Nagabumi Eps 79: Mengalahkan Tanpa Menyakiti

Eps 79: Mengalahkan Tanpa Menyakiti

PANGKAR langsung menekan sekuat tenaga dengan maksud menyelesaikan adu panco ini secepat mungkin. Bagi Pangkar yang bertubuh raksasa itu, tentu sangatlah memalukan, meski jika hanya sempat tertahan saja oleh sosok sepertiku, yang telanjur mengaku sebagai perantau yang mencari pekerjaan di atas kapal. Ia menghentak, mengeluarkan seluruh tenaganya. ''Huuuuuaaaaaahhh!''

Aku harus memperlihatkan suatu kewajaran, yakni bahwa tanganku berhasil ditekannya, sampai nyaris menyentuh permukaan potongan balok yang rata itu. Jika tanganku mengenai permukaan tersebut, aku boleh dianggap kalah; tetapi aku tidak mau kalah, karena aku harus ikut kapal itu. Maka kuambil napas dan kutahan tangan Pangkar di sana. Nyaris menyentuh permukaan, tapi belum mengenainya. Orang-orang berteriak dengan seru.

''Ayo Pangkar! Habisi dia! Habisi dia!'' ''Habisi!''

''Habisi!''

''Habisi!''

''Tekan terus Pangkar! Tekan!''

Namun bagaimana caranya tenaga otot mengalahkan tenaga dalam? Bukan saja Pangkar tak berhasil menekan tanganku lebih jauh, sebaliknya aku bahkan sedikit demi sedikit mampu mengangkat tanganku, mendesak tangan Pangkar kembali ke atas, terus, terus, dan terus, sampai kembali ke keadaan semula, seperti ketika adu panco ini baru dimulai.

Sebetulnya sangat mudah untuk memenangkan adu panco ini secepat kilat, tetapi aku memang harus bersandiwara, agar tampak bahwa kemampuanku bertahan, meski memang sebetulnya takmungkin, dapat mereka terima juga. Maka sembari menahan tekanan Pangkar yang telah mengambil napas dan mengerahkan seluruh tenaganya, karena dia akan malu jika adu panco ini tidak se lesai dengan cepat, aku juga memperlihatkan m imik berjuang sekuat tenaga. Bahkan kuperlihatkan aku menggigit bibir dan mengejan pula. ''Eghhhhhk!''

Orang-orang tertahan napasnya. ''Gila! Bocah ini kuat juga!'' Meski ada yang cukup waspada.

''Darimana datangnya tenaga anak ini?''

Apakah wajahku memang kekanak-kanakan? Aku merasa masih wajar disebut sebagai bocah atau anak ini pada sepuluh tahun lalu, ketika umurku memang masih 15 tahun, tetapi tidak sekarang pada usia 25 tahun.

MUNGKIN karena para pelaut ini memang semuanya orang- orang yang sudah sarat dengan pengalaman. Dari pengalamanku yang singkat, aku tahu perbedaan antara mereka yang pernah merantau dan tidak pernah merantau sangat menentukan. Di negeri Mataram terlalu banyak orang hidup di pedalaman, tidak pernah keluar dari kampungnya, tetapi merasa itu semua sudah merupakan keseluruhan dunia. Tentulah besar perbedaan antara mereka yang belum pernah melihat lautan, dan baru melihatnya sekarang seperti aku, dibanding dengan para pelaut yang telah menyeberangi tujuh samudera seperti para pelaut Sriv ijaya.

Atas pertimbangan itu sajalah kuterima pandangan mereka untuk menganggapku bocah. Lagipula, saat ini aku sedang dituntut keadaan untuk tampak tidak terlalu hebat, yang begitu menyulitkan diriku karena betapapun aku tidak boleh kalah maupun mengalah kepada pelaut bertubuh raksasa itu.

"Heeeeeggghhh!!"

Pangkar mengambil napas dan menekan lagi. Kubiarkan tangannya menekan, tetapi baru separo jalan aku pun bertahan, tak mau turun lagi. Tentu aku juga harus tampak mengerahkan seluruh tenagaku.

