-->

Nagabumi Eps 59: Wabah Kencana

Eps 59: Wabah Kencana

SEPASANG pedang hitam yang muncul dari dalam tangan itu mendadak berputar bagai angin puting beliung. Bukanlah betapa kehitamannya merupakan campuran darah dan racun, melainkan bahwa hawa racun yang dikeluarkan pedang yang lebih berbisa dari segala bisa itu dapat membunuh bahkan tanpa lawannya itu harus tergores. Udara berbau amis, bukan amis ikan, tetapi am is racun binatang yang tidak mudah dijelaskan seperti apa baunya, yang jelas baunya sangat memualkan. Aku yang baru saja bertempur melawan Pendekar Melati dengan segenap keharuman melatinya, bagaikan berpindah mendadak dari taman bunga ke tempat penimbunan mayat-mayat yang sudah membusuk.

''Huuuuueeeeeeeekkkk!''

Pendekar Melati yang perkasa dan dalam kenyataannya belum dapat kutundukkan itu ternyata tidak tahan dengan baunya. Ia terpental keluar lingkaran dan muntah-muntah, sama sekali bukan karena kalah tenaga karena benturan senjata, melainkan melulu karena bau amis tersebut. Lebih berbahaya lagi karena keamisan tersebut menunjukkan tingginya tingkat racun. Bagi Pendekar Melati yang tenaga dalamnya tinggi, bukan masalah besar baginya untuk menahan resapan racun yang terhirup agar tidak memasuki paru-parunya, tetapi itu tidak berarti ia juga akan tahan terhadap baunya!

Raja Pembantai dari Selatan yang mencari kematian itu sebenarnya menyerang kami berdua bukan tanpa alasan. Seperti dikatakannya, berhadapan satu lawan satu, menurut perhitungannya ia pasti akan mampu mengalahkan kami; sebaliknya, berhadapan dengan kami berdua sekaligus, gabungan ilmu kami akan mampu menundukkan dirinya, yang berarti juga menewaskannya, dan memang itulah yang dicarinya. Maka sangat berbahaya bagi Pendekar Melati jika dalam keadaan muntah-muntah itu Raja Pembantai dari Selatan itu masih merangseknya pula. Pendekar Melati nyaris hanya bertahan, berkelit ke sana dan kemari dengan ilmu meringankan tubuhnya yang tinggi, tetapi bau amis telah membuyarkan pertahanannya. Kedudukannya sangat berbahaya.

MAKA segera kusambar dua batang bambu kuning yang sembarang tergeletak dan segera kudesak Raja Pembantai dari Selatan itu dengan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian. Ia terpaksa melepaskan perhatiannya dari Pendekar Me lati dan menghadapiku. Dalam keadaan biasa, apalah artinya batang bambu kuning menghadapi dua pedang hitam yang keluar dari tangan Raja Pembantai dari Selatan, tetapi kali ini kedua batang bambu ini telah berisi tenaga dalam, yang dengannya kumainkan Jurus Dua Pedang Menulis Kematian yang telah kukembangkan, yakni memainkannya dengan pernafasan pranayama yang bukan hanyamampu membuatku berjaya mengarahkan pukulan, tetapi juga memunahkan hawa racun dari serbuk pedang yang bertaburan setiap kali beradu.

Setiap kali kedua pedang itu beradu dengan senjata lawan, serbuk hitam selembut tepung berhamburan dan bertaburan di gelanggang pertarungan, dan meracuni se luruh lingkungannya, sehingga dapat kubayangkan bagaimana segala cerita tentang Raja Pembantai dari Selatan ini ternyata merupakan kebenaran.

