-->

Nagabumi Eps 77: Membaca Gerakan Pedang

Eps 77:  Membaca Gerakan Pedang

DEMIKIANLAH Campaka mulai bergerak. Aku sudah bersiap untuk suatu gerak berdasarkan aksara yang akan menjadi kata, dan pada gilirannya kata demi kata yang akan menjadi kalimat. Itulah kalimat yang bisa pendek dan bisa panjang, tetapi semuanya menyatakan kematian. Bersama pernyataan akan kematian itulah pedang telah menancap ke jantung lawan, atau di mana pun titik pada tubuh manusia yang akan membuat jiwanya melayang dari tubuhnya.

Dalam pertarungan dengan kecepatan yang tidak bisa diikuti oleh mata, jangankan aksaranya dapat terbaca, karena geraknya pun tiada terlihat pula, maka gerakan lawan harus diikuti dengan kecepatan yang sama agar gerak terbaca sebagai aksara, rangkaian aksara sebagai kata, dan akhirnya rangkaian kata-kata membentuk kalimat yang menyatakan kematian. Demikianlah untuk mengimbangi Jurus Dua Pedang Menulis Kematian seseorang bukan hanya seperti set iap pendekar harus menguasai ilmu meringankan tubuh dan tenaga dalam, tetapi wajib me lek aksara pula, itu berbagai cara menulis aksara, agar dalam aksara apa pun lawan mengasalkan geraknya akan segera diketahuinya pula.

NAMUN jika pun segenap gerak berkalimat itu dapat dibacanya, bagaimanakah caranya menghindarkan pernyataan kematian? Telah disebutkan betapa ketika dihadapkan kepada lawan maka Jurus Dua Pedang Menulis Kematian bagai suratan kematian itu sendiri. Bagaimanakah caranya menolak atau menghindari suratan kematian? Padahal itulah yang akan dituliskan oleh Campaka kepadaku, dan tentunya dariku kepada Campaka, bagaimanakah caranya kami tidak saling berbunuhan?

Demikianlah tadi kukatakan betapa aku bersiap untuk sebuah aksara, tetapi ternyata Campaka tidak mengeluarkan aksara sama sekali, setidaknya bukan aksara yang kukenal! Astaga, mungkinkah aku tewas karena ilmu yang kuturunkan sendiri? Untuk diperhatikan, aku tidak pernah menganggap Campaka muridku, karena ilmu yang kuberikan bukanlah gubahanku sepenuhnya. Aku hanya mengembangkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian pada akhir rangkaian I lmu Pedang Naga Kembar gubahan pasangan pendekar yang telah mengasuhku. Ilmu silat bagiku adalah hak milik semua orang yang ingin mempelajarinya, takseorang guru pun berhak menguasai ilmu silatnya untuk diri sendiri sahaja, karena jika itu terjadi maka kesempurnaan rohani yang diburunya dalam ilmu persilatan tidak akan pernah dicapainya.

Jadi, telah kuberikan semuanya yang kuketahui mengenai Ilmu Pedang Naga Kembar sampai kepada Jurus Penjerat Naga dan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Maka jika terdapat sesuatu yang takkukenal dari gerak Campaka, apakah yang telah dilakukannya? Aku bergerak secepat- cepatnya untuk terus menghindari buruan ujung pedangnya yang sangat berbahaya. Campaka telah memadukan gerakannya dengan bunyi mulut. Namun bunyi mulut itu pun tidak mengartikan sesuatu. Hanya bunyi demi bunyi itu sendiri. Aku sempat kebingungan dan hanya bisa menghindar dan menghindar, sembari berpikir keras untuk memecahkannya.

