Nagabumi Eps 74: Dua Igama Seribu Aliran

Eps 74: Dua Igama Seribu Aliran

Campaka pergi keluar sebentar karena pendapatnya diperlukan. Apakah yang sedang berlangsung di Yavabhumipala? Kehidupanku sebagai orang persilatan tidak memberi terlalu banyak kesempatan untuk mempelajari dan memahami cara-cara permainan kekuasaan. Namun kini aku sedang bebas dari perhatianku kepada Campaka. Jadi aku mencoba mengkaji sesuatu.

Aku berada di tahun 796 dan kisah Campaka berlangsung tahun 786. Selama itu Mataram berada di bawah pemerintahan Rakai Panunggalan yang menggantikan Rakai Panamkaran pada 794. Apakah yang dapat kuketahui jika mempertimbangkan kedua sosok itu?

Sejauh kuketahui seperti yang kudengar di sebuah kedai tentang sebuah prasasti di Kalasa yang dibuat tahun 778, disebutkan bahwa Panamkaran sebagai pengganti Sanjaya harus membantu maharaja Sailendra dalam pembangunan candi untuk memuja Dewi Tara. Adapun caranya adalah menyerahkan desa Kalasa itu kepada samgha.1)

Apakah ini berarti Panamkaran telah berganti igama, dari pemeluk Siva menjadi Mahayana? Ada yang mengatakan, hal itu dilakukan atas perintah ayahnya, yakni Sanjaya.

Mengapakah hal itu harus dilakukan? Dari kedai ke kedai, pernah kudengar bahwa wangsa Sailendra adalah bangsa asing dari Jambhudvipa yang merebut kekuasaan dan pemerintahan negara. Sanjaya telah menetapkan Siva sebagai igama negara, sedangkan wangsa Sailendra menetapkan Mahayana

ADAPUN Panamkaran, sebagai putra Sanjaya, mungkin sekali seorang penganut Siva. Ketika ayahnya memerintahkan pembangunan prasasti di Canggal pada tahun 732 dulu, usia Panamkaran mungkin baru 15 tahun. Namun pada saat berkuasa, benarkah tiada sesuatu yang tak dapat dilakukannya untuk melawan kekuasaan wangsa Sailendra itu? Meskipun puteranya, Rakai Panunggalan lahir dari seorang putri Sailendra, dan langsung dianggap memeluk Buddha, apakah keberigama-annya dalam permainan kekuasaan dijalankan dengan rela? Perlawanan, tidakkah juga akan ditularkan Panunggalan ke mana-mana, termasuk kelak mengamanatkannya secara turun temurun kepada para penggantinya?

Namun jika seorang raja boleh dianggap tunduk, apakah juga berarti se luruh anggota keluarga istana, apalagi para pejabat pemerintahan, yang jika tidak terlalu peduli dengan kedaulatan negara, setidaknya akan peduli kepada jabatannya sendiri, juga dengan suka rela akan tunduk?

Itulah pertanyaannya: Tidak adakah sesuatu di luar prasasti? Tidak adakah sesuatu sama sekali di luar kata-kata tertulis? Bahkan, akhirnya, benarkah tidak ada sesuatu lagi di luar kata-kata, dengan apa pun yang dapat dikatakannya?

Dunia tidaklah selalu tenang dan tenteram seperti tampaknya. Mataram dahulu tenang dengan satu igama tetapi banyak dewa, meski kemudian adalah Siva yang lebih sering tersebutkan namanya; tetapi kini terdapat agama lainnya, dengan satu Buddha, yang tetap saja beragam alirannya, meski takberlawanan, yang kemudian menggaungkan Mahayana sebagai yang terbanyak pengikutnya. Sepertinya hanya dua yang terbesar, tetapi di bawah permukaannya berbagai aliran kepercayaan mendapatkan pengikutnya, dan jumlah para pengikut ini tidaklah dapat dikatakan sedikit, sehingga secara keseluruhan jumlah penganut aliran di luar Siva dan Mahayana itu besar juga jumlahnya.

Tentu dunia tidaklah se lalu tenang dan tenteram seperti tampaknya, karena di antara hiruk pikuk atas kepercayaan tentang adanya dunia di luar sana, mereka takjarang saling mengatakan kepercayaan yang lain adalah sesat, dengan berbagai sebutan seperti v idharma, upadharma, apatha, vipatha, dan mithyadusti; di samping tiada kurang-kurangnya yang saling menggabungkan berbagai bentuk aliran kepercayaan ini, tak hanya dua menjadi satu, tetapi bisa tiga, empat, atau lima menjadi satu untuk kemudian terpecah menjadi berbagai sempalan baru lagi; bukan takmungkin pula dengan Siva atau Mahayana di dalamnya.

