Nagabumi Eps 99: Seorang Puteri di Atas Kudanya

Eps 99: Seorang Puteri di Atas Kudanya

Dengan tenaga dalam hasil olah pernapasan selama sepuluh tahun di dalam gua seribu lorong, dengan ilmu meringankan tubuh yang bahkan bisa membuat tubuhku begitu ringan sehingga lebih ringan dari udara, dengan Ilmu Pedang Naga Kembar, Ilmu Pedang Cahaya Naga, Jurus Penjerat Naga, Jurus Dua Pedang Menulis Kematian, jurus- jurus yang sudah kuberi nama Jurus Bayangan Cermin tetapi yang sebetulnya masih perlu dimatangkan lagi, dan sebuah jurus yang sedang kuolah begitu rupa sehingga aku hanya perlu menyerang pemikiran untuk melumpuhkan siapa pun dia yang bernafsu membunuh tubuhku; dengan itu semua aku pada dasarnya siap menghadapi lawan set iap saat. Apalagi jika diingat, bahwa dalam diriku, meski tanpa pernah kukehendaki, terdapat ribuan mantra sihir dan ilmu racun yang terpindahkan berkat niat Raja Pembantai dari Selatan, yang akan menolak setiap serangan sihir dan racun dengan sendirinya, tanpa harus kuperintahkan sendiri.

Maka, sungguh aku sama sekali tidak menjadi gentar apabila lebih dari duapuluh orang ini akan menyerangku sekarang jugs. Aku hanya merasa sulit menempatkan diriku jika harus bertarung, mengingat pesan Naga Laut agar aku jangan terlibat apa pun. Dhawa telah meraba belati panjangnya yang melengkung itu. Aku sangat khawatir karena te lah kulihat betapa mahirnya Dhawa memainkan senjata itu, sehingga bahkan Kalamurti maupun Kalarudra waktu itu tidak berhasil membunuhnya, dan sebaliknya apabila telah dicabutnya belati panjang melengkung tersebut, memang tidak akan tersarungkan kembali sebelum meminum darah. Sedangkan apabila darah ditumpahkan oleh seorang asing, di tanah ini dan dianggap berasal dari Javadvipa pula, tidaklah akan menjadi terlalu jelas bagaimana caranya aku menghindarkan diri lebih jauh lagi.

Kusentuh tangannya agar menahan diri, meski orang-orang ini begitu siapnya menyerang dan menikam dari segala penjuru.

"Tahan!"

Kudengar kata ini hanya sebagai suara seorang perempuan, tetapi yang memang memberi perintah agar serangan ditahan. Adalah Dhawa nanti yang menerjemahkan semuanya kepadaku, sehingga aku dapat menceritakannya kembali sekarang ini.

Serangan itu memang bagaikan tertahan oleh suatu tenaga gaib. Semuanya menoleh ke satu arah, dan tampaklah perempuan yang anggun itu.

"Ah! Puteri!"

Mendadak semua orang yang siap menyerang kami berdua dengan tikaman dari segala arah yang mematikan itu melepaskan senjatanya, yang segera jatuh berdentangan di tanah, lantas menjatuhkan diri dengan setengah tengkurap menggelesot, sebagai tanda tunduk, pasrah, mengaku hamba, dan memang menghambakan diri dan hidupnya bagi puteri bangsawan yang duduk di atas kuda tersebut.

Hanya aku yang tidak menggelesot. Aku tetap, berdiri. Para pengawal putra bangsawan itu segera beterbangan dari atas kudanya, siap membanting dan menyungsepkan wajahku ke tanah. Namun saat itulah seluruh ilmu silatku tanpa dim inta seolah menjawab serangan tersebut. Tidak seorang pun di antara para pengawal itu berhasil menyentuh tubuhku. Padahal aku seperti tidak bergerak. Sama sekali tidak. Padahal tentu saja bergerak. Di sekitar tubuhku suara pedang, keris, tombak, bahkan cambuk, berdesau-desau dan meledak ledak tanpa pernah mengenaiku. Aku seperti tetap berdiri dan senjata-senjata itu membabat bayangan diriku sahaja, tetapi sebenarnya aku te lah bergerak dengan begitu cepatnya tanpa terlihat sama sekali sehingga tampak seperti tetap berdiri.

