Nagabumi Eps 96: Taring Kala

Eps 96: Taring Kala

HANYA mereka yang datang dari dunia persilatan mampu berkelebat tanpa terlihat mata orang biasa dan melenting dengan ringan dari tiang ke tiang. Kutajamkan pendengaranku dan dapat kuketahui kecepatan dan tenaga dalam mereka yang luar biasa. Kedua orang yang ikut menyerbu kapal ini dalam sekejap telah menewaskan enam awak kapal kami, sementara Naga Laut sendiri dalam keterpejamanku tampak dikeroyok lima orang. Pertarungan mereka seimbang, bahkan Naga Laut dengan belati panjang melengkungnya yang ujungnya telah menjelma selaksa itu kukira akan bisa mengatasinya. Namun kedua sosok yang telah menewaskan enam kawan kami itu terlalu tinggi ilmunya bagi para bajak laut. Jika lawan mereka habis dan segera ikut menyerang Naga Laut, sungguh nakhoda itu berada dalam bahaya!

Aku tidak bisa tinggal diam dan kuabaikan perintah nakhoda. Kubuka mata dan berkelebat untuk menghentikan pembantaian itu. Dalam sekejap kawan-kawanku segera kehilangan lawannya karena kuserbu keduanya dengan kecepatan kilat takterduga. Tentu saja mereka sangat terkejut tetapi masih berdaya menghadapiku dengan kecepatan yang sama.

Aku tidak bisa tinggal diam, maka kuabaikan perintah Nakhoda. Kubuka mata dan aku berkelebat untuk menghentikan pembantaian itu. Dalam sekejap kawan- kawanku segera kehilangan lawan mereka karena kuserbu keduanya dengan kecepatan kilat takterduga. Tentu saja mereka sangat terkejut tetapi masih berdaya menghadapiku dengan kecepatan yang sama.

Mereka melenting ke atas dan kukejar ke atas. Segera beterbangan jarumjarum beracun berwarna kuning kehijauan ke arahku, tapi kusamplok dengan pedang hitam yang keluar sendiri dari dalam tanganku. Jarum-jarum itu rontok menjadi abu karena tenaga dalamku, yang sengaja kulakukan karena jika jarumjarum beracun itu bertebaran di geladak dalam keadaan utuh, maka ketika terinjak bahkan goresannya saja kutahu bisa menghilangkan nyawa dengan kulit membiru. Sebagai balasan kukirim serangan angin pukulan Telapak Darah yang ternyata takberani mereka hadapi. Mereka melenting sampai ke puncak tiang dan aku jugs langsung ikut melenting untuk mengejar mereka.

Hanya ada dua puncak tiang, dan mereka telah bertengger di atasnya, ketika aku melayang mereka mengirimkan angin pukulan secara bersamaan. Aku segera tahu bahwa ilmu kedua pendekar ini adalah ilmu yang berpasangan. Masih di udara kujungkirbalikkan tubuhku menghindari serangan, dan tetap juga melenting ke atas, lantas kuserang sa lah satu di antara mereka di salah satu puncak tiang itu, agar keberpasangan ilmu di antara mereka terbuyarkan. Sebagai anak sepasang Naga dari Celah Kledung kukenal dengan baik seluk-beluk keberpasangan ilmu silat, dan melalui Ilmu Pedang Naga Kembar bahkan aku mampu menghadapinya bagaikan diriku tidak hanya satu, melainkan sepasang pemain pedang.

Demikianlah aku berada dalam satu tiang dengan salah satu di antara mereka berdua, dan karena puncak tiang itu hanya cukup untuk berdiri satu orang, itu pun dengan sebelah kaki, maka puncak tiang layar itu tergunakan bergantian dalam pertarungan secepat kilat yang takbisa diikuti oleh mata. Salah satu di antara kami memang harus berusaha menjatuhkan yang lain, karena hanya dengan begitu akan dapat berpijak, sehingga dalam beberapa kejap puncak tiang itu telah ditempati bergantian. Setiap kali seseorang berpijak dengan sebelah kaki maka yang lain akan menyerang. Demikianlah berlangsung terus di puncak tiang, dalam pertarungan yang hanya mungkin berlangsung antara mereka yang memiliki ilmu meringankan tubuh di luar pembayangan.

