-->

Nagabumi Eps 89: Mahapusaran

Eps 89: Mahapusaran

Mendadak saja akupun sudah menelan air laut. Namun

bukanlah diriku yang kupikirkan, melainkan Puteri Asoka yang sudah tidak terlihat lagi karena lambung kapal memang sudah penuh dengan air, sedangkan kedua tangannya pun sungguh masih terikat pula! Aku merasa sangat bersalah tidak membebaskannya lebih dahulu sebelum keluar tadi, tetapi kejadiannya sungguh begitu cepat. Kapal oleng kemoleng lagi, suatu tarikan ombak menyeret dan membantingku ke dekat tiang. Masih di dalam air kuraba tiang, berharap segera tersentuh Puteri Asoka yang terikat itu! Ternyata tak ada!

Sulit kujelaskan bagaimana perasaanku waktu itu, sementara suasana tidak mungkin membuat siapapun berpikir dengan jernih. Aku masih bertahan di dalam air dan mencari- cari jalan ke atas, tersentuh olehku tangga masuk ke ruang tidur awak kapal. Aku sedang berusaha menerobos naik ketika sesosok mayat entah siapa menimpaku dari samping. Kudorong mayat itu yang segera hilang terseret ombak. Akupun terbawa gelombang yang tiba-tiba saja sudah melemparkan aku ke permukaan laut. Hujan yang menimpa kepalaku terasa lembut dibandingkan segala empasan yang telah kualam i. Ke manakah kapal itu? Aku hanyalah titik dalam hujan badai dengan ombak sebesar bukit yang naik turun mempermainkan nasib. Aku taktahu lagi berapa banyak air telah kutelan. Di manakah Puteri Asoka?

Di antara suara angin yang terdengar sangat ribut, sayup- sayup bagaikan terdengar suara manusia yang menjerit. Langit begitu gelap, halilintar bersabung dan me ledak-ledak, dalam keadaan begini sangat sulit bagiku me lakukan apapun, karena untuk keselamatanku sendiri saja ibarat kata akupun hanya terseret arus sehingga dapat mencapai permukaan seperti sekarang ini.

"Puteriiiiiii!"

Aku berusaha berteriak, yang memang hanya akan terdengar sebagai kesia-siaan di tengah angin ribut yang sungguh-sungguh memekakkan telinga bagaikan tiupan naga raksasa. Seandainya saat badai tiba layar sudah tergulung, barangkali kapal itu tidak perlu terbalik dan karam tidak kelihatan lagi. Kini aku berharap melihat sesuatu yang terapung dan bisa kupegang sementara ini. Aku berharap melihat sampan yang sempat kulihat terikat di samping perahu, meski tentu saja kemungkinan ikut tenggelam karena ikatannya tentu kencang sekali. Namun tidakkah satu atau dua orang yang masih hidup kemungkinan sempat melepaskannya dalam kekacauan itu?

Aku menyelam dan berenang seperti lumba-lumba tanpa tahu pasti apa yang bisa kulakukan lagi dalam keadaan seperti itu. Dari dalam air, benda-benda yang mengapung di sekitarku terlihat agak lebih jelas daripada jika kepalaku berada di permukaan dan menoleh ke sana kemari, karena ombak sebesar bukit yang naik dan turun dalam hujan dan badai seperti itu sungguh tidak memberi kesempatan untuk melihat sesuatu sama sekali. Seperti ikan lumba-lumba aku berenang secepat kilat menyisir seluruh wilayah. Angin puting beliung itu ternyata membentuk tiang-tiang angin yang berpusar ke langit maupun ke dasar laut, dan kini pusaran itu telah tiba. Pusaran angin membentuk sumur di lautan yang menyerap air dan segala benda di atasnya ke dasar laut terdalam.

Semula kurencanakan membiarkan diriku terserap arus tersebut, tentu setelah mengambil nafas sebanyak-banyaknya, dan setelah pengaruh pusaran itu terlampaui pada titik tertentu, maka akan kukerahkan segala tenaga untuk melepaskan diri darinya. Jika makhluk laut tidak satu pun menjadi korban angin puting beliung semacam ini, tentu ada cara yang bisa kupelajari juga untuk me lepaskan diri. Aku mulai terseret berkeliling di permukaan. Kulepaskan seluruh gerak yang berlawanan dan menikmati pusaran raksasa itu. Kuperhatikan apa saja yang terapung dan pada pusaran yang juga menyeretku itu. Kulihat mayat-mayat. Papan-papan kayu, mungkin dari kapal, bahkan perahu sampan yang telah kuikuti untuk menuju kapal, agaknya merupakan sekoci kapal ini, yang digunakan menuju ke pantai jika dasarnya terlalu dangkal. Kemudian juga kulihat dasar kapal yang rupa- rupanya sudah terbalik. Ombak raksasa setinggi gunung telah membuat kapal itu terbalik dan seharusnya karam, tetapi sebelum mencapai dasar lautan telah terseret sang mahapusaran.