"Heeeeeggghhhh!" Para pelaut itu berdesis. Kini mereka tahu sedang mendapatkan tontonan seru. Apalagi ketika pelahan-lahan tanganku mulai mendesak kembali ke tengah, kembali kepada kedudukan semula. Kukira, meski aku dapat dengan mudah melewati garis tengah itu, dan menekan tangan Pangkar sampai menyentuh permukaan balok, aku tidak akan melakukannya. Hanya sebatas inilah kewajaran yang dapat kuperlihatkan, yakni bahwa Pangkar tidak bisa mengalahkan aku tetapi aku pun tidak dapat mengalahkan Pangkar.

Beberapa saat berlalu.

Keringat bercucuran dari dahi Pangkar. Tenaga dan tubuhnya yang besar membuat ia tidak pernah mengerahkan tenaga dalam adu panco. Sekali gebrak boleh dibilang lawannya akan langsung kalah. Maka bukanlah soal ia tak bertenaga maka kini keringatnya bercucuran begitu rupa tanpa kunjung bisa menundukkanku, melainkan betapa ia tidak pernah menggunakan tenaganya terus-menerus dalam waktu yang lama. Suatu siasat yang sebetulnya sering berlaku dalam pertarungan silat, apabila yang lebih lemah tenaganya harus berhadapan dengan yang bertenaga jauh lebih besar.

"Wah, Pangkar belum bisa mengalahkan anak itu!"

Hmm. Lagi-lagi mereka menyebutku anak. Dalam usia 25 tahun aku merasa diriku telah dewasa tak kurang suatu apa. Ingin sekali rasanya aku segera membalikkan tangan Pangkar itu. Namun justru di sanalah agaknya tantangan kedewasaan. Selain aku telah berniat t idak memberikan rasa malu lebih dari yang harus ditanggungnya, aku juga harus memperingatkan diriku sendiri, bahwa aku sedang tidak berada dalam dunia persilatan, tempat segala keajaiban diterima sebagai kewajaran.

"Ayo Pangkar! Ayo! Lama sekali kamu kalahkan anak ini!" Pangkar mengejan lagi.

"Eeeeggggghhhhh!" Namun aku bergeming. Meski terpaksa pura-pura mengejan juga.

"Eeeeegggggghhhh!"

Orang yang datang mengerumuni semakin banyak. Melihat aku tak juga dikalahkan. Para penjudi mulai bertaruh lagi.

"Aku pegang anak itu!" "Aku pegang Pangkar!"

Mula-mula hanya beberapa keping inmas, tetapi lama-lama bagaikan segala harta di pelabuhan itu telah dipertaruhkan. Ke mana para penjaga pelabuhan? Sepintas lalu kulihat juga mereka, dan rupa-rupanya mereka juga penasaran siapakah kiranya yang akan memenangkan pertarungan! Lagipula, suatu pertaruhan belum terbukti jadi perjudian ketika yang dipertaruhkan belum terlihat dibayarkan. Selain itu, perjudian memang tidak dilarang, karena yang selama ini dijaga hanyalah jangan sampai terjadi keributan yang disebabkan oleh kecurangan, apalagi yang berlanjut dengan pembunuhan.

Semua pilihan berada di tanganku. Kalau aku mengalah. Sejumlah orang jatuh m iskin. Tentu lebih banyak yang bertaruh untuk kemenangan Pangkar, dan artinya lebih banyak lagi yang akan jatuh miskin dengan pertaruhan sebesar itu. Akan halnya bandar, bukankah mereka semua lebih sering diuntungkan?

Jelas aku juga tidak ingin mengalahkan Pangkar. Jadi aku tetap bertahan. Tidak pernah maju lagi dari kedudukanku pada awal permainan. Tentu kadang-kadang kubiarkan Pangkar seperti berhasil menekan dan mendesakku sampai tanganku nyaris menempel permukaan balok, tetapi hal itu tidak pernah terjadi. Pada titik itu tangan Pangkar akan kuangkat kembali, sambil pura-pura mengejan dan mengerahkan segenap tenaga.

