Nagabumi Eps 71: Perjalanan Ketegangan

Eps 71: Perjalanan Ketegangan

"Orang-orang desa! Dasar tidak tahu aturan! Kenapa pagi buta sehabis pesta mau membunuh seorang perempuan?"

Suara itu terdengar penuh wibawa. Seorang lelaki paro baya dengan kumis melintang yang sudah beruban muncul dari balik kerumunan manusia. Busana wdihan dan hiasan di lengannya menunjukkan dia adalah petinggi desa. Rambutnya yang panjang dan juga beruban dijepit hiasan kulit penyu di sisi kiri dan kanan. Selebihnya jatuh menutupi tengkuknya.

Orang-orang itu tersentak.

"Perempuan? Kami tidak tahu jika dia perempuan, wahai pamget Subhagi."

"Makanya jangan sembarang membunuh orang, hai Jakhara! Meskipun orang ini laki-laki juga tidak bisa dibunuh seenaknya seperti itu. Siapa yang telah dibunuh oleh perempuan ini?"

Bukankah Tuan masih ingat bahwa sahaya menggulung rambut sahaya dan menutupinya dengan serban? Dada sahaya juga tertutup kain melintang, dan karena naik kuda maka kain yang sahaya kenakan sahaya gulung sahaja seperti kancut. Dengan dua pedang di punggung sahaya dan lari kuda yang secepat itu tentu sahaya selintas pintas, dalam kegelapan pula, akan disangka seorang lelaki.

Aku ingat, saat itu pun sebagai remaja 15 tahun aku sudah sangat terpesona kepadanya.

Orang-orang desa itu saling berpandangan Tuan. Memang benar sejumlah orang bergelimpangan, memang benar telah terjadi kepanikan, tetapi tidak ada kejahatan apa pun yang membuat seorang perempuan pada pagi buta harus dibunuh.

"Nah, bingung kalian bukan? Dasar orang desa! Mau main bunuh seperti binatang tanpa kejelasan! Bahkan binatang hanya menerkam demi berlanjutnya kehidupan!"

Mereka semua terdiam, dan pegangan tangan di lengan sahaya merenggang, sampai akhirnya mereka lepaskan sama sekali.

"Mau apa lagi kalian? Pulang sekarang dan tidur! Masih banyak lagi upacara harus kita jalankan! Serahkan urusan ini kepadaku!" Mereka semua pergi, menghilang dalam kegelapan di balik rumpun bambu, tidak ada seorangpun terluka parah. Tinggal pamget bernama Subhagi itu bersama sejumlah pembantunya. Ia menatap sahaya dengan tajam dalam kegelapan.

"Perempuan gagah," katanya, "apakah yang sedang dikau kerjakan sehingga melaju begitu rupa seperti dikejar kematian?"

Sahaya ceritakan segalanya kepada pamget itu Tuan, bahwa Tuan mengutus sahaya menyampaikan berita kepada mereka yang menanti benda-benda upacara penyerahan sima di Ratawun.

Pamget itu manggut-manggut.

"Urusan sima ini berlangsung di mana-mana. Tanah diserahkan dengan suka rela kepada kerajaan. Masalahnya, kalau tidak diserahkan, apakah kerajaan tidak akan datang menyerbu dan merebutnya begitu saja atas nama keadaan perang?"

Ia tampak merenung.

"'DI desa ini, desa Kamalagi, sebagian wilayah kami juga dipertanyakan, tapi sampai hari ini kami tetap bertahan. Daku mempercayai dirimu, wahai perempuan, apakah dikau tahu urusan sima yang melibatkan dirimu itu tanah untuk candi Siva atau Mahayana?"

"'Tidaklah sahaya mengetahui masalah seperti itu pamget, karena sahaya bukan pemeluk Siva maupun Mahayana, bahkan sahaya tak tahu bedanya.'

"Harus sahaya katakan kepada Tuan sekarang, bahwa sahaya bukan tak tahu bedanya Siva dan Mahayana, bahkan sebenarnyalah tahu belaka bagaimana keduanya terhadirkan bersama di Yavabhumipala, tetapi sahaya tidak ingin memberi jawaban yang salah, jika ternyata ada masalah di antara para pemeluknya, dan sahaya tidak pernah tahu pamget Subhagi itu ada di pihak siapa."