Namun siapakah yang tampak melambaikan tangan itu? "Tuaaaaannn!"

Puteri Asoka terlihat berpegang erat-erat pada haluan

perahu yang rupa-rupanya karena layarnya yang tadi terkembang telah berputar sendiri bagaikan baling-baling sementara diseret pusaran raksasa, yang membawanya makin lama makin ke bawah itu, sehingga Puteri Asoka yang terus berpegangan terpaksa ikut timbul tenggelam. Namun setiap kali muncul ke permukaan ia melambai.

"Tolooooongngng!"

Siapakah yang telah melepaskan ikatannya? Bagaimana pula caranya ia keluar dari lambung kapal yang telah terbalik itu? Namun aku tidak sempat berpikir panjang. Kukerahkan tenaga dalam hasil latihan sepuluh tahun di dalam gua itu. Inilah saatnya ilmu yang telah kupelajari harus digunakan untuk menolong sesama manusia dalam arti sebenarnya. Ini bukan saatnya lagi untuk pura-pura berendah hati dan tidak berdaya. Maka kumasukkan kepalaku ke dalam air dan meluncur seperti lumba-lumba searah dengan pusaran itu, yang telah menyeret kapal semakin lama semakin dalam. Dengan mengikuti arah pusaran, dan tidak memotong arus pusarannya, aku dapat memanfaatkan daya pusarnya yang besar itu untuk menambah kecepatanku, sehingga akupun kini meluncur dua kali lebih cepat dari pusaran dahsyat itu.

Aku meluncur seperti ikan lumba-lumba, tetapi tentu jauh lebih cepat daripada lumba-lumba yang sebenarnya. Lautan yang semula sungguh membiru dalam terang matahari, dalam gelapnya mendung, angin ribut, dan hujan lebat seperti ini berubah menjadi hijau tua yang sangat menjijikkan. Petir sambung menyambung menerangi kegelapan. Di dalam air yang hijau tua yang berputar dalam pusaran raksasa aku meluncur dan terus menerus meluncur menuju Puteri Asoka dengan mengikuti putaran arus pusaran itu, Bahkan ketika tanganku telah dapat meraih tangannya pun aku tidak melawan arus pusaran itu, dan berputar sekali lagi agar dapat memanfaatkan daya dorong arus pusaran dengan sebesar- besarnya. Demikianlah aku bermaksud memanfaatkan tenaga perputaran gasing agar nanti dapat terlontar ke udara, dan tidak ikut terserap ke dasar laut, setelah meraih tangan Puteri Asoka.

Kecepatan perputaran itu sangat tinggi, ibarat kata burung terbang tinggi di langit pun dapat diserapnya, tetapi bahkan aku berputar dua kali lebih cepat dari perputaran tersebut dan kini Puteri Asoka yang memegang haluan perahu sambil melambaikan tangan telah tampak di depan dalam garis pusaranku. Ini merupakan saat-saat menentukan, bahkan sangat menentukan, karena jika Puteri Asoka takbisa kuraih sekarang ini, aku tidak dapat kembali untuk meraihnya lagi. Daya kekuatan arus pusaran itu terlalu besar untuk dilawan, dan memanfaatkan saja daya dorongnya untuk melontarkan diriku setelah meraih Puteri Asoka adalah kemungkinan terbaikku saat ini.

"Puteriiiiii!"

Aku berteriak dengan tenaga dalam agar menembus suara angin puting beliung dalam hujan badai ini, karena ia harus mengetahui kedatanganku. Jika tidak, saat tangannya kuraih, maka tangan satunya lagi tentu masih berpegang erat pada haluan kapal terbalik, yang sembari terseret berputar di tempat seperti baling-baling keluar masuk permukaan laut itu. Jadi aku memang harus berputar pada saat yang tepat, tidak terlalu cepat, dan juga tidak terlalu lambat. Harus tepat dan tetap cepat dan tiada saat lain lagi yang bisa lebih tepat.

"Puteriiiiii!"

