Nagabumi Eps 93: Tawa Lirih dari Balik Kegelapan

Eps 93: Tawa Lirih dari Balik Kegelapan

Kemudian pada tengah malam itu terdengar bunyi tawa lirih di balik embusan angin yang menerbangkan daun-daun. Mereka menengok berkeliling mencari arah suara itu, tetapi hanya tawa itu yang tetap terdengar, kadang di sana dan kadang di s ini...

"Hai pembunuh!"

Salah seorang di antara delapan pengawal rahas ia istana yang masih hidup itu berteriak lantang.

"Perlihatkan wajahmu, supaya bisa kami ringkus penjahat licik sepertimu!"

Belum selesai kata terakhir, dari balik malam telah datang melingkar-lingkar dawai panjang yang tentu saja tak terlihat, tetapi memperdengarkan dengung tipis yang cenderung membingungkan.

Srrrrrttt!

Dawai yang sangat tipis tetapi sekaligus sangat amat kuat itu telah menjerat leher pengawal rahasia istana dan menyentakkannya ke atas. Suatu bayangan berkelebat di arah pohon sawo. Berputar-putar sebentar, dan tampaklah pengawal rahasia istana yang gagah perkasa itu tergantung tanpa nyawa. Dawai yang sangat amat tipis, tetapi jauh lebih panjang dari sebuah dawai kecapi tentunya, telah melingkari lehernya sampai lebih dari dua puluh kali, mencekik erat tanpa ampun dan tidak pernah terkendurkan lagi. Ketika digantungkan ke pohon apalagi, berat tubuhnya telah mempererat cekikan itu. Karena tipis dan tajam, dawai itu menembus kulit leher, sehingga darah pun bertetesan dari sana, dan makin lama makin deras.

Beberapa dari pengawal rahasia istana yang gagah perkasa itu memegang leher masing-masing dengan wajah membayangkan perasaan tidak enak. Terdengar lagi suara petikan kecapi, dan suara tawa lirih yang tidak menunjukkan kebahagiaan, sebaliknya perasaan getir atas nasib malang anak manusia. Tujuh pengawal rahas ia istana yang masih tersisa itu segera berlompatan turun dari kuda, membentuk lingkaran dengan punggung mereka saling beradu.

Mereka melihat berkeliling, tetapi hanya angin yang berdesir menggoyangkan daun-daun pohon sawo. Kemudian terdengar suara yang tertawa lirih itu berlagu seperti gumam, sayup-sayup seolah datang dari tempat yang jauh.

para pengawal rahas ia istana dua belas orang jumlahnya menyiksa pengamen tak berdaya

melemparnya ke jurang dalam tak terkira... siapa nyana suratan berbeda pengamen disambar seekor naga

di perutnya terbaca kitab berbahaya kini penyiksa sanggup dibantainya

Lantas petikan kecapi itu berhenti. Syair lagu itu membuat wajah mereka pucat. Mereka teringat kembali peristiwa tiga tahun sebelumnya tersebut, dan menyadari kejahatan yang telah mereka lakukan. Keringat dingin terlihat mengalir di kening mereka. Namun bukan pengawal rahas ia istana namanya, jika tidak mampu mengatasi ketakutan sendiri.

"Perlihatkanlah wajahmu pengamen, supaya kami lihat wajah bodohmu tiga tahun yang lalu!"

Terlihat sesosok tubuh berkelebat, begitu cepat, sehingga mata mereka tak pernah bisa menangkap sosok itu secara utuh, tetapi terpaksa mengikuti juga karena setiap saat bayangan itu dapat berkelebat mencabut nyawa mereka. Sosok itu terus berkelebat dari pohon ke pohon, berputar- putar mengelilingi mereka, dengan seperti sengaja memperlambat kecepatannya, supaya kelebatnya tetap bisa diikuti mata. Maka mata yang menatap terpaksa terus- menerus mengikuti gerakan itu, sampai mereka pusing mengikutinya, dan saat itulah sesosok bayangan berkaki buntung dari balik kegelapan menyambar ke arah mereka bagaikan burung hantu menyambar mangsa.

Dalam kegelapan, tujuh pedang terlempar ke udara, dalam waktu bersamaan sosok itu melecutkan dawai yang mengitari tujuh pengawal rahasia istana tersebut, dan dengan sebat menariknya. Srrrrrttt! Ketujuh-tujuhnya segera terjerat erat oleh dawai yang tipis tajam menembus kulit, menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.