"Dikau telah melakukan hal yang tepat Campaka." "Begitulah Tuan, akhirnya sahaya dipersilahkan

meneruskan perjalanan, tetapi sebelum itu ia bertanya tentang diri Tuan."

"Hah? Tentang diriku? Apa maksudmu Campaka?"

"Pamget Subhagi itu bertanya: 'Jadi Pendekar Tanpa Nama itu memang ada? Kukira sebelumnya hanya dongeng sahaja."'

Bukankah sudah kukatakan betapa dunia persilatan bagi orang awam hanyalah sebuah dongeng?

"Sahaya hanya bisa menjawab, 'Setahu sahaya pendekar itu memang tanpa nama, tetapi dongeng apa saja yang telah beredar tentang dirinya, sahaya justru tidak mengetahuinya pamget Subhagi.'

"'Siapalah yang bisa terbang di udara seperti itu jika bukan seorang pendekar? Jika dia memang tidak bernama tentulah dia yang telah disebut dari kedai ke kedai sebagai Pendekar Tanpa Nama."

"Begitulah Tuan, sahaya pun melanjutkan perjalanan, ketika pagi masih saja gelap meski ayam jantan telah berkokok karena matanya menangkap cahaya yang takdapat dilihat manusia itu. Bulan sabit masih terlihat bagaikan sampan melayari langit, tetapi sahaya tidak berpeluang untuk menikmatinya, karena kuda hitam yang berlari kencang sekali itu menuntut perhatian sepenuhnya agar bisa dikendalikan. Ratawun masih satu hari perjalanan lagi jauhnya, tetapi dengan perhitungan bahwa kuda ini hanya perlu satu kali istirahat dalam perjalanan, dengan lari sekencang ini sahaya harapkan waktunya akan menjadi lebih singkat. Bukan masalah kuda, melainkan apa saja yang mungkin menghadang, menjadi pikiran di kepala sahaya sepanjang perjalanan."

"Mengapa dikau berpikir seperti itu, Campaka?"

"Saat itu tahun 786 bukan? Kekuasaan baru berpindah dua tahun dari Rakai Panamkaran kepada Rakai Panunggalan. Di antara mereka tak pernah kita dengar masalah permusuhan, tetapi di antara para pengikut yang masing-masing punya kepentingan, sering berlangsung perma inan yang takpernah kita duga akan bisa dilakukan."

"Permainan apakah misalnya itu Campaka?"

"Sahaya bukan seorang pengamat permainan kekuasaan, Tuan, tetapi saya duga bahwa para pengikut Rakai Panamkaran yang sebelumnya dapat menimba keuntungan dari jabatan, tentu ingin membuktikan betapa ketiadaan peran mereka akan meningkatkan gangguan keamanan, dan itulah memang yang terjadi kemudian.

"Menjelang hari terang tanah, sahaya mesti melewati daerah sepi yang tidak pernah dilewati orang, tetapi merupakan satu-satunya jalan tersingkat ke Ratawun, yang harus sahaya lalui jika ingin tiba dengan segera. Jika me lalui jalan memutar, justru karena penuh dengan pemukiman yang ramai, sahaya justru takut banyak hal akan menghambat. Terutama jika diketahui bahwa sahaya adalah seorang perempuan yang berjalan sendirian, Tuan tahu, sahaya takut harus membunuh banyak orang.

"JADI saya melaju melewati daerah sepi itu, yakni sebuah daerah gersang yang sulit ditanami dan memang kering kerontang nyaris tanpa sumber air, sehingga jarang sekali menjadi tempat pemukiman, kecuali bagi orang-orang tersingkir, sempalan masyarakat yang dibedakan, mereka yang direndahkan dan disebut astacandala, termasuk kaum apatha, penganut kepercayaan yang dianggap sesat. Namun mereka yang saya sebutkan ini tidaklah terlalu berbahaya, karena mereka tidak akan mengganggu orang lain; yang saya khawatirkan adalah para begal yang berasal dari pasukan Rakai Panamkaran yang sengaja menyingkir untuk mengacau.

Jika mereka ketahui perjalanan sahaya berhubungan dengan upacara penyerahan sima, tentu mereka sangat berkepentingan untuk menggagalkannya.

