Nagabumi Eps 88: Pemberontakan di Atas Kapal

Eps 88: Pemberontakan di Atas Kapal

AKAN di bawa ke manakah Puteri Asoka? Selama puteri bangsawan Jambi Malayu berusia 12 tahun itu masih hidup, akan selalu merupakan duri dalam daging bagi mereka yang telah memerintahkan pembantaian seluruh keluarganya. Sehingga apabila Samudragni bisa memperlihatkan Puteri Asoka masih dalam keadaan hidup, ia akan dapat memeras uang lebih banyak lagi agar puteri itu akhirnya benar-benar dibunuh.

Sudah beberapa hari kapal ini me laju bersama angin kencang yang tidak pernah berhenti. Setiap kali seseorang turun ke bawah membawa makanan, tentu aku menyembunyikan diri. Menjaga dan menyelamatkan seorang puteri seperti ini, ternyata sama sekali tidak semudah kata- kata seperti ketika meniatkan dan memikirkannya. Puteri itu akan dilepaskan sebelah tangannya dan dipersilakan makan sendiri sambil ditunggu, karena jika diikat kedua tangannya, puteri itu akan memuntahkannya kembali ketika disuapi; tetapi kalau ikatan sebelah tangannya dilepaskan dan ditinggal pergi, dikhawatirkan ia akan melepaskan ikatan tangan yang satunya lagi. Maka begitulah ia diberi makan sambil ditunggui.

Namun bagaimanakah caranya puteri bangsawan seperti Puteri Asoka ini bisa memakan apapun yang oleh para pelaut ini diberikan? Para pelaut ini kalau perlu bisa memakan ikan secara mentah, tentu saja tidak termasuk isi perutnya, karena terbiasa dengan keterbatasan dalam kehidupan di atas kapal. Memakan ikan mentah-mentah bukan dalam arti tidak beradab sama sekali, sebaliknya berarti keterampilan dalam mengiris, memotong, dan menguliti, sebagai bagian dari penanganan ikan mentah sebagai jenis hidangan, sehingga m isa lnya tidak harus berarti ikan mentah itu berbau amis dan sisiknya ikut termakan.

Tentu, mereka tidak memberikan ikan mentah kepada sang puteri, tetapi tetap saja masakan di atas kapal dengan segala keterbatasan. Ikan yang hanya direbus misa lnya, atau sayuran seperti kangkung yang juga hanya direbus, yang bagi banyak orang tidak menjadi masalah, tetapi bagi seorang puteri bangsawan yang dibesarkan dengan segala tatacara dan adat istiadat kebangsawanan merupakan sesuatu yang sulit ditelan. Ini memang cara golongan bangsawan membedakan diri dengan golongan nelayan atau petani, yakni bahwa mereka tidak pernah bersentuhan dan mengerjakan langsung pengadaan bahan kebutuhan pokok sehari-hari. Adat yang kini sungguh berakibat. Puteri Asoka yang biasa menyantap makanan yang dimasak dengan bumbu rempah, takbisa menelan masakan takberbumbu.

Namun aku memintanya untuk sedapat mungkin menelan apapun yang bisa ditelannya, karena tenaganya akan sangat kubutuhkan bila saatnya telah tiba.

"Apakah Tuan memang akan menyelamatkan sahaya, karena sahaya pasti akan membunuh diri sahaya sendiri sebelum mereka membunuh sahaya."

"Percayalah kepada sahaya, Puteri Asoka, karena sahaya tiadalah akan bisa menyelamatkan diri puteri jika Puan tiada memiliki tenaga untuk sekadar berlari-lari."

Agaknya bayangan untuk kembali bebas dan kata berlari- lari telah membuat daya hidupnya meningkat berlipat ganda, sehingga makanan apapun bagai ditelannya begitu saja tanpa dirasakan lagi. Dalam kegelapan dapat kulihat matanya berbinar karena penuh dengan semangat. Suatu keadaan yang kadang-kadang juga membahayakan dirinya sendiri.

Suatu ketika, seorang awak kapal yang diberi tugas memberi makan berteriak-teriak dengan panik.

"Tolong! Tolong! Puteri tersedak! Ia menelan duri!"

Lambung kapal mendadak jadi penuh dan orang-orang turun membawa lentera pula. Aku terpaksa menempelkan tubuh di langit-langit dengan ilmu cicak, dan menyamarkan keberadaanku dengan ilmu bunglon supaya keberadaanku di ruangan itu sama sekali takterlihat.

"Apa yang terjadi?"

"Lihat! Dia seperti tercekik!" Lidah puteri menjulur keluar, matanya melotot, dan ia seperti takbisa bernafas.

"Beri dia minum!"

Samudragni yang juga telah berada di bawah memberi perintah. Segera seseorang turun membawa air dalam belahan batok kelapa, yang segera diminumkan.