Telah kukatakan bahwa meski dalam sepuluh tahun ini kemajuan ilmu silat Campaka sungguh luar biasa, tetapi perkembangan ilmu silatku sendiri jauh berlipat ganda dibanding kemajuan Campaka. Maka jika Campaka telah menyulitkan aku sekarang, tentu itu bukanlah karena ia punya tenaga dalam atau ilmu meringankan tubuh yang dimilikinya, seberapa hebat pun kemajuan Campaka dalam hal itu, belumlah akan mengungguli aku. Adapun Ilmu Pedang Naga Kembar yang baru saja kuturunkan, jelaslah kuketahui se luk beluknya seperti aku mengenal diriku. Apakah yang telah terjadi?

Hanya satu jawaban dimungkinkan. Campaka telah menggunakan otaknya! Tak ada ilmu silat lain yang dikuasai Campaka berada di luar pengetahuanku, sehingga tak bisa lain ini berarti Campaka telah menafsirkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian dengan caranya sendiri, yang sengaja menghindari kemungkinanku untuk mengenalinya! Namun bagaimana itu mungkin, jika aksara yang dikenal Campaka tidak lebih banyak, bahkan mestinya lebih sedikit daripada berbagai jenis aksara yang kukenal? Maka tentu tetaplah Campaka memanfaatkan aksara yang kukenal juga, tetapi dengan cara penulisan yang berbeda. Adalah tugasku untuk memecahkannya!

Tidak mudah melakukan hal ini, dalam pertarungan dengan kecepatan yang tidak dapat diikuti oleh mata! Namun pernah kukatakan, jika kita mampu bergerak lebih cepat dari cepat, maka yang cepat itu akan tampak begitu lamban, sehingga mungkin diperiksa dan dibaca segenap pergerakannya. Maka aku bergerak dua kali lebih cepat dari semula, begitu cepatnya sehingga seolah-olah aku dapat membelah diriku jadi dua; yang satu melayani Campaka, yang lain mengamati pergerakan pedangnya. Dengan cara ini segera kudapatkan pemecahannya. Campaka telah menggunakan otaknya, aku pun harus menggunakan otakku!

Kemudian kuketahui bahwa Campaka telah menggunakan huruf yang sama saja, tetapi telah memecahkannya menjadi garis-garis lurus, garis-garis lengkung, dan titik-titik, yang memiliki keteraturan begitu rupa sehingga dalam perbandingannya akan dapat dikenali sebagai aksara juga. Pantas semula gerakan kedua pedangnya bagiku sangat membingungkan! Dengan cara ini setiap aksara yang biasanya terbentuk oleh satu gerakan singkat, kini menjadi lebih panjang dan lebih lama waktunya untuk menjadi kata, dan tentu lebih lama lagi menjadi kalimat. Dalam kecepatan yang tidak dapat diikuti mata, kemampuan memecahkan ini, meskipun bukan merupakan sembarang penemuan, masih belum berarti apa-apa; karena bukankah kematian pada dasarnya telah dituliskan? Mungkinkah menghindari kematian yang telah disuratkan, dengan dua pedang pula?

KAMI masih berkelebat di pucuk-pucuk pepohonan ketika hari terang tanah dan kelelawar-kelelawar tampak datang dari langit yang ungu beterbangan pulang. Bagaimana menghindari kematian masing-masing apabila dua petarung telah sampai kepada Jurus Dua Pedang Menulis Kematian? Campaka melayang dan menari-nari dengan kedua pedang menuliskan kematian terindah yang paling dimungkinkan bagi seorang pendekar. Berkali-kali pedangnya berdesir hanya berjarak tiga, dua, bahkan satu jari dari dada, perut, mata, maupun leherku. Padahal ini hanya latihan. Aku tentunya harus diandaikan tak membiarkan diri latihan ini berakhir dengan kematian. Kemampuanku membaca aksara yang telah dipecah Campaka dalam susunan baru garis-garis lurus, garis-garis lengkung, dan titik-titik ini membuatku akan bisa mengatasinya. Campaka telah menggerakkan kedua dengan sangat cepat dengan caranya sendiri untuk menyusun kalimat berikut:

hanya kehampaan setelah mati, garis terputus, ketiadaan dunia

Ini berarti bagi Campaka kematian adalah suatu akhir. Maka dengan cara menulis aksara yang sama kedua pedang hitamku membentuk kalimat seperti ini:

kehidupan dan kematian adalah satu, tiada awal dan tiada akhir

Dengan kalimat seperti ini, suratan kematian yang dituliskan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang diguratkan Campaka tidak dihindari atau ditolak, justru diterima, sehingga pedang yang mana pun tak bisa lagi membunuhnya. Sebaliknya Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang diguratkan olehku untuk mengimbanginya juga tidak akan membunuhnya dalam arti mengakhiri kehidupan, karena juga takmungkin jika kematian ternyata bagian saja dari kehidupan yang tak berawal dan tak berakhir.

Saat itulah, masih di angkasa, pedang kami saling menyambar tapi tak saling berbenturan, berhenti tepat pada saat berjarak sehelai benang, tak bisa berlanjut lagi. Lantas kami turun perlahan seperti kapas yang jatuh melayang dengan ringan.

Begitu menginjak tanah, Campaka memasukkan kedua pedang ke sarungnya di punggung dan bersujud sambil menangis tersedu-sedu.

''Ampunilah sahaya Tuan! Ampunilah sahaya! Sudilah Tuan sahaya panggil sebagai guru!'' Ia terus mengulangi kata-kata itu dan kubiarkan dia menangis sampai habis. Hutan begitu sunyi. *Aku juga takmengerti apa yang bisa kulakukan dengan sikapnya ini. Namun bagiku dia bukanlah murid takhanya karena alasan yang telah kusebutkan tadi. Aku memang takpernah ingin mengangkat murid, jika itu berarti mencari seseorang untuk menerima ilmuku, bukan hanya karena ilmu pada dasarnya bukan milikku, melainkan karena ilmu silat yang kutemukan sendiri, seperti Jurus Bayangan Cermin, dan yang sedang kucoba gali sekarang, yakni suatu jurus yang takberbentuk, karena yang dipermainkannya adalah pikiran, memang tidak bisa diturunkan.

Ilmu Pedang Naga Kembar adalah warisan pasangan pendekar yang telah mengasuhku, Jurus Penjerat Naga bahkan kupelajari dari sebuah kitab. Biarlah ilmu pedang itu menjadi milik dunia dan biarlah semua orang mengembangkannya. Sebab jika ilmu silat tingkat t inggi hanya menjadi milik sejumlah pendekar, akan menjadi sangat kuat godaan memperlakukannya sebagai alat untuk berkuasa dan memperjual belikannya kepada siapa pun yang mampu memberinya harga tertinggi pula.

''Ilmu merupakan suatu kuasa,'' kuingat pasangan pendekar itu pernah menyampaikannya, ''karena itu sebanyak mungkin orang sebaiknya memiliki ilm u, supaya penguasa ilmu tidak menindas yang tidak berilmu. I lmu memberikan kepada kita pengetahuan lebih daripada pengetahuan yang dimiliki orang tidak berilm u. Dalam keadaan seperti ini, harus ada suatu cara agar kuasa ilmu tidak dim iliki terlalu sedikit orang. Bukan hanya ilmu silat, melainkan ilmu apapun yang ada di muka bumi ini.''

Maka aku pun tidak mau diuntungkan oleh kepemilikan ilmu itu. Semakin banyak orang menguasai ilmu silat, semakin sedikit orang akan bisa memperjual belikan kuasa ilmu silat kepada siapapun dengan tujuan apapun. Sebegitu jauh, ilmu silat terlalu sering menjadi alat untuk memaksakan kehendak, dan karena itu kekuasaan atas ilmu silat harus dihancurkan melalui penyebaran ilmu silat itu sendiri.