"Namun sahaya harus melalui daerah sepi itu dan sahaya melaju. Sungguh suatu pemandangan yang tidak indah. Hari mulai terang dan sahaya lihat mereka sudah terbangun dan keluar dari rumah, yang bagi sahaya tidaklah bisa disebut rumah, mungkin gubuk, tapi lebih buruk dari gubuk, seolah hanya batang-batang daun kelapa saja yang didirikan saling menyilang, sekadar cukup untuk tidur sejumlah manusia di bawahnya, yang tentu tidak akan berarti apa-apa, karena tempat itu tak bisa menahan angin, hujan, maupun panas matahari. Sebuah tempat tanpa daya bagi orang-orang tidak berdaya.

"Dari jauh sahaya saksikan mereka hanya berjongkok sahaja di luar gubuk-gubuk mereka yang jauh dari layak itu. Tidak terlihat sesuatu yang direbus atau dimasak. Tidak ada makanan dan tidak ada air. Tidak ada semangat dan di mata mereka juga tidak ada cahaya. Bagaimana mereka berada di sana dan mengapa sampai bertampang begitu rupa saat itu tidaklah dapat sahaya perkirakan, sahaya hanya merasa terharu melihat bagaimana mereka serentak berdiri dan mengulurkan tangan melihat sahaya akan melewati mereka. Namun sahaya tetap melaju cepat sekali, karena yang sahaya pikirkan hanyalah tiba dengan segera di Ratawun, meski tetap saja sahaya tangkap dan saksikan pandangan mata mereka yang tanpa daya itu. Benarkah mereka begitu berbeda dengan yang lainnya sehingga begitu layak dibedakan dengan cara begitu rupa?

"Setelah sahaya lewati pemukiman mengenaskan itu, dua orang berkuda tampak mengejar sahaya. Sahaya tidak habis mengerti darimana mereka datang, karena pemukiman yang baru saja sahaya lewati itu hanya memperlihatkan orang- orang yang lemas dan lemah, orang-orang tua, kanak-kanak penyakitan yang menggelantung di bahu perempuan tanpa daya. Darimana kedua penunggang kuda itu datang? Mereka tampak tegap dalam cahaya pagi, sinar matahari menyilaukan yang semburat dari ce lah dua buah gunung itu menampakkan dada mereka yang bidang dan bergambar rajah yang belum dapat sahaya lihat dengan jelas.

"Mereka tampaknya datang dari arah kanan dan kiri desa, bergabung searah ketika mengejar sahaya. Keduanya berserban putih, berkancut putih, pada pinggang masing- masing tergantung sarung pedang yang lebar sekali. Sahaya mengerti jenis pedang yang ada di dalamnya, dengan hanya satu sisi tajam, karena pungggungnya jelas cukup tebal. Sahaya mengenal senjata macam itu, yang biasanya disebut kelewang, karena ayah maupun suami saya pernah membawanya ke rumah dan membicarakannya. Dari pangkal ke hulu, bidang kelewang itu makin lebar, sebelum akhirnya meruncing juga. Mereka memainkan kelewang itu dengan ilmu kelewang yang katanya dibawakan seorang pelaut dari utara, tetapi kedua penunggang kuda itu tampaknya orang-orang Javadvipa sahaja. Hanya busana mereka yang serba putih itu membuat diri sahaya bertanya-tanya.

"Di luar pemukiman jalan mendaki, naik ke atas bukit, matahari yang baru muncul belum membuat semuanya menjadi terang. Ingin rasanya sahaya menghilang dan bersembunyi untuk menghindari persoalan, tetapi sahaya juga ragu apakah bisa bersembunyi di tempat terbuka seperti ini. Dari mana pun langkah sahaya teramati dengan jelas. Pernah sahaya coba memperlambat lari kuda agar mereka menyalip sahaya, tetapi ketika kuda sahaya berlari lebih lambat, mereka pun memperlambat lari kuda mereka. Jelas sahaya tidak dapat menghindar, kecuali melaju lebih cepat sampai takdapat disusul lagi. Masalahnya, apakah mungkin mereka hanya berdua? Jika mereka berkawan, kemungkinan besar mereka akan mencegat di depan.

"Maka sahaya menghindari gerumbulan semak-semak, hutan kecil, kebun, apa pun yang memungkinkan manusia bersembunyi dan menyergap tiba-tiba. Sahaya telah berkuda sepanjang malam dan kemungkinan masih berkuda sehari lagi, tentu sahaya tidak punya tenaga dan waktu lagi untuk sebuah pertarungan yang gagah berani."

