-->

Nagabumi Eps 82: Pembantaian di Tengah Lautan

Eps 82: Pembantaian di Tengah Lautan

KAPAL itu masih jauh, lenteranya berkelip-kelip, tampak bergoyang ditiup angin. Semua orang tampak waspada dengan tangan pada gagang pisaunya. Kemudian aku akan mengetahui bahwa para bajak laut suka memasang perangkap seperti itu. Seolah-olah kapal kosong, hanya menampakkan satu atau dua penumpang yang terkapar lemah. Nanti ketika orang-orang me lompat masuk, mendadak mereka keluar dari persembunyian, dengan serbuan yang mengejutkan.

Maka ketika kapal te lah mendekat. Tidak seorang pun yang beranjak, bahkan ketika tampak gejala tak terkendali dan akan menabrak kapal, segera digunakan dayung sambil berdiri di atas cadik untuk menahannya agar tetap berjarak. Layar kapal itu tergulung. Jadi ia dihanyutkan gelombang. Terapung- apung di lautan entah sudah berapa lama. Lenteranya masih bergoyang-goyang. Kenapa ia bisa terus menyala? Kami memutari kapal itu dahulu untuk menjaga kemungkinan. Baru setelah tidak terjadi sesuatu, maka kapal kami merapatkan diri.

"Nakhoda! Lihat!"

Lantas terlihatlah pemandangan yang mengerikan itu. Dari tempatku berdiri di atas dinding kapal sambil berpegangan pada tali temali layar, kusaksikan betapa seisi kapal sudah terbantai secara mengenaskan. Geladak menghitam karena darah. Dengan segera tampak bahwa yang terbantai adalah sebuah keluarga, setidaknya dua atau tiga keluarga, dan kemungkinan besar keluarga bangsawan. Semua itu dapat dilihat dari busana yang mereka kenakan. Keluarga bangsawan macam apakah yang dapat berada dalam sebuah kapal dan terapung-apung begitu rupa?

Di geladak kapal itu berkaparan mayat-mayat yang terbantai. Lelaki, perempuan, tua, muda, juga kanak-kanak. Terlentang, tertelungkup, saling berpelukan, bahkan ada yang digantung di tiang layar dengan kepala di bawah. Luka-luka bacokan menghiasi tubuh-tubuh mereka. Darahnya masih mengalir. Peristiwa ini belum lama terjadi. Kami tercekat. Diam tak bersuara. Namun sebuah tangan tiba-tiba bergerak.

"Nakhoda! Ada yang masih hidup!"

Nakhoda itu memberi tanda dan beberapa orang, termasuk aku, berlompatan ke kapal itu. Perempuan yang menggerakkan tangannya itu berusia sekitar 40 tahun. Di sebelahnya tampak mayat seorang lelaki berkulit hitam yang mengenakan sorban. Kuduga perempuan ini telah melakukan perlawanan, bahkan berhasil membunuh penyerangnya, karena keris yang menancap di dada lelaki itu sarungnya masih dipegang perempuan tersebut.

Perempuan itu sangat cantik, tetapi ia terluka parah dan napasnya tinggal satu-satu. Aku memegang tangannya dan menyalurkan tenaga prana, tetapi matanya pun sudah nyaris tertutup.

"Mereka menjarah dan memperkosa, mereka membawa Asoka...," ujarnya lemah, "tolonglah dia..., hhh..."

Perempuan itu mengembuskan napas penghabisan. Kulihat ke sekeliling dan tampaknya keluarga bangsawan ini telah melakukan perlawanan mati-matian. Tak hanya satu pihak penyerang berhasil ditewaskan, melainkan sampai tiga orang. Keluarga bangsawan yang terbantai itu berjum lah sekitar 20 orang, segala harta benda telah dijarah dengan serabutan, karena terlihat gelang emas dan kalung mutiara yang sudah lepas dari talinya berceceran di antara genangan darah.

"Peristiwa ini baru saja terjadi, mayat-mayat ini masih hangat."

"Nakhoda! Mereka lari karena melihat kita!"

Ketiga penyerang yang tersisa bertubuh tinggi besar dan berkulit hitam. Satu orang bersorban, satu orang dikuncir ekor kuda, dan satu orang lagi kepalanya gundul. Ketiganya mengenakan anting-anting pada hidung mereka dan ketiganya mengenakan busana yang disebut celana dari bahan sutera. Celana itu sangat longgar dan karena itu tentu tidak kepanasan meski berbahan sutera. Saat itu aku belum banyak bertemu dengan orang-orang as ing, tetapi kukenali mereka sebagai orang-orang Kling yang berasal dari suatu wilayah di Jambhudvipa, tetapi telah lama menetap dan beranak pinak di Samudradvipa, kemungkinan besar di wilayah kekuasaan Srivijaya. T idak mengherankan jika Pangkar maupun nakhoda itu mengenalnya. Apakah yang telah terjadi?

