-->

Nagabumi Eps 91: Suara Kecapi dalam Kegelapan

Eps 91: Suara Kecapi dalam Kegelapan

Kelak seorang pelaut tua yang pernah mengelilingi bumi tentu berpikir keras tentang apa yang telah dilihatnya, akan bercerita kepadaku, bahwa sinar matahari yang memanaskan lautan di garis tengah bumi, akan membuat air laut bagian itu memuai dan menjadi agak lebih tinggi, yang meski tidak menjadi sangat tinggi, tetapi menciptakan lekuk kecil, sehingga air di bagian itu mengalir ke arah kutub-kutubnya di selatan dan utara. Adapun air yang menjadi hangat pada suhu yang dingin di kutub, mengendap di bawah air yang hangat dan menyebar perlahan sepanjang dasarnya menuju bagian tengah itu. Pertukaran antara air hangar dan air dingin ini menggerakkan arus di lautan.

Sementara itu, perputaran bola bumi memberikan juga pengaruh tidak sedikit. Ketika bumi berputar, bagian dasar laut ikut berputar, tetap roda bumi berputar dengan kecepatan yang selalu sama, pergerakan air kemudian jadi berbeda. Jika perputaran bumi mengarah ke timur, tempat matahari akan muncul, air cenderung memenuhi pantai-pantai di sebelah barat lautan. Bagi apa pun yang cukup berarti untuk benda bergerak, termasuk kapal, sampan, maupun rakit, perputaran bumi mempunyai akibat, yakni menyebabkannya berputar agak ke kanan pada paruh bumi bagian utara, dan agak ke kiri pada paruh bumi bagian selatan.

Selain kepada air laut, tentu juga kepada angin, yang bertiup terus menerus di pinggiran garis tengah bum i, yakni disebut angin pasat, yang bertiup secara sudut-menyudut menuju garis tengah bumi dari arah timur pada paruh utara maupun selatan. Tekanan angin yang terus-menerus mendorong laut ke arah barat dalam arus yang besar pada kedua paruh tersebut. Namun angin hanyalah seperti air yang terpanaskan matahari dan terimbas perutaran bumi, jadi berputar juga, membentuk garis lengkung di utara dan selatan menjauhi garis tengah bum i, bertiup terus menerus melalui iklim sedang di garis lintang ke arah timur dan mendorong permukaan air dari barat ke timur-berlawanan dengan arus sepanjang garis tengah bum i. Itulah yang menjadi pusaran laut raksasa dari putaran aliran dan membentuk arus permukaan laut.

Jika sedikit pengetahuan seperti itu sudah kukenal, barangkali perhitungan atas keberadaanku sekarang bisa menjadi lebih baik. Sayang sekali tidak. Maka berdasarkan gubuk penceng di langit malam, aku mengira diriku masih berada di tengah lautan luas, dan tampaknya seolah-olah memang begitu, taktahu bahwa arus telah berputar arah membawa rakit ini ke mulut sebuah muara.

Kami telah berhari-hari terapung di atas laut. Bahkan sampai duabelas hari lamanya. Janganlah ditanyakan lagi, betapa keadaan semacam itu sangat sulit bagi kami untuk mengatasinya. Kadang kepanasan, kadang kehujanan, kadang keanginan, kadang angin mati. Masih tetap tak berani aku nekad mengayuh dengan tenaga dalam maupun meluncur dengan kecepatan seribu lumba-lumba dalam harapan yang mungkin saja semu untuk mencapai sebuah pantai. Sebaliknya, aku memanfaatkan ketenangan laut untuk mengolah tenaga prana dan menyalurkannya ke tubuh Puteri Asoka yang lemah. Sehingga semakin hari bukannya makin lemah melainkan semakin cerah dan bercahaya.

Tentu tidak berarti selama itu kami tidak pernah makan. Baiklah kuceritakan betapa suatu ketika, pada pagi hari setelah kami terbangun pada hari pertama, dalam keadaan masih gelap, terdengar suara kecipak yang tidak seperti berasal dari suara air bersentuhan dengan rakit.

"Tuan!" Puteri Asoka melompat bangkit, "Itu ikan hiu!"

Memang kulihat sirip berkeliaran di sekitar rakit. Namun karena aku belum pernah melihat ikan hiu, maka aku justru mendekat untuk memperhatikannya.

"Apakah dagingnya bisa kita makan?" Aku bertanya. Puteri Asoka memandangku dengan wajah sedih.

"Kami tidak biasa makan ikan besar seperti itu Tuan. Meski banyak orang memakannya juga bila dapat menangkapnya saat berburu di laut."

"Berburu?"

