Nagasasra dan Sabuk Inten Jilid 04

Jilid 04

Maka, diceriterakannya semua itu kepada Ki Asem Gede. Tentang ular yang bersinar putih kebiru-biruan serta tentang biji bisa Ular itu. Barangkali biji bisa itu dapat dipergunakan untuk mengobati kaki Wirasaba sebagaimana bisa ular Gundala Seta.

Ki Asem Gede dan Mantingan mendengar ceritera itu dengan penuh perhatian. Wajah Ki Asem Gede sebentar tampak berkerut, sebentar terkejut, kemudian sebentar menjadi cerah, untuk seterusnya muram kembali. Tetapi kemudian tiba-tiba jadi bersinar terang.

"Anakmas," kata Ki Asem Gede kemudian setelah Mahesa Jenar selesai berceritera,

"Ki Ageng Warana adalah raja dari segala tabib. Sayang aku sampai sekarang belum pernah berkesempatan bertemu dengan beliau. Sebab beliau adalah seorang yang aneh. Sebentar nampak, sebentar menghilang. Berbahagialah anakmas Nis dari Sela dapat bertemu dengan orang tua yang aneh itu. Dan berbahagia pulalah Anakmas Mahesa Jenar bersahabat dengan Anakmas Sela. Sebab menurut ciri-ciri yang Anakmas ceriterakan itu, ular yang menyambar demikianlah yang bernama ular Gundala."

“Tetapi Ki Ageng Warana tidak menamakan ular itu ular Gundala, tetapi disebutnya ular Gundala seta.” Mahesa Jenar menjelaskan.

Tiba-tiba cahaya mata Ki Asem Gede menjadi cerah secerah matahari pagi yang memercik diatas rumput-rumput hijau.

“Ya itulah Anakmas.... Memang terdapat beberapa dongeng mengenai ular ajaib itu.Sebagai senjata dewa-dewa, ia disebut Ular Gundala. Tetapi sebagai penggembala air dilangit ia disebut ular Candrasa Seta,” katanya hampir berteriak.

Kemudian Mahesa Jenar mengambil sebuah tabung bambu kecil yang diikatkan di bagian dalam pakaiannya. Tetapi meskipun obat itu tak pernah terpisah dari tubuhnya, bahkan ia pernah mendapat tusukan di simpul jalan darahnya oleh Ki Ageng Warana, namun ia masih belum pernah melihat bukti kasiatnya.

Ki Asem Gede menerima benda itu dengan dada berdebar. Diamat-amatinya benda itu dengan saksama. “Anakmas Mahesa Jenar, marilah kita lihat kasiat benda ini,”

Katanya. Kemudian Ki Asem Gedepun segera mengambil sebuah cawan tembikar dan bumbung berisi bisa. Segera biji bisa ular itu direndamnya di dalam air, lalu diteteskannya bisa dari dalam bumbungnya ke dalam air rendaman itu, setelah biji bisanya disisihkan kedalam tempat yang lain.

Apa yang terjadi sangatlah mengejutkan. Air di dalam cawan itu menjadi seakan-akan menggelegak dan mendidih. Maka setelah timbul beberapa gumpal asap, air di dalam cawan itu menjadi surut. Akhirnya sesaat kemudian air itu menjadi tenang kembali.

Semuanya memandang peristiwa itu tanpa berkedip. Kemudian berkatalah Ki Asem Gede,

“Ini adalah suatu benturan langsung antara dua jenis bisa tanpa perantara. Maksudnya adalah, bahwa kedua jenis bisa itu tidak bekerja atas sesuatu zat, misalnya yang satu membekukan sedang yang lain mencairkan darah. Dan anakmas dapat menyaksikan sendiri betapa hebatnya bisa Ular Gundala atau Candrasa itu.”

Mahesa jenar termenung sejenak. Lalu katanya.

“Kalau begitu, dapatkah Ki Asem Gede mengobati kaki kakang Wirasaba?”

“Akan aku coba, tetapi harus perlahan-lahan. Sebab bisa di dalam tubuh Wirasaba telah bekerja terlalu lama. Kalau tubuhnya itu tidak mempunyai daya tahan yang luar biasa, ia telah lama binasa. Karena itu aku tidak berani mengobatinya sekaligus. Benturan yang berlebihan di dalam tubuhnya antara dua jenis bisa itu akan dapat membunuhnya. Dan untuk itu akan memerlukan waktu,” jawab Ki Asem Gede.

Akhirnya Ki Asem Gede minta kepada Mahesa Jenar untuk diizinkan meminjam biji bisa itu. Ia akan mencoba sedikit demi sedikit mengobati kaki Wirasaba yang bertahun- tahun tak dapat dipergunakan.

Sementara itu malam menjadi semakin dalam. Bunyi jangkrik terdengar saling bersahutan dengan kemersik daun yang digerakkan oleh angin malam sejuk. Sementara itu, Ki Asem Gede atas nama anak menantunya mempersilahkan kedua tamunya itu untuk beristirahat.

Tetapi malam itu Mahesa Jenar sama sekali tidak berhasrat untuk tidur. Ketika ia sudah membaringkan dirinya, teringatlah kembali semua peristiwa yang dialaminya pada hari- hari terakhir. Maka barulah terasa penat-penat di bagian-bagian anggota badannya.

Selain itu terngianglah kembali semua ceritera Samparan pada saat terakhir sebelum menghembuskan nafasnya yang penghabisan. Tentang Lawa Ijo, tentang pertemuan yang akan diadakan oleh golongan hitam, tentang pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten, dan tentang seorang yang disebut oleh Samparan bernama Pasingsingan. Semuanya itu masing-masing bagi Mahesa Jenar memerlukan perhatian-perhatian khusus.

Sebenarnya kalau Lawa Ijo atas petunjuk Pasingsingan ingin mendapat pusaka Kiai Nagasasra dan Sabuk Inten dengan memasuki Gedung Perbendaharaan Istana, ia pasti akan kecewa. Sebab kedua pusaka itu sedang jengkar meninggalkan tempat penyimpanannya. Tak seorang pun yang mengetahui, kemana perginya dan siapa yang membawanya.

Sedangkan kepada Pasingsingan sendiri, Mahesa Jenar tak habis-habis heran. Bahkan hampir tak masuk akal, kalau sampai Pasingsingan mempunyai seorang murid semacam Lawa Ijo. Mengenai pertemuan golongan hitam itu pun akan merupakan suatu peristiwa yang cukup menarik.

Kecuali itu, bila Lawa Ijo telah menyatakan diri untuk mengambil bagian dalam pertemuan itu, pastilah bahwa pagi-pagi ia telah mempersiapkan diri. Ini berarti bahwa Lawa Ijo selalu berusaha untuk memperdalam segala ilmunya sampai sedalam-dalamnya. Apalagi di bawah asuhan seorang sakti yang bernama Pasingsingan.

Lalu bagaimanakah dengan dirinya? Dengan terbunuhnya salah seorang anggota gerombolan Lawa Ijo, bahkan saudara muda seperguruannya, berarti Mahesa Jenar sudah berhadapan langsung dengan golongan itu. Golongan Lawa Ijo yang bersarang di hutan Mentaok.

Karena itulah maka Mahesa Jenar mulai menilai dirinya kembali. Sebenarnya ia tidak ingin lagi mempergunakan tenaganya dan ilmu tata berkelahi yang pernah dipelajarinya untuk memecahkan soal. Tetapi berhadapan dengan gerombolan Lawa Ijo, soalnya menjadi lain. Terhadap gerombolan itu, dan gerombolan hitam umumnya, ia tak dapat berbuat lain, kecuali harus mempersiapkan diri dalam keadaan siaga tempur.

Maka, dengan tak sesadarnya Mahesa Jenar mengamat-amati tangannya dengan jari- jarinya yang kokoh kuat. Telah berapa jiwa melayang karenanya, selama ia berusaha menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Dan sekarang, tangan ini harus siap membunuh pula, juga untuk menegakkan keadilan dan kemanusiaan. Bahkan alangkah menariknya untuk mengetahui pula kejadian-kejadian dalam pertemuan yang akan diselenggarakan oleh golongan hitam itu, pada saat purnama naik, bulan terakhir tahun ini.

Maka dengan tidak sengaja pula, Mahesa Jenar bangkit dan berjalan mondar-mandir di dalam ruangan itu. Malam sudah begitu dalam dan sepi. Kecuali suara-suara binatang malam yang sekali-kali memecah sunyi.

Pada saat yang demikian tiba-tiba saja timbullah keinginan Mahesa Jenar untuk mencoba kembali kekuatan tenaganya. Mungkin akan berguna nanti. Kalau ada kesempatan, bukankah suatu hal yang baik sekali untuk membinasakan segala tokoh-tokoh hitam pada saat mereka berkumpul? Tetapi mereka pun bukanlah kumpulan anak-anak kecil yang dapat ditakut-takuti oleh seekor anjing yang sedang menggonggong. Belum lagi Mahesa Jenar mendapat sasaran untuk memulai, tiba-tiba didengarnya sayup- sayup suara yang bergetar panjang, mendirikan bulu roma. Suara itu menggetarkan udara seperti getaran gelombang pantai. Bagi penduduk Pucangan, suara itu memang sering terdengar. Bahkan hampir setiap malam, apabila kademangan itu telah terbenam dalam sunyi malam. Setiap penduduk kademangan yang mendengar suara mengerikan itu tubuhnya tentu akan menggigil karenanya.

Tetapi sebaliknya adalah Mahesa Jenar. Mendengar suara itu tiba-tiba timbullah kegembiraannya. Dengan lincahnya ia segera meloncat turun ke halaman. Untuk beberapa saat ia berdiri mendengarkan dari mana arah suara yang menggeletar itu. Mahesa Jenar merasa bahwa ia akan mendapat kawan berlatih yang baik. Maka kemudian dengan tidak berpikir panjang lagi. Segera ia meloncat dan seperti kilat berlari ke arah suara yang menarik hati itu, agak jauh di luar pedesaan.

Ketika sekali lagi suara itu terdengar semakin panjang, Mahesa Jenar menjadi bertambah gembira, sehingga ia semakin mempercepat langkahnya. Tampaklah ia kemudian seperti bayangan yang terbang dalam kegelapan. Setelah beberapa lama berlari, Mahesa Jenar menghentikan langkahnya. Dari sinilah arah suara tadi terdengar. Dengan hati-hati dan penuh kewaspadaan, ia mengamat-amati keadaan di sekitarnya, yang penuh semak-semak dan rumput-rumput ilalang yang tumbuh liar.

Tiba-tiba telinga Mahesa Jenar yang tajam menangkap suara berdesir dari dalam semak- semak itu. Cepat ia membalikkan diri ke arah suara itu, dan bersiaga. Apa yang dicari, kini telah muncul dari balik batang-batang ilalang.

Mahesa Jenar tersenyum, ketika dilihatnya seekor harimau loreng sangat besar, hampir sebesar kerbau, memandangnya dengan keheran-heranan. Matanya yang kehijaua-hijauan memancar seperti lentera yang menyorot kepadanya. Untuk beberapa saat harimau itu berdiri mematung. Agaknya harimau itu heran, manusia manakah yang telah mengantarkan dirinya sendiri untuk menjadi santapan malamnya.

Ketika harimau itu perlahan-lahan maju ke depan, darah Mahesa Jenar berdesir juga. Alangkah besar dan garangnya. Dan dengan tidak sesadarnya, kembali Mahesa Jenar mengawasi tangannya serta jari-jarinya yang kokoh kuat.

Pada telapak tangan Mahesa Jenar, seolah-olah terbayang apa yang pernah terjadi pada saat terakhir, sebelum gurunya melenyapkan diri dan kemudian ternyata wafat. Pada saat ia mendapat warisan ilmu yang sebenarnya sangat hebat. Suatu ilmu yang dapat dikatakan tersimpan di tangan Mahesa Jenar. Sebab kalau ia ingin menerapkan ilmu itu, haruslah dipergunakan sisi telapak tangannya.