"Eeeeegggghhh!" PERLAHAN-LAHAN tangan Pangkar akan terangkat. Saat itu ia akan menambah tekanan, yang kadang kubiarkan sebentar agar tampak seperti berhasil, tapi sebelum tanganku menyentuh permukaan balok tentu akan segera kuangkat kembali sampai mencapai kedudukan semula.

Demikianlah terjadi berkali-kali, dan inilah yang membuat orang-orang menahan napas. Sungguh suatu tontonan yang mengasyikkan!

Kemudian Pangkar me lakukan sesuatu. Tangannya meremas tanganku. Dalam hal adu panco pada umumnya, maka yang diremas akan kesakitan, perhatiannya teralihkan, dan pada saat itulah yang meremas akan memberi tekanan dahsyat untuk mengakhiri pertarungan. Bisa dianggap kecurangan, tetapi laz im juga berlaku sebagai bagian dari siasat, agar adu panco tak melulu menjadi adu tenaga.

Tentu saja aku pura-pura mengaduh kesakitan. ''Aaaaahhhhhhh!''

Pangkar segera menekan. Kulepaskan tenaga pertahananku sehingga tenaganya pun terlepas tanpa daya tahan. Ini juga siasat panco yang agak lebih sahih daripada meremas tangan. Saat tenaganya terlepas tanpa kendali, dengan sedikit tenaga saja sebetulnya aku bisa membalikkan keadaan. Itu memang kulakukan, tapi lagi-lagi hanya sampai kepada kedudukan semula!

Orang-orang berdesis kembali. Napas mereka tertahan. Kulirik nakhoda itu. Ia juga sedang memperhatikan diriku. Apakah kiranya yang dipikirkan oleh nakhoda itu? Apakah ia melihat sesuatu yang selama ini kusembunyikan, bahwa aku dengan mudah sebetulnya sudah dapat mengalahkan Pangkar dari tadi?

Kemudian kutatap pula pandangan Pangkar, yang kini antara terheran-heran dan penuh belas bertanya-tanya juga sedang menatapku. Ia tetap mengerahkan seluruh tenaganya untuk menekan tanganku, tetapi tampaknya ia mulai menyadari betapa aku ternyata mampu menguasai dan menentukan bagaimana pertarungan ini akan berlangsung. Aku sedang mempertimbangkan manakah yang lebih baik, apakah sebaiknya ia tahu aku yang menentukan, ataukah sebaiknya tidak tahu; yang pertama akan membuat dia menghargai aku, jika kuputuskan untuk tidak mengalahkannya di muka umum seperti ini; yang kedua akan memberi perasaan malu dan kebanggaan semu jika aku mengalahkannya maupun berpura-pura.

Dari pertimbangan ini kupilih yang pertama, yakni tidak akan mengalahkannya, meski juga tidak akan mengalah sama sekali. Ini berarti sisa pertimbangan dan keputusan kuserahkan kepada sang nakhoda. Apakah ia ingin menerima aku atau tidak; dan lebih jauh ia ingin kapalnya berangkat atau tidak, karena aku dapat membuat keadaan seperti ini berlangsung berhari-hari.

Kutatap lagi nakhoda itu. Ia tampak berpikir keras. Mungkinkah ia tahu betapa akulah kini yang menguasai keadaan? Jika ia berpikir begitu, kini tergantung m inatnyalah, apakah ia bisa berjiwa besar untuk menerima bahwa bagaimanapun caranya Pangkar tidak akan mampu mengalahkan aku dalam adu panco ini.

Matahari tambah tinggi. Pangkar berkali-kali mengejan untuk menekan tanganku, tetapi aku bergeming.

''Eeeegggghhh!''