Demikianlah cerita itu kudengar dari masa kecilku maupun kudengar dari kedai ke kedai, bahwa apabila Raja Pembantai ini bertarung, maka bukan saja musuhnya yang akan tewas dengan tubuh mencair atau menghitam atau melepuh atau terjulur lidahnya dan terloncat bola matanya karena kejahatan ia punya bisa racun, tetapi juga penonton. Seluruh penonton di tempat itu akan ikut mati karena segenap udara ikut beracun. Dapat dibayangkan kekejaman Raja Pembantasi ini, karena dengan sengaja ia takhanya membunuh manusia, tetapi juga seluruh makhluk hidup di tempat ia datang meminta korban. Konon ia mempelajari ilmu gaib yang memerlukan korban. Konon pula gurunya yang gaib itu, seorang tua bungkuk yang bisa tiba-tiba tampak dan tiba-tiba menghilang, memberi syarat persembahan korban manusia, binatang, dan tumbuh-tumbuhan yang dibunuh dengan sekejam-kejamnya, jika ingin selalu menang dalam pertarungan.

Maka dengan selesainya pertarungan Raja Pembantai bukan hanya lawan dan para penonton yang tewas, tetapi segenap lingkungan hidup hancur musnah. Mayat-mayat ratusan manusia seisi desa, lelaki perempuan, tua muda, besar kecil, orang sehat atau orang sakit, orang waras atau orang gila, nenek bungkuk maupun ibu muda yang masih menyusui bayi, berikut bayi-bayinya, bergelimpangan begitu saja seperti tumpukan sabut kelapa; bangkai-bangkai hewan piaraan maupun binatang liar mulai dari ayam, bebek, sapi, kerbau, kambing, babi, anjing, sampai ular, kadal, bajing, burung-burung, serangga, dan bekicot merata di mana-mana, monyet jatuh dari pohon, kelelawar jatuh dari udara, dan ikan di sungai meloncat keluar hanya untuk menggelepar takseorang pun akan memakannya. Tanah menjadi tandus dan mati, pepohonan yang manapun, pohon maupun semak- semak, buah-buahan maupun bunga-bungaan, layu dan meranggas, atau juga menjadi putih mencair dan lengket menjadi racun jua adanya. Jadi ia memang seorang mahadiraja pembantaian terkejam yang pernah kudengar.

Pernah suatu ketika pasukan kerajaan memburu dan berhasil mengepungnya di sebuah desa yang sudah mati, tinggal gubuk-gubuk kosong yang reyot dan miring. Tidak kurang dari seribu prajurit yang datang dari empat penjuru mengepungnya di situ. Sejak pagi ia takkeluar juga semenjak terdesak pada malam harinya, tetapi pasukan itu pun takberani maju karena tahu bahwa racun akan membunuh mereka dengan siksaan yang sakitnya taktertahankan. Jika ia disebut Raja Pembantai dari Selatan, itu karena ia menguasai daerah yang paling se latan, yakni suatu daerah pantai di Yavabhumipala. Suatu daerah yang nyaris hanya dihuni olehnya seorang, karena segala sesuatunya sudah mati, bahkan tanah juga sudah mati.

Memang benar Raja Pembantai dari Selatan ini memiliki banyak murid yang tersebar sebagai ahli racun, dukun klenik, tukang santet, dan bromocorah. Bahkan dulu terkenal barisan pengawalnya yang dijuluki Barisan Setan Iblis sebanyak duapuluh orang. Namun Barisan Setan Iblis ini telah dibasmi oleh para pendekar golongan putih. Meski taksatupun dari para pendekar golongan putih itu bertahan hidup karena juga dibantai, taklebih dan takkurang hanya mengukuhkan kedahsyatan Sang Raja Pembantai.