Meskipun pada dasarnya ilmu itu mempergunakan kekuatan jasmaniah, tetapi tidaklah demikian seluruhnya. Bertahun-tahun Mahesa Jenar melatih diri meyakinkan ilmu itu, yang mempergunakan unsur-unsur gerak pendahuluan 10 macam. Sebelum itu ia masih harus membiasakan keadaan jasmaniahnya. Setiap pagi dan sore menghantamkan sisi telapak tangannya pada bermacam-macam benda. Dari pasir, kayu, sampai ke batu. Sepuluh unsur gerak pendahuluan itu hanyalah sekadar patokan untuk menekan lawannya sampai sedemikian rupa sehingga pada saat yang terakhir dimana keadaan sudah memungkinkan, dilontarkanlah pukulan dengan sisi telapak tangan.

Tetapi pukulan itu tidak akan memenuhi harapan, bila saat itu tidak dibarengi dengan suatu kekuatan batin yang luar biasa besarnya, serta pemusatan tenaga. Inilah sebenarnya yang sulit dilaksanakan. Untuk dapat melakukan ini semua, Mahesa Jenar harus bekerja keras beberapa tahun lamanya.

Latihan-latihan itulah yang sangat terasa berat. Pada taraf permulaan Mahesa Jenar harus melatih mengatur pernafasan, kemudian pemusatan pikiran dan terakhir menggabungkan segenap kekuatan lahir batin. Semua itu untuk disalurkan lewat sisi telapak tangannya.

Dalam pelaksanaannya tidaklah mesti 10 unsur gerak itu dilakukan berurutan. Tetapi unsur yang hanya sekadar merupakan patokan yang dapat dibolak-balik, diambil beberapa bagiannya saja menurut kebutuhan. Bahkan dapat dimasuki dan digabungkan dengan unsur-unsur gerak yang lain.

Setelah Mahesa Jenar menjalani semua latihan-latihan itu, hasilnya sangat hebat. Tangan Mahesa Jenar, bila dikehendaki seolah-olah dapat berubah menjadi palu besi yang sangat berat.

Tetapi meskipun demikian, sampai saat itu Mahesa Jenar belum pernah mempergunakan ilmunya itu untuk melawan sesama manusia. Ia baru mencoba menghantam-hancurkan kayu dan bahkan batu. Tetapi terhadap sesama manusia, Mahesa Jenar masih belum sampai hati mempergunakannya. Sebab, akibatnya dapat dibayangkan.

Namun sekarang Mahesa Jenar merasa berhadapan dengan lawan yang tak dapat diabaikan. Apalagi Lawa Ijo adalah murid Pasingsingan. Lebih-lebih kalau Pasingsingan sendiri ikut campur dalam urusan ini.

Karena itu, Mahesa Jenar memutuskan, bahwa ia harus mempersiapkan ilmunya itu. Ilmu yang pernah dipelajarinya dengan sungguh-sungguh dan bersusah payah.

Sekarang, ia mendapat sasaran yang tepat. Seekor harimau loreng yang sangat besar sekali, yang pasti sangat mengganggu penduduk di sekitar daerah ini. Sebab seekor harimau yang hampir sebesar kerbau ini tentu akan senang menangkap ternak para petani.

Meskipun kekuatan jasmaniah harimau sebesar itu, jauh berlipat dari kekuatan jasmaniah manusia biasa, Mahesa Jenar yakin bahwa ia akan dapat mengatasinya, dengan ilmunya yang oleh gurunya disebut Sasra Birawa.

Sementara itu, Mahesa Jenar segera tersadar oleh suara gemersik kaki harimau yang berdiri tidak jauh di hadapannya. Harimau itu telah merunduk sangat rendah, dan siap menerkam. Sambil mengaum keras, harimau itu dengan garangnya meloncat akan menerkam Mahesa Jenar. Kedua kaki depannya menjulur hampir lurus dengan tubuhnya. Kuku- kukunya yang tajam siap merobek-robek mangsanya. Sedang taring-taringnya yang tajam-runcing, menyeringai. Mengerikan sekali.

Tetapi Mahesa Jenar adalah seorang yang telah terlatih baik untuk menghadapi setiap kemungkinan dan segala macam bahaya. Maka ketika dilihatnya harimau itu meluncur menerkamnya, dengan cekatan Mahesa Jenar merendahkan diri dan meloncat ke samping.

Harimau itu kembali mengaum dengan hebatnya. Rupanya ia sangat marah ketika mangsanya terlepas dari terkamannya. Tetapi selama harimau itu masih mengapung di udara, ia sama sekali tak dapat mengubah geraknya.

Ketika harimau itu mendarat di tanah, ia menjadi terkejut sekali. Tidak saja karena sasarannya telah menghindarkan diri, tetapi juga karena tiba-tiba saja terasakan sesuatu yang menghantam punggungnya, dan bahkan seperti melekat dengan eratnya.

Setelah Mahesa Jenar berhasil menghindarkan diri, maka tepat pada saat harimau itu menjejakkan kakinya di atas tanah, dengan kecepatan luar biasa Mahesa Jenar meloncat ke atas punggung harimau itu, dan menghantamnya sekali. Seterusnya kedua tangannya dengan eratnya berpegangan pada leher harimau itu.

Tetapi harimau adalah binatang yang mempunyai kekuatan yang luar biasa. Pantaslah kalau disebut raja hutan. Apalagi seekor harimau yang sedang marah, seperti yang sedang dihadapi oleh Mahesa Jenar.

Harimau itu menggeliat dengan sepenuh tenaga untuk melepaskan pegangan Mahesa Jenar. Tetapi Mahesa Jenar dengan eratnya mencengkeram leher harimau itu, sehingga tangan itu tidak terlepas.

Akhirnya harimau yang sudah mencapai puncak kemarahannya itu meloncat tinggi. Setelah terjun kembali, segera menjatuhkan diri dan bergulingan di tanah. Bagaimanapun eratnya pegangan Mahesa Jenar, tetapi mengalami hal yang demikian tak urung tangannya terlepas juga. Bahkan ia terlempar ke samping, sampai beberapa langkah dan jatuh berguling-guling. Untunglah bahwa Mahesa Jenar memiliki keuletan yang luar biasa.

Demikian Mahesa Jenar jatuh terguling beberapa kali, segera ia meloncat dan tegak kembali tepat pada saatnya. Sebab pada saat itu, harimau yang marah itu telah siap kembali menerkam. Tetapi setelah mengalami kegagalan, rupanya harimau itu mendapat suatu pengalaman, bahwa dengan suatu terkaman dari jarak yang jauh, ia tak berhasil menguasai mangsanya. Maka kali ini harimau itu tidak lagi merunduk lalu meloncat. Perlahan-lahan tetapi pasti, harimau itu mendekati lawannya. Mahesa Jenar bertambah berhati-hati melihat perubahan sikap harimau itu. Untuk melawan langsung seekor harimau sangatlah berbahaya. Kuku-kukunya serta gigi-gigi yang tajam itu dapat merobek kulitnya. Maka diputuskannya untuk segera mengakhiri perkelahian. 

Mahesa Jenar segera bersikap. Tanpa mempergunakan unsur-unsur pendahuluan untuk menekan lawannya. Ia berdiri di atas satu kakinya, menghadap langsung pada harimau itu. Satu kaki lainnya diangkat dan ditekuk ke depan. Sebelah tangannya menyilang dada, sedangkan tangan kanannya diangkat tinggi-tinggi.

Mahesa Jenar secepatnya mengatur peredaran nafasnya, memusatkan pikiran dan menyalurkan segala kekuatan lahir dan batin ke sisi telapak tangannya. Maka ketika harimau itu mengaum dahsyat, serta dengan garangnya menerkamnya, Mahesa Jenar pun telah siap dan terdengar ia berteriak nyaring.

Ia memutar kaki yang diangkatnya itu setengah lingkaran dan membuat satu loncatan kecil kesamping. Berbareng dengan itu, tangan kanannya terayun deras sekali menghantam tengkuk harimau itu. Akibatnya adalah dahsyat sekali. Harimau itu mengaum lebih keras lagi dibarengi dengan gemeretak tulang patah.

Sekejap kemudian harimau itu melenting tinggi, dan sesaat lagi terdengarlah gemuruh tubuhnya jatuh ke tanah, tidak bergerak lagi selama-lamanya. Harimau itu mati karena patah tulang lehernya oleh kekuatan tangan Mahesa Jenar yang telah mempergunakan ilmu Sasra Birawa.

Sesaat kemudian malam menjadi sunyi kembali. Yang terdengar, kecuali tarikan nafas Mahesa Jenar, adalah suara-suara binatang malam dan belalang bersahutan.

Di langit, bintang-bintang gemerlapan, seperti permata yang ditaburkan di atas selembar permadani biru kelam.

Dengan tajamnya Mahesa Jenar mengawasi lawannya yang sudah tidak bernyawa lagi itu. Ia dapat sedikit berbangga hati, bahwa sampai sekarang ia mendapat kebahagiaan untuk memiliki ilmu gurunya yang dahsyat itu. Seandainya yang dikenai itu manusia biasa, maka dapatlah dibayangkan, bahwa manusia itu akan hancur lebur tanpa sisa.

Belum lagi Mahesa Jenar puas menikmati kemenangannya, tiba-tiba terdengarlah suara gemersik ilalang di belakangnya. Cepat-cepat ia memutar tubuhnya dan segera bersiaga.

Tetapi ketika ia melihat siapakah yang berdiri di belakangnya, ia menjadi terkejut bukan kepalang. Kalau misalnya Lawa Ijo yang berada di situ, ia tidak akan seterkejut pada saat itu. Ternyata yang berdiri di belakangnya, dengan wajah cerah, secerah bintang yang gemerlapan di langit, adalah Nyai Wirasaba.

Dalam beberapa saat Mahesa Jenar tidak dapat mengucapkan sepatah katapun, sedang Nyai Wirasaba tertunduk malu. Tetapi kemudian, Mahesa Jenar berhasil menguasai perasaannya, dan dengan sedikit tergagap ia bertanya.

“Nyai Wirasaba, kedatangan Nyai sangat mengejutkan aku.”

Nyai Wirasaba masih diam tertunduk. Sampai Mahesa Jenar meneruskan, “Apakah yang Nyai maksudkan, sehingga Nyai memerlukan datang kemari?”

Akhirnya Nyai Wirasaba menjadi seperti tersadar dari sebuah mimpi. Memang kedatangannya pun adalah seperti peristiwa dalam mimpi.

Nyai Wirasaba, pada saat sebelum perkawinannya, sangat mengagumi suaminya karena ketangguhan, kejantanan serta keberaniannya. Tetapi kemudian suaminya menjadi lumpuh, sehingga tak ada lagi yang dapat dikaguminya. Meskipun demikian ia tetap mencintainya.

Tiba-tiba muncullah seorang yang menurut anggapannya sangat mengagumkan pula, berani dan bersifat jantan. Ketika Mahesa Jenar keluar dari ruang tidurnya dan berdiri di halaman, sebenarnya Nyai Wirasaba sudah berada di halaman pula, untuk membeningkan pikirannya yang kusut. Mendadak pada saat itu terdengarlah aum harimau di kejauhan.

Ketika dilihatnya Mahesa Jenar, menjadi gembira dan berlari ke arah suara itu, tanpa sadar ia segera mengikutinya untuk sekadar dapat menyaksikan sikap jantan Mahesa Jenar.

Meskipun ia tidak berlari secepat Mahesa Jenar, arah suara harimau yang mengaum berkali-kali itu telah menuntunnya sampai ke tempat pertarungan itu. Apalagi ketika ia menyaksikan bagaimana Mahesa Jenar membunuh lawannya. Hatinya menjadi melonjak dan tak dapat dikuasainya lagi.

Karena itulah, ketika ia mendengar pertanyaan Mahesa Jenar, ia menjadi agak bingung. Tetapi kemudian dijawabnya juga dengan penuh kejujuran.

“Aku tidak tahu, kenapa aku kemari.” “Tidak tahu?” sahut Mahesa Jenar heran.

