Nagabumi Eps 80: Tulisan dan Kejujuran

Eps 80: Tulisan dan Kejujuran

''KAKEK, benarkah Kakek seorang pendekar?''

Ah, ya, aku belum menjawab pertanyaan ini! Aku berada pada tahun 871 dan umurku sudah 100 tahun. Di hadapanku terlihat sepasang mata yang berbinar, mata Nawa, bocah pintar yang sangat bersemangat belajar membaca dan menulis.

Bagaimanakah aku harus menjawabnya? Masalahnya, mengapa Nawa dapat mengajukan pertanyaan seperti itu? Pertanyaan itu mengandaikan betapa seseorang telah mengatakan kepadanya bahwa aku adalah seorang pendekar. Walaupun Pendekar Tanpa Nama adalah nama yang ibarat kata pernah didengar setiap telinga, aku tidak berharap dapat dikenali dengan mudahnya dalam keadaan sedang menyamar seperti sekarang.

AKU bahkan sempat membayangkan peristiwa yang dialam i Nawa.

Seseorang barangkali telah memanggilnya sembari berbisik tertahan.

"Ssssttt! Nawa, ke sini dulu!"

Nawa menoleh. Barangkali itu seseorang yang tidak pernah dilihatnya, dan tentu saja anak secerdas Nawa dengan segera menjadi, meski sama sekali tidak memperlihatkannya.

"Ada apa, Paman?"

"Tahukah dikau Nawa, siapa orang yang selalu menulis itu?"

"Oh, itu Kakek, kakek kami, ada apa Paman?"

"Kakek, apakah maksud dikau kakek itu adalah ayah dari ayahmu?"

"Bukan Paman, tapi kami, anak-anak di sini, menganggapnya sebagai kakek kami sendiri."

"Siapakah kiranya nama kakek kalian itu? Daku seperti pernah mengenalnya."

Apakah kiranya yang akan dikatakan Nawa? Sejak tadi aku hanya menebak-nebaknya. Namun kukira Nawa akan balas bertanya.

"Siapakah Paman? Sahaya belum pernah melihat Paman.

Mengapa Paman tidak bertanya sendiri saja?" Orang itu barangkali terkejut dengan ucapan semacam itu. "Nawa, kamu anak pintar! Kulihat kamu rajin belajar

membaca dan menulis! Hebat kamu Nawa!"

Tentu Nawa tak mau mengerti pengalih perhatian seperti

ini.

"Datangi saja lah Paman, sahaya antarkan, nanti Kakek

akan senang jika mengenal Paman."

Cerdas bukan? Nawa juga ingin mengenali siapakah aku! Itulah bedanya anak yang belajar membaca maupun yang tidak.

"Ah, sudahlah Nawa. Kulihat kakek dikau sangat sibuk. Katakan saja kepadanya, seseorang telah mengenalinya sebagai pendekar besar tanpa nama..."

"Pendekar? Kakek kami hanyalah seorang pembuat lontar!" Barangkali orang itu tersenyum sembari mengusap rambut

Nawa. Barangkali pula tiba-tiba sudah berkelebat menghilang..."

Barangkali. Bukankah aku hanya sibuk menduga? "Benarkah, Kakek? Benarkah Kakek seorang pendekar?

Seorang perempuan tadi bertanya-tanya, apakah di kampung ini seseorang pernah melihat Pendekar Tanpa Nama."

Seorang perempuan? Dugaanku buyar seluruhnya.

"Tentu Nawa, seorang perempuan telah bertanya-tanya tentang Pendekar Tanpa Nama, tetapi mengapa kamu bertanya kepadaku apakah aku seorang pendekar?"

Nawa memandang kepadaku dengan penuh selidik. Ia masih berumur enam tahun. Meskipun ia memang cerdas dan ia berbeda dengan anak-anak kecil lain di kampung ini yang selalu ingusan, tetapi ia tetap saja masih berumur enam tahun, dan karena itu masih rawan terhadap segala macam tipu daya.