KERAJAAN pun akhirnya turun tangan, karena Raja Pembantai ini terus menerus membunuh orang awam yang tidak bersalah. Dunia persilatan dan dunia kerajaan sebetulnya merupakan dua dunia yang tidak pernah terhubungkan secara langsung. Makanya, berapapun banyaknya pendekar yang terbunuh, kerajaan tidak merasa kehilangan. Namun orang awam adalah hamba kerajaan. Tanpa hamba, di manakah letaknya raja? Seorang raja tidak bertahta di atas kekosongan, kekuasaannya adalah kekuasaan atas sesuatu, dan sesuatu itu bukankah juga tanah-tanah kosong tanpa penghuni. Tanah- tanah itu harus ada penduduknya, tetapi penduduk manakah dapat hidup tenang di suatu wilayah tempat seorang pembunuh dapat merajalela mencari mangsa tanpa perlawanan?

Jika kerajaan tidak berbuat sesuatu terhadap Raja Pembantai dari Selatan, maka yang akan menjadi raja bukanlah Rakai Panamkaran waktu itu, melainkan Raja Pembantai itu sendiri meski memang akan menduduki daerah yang kosong dan begitu kosongnya, bukan sekadar karena seluruh penduduknya sudah mati dan sisanya berpindah sejauh-jauhnya, tetapi karena se luruh makhluk hidup dan tetumbuhannya bahkan tanahnya sudah mati. Tiada seorang raja pun patut menyerahkan kekuasaannya kepada seorang penyebar ketakutan.

Maka terkepunglah Raja Pembantai dari Selatan di wilayahnya sendiri. Seribu pasukan berkuda kerajaan bergerak maju dari empat penjuru. Mereka harus bergerak sekarang, karena jika hari menjadi gelap, para penguasa ilmu hitam akan terlalu mudah menghilang. Namun pada saat pasukan bergerak, dari tengah perkampungan mati yang penuh tulang belulang segala makhluk hidup itu mengangkasalah selaksa lebah yang segera berubah menjadi suatu cahaya, menjadi cendawan cahaya di langit, bergabung dengan langit sore yang juga keemasan. Pemandangan bagaikan sesuatu yang indah, tetapi keindahan maut yang mengancam. Maka cendawan cahaya yang kini telah memayungi pasukan kerajaan itu segera berkelebat turun dan menyambar.

''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!'' ''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!'' ''Aaaaaaaaahhhhhhhhhh!''

Cendawan cahaya yang berkelebat menyambar pasukan itu

ternyata merupakan hawa panas, begitu panas, bagaikan tiada lagi yang lebih panas, sehingga kulit mengelupas, darah menggelegak bagaikan air dimasak, rambut terbakar, tetapi tidak langsung mematikan. Manusia dan kuda meleleh meskipun tidak langsung mati, ketika akhirnya seribu prajurit itu tewas hampir seluruhnya, kecuali beberapa orang yang kebetulan berada di luar sapuan cendawan. Betapapun kulit tubuh dan rambut mereka tetap menjadi kuning dan segenap cairan di dalam tubuh mereka serasa menguap, menerbitkan rasa kekeringan dan kehausan yang luar biasa.

Tak berhenti di sana, cendawan ini bagai mengembang melingkupi desa-desa di sekitarnya. Jika orang-orang tidak segera lari, niscaya mereka pun akan mengalami nas ib serupa. Maka dengan sekuat tenaga siapapun orangnya segera lari menghindari cendawan yang terus menerus melebarkan dirinya, dengan lambat tapi pasti dan mengerikan sekali. Tidak dapat kubayangkan bagaimana orang-orang berlari ketakutan dalam kejaran cendawan kekuningan yang sangat membinasakan.

Cendawan ini begitu indah dipandang mata seperti langit yang keemas-emasan, tetapi memiliki daya memunahkan yang bagaikan tanpa batasan, maka kemudian disebut sebagai Wabah Kencana.