“Ya, aku tidak tahu. Mungkin hanyalah terdorong oleh keinginanku menyaksikan suatu peristiwa yang dapat mengungkat kembali suatu kenang kenangan yang indah pada masa muda.”

“Apa yang Nyai Wirasaba lakukan adalah sangat berbahaya. Bagaimana kalau aku tidak dapat memenangkan pertandingan ini? Barangkali Nyai Wirasaba pun akan menjadi santapan macan loreng itu,” kata Mahesa Jenar kemudian.

“Tidak mungkin. Aku yakin kalau harimau itu akan terbunuh,” jawab Nyai Wirasaba. “Nyai Wirasaba yakin?” tanya Mahesa Jenar. Matanya memancarkan berbagai pertanyaan.

Kembali Nyai Wirasaba tertunduk diam. Dia sendiri tidak tahu kenapa ia mempunyai perasaan demikian.

“Nah, sebaiknya Nyai Wirasaba sekarang pulang. Adalah berbahaya sekali bagi Nyai untuk tetap berada disini.” Mahesa Jenar menasehati seperti anak kecil yang kemalaman bermain.

Tetapi Nyai Wirasaba tetap tak bergerak. Bahkan tiba-tiba saja perasaannya terbang ke alam angan-angan yang pahit. Tiba-tiba saja ia rindukan kembali masa gadisnya beberapa tahun lampau. Saat-saat pertemuan dan perkenalannya dengan Ki Wirasaba, serta cita- citanya untuk dapat menimang seorang anak laki-laki yang segagah, seberani dan sejantan ayahnya. Tetapi sekarang, selama Wirasaba lumpuh, hampir seluruh bagian bawah tubuhnya, selama itu pula ia tak dapat mengharap menimang seorang anak laki- laki seperti yang dirindukannya.

Kembali perasaan Nyai Wirasaba melonjak dan tak dapat dikendalikan, sehingga tiba- tiba ia tersedan.

Mahesa Jenar adalah seorang laki-laki yang mempunyai perbendaharaan pengalaman yang luas sekali. Tetapi meskipun ia pernah berkenalan dengan banyak sekali wanita, ia sendiri belum pernah bergaul terlalu rapat.

Sehingga wanita baginya adalah makhluk yang asing, yang mempunyai perasaan di luar kemampuannya untuk menjajaginya. Apalagi ia sendiri belum beristri. Maka ketika dilihatnya Nyai Wirasaba menangis, hatinya menjadi bingung kalang kabut.

Mahesa Jenar menjadi semakin tidak mengerti apa yang harus dilakukannya. Ia sendiri tidak merasakan adanya suatu kesalahan yang dapat menusuk perasaan. Karena itu untuk beberapa saat ia hanya dapat berdiri diam seperti patung, sedangkan perasaannya bergolak menebak-nebak, apakah sebabnya Nyai Wirasaba menangis. Akhirnya ia sampai pada suatu kesimpulan yang sangat ditakutinya.

Karena pengetahuan Mahesa jenar tentang perasaan seorang wanita sangat sempit, maka ia telah mempunyai tanggapan yang salah terhadap Nyai Wirasaba.

Karena itulah ia bertambah cemas.

“Nyai, aku telah mengorbankan harga diriku dengan tidak menerima tantangan Ki Wirasaba, sekedar untuk mengembalikan suasana ketenteraman rumah tangga kalian. Dan sekarang, ketenteraman yang sudah hampir pulih kembali itu akan terganggu pula, apabila kita berdua pada malam begini berada di tempat ini. Karena itu pulanglah dan lupakanlah segala angan angan itu,” kata Mahesa Jenar dengan suara gemetar.

Nyai Wirasaba adalah seorang wanita yang berperasaan halus, sehalus rambut dibelah tujuh. Ditambah pula sudah beberapa tahun ia meladeni suaminya yang cacat kaki, sehingga ia menjadi semakin perasa.

Maka ketika ia mendengar perkataan Mahesa Jenar, ia terperanjat. Meskipun Mahesa Jenar sama sekali tak bermaksud jahat, dan perkataannya itu diucapkan dengan jujur menurut perasaannya, tetapi akibatnya seperti sembilu yang lansung membelah ulu hati Nyai Wirasaba. Sebagai seorang wanita yang dididik oleh seorang saleh seperti Ki Asem Gede, maka sudah tentu ia mementingkan sifat-sifat keutamaan seorang wanita. Diantaranya sifat setia dan bakti kepada suaminya.

Dengan demikian, maka perkataan Mahesa Jenar telah menggelorakan darahnya. Ia merasa tersinggung dengan anggapan itu. Meskipun ia sangat mengagumi keperwiraan seseorang, namun ia menjadi gusar juga karena tuduhan itu. Maka dijawabnya kata-kata Mahesa Jenar itu dengan suara yang bergetar.

“Tuan, aku telah mengagumi keperwiraan Tuan, keberanian dan kejantanan Tuan. Dan dengan tidak sadar pula aku telah mengikuti Tuan sampai ke tempat ini untuk menyaksikan keperwiraan Tuan. Hal ini mungkin disebabkan aku terlalu mengagumi kejantanan suamiku pada masa muda kami berdua. Dengan menyaksikan kejantanan Tuan, aku mendapat suatu jembatan yang dapat menghubungkan kembali kepada kenangan masa silam. Suatu masa yang penuh dengan harapan dan cita-cita. Tetapi Tuan telah menuduh aku dengan tuduhan yang menyakitkan hatiku.” Suara Nyai Wirasaba tersekat di kerongkongan oleh air matanya yang mendesak.

Mendengar jawaban itu Mahesa Jenar tidak kurang terperanjatnya. Tetapi ia tetap tidak dapat mengerti, Kalau demikian halnya, mengapa seorang wanita seperti Nyai Wirasaba sampai bersusah payah mengikutinya. Karena Mahesa Jenar adalah seorang yang berdada terbuka serta tidak suka menyembunyikan perasaannya, maka berkatalah ia,

“Tetapi sampai demikian perlukah Nyai Wirasaba pergi ke tempat ini pada malam begini?”

Sekali lagi dada Nyai Wirasaba yang penuh itu terguncang. Ia menjadi bertambah gusar mendengar kata-kata Mahesar Jenar itu. Tetapi seperti halnya Mahesa Jenar yang tak dapat menjajagi perasaannya, Nyi Wirasaba pun tidak tahu sama sekali akan ketulusan hati Mahesa Jenar. Bahkan ia menyangka bahwa dalam kesempatan itu Mahesa Jenar ingin memancing-mancing untuk meraba-raba perasaannya. Karena itu dengan marahnya ia berkata.

“Tuan, aku tidak menyangka bahwa hati Tuan ternyata palsu. Maka baru sekarang aku mengerti kenapa suamiku berkata, bahwa tak mungkin seseorang menyabung nyawanya tanpa pamrih. Tetapi Tuan jangan mimpikan air mengalir ke udik.” Sekarang Mahesa Jenar yang merasa dadanya terguncang. Ia tidak dapat membayangkan bahwa wanita cantik seperti Nyai Wirasaba itu dapat sedemikian marahnya sehingga mengeluarkan kata-kata yang menusuk perasaan demikian pedihnya. Karena itu, seluruh tubuh Mahesa Jenar menggigil karena ia berusaha menahan diri. Disamping itu ia mulai merasa bahwa mungkin perkataan-perkataannya telah menyinggung perasaan Nyai Wirasaba. Maka dalam kebingungan itu, ia hanya dapat berdiri terpaku seperti patung.

Tak ada sepatah katapun yang diucapkan. Sampai Nyai Wirasaba menyambung pula,

“Tuan, barangkali Tuan menyangka bahwa suamiku hanya dapat bermain main dengan suatu permainan yang jelek dengan Samparan. Tetapi ketahuilah Tuan, bahwa aku mengharap ia lekas sembuh. Dan sesudah itu aku tidak tahu apakah aku masih dapat mengagumi ketangkasan Tuan di hadapan suamiku.”

Sekali lagi dada Mahesa Jenar terguncang. Ia adalah seorang laki laki yang mengutamakan keperwiraan seorang ksatria. Ia sudah menahan dirinya sekian lama sejak ia menerima sindiran-sindiran Wirasaba di hadapan Mantingan dan Ki Asem Gede. Seandainya Nyai Wirasaba tidak langsung menyinggung harga dirinya sebagai seorang laki-laki, mungkin ia masih dapat menahan dirinya, meskipun dadanya akan menjadi sesak.

Tetapi sekarang, Nyai Wirasaba yang karena marahnya, telah langsung merendahkan harga dirinya sebagai seorang laki-laki dengan memperbandingkannya dengan Wirasaba. Karena itulah maka Mahesa Jenar tidak dapat lagi membendung aliran perasaannya yang semakin deras mendesak dan telah cukup lama tertahan. Meskipun demikian ia masih berusaha untuk menyambut tantangan itu dengan sebaik mungkin, meskipun nafasnya menjadi berdesakan.

“Mudah-mudahan Ki Wirasaba lekas sembuh. Dan aku akan mencoba melayaninya, meskipun barangkali aku tidak akan dapat memberi kepuasan... dan ”

Sebenarnya masih banyak yang akan diucapkan Mahesa Jenar, tetapi ia tidak tahu bagaimana melakukannya. Sedangkan yang keluar dari mulutnya adalah,

“Nyai, kalau ada kesalahanku maafkanlah, tak ada gunanya aku lebih lama tinggal di sini. Perkenankanlah aku pergi. Tolong pamitkan kepada mereka berdua, dan lain kali aku mengharap dapat bertemu kembali. Juga kepada Ki Wirasaba, sampaikan salamku, sampai bertemu apabila ia telah sembuh kembali.”

Belum lagi Mahesa Jenar mengucapkan seluruh kata-katanya, terdengar suara Nyai Wirasaba hampir berteriak.

“Salahkulah kalau aku sampai datang kemari, apapun sebabnya, karena aku seorang wanita.” Kemudian diluar dugaan Mahesa Jenar, Nyai Wirasaba segera berlari meninggalkan tempat itu.

Mahesa Jenar terpaku di tempatnya.

“Alangkah tumpulnya perasaanku. Sungguh aku tidak mengerti, apa yang baru saja terjadi,” gumamnya.

Belum lagi Mahesa Jenar menemukan jawaban, didengarnya dari arah samping suara gemersik rumput kering. Cepat ia memutar tubuhnya menghadap ke arah suara itu.

Ternyata apa yang dijumpainya mengejutkannya pula. Orang yang datang itu adalah Ki Dalang Mantingan. Sesaat darah Mahesa Jenar jadi berdegupan. Kalau ada orang ketiga yang menyaksikan hadirnya Nyai Wirasaba di tempat itu, dapatlah menimbulkan bermacam-macam kemungkinan. Tetapi karena ia percaya bahwa sahabatnya itu tidak akan menjelekkan namanya, maka segera ia pun dapat menguasai dirinya kembali.

Sementara itu terdengar Mantingan berkata.

“Adimas, maafkanlah kalau kedatanganku sangat mengejutkan Adimas.”

“Tidak. Tidak seberapa Kakang Mantingan. Tetapi sudah lamakah kakang berada di sini?” jawab Mahesa Jenar sambil menggeleng lemah.

“Sudah... Sudah lama. Aku menyaksikan semua yang terjadi. Sejak Adimas membunuh harimau itu dengan tangan, sampai perselisihan paham yang terjadi antara Adimas dan Nyai Wirasaba,” sahut Mantingan.

Mahesa Jenar menundukkan kepalanya sambil kembali menggeleng lemah. Kemudian katanya.

“Aku tidak mengerti kenapa hal-hal serupa itu bisa terjadi. Kau dengar seluruh pembicaraan kami Kakang?”

“Seluruhnya. Aku datang ke tempat ini bersamaan waktunya dengan Nyai Wirasaba,” jawab Mantingan.

“Kau tahu bahwa aku di sini?” tanya Mahesa Jenar lebih lanjut.