SELINTAS teringat olehku, bagaimana Campaka bertarung dengan dua pedang di atas perahu tambang yang dipadati lima pedati. Memang ia bertarung dengan gagah berani. Kurasa aku tidak akan menyesal mengajarkan Jurus Penjerat Naga kepadanya, karena kurasa Campaka lebih berkemungkinan untuk terus menggunakan dua pedang daripada diriku sendiri. Aku telah menguasai ilmu tangan kosong Telapak Darah, menemukan Jurus Bayangan Cermin, mendapatkan ilmu sihir dan ilmu racun tanpa kukehendaki dari Raja Pembantai dari Selatan. Aku sebetulnya tidak membutuhkan senjata apa pun, bersama dengan itu akupun mampu memainkan senjata apapun. Namun berpindahnya kedua pedang hitam Raja Pembantai dari Selatan ke dalam kedua tanganku memang membuat aku tergoda untuk terus menerus menguji Ilmu Pedang Naga Kembar, tempat aku telah mengembangkan Jurus Penjerat Naga dan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian sampai kepada pencapaiannya sekarang.

Campaka masih terus bercerita.

''Namun meski telah menghindari semua tempat yang rawan, di sebuah tempat lapang tak terhindarkan lagi untuk berpapasan dengan puluhan orang penunggang kuda yang busananya sejenis dengan para penunggang kuda yang mengejar sahaya. Mengingat senjata mereka yang terhunus, sudah jelas jika sahaya berhenti maka sahaya hanya menyerahkan nyawa. Menghindar ke mana pun sudah tidak mungkin, karena dari setiap tempat yang sahaya hindari ternyata muncul orang-orang yang semula, seperti sahaya duga, memang bersembunyi di sana.

''Sahaya berpikir keras. Keberanian orang banyak berbeda dari keberanian satu orang. Siapa pun yang ilmu silatnya cukup tinggi tidak akan bergabung dengan terlalu banyak orang seperti ini. Masalahnya ilmu silat sahaya sepuluh tahun yang lalu juga sangat terbatas, yakni ilmu s ilat yang diajarkan seorang prajurit, yang juga lebih diandalkan sebagai bagian dari kerja sama suatu pasukan, bukan untuk mengembara sebagai pendekar tanpa kawan. Namun sahaya berpikir, bahwa sahaya dapat mempertaruhkan suatu peluang.

''Sahaya menoleh ke belakang, jarak kedua penunggang kuda itu lebih dekat daripada para pencegat di depan. Sahaya coba mengingat kembali segenap jurus ilmu kelewang yang sahaya ketahui. Lantas sahaya membelokkan lari kuda dan berputar balik ke arah dua penunggang kuda yang sejak tadi mengikuti sahaya, dan kini ternyata telah memegang kelewang masing-masing. Bahwa mereka telah siap sebetulnya dapat menjadi masalah, tetapi kenyataannya sahaya tetap melaju sambil mencabut kedua pedang dari punggung sahaya.

''Mengingat kembali peristiwa itu, sungguh sahaya rasakan betapa sahaya sangatlah nekat, tetapi hal itu sahaya lakukan karena sahaya pikir inilah jalan tercepat untuk lolos dari kepungan. Tentu dengan suatu pertaruhan bahwa rencana sahaya mungkin saja akan gagal. Begitulah sahaya mengarah langsung kepada kedua pengejar sahaya yang telah siap mengayunkan kelewangnya. Sahaya tahu, karena mereka lihat sahaya membawa dua pedang, maka mereka akan memancing agar kedua pedang sahaya tertuju ke satu arah. Jadi mereka pasti hanya akan menyerang ke satu titik dengan dua kelewangnya, tetapi ketika sahaya menangkis ke satu titik juga, maka salah satu kelewang itu mendadak akan mengarah ke titik mematikan yang lain.

