-->

Nagabumi Eps 63: Seperti Berciuman dan Bercinta

Eps 63: Seperti Berciuman dan Bercinta

AKU tertegun. Manakah yang harus kudahulukan, peduli kepada peniup seruling itu, ataukah kepada Pendekar Melati yang telah menghirup hawa racun dan set iap saat meninggal dunia?

Kupejamkan mataku, dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang dapat kuperkirakan jarak yang jauh, bahkan maksud peniupan seruling itu. Apakah seruling itu ditiup ditiup seorang anak gembala di balik hutan, ataukah seorang pendekar yang sengaja memperdengarkan suara serulingnya dengan maksud tertentu?

Namun suara tiupan seruling itu kemudian menghilang.

Meski begitu telah berhasil kutandai dalam ingatanku bahwa bibir yang meniup seruling bambu itu adalah bibir seorang perempuan. Selebihnya aku belum dapat menduga apa pun. Maka aku pun mendekati Pendekar Melati yang terkapar. Aku dapat menolongnya dengan ilmu pemunah racun yang kini terserap dalam diriku bersama ilmu sihir dari Raja Pembantai dari Selatan itu, tetapi aku belum tahu caranya, jadi harus kupelajari dulu ilmu itu di dalam diriku.

Aku pun memejamkan mataku. Kali ini bukan demi ilm u pendengaran, melainkan pembelajaran ilmu pemunah racun yang harus kubaca di dalam diriku. Kemudian terbaca di sana betapa aku harus menyalurkan hawa murni pemunah racun itu dari mulutku melalui mulutnya, dan untuk itu bibirku harus menempel pada bibirnya.

Maka aku bersimpuh di dekatnya, kuangkat tubuhnya ke pangkuanku. Dari tubuhnya meruap aroma yang mengingatkan aku kepada Harini. Aku mengambil napas dalam-dalam, lantas merengkuh tubuhnya, kurekatkan bibirku kepada bibirnya. Untuk beberapa saat, mulutku tidak boleh terlepas dari mulutnya, karena hawa murni itu harus tersalur tanpa kebocoran sedikit pun. Jadi bibirnya itu harus dilumat dengan erat.

Keadaan kami seperti orang berciuman dan bercinta, tetapi bukan begitulah kejadian sesungguhnya. Namun tidak dapat kuhindari bahwa lidahku bersentuhan dengan lidahnya, dan meski dalam keadaan pingsan lidah itu bergerak-gerak jua. Hanya aku yang merasakan bahwa lidah Pendekar Me lati terasa pahit sekali, membuat perutku mual serasa ingin memuntahkan sesuatu. Racun itu telah bekerja dan aku harus memunahkannya sampai tiada bersisa, karena sisa racun yang paling sedikit pun mampu membuat korban tetap lumpuh dan tak berdaya.

Demikianlah berlangsung beberapa saat, sampai Pendekar Melati kurasakan bergerak-gerak, dan begitu pula lidahnya. Namun selama lidah itu masih pahit seperti empedu, tentu aku belum boleh melepaskannya. Jadi masih kukulum mulutnya tanpa celah sedikit pun juga. Pendekar Melati meronta makin kencang, kesadarannya mungkin telah kembali, tetapi tenaganya masih terlalu lemah. Matanya sekarang terbuka, dan ia menyadari keadaannya, meski tak tahu bahwa dirinya teracuni dan aku sedang memunahkan racun. Ia pasti mengira aku sedang berusaha memperkosanya!

Aku harus bertahan dengan mulutku yang merekat dengan mulutnya, karena kebocoran hawa murni harus membuat segalanya diulang kembali, dan itu kurasa tak mungkin terjadi selama perempuan pendekar ini telah mendapatkan kembali kesadarannya. Barangkali ia akan lebih memilih untuk mati daripada ditolong dengan cara seperti ini oleh orang yang sejak awal ingin dibunuhnya! Padahal apa pun yang terjadi aku menginginkan perempuan pendekar ini tetap hidup, jadi mulutku harus tetap melekat erat pada mulutnya.