“Ya, sebab ketika aku mendengar aum harimau dan terbangun dari tidurku, aku tidak melihat Adimas di pembaringan. Segera aku pergi mencarinya. Ketika aku turun ke halaman, aku melihat Nyai Wirasaba sedang berlari dengan kencangnya ke arah suara harimau itu. Tentu saja aku tidak dapat membiarkan hal semacam itu. Segera aku pun pergi menyusulnya. Dan seterusnya seperti apa yang terjadi di sini.”

Mendengar keterangan   Mantingan,   Mahesa   Jenar   menarik   nafas   dalam-dalam. Kemudian untuk beberapa saat mereka berdiam diri, tenggelam dalam pikiran masing- masing. Sampai kembali Mantingan berkata.

“Adimas, sebenarnya apa yang terjadi hanyalah karena kesalah-pahaman belaka.” “Apa pendapat Kakang tentang hal itu?” sela Mahesa Jenar.

“Maafkanlah kalau aku katakan, bahwa tidak banyak yang Adimas ketahui tentang perasaan seorang wanita. Sebaliknya Nyai Wirasaba menerima keterbukaan dada Adimas itu dengan kemasgulan dan kegusaran. Sebenarnya tak ada persoalan apa-apa antara Adimas dan Nyai Wirasaba. Karena itu tak ada alasan bagi Adimas untuk tergesa-gesa pergi.”

Mahesa Jenar diam sejenak. Ia mencoba mencerna keterangan Ki Dalang Mantingan. Tetapi akhirnya kembali ia menggeleng lemah. Katanya.

“Kakang Mantingan, aku kira lebih baik aku pergi. Banyak hal yang tidak menguntungkan apabila aku tetap tinggal di sini. Kakang tahu bahwa aku bukanlah seorang yang sabar dan pradah untuk menerima perangsang perangsang yang dapat membakar perasaanku. Aku juga masih belum tahu apakah Wirasaba sudah puas dengan kematian Samparan.”

Kembali mereka berdiam diri. Udara malam yang lembab di daerah pegunungan mengalir dibawa arus angin perlahan-lahan. Dan dalam keheningan itu kembali suara- suara malam bertambah jelas.

Sebenarnya sangatlah berat perasaan Mantingan untuk melepas Mahesa Jenar pergi. Meskipun baru beberapa hari ia mengenalnya, namun seolah-olah hatinya telah tergenggam erat dalam tali persahabatan. Karena itu ia berusaha keras untuk menahan Mahesa Jenar.

“Adimas,” katanya sejenak kemudian mengusik sepi malam.

“kalau Adimas berkeras untuk meninggalkan tempat ini, bukankah lebih baik Adimas pergi ke Prambanan? Kakang Demang Penanggalan akan merasa berbahagia kalau Adimas sudi tinggal beberapa hari di rumahnya.”

Mahesa Jenar tidak segera menjawab ajakan itu. Memang pernyataan yang demikian itu mungkin sekali. Tetapi mengingat kemungkinan-kemungkinan lain, dimana Ki Asem Gede turut berkepentingan, adalah kurang pada tempatnya. Sedangkan ia sama sekali tidak mengerti persoalannya. Tidaklah enak perasaan Mahesa Jenar untuk meninggalkan keluarga Ki Asem Gede dan kemudian tinggal pada keluarga Mantingan.

Dengan demikian suasana menjadi kaku, seperti garis-garis karang di tebing-tebing pegunungan yang merupakan lukisan-lukisan hitam di atas dasar kebiruan langit yang ditaburi bintang-bintang.

Akhirnya Mahesa Jenar mengambil suatu ketetapan. Ia harus pergi meninggalkan daerah itu.

“Kakang Mantingan, terpaksa aku tidak dapat mengubah keputusanku. Banyak hal yang dapat aku lakukan kalau aku melanjutkan perjalananku. Mungkin aku dapat menemukan sarang Lawa Ijo di hutan Mentaok atau gerombolan orang-orang berkuda yang membuat upacara-upacara aneh dengan mengorbankan gadis-gadis itu.”

Sampai sekian Mantingan sudah menduga bahwa sulitlah baginya untuk tetap menahan Mahesa Jenar. Sementara itu Mahesa Jenar meneruskan.

“Kakang Mantingan, meskipun aku bukan lagi seorang prajurit, namun aku masih tetap ingin mengabdikan diriku. Sebab pengabdian yang sebenarnya tidak harus melulu ditujukan kepada raja, tetapi sebenarnyalah bahwa pengabdian harus ditujukan kepada rakyat. Karena itu aku akan merasa berbahagia sekali kalau aku dapat berbuat sesuatu untuk ketenteraman hati rakyat. Nah kakang Mantingan, sampai sekian saja pertemuan ini.”

Tak sepatah katapun yang dapat diucapkan Mantingan. Betapa kagumnya ia terhadap Mahesa Jenar yang telah menemukan garis tujuan bagi hidupnya. Meskipun ia sendiri juga selalu berusaha untuk melakukan hal-hal yang serupa, yaitu membasmi kejahatan, tetapi apa yang dilakukannya itu adalah diluar kesadaran bagi sesuatu tujuan yang besar. Karena itu apa yang dilakukannya adalah suatu perbuatan sepotong-sepotong tanpa suatu garis penghubung dari yang satu dengan yang lain.

Kemudian terdengar kembali Mahesa Jenar berkata.

“Kakang Mantingan, sampai di sini kita berpisah. Mudah-mudahan kita dapat bertemu lagi. Kalau Kakang Mantingan tidak berkeberatan, di akhir tahun ini, dua hari sebelum purnama penuh, kita bertemu di sekitar Banyu Biru dan Rawa Pening. Bukankah pada saat itu akan terjadi sesuatu yang penting?”

Seperti diperingatkan akan kelalaiannya, Mantingan menjawab.

“Baiklah Adimas. Baiklah kita menyaksikan pertemuan para tokoh-tokoh sakti dari aliran hitam itu. Sementara itu masih ada waktu bagiku untuk sedikit menambah pengetahuanku yang sangat picik ini. Sesudah itu aku juga akan segera kembali ke Wanakerta. Mudah-mudahan aku diizinkan oleh guruku, Ki Ageng Supit.”

“Aku kira Ki Ageng Supit tidak akan keberatan, selama apa yang kita lakukan tidak bertentangan dengan garis kebijaksanaan negara. Nah, Kakang Mantingan, selamat tinggal. Salamku buat Ki Asem Gede dan Demang Penanggalan.”

Dengan perasaan yang sangat berat Mantingan melepas Mahesa Jenar pergi. Sebenarnya Mahesa Jenar pun merasa betapa beratnya meninggalkan daerah ini, meskipun ia mengalami banyak hal yang tak menyenangkan. Tetapi justru karena itu ia akan tetap terkenang pada sahabat-sahabatnya, dimana ia sendiri sedang mengalami kesulitan.

Kini kembali Mahesa Jenar dengan pengembaraannya. Mula-mula ia berjalan menyusur jalan yang dilaluinya ketika ia mengikuti Ki Asem Gede. Tetapi ia tidak mau terus sampai ke Prambanan. Karena itu, ketika jalan ini akan memasuki belukar, ia mengambil jurusan lain. Ia memilih jalan yang membelok ke barat, menyeberangi Sungai Opak. Meskipun ia sama sekali belum mengenal daerah yang dilaluinya, tetapi sedikit banyak ia mengenal ilmu perbintangan yang diharapkan dapat menuntunnya ke arah yang dikehendaki.

Demikianlah Mahesa Jenar sebagai seorang perantau berjalan dari desa ke desa, dari kademangan yang satu ke kademangan yang lain. Dilewatinya desa-desa Semboyan, Kalimati, Temu Agal, terus ke selatan, lewat daerah Si Lempu dan Cupu Watu. Terus kembali membelok ke barat tanpa berhenti.

Maka pada saat fajar menyingsing sampailah Mahesa Jenar ke depan mulut hutan yang lebat, yang terkenal dengan nama Alas Tambak Baya.

Sampai daerah ini Mahesa Jenar berhenti sejenak. Dipandanginya hutan lebat yang terbentang di hadapannya. Meskipun hutan itu tidak begitu besar, tetapi sangat berbahaya. Di dalamnya bersarang banyak jenis binatang berbisa. Karena itu jarang orang yang lewat. Sebab kecuali binatang-binatang berbisa yang dengan sekali sengat dapat membunuh seseorang, juga di dalam hutan itu banyak bersarang penyamun-penyamun dan perampok-perampok.

Hanya rombongan yang agak besar dengan kawalan yang kuat sajalah yang berani menyeberangi hutan ini. Kebanyakan mereka adalah pedagang-pedagang dari pesisir utara yang membawa barang-barang untuk dipertukarkan dengan hasil-hasil hutan. Tetapi meskipun rombongan-rombongan itu telah menyewa beberapa orang pengawal yang dianggapnya kuat, namun tidak jarang diantara mereka yang tak berhasil keluar lagi dari hutan ini.

Pada saat nama Lawa Ijo sedang cemerlang beberapa saat yang lalu, daerah ini pun merupakan daerah pengaruhnya. Tetapi tiba-tiba ia seakan-akan menarik diri dan melepaskan semua hak-haknya atas beberapa daerah. Ternyata apa yang dilakukan oleh Lawa Ijo adalah memusatkan perhatian dan waktunya untuk memperebutkan dan menemukan pusaka-pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten, di samping persiapan- persiapan untuk menghadapi pertemuan puncak dari tokoh-tokoh sakti aliran hitam.

Karena itu timbullah kesan seakan-akan kekosongan pemerintahan di wilayah pengaruh Lawa Ijo. Penjahat-penjahat kecil yang semula harus tunduk pada setiap peraturan yang dibuat oleh Lawa Ijo, sekarang merasa bebas dan dapat berbuat sekehendak hati mereka. Tidak jarang terjadi bentrokan-bentrokan dan pertempuran-pertempuran antara satu golongan dengan golongan yang lain, untuk memperebutkan rezeki. Demikianlah kira-kira isi hutan lebat yang bernama Tambak Baya, yang sebenarnya hanya merupakan anak dari induk hutan yang lebih besar dan dahsyat, yaitu Alas Mentaok.

Tetapi, meskipun seakan-akan Lawa Ijo telah menghentikan sebagian besar dari kegiatannya, namun tak segolongan pun dari para penjahat kecil yang berani melakukan pekerjaannya di hutan induk yang lebat ketat itu. Sebab bagaimanapun, mereka masih menghormati pusat kebesaran kerajaan Lawa Ijo.

Sementara itu Mahesa Jenar masih tegak memandang kehijauan hutan di hadapannya, yang berkilat-kilat terkena cahaya matahari, karena pantulan embun pagi yang sedang mulai menguap. Dalam keheningan udara pagi, hutan itu tampaknya seakan-akan tubuh raksasa yang sedang terbujur lelap, mengerikan.

Untuk menyeberangi hutan itu Mahesa Jenar memerlukan waktu beberapa hari, sampai dijumpainya pedesaan kecil di daerah Pliridan. Sesudah itu ia akan sampai ke bagian hutan yang bernama Beringan dan di bagian selatan yang penuh dengan rawa-rawa, bernama Pecetokan. Untuk melampaui kedua daerah ini pun diperlukannya waktu beberapa hari pula. Kalau ia ingin menemui padukuhan, ia harus menyusup ke selatan, ke daerah Nglipura dan Mangir.

Mengingat itu semua, Mahesa Jenar merasa perlu untuk mendapat bekal makanan secukupnya. Maka sebelum memasuki hutan itu diperlukannya untuk singgah di pedukuhan yang terdekat untuk membeli bahan makanan sekadarnya. Disamping itu ia mengharap pula bahwa di dalam hutan itu pun akan tersedia bahan makanan, terutama daging.

Di sebuah gardu di tepi sebuah desa, dilihatnya banyak orang sedang berjualan. Rupanya gardu itu merupakan tempat berkumpul bagi mereka yang akan menyeberangi hutan. Mereka menunggu sampai jumlah yang cukup, kemudian bersama-sama mengupah beberapa orang yang kuat untuk mengawal mereka sampai ke Nglipura, Mangir atau daerah Begelen di seberang hutan Mentaok setelah melintasi pegunungan Manoreh.

