Nagabumi Eps 78: Menang Tanpa Mengalahkan

Eps 78: Menang Tanpa Mengalahkan

DI pelabuhan itu semua laki-laki yang siap berbaku bunuh hanya berkancut, kain yang dilibat-libatkan dengan cara tertentu, sehingga tak terlalu mudah untuk segera membedakan orang-orang Sriv ijaya dan orang-orang Mataram. Kulit mereka sama-sama berwarna tembaga, menjadi kehitaman karena mereka yang selalu melaut maupun hidup di pelabuhan, sama-sama selalu bermandi matahari. Hanya pisau belati yang melengkung itulah yang membedakannya. Tampaknya cara menggunakan pisau belati yang melengkung itu pun berbeda dari pisau belati yang biasa.

Aku baru saja selesai makan. Apakah seusai makan aku harus melihat pisau belati yang melengkung itu mengeluarkan isi perut seseorang? Adakah jaminan bahwa perempuan dan kanak-kanak di sekitarnya tidak akan terluka atau bahkan tewas dalam kekacauan karena sambaran senjata tajam yang nyasar? Tawuran tanpa aturan ini harus kucegah, tapi bagaimana caranya?

Kedua pihak yang bertikai sudah sama-sama siap bertarung. Panas matahari te lah membutakan pikiran mereka. Kedua pemimpinnya kulihat telah sama-sama mulai mengangkat tangannya tanda mereka akan saling menyerang!

Aku harus melakukan sesuatu! Aku pun berkelebat..

Mendadak saja aku sudah berada di antara kedua rombongan yang siap saling membunuh itu. Aku juga hanya mengenakan kancut, tetapi aku bercaping, dan aku membawa tongkat yang pada ujungnya terikat sebuah buntalan, karena bukankah aku seorang pengembara?

Seperti tak terjadi apa-apa aku bersendawa. "Hooooiiiikk.."

Orang-orang terheran melihat diriku. Lantas aku menguap seperti orang mengantuk dan merebahkan diri seperti orang mau tidur di tengah gelanggang. Kujadikan buntalan itu bantalku dan caping menutupi wajah. Sejak tadi tak seorang pun pernah melihat wajahku. Bahkan orang-orang dalam kedai belum tentu memperhatikan aku yang tiba-tiba menghilang itu.

"Hoaaaahemmm.. Habis makan kenyang kenapa daku jadi mengantuk ya? Daku mau tidur saja sekarang."

Segera terdengar tanggapan.

"He, orang gila! Minggir! Mau mati kamu?"

Aku memperdengarkan suara orang tidur mendengkur. "Eh, kurang ajar!"

Bandar judi yang dituduh main curang tadi bermaksud

menendang, tetapi tiba-tiba saja ia sudah jatuh jungkir balik dan tidak memegang pisau lagi. Aku membalikkan tubuh sambil menggeliat, seperti sedang tidur dengan enak sekali. Padahal bukan hanya udara begitu panas dalam terik matahari membara, tetapi suasana sudah terlalu panas sehingga seperti hanya pertumpahan darah bisa mendinginkannya.

Giliran pelaut Srivijaya yang maju, kali ini sambil menggerakkan pisau belatinya yang melengkung itu dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata.

Hmm. Pantas ia seperti tidak punya rasa takut sama sekali. "Orang edan mencari kematian!"

Pisau belati yang melengkung itu terarah ke perutku. Namun hasilnya sama saja. Ia mendadak terjengkang dan tidak memegang pisau lagi.

Mereka semua terhenyak. Aku sebenarnya menunggu agar para pajurit yang menjaga pelabuhan melihat kerusuhan ini dan segera bertindak untuk menengahi, tetapi mereka belum juga muncul sementara suasana telah sangat meruncing. Aku menggeliat lagi, masih dengan wajah tertutup caping, seperti berada di bawah pohon yang sejuk. Dari balik caping kutahu sejumlah senjata tajam dari berbagai arah secara bersamaan diayunkan kepadaku. Aku segera bergerak dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti mata, begitu cepatnya sehingga mata siapa pun yang mencoba mengamati gerakanku tetap hanya akan melihatku sebagai orang yang tidur mendengkur.

