Nagabumi Eps 83: Naga Laut dan Nagarjuna

Eps 83: Naga Laut dan Nagarjuna

AKU tertegun. Terbiasa hidup tanpa nama membuat aku juga tidak peduli dengan nama-nama orang lain. Aku memang tidak pernah tahu siapa nama nakhoda kapal yang kutumpangi itu. Betapapun aku bekerja padanya dan memang jika sampai hari ini aku tidak mengetahui namanya barangkali boleh dianggap keterlaluan. Namun bagaimanakah caranya aku dapat menyebut ia punya nama, jika bukan saja setiap awak kapalnya menyebutnya sebagai "nakhoda" saja; dan kalaupun aku bertanya tiada seorang pun bisa menjawabnya? Aku bukan tidak pernah bertanya, tetapi setiap awak kapal yang kutanya entah kenapa hanya tersenyum saja.

Di daratan terlihat anak-anak kecil yang berambut kuncung, berkalung tali kulit, tetapi yang tidak mengenakan apa-apa lagi itu. Mereka masih berlari-lari sepanjang tepi sungai searah dengan gerakan kapal, mereka jelas membedakan kapal ini dengan kapal-kapal lainnya. Tanpa menunggu sampai di dermaga, mereka meloncat ke sungai dan berenang dengan kecepatan tinggi. Para awak kapal tertawa-tawa melihat anak- anak kecil ini.

"Lihat, anak-anak kalian," ujar nakhoda sambil tertawa, "sudah lama kita tidak s inggah di pulau ini."

Kusaksikan para awak kapal melempar mata uang. Tidak hanya mata uang perunggu dan perak, tetapi juga mata uang emas! Ah, para pelaut yang kaya! Kuingat berkarung rempah- rempah dalam muatan kapal. Mereka yang berani mengarungi dan menjelajah lautan memang lebih berhak atas keuntungan besar dalam perdagangan. Para pelaut Sriv ijaya telah lama menguasai jalur perdagangan, bukan hanya di Suvarnadvipa, dari timur ke barat, tetapi juga jalur perdagangan antara Negeri Atap Langit dan Jambhudvipa; karena terlalu berat menempuh jalan darat, dengan segala pegunungan bersalju, alam yang buas, suku-suku yang belum tentu ramah, dan lama perjalanan itu sendiri, kapal-kapal kedua wilayah yang disebut-sebut peradabannya tinggi mengarungi laut untuk saling menjemput, barang-barang dagangan mereka.

Untuk itu mereka harus melalui Selat Malaka yang dikuasa i sepenuhnya oleh kedatuan Srivijaya, yang mengirimkan kapal- kapalnya antara lain dari Kota Kapur ini. Sudah jelas hal semacam ini tidak berlangsung mulus, karena kapal-kapal dagang itu tentu melawan. Kapal-kapal itu memang tidak hanya membawa pelaut dan pedagang, melainkan juga para pendekar dengan ilmu silat tinggi untuk mengamankan kepentingannya. Namun bagi kepentingan dagang itu pula, sikap semacam ini tampaknya membuat banyak urusan tersendat. Daripada bermusuhan, lebih baik bekerjasama dengan para pelaut berperahu cadik dengan muatan antara dua puluh sampai dua puluh lima orang yang gerakannya sangat lincah itu. Apalagi, kapal-kapal itu dalam beberapa ratus tahun terakhir telah diatur dengan baik dalam kesatuan suatu kedatuan.

Bagi dunia perdagangan antarbangsa mereka adalah bajak laut, tetapi bagi orang-orang di Suvarnadvipa mereka dikenal sebagai kedatuan Sriv ijaya, yang pada mulanya memang saling menyerang di berbagai sungai dan teluk Samudradvipa, tetapi kemudian mampu membangun peradaban dengan landasan igama. Seperti te lah kuceritakan, semula para pelaut Samudradvipa hanya menjadi perantara dalam jalur perdagangan itu, tetapi dengan kekayaan alam Samudradvipa, mereka kemudian dapat mengganti barang-barang dagangan itu, dan menjualnya ke Fu-nan di bagian se latan Negeri Atap Langit maupun ke Jambhudvipa.

