Nagabumi Eps 70: Campaka Bercerita

Eps 70: Campaka Bercerita

Sepuluh tahun lalu, yakni tahun 786, demikianlah

seingatku, Campaka kami turunkan di sebuah pelabuhan perahu tambang, dengan membawa seekor kuda hitam yang tegap, agar ia melaju langsung ke Ratawun. Di tempat itu para pejabat istana maupun petinggi desa tentu telah sangat menantikan perangkat upacara berupa tumpukan wdihan, tapih, inmas, dan segala macam perhiasan, yang akan diserahkan kepada negara, sehingga penduduk desa yang selama ini membayar pajak atas kepemilikannya, akan bebas dari kewajibannya. Itulah yang disebut upacara penyerahan sima.

Dalam upacara seperti itu biasanya dituliskan pula sebuah prasasti. Bisa di atas batu, bisa pula di atas lempengan emas. Akan tertulis dalam prasasti itu tentang nama-nama siapa yang hadir, terutama yang dianggap berjasa, dan dalam hal ini adalah berjasa karena telah menyerahkan tanahnya. Mengapa tanah harus diserahkan kepada negara? Sejauh disebutkan dalam prasasti, itu bisa meliputi pembangunan candi, bisa pula karena tanah tersebut besar peranannya dalam penyediaan pangan bagi penduduk, sehingga secara keseluruhan dalam waktu yang panjang, panenannya memiliki nilai yang penting, karena kelaparan serta kemiskinan bukanlah sumber kedamaian. Bagi tanah seperti ini, barangkali tidak dianggap adil untuk tetap memberlakukan pajak. Apabila tanah ini kemudian dengan suka dan rela dipersembahkan kepada negara, betapapun usulan yang semacam itu hanya akan datang dari negara, bukan sebaliknya.

Mungkin itu pula sebabnya dalam upacara sima, tanah tidak diserahkan tanpa imbalan. Itulah sebabnya demi upacara di Ratawun tersebut, para pejabat istana telah memesan takkurang dari lima pedati yang penuh dengan wdihan, tapih, inmas, maupun perhiasan pria maupun wanita, gelang kaki, tangan, dan lengan, kalung, ikat pinggang, pengikat rambut, cincin, yang bukan hanya banyak, tetapi juga sebagian besar terbuat dari emas. Aku melihatnya dengan mata kepala sendiri ketika menyelamatkan harta benda itu dari pencurian.1) Itu terjadi sepuluh tahun yang lalu, ketika cita-citaku untuk mengembara jadi terbelokkan, karena aku merasa wajib melindungi para mabhasana dalam perjalanan selanjutnya untuk menyampaikan harta benda.

Saat itu pun aku sudah bertanya-tanya, mengapa pengiriman harta benda yang sungguh berharga, demi upacara penyerahan sima pula, dibiarkan hanya terkawal oleh pengantar barang biasa? Mengingat nilai barang-barang dan kepentingannya, lima pedati dan para mabhasana itu layak dilindungi oleh para pengawal rahasia istana, setidaknya suatu regu dari pasukan kerajaan yang bersenjata. Jika memang harta benda itu dipesan pihak istana, lima pedati itu sebetulnya tidak dapat dilepaskan begitu saja. Ketika kugagalkan rencana pencuriannya, sudah jelas terdapat suatu komplotan yang mengetahui segala rencana dan bekerja sama. Jika kuingat kembali sergapan Gerombolan Kera Gila yang bertubi-tubi, tentulah mereka seperti sudah mafhum betapa barang-barang di atas perahu tambang bukanlah barang-barang jarahan biasa. Namun teka-teki ini bagiku belum terpecahkan, ketika racun cakaran Si Kera Gila membuatku pingsan, dan seseorang telah membuatku terpendam di sebuah gua, tenggelam dalam pendalaman ilmu silat yang takkusadari sama sekali berlangsung sepuluh tahun lamanya.

Aku merasa sangat bersalah, tetapi setelah sepuluh tahun, apakah perananku masih akan berarti sesuatu? Bertemu kembali dengan Campaka, perempuan perkasa yang dalam semalam berubah dari pelacur menjadi pendekar pedang, tentu membuatku sangat penasaran. Namun dalam minggu- minggu pertama, keadaanku sendiri tidak memungkinkan perbincangan. Sementara itu, Campaka sendiri rupanya telah mempunyai kedudukan penting sebagai kepala salah satu regu dalam pasukan pengawal rahasia istana. Bagaimana perempuan yang semula tampaknya begitu ma lang dan nyaris dihukum bakar atau ditenggelamkan sampai mati ini dapat mencapai kedudukan itu, ceritanya baru akan kuketahui nanti; yang jelas dari gerakannya yang ringan, pandangan matanya yang tajam, dan terutama caranya berbicara yang sangat meyakinkan, kuketahui Campaka telah melakukan lompatan, dalam ilmu silat maupun dalam ilmu kehidupan. Hmm. Dalam sepuluh tahun, apalah yang tidak bisa terjadi bukan?