Masalahnya, dalam hal ini, aku sendirilah yang sedang berada di jalan simpang: Apakah aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada Nawa? Ataukah justru sebaliknya? Betapapun aku sedang berada dalam penyamaran dan aku membutuhkan penyamaran ini agar aku dapat segera menyelesaikan tulisan. Penyamaran dan ketenangan, itulah yang kubutuhkan. Dalam usia 100 tahun, tidak terlalu keliru jika aku mempertimbangkan bahwa set iap saat jantungku tiba-tiba bisa berhenti. Tulisanku harus selesai sebelum aku mati, tetapi aku baru mulai menulis, sedangkan yang akan kutuliskan jelas masih panjang sekali. Itulah sebabnya aku membutuhkan ruang dan waktu yang terbentang tanpa gangguan di depanku. Terseret kembali dalam dunia persilatan hanya akan membuat aku terlibat pertarungan takberkesudahan. Di atas langit ada langit. Namun tak seorang pendekar pun telah mengatasi langit ilmu silatku, padahal semua ingin menguji keandalan, mencapai kesempurnaan dalam persilatan, dengan cara menempurku, satu-satunya pendekar yang belum terkalahkan di Yawabhumipala. Tidaklah banyak berarti bahwa aku telah menyamar selama 25 tahun dan masih ditambah mengundurkan diri dari dunia persilatan se lama 25 tahun lagi. Mereka yang telah mengalahkan pendekar manapun yang ditemuinya merasa pencapaiannya belum sahih jika belum mengalahkan aku. Dengan segala cara mereka masih terus mencariku. Tentu, pendekar manakah yang tidak ingin mati dalam puncak kesempurnaannya. Namun aku juga ingin mati dalam puncak kesempurnaanku, bukan sebagai pendekar, melainkan sebagai manusia yang harus menyelesaikan tulisan tentang riwayat hidupnya. Bukan, bukan karena aku ingin dikenang sebagai pujangga besar, sama sekali bukan, tetapi karena hanya dengan cara ini aku akan mengerti kenapa sampai hari ini banyak orang masih ingin membunuhku. AKU masih bisa mengerti jika dalam sungai telaga dunia persilatan para pendekar memang masih mencariku demi sebuah pertarungan untuk menguji dan mencapai kesempurnaan, tetapi aku tidak mau mengerti bahwa sudah selayaknyalah kerajaan membuat pengumuman betapa aku harus diburu dan dibunuh dengan hadiah 10.000 keping inmas. Sungguh gila! Aku harus membongkar persekutuan jahat ini. Namun mengingat ruwetnya jaringan rahasia yang berkait kelindan, jika dalam seluruh masa hidupku aku takmampu membongkar rahasia, dan menemukan komplotannya, maka setidaknya aku harus membersihkan namaku. Tiada cara lain bagiku selain menuliskan apa pun yang kuketahui dan kulakukan se lama ini, yang bagi diriku memang merupakan cara menyelidiki, tetapi yang bagi pembacanya merupakan cara terbaik untuk mengetahui siapakah diriku yang sebenarnya.

Justru itulah masalahnya sekarang. Seberapa jauh aku bisa jujur dalam suatu tulisan yang dimaksudkan sebagai pengungkapan? Bahkan kepada Nawa, anak kecil ini pun, aku masih tertegun-tegun. Betapa sulitnya sekadar hidup menjadi jujur! Bahkan, atas nama kebijaksanaan, kejujuran itu ternyata tidak selalu tepat untuk diungkapkan!

"Perempuan itu bertanya siapakah Kakek, lantas kujawab Kakek seorang pembuat lontar, perempuan itu lantas bertanya lagi siapakah nama Kakek, kujawab kami cukup memanggil Kakek sebagai Kakek saja, yang lantas ditanyakannya lagi apakah Kakek pernah mengajari kami bersilat."

Hatiku tercekat.

"Apa jawabanmu Nawa?"

"Aku balas bertanya kepadanya, mengapa dia bertanya seperti itu?"

"Lantas?"

Memang aku sungguh penasaran dengan jawabannya. "Dia bilang Kakek m irip seorang pendekar yang pernah dilihatnya."

"Begitu saja?"

