Nagabumi Eps 64: Mantra atawa Aksara Bercahaya

Eps 64: Mantra atawa Aksara Bercahaya

APAKAH karena yang dibakar dan dikubur adalah Raja Pembantai dari Selatan yang ilmu sihirnya luar biasa, maka di depan candi ini berlangsung segala sesuatu yang serbaajaib? Dalam mimpiku terbayangkan abunya membentuk sosoknya seperti ketika masih hidup. Aneh, bukankah tiada lagi yang bisa lebih jahat dan lebih kejam dari tokoh satu ini? Kenapa dalam mimpiku ia bagaikan dewa tua yang dengan jenggot peraknya mengangguk-angguk anggun penuh kebijaksanaan? Apakah bagian dari sihirnya pula bahwa meski selalu dilakukannya pembunuhan terkejam demi ilmunya yang hitam, ia akan hadir dalam kenangan sebagai kakek tua tanpa dosa yang akan sebentar tampak sebentar hilang di tempat yang dimaksud sebagai akhir ia punya kehidupan?

Ketika aku bangun dalam keadaan masih bergantung seperti kelelawar keesokan harinya, sisa mimpi itu masih terlihat, yakni sosoknya yang sedang mengabur dan meleburkan diri ke dalam dinding batu. Jika dinding itu dibongkar, aku yakin tidak akan menemukan apa pun jua, selain batu-batu itu sendiri, yang juga telah diletakkan entah siapa di sana. Aku tidak habis mengerti. Pertama, bukankah ia telah me lepaskan dan menyerahkan seluruh ilmu hitamnya, termasuk ilmu sihir, karena jika tidak nyawanya tak mungkin lepas dari tubuhnya; kedua, bukankah ia sendiri pun benar- benar sudah mati? Mungkinkah suatu ilmu hidup dalam dirinya sendiri tanpa peranan manusia untuk menghidupkannya? Aku mengerjapkan mataku agar yakin tidak sedang berm impi, dan aku memang tidak sedang bermimpi, dengan mata kepalaku sendiri kutatap sosok Raja Pembantai bagaikan bayangan yang masuk ke dalam dinding batu.

Namun aku memang tidak perlu mempercayai mataku. Aku dapat memahaminya benar-benar sebagai bayangan, seperti bayangan pada cermin, yang tetap tampak ketika sosok yang dicerminkannya beranjak pergi. Mungkinkah? Tentu saja ini bukan sihir itu sendiri, ini seperti jejak pada permukaan tanah, tulisan pada rontal dan prasasti, atau sisi tajam sebuah pedang yang sengaja dibuat oleh pembentuknya untuk membunuh, yakni bahwa selalu ada sesuatu dari diri pembuatnya pada jejak-jejak itu, apakah sebagai jejak yang harfiah, atau apa pun yang dapat berlaku sebagai jejak, meski asal-usulnya memang tak bisa dikenali. Maka abu yang berasal dari sosok bekas pemilik ilmu sihir ini tidak sekadar menjadi abu sisa pembakaran yang biasa, karena ia lantas menjadi abu yang mengandung anasir sihir. Dalam persentuhan cahaya dan udara, sebagian abu yang tertiup angin pagi ini lantas menjelmakan segenap riwayatnya.

Abu pembakaran jenazah yang tiada lagi menyisakan tulang itu memang sudah dikubur, tetapi siapakah yang bisa menjamin dalam kegelapan semalam tiada serbuk yang tercecer? Maka begitulah saat cahaya matahari pagi dengan kemiringan dan kekuningan tertentu menyapu tanah datar bekas galian, yang memang sama sekali tidak kutandai sebagai kuburan itu, demi menghormati siapa pun yang telah dikubur sebelumnya dan dibangunkan candi ini, meruaplah cendawan yang akan menjadi bayangan, sekali lagi hanya bayangan, dari yang dikenal sebagai Wabah Kencana. Namun meski hanya suatu bayangan, kenangan yang mengerikan bagi mereka yang sempat lolos dari Wabah Kencana sebenarnya diterima sebagai sesuatu yang nyata. Aku tercenung melihat cendawan raksasa keemasan yang lapisan teratasnya bagai menyatu dengan langit, dan akan segera turun bagai janji akan berlangsungnya bencana. Namun meski kali ini janji itu tidak akan pernah ditepati, kenangan mengerikan atas keindahan menyakitkan itu tetap saja menyiksa. Dari tempat aku terbangun dapat kudengar segala bentuk ketakutan yang berakhir dengan berpindahnya penduduk desa darimana pun mereka dapat melihatnya.