Demikianlah ia meronta, sementara mulutku tetap erat merekat pada mulutnya. Kurasakan pahit lidahnya mulai berkurang, tetapi kepahitannya terserap olehku yang nantinya harus kuembuskan sebagai hawa racun yang menguap ke udara. Aku dapat menyimpan segenap hawa racun itu untuk sementara dalam pori-pori lidahku, tetapi tidak untuk waktu yang terlalu lama, karena jika terlalu lama akan berbalik meracuni diriku. Meskipun dengan menyerap ilmu racun dan ilmu sihir Raja Pembantai dari Selatan itu ludahku dapat kuubah menjadi beracun dan berbisa, tidak berarti aku begitu kebalnya terhadap racun sehingga dapat menelan limbah racun dari tubuh Pendekar Melati. Maka aku pun berlomba dengan waktu. Tepat pada saat segenap racun di tubuhnya sudah punah. Kulepaskan Pendekar Melati, yang sembari berguling menjauhkan diri dari pangkuanku, dan segera melenting untuk mengirimkan tendangan dahsyat ke kepalaku. Jika aku tidak menghindar, jelas kepalaku akan hancur lebur beterbangan bagai abu, karena dalam kemarahan dan perasaan terhina, yakni mengira aku telah menjamahnya, ia telah menghimpun seluruh tenaganya dalam tendangan itu. Meskipun tenaga dalamnya tentu belum pulih benar seperti semula, tetap saja tendangan itu akan mampu menghancur leburkan kepalaku.

JADI kuangkat tanganku sekadar untuk melindungi kepala dan kaki perempuan pendekar itu segera menghajarnya. Aku yang masih bersimpuh tergeser menyusur tanah sejauh seratus langkah, meninggalkan jejak geseran yang panjang di atas tanah itu.

"Tunggu dulu Pendekar Melati, aku hanya bermaksud menolongmu!"

Namun kalimat ini tentu tidak bermakna sama sekali bagi perempuan pendekar yang sedang kalap, karena barangkali mengira aku telah memperkosanya itu! Ia terus menyerangku dengan tendangan berantai, yang membuatku harus berguling-guling, sebelum akhirnya melenting, untuk memancingnya ke udara.

Aku menghentikan tubuhku sejenak di udara, begitu ia melenting ke atas, aku turun dengan kecepatan kilat dan ketika berhadapan dengannya kutotok jalan darah untuk melumpuhkannya. Di bawah aku bersiap menerima tubuhnya yang jatuh, tetapi tak kulihat tubuhnya melayang turun.

Sebaliknya, sesosok bayangan putih berkelebat menyebarkan harum melati. Seseorang telah menyambar tubuh Pendekar Melati dan kini hinggap di atas pohon. Dalam keremangan masih dapat kulihat busana jubahnya yang serbaputih, tetapi ia bukan bhiksuni karena kepalanya tidak gundul, sebaliknya berambut juga serba putih dan sangat panjang, bagaikan ia telah lama bertapa dan selama itu telah tumbuh rambutnya. Ia memanggul tubuh Pendekar Melati di bahu kirinya, sementara tangan kanannya memegang seruling bagaikan memegang pedang untuk menjaga segala kemungkinan. Namun aku tidak melakukan apa pun.

Tak kulihat apa pun lagi dalam kegelapan, tetapi suaranya adalah suara seorang perempuan yang lembut dan sabar.

"Maafkanlah muridku yang kurang hati-hati ini, wahai Pendekar Tanpa Nama yang perkasa. Telah kuikuti semua kejadian yang berlangsung di sini, karena telah kuikuti muridku Si Melati yang meninggalkan perguruan meski pelajarannya belum tamat, tetapi yang terlalu bersemangat mengalahkan semua orang sehingga merugikan dirinya sendiri. Terima kasih telah menolong muridku yang bengal ini, wahai pendekar, akan kujelaskan segalanya kepadanya nanti, agar ia dapat belajar dari segala kesalahannya... Datanglah ke perguruan kami jika melewati Gunung Halimun, akan kami sambut dirimu sebagai seorang sahabat. Sekali lagi maafkan dan terima kasih, kini harus saya ucapkan selamat tinggal..."

Pada saat kudengar ucapan selamat tinggal ia sudah tidak kelihatan lagi. Ini berarti gerakannya lebih cepat dari suara. Jika dengan beban seperti itu ia masih dapat bergerak lebih cepat dari suara, pada saat bertarung dan mengerahkan segenap ilmunya, tentu ia pun dapat bergerak lebih cepat dari cahaya. Ilmu silat perempuan yang berjubah dan berambut putih itu tentu sudah tinggi sekali. Mengapa namanya tidak pernah kudengar? Jika tingkat ilmu s ilat muridnya yang belum menamatkan pelajaran saja sudah setinggi itu, bukan hanya tak terbayangkan jika pelajaran ilmu silatnya itu sudah tamat, melainkan lebih tak terbayangkan lagi ketinggian tingkat ilmu gurunya!