Keadaan macam ini sudah lama berlangsung di Jambhudvipa, dan ketika tiba di kawasan Suvarnadvipa, berbagai macam aliran kepercayaan yang sudah dianut penduduk Suvarnabhumi dan Javadvipa semakin meramaikan keberagaman maupun peleburannya.

Aku tercenung mengingat kerancuan antara pengakuan manusia atas keberadaan suatu kekuasaan di luar dirinya, dengan tindak penguasaannya sendiri yang mengatas namakan kekuasaan di luar dirinya tersebut. Apa yang dialami Rakai Panamkaran menjelaskan kerancuan tersebut. Namun cerita tentang wangsa Sailendra yang datang dari seberang lautan meragukan diriku. Ini penafsiran dari orang-orang yang membual di kedai untuk mengisi waktu luang dalam kelelahan perjalanan.

Berarti latar belakang pengetahuanku untuk menafsirkan cerita Campaka itu sangat terbatas. Meski begitu tidak akan terlalu salah jika kukatakan, bahwa perangkat keagamaan seperti tanah yang dibebaskan dari pajak demi kepentingan igama itu, telah menjadi sarana pertentangan, juga atas nama igama tersebut.

Maka, tentang Rakai Panunggalan, yang hanya kuketahui sebagai keturunan langsung Sanjaya, dan karena itu berhak atas gelar maharaja, kuyakini kerumitannya menghadapi permainan kekuasaan di istana, ketika di samping masing- masing kelompok mengatas namakan igama untuk mempertegas kekuasaannya, terdapat pula berbagai kelompok yang hanya memanfaatkan pertentangan ini demi kepentingannya sendiri.

Secara garis besar, meski telah kukatakan aku tak yakin betapa wangsa Sailendra itu berasal dari seberang lautan, harus kukatakan bahwa keberadaannya sebagai wangsa adalah nyata. Akan kuketahui kemudian, bahwa di sinilah ternyata hubungan dengan Sriv ijaya berperan. Barulah akan menjadi jelas bagiku nanti mengapa terdapat sikap mendua terhadap kedatuan Sriv ijaya pada orang-orang Mataram, bahwa sebagian memusuhi dan sebagian yang lain menganggapnya kawan.

Di daerah-daerah mana para raja Sailendra dan maharaja itu berkuasa, tidaklah kuketahui dengan pasti, tetapi aku mendengar perbincangan di berbagai kedai itu, bahwa para raja Sailendra karena hubungan persahabatan dengan Srivijaya, dan kelak kekuasaannya atas kedatuan tersebut, berhasil mendapat kedudukan lebih terkemuka di Javadvipa, daripada raja-raja garis keturunan Sanjaya yang lebih tua. Bukan hanya para raja Sailendra sangat menggebu dalam kegiatan igama, terutama pembangunan candi-candi, tetapi dukungan Sriv ijaya dengan segenap kekayaan telah berperan sangat menentukan.9)

"Apalagi raja-raja yang memeluk Siva se lalu bersedia memberikan tanah yang sangat diperlukan untuk pembangunan candi-candi itu," kuingat seseorang berpendapat waktu itu, yang ternyata kemudian disanggah

"Jangan terlalu percaya dengan para juru warta yang membawa gong ke mana-mana menyampaikan warta istana. Tidak ada ceritanya raja me- nyerahkan tanah untuk igama berbeda, biarpun atas perintah maharaja."

Aku masih teringat adegan itu. Jangan menganggap rakyat yang buta huruf tidak bisa berpikir. Betapapun rakyat juga mempunyai otak. Bila kuingat gambar-gambar pahatan di lantai terbawah candi besar yang mengungkapkan kehidupan sehari-hari rakyat sebagai orang biasa itu, maka kusaksikan sebenarnya kemampuan mata yang melihat, seperti mata ketiga di dahi Buddha yang menembus segala rahasia. Tidakkah sejarah sebenarnya memang digerakkan oleh rakyat, meski yang tercatat hanya nama-nama para pemimpin? "Ya, jangan terlalu mudah percaya, siapa pun dia yang berbicara mewakili kepentingan suatu kuasa. Apakah itu pejabat istana maupun pemuka igama, apalagi yang lebih sibuk dengan urusan dunia."

Kemudian tiba-tiba saja Campaka muncul kembali di pintu. Telah kuketahui bagaimana ia bertarung untuk mengukur kemajuannya dalam sepuluh tahun, tetapi tak kusangka bahwa langkahnya telah menjadi begitu ringan sampai takkuketahui kedatangannya di depan pintu. Meski aku telah tenggelam begitu rupa di dalam pikiranku, aku seharusnyalah mendengar langkah-langkah itu. Namun terbukti aku tidak mendengarnya! Siapakah yang telah menjadi gurunya?