KEPADAKU tentu saja sikapnya sangat sopan dan penuh penghargaan, mungkin karena diketahuinya, meski bukan karena uangku, tetapi adalah usulku, maka Ranu, kepala para mabhasana, penjual pakaian itu, menebusnya karena membutuhkan diriku agar tetap mengawalnya. Tanpa penebusan pun memang aku akan tetap mengikuti rombongan itu, tetapi sungguh karena Ranu sangat memandangku maka Campaka yang seharusnya dihukum itu dibelinya tanpa keraguan sama sekali. Bukan membeli barangkali tepatnya, karena tak ada hukum yang membenarkan penebusan seseorang yang berdosa dengan uang; melainkan menyuap para penjaga gardu di pelabuhan tambang, yang karena jauh dari pusat kekuasaan maka berani melakukan penyelewengan.

Begitulah kini aku berjuang menyembuhkan diriku, meski ternyata memang tidak ada yang dapat kulakukan selain menunggu. Belati panjang yang menembus pinggangku dari belakang sampai ke depan memang tidak menusuk di tempat mematikan. Tidak mengenai ginjal, tidak mengenai usus, atau apa pun yang dapat menimbulkan kesulitan. Namun luka adalah luka, tidak dapat disihir agar sembuh seketika. Keuntunganku hanyalah karena racun belati panjang anak buah Naga Hitam itu takberpengaruh sama sekali kepada tubuhku. Ilmu racun warisan Raja Pembantai dari Selatan yang terwariskan kepadaku dengan sendirinya akan menyerap dan memunahkan setiap serangan racun di dalam tubuhku.

Campaka, di samping tugasnya yang belum kuketahui di tempat ini, menjaga dan mengatur apa yang boleh maupun tidak boleh kumakan. Kurasa pengaruh perawatannya atas diriku cukup besar, karena aku merasakan lukaku sembuh dengan cepat. Entah darimana, Campaka bisa mendapatkan buah merah dan buah naga yang langka, yang memang sangat mujarab dalam pengobatan. Aku tidak diiz inkannya makan daging atau ikan, hanya sayuran, tetapi susu kambing dan madu terus menjadi menuku. Memang tetap diberikannya daging cacah, tapi itu hanya sebagai selingan sekali dalam sepekan.

Dalam waktu sebulan aku sudah bisa bersilat ringan melawan Campaka. Kami masing-masing memegang batang kayu dan bertarung. Ilmu pedang Campaka jelas maju pesat. Sepuluh tahun lalu memang ia sudah mahir menggunakan dua pedang, tetapi saat itu tanpa tenaga dalam sama sekali. Sekarang dengan tenaga dalam ia bisa bergerak dengan ilmu meringankan tubuh dan batang kayu yang dipegangnya berputar takkelihatan oleh mata telanjang. Siapakah yang telah melatihnya? Berguru ke manakah dia? Tentu saja aku mengenali sebagian dari jurus-jurusnya; tetapi karena agaknya Campaka telah mengembangkan penggabungan jurus-jurus itu, maka aku tidak segera dapat mengenalinya. Lantas, kepadanya aku ingin memperkenalkan sesuatu.

Kuperkenalkan kepadanya Jurus Penjerat Naga, yang tentu saja mementahkan hampir semua jurusnya, bahkan jurus- jurus yang kurasa merupakan andalannya, yakni Jurus Naga Terbang Menukik ke Bumi. Segala usaha dilakukannya, bahkan kemudian telah dikerahkannya tenaga dalam untuk meningkatkan kecepatannya, tetapi tiada satu gerakan pun menembus pertahananku; sebaliknya, dengan mudah kusentuh lubang-lubang pertahanannya dengan batang kayu itu di sana-sini. Memang benar, ilmu silat Campaka melesat sepuluh tingkat, tetapi ilmu silatku juga melesat, bahkan seratus tingkat. Jika dahulu ilmu silat Campaka hanyalah seperseratus bagian dari yang kukuasai, maka walaupun telah melesat sepuluh tingkat, ilmu silatnya tetap masih jauh di bawahku. Namun ini tidak berarti ia bersilat seperti orang awam, sama sekali tidak. Diriku tidak dapat menjadi ukuran, karena dalam hal ilmu silat, riwayat hidupku memang telah memberiku banyak keuntungan.