Sekitar duapuluh orang yang tadi bergerak serentak telah kehilangan senjata masing-masing yang baru saja digenggamnya, bahkan jari-jari mereka masih seperti memegang senjata itu!

Kemudian sekian belas orang sisanya, tanpa sempat bergerak juga telah kehilangan senjata yang digenggamnya!

Saat itulah pasukan yang menjaga pelabuhan berdatangan di atas kuda mereka sambil membawa tombak, yang tidak sekadar merupakan senjata, melainkan tanda pemegang wewenang resmi.

"Ada apa ini? Urusan judi lagi?"

BAGI para penjaga pelabuhan ini, sangat aneh bahwa kedua kelompok yang siap tawuran ini tidak seorang pun memegang senjata. Saat itu aku sudah kembali masuk kedai tanpa ada yang menyadari betapa aku untuk sejenak telah meninggalkan bangku yang kududuki.

Kuperhatikan para penjaga pelabuhan mengurus masalah itu. Tidak penting lagi hasilnya bagiku se lama tidak berlangsung pertumpahan darah. Aku hanya tak tahu di mana harus kuletakkan 47 pisau di dalam buntalanku ini.

Dari dalam kedai kuperhatikan lagi perahu Sriv ijaya di pelabuhan itu. Kapal itu tidaklah besar, kemungkinan kapal tempur yang juga dimanfaatkan untuk pelayaran di dalam sungai di Samudradvipa sendiri. "Perahu sebesar itu masih bisa digunakan menyeberangi selat dan menyusuri pantai sampai kemari," ujar pemilik kedai, seperti tahu pikiranku.

"Mereka gunakan perahu yang sama untuk pergi ke Jambhudvipa?" tanyaku.

"Mereka gunakan yang sejenis juga, tetapi yang lebih besar. Kalau berlayar di samudera besar, mereka tidak gunakan penyeimbang di kanan kiri yang disebut cadik itu."

Pemilik kedai itu rupanya berasal dari Wanka, pulau tempat Kota Kapur berada, sehingga tidak asing dengan seluk beluk kapal-kapal Sriv ijaya. Dengan kapal-kapal kecil seperti itulah mereka serbu Kerajaan Malayu dan menguasai emas yang dihasilkannya seratus tahun lalu.

"Meskipun kecil, kapal-kapal itu canggih," katanya lagi sambil menuang arak dari kendi ke dalam tempat minum yang terbuat dari tabung bambu, "papan-papan itu diikat bagaikan jahitan, mengikat dan mengangkat tiang kapal, menggunakan layar topang dan penggandung. T iada pasak digunakan dalam pembuatan kapal ini dan kemudi menempel pada sisi buritan."

Aku memandangnya dengan ternganga, karena memang tak terlalu paham soal kapal.

"Rincian yang paling kecil memperhatikan rancangan tiang dan kedalaman batang tiang yang mendukung layar," sambungnya, "pernah datang orang menyalin perahu ini ke dalam gambar di atas kain, katanya untuk dipahatkan di dinding candi besar."

Aku teringat tentang usaha menggambarkan segala hal pada candi besar yang katanya akan bernama Bhumisambharabuddhara itu. Takkudengar bahwa mereka juga akan memahatkan gambar kapal di situ, tetapi tentu saja luar biasa bahwa gambar kapal dengan layar terkembangnya akan tampak di sana. Di sebuah candi pemujaan di pedalaman, tempat banyak orang tadinya seperti juga diriku, tak pernah melihat kapal yang mengarungi keluasan samudera.

"Kapal-kapal yang besar dibuat tanpa perlu penyeimbang lagi, mampu memuat banyak sekali barang dan pasukan tentara. Daya kapal-kapal itu akan sangat tergantung kecepatan dan beratnya. Ukuran dan kemampuan muat sebuah kapal beragam tergantung untuk perdagangan apa mereka digunakan. Bentuk kapal-kapal ini dikembangkan dari kapal yang digunakan nenekmoyang kita."