"Ayo! Telan! Telan!"

Puteri Asoka menelan, tetapi duri itu agaknya hanya bergerak sedikit, hingga jadinya menyakitkan. Tenggorokannya mengeluarkan suara. Orang-orang semakin panik, terutama melihat wajah pemimpinnya yang semakin keruh.

"Ambilkan nasi! Cepat! Cepat!"

Segera datang pula nasi dalam bakul anyaman bambu yang kecil.

"Kenapa banyak sekali seperti ini? Siapa yang mau makan?

Kamu? Kita hanya butuh sekepal. Lihat!"

SAMUDRAGNI mengepal nasi dan memasukkannya ke mulut Puteri Asoka yang sejak tadi menganga karena tercekik.

"Ayo! Telan!"

Puteri Asoka yang semula memang terlalu bersemangat makan itu sekarang menurut. Impiannya akan kebebasan telah meluruskan cara berpikirnya. Ia menelan, menelan, dan menelan lagi. Sampai tiga kepal. Setelah itu tampak pulih kembali meski masih agak tersengal.

"Bagaimana Puteri? Sudah tertelan durinya?"

Puteri itu mengangguk-angguk. Semua orang menarik nafas lagi. Dengan masih hidupnya Puteri Asoka, tujuan mereka untuk memeras lebih banyak lagi masih akan bisa dijalankan. Namun awak kapal yang tadi bertugas kini menjadi gemetar, karena peristiwa duri ikan itu tentu dianggap sebagai kelalaian yang dapat menghilangkan nyawa sang puteri, yang tentu saja tidak benar sama sekali. Namun di atas kapal bajak laut, setidaknya di atas kapal ini, kebenaran adalah isi kepala Samudragni. Apapun yang baginya benar adalah benar dan apapun yang baginya tidak benar adalah tidak benar. Padahal tiada seorang manusia pun dapat mengetahui kebenaran, bukan? Betapapun Samudragni, Sang Samudra Api, berusaha membuat kebenaran di kepalanya itu menjadi kenyataan, yakni awak kapalnya itu bersalah dan harus dihukum.

Mereka semua naik ke atas sampai lambung kapal menjadi sepi kembali. Aku melayang langsung ke dekat puteri itu.

"Bagaimana keadaanmu, Puteri?"

"Sahaya takut mati tercekik tadi, tulang ikan itu rasanya besar dan menyakitkan sekali."

"Tenanglah Puteri, untuk sementara mereka akan terus menjaga agar Puteri tetap hidup. Sekarang sahaya ingin melihat keadaan di atas."

"Hati-hatilah Tuan, para bajak laut ini sangat kejam."

Aku tertegun, karena kata-katanya itu sama sekali tidak kosong. Gadis kecil berusia 12 tahun itu telah menyaksikan dan mengalami sendiri, bagaimana seluruh keluarganya habis dibantai di tengah lautan tanpa sisa. Suatu mimpi buruk yang sungguh-sungguh nyata. Bagaimanakah ia harus menjalani sisa hidupnya dengan kenangan semacam itu?

Keluar dari lambung kapal aku berkelebat dan menyembunyikan diri di dalam bayang-bayang. Selama matahari masih bersinar terang dan menciptakan bayang- bayang, aku dapat bersembunyi di baliknya, seolah tubuhku melebur ke dalam bayang-bayang itu.

Mereka semua berkumpul di atas. Tidak ada tempat yang terlalu lapang sebetulnya di atas kapal. Namun rupanya telah terjadi suatu peristiwa. Di atas itu sedang terjadi pertengkaran mulut.

"Nakhoda tidak bisa menganggap harta karun yang kita rampas itu sebagai miliknya sendiri, seperti nakhoda juga tidak dapat menyerang kapal orang-orang Jambi Malayu itu sendiri saja."

"Murkhab! Hati-hatilah berbicara! Jangan lupa dikau berhadapan dengan siapa!"

"Kami tahu sedang berhadapan dengan siapa, wahai nakhoda! Tapi kami tidak takut kepada dirimu! Kami pertanyakan sekarang, apa jaminannya nanti bahwa harta itu tidak akan menjadi milikmu sendiri?"

Samudragni menggertakkan gigi pertanda amarahnya sudah memuncak. Ternyata ia memang mencabut pisau belatinya yang melengkung itu, dan secepat kilat kulihat berusaha membuat garis panjang di perut Murkhab. Jika garis panjang itu terbentuk, kutahu akan segera merekah dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Namun rupanya Murkhab juga bukan sembarang bajak laut.

Thrang!

