-->

Nagabumi Eps 58: Kematian dan Kehormatan

Eps 58: Kematian dan Kehormatan

AKU melesat jungkir balik ke atas, langsung ke belakang manusia yang mengirim angin pukulan dahsyat itu. Melihat arah pukulannya, tampaknya ia bermaksud membunuhku dengan seketika. Seperti juga dirinya, dalam ilmu silat tangan kosong dipelajari titik-titik terlemah pada tubuh manusia, yakni 36 titik yang menyebabkan kelumpuhan sementara, 18 titik yang menyebabkan kelumpuhan selamanya, dan sembilan titik yang langsung menyebabkan kematian.

Adapun angin pukulan ini tampak terarah, mengarah langsung kepada sebagian dari titik-titik kematian tersebut.

Berarti kepadanya pun aku tidak perlu memberi ampun. Kudorongkan pukulan Telapak Darah ke depan. Namun rupanya iapun mampu melesat jungkir balik ke atas dan langsung berada di belakangku dan lagi-lagi mengirimkan pukulan mematikan, tetapi kini dengan kedua tangan. Aku tak mau menghindar seperti tadi, karena tentu lagi-lagi nanti ia akan berada di belakangku lagi, maka aku pun berbalik untuk mengadu tenaga!

Rrrrrrrrtt!

Kedua telapak tanganku merekat dengan kedua telapak tangannya, dan akupun terhenyak. Maksud hati mengadu tenaga, yang terjadi adalah tenagaku bagaikan diserap! Itu kejutan pertama. Kejutan kedua, yang kuhadapi adalah seorang perempuan! Aku memang masih baru mengembara di rimba hijau dan sungai telaga dunia persilatan, tetapi jika terdapat seorang perempuan pendekar dengan tingkat ilmu setinggi ini, setidak-tidaknya aku seharusnya sudah pernah mendengar ia punya nama.

Tangan yang menyerap itu membuat aku terkesiap. Apakah itu berarti tenaga dalamku terserap olehnya, seperti aku mampu menyerap ilmu silat lawan dengan Jurus Bayangan Cermin? Jika memang demikian, takterbayangkan betapa dahsyat tenaga dalam yang telah dim ilikinya! Mengetahui kemungkinan semacam ini, seharusnya aku melepaskan tenaga dalamku, sehingga tak ada sesuatu pun yang dapat diserapnya, dan apalagi dikembalikan kepadaku dengan tambahan tenaga dalam yang dim ilikinya pula! Akibatnya akan sangat berbahaya bagi diriku, aku bisa terjengkang muntah darah. Namun jika tenaga dalamku kulepaskan, itu juga berarti pertahanan diriku terbuka, dan tanpa tenaga dalam apalah artinya nyawa dalam pertarungan tingkat tinggi seperti ini?

Aku harus bergerak secepat pikiran. Jika pikiranku lambat, itulah saat sang maut akan membabat.

MAKA memang kulepaskan tenaga dalamku, tetapi sebelum perempuan pendekar tersebut memanfaatkan peluang atas kekosonganku, aku telah bergerak lebih cepat dari kilat, mengirimkan lima jenis pukulan yang serentak berkembang menjadi 55 pukulan. Namun perempuan pendekar ini memang hebat. Bukan saja seluruh seranganku dapat dihindarinya, tetapi ia mampu menyerangku pula. Aku meningkatkan kecepatan sampai kepada taraf yang belum pernah kulakukan, ibarat mata yang ketika berkedip hanya akan melihat bayangan sosok ketika sosoknya telah berkelebat, aku dapat kembali kepada bayangan sosok itu sebelum menghilang, dan tetap meninggalkan sosok bayangan baru, yang semuanya terjadi tak sampai satu kedipan.

Namun perempuan pendekar ini dapat mengimbangiku. Sungguh lawan yang sepadan denganku, meski satu kunci permainan telah kupegang: Jangan mengadu tenaga dalam! Kukira kemampuannya menyerap tenaga dalam telah menewaskan banyak lawan tangguh, jika ia memang menyerang semua orang seperti ke-tika menyerangku sekarang ini. Aku mengembangkan kecepatan pada taraf yang sangat tinggi, sehingga tak ada satu pun pukulan mematikannya mengenaiku; tetapi pukulan-pukulanku pun tak ada yang mengenainya, meski kuakui tak ada satu pun seranganku yang mematikan. Namun aku pun harus mengakui, jika kukirimkan pukulan yang dapat mene- waskannya seketika, pada salah satu dari sembilan titik kematian di tubuhnya, kukira belum tentu pula aku akan dapat mengenainya.