NAMUN ia masih harus menceritakan kembali kisah yang telah disampaikan Naru. Kusampaikan kembali seperti telah disampaikan Campaka kepadaku, tetapi dengan cara seperti juru cerita menceritakan tokoh-tokoh, tanpa dirinya terlibat sama sekali dalam peristiwa sepuluh tahun lalu itu.

Orang-orang tercekat. Peristiwa itu berlangsung terlalu cepat. Sebuah bayangan berkelebat ke arah remaja tanpa nama yang kesaktiannya sama sekali takterduga itu, melebihi pendekar manapun yang sepak terjangnya telah mereka saksikan.

Mereka kemudian hanya sempat melihat remaja tanpa nama itu mencabut kedua pedang dari punggungnya, tetapi setelah itu hanya bayangan berkelebat yang terlihat, karena kecepatan pertarungan dalam hujan yang tidak bisa diikuti oleh mata. Hanya terdengar desis dan jeritan kera mencerecek, taklama, karena lantas terdengar jeritan. Disusul bunyi cebur. Baru kemudian terlihat remaja takbernama itu di tepi perahu tambang, mengamati air sambil masih memegang kedua pedangnya, hanya sebentar, karena dari dalam air kemudian menguak bayangan berkelebat, dan menarik remaja itu ke dalam air. Mereka hanya mendengar suara cebur, kemungkinan karena tubuh yang menyambar dan tubuh yang disambar masuk ke dalam air. Setelah itu hanya terdengar kesunyian malam pada sebuah rakit yang terseret arus ke dalam kegelapan. Di atas perahu tambang yang sesak dengan lima pedati adalah para mabhasana dan dua tukang tambang, Radri dan Sonta. Kedua tukang tambang ini, karena pengalaman kerjanya di sepanjang sungai, lengkap dengan bentrokan mereka ketika harus melindungi penyewa perahu tambangnya dari penjarahan para penyamun, segera tahu apa yang telah terjadi.

"Kami tak dapat melihatnya, tetapi jelas remaja tanpa nama itu telah diserang Si Kera Gila," ujar Sonta.

"Bagaimana kalian mengetahuinya? Tidak ada yang dapat kami lihat sama sekali."

"Kukenal cerecek dan jeritan kera dalam permainan ilmu silatnya yang sungguh gila."

"Tetapi remaja tanpa nama itu tinggi sekali ilmu s ilatnya." Menghadapi Si Kera Gila, ilmu silat saja takcukup, karena

Kera Gila terlalu licik dan berbahaya.i

Mereka terdiam. Sadar telah kehilangan seseorang yang semula sangat dan memang bisa diandalkan. Ia memainkan dua pedang di tangannya dengan sangat indah, hanya untuk sejenak, karena untuk selanjutnya seluruh gerakannya taklagi dapat dilihat dengan mata telanjang.

Arus menyeret perahu tambang. Hujan akhirnya berhenti. Para mabhasana yang basah kuyup dan lelah, menggigil tubuhnya karena kedinginan dan ketakutan. Radri dan Sonta dengan sekuat tenaga menjaga arah perahu, dua galah mereka setengah mati bertahan agar perahu takberbalik dengan muatan seperti ini. Memang perahu tidak terbalik, tetapi perahu berputar-putar seperti ada yang mempermainkannya. Arus bergema dalam kegelapan malam. Betapa berat urusan mengantarkan barang-barang untuk upacara penyerahan simaO

"Radri! Tahan di depan!" Sonta berteriak dari belakang. Kedua tukang tambang berhasil menghentikan perputaran,

sehingga perahu meluncur lurus, tetapi memang menjadi lebih cepat. Kini mereka harus berusaha memperlambat kecepatan, karena jika sempat bagian depan perahu menyelusup ke bawah permukaan air, lantai perahu akan miring ke depan, dan segenap pedati dengan isinya itu akan tenggelam ke dasar sungai.

"Tenanglah Bapak, setelah jeram satu ini, sungai akan tenang kembali," ujar Radri, yang di antara kilat halilintar, sempat melihat betapa para mabhasana wajahnya pucat pasi.

"Kami percaya kepada kalian, Radri dan Sonta, tetapi masih jauhkah pelabuhan sungai tempat dari mana kita akan menuju ke Ratawun?"

"Di depan kelokan itu Bapak, tenanglah, wilayah ini berada dalam kekuasaan kami!"

