergulung-gulung berkumandang memenuhi segala penjuru. Sehingga sulitlah bagi Mahesa Jenar untuk mengetahui dengan pasti arah suara itu.

Mahesa Jenar segera berdiri tegak, kepalanya sedikit diangkat ke atas dengan memusatkan pancainderanya untuk menangkap getaran Dandanggula yang lamat-lamat sampai ke telinganya. Pada saat itu, perasaan Mahesa Jenar sedang bergolak hebat, karena hilangnya Rara Wilis.

Karena itu, seakan-akan Mahesa Jenar mendapat suatu tenaga rohaniah tambahan yang cukup besar, sehingga kemampuan Mahesa Jenar pun seakan-akan bertambah. Dengan demikian, setelah beberapa saat Mahesa Jenar berdiam diri, hampir seperti orang bersamadi, perlahan-lahan ia dapat menangkap arah suara yang sayup-sayup sampai ke telinganya itu, maka ketika ia telah mendapat suatu kepastian dari mana arah suara itu, cepat seperti kilat ia meloncat dan kemudian menyusup gerumbul menuju arah barat. Sagotra bertambah heran menyaksikan kelakuan Mahesa Jenar, disamping keheranannya mendengar suara lagu Dandanggula itu. Karena itu ia pun segera berlari mengikuti Mahesa Jenar, sehingga mereka berdua seolah-olah sedang bermain kejar-kejaran.

Sebentar kemudian Mahesa Jenar telah keluar dari gerumbul kecil itu, serta dengan cekatan sekali ia melompat keatas gundukan tanah yang agak tinggi untuk dapat menangkap setiap gerak di padang rumput yang terbuka itu. Sebab mustahil kalau sampai ada orang di padang terbuka yang sedemikian itu sampai terlepas dari pengawasannya yang seakan-akan mempunyai kelebihan dibanding mata orang biasa.

Tetapi sampai beberapa saat, sama sekali ia tidak melihat suatu apapun. Sedang suara Dandanggula itupun telah berhenti.

Sementara itu, bulan pun telah rendah sekali, hampir sampai ke garis cakrawala, sehingga malam menjadi semakin kelam. Mahesa Jenar menjadi semakin mengeluh dalam hati. Dirasanya betapa picik pengetahuan serta rendah ilmu yang dimilikinya, sehingga dalam keadaan seperti ini sama sekali ia tidak berdaya.

Pada mulanya ia merasa, bahwa cukuplah kiranya bekal yang dimiliki untuk menghadapi kemungkinan-kemungkinan yang bakal datang dalam perantauannya. Tetapi ternyata menghadapi tokoh-tokoh macam Pasingsingan, Ki Ageng Pandan Alas, ia tidak lebih dari seorang anak kecil yang baru pandai berdiri.

Tiba-tiba saja ia menangkap bayangan yang membayang tepat di hadapan wajah bulan yang hampir lenyap itu. Heranlah Mahesa Jenar, kenapa baru saat itu ia menangkap bayangan yang berada di tempat terbuka.

Dalam keremangan bulan yang masih memancarkan sinarnya yang terakhir itu Mahesa Jenar dapat melihat dengan jelas bayangan dari dua orang, laki-laki dan perempuan. Ia hampir pasti bahwa perempuan itu adalah Rara Wilis, sedang laki-laki yang membimbingnya itu tampak bertubuh kurus tinggi.

Melihat hal itu berdebarlah jantungnya cepat sekali. Tetapi ketika ia hampir saja melompat mengejar bayangan itu, tiba-tiba ia menjadi tertegun heran. Kedua orang itu melambaikan tangannya kepadanya, seakan-akan menyampaikan ucapan selamat tinggal.

Terasa ada suatu kesan yang aneh meraba-raba hati Mahesa Jenar. Mula-mula timbul suatu perasaan yang sakit, ketika ia melihat Rara Wilis bersama-sama dengan seorang laki-laki yang tidak dikenalnya. Tetapi ketika Mahesa Jenar teringat akan lagu Dandanggula yang baru saja didengarnya, segera teringat pulalah ia akan Ki Ageng Pandan Alas. Lebih-lebih ketika ternyata laki-laki itu dengan tangannya yang lain melambaikan sebilah keris yang tampak seperti membara di keremangan malam.