Apakah ini berarti bajak laut lenyap dan hanya ada Srivijaya? Ternyata tidak. Meski kedatuan merupakan bentuk resmi Srivijaya sebagai negara, tidak semua negeri yang berhasil ditundukkan dengan suka rela mendukungnya. Tepatnya, tidak semua wilayah dari negeri yang ditundukkan sudi menyerah. Bahkan ketika tiada lagi wilayah yang tidak dikuasai Sriv ijaya, bertolaklah mereka dengan kapal-kapal ke lautan lepas, hidup sebagai pengembara di atas samudera, tidak terikat dan tidak mengikatkan diri ke dalam negara apapun, kecuali kepada kedaulatan di atas kapalnya sendiri.

"Selamat datang, wahai Naga Laut!"

Kudengar seorang tua berjenggot putih dan mengikat rambutnya ke atas bagai pedanda Siva berteriak dengan wajah riang.

Jadi nakhoda kapal kami itulah Naga Laut! Betapa buta mataku ternyata meski selama ini telah melihatnya. Dialah tokoh sempalan dari Muara Jambi yang tidak sudi menyerah, sebaliknya karena Jambi-Malayu menyerah kepada Srivijaya, maka lelaki berdestar yang kelak akan disebut sebagai Naga Laut melepaskan ikatan dirinya dengan Jambi-Malayu sebagai negara, meski tidak bisa menolak asal-usulnya sebagai anak negeri Muara Jambi.

"SAMUDERA terbentang milik setiap pelaut," ujarnya, mengenai gagasan tentang betapa lautan lepas merupakan wilayah yang bebas.

Nama Naga Laut lantas berkibar di lautan, justru sebagai momok bagi kapal-kapal Sriv ijaya. Ia menyerang, menjarah, menenggelamkan, dan membakar kapal-kapal Sriv ijaya. Sengketa ini tidak selalu dipaham i orang-orang luar, dan kapal Naga Laut yang tidak bisa dibedakan dari kapal-kapal Sriv ijaya sering disamakan begitu saja. Hanya kadang-kadang Naga Laut menaikkan umbul-umbulnya, yang berwarna kuning dan bergambar Naga, karena ia ingin menunjukkan betapa Srivijaya yang jaya bahkan takbisa mengatasi masalah yang ditimbulkan olehnya. Salah satu ciri Naga Laut yang membedakannya dengan sembarang bajak laut adalah tidak pernah melakukan pemerkosaan kepada korban; memang menjarah tapi hanya membunuh mereka yang berbahaya, yaitu yang mengangkat senjata untuk membunuh; dan tujuan sebenarnya jelas ditunjukkan, yakni merongrong kewibawaan Srivijaya.

Kemudian diketahui, bahwa Naga Laut menjarah kapal- kapal Srivijaya tidak untuk kepentingan dirinya sendiri. Seusai menjarah, kapalnya akan berlayar di antara pulau-pulau terpencil, di balik teluk dan tanjung tersembunyi, atau memasuki muara dan menyusuri sungai-sungai besar memasuki pedalaman; selain untuk bersembunyi, menambah perbekalan, dan memperbarui peralatan, ternyata juga untuk membagi-bagi harta jarahan tersebut. Tidak heran jika namanya diteriakkan dengan nada riang.

Juga harus disebutkan, untuk menghidupi dirinya sendiri Naga Laut tidak pernah menikmati atau memanfaatkan harta rampasan manapun dari kapal-kapal yang dibajak dan dijarahnya. Untuk menghidupi diri mereka sendiri, Naga Laut dan awak kapalnya berdagang rempah-rempah, seperti yang dilakukan oleh setiap pelaut yang kapalnya merupakan kapal lintas samudera pada masa itu.

Baru kuperhatikan sekarang bahwa pada umbul-umbul itu memang terdapat garis merah terputus-putus yang membentuk gambar seekor naga. Seolah-olah ia ingin menunjukkan kepada armada kedatuan Srivijaya, di lautan lepas, siapakah sebenarnya yang berhak atas pengakuan dan wibawa naga. Betapapun, nama Naga Laut adalah nama yang semula memang diberikan sebagai pengakuan, tetapi yang kemudian memang digunakannya dengan kesadaran.

