-->

Nagabumi Eps 95: Tenggelamnya Tiga Kapal Srivijaya

Eps 95: Tenggelamnya Tiga Kapal Srivijaya

KETIGA kapal Sriv ijaya itu mendekat dengan kecepatan penuh, yang tengah langsung menuju kapal ini, yang dua lagi masing-masing bergerak menyerong ke kiri dan ke kanan dengan rencana yang terbaca dengan jelas, yakni keduanya akan berbelok kembali untuk menyerang dari kiri dan kanan. Kapal Naga Laut akan segera terkepung, tetapi kulihat nakhoda kami itu begitu tenang. Ketiga kapal itu sama jenis maupun ukurannya dengan kapal ini, sehingga kuperkirakan jika setiap kapal mampu memuat 25 orang, maka setidaknya terdapat 75 orang yang harus kami hadapi, dalam pertempuran yang akan membabi buta sekali.

Sudah bukan rahas ia lagi bahwa kapal Naga Laut adalah kapal yang paling diburu oleh armada Sriv ijaya. Kapal Naga Laut biasanya sangat lincah. Sehabis menyerang, ia dapat segera menghilang sebelum kapal lain datang. Namun kali ini kapal Naga Laut membawa banyak muatan rempah-rempah untuk mereka perdagangkan ke mancanegara, jauh di luar Suvarnadvipa. Sebaliknya, kapal-kapal Sriv ijaya ini bukan hanya kosong, melainkan sangat mungkin lambung kapal diisi pasukan tambahan. Apakah mereka memang sudah mengincar kapal Naga Laut? Kukira Naga Laut sangat berhati- hati menjaga kerahasiaan perjalanannya. Ataukah hanya kebetulan? Kukira tidak juga, karena serangan ini tampak jelas sebagai serangan yang siap dan sudah diperhitungkan. Apakah yang telah terjadi?

Nakhoda memberi perintah ke sana kemari.

"Pangkar! Jaga sisi kiri! Markis dan Daski! Jaga sisi kanan! Darmas! Jaga Putri Asoka! Anak! Jangan jauh dariku! Siapkan senjatamu! Setiap orang akan menghadapi tiga orang! Serang lebih dulu sebelum mereka menyerang kita!"

Dengan cepat awak kapal bergerak dan terkelompok menjadi tiga, masing-masing dengan Pangkar, Markis, dan Naga Laut itu sendiri sebagai kepala regu. Mereka mempersiapkan anak-anak panah yang sudah direndam dengan racun, dan anak-anak panah itu kuperhatikan ternyata bergerigi. Sekali tertancap tidak akan bisa dicabut kembali, sehingga racun yang dibawanya terjamin segera bekerja tanpa terputus. Mereka berlindung di balik dinding kapal, supaya takbisa diserang lebih dulu.

DENGAN berbisik-bisik, seorang awak menjelaskan kepadaku bahwa mereka akan menyerang setelah panah- panah dilepaskan, karena dengan jumlah yang lebih sedikit harus mampu menguasai keadaan.

"Racun dalam panah-panah ini membuat orang langsung mati," katanya.

Jarak semakin dekat. Kulihat dengan kepercayaan diri sangat tinggi mereka siap menyerang. Seseorang bahkan berdiri dekat lunas kapal dengan tombak di tangan seperti berburu ikan hiu. Suatu tindakan gegabah karena merasa jumlahnya lebih banyak. Namun, betapapun, para awak kapal Srivijaya tetaplah mesti diandaikan sebagai pasukan yang terlatih dengan baik. Meskipun kedatuan itu terasalkan dari berbagai gerombolan bajak laut, setelah tiga ratus tahun lebih tentulah menguasai ilmu pertempuran laut dengan lebih baik dari sebelumnya. Jadi Naga Laut pun tidak akan memandangnya remeh.

"Jangan lupa! Kejutkan mereka dengan serangan mendadak! Ini pertempuran antara hidup dan mati! Arahkan perahu kepada yang tengah segera!"

