Nagabumi Eps 72: Mereka Berbahasa Seperti Burung

Eps 72: Mereka Berbahasa Seperti Burung

Di luar pondok kulihat para pengawal rahasia istana sedang melatih banyak orang memainkan senjata. Beberapa pengawal yang lain, tampak membentuk lingkaran masing-masing untuk mengajari mereka berbagai cara tipu daya dalam tugas-tugas rahasia. Para pengawal rahas ia istana, dalam busana resmi mereka, berbusana serba putih; tetapi jika mereka bertugas mencari seorang pembunuh bayaran misalnya, yang bahkan seluruh hidupnya dise laputi rahas ia, mereka tentu harus menjalankannya secara rahasia pula, artinya berbusana sesuai dengan tuntutan tugas-tugas rahasia mereka. Demi tugas- tugas itulah mereka mempelajari berbagai macam tipu daya, yang hanya mungkin dikuasai berdasarkan pengenalan atas berbagai jenis pengetahuan pula, sehingga memang bukanlah hanya permainan senjata yang harus dikuasai seorang pengawal rahasia istana.

Pada dasarnya tugas pengawal rahas ia istana adalah melindungi raja, bukan hanya sebagai pribadi, tetapi sebagai bagian dari istana; sedangkan istana adalah pusat pemerintahan seluruh wilayah kerajaan, maka menjaga dan mengawal segenap kepentingan istana, yang berarti menjaga dan mengawal segenap pribadi pendukung istana, jadi bukan hanya raja, menjadi tugas utama. Dengan menjaga dan mengawal, artinya segala ancaman yang terarah ke istana mesti terendus, tentu untuk segera dimusnahkan secepatnya. Jika kini, di bekas pemukiman rahasia Naga Hitam yang tersembunyi ini, mereka seperti membangun pasukan tambahan, tentulah karena ancaman terhadap kepentingan istana diandaikan meningkat. Namun aku tidak akan menanyakan apapun terhadap Campaka sebelum ceritanya tentang   segala   kejadian    sepuluh    tahun    yang    lalu dise lesaikannya.

''DEMIKIANLAH sahaya terus melaju Tuan, tanpa bisa mensyukuri sejuknya angin, cerlang lembut matahari, maupun keindahan sayap kupu-kupu kuning yang beterbangan di antara bebungaan tapak dara yang merah maupun putih di kiri dan kanan jalan. Sebetulnya perut sahaya sangat lapar, tetapi tiada lain yang dapat sahaya lakukan se lain melaju ke Ratawun. Tempat itu pernah sahaya lewati sebelumnya, ketika menuju tempat sahaya bertemu dengan Tuan di tepi sungai itu. Letaknya di celah antara dua gunung, maka dari tempat sahaya melaju seolah-olah Ratawun menjadi tempat asal matahari terbit. Tempat itu memang subur Tuan, berada di dataran tinggi, sehingga ladang-ladangnya berada di tanah yang miring, tetapi jika tanah yang akan diresmikan sebagai tanah bebas pajak karena akan dibangun candi di atasnya, tentulah suatu tanah yang luas dan datar.

''Sahaya melaju dan tidak menemui halangan sampai menjumpai sebuah anak sungai. Tidak ada pelayanan perahu tambang di sini, karena anak sungai ini memang tidak begitu besar sehingga memerlukan jasa pelayanan penyeberangan, tetapi tidak juga berarti anak sungai ini dangkal sahaja. Hanya karena ini sebuah wilayah  yang sepi dan jarang dirambah manusia, maka tidak terdapat kegiatan apapun sepanjang perjalanan sahaya sampai sungai ini. Namun setelah menyeberang, sahaya tahu terdapat pemukiman yang ramai tempat sahaya dapat sekadar mengisi perut, dan setelah itu pula jalan akan mendaki. Sekarang sahaya harus menyeberangi sungai ini dahulu.