Tahulah Mahesa Jenar, bahwa itulah Sigar Penjalin yang sudah berada di tangan pemiliknya. Juga mau tidak mau pastilah ia menghubungkan nama Ki Santanu dengan Ki Ageng Pandan Alas. Maka dengan sedih serta hati yang kosong, diluar sadarnya Mahesa Jenar mengangkat tangannya pula untuk melambaikan salam perpisahan.

Sesaat kemudian lenyaplah bayangan itu bersama dengan lenyapnya butiran-butiran yang pernah berkilau di hatinya.

Sekali lagi Mahesa Jenar lemas seperti kehilangan segala tulang-belulangnya. Sebagaimana manusia biasa, ia merasa betapa sedihnya perpisahan yang terjadi secara tiba-tiba itu.

Terbayanglah kembali segala peristiwa yang pernah terjadi, sejak pertama kalinya ia tertarik kepada wajah Rara Wilis yang terselip diantara beberapa orang yang akan menyeberang hutan Tambakbaya. Terbayang pula bagaimana pada malam pertama gadis cantik itu ketakutan mendengar teriakan-teriakan binatang hutan, serta bagaimana Jaka Soka berusaha untuk menculiknya, sehingga terpaksalah ia ikut serta dalam perkelahian antara para pengawal dengan Jaka Soka. Dengan terpaksa pula ia harus berhadapan untuk kedua kalinya dengan Lawa Ijo. Juga terbayang dengan jelas, bagaimana selanjutnya ia harus mengantar Rara Wilis seorang diri ke daerah Tambakbaya yang rasanya bagaikan tamasya yang tak akan terlupakan. Juga pada saat terakhir dimana ia menunggui gadis itu, yang tidur dengan nyenyaknya karena lelah. Kakinya, tangannya, dadanya yang penuh berisi serta rambutnya yang bergerak-gerak dibelai angin.

Mahesa Jenar terduduk di rerumputan liar sambil menutup mukanya dengan kedua belah tangannya. Ingin ia segera melenyapkan segala kenang-kenangan itu. Tetapi semakin keras ia berusaha, semakin jelas gambaran-gambaran itu menerawang di hatinya.

Sagotra juga masih saja berada di belakang Mahesa Jenar, dapat merasakan kesedihan Mahesa Jenar sepenuhnya. Meskipun selama ini perasaannya dikuasai oleh nafsu untuk membunuh, merampas dan sebagainya, tetapi sebagai manusia ia pun pernah merasakan tali batin yang pernah menjeratnya.

Tetapi sampai sekian, yang tak dimengertinya, kenapa Mahesa Jenar sama sekali tak berbuat apa-apa ketika ia menyaksikan bayangan yang tiba-tiba muncul di depan wajah bulan yang hampir tenggelam itu. Meskipun ia tahu betapa hebatnya orang yang membawa Rara Wilis itu, tetapi ia mengagumi Mahesa Jenar sebagai manusia luar biasa. Sehingga meskipun dengan agak ragu-ragu ia beranikan diri untuk bertanya,

"Tuan, kenapa Tuan tidak bertindak ketika mereka menampakkan diri di hadapan Tuan?"

Mahesa Jenar baru merasa bahwa ia berkawan, ketika ia mendengar sapa itu. Perlahan- lahan ia menoleh, serta menjawabnya.

"Sagotra, tidakkah kau tahu siapa dia? Sehingga tak akan bergunalah kalau aku mengejarnya."

"Siapakah orang itu, Tuan?" tanya Sagotra ingin tahu. "Ki Ageng Pandan Alas," jawab Mahesa Jenar.

"Ki Ageng Pandan Alas...?" ulang Sagotra terkejut.

"Jadi dialah orangnya yang mempunyai kesaktian sejajar dengan Ki Pasingsingan? "

Mahesa Jenar mengangguk perlahan, sedang Sagotra dengan penuh ketakjuban menggeleng-gelengkan kepalanya. Itulah sebabnya maka orang itu berhasil mengambil Rara Wilis tanpa diketahui oleh orang seperti Mahesa Jenar.

"Kenapa Rara Wilis ia ambil?" tanyanya lebih lanjut. "Adakah hubungan antara mereka? "

"Aku tidak tahu, Sagotra," jawab Mahesa Jenar.

"Tetapi yang aku ketahui adalah Rara Wilis membawa keris Sigar Penjalin." "Itulah pusaka Ki Ageng Pandan Alas," potong Sagotra.