Kulihat kapal yang sedang bersandar itu. Para pelaut yang tadi nyaris berbaku bunuh itu terlihat sedang bicara di sekitar kapal. Agaknya urusan sudah diselesaikan. Mungkin mereka hanya harus membayar denda, karena belum terjadi pertumpahan darah sama sekali. Beberapa orang tampak memegang sarung yang kosong.

DALAM buntalanku setidaknya masih terbawa olehku sekitar duapuluhan pisau belati yang melengkung itu. Aku pun tiba-tiba mendapat akal.

Kubuang pisau belati yang tidak melengkung di suatu tempat, sedangkan sisanya, yakni pisau belati yang melengkung kubawa ke arah kapal tersebut. Kulihat sejumlah kuli masih mengangkut berkarung-karung barang ke dalam kapal. Waktu aku kelihatan mendekat, mereka yang sedang berkerumun dan berbicara menunjukkan sikap waspada. Aku telah membuang capingku, dan membalik kain buntalan maupun kancutku agar berwarna lain, supaya tidak ada sesuatu pun yang menghubungkan diriku dengan kejadian tadi.

''Anak muda, berhenti dulu di situ. Mau ke manakah dikau?'' ujar seorang pelaut yang berkumis melintang dan mengenakan destar di kepalanya. Tidak semua orang mengenakan destar, jadi mungkin ia mempunyai jabatan tertentu di kapal itu. ''Ah, sahaya mau bertemu dengan nakhoda, Tuan.'' ''Bertemu nakhoda? Siapakah dikau dan apa kehendak

dikau?''

''Sahaya bukan siapa-siapa, Tuan, sahaya hanya diberi tahu bahwa pisau-pisau yang sahaya temukan ini adalah milik Tuan-Tuan, maka sahaya datang kemari untuk mengembalikannya.''

''Hah? Pisau? Coba lihat!''

Kubuka buntalanku, kuserahkan pisau-pisau itu. Di luar dugaanku, semua orang berebut mengambil miliknya masing- masing. Baru ternyatakan olehku sekarang betapa pisau-pisau belati yang melengkung itu memang bukan sembarang pisau. Bukan sekadar ketajaman atau mutu penempaan yang menjadikannya senjata pilihan, melainkan terutama makna pribadi senjata itu bagi setiap orang. Gagang masing-masing pisau itu m isa lnya, ada yang terbuat dari gading dengan hiasan batu permata di pangkalnya, atau mungkin sederhana saja dengan gagang kayu, tetapi telah berjasa besar kepada pemiliknya dalam perjalanan kehidupan. Termasuk bahwa mungkin saja pisau itu merupakan pusaka keluarga yang diturunkan sebagai warisan dari zaman ke zaman.

Beberapa orang langsung menciumi pisau belati yang melengkung itu atau menjunjungnya sebentar di atas kepala. Kulihat juga sarung penyimpan belati-belati itu bukanlah sembarang sarung senjata, melainkan padanan yang tiada duanya bagi setiap belati yang disimpannya. Gagang gading bersarung gading, gagang emas bersarung emas, dan gagang kayu berukir bersarung kayu berukir. Senjata itu bagaikan nyawa kedua bagi orang-orang tersebut. Pedagang dan pelaut macam apakah yang menjadikan senjata begitu penting dalam hidupnya? Aku tak sempat memikirkannya, karena merekalah yang banyak bertanya. ''Dikau tadi berkata telah menemukannya, di manakah tempatnya?''

Kutunjuk saja suatu arah.

''Di sana, bangun tidur tadi pisau-pisau ini sudah ada di samping sahaya. Semula sahaya bermaksud menjualnya, tetapi tukang besi di pasar itu berkata pisau-pisau ini sebaiknya di kembalikan sahaja. Katanya, pisau-pisau semacam ini pasti milik para pelaut dari kapal Tuan.''

''Ya benar, seseorang dengan ilmu s ihir te lah merampasnya dari tangan kami. Namun dengan itu perkelahian batal terjadi. Sebetulnya ia telah menolong kami. Ini uang emas untuk dikau.''

Namun aku menolaknya.