Saat cahaya matahari menembus dedaunan membentuk sepetak cahaya di tempat Campaka bersujud, usai pula tangis perempuan itu. Ia mendongak dengan mata yang basah. Usia perempuan ini 35 tahun. Us iaku sepuluh tahun di bawahnya. Namun jika sepuluh tahun lalu, ketika usiaku 15 tahun, aku merasa Campaka jauh lebih tua, hal itu kini sudah tidak berlaku lagi.

DAHULU ia mencengangkan aku sebagai orang awam yang terpaksa menjadi pelacur untuk membalas dendam atas kematian suaminya. Kini kurasakan sudah sewajarnyalah perempuan setangguh ini menjadi seorang prajurit dengan ilmu silat yang tinggi. Ia bukan hanya prajurit, ia memimpin suatu pasukan dalam kesatuan pengawal rahasia istana. Bagiku bahkan kecerdasannya layak menempatkan dirinya dalam kedudukan panglima. Namun Campaka tak pernah ingin aku memandangnya dengan cara seperti itu.

''Maafkan sahaya Tuan, jika telah berani lancang. Barangkali sahaya memang bukanlah perempuan yang pantas untuk menjadi murid Tuan. Maafkanlah sahaya Tuan!''

Lantas Campaka berkelebat menghilang.

Aku tidak mengejarnya. Termangu-mangu di tengah kesunyian hutan pada suatu pagi. Hanya burung-burung terdengar memecahkan sepi.

(Oo-dwkz-oO)

AKU menghela napas. Hidup berjalan tanpa bisa diduga. Aku tertangkap, hampir mati, dan dibebaskan oleh Campaka. Namun kini aku sendiri lagi, berjalan di tengah keramaian, tak tahu kapan akan bertemu Campaka lagi. Ya, aku berada di sebuah kedai di pelabuhan. Sembari makan nasi dengan lauk ikan bakar, kuamati dunia di luar sana. Hmm. Itukah yang disebut kapal? Juga, itukah yang disebut laut, samudera yang luasnya bagai tiada berbatas? Kapal-kapal yang berlabuh itu katanya berasal dari Samudradvipa. Begitulah, Samudradvipa adalah sebuah pulau, yang konon jauh lebih besar daripada Javadvipa. Namun Samudradvipa juga sering disebut sebagai bagian dari Suvarnabhumi, yang begitu luas, tidak kalah luasnya dengan Suvarnadvipa.

Jika mendengar penjelasan orang, yang pengetahuannya sama-sama terbatas seperti aku, ketika mereka sebutkan cakupan wilayahnya, tampaknya antara Suvarnabhumi dan Suvarnabhumi bertumpang tindih, karena disebutkan untuk menyebut tempat yang sama, meski dalam kerinciannya tidak betul-betul sama. Samudradvipa dan Javadvipa misalnya, tak jarang disebutkan sebagai bagian dari Suvarnabhumi maupun Suvarnadvipa. Sejauh kuingat dari pembacaan kitab yang berisikan perbincangan antara Raja Milinda dan Sang Nagasena, yakni Milindapanha, nama Java disebutkan terpisah dari Suvarnabhumi dalam 24 wilayah yang te lah diarungi para pelaut Jambudvipa lama. Jika perbincangan itu sendiri berlangsung 700 tahun lalu, mana yang lebih berlaku? Jika Javadvipa bukan bagian Suvarnabhumi, benarkah Suvarnabhumi tidak mencakup Javadvipa, dan bahkan hanya kata lain dari Samudradvipa? Karena memang di Samudradvipa ini terdapat emas, sedangkan di Javadvipa tidak, padahal Suvarnabhumi berarti tanah emas.