Keringat Pangkar bercucuran. Tenaganya mulai habis. Namun orang-orang yang berkerumun tiada berkurang, bahkan tambah banyak. Agaknya persoalan yang belum terlalu jelas bagiku antara orang-orang Sriv ijaya dan Mataram ini, telah ikut membingkai adu panco yang tidak hubungannya dengan masalah kenegaraan tersebut.

''Ayo! Kalahkan orang Srivijaya itu!'' ''Ayo!''

''Ayo!''

''Ayo!''

Aku tercekat. Kini masalahnya bukan soal pertaruhan judi lagi, me lainkan masalah siapa kalah dan siapa menang, yang membawa-bawa nama bangsa dan negara. Padahal, dalam hal adu panco yang sedang kujalani, hal itu tiada hubungannya sama sekali! Seseorang telah memanas-manaskan keadaan, dengan membuat adu panco yang sebenarnya berlangsung karena aku mencari pekerjaan di atas kapal, seolah-olah pertarungan berlangsung antara Sriv ijaya dan Mataram. Sungguh cara memanfaatkan keadaan yang begitu cepat dan penuh muslihat jahat!

Sembari menahan tekanan tangan Pangkar, memang kulihat orang-orang itu menyelip di antara banyak dan berbisik-bisik menyebarkan kebohongan. Inilah orang-orang yang memang kadang-kadang dibutuhkan sebagian bagian dari pertahanan sebuah kerajaan, yakni memperlemah daya pengamatan dan perlawanan kelompok yang terbawahkan, dengan mengalihkan perhatian mereka dari istana. Kini mereka mengalihkan persoalan di dalam negeri Mataram, kepada persoalan yang sebetulnya tidak meruncing seperti yang dikesankannya, dengan kedatuan Sriv ijaya...

AKU merasa muak dengan permainan seperti itu, ingin berbuat sesuatu, tetapi bukan saja aku tidak menguasai dan tidak berm inat terhadap ilmu muslihat penuh keterselubungan seperti itu, melainkan juga justru sedang melakukan suatu jenis tipu daya tersendiri: Aku yang dapat mengalahkan Pangkar dengan mudah harus dapat mengalahkan raksasa ini, yang sejak awal telah menatapku dengan penuh belas itu, tanpa menyakitinya.

Sampai saat ini, aku hanya mampu untuk tetap bertahan dalam kedudukan semula. Matahari terus bergeser. Waktu merayap. Ingin kuyakinkan nakhoda betapa tiada lain yang dapat dilakukan Pangkar selain tetap berada dalam kedudukan seperti ini.

Ketika matahari lengser ke barat, angin bertiup, dan udara menjadi sejuk, nakhoda itu tampak sudah tidak tidak tahan lagi. Kurasa perilaku orang-orang yang menyebarkan bisikan- bisikan untuk memengaruhi keadaan juga telah diketahuinya. Kurasa ia tahu suasana bisa berkembang ke suatu arah yang belum tentu dapat ditanganinya.

"Cukup! Cukup! Kuterima kamu bekerja di kapalku! Dalam adu panco ini tidak ada yang kalah dan tidak ada yang menang! Aku tidak mau memperpanjang masalah lagi!"

Nakhoda itu memegang dan memisahkan tangan kami.

"Selesai sudah! Bubar! Bubar! T idak ada perjudian di sini!" Pangkar melepaskan pegangan. Aku juga. Aku tahu

Pangkar sudah kehabisan tenaga dan matanya menatapku dengan penuh rasa terima kasih bercampur keheranan luar biasa. Sudah jelas ia kini menaruh hormat yang sangat dalam kepadaku. Aku bersyukur kepada diriku sendiri karena telah berhasil menyelesaikan tugas yang kuanggap sulit: Aku boleh menganggap diriku menang tanpa mengalahkan, karena sebenarnyalah aku telah mengalahkan tanpa menyakiti...

Tentu, tidak sedikit pun aku boleh tampak berpuas diri. Sebaiknya aku bersikap memang hanya memikirkan pekerjaan yang kuharapkan.

"Jadi, apakah tugas sahaya sekarang Tuan?"