Tiba-tiba aku mendapat akal untuk memancingnya, dengan berlari memutari bangunan batu tanpa bilik itu. Jika ia mengikutiku, maka aku akan berbalik menyerangnya dengan mendadak, dan saat itu kukira aku akan mendapat peluang yang tak sampai sekedipan mata untuk menotok titik di tubuhnya yang akan membuat ia lumpuh untuk sementara; tetapi yang terjadi justru sebaliknya, pada saat aku melesat dan menoleh ke belakang, ia muncul di depanku dengan serangan yang kecepatannya melebihi cahaya. Dengan sisa waktu yang kumiliki, aku memiringkan tubuhku, meluncur tepat di bawah tubuhnya yang kini menjadi lewat di atasku.

Pada saat itu, seketika waktu serasa begitu lambat, bagai tiada lagi yang lebih lambat dari kelambatan ini, karena dalam kecepatan seperti itu aku ternyata mampu membuka ruang pikiran di dalam kepalaku.

Begitu dekat tubuhnya berpapasan dengan diriku, sehingga terhirup olehku bau tubuhnya yang semerbak dengan harum melati. Kukatakan bau tubuh dan bukan bau bunga, karena memang tubuhlah yang serasa terbaui oleh indera penciumanku, dan bukan bunga melati. Hanya tubuh, yang dilibat kain putih, dan hanya putih, semerbak  tubuh yang dibalut kain yang seperti telah diasapi pewangi, suatu wewangian yang tidak tajam, tetapi mengendap meyakinkan memberikan kesan suatu keanggunan...

Bagaikan aku dapat meraba tubuhnya itu, tubuh yang dibalut kain putih longgar di pinggang, perut terbuka dan terlihat anting-anting di pusarnya, tetapi kembali berkain ketat membelit pada payudara. Supaya tidak bergerak-gerak naik turun tentunya dalam pertarungan, menyisakan pemandangan lembah maut memutih yang sangat mendebarkan. Siapalah yang akan tega memusnahkan keindahan seperti ini dari muka bumi?

Hanya ancaman mautlah yang membuat siapa pun akan tersadar, betapa keindahan yang tersaksikan dalam pertarungan antara hidup dan mati itu adalah keindahan maut adanya...

Namun tidakkah maut itu sendiri barangkali sesuatu yang indah? Jika tidak, mengapa banyak orang begitu tertarik untuk bermain-main dengan maut?

Tubuh berbalut kain putih itu mengalir di udara dengan lambat. Serasa ingin dan serasa bisa kusentuh kulitnya yang kecokelatan karena terbakar matahari. Jika ia t inggal di istana, ia lebih dari layak menjadi seorang putri raja, tetapi ia seorang pendekar, tentunya pendekar pengembara yang telah meninggalkan gua pertapaan dan kenyamanan atap perguruannya. Pinggangnya yang ramping tampak semakin ramping oleh tali kulit yang mengikatnya. Punggungnya terbuka, tetapi tertutupi rambut lurus panjang lebat hitam yang pada samping kiri dan kanannya dijepit sisir kulit penyu. Baru kusadari ternyata di atas pusarnya yang beranting-anting terdapat rajah seekor kalajengking. Sempat kuembus kulit perutnya dalam perpapasan itu.

Waktu kembali berkelebat cepat. Siapa yang bisa menghalangi waktu? Tentu saja ia tahu telah kutiup perutnya dengan embusan dari mulut yang hangat dan ini memancing kemarahan jika tidak ingin mengatakannya naik pitam. Kini ia tak bergerak. Akupun tak bergerak. Kami mendadak terpaku. Ia menatapku dan aku menatapnya.