''Di tepi sungai sahaya berpikir, apakah sahaya akan mengambil jalan memutar untuk mencari tempat dangkal, ataukah menyeberang saja dan menyuruh kuda sahaya berenang. Sahaya lihat permukaan sungai itu sangat tenang, tetapi pengalaman membuktikan janganlah menduga segala sesuatu hanya dari permukaannya saja. Sebetulnya yang sahaya pikirkan adalah kemungkinan serangan, karena saat itu tentu saja sahaya belum memiliki ilmu meringankan tubuh sama sekali agar dapat melenting ke atas dengan ringan seperti Tuan. Namun akhirnya sahaya menyeberang, karena tidak memiliki jalan keluar yang lain, sedangkan waktu akan terus merambat berkepanjangan. Sampai di tengah, sungai memang menjadi sangat dalam dan kuda sahaya pun mulai berenang. Untunglah kuda bisa berenang.

''Memang kemudian terjadi sesuatu, air sungai itu ternyata tiba-tiba pasang. Ini memang musim hujan, jadi meskipun pagi sedang menjadi benderang, tentu air datang dari atas gunung. Memang permukaan air tidak naik begitu tinggi sehingga keluar dari sungai, hanya saja arusnya menjadi kuat sekali, sehingga sahaya dan kuda yang sahaya tunggangi itu terseret arus dan tak berdaya bertahan di tempat. Sebaliknya, karena arus yang begitu deras dan datangnya tiba-tiba itu, sahaya dan kuda itu lantas terpisah. Sahaya tak melihat lagi kuda itu, hanya mendengar ringkiknya di kejauhan.

''Sungai itu menyeret sahaya cukup jauh, melewati berbagai wilayah tanpa bisa sahaya atasi. Sahaya tak tahu berapa banyak air telah tertelan oleh sahaya tanpa sengaja, karena meskipun sahaya tahu caranya berenang dan karena itu tetap mengambang, arus yang kuat tetap saja menimbulnenggelamkan kepala sahaya. Setiap kali kepala sahaya timbul, sahaya melirik ke tepian sungai, dan akhirnya suatu ketika sahaya lihat seorang anak kecil sekitar usia 12 tahun kebetulan sedang menuju ke tepi sungai.

''Sahaya melambainya sambil berteriak, 'Hooi! Tolong! Hoooi!', dan anak itu pun terlihat berlari mengikuti sahaya sambil juga berteriak-teriak dalam bahasa yang tidak sahaya kenal. Anak kecil itu mencericit seperti burung dan berlari cepat sekali berusaha mendahului arus. Lantas entah dari mana, karena sahaya tidak dapat melihat terlalu jelas dengan kepala timbul tenggelam seperti itu. Kemudian sejumlah anak yang lebih dewasa, remaja usia 14 atau 15 tahun, tampak lari lebih cepat lagi, bergegas mendahului. Mereka semua juga mencericit-cericit seperti burung.

Ternyata mereka menuju ke sebuah jembatan di atas sungai yang terbuat dari sulur-sulur tanaman. Jembatan itu tidak terlalu tinggi dari permukaan sungai, bahkan dari bagian tengahnya kita seperti bisa menyentuh permukaan sungai yang sedang tinggi seperti itu jika bertiarap dan mengulurkan tangan dari celah di antara sulur-sulur itu. Lebar jembatan hanya seluas jalan setapak dan tidak rata, karena hanya memanfaatkan sulur-sulur terpentang. Mereka yang menyeberang mesti berpegangan pada sulur-sulur lain yang juga merentang ibarat jala di kanan kirinya. Di sanalah anak- anak itu berada, mereka memegangi kedua kaki anak kecil yang melihatku tadi. Dengan bergelantungan seperti itu tangannya terulur siap menangkap diri sahaya. Maka sahaya pun mengulurkan tangan, jika kami luput saling menangkap, entah ke mana lagi banjir bandang ini akan membawa sahaya.