"Ya," sambung Mahesa Jenar. "Tetapi Rara Wilis mengatakan, bahwa keris itu berasal dari kakeknya yang bernama Ki Santanu."

Tiba-tiba saja karena kata-katanya sendiri Mahesa Jenar teringat pada nama yang disebutkan Sagotra, yaitu Ki Ardi. Apalagi ketika ia memandang ke arah selatan, masih tampaklah di sana bayangan warna merah di udara. Maka timbullah kembali keinginannya untuk bertemu dengan orang itu. Sebab darinya ia ingin mendapat beberapa keterangan tentang orang-orang yang pernah tinggal di daerah itu. Karena itu katanya kepada Sagotra.

"Sagotra, marilah antarkan aku kepada Ki Ardi." "Masih adakah gunanya?" sahut Sagotra.

"Aku tidak tahu, Sagotra. Tetapi antarkan aku ke sana," jawab Mahesa Jenar.

Maka dengan tidak menjawab lagi Sagotra langsung berdiri serta bersama-sama Mahesa Jenar menempuh jalan ke arah selatan menuju rumah Ki Ardi.

Demikianlah malam menjadi gulita, karena kedipan bintang-bintang di langit tidak mampu menyibakkan gelapnya malam, mereka berjalan tanpa lagi banyak berbicara. Sagotra yang tampaknya sudah agak biasa berjalan di daerah ini, berjalan di depan. Sedang Mahesa Jenar, meskipun belum banyak mengerti tentang daerah yang dilalui, tetapi ia mempunyai pandangan yang tajam sekali, sehingga tidaklah banyak menemui kesulitan. Demikianlah maka setapak demi setapak mereka mendekati arah api yang masih menyala-nyala, maka setelah mereka berjalan beberapa lama, melewati padang ilalang, serta menyusup gerumbul-gerumbul kecil yang berserakan disana-sini, sampailah mereka di sebuah bukit kapur yang kecil. Mahesa Jenar serta Sagotra tidak langsung menampakkan diri, tetapi dari jarak beberapa depa mereka masih berdiri di semak-semak. Dari situlah mereka menyaksikan tempat kediaman Ki Ardi

Ki Ardi sendiri yang pada saat itu sedang berada disamping api yang menyala nyala, sedang memahat sebuah batu besar. Ternyata rumah Ki Ardi tidaklah lebih dari sebuah goa di bukit kecil itu, yang langsung menghadap ke batu besar yang sedang dipahatnya.

Ketika Mahesa Jenar mengamat-amati pahatan Ki Ardi itu, ia menjadi kagum. Di atas batu yang besar itu dipahatkan gambar seekor ular naga besar, yang tampaknya sedang marah, kepalanya menengadah ke atas, serta mulutnya menganga lebar. Disela-sela giginya yang runcing mengerikan itu tampaklah lidahnya menjulur keluar. Sedang ekor naga itu terurai ke belakang, berlekuk-lekuk. Di belakang serta di depan ular yang sedang marah itu, tampaklah dua ekor yang tak kalah garangnya, siap menerkam. Kuku-kuku serta taring-taring harimau itu tampak tajam menakutkan.

Sebelum itu Mahesa Jenar telah sering melihat pahatan-pahatan batu serta patung-patung yang bagus buatannya di kota-kota. Bahkan candi-candi yang termasyur pun telah sering pula dikunjungi. Namun pahatan Ki Ardi itu tidak pula kalah indahnya. Garis-garisnya tegas dan mantap, sehingga pahatan itu dapat mengungkapkan watak serta keadaan binatang-binatang itu sejelas-jelasnya.

Mereka yang menangkap pahatan itu segera akan dapat merasakan, bahwa seolah-olah sebentar lagi akan terjadi pergulatan dahsyat antara naga raksasa itu melawan dua ekor harimau yang ganas.

Sagotra yang hampir sepanjang hidupnya tak pernah mengenal arti bentuk semacam itu, tak begitu dapat mengenal betapa tinggi nilai pahatan Ki Ardi. Yang tampak olehnya pada saat itu tidaklah lebih gambar seekor naga yang hendak bertempur melawan dua ekor harimau. Tidak nampak olehnya mata naga itu sedemikian menyala karena marahnya, sedang kedua harimau itu telah begitu bernafsu untuk menguasai lawannya.

