-->

Nagabumi Eps 62: Ilmu Hitam dan Ilmu Putih

Eps 62: Ilmu Hitam dan Ilmu Putih

Dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, segalanya memang seolah menjadi lebih lambat, yang membuatku selalu dapat bertindak lebih cepat dari gerakan tercepat. Maka bambu kuning yang kulempar secepat pikiran itu dengan tepat dapat mengenai kedua pedang itu sekaligus, yang langsung terbang ke angkasa; sementara bambu kuning itu sendiri terlontar kembali kepadaku.

Raja Pembantai dari Selatan yang sosoknya sepintas lalu seperti orang tua manapun yang memang tua dengan jenggot melambai-lambai itu, kini tampak seperti orang tua yang sebenarnya, mendongak ke atas mencari kedua pedangnya yang meluncur balik dengan ujung ke bawah. Ia melesat ke atas berusaha menangkap senjatanya. Aneh bagiku jika ahli sihir ini tidak mampu menguasai pedang yang keluar dari tangannya itu cukup dengan pikiran. Dalam banyak kejadian, setelah pemiliknya meninggal pun pedang yang telah diberi mantra sihir seringkali masih mencari mangsa, seperti yang telah diperintahkan ketika upacara pembacaan mantra dilakukan. Dalam hal seperti itu, bukan berarti pedang tersebut berjalan-jalan sendiri, melainkan bahwa siapapun yang memegangnya, akan segera dipenuhi nafsu membunuh, karena hanya dalam pembunuhan suatu mantra ilmu hitam menganggap sebuah pedang berdaya.

AKU berkelebat lebih cepat untuk menangkap kedua pedang itu sebelum Raja Pembantai yang ingin mati itu mengambilnya. Di udara aku menyambar kedua pedang itu dengan mata terpejam. Terlihat cahaya merah yang jahat di sekitar pedang itu dalam keterpejamanku, kusambar kedua pedang itu dengan kedua tangan, karena bambu kuning yang satunya pun telah kutinggalkan, dan sembari menyambar aku berputar sambil menjejakkan kedua kaki ke dada Raja Pembantai dari Selatan. Tubuhnya terpental ke atas pohon sementara aku mendarat dengan ringan di bawah. Dengan kedua pedang hitam di tangan kuburu arah jatuhnya dan segera menyerangnya dengan jurus-jurus Ilmu Pedang Naga Kembar.

Dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang kuketahui ia terjatuh dari pohon, tetapi tidak pernah menginjak bumi kembali. Ketika kuserang, ia telah menangkisnya dengan dua bilah pedang lagi, sebelum kuketahui warnanya yang juga hitam, pandangan dalam keterpejamanku telah memperlihatkan cahaya redup di sekujur sisi pedang, sehingga kuketahui keberadaannya saat keluar dari tangan.

Ia terus berada di udara ketika kuserang. Denting logam yang beradu dipantulkan dinding bangunan tanpa bilik dan bergema di seantero hutan. Yavabhumipala memang penuh dengan hutan dan di dalam hutan takhanya terdapat binatang, melainkan juga segala hal yang takterpikirkan. Sembari bertarung aku bertanya-tanya siapakah mereka yang telah mendirikan bangunan tanpa bilik penuh hiasan di tepi hutan ini? Raja Pembantai dari Selatan itu terus kudesak. Jika aku membuka mata, barangkali sulit aku mendesaknya seperti ini, karena pasti terkecoh oleh tipuan sihirnya yang meyakinkan. Termasuk jika kemudian tubuhnya menghilang. Namun dalam keterpejaman mata, justru dalam kegelapanku tubuhnya bercahaya dan aku tidak bisa salah lagi.

Ilmu Pedang Naga Kembar telah sampai kepada Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Aku bergerak sangat cepat, mendesaknya sampai ke dinding bangunan tanpa bilik. Teringat perilaku anakbuahnya yang menembus dinding batu, aku menjaganya agar takmasuk dinding, yang berarti dinding itu sekarang berada di belakangku. Namun entah kesempatan apa yang dilihatnya, ia menjadi sangat ganas. Kecepatannya bertambah seribukali lipat. Aku terdesak sampai punggungku menempel dinding. Saat itulah tiba-tiba sepasang tangan menarik kedua lenganku dari dalam dinding. Begitu kuatnya tarikan itu, sehingga meskipun pedangku takterlepas aku takbisa bergerak. Aku masih mengandalkan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang. Aku dapat membaca geraknya bagaikan telah diperlambat seperseratus bagian. Ia mendaratkan kakinya dan meluncurkan kedua pedangnya ke dada kiri dan kananku.