Keadaan ini sangat kacau. Tidak mungkinkah aku yang kini memiliki ilmu sihir itu me lakukan sesuatu untuk memusnahkannnya?

Kupejamkan mataku dan kubaca segala mantra yang menampakkan diri sebagai aksara-aksara bercahaya di hadapan mataku yang terpejam. Kucari sesuatu yang barangkali merupakan mantra pemunah, tetapi deretan mantra dengan aksara bercahaya ini jumlahnya banyak sekali, tak hanya puluhan atau ratusan, melainkan ribuan. Raja Pembantai dari Selatan ini memiliki perbendaharaan ilmu sihir yang tidak terkirakan jum lahnya. T idak mengherankan bahwa sepanjang hidupnya ia t idak pernah terkalahkan.

Aku mengerahkan kemampuanku untuk membaca lebih cepat dari berjalannya mantra-mantra bercahaya dalam keterpejamanku itu, sampai kuandaikan telah menemukan yang paling tepat. Kuhentikan jalannya mantra-mantra itu dengan daya batinku. Lantas aku membaca dan mengucapkannya.

Saya tunduk kepada Bali, putera Virocana dan kepada Sambara dari seratus tipu muslihat kepada Naraka, kepada Nikumbha maupun kepada Kumbha kepada Tantukaccha, Asura besar

Saya tunduk kepada Armalaya, kepada Pramila, kepada Mandoluka, kepada Ghatodbala dan kepada pelayanan terhadap Krsna dan Kamsa dan kepada Paulomi yang berhasil Dengan mengabdi dengan mantra, saya mengambil sarika yang mati demi keberhasilan semoga berhasil dan berhasillah salam kepada makhluk berbulu Hidup!

Semoga anjing-anjing tidur nyenyak dan mereka di desa yang tersadar mereka yang telah sampai tujuannya --tujuan yang kami cario tidur tenang sampai matahari terbit sete lah tenggelam sampai tujuan itu menjadi milikku sebagai buah Hidup!

Aku tertegun, tetapi telanjur merapalnya. Bukankah ini mantra untuk menidurkan sebuah desa? Betapapun, tentang mantra-mantra yang agak umum diketahui, aku pun mengetahuinya. Mungkin karena ini bukan Wabah Kencana yang sesungguhnya, melainkan sekadar bayangan keemasan raksasa di langit, maka mantra yang tidak terlalu tepat bagi sasarannya ini berhasil menidurkannya. Bagaikan terbuat dari kain, cendawan raksasa yang meliputi langit itu mengendap turun ke bawah, seperti lenyap diserap tanah. Padahal itu hanyalah bayangan. Penduduk desa yang berlarian terhenyak tanpa suara, menyaksikan cendawan keemasan raksasa itu turun dari langit melewati tubuh mereka tanpa terasa. Mereka memegang-megang dan menarik-narik kulit tubuh mereka sendiri yang ternyata memang tidak mengelupas.

Aku bergidik menyadari betapa Wabah Kencana itu kini berada dalam diriku. Tidakkah mengerikan jika kelak akupun tidak dapat mati karena ilmu warisan Raja Pembantai dari Selatan ini?

Namun aku percaya kata-kata ibuku.

''Tidak ada yang tidak terkalahkan. Semua ilmu punya kelemahan. Setiap orang punya kelengahan.''

Semula aku mengingat kata-kata ini jika menghadapi lawan yang tangguh. Tiada kukira betapa kelak kata-kata semacam itu kelak diperlukan oleh set iap lawan yang menghadapiku, karena memang benar dalam pertarungan kita sangat mungkin menjumpai lawan tak terkalahkan, tetapi yang sekaligus bukan tak mungkin untuk sekejap berada dalam kelengahan.

Kini langit te lah menjadi biru, sawah menjadi hijau, burung- burung blekok yang putih terbang beriringan melintasi desa. Telah kukuburkan Raja Pembantai dari Selatan itu di depan bangunan batu tanpa bilik yang dipenuhi gambar pahatan bunga teratai. Tidak dapat kuduga di sebelah mana telah dikuburkan seseorang bagi siapa candi ini didirikan, tetapi kuburan abu jenazah yang kugali itu pun tidak akan dikenali orang. Candi ini telah ditinggalkan. Suatu hari akan digoyang gempa bumi. Ambruk sedikit demi sedikit. Terkubur abu letusan gunung berapi atau banjir lahar. Ditelan waktu dan sejarah. Sebelum ditemukan kembali pada suatu ketika kelak yang akan datang.

Aku tercenung. Ingin berdiam dan memikirkan sesuatu. Manakah yang harus kujalani? Tetap diam dan berpikir, sampai kepada lahirnya penemuan yang mencerahkan, ataukah mencarinya dalam suatu perjalanan?