Mengikuti perintah Naga Laut, sebagian awak yang berada di kiri dan kanan berloncatan ke atas cadik dan mendayung. Tenaga angin pada layar dan tenaga dayung membuat kapal melaju lebih cepat dari kapal lawan. Naga Laut sungguh cerdik. Dari segi jum lah sudah jelas kedudukannya sangat lemah, meski begitu ia berusaha mengacaukan pemusatan perhatian lawan. Mereka berusaha mengepung, tetapi dengan kecepatannya sekarang, bukan saja ia akan mengejutkan kapal yang di tengah, melainkan juga membuat kedua kapal yang telah menjauh karena menyerong untuk berbalik mengepung itu kehilangan sasaran. Mereka terpaksa kembali ke arah semula untuk mengejar kami, dan itu memerlukan waktu.

Saat ini kami sudah semakin dekat dengan kapal yang di tengah itu. Mereka tampak terkejut dan menghindari tabrakan. Siasat Naga Laut mengena! Kapal mereka akan melewati sisi kanan kami.

"Markis! Daski! Sisi kanan!" "Siap Nakhoda!"

Saat lunas kapal mereka terbelok ke kiri karena menghindari tabrakan, dari kapal kami meluncur sebatang anak panah yang langsung menancap di dada orang yang memegang tombak di haluan.

"Aaaaaaaaaaaa!" Ia langsung jatuh ke laut dan kemungkinan sudah mati sebelum tubuhnya menyentuh air. Racun yang diolah dari tubuh makhluk-makhluk dasar laut, karena keterbatasan mereka menghadapi bahaya yang datang dari ikan-ikan besar, memang sangat berbisa. Belum lagi hilang terkejutnya, ketika kapal secara utuh berada di sisi kanan, seluruh regu di sisi kanan mendadak berdiri dan melepaskan anak-anak panah mereka yang beracun.

Jep! Jep! Jep! Jep! "Aaaaarrrggghhh!"

Pasukan Sriv ijaya yang telah siap dengan tombak dan golok tiada mengira serangan akan datang lebih dulu seperti itu. Semula mereka berada dalam kedudukan menyerang, mereka taksiap untuk mendadak diserang.

Markis dan Daski memimpin regunya untuk menyerang masuk ke kapal.

"Bunuh! Bunuh! Bunuh!"

Mereka berlompatan seperti kera di atas cadik kapal lawan, dengan lincah menghindari dan menangkis anak-anak panah yang dilepaskan. Lantas mengamuk dengan dua belati panjang melengkung begitu menginjakkan kaki di geladak.

"Bantai! Bantai! Bantai!"

Dalam sekali ayun kedua senjata Markis memakan korban. Disusul Daski yang berkelebat melewati se lasar, berayun di atas tali, dan turun juga dengan dua belati panjang melengkung yang sekali putar merobek dua lambung lawan. Mereka rubuh sembari menghamburkan darah serta isi perut mereka di lantai geladak.

"Aaaaaakhh!" "Aaaaakkkhhh!" "Aaaaakhkh!" "Aaaaakh!"

Para awak kapal yang telah menyusul Markis dan Daski, dengan segera menetak-netakkan senjata mereka dengan ganas. Para awak kapal Sriv ijaya menjadi panik dan suasana semakin hiruk pikuk. Anak buah Naga Laut semuanya mengandalkan kepandaian mereka berayun pada tali temali layar untuk melayang kian kemari, dan hanya melepaskannya ketika melayang turun untuk menikam.

"Aaaarrgghh!"

Jerit kematian terdengar di mana-mana.

DALAM pertarungan di atas kapal yang penuh sesak seperti itu, justru yang jumlahnya lebih sedikit jauh lebih diuntungkan, selama dapat bergerak cepat dan memanfaatkan ruang dengan cerdik. Itulah yang terjadi dalam pertempuran ini. Pihak Sriv ijaya menyerang dengan tiga kapal, tetapi gerakan kapal Naga Laut telah membuatnya jadi pihak yang diserang dengan mendadak, sedangkan serangan mendadak selalu lebih menguntungkan.

Aku bergerak ingin membantu. Namun Naga Laut menahanku dengan tangannya. Ia menganggapku belum berpengalaman, meski pelaut-pelaut berpengalaman telah berada di atas kapal yang mengarungi dunia setidaknya sejak usia 15 tahun. Nakhoda itu betapapun belum menganggapku seorang pelaut, apalagi bajak laut yang selalu siap tempur, meskipun ceritaku meskipun tidak lengkap semestinya dapat dianggap sebagai ujian yang bagus bagi kemampuanku.