Tidak ada yang tahu siapa nama Naga Laut itu sebenarnya. Bahkan banyak yang curiga bahwa nama Naga Laut memang hanyalah nama, yang setiap saat bisa dipakai setiap orang yang menjadi nakhoda kapal tersebut. Tentu aku juga mempertimbangkan kemungkinan ini, mengingat bahwa serangan ke Jambi-Malayu itu berlangsung 682 dan 684, artinya sudah lebih dari seratus tahun yang lalu. Nama Naga Laut adalah nama yang harus selalu ada untuk mengganggu keberadaan nama Srivijaya.

Aku teringat diriku yang tidak bernama. Begitu banyak persoalan demi sebuah nama, yang bahkan aku sendiri sebetulnya merasa takpunya! Mengapakah segala sesuatu di dunia ini harus diberi nama?

Begitulah anak-anak kecil, perempuan-perempuan muda yang berlarian sambil menggendong anak kecil, dan juga sejumlah lelaki remaja, maupun orang-orang tua menyambut kami dengan riang pada pagi yang cerah itu.

"Naga Laut! Naga Laut!"

Bagaimana mereka tidak akan mengelu-elukannya, jika bahkan dari sebuah karung di bawahnya Naga Laut sendiri melempar-lemparkan inmas? Waktu kapal akhirnya merapat, Naga Laut turun disambut pelukan seorang perempuan yang bagiku sungguh begitu cantik dan menawan. Ia masih berusia

25 tahun, dadanya terbuka, rambutnya panjang sampai ke bahu, kain melingkar dari pinggang ke bawah, telapak kakinya putih dan halus seperti tidak pernah menyentuh tanah, meski bagiku bagaikan tanah dan pasir sungkan mengotori kakinya sehingga kakinya itu tampaknya bersih saja dengan kuku-kuku bening kemerahan lembut menyapu pasir yang tergesa minggir. Dari jauh ia sudah merentangkan tangannya dengan wajah ceria.

"Naga!" teriaknya, yang terasa kaku bagiku.

Ia berlari menubruk Naga Laut yang memutar- mutarkannya.

"Hahahaha! Putri Champa! Apa kabar Si Langsa?" Kemudian terlihat anak kecil yang juga berambut kuncung,

mungkin berusia tiga tahun, berlari mendekat tetapi ke arah ibunya.

"Itu salah satu rampasan dari kapal-kapal Mataram yang pulang sehabis menyerang Champa. Kami bermaksud membebaskan dan mengantar pulang ke Champa, tetapi jadi lengket dengan nakhoda, dan setelah besar menjadi istrinya."

"SAMUDERA terbentang milik setiap pelaut," ujarnya, mengenai gagasan tentang betapa lautan lepas merupakan wilayah yang bebas.

Nama Naga Laut lantas berkibar di lautan, justru sebagai momok bagi kapal-kapal Sriv ijaya. Ia menyerang, menjarah, menenggelamkan, dan membakar kapal-kapal Sriv ijaya. Sengketa ini tidak selalu dipaham i orang-orang luar, dan kapal Naga Laut yang tidak bisa dibedakan dari kapal-kapal Sriv ijaya sering disamakan begitu saja. Hanya kadang-kadang Naga Laut menaikkan umbul-umbulnya, yang berwarna kuning dan bergambar Naga, karena ia ingin menunjukkan betapa Srivijaya yang jaya bahkan takbisa mengatasi masalah yang ditimbulkan olehnya. Salah satu ciri Naga Laut yang membedakannya dengan sembarang bajak laut adalah tidak pernah melakukan pemerkosaan kepada korban; memang menjarah tapi hanya membunuh mereka yang berbahaya, yaitu yang mengangkat senjata untuk membunuh; dan tujuan sebenarnya jelas ditunjukkan, yakni merongrong kewibawaan Srivijaya.