Sekilas kuperhatikan lawanku. Ia mengenakan kancut hijau tua, rompi hijau tua, dan juga serban dengan warna yang sama, meski warna hijau itu hasil celupan pewarna itu sudah mulai memudar.

Tubuhnya pendek gempal wajahnya berewokan, kedua tangannya yang diliputi rajah berbagai penjelmaan Kala tampak memegang sepasang keris kehitaman. Gerakannya sangat cepat sehingga aku tidak boleh lengah sekejap pun menghadapinya, di sampingnya kutahu pada tiang yang lain sosok satunya menunggu kesempatan pula.

"Ah! Kali ini Taring Kala mendapat lawan bermain yang sepadan! Bolehkah kiranya Kalarudra mengenal siapa lawannya yang gagah lagi perkasa-."'

Mendengar nama Taring Kala itu dadaku berdesir. Itulah nama pasapendekar yang keharuman namanya bahkan berhembus kencang sepanjang Yavabhumipala, yakni Kalarudra dan Kalamurti. Hmm. Taknyana kini aku harus berhadapan dengan mereka di tengah lautan seperti ini. Kalarudra artinya Rudra yang dianggap sebagai api penghancur dunia, sedangkan Kala berarti kelahiran kembali Kala; keduanya secara bersama kemudian memiliki nama Kaladangstra yang berarti Taring Kala, karena ilmu silatnya tinggi dan belum pernah terkalahkan.

"Maafkan sahaya, Kalarudra, kiranya sahaya yang tiada bernama tidak mendapat sekadar pelajaran dari Taring Kala yang perkasa!"

Kalarudra tampak terkejut. "Kalamurti Pendekar Tanpa Nama dari Javadvipa ada di sinil"

Maka bukan saja Kalamurti maupun aku sendiri ikut terkejut karena diriku masih juga dikenali di tengah lautan ini, tetapi mereka yang bertempur di bawah dan mendengarnya ternyata terkejut juga. Namun diketahuinya siapa diriku bagi pasangan Taring Kala ini hanya berarti bahwa pertarungan akan berlangsung antara hidup dan mati. Maka Kalarudra pun segera meningkatkan serangannya, sementara Kalamurti yang busananya sama dengan Kalarudra, tetapi senjatanya golok yang ujungnya melengkung, pun menjejak tiang tempatnya berdiri sejak tali dan melesat menyerbuku.

"Pendekar Tanpa Nama! Selamat datang di Suvarnabhumil"

AKU mencoba mengingat apa yang kuketahui tentang Taring Kala sembari melayani serangan mereka. Konon, golok di tangan Kalamurti dengan ujung melengkung itu sengaja dibuat untuk memenggal leher lawan hanya dengan meletakkannya di tengkuk lantas ditarik ke depan. Itu dalam cerita dari kedai ke kedai. Dalam kenyataannya, kukira memang benar ia memenggal leher, tetapi melalui segala cara dengan golok yang ujungnya melengkung itu. Dipadu dengan sepasang keris kehitaman Kalarudra yang seperti selalu bisa menembus pertahanan lawan, pasangan ini belum pernah terkalahkan dalam pertarungan. Apakah menghadapi lawan satu pasukan, apalagi jika hanya satu orang. Dikatakan bahwa sepasang keris kehitaman Kalarudra akan begitu rupa mengancamnya, sehingga menyita perhatian sepenuhnya, dan saat itulah tebasan golok Kalamurti yang ujungnya melengkung akan memenggal kepala. Yah, sekarang kuingat cerita yang beredar tentang Taring Kala, yakni lawan mereka selalu kehilangan kepala.

Dalam sekejap Kalamurti menyabetkan goloknya berkali- kali dari segala arah menuju leherku, dan aku taktahu apakah ia lupa bahwa puncak tiang kapal ini hanya cukup memuat satu orang itu pun dengan satu kaki. Segera kulepaskan ilmu meringankan tubuhku, sehingga aku bagaikan memberat tiba- tiba dan jatuh ke bawah. Namun Kalarudra memang hebat, ia lepaskan juga ilmu meringankan tubuhnya menyusulku jatuh ke bawah. Dengan begitu Kalamurti pun bisa hinggap di puncak tiang itu, karena betapapun hebatnya ilmu meringankan tubuh seorang pendekar silat, tidak berarti lantas bisa mengambang di udara tanpa pijakan.