"Aaaaaaahhhh!" Belum hilang dari rasa terkejut atas serangan mendadak seperti itu, bayangan tersebut menyambar tujuh pedang yang turun kembali ke bumi, dan menancapkan pedang itu ke jantung pemiliknya masing-masing, hanya untuk segera menghilang kembali. Meninggalkan denting-denting kecapi yang merayapi udara malam...

Ketujuh pengawal rahasia istana itu mati dalam keadaan berdiri karena ketatnya dawai yang mengikat tubuh mereka sampai menembus kulitnya, dengan pedang menancap di jantung sampai kepada pangkalnya, sehingga saling menembus ke tubuh siapapun dan saling mengunci di belakangnya. Begitulah mereka berdiri saling memunggungi dengan tubuh saling tertancap, mata mereka terbuka dengan pandangan yang kosong.

Semenjak saat itu, apabila terdengar suara petikan kecapi di tengah malam, di dalam rumah akan terdengar suara bisik- bisik.

"Sssshh! Itu Pendekar Dawai Maut datang lagi. Letakkan mata uang dalam mangkuk sedekah di luar rumah, tidak usah keberatan, ia takpernah minta lebih dari harga sebuah lagu..."

Pengamen itu, setelah menghilang dan muncul kembali dengan kaki buntung, telah menjadi sakti mandraguna, tetapi ia hanya dapat mencari nafkah sebagai pengamen kecapi. Setelah peristiwa tewasnya para pengawal rahasia istana itu, dengan suara petikan kecapi sebagai penanda yang takteringkari lagi, ia takbisa lagi tampil mengamen secara terbuka. Hanya dengan cara itu, ia mendapatkan sedekah dari siapapun yang dapat memahami keadaannya, setelah membawakan lagu-lagu getir dari balik kegelapan malam...

hidup dengan kaki buntung tanpa kawan sepanjang zaman mencari cinta takpernah untung nasib tentukan jadi buronan, o!

"Bagaimana ia bisa disebut pendekar, Ibu, kalau kerjanya hanya mengemis?"

"Oh, anakku, ia memang pantas disebut pendekar, karena untuk beberapa lama ia se lalu muncul pada saat yang tepat untuk menolong yang lemah dan takberdaya."

"Muncul?"

"Muncul artinya orang mendengarkan petikan kecapinya saja, dari kegelapan pula, tetapi cukup untuk membuat para penjahat lari lintang pukang."

"Sebegitu menakutkannya dia?"

"Penjahat mana yang tidak takut kepadanya, jika sangat sering para penjahat ini tiba-tiba saja sudah ditemukan tergantung di pasar, perempatan jalan, maupun gapura di batas kota, dengan dawai mengikat leher dan menembus kulitnya?"

"Mengerikan..."

"Itulah dunia persilatan anakku, mengerikan, Berpikirlah seribu kali jika ingin menempuh jalan persilatan."

"Lantas kenapa Pendekar Dawai Maut itu menghilang, Ibu?"

"Itulah, Anakku, seperti semua pendekar lain yang mencari dan menguji kesempurnaan ilmunya, ia berangkat mengembara, dan karena ia tidak ingin ma lang melintang di wilayah yang telah dikuasai Naga Putih, gurunya yang mulia, maka ia meninggalkan Javadvipa, mungkin untuk selama- lamanya."

Kini, jalanku dan jalan Pendekar Dawai Maut bersilangan. Apakah ia akan kembali lagi untuk menguji kesempurnaannya padaku? Aku tercenung membayangkan ketinggian ilm u silat para pendekar dunia persilatan. Jika Pendekar Dawai Maut jelas sampai hari ini takterkalahkan, maka seberapa tinggi lagi ilmu gurunya yang ternyata Naga Putih itu, satu dari anggota Musyawarah Sembilan Naga dalam dunia persilatan? Mendadak saja aku merasa ciut, dalam kenyataannya aku mengikut saja diombang-ambingkan arus di atas rakit ini tanpa berani mengambil tindakan, sedangkan Pendekar Dawai Maut mengembara sendirian di laut mahaluas di atas selembar papan.

Jadi bukan orang bersila yang tergambar dari garis cahaya hijau ketika kupejamkan mataku dalam ilmu pendengaran Semut Berbisik di Dalam Liang, melainkan seseorang yang kakinya buntung.