Kemudian diketahui, bahwa Naga Laut menjarah kapal- kapal Srivijaya tidak untuk kepentingan dirinya sendiri. Seusai menjarah, kapalnya akan berlayar di antara pulau-pulau terpencil, di balik teluk dan tanjung tersembunyi, atau memasuki muara dan menyusuri sungai-sungai besar memasuki pedalaman; selain untuk bersembunyi, menambah perbekalan, dan memperbarui peralatan, ternyata juga untuk membagi-bagi harta jarahan tersebut. Tidak heran jika namanya diteriakkan dengan nada riang.

Juga harus disebutkan, untuk menghidupi dirinya sendiri Naga Laut tidak pernah menikmati atau memanfaatkan harta rampasan manapun dari kapal-kapal yang dibajak dan dijarahnya. Untuk menghidupi diri mereka sendiri, Naga Laut dan awak kapalnya berdagang rempah-rempah, seperti yang dilakukan oleh setiap pelaut yang kapalnya merupakan kapal lintas samudera pada masa itu.

Baru kuperhatikan sekarang bahwa pada umbul-umbul itu memang terdapat garis merah terputus-putus yang membentuk gambar seekor naga. Seolah-olah ia ingin menunjukkan kepada armada kedatuan Srivijaya, di lautan lepas, siapakah sebenarnya yang berhak atas pengakuan dan wibawa naga. Betapapun, nama Naga Laut adalah nama yang semula memang diberikan sebagai pengakuan, tetapi yang kemudian memang digunakannya dengan kesadaran.

Tidak ada yang tahu siapa nama Naga Laut itu sebenarnya. Bahkan banyak yang curiga bahwa nama Naga Laut memang hanyalah nama, yang setiap saat bisa dipakai setiap orang yang menjadi nakhoda kapal tersebut. Tentu aku juga mempertimbangkan kemungkinan ini, mengingat bahwa serangan ke Jambi-Malayu itu berlangsung 682 dan 684, artinya sudah lebih dari seratus tahun yang lalu. Nama Naga Laut adalah nama yang harus selalu ada untuk mengganggu keberadaan nama Srivijaya.

Aku teringat diriku yang tidak bernama. Begitu banyak persoalan demi sebuah nama, yang bahkan aku sendiri sebetulnya merasa takpunya! Mengapakah segala sesuatu di dunia ini harus diberi nama?

Begitulah anak-anak kecil, perempuan-perempuan muda yang berlarian sambil menggendong anak kecil, dan juga sejumlah lelaki remaja, maupun orang-orang tua menyambut kami dengan riang pada pagi yang cerah itu.

"Naga Laut! Naga Laut!"

Bagaimana mereka tidak akan mengelu-elukannya, jika bahkan dari sebuah karung di bawahnya Naga Laut sendiri melempar-lemparkan inmas? Waktu kapal akhirnya merapat, Naga Laut turun disambut pelukan seorang perempuan yang bagiku sungguh begitu cantik dan menawan. Ia masih berusia

25 tahun, dadanya terbuka, rambutnya panjang sampai ke bahu, kain melingkar dari pinggang ke bawah, telapak kakinya putih dan halus seperti tidak pernah menyentuh tanah, meski bagiku bagaikan tanah dan pasir sungkan mengotori kakinya sehingga kakinya itu tampaknya bersih saja dengan kuku-kuku bening kemerahan lembut menyapu pasir yang tergesa minggir. Dari jauh ia sudah merentangkan tangannya dengan wajah ceria.

"Naga!" teriaknya, yang terasa kaku bagiku.

Ia berlari menubruk Naga Laut yang memutar- mutarkannya.

"Hahahaha! Putri Champa! Apa kabar Si Langsa?" Kemudian terlihat anak kecil yang juga berambut kuncung, mungkin berusia tiga tahun, berlari mendekat tetapi ke arah ibunya.

"Itu salah satu rampasan dari kapal-kapal Mataram yang pulang sehabis menyerang Champa. Kami bermaksud membebaskan dan mengantar pulang ke Champa, tetapi jadi lengket dengan nakhoda, dan setelah besar menjadi istrinya."