Nakhoda turun dan mendekati perempuan yang baru saja meninggal itu. Ia mengusap rambut perempuan itu, yang panjang, terurai, dan berantakan karena pertarungan antara hidup dan mati. Lantas kudengar ia berbisik pelan.

"Kami akan menyelamatkan Asoka, Kakak, percayalah kepada kami..."

Aku merasa lega mendengar kalimat itu. Nakhoda tahu apa yang harus dilakukannya. Mereka yang mati sudah terbebaskan, karena mati terhormat melalui perlawanan dalam kegagahan; tetapi bagi yang masih hidup dan ditawan, diculik ke tempat yang jauh untuk mengalami pemerkosaan, kubayangkan sangat mengerikan.

"Kembali ke kapal," kata nakhoda itu, "sempurnakan semua jenazah, berikut kapalnya!"

Sekejap kemudian, lautan yang begitu gelap lantas menyala karena api yang berkobar membakar kapal. Tidak ada barang yang tertinggal, karena hampir semuanya sudah dijarah. Dari perbekalan, nakhoda hanya memerintahkan untuk mengambil air tawar, karena rupanya berencana membelokkan perjalanan. Bahwa anak-anak kecil ikut terbunuh membuat darahku naik ke kepala. Ingin rasanya membantai para pembunuh itu dengan seketika.

"Arahkan layar ke Kota Kapur!" Nakhoda itu berteriak lantang. Maka arah perjalanan pun berubah haluan. Kami sudah kembali lengkap berada di atas kapal. Tidak seorang pun bisa tidur kembali. Kami semua berdiri di geladak menatap kapal yang kami bakar itu menyala, bagaikan obor raksasa di tengah lautan. Kubayangkan semua jenazah yang kami tinggalkan lebur menjadi abu, asap pembakarannya membubung ke angkasa membawa roh yang harus disucikan sebelum dikirim kembali.

Api pembakaran kapal itu tidak menyala sendirian saja, cahayanya membuat permukaan laut menyala sampai ke kapal kami. Namun nyala api itu semakin lama semakin jauh kami tinggalkan, dan kemudian memang menjadi semakin redup karena kapal itu kemudian tenggelam. Kubayangkan kapal itu dengan segenap kerangka yang masih tersisa dari jenazah yang terbakar segera tenggelam ke dasar laut. Mungkinkah seseorang, kelak pada masa yang akan datang, menyelam ke dasar laut dan bertanya-tanya apakah yang telah terjadi pada masa lalu?

Dunia kembali gelap. Kapal melaju. Awak kapal kembali tidur. Namun tidak dapat kupastikan apakah mereka semua benar-benar tertidur. Aku juga mencoba tidur dan ternyata aku bermimpi.

Dalam mimpiku, mayat-mayat terbantai yang kulihat tadi seperti kemasukan jiwanya kembali, menatapku dengan pandangan seolah-olah ingin menyampaikan nasib yang telah mereka alami. Seseorang yang tua berdiri dan mengangkat kedua tangannya dengan tubuh penuh luka. Ia terlihat berkata-kata, tetapi aku tidak mendengar apa-apa. Lantas semuanya juga hidup kembali dan menatapku. Tidak semuanya mengangkat tangan, bahkan juga tidak semuanya berdiri, tetap duduk di tempat mereka terkapar atau tertelungkup dengan luka-luka bacokan. Namun semuanya menatapku dengan mata bertanya-tanya. Anak-anak kecil juga! Wajah mereka begitu murni, dan mungkin karena itu mereka tertawa-tawa, yang hanya membuat perasaanku terluka karena mengetahui nasib mereka sebenarnya. Wajah- wajah mereka silih berganti menyapu pandanganku. Makin lama makin dekat sampai tak mungkin kutatap lagi.