(Oo-dwkz-oO)

Entah sampai di mana aku melamun, ketika Puteri Asoka menunjuk ke suatu arah. Langit telah menjadi ungu, tetapi cahaya belum merekah. Pada arah yang ditunjuk Puteri Asoka itu terlihatlah kerlap-kerlip cahaya dari suatu garis kehitaman.

Ah! Perkampungan nelayan!

"Tuan! Perkampungan Tuan! Perkampungan!"

Demikianlah Puteri Asoka meloncat-loncat di atas rakit. Kucoba menerka jarak, kurasa masih cukup jauh, meski jika tampak kasat mata begini memang lebih terdapat adanya kepastian. Apakah aku meluncur saja ke sana pada pagi yang dingin dan sunyi seperti ini? Me luncur seperti ikan lumba- lumba sembari membawa Puteri Asoka ke sana, ataukah membiarkan rakit ini terseret arus dan terdampar dengan sewajarnya? Sebetulnya yang terakhir itu merupakan terbaik, tetapi aku tidak terlalu yakin apakah arus ini akan membawaku ke sana, karena bisa saja berbelok ke arah lain. Rakit ini memang belum terlalu dekat ke pantai, jadi keterdamparannya belum bisa dipastikan, dan ini berarti kami harus mencapai pantai tanpa tergantung kehendak alam. Tidak tergantung arus ini mau membawa kami ke sana atau tidak.

Puteri Asoka yang kegirangan melihat keraguanku.

"Ada apakah Tuan? Adakah sesuatu yang membuat Tuan ragu untuk mendaratkan rakit ini ke pantai?"

Aku tidak menjawab. Hanya menggeleng, karena sudah kuputuskan untuk menggunakan Jurus Naga Berlari di Atas Langit sahaja, hanya sedang kupikirkan akibatnya jika kami dipergoki di tempat yang tidak kukenal ini, karena segala sesuatunya tidaklah dapat kutebak sebelumnya.

Namun lagi-lagi perjalanan nasib tidak pernah bisa diduga, ketika Puteri Asoka berseru lagi.

"Tuan! Lihat!"

Dari balik kabut yang tersibak pada pagi yang langit keunguannya semakin muda itu, muncul kapal bercadik dengan layar terbentang yang sangat kukenal. Terdengar suara berteriak dari puncak layar.

"Ahooooiii! Rakit di haluan!"

Para awaknya muncul di dinding kapal. Wajah-wajah yang juga kukenal.

"Naga Laut!"

Kapal itu menyerong dan melambatkan diri agar tidak menabrak rakit dan memberiku kesempatan melompat ke atas cadik, dan kemudian melenting ke dalam melewati selasar.

Pagi masih gelap, tetapi suasana kapal itu sudah menjadi hangat dan hiruk pikuk. Di atas geladak aku melangkah ke arah Naga Laut, yang melihatku sambil tersenyum-senyum. Di hadapannya kuberdirikan Puteri Asoka yang kubopong itu, dan aku membungkuk dengan tangan kanan bersilang di dada. "Naga Laut! Awak kapalmu yang rendah menyerahkan kepada Tuan, Yang Mulia Tuan Puteri Asoka!"

Naga Laut bergeming, meski tetap tersenyum, menepuk pundakku.

"Semua orang di sini memanggilku Nakhoda, Anak, dan bukankah dirimu sendiri memanggilku Bapak?"

Aku tidak bisa menjawab sepatah kata. Mungkin perasaanku terlalu meluap-luap setelah sekian lama terkatung- katung di laut dan mendadak saja bertemu dengan kawan- kawanku.

Nakhoda memandang Puteri Asoka, yang berdiri dengan kaku, meski tetap anggun, di antara para pelaut yang bertubuh serba besar itu. Nakhoda lantas membungkuk dengan takzim, seraya menyilangkan tangan kanannya di dada.

"Selamat datang di atas kapal patik yang sederhana ini Tuan Puteri, hambamu yang rendah memohonkan maaf atas segala kekurangan."

Puteri Asoka, meski masih berusia 12 tahun, sungguh kentara betapa terdidik dan berperadaban.

"Paman yang Terhormat," katanya, "janganlah merendah bagaikan seorang hamba kepada diriku. Daku bukanlah puteri raja, hanya seorang anak perempuan yang terlunta-lunta dan malang nasibnya sebelum ditolong oleh Tuan pendekar yang tidak bernama ini. Taklayak diriku menerima penghormatan yang bagaimanapun jua."