Mahesa Jenar yang mengagumi keindahan pahatan itu, tidak jemu-jemu selalu memandanginya dengan saksama. Baris demi baris dinilainya dari berbagai sudut. Tetapi lebih dari itu, mendadak ia terperanjat. Hatinya bergoncang hebat, sampai diluar sadarnya ia meloncat maju. Melihat hal itu, Sagotra menjadi terkejut pula. Apalagi yang menyebabkan Mahesa Jenar berbuat demikian? Tidak pula kalah kagetnya Ki Ardi sendiri, sampai-sampai ia terlonjak.

Apa yang nampak pada Mahesa Jenar, lukisan naga itu tidak lain daripada lukisan Keris Nagasasra. Ketika tanpa disengaja ia menghitung lekuk tubuh naga itu yang berjumlah 11, maka Nagasasra itu sekaligus mewujudkan dapur Sabuk Inten pula. "Nagasasra Sabuk Inten...?" desis Mahesa Jenar.

Ki Ardi yang masih belum dapat menguasai dirinya, menjadi ketakutan, sampai tubuhnya gemetar. Tanpa menduga-duga, tiba-tiba saja seseorang telah muncul di sampingnya tanpa suara.

Dengan mata yang menyorotkan berbagai dugaan Mahesa Jenar bergantian memandang kepada Ki Ardi dan hasil pahatannya yang berwujud Nagasasra Sabuk Inten. Melihat bentuk Naga yang hampir tepat seperti bentuk keris Kiai Nagasasra, yang hanya berbeda ukurannya saja, pastilah Ki Ardi pernah setidak-tidaknya melihat keris itu, sedang dapur Sabuk Inten yang menyamai lekuk keris Kiai Sabuk Inten pun menimbulkan dugaan pada Mahesa Jenar bahwa Ki Ardi pernah melihat kedua duanya, yang kebetulan pada saat ia meninggalkan Demak, kedua keris itu sedang lenyap dari gedung perbendaharaan.

Apalagi telah didengarnya pula dari Samparan bahwa ada kepercayaan golongan hitam, bahwa kedua keris itu telah mempunyai keturunan atau rangkapannya masing-masing yang justru sedang diperebutkan. Tetapi yang masih belum dapat diketahui dengan pasti adalah yang diperebutkan itu benar-benar rangkapannya atau malahan aslinya yang lenyap dari perbendaharaan Kerajaan Demak.

Berbagai pikiran hinggap pergi di kepala Mahesa Jenar. Tetapi tidaklah mungkin kalau hal ini hanyalah suatu kebetulan. Atau malah Ki Ardi termasuk salah seorang dari golongan hitam yang juga sedang memperebutkan keris itu? Sedemikian besar keinginannya untuk memilikinya, sehingga terwujud dalam pahatannya sebagai ungkapan perasaannya. Malahan tiba-tiba Mahesa Jenar teringat pada kata-kata Samparan beberapa hari yang lalu sebelum menghembuskan nafas terakhirnya, bahwa di kalangan hitam terdapat nama sepasang suami-istri Sima Rodra.

Tetapi menurut Samparan, Sima Rodra itu berdiam di Gunung Tidar. Namun tidak mustahil kalau si suami pergi merantau dalam usahanya menemukan Nagasasra dan Sabuk Inten. Kalau demikian halnya, anehlah kalau Lawa Ijo sampai tidak tahu, bahwa di daerahnya bermukim salah seorang saingannya. Kalau saja Sagotra yang tidak mengerti, itu adalah hal yang wajar.

Tetapi apa yang dilukiskan dalam pahatan itu, hampir jelas sekali. Dua ekor harimau yang dikatakan itu adalah suami Sima Rodra yang sedang siap menerkam seekor naga yang melukiskan Keris Kyai Nagasasra sekaligus Kyai Sabuk Inten.

Karena itu Mahesa Jenar ingin mendapatkan kepastian dari dugaannya. Kalau saja orang itu benar-benar Sima Rodra, pastilah ia mempunyai ketahanan yang setingkat dengan Lawa Ijo. Karena itu ia tidak ingin terlibat dalam pertempuran, sebab dalam keadaannya yang sekarang ini, dimana jiwanya sedang bergolak, maka tidaklah mustahil baginya, segera mengambil keputusan untuk mempergunakan ilmunya Sasra Birawa apabila sedikit saja ia terdesak. Karena itu ia ingin dengan singkat serta tanpa diduga-duga, menguasai orang itu, sehingga tidak usah terjadi pertempuran. Sedang ia akan dapat memaksa lawannya untuk memberi keterangan tentang kedua keris itu. Maka setelah Mahesa Jenar mendapat kepastian pikiran, segera dengan gerakan kilat ia meloncat menangkap dengan tangkapan mati pergelangan tangan Ki Ardi. Tetapi apa yang dialami adalah diluar dugaan. Ketika tangannya menyentuh kulit Ki Ardi terasalah bahwa tangan itu sedemikian kendornya, serta tak bertenaga. Sehingga Mahesa Jenar malah terkejut.