Lalu lintas ini mulai ramai kembali sejak Lawa Ijo melepaskan beberapa daerah pengaruhnya. Sedangkan terhadap perampokan-perampokan kecil, para pengawal bersama-sama para pedagang dalam jumlah yang cukup besar, merasa mampu untuk menandingi perampok-perampok itu.

Diantara mereka yang berkumpul di situ terdapat beberapa orang saudagar, beberapa orang yang barangkali akan mengunjungi sanak saudara di tempat yang jauh. Mereka semua menyandang senjata. Ada yang membawa tombak, kapak, pedang yang berjuntai di pinggang, keris, dan sebagainya.

Yang menarik perhatian Mahesa Jenar, diantara mereka ada seorang gadis yang cantik. Menilik pakaiannya, ia pasti termasuk salah seorang dari keluarga yang cukup. Tetapi melihat wajahnya, tampaklah betapa suram dan sayu. Mungkin ada sesuatu masalah yang memaksanya untuk melawat demikian jauhnya sehingga terpaksa harus menyeberangi hutan Tambak Baya.

Selain gadis itu, Mahesa Jenar juga tertarik kepada seorang muda yang berwajah tampan dan bersih. Umurnya tak banyak terpaut dengan umurnya sendiri. Pemuda itu berpakaian rapi seperti seorang pedagang kaya. Kainnya lurik berwarna cerah, sedangkan bajunya agak gelap berkotak-kotak. Dari celah-celah bajunya tampaklah timang emasnya berteretes intan. Serasi benar dengan kulitnya yang kuning bersih. Namun agaknya ia terlalu berani dengan menonjolkan kekayaannya melewati daerah yang berbahaya itu.

Kedatangan Mahesa Jenar diantara mereka sama sekali tidak menarik perhatian. Baik bagi mereka yang akan mengadakan perjalanan maupun para pengawal yang tampaknya telah siap. Sebab, keadaan Mahesa Jenar dengan pakaiannya yang kusut serta janggut dan kumisnya yang serba tak teratur itu, tampak seperti seorang perantau yang biasanya memang mencari kesempatan untuk dapat berbareng dengan rombongan-rombongan yang demikian.

Para pengawal sudah sering melihat hal yang serupa. Dan dari para perantau semacam ini sama sekali tak dapat diharap untuk menambah upah mereka. Tetapi karena biasanya para perantau itu tidak pernah mengganggu, maka para pengawal pun tak pernah merasa keberatan, malahan hampir tak peduli. Bahkan dari para perantau ini dapat pula diambil keuntungannya, dengan menambah jumlah orang dalam rombongan itu, yang juga berarti menambah satu tenaga apabila sesuatu terjadi.

Mula-mula Mahesa Jenar sama sekali tak menaruh perhatian atas rombongan itu, sebab ia tidak mempunyai kepentingan apa-apa. Tetapi karena diantara orang-orang itu agaknya ada yang menarik perhatiannya, maka ia pun mencoba untuk mendekati mereka dengan berpura-pura membeli beberapa macam makanan.

Semakin dekat semakin jelaslah kedukaan yang menggores di wajah gadis cantik itu. Menurut dugaan Mahesa Jenar, gadis itu umurnya berkisar diantara 20 tahun. Menilik sikap, kata-kata dan beberapa gerak-geriknya, gadis itu adalah gadis yang manja. Tetapi karena itu pulalah maka Mahesa Jenar menjadi bertambah heran. Mengapa gadis manja ini menempuh perjalanan yang berbahaya?

Pada saat itu Mahesa Jenar masih belum tahu, apakah gadis itu mempunyai kawan seperjalanan diantara rombongan itu. Sedangkan pemuda tampan itu pun semakin menarik perhatiannya pula.

Meskipun pemuda itu berwajah tampan dan bersih serta bersikap sopan, tetapi ketika Mahesa Jenar sempat memandang matanya, ia menjadi curiga. Mata yang redup dan selalu bergerak-gerak bukanlah mata orang baik-baik. Bibirnya yang tipis dan selalu menyungging senyum yang aneh itu pun telah menyatakan bahwa ia mempunyai sifat yang tidak berterus terang dan meremehkan orang lain. Karena itulah maka Mahesa Jenar kemudian membatalkan niatnya untuk mendahului rombongan itu. Ia merasa tertarik untuk mengikuti iring-iringan itu. Ketajaman perasaannya mengatakan bahwa ada hal yang tidak wajar pada pemuda tampan itu.

Ternyata Mahesa Jenar tidak perlu menunggu lama, sebab sebentar kemudian terdengarlah aba-aba dari pimpinan pengawal yang sudah setengah umur untuk menyiapkan kawan-kawannya yang terdiri dari kira-kira 10 orang, untuk segera berangkat, mumpung hari masih pagi.

Semakin curigalah Mahesa Jenar terhadap pemuda itu, karena kemudian tampak sikapnya yang semakin sopan berlebih-lebihan. Dengan sangat cekatan ia membantu kawan-kawan dalam rombongan itu, terutama gadis cantik yang juga menarik perhatian Mahesa Jenar itu. 

Sebentar kemudian siaplah semuanya. Beberapa orang pengawal membawa beban masing-masing, disamping senjata mereka. Dan hampir setiap orang dalam rombongan itu membawa bungkusan besar dan kecil. Tetapi tidak demikianlah pemuda itu. Kecuali pakaian yang melekat di tubuhnya, tak sehelai benang pun dibawanya. Namun di tangannya tergenggam sebatang tongkat yang agak panjang, berwarna hitam mengkilap.

Kembali terdengar pemimpin rombongan itu memberikan aba-aba. Sesaat kemudian mulailah iring-iringan itu bergerak. Jumlah orang yang ikut serta dalam rombongan itu, kecuali para pengawal, kira-kira berjulmah 25 orang. Diantaranya hanya terdapat tiga orang wanita. Dua diantaranya berjalan dengan suami masing-masing. Sedangkan gadis cantik yang menarik perhatian Mahesa Jenar, ternyata hanya seorang diri.

Mahesa Jenar segera mengikuti rombongan itu. Dan dengan tidak diduganya sama sekali, seorang wanita yang berjalan dengan suaminya, memanggilnya. Mahesa Jenar ragu-ragu sebentar. Tetapi agar tidak mencurigakan, ia mendatangi wanita itu.

“Bapak, sukakah Bapak membawa beberapa bebanku ini? Nanti aku akan memberi sekadar upah,” kata wanita itu kepada Mahesa Jenar.

Mahesa Jenar bimbang sebentar. Hatinya menjadi geli.

“Barangkali kau mau menentukan berapa besarnya upah yang kau minta?” sambung suaminya.

Cepat-cepat Mahesa Jenar membungkuk hormat. Lalu jawabnya.

“Akh .., terserahlah kepada Tuan. Berapapun besarnya upah yang akan Tuan berikan, pasti akan sangat menyenangkan. Dengan demikian aku akan dapat membeli sekadar oleh-oleh buat anak-anakku.”

Suami-istri itu mengangguk-angguk. Lalu diserahkannya beberapa bebannya kepada Mahesa Jenar.

Hal ini sebenarnya menguntungkan Mahesa Jenar, sebab dengan demikian ia dapat mendekati rombongan itu tanpa suatu kecurigaan. Tetapi ia terpaksa mendongkol juga. Sebenarnya ia lebih senang jalan berlenggang daripada membawa beban yang cukup berat itu. Meskipun sebenarnya Mahesa Jenar bertubuh kuat, namun ia pun harus ber- pura-pura merasa berat.

Setelah beberapa saat mereka mengikuti jalan setapak di tengah-tengah rimba liar itu, mulailah perjalanan mereka agak sulit. Beberapa kali pemimpin rombongan itu memperingatkan supaya mereka berhati-hati terhadap segala jenis serangga, lebih-lebih ular.

Rupanya pemimpin rombongan itu sudah amat berpengalaman menempuh perjalanan demikian. Karena itu tampaklah betapa bijaksana ia membawa orang-orang yang di bawah tanggung jawabnya itu. Apabila jalan amat sulit, tidak segan-segan ia menolong, bahkan menggendong para wanita dalam rombongan itu. Meskipun pemimpin rombongan itu rambutnya telah berwarna dua, tapi ia masih tampak sehat, tangkas dan kuat.

Demikianlah rombongan itu berjalan sangat pelan, sehingga kemajuan yang dicapainya amat lambat pula.

Pada hari itu, perjalanan tak menemui gangguan apapun. Ketika matahari hampir terbenam, segera pemimpin rombongan memerintahkan tiga orang pengawal berpencar untuk mendapatkan tempat berkemah yang aman. Sebentar kemudian tempat itu pun telah diketemukan, dan mulailah rombongan itu mengatur tempat peristirahatan buat malam harinya. Dengan senjata masing-masing mereka membersihkan rumput-rumput liar dan akar-akar pohon-pohon besar untuk kemudian dibentangkan tikar.

Sebenarnya Mahesa Jenar sangat merasa tidak sabar berjalan bersama dengan rombongan ini. Kalau ia berjalan sendiri, mungkin jarak yang ditempuhnya adalah 2 atau 3 kali lipat. Tetapi sekarang, setelah ia terikat dengan rombongan itu, maka ia tidak dapat berbuat lain daripada mengikuti dengan menahan diri.

Ketika malam telah gelap, para pengawal segera menyalakan api. Sebentar kemudian lidah api itu pun telah menjilat-jilat ke udara. Panas yang dipancarkan terasa nyaman sekali pada malam yang dingin itu. Dan sebentar kemudian, karena kelelahan, beberapa orang telah jatuh tertidur.

Tetapi Mahesa Jenar sama sekali tak tertarik untuk tidur. Meskipun ia juga merasakan lelah. Oleh pemilik barang yang dibawanya, Mahesa Jenar mendapat pinjaman sehelai tikar. Dan di atas tikar itu ia merebahkan dirinya.

Malam semakin lama menjadi semakin dalam. Binatang-binatang hutan mulai keluar dari sarangnya. Suaranya terdengar bersahut-sahutan. Ada yang aneh kedengarannya, tetapi ada pula yang mengerikan, seperti teriakan bayi yang kehausan air susu ibunya.

Dalam keremangan cahaya api, mata Mahesa Jenar yang tajam melihat betapa gadis cantik itu menjadi ketakutan. Sebentar-sebentar ia duduk, sebentar berbaring. Tetapi sebentar kemudian ia membenamkan kepalanya diantara bungkusan-bungkusan kecil yang dibawanya. Sebab tidak ada seorang pun di dalam rombongan itu yang dapat dimintai perlindungan seperti kedua wanita yang lain, kecuali bulat-bulat ia menggantungkan dirinya kepada para pengawal.

Tetapi yang terlebih menarik perhatian adalah si pemuda tampan. Tampak sekali betapa gelisahnya. Ia sama sekali tak membawa apapun, kecuali tongkatnya. Karena itu ia sama sekali tak berbaring.

Sebentar ia duduk, sebentar kemudian berdiri dan berjalan mondar-mandir. Baru setelah lewat tengah malam, tampaknya ia agak tenang. Ia duduk di atas sebuah batu dan bersandar pada sebatang kayu. Tidak lama kemudian tampaklah pernafasannya berjalan perlahan dan teratur. Rupanya ia tertidur.

Melihat pemuda yang aneh itu tertidur, Mahesa Jenar pun menjadi agak tenang. Dan tidak atas kehendaknya sendiri, Mahesa Jenar pun tertidur pulas.

Malam kemudian menjadi bertambah kelam. Setitik demi setitik embun mulai menggantung di dedaunan. Suara binatang hutan sudah mulai berkurang. Hanya kadang- kadang saja masih terdengar aum harimau yang kemudian disusul jerit ngeri

beberapa ekor anjing hutan.

Tetapi dalam keadaan bagaimanapun, para pengawal itu tetap pada tugasnya. Mereka bergiliran tidur. Tiap-tiap kali tiga orang yang tetap bangun dan dengan penuh tanggung jawab melakukan tugasnya. Selain itu pemimpin rombongan itu pun kadang-kadang bangun menemani mereka yang kebetulan sedang mendapat giliran. Sedangkan mereka yang telah merasa mengupah orang untuk menjaga dirinya, merasa bahwa keadaan mereka telah aman. Karena itu mereka tidak lagi merasa perlu untuk tetap bangun semalam suntuk.