IA berusaha menguasai diriku, jadi aku pun harus menguasai dirinya. Ia menggunakan tatapan mata ular yang dingin, menyihir, dan s iap memagut dalam setiap kelengahan. Patukan berbisa, apakah yang dapat menjadi lawan? Kutatap ia dalam tatapan mata elang, tatapan yang dapat melihat ikan berenang di dalam air dari atas gunung. Tatapan tanpa sihir, tatapan untuk melihat dengan nyata, untuk mencakar dan menerkam.

Kami bertatapan dengan mata tajam. Siapa pun yang memiliki mata batin untuk melihat pertarungan ini akan dapat menyaksikan betapa seekor ular berbisa tanpa ampun telah tersambar oleh cengkeraman elang. Betapa elang itu akhirnya terbang tinggi dengan seekor ular meronta-ronta dalam cengkeraman cakarnya.

"Bah!!!!!"

Ia berteriak agar pemusatan pikiranku buyar, lantas menerjang dengan jurus-jurus pagutan ular yang mematikan. Tiada lagi yang bisa kulakukan selain mengimbanginya dengan Jurus Tarian Elang Emas yang sangat jarang kugunakan, bahkan inilah kurasa untuk kali pertama aku memainkannya. Dalam ilmu persilatan terdapat dua bentuk pembelajaran yang disampaikan bersamaan: pertama, mempelajari jurus-jurus mulai yang paling dasar sebagaimana murid mana pun dalam setiap perguruan; kedua, mempersiapkan seorang murid agar dapat menerima tenaga bantuan secara gaib dalam keadaan terdesak, bahkan terdapat pula kemungkinan tenaga gaib ini akan datang sendiri tanpa harus dipanggil, jika keadaan memang membutuhkannya. Kiranya jiwa ular telah dipanggil atau dengan sendirinya merasuk ke dalam tubuh perempuan pendekar yang luar biasa ini, yang tidak bisa diatas i tanpa mengundang tenaga gaib juga. Aku memang dipersiapkan oleh Sepasang Naga dari Celah Kledung agar mampu melakukannya jika menghadapi lawan yang juga menggunakannya. Pada setiap hari pasar tertentu selama tujuh kali berturut-turut, mataku dioles i dan ditetesi cairan ramuan tertentu dari tumbuh-tumbuhan yang sepintas lalu dapat mengakibatkan kebutaan, meski yang terjadi justru kemampuan melihat sesuatu yang berada di luar jangkauan pandangan orang awam. Jika semula mata kami bertatapan, tetapi hanya bertarung di dalam pikiran; maka kini tubuh kami bertarung, tetapi mata kami terpejam, karena dalam keterpejaman terlihat sosok yang mengajak kami memainkan segenap jurus yang kami keluarkan. Maka kini bukan kami lagi yang bertarung, melainkan tubuh kami yang mewakili jiwa ular berbisa dan jiwa e lang emas.

Dalam keterpejaman, kusaksikan Elang Emas itu menari, mengangkat kedua sayap dan menerjang dengan cakar; dalam keterpejaman tubuhku bergerak seperti menari tetapi menghajar. Di antara sesama tenaga bantuan yang gaib, siapakah yang akan menang? Pasangan pendekar yang mengasuhku berkata, setidaknya terdapat lima jiwa yang berhubungan dengan ilmu s ilatku yang dapat kupanggil, yakni jiwa ular, jiwa harimau, jiwa kera, dan jiwa buaya, dengan jiwa elang emas sebagai tenaga gaib utama. Benarkah terdapat suatu jiwa semacam itu di dalam dunia ini yang dapat dipanggil? Adapun yang kualam i hanyalah, aku melihat elang emas yang mengajakku bermain silat dan menirukannya -- bahkan aku tidak melihat lawanku sama sekali!

Maka tiada yang dapat kuceritakan selain kesaksian atas gerakan Elang Emas yang pada dasarnya tidak pernah kulihat maupun kupelajari, tetapi yang telah disiapkan oleh pasangan pendekar yang mengasuhku agar dapat dipergunakan bilamana perlu. Jurus Tarian Elang Emas yang dibawakan jiwa elang emas kini kusaksikan tanpa dapat kuterjemahkan secara tepat dalam penceritaan; aku tak dapat mengatakan jurus- jurus itu dibawakan oleh seekor elang ataupun manusia, tetapi dapat kusampaikan bahwa jurus-jurus dibawakan oleh manusia elang.