Dengan tak disengaja maka mulailah Mahesa Jenar memandangi tubuh Ki Ardi. Ternyata baru saat itulah ia dapat mengenal tubuh itu dengan seksama, sebab sejak kehadirannya, perhatiannya telah terikat oleh pahatan orang itu.

Ki Ardi meskipun tidak tergolong tinggi, namun ia tidaklah pendek. Umurnya telah agak lanjut, dan ini ditandai oleh kerut-kerut mukanya serta rambutnya yang sudah putih. Ketika Mahesa Jenar memandang mata orang tua, yang menatapnya dengan keheran- heranan atas kelakuannya, Mahesa Jenar menjadi terkejut. Meskipun orang itu matanya yang tampaknya sedemikian bening, seolah-olah air di dalam sumur, yang dalam sekali. Juga nampaklah dasarnya yang berputar-putar semakin lama semakin dalam, seakan-akan sumur itu akan mengisap hanyut. Mahesa Jenar menjadi semakin heran, bahkan kemudian menjadi cemas, sebab dirinya menjadi seakan-akan ikut serta berputar semakin cepat.

Sadarlah Mahesa Jenar kemudian, bahwa ia sama sekali tidak berhadapan dengan seorang yang mengutamakan kekuatan jasmaniah. Tetapi orang tua itu ternyata mempunyai kekuatan batin yang luar biasa, sehingga dengan kekuatan itu ia dapat mempengaruhi orang lain. Akhirnya Mahesa Jenar tidak tahan lagi melihat perputaran yang melilitnya itu, sehingga segera tangan Ki Ardi dilepaskan dan ia meloncat tiga langkah surut.

Sagotra sama sekali tidak tahu maksud serta akibat perbuatan Mahesa Jenar itu, sehingga ia masih saja berdiri diam seperti patung. Tetapi ia menjadi heran, ketika dilihatnya tiba- tiba Mahesa Jenar membungkuk hormat kepada orang itu, sambil berkata, Maafkan aku Ki Ardi, aku telah salah duga terhadap Bapak.

Ki Ardi masih saja memandanginya dengan sorot mata keheranan. Bahkan kesan-kesan ketakutannya pun masih ada. Dan inilah yang menjadikan Mahesa Jenar semakin pening. Orang yang mempunyai pengaruh sedemikian besarnya, hanya dengan sorot matanya saja, tetapi yang seakan-akan tidak sadar akan kekuatannya sendiri, sehingga masih saja berkesan ketakutan.

Mengalami hal yang demikian Mahesa Jenar berpikir keras. Bagaimanapun, ia adalah seorang bekas prajurit pengawal raja yang sudah sering mengalami hal-hal yang tampaknya diluar kewajaran. Maka dalam hal itu pun segera Mahesa Jenar sadar, bahwa pastilah ada suatu rahasia yang menyelubungi orang tua itu. Pastilah ada hal-hal yang sengaja disembunyikan. Mungkin ia sengaja berbuat demikian supaya orang tidak mengenal atau menduga, bahwa sebenarnya ia mempunyai kelebihan dari orang lain. Maka dengan hormatnya, sekali lagi Mahesa Jenar berkata, Maafkan, aku yang salah duga terhadap Bapak.

Sejenak kemudian tampaklah bibir orang itu bergerak-gerak dan terdengarlah suaranya kecil bergetar.

"Tuan, apakah salahku sehingga Tuan menyakiti aku?"

Mahesa Jenar menundukkan mukanya dengan penuh penyesalan atas kelancangannya. Maka jawabnya.

"Bapak, sama sekali Bapak tidak bersalah. Tetapi akulah yang berbuat kesalahan terhadap Bapak."

Orang tua itu tidak menjawab lagi. Hanya matanya yang sudah cekung itu merenung jauh sekali menembus gelap malam. Kembali Mahesa Jenar kagum atas mata itu, yang seakan-akan dapat menelan segala isi padang ilalang luas itu, bahkan isi dari hutan Tambakbaya.