Sabetan Samudragni tertangkis. Bersama dengan itu separuh awak kapal menyerang separuh awak kapal yang lain. Dengan segera saja kapal itu menjadi hiruk pikuk. Sementara tanpa mereka sadari langit telah penuh dengan awan mendung bergulung-gulung. Angin memang bertiup semakin kencang dan tidak beraturan, tetapi para bajak laut itu terserap oleh tawuran takberaturan yang sangat mengerikan itu. Mereka semua hanya sekitar 25 orang, tapi di atas kapal seperti itu, pertarungan bagai berlangsung antara 200 orang. Teriak makian, jerit kesakitan, dan bunyi logam beradu menandai suasana di tengah lautan yang sebetulnya mulai mengombang-ambingkan kapal. Agaknya pertentangan dan kecurigaan terpendam sudah lama merasuk ke dalam gerombolan bajak laut Samudragni ini, yang seperti telah kudengar, berakar dari persoalan pembagian harta rampasan. Suatu hal yang sering menghancurkan persatuan bajak laut, meski suatu kesepakatan tidak tertulis telah berlaku, bahwa pemimpin bajak laut yang biasanya juga merupakan nakhoda kapalnya, akan mendapat separuh dari se luruh harta rampasan, dan sisanya dibagi rata oleh anak buahnya.

Pemimpin mendapat bagian sebesar itu, karena dianggap menanggung beban tanggungjawab atas keselamatan kapal dan awak kapalnya, serta berperan menentukan dalam perburuan harta kekayaan. Pemimpin bajak laut memang diandaikan bukan hanya mampu memimpin gerombolan yang paling susah diatur, karena biasanya gerombolan ini terdiri berbagai manusia yang tersempal dari masyarakatnya, dengan latar belakang suku dan bangsa yang sering berbeda-beda pula; tetapi juga menguasai seluk beluk pelayaran, menguasai dan memiliki bayangan sebuah peta atas wilayah penjelajahan kapalnya, serta mengenal pula peta kekuasaan di darat maupun laut di sekitarnya.

Kebijakan ini tidak selalu diterapkan dengan cara yang sama, misalnya bahwa seluruh harta dim iliki bersama tanpa seorangpun diandaikan memilikinya. Harta itu dim iliki secara bersama dalam pengertian untuk membeayai kehidupan di kampung mereka yang terpencil dan terpencil. Mereka yang pandai mengelola dan mengolah dana dari harta ke dalam dunia perdagangan sehari-hari, pada gilirannya dapat berperan sebagai saudagar dan meninggalkan kehidupan bajak laut yang penuh dengan bahaya itu. Namun tentu juga terjadi, bahwa dibagi dengan cara apapun, harta itu hanya akan habis tanpa s isa karena segera digunakan untuk bersuka ria secara mewah dan penuh kegilaan. Di berbagai kota pelabuhan di negeri as ing, tempat mereka tidak sahih untuk ditangkap pemerintah setempat, mereka yang turun dengan harta rampasan akan segera menjualnya kepada para tukang tadah, dan segera ramai-ramai menyewa rumah atau gedung yang disediakan untuk itu, memesan segala minuman dan makanan, mengundang penari dan pemain musik, memanggil pelacur, dan berjudi sembari bermabuk-mabukan tanpa henti sampai hasil pembajakannya ludas tanpa sisa dan tanpa disesali sama sekali.

Bajak laut yang semacam ini masa petualangannya tidak akan pernah terlalu lama, karena harta yang habis akan membawa mereka kembali ke pembajakan, dan tidak dalam setiap pembajakan para bajak laut itu beruntung atau kembali dengan selamat. Selain karena kapal dagang telah semakin siap menghadapi pembajakan, juga bahwa negeri-negeri yang merasa wilayah kekuasaannya di laut tidak aman bagi para pedagang, dari dalam negeri maupun as ing, akan mengirimkan satuan kapal-kapal tempur untuk memburu dan membasmi para bajak laut ini. Sebaliknya, para bajak laut yang memperlakukan harta rampasan sebagai modal untuk membangun kehidupan, bukan takmungkin kelak akan menjadi penguasa wilayah secara resmi, dengan hak mengolah hasil bumi maupun hasil laut di wilayahnya itu, sehingga mampu menyusun pemerintahan dan mendirikan negara.

Dalam hal para bajak laut di kapal yang dipimpin Samudragni ini, jelas bahwa sikap untuk menguasai harta rampasan sebagai miliknya sendiri telah menjadi sumber perpecahan, yang dapat berakhir dengan kepunahan gerombolan itu sendiri. Niat Samudragni yang terlalu jelas untuk menguasai harta rampasan, yang kali ini tampaknya besar sekali, telah memancing lahirnya pemberontakan ini. Samudragni yang mengira bahwa selamanya para awak kapal akan takut kepadanya, agaknya telah lupa betapa ketakutan pun ada batasnya -sedangkan mereka yang takut kepada ular cenderung ingin segera membunuh ular itu, yang kini terjadi kepada Samudragni!