Naga Laut tampak terpesona oleh jawaban Puteri Asoka, dan merasa pantas telah mengerahkan segenap daya untuk memburunya.

"Dengan segala hormat Tuan Puteri, janganlah merasa sungkan. Telah sahaya terima julukan bajak laut demi segala perongrongan wibawa Sriv ijaya, tiada lebih tiada kurang demi negeri Muara Jambi jua adanya. Semua ini, mungkin tak bisa dipahami Tuan Puteri hari ini, tetapi itu bukanlah masalah, kini istirahatlah Tuan Puteri, mohon ampun atas keberadaan kapal ini."

Lantas pagi menjadi agak lebih terang. Semua kawan tak ada yang ketinggalan ingin memelukku. Pangkar, Darmas, Daski, Markis, tertawa gegap gempita menyambutku.

"Kami sudah mengira dikau tewas oleh gerombolan Samudragni! Itulah sebabnya kami berangkat memburu ke arah ini! Apakah yang dikau alam i sehingga terkatung-katung di atas rakit begini, wahai pemuda Javadvipa yang takbernama?"

Maka kuceritakan semua yang telah kualami sejak diriku terpisah dari mereka, ketika mereka ajak orang-orang yang mengaku berasal dari Muara Jambi itu masuk ke dalam rumah panggung. Tentu tidak kuceritakan segala sesuatu yang kiranya akan menunjukkan diriku sebagai orang persilatan, aku hanya menceritakan betapa segala peristiwa itu berlangsung seolah-olah sebagai suatu kebetulan, dan bukan hasil dari kemampuan diriku.

"Jadi, bagaimana kalian dapat mencari aku di arah ini?"

Maka silih berganti mereka bercerita, apa yang terjadi setelah kepergianku hari itu.

"Mula-mula kami dengar apa yang disampaikan orang- orang Muara Jambi itu. Dari mereka kami dapatkan kepastian bahwa memang telah seratus tahun ini, sisa-sisa bangsawan Jambi Malayu telah membangun jaringan rahasia dalam kedatuan Sriv ijaya, dan selama seratus tahun itu pula telah mereka pertahankan kemurnian darah bangsawan Jambi Malayu dalam tekanan peleburan darah dari Sriv ijaya."

"Namun selama seratus tahun itu pula, secara turun temurun pihak kedatuan Sriv ijaya terus mengawasi para bangsawan Jambi Malayu, yang meski berbaur ke dalam masyarakat tetap terawasi berusaha mempertahankan kemurnian darah dengan perkawinan hanya di antara mereka; setidaknya, meski bukan dengan bangsawan, tetapi dengan warga Jambi Malayu yang setia dan berasal dari Muara Jambi. Dari siasat ini terlahirkan Puteri Asoka yang sahih menduduki kursi singgasana kerajaan Jambi Malayu jika mampu berdiri kembali." 

"Kemudian mereka pastikan bahwa sejumlah utusan telah dikirim ke Javadvipa, untuk mencari hubungan dengan orang- orang Mataram, yang dengan segera dikirimkan pula orang- orang untuk mengejarnya. Pula diketahui bahwa dalamn seratus tahun terkumpul harta karun yang cukup untuk menggalang sebuah pemberontakan, termasuk membangun pasukan yang terlatih dan kuat untuk mendukungnya."

"PERKEMBANGAN berlangsung sangat cepat, karena orang- orang Malayu Jambi mengerti jika selama ini diri mereka memang diawas i, bahkan kemudian lantas bisa membaca makna pengawasan tersebut, yang membuat mereka ambil keputusan mendadak untuk berangkat segera dengan hanya sehari persiapan, yang ternyata juga tak lolos dari pengawasan meski agak terlambat. Kapal mereka telah berada di tengah laut ketika para pengawal rahasia istana menyergap ke pelabuhan di kotaraja."

"Hanya sampai di sini orang-orang Muara Jambi yang menanti berita di Kota Kapur itu mengetahui perkembangan, dan mereka mengandaikan bahwa Naga Laut yang selama ini sebetulnya berjuang untuk Muara Jambi, dan pagi itu tampak mendarat mungkin mengetahui sesuatu yang terjadi di se lat pada malam sebelumnya. Suatu perkiraan yang tepat karena kita memang menjumpai kapal bernasib malang yang kita sempurnakan itu."