Aku menurut, tapi kuperhatikan pertarungan di atas kapal. Kurasa pasukan Sriv ijaya yang berada di atas perahu itu juga belum berpengalaman. Bukan saja mereka masih sangat muda wajahnya, tetapi juga sama sekali tidak sigap menghadapi para bajak laut yang sangat mahir bertempur di atas kapal ini. Cukup dengan lima orang bergelayut ke sana kemari pada tali layar dan dua lagi me lenting-lenting di atas geladak, pasukan Srivijaya di kapal itu telah diobrak-abrik. Seriap kali bergelayut turun, seorang bajak laut dipastikan memakan satu sampai dua korban, dengan belati panjang melengkung yang seolah- olah diciptakan hanya untuk menyobek perut itu. Mereka yang di bawah terbingungkan oleh para lima bajak laut yang berayun sekaligus di berbagai tempat untuk mencabut nyawa dengan ganas. Sementara kepala mereka selalu menengadah ke atas, dua bajak laut yang melenting-lenting di atas geladak berkelebat menyobek perut mereka tanpa ampun.

Dalam sekejap kapal itu telah berubah menjadi pemandangan bencana. Geladak berwarna merah oleh darah, mayat bergelimpangan dalam keadaan mengenaskan, yang belum mati mengerang-erang tanpa harapan akan tetap hidup. Para bajak laut tidak memberi ampun bagi yang setengah mati, mereka segera dihabisi. Hanya dengan tujuh orang melompat ke dalam kapal, lebih dari separo isi kapal yang berjumlah 25 orang itu telah ditewaskan. Sisa lima orang yang masih hidup tampak tersudut. Mereka masih memegang pedang dan tombak mereka, tetapi wajahnya jelas tidak mempunyai harapan. Mereka lepaskan senjata mereka, dan bersujud sambil berteriak.

"Samudragni! Ampuni kami! Jadikanlah kami pengikutmu!"

Para bajak laut saling berpandangan. Kapal-kapal Sriv ijaya ini rupanya dikirim untuk menangkap Samudragni, yang tidak mereka ketahui betapa kapalnya sudah dihancurkan badai puting beliung dan Samudragni sendiri lenyap ditelan sumur pusaran di tengah lautan.

Namun tiada waktu berpikir. Naga Laut memberi tanda. Maka dari kapal kami berlesatan panah-panah api ke arah layar maupun berbagai sudut kapal Srivijaya itu. Anak buah Naga Laut mengambil tikar, kain, dan apa saja yang mudah terbakar dan melemparkannya ke arah panah-panah api yang masih menyala ketika menancap di berbagai sudutnya. Lantas dengan segera mereka berlompatan kembali ke kapal, berayun dari tiang kapal itu langsung ke kapal kami.

Kapal itu tidak segera menyala ketika kami tinggalkan, tetapi setelah agak berjarak layarnya terbakar habis menimbulkan asap hitam. Kutahu Naga Laut berusaha menggetarkan hati pasukan Sriv ijaya yang berada di dua kapal lainnya. Kapal kami berputar haluan, dan berdasarkan arah angin bergerak ke arah yang berada di sebelah kiri kami lebih dulu, yang juga lebih dekat kepada kami. Kusaksikan betapa berat pekerjaan pemegang kemudi dan pendayung yang harus memutar arah kapal secepatnya. Mereka yang menyesuaikan layar pun menarik tali sampai lengan-lengan penuh rajah mereka tampak menggembung.

"Pangkar! Gunakan cara yang sama! Panah-panah siap!

Markis dan Daski awasi perahu di kanan!"

Naga Laut sungguh penuh perhitungan melawan kapal- kapal yang lebih banyak itu. Perhitungan yang harus sesuai dengan kemampuan mereka menghabisi lawan secepat- cepatnya. Salah perhitungan berarti bencana bagi pihak kami, karena lawan akan tiba saat kami masih bertarung. Namun kami sudah selesaikan satu kapal, dan akan menghadapi kapal kedua. Pertarungan yang berikut ini harus lebih cepat lagi, karena kapal yang ketiga akan lebih cepat lagi tiba.