Aku tetap berdiri dan menatap, tajam ke arah puteri bangsawan itu, yang juga menatapku dengan tajam.

"Dhawa, terjemahkanlah," kataku.

Maka Dhawa pun menyampaikan apa yang kuucapkan sementara para pengawal puteri itu bagaikan s ibuk membacok angin.

"Siapakah kiranya puteri anggun yang duduk di punggung kuda, yang tidak mengiz inkan seorang pun untuk menatap wajahnya yang cantik jelita,   sehingga   begitu   perlu mengiz inkan para pengawalnya memusnahkan seseorang yang takbernama?"

Bahkan Dhawa, yang telah mengenali berbagai adat di berbagai negeri pun menerjemahkan kata-kataku dengan kepala tertunduk.

Kulihat puteri yang duduk menyamping di atas kuda itu tersenyum tipis, tetapi yang dalam kegelapan dan keremangan cahaya obor terasa tajam dan penuh makna. la mengeluarkan kata-kata yang suaranya bagiku terdengar memukau. Dhawa pun langsung menerjemahkannya.

"Mungkinkah seseorang bisa takbernama jika kemampuannya secara kasat mata jelas luar biasa? Ataukah ia sebenarnya bermaksud menghina, dengan berpura-pura lemah takberdaya, dan begitu yakin semua orang yang melihat dapat ditipunya?"

Namun Dhawa menambahkan kepadaku.

"Bicaralah dalam bahasa Sanskerta, atau bahasa Malayu, dia pasti mengerti. Sulit menerjemahkan bahasa kalian berdua ke dalam bahasa Khmer 458, sedang pertaruhan kita adalah nyawa."

Puteri di atas kuda itu menyela percakapan kami dengan bentakan. Rupa?nya ia tidak mengerti bahasa Malayu yang diucapkan Dhawa kepadaku.

"Sanskerta saja," Dhawa menukas, "dia tak mengerti Malayu."

Kulanjutkan dengan bahasa Sanskerta, yang meskipun kupahami secara tertulis, belum pernah kuucapkan sama sekali, dan hanya dapat kuraba karena bahasa itu berpengaruh banyak kepada bahasa Jawa. Sebetulnya, dengan mempertimbangkan pengaruh kebudayaan Wangsa Syailendra yang hampir segalanya mereka pelajari, aku layak mencoba bahasa yang paling kuketahui tersebut. Namun mempertimbangkan bahwa puteri di atas kuda itu adalah se?orang bangsawan, dan penguasaan bahasa Sanskerta adalah salah satu pembeda bangsawan dan rakyat jelata, maka dalam suasana tegang seperti ini kurasa masuk akal menggunakan bahasa tersebut. Bahasa Malayu memang bahasa pengantar antarbangsa, dari Suvarnadvipa sampai ke kawasan ini; pengaruh Wangsa Syailendra mestinya membuat bahasa tanah asal mereka dikenal, tetapi aku mengucapkan bahasa Sanskerta untuk pertama kalinya.

"Sahaya yang tiada bernama tidak bermaksud menghina siapa pun jua, apalagi puteri bangsawan yang perkasa, yang baginya tiada sesuatu yang kasat mata harus takterlihat oleh mata. Hanya kesaktian nan mandraguna memberi tingkatan semacam itu, yang telah menggugah rasa hormat sahaya tanpa harus menjadi hamba."