"Ya, nelayan tak hanya menangkap ikan dengan jala, tetapi juga mengejar dan menombaknya dari atas perahu."

Aku mengerti.

"Jadi mengapa Puteri tidak makan ikan besar seperti ini?" "Kami bukan nelayan Tuan, para bangsawan tidak mencari

makan sendiri, kami hanya tahu makanan sudah tersedia dalam keadaan telah dimasak di hadapan kami."

Hmm. Itulah malapetaka menjadi bangsawan bukan? Sekarang ada makanan besar tersedia, dan ia tidak akan bisa memakannya. "Jadi apakah Puteri memang hanya bisa makan seperti yang selama ini dimakan?"

"Sebetulnya itu pun takbisa Tuan, tetapi kita berada dalam keadaan darurat, apalah yang kita inginkan bisa terdapat di sini"

Selama ini setiap kali waktu makan tiba, aku menyelam dan berburu ikan dengan cara mengejarnya seperti lumba-lumba mencari mangsa. Hanya saja aku menangkapnya dengan tangan. Cukup satu ikan kecil, artinya sebesar lengan, yang kutangkap, dan itu sudah lebih dari cukup untuk kami berdua.

Apakah kami memakan ikan itu mentah-mentah? Itulah yang menjadi persoalan, karena Puteri Asoka tidak tahan bau amis ikan tersebut.

"Bukankah ikan semacam ini yang ditangkap nelayan dan menjadi makanan keluarga Puteri sehari-hari?"

"Tapi kami tidak memakannya mentah-mentah!"

Uh! Anak kecil ini! Meski terapung-apung di tengah rakit, ia masih saja puteri bangsawan. Namun harus ada sesuatu yang dimakannya jika memang ingin melanjutkan kehidupan. Aku sebenarnya sangat yakin, karena ini masalah hidup dan mati, maka manusia yang manapun akan mampu memakan ikan sementah dan seamis apapun untuk melanjutkan kehidupannya. Aku dapat membayangkan, bahwa seseorang yang sudah berhari-hari tidak makan dan selama itu andaikanlah memancing dari rakit, akan segera mencaplok ikan yang menyangkut ke pancingnya pada hari ke sekian. Namun bahkan diriku tiada tega membayangkan Puteri Asoka terpaksa makan ikan mentah dengan cara seperti itu.Apa akal? Tidak mungkin membuat api di sini, sehingga aku mesti mengerahkan tenaga dalamku untuk memanaskan dan mematangkan ikan itu. Maka akupun melakukan hal itu. Tenaga panas yang mampu memanaskan air kualirkan kepada ikan malang yang berada di tanganku. Dengan segala hormat tentu aku telah menghilangkan nyawanya terlebih dahulu. Aku hanya perlu waktu sebentar, karena ikan itu segera berasap di tanganku, pertanda ia sudah matang, bisa dimakan, dan tidak amis lagi.

"Bisakah Puteri menghilangkan sisiknya?"

Aku telah membuang isi perut ikan itu sebelumnya, dengan pedang hitam dari dalam tangan yang hanya kukeluarkan ujungnya.

Namun Puteri itu menggeleng.

"Sahaya tidak pernah mengerjakan apapun, Tuan. Maafkan sahaya"'

Maka dengan pedang hitam itu pula, kubersihkan sisik ikan, sampai s iap dimakan tanpa kepala. Ia akan memakan satu sisi daging ikan itu, yang belum sampai habis pun dirinya sudah kenyang. Lantas aku akan memakan sisi lainnya. Setelah itu aku akan mencari ikan yang lebih kecil. Mengejarnya di dalam laut dengan kecepatan tinggi seperti lumba-lumba mencari mangsa, menangkapnya dengan tangan di kiri dan di kanan.

Setelah itu aku akan mencari ikan yang lebih kecil. Mengejarnya di dalam laut dengan kecepatan tinggi seperti lumba-lumba mencari mangsa, menangkapnya dengan tangan di kiri dan di kanan. Meskipun aku mengejar ikan-ikan itu dengan sepenuhnya mengandalkan kesaktian dalam ilmu persilatan, tidak berarti ikan yang memang akan terkejar dengan kecepatanku yang sangat tinggi itu bisa dengan mudah kutangkap. Sering sekali begitu nyaris kupegang ikan- ikan itu bisa saja menghindar, bahkan setelah tergenggam tanganku pun masih bisa menggeliat dan lepas. Dasar ikan! Maka untuk mendapatkan dua ikan dalam genggaman di tangan kiri dan kanan, sungguh segenap kemampuan harus dikerahkan, sampai tak ada lagi yang dapat dilakukan oleh itu ikan. Dengan penuh rasa permintaan maaf kepada ikan, kadang kumanfaatkan ilmu menyedot tenaga lawan seperti yang te lah digunakan Pendekar Melati kepadaku, telah kuserap dengan pendekatan yang kelak akan sempurna sebagai Jurus Bayangan Cermin, meski memang takpernah dan tak akan pernah kuterapkan kembali kepadanya. Hanya dengan begitu ikan tersebut akan menjadi mungkin ditangkap, bahkan meninggal dunia tanpa aku harus sengaja membunuhnya. Begitulah, meskipun kehidupan dunia persilatan penuh dengan gelimang darah, takberarti penghilangan nyawa bagiku menjadi soal yang terlalu mudah.