Melihat keadaan ini, ketika Kalarudra yang tubuhnya lebih berat dariku me lewatiku jatuh ke bawah, kupasang kembali ilmu meringankan tubuhku dan kujejakkan kaki ke tubuhnya setelah menghindari tusukan kilat kedua kerisnya. Maka tubuhku melesat ke atas kembali, sedangkan Kalarudra meluncur makin cepat ke bawah. Aku telah memisahkan pasangan ini. Tepat ketika aku berada di hadapan Kalamurti yang telah menungguku dengan golok pemotong kepala itu, seperti dugaanku ia menyabetkan goloknya pada saat aku berhenti di udara. Namun sebenarnya aku masih mempunyai cadangan daya dorong, untuk melompat jungkir balik ke atas kepalanya ketika goloknya menyabet ke depan, tempat semula leherku berada.

Aku telah menahan napas sebentar agar tampak berhenti, dan memang Kalamurti tertipu, bukan saja sabetan goloknya luput, tetapi keseimbangan tubuhnya pun hilang sehingga ia terdorong ke depan. Saat itu aku sudah berada di atasnya, dengan kepala di bawah dan dari tanganku keluar sendiri kedua pedang hitam warisan Raja Pembantai dari Selatan itu. Masih dengan kepala di bawah kulakukan gerak menggunting. Maka meluncurlah Kalamurti ke bawah tanpa kepala lagi.

Kuselesaikan gerak jungkir balik setelah menggunting, lantas ikut me layang turun, meski telah kupasang kembali ilmu meringankan tubuh. Saat itulah aku menyadari betapa Kalamudra sudah tidak kelihatan. Tubuhnya yang jatuh lebih cepat lagi karena jejakanku rupanya menjadi begitu berat dan keras, sehingga papan geladak jebol dan tubuhnya terjerembab di lambung kapal. Aku teringat Putri Asoka yang dijaga Darmas di bilik para awak kapal, apakah yang akan dilakukan bila ia naik melalui palka dan melihatnya? T idakkah ketiga kapal ini memang bermaksud memburu Samudragni yang telah berusaha memeras dengan menyandera Putri Asoka, mengancam tidak akan mem bunuhPutri Asoka jika bayaran tidak ditambah? Kini, meski bukan Samudragni yang mereka jumpai, tetapi langsung Putri Asoka sendiri, tidakkah Putri Asoka itu akan segera dihabisi?

Aku langsung mendarat di lambung kapal melalui lubang yang jebol karena tubuh Kalarudra. Hanya barang muatan kapal ini yang terlihat di sana. Tentu ia sudah melejit lagi. Aku melesat ke bilik para awak kapal dan kulihat Darmas sudah menjadi mayat dengan dua tusukan pada kedua dadanya. Putri Asoka lenyap!

Saat itu Naga Laut turun ke palka. Segera diketahuinya apa yang telah berlangsung. Seluruh tubuhnya merah oleh cipratan darah lawan.

"Sudah daku katakan jangan pergi ke mana-mana!"

Naga Laut tampak marah besar dan aku juga merasa bersalah. Namun kurasa aku juga akan merasa bersalah jika ketika tetap berjaga teman-temanku dihabisinya. Kalarudra dan Kalamurti yang dikenal sebagai Taring Kala, bahkan seluruh pertarungannya di Suvarnabhumi diceritakan kembali dari kedai yang satu ke kedai yang lain sepanjang Yawabhumipala, akan dengan cepat membantai seluruh awak kapal Naga Laut jika aku tidak segera menyerangnya. Aku telah berhasil membuyarkan keberpasangan ilmu silat mereka dan membunuh Kalamurti, tetapi Kalarudra lenyap membawa Putri Asoka, yang telah dipercayakan kepadaku untuk menjaganya.