"Ya, begitu saja. Akulah yang menegaskan kepadanya sekali lagi, bahwa Kakek adalah seorang pembuat lontar, yang selama ini memang pekerjaannya hanya membuat lontar dan kadang-kadang menulis."

"Lantas apa katanya?"

"Ternyata perempuan itu makin tertarik, Kakek, dia bertanya apakah kiranya yang dituliskan Kakek."

"Hmm. Begitu? Apakah jawabanmu, Nawa?"

"Bukankah aku memang tidak tahu, Kakek, jadi kujawab tidak tahu."

Aku terdiam, mengamati Nawa. Anak itu menampakkan sikap melindungi, tetapi bagaimanakah caranya ia tahu memang terdapat sesuatu yang harus ditutupi? Apakah yang telah dilihatnya pada perempuan yang bertanya-tanya itu, sehingga ia bersikap melindungi diriku, meski apalah yang mungkin diketahui anak ini tentang diriku? Mungkinkah Nawa membaca bahwa dugaan perempuan itu memang mengandung kebenaran?

"Nawa," kataku kemudian, iapakah perempuan itu membawa pedang?"

Memang banyak senjata yang mungkin dipakai dalam dunia persilatan, tetapi selain pedang adalah senjata yang paling disukai, juga merupakan senjata yang paling banyak dikembangkan keilmuannya. Seorang pemula pasti akan mempelajari ilmu pedang, sementara meskipun seorang pendekar telah menguasai segala senjata, bahkan mampu menundukkan lawan bersenjata apapun dengan tangan kosong, tetap akan merasa perlu menguasai ilmu pedang. Tanpa pedang, ilmu persilatan tidak akan mencapai kegemilangannya seperti sekarang. Jika banyak senjata diciptakan hanya untuk membunuh, maka pedang bagaikan diciptakan untuk diperagakan, tidak aneh jika dalam tingkat kemahiran tertentu permainan ilm u pedang lebih tampak sebagai tarian.

Tentu saja itulah yang disebut tarian pembunuhan. Itulah yang terlalu sering sulit dimengerti dari dunia persilatan, jurus terindah menampakkan dirinya hanya untuk mengakhiri kehidupan. Namun tidakkah itu merupakan pilihan hidup seorang pendekar? Kematian tidak dilihat sebagai akhir kehidupan, melainkan bagian saja dari kehidupan abadi yang meleburkan segala kedirian.

Siapakah perempuan itu? Betapapun ia mengungkapkan sesuatu yang benar.

Barangkali aku memang pernah dilihatnya, dan ia kebetulan lewat serta mengenaliku. Namun aku merasa harus bersiap untuk kemungkinan yang lain, bahwa perempuan yang bertanya-tanya itu memang seseorang yang sengaja

mencariku. Mungkin saja bahwa ia telah melhatku adalah kebetulan, tetapi bisa saja ia memang mencari Pendekar Tanpa Nama yang gambarnya terpampang jelas pada selebaran itu. Namun kukira aku seharusnya mempertimbangkan kemungkinan, bahwa ia memang sengaja melacak dan menemukan jejakku di tempat aku menyamar sebagai pembuat lontar ini.

Apakah dengan begitu sebaiknya aku segera berkelebat pergi?

"Kakek, perempuan itu tidak membawa pedang, hanya membawa tongkat dengan buntalan seperti pengembara. Kenapa perempuan pengembara itu bertanya apakah Kakek seorang pendekar? Dia benar-benar seperti mengenali Kakek, benarkah Kakek bukan seorang pendekar?" AKU tersenyum dan mengangkatnya agar duduk di dekatku.

''Nawa, dengar kata Kakek baik-baik, pendekar itu, jika maksudnya pendekar silat yang bisa terbang set inggi pohon kelapa dan me lompat dengan ringan dari atap ke atap tanpa suara di bawah cahaya rembulan, maka itu hanya ada dalam dongengan. Janganlah terlalu percaya yang tidak masuk akal kalau mendengar orang bercerita. Biarkan mereka bercerita semaunya, tetapi tidak usah terpengaruh olehnya, karena misalnya semua yang dikatakannya itu benar, juga tidak ada gunanya untuk kita.''