Aku berkemas. Umurku masih 25 tahun. Aku harus berangkat sekarang juga.

BEGITULAH aku berjalan menuruti ke arah mana pun kakiku menuju. Aku berjalan terus menuju ke utara karena aku ingin menuju ke pantai, mencari pelabuhan, dan melihat kapal-kapal yang datang dan pergi, ke Srivijaya, Champa, Jambhudvipa, dan Tartar. Namun aku tak tahu masih akan berapa lama lagi sampai ke sana. Aku berjalan kaki seperti orang-orang lain, karena kemampuan bergerak lebih cepat dari kilat tidaklah untuk digunakan dalam kehidupan sehari- hari. Seorang pendekar yang baik harus menjaga agar dirinya tetap membumi. Lagipula menggunakan tenaga dalam dan ilmu meringankan tubuh terus menerus bukanlah tanpa bahaya. Menggunakan tenaga dalam tanpa takaran justru akan melumpuhkan dirinya sendiri. Di luar masalah itu, jika aku tidak berusaha meleburkan diri ke dalam kehidupan sehari-hari, kapan lagi dapat merasakan kehidupan seperti banyak orang lain? Pernah kuceritakan tentang kehidupan para pendekar yang sunyi, ketika mereka memilih untuk menyepi dari kehidupan ramai, menenggelamkan diri dalam pencarian kesempurnaan ilmu silat, dengan cara berlatih dan bertarung, bertarung dan bertarung, sampai baginya terbuka jalan, menuju kematian dan kesempurnaan. Dengan menuruti jalan kehidupan seperti itu, seorang pendekar tenggelam dalam dunia yang tak bersentuhan dengan kehidupan sehari-hari, karena ia hanya muncul untuk bertarung lantas berkelebat menghilang lagi.

Maka begitulah aku berjalan menyusuri ladang, persawahan, hutan, ladang, persawahan, hutan, dan pemukiman. Dari pemukiman satu ke pemukiman lain aku berjalan sebagai orang awam, tidak berkelebat, tidak melenting dari atap ke atap, dan tidak memanfaatkan tenaga dalam, tetapi tetap saja aku menimba banyak pelajaran. Kubayangkan, seandainya aku tidak mengenal dunia persilatan, dengan segenap ilmu sihir, ilmu racun, dan segala ilmu hitamnya, rasanya aku juga akan tetap bahagia dengan pengetahuan yang bertebaran dalam kebudayaan.

Namun di sebuah kedai, kutemukan bahwa orang awam tidak as ing dengan segala macam cerita kegaiban. Seseorang yang baru pulang dari negeri Sriv ijaya bercerita.

''Batu-batu kutukan itu memang mampu mengutuk orang jahat,'' katanya, ''tentu dengan syarat bahwa ia bisa membaca.''

''Kalau tidak bisa membaca?''

''Yah, bagaimana ia bisa terkutuk? Kutukan itu tertera pada batu, suatu prasasti malah, aku bahkan menyalinnya seperti ini, biar kubacakan.'' Ia mengeluarkan beberapa lembar lontar. Orang-orang berlarian keluar dari kedai. Kecuali aku tentunya.

''Hai! Kembali! Kenapa kalian lari?'' ''Kamu menyalin kutukan itu bukan?'' Orang itu tertawa terbahak-bahak.

''Hahahaha! Dasar orang bodoh! Sudah kubilang kalau tidak bisa membaca bagaimana bisa terkutuk? Lagipula kutukan itu tidak bisa dibaca!''

Dari luar mereka pelan-pelan masuk kembali sambil matanya mengawasi lembar-lembar lontar itu, yang seolah- olah mengandung kekuatan sihir.

''Dengar dulu, biar kubacakan.''

Ia memang menyalin dari sebuah prasasti, yang katanya terdapat di sebuah tempat bernama Kota Kapur. Kota yang terletak di sebuah pulau. Prasasti dari tahun 686 itu, jadi sebelum aku dilahirkan, menggunakan bahasa yang disebut sebagai Melayu.