IA tak bersayap tetapi bertangan, ia tak bercakar tetapi berkaki; tangannya tak menjadi sayap tetapi mencakar, kakinya tak menjadi cakar tetapi menerbangkan tubuhnya dengan jejakan dan lentingan seekor burung elang yang menyambar dari udara tanpa suara dan tanpa peringatan. Tidakkah maut ternyata penuh keindahan? Tiada heran para pendekar suka berdekat-dekat dengan kematian, kiranya keindahan maut telah menjadi pesona tak terbayangkan.

Kemudian kurasakan terjadinya suatu benturan dahsyat. Aku membuka mata seperti orang yang bangun tidur. Rupanya keadaan yang sama juga terjadi dengan diri perempuan pendekar itu. Namun kini terdapat orang ketiga. Rupanya dialah yang telah memisahkan kami, dengan menahan benturan dengan kedua tangan dari samping kanan dan kiri. Tentu saja tingkat tenaga dalamnya tidak terbayangkan.

Ia seorang tua dengan jenggot melambai-lambai. Ia mengenakan caping dan wajahnya seperti seorang petani. Ia membuka caping dan mengipas-ngipas seolah kepanasan, padahal hari telah semakin sore dan udara sejuk. Ia berbusana seperti orang kebanyakan, tetapi ibuku pernah berkata untuk berhati-hati terhadap siapa pun yang berusaha menyembunyikan dirinya dari kejelasan kepribadian.

''Lawan yang paling sulit dikalahkan adalah lawan yang paling sulit diduga,'' katanya.

Maka aku pun mempersiapkan diri untuk keadaan yang paling buruk, karena kini aku berhadapan dengan dua lawan. Namun agaknya justru orang tua berjenggot melambai itulah yang menetapkan kami sebagai dua lawan.

''Heheheheheh! Dewa yang Agung memberikan aku berkah untuk bertemu lawan seperti kalian! Sampai setua ini aku malang melintang dalam dunia persilatan, tak seorang pun kuanggap pantas sebagai lawan. Namun aku telah mengawasi pertarungan kalian dari tadi, dan dapat kuketahui s iapa kalian. Berhadapan satu lawan satu, kalian tak punya harapan, tetapi jika kutantang kalian sekaligus berdua, kuharapkan kalian dapat membunuhku.''

Perempuan pendekar itu mendengus dan meludah.

''Cuih! Tua bangka tidak tahu diri! Siapa sudi membunuh orang tua seperti kamu! Tidak ada hakmu menyuruh aku membunuhmu! Lagipula aku tidak punya keuntungan apa-apa dengan membunuh jiwa lapukmu itu!''

Orang tua itu terbatuk-batuk dan juga meludah, tetapi ini bukan sebagai penghinaan, melainkan tampaknya karena memang sakit paru-paru yang parah, sebab kuperhatikan yang diludahkannya adalah darah.

''Para pendekar, tolonglah aku, lawanlah aku dan bunuhlah aku, agar aku mati sebagai seorang pendekar...''

Suaranya sekarang serak, mungkin karena sakit, mungkin juga karena menahan tangis.

''Telah bertahun-tahun aku mencari lawan yang bisa membunuhku, karena aku benar-benar ingin mati, tetapi tiada satu pun dapat mengalahkan aku dan dapat membunuhku, sedangkan seorang pendekar sejati tak dibenarkan mengalah sekadar supaya dirinya terbunuh. Jadi kucari pertarungan terhormat untuk kematianku. Aku sudah tidak tahan dengan sakitku, tetapi aku tidak juga mati. Para pendekar muda yang terhormat, telah kudengar nama Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Melati dibawakan angin lembah sepanjang sungai telaga dunia persilatan. Lawanlah aku, bunuhlah aku, agar kudapatkan kematian dalam kesempurnaan.''

Ah! Itulah rupanya Pendekar Melati! Aku telah mendengar bagaimana namanya menjadi perbincangan dari kedai ke kedai sebagai perempuan pendekar takterkalahkan. Namun keberadaannya sebagai perempuan telah membuat ia selalu menyerang, karena tidak seorangpun lelaki pendekar merasa pantas menantangnya.