Ketika malam sudah menjadi semakin jauh, telinga Mahesa Jenar yang tajam sekali itu, mendengar suatu suara yang aneh. Meskipun pada saat itu ia sedang tertidur, tetapi suara itu dapat didengarnya, bahkan telah menyadarkannya.

Perlahan-lahan ia membuka matanya sedikit. Dan apa yang dilihatnya dari celah-celah kelopak matanya adalah sangat mengejutkan sekali. Tetapi meskipun demikian ia tidak segera bertindak.

Dilihatnya pada waktu itu, tiga orang yang bergiliran jaga dan duduk di dekat perapian, telah menggeletak tak bergerak. Sedangkan disampingnya berjongkok si pemuda tampan. “Alangkah hebatnya pemuda ini,” pikir Mahesa Jenar. Ia dapat merobohkan ketiga- tiganya tanpa banyak ribut-ribut. Untunglah bahwa telinganya telah terlatih baik untuk menghadapi segala kemungkinan.

Melihat hal yang demikian, Mahesa Jenar menjadi semakin waspada. Apalagi ketika pemuda tampan itu kemudian berdiri dan memandang berkeliling. Dan apa yang diduganya adalah benar.

Perlahan-lahan pemuda itu berjalan berjingkat ke arah gadis cantik yang sedang tidur dengan nyenyaknya. Maka tahulah Mahesa Jenar bahwa pemuda tampan itu akan melarikan gadis yang sedang lelap itu.

Melihat hal yang sedemikian, ia tidak dapat tinggal diam. Meskipun ia sendiri tidak akan bertindak langsung, tetapi seharusnyalah bahwa ia berusaha untuk mencegahnya.

Perlahan-lahan dan hati-hati sekali tangannya meraba-raba mencari sebuah kerikil kecil. Ketika sudah didapatnya, maka dengan hati-hati pula kerikil itu dijentikkan ke arah kaki pemimpin pengawal yang sedang tidur pula.

Rupanya pengawal itu mempunyai perasaan yang tajam pula. Ketika ia merasa tubuhnya tersentuh kerikil yang dilemparkan Mahesa Jenar, ia pun segera terbangun. Maka apa yang pertama-tama dilihatnya adalah ketiga orangnya yang sedang bertugas telah menggeletak. Sesudah itu lalu dilihatnya si pemuda tampan berjalan hati-hati ke arah gadis yang sedang tidur lelap.

Melihat hal itu, kepala pengawal itu segera dapat menghubungkan persoalannya. Maka marahlah ia bukan kepalang. Mukanya menjadi merah seperti darah. Dengan cekatan sekali ia bangun dan meloncat dengan garangnya. Tanpa bertanya lagi tangannya segera terayun ke arah tengkuk si pemuda tampan.

Tetapi adalah di luar dugaan sama sekali, meskipun gerak pemimpin pengawal itu cukup cepat dan tanpa diduga-duga, namun dengan suatu gerakan miring yang sederhana, pemuda itu dapat menghindarinya.

“Hebat...” pikir Mahesa Jenar. Pemuda ini cekatan luar biasa. Siapakah ia sebenarnya?

Ketika pemimpin pengawal itu merasa bahwa pukulannya dapat dielakkan dengan mudah, ia menjadi semakin marah. Dengan geramnya ia melompat maju sekaligus tangannya menyambar leher. Tetapi kembali serangannya itu gagal. Dengan mencondongkan tubuhnya, pemuda tampan itu dapat menghindarkan diri, bahkan sekaligus kakinya mengait kaki lawannya. Untunglah bahwa orang tua itu masih lincah juga, sehingga dengan satu loncatan ia dapat melepaskan diri.

Melihat cara orang itu menghindari serangannya, si pemuda tampan menjadi tertawa kecil. “Bagus... Pak, kau masih juga pandai bermain bajing loncat,” kata pemuda itu.

Sementara itu, para pengawal yang lain, serta orang-orang yang sedang tidur nyenyak itu pun terbangun mendengar keributan-keributan itu. Beberapa orang menjadi gugup dan bertanya-tanya. Tetapi para pengawal yang lain, yang melihat pemimpinnya bertempur, segera ikut serta melibatkan diri tanpa banyak berpikir.

Sejenak kemudian terjadilah suatu pertempuran yang sengit. Pemuda itu seorang diri harus bertempur melawan tujuh orang. Tetapi ternyata pemuda itu benar-benar tangguh luar biasa.

Melawan tujuh orang yang telah berani menyatakan dirinya menjadi pengawal perjalanan di daerah yang berbahaya, sama sekali ia tidak tampak mengalami kesulitan.

Dengan tangkasnya ia berloncatan ke sana kemari diantara pepohonan hutan. Tongkat hitamnya berputar-putar melindungi tubuhnya. Meskipun para pengawal itu mempergunakan bermacam-macam senjata, ada yang memakai pedang, ada yang mempergunakan tombak, gada besi dan sebagainya, tetapi semuanya itu tampaknya tidak banyak berguna.

Beberapa orang lain pun kemudian dapat menerka apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu. Karena dalam keadaan demikian, mereka merasa senasib, maka merekapun menjadi marah. Beberapa orang kemudian segera bangkit dan menyatakan kesetiakawanan mereka, untuk menangkap pemuda tampan itu.

Tetapi adalah aneh sekali. Pemuda itu tampaknya licin seperti belut. Geraknya cepat dan lincah sekali, bahkan mirip dengan gerak seekor ular yang melilit-lilit diantara pepohonan, tetapi sejenak kemudian menjulur melakukan serangan yang berbahaya.

Malahan setelah mereka bertempur beberapa lama, tampaklah bahwa pemuda itu tetap menguasai keadaan. Bahkan beberapa saat kemudian ia masih sempat tertawa-tawa dan berteriak nyaring.

“Jangan kalian turut campur. Aku inginkan gadis itu.”

“Jahanam,” bentak kepala pengawal, “aku telah menyanggupkan diri melindungi semua yang menjadi tanggung jawabku. Bagaimanapun hebatnya kau, aku akan tetap melawan sampai kemungkinan terakhir.”

Kembali pemuda itu tertawa, katanya.

“Aku akan menghitung sampai bilangan 10. Siapa yang tidak mau minggir, bukan salahku kalau ia binasa.”

Mendengar ancaman itu beberapa orang merasa ngeri juga sehingga bulu roma mereka berdiri. “Satu ... dua ... tiga    ” Pemuda itu mulai menghitung bilangan.

Sampai bilangan ini, telah banyak diantara mereka yang meloncat keluar dari gelanggang. Bagaimanapun perasaan kesetiakawanan mereka namun karena mereka tidak langsung berkepentingan, maka mereka merasa lebih baik minggir daripada turut menjadi korban. Karena itu, setelah bertempur beberapa lama, terasalah bahwa pemuda itu adalah pemuda yang perkasa.

Sampai bilangan ketujuh, tak ada lagi seorang pun yang berani membantu ketujuh pengawal yang sedang bertempur mati-matian itu. Sehingga pertempuran itu semakin nampak berat sebelah. Tetapi dalam pada itu Mahesa Jenar merasa kagum dan hormat kepada ketujuh pengawal itu, yang tidak lagi menghiraukan keselamatan diri mereka dalam melakukan kewajiban.

Sejenak kemudian Mahesa Jenar merasa tak sampai hati melihat keadaan yang demikian, maka segera ia melompat dan masuk ke dalam arena pertempuran. Tetapi sampai sedemikian jauh ia sama sekali tidak merasa perlu memperlihatkan kepandaiannya. Ia berkelahi dengan cara yang nampaknya sama sekali tak teratur dan sekaligus untuk mengetahui sampai dimana keperkasaan lawannya.

Pemuda tampan itu, ketika melihat Mahesa Jenar masuk ke dalam kancah perkelahian, terpaksa menghentikan hitungannya dan berkata kepada Mahesa Jenar.

“Hai orang tolol, kau jangan bermain-main di situ. Menyingkirlah.”

Mahesa Jenar pura-pura tak mendengar seruan itu. Dengan gerak yang bodoh ia menyerang terus bersama-sama ketujuh orang pengawal itu. Beberapa saat kemudian, kembali pemuda itu mengulangi seruannya, tetapi juga kali ini Mahesa Jenar tidak mempedulikannya. Ia berkelahi dengan gerak sekenanya saja. Bahkan ia menyerang pemuda itu dengan segenggam tanah yang dilemparkan ke mukanya, karena ia memang tidak bersenjata.

Akhirnya pemuda itu menjadi gusar.

“Bagus, kalau kau tak mau berhenti, aku akan melanjutkan hitunganku, lalu sesudah itu kalian akan mampus semua. Dan gadis itu akan aku bawa pulang tanpa seorang pun dapat menghalangi,” kata pemuda itu.

Mendengar teriakan pemuda tampan itu, gadis cantik yang menjadi sasarannya menjerit ngeri, tetapi suaranya hilang ditelan oleh kelebatan rimba.

Akhirnya si pemuda sampai juga pada hitungan yang ke 10. Sesudah itu ternyata ia benar-benar akan melakukan apa yang dikatakan. Secepat kilat ia maju menggempur lawannya. Tongkatnya berputaran cepat bukan main, seolah-olah berubah menjadi segulung awan hitam yang menakutkan. Mahesa Jenar melihat gelagat ini, tetapi ia masih saja bertempur tanpa aturan.

Pertempuran itu segera berubah menjadi semakin cepat dan dahsyat. Tongkat hitam itu melayang menyambar-nyambar tak henti-hentinya. Tetapi sampai sekian lama tak seorangpun yang dapat dikenainya. Si pemuda sendiri kemudian menjadi heran, kenapa tongkatnya tak menyelesaikan pertempuran sebelum fajar. Menilik kepandaian ketujuh orang yang mengeroyoknya, ia sudah dapat memastikan bahwa sedikitnya empat diantaranya harus sudah binasa, apalagi si perantau tolol itu.

Tetapi karena sampai sedemikian jauh ia masih belum mampu menjatuhkan seorang pun, Mahesa Jenar, yang dalam mata si pemuda merupakan orang tolol yang berani, sangat mengganggu perkelahian itu. Sekali waktu ketika tongkatnya melayang ke arah tengkuk salah seorang lawannya, tiba-tiba perantau tolol itu melemparkan pasir ke arah mukanya, sehingga ia terpaksa memejamkan matanya. Dengan demikian maka calon korbannya itu sempat menghindarkan diri.

Pada saat lain, ketika hampir saja tongkatnya berhasil menyodok leher, si pemuda tolol itu kakinya terantuk batu, sehingga jatuh tertelungkup menimpa lawan yang hampir binasa itu. Dengan demikian mereka jatuh bergulingan. Dan juga kali ini tongkatnya tak menemukan sasaran.

Si pemuda akhirnya marah kepada Mahesa Jenar.

“Hai orang tolol. Jangan berbuat gila di sini. Kalau kau tak mau lekas minggir, kaupun akan kubinasakan. Bahkan kaulah yang pertama-tama akan mengalami nasib jelek,” teriaknya geram.

Mendengar seruan itu, sadarlah Mahesa Jenar bahwa pemuda itu sudah benar-benar marah. Maka tidak sepantasnya lagi kalau ia bermain-main saja. Maka segera ia pun mempersiapkan diri untuk menyambut setiap serangan yang benar-benar akan dilancarkan kepadanya.

Sementara itu, terjadilah suatu hal yang sangat mengejutkan mereka semua. Tidak saja para pengawal dan mereka yang melakukan perjalanan, tetapi juga pemuda itu dan Mahesa Jenar. Tiba-tiba dalam suasana keributan pertempuran, diantara kesepian rimba itu, menggetarlah suara tertawa nyaring yang semakin lama terdengar semakin mengerikan.