''Matilah dikau Pendekar Tanpa Nama!''

Dengan kecepatan yang begitu tinggi, siapapun akan mati dalam kedudukan seperti ini, terutama karena sepasang tangan anggota Barisan Setan Iblis yang telah mengunci lenganku. Namun karena dengan ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang segala kecepatan terlambankan, aku menjadi tahu apa yang dapat kulakukan. Maka kuangkat kedua kakiku melayang ke atas, sampai punggung dan kepalaku berputar yang dengan sendirinya juga melepaskan kuncian tangan pada lenganku. Kulihat seolah- olah kedua pedang itu me luncur pelan di bawah kepalaku yang terjungkir. Tampak pelan, tetapi kecepatannya melebihi pikiran, bahkan sihir termanjur pun tak akan bisa membatalkan ke arah mana keduanya meluncur. Kedua pedang itu meluncur dengan daya dan kecepatan luar biasa, menembus dinding bangunan tanpa bilik, yang pada gilirannya membunuh siapapun yang telah mengunci lenganku.

''Aaaaaaaaaakkhh!''

Lengan yang muncul dari balik dinding itu menghilang bagaikan tubuh yang memiliki lengan itu terdorong oleh daya dorong kedua pedang, yang setelah menembus dinding batu tentulah menghunjam tubuh itu. Teriakan itu terdengar seolah-olah kejadiannya berlangsung di luar, bukannya di dalam bangunan batu yang tidak berbilik, yang takkutahu bagaimana seseorang bisa bersembunyi di situ. Apakah ini suatu peristiwa s ihir ataukah suatu peristiwa nyata? Kudorong dinding itu sekuat tenaga karena aku ingin melontarkan diri ke arahnya dan menyelesaikan pertarungan dengan Jurus Kaki Menari di Atas Teratai Merekah.

DENGAN kecepatan takterduga kedua kakiku meluncur ke arah dadanya dan dalam sekejap telah menjejaknya puluhan kali. Ia terlontar seratus langkah dan muntah darah, jenggot putihnya yang melambai kini menjadi merah. Selintas aku merasa bersalah mengingat usianya yang sudah lanjut. Be- gitu perlukah aku membunuh orang yang sudah tua? Namun inilah Raja Pembantai dari Selatan yang sejak lama sekali sudah terdengar namanya. Kini aku teringat bahwa kemungkinan besar ketika ia menghilang, agaknya karena ia telah dibayar untuk ikut berlayar dalam penyerbuan ke Negeri Champa.

Pantaslah jika orang Yawabhumipala telah dianggap bukan hanya sebagai penyerbu, tetapi sebagai orang-orang buas yang memakan daging manusia. Kuketahui bukanlah uang dan harta kekayaan duniawi yang telah membuatnya sudi menempuh pelayaran yang jauh dan berbahaya, melainkan janji betapa ia akan dapat memuaskan kehendaknya untuk membunuh manusia sebanyak-banyaknya dengan cara menyakitkan. Kurasa juga jelas betapa Raja Pembantai dari Selatan itu membawa Barisan Setan Iblis, dan aku yakin adalah mereka ini yang membuat orang menuliskan prasasti betapa orang-orang Javadvipa yang datang dengan kapal- kapal adalah kelelawar penghisap darah.

Jika kemudian kerajaan menarik kembali mereka semua dan diceritakan menenggelamkan mereka di lautan, maka takheran jika setelah mereka ternyata selamat dan tiba kembali di Javadvipa segera menyebarkan Wabah Kencana sebagai pembalasan dendam, meski dengan atau tanpa pembalasan mereka akan tetap melakukan pembunuhan demi pembunuhan. Jadi kulupakan sosoknya sebagai kakek tua dengan jenggot melambai-lambai, aku harus bergerak cepat sebelum ia mengeluarkan sihirnya lagi dan menghilang entah ke mana. Memang benar ia telah mengaku m inta dibunuh, tetapi apalah yang masih boleh dipercaya dari seorang pemegang ilmu hitam seperti itu? Aku harus segera menamatkan riwayatnya!