"Mereka sangat terpukul. Mereka terdiam. Mereka menitikkan airmata dengan tubuh bergetar mendengar segala hal yang kemudian disampaikan oleh Naga Laut sendiri. Bara kehidupan yang telah dipelihara se lama seratus tahun bagaikan mendadak padam oleh berita itu, tetapi yang kemudian menjelma nyala lilin dalam kegelapan ketika mendengar bahwa yang disebut Asoka, kemungkinan besar masih hidup dan diculik."

"'Naga Laut!' kata mereka kemudian' 'Beri kami petunjuk, agar dapat kami temukan dan hancurkan para penculik Puteri Asoka junjungan kami!'" Saat itu kami beritahukan kepada nakhoda semua hal yang telah didengar dirimu dan Daski di kedai, dan bahwa dikau telah membuntuti seseorang yang telah memata-matai kita semua, dan kami duga tentu ada hubungannya dengan segala peristiwa belakangan ini. Kami juga menceritakan peristiwa yang berlangsung di kedai, ketika seseorang tiba-tiba tewas setelah sebelumnya tampak seperti tercekik-cekik dengan mata melotot ke arahmu, meski untuk ini tentu hanya kamu sendiri yang tahu."

"Setelah dirimu takjuga kembali, kami andaikan sesuatu memang terjadi yang erat hubungannya dengan peristiwa tersebut. Kami andaikan bahwa dirimu telah menemukan jejak, dan karena itu dirimu takkembali, tetapi kami taktahu apakah dikau menghilang karena mengikuti jejak ataukah mati terbunuh dalam penyelidikan itu. Kami mengkhawatirkan dirimu yang belum mengenal lingkungan dan tidak terbiasa dengan kelicikan dunia yang memang kejam dan takberperasaan."

"Maka nakhoda menyebar kami semua dengan segera ke segenap penjuru Kota Kapur untuk menggali keterangan, mencari petunjuk, dan mengendus segala sesuatu yang mungkin mengarahkan kami. Pada ma lam hari Daski berhasil menemukan dan memaksa orang yang berbicara di kedai itu, bahkan terpaksa sedikit menyiksanya agar ia bicara lebih daripada yang telah disampaikannya di kedai itu. Dari sana ia mengaku bahwa hanya mendengar semuanya dari seorang ipar yang mabuk sehabis turun dari kapal. Sedangkan iparnya ini adalah anak buah bajak laut Samudragni."

"Pada saat yang bersamaan Pangkar yang menyelidik sampai ke sebuah teluk tersembunyi, mengetahui dari seorang pencari kayu bahwa sebuah kapal telah berlayar setelah malamnya berlabuh dan menurunkan entah apa ke dalam gua-gua di dalam bukit karang. Kami bayangkan bahwa dirimu telah sampai ke tempat tersebut setelah Pangkar temukan buluh mengambang, yang potongannya jelas akibat perbuatan manusia. Suatu kemungkinan yang hanya dapat berlangsung dalam tindakan penyusupan."

"Tentu bukti ini tidak cukup meyakinkan bahwa dikaulah yang telah melakukannya, tetapi tidak terdapat perkara lain di Kota Kapur ini, kecuali urusan yang sedang kita hadapi tersebut. Kemudian kami temukan ipar yang mabuk itu, yang sebetulnya merupakan mata-mata Samudragni untuk mengetahui perkembangan Kota Kapur, jadi tidak ikut berlayar ke mana-mana. Dari dialah Samudragni mengetahui pentingnya kedudukan Puteri Asoka, yang semula tidak diketahui Samudragni."

"Dia mengetahuinya sebagai penerima merpati pos dari seberang laut, dari kotaraja tepatnya. Merpati pos pertama menyampaikan tugas pembantaian, merpati pos kedua menanyakan kepastian tewasnya Puteri Asoka, yang baru diterimanya setelah kembali dari laut. Maka baru kemudian Samudragni memahami pentingnya arti Puteri Asoka. Untuk pertama kalinya ia melaut dan menyaksikan pembantaian itu, yang telah membuatnya terpaksa minum tuak dan bicara melantur, hanya untuk didengar adik isterinya, yang kemudian kita dengar membual di kedai. Bual bagi para pendengar, tapi sangat berguna untuk kita!"

(Oo-dwkz-oO)