Aku berteriak lagi karena kapal itu masih akan berputar sekali lagi sebelum aku sampai pada titik Puteri Asoka berada. Sehingga begitu ia muncul segera pula tangannya telah siap kuraih dan tangan satunya tidak berpegang erat kepada haluan kapal terbalik itu. Segalanya berlangsung lebih cepat dari waktu penceritaan ini. Saat aku tiba, ia pun baru muncul dari dalam air, mengulurkan tangan sekaligus melepas pegangan tangan satunya pada ujung haluan. Kusambar tangannya. Kupeluk erat dengan tangan kanan tubuhnya agar terbawa laju diriku, lantas dengan tenaga dalam hasil latihan sepuluh tahun di dalam gua, kujejakkan kaki untuk bertolak pada pusaran laut yang ibarat kata bisa kuanggap sekeras tembok, untuk kumanfaatkan daya dorongnya itu.

Aku melayang ke langit karena daya kumparan yang telah dibentuk oleh pusaran. Melayang tinggi, jauh ke udara, tetapi jangan terlalu tinggi, melainkan menyamping sejauh-jauhnya agar tidak jatuh lagi ke dalam pusaran itu. Sepintas kulihat dari atas kapal itu tidak kelihatan lagi. Ia karam bersama segala riwayat yang telah berlangsung di atasnya. Kulihat pula benda-benda lain yang ikut terserap ke pusaran sumur raksasa di tengah lautan itu. Kepingan papan, balok kayu, tong kayu, dan mayat-mayatO Namun seseorang kulihat masih melambai ke arahku, sebelum akhirnya terserap juga ke dalam pusaran, dan dalam berkelebatnya segala peristiwa kukenali dirinya sebagai Samudragni! Sebelum semua itu takterlihat lagi, masih sempat kulihat dalam naik turun tubuhnya di permukaan laut, betapa pinggangnya yang tertembus belati dari depan itu berdarah amat merahO

Terlempar jauh ke atas dan menyamping bagaikan mengubah segala-galanya. Hujan takterlalu membadai di luar pusaran karena angin memang taksekencang di dalam pusaran, yang berputar-putar memuting beliung seperti ingin menelan segala ke dalam sumur pusarannya. Namun ketika kami terbanting ke atas permukaan laut, bahkan terpental sampai tiga kali sebelum bisa merasakan kembali air laut menelan tubuh kami, kusadari betapa aku tetap harus berenang sejauh-jauhnya dari pusaran itu. Jika tidak, dan hanya membiarkan diri terapung-apung seperti ini, maka kami tentu akan ikut terseret kembali ke dalam pusaran itu, karena sebenarnyalah hujan badai sama sekali belum berhenti.

"Tuan"

Puteri Asoka ternyata masih sadar. Syukurlah ia telah menjaga diri dengan baik selama menjadi sandera itu, sehingga kini punya cukup tenaga demi kepentingan dirinya sendiri. Kalau saja saat itu ia tetap bertahan untuk tidak sudi makan, tentu tidak akan ada tenaganya untuk bertahan memeluk ujung haluan kapal yang sudah terbalik itu.

"Tenanglah Puteri, dikau telah diselamatkan," begitulah dirinya kutenangkan, meski keadaannya masih jauh sama sekali dari ketenangan.

Aku terus berenang seperti lumba-lumba sekuat tenaga, mengerahkan seluruh tenaga dalam yang telah kudapatkan secara berganda selama sepuluh tahun bersamadhi di dalam gua. Aku meluncur seperti ikan lumba-lumba, tetapi dengan kecepatan seribu lumba-lumba, sehingga memang sangat amat cepat tentunya, menjauhi pusaran bencana. Aku bisa meluncur lebih cepat lagi jika tidak membawa beban seperti ini, tetapi beberapa saat kemudian kucapai wilayah tempat hujan telah menjadi gerim is, ombak taklagi sebesar bukit, bahkan angin bertiup sepoi-sepoi bagaikan suatu usaha penghiburan bagi hati yang berantakan.

(Oo-dwkz-oO)

Matahari senja bagaikan lempengan besi dalam tungku pembakaran, tampak di sana sedang tenggelam perlahan- lahan ke balik cakrawala. Dari arahku duduk, pada rakit yang kubuat sendiri dari berbagai balok terapung di sana-sini, tenggelamnya matahari senja itu adalah peristiwa terbaik yang dapat kami alami, pada hari yang sangat melelahkan ini. Hujan telah berhenti setelah beberapa lama hanya menjadi gerim is yang lama sekali. Aku telah meluncur dengan kecepatan seribu lumba-lumba, untuk pergi sejauh-jauhnya dari mata pusaran yang terbentuk di tengah lautan oleh angin puting beliung yang sangat berbahaya itu. Aku memperlambat kecepatan dan berenang seperti semua lumba-lumba lainnya, hanya setelah getaran arus yang masih mampu menyeret apapun di permukaan laut ke dalam pusaran itu hilang dan tidak terasa sama sekali. Setelah hujan badai berhenti dan hanya meninggalkan gerim is serta angin sepoi-sepoi, aku masih meluncur perlahan sambil membawa Puteri Asoka yang kudekap dengan tangan kananku. Haruslah kukatakan, sungguh tidak mudah berenang seperti lumba-lumba dengan kecepatan yang tinggi dalam keadaan yang sangat berbahaya dengan beban seperti itu. Saat aku membiarkan diriku hanya mengambang dan terseret arus entah ke mana, asal jangan ke suatu pusaran di lautan mana pun, sebuah balok kayu entah darimana seperti begitu saja muncul mengenai kepalaku.