Aku segera berada di hadapannya. Ia sudah terkapar bersimbah darah. Aku meng-angkat pedang. Namun aku rupanya kurang berbakat menjadi seorang pembunuh. Ia mengangkat tangannya dengan lemah. Sorot matanya taklagi merah melainkan biru. Aku masih mengandalkan keterpejamanku dalam kerja Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang, sehingga gambaran yang kudapat bisa kupercaya. Mata yang semula bercahaya merah mengerikan kini telah menjadi biru yang penuh kelembutan. Iblis ini telah menjadi manusia kembali. Aku pun membuka mataku.

Dadanya hancur, ia takmungkin bertahan hidup. Namun ia belum mati juga. Apakah yang masih akan bisa dilakukannya?

Ia melambaiku.

''Pendekar Tanpa NamaO.,'' ujarnya, ''mendekatlah O.''

Semula aku ragu, karena orang-orang golongan hitam mampu merencanakan sesuatu yang tidak akan pernah dipikirkan golongan lainnya, apalagi seseorang yang kurang berpengalaman seperti aku.

''Mendekatlah,'' katanya lagi, suaranya serak karena tenggorokannya penuh darah.

Merasa sebagai pelaku atas penderitaannya tiba-tiba membuat aku merasa bersalah. Aku mendekati tubuhnya yang terkapar, menekuk kedua lututku dan bersimpuh.

''Tabahlah Kakek,'' kataku, ''bukankah kematian ini yang dikau cari.O'' Ia berusaha tertawa, tetapi hanya bisa terbatuk sembari memuntahkan darah segar. Kakek ini sudah kehilangan banyak darah. Lantas ia meminta aku lebih mendekatkan telinga, karena suaranya sudah sangat lemah. Aku tergetar melihat kesendiriannya. Mereka yang memilih jalan ilmu hitam memiliki ruang kosong dalam dirinya bagaikan sebuah danau yang kering kerontang dengan tanah pecah-pecah mengerikan. Itulah danau kasih sayang yang terdapat dalam diri setiap orang, tetapi yang ketika kehilangan sumber mata air akan menjadikannya berang terhadap seru sekalian alam menuntut pemenuhan.

Aku mendekatkan telinga. Terdengar suaranya berbisik perlahan.

''Ada hubungan apa dikau dengan Sepasang Naga dari Celah Kledung?''

Aku tertegun, tetapi menjawab juga.

''Aku anak asuh mereka, Kakek, tetapi mereka kuanggap sebagai orangtuaku sendiri.O''

Ia berusaha tersenyum.

''Sudah kuduga semenjak kukenali Ilmu Pedang Naga Kembar ituO. Memang tidak mungkin daku dikalahkan sembarang pendekar, tetapi nanti dikau akan mengalaminya, karena siapapun yang mampu mengalahkan daku, akan lebih sulit lagi meninggalkan kehidupan ini. Itu pasti.''

Kutatap matanya yang telah menjadi lembut. Mungkinkah kelak aku harus mencari lawan dan menyerangnya begitu rupa agar dirinya membunuhku? Kukira aku tidak akan melakukannya, tetapi kata-katanya bukan tidak mengandung kebenaran. Ia sudah makan asam garam kehidupan sungai telaga dan rimba hijau, mengapa aku harus tidak percaya?

''KETIKA masih muda, daku pernah bentrok dengan Sepasang Naga dari Celah Kledung. Saat itu daku sedang menjarah dan membakar sebuah desa. Banyak orang kami bunuh dengan kejam dan saat itulah datang mereka berdua, menghabiskan kami hanya dalam beberapa saat sahaja. Mereka melenting dari atas kudanya ke atas genting dan turun hanya untuk mencabut nyawa. Kami melawan dengan segala cara, tetapi Ilmu Pedang Naga Kembar terlalu berat untuk dilawan, dan hanya dengan ilmu sihir aku dapat melepaskan diri seperti tikus. Seluruh gerombolanku habis dalam seketika. Sungguh pasangan pendekar yang perkasa. Memang tidak salah dirimu yang mampu mengalahkan daku.O"

Kapan pasangan pendekar itu me lakukannya? Dalam salah satu kepergiannya ketika meninggalkan aku sendirian di dalam pondok?

''Kemarilah,'' katanya lagi, ''ulurkan kedua ta-nganmu.O'' Kuulurkan kedua tanganku. Seluruh kecurigaanku pupus.