KINI kami sudah berhadapan. Kali ini Naga Laut tidak seperti akan menabrakkan kapal, karena s iasat ini pasti sudah diperhitungkan oleh lawan. Betapapun kapal-kapal ini adalah bagian dari armada Srivijaya yang menguasai lautan Suvarnadvipa. Betapapun banyak pengalamannya dalam pertempuran di lautan, Naga Laut tidak pernah ingin memandang rendah lawan.

Naga Laut memberi tanda, dan segera panah-panah api berlesatan dari kapal kami ke arah layar mereka yang segera menyala, disusul panah-panah beracun yang memakan korban siapa pun yang menjadi lengah karena kebakaran itu. Dalam sekejap korban berjatuhan. Mereka yang bermaksud mencabut panah hanya berhasil me lakukannya setelah merusak daging dan otot kawannya sendiri, yang karena racun anak panah itu pun sudah langsung mati. Belum hilang kepanikan mereka, kapal sudah menempel di samping kapal mereka dan para bajak laut berlompatan masuk dengan teriakan ganas.

"Bantai! Bantai! Bantai!"

Setidaknya sepuluh orang sudah tewas dengan panah menancap di tubuhnya ketika para bajak laut menyerbu, sehingga setiap bajak laut menghadapi dua orang dari pasukan Sriv ijaya di kapal itu. Sungguh pertarungan yang mengerikan, denting senjata, suara logam membacok daging, jerit kesakitan, dan gertak campur makian terdengar dalam kesunyian laut yang berangin.

Namun kapal yang kedua ini berisi pasukan yang agaknya lebih berpengalaman.

Maka para bajak laut yang bergelayutan dengan memanfaatkan tali dan tiang layar segera mendapat tandingan. Mereka berhadapan dengan sejumlah prajurit yang juga berayun-ayun dan bergelantungan mengejar. Kulihat pertarungan dengan cara bergelayutan seperti itu, kejar mengejar, sambar menyambar, dan suatu kali seorang bajak laut berhasil memutuskan tali yang digunakan berayun seorang prajurit ketika berpapasan.

Prajurit itu berusaha memeluk tiang, tetapi seorang bajak laut lain yang berayun menendangnya sebelum ia sampai ke tiang itu, hanya untuk terlontar jatuh ke arah Pangkar, raksasa yang baru saja mengadu kepala dua orang sampai tewas. Tubuh yang jatuh itu disambutnya dengan tombak salah satu prajurit tersebut. Maaf, aku tidak sanggup menceritakan kelanjutannya. Sementara itu, kapal yang ketiga sudah semakin dekat, bahkan telah lebih dulu meluncurkan anak-anak panahnya, meski tidak memakan korban. Panah-panah itu menancap pada perisa i kami, dan belum ada balasan dari kami karena segalanya tergantung kepada nakhoda. Meskipun Naga Laut lebih dikenal sebagai bajak laut, cara bertempurnya tidak seperti bajak laut sama sekali.

"Selesaikan cepat!" Naga Laut berteriak kepada anak buahnya di kapal kedua.

"Bantu mereka!" ujarnya kepada regu Daski dan Markis di sisi kiri, yang segera berlompatan ke sana, "Biar kuhadapi kapal yang akan datang ini!"

Lantas kepada regu di bawah pimpinannya ia memberi perintah.

"Siapkan panah!"

Kami semua mementang busur ke arah kapal ketiga. Panah yang terpasang di busurku juga bergerigi dan beracun mematikan sekali. Dari kapal kedua kudengar makin banyak jerit kesakitan karena tusukan senjata tajam.

"Jangan lepaskan kalau tidak mengenai sasaran, daripada panah itu dikembalikan ke arah kita!"

Kami membidik.

"Kuambil yang di haluan!" teriakku.

"Kuambil yang terdepan di selasar!" teriak yang lain.

Kami sebutkan ini semua supaya tidak terjadi dua anak panah menancap pada satu sasaran. Demikianlah dengan sangat cepat setiap orang dari regu yang berada di bawah nakhoda meneriakkan sasarannya.