Jurus Naga Terbang Menukik ke Bumi memang indah seperti tarian. Pelakunya seperti sengaja terbang berputar- putar di udara bagaikan peragaan, tetapi adalah keterpesonaan terhadap gerakan itulah yang ditunggu, yang artinya terbuka kelengahan terhadap serangan mematikan yang menyusul dalam gerakan selanjutnya. Namun dengan Jurus Penjerat Naga yang kulatih dari kitab Ilmu Pedang Naga Kembar, jurus yang indah itu termentahkan kembali. Bukankah aku melatih jurus ini di puncak tebing di dalam sebuah kuil dahulu itu memang untuk menghadapi Naga Hitam? Dalam kenyataannya, Jurus Penjerat Naga dipersiapkan Sepasang Naga dari Celah Kledung untuk menghadapi siapapun dari para naga, secara sendiri-sendiri maupun secara bersama. Memang tertulis dalam kitab tersebut:

Jurus Penjerat Naga dipersiapkan untuk menghadapi ilmu-ilmu Naga

Orangtuaku tidak banyak bercerita tentang para naga, tetapi pernah kudengar mereka menolak untuk hadir dalam Musyawarah Sembilan Naga, ketika para naga itu menganggapnya akan lebih berwibawa me lengkapi wahana tersebut dengan naga kesepuluh, yakni pasangan yang harus dianggap sebagai kesatuan, Sepasang Naga dari Celah Kledung. Kisah selanjutnya tidaklah kuketahui.

Kami tutup pertarungan latihan itu ketika batang kayu yang dipegang Campaka terpental ke udara dan batang kayuku teracung lurus ke wajahnya. Campaka tersenyum. ''Dengan jurus itu, bagaimana mungkin sahaya mengalahkan Tuan? Ilmu silat Tuan tak terbayangkan ketinggian tingkatnya, padahal Tuan masih berada dalam taraf penyembuhan. Apakah Tuan sudi mengajarkannya kepada sahaya?''

Aku memang sudah berniat mengajarinya jurus tersebut, karena sebagai anggota pengawal rahasia istana kurasa cepat atau lambat Campaka akan berhadapan dengan murid-murid terkemuka Naga Hitam, jika bukan Naga Hitam sendiri. Tanpa niat itu, aku tidak akan memperlihatkannya dengan terbuka seperti ini, disaksikan para pengawal rahas ia istana yang lain pula.

''Janganlah dikau khawatirkan hal itu Campaka, meski dirimu tentunya masih harus bercerita, apa saja yang terjadi sepuluh tahun yang lalu setelah kita berpisah di sungai itu?''

(Oo-dwkz-oO)

Malam harinya Campaka naik ke pondok kayu ini, yang sebagai bangunan sebetulnya tampak hanya dibangun untuk sementara, artinya gerombolan Naga Hitam itu tampaknya biasa berpindah-pindah. Inilah ceritanya:

''Tuan, tidak dapat sahaya ungkapkan betapa besar terimakasih kepada T uan, karena jika perjalanan hidup sahaya tidak bersimpangan dengan perjalanan hidup Tuan, niscaya tiadalah Campaka masih berada di muka bumi dan menghirup udara setiap. Adalah Tuan pula yang mempercayakan kepada sahaya tugas yang berat itu, tetapi yang telah memberikan kepada sahaya suatu makna yang besar, betapa kehidupan sahaya yang sebelumnya begitu muram ternyata kini memiliki peluang untuk menjadi berguna.

''Barangkali Tuan bertanya-tanya darimanakah kiranya sahaya sedikit-sedikit mengerti juga ilmu silat, bahkan dapat memainkan sepasang pedang, ketika kita semua harus menghadapi para penyamun di atas perahu tambang itu sepuluh tahun lalu. Sebenarnyalah Tuan, bahwa saya berasal dari keluarga keturunan prajurit, yang hampir se lalu hidup di medan pertempuran.

''Apakah Tuan mendengarkan?''

Ah! Aku tersentak. Tentu saja aku mendengarkan. Namun mataku tertancap kepada gerak bibirnya yang merekah penuh daya, nyalang mata yang cahaya tatapannya sungguh terasa, dan raut wajah pada kulit gelap yang hanya menambah keindahannya. Di antara semua itu aku sangat menyukai rambutnya, yang agak kemerah-merahan, bergelombang seperti riak lautan, jatuh di punggungnya yang telanjang.

''Ah, ya! Tentu saja! Teruskan saja Campaka!''