''Ah, anak muda! Apa maksud dikau?''

''Maafkanlah sahaya Tuan, sahaya hanyalah seorang pengembara yang tidak punya pekerjaan tetap. Sahaya tidak menginginkan uang Tuan, sahaya ingin mendapatkan pengalaman. Izinkanlah sahaya menumpang di kapal Tuan, dan biarlah sahaya bekerja tanpa bayaran sebagai pengganti uang tumpangan.''

''Jadi selama ini dikau merantau anak muda? Siapa namamu dan dari mana asalmu?''

''Ya, sahaya selama ini bekerja di perjalanan, Tuan, sekadar agar dapat menopang kehidupan, berpindah-pindah ke mana pun kaki melangkah, Tuan. Telah sahaya sampaikan, sahaya bukan siapa-siapa Tuan, dan sahaya berasal nun jauh dari Celah Kledung.''

Lelaki yang kepalanya berdestar itu manggut-manggut. ''Hmm. Seperti pernah kudengar nama Celah Kledung itu.

Kuhargai cita-citamu anak muda, menjelajah dunia adalah cita-cita kami orang Sriv ijaya. Dikau te lah berjasa untuk kami, maka kami tidak dapat menolakmu anak muda, tetapi bekerja di kapal itu ada syaratnya.''

Aku tertegun.

''Syarat apakah kiranya itu Tuan, sekiranya dimungkinkan?'' "PERTAMA, dikau harus bisa berenang dan tidak mabuk

laut di perjalanan. Ini adalah syarat yang dengan sendirinya harus dim iliki setiap orang yang bekerja di kapal. Kedua, tentu saja dikau harus memiliki keahlian yang dibutuhkan oleh keadaan kapal tempat ia akan bekerja."

"Jadi apakah yang dibutuhkan kapal ini sekarang, Tuan?

Semoga sahaya yang bodoh ini dapat memenuhinya, Tuan."

"Mula-mula dikau harus bersedia untuk bekerja berat, sebagaimana pekerjaan yang dilakukan oleh seorang sudra, bahkan juga paria."

"Sahaya memang seorang paria Tuan, apa pun akan sahaya kerjakan."

"Itu baharu syarat pertama, yakni membersihkan kotoran kapal maupun kotoran awak kapal, menyikat se luruh lantai dan dinding geladak, dan setiap kali merapat ke darat harus mengangkut segenap keperluan air bersih ke dalam kapal maupun menggosok seluruh dinding luar kapal. Sanggupkah?"

"Sahaya sanggup, Tuan."

"Syarat kedua, dikau harus mempunyai tenaga yang kuat, karena setiap awak kapal harus sanggup menarik dan mengulur tali untuk membuka dan menggulung layar, dalam keadaan angin sekencang apa pun, yang pasti membutuhkan tenaga besar sekali. Apakah dikau memiliki tenaga sebesar itu?"

"Sahaya sanggup melaksanakannya, Tuan, hanya sahaya belum paham mengenai cara-cara menangani layar kapal itu, karena belum pernah melakukannya." Lelaki berdestar yang berbadan tegap ini melirik badanku yang tampak tidak sebanding dengan semua pelaut Sriv ijaya yang memang kulihat bertubuh serbakekar.

"Dikau jangan berkata sanggup jika tidak mampu melakukannya, anak muda! Masalah layar bisa dipelajari, tapi tenaga kuat adalah milik dikau sendiri. Apakah dikau memiliki tenaga yang kuat?"

Aku tentu saja harus berusaha agar tampak sangat rendah hati, tetapi tetap terlihat yakin untuk berusaha dengan keras sekali, karena betapapun aku merasa bahwa aku harus ikut kapal itu!

"Maafkan sahaya Tuan, apakah terdapat suatu cara untuk menguji tenaga sahaya kuat atau tidak?"

Lelaki berdestar itu tersenyum.

"Cobalah dikau beradu panco dengan anak buahku yang itu. Jika dikau sanggup mengalahkannya, tak syak lagi dikau memiliki tenaga yang besar untuk menarik tali layar," katanya.