Naru tertegun. Cara Radri mengucapkan kata kekuasaan kami itu tidak seperti ucapan seorang tukang perahu tambang yang lugu. Namun sejak awal sebenarnya Naru sudah tercengang melihat keberanian Radri dan Sonta ketika menghadapi Gerombolan Kera Gila. Meskipun jurus-jurus yang memanfaatkan galah dan dayung merupakan keterampilan bela diri yang umum di antara para tukang perahu di sepanjang sungai, karena di sekitar pelabuhan memang selalu ada perompak sungai mengincar barang-barang dagangan, Naru melihat keberanian dan keterampilan mereka lebih dari biasa. Keduanya selalu tahu arah serangan para perompak itu, tempat mereka selalu dapat melumpuhkannya dengan menghajar kepalanya begitu muncul dari dalam air.

PARA mabhasana yang lain juga saling berpandangan dengan Naru. Mereka dengan cepat segera menangkap gelagat. Kedua tukang perahu yang sudah ikut berjuang sehidup semati bersama mereka itu mungkin saja sebetulnya berjuang untuk diri mereka sendiri! Mereka menghadapi Gerombolan Kera Gila dengan gagah berani, bukan karena jiwa kepahlawanan untuk membela penumpang atau penyewa perahu mereka sampai mati, tetapi sebagai perompak lain yang ingin menguasai barang jarahan yang sama. Bedanya, jika Gerombolan Kera Gila mengerahkan segalanya sebagai bagian dari permainan kekuasaan di istana, maka Radri dan Sonta hanyalah perompak biasa di luar perma inan itu, yang dalam keadaan biasa belum tentu bertahan ketika Gerombolan Kera Gila dikerahkan semuanya seperti itu. Bahkan apalagi ternyata Si Kera Gila pun turun tangan sendiri.

Namun kehadiran remaja tanpa nama yang oleh Naru semula dipanggil Bocah, dan kemudian berubah menjadi Tuan itu, ternyata mengubah segalanya. Seluruh rencana mengambil alih barang-barang upacara penyerahan sima bukan saja takkunjung berhasil, tetapi bahkan Gerombolan Kera Gila yang diandalkan itu pun ternyata nyaris musnah. Kini, dengan lenyapnya Gerombolan Kera Gila, begitu pula Si Kera Gila itu sendiri bersama remaja takbernama tersebut, tak ada lagi yang bisa menghalangi Radri dan Sonta menguasai harta karun itu.

Gerim is turun rintik-rintik ketika perahu tambang melewati kelokan, dan lantas mendekati tepian. Hanya kegelapan lamat- lamat memperlihatkan dinding batu. Naru tercekat.

''Di mana pelabuhan itu Radri? T idak ada apa-apa di sini!''

Sonta di bagian belakang perahu bersuit. Maka sebentar kemudian dari balik batu-batu besar muncul sekitar duapuluh orang yang semuanya hanya berkancut dan bertelanjang dada. Tidak ada tanda-tanda yang membedakan mereka dengan orang biasa, kecuali wajah mereka yang tegas dan kejam serta mata mereka yang nyalang. Mereka membawa bermacam-macam senjata di tangannya. Mulai dari golok biasa, kapak bertali, tombak pendek, maupun penggada batu yang bisa menghancurkan kepala.

Para mabhasana mencabut golok mereka. Radri berbalik menghadapi para mabhasana dan tertawa terbahak-bahak. ''Huahahahaha! Tuan-Tuan, menyerahlah jika tidak ingin kehilangan nyawa! K ini barang-barang di dalam pedati ini milik gerombolan Radri dan Sonta!'' 

''Gerombolan apa? Apakah kalian juga penyamun wahai Radri dan Sonta?''

''Benar sekali! Huahahahaha! Gerombolan Kera Gila telah musnah! Kini tiba giliran kami menguasai sungai ini!''

Naru mengacungkan goloknya.

''Radri dan Sonta, kalian tahu bahwa kami hanyalah para mabhasana, hanyalah para penjual pakaian, yang kadang merangkap sebagai pawdihan (tukang jahit), kadang juga menjadi manglakha (tukang celup kain warna merah), atau juga manila (tukang celup kain warna biru). Artinya kami tidak mahir berolah senjata dan karena itu tentu akan dengan mudah kalian musnahkan. Namun ketahuilah Radri dan Sonta, meskipun kami tampaknya lemah dan tanpa daya, kami tidak memiliki jiwa tikus seperti kalian! Jadi majulah kalian para astacandala! Jika kami mati, sudah jelas jiwa kami mendapat tempat yang lebih tinggi dari jiwa kalian!''

Radri tertawa makin keras.

''Jiwa pahlawan! Huahahahahaha! Jiwa pahlawan! Huahahahahaha! Wahai Sang Buddha! Ampunilah hamba! Huahahahahaha!''

Suaranya yang keras terpantul pada dinding-dinding tebing. Gerim is kembali menjadi hujan. Para mabhasana, yang telah memperlihatan keteguhan jiwa dalam mengabdi negara, menanti serangan dengan dada berdebar-debar.

(Oo-dwkz-oO)