Aku telah berada di luar bayang-bayang, karena dalam suasana bunuh membunuh seperti ini tidak kuanggap akan ada seseorang yang memperhatikan kehadiranku. Samudragni dengan segera telah dikepung beberapa orang, karena pihak Murkhab sebagian telah membunuh lawan-lawan mereka. Termasuk Murkhab, kini mereka menyerbu Samudragni dari segala penjuru. Namun pemimpin bajak laut yang pendek gempal ini memang bukan sembarang bajak laut. Bukan saja tubuhnya dapat berkelebat ke sana kemari dengan lincah, tetapi bahwa tubuh pendek gempalnya itu juga berisi tenaga yang luar biasa. Pengalamannya yang panjang dalam pertarungan dalam kesempitan ruang di atas kapal, jelas sangat membantu.

Di tangannya telah tergenggam dua belati panjang. Menghadapi kepungan seperti itu ternyata lebih dari cukup untuk menangkis, bahkan kemudian untuk menyerang dengan ancaman mematikan yang taktertahankan. Samudragni Sang Samudra Api berkelebat di antara tiang, tali temali, maupun awak kapal lain yang bertarung. Ia bisa melesat hilang dan segera menyambar lagi dari atas dengan sambaran tajam.

Thrang! Thrang! Thrang!

Pisau belati yang dipegang tiga lawan yang mengepungnya terpental ke udara, selagi mereka mendongak ke atas mencarinya, seketika menyemburlah darah segar dari sobekan pada leher mereka. Saat itu golok dua lawan telah mengancamnya. Samudragni bergerak menangkis dengan dua belati panjangnya, dan saat itulah tubuh bagian depannya terbuka, yang segera dimanfaatkan Murkhab meski sedang menghadapi lawan lain di hadapannya. Tanpa terlihat, tangan Murkhab melempar senjata rahasia perut Samudragni yang terbuka.

Jlep! Pisau terbang yang kecil itu menembus dan bahkan keluar lagi dari pinggang kanan Samudragni sampai tertancap di dinding kapal. Saat itu kedua belati panjang Samudragni te lah memakan korban, dan sebelum Murkhab menyadarinya kedua belati panjang itu telah menancap pada kedua dadanya. Murkhab mati dalam keadaan berdiri. Belum lagi jatuh tubuhnya terlempar melayang ke laut karena kapal mendadak oleng. Ombak memang tiba-tiba menjadi ganas. Hujan turun diiringi angin membadai. Langit gelap. Bahkan anak buah Samudragni yang sedang dihadapi Murkhab tadi ikut terlempar keluar, untuk segera ditelan gelombang sebesar bukit. Layar yang masih terpasang membuat oleng kemoleng kapal mengacak segala-galanya. Beberapa awak kapal yang sudah tidak bisa lagi bertarung dalam keadaan seperti itu lagi-lagi terlempar keluar. Mereka yang masih di kapal berpegangan seerat-seeratnya kepada apa saja yang bisa diraih. Tiang, tali temali, apa saja, sementara ombak terus menerus terhempas masuk kapal.

"Layar harus digulung!"

Teriak Samudragni, yang masih bertahan hidup dan terlihat sempoyongan serta kesakitan sekali. Di atas kapal tinggal beberapa orang yang hidup, tetapi mereka berada di pihak Mukhrab. Apa yang harus membuat mereka sudi menuruti perintah Samudragni? Semua ini berlangsung dalam waktu yang sangat singkat, aku segera berkelebat menuju palka, dan dari sana meluncur ke lambung kapal. Kapal oleng ke kanan dan ke kiri, ke depan dan ke belakang, menuruti angin puting beliung. Segalanya berantakan ke sana dan ke mari. Di lambung kapal, tong-tong air bergelimpangan dan mengambang karena dasar kapal sudah dipenuhi air laut. Mataku menyisir gelap dalam keterombang ambingan dan kekacauan. Di manakah Puteri Asoka? Suara angin ribut membuat aku kesulitan memisahkan suara yang satu dan bunyi lainnya. "Tuan!"

Kudengar suara yang segera ditelan air. Aku menengok. Tangannya yang satu masih terikat ke belakang, sementara tangannya yang lain sedang menahan tong air, yang dalam kemiringan kapal telah datang dan pergi dari dinding kapal dan ke tiang tempat Puteri Asoka masih terikat. Kuajukan tanganku dan seketika tong air pecah, isinya tumpah bercampur air laut yang mendadak telah mencapai langit- langit pada lambung kapal dan Puteri Asoka tidak kelihatan lagi. Ia tak bisa bergerak bukan hanya karena sebelah tangannya terikat ke belakang, tetapi juga karena bersama seluruh tubuhnya masih terikat ke tiang.

Air membeludak lagi dari atas melalui lubang masuk ke lambung kapal. Dadaku berdegup. Kapal ini sebentar lagi karam!

(Oo-dwkz-oO)