Aku tak sekadar menyanjung dengan kata-kata itu, jawabannya tadi jelas menunjukkan bahwa ia dapat melihatku yang bergerak dengan kecepatan kilat, dan jelas pula ia menyatakan dengan caranya sendiri betapa ia jangan disamakan dengan orang kebanyakan. Aku mengucapkan kata-kata sanjungan itu dengan pertimbangan, bahwa jika aku tidak menunjukkan betapa aku juga mengerti dirinya hebat, aku takutkan puteri itu akan terdorong untuk menunjukkan kehebatannya. Aku takdapat menduga dengan pasti seberapa tinggi ilmu silat sang puteri yang semenjak tadi belum bergerak itu, tetapi

menlik caranya berkuda yang begitu nyaman meski duduk miring spseri itu maupun kemampuan matanya mengikuti kecepatanku, tentu ia memiliki ilmu meringankan tubuh dan kecepatan bergerak yang tidak dapat dianggap enteng. Meskipun aku tidak gentar sama sekali menghadapinya, meski barangkali memiliki balatentara, dan berada di negerinya sendiri pula, untuk sementara ini keributan dan pertentangan bukanlah sesuatu yang kucari.

Sementara kami bertukar kata, serangan sama sekali tidak berhenti. Hanya puteri itu melihat betapa aku selalu menghindar dengan kecepatan kilat sehingga sepintas lalu tampaknya hanya berdiri saja dan para pengawalnya membacok bayangan.

Ia mengibaskan tangan. serangan pun mendadak berhenti.

Ia melompat turun dari kuda dengan gerakan seringan bulu yang jatuh melayang. Para pengawal mundur sembari menundukkan kepala. Aku menatapnya seperti orang tersihir. Tentu bukan karena payudaranya baru tampak nyata olehku sekarang, dengan segala keindahan yang paling dimungkinkan dalam penampakannya di bawah nyala kemerahan obor di sekitarnya, wi, I betapa kain yang dikenakannya menerawang begitu rupa, sehingga saw., Samar terbayanglah segala sesuatu di baliknya. Lompatannya ringan, gerakannya lembut, tetapi kutahu itulah bayang-bayang maut yang bisa sampai mengecoh. Harus kuakui betapa aku sangat terpesona kepada perempuan ini. Api memang menebarkan cahaya kemerahan, tetapi keputihan kulitnya yang langsat dari tubuh nan ramping serta aroma mendebarkan yang meruap darinya tiada terhindarkan.

"Pendekar yang mengaku tidak punya nama," katanya pula, "aku tiba di tempat ini karena bermaksud pulang naik kapal ke Indrapura, begitu tiba kulihat sesuatu yang tidak kusuka, bahwa seorang pelaut dari Javadvipa memiliki kekuasaan memerintahkan orang-orang kami untuk mencabut nyawamu, syukurlah dirinya menyembah, tetapi ia akan tetap diadili meski pembunuhan itu belum dilakukannya. Negeri kami mengenal hukum. Datang dari negcri di bagian se latan manakah dirimu pendekar, yang dikuasai Wangsa Syailendra di Javadvipa atau Kadatuan Srivijaya?"

Berat rasanya mataku menghindari lekuk liku tubuhnya dalam goyangan bayang-bayang karena api yang tertiup angin. Wajahku mungkin merah dan jengah, sekuat tenaga kupusatkan pikiran kepada percakapan.

"Sahaya hanyalah seorang pengembara, wahai puteri Khmer yang cantik lagi jelita, tiada menghamba kepada siapa pun selain mereka yang lemah dan tiada berdaya, tidak bisa kukatakan diriku anak negeri mana, meski kuakui Celah Kledung asalku di Javadvipa."

Kutatap matanya yang bening lagi tajam, dan mata itu mengerjap balas menantangku. Rambutnya lurus dan penjang, jatuh lemas ke bahunya yang putih. Rambutnya terjalin dengan tusuk konde kulit penyu, dengan mata intan permata berkilatan dalam cahaya obor. Dijalin agak rum it seperti patung Laksmi yang sempat kulihat di tepi sungai. Ikat pinggangnya berkeredap mewah keemas-emasan, seperti imbangan bagi kepolosan segala sesuatu di balik kainnya yang menerawang itu, kain termahal yang dibawa pedagangpedagang Negeri Parsi.