"Lepaskan!" Naga Laut berteriak. Kulepaskan panahku ke arah prajurit berperisa i yang berdiri di anjungan, siap bertempur dengan tombaknya. Ia memang sudah memasang perisai menutupi tubuhnya, sadar bahwa senjata andalan bajak laut adalah anak panah dalam pertempuran antar kapal, sebetulnya seperti dikenal para prajurit Sriv ijaya juga, tetapi yang setelah ratusan tahun menguasai lautan tanpa tandingan berarti, agaknya telah kehilangan sebagian keterampilannya. Ia tak sadar lehernya masih terbuka. Kulepaskan panahku ke sana.

PRAJURIT itu langsung terjatuh ke laut dengan panah yang menembusi lehernya. Begitu juga anak-anak panah lain telah mengenai sasarannya. Menembus leher, menembus mata, menembus perut, menembus lengan, menembus paha, bahkan menembus perisai untuk menancap tepat pada jantungnya! Sekarang aku mengerti kenapa kapal Naga Laut sangat disegani, sedangkan ketiga kapal ini diberangkatkan untuk memburu Samudragni. Tentu saja Samudragni adalah bajak laut terkejam yang akan selalu membantai dengan buas, tetapi armada Srivijaya dibangun antara lain dengan membasmi para bajak laut semacam Samudragni itu. Adapun Naga Laut bukanlah sembarang bajak laut, karena pengetahuannya atas cara bertempur di laut adalah pengetahuan seorang laksamana yang diwariskan turun temurun.

Maka siasat dan jebakan yang diperagakan memang telah mengejutkan pihak Sriv ijaya. Naga Laut telah membaca angin, bobot kapal, kekuatan pasukan, dan kecepatan arus dalam pertempuran itu dan memanfaatkannya dengan tepat.

"Tetap di tempat!" Naga Laut memberi perintah regu Pangkar yang masih berada di kapal kedua. Segenap penumpang kapal yang kedua telah ditewaskan ketika kapal ketiga tiba. Kami biarkan mereka masuk menyerbu, karena kami semua sudah berada pada tiang-tiang layar. Sebelumnya mereka juga telah melepaskan panah-panah api untuk merusak layar, tetapi siasat ini sudah ditebak dengan mudah dan para awak kapal yang terlatih telah berhasil menangkap atau setidaknya menangkis dan memapas putus panah-panah api itu.

Aku tidak ikut memanjat tiang. Mungkinkah Naga Laut tidak menganggapku cukup terampil untuk bertempur dengan cara bergelayut dari tiang ke tiang? Bahkan telah dim intanya turun ke arah palka.

"Bunuh setiap orang yang masuk ke sini," katanya.

Di bilik para awak kulihat Darmas siaga menjaga Puteri Asoka, yang tampaknya juga tenang-tenang sahaja. Sementara aku tertunduk diam dengan perasaan tidak rela, kudengar pertempuran seru di atas geladak. Kudengar teriak dan sumpah serapah di antara raung dan erang orang-orang yang terbacok.

Tanpa melihat sendiri dan hanya mendengar suara-suara pertempuran di atas geladak, gambaran yang membayang sama sekali menjadi lain. Aku seperti mengembara di antara orang-orang yang bertarung tanpa bisa mereka lihat, dengan segala gerakan yang menjadi sangat amat lambat sehingga pertarungan antara mereka menjadi sangat amat jelas: Pisau belati panjang melengkung yang membuat garis merah dari perut ke dada, yang kemudian terbuka menghamburkan gumpalan-gumpalan berdarah; mulut yang menganga tanpa suara dari suatu tubuh yang terjengkang dan terguling di lantai darah; gerak menghindar yang tampak lambat dan tetap saja lambat ketika sebilah pedang menyambar lambat di atas kepalanya. Pertempuran menjadi tampak seperti tarian.

Kupejamkan mata. Tanpa sengaja ilmu Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang bekerja. Maka tampaklah dalam keterpejamanku sosok-sosok yang berkelebat itu. Setidaknya dua sosok, bergerak dengan kecepatan kilat, mereka telah menewaskan sejumlah awak kapal Naga Laut. Berbeda dari kedua kapal sebelumnya, kapal yang ketiga ini ternyata membawa orang-orang dari sungai telaga dunia persilatan!

(Oo-dwkz-oO)