Namun semenjak saat itu Raja Pembantai dari Selatan bagaikan lenyap ditelan bum i. Tidak jelas benar apa yang sudah terjadi. Pernah kudengar bahwa ia mengundurkan diri dunia persilatan berdasarkan ketentuan dalam Musyawarah Para Naga. Dalam pertemuan tahunan ini diceritakan bahwa Naga Hitam telah berhasil mempengaruhi tujuh naga yang lain, yakni Naga Putih, Naga Kuning, Naga Merah, Naga Biru, Naga Hijau, Naga Jingga, dan Naga Dadu agar memberikan ancaman kepada Raja Pembantai dari Selatan, bahwa seluruh dunia persilatan akan mengepung dan memusuhinya jika ia tidak mengundurkan diri. Bahwa seorang Raja Pembantai yang memiliki kemampuan menyebarkan Wabah Kencana dengan kekejamannya yang tiada tara bersedia menuruti perintah yang diputuskan dalam Musyawarah Para Naga, bagiku menunjukkan wibawa para naga di dunia persilatan; tetapi bagiku cerita ini tidak terlalu meyakinkan, aku lebih percaya Raja Pembantai dari Selatan itu mengundurkan diri dari dunia persilatan, lebih karena kehilangan lawan yang mampu menundukkannya. Begitulah berbagai jenis cerita beredar di dunia persilatan maupun di dunia awam berdasarkan kepentingan masing-masing. Di dunia awam, pertempuran dalam pengepungan terhadap Raja Pembantai tersebut tidak pernah terjadi, meski mereka juga menyebut wabah kematian tersebut sebagai Wabah Kencana.

DI tengah pertarungan, mendadak terlintas dalam benakku, cerita tentang Musyawarah Para Naga itu, benar atau tidak keberadaannya, seperti menghubungkan dunia persilatan dengan istana. Mungkinkah semua ini hanya lamunanku saja atau merupakan tanda perubahan belumlah kuketahui. Tidakkah aku dapat menanyakannya kelak pada suatu hari kepada para naga saja, ketika bertarung melawan mereka dalam jalan kependekaran untuk mencapai kesempurnaan? Namun tentu saja hal itu tidak dimungkinkan jika hari ini aku tewas dalam pertarungan melawan Raja Pembantai dari Selatan.

Wuuuuuuuuuuuzzzzzzzzzzz!

Pedang hitamnya nyaris membelah leherku. Aku menahan nafas ketika pedang itu lewat mendesing di bawah hidungku. Kedua pedangnya menyebarkan hawa racun yang amis, bacin, dan memuakkan. Itulah sulitnya bertempur melawan golongan hitam, karena mereka selalu menggunakan segala cara untuk menang. Jika mereka yang menempuh jalan kependekaran bersedia menempuh pertempuran untuk mencapai kesempurnaan, meski dapat berakibat kematian; bagi golongan hitam kemenangan adalah segalanya dan boleh ditempuh dengan segala cara, meskipun sangat licik dan penuh kecurangan dalam siasat pertempurannya. Jadi dalam pertarungan yang seharusnya menjadi pertarungan ilmu pedang seperti ini, yang tidak kalah menyita perhatian adalah cara menghadapi racun dan daya sihir yang sangat menipu pandangan.

Wabah Kencana tampak sebagai langit yang indah dalam senja yang sungguh keemasan, tetapi siapakah yang akan mengira betapa akan meninggalkan bencana yang begitu menyiksa? Dalam pertarungan ini kuhayati cara bertempur golongan hitam yang licik, tidak tahu malu, dan bukannya berarti takberketrampilan. Seluruh jurus Raja Pembantai ini sangat mengerikan, karena bukan sekadar membunuh yang jadi tujuan, melainkan sedapat mungkin membunuh dengan menyakitkan. Meskipun aku dapat menerapkan Jurus Bayangan Cermin untuk menghadapinya, kutahu itu bukannya tanpa akibat, karena begitu seluruh ilmunya terserap ke dalam diriku, terserap pula segenap ilmu racun dan sihir Raja Pembantai dari Selatan itu ke dalam tubuhku!