TENTU aku tidak bertanya berapa istri Naga Laut di seantero Suvarnadvipa. Namun yang menyambut kami di pelabuhan itu bukan hanya perempuan Champa isteri Naga Laut, melainkan banyak pula perempuan muda sambil menggendong anaknya. Apakah mereka isteri dan anak para awak kapal? Bagaimanakah caranya berkeluarga seperti itu, pikirku, bagaimana caranya jika belum tentu satu tahun sekali mereka datang menginjak Kota Kapur lagi?

Masih memeluk isterinya sampai lengket, sembari mengangkat anaknya yang bernama Langsa, Naga Laut bercakap-cakap dengan orang tua yang tampak seperti pedanda Siva itu, tetapi yang ternyata pendeta Buddha, yang di Kota Kapur itu dikenal sebagai pembawa ajaran Nagarjuna.

Aku tertegun. Aku pernah mempelajari Nagasena. Siapakah Nagarjuna?

"Ah, kamu terlambat! Begitulah kalian orang Mataram, karena mendekam di pedalaman, selalu ketinggalan dengan perkembangan. Kami telah berlayar dari Ma lagasi sampai Fu- nan, betapa kami temukan bagaimana pengetahuan menjadi bunga-bunga kebudayaan."

Kitab terkenal karya Nagarjuna adalah Mulamadhyamakakarika yang juga disebut sebagai Filsafat Jalan Tengah. Konon, ajarannya sangat membingungkan. Seperti m isalnya ia berkata: Jika kebebasan bukanlah keberadaan

Apakah berarti kebebasan menjadi bukan-keberadaan? Bila di sana tak ada keberadaan

Di sana pula bukan-keberadaan bukan kejelasan

Baiklah, kata-kata semacam itu dianggap membingungkan, setidaknya menurut awak kapal yang mengajakku turun dari kapal dan berjalan-jalan. Namun jika memang ajarannya membingungkan, mengapa dia begitu terkenal, dan ajarannya tersebar ke berbagai pelosok bumi, bahkan sampai ke Kota Kapur ini? Awak kapal yang mengajakku bernama Daski, satu- satunya awak kapal yang tidak mempunyai kekasih di pulau ini, ia mengajakku masuk ke sebuah kedai.

"Nanti saja kuajari dikau mengenai filsafat Nagarjuna," katanya, "sekarang jalan-jalan dahulu."

Ia berkata dengan tekanan tertentu, yang artinya adalah mengajakku menjalankan peran mata-mata. Aku ingat pesan Naga Laut. Pasang mata, pasang telinga, dan jangan banyak bicara. Nakhoda itu ingin membongkar, siapa kiranya telah melakukan pembantaian keji di tengah laut seperti yang telah kami jumpai.

Di dalam kedai, tidak seorang pun menatap kami, karena perhatian sedang tertuju kepada seseorang yang bercerita dengan berbisik-bisik.

"Mereka berangkat diam-diam tanpa diketahui orang, sebenarnya dengan tujuan ke Javadvipa, mencari penghidupan baru di Mataram. Sebelumnya mereka telah mengutus beberapa pesilat, untuk mencari tahu keadaan sehari-hari dan penerimaan orang banyak terhadap orang- orang Srivijaya."

Aku teringat para pesilat yang terlibat pertikaian itu. Ternyata memang menjadi semacam mata-mata, tetapi bukan mata-mata bagi Sriv ijaya, melainkan orang-orang yang rencananya tidak ingin diketahui oleh pihak Sriv ijaya itu. Siapakah mereka?

Orang yang bercerita di kedai itu berkata, ketika negeri Jambi-Malayu kalah dan dijarah rayah oleh orang-orang Srivijaya, mereka tidak membantai para bangsawan mereka yang sangat dihormati rakyat, melainkan membawanya masuk ke pertalian darah antarbangsawan me lalui berbagai perkawinan. Namun para bangsawan itu tahu belaka bentuk penguasaan semacam ini. Sehingga mereka, untuk sebagian, dalam seratus tahun masih dapat dijamin kemurnian darahnya. Mereka yang darahnya murni ini, saling menyadarkan bahwa mereka bukan bagian yang sah dan tidak semestinyalah mendukung kedatuan. Mereka tentu tidak memperlihatkannya, tetapi menyimpannya sebagai tujuan hidup yang terpendam, yakni bahwa suatu saat mereka akan menyeberang ke Javadvipa, mendapatkan suatu dukungan, dan bermimpi mendirikan kembali Jambi-Malayu di Muara Jambi.