Aku menghela napas panjang. Pepatah di atas langit ada langit bukanlah kata-kata kosong. Kuingat suara seruling tadi. Sekarang aku mengerti, jika kuburu suara itu, maka waktu kembali mungkin saja tubuh Pendekar Melati sudah menghilang. Masalahnya, jika ia mengambilnya, bagaimana cara mengobatinya? Itulah sebabnya ia hentikan tiupan serulingnya, mungkin karena teringat percakapanku dengan Raja Pembantai dari Selatan sebelum meninggal. Telah dibiarkannya diriku menolong muridnya sebelum mengambilnya kembali.

Apa yang harus kulakukan sekarang? Aku merasa sangat lelah dan berada di tengah kegelapan. Jadi kubangun pancaka untuk membakar jenazah Raja Pembantai dari Selatan. Setelah api menyala, tempat itu menjadi sangat terang. Termasuk menerangi dinding bangunan batu tanpa bilik. Kuperhatikan gambar pahatannya. Bergerak-gerak bagaikan hidup, menggambarkan kembali kehidupan.

(Oo-dwkz-oO)

GAMBAR yang dipahatkan pada dinding bangunan ini adalah gambar pahatan teratai. Dalam cahaya api yang bergerak-gerak, bunga-bunga teratai itu bagaikan benar-benar sedang merekah. Lantas kuingat cerita itu, tentang Sang Buddha yang menunjuk suatu bunga teratai yang memang sedang merekah, dan seorang murid yang melihatnya seketika mendapat pencerahan. Bunga teratai selalu terletak di kolam, tepatnya di atas air, dan dari kenyataan alam ini sering ditarik bermacam-macam perlambangan, yang sangat berguna bagi pelajaran tentang berbagai kebijaksanaan dalam kehidupan.

KEMUDIAN api itu padam dan dunia kembali gelap. Begitu gelap, segelap-gelapnya gelap, tetapi masih tersisa bara api yang bukan hanya berasal dari kayu, tetapi abu jenazah Raja Pembantai dari Selatan. Bisakah kukuburkan saja abunya di tempat ini? Bangunan batu tanpa bilik ini kemungkinan besar juga sebuah makam. Tentunya seorang pejabat tinggi negara yang telah dimakamkan di tempat ini. Bangunan ini masih berada dalam keadaan bagus, tetapi tampaknya baru saja ditinggalkan dan tidak untuk dirawat lagi. Apakah kelak di masa yang akan datang orang-orang akan menemukan kembali bangunan ini dalam keadaan runtuh, berlumut tebal dan berjamur putih sampai bentuk teratai itu tidak kelihatan lagi, dan mereka akan menggali di sana sini untuk menyelidiki digunakan untuk apakah sebenarnya bangunan yang disebut candi ini?

Jika dulu aku diajak orangtuaku memeriksa dan menafsirkan berbagai lukisan di gua-gua para manusia dari masa lalu, mengapa pula orang-orang di masa yang akan datang kelak tidak harus melakukannya untuk memperkirakan bagaimana kehidupan kami? Apakah yang akan dipikirkan kelak tentang diri kami berdasarkan segala sesuatu yang kami tinggalkan? Pada sebuah gua tempat tinggal manusia purba kuingat ayahku menggali di sana sini dan menemukan segala macam benda maupun tulang belulang dari masa yang jauh silam, yang kemudian ditafsirkannya.

''Lihat kerangka ini anakku, ini kerangka seorang perempuan yang dibunuh. Perhatikan, tengkoraknya retak, lehernya masih terjerat tali kulit, dan ia mengenakan banyak perhiasan dari tulang binatang. Mungkinkah ia dihukum karena melakukan kesalahan, ataukah ia seorang gadis yang dikorbankan dalam upacara suatu kepercayaan, kita belum tahu sekarang, tetapi baik dikau perhatikan tentang makna yang terpesankan. Bahwa manusia hidup demi suatu makna tertentu.''

Bukankah siapa pun dapat memperkirakan segala sesuatu dari apa pun yang akan ditemukannya kelak? Berdasarkan pengetahuanku yang terbatas atas berbagai macam candi, kubayangkan kelak orang-orang dari masa yang akan datang, mungkin akan menemukan apa yang disebut perigi candi. Dalam perigi candi, setelah sekian abad berlalu, mungkin hanya terdapat pasir kasar bercampur pecahan-pecahan batu yang kedalamannya seukuran tinggi kaki manusia, sedangkan di bawahnya, lebih pendek dari itu, sekitar sepertiga di atas dasar perigi, penuh dengan tanah merah bercampur pasir dan pecahan-pecahan batu serta sejumlah batu putih persegi yang sudah tak menentu letaknya.