"Kedua tangan kecil itu berhasil menangkap satu tangan sahaya yang terulur. Untunglah sahaya masih mengarahkan diri agar terseret arusnya tepat di bawah anak-anak itu. Begitu tertahan, arus sungai takberhenti menyeret tubuh yang masih terendam air. Begitu kuatnya arus sehingga hampir saja pegangan kedua tangan anak itu terlepas. Ia bertahan dan teman-temannya berteriak mencericit riuh sekali. Anak itu memegang tangan kiri sahaya, maka sahaya angkat lagi tangan kanan untuk meraih sulur-sulur yang menjadi jembatan itu. Arus begitu kuat rupanya, sampai jembatan itu seperti tertarik oleh tubuh sahaya. Sentakan tangan kanan sahaya itu rupanya justru menambah tekanan daya tarik secara tiba-tiba, sehingga bukannya sahaya berhasil meraih sulur-sulur, sebaliknya pegangan mereka kepada kaki anak itu terlepas, dan pegangan anak itu karena terkejut juga menjadi terlepas. Kami berdua segera terseret arus ke sungai yang lebih luas, keluar dari anak sungai yang menyeret sahaya.

"Di bagian sungai yang luas, pengaruh banjir bandang taklagi terasa, tetapi tetap merupakan perjuangan untuk mencapai tepian, apalagi karena sahaya harus menolong anak yang sesungguhnyalah telah berjuang keras untuk menolong sahaya itu. Sebetulnya ia juga pandai berenang, tetapi sahaya lihat ia terseret arus, jadi sahaya berenang sekuat tenaga agar bisa menyusulnya. Namun tenaga sahaya sudah habis, dan anak yang kepalanya kini timbul tenggelam itu semakin jauh saja rasanya. Hati sahaya tercekat, ia tampak jauh sekali. Apakah sahaya bukan hanya akan gagal menjalankan tugas, tetapi juga akan mengorbankan nyawa orang dengan sia-sia? Sahaya menjadi lemas karenanya...

"Pada saat sahaya nyaris menyerah karena putus asa, pada permukaan air itu sahaya saksikan sepasang bayangan berkelebat mendekati kami. Satu orang melesat ke arah anak itu, dan satu orang lagi mendekati sahaya. Mereka melesat bagaikan tanpa berpijak kepada apapun selain kepada air. Seluruh tubuh mereka terbalut busana yang jelas memudahkan mereka dalam pergerakan, terutama pergerakan dalam pertarungan, yang belum pernah sahaya lihat dikenakan orang sebelumnya. Kaki mereka juga terbungkus sesuatu yang pernah sahaya dengar disebut orang sebagai sepatu dan sepatu yang tampaknya terbuat dari kain itu tidak terlihat basah sama sekali.

"Rambut mereka panjang, yang seorang mengurai rambutnya di belakang, yang lain mengikatnya dengan sangat rapi. Akan terlihat nanti betapa keduanya adalah suatu pasangan, yang rambutnya terurai segera menyambar anak itu dan membawanya ke tepi, ternyata ia seorang perempuan; yang rambutnya terikat adalah seorang pria yang juga dengan cepat menyambar sahaya, begitu ringan tampaknya diri sahaya baginya, dan meski menjejakkan kaki di air, permukaan air itu bergeming sama sekali. Namun mereka tidak terbang, mereka berlari, meski tepatnya memang melesat. Begitulah pasangan itu me lesat dan berkelebat dari tengah sungai ke tepian membawa diri sahaya dan anak itu, Tuan. Anehnya, sahaya melihat beberapa gerakan mereka mengingatkan sahaya akan gerakan Tuan.

"Kami direbahkan di tepian sungai. Luar biasa bagaimana pasangan pendekar ini melenting ke atas tebing, seolah berlari miring di dinding tebing tanpa beban sama sekali. Waktu kami digeletakkan, anak-anak yang lain sudah berada di sana dan mengerumuni kami. Ternyata mereka saling mengenal dan bahasa mereka mencericit seperti burung! Anak-anak remaja itu menjura dengan hormat dan ketakutan, meski keduanya tidak tampak marah sama sekali. Lantas, setelah melihat sahaya baik-baik saja, bercakaplah kami dalam bahasa Melayu.