Ingin ia menghubungkan orang tua ini dengan Ki Ageng Pandan Alas yang diduganya juga Ki Santanu. Tetapi Ki Ageng Pandan Alas adalah seorang yang mempunyai kekuatan jasmaniah luar biasa, sehingga hanya dengan kapak batu kuno ia dapat melukai sebatang pohon yang besarnya lebih dari empat pemeluk, hampir separonya. Sedangkan orang tua ini mempunyai tubuh yang kendor dan sama sekali tak bertenaga.

Apalagi baru beberapa saat berselang Ki Ageng Pandan Alas pergi bersama-sama Rara Wilis. Meskipun demikian, setiap kemungkinan bisa terjadi. Mengingat hal itu semua, Mahesa Jenar semakin sibuk berpikir.

Akhirnya ia mengambil ketetapan bahwa sebaiknya ia dengan baik-baik bertanya, mengenai pahatan itu.

"Bapak..., yang kau lakukan mendorong keinginanku untuk mengetahui pahatan yang sedang Bapak buat itu," kata Mahesa Jenar.

Orang itu menjadi heran mendengar kata-kata Mahesa Jenar.

"Adakah dengan membuat pahatan ini aku telah berbuat kesalahan terhadap tuan? " Jawab orangtua itu.

"Tidak Bapak," sahut Mahesa Jenar cepat-cepat, "Tetapi bolehkah aku bertanya, apakah yang sedang Bapak pahat itu? "

Kembali orang itu heran. Kemudian dengan langkah yang lambat serta agak kebongkok bongkokan orang itu berjalan menjauhi pahatannya beberapa depa, lalu mengamat-amati dengan seksama.

Tiba-tiba saja ia tersenyum, serta matanya menjadi cerah. "Pahatanku sudah hampir selesai. Apa yang tadi tuan tanyakan?"

"Pahatan itu Apakah yang sedang Bapak pahat?" tanya Mahesa Jenar.

"Tidakkah Tuan tahu "

Kata orang tua itu sambil mendekati pahatannya. Dan kemudian diraba-rabanya hasil kerjanya itu dengan mesra.

"Bukankah ini seekor naga? Katakanlah Tuan, apakah aku tidak berhasil melukis seekor naga?"

"Tentu, tentu," jawab Mahesa Jenar dengan cepat. "Lalu apa yang Tuan tanyakan?" tanya orang tua itu.

"Maksudku, apakah yang Bapak lukiskan itu seekor naga, atau suatu bentuk dari benda- benda yang pernah Bapak lihat sebelumnya?"

Orang tua itu semakin heran.

"Adakah Tuan pernah melihat sesuatu benda yang mirip dengan pahatanku ini?"

Mahesa Jenar jadi ragu. Mula-mula ia ingin mengatakan tentang keris Nagasasra yang mempunyai bentuk yang sama dengan pahatan naga itu. Mustahil kalau kesamaan itu hanyalah kebetulan saja. Kesamaan cita dalam cipta yang sampai sedemikian dekatnya dengan aslinya. Kesamaan yang sedemikian itu pastilah yang satu diilhami oleh yang lain atau malahan salinan sepenuhnya. Tetapi akhirnya diurungkannya keinginan itu. Karena tidak akan banyak gunanya. Sebab pastilah orang tua itu sengaja merahasiakan.

Akhirnya Mahesa Jenar hanya berkata.

"Tidak... pak, tetapi apa yang Bapak pahatkan adalah suatu bentuk yang dahsyat sekali. Ataukah Bapak pernah melihat seekor naga yang sedemikian?"

Ki Ardi mengerutkan keningnya, tetapi sejenak kemudian ia tersenyum.

"Belum, Tuan. Aku belum pernah melihat seekor naga pun. Yang pernah aku lihat hanyalah ular-ular kecil yang sering berkeliaran di sekitar tempat ini. Tetapi aku pernah mendengar dongeng dongeng tentang seekor naga. Nah, menurut gambaran angan anganku sedemikianlah kira-kira bentuknya." Kembali orang tua itu meraba-raba pahatannya. Ia nampaknya bangga serta bahagia sekali atas hasil kerjanya.