APA pun namanya, aku ingin pergi ke Samudradv ipa, pulau yang disebut sebagai pusat kedatuan Sriv ijaya. Aku juga te lah membaca karya Buddha berbahasa Pali, Mahaniddesa, yang ditulis 300 tahun lalu, bahwa terdapat wilayah bernama Suvarnabhumi dan Wangka yang termasuk kerajaan Srivijaya. Jika aku berjarak lebih dekat daripada penulis kitab-kitab Milindapanha dan Mahaniddesa, mengapa aku tidak mendatanginya sendiri saja? Ingin kuketahui bagaimana caranya orang menambang timah di pulau Wangka, tempat terdapatnya prasasti di Kota Kapur yang konon katanya dapat mengutuk, seperti yang kudengar di kedai waktu itu.

Langit sungguh biru dan kudengar angin. Namun layar- layar kapal itu masih tergulung. Kapan mereka akan berangkat berlayar dan bagaimana cara supaya dapat berada di atasnya? Aku baru saja menghabiskan ikan bakar itu ketika terjadi keributan di depan kedai.

''Orang Sriv ijaya terkutuk! Dasar negeri bajak laut! Dikau sudah mempertaruhkan kapal, dan ternyata dikau kalah! Kenapa dikau tidak sudi menyerahkannya, wahai candala t iada berkasta?''

''Hati-hati bicara orang Shailendra, kita berasal dari wangsa yang sama, jangan masalah keturunan dibawa, karena darah bisa tumpah tanpa ada perlunya!''

Mereka terus beradu mulut dan orang banyak datang mendekat. Para pelaut Sriv ijaya yang berkulit hitam karena matahari dan badannya serba tegap dan kukuh datang di belakang lelaki yang kalah judi itu. Di belakang bandar judi yang menuntut haknya muncul para tukang pukul dengan senjata terhunus. Cahaya matahari berkilauan dipantulkan senjata-senjata itu. Para pelaut kulihat juga sudah menghunus pisau belati mereka yang melengkung itu dari sarungnya. Lelaki perempuan tua muda juga ikut berkerumun. Adu mulut masih berlanjut.

''Ya, kuakui telah kupertaruhkan perahu untuk mengembalikan kekalahan permainan dikau yang curang. Namun setelah kuketahui kecurangan, pertaruhan itu tidak berlaku. Sebetulnya semua kekalahan bisa kuminta kembali, tapi daku hanya mempertahankan kapalku, karena yang lain boleh kuanggap daku tertipu. Namun saat kupertaruhkan kapalku, kupergoki kecurangan dikau, hasilnya tidak berlaku!'' ''Siapa yang curang? Dikau hanya mengarang!''

''Dikau hentikan dadu itu dengan tenaga gaib seperti dikau mau! Ini tidak bisa berlaku!''

''Ya, karena dikaulah yang berusaha menentukan angka dengan tenaga gaib untuk mengembalikan kekalahan! Mengapa dikau takmau mengaku?!''

Aku tahu perdebatan ini tiada akan ada habisnya. Bahkan masing-masing pemimpin itu sudah memberi tanda! Padahal mereka tidak bertarung di sebuah gelanggang terbuka dengan penonton yang jelas batasnya. Mereka berada di antara orang banyak, pedagang dan kuli pengangkut barang mondar- mandir di antara mereka. Perempuan dan kanak-kanak bukan perkecualian pula. Kukhawatirkan keributan ini akan me luas, karena meskipun tiada permusuhan antara Mataram dan Srivijaya, bahkan antara kedua kerajaan terdapat hubungan kekeluargaan, kehidupan sehari-hari di bawah permukaan tidaklah setenang tampaknya.

Perkampungan sekitar pelabuhan ini merupakan pemukiman orang-orang Sriv ijaya. Agaknya telah berlangsung banyak masalah dengan kehadiran orang-orang Sriv ijaya di sana yang belum kuketahui sebab musababnya. Namun aku merasa perkelahian kedua kelompok ini bisa marak menjadi pertempuran dua negara.

Matahari meninggi. Terik membara. Tiada kemungkinan hati mereka akan mendingin. Sebaliknya, setiap saat pertumpahan darah akan segera berlangsung!

(Oo-dwkz-oO)