Nagabumi Eps 86: Di Balik Kundika

Eps 86: Di Balik Kundika

KULIHAT Putri Asoka yang memang masih sangat muda. Ia

seorang perempuan untuk dise lamatkan. Jika tidak, ia pasti akan sangat menderita. Wajahnya yang cantik tampak sangat pucat dan pipinya masih basah oleh air mata. Matanya masih tampak sembab karena terus menerus menangis. Tangannya terikat ke belakang dengan sangat kencang. Kain terlibat ke tubuhnya dalam keadaan hampir lepas. Namun aku tidak melihat bahwa ia telah mendapat perlakuan yang lebih kejam dari itu. Ia tertunduk karena silau. Rambutnya yang lurus dan panjang telah terurai dan jatuh di bahunya yang telanjang. Tubuhnya tampak kotor karena debu-debu di lambung kapal yang penuh barang, berkarung-karung rempah, tong-tong air, dan juga gulungan kain layar cadangan. Dua orang tampak melompat turun dengan ringan. Mereka mendekati Putri Asoka itu, yang satu berjongkok dan yang lain membungkuk di hadapannya. Bahkan yang berjongkok itu memegang dagunya seperti memeriksa mulut anjing piaraan.

"Aku tidak mengerti apa keuntungannya bagi kita membiarkan anak perawan ini hidup, bahkan takboleh disentuh berlama-lama. Ia hanya akan menyulitkan kita saja kurasa, harus memberinya makan setiap saat begini," katanya.

Ternyata mulut Putri Asoka dibuka secara paksa, untuk memaksakan makanan masuk ke mulutnya. Makanan itu dibawa oleh yang membungkuk, digenggam dalam bungkusan daun; yang berjongkok membuka mulut Putri Asoka secara paksa dengan cara menekan kedua pipinya, lantas mengambil makanan dari bungkusan daun itu, memasukkan dan menekan secara paksa ke dalam mulut dengan jari-jari tangannya.

"Ayo makan! Kalau kamu mati, nanti kami yang digantung di tiang layar kapal ini!"

Apakah yang dimasukkannya itu? Barangkali nasi, tak terlalu jelas dalam kegelapan begini. Nasi itu dikepal dulu, sebelum dimasukkan dengan tangan yang tidak jelas kebersihannya itu. Kudengar Putri tersedak dan tidak bisa bernapas.

"Kenapa seperti itu memberi makan? Mati dia nanti," kata yang membungkuk, "kasihkan air kalau memberi makan seperti itu."

"Diam lah bodoh! Perempuan kecil ini se lalu memuntahkan makanannya, jadi harus dipaksa!"

"Kamu justru akan membunuhnya! Coba lihat!"

Putri itu sekarang matanya sudah melotot karena tenggorokannya tersumbat. Aku sudah siap bertindak, ketika dari atas terdengar bentakan.

"Bodoh!" Orang yang berjongkok itu lantas tergelimpang ke lantai dengan sebilah pisau menembus ubun-ubunnya. Suatu sosok lantas melompat turun dengan ringan. Ditendangnya pula petugas satunya sehingga terlempar ke dekatku. Ia tidak mati, tetapi tidak berani bergerak maupun mengeluarkan suara sepatah pun juga.

"Kundika!"

Lelaki yang baru datang ini meminta kendi yang segera dilemparkan dari atas dan ditangkapnya dengan sebelah tangan saja. Ia menarik lengan Putri Asoka sehingga terseret ke dekatnya, juga dengan paksa dimasukkannya corot kendi itu ke mulut sang putri. Secara alamiah, meskipun hatinya menolak Putri Asoka menelan nasi yang terdorong oleh air dari kendi tersebut. Sepintas kuperhatikan kendi yang terbuat dari perunggu itu, bibirnya membalik keluar, corotnya melengkung dan bergelang. Meski bentuk yang sejenis juga dibuat di Mataram, tetapi dari bahan yang berbeda. Kendi ini sama dengan berbagai kendi asal Jambhudvipa yang datang bersama para pendatang di kerajaan Mataram maupun kedatuan Sriv ijaya.

DAPATKAH kuyakinkan diriku bahwa para awak kapal ini adalah orang-orang asing? Kundika diisi dari corotnya pada sisinya, dan menuang dari mulutnya yang berupa pipa sempit, sedangkan kendi diisi dari mulut dan dituang dari corotnya. Kundika berbeda dari kendi, tetapi yang disebut dengan kundika oleh orang ini adalah kendi atau kundi. Mereka menyebutkan benda yang lazim digunakan di sini dengan bahasa daerah asalnya, meski kudengar mereka berbahasa Melayu dengan cukup fasih. Aku mengambil simpulan bahwa mereka bukan orang Muara Jambi dan bukan pula orang Srivijaya. Seharusnya mereka tidak mempunyai urusan dengan masa lalu orang-orang malang yang telah mereka bantai itu!