Lantas ia panggil anak buahnya yang tinggi besar itu. "Pangkar!"

Ternyatalah betapa ia seorang raksasa! Rambutnya yang panjang dikucir seperti ekor kuda. Terdapat anting-anting besar pada hidung dan kedua telinganya. Pada dadanya terdapatlah rajah peta laut dan daratan yang pernah dijelajahinya. Kelak akan kuketahui bahwa peta itu tergambar sejak masih merupakan pulau kecil saja, yang makin lama makin meluas sesuai dengan wilayah pelayarannya.

Tinggi Pangkar nyaris dua kali tubuhku. Ini sangat tidak adil, karena aku yakin tidak seorang pun dari anak buahnya yang bekerja di kapal itu lebih besar tenaganya dari tenaga Pangkar. Seharusnya aku dilawankan dengan anak buahnya yang paling lemah, sehingga jika aku kalah maka aku memang tidak layak, karena berada di bawah kemampuan anak buahnya yang paling lemah; sebaliknya kalau menang, tentu saja harus dianggap layak diterima, karena yang telah kukalahkan itu pun sudah bekerja di kapalnya. Jelas ini cara yang halus untuk menolak diriku, karena aku telanjur dianggap berjasa telah mengembalikan senjata-senjata pusaka mereka.

Artinya aku harus mengalahkan Pangkar, yang jika kumanfaatkan tenaga dalamku, sebetulnya sama mudahnya dengan membalik tangan. Kesulitannya justru bagaimana caranya agar aku mengalahkannya dengan cara yang dapat mereka terima! Dengan cara apakah kiranya akan bisa mereka terima, bahwa dengan sosok seperti tubuhku sekarang ini aku ternyata dapat mengalahkan raksasa seperti Pangkar dalam adu panco?

Pangkar jelas memandang sebelah mata kepadaku. Bahkan sebetulnya kukira ia merasa kasihan. Semua awak kapal bertubuh tegap dan sebetulnya siapa pun tampak bisa mengalahkan aku. Tampaknya dia juga sadar, betapa maksud lelaki berdestar yang kukira adalah nakhoda kapal itu sendiri, yang semula maksudnya sekadar sebagai cara menolak, akan terasa kepadaku bagai suatu siksaan.

"Bagaimana anak muda? Tidak usah malu untuk membatalkan niat dikau, karena lautan memang bukan tempat permainan."

Aku masih belum menemukan jalan, bagaimana caranya aku menang dengan cara yang dapat mereka terima.

'Maafkanlah sahaya Tuan, tidak menjadi masalah sahaya batal berangkat, jika memang tidak memenuhi syarat.''

Setidaknya kuanggap wajar untuk tampak berjuang dengan semangat membabi buta.

Mendengar itu, aku dan Pangkar digiring menuju sebuah tiang balok besar yang biasa digunakan untuk mengikatkan tali kapal-kapal yang berlabuh. Permukaan balok yang rendah itu rata. Di sanalah kami berlutut dengan siku masing-masing menempel pada permukaan balok. Ketika tangan kami ditempelkan agar saling menggenggam, pandangan Pangkar kepadaku sungguh merupakan pandangan penuh belas kasihan.

''Sayang sekali daku tidak mungkin mengalah kepadamu, anak muda. Berjuanglah sekuat tenaga.''

''Jangan kuatir Kakak,'' kataku, ''Kakak sama sekali tidak akan perlu mengalah.''

Pangkar tersenyum penuh haru. Ia seperti raksasa yang baik hati. Aku jadi khawatir, bagaimanakah perasaannya nanti jika aku ternyata dapat mengalahkan dia? Memang benar aku harus berangkat dengan kapal itu, dan untuk itu aku harus menang dalam adu panco ini. Namun meski aku memang dapat dengan mudah mengalahkan Pangkar, keadaannya terbukti tidak mengiz inkan aku untuk begitu saja mengalahkannya.

Tangan kami sudah saling menggenggam. Orang-orang di luar awak kapal pun datang berkerumun.

Nakhoda itu memberi aba-aba. ''Satu, dua... mulai!''

(Oo-dwkz-oO)