"'Siapakah Anak? Mengapa bisa terseret arus seperti ini?' "Maka sahaya ceritakan saja secara ringkas tentang tugas

yang sahaya emban tanpa menceritakan kembali pernik-

perniknya, dan mereka pun saling berpandangan.

"'Anak telah kehilangan kuda dan Anak juga telah terseret arus begitu jauh dari arah yang Anak tempuh, tentu Anak tidak dapat sampai ke tujuan dalam waktu yang singkat, bahkan jauh lambat. Apakah kiranya yang Anak akan lakukan?'

"Sahaya hanya tertunduk sedih, ingin menangis, tapi sahaya tak mau menangis, sahaya tidak boleh berhenti berusaha. Sahaya pun bangkit dan mengucapkan terima kasih kepada mereka berdua, juga kepada anak kecil yang berusaha keras menolong sahaya itu. Setelah minta maaf, sahaya pun pamit untuk pergi.

"'Nanti dulu Anak, akan menggunakan apakah Anak kiranya jika kuda Anak pun belum jelas nasibnya?"'

''Sahaya tidak punya cara lain selain berjalan kaki, wahai Puan dan Tuan, sahaya tidak mempunyai ilmu meringankan tubuh yang akan membuat sahaya mampu berlari secepat angin '

'''Kalau begitu, Anak, bagaimana jika Anak kami bopong sahaja. Semoga dengan begitu Anak dapat tiba di tempat secepatnya.'

'''Ah, sahaya tidak ingin menyusahkan Puan dan Tuan sekalian. Sahaya sudah terlalu banyak berutang.'

''Lantas pendekar yang perempuan berkata dengan lembut tetapi isinya tegas.

'''Anak, sesama manusia kita harus saling menolong, Anak tidak usah sungkan-sungkan menerima bantuan kami. Anak telah berusaha menolong cucu murid kami. Sungguh kami sangat menghargainya. Terimalah balas budi kami, bukan seperti membayar utang, karena barangkali di masa depan kami juga membutuhkan pertolongan Anak.'

''Dengan kata-kata sebijak itu, sahaya tidak dapat menghindar lagi, dan segera sudah berada dalam bopongan pendekar yang pria. Sebelum berangkat, dengan tenaga dalamnya sudah dibuatnya kering baju sahaya yang basah. Lantas mereka berdua melenting ke atas, untuk segera melesat dari pohon ke pohon. Seperti di atas permukaan laut, mereka sungguh seperti berlari di atas pucuk-pucuk pohon, meskipun tentunya lebih tepat mereka melesat dan berkelebat. Apabila pohon-pohon habis maka tetap saja mereka dan sahaya yang dibopong menjadi hanya bayangan yang berkelebat.

''Dibopong oleh mereka berarti sahaya mengalami kecepatan seperti mereka. Apabila kemudian kami melewati pemukiman, mereka melesat di atas atap-atap rumah, maka kecepatan itu terlihat dari lambatnya gerak yang terbiasa sahaya saksikan sebagai gerak keseharian di bawahnya. Orang-orang sahaya lihat bergerak seperti sangat lamban. Apabila kami terpaksa lewat di dekat mereka di bawah, seolah-olah sahaya dapat menyentuh mereka tanpa mereka ketahui karena kecepatan yang sangat tinggi itu.

''Dengan kecepatan seperti itu, sebetulnya kami dapat segera sampai ke Ratawun. Namun juga dengan kecepatan seperti itu, segala sesuatu tampak lebih jelas, sementara kami sendiri tiada akan dapat terlihat. Sekarang sahaya mengerti bagaimana para pendekar dapat menolong mereka yang lemah dan menderita tanpa harus menonjolkan diri, yakni karena mereka memang mampu bergerak secepat kilat takterlihat lantas pergi lagi.