Kuingat ketiga orang yang diduga penyerang dan kami temukan sudah mati di kapal naas tempat mereka menjarah, membunuh, memperkosa, dan menculik Putri Asoka ini. Jelas mereka orang-orang Kling. Namun orang-orang ini, meski tinggi besar seperti orang-orang Kling, kulitnya tidak hitam. Tentu seperti setiap pelaut, kulitnya hitam terbakar matahari, tetapi sangatlah berbeda antara mereka yang kulitnya terlahir hitam dan kulitnya hitam terbakar matahari.

Betapapun nasi itu akhirnya tertelan oleh Putri Asoka. Aku menahan napas. Entah bagaimana caranya aku bernapas, karena aku berada sangat dekat dengan mereka. Aku merasa khawatir karena Putri Asoka matanya sering menatap ke arahku. Jika terjadi sesuatu, sangat sulit bertarung di dalam lambung kapal seperti ini.

Sosok yang baru turun itu berkata.

"Ingat Putri, dirimu adalah tawanan kami, janganlah melakukan apa pun yang akan mencelakakan Putri sendiri. Jika Putri menurut kami, maka Putri akan selamat."

Namun Putri Asoka tiba-tiba meradang.

"Kalian telah membunuh seluruh keluargaku! Untuk apa? Kalian bisa merompak dan menjarah, kenapa harus membunuh?"

Sosok itu tertegun, dan berdiri. Ia memberi tanda kepada orang yang ditendangnya tadi agar keluar dari lambung kapal. Sementara di luar, kudengar perahu sampan yang kuikuti tadi tiba. Kemudian kudengar juga keramaian banyak orang yang naik ke kapal. Agaknya mereka semua yang meninggalkan kapal telah kembali. Kudengar berbagai bahasa diucapkan campur aduk, ada yang kukenal, ada yang tidak kukenal. Namun kurasa tidak ada hal yang perlu kuceritakan kembali, kecuali bahwa suasana di atas itu begitu riuh rendah, dengan langkah kaki di atas papan yang menjadi atap lambung kapal ini yang terdengar bagaikan langkah-langkah kaki gajah.

"Di mana Nakhoda?" Suara ini te lah kukenal sebagai suara orang yang kuikuti. "Di bawah, dia tak bisa diganggu," kata yang baru naik itu. "Ini penting!"

"Sudah kubilang tak bisa diganggu!" Bug! Bug!

Tampaknya salah satu memukul dan yang dipukul membalas. Suasana semakin riuh rendah. Bukan untuk memisah, melainkan untuk bertaruh siapa kalah dan siapa menang, tentu tanpa mengetahui duduk persoalan yang sebenarnya. Mereka terdengar tertawa-tawa seperti mendapat hiburan.

Lelaki pendek gempal yang sedang berada di bawah ini tampaknya merasa sangat terganggu. Ia segera melenting ke atas dan berkelebat ke sana kemari untuk menghajar anak buahnya itu. Sebentar kemudian hanya terdengar suara orang-orang yang mengerang dan mengaduh kesakitan di sana-sini.

"ANJING-ANJING geladak berotak udang! Gentong nasi kalian semua! Hidup sekali hanya untuk makan! Bikin suara lagi kubunuh kalian semua!"

Suara-suara erangan itu lenyap, tetapi masih terdengar sebagai desahan. Sebetulnya keramaian itu menguntungkan aku. Sekarang aku harus kembali menahan napas.

"Putri Asoka," bisikku cepat-cepat, "buatlah ia banyak berbicara..."

Putri itu tidak menjawab. Namun kurasa ia mengerti, bahkan ia sendiri kini tampaknya juga penasaran sekali.

"Siapa yang ingin bertemu denganku karena ada sesuatu yang katanya penting?"

"Sahaya...," terdengar suara lemah. "Apa yang begitu penting?"

Dengan lancar diceritakannya semua, mulai dari cerita yang terdengar di kedai, tukang tenung yang tercekik-cekik sendiri, dan sejumlah orang yang mengikuti kami, yang lantas terjebak dalam perangkap kami.

Terdengar nakhoda itu berkata.

"Hmm. Berita tentang mereka berangkat telah sampai ke mari. Berita tentang nasib mereka belum ada yang tahu. Berarti Naga Laut yang telah melihat dan membakar kapal itu, seperti yang telah kita saksikan dari kejauhan, menyimpan maksud tertentu."

"Kita tak tahu apakah yang akan dikatakannya kepada orang-orang Muara Jambi itu."

"Apa pun yang akan disampaikannya, seharusnya bukanlah tentang keberadaan kita, karena tiada peluangnya saat itu untuk mengenali kita."