DI atas geladak, jatuhnya tubuh Kalamurti dengan kepala terpisah dari tubuhnya telah mengecilkan nyali pasukan Srivijaya, yang agaknya selama ini telah mengandalkan kedua tokoh dunia persilatan tersebut.

Naga Laut telah menewaskan para pengeroyoknya, dan sisa pasukan yang terdesak oleh anak buahnya berloncatan kembali ke kapal mereka yang semenjak tadi telah terjerat tak dapat pergi. Namun para awak kapal berloncatan mengejar dan aku pun me lesat untuk mencari Kalarudra yang telah membawa Putri Asoka. Jika ia tidak berlari di atas laut atau merenanginya seperti ikan lumba-lumba, mungkin dengan seribu lumba-lumba, tentu ia masih berada di kapal ini.

"Tuan!"

Kudengar suara Putri Asoka dan aku mendongak ke atas.

"Ya, aku berada di sini, wahai Pendekar Tanpa Nama, kurasa putrimu ini tidak akan bisa terbang jika kulepaskan dari sini!?" Kalarudra berada di puncak tiang kapal Sriv ijaya yang bentuknya sama belaka dengan kapal Naga Laut, sembari menenteng Putri Asoka pada pinggang dengan tangan kirinya.

Tangan kanannya memegang satu dari sepasang keris senjatanya itu dan ia tentu hanya berdiri dengan satu kaki.

Kulihat Putri Asoka meronta-ronta ingin melepaskan diri. "Putri! Jangan meronta! Berbahaya!"

Kalarudra itu, apakah kiranya yang dipikirkannya?

Barangkali ia tidak pernah mengira akan kehilangan saudaranya hari ini, aku menduga ia kini berpikir hanya nyawanya sendirilah yang harus diselamatkannya sekarang ini.

"Pendekar Tanpa Nama! Dikau datang jauh-jauh dari Javadvipa untuk apa? Aku ditugaskan untuk membekuk Samudragni, dan membebaskan Putri Asoka yang akan dibunuhnya, tetapi kutemukan dirimu bersama puteri ini. Jelaskanlah kepadaku apa yang telah terjadi!" Apakah Kalarudra berkata jujur? Apakah dia tidak tahu Samudragni menyandera kematian, dan bukan kehidupan Putri Asoka? Semakin dibiarkannya Putri Asoka hidup semakin gelisah pihak yang berkepentingan dengan kematian Putri Asoka. Persoalannya sekarang, Kalarudra merebut Putri Asoka dari siapa pun yang dianggap telah menguasainya, untuk membunuhnya seperti yang menjadi tujuan siapa pun yang menugaskannya itu, ataukah sekadar mengambil alih penyanderaan Putri Asoka dari Samudragni untuk kepentingan yang sama, yakni memperpanjang kehidupannya hanya untuk dibunuh jika mendapat bayaran tambahan?

Aku tidak merasa perlu percaya bahwa ia akan membebaskan Putri Asoka, karena dalam kata-katanya sendiri telah mengancam untuk melepaskannya ke bawah begitu saja, agar jatuh dan tentu saja akan mati.

"Kalarudra! Apa pun yang terjadi, dikau akan mati jika Putri Asoka tidak dikau serahkan kembali sekarang ini!"

Seorang pendekar tidak takut mati, tetapi apakah yang telah membuat Taring Kala bergabung dengan pasukan Srivijaya ini jika bukan karena kepentingan duniawi? Aku tidak ingin memberinya pilihan selain menyerahkan kembali Putri Asoka, yang kuduga telah direbutnya terutama untuk menyelamatkannya.

Tanpa Kalamurti yang mati pun dengan nasib begitu rupa, kesaktian sepasang Taring Kala tinggal separo. Jika ketika berpasangan saja aku dapat membuyarkan keberpasangan mereka, maka apalah yang masih dipunyainya setelah tinggal satu orang pula?

Kecuali jika Kalarudra ingin mati sebagai seorang pendekar dalam puncak kesempurnaannya. Menyerahkan kembali Putri Asoka, bertarung melawanku, dan mati terhormat dalam jalan persilatan yang telah dipilihnya. Aku memandang dengan waswas ke atas. Betapapun Putri Asoka masih berada di atas sana, dalam kekuasaan seseorang yang sangat mungkin membunuhnya sekarang juga. Geladak mendadak sepi, anyir darah meruap di mana-mana. Pihak lawan sudah habis ditewaskan. Kami semua mendongak ke atas.