''Itulah yang terjadi di tengah jalan, ketika kami jumpai sejumlah orang sedang menganiaya seseorang yang sudah babak belur. Meski belum jelas masalahnya, betapapun dalam keadaan banyak orang menganiaya satu orang yang sudah tidak berdaya bukanlah suatu keadilan. Artinya meskipun orang itu mungkin pencuri, penganiayaan tanpa peradilan lebih biadab daripada pencurian itu sendiri, apalagi penganiayaan sampai orangnya mati. Menyaksikan penganiayaan tersebut, kedua pendekar yang sedang melesat itu saling memandang, dan keduanya memang segera saling mengangguk penanda kesamaan pengertian. Maka dengan cepat pasangan pendekar itu bergerak, tentu sambil sa lah satunya masih membopong sahaya, untuk menotok jalan darah para penganiaya itu.

''Mereka tentu tak tahu apa yang telah menimpa mereka. Totokan jalan darah itu akan membuat mereka berdiri seperti patung dalam keadaan seperti ketika mereka ditotok, setidaknya sampai matahari berada di atas kepala. Pasangan pendekar itu dalam pandangan sahaya bergerak dengan kecepatan seperti dalam kehidupan sehari-hari, hanya saja penganiayaan itulah yang tampak sangat lamban, terlalu lamban, selamban-lambannya lamban, bagaikan tiada lagi yang lebih lamban, sehingga pasangan pendekar itu dapat menotok jalan darah mereka pada tempat yang dikehendaki dengan tepat.

''Begitulah penganiayaan itu berubah menjadi penganiayaan yang dipatungkan; yang sedang menggebuk tangannya berhenti di udara sambil masih memegang penggebuk, yang sedang menendang berdiri dengan satu kaki dan tentu akan jatuh jika tiada keseimbangan, tentu tetap seperti patung menendang, tetapi yang sedang digeletakkan. Setelah pasangan itu melesat jauh, sahaya masih sempat menyaksikan betapa orang yang teraniaya tadi merangkak pelahan di antara para penganiaya yang mendadak kaku seperti patung.

''Dalam keadaan seperti itulah peristiwa tersebut ditinggalkan. Baru sahaya sadari sekarang bagaimana pengertian betapa seorang pendekar itu berkelebat dari tempat yang satu ke tempat yang lain tanpa pernah terlihat. Suatu pengertian yang ternyata memang nyaris berlaku dalam artinya tanpa kiasan.

PERISTIWA itu membuat sahaya berpikir, 'Ah, seandainya diri sahaya adalah seorang pendekar.' Sebagai perempuan sahaya telah mengalami dan melihat sendiri bagaimana kaum sahaya tidak dipentingkan, harus dikalahkan, dan jika melawan haruslah ditindas sebagai pembelajaran. Jika sahaya seorang pendekar, betapa sahaya dapat membalik keadaan, menunjukkan apa saja yang dapat dilakukan seorang perempuan, dan terutama melawan penindasan.

"Namun mimpi sahaya tentu hanya akan tetap tinggal sebagai mimpi, karena siapalah kiranya pendekar besar yang sudi menerima sahaya sebagai muridnya? Jika hanya sembarang guru silat di sembarang kampung, mereka semua pernah sahaya kalahkan di pasar malam, sayembara kerajaan, maupun dalam pesta-pesta kenegaraan. Sahaya ingin menjadi perempuan pendekar yang mempunyai tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh, agar sahaya dapat bergerak secepat kilat dan mampu melumpuhkan lawan, sehingga sahaya dapat membantu siapapun yang lemah, tiada berdaya, tertindas, dan membutuhkan pertolongan..."

Campaka membasahi lagi tenggorokannya dengan air kelapa muda dari tabung bambu. Dari tempatku berbaring, kulihat matanya menyala-nyala.

(Oo-dwkz-oO)