''Jadi, siapakah yang pernah dilihat oleh perempuan itu, Kakek? Jika memang bukan Kakek, bukankah belum tentu ia bukan seorang pendekar?''

Ah, cerdas sekali anak ini! Tapi aku sudah memutuskan tidak akan mengangkat seorang murid dalam ilmu s ilat.

''Banyak orang memang hidup dalam kepalanya sendiri, Nawa, dan mereka mempercayai apa saja yang muncul dalam kepalanya itu.''

Nawa memandangku dengan tajam, seperti tahu aku berusaha mengalihkan perhatiannya. Namun, juga seperti mengerti, ia t idak melanjutkan pertanyaannya.

''Kakek, mengapa Kakek senang menjadi seorang penulis?''

Tentu saja ini juga pertanyaan yang sulit. Aku merasa harus menjawabnya dengan gampang. Namun inilah jawabanku.

''Pertanyaanmu itu bisa juga diajukan kepada setiap orang dengan pekerjaan masing-masing, dan tidak semua orang bisa menjawabnya dengan mudah. Mengapa seseorang senang jadi petani, mengapa seseorang yang lain senang jadi tukang besi, mengapa seseorang senang jadi tukang emas, mengapa seseorang senang menjadi tukang kuda, lagi pula aku bukan seorang penulis. Kamu kan tahu aku seorang pembuat lontar...''

Nawa menggeleng-gelengkan kepala.

''Kakek lebih banyak menulis daripada membuat lontar.'' ''Itu karena aku mengisi waktu ketika menunggu daun-

daun itu kering.''

Mata Nawa mengerjap. Tak bisa kutebak apa yang dipikirkannya.

''Kakek, apakah sebenarnya yang Kakek tulis itu? Dari hari ke hari sudah bertumpuk-tumpuk lontar di bilik Kakek.''

Sampai juga akhirnya pertanyaan itu!

''Oh, itu hanya kenang-kenangan Kakek saja, Nawa, kenang-kenangan hidup Kakek...''

''Untuk apakah Kakek menulis kenang-kenangan itu?''

Bukankah ini pertanyaan yang sulit? Karena aku memang tidak sedang menulis riwayat hidupku sebagai kenang- kenangan atas hidupku. Sama sekali tidak. Aku menuliskan riwayat hidupku karena aku merasa telah kehilangan sesuatu....ada sesuatu yang mungkin saja telah kulupakan, sehingga aku tidak mengerti atas alasan apa orang setua aku ini masih juga diburu untuk dibunuh sampai mati. Memang aku telah memikirkan beberapa kemungkinan, seperti juga pernah kuceritakan, tentang kemungkinan diriku, setidaknya namaku, yang sekadar dipinjam dalam permainan kekuasaan Mataram pimpinan Rakai Kayuwangi sekarang ini. Namun aku ingin mencari sebab yang lebih dalam dari sekadar kepentingan sementara semacam. Aku ingin tahu mengapa diriku menjadi begitu pantas dikorbankan seperti itu. Dikenal sebagai apakah aku ini, riwayat hidup macam apakah yang telah membentuk diriku, bagaimanakah pandangan orang banyak akhirnya membentuk sosok diriku tanpa kukehendaki? Aku memang tidak pernah mempunyai nama, tetapi meski tetap tak bernama, setiap orang ibarat kata menggubah riwayat hidupku menurut sudut pandangannya, masing- masing bagaikan memberi nama.

Bagaimana pandanganku tentang diriku sendiri? Apabila aku menulis riwayat hidupku itu berarti aku telah menuliskan segala sesuatu melalui sudut pandangku. Seberapa jauhkah aku dapat berterus terang dengan segalanya? Aku sebetulnya menuliskan semua itu untuk diriku, dengan harapan segala ingatanku terkuras tuntas tanpa sisa. Peristiwa set iap saat, gambaran setiap pandangan, rincian set iap gerak, isi set iap kitab, makna setiap kejadian, arti setiap perlambangan, aku ingin mengungkapkan semuanya, selengkap-lengkapnya, serinci-rincinya, seluas-luasnya, sebanyak-banyaknya, sejelas- jelasnya, sepenuh-penuhnya, seutuh-utuhnya, segalanya, tanpa sisa. Tetapi apakah itu mungkin? Setiap kali selalu terasa ada yang kurang, setiap kali selalu terasa ada yang keliru, tetapi tidak tahu persisnya di mana dan memang tidak pernah kuperiksa atau kuperbaiki lagi. Maklumlah, aku menulis dengan pengutik, menggurat di atas lontar, perbaikan atau penggantian akan menyulitkan susunan. Artinya setiap kata atau kalimat yang diguratkan dari aksara demi aksara haruslah sudah dipikirkan dengan seksama.