"Tuan...," katanya kemudian, "Silakan Tuan berdua duduk. Aku ingin menyelesaikan pekerjaan ini, sekarang juga. Sebab tidaklah mungkin untuk ditunda. Sementara itu silakan Tuan mendengarkan dongeng tentang naga yang sedang aku pahatkan ini."

Tanpa menunggu jawaban, Ki Ardi segera mulai dengan kerjanya kembali. Mahesa Jenar dan Sagotra segera mengambil tempat duduk di dekat api yang masih menyala-nyala. Suaranya gemeretak, karena ledakan-ledakan kecil yang ditimbulkan oleh dahan-dahan yang sedang dimakan api.

Sambil memahat, Ki Ardi mulai berceritera.

"Naga ini menurut ceritera dilahirkan dalam dua alam yang berbeda tempatnya. Tetapi dalam pahatanku ini, tidaklah kedua-duanya aku lukiskan, tetapi aku ingin mendapat satu bentuk kesatuan dari dua ekor naga itu. Seekor naga dilahirkan di samodra, sedangkan satu lagi dilahirkan di angkasa. Tetapi diatas bumi ini mereka bertemu dan bersahabat. Keanehan dari kedua ekor naga itu adalah, yang seekor bersisikkan emas, sedangkan yang seekor, di leher, perut serta ekornya berbalutkan intan permata. Pada suatu hari, raja yang sedang berkuasa diatas bumi ini, merasa disusahkan oleh seorang putrinya," kata Ki Ardi mengawali ceritanya.

"Putri itu," lanjut Ki Ardi, "jatuh cinta kepada seorang yang sama sekali tak dikehendaki oleh ayahandanya. Sebab laki-laki itu bukanlah laki-laki biasa. Menurut ceritera, laki-laki itu berasal dari bintang kemukus yang sering membawa bencana. Hanya karena laki-laki itu terlalu sakti, maka tidak ada yang berani mengganggunya. Maka pada suatu ketika bertemulah raja itu dengan kedua ekor naga yang sedang merantau mengelilingi bumi ini, raja itu kemudian minta kedua ekor naga itu untuk mengusir laki-laki yang mengganggu puterinya. Kedua ekor naga itu menyanggupinya. Didatanginya laki-laki yang berasal dari bintang kemukus itu. Maksudnya, apabila tidak perlu, masalahnya akan diselesaikan dengan damai. Tetapi rupanya laki-laki itu merasa yakin akan kesaktiannya, sehingga akhirnya terjadilah pertempuran yang maha dahsyat. Kedua ekor naga itu pun ternyata mempunyai kesaktian yang luar biasa. Laki-laki itu dengan bersenjatakan petir di kedua belah tangannya menyerang dengan ganasnya, sedangkan naga yang bersisik emas itu, dari mulutnya menyembur api yang menyala-nyala. Sementara itu naga yang bersisik intan permata itu, dari kedua matanya memancar sinar yang beracun."

"Tetapi karena kesaktian mereka masing-masing, senjata-senjata itu hampir tidak banyak berguna. Laki-laki bintang itu ternyata tidak saja mampu bertempur di atas daratan. Sekali-sekali ia terjun pula ke dasar lautan. Tetapi naga yang lahir di dalam samodra itu tidak membiarkannya, disusullah ia ke dasar lautan dan bertempurlah mereka di sana. Air laut pun menjadi bergolak seakan-akan mendidih. Kalau laki-laki itu jemu bertempur di lautan, terbanglah ia ke angkasa. Dan bertempurlah mereka di udara."

"Demikian dahsyat pertempuran itu sampai langit menjadi gelap, hanya kadang-kadang saja memancar kilat dan petir disela oleh semburan api yang tak terkira panasnya, keluar dari mulut naga bersisik emas itu."

"Demikianlah pertempuran itu berlangsung sampai 40 hari, 40 malam. Tetapi masih saja belum ada yang nampak akan kalah. Bahkan pertempuran itu semakin lama semakin sengit. Sekali waktu terjadi di dalam samodra, dan sekali waktu di angkasa," cerita Ki Ardi. 

Tiba-tiba orang tua itu berhenti, sambil perlahan-lahan ia berjalan mundur menjauhi pahatannya. Sebentar ia tersenyum dan sebentar kemudian keningnya berkerut.

"Tuan, pahatanku telah selesai. Apakah kata tuan tentang ini?" Kata orangtua itu kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar yang sejak semula telah merasakan keindahan pahatan itu menjawab, "Bagus, Ki Ardi."