Betapapun, dengan dua ikan terlezat di tangan kiri dan tangan kanan, aku akan meluncur ke permukaan laut seperti ikan lumba-lumba dan seperti ikan lumba-lumba pula aku akan melejit dan me lompat bersalto di udara, sekadar menghibur puteri bangsawan yang dengan segala penderitaannya tetaplah belum dapat disebut dewasa itu. Di atas rakit, tanganku akan menjadi merah seperti besi tua yang dibakar, yang berarti bahwa aku sedang memanggang kedua ikan itu dengan tenaga dalamku, tentu setelah membersihkannya lebih dahulu. Tentu aku juga beruntung bahwa musim hujan telah memberi kami air tawar untuk dim inum, sehingga keadaan tubuh tetap terjaga keseimbangannya. Namun untuk diketahui, itu tidak berarti hujan pun turun setiap hari. Pernah hujan takturun sampai dua hari dan kami hanya menenggak air tawar berdikit-dikit, dari air hujan yang kami tampung dalam wadah kulit kayu yang kubuat, dan taktahu apa yang akan terjadi jika hujan tidak turun juga hari berikutnya.

Namun pada hari pertama ketika pagi masih gelap dan di sekeliling rakit hilir mudik sirip ikan hiu, yang kupikirkan bukan hanya sekadar kesempatan untuk makan, tetapi sebaliknya kemungkinan bahwa kamilah yang akan menjadi sarapan ikan- ikan hiu itu.

"Tuan!" Puteri Asoka tiba-tiba berteriak lantang.

"Sahaya dengar hati ikan hiu adalah yang terbaik untuk kesehatan! Kita harus mendapatkannya Tuan!"

Aku tertegun. Apakah ia bermaksud memakannya? Tidakkah hatinya nanti akan luar biasa pahit sekali? Namun kata-kata Puteri Asoka itu mengingatkan aku kepada suatu bacaan tentang pengobatan, bahwa hati ikan hiu mengandung zat yang sangat dibutuhkan tubuh manusia. Kulihat sirip ikan- ikan hiu itu, yang lalu lalang di sekitar perahu.

"Apakah Puteri akan memakan hati yang pahit itu?" Puteri itu menelan ludah.

"Sahaya kira harus ya Tuan? Kita sangat

membutuhkannya."

Aku pun melompat ke dalam air dan meluncur seperti lumba-lumba ke bawah ikan-ikan hiu itu. Beberapa ekor dari antaranya menyadari kehadiranku dan segera berkelebat menyerang. Aku pun menghindar dan berkelebat seperti lumba-lumba. Tentu saja ini pengalaman yang baru bagiku, karena bertarung seperti ikan dan melawan ikan tidaklah sama dengan pertarungan yang telah kukenal melawan para pendekar dalam dunia persilatan. Melawan dua ikan hiu yang menyerangku dengan siasat ikan, kuhayati diriku sebagai ikan yang menghindari ancaman dan balas menyerang.

Bertarung melawan dua ikan hiu untuk mendapatkan hatinya takpernah kubayangkan akan pernah kulakukan dalam hidupku. Kedua ikan hiu itu bahkan seperti bekerjasama untuk mendesakkku. Mereka berkelebat menyerangku dengan mulut dan ekornya. Lewat cepat menyambar di samping kiri dan kanan sekaligus, yang apabila tidak mendapatkan apa yang mereka kehendaki, akan segera berbalik dan menyerang kembali dengan gigi-giginya yang tajam ibarat gerigi. Mereka berkelebat cepat, aku pun berkelebat cepat. Begitulah aku berenang selincah lumba-lumba, tetapi dengan berbagai gerakan, seperti melaju bagaikan baling-baling, yang hanya dapat dipikirkan manusia.

Ketika berhadapan dan mereka menyambarku pada sisi kiri dan kanan, kedua pedang hitam dari dalam tanganku kumunculkan dan hanya menyerongkannya sedikit ke kiri dan kanan untuk merobek masing-masing perutnya.