Segera, semua yang mendengar suara itu mengenal, bahwa itulah suara maharaja yang kekuasaannya terbentang meliputi seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya. Ia adalah yang sangat ditakuti dengan namanya yang seram, Lawa Ijo.

Bahkan kali ini suara tertawa itu sedemikian mengerikan, seperti memenuhi seluruh rimba dan mengepung mereka dari segala penjuru. Demikian hebatnya pengaruh suara tertawa itu, seperti mengguncang-guncang dada. Sehingga arahnya pun tak dapat diketahui dari manakah sumber suara itu. Beberapa orang menjadi bingung dan ketakutan, bahkan ada yang menjadi lemas dan hampir pingsan. Tidak ketinggalan para pengawal pun segera nampak sangat cemas. Sebab munculnya Lawa Ijo setelah beberapa lama lenyap itu, adalah sangat tiba-tiba dan tak disangka-sangka.

Mahesa Jenar yang mempunyai telinga sangat tajam, dengan saksama memperhatikan suara itu. Meskipun perlahan-lahan, akhirnya dapat diketahui dari manakah asalnya.

Tetapi rupanya pemuda tampan itu pun bukan orang biasa. Pendengarannya ternyata sangat tajam. Untuk mengetahui arah suara itu, diangkatnya wajah. Meskipun tidak secepat Mahesa Jenar, ia pun akhirnya dapat mengetahui sumber suara itu. Maka segera ia pun bersiaga menghadap ke arah suara itu, sambil berteriak.

“Hai Lawa Ijo, kau jangan main gila di hadapanku. Ayo keluarlah dari sarangmu. Apakah yang sebenarnya kau kehendaki dengan memperdengarkan suara tertawamu yang memuakkan itu?”

Mendengar seruan pemuda itu, semua orang, termasuk Mahesa Jenar, menjadi bertanya- tanya dalam hati. “Siapakah dia, yang telah berani menantang Lawa Ijo ini?”

Sementara itu suara tertawa Lawa Ijo pun semakin lama semakin surut, dan akhirnya mereka dikejutkan oleh sebuah bayangan yang melayang turun dari dahan yang cukup tinggi. Tetapi yang sama sekali tak diduga-duga, kecuali oleh Mahesa Jenar dan pemuda tampan itu, ternyata Lawa Ijo bertengger di atas dahan yang hanya berjarak tidak lebih dari 20 depa dengan mereka.

Samar-samar oleh cahaya api yang masih menyala, tampaklah bahwa Lawa Ijo pun sebenarnya masih muda. Usianya tidak juga terpaut banyak dengan pemuda tampan itu maupun dengan Mahesa Jenar. Tubuhnya kekar kuat, matanya hitam mengkilat memancarkan sinar kekejaman dan kebengisan. Sedangkan di bawah hidungnya melekatlah kumis yang lebat hitam melintang menyeramkan.

Meskipun pada saat itu Lawa Ijo tersenyum, tetapi senyumnya sama sekali tidak menambah manis wajahnya, bahkan beberapa orang yang melihatnya menjadi gemetar ketakutan, seakan-akan melihat senyuman malaikat pencabut nyawa yang berhasil melakukan tugasnya dengan baik.

Perlahan-lahan, setapak demi setapak, Lawa Ijo berjalan mendekati pemuda tampan itu. Di pinggangnya membelit kain berwarna putih dengan lukisan hijau di atasnya. Pastilah itu gambar yang menyeramkan. Kelelawar dengan kepala serigala. Sedangkan di tangan kanannya tergenggam sebilah pisau belati panjang.

Ternyata pemuda tampan itu sama sekali tidak gentar. Meskipun demikian ia tidak mau merendahkan Lawa Ijo. Tangannya segera memutar tongkat hitamnya, dan tiba-tiba dari dalamnya ia mencabut sebilah pedang kecil yang lentur. Melihat hal itu Lawa Ijo tertawa, tetapi kali ini tertawanya pendek. Lalu ia berkata, “Ular Laut gila, kau jangan main gagah-gagahan di daerah ini.”

Mendengar kata-kata Lawa Ijo, sekali lagi Mahesa Jenar terkejut. “Inilah agaknya yang disebut Samparan dengan panggilan Ular Laut yang memiliki wajah tampan dan bernama Jaka Soka. Karena itulah maka dengan enaknya ia dapat melawan tujuh orang, bahkan lebih dari itu. Dan dengan beraninya pula ia menantang Lawa Ijo,” pikir Mahesa Jenar.

Mendengar ucapan Lawa Ijo, Jaka Soka sama sekali tidak menjadi takut. Malahan kembali bibirnya yang tipis itu menyungging senyum aneh.

“Daerah inikah yang kau maksud?” jawab Jaka Soka.

“Jaka Soka, kau jangan mencari perkara. Kau tahu bahwa seluruh hutan Mentaok dan bagian-bagiannya serta segala isinya adalah daerah wewenangku,” sambung Lawa Ijo.

“Hem... telah berapa bulan atau berapa tahun kau merendam diri di sarangmu? Dan tahu- tahu sekarang masih mengatakan daerah ini daerah wewenangmu. Lawa Ijo, menurut pikiranku daerah ini sekarang merupakan daerah tak bertuan,” gumam Jaka Soka.

“Kau jangan mengigau Soka. Aku belum pernah melepaskan hak yang pernah aku miliki. Kalau beberapa waktu terakhir aku tidak pernah berbuat sesuatu, itu bukannya aku tak lagi berwenang di daerah ini. Hanya saja, dalam waktu-waktu itu aku tak merasa perlu untuk berbuat apa-apa. Anggapanmu bahwa daerah ini daerah tak bertuan itu sama sekali salah, selama aku masih bernafas. Nah sekarang tinggalkan daerah ini,” perintah Lawa Ijo.

Jaka Soka sama sekali tak terpengaruh oleh kata-kata Lawa Ijo itu. Bahkan kemudian ia tertawa kecil.

“Lawa Ijo, kau jangan berlagak seperti seorang yang paling berkuasa. Apa dasarmu kau berani memerintah aku untuk meninggalkan daerah ini? Kau masih belum menunjukkan bahwa kau memiliki sepasang pusaka Kiai Nagasasra dan Kiai Sabuk Inten. Juga belum pasti bahwa kau akan berhasil memenangkan semua pertandingan yang akan kami selenggarakan akhir tahun ini. Jadi pada saat ini kau dan aku masih belum mempunyai sangkut paut apapun,” jawab Jaka Soka.

Lawa Ijo menarik alisnya yang tebal itu tinggi-tinggi sambil mengangguk-angguk. Kemudian katanya.

“Lalu bagaimana seharusnya?”

“Seharusnya kau tak usah mengganggu aku. Tetapi kalau kau tetap tak menghendaki aku melakukan perbuatan-perbuatan di daerah ini, seharusnya kau paksa aku pergi,” jawab Jaka Soka. Kembali Lawa Ijo tertawa pendek.

“Kau masih seperti masa-masa lampau. Setelah kau capai tingkatmu yang hampir sempurna sekarang ini, seharusnya kau tak lagi banyak bernafsu untuk berkelahi. Dan apakah artinya pertempuran diantara kita. Beberapa waktu yang lampau kita pernah berkelahi sampai beberapa hari. Dan tidak seorangpun dari kita yang kalah. Kalau pada saat ini kami kembali bertempur, menurut pendapatku hasilnya akan sama saja. Karena itu baiklah kita hormati persetujuan yang pernah kita buat mengenai daerah kerja kita masing-masing,” kata Lawa Ijo.

Jaka Soka menjadi bimbang. Dahinya berkerut dan otaknya berputar cepat. Melihat Jaka Soka ragu, Lawa Ijo menambahkan.

“Atau kalau kau merasa tidak perlu lagi dengan persetujuan itu, baiklah dihapus saja sama sekali. Aku tak keberatan kau melakukan kegiatan di wilayah ini, tetapi kau jangan menyalahkan aku kalau aku akan melakukan kegiatan di Nusa Kambangan dan di lautan. Sebab aku pun pernah menjadi bajak laut pada usia 14 tahun.”

Dahi Jaka Soka semakin berkerut. Dan akhirnya pecahlah tertawanya.

“Memang, kau penjahat tak tanggung-tanggung Lawa Ijo. Baiklah kalau demikian aku mengalah,” katanya.

“Tetapi....” Jaka Soka berhenti berbicara, tetapi matanya merayap kepada gadis cantik yang duduk gemetar dan ketakutan.

Lawa Ijo pun mengerti maksud Jaka Soka. Sahutnya sambil tersenyum.

“Soka, kemana kau pergi, selalu kau bawa pulang gadis-gadis. Apakah sarangmu masih belum penuh?”

Jaka Soka tertawa lirih, jawabnya.

“Alangkah bodohnya kau. Nusa Kambangan cukup luas untuk menampung semua gadis dari pulau Jawa ini. Dan atas gadis ini kau tidak keberatan?”

Mendengar percakapan mereka, gadis itu menjadi semakin ketakutan. Tubuhnya menggigil dan keringat dingin telah membasahi tubuhnya. Sekarang di hadapan kedua penjahat terkenal itu, rombongan yang berjumlah 10 orang dengan mereka yang telah tersadar dari pingsannya pun tidak mungkin dapat menghalangi maksud Ular Laut yang gila itu. Meskipun orang-orang lain juga merasa ketakutan dan ngeri, tetapi sebesar- besarnya mereka hanya harus menyerahkan barang-barang mereka. Tetapi gadis itu harus menyerahkan dirinya. Satu-satunya harapan baginya adalah kalau Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, melarang Jaka Soka berbuat sesuatu di daerah ini. Sebab Lawa Ijo sendiri, menurut berita yang tersiar, tak pernah menculik atau menghendaki seorang gadis.

Tetapi alangkah kecewanya gadis itu, bahkan hampir saja ia jatuh pingsan ketika didengarnya Lawa Ijo berkata sambil tertawa pendek.

“Jaka Soka, sebenarnya aku sama sekali tak mengubah pendirianku. Tetapi sebagai seorang sahabat, baiklah aku hadiahkan gadis itu kepadamu. Aku sama sekali tak berkepentingan dengannya, sebab aku mempunyai kepentingan lain.”

Mendengar jawaban Lawa Ijo, Jaka Soka menjadi gembira sekali. “Lawa Ijo, memang hanya itulah yang sebenarnya aku kehendaki dari rombongan ini. Hanya barangkali kau anggap aku bersalah, bahwa aku tidak minta izinmu dahulu. Nah, sekarang kau telah mengizinkan,” katanya.

Sekali lagi Lawa Ijo tertawa. “Terserahlah kepadamu, Soka,” katanya.

Mendengar keputusan Lawa Ijo, gadis itu semakin putus asa. Tak ada lagi harapan baginya untuk melepaskan diri dari tangan penjahat itu.

MAHESA JENAR selalu memperhatikan perkembangan keadaan dengan cermat. Ia dihadapkan pada satu persoalan yang juga cukup rumit. Di sini, tanpa diduga-duga ia telah bertemu dengan Lawa Ijo yang sengaja akan dicarinya. Tetapi di sini juga, ada seorang yang dapat mengganggu pertemuan itu. Yaitu Jaka Soka yang ternyata mempunyai kekuatan seimbang dengan Lawa Ijo.

Kalau pada saat itu Mahesa Jenar membuat perhitungan dengan Lawa Ijo, ia sendiri belum tahu pasti siapakah yang akan menang. Apalagi kalau kemudian Jaka Soka ikut campur, maka masalahnya akan merugikan. Menurut perhitungan Mahesa Jenar, melawan dua orang adalah pekerjaan yang berat sekali, bahkan mungkin diluar kuasanya.

Tetapi diluar itu ia menghadapi soal baru. Jaka Soka menghendaki untuk membawa gadis itu pulang ke Nusa Kambangan. Apakah hal yang demikian dan berlangsung di bawah hidungnya akan dibiarkan saja? Andaikan ia bertindak, dalam hal ini pun ada kemungkinan ia terlibat dalam pertempuran melawan kedua orang itu. Sebagai seorang prajurit pilihan, Mahesa Jenar sama sekali tidak mengenal takut. Kalau ia sampai berpikir demikian, masalahnya adalah atas dasar perhitungan cara dan bagaimana untuk mencapai maksudnya.