Selintas, di balik kesopanan dan rasa hormatnya yang takkuragukan, ia melirik tersamar. Wajahku serasa panas. Adakah ia memikirkan bagaimana aku telah memandangnya? Ilmu silatku barangkali saja memang tidak akan terjangkau olehnya, tetapi jika dalam usia 25 tahun sekarang ini pergaulanku sangat amat terbatas, maka Campaka yang usianya 35 tahun niscaya jauh lebih unggul daripadaku dalam pengenalan atas jiwa manusia. Bukan saja ia pernah menikah dan membunuh karena membalaskan dendam suaminya, tetapi bahwa untuk mencapai semua itu harus merelakan dirinya hidup di rumah pelacuran pula. Suatu kematangan jiwa telah dim iliki Campaka yang membuatku takpernah merasa lebih unggul daripadanya sebagai manusia.

''Baiklah kulanjutkan Tuan. Kakek sahaya telah menjadi pengikut Sanjaya dan membantunya dalam penguasaan wilayah semenjak berkuasa tahun 732,'' kisah Cempaka, ''ayah sahaya menjadi prajurit semasa kekuasaan Rakai Panamkaran, dan suami sahaya adalah prajurit yang mengikuti Rakai Panunggalan sekarang, sebelum terbunuh oleh temannya yang culas itu. Syukurlah sahaya telah membunuhnya dan hanya masih hidup sekarang karena pertolongan Tuan. ''Maka betapa dalam keluarga besar kami setiap orang mahir menggunakan senjata adalah sesuatu yang biasa. Anak- anak diajari ilmu silat, meskipun tentu tanpa tenaga dalam, karena kami hanyalah orang-orang awam. Namun setidaknya sikap seorang prajurit telah mewarnai kehidupan keluarga kami. Maka ketika ketika Tuan menawarkan, siapa kiranya yang berani berangkat ke Ratawun, bagi sahaya tidak memerlukan keberanian berlebihan untuk menjalankan tugas tersebut. Dengan kuda yang bagus dan sepasang pedang, apalah yang harus sahaya takutkan? Dengan segenap pengalaman yang telah sahaya alami, sahaya tidak terlalu takut mati. Namun justru kegagalan tugas itu lebih menakutkan bagi sahaya daripada kematian.

BEGITULAH, sahaya mencongklang kuda di tengah malam berhujan yang nyaris berlangsung sepanjang malam. Bukankah kepada sahaya telah dipesankan agar pesan disampaikan segera tanpa harus ditunda? Jadwal tiba kelima pedati itu sudah terlambat dan upacara penyerahan sima tiada akan berjalan semestinya tanpa harta benda di dalamnya. Ya, sahaya mencongklang kuda menembus malam berhujan tanpa rasa takut, bukan terutama demi kepentingan sebuah upacara, melainkan karena utang budi sahaya kepada Tuan!

Menjelang pagi sahaya melaju di tengah jalan yang membelah sebuah desa. Mestinya semua orang masih tidur, tetapi rupanya di desa baru saja berlangsung sebuah pesta semalam suntuk. Bagi sahaya tidak jelas pesta apa yang baru saja berlangsung, mungkin wayang topeng, mungkin pula wayang boneka, mungkin pula pesta tarian tanpa pertunjukan sama sekali, tetapi yang jelas mereka yang baru saja usai berpesta dalam keadaan setengah mabuk itu memenuhi jalanan desa tersebut.

Hari masih gelap, tetapi kuda sahaya datang berderap dan melaju. Sahaya kira tentu saja jalanan itu kosong, tetapi ternyata banyak orang, lelaki dan perempuan, berjalan terhuyung-huyung di jalanan. Kuda yang sahaya tunggangi melabrak mereka semua. Jarak sudah terlalu dekat ketika sahaya berusaha menghentikannya. Sudah tidak bisa lagi. Mereka berhamburan dan bergelimpangan karena terlabrak. Sahaya sendiri terpental dari atas punggung kuda yang terus melaju kencang itu. Sahaya jatuh terguling-guling. Ketika sahaya berusaha bangkit, orang banyak sudah berada di sekitar saya. Langsung memegang kedua lengan sahaya. Tentu sahaya memberontak, tetapi tangan-tangan mereka mengunci kedua lengan dengan sangat kuat.

"Bunuh dia!" kata mereka, "bunuh dia!"

Sahaya lihat sekeliling, jumlah mereka yang pingsan dan menangis tersedu-sedu menggambarkan betapa seolah-olah terjadi bencana yang dahsyat. Padahal, apakah sebenarnya yang dapat menjadi bencana dari seekor kuda yang memang berlari seperti itu? Sahaya berontak untuk melepaskan diri, tetapi pegangan tangan mereka semakin erat. Sahaya lihat seorang pemuda datang membawa tombak dan siap menusukkannya ke perut sahaya. Sahaya berpikir di sinilah rupanya ajal sahaya akan tiba.

Namun lantas terdengar suara. "Tunggu!"

(Oo-dwkz-oO)