"Tiga kawan kita tertinggal di kapal itu..."

"Yah, tetapi mereka juga sudah tidak bisa menceritakan apa pun. Itulah kalau menyerbu terburu nafsu. Memalukan! Mati di tangan orang-orang lemah! Cuh!"

Ia meludah untuk menunjukkan penghinaannya. Lantas turun lagi ke bawah.

Ia membungkuk untuk memperhatikan wajah Putri Asoka dalam ruangan temaram karena sedikit cahaya dari atas itu. Ia memegang dagunya, mengelus-elus pipinya, lantas menjambak rambutnya dan berkata perlahan-lahan.

"Dikau seharusnya berterima kasih kepadaku Putri, karena daku telah membiarkan dirimu hidup sampai hari ini. Asal dikau tahu, daku telah dibayar mahal untuk membantai semua orang yang berada di kapal. Daku tidak tahu kenapa kalian semua harus mati, tetapi setelah akhirnya kuketahui siapa kalian, daku sadar betapa bayaranku masih belum sepadan..."

"Siapa yang te lah membayar kalian itu, yang dikau katakan begitu murahnya jika termasuk membunuh diriku?"

Nakhoda itu tidak menjawab, melainkan balik bertanya. "Putri, tahukah kiranya Putri, siapakah kiranya diri Putri

itu?"

Putri Asoka terdiam. Aku mematung tanpa suara. Sejari tangan saja aku bergerak, aku tahu sebilah pisau terbang atau sejumlah senjata rahasia akan segera meluncur ke arahku.

Putri itu masih terdiam. Mungkinkah ia memang tak tahu siapa dirinya itu? Tidakkah mengenaskan jika diriku saja dengan segera telah menyerap secara ringkas sejarah suatu negeri selama seratus tahun, sementara tokoh penting sejarah itu tak tahu menahu siapakah dirinya dalam suatu riwayat yang tak diketahuinya pula?

"Tidak tahukah betapa dirimu dapat duduk di kursi singgasana, wahai Putri?"

Nada sang nakhoda yang pendek gempal ini, antara bercanda dan menghina, syukurlah tidak terlalu ditanggapi Putri Asoka, yang dalam keremajaan usianya, kuperkirakan bahkan hanya 12 tahun, yang dalam penderitaannya tetap menggunakan otaknya untuk memenuhi permintaan. Syukurlah ia tetap memiliki keberanian, meski ketakutannya sebagai tawanan adalah suatu hal yang sangatlah sewajarnya.

"Daku bukan putri seorang raja," katanya, "khayalan mana yang dapat membawa daku ke sebuah kursi singgasana!"

"Khayalan mana? Khayalan?"

Nakhoda yang sekilas kulihat bergiwang permata itu menggeleng-gelengkan kepala. "Apakah pembantaian mengerikan yang berlangsung di hadapan mata dikau itu suatu khayalan? Apakah segala macam jerit kesakitan, darah bercipratan, dan segala peristiwa yang baru berlangsung kemarin malam adalah khayalan?"

Asoka segera menohok.

"Katakan! Katakan bahwa itu bukan khayalan!"

NAKHODA itu, yang dalam perasaan berkuasanya telah kehilangan kehati-hatian meneruskan kata-katanya.

"Tidakkah dikau ketahui Putri, bahwa kedatuan Sriv ijaya, dengan bangkitnya wangsa Shailendra dan wangsa Sanjaya di Javadvipa, yang sangat subur sawah-sawahnya, tidak lagi dikenal sebagai satu-satunya negara berkuasa? Mereka memang menguasai laut, tetapi tidak berdaya mencegah kapal-kapal dari segala penjuru yang ingin mengambil muatan dari berbagai pelabuhan di sana, yang meski tetap dikuasai Srivijaya, tak dapat menguasai apa pun di pedalamannya." 4

Putri Asoka memandang dengan mata kosong.

"Tahukah artinya itu Putri? Artinya kekuasaan mereka goyah dan kerajaan yang pernah ditaklukkan merasa punya alasan untuk bangkit kembali. Itulah saat paman-pamanmu merasa bukan takmungkin mendirikan kembali kerajaan mereka yang disebut Jambi Malayu, dengan bantuan kerajaan- kerajaan di Javadvipa, ataupun sembarang bajak laut yang berkeliaran dari pulau ke pulau seperti kami, yang semenjak lama memang bekerja sama dengan kedatuan Srivijaya hanya karena terpaksa."

Hmm. Benarkah kapal ini sebuah kapal bajak laut? "Terpaksa?"