''Sahaya mengarahkan kuda ke tengah-tengah mereka dan memang segera saja mereka ayunkan kelewang masing- masing ke arah jantung sahaya, dan sahaya tahu belaka betapa jika sahaya akan menangkis kedua kelewang dengan kedua pedang sahaya, jelas salah satu kelewang tersebut akan berbelok arah dengan cepat ke arah perut sahaya tanpa sahaya akan sempat menangkisnya. Jika hal itu terjadi dan kuda sahaya melaju terus, tentu isi perut sahaya akan terkait dan tertinggal di ujung kelewang yang terlalu tajam itu. Maka pada titik kuda sahaya yang melaju berhadapan dengan kuda mereka, dan kelewang mereka sudah terayun bersama-sama, bukan saja sahaya tidak menangkis sambaran kedua kelewang ke arah jantung itu, tetapi menghindarkannya dengan cara berguling ke bawah perut kuda sementara kedua kaki saling menjepit di atas punggung kuda.

''Belum lagi mereka sadar apa yang terjadi, selain bahwa kelewang mereka tidak mengenai sasaran, sahaya telah kembali kepada kedudukan semula, melompat jungkir balik ke belakang, dan terlihat mereka pun sedang memutar balik kudanya. Begitu mereka melihat sahaya dengan dua kaki sudah berada di atas tanah, segalanya sudah terlambat, karena saat itu kedua pedang sahaya sudah menembus leher mereka masing-masing. Ketika mereka berdua ambruk dari kudanya, sahaya telah mencabut kedua pedang itu dengan kedua tangan dan segera menetakkannya ke leher mereka yang telah bersimbah darah.

"INILAH rencana nekat yang memang sahaya perhitungkan Tuan. Bahwa mereka akan jeri melihat seorang perempuan bermandi darah membawa dua kepala dan melaju kencang ke arah mereka. Maka segera sahaya bersuit memanggil kuda, segera meraupi wajah sahaya dengan darah yang menyembur dari leher kedua orang itu, menyimpan kedua pedang ke sarungnya pada punggung sahaya, membuka serban sahaya sehingga rambut sahaya tergerai dan melambai liar dalam hembusan angin, memegang kedua kepala itu pada rambutnya setelah membuang serbannya, lantas melompat ke punggung kuda yang langsung melaju ke arah para penghadang yang mulutnya masih ternganga.

"Tuan janganlah heran dengan kemampuan sahaya sebagai perempuan dalam menunggang kuda, karena semua itu wajar sahaja sebagai kepandaian prajurit pasukan berkuda, sedangkan kakek, ayah, serta suami sahaya telah menurunkan kepandaiannya masing-masing kepada sahaya. Maka dengan sentuhan kaki sahaya pada perutnya, kuda perkasa itu melaju dengan membawa seorang perempuan yang wajahnya berlepotan darah, dengan kedua tangan memegang kepala manusia!

"Mendekati mereka, sahaya lemparkan satu kepala sekuat tenaga yang mengenai salah seorang yang tampak seperti pemimpinnya. Dia tampak kaget luar biasa, apalagi darahnya menciprat pula. Belum usai kagetnya, bahkan kepalanya sekarang sudah terkena lemparan kepala sahaya yang berikutnya. Kepala yang mengenai kepala itu lantas terpental ke tengah kerumunan orang banyak, tepat saat itu sahaya telah tiba sambil berteriak-teriak ganas, dan sudah mencabut kedua pedang sembari memutarnya seperti baling-baling pada dua tangan saya masing-masing.

"Kalaupun mereka mencoba menangkis, membalas, dan melakukan sesuatu, sahaya rasanya masih berada di atas angin dengan serangan mendadak seperti itu, meski itu rupanya sudah tidak perlu.

"Pemimpin mereka berteriak dengan ketakutan: 'Lari! Lari!

Perempuan ini gila! Lariiiiii!'

"Mereka lari ke kiri dan ke kanan, membuka jalan bagi sahaya yang tidak menunda laju kuda sedikit pun jua. Jadi akal sahaya berhasil Tuan! Kalaulah kepandaian ilmu silat sahaya sudah seperti sekarang, sahaya mungkin bisa terbang dan berlari di atas kepala-kepala mereka. Namun saat itu, hanya akal semacam itulah yang mampu sahaya kerjakan karena tidak mempunyai tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh. Semoga Tuan tidak menganggap sahaya terlalu kejam.

"Begitulah Tuan, pagi baru mulai terang, embun masih tergantung di pucuk-pucuk daun, tetapi Ratawun masih jauh dari pandangan, dan sahaya belum tahu lagi halangan apa yang masih akan menghadang."

Campaka menelan ludah, lantas minum air kelapa muda dari tabung bambu, kemudian melanjutkan ceritanya.

(Oo-dwkz-oO)