Pedang hitam itu menari-nari seperti tanduk iblis, seolah- olah pedang itu memiliki matanya sendiri. Pedang yang keluar dari dalam tangan, apalah yang tidak dapat dilakukannya? Namun Jurus Dua Pedang Menulis Kematian ternyatalah bisa lebih dari mengimbanginya meski yang kugunakan hanyalah dua batang bambu kuning. Suatu kali nyaris leher Raja Pembantai dari Selatan itu terbabat putus jika ia tidak segera melesakkan dirinya ke dalam tanah.

Saat itulah, ketika ia meloncat ke udara untuk memulai serangannya lagi, lima daun bambu yang telah menjadi keras dan tajam seperti pisau terbang meluncur ke dadanya.

Kejadiannya berlangsung cepat sekali. Siapapun orangnya tidaklah mungkin untuk terhindar dalam keadaan seperti itu. Lima daun bambu yang telah mengeras seperti pisau terbang akan segera tertancap di dada Raja Pembantai dari Selatan. Namun kejadian selanjutnya sungguh aneh, manusia yang sejak tadi terus menerus mengelak dan menangkis pukulan senjata bambuku itu memang kemudian tampak jelas tertembus tubuhnya, bagaikan tubuhnya tidak terdiri dari darah dan daging, melainkan dari asap!

"Huh?"

Pendekar Melati, yang agaknya telah melemparkan daun- daun bambu itu, tertegun. Aku juga tertegun. Tinggal bangunan batu tanpa bilik itu, yang tegak kehitaman di balik kelam. Aku terkesiap. Kekelamanm selalu mampu dimanfaatkan dengan baik oleh ilmu hitam, yang tidak pernah sudi berurusan dengan kejujuran. Akupun berteriak.

"Dikau mencari kematian, tetapi dikau terus menerus menghindari kematian! Dari tadi sebetulnya dikau hanya bisa hidup terus karena ilmu sihirmu yang hitam, bukan ilmu pedang atau ilmu persilatan, dikau tidak akan mendapat kehormatan seorang pendekar, wahai Raja Pembantai dari Selatan!"

Aku berkata demikian untuk memancingnya. Agar iblis itu melepaskan ilmu s ihirnya dan bertanding merebut kehormatan melalui pertarungan yang dapat dimenangkan sebagai seorang pendekar, bukan kemenangan seseorang dari golongan hitam. Tindakanku itu juga merupakan siasat, karena jika Wabah Kencana yang bagaikan tiada terlawan itu dikeluarkannya, aku belum tahu bagaimana mengatasinya. Namun bukan diriku sendiri yang kupikirkan, melainkan Pendekar Melati, meskipun kehadiran perempuan pendekar itu di tempat ini, taklebih dan takkurang hanyalah untuk membunuh diriku!

HARI belum lagi malam, tetapi saat-saat seperti itulah yang kurasakan sebagai penuh dengan bahaya, karena kesamaran menjelang malam merupakan suasana yang sangat menipu pandangan. Bukankah senja merupakan peristiwa perubahan yang sangat cepat? Siang dan malam memberikan ketetapan suasana yang panjang, tetapi pergantian suasana dari terang menuju gelap, tepat pada batasnya, merupakan keadaan yang paling rawan dalam pertarungan. Aku sering memanfaatkan keadaan seperti ini, tetapi kini adalah Raja Pembantai dari Selatan itu yang tampak bermaksud menggunakannya kepada diri kami berdua!

Seperti telah lama bekerja sama, aku dan Pendekar Melati saling beradu punggung untuk menghadapi segala kemungkinan. Aku masih dengan senjata bambuku, perempuan pendekar itu ternyata telah memegang sebuah toya. Entah bagaimana pula toya sepanjang itu telah disimpan dan kini dikeluarkannya, apakah ia telah menyimpan senjatanya secara gaib pula?

Mendadak kudengar desingan senjata-senjata rahasia, dan bersama dengan itu sejumlah bayangan berkelebat dari balik kelam.

(Oo-dwkz-oO)