"Tentu saja terpaksa! Kami adalah pengembara di lautan

tanpa negara yang berlayar di antara pulau-pulau karang dan teluk tersembunyi, yang memang akan membajak kapal-kapal dagang yang melewati wilayah kami. Para raja Srivijaya, karena takmampu membasmi kami, akhirnya membeli kerjasama kami. Mereka adakan perjanjian dengan beberapa di antara kami, bahwa dengan memberikan sebagian wilayah pelabuhan, kami tidak bisa lagi membajak kapal-kapal di laut. Sebaliknya bahkan para sekutu Sriv ijaya ini dimanfaatkan untuk menjamin keamanan lalu lintas kapal-kapal dagang." 5

"Termasuk kapal ini?"

"Tentu saja Putri! Jadi kami mau bekerja sama, tapi hanya selama kami tetap diuntungkan. Akhir-akhir ini, sete lah wangsa Shailendra mampu membangun armadanya sendiri untuk menyerbu Champa, bahkan Kota Kapur ini pun menjadi sepi. Kami tidak terikat lagi dengan perjanjian ini. Kami kini bekerja untuk siapa pun yang membayar kami. Termasuk untuk tugas ini!"

"Membunuh kami?"

"YA, membunuh kalian! Tapi daku bisa mendapat uang emas lebih banyak dengan tidak membunuh dikau! Hahahahahahaha! Maksud daku, menangguhkan pembunuhan dikau, karena nantinya tetap juga dikau harus kubunuh! Hahahahahaha! Itulah salah mereka sendiri, karena tidak menjelaskan persoalannya ketika menawarkan pekerjaan ini kepada kami! Jika kepentingannya sebesar ini, yakni memutuskan garis keturunan supaya dikau tak dicari lagi sebagai ratu yang sah dari keturunan Jambi Ma layu, tentulah daku harus dibayar jauh lebih mahal! Huahahahahaha!"

Kini persoalannya sudah sangat jelas bagi Putri Asoka, maupun juga bagiku, tentang hubungan antara kapal ini, kapal yang seluruh penumpangnya dibantai, maupun semua kejadian tadi. Kecuali bahwa aku tidak dapat memastikan, bagaimana desas-desus tentang para pelarian ini dengan segera sudah mencapai Kota Kapur. Aku hanya bisa menduga, bahwa ketika para bangsawan pelarian ini lenyap dari kotaraja, kemungkinan naik kapalnya pun dari sebuah tempat tersembunyi, berita memang segera tersebar sampai pelabuhan. Memang ke sanalah para pengawal rahas ia kedatuan memburu, dan kejadian ini mungkin telah menimbulkan huru-hara besar, karena setiap kapal yang berlabuh telah digeledah dan diperiksa. Adapun dari pelabuhan yang besar, tentulah selalu ada kapal yang berangkat setiap hari, dan sebuah kapal barangkali saja dengan segera telah tiba di Kota Kapur.

Kusimak kembali, dalam cerita yang kudengar di kedai memang tidak disebut tentang pembantaian di tengah laut pada malam hari. Pembantaian memang baru semalam, tetapi mungkin saja pelarian itu sudah berlangsung beberapa hari sebelumnya. Sedangkan kapal yang memburunya ini, menurutku berangkat dari tempat tersembunyi lainnya, atau bahkan dari tengah lautan itu sendiri melalui suatu mata rantai jaringan rahasia, yang juga mengerahkan kapal-kapal untuk menghubunginya. Jadi, kecurigaanku di kedai mungkin berlebihan, tetapi bukankah hanya dengan waspada kepada segala sesuatu maka akhirnya aku berada di tempat ini?

Nakhoda yang pendek gempal ini jelas adalah orang yang serakah. Ia telah menghindari kapal kami, yang mungkin dikenalinya sebagai kapal Naga Laut. Bagi Sriv ijaya, keduanya hanyalah bajak laut yang tidak bisa diatur. Namun bagiku keduanya sangat berbeda. Naskhoda pendek gempal yang selain mestinya telah dibayar, masih menjarah harta karun seisi kapal pula, tetapi masih mau juga memeras pembayarnya dengan menyandera nasib Asoka, yakni bahwa tak akan dibunuhnya jika bayaran tak dilipatkan, jelas bajak laut licik yang tidak memiliki kehormatan sedangkan Naga Laut, dengan segala riwayatnya yang telah kudengar, jelas adalah seorang pejuang.

"Tapi aku tidak akan membunuhmu Putri, berapa pun bayarannya, jika dikau bersedia menuruti permintaanku."

Putri Asoka yang masih 12 tahun, meskipun cerdas, masihlah berjiwa lugu. "Apakah itu?"

Hening sejenak. Aku tak bernafas. Ikut tegang menanti jawaban.

Nakhoda itu berjongkok, memegang dagu Putri Asoka. "Tuan Putri, sudikah Tuan Putri menjadi isteriku?"

(Oo-dwkz-oO)