Aku memang sudah kelelahan, sehingga takbisa menghindarkannya sama sekali. Kuraih balok itu dengan tangan kiriku, lantas tanganku mengangkat Puteri Asoka ke sana. Begitu menyentuh balok, kedua tangan puteri itu langsung merangkulnya, seperti tidak akan pernah melepaskannya lagi. Lantas akupun mengangkat diriku ke balok, merangkulnya seperti Puteri Asoka melakukannya, karena tenagaku pun sudah tidak ada lagi. Tidak kusadari saat itu betapa dengan kecepatan seribu lumba-lumba aku sudah menempuh jarak yang jauh sekali.

Begitulah kami berdua terapung-apung di atas balok kayu itu entah berapa lama. Hanya saja matahari agaknya sempat menjadi hangat, sehingga tubuh dan pakaian kami menjadi kering sama sekali. Aku segera bersamadhi sejenak di atas balok kayu itu, memulihkan kesadaran, menata pernafasan, dan menjernihkan pemikiran. Keberadaanku sekarang ini tidak boleh menjadi sesuatu yang asing bagiku. Jika aku putus asa dan menyerah kalah, harapan hidup tidak akan ada sama sekali, tetapi jika aku menganggap keadaan ini adalah bagian yang sangat mungkin dari kehidupan itu sendiri, maka aku tinggal menjalaninya saja, dengan semangat yang sama seperti aku telah menjalani kehidupan selama ini. Aku membuka mata, gairah dan tenagaku telah kembali, tetapi bagaimana keadaan Puteri Asoka? Ia masih tergolek lemah di atas balok.

"Puteri Asoka," kataku, "bangkitlah, iz inkanlah sahaya membuat tubuh Puteri segar kembali."

Ia bangkit dari tengkurapnya di atas balok kayu. Matanya mempertanyakan, apakah yang bisa dilakukan dalam keadaan tanpa harapan seperti ini

"Dengarlah Puteri, sudikah Puteri mengikuti kata-kata sahaya?"

Puteri itu mengangguk. Aku mulai membimbingnya. "Pejamkanlah mata Puteri. Pusatkan perhatian dan

kosongkan pikiran."

Lantas kubimbing Puteri Asoka untuk memanfaatkan pernafasan prana seperti berikut: Bahwa ia harus memencarkan kesadarannya ke seluruh bagian tubuh, melakukan pernafasan prana sebanyak sepuluh putaran, dan menarik nafas perlahan-lahan. Lantas selangkah demi selangkah kulanjutkan.

"Tanamkan kemauan dan niatkan.

"Rasakan prana menuju ke seluruh bagian tubuh. "Keluarkan nafas perlahan-lahan.

"Ciptakan bahan sakit keabu-abuan yang dibuang dari seluruh bagian tubuh.

"Ciptakan sinar kesehatan sebagai garis lurus. "Lakukan pernafasan prana ini sepuluh putaran."

Kulihat Puteri Asoka mampu melakukan ini, maka kulanjutkan.

"Pusatkan perhatian pada pusar beberapa saat. "Lakukan juga pernafasan prana pada waktu yang sama."

Semua ini kum inta ulangi lagi sepuluh kali. Siapapun yang menjadi mahir dalam hal ini, akan merasakan daya prana menuju ke seluruh tubuhnya.

Ketika matanya terbuka kembali, tatapannya sudah berbinar-binar, dan masih berbinar-binar ketika senja seperti datang tiba-tiba, membentangkan cahaya kemerah-merahan sepanjang cakrawala. Seperti juga kami taktahu kenapa ada saja balok kayu lain yang mendekat, meski taksama ukurannya, sehingga dapat kubikin daripada balok-balok itu sebuah rakit yang kini kami tumpangi. Balok-balok apa adanya itu dapat diikat dengan tali ijuk yang semula masih berada di tangan Puteri Asoka.

Baru kuingat sekarang, bagaimanakah kiranya ia dapat menjadi bebas setelah kapal ternyata karam, padahal setahuku bukankah saat itu ia masih terikat di tiang?

(Oo-dwkz-oO)