Sampai kemudian terlihat wajah perempuan yang ketika kami temukan ternyata masih hidup itu. Terlihat mulutnya seperti telah kusaksikan dan kudengar sendiri. Seperti dapat kubaca gerak bibirnya mengucap, "Tolonglah, Asoka, Asoka, Asoka. "

(Oo-dwkz-oO)

AKU terbangun karena kesibukan di atas kapal. Langit sudah menjadi terang. Perhatian diarahkan kepada lajunya kapal menuju Kota Kapur di Pulau Wangka. Kami telah memasuki selat, kapal perlahan mendekati pantai barat Pulau Wangka, melewati gugusan Pulau Hantu, Pulau Medang, dan Pulau Kecil. Gugusan pulau itu seperti melindungi Kota Kapur yang menjadi tujuan kami. Semakin dekat ke pantai, semakin jelas sosok sebuah bukit yang menonjol di balik hutan bakau sepanjang pantai.

"ITU yang disebut Bukit Besar," ujar Pangkar, yang semenjak tak bisa mengalahkan aku dalam adu panco itu, menjadi sangat baik kepadaku. Tahukah dia aku berhasil untuk tidak mempermalukannya?

Pangkar menjelaskan kepadaku, ketampakan Bukit Besar dari laut adalah penunjuk arah tempat prasasti yang terletak di dataran kaki bukit itu. Itulah pedoman untuk memasuki mulut sebuah sungai, menuju bekas kedatuan Sriv ijaya seratus sepuluh tahun lalu di pantai barat Pulau Wangka. Memasuki mulut Sungai Mendo, kami mendayung di atas cadik, menyusuri kesunyian yang terhampar sepanjang sungai. Sampai sekitar sepenanak nasi lamanya, tampaklah kemudian pelabuhan yang pernah menjadi pusat pemberangkatan kapal- kapal ke seantero dunia itu. Meskipun istana kedatuan telah ditinggalkan penghuninya, Kota Kapur masih merupakan pemukiman yang ramai. Aku mendesakkan diriku ke deretan paling depan di antara awak kapal yang berdiri sepanjang dinding kapal.

Hari masih pagi. Mereka sedang melakukan kegiatannya sehari-hari. Sejum lah orang mengawasi kami. Aku mengawasi mereka, dan menyumpah dalam hati karena merasa tertipu. Inilah bahayanya mengandalkan cerita dari kedai ke kedai. Penduduk Kota Kapur sama sekali tidak berlumur kapur! Terlalu! Barangkali salinan prasasti orang yang bercerita di kedai waktu itu memang tepat, tetapi segala ceritanya tentang Manusia Kapur adalah omong kosong! Betapapun harus kuakui betapa ceritanya itu sangat meyakinkan seperti kenyataan. Alangkah berbahayanya kemampuan bercerita seperti itu!

"Hati-hati selama kita berlabuh di sini," kata nakhoda, "berbuatlah seperti biasa, bukan seperti mencari para pembunuh. Pertimbangkan pula bahwa sangat mungkin para pembunuh itu mengetahui maksud kedatangan kita. Maka hati-hatilah berbicara, tetapi pasang mata dan telinga."

"Apa alasan kedatangan kita, Nakhoda, tempat ini bukan tujuan kita."

"Katakan saja memerlukan tambahan perbekalan, karena kita mengubah tujuan dan akan langsung membawa tumpukan kayu manis dan rempah-rempah ini menuju Singhpur."

Di pelabuhan, kuperhatikan semua kapal yang berlabuh sejenis dengan kapal kami, yakni bercadik dan berlayar tanjak, hanya besar dan kecilnya saja yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan tiga tiang seperti kapal kami, ada juga yang kecil untuk didayung. Adapun perahu setempat dibuat dengan cara tersendiri. Lubang-lubang yang terdapat di bagian permukaan dan sisi papan serta lubang-lubang pada tonjolan segi empat yang menembus lubang di sisi papan merupakan cara rancang bangun perahu dengan cara papan ikat dan kupingan pengikat. Tonjolan segi empat atau tambuku digunakan untuk mengikat papan-papan dan mengikat papan dengan gading-gading dengan menggunakan tali ijuk. Tali ijuk dimasukkan dengan lubang di tambuku. Pada lubang di bagian tepi papan perahu, dipergunakan pasak kayu untuk memperkuat bagian ikatan tali ijuk.

Di sepanjang pelabuhan juga kulihat anak-anak kecil berlari-lari mengikuti kapal dari kejauhan. Apakah yang masih mengherankan dari sebuah kapal di pelabuhan yang ramai seperti ini?

Kulihat Pangkar mengerek umbul-umbul yang berkibar pada tiang layar terdepan. Ia tersenyum memandangku terheran-heran.

"Dikau akan tahu siapa Nakhoda," katanya bangga.

(Oo-dwkz-oO)