Lautan segera tergenang darah. Apakah aku harus segera menyambar hati masing-masing dari dalamnya? Dua bayangan berkelebat dari belakang. Aku menoleh. Sesosok ikan hiu telah mengangakan moncongnya siap menyambar kakiku. Aku berkelit jungkir balik, tetapi iapun sudah berbalik menyambarku lagi. Sembari menghindar, kutangkap sirip di atas punggungnya, dan akupun terseret bersamanya menuju permukaan, tempat Puteri Asoka segera melihatku tengkurap berpegangan pada sirip hiu melewati rakit itu.

"Tuaaaaaann! Bunuh dia sekarang Tuan! Bunuh! Bunuh!

Bunuh!"

Tidakkah kata-kata itu mengerikan untuk muncul dari mulut seorang Puteri Bangsawan usia 12 tahun? Namun yang kulihat di rakit itu adalah seorang anak perempuan yang meloncat- loncat kegirangan di atas rakit, tanpa menyadari bahwa bertarung dalam air me lawan ikan-ikan hiu adalah suatu perkara yang amat sulit. Maka kukeluarkan pedang hitam, cukup dari tangan kananku. Kulompati saja bagaimana ikan hiu itu akhirnya tewas, dan hatinya kami makan berdua. Meskipun dagingnya dikatakan terlezat di antara segala ikan, tetapi hatinya yang pahit telah membuat kami tidak bisa makan apapun lagi hari itu.

(Oo-dwkz-oO)

Hari keduabelas telah berlalu. Tubuh kami sehat, tetapi hidup terapung-apung tanpa berbuat sesuatu yang lain bukanlah sesuatu yang menyenangkan. Aku menghabiskan waktuku, antara lain dengan membaca kitab-kitab yang ditulis Nagarjuna sebagai mantra sihir yang tersimpan dalam diriku. Namun aku akan menceritakan hasil pembacaanku itu nanti, sekarang aku ingin menceritakan apa yang terjadi pada malam terakhir di atas rakit itu.

Senja telah turun diiringi hujan gerim is. Membuat tubuh kami lagi-lagi basah kuyup. Busana yang lekat di tubuh, hanya kancut yang kukenakan, dan hanya kain pada Puteri Asoka, tentu ikut menjadi basah kuyup. Selama ini telah kuajarkan kepada Puteri Asoka, bagaimana memanfaatkan tenaga prana melalui pernafasan untuk menghangatkan tubuh, dan ini sangat membantu bagi keberlangsungan hidup kami se lama kami terapung-apung di laut seperti itu. Setiap kali hujan, seperti biasa, kami mengangakan mulut kami ke langit dan menelan air hujan sebanyak-banyaknya bagai tiada akan ada hari esok lagi. Bisakah dibayangkan bagaimana dua manusia, besar dan kecil, berdiri di atas rakit dalam latar matahari senja yang turun perlahan-lahan dalam hujan gerimis dan menganga ke arah langit?

Saat senja tenggelam, keemasan langit usai, dan gerim is berhenti, hari pun menjadi ma lam. Puteri Asoka tertidur. Aku membaca pemikiran Nagarjuna.

atra vayam brumah yadyevam, tavapi vacanam

yadetaccgunyah sarvabhava iti tadapi sunyam kim karanam

tadapi hetau nasti mahabhutesu samprayuktesu viprayuktesu va,

pratyayesu nastyurahkanthausthajihvadantamulatalunasikamurdhaprabhrti su

yatnesu, ubhayasamagryam nasti

yasmadatra sarvatra nasti tasmannihsvabhavam yasmannihsvabhavam tasmacchunyam tasmadanena sarvabhavasbhavavyavartanamasakyam kartum

na hyasatagnina sakyam kledayitum

evamasata vacanena na sakyah sarvabhavasvabhavapratisedhah kartum

tatra taduktasm sarvabhavasvabhavah pratisiddha iti tanna

Aku masih membaca, ketika terdengar suara kecapi dari balik kegelapan. Mula-mula suara kecapi itu timbul dan tenggelam, lirih dan hanya terdengar sayup-sayup di balik kegelapan. Semula kukira hanya kerinduanku kepada daratan yang telah memberikan suasana ini, tetapi ternyatalah kemudian bahwa suara kecapi itu lama kelamaan telah menjadi bertambah keras. Segera kupejamkan mataku dan kupasang ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, yang segera menelisik sumber suara itu me lalui bulir-bulir udara yang telah mengantarkannya. Maka terbentuklah dalam pandangan mataku yang terpejam sesosok manusia yang sedang bersila sambil memetik kecapi di atas papan dan terapung-apung di lautan.

(Oo-dwkz-oO)