(Oo-dwkz-oO)

SAMPAI tiga hari kemudian kami masih berlayar dalam keadaan membisu. Semua perhitunganku ternyata keliru. Tujuan Kalarudra hanya satu, yakni membunuh Putri Asoka secepatnya begitu ketemu, sesuai dengan penugasan yang agaknya dilakukan berdasarkan kesepakatan tertentu. Sampai sekarang tidaklah kuketahui kesepakatan macam apakah itu, kecuali keyakinan bahwa tentulah suatu kesepakatan yang sangat penting artinya bagi Kalarudra, atau juga pasangan Taring Kala, sehingga rela kehilangan nyawa demi tugas yang tidak akan pernah bisa dianggap terpuji, yakni bukan membela, melainkan membunuh pihak yang jauh lebih lemah dan tidak berdaya.

SEGALA persoalan berkecamuk dalam diriku, menyeruak kepedihan atas tewasnya kawan-kawan seperjalanan yang mengenaskan di tangan pasangan Taring Kala. Pangkar, Daski, Markis, Darmas, dan beberapa yang lain lagi mati dan tidak berada bersama kami lagi. Dari saat ke saat Naga Laut tercenung di buritan, sementara kemudi diserahkannya kepada awak kapal yang lain. Sedangkan aku yang baru bergabung saja merasakan kehilangan yang begitu menggurat dan menorehkan luka, maka tentulah bagi nakhoda kehilangan anak buah yang telah menjelajahi tujuh lautan dalam segala suka dan duka dengan setianya itu terasakan lebih berlipat ganda.

Seorang lelaki tidak menangis, tetapi hati kami semua berdarah-darah. Suatu kepedihan yang akan semakin terasa bagai se laksa sembilu yang menghunjam, manakali kami sadari betapa tiada berdaya diri kami melindungi gadis kecil yatim piatu berusia 12 tahun dari tangan-tangan kekerasan dalam dunia yang tidak bisa lagi kami mengerti. Kami tidak menyalahkan Kala, kami tidak menyalahkan Rudra, tidak pula menyalahkan Buddha, selain menghayati karmapala dalam perjalanan menuju Nirvana. Betapa tiada artinya kemenangan pertempuran, dalam perbandingannya dengan kehilangan dalam kehidupan. Namun jika segala sesuatunya tiada lebih dan tiada kurang menggenapkan kesempurnaan, apakah kami tiada berhak lagi berduka dan berusaha membayar utang persoalan di dunia yang fana? Dalam salah satu suratnya kepada Raja Gautamiputra, Nagarjuna berkata:

dalam memilih

antara yang mengalahkan keterombang ambingan dalam tujuan sementara dari keenam indera

dan yang mengalahkan pasukan lawan dalam pertempuran, yang bijak tahu

bahwa yang pertama adalah pahlawan yang jauh lebih besar

Dalam kesedihan, persoalan tetap saja menyeruak untuk dipikirkan. Siapakah sebenarnya yang telah mengirim pesan melalui burung merpati, menyeberang selat, dan ditujukan kepada Samudragni? Sebegitu besarkah ancaman yang mungkin datang dari para bangsawan Jambi Malayu, dengan segenap pendukungnya setelah lebih dari seratus tahun berlalu? Seberapa jauhkah semua ini masih berarti sete lah Putri Asoka tiada lagi?

Kapal ini masih berada di tengah lautan, dan Naga Laut sama sekali belum mengambil keputusan, apakah akan tetap meminta pertanggungjawaban terbunuhnya orang-orang Muara Jambi, ataukah melanjutkan perjalanan sahaja ke mancanegara, seolah-olah pembantaian seisi kapal di tengah lautan itu tidak pernah terjadi.

Kupandang cakrawala yang mengitari kami. Laut dan langit terbentang kebiruan. Kapal ini bagaikan tidak pernah bergerak ke mana pun sama sekali.

(Oo-dwkz-oO)