Selagi Mahesa Jenar sibuk berpikir, Jaka Soka dengan matanya yang redup dan senyum aneh yang menghiasi bibirnya yang tipis, telah mulai bergerak dan berjalan perlahan- lahan ke arah gadis cantik itu. Sementara itu Lawa Ijo berteriak bergurau.

“Jaka Soka, sebenarnya aku iri hati melihat ketampanan wajahmu. Tetapi kau rupanya adalah seorang tampan yang sial. Sebab gadis-gadis yang kau kehendaki menjadi pingsan kegirangan, karena akan mendapat pasangan yang setampan kau ini.”

Jaka Soka sama sekali tak mendengar perkataan Lawa Ijo itu. Ia sedang kegirangan akan mendapat gadis yang demikian cantiknya, melebihi semua gadis yang pernah dilihatnya.

Tetapi terjadilah suatu hal diluar perhitungannya. Dalam keputus-asaan, gadis itu memutuskan untuk lebih baik membunuh dirinya. Ia sama sekali tidak mau dinodai kehormatannya oleh iblis-iblis yang demikian itu. Maka secepat kilat ia mengambil keris dari dalam bungkusan yang dibawanya, dan segera ia menarik keris itu dari warangkanya.

Jaka Soka sama sekali tidak mengira bahwa hal yang demikian akan terjadi. Karena itu ia terkejut, sehingga langkahnya terhenti. Ia masih belum tahu, maksud yang sebenarnya gadis itu menarik keris. Karena itu ia harus berhati-hati. Tetapi tiba-tiba saja ia melihat keris itu melayang menuju kearah dada gadis itu sendiri.

Jaka Soka tersadar. Karena itu harus dicegahnya. Tetapi sayang jaraknya masih terlalu jauh. Sehingga terloncatlah teriakan dari mulutnya yang berbibir tipis itu dengan noda yang cemas. Cemas akan kehilangan gadis itu.

“Jangan    Jangan lakukan itu.”

Tetapi teriakannya itu menggetar tanpa sesuatu pengaruh apapun atas gadis yang sudah bertekad untuk mati daripada jatuh di tangan bajak laut yang berwajah tampan itu.

Tiba-tiba tampaklah sebuah bayangan melontar dengan cepatnya menyambar pergelangan tangan gadis itu, sehingga keris yang digenggamnya tidak sampai menembus dadanya. Gadis itu terkejut bukan kepalang. Demikian juga semua yang menyaksikan. Bahkan Jaka Soka dan Lawa Ijopun menjadi terkejut dan heran melihat orang dapat bergerak demikian cepatnya.

Itulah Mahesa Jenar yang telah mencoba untuk menyelamatkan jiwa gadis cantik itu. Dan sekaligus keris itupun telah berpindah ketangannya pula. Tetapi belum lagi debar jantung mereka berhenti, kembali mereka terkejut, terutama Mahesa Jenar sendiri, Jaka Soka dan Lawa Ijo, ketika mereka melihat keris yang sekarang sudah berada di tangannya.

“Kiai Sigar Penjalin,” desis mereka hampir bersamaan.

Itulah nama keris yang dipegang oleh Mahesa Jenar. Keris yang berbentuk lurus. Satu sisinya melengkung hampir setengah lingkaran, sedangkan sisi yang lain datar seperti kebiasaan keris. Mirip seperti batang penjalin yang dibelah dua dan diruncingkan ujungnya. Yang mengejutkan mereka adalah, keris itu terkenal sebagai pusaka seorang sakti yang mempunyai nama sejajar dengan Pasingsingan. Yaitu Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak Wanasaba. Demikian terkejutnya Mahesa Jenar sampai tangannya yang memegang keris itu gemetar. Maka setelah agak reda sedikit dan nafasnya mulai teratur, Mahesa Jenar berdiri dengan teguhnya memandang tajam kepada Jaka Soka.

“Apakah yang kau kehendaki dari gadis ini?” tanya Mahesa Jenar.

Getar hati Jaka Soka sementara itu telah turun. Tetapi sekarang otaknya dihinggapi oleh suatu pertanyaan. Perantau tolol itu, kenapa tiba-tiba saja dapat berbuat sedemikian cepatnya, sehingga jiwa gadis cantik itu tertolong. Selain itu, gadis itu ternyata memiliki keris Kiai Sigar Penjalin. Apakah hubungannya dengan Ki Ageng Pandan Alas?

Jaka Soka berpaling kepada Lawa Ijo untuk mendapat pertimbangan. Ternyata Lawa Ijo pun pada saat itu sedang berpikir keras. Ia memandang keris Sigar Penjalin yang berada di tangan Mahesa Jenar itu tanpa berkedip. Baru setelah beberapa saat kemudian ia berkata,

“Jaka Soka, menurut pendapatku sebaiknya kita tidak membuka suatu persoalan dengan Ki Ageng Pandan Alas. Sebab dengan membawa keris Sigar Penjalin, gadis itu mempunyai hubungan dengan Ki Ageng Pandan Alas.”

Jaka Soka dalam hati kecilnya membenarkan juga keterangan Lawa Ijo itu. Sebab ia pun tahu bahwa Ki Ageng Pandan Alas termasuk orang yang aneh. Ia selalu berada di mana saja merantau dari satu tempat ketempat lain.

Namun demikian, ia sayang juga melepaskan gadis cantik yang sudah sekian lama diikutinya. Sebab dalam pengamatannya, belum pernah ia menemukan gadis secantik itu. Kalau kali ini ia tak berhasil membawanya pulang, maka seumur hidupnya belum tentu ia akan menjumpainya lagi.

Sebaliknya, gadis cantik itu sama sekali tidak menduga bahwa keris yang dibawanya mempunyai pengaruh yang sedemikian hebatnya. Ia sendiri belum pernah mendengar nama Ki Ageng Pandan Alas dari Klurak. Keris yang dibawanya adalah keris peninggalan ibunya pada saat ibunya menghembuskan nafas terakhir.

Menurut ibunya, keris itu adalah keris kakeknya, seorang petani miskin yang pada saat itu sedang merantau mencari daerah baru yang lebih subur, yang barangkali dapat dipakai sebagai tempat tinggal yang baru. Dan menurut ibunya, kakeknya sekarang berada di desa Pliridan. Daerah antara hutan Tambak Baya dan Beringan, bagian dari hutan Mentaok. Suatu daerah yang baru dibuka oleh beberapa orang, yang nampaknya subur untuk daerah pertanian.

“Lawa Ijo,” kata Jaka Soka kemudian setelah berpikir sejenak. “Memang aku sebenarnya segan terhadap orang tua itu. Tetapi menurut pikiranmu apakah ia mengetahui bahwa gadis itu aku bawa pulang ke Nusa Kambangan?”

“Soka,” jawab Lawa Ijo, “Pandan Alas itu tidak ubahnya seperti hantu yang berada di mana saja, pada saat apa saja. Ia seolah-olah memiliki seribu mata dan seribu telinga yang bertebaran di seluruh tanah ini.”

“Tetapi ternyata sekarang ia tak ada di tempat ini,” potong Jaka Soka

“Kau jangan berkeras membawa gadis itu, Soka. Meskipun seandainya Pandan Alas pada saat ini tidak melihat dan mengetahui, tetapi perbuatan itu kau lakukan di hadapan saksi-saksi yang pada suatu ketika pasti akan terdengar pula oleh hantu yang bertelinga seribu itu. Kalau sudah demikian halnya, kau tidak akan dapat lagi hidup tenteram dan berlindung di mana pun di dunia ini.”

Jaka Soka terdiam. Tampak alisnya berkerut-kerut. Tiba-tiba terdengarlah ia menjawab dengan jawaban yang sama sekali tidak terduga-duga. Semua yang mendengar menjadi terkejut, seperti tanah tempat mereka berpijak itu runtuh.

“Lawa Ijo, kau benar. Memang aku seharusnya tidak berbuat itu di hadapan saksi-saksi. Karena itu maka akan aku bunuh semua orang yang menyaksikan peristiwa ini, kecuali kau,” kata Jaka Soka dengan suara mantap.

Baru mendengar kata-kata itu, dan belum lagi Jaka Soka berbuat sesuatu, orang-orang yang mendengarnya seolah-olah telah terbang nyawanya. Lawa Ijo yang matanya memancarkan sinar kebuasan dan kebengisan itu pun terkejut mendengar keputusan Jaka Soka untuk membunuh sekian banyak orang itu.

“Jaka Soka, sebaiknya kau pikir masak-masak apa yang akan kau lakukan itu. Apalagi hal itu terjadi di daerah kuasaku,” kata Lawa Ijo memperingatkan.

“Lawa Ijo, kau tidak akan tersangkut dalam perkara ini. Dan percayalah, bahwa apabila tak seorang pun yang hidup diantara orang-orang ini, maka bagaimanapun tajamnya telinga Pandan Alas, ia tak mungkin dapat mendengarnya,” jawab Jaka Soka.

Dahi Lawa Ijo tampak berkerut. Rupanya ia berpikir keras. Tetapi bagaimanapun, ia tetap tidak dapat mengerti jalan pikiran Jaka Soka. Mengorbankan sekian banyak orang hanya untuk mendapatkan seorang gadis. Seandainya taruhan itu untuk memperebutkan sebuah pusaka atau harta benda yang tak ternilai, agaknya Lawa Ijo masih dapat mengerti.

Mereka yang mendengarkan percakapan itu, hatinya diliputi oleh suasana ketegangan yang hebat. Mereka mengharap Lawa Ijo tetap pada pendiriannya, tak mengizinkan Jaka Soka berbuat demikian kejamnya hanya untuk memanjakan nafsunya. Mereka rela andaikata kemudian Lawa Ijo merampas segala harta benda mereka, asal nyawa mereka diselamatkan. Bahkan ada diantaranya yang mulai menyesali gadis cantik itu. Karena gadis itulah maka nyawa mereka terancam.

Sampai beberapa saat Lawa Ijo tidak berkata-kata. Ia menjadi bimbang. Sebenarnya lebih baik baginya untuk tidak menambah lawan. Apalagi seorang sakti seperti Ki Ageng Pandan Alas. Tetapi untuk menolak permintaan Jaka Soka pun akan mempunyai akibat yang tak menyenangkan. Sebab ia tahu betul tabiat kawannya ini. Semua kehendaknya harus dapat terlaksana. Apalagi kalau ia sedang tergila-gila kepada seorang gadis. Bagaimanapun kejamnya Lawa Ijo, namun tak akan terlintas dalam pikirannya untuk berbuat demikian, hanya untuk seorang gadis. Sebab ia sama sekali memang tidak pernah tertarik kepada gadis seperti itu. Baginya, gadis-gadis demikian hanyalah akan mempersulit diri saja.

“Lawa Ijo, seharusnya kau tak usah takut kepada Pandan Alas. Sebab Paman Pasingsingan tentu tidak akan tinggal diam andaikata Pandan Alas salah duga terhadapmu mengenai masalah ini,” sambung Jaka Soka ketika Lawa Ijo lama tak menjawab.

Mendengar desakan terakhir ini, Lawa Ijo tampak mengangguk-anggukkan kepalanya. Tetapi bagi mereka yang menyaksikan, anggukan kepala Lawa Ijo itu bagaikan melihat jatuhnya palu keputusan hukuman mati bagi mereka semua.

Maka terjadilah kegemparan diantara mereka. Beberapa orang telah menangis merintih- rintih minta diampuni dan diselamatkan jiwanya. Mereka bersumpah untuk tidak membuka mulut tentang peristiwa ini kepada siapa pun. Beberapa orang lagi jatuh pingsan, dan yang lain menggigil ketakutan.

Dalam keadaan yang demikian, terasalah kesetiakawanan mereka hancur lumat demi keselamatan masing-masing. Bahkan ada diantara mereka yang sampai hati terang- terangan mengumpati gadis yang sama sekali tak bersalah itu.