"Celah Kledung! Pernah kudengar nama itu dari para juru cerita Wangsa Syailendra! Adakah sesuatu yang diketahui pengembara takbernama ini tentang Sepasang Naga dari Celah Kledung?"

Bibirnya yang merah itu merekah berkilatan, baris giginya sangat putih, dan kulit wajahnya terlihat begitu lembut, takbisa kubayangkan betapa kecantikan semacam ini bisa terdapat di dalam dunia. Sebagai pengembara di sungai te laga persilatan tidak pernah ingin kumiliki segala sesuatu selain ilmu-ilmu, tetapi pertemuanku dengan perempuan ini membuatku untuk pertama kalinya mengenal perasaan ingin memiliki sesuatu di luar ilmu. Bagaimana aku tidak menjadi jujur dengan perasaan yang mengharu biru seperti itu?

"Sahaya taktahu bagaimana Sepasang Naga dari Celah Kledung te lah diceritakan kembali, tetapi merekalah yang telah mengasuhku, duhai Puteri, semoga tiada sesuatu pun yang menyalahi dari mereka yang telah menjadi orangtuaku sendiri."

Namun di tangannya segera terpegang sebilah pedang lurus tajam keperakan yang terlihat sangat lentur. Ujungnya mendadak sudah menyentuh leherku.

"Telah kukatakan dirimu bukan yang kucari, wahai Pendekar Tanpa Nama! Peradilan akan diberikan kepada yang bersalah, tetapi kepadamu yang tidak sudi bahkan sekadar untuk menundukkan kepala, mungkin karena mengira tiada seorang pun mampu mengatasi kemampuannya, kuberi kehormatan menghadapi diriku dalam pertarungan, wahai Pendekar Tanpa Nama, karena hanya dirimulah, berdasarkan semua cerita yang berhembus dari selatan, pantas kuhadapi sebagai lawan. Bertarunglah!" Ia mengibaskan tangan kirinya yang tidak memegang pedang. seorang pengawal meneriakkan sesuatu dalam bahasa Khmer, dan semua orang yang bersujud dan menggelesot itu mundur teratur membentuk sebuah lingkaran.

Jangan terlibat dengan sesuatu, kata Naga Laut.

Itu baru beberapa saat yang lalu ketika aku dipersilakannya berjalan-jalan keliling kola. Namun baru beberapa langkah saja. Bahkan aku belum keluar dari wilayah bandar antarbangsa yang pernah sangat ternama ini, tag kuduga aku sudah terlibat persoalan yang sungguh tidak bisa dianggap kecil. Bukan sekadar karena nama Naga Hitam kembali terbawa-bawa, dan bahwa puteri ini jelas seorang bangsawan yang sangat ditakuti, melainkan jugs bahwa kurasakan diriku dalam waktu s ingkat justru merasa sangat ingin terlibat dalam hal dengan perempuan ini.

Puteri itu mundur beberapa langkah, menarik kaki kirinya ke belakang dan menekuknya, sehingga seluruh tubuhnya seperti doyong ke belakang, tetapi pedangnya yang lentur dan selalu bergoyang karena sangat tipis itu terarah lurus kepadaku. Aku tahu sejak tadi, dan dari betapa ringan langkah-langkahnya, bahwa ilmu silat perempuan ini sangat tinggi. Memandang lebih cermat, aku tidak habis pikir bagaimana puteri bangsawan ini dapat mempelajari ilmu silatnya tanpa terlihat bekas latihan tenaga dalam di tubuhnya sama sekali.