Namun ketika kedua tanganku bersentuhan dengan tangannya, mendadak suatu aliran hangat memabukkan menguasai diriku. Tanganku takbisa kutarik dan aku merasakan sesuatu yang merasuki diriku itu tidak dapat kutahan atau kutolak sama sekali! Aku merasa mabuk dan mendadak saja bagaikan bermimpi. Dalam mimpi itu beribu- ribu bahkan berpuluh-puluh ribu binatang berbisa bagaikan memasuki tubuhku. Aku berusaha memberontak tapi takberdaya. Segala jenis kalajengking dan ular bagaikan aliran sungai panjang yang merasuk dan meraga ke dalam darahku! Apa yang terjadi?

Tubuhku basah kuyup oleh keringat dan aku merasa badanku ini panas sekali, bagaikan jiwaku ingin meninggalkannya, bukan karena ingin mati, melainkan karena memang panas luar biasa yang taktertahankan, serasa dipanggang hidup-hidup di atas api. Aku merasa darahku menjadi hangat di dalam pembuluh darahku, lantas kurasakan sesuatu yang sangat menyakitkan, sangat sangat sangat menyakitkan bagai akan mampu membunuhku. Kurasakan selaksa jarum mengalir dalam darahku. Jarum-jarum beracun! Apakah yang sedang dilakukan Raja Pembantai dari Selatan ini? Apakah ia tidak ingin mati sendirian dan ingin membunuhku? Jika memang demikian berarti se luruh dugaanku keliru dan aku memang kurang berpengalaman. Memang sebodoh itukah aku, setelah keterpejamanku dalam ilmu pendengaran Mendengar Semut Berbisik di Dalam Liang memperlihatkan matanya yang bercahaya merah telah berganti dengan cahaya biru?

Dalam puncak penderitaan dan kekhawatiranku, mendadak saja pegangannya ia lepaskan dan aku terjerembab. Tenagaku bagaikan hilang, menjadi lebih lemah dari orang awam yang tidak pernah menggunakan tenaga. Aku hampir saja menyesali kebodohanku ketika memanggilku lagi, kini dengan suara yang jauh lebih lemah sehingga nyaris takterdengar sama sekali.

''Kemarilah, Anak, janganlah takut.O''

Suaranya yang lembut dan penuh kasih menyingkirkan seluruh pikiran burukku. Aku mendekat dengan tubuh yang lemah.

''Dengarlah, Anak, daku memang telah mendengar kemampuanmu untuk menyerang lawan dengan ilmunya sendiri, yang sama sekali tidak dikau lakukan kepadaku. Namun karena itulah daku jadi mengenal Ilmu Pedang Naga Kembar dan hubunganmu dengan Sepasang Naga dari Celah Kledung, yang berarti juga daku dapat mempercayaimu untuk menerima seluruh ilmu dan tenaga dalamku.

''Anak! Janganlah khawatir! Daku mengerti dikau telah menghindar untuk menyerap ilmuku karena takut akan daya racun dan daya sihir, bukan hanya pengaruh kepada tubuh, melainkan terutama pengaruh kepada kepribadianmu. Janganlah khawatir Anak! Aku tidak sembarang menurunkan ilmuku. Namun ada beberapa hal, yang membuatmu secara terpaksa atau tidak terpaksa harus menerimanya. ''Pertama, suatu ilmu disebut ilmu hitam sebetulnya hanyalah karena tujuannya, karena ilmu yang sama sangat mungkin digunakan untuk membela mereka yang lemah dan tidak berdaya; jadi benar ilmu hitam dapat mempengaruhi pemiliknya, sama benarnya seperti penguasaan ilmu putih yang tetap saja dapat membuat pemiliknya sombong dan gila kuasa. Maka, karena dirimu sudah menyerap dan menghayati segala sifat kebaikan dengan mantap, dikau tidak akan berpindah ke golongan hitam meski memiliki ilmu yang disebut ilmu hitam; sebaliknya meskipun ilmu yang dikau miliki adalah ilmu putih, jika dalam dirimu timbul perasaan jumawa dan angkuh karena memilikinya, serta bangga pula telah mengalahkan semua lawan, maka apalah bedanya kepribadian semacam itu dengan kepribadian golongan hitam?''

"PERTAMA, suatu ilmu disebut ilmu hitam sebetulnya hanyalah karena tujuannya, karena ilmu yang sama sangat mungkin digunakan untuk membela mereka yang lemah dan tidak berdaya; jadi benar ilmu hitam dapat memengaruhi pemiliknya, sama benarnya seperti penguasaan ilmu putih yang tetap saja dapat membuat pemiliknya sombong dan gila kuasa.