Lapisan terbawah terdiri dari atas pasir atas pasir halus dan di tengah lapisan ini terdapat sebidang tanah merah yang pada sisi utara dan selatan diapit oleh dua lapis batu persegi. Bertumpu di atas kedua pinggiran yang saling berhadapan dari batu teratas itu terdapatkan lagi tujuh lapis batu yang tersusun saling merapat dalam dua deretan ke atas sampai agak tinggi dari dasar perigi. Susunan batu-batu ini ternyata pada sisi-sisinya yang saling merapat itu diberi takuk, sehingga diperoleh semacam saluran segi empat yang menembus seluruh lapisan tadi.

Pun saluran ini penuh dengan tanah merah. Dasar periginya diberi lagi lobang luas yang isinya hanya pasir bercampur tanah. Di sudut barat daya dari lantai perigi ini nanti akan ditemukan lagi sebuah batu perigi yang ditembus sebuah lubang bulat.

Dalam bagian perigi yang penuh dengan tanah merah itu pula, akan kedapatan pada bagian baratdaya dua buah batu lain lagi yang bersusun menjadi satu dan yang bagian tengahnya diberi lobang segi empat dengan sisi-sisinya yang makin menyempit ke bawah. Rupanya kedua batu ini diperlakukan seperti sebuah peti, karena dari tutupnya, yang juga diberi lobang persegi dengan sisi-sisi yang meruncing ke atas, ditemukan pecahan-pecahannya.

Aku terkejut sendiri dengan bayanganku. Seperti sebuah peti! Apakah yang akan mereka tafsirkan lagi selanjutnya dengan semua itu? Angan-anganku berlanjut.

Petinya sendiri, yang diharapkan berisi abu jenazah, didapatkan cukup dalam di bawah lantai bilik candi, pada bagian teratas dari lapisan tanah merah tepat pada perbatasannya dengan lapisan. Letaknya di sudut timurlaut perigi. Mungkin mereka akan merasa aneh menemukan dua buah cupu, masing-masing dari batu dan berbentuk kubus dengan tutup. Kedua-duanya kedapatan kosong, dalam arti bahwa isinya hanya pasir dan tanah.

Akhirnya di se la-sela batu dalam perigi itu ada pula ditemukan pelbagai benda yang mungkin akan dihubungkannya dengan bekal penguburan, seperti beberapa potong emas, dua bentuk cincin mas kecil, sebuah matauang emas, sebuah batu akik merah, sejumlah potongan emas kertas, dan sehelai kepingan emas yang dipahat dengan gambar dewa dan tujuh baris tulisan. Bukankah mungkin saja penggalian yang menghasilkan berbagai penemuan itu ditutup dengan kesimpulan bahwa bangunan tersebut adalah makam?

Namun penemuan dalam perigi di depan candi lain bisa lebih meyakinkan, seperti berikut: Sisa-sisa seekor trenggiling besar yang tidak menunjukkan tanda-tanda pembakaran, sepotong bagian rahang tupai, dua buah geraham landak, sebuah geraham lembu, dan sepotong pecahan periuk. Dari perigi candi lain, mungkin saja juga akan ditemukan tulang- tulang kerangka manusiaO14) Di tempat yang sama, terkubur dalam-dalam terdapat peti berisi tanah bercampur arang dan abu berserta dengan kepingan-kepingan tembaga atau perunggu, duapuluh biji matauang, batu-batu akik dan manik- manik, potongan-potongan emas kertas dan perak, duabelas keping emas yang tujuh di antaranya dipotong segiempat dan bertulisan, sedangkan yang lima lagi dipotong menjadi berbentuk gambar kura-kura, naga, teratai, persajian dan telur. Di bawah cupu itu tanahnya bercampur arang, sedangkan dari tanah itu dapat ditemukan berbagai tulang binatang yang sudah hangus dan sekeping emas bertulisan.

Bara api te lah meredup, sebelum hilang lenyap sama sekali menyisakan pekatnya kegelapan. Mataku mulai sudah sayu. Apa yang harus kutinggalkan sebagai sekadar penanda, bahwa di tempat ini telah dikuburkan abu jenazah seorang Raja Pembantai dari Selatan? Namun dia bukanlah seorang raja, bahkan sebetulnya seorang candala takberkasta. Patutkah sebuah candi didirikan untuknya? Aku tidur menggantung dengan kepala terbalik pada batang pohon seperti kelelawar, tenggelam dalam lamunan yang berubah menjadi mimpi.

(Oo-dwkz-oO)