Kukenal Pendekar Melati, bekas latihan tenaga dalam itu betapapun membekas di sekujur tubuhnya, yang meskipun mulus tetap memperlihatkan, menonjol pada lengan dan tangan, betis dan paha, karena sebelum mendapatkan kesempurnaan seseorang yang sedang mempelajarinya sebagai pemula t idak akan terlalu mengenal perbedaan antara tenaga dalam dan tenaga Iuar sehingga akan sering juga mempergunakan tenaga ototnya. Suatu hal juga terlihat pada Campaka, sejumlah perempuan yang kukenal dari dunia persilatan, maupun sejumlah lainnya yang kulihat sebagai pengawal rahasia istana. Mereka tetap ramping, tetapi sangat berisi, dengan tenaga pukulan tangan yang terjamin mampu memecahkan batu. Puteri Khmer ini, sebaliknya sekilas pintas bagaikan tidak pernah keluar dari istana. Bahkan, seperti yang terbaca olehku pada tatapan matanya, yang harus kukatakan tersirat sebagai jalang, seolah-olah tidak pernah turun dari atas ranjang!

Kejalangan yang tersamar di balik keanggunan. Tiada pernah kusangka akan menyeretku ke suatu kisah asmara panjang yang mendebarkan. Selintas pintas aku teringat Harini, perempuan yang sepuluh tahun lebih tua dariku yang menguji coba segenap ajaran Kama Sutra kepadaku. Ah! Mungkinkali kutepati segala janjiku untuk kembali ke Balingawan? Aku teringat segala kitab dalam kotak warisan pasangan pendekar yang mengasuhku.

"Bertarunglah!"

Puteri itu menukas lamunanku meski takperlu. Kewaspadaan menghadapi serangan dalam keadaan seperti ini dari waktu ke waktu semakin menyatu dengan napasku.

Jurus pembukaan itu tidak pernah kulihat, tetapi pernah kubaca dalam kitab Riwayat Pendekar Satu Jurus, justru sebagai jurus yang tidak pernah dipakainya. Aku berpikir keras. Apakah dirinya bermaksud menggunakan Jurus Penjerat Naga kepadaku? Dalam kitab Jurus Penjerat Naga disebutkan bahwa Jurus Penjerat Naga, seperti yang kemudian juga kupelajari, tidaklah seperti jurus sama sekali, karena di sanalah terletak apa yang disebut jerat dalam Jurus Penjerat Naga.

Namun yang diperlihatkan puteri Khmer ini adalah sebuah jurus, yang disebutkan tidak pernah digunakan oleh Pendekar Satu Jurus, penulis kitab Jurus Penjerat Naga tersebut. Bagaimanakah persoalan ini harus kupecahkan? Api segenap obor yang berada di bandar itu telah padam menjelang pagi. Tidak ada lagi yang bisa kulakukan selain menunggu seperti Pendekar Satu Jurus yang terdapat dalam kitab itu. Aku berdiri mematung, puteri Khmer itu masih dalam kuda-kuda yang sebetulnya disebut takpernah digunakan oleh Pendekar Satu Jurus. Tentu saja ia tidak bodoh, jika ia mengetahui keberadaan Sepasang Naga dari Celah Kledung, dan bahwa telah diketahuinya diriku sebagai anak asuhan mereka, maka ia harus menduga aku juga mengetahui isi kitab Jurus Penjerat Naga maupun kitab Riwayat Pendekar Satu Jurus. Aku pun menduga puteri Khmer itu sedang mencoba membingungkan aku dengan penggunaan jurus tersebut, karena betapapun Jurus Penjerat Naga hanya dapat diberlangsungkan me lalui jurus-jurus yang sama sekali bukan seperti jurus.

Sehingga terdapat dua kemungkinan dalam sikapnya itu; pertama, ia ingin menguji apakah aku menguasai jurus itu atau tidak, melalui tanggapanku terhadap kuda-kuda pembukaannya; kedua, jika aku tidak mengenalinya, maka diandaikannya betapa aku juga akan segera menyerangnya, yang membuat ia harus menunggu, meski tidak harus sampai selama itu.