Demikianlah kudengar perbincangan dari kedai ke kedai. ''Bertarung melawan perempuan? Jika menang dianggap

tidak tahu malu, jika kalah lebih memalukan lagi! Menantang perempuan sesakti apa pun belum pernah dilakukan dalam dunia persilatan!''

Sebaliknya, jika Pendekar Melati menantang, juga tidak seorang pun bersedia melayaninya. Adapun sebagai pendekar yang menempuh jalan persilatan untuk mencapai kesempurnaan, ia membutuhkan pertarungan agar mendapat pengakuan. Maka suatu cara telah dilakukannya untuk memaksakan pertarungan, yakni selalu menyerang lawan yang telah ditentukannya. Begitu rupa mematikan serangannya, sehingga siapa pun lawannya harus mengeluarkan seluruh ilmu silatnya jika tidak ingin menemui kematian. Itulah rupanya yang telah dilakukannya kepadaku, sampai kami mencapai tingkat pertarungan yang tak pernah terbayangkan.

''Aku menentukan lawanku sendiri, tidak seorang pun menentukan siapa yang akan kutantang.''

''TAPI dikau kutantang, wahai perempuan pendekar, bukankah selama ini tidak seorang pendekar pun sudi menantangmu? Aku memohon kehormatan, tetapi akupun memberimu kehormatan. Tolong, kalian berdua, lawanlah aku.''

Pendekar Melati meludah lagi. Matanya yang tajam berapi- api.

''Kehormatan apa yang akan didapatkan dengan membunuh seorang tua bangka penyakitan? Dan dikau meminta aku membunuhmu dalam pengeroyokan! Jika dikau seorang pendekar yang sudah makan asam garam sungai telaga dunia persilatan wahai orang tua, maka dikau tahu itulah suatu penghinaan! Aku lebih suka dikau berdua yang melawan diriku seorang! M inggirlah orang tua! Aku masih harus melanjutkan pertarungan!''

Lantas ia menghadap ke arahku, seperti bersiap melakukan serangan. Aku meningkatkan kewaspadaan, karena siapa pun orang tua itu, jelas ilmunya tinggi sekali. Jika yang terjadi adalah diriku yang terpaksa menghadapi serangan, dari orang tua itu maupun dari Pendekar Melati, sungguh aku harus mengerahkan segenap kemampuan.

Namun orang tua itu membanting capingnya ke tanah, lantas menjejakkan kakinya dengan akibat yang tidak pernah terbayangkan. Suaranya berdentam dalam dan mendebarkan, bahkan bumi pun serasa bergoyang. Ia menggeram dan tampak menjadi amat kejam.

''Hmmmmmhh! Pendekar Melati! Dikau telah menghina seorang tua! Aku akan memaksamu menghindari kematian hanya dengan pertarungan!'

Lantas ia menegakkan tubuhnya, memasang kuda-kuda dengan hentakan kaki yang lagi-lagi mendebarkan jantung dan membuat bumi bergoyang. Hentakan yang sangat mungkin meruntuhkan nyali!

''Pendekar Tanpa Nama dan Pendekar Melati! Bersiaplah menghadapi Raja Pembantai dari Selatan!''

Nama itu membuat bulu kudukku meremang, dan kulihat juga Pendekar Melati matanya terbelalak. Orang tua yang kini tampak seperti algojo itu menyentakkan kedua tangannya ke depan, maka dari dalam tangannya, betul-betul dari dalam tangannya, muncul sepasang pedang hitam.

Nama itu sudah lama sekali tidak terdengar, tetapi nama itu memang nama yang sangat mengerikan, karena berkaitan dengan pembunuhan beribu-ribu orang! Sepasang pedang hitam itu digenggamnya erat-erat. Warna hitam pedang itu terbentuk karena racun bercampur darah. Lantas ia sekali lagi menggeram.

''Janganlah sekedip mata pun kalian kehilangan kewaspadaan, karena kalian dapat mati dengan kesakitan tak terbayangkan!''

(Oo-dwkz-oO)