//siddha // titam hamwan wari awai kandra kayet ni paihumpaan namuha ulu lawan tandrun luah makamatai ta ndrun luah winunu paihumpaan hakairu muah kayet nihumpa u nai tunai umenten bhakti niulun haraki unai tunai // kita sawanakta de wata maharddhika sannidhana mamraksa yam kadatuan sriwijaya kita tuwi tandrun tuah wanakta dewata mulana yam parsumpahan parawis kadaci yam uram di dalamnya bhumi ajnana kadatuan ini parawis drohaka hanun samawddhila wan drohaka manujari drohaka niujari drohaka tahu dim drohaka tida ya marppadah tida ya bakti tida ya tatwarjjawa diy aku dnan di iyam nigalarku sanyasa datua dhawa wuatna uram inan niwunuh ya sumpah nisuruh tapik ya mulam parwwandan datu sriwijaya alu muah ya dnan gotrasantanana tathapi sawanakna yam wuatna jahat makalanit uram makasa makagila mantra gada wisaproga upuh tuwa tamwal saramwat kasihan was ikarana ityewamadi janan muah ya siddha pulam ka iya muah yam dosa na wuatnu jahat inan tathapi niwunuh ya sumpah tuwi mulam yam manu ruh marijjahati yam marijjahati yam watu niprathista ini tuwi niwunuh ...

tida tatwarjjawa diy aku dhawa wua tna niwunuh ya sumpah ini gran kadaci iya bhakti tatwarjjawa diy aku dnan di yam nigalarku sanyasa datua santi muah kawuatana dnan gotrasantanana samrddha swastha niroga nirupadrawa subhiksa muah yam wanuana parawis // sakawarsatta 608 dim pratipada suklapaksa wulan waisakha tatkalana yam mammam sumpah ini nipahat di welana yam wala sriwijaya kaliwat manapik yam bhumi jawa tida bhakti ka sriwijaya//

Aku berada di belakangnya, jadi aku bisa menatap tajam tulisannya di atas lontar itu. Hmm. Ia melompati bagian yang dimaksud sebagai kutukan, tentu karena ia mungkin berpikir betapa dirnya sendiri bisa terkena kutukan tersebut. Namun ketika memperhatikan aksaranya, aku berpikir keras, memang tak seorang pun akan bisa membacanya. Apakah para pembuat kutukan itu bersungguh-sungguh?

Siapa yang bisa kena kutuk jika tak seorang pun dapat membacanya? Sayang sekali aku bukan seorang ahli bahasa, sehingga tak mampu membongkarnya.''

Apa yang terjadi jika ada yang mampu membacanya?''

''Ya terkutuk seperti tertulis itulah! Kalian sudah mendengarnya bukan?''

Bagiku lebih menarik gambaran yang kudapatkan dari aksara-aksara itu. Balatentara yang menyerang Yavabhumipala atau Javadvipa yang disebutnya bhumi Jawa itu. Kubayangkan kapal-kapal yang dibangun berbulan-bulan di tepi pantai dalam jumlah ratusan. Ribuan orang dinaikkan ke kapal-kapal itu dan berangkat berlayar. Di lautan barangkali badai mengempaskan beberapa kapal dan orang-orangnya terapung minta tolong sebelum akhirnya tenggelam. Telah kudengar serbuan orang-orang bhumi Jawa ini ke Champa dengan kebuasan yang diperbandingkan dengan kelelawar penghisap darah, dan kini kubaca bahwa 88 tahun sebelumnya yang disebut kadatuan Sriv ijaya mengirimkan balatentaranya ke Javadvipa. Apakah mereka juga mengamuk seperti kelelawar yang beterbangan dan turun menyambar untuk mengisap darah?

Telah terjadi serang menyerang. Kurasa itu semua sangat melelahkan. Namun kukagumi pandangan melampaui cakrawala yang telah memberangkatkan kapal-kapal apa pun dari pantai mana pun sampai mencapai negeri di mana pun.

''Apa yang dikau kerjakan di pulau itu, Bapak?''

Aku bertanya sembari mendekat pelan-pelan. Orang-orang lain masih takut mendekat mengira salinan prasasti Kota Kapur itu juga bertuah.

Lelaki tinggi besar yang sedang mengunyah ayam rebus berbumbu berikut dengan tulang-tulangnya itu melihat kepadaku dari atas ke bawah.

''Mengapa dikau tanyakan itu, Bocah?'' Ah, aku masih juga dipanggil bocah!

''Karena daku juga ingin tahu apakah yang dapat kukerjakan jika pada suatu hari sampai ke pulau itu.''

Lelaki itu manggut-manggut, menepuk kepalaku dengan tangan yang tidak memegang ayam.

''Ya, ya, ya, berangkatlah Bocah, tenagamu pasti akan berguna di sana!'' Lantas ia tertawa terbahak-bahak dan terpingkal-pingkal. Apakah yang dianggapnya lucu?

''Hahahahahahaha! Datanglah ke Kota Kapur di Pulau Bangka, wahai bocah, agar dikau bisa belajar menjadi Manusia Kapur! Huahahahahahaha!''

(Oo-dwkz-oO)