NAMUN aku juga menduga bahwa dirinya mempertimbangkan kemungkinan ketiga, yakni jika aku memang menguasai dan mengenal Jurus Penjerat Naga, dan jika kemungkinan inilah yang terdapat padaku, baginya tiada lebih dan tiada kurang inilah pertarungan yang sebenarnya, karena siapa yang lebih dulu menyerang dipastikan akan kalah dan binasa!

Mereka yang menyaksikan di luar arena tentu sudah sangat lelah. Kedudukan berdiri berhadapan ini telah berlangsung semalaman tanpa gerak sama sekali. Aku berdiri seperti patung tanpa kuda-kuda sama sekali, karena Jurus Penjerat Naga memang tidak akan pernah tampak seperti suatu jurus sama sekali. Namun putri itu sudah semalaman berdiri dengan kuda-kudanya yang membuat tubuhnya doyong ke belakang itu, dengan pedang terulur lurus ke arahku. Inilah yang membuat aku bertanya-tanya dalam kewaspasdaan sepanjang malam, mungkinkah terdapat kitab Jurus Penjerat Naga lain yang terbawa dalam gelombang pengaruh kebudayaan wangsa Shailendra ke tanah Khmer ini, dan kitab yang lain itu mengajarkan bahwa jurus yang tidak pernah digunakan Pendekar Satu Jurus ternyata bisa dipakai, ataukah putri dengan kain menerawang melambai-lambai ini memang benar sekadar berusaha mengacaukan pikiranku saja?

Lebih aman bagiku mempertimbangkan kemungkinan terakhir itu, karena dasar Jurus Penjerat Naga hanya satu, yakni siapa pun yang menyerang lebih dahulu maka dia akan kalah dalam pertarungan. Maka pertarungan, apalagi antara dua orang yang menguasai Jurus Penjerat Naga, justru sudah berlangsung ketika keduanya berhadapan dan belum menyerang sama sekali!

Pertarungan dalam diam seperti ini jauh lebih berat dari pertarungan bergerak yang mana pun. Fajar makin menjelang. Dalam kitab Riwayat Pendekar Satu Jurus yang dulu dibacakan Harini kepadaku, pertarungan terlama yang pernah dilakukan Pendekar Satu Jurus adalah dari malam tiba sampai fajar merekah, seperti ketika bertarung melawan Pendekar Lautan Tombak. Namun itu tidak berarti bahwa pertarungan tanpa gerak sepanjang malam itulah batas waktu bagi penantian serangan lawan. Pendekar Satu Jurus mendapat namanya karena selalu hanya memerlukan satu jurus untuk mengalahkan lawan, karena pada masanya tiada seorang pun dari lawan-lawannya mengenal terdapatnya Jurus Penjerat Naga tersebut, sehingga pertarungannya selalu dise lesaikan dalam waktu singkat. Bahkan Pendekar Lautan Tombak, yang dengannya Pendekar Satu Jurus berhadapan sepanjang malam, tak juga menyerang hanya karena menunggu saat kelengahan Pendekar Satu Jurus, yang ternyata tak pernah datang. Karena itu ketika akhirnya ia menyerang juga, memang saat itulah terbuka kelengahannya dan Pendekar Lautan Tombak menemui ajalnya.

Ini berarti bahwa pertarungan antara dua orang yang menguasai Jurus Penjerat Naga adalah pertarungan untuk saling menanti dengan kewaspadaan tinggi, yang berarti juga tiada mempunyai batas waktu sama sekali!

Fajar merekah, langit semakin lama semakin terang. Ribuan kelelawar di langit berkepak pulang ke sarangnya. Kudengar kicau burung. Seekor burung gagak berkaok di puncak tiang sebuah kapal. Sejak semalam kerumunan di luar arena semakin lama semakin banyak. Kudengar bahasa percakapan dalam bisik-bisik yang takkukenal. Tiada kusangka begitu menginjak tanah di luar Suvarnadvipa untuk pertama kalinya, aku langsung mendapat tantangan yang begini berat, dari seorang perempuan pendekar yang keindahannya bagiku ternyata akan sangat membakar...

(Oo-dwkz-oO)