NAMUN sebetulnya itu bukanlah alasan yang utama, karena jika suatu perbaikan harus dilakukan, tentu akan dilakukan juga; melainkan karena aku selalu merasa, bahwa waktu yang tersisa tidak akan terlalu cukup untuk menulis seluruh riwayat hidupku. Menuliskan riwayat hidup seratus tahun tentu takberarti membutuhkan waktu seratus tahun, tetapi betapapun seratus tahun yang penuh makna bukanlah waktu yang singkat, yang jelas tidak mungkin diceritakan secara ringkas dengan secepat-cepatnya. Begitulah kenangan dalam kepala dan waktu yang tersedia untuk menuliskannya membentuk apa pun yang telah maupun kelak akan terbaca. Kesadaran bahwa tulisan ini akan dibaca, meski kepentingannya adalah menyelidiki segala perkara yang pernah kualam i, menimbulkan keraguan baru kepadaku bahwa penulisanku akan berlangsung penuh dengan kejujuran. Meskipun kepada diriku sendiri, seberapa jauh aku dapat menampilkan diri dengan segala keburukanku? Apakah jaminannya bahwa aku tidak akan membuat diriku tampak penting, meskipun dengan cara memperlihatkan betapa diriku tidak penting? Mungkinkah aku menulis tanpa siasat, yang kiranya akan menjebak pembaca, untuk cenderung tergiring membentuk sebuah kesan tentang diriku? Hmm. Kejujuran ternyata merupakan perkara yang sulit...

Jadi, apakah jawabanku kepada Nawa?

''Banyak alasan kenapa orang merasa perlu menuliskan kenangannya, Nawa, tetapi apapun alasannya, setiap kenangan yang dituliskan akan selalu bermakna setiap kali dibaca, sedangkan karena dalam setiap pembacaan terdapat penafsiran berbeda, maka kebermaknaannya akan berganda. Artinya, tidak penting benar apa maksud hati seorang penulis itu Nawa, yang penting adalah bagaimana tulisannya dapat bermakna kepada pembaca...''

Nawa memandangku, masih dengan mata berbinar. Aku juga menatapnya, tetapi pikiranku agaknya melayang entah ke mana. Siapakah perempuan yang bertanya-tanya tentang diriku itu? Apakah kata-katanya bisa dipercaya, bahwa ia mengenaliku sekadar karena pernah melihatku? Jika ia menyebut diriku sebagai pendekar, setidaknya ia tentu pernah melihatku bertarungobahkan dengan Jurus Tanpa Bentuk, karena hanya dalam jurus itulah, ketika aku diam bagaikan tiada bergerak, pertarunganku dapat dilihat secara kasat mata.

Siapakah dia yang masih mengenaliku, setelah aku mengundurkan diri dari dunia persilatan dalam 25 tahun terakhir ini? ''Nawa, apakah perempuan pengembara yang bertanya- tanya itu sudah lanjut usia?''

''Tidak Kakek, dia seperti Si Rona.''

Si Rona adalah anak penjual juadah ketan. Usianya masih 16 tahun. Jadi tidak mungkin ia pernah melihatku bertarung. Mungkinkah ia mengenaliku dari lembaran lontar yang menggambarkan diriku, meski sudah kusemir rambutku, dan memang memburuku? Mungkinkah ia seorang pemburu hadiah, yang memang biasa memburu para penjahat demi bayaran?

Aku harus waspada terhadap setiap kemungkinan!

(Oo-dwkz-oO)