Setelah seratus tahun, sungguh ini hanya impian, tetapi bahkan suatu impian sangatlah penting untuk menunjukkan tujuan dalam kehidupan. Di antara mereka Asoka, seorang perempuan remaja, menjadi keturunan langsung yang paling berhak atas tahta yang diimpikan. Para perintis yang dikirim ke Javadvipa, sebenarnya takhanya bertugas melihat kemungkinan untuk memperbaharui kehidupan, tetapi juga mencari hubungan yang barangkali saja memungkinkan usaha pemberontakan.

Namun tiada istana tanpa jaringan rahasia. Demikian pula halnya dengan kedatuan Sriv ijaya, yang dalam masa surutnya kini, menjadi lebih waspada dan curiga dalam segala keadaan.

"Kemudian diketahui betapa mereka telah bersiap pergi dengan harta karun yang dapat membeayai sebuah pemberontakan. Mereka telah mendengar adanya berbagai bentuk jaringan rahasia di Mataram, yang dapat bekerja bagi kepentingan siapapun yang membayarnya. Menyewa pembunuh bayaran adalah cara terbaik dan menghemat banyak beaya daripada mengobarkan perang. Namun dalam usaha mencari hubungan, mereka telah dikecoh oleh jaringan rahasia yang melindungi kepentingan kedatuan Sriv ijaya sendiri."

"Ah!" Para pendengarnya begitu terbawa perasaan. "Bukankah dapat ditebak apa yang terjadi selanjutnya? Apa

yang semula dugaan menjadi kenyataan ketika kapal mereka berangkat dan orang-orangnya menghilang. Dalam seratus tahun, pada dasarnya mereka terus menerus diawas i dan mereka mengetahuinya dan bersikap begitu rupa seolah hanya meneruskan kehidupan tanpa rencana apapun jua."

"Diawasi terus menerus selama seratus tahun?"

"Terus-menerus dan turun-temurun, bapaknya diawas i bapaknya, anaknya diawas i anaknya, cucunya diawasi cucunya."

"Gila!"

"Oh, lebih gila lagi memasang sikap ketika diawas i. Usaha mereka menjaga kemurnian darah sulit ditutupi. Namun sikap yang ditunjukkan selama diawas i sangat mungkin mengecoh. Itulah yang telah berlangsung se lama, juga untuk menutupi segala sesuatu yang mereka rahasiakan, yang ternyata tetap saja terendus ketika kapalnya berangkat."

"Mungkin sebaiknya mereka takpergi bersama-sama, tetapi sedikit demi sedikit menumpang kapal dagang. Bukankah banyak orang pergi dengan cara ini ke Javadvipa dan tidak dicurigai?"

"Yah, tetapi jangan lupa, mereka adalah orang yang diawas i, dan setiap gerak-gerik mencurigakan dari satu orang, cukup untuk memberangus semuanya." Kuperhatikan ke sekeliling. Mereka semua adalah juga para pelaut, yang masing-masing mendekap seorang pelacur. Rombongan yang terbantai itu memang tidak berangkat dari Kota Kapur, melainkan dari pusat kedatuan sekarang di seberangnya, di daratan Samudradvipa. Bahwa cerita yang agak lengkap sudah sampai di sini hari ini juga, hanya semalam setelah kami temukan kapal dan para penumpangnya yang naas itu, betapapun menghubungkannya dengan sesuatu dari para pembantai tersebut.

Aku masih terus menatap yang hadir di situ satu persatu, sampai terhenyak karena sangat terkejut. Seseorang sedang menatap tajam kepadaku!

(Oo-dwkz-oO)