"Maka, karena dirimu sudah menyerap dan menghayati segala sifat kebaikan dengan mantap, dikau tidak akan berpindah ke golongan hitam meski memiliki ilmu yang disebut ilmu hitam; sebaliknya meskipun ilmu yang dikau miliki adalah ilmu putih, jika dalam dirimu timbul perasaan jumawa dan angkuh karena memilikinya, serta bangga pula telah mengalahkan semua lawan, maka apalah bedanya kepribadian semacam itu dengan kepribadian golongan hitam?"

Aku tercekat, bagaimana mungkin kata-kata seperti itu dapat keluar dari mulut Raja Pembantai dari Selatan yang kekejamannya sungguh tiada tara, yang membuat namanya dikenal bukan sebagai manusia, melainkan sebagai iblis itu sendiri? "Kedua, dikau telah menempurku tanpa takut mati, demi membela kepentingan Pendekar Melati yang bagimu harus tetap hidup meskipun ia hanya berpikir untuk membunuhmu demi kesempurnaan hidupnya sebagai pendekar. Bagus sekali perhatian Anak kepada perempuan pendekar itu, tetapi ketahuilah, ia memang hanya bisa tetap hidup sekarang ini berkat ilmu pemunah racun yang telah menyerap bersama seluruh ilmuku ke dalam dirimu. Jika tidak, ia akan tetap menemui ajalnya, karena segenap rahasia penyembuhannya hanya terdapat dalam ilmu pemunahnya tersebut, sedangkan racun penidurku itu tidaklah menidurkan untuk sementara, melainkan untuk selama-lamanya.

"Ketiga, aku pun tak bisa mati jika ilmu ini tidak keluar dari tubuhku, dan jika ilmu ini keluar dari tubuhku tanpa ada yang menampungnya, sungguh akan berbahaya, karena ia dapat terserap tanpa sengaja oleh orang-orang yang bersamadhi mencari ilmu, tetapi kita sungguh tak tahu apakah orang itu bersifat baik atau bersifat jahat, dan jika bersifat baik pun jika mendapat kesaktian mendadak seperti ini, maka sungguh tak terjamin bahwa ia tidak akan pernah menjadi jumawa dan merajalela.

"Maka karena aku tak akan bisa mati, dan meski dengan dada hancur aku masih dapat mengacaukan dunia melalui Wabah Kencana, dikau betapapun harus menerimanya ke dalam dirimu. Ketahuilah Anak, jika ilmu ini diterbangkan dalam ruang dan waktu tanpa penampung, maka suatu ketika akan tetap saja merembes keluar Wabah Kencana itu, menimbulkan malapetaka di seluruh dunia.

"Baik-baiklah Anak, kini tubuhmu kebal segala racun dan tak mempan ilmu hitam, tetapi ingatlah ilmu hitam dan ilmu sihir hanya akan termanfaatkan dengan baik jika hatimu tetap tinggal putih... Selamat jalan..."

Raja Pembantai dari Selatan yang teramat kejam ini mengembuskan napas penghabisan. Aku tak pernah mengira bahwa jalan kematiannya harus melalui jalan kehidupanku. Tinggal kini ilm u-ilmunya yang tak pernah ingin kumiliki menyerap ke dalam diriku. Apakah aku juga tak akan pernah bisa mati jika tidak pernah melepaskannya?

Namun aku juga tidak akan pernah tahu, jika kulepaskan sekarang juga agar melayang-layang di udara, maka jaminan apakah yang tidak akan membuat penerimanya yang sedang bersamadhi entah di mana, tidak akan menjadi jahat atau bahkan lebih jahat dari Raja Pembantai tersebut seperti selama hidupnya.

Ilmu ini ilmu gaib, aku mendapatkannya tanpa belajar sedikit demi sedikit, bagaimanakah cara menggunakannya?

Kutatap mayat Raja Pembantai dari Selatan itu dalam kegelapan. Aku harus membuat pancaka untuk membakarnya.

Lantas kutatap juga tubuh Pendekar Me lati yang seperti sedang tertidur nyenyak sekali. Jika aku tak mampu membangunkannya dari impian sihir dalam tidurnya, ia akan tertidur terus sampai mati.

Saat itulah, dari dalam hutan, di kejauhan, terdengar suara seruling.

(Oo-dwkz-oO)