Orang-orang sudah bubar. Kulihat kekecewaan pada wajah para penghasut, tetapi betapa mereka juga tampak sama sekali tidak putus asa dan menantikan kesempatan berikutnya!

Nakhoda itu kulihat juga memperhatikan mereka. "Kemasi barang dikau dan naik sajalah ke kapal," katanya kepadaku, "nanti ada yang akan memberikan dikau pekerjaan."

Seseorang di antara para penghasut itu kulihat mendekati nakhoda. Segera kutancap ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang.

"Apa yang kau lakukan Nakhoda, menerima orang yang tidak jelas asal-usulnya?"

"Bagi kami tidak penting benar asal-usul seseorang, Tuan," kata nakhoda itu, "tak hanya orang Sriv ijaya bekerja di kapal ini, tetapi juga dari berbagai daratan tempat kami berlabuh, selama kami memang membutuhkan."

"Kalau begitu terimalah juga orangku bekerja di kapal dikau."

"Maaf Tuan, kami belum membutuhkan tenaga tambahan." "Bagaimana dengan anak muda itu?"

"Anak muda itu sudah berbuat jasa untuk kami, lagi pula ternyata kemudian memenuhi persyaratan."

Orang itu mengerti ia tak bisa berbuat lebih banyak lagi. "Baiklah Nakhoda, ini semua keputusan dikau. Semoga

selamat segalanya dan salam."

Ia pergi. Nakhoda itu menggeleng-gelengkan kepala. "Bagaimana mungkin orang bisa begitu memaksa?"

Ia hanya berdesah, tetapi dengan ilmu pendengaran Semut Berbisik di Dalam Liang tentu aku mendengarnya.

Senja akhirnya turun di pelabuhan itu. Langit merah membara dan lautan berubah menjadi genangan berwarna jingga. Tiang-tiang kapal tegak menghitam. Aku melangkah dan menapaki batang kayu melintang yang menghubungkan dinding perahu dengan daratan. Sayup-sayup kudengar sebuah ajaran dari dalam sebuah kuil yang dipenuhi sejumlah rahib asing di pelabuhan. Agaknya prajna-paramita seperti digambarkan dalam Madhyamakavatara.

Ibarat seseorang dengan penglihatan yang baik, dengan mudah dapat memimpin sejumlah orang buta ke tempat yang mereka inginkan.

Demikian pula halnya dengan prajna yang mengumpulkan

kebajikan-kebajikan yang takbermata serta kemudian memimpinnya

ke Kebuddhaan

Ini membuat aku teringat sebuah ajaran lain, juga prajna, tetapi dari Vima lakirtinidesasutra.

Apakah yang disebut keterikatan seorang Bodhisattva dan apakah kelepasannya?

Prajna yang dilaksanakan

tanpa disertai dengan kesediaan untuk mengabdi semua makhluk merupakan keterikatan

akan tetapi apabila didukung merupakan kelepasan keadaan juga berlaku demikian

dalam hal dibaliknya keberlangsungan

Lantas kudengar kembali sambungan ajaran, perihal cara melaksanakan dhyana-paramita sebagai titik tolak penyamaan, terutama mengenai sunyata sebagai hakikat badan, yang rupanya diacu dari Sang Hyang Kamahayanikan. yang dinamakan prajna-paramita ialah semua hal atau benda yang dianggap ada di dunia

dan yang berada di sepuluh arah; timur, selatan, barat, utara,

tenggara, barat-daya, barat-laut, timur-laut, atas dan bawah...

Semua hal seyogyanya diketahui sampai ke badan luar atau bahya maupun dalam atau adhyatmika, serta semua makhluk

dengan semua aturannya tentang semua perbuatan, semua yang diperbuat,

semua pendapat.

Semua hal yang berbentuk dan tanpa-bentuk memiliki hakikat sunyata.

Ketika malam sudah menyelimuti bumi, aku masih merenungkan semua itu, sembari memandang bulan purnama beredar di antara tiang-tiang kapal.

(Oo-dwkz-oO)